Arsip Kategori: 009. BAB SHALAT BERJAMA’AH DAN IMAM

HADITS KE 337 : POSISI SHAF LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

kajian hadist ikaba 20180309_0216141181150331..jpg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 336 :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا, وَشَرُّهَا آخِرُهَا, وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا, وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا ) رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik shof laki-laki adalah yang pertama dan sejelek-jeleknya ialah yang terakhir. Dan sebaik-baik shof perempuan adalah yang terakhir dan sejelek-jeleknya ialah yang pertama.” Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) beserta para malaikatNya mendoakan orang yang solat pada shaf yang pertama agar memperoleh rahmat. Ini disebabkan posisi mereka yang berdekatan dengan imam disamping menempati shaf yang pertama itu menjadikan seseorang itu lebih menentukan perhatian terhadap sholat yang dikerjakannya (khusyuk). Sekiranya saja orang tahu pahala dibalik mengerjakan sholat pada shaf yang pertama, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan cara merangkak. Apa yang dimaksudkan dengan shaf pertama adalah shaf yang berada di dekat imam. Seburuk-buruk shaf adalah shaf yang paling belakang, kerana shaf yang paling belakang itu sedikit pahalanya. Ini disebabkan orang yang berada pada shaf paling belakang tidak begitu jelas mendengar bacaan imam disamping posisi mereka berdekatan dengan shaf wanita. Dan adakalanya pula mereka mencuri-curi pandang ke arah shaf kaum wanita sekiranya dalam solat jemaah itu terdapat kaum wanita. orang yang berhak menempati shaf pertama dalam solat adalah lelaki yang cerdik dan pandai.

Shaf yang paling baik bagi kaum wanita adalah yang paling belakang karena jaraknya yang jauh dari shaf kaum lelaki. Demikian itu jika kaum wanita sholat berjemaah bersama kaum lelaki. Apabila kaum wanita sholat berjemaah bersama sesama kaum wanita, maka shaf mereka sama seperti shaf lelaki, yaitu shaf pertama adalah lebih utama berbanding shaf-shaf di belakangnya.

FIQH HADITS :

1. Anjuran berada di shaf pertama dan peringatan menjauhi shaf pertama.

2. Jika kaum wanita mengerjakan sholat berjamaah bersama kaum lelaki, shaf yang paling afdhal bagi mereka adalah shaf yang paling belakang. Dari sini dapat
disimpulkan bahawa shaf kaum wanita apabila berada di tempat yang lain, yakni tidak bergabung dengan shaf kaum lelaki sama dengan shaf kaum lelaki, dimana yang paling afdhal bagi mereka ialah shaf yang paling depan dan shaf yang paling sedikit pahalanya ialah shaf yang paling belakang.

3. Kaum wanita disyariatkan membuat shaf-shaf yang sama dengan shaf kaum lelaki.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 335 : MERAPIKAN SHAF DALAM SHALAT BERJAMAAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 335 :

وَعَنْ أَنَسٍ, عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رُصُّوا صُفُوفَكُمْ, وَقَارِبُوا بَيْنَهَا, وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ. ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tertibkanlah barisan (shof)-mu, rapatkanlah jaraknya, dan luruskanlah dengan leher.” Hadits riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Orang yang sholat itu sesungguhnya sedang menghadap Allah (s.w.t) manakala shaf mereka itu umpama barisan para mujahid. Sholat merupakan perbuatan mendekatkan diri kepada Allah sekaligus jihad. Nabi (s.a.w) adalah seorang panglima yang hebat dan imam yang selalu mengharapkan kebaikan bagi umatnya. Baginda memerintahkan kaum muslimin merapatkan shaf dalam sholat, meratakannya serta menutupi semua celahnya. Tujuannya adalah supaya syaitan tidak dapat memasuki celah-celah shaf dan mengganggu kaum muslimin yang sedang mengerjakan sholat. Kebanyakan orang mengambil mudah akan masalah ini. Tetapi tidak demikian bagi orang yang dikaruniai taufik oleh Allah (s.w.t). Perintah meratakan dan merapatkan shaf serta menutupi semua celah dan meratakan leher ini telah disebutkan Allah (s.w.t) dalam firman-Nya:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوْصٌ (٤)

“Sesungguhnya Allah suka kepada orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka itu bangunan yang berdiri kukuh.” (Surah al-Shaff: 4).

FIQH HADITS :

1. Kaum muslimin yang mengerjakan sholat diperintahkan meratakan barisan dan

mendekatkan tubuh masing-masing dalam jarak yang dekat.

2. Boleh bersumpah tanpa diminta untuk mengukuhkan sesuatu perkara dan menerangkan apa kebenarannya.

3. Perbuatan merenggangkan shaf dan tidak mendekatkan jarak di antara shaf mengakibatkan syaitan masuk ke dalam shaf orang yang sedang mengerjakan sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 333 : PENGHAFAL AL-QU’AN PALING BERHAK MENJADI IMAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 333 :

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ قَالَ: قَالَ أَبِي: ( جِئْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حَقًّا. قَالَ: فَإِذَا حَضَرَتْ اَلصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ, وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا, قَالَ: فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي, فَقَدَّمُونِي, وَأَنَا اِبْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيّ

Amar Ibnu Salamah berkata: Ayahku berkata: Aku sampaikan sesuatu yang benar-benar dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Beliau bersabda: “Bila waktu sholat telah datang, maka hendaknya seorang di antara kamu beradzan dan hendaknya orang yang paling banyak menghapal Qur’an di antara kamu menjadi imam.” Amar berkata: Lalu mereka mencari-cari dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak menghapal Qur’an melebihi diriku, maka mereka memajukan aku (untuk menjadi imam) padahal aku baru berumur enam atau tujuh tahun. Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud dan Nasa’i.

MAKNA HADITS :

Imam sholat memiliki kedudukan yang tinggi. Oleh itu, orang yang hendak menjadi imam sholat hendaklah banyak hafal al-Qur’an, menguasai ilmu fiqh dan alim. orang bermakmum hendaklah memiliki imam sholat yang memiliki kriteria seperti itu supaya sholat mereka tidak batal. Oleh itu, Nabi (s.a.w) menganjurkan orang yang menjadi imam sholat adalah orang yang paling banyak hafal al-Qur’an,
sekalipun usianya masih muda.
Amr ibn Salamah yang disebut di dalam hadis ini biasa belajar al-Qur’an kepada para delegasi yang baru berjumpa Rasulullah (s.a.w) lalu mereka singgah di kabilahnya. Dia hafal seluruh al-Qur’an karena belajar kepada mereka. Ketika kaumnya masuk Islam, dia menjadi imam sholat bagi mereka, kerana hanya dirinya yang paling banyak hafal al-Qur’an.

Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa anak-anak yang sudah mumayyiz dibolehkan menjadi imam sholat kepada orang dewasa yang sudah baligh, dan orang yang sholat fardu boleh bermakmum di belakang orang yang sholat sunat. Namun, menurut pendapat yang menyatakan tidak boleh yaitu menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, itu hanya berlaku pada masa permulaan Islam atau hanya dibolehkan dalam sholat sunat, bukannya dalam sholat fardu.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengumandangkan azan untuk sholat lima waktu apabila masing-masing waktunya telah tiba.

2. Kedudukan imam lebih utama daripada juru adzan.

3. Orang yang paling berhak menjadi imam ialah orang yang paling banyak hafal al-Qur’an.

4. anak-anak boleh menjadi imam menurut pendapat Imam al-Syafi’i. Tetapi Imam Malik tidak membolehkannya. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad membolehkannya hanya dalam sholat sunat, bukan sholat fardu.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS 331 : MENYESUAIKAN BACAAN KETIKA MENJADI IMAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 331 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمْ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ, فَإِنَّ فِيهِمْ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ, فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu mengimami orang-orang maka hendaknya ia memperpendek sholatnya, karena sesungguhnya di antara mereka ada yang kecil, besar, lemah, dan yang mempunyai keperluan. Bila is sholat sendiri, maka ia boleh sholat sekehendaknya.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) memberikan bimbingan dan penyuluh kepada para imam dan ulama kaum muslimin untuk memudahkan orang yang mengerjakan sholat. Baginda menyuruh mereka mengambil kira keadaan makmum. Tidak boleh memperpanjang bacaan sholat sehingga tidak menjenuhkan, tidak pula mempercepat bacaan sholat sehingga mengakibatkan sholat menjadi tidak sempurna.
Inilah bimbingan Nabi (s.a.w) bagi seorang imam sholat. Jika seseorang sholat seorang diri, dia boleh melakukannya sesuka hatinya, meskipun dalam waktu yang lama selagi waktu sholat masih ada. Tetapi jika waktu sholat telah habis, maka perbuatan itu dianggap melampawi.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan meringankan sholat demi menjaga keadaan para makmum, tetapi semua rukun sholat mesti tetap dikerjakan dengan sempurna.

2. Keperluan yang bersifat duniawi termasuk udzur yang membolehkan seseorang meringankan sholat, karena hati seseorang senantiasa memikirkannya sehingga dia
tidak dapat melakukan sholat dengan khusyuk.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 330 : ETIKA BERMAKMUM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 330 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فِي قِصَّةِ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالنَّاسِ, وَهُوَ مَرِيضٌ – قَالَتْ: ( فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ عَنْ يَسَارِ أَبِي بَكْرٍ, فَكَانَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ جَالِسًا وَأَبُو بَكْرٍ قَائِمًا, يَقْتَدِي أَبُو بَكْرٍ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَيَقْتَدِي النَّاسُ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu tentang kisah sholat berjama’ah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika beliau sakit. ‘Aisyah berkata: Beliau datang dan duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Beliau mengimami jama’ah dengan duduk sedang Abu Bakar berdiri. Abu Bakar mengikuti sholat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang mengikuti sholat Abu Bakar. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) mengajarkan sopan santun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dimana tidak seorang pun diantara mereka yang berani melangkah di hadapan
Rasulullah (s.a.w) karena menghormatinya, kecuali jika baginda mengizinkannya.

Allah (s.w.t) berfirman:

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ الله وَرَسُوْلِهِ…. (١)

Hai orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya…” (Surah al-Hujurat: 1)

Ketika sakit yang diderita Rasulullah (s.a.w) sudah membaik, baginda menemui jamaah sholat, sementara Abu Bakar sedang menjadi imam kepada mereka. Melihat kedatangan Rasulullah (s.a.w), sahabat yang bermakmum di belakang Abu Bakar lalu bertakbir, kemudian Abu Bakar mundur dan menjadi makmum sekaligus menjadi muballigh bagi imamnya, padahal sebelum itu dia menjadi imam sholat. Meskipun Rasulullah (s.a.w) memberikan isyarat kepadanya agar tetap berada di tempatnya sebagai imam, tetapi demi mengamalkan sopan santun, maka Abu Bakar pun segera mundur, hingga dia berkata kepada Rasulullah (s.a.w) sesudah selesai mengerjakan sholat: : ”Tidaklah patut bagi Ibn Abu Quhafah (yakni dirinya) mendahului Rasulullah.” Akhirnya dia mengerjakan sholat di sebelah kiri Nabi (s.a.w) sebagai muballigh (juru penyampai takbir imam) bagi orang yang bermakmum di belakangnya menerusi suaranya.

FIQH HADITS :

1. Seseorang dibolehkan mengerjakan sholat di sebelah kanan imam, sekalipun ada orang lain bersamanya.

2. Keutamaan Abu Bakar (r.a) ke atas sahabat yang lain.

3. Boleh mengikuti sholat orang yang bermakmum.

4. Boleh mengangkat suara ketika membaca takbir supaya bisa di dengar oleh para makmum.

5. Boleh mengikuti suara makmum.

6. Orang yang sholat sambil berdiri boleh bermakmum di belakang orang yang sholat sambil duduk. Tetapi masalah ini masih diperdebatkan di antara ulama sebagaimana yang telah diuraikan sebelum ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 325 : SHALAT I’ADAH UNTUK BERJAMAAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 325 :

وَعَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ رضي الله عنه ( أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم صَلَاةَ الصُّبْحِ, فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ لَمْ يُصَلِّيَا, فَدَعَا بِهِمَا, فَجِيءَ بِهِمَا تَرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا, فَقَالَ لَهُمَا: “مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا?” قَالَا: قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا. قَالَ: “فَلَا تَفْعَلَا, إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمْ, ثُمَّ أَدْرَكْتُمْ الْإِمَامَ وَلَمْ يُصَلِّ, فَصَلِّيَا مَعَهُ, فَإِنَّهَا لَكُمْ نَافِلَةٌ” ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاللَّفْظُ لَهُ, وَالثَّلَاثَةُ, وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان

Dari Yazid Ibnu al-Aswad bahwa dia pernah sholat Shubuh bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah usai sholat beliau bertemu dengan dua orang laki-laki yang tidak ikut sholat. Beliau memanggil kedua orang itu, lalu keduanya dihadapkan dengan tubuh gemetaran. Beliau bertanya pada mereka: “Apa yang menghalangimu sehingga tidak ikut sholat bersama kami?” Mereka menjawab: Kami telah sholat di rumah kami. Beliau bersabda: “Jangan berbuat demikian, bila kamu berdua telah sholat di rumahmu kemudian kamu melihat imam belum sholat, maka sholatlah kamu berdua bersamanya karena hal itu menjadi sunat bagimu.” Riwayat Imam Tiga dan Ahmad dengan lafadz menurut riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Tidak mengikuti sholat berjamaah bersama imam sholat di dalam masjid termasuk perbuatan mengingkari imam sekaligus memecah belah persatuan di samping membuka peluang bagi ahli bid’ah untuk menampilkan perbuatan bid’ah mereka dan membentuk jamaah tersendiri. Di sini Rasulullah (s.a.w) melarang perbuatan memisahkan diri dari jamaah. Ini diungkapkan oleh Nabi (s.a.w) melalui bimbingannya kepada kedua orang lelaki yang tidak faham itu.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan tentang betapa hebat wibawa Rasulullah (s.a.w).

2. Menanyakan apa penyebab yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu pelanggaran.

3. Memperhatikan keadaan orang banyak ketika mengerjakan sholat serta memberikan bimbingan dan penyuluh kepada mereka yang melakukan pelanggaran agar kembali ke jalan yang benar.

4. Boleh melakukan sholat fardu di luar masjid.

5. Barang siapa telah melaksanakan sholat di luar masjid, kemudian dia menjumpai sholat berjamaah di dalam masjid, maka disunatkan baginya mengerjakan sholat lagi bersama jamaah. Sholat yang pertama merupakan sholat fardu, sedangkan sholat kedua yang dia lakukan secara berjamaah itu dianggap sholat sunat.

Imam Abu Hanifah mengkhususkan disyariatkannya pengulangan sholat itu hanya untuk selain sholat Subuh dan Maghrib.

Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad juga mengatakan bahwa pengulangan ini boleh dilakukan ke semua sholat tanpa terkecuali karena berdasarkan kepada makna dzahir hadis tersebut.

Imam Malik berkata: “Jika seseorang telah mengerjakan sholat secara berjamaah (di luar masjid), maka dia tidak perlu lagi mengulanginya. Jika tidak, maka dia dianjurkan untuk mengulanginya, kecuali sholat Maghrib.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 325 : SHALAT I’ADAH UNTUK BERJAMAAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 325 :

وَعَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ رضي الله عنه ( أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم صَلَاةَ الصُّبْحِ, فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ لَمْ يُصَلِّيَا, فَدَعَا بِهِمَا, فَجِيءَ بِهِمَا تَرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا, فَقَالَ لَهُمَا: “مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا?” قَالَا: قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا. قَالَ: “فَلَا تَفْعَلَا, إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمْ, ثُمَّ أَدْرَكْتُمْ الْإِمَامَ وَلَمْ يُصَلِّ, فَصَلِّيَا مَعَهُ, فَإِنَّهَا لَكُمْ نَافِلَةٌ” ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاللَّفْظُ لَهُ, وَالثَّلَاثَةُ, وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان

Dari Yazid Ibnu al-Aswad bahwa dia pernah sholat Shubuh bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah usai sholat beliau bertemu dengan dua orang laki-laki yang tidak ikut sholat. Beliau memanggil kedua orang itu, lalu keduanya dihadapkan dengan tubuh gemetaran. Beliau bertanya pada mereka: “Apa yang menghalangimu sehingga tidak ikut sholat bersama kami?” Mereka menjawab: Kami telah sholat di rumah kami. Beliau bersabda: “Jangan berbuat demikian, bila kamu berdua telah sholat di rumahmu kemudian kamu melihat imam belum sholat, maka sholatlah kamu berdua bersamanya karena hal itu menjadi sunat bagimu.” Riwayat Imam Tiga dan Ahmad dengan lafadz menurut riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Tidak mengikuti sholat berjamaah bersama imam sholat di dalam masjid termasuk perbuatan mengingkari imam sekaligus memecah belah persatuan di samping membuka peluang bagi ahli bid’ah untuk menampilkan perbuatan bid’ah mereka dan membentuk jamaah tersendiri. Di sini Rasulullah (s.a.w) melarang perbuatan memisahkan diri dari jamaah. Ini diungkapkan oleh Nabi (s.a.w) melalui bimbingannya kepada kedua orang lelaki yang tidak faham itu.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan tentang betapa hebat wibawa Rasulullah (s.a.w).

2. Menanyakan apa penyebab yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu pelanggaran.

3. Memperhatikan keadaan orang banyak ketika mengerjakan sholat serta memberikan bimbingan dan penyuluh kepada mereka yang melakukan pelanggaran agar kembali ke jalan yang benar.

4. Boleh melakukan sholat fardu di luar masjid.

5. Barang siapa telah melaksanakan sholat di luar masjid, kemudian dia menjumpai sholat berjamaah di dalam masjid, maka disunatkan baginya mengerjakan sholat lagi bersama jamaah. Sholat yang pertama merupakan sholat fardu, sedangkan sholat kedua yang dia lakukan secara berjamaah itu dianggap sholat sunat.

Imam Abu Hanifah mengkhususkan disyariatkannya pengulangan sholat itu hanya untuk selain sholat Subuh dan Maghrib.

Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad juga mengatakan bahwa pengulangan ini boleh dilakukan ke semua sholat tanpa terkecuali karena berdasarkan kepada makna dzahir hadis tersebut.

Imam Malik berkata: “Jika seseorang telah mengerjakan sholat secara berjamaah (di luar masjid), maka dia tidak perlu lagi mengulanginya. Jika tidak, maka dia dianjurkan untuk mengulanginya, kecuali sholat Maghrib.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 324 : PENTINGNYA SHALAT BERJAMAAH TANPA UDZUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 324 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا, عَن النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَهْ, وَالدَّارقُطْنِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِمُ, وَإِسْنَادُهُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ, لَكِنْ رَجَّحَ بَعْضُهُمْ وَقْفَه ُ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mendengar adzan tetapi ia tidak datang, maka tidak ada sholat baginya kecuali lantaran udzur.” Riwayat Ibnu Majah, Daruquthni, Ibnu Hibban, dan Hakim dengan sanad yang menurut syarat Muslim. Sebagian menguatkan bahwa hadits ini mauquf.

MAKNA HADITS :

Sholat berjamaah hukumnya sunnah muakkad. Oleh itu, Nabi (s.a.w) tidak memberikan keringanan untuk meninggalkannya kecuali karena udzur yang diakui oleh syariat.

Udzur yang diakui oleh syariat beraneka ragam, diantaranya adalah karena adanya perasaan takut atau sakit. Hadis ini menganjurkan untuk mengerjakan sholat berjamaah, tetapi ada sebagian ulama yang berpegang pada makna dzahirnya bahwa sholat berjamaah itu hukumnya fardhu ‘ain.

FIQH HADITS :

1. Mengukuhkan sholat berjamaah. Barangsiapa yang meninggalkannya tanpa udzur, maka dia tidak mendapat pahala yang berlimpah.

2. Jika ada udzur, maka disyariatkan untuk tidak mengikuti sholat berjamaah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 323 : PENTINGNYA SHALAT BERJAMAAH WALAUPUN BUTA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 323 :

وَعَنْهُ قَالَ: ( أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله! إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ, فَرَخَّصَ لَهُ, فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ, فَقَالَ: “هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَجِبْ ) رَوَاهُ مُسْلم

Dari Abu Hurairah r.a: Ada seorang laki-laki buta menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Ya Rasulullah, sungguh aku ini tidak mempunyai seorang penuntun yang menuntunku ke masjid. Maka beliau memberi keringanan padanya. Ketika ia berpaling pulang beliau memanggilnya dan bertanya: “Apakah engkau mendengar adzan untuk sholat?” Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Kalau begitu, datanglah.” Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Sholat berjamaah hukumnya sunnah mu’akkad. Namun bagi orang buta yang tidak menemukan seseorang yang dapat membimbingnya datang ke masjid diberikan keringanan untuk tidak menghadiri sholat berjamaah. Jika ada orang lain yang membimbingnya atau rumahnya berdekatan dengan masjid dan dia mendengar suara azan, sedangkan dia mampu pergi ke masjid seorang diri tanpa merasa kawatir salah jalan, maka tidak ada keringanan baginya untuk meninggalkan sholat berjamaah. Tetapi Nabi (s.a.w) tidak menjelaskan sesuatu pun kepadanya yang menunjukkan bahwa sholat berjamaah itu wajib. Mengakhirkan keterangan daripada waktu yang diperlukan pada hakikatnya tidak dibolehkan. Ini menunjukkan bahwa sholat berjamaah adalah sunat mu’akkad. Akan tetapi, ada orang yang beranggapan bahwa sholat berjamaah hukumnya wajib, karena berlandaskan kepada makna dzahir hadis ini.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan bertanya kepada orang alim apabila seseorang merasa kebinguhgan mengenai suatu urusan duniawi.

2. Mengukuhkan yang sholat berjamaah itu sunat mu’akkad.

3. Imam dianjurkan meminta izin apabila hendak meninggalkan sholat berjamaah karena ada uzur.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..