Arsip Kategori: 015. BAB SHALAT ISTISQO’ (MINTA HUJAN)

HADITS KE 68 : KHOTBAH DALAM SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 68 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( شَكَا اَلنَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قُحُوطَ الْمَطَرِ, فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ, فَوُضِعَ لَهُ فِي اَلْمُصَلَّى, وَوَعَدَ اَلنَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ, فَخَرَجَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ اَلشَّمْسِ, فَقَعَدَ عَلَى اَلْمِنْبَرِ, فَكَبَّرَ وَحَمِدَ اللَّهَ, ثُمَّ قَالَ: “إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدَبَ دِيَارِكُمْ, وَقَدْ أَمَرَكُمْ اللَّهُ أَنْ تَدْعُوَهُ, وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ, ثُمَّ قَالَ: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ” ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ, فَلَمْ يَزَلْ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ, ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ, وَقَلَبَ رِدَاءَهُ, وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ, ثُمَّ أَقْبِلَ عَلَى اَلنَّاسِ وَنَزَلَ, وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, فَأَنْشَأَ اللَّهُ سَحَابَةً, فَرَعَدَتْ, وَبَرَقَتْ, ثُمَّ أَمْطَرَتْ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَقَالَ: “غَرِيبٌ, وَإِسْنَادُهُ جَيِّدٌ”

وَقِصَّةُ التَّحْوِيلِ فِي “الصَّحِيحِ” مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ، وَفِيهِ: ( فَتَوَجَّهَ إِلَى اَلْقِبْلَةِ, يَدْعُو, ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ, جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ )

وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ مِنْ مُرْسَلِ أَبِي جَعْفَرٍ اَلْبَاقِرِ: وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ؛ لِيَتَحَوَّلَ الْقَحْطُ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu : Bahwa orang-orang mengadu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang tidak turunnya hujan. Beliau menyuruh mengambil mimbar dan meletakkannya di tempat sholat, lalu beliau menetapkan hari dimana orang-orang harus keluar. Beliau keluar ketika mulai tampak sinar matahari. Beliau duduk di atas mimbar, bertakbir dan memuji Allah, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian telah mengadukan kekeringan negerimu padahal Allah telah memerintahkan kalian agar berdoa kepada-Nya dan Dia berjanji akan mengabulkan doamu. Lalu beliau berdoa, segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang merajai hari pembalasan, tidak ada Tuhan selain Allah yang melakukan apa yang Ia kehendaki, ya Allah Engkaulah Allah tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahakaya dan kami orang-orang fakir, turunkanlah pada kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang lama.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya terus menerus hingga tampak warna putih kedua ketiaknya, lalu beliau masih membelakangi orang-orang dan membalikkan selendangnya dan beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap orang-orang dan turun, lalu sholat dua rakaat. Lalu Allah mengumpulkan awan, kemudian terjadi guntur dan kilat, lalu turun hujan. Riwayat Abu Dawud. Dia berkata: Hadits ini gharib dan sanadnya baik.

Mengenai kisah membalikkan selendang dalam shahih Bukhari dari hadits Abdullah Ibnu Zaid di dalamnya disebutkan: Lalu beliau menghadap kiblat dan berdoa, kemudian sholat dua rakaat dengan bacaan yang keras.

Menurut riwayat Daruquthni dari hadits mursal Abu Ja’far al-Baqir: Beliau membalikkan selendang itu agar musim kemarau berganti (dengan musim hujan).

MAKNA HADITS :

Sholat istisqa’ terdiri dari dua khutbah, do’a, menghadap ke arah kiblat, dan membalikkan kain selendang. Pelaksanaan sholatnya sama dengan sholat hari raya, yaitu terdiri dari dua rakaat dan setelah imam memberitahunya kepada orang banyak, hari di mana mereka akan mengerjakan sholat istisqa’ dengan tujuan mereka bersiap sedia untuk bertaubat, bersedekah dan mengembalikan hak-hak milik orang lain yang sebelum ini diambil dengan cara tidak betul.
Dua khutbah dilakukan sesudah mengerjakan sholat dan dimulai membaca istighfar disertai dengan do’a. Do’a dilakukan ketika menghadap ke arah kiblat pada akhir khutbah kedua. Hendaklah khatib berdo’a dengan bahasa yang dia inginkan, tetapi apa yang lebih utama ialah membaca do’a-do’a yang pernah diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w), seperti yang tercantum di dalam hadits ini.

Manakala tahwil atau membalikkan kain selendang hendaklah dilakukan
ketika khatib hendak turun dari atas mimbar. Cara membalikkan kain selendang ialah dengan membalikkan bagian tepi selendang yang sebelah kanan ke arah kiri dan sebaliknya. Hikmah membalikkan kain selendang ini ialah mengandung harapan yang baik dan sebagai isyarat permohonan semoga keadaan berubah menjadi lebih
baik. Ini seakan-akan dikatakan kepadanya: “Balikkanlah kain selendangmu agar keadaanmu berubah menjadi lebih baik!” Membalikkan kain selendang ini sunat dan bukannya fardu.

FIQH HADITS :

1. Merujuk kepada pemimpin ketika terjadi malapetaka.

2. Imam disyariatkan keluar dengan membawa semua anggota masyarakat
menuju padang untuk mengerjakan sholat istisqa’ dan menentukan harinya agar mereka bersiap sedia menyambutnya dengan terlebih dahulu membersihkan diri daripada perbuatan zalim dan dosa lain yang selama mereka lakukan, dan diharapkan mereka bertaubat terlebih dahulu.

3. Disunatkan keluar menuju tempat sholat istisqa’ pada permulaan siang hari.

4. Disunatkan melakukan khutbah di tempat yang tinggi dan memulainya
dengan membaca takbir, pujian, dan apa-apa yang ada kaitannya dengan istisqa’.

5. Dalam khutbah sholat istisqa’ dibolehkan mengulang-ulangi pujian.

6. Dianjurkan orang yang melakukan khutbah adalah orang yang dikenal
bersifat zuhud dan warak agar do’anya cepat dimakbulkan.

7. Imam disunatkan menghadap ke arah orang ramai ketika sedang
menyampaikan khutbah.

8. Disunatkan mengangkat kedua tangan setinggi yang mungkin ketika
berdo’a istisqa’ dengan menghadap ke arah kiblat. Adapun hadits yang
diriwayatkan dari Anas (r.a) yang menyatakan bahwa Nabi (s.a.w)
tidak pernah mengangkat kedua-dua tangannya ketika berdo’a kecuali
dalam do’a istisqa’, maka ini ditafsirkan bahwa apa yang dinafikan ialah
sifat kesungguhannya atau dengan kata lain tidak bersungguh-sungguh
mengangkat kedua tangannya. Ini karena telah disebutkan dalam beberapa
hadis yang menceritakan bahwa mengangkat kedua tangan ketika
berdo’a memang disyariatkan.

9. Imam boleh membalikkan tulang belakang ketika dia telah selesai berdo’a.

10. Disunatkan membalikkan kain selendang dengan niat ber-tafa’ul (beroptimis) agar keadaan dibalikkan menjadi lebih baik, menurut pendapat jumhur ulama. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa tidak boleh membalikkan kain selendang. Hal ini merupakan satu riwayat yang bersumber daripada Abu Yusuf, salah seorang murid Imam Abu Hanifah. Ulama berselisih
pendapat mengenai cara membalikkannya. Mazbab Maliki dan mazhab Hambali mengatakan bahwa bagian tepi yang sebelah kanan dibalikkan ke arah kiri, dan yang sebelah kiri dibalikkan ke arah kanan. Hal yang sama dikatakan pula oleh mazhab Imam al-Syafi’i. Mazhab Imam al-Syafii mengatakan bahwa itu dilakukan apabila kain selendangnya berbentuk bulat; jika kainnya berbentuk empat persegi panjang, maka cara membalikkannya ialah dengan menjadikan bagian atasnya ke arah bawah dan bagian bawahnya ke arah atas. Imam Muhammad dari mazhab Hanafi mengatakan bahwa imam membalikkan kain selendangnya dengan cara menjadikan bagian atasnya ke bagian bawah, sedangkan para makmum tidak dianjurkan berbuat demikian. Apabila kain selendangnya berbentuk bulat, maka bagian dalaman dikeluarkan, sedangkan bagian luar dimasukkan ke dalam.

11. Boleh melakukan khutbah sebelum sholat.

12. Disyariatkan menguatkan suara bacaan dalam sholat.

13. Khatib boleh tersenyum di atas mimbar karena kagum melihat banyak orang.

14. Menjelaskan kedudukan Rasulullah (s.a.w) yang mulia di sisi Allah, karena
do’anya dikabulkan dengan seketika.

15. Menjelaskan keadaan hadis dimana hadis ini boleh dijadikan sebagai
hujah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 68 : TATACARA DALAM SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 68 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( شَكَا اَلنَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قُحُوطَ الْمَطَرِ, فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ, فَوُضِعَ لَهُ فِي اَلْمُصَلَّى, وَوَعَدَ اَلنَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ, فَخَرَجَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ اَلشَّمْسِ, فَقَعَدَ عَلَى اَلْمِنْبَرِ, فَكَبَّرَ وَحَمِدَ اللَّهَ, ثُمَّ قَالَ: “إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدَبَ دِيَارِكُمْ, وَقَدْ أَمَرَكُمْ اللَّهُ أَنْ تَدْعُوَهُ, وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ, ثُمَّ قَالَ: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ” ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ, فَلَمْ يَزَلْ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ, ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ, وَقَلَبَ رِدَاءَهُ, وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ, ثُمَّ أَقْبِلَ عَلَى اَلنَّاسِ وَنَزَلَ, وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, فَأَنْشَأَ اللَّهُ سَحَابَةً, فَرَعَدَتْ, وَبَرَقَتْ, ثُمَّ أَمْطَرَتْ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَقَالَ: “غَرِيبٌ, وَإِسْنَادُهُ جَيِّدٌ”

وَقِصَّةُ التَّحْوِيلِ فِي “الصَّحِيحِ” مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ، وَفِيهِ: ( فَتَوَجَّهَ إِلَى اَلْقِبْلَةِ, يَدْعُو, ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ, جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ )

وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ مِنْ مُرْسَلِ أَبِي جَعْفَرٍ اَلْبَاقِرِ: وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ؛ لِيَتَحَوَّلَ الْقَحْطُ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu : Bahwa orang-orang mengadu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang tidak turunnya hujan. Beliau menyuruh mengambil mimbar dan meletakkannya di tempat sholat, lalu beliau menetapkan hari dimana orang-orang harus keluar. Beliau keluar ketika mulai tampak sinar matahari. Beliau duduk di atas mimbar, bertakbir dan memuji Allah, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian telah mengadukan kekeringan negerimu padahal Allah telah memerintahkan kalian agar berdoa kepada-Nya dan Dia berjanji akan mengabulkan doamu. Lalu beliau berdoa, segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang merajai hari pembalasan, tidak ada Tuhan selain Allah yang melakukan apa yang Ia kehendaki, ya Allah Engkaulah Allah tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahakaya dan kami orang-orang fakir, turunkanlah pada kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang lama.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya terus menerus hingga tampak warna putih kedua ketiaknya, lalu beliau masih membelakangi orang-orang dan membalikkan selendangnya dan beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap orang-orang dan turun, lalu sholat dua rakaat. Lalu Allah mengumpulkan awan, kemudian terjadi guntur dan kilat, lalu turun hujan. Riwayat Abu Dawud. Dia berkata: Hadits ini gharib dan sanadnya baik.

Mengenai kisah membalikkan selendang dalam shahih Bukhari dari hadits Abdullah Ibnu Zaid di dalamnya disebutkan: Lalu beliau menghadap kiblat dan berdoa, kemudian sholat dua rakaat dengan bacaan yang keras.

Menurut riwayat Daruquthni dari hadits mursal Abu Ja’far al-Baqir: Beliau membalikkan selendang itu agar musim kemarau berganti (dengan musim hujan).

MAKNA HADITS :

Sholat istisqa’ terdiri dari dua khutbah, do’a, menghadap ke arah kiblat, dan membalikkan kain selendang. Pelaksanaan sholatnya sama dengan sholat hari raya, yaitu terdiri dari dua rakaat dan setelah imam memberitahunya kepada orang banyak, hari di mana mereka akan mengerjakan sholat istisqa’ dengan tujuan mereka bersiap sedia untuk bertaubat, bersedekah dan mengembalikan hak-hak milik orang lain yang sebelum ini diambil dengan cara tidak betul.
Dua khutbah dilakukan sesudah mengerjakan sholat dan dimulai membaca istighfar disertai dengan do’a. Do’a dilakukan ketika menghadap ke arah kiblat pada akhir khutbah kedua. Hendaklah khatib berdo’a dengan bahasa yang dia inginkan, tetapi apa yang lebih utama ialah membaca do’a-do’a yang pernah diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w), seperti yang tercantum di dalam hadits ini.
Manakala tahwil atau membalikkan kain selendang hendaklah dilakukan
ketika khatib hendak turun dari atasmimbar. Cara membalikkan kain selendang ialah dengan membalikkan bagian tepi selendang yang sebelah kanan ke arah kiri dan sebaliknya. Hikmah membalikkan kain selendang ini ialah mengandung harapan yang baik dan sebagai isyarat permohonan semoga keadaan berubah menjadi lebih
baik. Ini seakan-akan dikatakan kepadanya: “Balikkanlah kain selendangmu agar keadaanmu berubah menjadi lebih baik!” Membalikkan kain selendang ini sunat dan bukannya fardu.

FIQH HADITS :

1. Merujuk kepada pemimpin ketika terjadi malapetaka.

2. Imam disyariatkan keluar dengan membawa semua anggota masyarakat
menuju padang untuk mengerjakan sholat istisqa’ dan menentukan harinya agar mereka bersiap sedia menyambutnya dengan terlebih dahulu membersihkan diri daripada perbuatan zalim dan dosa lain yang selama mereka lakukan, dan diharapkan mereka bertaubat terlebih dahulu.

3. Disunatkan keluar menuju tempat sholat istisqa’ pada permulaan siang hari.

4. Disunatkan melakukan khutbah di tempat yang tinggi dan memulainya
dengan membaca takbir, pujian, dan apa-apa yang ada kaitannya dengan istisqa’.

5. Dalam khutbah sholat istisqa’ dibolehkan mengulang-ulangi pujian.

6. Dianjurkan orang yang melakukan khutbah adalah orang yang dikenal
bersifat zuhud dan warak agar do’anya cepat dimakbulkan.

7. Imam disunatkan menghadap ke arah orang ramai ketika sedang
menyampaikan khutbah.

8. Disunatkan mengangkat kedua tangan setinggi yang mungkin ketika
berdo’a istisqa’ dengan menghadap ke arah kiblat. Adapun hadits yang
diriwayatkan dari Anas (r.a) yang menyatakan bahwa Nabi (s.a.w)
tidak pernah mengangkat kedua-dua tangannya ketika berdo’a kecuali
dalam do’a istisqa’, maka ini ditafsirkan bahwa apa yang dinafikan ialah
sifat kesungguhannya atau dengan kata lain tidak bersungguh-sungguh
mengangkat kedua tangannya. Ini karena telah disebutkan dalam beberapa
hadis yang menceritakan bahwa mengangkat kedua tangan ketika
berdo’a memang disyariatkan.

9. Imam boleh membalikkan tulang belakang ketika dia telah selesai berdo’a.

10. Disunatkan membalikkan kain selendang dengan niat ber-tafa’ul (beroptimis) agar keadaan dibalikkan menjadi lebih baik, menurut pendapat jumhur ulama. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa tidak boleh membalikkan kain selendang. Hal ini merupakan satu riwayat yang bersumber daripada Abu Yusuf, salah seorang murid Imam Abu Hanifah. Ulama berselisih
pendapat mengenai cara membalikkannya. Mazbab Maliki dan mazhab Hambali mengatakan bahwa bagian tepi yang sebelah kanan dibalikkan ke arah kiri, dan yang sebelah kiri dibalikkan ke arah kanan. Hal yang sama dikatakan pula oleh mazhab Imam al-Syafi’i. Mazhab Imam al-Syafii mengatakan bahwa itu dilakukan apabila kain selendangnya berbentuk bulat; jika kainnya berbentuk empat persegi panjang, maka cara membalikkannya ialah dengan menjadikan bagian atasnya ke arah bawah dan bagian bawahnya ke arah atas. Imam Muhammad dari mazhab Hanafi mengatakan bahwa imam membalikkan kain selendangnya dengan cara menjadikan bagian atasnya ke bagian bawah, sedangkan para makmum tidak dianjurkan berbuat demikian. Apabila kain selendangnya berbentuk bulat, maka bagian dalaman dikeluarkan, sedangkan bagian luar dimasukkan ke dalam.

11. Boleh melakukan khutbah sebelum sholat.

12. Disyariatkan menguatkan suara bacaan dalam sholat.

13. Khatib boleh tersenyum di atas mimbar karena kagum melihat banyak orang.

14. Menjelaskan kedudukan Rasulullah (s.a.w) yang mulia di sisi Allah, karena
do’anya dikabulkan dengan seketika.

15. Menjelaskan keadaan hadis dimana hadis ini boleh dijadikan sebagai
hujah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 67 : TATACARA SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 67 :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( خَرَجَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُتَوَاضِعًا, مُتَبَذِّلًا, مُتَخَشِّعًا, مُتَرَسِّلًا, مُتَضَرِّعًا, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, كَمَا يُصَلِّي فِي اَلْعِيدِ, لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَأَبُو عَوَانَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar dengan rendah diri, berpakaian sederhana, khusyu’, tenang, berdoa kepada Allah, lalu beliau sholat dua rakaat seperti pada sholat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti pada sholat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti khutbahmu ini. Riwayat Imam Lima dan dinilai shahih oleh Tirmidzi, Abu Awanah, dan Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Istisqa’ adalah meminta hujan kepada Allah (s.w.t) apabila terjadi kekeringan.
Penyebab terjadinya kekeringan dan kemarau yang panjang itu adalah manusia tidak mau berzakat dan sering curang dalam melakukan timbangan serta ukuran mereka. jika itu sudah terjadi, maka tidak ada cara lain untuk menghilangkannya kecuali dengan memohon perlindungan kepada Allah melalui berdo’a dan bertadharru’ kepada-Nya.

Pernah ada suatu kaum mengadu kepada Nabi (s.a.w) tentang kemarau panjang yang menimpa negeri mereka, lalu baginda bersabda kepada mereka:
“Duduklah di atas lutut kamu lalu berdoalah: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’.” Kemudian disyariatkan sholat istisqa’.

Jika Nabi (s.a.w) menghadapi suatu masalah besar, baginda segera melakukan sholat. Baginda pernah melakukan sholat untuk memohon hujan sebanyak dua
rakaat seperti halnya baginda melakukan sholat hari raya sebagai satu syariat bagi
umatnya. Adakalanya baginda tidak melakukan sholat, tetapi cukup dengan berdo’a di dalam khutbah Jum’at atau dalam kesempatan-kesempatan yang lain. Ini untuk menjelaskan bahwa cara itu juga dibolehkan.

Sesudah melakukan sholat istisqa’, baginda selalu menyampaikan khutbah untuk memberikan nasehat serta berdo’a kepada Allah (s.w.t). Khatib dianjurkan menggunakan lafadz do’a yang pernah dibaca oleh Nabi (s.a.w) ketika
meminta turun hujan, karena dengan cara ini diharapkan apa yang dipintanya
itu segera dikabulkan. Tetapi ada sebagian ulama yang tidak berkhutbah
ketika mengerjakan sholat istisqa, dan mereka mentafsirkan semua riwayat yang menceritakan masalah khutbah ini sebagai do’a semata-mata.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengerjakan sholat istisqa’. Cara mengerjakan sholat istisqa’
sama dengan mengerjakan sholat hari raya. Imam al-Syafi’i berkata: “Takbir
pada rakaat pertama dilakukan sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram,
sedangkan pada rakaat kedua dilakukan sebanyak lima kali selain takbir
berdiri. Imam Malik dan Imam Ahmad mengatakan bahwa tidak ada takbir
tambahan dalam sholat istisqa’ dan mereka mentafsirkan hadis ini dengan
mengatakan bahwa maksud menyamakan sholat istisqa’ dengan sholat hari raya ialah dalam bilangan rakaat, bacaan mesti dibaca dengan suara kuat dan sholat dilakukan sebelum menyampaikan khutbah. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa sholat istisqa’ tidak disyariatkan, sebaliknya apa yang disyariatkan adalah berdo’a memohon turun hujan.

2. Disyariatkan khutbah sesudah mengerjakan sholat. Jumhur ulama
mengatakan bahwa apa yang paling afdhal ialah mengakhirkan khutbah
sebagaimana dalam sholat hari raya. Namun jika khutbah didahulukan ke
atas sholat, maka khutbah dan sholat istisqa’ tetap dianggap sah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..