Arsip Kategori: 011. BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 22 : MEMBACA AYAT AL-QURAN DALAM KHOTBAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 22 :

وَعَنْ أُمِّ هِشَامٍ بِنْتِ حَارِثَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: ( مَا أَخَذْتُ: “ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ”, إِلَّا عَنْ لِسَانِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم يَقْرَؤُهَا كُلَّ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ إِذَا خَطَبَ النَّاسَ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Ummu Hisyam Binti Haritsah Ibnu Al-Nu’man Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku tidak menghapal (Qof. Walqur’anil Majiid kecuali dari lidah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang beliau baca setiap Jum’at di atas mimbar ketika berkhutbah di hadapan orang-orang. Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Dalam menyampaikan khutbah Jum’at, Rasulullah (s.a.w) memilih surah-surah yang memuat penjelasan tentang hari bangkit, kematian, nasehat dan berita ancaman agar para sahabat mau mengambil pelajaran darinya dan mereka bersiap sedia menyambut hari akhirat.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan membaca Al-Qur’an ketika menyampaikan khutbah. Imam al-Syafi’i menganggapnya sebagai wajib.

2. Mengulangi nasehat dan pelajaran semasa dalam khutbah.

3. Perhatian yang besar kaum wanita pada zaman permulaan Islam dimana mereka mau mendengar, menghafal dan menukil Sunnah Nabi (s.a.w) dalam setiap kesempatan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 21 : BATAS WAKTU DALAM KHOTBAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 21 :

وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ, وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Ammar Ibnu Yasir Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya lamanya sholat seseorang dan pendek khutbahnya adalah pertanda akan pemahamannya (yang mendalam).” Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menjelaskan bahwa bukti yang menunjukkan kealiman seorang lelaki yang mengerjakan sholat itu ada dua. Pertama, sholat yang dikerjakannya dalam
waktu yang lama, tetapi tidak sampai melebihi batasan waktu yang dilarang atau membuat mudarat kepada para makmum yang berada di belakangnya. Kedua, khutbah yang disampaikannya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi isinya padat, gaya bahasanya jelas, mampu mendatangkan kesan di dalam hati para pendengar dan dapat meresap ke dalam kalbu mereka. Tingkatan khutbah yang paling hebat ini dapat dilakukan oleh Nabi (s.a.w), karena baginda dianugerahkan jawami’ al-
kalim. Tingkatan khutbah bagi orang selain baginda adalah berbeda-beda antara satu sama lain tergantung bakat para khatib masing-masing.

FIQH HADITS :

1. Khutbah hendaklah dilakukan secara singkat, tetapi mengandung nasehat-nasehat yang mampu menyentuh hati.

2. Dianjurkan memperpanjang waktu pelaksanaan sholat selagi tidak menyusahkan makmum. Salah satu keistimewaan Rasulullah (s.a.w) ialah baginda dianugerahkan jawami’al-kalim.

3. Menjelaskan tanda kepandaian seorang lelaki.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 20 : ISI KHOTBAH JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 20 :

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا خَطَبَ, احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ, وَعَلَا صَوْتُهُ, وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ, حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ, وَيَقُولُ: “أَمَّا بَعْدُ, فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ الله, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْي ُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ كَانَتْ خُطْبَةُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْجُمُعَةِ: ( يَحْمَدُ الله وَيُثْنِي عَلَيْهِ, ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِ ذَلِكَ, وَقَدْ عَلَا صَوْتُهُ ) وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: ( مَنْ يَهْدِه ِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ) وَلِلنَّسَائِيِّ: ( وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ )

Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila berkhotbah memerah kedua matanya, meninggi suaranya, dan mengeras amarahnya seakan-akan beliau seorang komandan tentara yang berkata: Musuh akan menyerangmu pagi-pagi dan petang. Beliau bersabda: “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah Kitabullah (al-Qur’an), sebaik-baiknya petunjuk ialah petunjuk Muhammad, sejelek-jelek perkara ialah yang diada-adakan (bid’ah), dan setiap bid’ah itu sesat.” Diriwayatkan oleh Muslim. Dalam suatu riwayatnya yang lain: Khutbah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada hari Jum’at ialah: Beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian beliau mengucapkan seperti khutbah di atas dan suaru beliau keras. Dalam suatu riwayatnya yang lain. “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada orang yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tiada orang yang dapat memberikan hidayah padanya.” Menurut riwayat Nasa’i: “Dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.”

MAKNA HADITS :

Disyariatkan menyampaikan dua khutbah untuk tujuan memberi nasihat, peringatan dan ancaman. Allah (s.w.t) berfirman:

فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ (٩)

“… Maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli…” (Surah al-Jumu’ah: 9)

Kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) ketika berkhutbah ialah memulai dengan membaca hamdalah, dua kalimat syahadat, dan shalawat serta salam ke atas Nabi (s.a.w) beserta keluarganya. Kemudian disusul dengan
membaca Amma Ba’du, anjuran untuk bertaqwa dan membaca suatu ayat dari al-Qur’an pada salah satu dari khutbah itu. Semua itu merupakan penjelasan
terhadap apa yang terdapat di Surah al-Jumu’ah.

Antara petunjuk Nabi (s.a.w) ialah baginda menyampaikan khutbah dalam keadaan berdiri, dibaca dengan suara yang keras serta menggunakan bahasa singkat dan padat yang mengandung targhib dan tarhib. Semua disampaikan dalam gaya bahasa yang fasih lagi sempurna dan sarat dengan isi serta bimbingan. Dalam
hal itu, Imam Malik berkata: “Khutbah masih belum mencukupi kecuali apabila telah memenuhi syarat-syarat khutbah.

FIQH HADITS :

1. Khatib disunatkan menyampaikan khutbah dengan penuh tumpuan, menguatkan suara ketika membacanya, menggunakan bahasa yang mudah difahami dan memuatkan targhib dan tarhib, serta menyentuh isu-isu sosial yang sedang berlaku. Dengan kata lain, khutbah hendaklah memuatkan isu-isu yang sedang terjadi, bukan memuatkan isu-isu lama yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman dan tidak memiliki kesan.

2. Disunatkan memulai khutbah dengan kalimat Amma Ba’du, baik dalam khutbah Jumaat, khutbah hari raya maupun dalam ceramah biasa.

3. Khutbah hendaklah memuat perintah untuk bertakwa kepada Allah, anjuran melakukan kewajipan yang boleh mendatangkan ridha Allah, dan
peringatan dari melakukan perbuatan yang menimbulkan murka-Nya.

4. Khutbah dimulai dengan pujian dan sanjungan kepada Allah setiap kali memulai khutbah Jum’at.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 19 : RUKUN DAN SYARAT KHUTBAH JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 19 :

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا, ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا, ثُمَّ يَجْلِسُ, ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا, فَمَنْ أَنْبَأَك َ أَنَّهُ كَانَ يَخْطُبُ جَالِسًا, فَقَدْ كَذَبَ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ

Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah dengan berdiri, lalu duduk, kemudian bangun dan berkhotbah dengan berdiri lagi. Maka barangsiapa memberi tahu engkau bahwa beliau berkhutbah dengan duduk, maka ia telah bohong. Dikeluarkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Khatib menyampaikan dua khutbah dalam keadaan berdiri dan duduk di antaranya merupakan perbuatan yang disyariatkan. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa berdiri ketika menyampaikan dua khutbah hukumnya sunat. Sedangkan jumhur ulama mengatakan, wajib berdiri semasa menyampaikan kedua khutbah itu. Mereka mengatakan demikian karena berdalilkan dengan kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w). Setiap perkara yang telah dijadikan sebagai kebiasaan
oleh Nabi (s.a.w) pada umumnya bermaksud hukum wajib. Sebaliknya setiap perkara yang tidak dibiasakan oleh baginda atau baginda malah meninggalkannya dalam keadaan atau waktu-waktu tertentu maka itu menunjukkan hukum tidak wajib. Rasulullah (s.a.w) bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Solatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku mengerjakan sholat.”

Manakala hadis yang menyebutkan bahwa Nabi (s.a.w) pernah melakukannya dalam keadaan duduk, maka itu bukan ketika menyampaikan khutbah Jum’at.
Sedangkan hadis yang dinukil dari Mu’awiyah (r.a) yang menyatakan bahwa beliau pernah berkhutbah dalam keadaan duduk, maka itu karena beliau ketika itu mengalami udzur dimana tubuhnya sudah gemuk.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan bahwa sholat Jum’at terdiri dari dua khutbah, meskipun ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Jumhur ulama mengatakan bahwa dua khutbah merupakan syarat sah bagi sholat Jum’at. Mereka mengatakan demikian karena berdalil dengan keterangan yang datang dari Nabi (s.a.w) dalam hadis sahih bahwa baginda senantiasa menyampaikan
khutbah setiap kali hendak mengerjakan sholat Jum’at. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa khutbah sudah mencukupi hanya sekali, sedangkan khutbah yang kedua hukumnya sunat.

Ulama fiqih menyebutkan syarat dan rukun kedua khutbah meskipun sebagian darinya masih diperselisihkan. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa rukun khutbah adalah kadar yang mencukupi untuk dikatakan sebagai khutbah; batasan minimumnya ialah tasbih, tahlil, atau tahmid, dan niat berkhutbah. Sedangkan syaratnya juga adalah hendaklah khutbah dilakukan pada waktunya yaitu sebelum mengerjakan sholat Jum’at dan dihadiri oleh sejumlah lelaki yang diperbolehkan mendirikan sholat Jum’at (yaitu tiga orang selain imam), antara khutbah dengan sholat Jum’at tidak dipisahkan oleh apapun.

Mazhab Maliki mengatakan bahwa rukun khutbah itu ada delapan
sebagai berikut:

a. Mengandung peringatan dan berita gembira;

b. dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab;

c. diucapkan dengan suara kuat;

d. dilakukan sebelum mengerjakan sholat Jum’at;

e. dilakukan setelah tergelincir
matahari;

f. isi dan tajuk khutbah mestinya saling berkaitan antara satu sama
lain;

g. tidak ada pemisah antara khutbah dengan sholat Jum’at; dilakukan dengan dihadiri oleh jemaah yang dapat dijadikan syarat sahnya sholat Jum’at, yaitu dua belas orang lelaki selain imam;

h. dilakukan di dalam masjid.

Tetapi sebagian mazhab Maliki menyebut kesemua itu sebagai syarat.

Mazhab al-Syafi’i mengatakan bahwa rukun khutbah itu ada lima, yaitu:

a. dimulai dengan pujian kepada Allah (s.w.t)

b. membaca sholawat dan
salam ke atas Rasulullah (s.a.w) dan kerabatnya dengan lafaz yang telah ditentukan bukan sekadar makna;

c. berwasiat supaya bertakwa kepada Allah (s.w.t) dimana ketiga rukun ini harus ada pada kedua khutbah;

c. membaca ayat pada salah satu dari kedua khutbah itu;

d. berdo’a untuk kaum mukminin.

Sedangkan syarat khutbah menurut mazhab al-Syafi’i adalah sebagai berikut:

a. khutbah dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab

b. dilakukan pada waktunya

c. kesemua rukun khutbah harus dikerjakan beriringan tanpa ada pemisah dan begitu juga diantara
kedua khutbah dengan sholat Jum’at

d. khatib hendaklah suci dari
hadas dan najis

e. khatib harus menutup aurat

f. khatib harus berdiri apabila mampu berbuat demikian

g. duduk diantara dua khutbah dengan thuma’ninah

h. khutbah diperdengarkan kepada empat puluh orang lelaki yang menjadi syarat sahnya sholat Jum’at.

Mazhab Hanbali mengemukakan seperti apa yang dikatakan oleh
mazhab al-Syafi’i, namun mereka menyebutnya sebagai syarat. Mereka menambahkan bahwa waktu khutbah boleh dimulai sejak waktu mengerjakan sholat hari raya dan khatib mestilah layak menjadi imam sholat Jum’at.

2. Disyariatkan berdiri ketika menyampaikan khutbah, meskipun ulama masih memperselisihi hukumnya. Menurut jumhur ulama, hukum berdiri ketika menyampaikan khutbah adalah wajib karena mereka melandasi pendapatnya dengan berdalilkan kepada hadis ini. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya serta satu riwayat dari Imam Ahmad mengatakan bahwa hukum berdiri ketika menyampaikan khutbah adalah sunat, karena berdalil dengan perbuatan Rasulullah (s.a.w) dan para khalifah sesudahnya, disamping semata perbuatan belum mencukupi untuk menunjukkan bahwa berdiri ketika menyampaikan khutbah adalah diwajibkan.

3. Disyariatkan duduk diantara dua khutbah. Menurut jumhur ulama, itu sunat, sedangkan menurut Imam al-Syafi’i, itu wajib. Imam al-Syafi’i menganggap sunat bahwa kadar duduk itu lebih kurang sama dengan membaca Surah al-Ikhlas, karena mengikut amalan dan tradisi ulama salaf dan ulama khalaf. Imam al-Syaf’ii berkata: “Hendaklah ketika khatib
sedang duduk diantara dua khutbah membaca ayat-ayat al-Qur’an karena mengikuti amalan yang pernah diamalkan oleh Nabi (s.a.w) sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ibn Hibban.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 18 : MENJUMPAI SATU RAKAAT SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 18 :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ وَغَيْرِهَا فَلْيُضِفْ إِلَيْهَا أُخْرَى, وَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُهُ ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ, وَابْنُ مَاجَهْ, وَالدَّارَقُطْنِيُّ, وَاللَّفْظُ لَهُ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ, لَكِنْ قَوَّى أَبُو حَاتِمٍ إِرْسَالَهُ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari sholat Jum’at atau sholat lainnya, maka hendaklah ia menambah rakaat lainnya yang kurang, dan dengan itu sempurnalah sholatnya.” Riwayat Nasa’i, Ibnu Majah dan Daruquthni. Lafadz hadits menurut riwayat Daruquthni. Sanadnya shahih tetapi Abu Hatim menguatkan ke-mursal-an hadits ini.

MAKNA HADITS :

Menghadiri dua khutbah bukanlah syarat bagi sahnya sholat Jum’at. Seorang makmum masbuq yang tidak sempat mendengarkan sedikitpun khutbah tetap dianggap sah sholat Jum’atnya, berbeda dengan orang yang menduga bahwa sholatnya itu batal. Hadits ini merupakan hujah bagi mereka yang beranggapan demikian.

Barang siapa yang sempat menjumpai satu rakaat dari sholat Jum’at maka dia tinggal menyempurnakan atau menambahkan satu rakaat yang kurang itu hingga dengan sempurnalah sholatnya. Jika sempat menjumpai imam kurang
dari satu rakaat misalnya menjumpai imam sholat Jum’at dalam keadaan sedang duduk kedua, maka hendaklah dia mengerjakan sholat Dzuhur, yakni empat rakaat. Lain halnya dengan madzhab Hanafi dimana mereka mengatakan bahwa seseorang itu tetap meneruskan sholat Jum’atnya, yakni tetap dua rakaat.

FIQH HADITS :

1. Barang siapa yang sempat menjumpai satu rakaat sholat Jum’at bersama imam, maka bererti dia telah menjumpai sholat Jum’at.

2. Sholat Jum’at sah bagi orang yang datang terlambat, sekalipun dia tidak sempat mendengarkan khutbah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 17 : BATAS JUMLAH JAMAAH SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 17 :

وَعَنْ جَابِرٍ ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا, فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنَ الشَّامِ, فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا, حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sedang khutbah berdiri, datanglah kafilah dagang dari negeri Syam. Lalu orang-orang menyongsongnya sehingga (dalam masjid) hanya tinggal dua belas orang. Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Tidak ada batasan yang jelas secara syarak berapa jumlah jemaah sholat Jum’at yang dengan demikian sholat Jum’at kemudian dinyatakan sah. Oleh itu, masalah ini merupakan ruang bagi ijtihad. Menurut Abu Hanifah, sholat Jum’at dapat
didirikan hanya dengan tiga orang termasuk imam di dalamnya. Menurut Imam Malik dan qaul qadim Imam al-Syafi’i, sholat Jum’at boleh didirikan apabila ada dua belas orang lelaki. Menurut Imam al-Syafi’i dalam qaul jadid, sholat Jum’at hanya dapat didirikan apabila ada empat puluh orang laki-laki. pendapat yang sama
juga dikatakan pula oleh Imam Ahmad.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan berdiri ketika menyampaikan khutbah.

2. Tidak disyaratkan jumlah tertentu bagi sahnya sholat Jum’at. Inilah yang menjadi pegangan Imam Malik. Beliau berkata: “Hendaklah jumlah orang
yang mengikuti pelaksanaan sholat Jum’at terdiri dari dua belas orang
laki-laki selain imam.” Murid-murid Imam al-Syafi’i dan ulama yang lain yang mensyaratkan empat puluh orang lelaki mengatakan bahwa hadis ini dapat ditafsirkan atas dasar mereka melaksanakan sholat Jum’at atau sebagian mereka kembali hingga jumlah mereka kemudian menjadi empat puluh orang lelaki dan Rasulullah (s.a.w) setelah itu melaksanakan sholat Jum’at bersama mereka. Imam Abu Hanifah berkata: “Solat Jum’at dapat didirikan dengan tiga orang termasuk imam di dalamnya. Bilangan tersebut merupakan jumlah minimum bagi sahnya sholat Jum’at.” Imam
Abu Hanifah melandaskan pendapatnya kepada firman Allah (s.w.t):

فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ الله (٩)

“… Maka bersegeralah kamu mengingat Allah…” (Surah al-Jumu’ah: 9)

Perintah dalam ayat ini ditujukan kepada jemaah sesudah adanya seruan supaya mereka mengerjakan sholat Jum’at, sedangkan bilangan minimum bagi suatu jemaah itu adalah tiga orang.

3. Menjelaskan perjalanan hidup yang terpuji bagi Abu Bakar, Umar, dan Jabir serta mereka yang tidak tergoda oleh harta benda dan tidak meninggalkan sholat Jum’at karena disibukkan oleh harta benda tersebut.

“`Wallahu a’lam bisshowab..“`

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 16 : ANJURAN BERSEGERA MENGERJAKAN SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 16 :

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ, مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ وَفِي رِوَايَةٍ: فِي عَهْدِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم

Sahal Ibnu Sa’ad Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami tidak pernah tidur siang dan makan siang kecuali setelah (sholat) Jum’at. Muttafaq Alaihi dengan lafadz menurut riwayat Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan: Pada jaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam

MAKNA HADITS :

Makna dzahir hadis ini menjadi hujjah bagi ulama yang mengatakan boleh mengerjakan sholat Jum’at sebelum matahari tergelincir ke arah barat. Jumhur ulama menyanggahnya dengan mengatakan bahwa ini hanyalah tradisi dimana makan siang dan istirahat dilakukan sesudah matahari tergelincir. Allah (s.w.t) telah berfirman:

وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ الظَّهِيرَةِ (٥٨)

Ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari…” (Surah al-Nur: 58)

FIQH HADITS :

Bersegera mengerjakan sholat Jum’at pada permulaan waktu zawal yakni ketika matahari tergelincir hendaklah bersegera mengerjakan sholat Jum’at.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 15 : WAKTU PELAKSANAAN SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 15 :

وَعَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رضي الله عنه قَالَ: ( كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم الْجُمُعَةَ, ثُمَّ نَنْصَرِفُ وَلَيْسَ لِلْحِيطَانِ ظِلٌّ نَسْتَظِلُّ بِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ ِ وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: ( كُنَّا نَجْمَعُ مَعَهُ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ, ثُمَّ نَرْجِعُ, نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ )

Salamah Ibnu Al-Akwa’ Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami sholat bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam hari Jum’at, kemudian kami bubar pada saat tembok-tembok tidak ada bayangan untuk berteduh. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari. Dalam lafadz menurut riwayat Muslim: Kami sholat Jum’at bersama beliau ketika matahari tergelincir kemudian kami pulang sambil mencari-cari tempat berteduh.

MAKNA HADITS :

Menurut pendapat kebanyakan ulama, waktu sholat Jum’at sama dengan waktu sholat Dzuhur. Rasulullah (s.a.w) selalu mengerjakan sholat Jum’at ketika
matahari telah tergelincir (dari tengah langit) agar orang ramai kembali pulang ke tempat tinggalnya masing-masing untuk beristirahat dari sengatan panasnya terik matahari.

Menurut pendapat Imam Ahmad, waktu sholat Jum’at sama dengan waktu sholat hari raya. Beliau melandaskan pendapatnya dengan makna dzahir hadis ini:
“Sedangkan di kawasan perkebunan tidak ada lagi nampak bayangannya.”

Jumhur ulama mengatakan bahwa kalimat nafi mestilah ditujukan konteksnya dimana pemahamannya adalah: “Sedangkan di kawasan perkebunan tidak lagi terdapat bayangan yang mencukupi sebagai naungan.”

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan segera melaksanakan sholat Jum’at ketika matahari tergelincir karena waktu itu merupakan waktu dimana Rasulullah (s.a.w) biasa mengerjakannya. Inilah pendapat jumhur ulama. Sedangkan menurut mazhab Hambali, dibolehkan mengerjakan sholat Jum’at sebelum matahari tergelincir, karena berlandaskan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Imam
Ahmad, al-Nasa’i dan Muslim dari Jabir (r.a) bahwa Rasulullah (s.a.w)
mengerjakan sholat Jum’at, kemudian kami pergi menuju ke tempat ternak unta kami, lalu mengistirahatkannya ketika matahari sedang tergelincir.

2. Sahabat memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap perkara-perkara yang berkaitan dengan ibadah dan pelaksanaan syiar-syiar agama.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADTS KE 14 : PENTINGNYA SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 14 :

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عُمَرَ, وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ, ( أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ -عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ- “لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ, أَوْ لَيَخْتِمَنَّ الله عَلَى قُلُوبِهِمْ, ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Abdullah Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa mereka berdua mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda di atas kayu mimbarnya: “Hendaknya orang-orang itu benar-benar berhenti meninggalkan sholat Jum’at, atau Allah akan menutup hati mereka, kemudian mereka benar-benar termasuk orang-orang yang lupa.” Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Hari Jum’at merupakan hari mulia. Sejak dahulu hari Jum’at selalu diagungkan, hingga ketika di zaman Jahiliah pun diagungkan. Nama lain hari Juma’t ialah hari ‘Urubah. Nabi (s.a.w) mengenai hari Jum’at ini pernah bersabda:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا ، وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ (الحديث)

“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya ialah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari Jum’at pula dia masuk ke dalam surga, dan pada hari Jum’at pula dia dikeluarkan daripadanya. Dan tidak sekali-kali hari kiamat terjadi kecuali pada hari Jum’at.”

Diberi nama hari Jum’at karena orang ramai berhimpun pada hari itu untuk mengerjakan ibadah sholat Jum’at. Hari Jum’at merupakan hari raya mingguan bagi umat Islam yang datang secara berulang dalam setiap minggu. Pada hari Jum’at terdapat suatu saat dimana pada saat itu do’a dikabulkan oleh Allah (s.w.t).

Rasulullah (s.a.w) memerintahkan supaya menghadiri dua khutbah dan mengikuti sholat Jum’at, serta mengingatkan umatnya dari memandang rendah masalah ini. Untuk itu, baginda menjelaskan bahwa meninggalkan sholat Jum’at akan mengakibatkan seseorang terhina dan hatinya dikunci mati oleh Allah. Sholat Jum’at adalah fardu ‘ain bagi kaum lelaki dan tidak wajib bagi kaum wanita, hamba sahaya dan orang yang bermusafir. Waktu sholat Jum’at merupakan waktu sholat Dzuhur. Orang yang mengingkari kewajiban sholat Jum’at hukumnya kafir dan dalil kewajipan mengerjakan sholat Jum’at adalah firman Allah (s.w.t):

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ (٩)

“Hai orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (Surah al-Jumu’ah: 9)

Sholat Jum’at difardukan di Mekah, tetapi masih belum dilaksanakan kecuali setelah Nabi (s.a.w) berada di Madinah mengingat saat itu kaum muslimin masih belum memiliki kekuatan. Sholat Jum’at pertama yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) ialah di kalangan Bani Amr ibn Mu’adz yang terletak di antara Quba’ dan Madinah, tepatnya di lembah Ranunah.

FIQH HADITS :

1. Disunahkan membuat mimbar. Ini merupakan Sunnah Rasulullah (s.a.w).

2. Hukum sholat Jum’at adalah fardu ‘ain.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..