Arsip Kategori: B. KITAB SHALAT (IBANAH AL-AHKAM)

HADITS KE 149 : ADZAN UNTUK SHOLAT YANG SUDAH BERLALU WAKTUNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 149 :

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةٌ فِي اَلْحَدِيثِ اَلطَّوِيلِ ( فِي نَوْمهمْ عَن الصَّلَاةِ – ثُمَّ أَذَّنَ بِلَالٌ فَصَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَمَا كَانَ يَصْنَعُ كُلَّ يَوْمٍ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Qotadah Radliyallaahu ‘anhu dalam hadits yang panjang tentang mereka yang meninggalkan shalat karena tidur kemudian Bilal adzan maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam shalat sebagaimana yang beliau lakukan setiap hari. Hadits riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Ulama berselisih pendapat dalam azan disyariatkan untuk menunjukkan masuknya waktu solat atau disyariatkan untuk menunjukkan masuknya waktu solat sekaligus mengajak kaum muslimin mengerjakan solat fardu secara berjamaah. Dari sini muncul perbedaan pendapat di kalangan mereka baik azan disyariatkan untuk mengerjakan solat yang sudah berlalu waktunya dan mengerjakan solat yang terlupakan.

Jumhur ulama mengatakan bahwa azan disyariatkan untuk mengerjakan solat yang telah berlalu waktunya. Pendapat ini merupakan qaul qadim Imam al-Syafi’i dengan berlandaskan kepada hadis ini. Imam al-Syafi’i di dalam qaul jadid pula mengatakan bahwa tidak perlu dikumandangkan azan untuk mengerjakan solat yang telah berlalu waktunya. Jika solat yang telah terlewatkan waktunya dikerjakan bersamaan dengan solat yang masih wujud di dalam waktunya, maka azan untuk solat yang masih wujud waktunya itu sudah mencukupi. Beliau mengemukakan dalil dengan hadis yang menceritakan Nabi (s.a.w) mengerjakan solat yang telah berlalu waktunya ketika perang al-Khandaq. Di sini baginda hanya mengumandangkan iqamah dan tidak menyuruh supaya azan dikumandangkan memandangkan waktunya telah berlalu.

FIQH HADITS :

Disyariatkan mengumandangkan azan untuk mengerjakan solat yang waktunya sudah berlalu kerana tertidur dan demikian pula dengan solat yang terlupa untuk mengerjakannya kerana kedua keadaan ini mempunyai kesamaan hukum sebagaimana yang ditegaskan dalam sabda Nabi (s.a.w):

من نام على صلاة فنسيها فليصلها إذا ذكرها

“Barang siapa yang tertidur hingga tidak mengerjakan sholat atau dia lupa mengerjakannya, maka hendaklah dia segera melakukannya apabila ingat (atau terjaga dari tidurnya).”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 148 : ADZAN MERUPAKAN KEISTIMEWAAN BAGI SHOLAT FARDHU, BUKAN UNTUK SHOLAT SUNNAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 148 :

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اَلْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَنَحْوُهُ فِي اَلْمُتَّفَقِ: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا وَغَيْرُهُ

Jabir Ibnu Samurah berkata: Aku shalat dua I’ed (Fitri dan Adha) bukan sekali dua kali bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tanpa adzan dan qomat. Riwayat Muslim.

Hadits serupa juga ada dalam riwayat Muttafaq Alaihi dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu dan dari yang lainnya.

MAKNA HADITS :

Islam memberikan keistimewaan tersendiri dalam solat fardu, yaitu
mengumandangkan azan untuk menyeru orang yang tempat tinggalnya berjauhan dengan masjid, dan mengumandangkan iqamah untuk mengingatkan orang yang telah berada di dalam masjid segera berdiri untuk mengerjakan solat.

Adapun solat sunat yang disyariatkan berjamaah seperti solat sunat dua hari raya, solat gerhana matahari, solat gerhana bulan, dan solat istisqa tidak perlu dikumandangkan azan dan tidak pula iqamah menurut ijmak ulama. Tetapi mereka berselisih pendapat sama ada mesti dikumandangkan “الصلاة جامعة” kerana ada hadis yang menyatakan bahwa itu dilakukan ketika hendak mengerjakan solat sunat dua hari raya, sepbagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam al-
Syafi’i. Menurut Imam al-Syafi’i lagi, setiap solat sunat yang di dalamnya disunatkan berjemaah diqiaskan dengan sholat sunat dua hari raya ini. Namun pendapat yang lain mengatakan bahwa tidak perlu dikumandangkan lafaz “ الصلاة جامعة“ َdalam setiap sholat sunat yang di dalamnya disunatkan berjamaah.

FIQH HADITS :

1. Tidak disyariatkan azan dan iqamah untuk mengerjakan sholat sunat dua hari raya baik Aidil fitri maupun Aidil adha.

2. Azan merupakan keistimewaan bagi sholat fardu, bukannya untuk sholat sunat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 147 : KESUNNAHAN BERSUARA MERDU BAGI MUADZIN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 147 :

وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَعْجَبَهُ صَوْتُهُ فَعَلَّمَهُ اَلْآذَانَ ) رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Abu Mahdzurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kagum dengan suaranya kemudian beliau mengajarinya adzan. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Kaum Quraisy kerap kali mempersenda Nabi (s.a.w) ketika menyeru mereka untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan Abu Mahdzurah termasuk salah seorang di antara mereka. Pada suatu ketika, dia pernah mendengar suara azan yang dikumandangkan kaum muslimin di Hunain, lalu dia meniru lafaz azan tersebut dengan tujuan memperolok mereka dengan suara merdu yang membuat Rasulullah (s.a.w) merasa kagum dengan kemerduan suaranya. Kemudian Nabi (s.a.w) mengutus seseorang untuk mencari mereka yang ketika itu jumlah mereka ada sembilan orang. Lalu Rasulullah (s.a.w) meminta mereka satu persatu untuk mengumandangkan azan dan mereka mematuhi perintah
baginda itu. Abu Mahdzurah adalah orang yang paling terakhir dari mereka yang mengumandangkan azan. Kemudian Rasulullah (s.a.w) mempelawanya duduk di hadapan baginda dan baginda mengusap kepalanya. Ternyata Allah menghendaki kebaikan dan keberuntungan kepadanya hingga akhirnya Allah memberinya
hidayah masuk Islam dan Nabi (s.a.w) mengajarkan kalimat azan kepadanya, lalu memerintahkannya menjadi tukang azan di Masjid al-Haram.

FIQH HADITS :

Disunatkan bagi seseorang yang hendak menjadi tukang azan memiliki suara yang merdu supaya orang ramai merasa tertarik kepada seruannya dan memenuhi apa yang diserunya yaitu mengerjakan sholat berjemaah di masjid.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 146 : ETIKA DALAM MENGUMANDANGKAN ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 146 :

وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ: ( رَأَيْتُ بِلَالاً يُؤَذِّنُ وَأَتَتَبَّعُ فَاهُ هَاهُنَا وَهَاهُنَا وَإِصْبَعَاهُ فِي أُذُنَيْهِ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ.

وَلِابْنِ مَاجَهْ: وَجَعَلَ إِصْبَعَيْهِ فِي أُذُنَيْهِ.

وَلِأَبِي دَاوُدَ: ( لَوَى عُنُقَهُ لَمَّا بَلَغَ “حَيَّ عَلَى اَلصَّلَاةِ ” يَمِينًا وَشِمَالاً وَلَمْ يَسْتَدِرْ ). وَأَصْلِهِ فِي اَلصَّحِيحَيْنِ

Abu Juhaifah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah melihat Bilal adzan dan aku perhatikan mulutnya kesana kemari (komat kamit dan dua jari-jarinya menutup kedua telinganya. Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.

Menurut Ibnu Majah: Dia menjadikan dua jari-jarinya menutup kedua telinganya.

Menurut Riwayat Abu Dawud: Dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri ketika sampai pada ucapan “hayya ‘alash sholaah” dan dia tidak memutar tubuhnya. Asal hadits tersebut dari Bukhari-Muslim.

MAKNA HADITS :

Azan mempunyai etika tersendiri yang mesti dipelihara dan dijaga. Antara lain adalah hendaklah muazin memiliki suara yang merdu; mengumandangkan azan diatas tempat yang tinggi seperti di atas menara, menolehkan kepala ketika membaca al-hayya’alatain ke arah kanan dan ke arah kiri, meletakkan kedua jari telunjuknya pada kedua telinga supaya suaranya lebih kuat dan orang tuli dapat memahami yang dia sedang mengumandangkan azan dan bukannya untuk meminta pertolongan, dan tetap kekal menghadap ke arah kiblat ketika mengumandangkan azan meskipun menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan.

FIQH HADITS :

1. Boleh memakai pakaian yang bergaris-garis merah.

2. Disyariatkan menolehkan kepala ketika mengumandangkan azan ke arah kanan dan kiri terutama ketika mengucapkan al-hay’alatain disertai dengan meletakkan kedua jari telunjuk pada kedua telinga. Ini bertujuan supaya seseorang berada di kejauhan atau orang tuli tahu bahwa dia sedang mengumandangkan azan, di samping dengan cara demikian bisa menguatkan suara.

3. Orang yang sholat disyariatkan meletakkan penghalang di hadapannya.

4. Dibolehkan mengambil berkat dari bekas yang pernah digunakan oleh Rasulullah (s.a.w), sisa air wuduk, sisa makan dan minum serta bekas pakaiannya.

5. Disyariatkan mengqasar sholat ketika dalam perjalanan.

6. Para sahabat amat menghormati Rasulullah (s.a.w).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 145 : PERBEDAAN JUMLAH KALIMAT ADZAN DAN IQAMAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 145 :

وَعَنْ أَنَسِ]بْنِ مَالِكٍ] رضي الله عنه قَالَ: ( أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ اَلْآذَانَ وَيُوتِرَ اَلْإِقَامَةَ إِلَّا اَلْإِقَامَةَ يَعْنِي قَوْلَهُ: قَدْ قَامَتِ اَلصَّلَاةُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَلَمْ يَذْكُرْ مُسْلِمٌ اَلِاسْتِثْنَاءَ

وَلِلنَّسَائِيِّ: ( أَمَرَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِلَالاً )

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Bilal diperintahkan untuk menggenapkan kalimat adzan dan mengganjilkan kalimat qomat kecuali kalimat iqomat yakni qod qoomatish sholaah. Muttafaq Alaihi tetapi Muslim tidak menyebut pengecualian.

Menurut riwayat Nasa’i: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan Bilal (untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan qomat).

MAKNA HADITS :

Oleh kerana tujuan azan adalah memberitahu masuknya waktu sholat bagi orang yang tinggal berjauhan dengan masjid secara umum, maka dianjurkan mengucapkan kalimat-kalimatnya secara berulang untuk menguatkan lagi pemberitahuan tersebut. Oleh kerana tujuan iqamah adalah beritahu yang sholat hendak dilaksanakan kepada orang yang telah berada di dalam masjid secara khusus, maka ia sudah memadai mengucapkannya secara witir, yakni mengucapkan lafaz-lafaznya satu kali-satu kali. Lafaz iqamah “قد قامت الصلاة” diulang sebanyak dua kali kerana itulah tujuan utama di balik iqamah tersebut.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menggenapkan lafaz azan, kerana tujuannya adalah memberitahun orang yang tinggal berjauhan dengan masjid bahwa waktu sholat sudah tiba. Cara ini lebih cepat sampai kepada mereka. Oleh sebab itu, azan disunatkan dilakukan di tempat yang tinggi dengan suara yang keras dan hendaklah tidak dilakukan cara terlampau cepat ketika
mengumandangkannya.

2. Disyariatkan mengumandangkan lafaz iqamah tanpa berulang, kerana iqamah ditujukan kepada orang yang hadir di dalam masjid. Oleh sebab itu, lafaz iqamah diucapkan dengan cepat. Tetapi lafaz “قد قامت الصلاة” sebutannya diulang sebanyak dua kali kerana ini merupakan tujuan utamanya.

3. Mengumandangkan lafaz iqamah tanpa berulang selain kalimat
“قد قامت الصلاة” adalah mazhab al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Malik berpendapat bahwa semua lafaz iqamah disebut hanya satu kali-satu kali tanpa terkecuali, termasuk kalimat “قد قامت الصلاة” Imam Abu Hanifah juga berpendapat bahwa kesemua
lafaz mesti dibaca dua kali-dua kali disertai dengan membaca takbir sebanyak empat kali pada bagian permulaan. Apapun, ulama bersepakat membaca dua kali takbir dan membaca satu kali kalimat tauhid pada bagian akhir iqamah.

4. Menjelaskan perbedaan pendapat ulama berkaitan azan dan iqamah. Ada yang mengatakan ifrad, tatsniyah, tarbi’ dan ada pula yang mengatakan tarji’; kesemua ini merupakan sunat sebagaimana yang telah dikemukakan oleh beberapa riwayat mengenainya. Setiap ulama memilih dalil yang dianggapnya kuat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 144 : ANJURAN BERSUARA MERDU BAGI TUKANG ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 144 :

عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَلَّمَهُ اَلْآذَانَ فَذَكَرَ فِيهِ اَلتَّرْجِيعَ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. وَلَكِنْ ذَكَرَ اَلتَّكْبِيرَ فِي أَوَّلِهِ مَرَّتَيْنِ فَقَطْ. وَرَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ فَذَكَرُوهُ مُرَبَّعًا

Dari Abu Mahdzurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajarinya adzan lalu beliau menyebut tarji’ (mengulangi dua kali).

Dikeluarkan oleh Muslim namun ia hanya menyebutkan takbir dua kali pada permulaan adzan. Riwayat Imam Lima dengan menyebut takbir empat kali.

MAKNA HADITS :

Kebahagiaan itu tersembunyi di sebalik keajaiban takdir. Mereka adalah pemuda yang kerap kali meniru azan yang dikumandangkan oleh Bilal. Maka Allah menetapkan keberuntungan kepada Abu Mahdzurah. Akhirnya jatuhlah pilihan Rasulullah (s.a.w) ke atas dirinya memandangkan dia memiliki suara yang merdu dan dia menjadi juru azan (selain Bilal). Berikut ini kisahnya. Sesudah pembukaan kota Mekah, Abu Mahdzurah keluar menuju Hunain bersama sembilan orang penduduk Mekah. Ketika mereka mendengar suara azan (Bilal), mereka turut mengumandangkan azan dengan
tujuan mempersendakan orang beriman. Mendengar itu, Nabi (s.a.w) bersabda: “Aku telah mendengar di kalangan mereka suara azan seseorang yang mempunyai suara merdu. Suruhlah mereka datang menghadapku dan suruh mereka azan seorang demi seorang.” Aku adalah orang paling akhir mendapat giliran di antara mereka. Ketika aku tiba (di hadapan Rasulullah (s.a.w), baginda bersabda: “Kemarilah!” Baginda mempersilahkanku duduk di hadapannya. Baginda mengusap
kepalaku dan mendo’akan diriku supaya memperoleh keberkatan sebanyak tiga kali, kemudian bersabda: “Pergilah dan jadilah engkau juru azan di Masjid al-Haram.” Aku pun berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu, ajarkan azan kepadaku.” Baginda mengajarkan azan kepadanya.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan memilih orang yang bersuara merdu untuk menjadi juru azan, kerana azan yang dikumandangkan dengan suara yang merdu lebih berkesan di dalam hati.

2. Menjelaskan lafaz-lafaz azan yang sudah tidak asing lagi bagi setiap muslim. Ulama berbeda pendapat berkaitan dengan membaca empat kali takbir dan membaca dua kali takbir. Menurut pendapat yang masyhur, ia hendaklah dibaca sebanyak empat kali. Ini merupakan amalan penduduk Mekah yang merupakan tempat perhimpunan kaum muslimin setiap kali musim haji dan tidak ada seorang sahabat pun yang membantahnya. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan jumhur ulama. Sedangkan Imam Malik mengatakan bahwa takbir hendaklah dibaca sebanyak dua kali. Beliau mendukung pendapatnya berlandaskan hadis ini yang telah menjadi amalan penduduk Madinah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 143 : AWAL PERMULAAN ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 143 :

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ رضي الله عنه قَالَ: ( طَافَ بِي -وَأَنَا نَائِمٌ- رَجُلٌ فَقَالَ: تَقُولُ: “اَللَّهُ أَكْبَرَ اَللَّهِ أَكْبَرُ فَذَكَرَ اَلْآذَانَ – بِتَرْبِيع اَلتَّكْبِيرِ بِغَيْرِ تَرْجِيعٍ وَالْإِقَامَةَ فُرَادَى إِلَّا قَدْ قَامَتِ اَلصَّلَاةُ – قَالَ: فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَتَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: “إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٍّ…” ) اَلْحَدِيثَ. أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ.

وَزَادَ أَحْمَدُ فِي آخِرِهِ قِصَّةَ قَوْلِ بِلَالٍ فِي آذَانِ اَلْفَجْرِ: ( اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ )

وَلِابْنِ خُزَيْمَةَ: عَنْ أَنَسٍ قَالَ: ( مِنْ اَلسُّنَّةِ إِذَا قَالَ اَلْمُؤَذِّنُ فِي اَلْفَجْرِ: حَيٌّ عَلَى اَلْفَلَاحِ قَالَ: اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ )

Abdullah Ibnu Zaid Ibnu Abdi Rabbih berkata: Waktu saya tidur (saya bermimpi) ada seseorang mengelilingi saya seraya berkata: Ucapkanlah “Allahu Akbar Allahu Akbar lalu ia mengucapkan adzan empat kali tanpa pengulangan dan mengucapkan qomat sekali kecuali “qod Qoomatish sholaat”. Ia berkata: Ketika telah shubuh aku menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya ia adalah mimpi yang benar.” Hadits dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

Ahmad menambahkan pada akhir hadits tentang kisah ucapan Bilal dalam adzan Shubuh: “Shalat itu lebih baik daripada tidur.”

Menurut riwayat Ibnu Khuzaimah dari Anas r.a ia berkata: Termasuk sunnah adalah bila muadzin pada waktu fajar telah membaca hayya ‘alash sholaah ia mengucapkan assholaatu khairum minan naum

MAKNA HADITS :

Ketika tahun pertama Nabi (s.a.w) berhijrah ke Madinah, kekuatan kaum muslimin semakin mantap dan para pengikutnya kian bertambah ramai. Mereka mula bermusyawarah mengenai sesuatu yang patut mereka gunakan untuk memberitahu masuknya waktu solat yang dengan demikian mereka segera berkumpul di dalam untuk mengerjakan solat secara berjamaah.

Ada di antara mereka yang mencadangkan nyala api, loceng dan terompet, tetapi di antara sekian saranan tersebut tidak ada satu pun daripadanya yang dapat
diterima, kerana kesemua itu merupakan syiar yang diambil daripada agama Majusi, Nasrani mahupun Yahudi. Setelah tidak memperoleh kata sepakat, merekapun kembali pulang menuju tempat tinggal mereka masing-masing, sedangkan mereka masih lagi memikirkan masalah yang mereka hadapi ini.

Abdullah ibn Zaid dalam mimpinya melihat seorang lelaki sedang membawa loceng. Abdullah berkata kepadanya: “Apakah engkau berminat menjual loceng itu?” Lelaki itu berkata: “Apa yang hendak engkau lakukan dengan loceng ini?”
Abdullah menjawab: “Untuk menyeru kaum muslimin melakukan solat.” Lelaki itu berkata: “Maukah engkau jika aku tunjukkan kepada sesuatu yang lebih baik daripada itu?” Abdullah menjawab: “Tentu.” Lelaki itu berkata: “Ucapkanlah,
“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” hingga akhir azan.”

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan mengutamakan urusan agama dan tidak menggunakan syiar agama ahli kitab.

2. Disyariatkan bermusyawarah dalam menangani masalah-masalah penting dan orang yang dipimpin hendaklah mengemukakan pendapat dan cadangan kepada pemimpin demi kemaslahatan umum, kemudian pemimpin dikehendaki melakukan apa-apa yang boleh mendatangkan kemaslahatan itu.

3. Nabi (s.a.w) diperbolehkan untuk melakukan ijtihad.

4. Disyariatkan azan. Hikmahnya adalah menegakkan syi’ar Islam, memberitahu masuknya waktu sholat di tempat di mana adzan itu dikumandangkan dan sebagai seruan untuk melaksanakan sholat secara berjamaah.
Adzan mencakupi akidah iman dan mengandungi kedua jenisnya, iaitu ‘aqliyat dan sam’iyat. Adzan diawali dengan menetapkan Zat Allah dan segala sesuatu yang berhak disandangnya berupa kesempurnaan dan kemahasucian dan lawan-lawan-Nya dengan mengucapkan Allahu Akbar. Kemudian ditetapkan pula sifat keesaaan dan menafikan segala bentuk sekutu yang mustahil bagi Allah (s.w.t). Ini merupakan tiang iman dan tauhid yang mesti didahulukan ke atas semua kewajipan agama yang lain.

Setelah itu ditetapkan pula bukti-bukti yang menetapkan kenabian sekali mengakui kerasulan Nabi Muhammad (s.a.w). Ini merupakan asas kedua setelah syahadah al-tauhid. Dengan keyakinan seperti ini, maka sempurnalah kesemua akidah ‘aqliyyah. Kemudian dikumandangkan kalimat yang menyeru kaum muslimin untuk mengerjakan ibadah, iaitu ibadah untuk mengerjakan solat. Ini disebut setelah mengakui kerasulan dan kenabian Muhammad (s.a.w) kerana kewajipan ibadah itu diketahui berdasarkan ajaran Nabi (s.a.w), bukan berlandaskan akal.
Sesudah itu kaum muslimin diseru untuk menuju kejayaan dan
kebahagiaan, yaitu perkara-perkara yang boleh menghantarkan mereka menuju kejayaan dan keabadian dalam nikmat yang berkekalan. Di dalam seruan ini terdapat satu isyarat dimana kaum muslimin perlu senantiasa mengingati negeri akhirat berupa hari kebangkitan dan hari pembalasan.
Kemudian kalimat-kalimat ini diulangi semasa dalam iqamah sholat untuk memberitahukan bahwa sholat hendak dimulai. Pemberitahuan ini
mengandung makna yang mengukuhkan keimanan. Mengulangi semula sebutan kalimat-kalimat tersebut ketika hendak mengerjakan sholat supaya hati dan lisan seseorang mengetahui apa yang hendak dikerjakannya. Dengan iman
itu, dia merasakan keagungan ibadah yang hendak dikerjakan, merasakan keagungan Allah yang disembahnya dan bakal memperoleh pahala yang
berlimpah daripada-Nya.
Ulama berbeda pendapat mengenai hukum azan. Imam Ahmad mengatakan bahwa adzan adalah fardu kifayah ketika hendak mengerjakan sholat lima waktu secara ada’an, namun sholat fardu lima waktu yang dilakukan secara qadha’an tidak diperlukan azan. Azan dilakukan oleh kaum lelaki yang hendak mengerjakan sholat berjamaah, baik di perkotaan maupun di kampung, dan dalam keadaan bermukim, bukannya dalam keadaan bermusafir. Imam al-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum adzan adalah sunat bagi seseorang yang mengerjakan sholat fardu dalam keadaan bersendirian dan bagi mereka yang mengerjakan secara berjamaah, baik ketika bermukim maupun ketika bermusafir.

Imam Malik berpendapat bahwa hukum azan itu sunat kifayah bagi
mereka yang hendak mengerjakan sholat secara berjamaah supaya mereka segera untuk berhimpun di masjid dan demikian pula di tempat-tempat yang
biasanya dilaksanakan sholat berjamaah di dalamnya. Imam Malik mengatakan wajib kifayah mengumandangkan azan bagi orang yang berada di bandar.

5. Tukang adzan disunatkan mempunyai suara yang kuat dan merdu.

6. Disyariatkan membaca tatswib (الصلاة خير من النوم) ketika mengumandangkan adzan Subuh secara khusus, namun solat-solat fardu selain itu tidak perlu membaca tatswib.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 142 : KEKHUSUSAN SHALAT SUNNAH UNTUK RASULULLAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 142 :

وَعَنْ أَمْ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلْعَصْرَ ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: “شُغِلْتُ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلظُّهْرِ فَصَلَّيْتُهُمَا اَلْآنَ” قُلْتُ: أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتْنَا? قَالَ: “لَا” ) أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ

وَلِأَبِي دَاوُدَ عَنْ عَائِشَةَ بِمَعْنَاهُ

Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam shalat Ashar lalu masuk rumahku kemudian beliau shalat dua rakaat. Maka aku menanyakannya dan beliau menjawab: “Aku sibuk sehingga tidak sempat melakukan dua rakaat setelah Dhuhur maka aku melakukan sekarang.” Aku bertanya: Apakah kami harus melakukan qodlo’ jika tidak melakukannya? Beliau bersabda: “Tidak.” Dikeluarkan oleh Ahmad.

Seperti hadits itu juga terdapat dalam riwayat Abu Dawud dari ‘Aisyah r.a.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) mempunyai keistimewaan hukum tersendiri yang diberikan oleh Allah kepadanya untuk memuliakannya ke atas umat sekaligus memberitahu keutamaannya yang amat besar. Diantara keistimewaan itu adalah kewajipan mengerjakan solatul lail dan jika baginda mengerjakan suatu amalan sunat pada suatu waktu, baginda wajib menyempurnakannya dan tidak boleh meninggalkannya pada masa-masa selanjutnya.

FIQH HADITS :

1. Dilarang mengqadha’ sholat sunat sesudah Asar. Ia diperbolehkan sebagai keistimewaan khusus Rasulullah (s.a.w).

2. Makruh melakukan puasa wishal. Namun, Rasulullah (s.a.w) diperbolehkan melakukannya sebagai suatu kekhususan baginya.

3. Jika seseorang melihat orang yang lebih tua atau lebih muda darinya melakukan satu pelanggaran, maka hendaklah dia bertanya kepadanya.

4. Orang yang ditanya, betapapun tinggi kedudukannya, mesti menjawab persoalan orang yang bertanya untuk menenangkan hatinya sekaligus menghilangkan
segala bentuk keraguan yang ada dalam hatinya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 141 : KEMAKRUHAN MENGERJAKAN SHOLAT SUNNAH SESUDAH FAJAR TERBIT, SELAIN SHOLAT SUNNAH FAJAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 141 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْفَجْرِ إِلَّا سَجْدَتَيْنِ ) أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ. وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ اَلرَّزَّاقِ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ إِلَّا رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ )

وَمِثْلُهُ لِلدَّارَقُطْنِيّ عَنْ اِبْنِ عَمْرِوِ بْنِ اَلْعَاصِ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasululah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada shalat setelah fajar kecuali dua rakaat (Shubuh).” Dikeluarkan oleh Imam Lima kecuali Nasa’i.

Dalam suatu riwayat Abdur Razaq: “Tidak ada shalat setelah terbitnya fajar kecuali dua rakaat fajar.”

Dan hadits serupa menurut Daruquthni dari Amr Ibnul ‘Ash r.a.

MAKNA HADITS :

Dimakruhkan mengerjakan sholat sunat sesudah fajar terbit, selain sunat fajar, supaya hal itu tidak mengakibatkan permulaan waktu terlepas dan orang awam
tidak meyakini akan kewajiban mengerjakan sholat lain pada saat itu. Sekumpulan ulama malah mengharamkan sholat sunat sesudah fajar terbit kecuali sunat fajar kerana berpegang dengan makna zahir (لا) “nafi” yang bermaksud larangan. Namun ketika berada di tanah suci Mekah, Imam al-Syafi’i membolehkan sholat sunat di dalamnya secara mutlak tanpa adanya larangan.

FIQH HADITS :

Haram mengerjakan sholat sunat sesudah fajar terbit sebelum mengerjakan sholat Subuh, kecuali sholat sunat fajar.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..