Arsip Kategori: 010. BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 3 : KEUTAMAAN MENGERJAKAN RUKHSAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 3 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ الله يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ وَفِي رِوَايَةٍ: ( كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ )

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah suka bila rukhshoh (keringanan)-Nya dilaksanakan sebagaimana Dia benci bila maksiatnya dilaksanakan.” Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Dalam suatu riwayat: “Sebagaimana Dia suka bila perintah-perintah-Nya yang keras dilakukan.”

MAKNA HADITS :

Islam merupakan agama toleransi, di dalamnya tidak ada barang tekanan dan beban yang melebihi kemampuan orang mukallaf. Allah (s.w.t) berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (١٨٥)

… Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu….” (Surah al-Baqarah: 185)

Allah suka apabila hamba-Nya mengerjakan apa yang telah diberi keringanan oleh-Nya sebagai bukti ketaatan kepada-Nya, sebagaimana Allah benci apabila perbuatan durhaka terhadap-Nya dikerjakan karena melanggar perintah-Nya. Allah ridha terhadap orang yang berpegang teguh kepada apa yang telah ditetapkan-Nya demi memperoleh ridha-Nya.

FIQH HADITS :

Mengerjakan rukhsah lebih diutamakan dibanding mengerjakan ‘azimah. Allah (s.w.t) berfirman:

يُرِيدُ الله بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (١٨٥)

“… Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu….” (Surah al-Baqarah: 185)

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADTS KE 2, JILID II : RUKHSAH DALAM PERJALANAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 2 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا; ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْصُرُ فِي السَّفَرِ وَيُتِمُّ, وَيَصُومُ وَيُفْطِرُ ) رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ, وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ. إِلَّا أَنَّهُ مَعْلُول ٌوَالْمَحْفُوظُ عَنْ عَائِشَةَ مِنْ فِعْلِهَا, وَقَالَتْ: ( إِنَّهُ لَا يَشُقُّ عَلَيَّ ) أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيّ ُ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam adakalanya mengqashar sholat dalam perjalanan dan adakalanya tidak, kadangkala puasa dan kadangkala tidak. Riwayat Daruquthni. Para perawinya dapat dipercaya, hanya saja hadits ini ma’lul. Adapun yang mahfudh dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu adalah dari perbuatannya, dan dia berkata: Sesungguhnya hal itu tidak berat bagiku. Dikeluarkan oleh Baihaqy

MAKNA HADITS :

Dalam perjalanan diperbolehkan mengqasar dan menyempurnakan sholat, sebagaimana juga diperbolehkan berbuka dan puasa, karena berbuka dan qasar merupakan satu keringanan (rukhsah). Barang siapa yang lebih menyukai ‘azimah, maka itu dia boleh melakukan dan barang siapa yang ingin mengambil rukhsah, maka itu lebih diutamakan baginya, kerana Allah menyukai apabila rukhsah-Nya dikerjakan, sebagaimana suka apabila ‘azimah-Nya dikerjakan.

FIQH HADITS :

1. Dalam perjalanan diperbolehkan mengqasar sholat.

2. Dalam perjalanan diperbolehkan berbuka puasa.

3. Dalam perjalanan diperbolehkan mengerjakan sholat dengan sempurna.

4. Dalam perjalanan tetap diperbolehkan berpuasa.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

JILID II (DUA), HADITS KE 1 : SHALAT YANG BISA DIQASHAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 1 :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: ( أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ , فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

وَلِلْبُخَارِيِّ: ( ثُمَّ هَاجَرَ, فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا, وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأَوَّلِ )وَلِلْبُخَارِيِّ: ( ثُمَّ هَاجَرَ, فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا, وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأَوَّلِ)

Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Sholat itu awalnya diwajibkan dua rakaat, lalu ia ditetapkan sebagai sholat dalam perjalanan, dan sholat di tempat disempurnakan (ditambah). Muttafaq Alaihi.

Menurut riwayat Bukhari: Kemudian beliau hijrah, lalu diwajibkan sholat empat rakaat, dan sholat dalam perjalanan ditetapkan seperti semula.

MAKNA HADITS :

Oleh kerana bermusafir sering kali menyebabkan keletihan, maka syariat Islam mempersingkat sholat empat rakaat seperti sholat dzuhur, Asar, dan Isyak menjadi dua rakaat sebagai satu kemudahan bagi orang musafir sehinggalah dia kembali
pulang ke tempat tinggalnya.

Sholat Maghrib tidak boleh dipersingkat, karena ia merupakan witir bagi sholat siang hari, sedangkan witir disukai oleh Allah. Begitu pula sholat Subuh, tidak
boleh dipersingkat, karena dalam mengerjakan sholat Subuh bacaan al-Qur’an mesti dipanjang. Bacaan dalam sholat Subuh disaksikan oleh para malaikat dan usaha
mempercepat pelaksanaan sholat Subuh bertentangan dengan anjuran supaya bacaan al-Qur’an di dalamnya dipanjangkan.

Sholat qasar disunnatkan, karena ia adalah rukhsah. Sholat qasar lebih afdhal dari sholat secara sempurna. Allah suka apabila rukhsah-Nya dikerjakan, sebagaimana Dia suka apabila ‘azimah-Nya dilakukan.
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa sholat qasar wajib hukumnya, karena ia merupakan hukum asal sholat, kemudian ditambah bilangan rakaat sholat fardu itu ketika sedang tidak dalam perjalanan sebagaimana yang diterangkan oleh hadis Aisyah (r.a). Dalam kaitan ini Imam Abu Hanifah tidak mengemukakan
pandangannya itu berlandaskan akal semata, sebaliknya semata-mata berlandaskan tawqif (ketentuan syariat). Jumhur ulama mengatakan bahwa hadis Aisyah itu berkedudukan mawquf, hanya sampai kepada Aisyah (r.a).

FIQH HADITS :

1. Mengqasar sholat ketika dalam perjalanan menurut mazhab Hanafi adalah wajib. Mereka mengemukakan dalil untuk mendukung pendapatnya
berlandaskan dalil hadis yang mengatakan: “فرضت) “Diwajibkan). Menurut jumhur ulama, sholat qasar merupakan rukhsah dan mengerjakannya dengan sempurna adalah lebih diutamakan. Mereka mengatakan bahwa makna “فرضت “ialah ditetapkan berdasarkan firman Allah (s.w.t):

فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ (١٠١)

“… Apabila kamu musafir di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqasar sholatmu…” (Surah al-Nisa’: 101)

2. Sholat Maghrib dan sholat Subuh tidak boleh mengalami perubahan, baik ketika bermukim maupun ketika bermusafir.

3. Disyariatkan memperpanjang bacaan al-Qur’an ketika mengerjakan sholat Subuh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..