Arsip Kategori: 009. BAB SHALAT BERJAMA’AH DAN IMAM

HADITS KE 342 : KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAAH BERSAMA ORANG BANYAK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 342 :

وَعَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( صَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ, وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ, وَمَا كَانَ أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى الله عَزَّ وَجَلَّ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّان

Dari Ubay Ibnu Ka’ab Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat seorang bersama seorang lebih baik daripada sholatnya sendirian, sholat seorang bersama dua orang lebih baik daripada sholatnya bersama seorang, dan jika lebih banyak lebih disukai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Sholat merupakan komunikasi antara seorang hamba dengan Allah. Jika sholat dilakukan dengan etika yang sempurna dan khusyuk, maka sholat itu lebih banyak pahalanya dan kemungkinan diterima di sisi-Nya adalah lebih besar. Rahmat Allah (s.w.t) telah menetapkan untuk tetap menerima sholat orang yang berlaku
sembrono ke dalam golongan orang yang sempurna sholatnya. Allah menerima juga sholat orang yang berbuat buruk terhadap sholatnya karena menghormati orang yang baik sholatnya dalam jamaah. Oleh itu, Nabi (s.a.w) menganjurkan sholat berjamaah dan memperbanyak melakukan, sebab sholat berjamaah diterima oleh Allah (s.w.t).

FIQH HADITS :

1. Jumlah paling sedikit bagi sholat berjamaah adalah terdiri dari seorang makmum dan imam.

2. Keutamaan sholat berjamaah berbeda-beda antara satu sama lain tergantung kepada jumlah orang yang mengikutinya; semakin banyak jumlah jamaah yang turut mengikutinya, maka semakin afdhal sholat mereka itu.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 341 : ANJURAN TENANG DAN BERWIBAWA MENUJU TEMPAT SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 341 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ, وَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ, وَلَا تُسْرِعُوا, فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا, وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau telah mendengar qomat, maka berjalanlah menuju sholat dengan tenang dan sabar, dan jangan terburu-buru. Apa yang engkau dapatkan (bersama imam) kerjakan dan apa yang tertinggal darimu sempurnakan.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Orang yang hendak pergi ke masjid untuk mengerjakan sholat diperintahkan agar berjalan dengan langkah yang tenang dan berwibawa serta tidak boleh terburu-buru dan menengok ke sana ke mari, karena secara hukum dia telah berada dalam sholat. Untuk itu, dia mesti mengamalkan etika sebagaimana etika orang yang sedang sholat supaya langkahnya bertambah banyak. Setiap langkah yang diayunkannya itu terdapat pahala satu derajat. Lain halnya seandainya berjalan dengan terburu-buru, maka tidaklah dia sampai ke dalam shaf, melainkan dalam keadaan sudah lelah, hingga akhirnya dia tidak mampu merenungi makna bacaan
sholat dengan khusyuk.

FIQH HADITS :

1. Dilarang berjalan terburu-buru menuju ke masjid untuk mengerjakan sholat.

2. Dianjurkan tenang dan berjalan berwibawa ketika datang menuju ke tempat sholat.

3. Memperoleh keutamaan berjamaah dengan mendapati bagian manapun dari sholat imam itu.

4. Makmum disyariatkan bergabung dengan imam dalam keadaan apapun dia mendapati imam sholatnya.

5. Apa yang didapati oleh makmum dari sholat imamnya, maka itulah permulaan sholat baginya.

6. Menyempurnakan bagian sholat yang terlewatkan oleh makmum sesudah imam menyelesaikan sholatnya agar sholatnya sempurna.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 340 : ANJURAN TIDAK SENDIRIAN DI SHAF TERAKHIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 340 :

وَعَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَدٍ ]اَلْجُهَنِيِّ] رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي خَلْفَ اَلصَّفِّ وَحْدَهُ, فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيدَ اَلصَّلَاةَ. ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ
وَلَهُ عَنْ طَلْق ٍ ( لَا صَلَاةَ لِمُنْفَرِدٍ خَلْفَ اَلصَّفِّ ) وَزَادَ اَلطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيثِ وَابِصَةَ: ( أَلَا دَخَلْتَ مَعَهُمْ أَوْ اِجْتَرَرْتَ رَجُلًا؟

Dari Wabishoh Ibnu Ma’bad Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah melihat seseorang sholat di belakang shaf sendirian. Maka beliau menyuruhnya agar mengulangi sholatnya. Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Menurut riwayatnya dari Tholq Ibnu Ali r.a: “Tidak sempurna sholat seseorang yang sendirian di belakang shaf.” Thabrani menambahkan dalam hadits Wabishoh: “Mengapa engkau tidak masuk dalam shaf mereka atau engkau tarik seseorang?”

MAKNA HADITS :

Syaitan adalah musuh umat manusia. Jika ia melihat seorang manusia sholat sendirian, maka ia berusaha sekuat tenaga untuk memperdayanya. Ada pepatah
mengatakan, serigala itu hanya mau memangsa kambing jika ia jauh dari sekumpulan rekan-rekannya. Oleh itu, Nabi (s.a.w) melarang seseorang sholat seorang diri di belakang shaf dan baginda memerintahkan seseorang yang melakukannya agar mengulangi lagi sholatnya.

Makna dzahir hadis ini dijadikan pegangan oleh sesetengah ulama, tetapi jumhur ulama mengatakan bahwa sholat orang yang sendirian di belakang shaf tidak batal, karena status hadis ini dha’if. Dengan arti kata lain, tidak dapat dijadikan sebagai hujah atau dapat dijadikan hujah untuk meniadakan
kesempurnaan sholat, tetapi bukan menafikan sahnya sholat. Ini karena Nabi (s.a.w) sendiri pernah membenarkan sah sholat Abu Bakrah ketika dia bertakbir seorang diri di belakang shaf dan baginda tidak menyuruhnya mengulangi lagi sholatnya.

FIQH HADITS :

1. Orang yang sholat seorang diri di belakang shaf dianjurkan untuk mengulangi sholat. Hikmahnya adalah orang yang sholat seorang diri di belakang shaf dikuasai
oleh syaitan, sehingga dia tidak dapat melakukan khusyuk dengan sempurna. Lain halnya apabila dia berada di dalam barisan shaf yang berdekatan antara satu sama lain, maka syaitan tidak mempunyai kekuatan untuk menggodanya, karena di dalam hadis lain disebutkan pula bahwa Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda:

يد الله مع الجماعة

“Tangan (kekuasaan) Allah ada bersama jamaah.”

2. Tidak sah sholat orang yang sholat seorang diri di belakang shaf.

3. Dianjurkan untuk menyempurnakan barisan shaf.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 339: TENTANG BERJALAN DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 339 :

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ اِنْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ رَاكِعٌ, فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ, فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ( زَادَكَ الله حِرْصًا وَلَا تَعُدْ ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَزَادَ أَبُو دَاوُدَ فِيهِ: ( فَرَكَعَ دُونَ الصَّفِّ, ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ)

Dari Abu Bakrah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika beliau ruku’. Lalu ia ruku’ sebelum mencapai shof. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda padanya: “Semoga Allah menambah keutamaanmu dan jangan mengulanginya.” Riwayat Bukhari. Abu Dawud menambahkan dalam hadits itu: Ia ruku’ di belakang shaf kemudian berjalan menuju shof.

MAKNA HADITS :

Pada suatu hari seorang sahabat bernama Abu Bakrah datang dengan langkah tergesa-gesa untuk mengerjakan sholat berjamaah, hingga akhirnya sampailah dia kepada Nabi (s.a.w). Ketika itu Nabi (s.a.w) sedang rukuk. Oleh kerana Abu Bakrah merasa kawatir tidak mendapat pahala sholat berjamaah dan pahala rukuk bersama Rasulullah (s.a.w), dia segera melakukan rukuk mengikuti Rasulullah (s.a.w) sebelum sampai pada shaf sholat. Kemudian dia berjalan sambil rukuk menuju shaf sholat bergabung dengan jamaah yang lain.

Ketika Rasulullah (s.a.w) selesai mengerjakan sholat, baginda menanyakan siapa orang yang melakukan perbuatan itu, lalu Abu Bakrah mengakui perbuatannya.
Nabi (s.a.w) menyetujui apa yang telah diperbuatnya itu, tetapi baginda memberinya petunjuk yang lebih afdhal untuk dia lakukan pada masa mendatang, supaya kelak Abu Bakrah berjalan pada ajaran yang sempurna. Inilah yang diungkapkan oleh Nabi (s.a.w) dalam suatu kalimat yang penuh dengan sopan: “Semoga Allah membuat kamu bertambah rajin, tetapi janganlah kamu ulangi lagi perbuatanmu itu.

FIQH HADITS :

1. Berjalan di dalam sholat untuk kemaslahatan sholat itu sendiri tidak membatalkannya. Ulama berbeda pendapat mengenai kadar langkah yang dimaafkan. Menurut mazhab Imam al-Syafi’i, kadarnya ialah satu langkah atau dua langkah secara berturut-turut, tidak boleh lebih dari itu. Jika langkah yang dilakukannya terputus-putus, maka itu dimaafkan, meskipun dilakukan hingga seratus langkah. Sebagian kalangan mazhab Hanafi membolehkannya hanya satu langkah, sedangkan menurut sebagian yang lain sampai batasan tempat sujud. Menurut mazhab Maliki, apabila melangkah untuk menutupi celah-celah shaf yang kosong, maka itu dimaafkan sebatas dua atau tiga shaf. Jika langkah yang dilakukan bukan untuk kedua tujuan itu seperti menolak orang yang lewat di hadapannya atau menangkap hewan kendaraan yang lari dan
lain-lain sebagainya, maka hitungan langkah itu hendaklah mengikut kepada tradisi yang berlaku. Apa yang dianggap sedikit oleh tradisi, maka itu dimaafkan, tetapi bila dinilai sebaliknya oleh tradisi, maka itu tidak dimaafkan.

2. Barang siapa yang mendapati imam sedang rukuk, maka orang itu tidak boleh memasuki sholat sebelum sampai pada safnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 338: POSISI ANAK-ANAK KETIKA MENJADI MAKMUM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 338 :

وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ, وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ ِ

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat, lalu aku dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya sedang Ummu Salamah berdiri di belakang kami. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) seorang yang bersifat rendah hati, berakhlak mulia dan seorang guru yang bijaksana. Baginda sering memeriksa keadaan para sahabatnya dan pergi berkunjung ke rumah-rumah mereka, lalu melakukan sholat sunat di rumah mereka. Dengan sholatnya itu secara tidak langsung baginda mengajarkan mereka bagaimana cara mengerjakan sholat yang betul. Berita kunjungan itu menyebar kepada sahabat yang lain untuk kemudian dijadikan sebagai pelajaran dan sumber syariat.

Apa yang disebutkan di dalam hadis ini menjelaskan keutamaan mengerjakan sholat sunnah di dalam rumah dan tempat berdiri para makmum dari posisi berdiri
imam apabila mereka terdiri dari lelaki dan wanita dan sebagainya sebagaimana yang akan diuraikan berikut ini.

FIQH HADITS :

1. Seorang pemimpin disyariatkan mengunjungi rumah sebagian orang yang dipimpinnya untuk menyenangkan hati mereka.

2. Rasulullah (s.a.w) senantiasa bersikap rendah hati dan berakhlak mulia.

3. Sholat sunat boleh dilakukan dengan cara berjamaah.

4. Ketentuan menetapkan tempat berdiri para makmum dari posisi berdiri imam apabila mereka terdiri dari kaum lelaki dan anak-anak.

5. Disyariatkan shaf wanita berada di belakang shaf lelaki. Wanita berdiri di belakang lelaki dengan membentuk shaf tersendiri jika dia tidak memiliki teman wanita yang lain yang mengerjakan sholat bersamanya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 337 : POSISI SHAF LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

kajian hadist ikaba 20180309_0216141181150331..jpg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 336 :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا, وَشَرُّهَا آخِرُهَا, وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا, وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا ) رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik shof laki-laki adalah yang pertama dan sejelek-jeleknya ialah yang terakhir. Dan sebaik-baik shof perempuan adalah yang terakhir dan sejelek-jeleknya ialah yang pertama.” Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) beserta para malaikatNya mendoakan orang yang solat pada shaf yang pertama agar memperoleh rahmat. Ini disebabkan posisi mereka yang berdekatan dengan imam disamping menempati shaf yang pertama itu menjadikan seseorang itu lebih menentukan perhatian terhadap sholat yang dikerjakannya (khusyuk). Sekiranya saja orang tahu pahala dibalik mengerjakan sholat pada shaf yang pertama, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan cara merangkak. Apa yang dimaksudkan dengan shaf pertama adalah shaf yang berada di dekat imam. Seburuk-buruk shaf adalah shaf yang paling belakang, kerana shaf yang paling belakang itu sedikit pahalanya. Ini disebabkan orang yang berada pada shaf paling belakang tidak begitu jelas mendengar bacaan imam disamping posisi mereka berdekatan dengan shaf wanita. Dan adakalanya pula mereka mencuri-curi pandang ke arah shaf kaum wanita sekiranya dalam solat jemaah itu terdapat kaum wanita. orang yang berhak menempati shaf pertama dalam solat adalah lelaki yang cerdik dan pandai.

Shaf yang paling baik bagi kaum wanita adalah yang paling belakang karena jaraknya yang jauh dari shaf kaum lelaki. Demikian itu jika kaum wanita sholat berjemaah bersama kaum lelaki. Apabila kaum wanita sholat berjemaah bersama sesama kaum wanita, maka shaf mereka sama seperti shaf lelaki, yaitu shaf pertama adalah lebih utama berbanding shaf-shaf di belakangnya.

FIQH HADITS :

1. Anjuran berada di shaf pertama dan peringatan menjauhi shaf pertama.

2. Jika kaum wanita mengerjakan sholat berjamaah bersama kaum lelaki, shaf yang paling afdhal bagi mereka adalah shaf yang paling belakang. Dari sini dapat
disimpulkan bahawa shaf kaum wanita apabila berada di tempat yang lain, yakni tidak bergabung dengan shaf kaum lelaki sama dengan shaf kaum lelaki, dimana yang paling afdhal bagi mereka ialah shaf yang paling depan dan shaf yang paling sedikit pahalanya ialah shaf yang paling belakang.

3. Kaum wanita disyariatkan membuat shaf-shaf yang sama dengan shaf kaum lelaki.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 335 : MERAPIKAN SHAF DALAM SHALAT BERJAMAAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 335 :

وَعَنْ أَنَسٍ, عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رُصُّوا صُفُوفَكُمْ, وَقَارِبُوا بَيْنَهَا, وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ. ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tertibkanlah barisan (shof)-mu, rapatkanlah jaraknya, dan luruskanlah dengan leher.” Hadits riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Orang yang sholat itu sesungguhnya sedang menghadap Allah (s.w.t) manakala shaf mereka itu umpama barisan para mujahid. Sholat merupakan perbuatan mendekatkan diri kepada Allah sekaligus jihad. Nabi (s.a.w) adalah seorang panglima yang hebat dan imam yang selalu mengharapkan kebaikan bagi umatnya. Baginda memerintahkan kaum muslimin merapatkan shaf dalam sholat, meratakannya serta menutupi semua celahnya. Tujuannya adalah supaya syaitan tidak dapat memasuki celah-celah shaf dan mengganggu kaum muslimin yang sedang mengerjakan sholat. Kebanyakan orang mengambil mudah akan masalah ini. Tetapi tidak demikian bagi orang yang dikaruniai taufik oleh Allah (s.w.t). Perintah meratakan dan merapatkan shaf serta menutupi semua celah dan meratakan leher ini telah disebutkan Allah (s.w.t) dalam firman-Nya:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوْصٌ (٤)

“Sesungguhnya Allah suka kepada orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka itu bangunan yang berdiri kukuh.” (Surah al-Shaff: 4).

FIQH HADITS :

1. Kaum muslimin yang mengerjakan sholat diperintahkan meratakan barisan dan

mendekatkan tubuh masing-masing dalam jarak yang dekat.

2. Boleh bersumpah tanpa diminta untuk mengukuhkan sesuatu perkara dan menerangkan apa kebenarannya.

3. Perbuatan merenggangkan shaf dan tidak mendekatkan jarak di antara shaf mengakibatkan syaitan masuk ke dalam shaf orang yang sedang mengerjakan sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 333 : PENGHAFAL AL-QU’AN PALING BERHAK MENJADI IMAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 333 :

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ قَالَ: قَالَ أَبِي: ( جِئْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حَقًّا. قَالَ: فَإِذَا حَضَرَتْ اَلصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ, وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا, قَالَ: فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي, فَقَدَّمُونِي, وَأَنَا اِبْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيّ

Amar Ibnu Salamah berkata: Ayahku berkata: Aku sampaikan sesuatu yang benar-benar dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Beliau bersabda: “Bila waktu sholat telah datang, maka hendaknya seorang di antara kamu beradzan dan hendaknya orang yang paling banyak menghapal Qur’an di antara kamu menjadi imam.” Amar berkata: Lalu mereka mencari-cari dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak menghapal Qur’an melebihi diriku, maka mereka memajukan aku (untuk menjadi imam) padahal aku baru berumur enam atau tujuh tahun. Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud dan Nasa’i.

MAKNA HADITS :

Imam sholat memiliki kedudukan yang tinggi. Oleh itu, orang yang hendak menjadi imam sholat hendaklah banyak hafal al-Qur’an, menguasai ilmu fiqh dan alim. orang bermakmum hendaklah memiliki imam sholat yang memiliki kriteria seperti itu supaya sholat mereka tidak batal. Oleh itu, Nabi (s.a.w) menganjurkan orang yang menjadi imam sholat adalah orang yang paling banyak hafal al-Qur’an,
sekalipun usianya masih muda.
Amr ibn Salamah yang disebut di dalam hadis ini biasa belajar al-Qur’an kepada para delegasi yang baru berjumpa Rasulullah (s.a.w) lalu mereka singgah di kabilahnya. Dia hafal seluruh al-Qur’an karena belajar kepada mereka. Ketika kaumnya masuk Islam, dia menjadi imam sholat bagi mereka, kerana hanya dirinya yang paling banyak hafal al-Qur’an.

Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa anak-anak yang sudah mumayyiz dibolehkan menjadi imam sholat kepada orang dewasa yang sudah baligh, dan orang yang sholat fardu boleh bermakmum di belakang orang yang sholat sunat. Namun, menurut pendapat yang menyatakan tidak boleh yaitu menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, itu hanya berlaku pada masa permulaan Islam atau hanya dibolehkan dalam sholat sunat, bukannya dalam sholat fardu.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengumandangkan azan untuk sholat lima waktu apabila masing-masing waktunya telah tiba.

2. Kedudukan imam lebih utama daripada juru adzan.

3. Orang yang paling berhak menjadi imam ialah orang yang paling banyak hafal al-Qur’an.

4. anak-anak boleh menjadi imam menurut pendapat Imam al-Syafi’i. Tetapi Imam Malik tidak membolehkannya. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad membolehkannya hanya dalam sholat sunat, bukan sholat fardu.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS 331 : MENYESUAIKAN BACAAN KETIKA MENJADI IMAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 331 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمْ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ, فَإِنَّ فِيهِمْ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ, فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu mengimami orang-orang maka hendaknya ia memperpendek sholatnya, karena sesungguhnya di antara mereka ada yang kecil, besar, lemah, dan yang mempunyai keperluan. Bila is sholat sendiri, maka ia boleh sholat sekehendaknya.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) memberikan bimbingan dan penyuluh kepada para imam dan ulama kaum muslimin untuk memudahkan orang yang mengerjakan sholat. Baginda menyuruh mereka mengambil kira keadaan makmum. Tidak boleh memperpanjang bacaan sholat sehingga tidak menjenuhkan, tidak pula mempercepat bacaan sholat sehingga mengakibatkan sholat menjadi tidak sempurna.
Inilah bimbingan Nabi (s.a.w) bagi seorang imam sholat. Jika seseorang sholat seorang diri, dia boleh melakukannya sesuka hatinya, meskipun dalam waktu yang lama selagi waktu sholat masih ada. Tetapi jika waktu sholat telah habis, maka perbuatan itu dianggap melampawi.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan meringankan sholat demi menjaga keadaan para makmum, tetapi semua rukun sholat mesti tetap dikerjakan dengan sempurna.

2. Keperluan yang bersifat duniawi termasuk udzur yang membolehkan seseorang meringankan sholat, karena hati seseorang senantiasa memikirkannya sehingga dia
tidak dapat melakukan sholat dengan khusyuk.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini

Semoga bermanfaat. Aamiin..