Arsip Kategori: Hewan dan Perburuan

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan halal dan haramnya hewan dan perburuan.

H012. HUKUM ARISAN QURBAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum arisan qurban?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Arisan ini perlu diperjelas, apakah hanya tujuh nama yg ikut arisan atau hanya tujuh nama yg menang?,

jika hanya ada 7 orang maka tentunya hal itu bukan arisan, tapi lebih dekat pada : \”menabung bersama untuk kurban sapi\”, hal ini merupakan kemuliaan, dan diperbolehkan dalam syariah,

namun jika arisan, berrarti diundi, maka bagaimana dg orang orang lain selain 7 orang itu?

akankah mereka menang tahun yg akan datang?, jika tak ada kemungkinan menang maka merugikan orang lain dan hal itu haram hukumnya.

Kalo arisan itu hanya sekedar bergiliran melaksanakan kurban dengan domba atau sapi tanpa menentukan kepemilikan secara penuh terhadap peserta arisan masing-masing artinya domba atau sapi tsb belum di tentukan kepemilikannya kepada orang yg melaksanakan kurban maka itu tidak sah karna kepemilikannya belum di tentukan.

Contoh kalo 2 orang memiliki 2 domba secara musyarokah (bersekutu) atau lebih dari 7 orang bermusyarokah terhadap 2 sapi maka itu tidak cukup dan tidak sah. Begitu pula kalo 14 orang memiliki 2 sapi tapi belum di tentukan satu persatunya maka itu tidak sah karena tiap orang bukan memiliki 1/7 dari 1 sapi tapi memiliki 1/14 dari 2 sapi. Begitu pula kalo 8 orang bermusyarokah dalam 2 sapi maka hukumnya juga tidak sah karna satu orang dari 8 itu tidak memiliki 1/8 dari 2 sapi jadi di sebut tidak mu’ayyan (di tentukan) dan tidak dipastikan.

Kesimpulan :
kalau dari arisan itu hanya sekedar mengeluarkan tabungan lalu untuk membeli sapi tanpa menentukan siapa yg memiliki sapi tsb maka itu tidak sah, sama halnya dgn kurban satu kambing yg tidak di tentukan. Tetapi kalo hanya arisan dalam pengumpulan uang yg hasilnya di pastikan milik orang tertentu untuk di belikan hewan tertentu ataupun hasil dari arisan itu di belikan hewan dan hewan itu sudah di milikan kepada orang tertentu dengan akad menghutangkan dari orang lain spt membeli satu hewan dengan akad hutang maka itu sah. Lihat Nihayatul muhtaj jilid 2 shohifah 4.

لواشترك اثنان في شتين في تضحية أو هدية لم يجزء. وقال الرشيدومثله لواشترك أربعة عشرفي بدنتين لأن كلاإنماحصل له سبع البدنتين فلم يحصل له من كل إلانصف سبع وذلك لايكفي لانه لايكفي إلاسبع كامل من بدنة واحدة وفاقا لم ر. وقياسه عدم الإجزاء إذا اشترك ثمانية في بدنتين إذيخص كلا من كل بدنة ثمن لايكفي

Wallahu a’lamu bisshowab..

H011. UCAPAN NADZAR QURBAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana apabila seseorang membeli kambing lalu ditanya oleh seseorang “untuk apa kambing itu” lalu dia menjawab “untuk hewan qurba”. Apakah otomatis akan menjadi qurban nadzar?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Mengacu pendapat jumhurul ulama’ Pada dasarnya hukum Qurban adalah sunnah muakkad, dan bisa menjadi wajib karena adanya Nadzar.

Berbicara tentang Nadzar, Bentuk nadzar ada 2 yaitu :

Pertama, Nadzar shorih (jelas) seperti ucapan “untuk Allah, saya akan berqurban, ini adalah hewan qurbanku, aku jadikan hewan ini sebagai qurban”, dalam nadzar ini tidak membutuhkan niat bahkan kalau niat dengan niat yang tidak sesuai ucapannya, niatnya tidak diperhitungkan.

Karena itu yang sering terjadi pada masyarakat awam yaitu ketika mereka pulang dari pasar dengan menuntun kambing kemudian ditanya rekannya kambing siapa itu? Dia menjawab: “ini hewan kurbanku”, maka secara otomatis dia telah bernadzar berkurban.
Namun pendapat ini ditentang sebagian ulama’ antara lain Sayyid Umar Al Bashry yang mengatakan bahwa ucapan “Ini adalah hewan kurbanku” akan menjadi nadzar kurban kalau seseorang mengatakannya tanpa niat memberi tahu (ihbar), kalau ada niat ihbar maka tidak menjadi nadzar.

Kedua, Nadzar kinayah (tidak jelas) seperti ucapan “kalau saya sembuh dari sakitku maka saya akan menyembelih seekor kambing”, dalam nadzar ini hukumnya sangat bergantung terhadap niat

حاشيتا قليوبي – وعميرة – (ج 1 / ص 97)

كِتَابُ الْأُضْحِيَّةِ قَوْلُهُ : ( لَا تَجِبُ إلَّا بِالْتِزَامٍ ) يُرِيدُ بِهِ أَنَّ نِيَّةَ الشِّرَاءِ لِلْأُضْحِيَّةِ لَا تُوجِبُهَا وَهُوَ كَذَلِكَ عَلَى الْأَصَحِّ ، قَوْلُهُ : ( بِالنَّذْرِ ) أَيْ وَمَا أُلْحِقَ بِهِ كَجَعَلْتُهَا أُضْحِيَّةً أَوْ هَذِه أُضْحِيَّةً

Qurban hukumnya tidak wajib kecuali dengan adanya menerima kewajiban (dengan nadzar), ini mengandung pengertian bahwa niat membeli untuk qurban tidak menjadikan wajibnya qurban. Ini menurut Qoul Ashoh. Qurban menjadi wajib sebab nadzar atau sesuatu yang menyamainya seperti mengatakan : “aku jadikan kambing ini sebagai kurban” atau “kambing ini adalah qurban”

o مغني المختاج 6 ص : 233

وأما الصيغة فيشترط فيها لفظ يشعر بالتزام فلا ينعقد بالنية كسائر العقود وتنعقد بإشارة الأخرس المفهمة , وينبغي كما قال شيخنا انعقاده بكناية الناطق مع النية

Disyaratkan dalam Shighot (ungkapan nadzar), kata-kata yang menunjukkan menerima kewajiban, sehingga tidak sah nadzar hanya dengan niat seperti aqad-aqad yang lain, dan nadzar sah dengan isyarat bagi orang bisu. Dan menurut Syaikhuna nadzar sah dengan bahasa kinayah jika disertai niat

o نهاية المختاج 8 ص: 131

[ فَرْعٌ ] لَوْ قَالَ : إنْ مَلَكْت هَذِهِ الشَّاةَ فَلِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهَا لَمْ تَلْزَمْهُ , وَإِنْ مَلَكَهَا لِأَنَّ الْمُعَيَّنَ لَا يَثْبُتُ فِي الذِّمَّةِ بِخِلَافِ إنْ مَلَكْتُ شَاةً فَلِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهَا فَتَلْزَمُهُ إذَا مَلَكَ شَاةً لِأَنَّ غَيْرَ الْمُعَيَّنِ يَثْبُتُ فِي الذِّمَّةِ , كَذَا صَرَّحُوا بِهِمَا فَانْظُرْ الرَّوْضَ وَغَيْرَهُ انْتَهَى سم عَلَى مَنْهَجٍ

(Far’un) Kalau ada orang berkata : “Jika aku memiliki kambing ini, maka hanya karena Allah aku akan berkurban dengannya”, maka dia tidak wajib berkurban walau dia benar-benar memiliki kambing tersebut, sebab “sesuatu yang tertentu tidak bisa menjadi tetap dalam tanggungjawabnya”. Berbeda jika ia mengatakan: “Jika aku memiliki seokar kambing maka hanya karena Allah aku akan berkurban dengannya”, maka ia wajib berkurban jika ia benar-benar memiliki seekor kambing, karena “sesuatu yang tidak tertentu itu bisa menjadi tetap dalam tanggungjawabnya”. 2 masalah ini telah dijelaskan oleh ulama’, lihat dalam kitab Roudl dan kitab-kitab lain.

Wallahu a’lamu bisshowab..

H010. HUKUM BERKORBAN DENGAN KAMBING BETINA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Ust. Saya mau tanya, bagaimana kalo sapi/kambing betina buat kurban ‘idul Adha?

Atas jawabannya, disampaikan terimakasih.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Sapi betina itu boleh dibuat qurban idul adha.

(بجيرمي علی شرح المنهاج,جز ٤,صحيفۃ ٢٩٥)

(وشرطها) اي التضحيۃ (نعم) ابل وبقر وغنم اناثا كانت اوخناثی او ذكورا ولو خصيانا لقوله تعالی ولكل امۃ جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله علی ما رزقهم من بهيمۃ الانعام, ولان التضحيۃ عبادۃ تتعلق بالحيوان فاختصت بالنعم كالزكاۃ.

Boleh berkurban dengan kambing betina. Dalam Kitab al Majmu’ 8/397 dijelaskan :

يَصِحُّ التَّضْحِيَةُ بِالذَّكَرِ وَبِالْأُنْثَى بِالْإِجْمَاعِ وَفِي الْأَفْضَلِ مِنْهُمَا خِلَافٌ (الصَّحِيحُ) الَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْبُوَيْطِيِّ وَبِهِ قَطَعَ كَثِيرُونَ أَنَّ الذَّكَرَ أَفْضَلُ مِنْ الْأُنْثَى وَلِلشَّافِعِيِّ نَصٌّ آخَرُ أَنَّ الْأُنْثَى أَفْضَلُ فَمِنْ الْأَصْحَابِ مَنْ قَالَ لَيْسَ مُرَادُهُ تَفْضِيلَ الْأُنْثَى فِي التَّضْحِيَةِ وَإِنَّمَا أَرَادَ تَفْضِيلَهَا فِي جَزَاءِ الصَّيْدِ إذَا أَرَادَ تَقْوِيمَهَا لِإِخْرَاجِ الطَّعَامِ قَالَ الْأُنْثَى أَكْثَرُ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ الْمُرَادُ الْأُنْثَى الَّتِي لَمْ تَلِدْ أَفْضَلُ مِنْ الذَّكَرِ الذي كثر نزوانه فَإِنْ كَانَ هُنَاكَ ذَكَرٌ لَمْ يَنْزُ وَأُنْثَى لَمْ تَلِدْ فَهُوَ أَفْضَلُ مِنْهَا وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

يَصِحُّ التَّضْحِيَةُ بِالذَّكَرِ وَبِالْأُنْثَى

Sah berqurban dengan jantan dan dengan betina.

Wallahu a’lamu bisshowab..

H009. HUKUM URAT TENGGOROKAN TERSISA SEDIKIT SAAT MENYEMBELIH

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum Ustadz..

Ketika menyembelih ayam tenggorokannya masih tersisa sedikit, ( tak kottong sakonik red madura) hal tersebut apakah ada ulama yang memperbolehkan (halal) atau sudah menjadi bangkai.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Masalah ini Khilaf

▶ Menurut qaul shohih syarat menyembelih harus putus hulqum dan mari’ tidak boleh tersisa, apabila masih tersisa, ayam tersebut statusnya menjadi bangkai, Haram untuk di konsumsi.

▶ Menurut qaul Dhoif praktek penyembelihan tersebut Sah / Halal di untuk konsumsi.

Referensi :

مغنى المحتاج

ﻓﺼﻞ ﻭﺫﻛﺎﺓ ﻛﻞ ﺣﻴﻮﺍﻥ ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻘﻄﻊ ﻛﻞ ﺍﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ، ﻭﻫﻮ ﻣﺨﺮﺝ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭﺍﻟﻤﺮﻱﺀ ﻭﻫﻮ ﻣﺠﺮﻯ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ، *ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﻮﺩﺟﻴﻦ ، ﻭﻫﻤﺎ ﻋﺮﻗﺎﻥ ﻓﻲ ﺻﻔﺤﺘﻲ ﺍﻟﻌﻨﻖ* ، ﻭﻟﻮ ﺫﺑﺤﻪ ﻣﻦ ﻗﻔﺎﻩ ﻋﺼﻰ ، ﻓﺈﻥ ﺃﺳﺮﻉ ﻓﻘﻄﻊ ﺍﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ﻭﺍﻟﻤﺮﻱﺀ ﻭﺑﻪ ﺣﻴﺎﺓ ﻣﺴﺘﻘﺮﺓ ﺣﻞ ، ﻭﺇﻻ ﻓﻼ

بجيرمى على الخطيب

ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﻛﺎﺓ ‏) ﺃﻱ ﺫﻛﺎﺓ ﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻥ ﺍﻟﻤﻘﺪﻭﺭ ﻋﻠﻴﻪ ‏( ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ‏) ﺍﻷﻭﻝ ‏( ﻗﻄﻊ ‏) ﻛﻞ ‏( ﺍﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ‏) ﻭﻫﻮ ﻣﺠﺮﻯ ﺍﻟﻨﻔﺲ ‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻗﻄﻊ ﻛﻞ ‏( ﺍﻟﻤﺮﻱﺀ ‏) ﻭﻫﻮ ﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﻤﻴﻢ ﻭﺍﻟﻤﺪ ﻭﺍﻟﻬﻤﺰﺓ ﻓﻲ ﺁﺧﺮﻩ ﻣﺠﺮﻯ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﺍﻟﺸﺮﺍﺏ .

‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻭﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻗﻄﻊ ﻛﻞ ‏( ﺍﻟﻮﺩﺟﻴﻦ ‏) ﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﻮﺍﻭ ﻭﺍﻟﺪﺍﻝ ﺍﻟﻤﻬﻤﻠﺔ ﻭﺍﻟﺠﻴﻢ ﻭﻫﻤﺎ ﻋﺮﻗﺎﻥ ﻓﻲ ﺻﻔﺤﺘﻲ ﺍﻟﻌﻨﻖ ﻣﺤﻴﻄﺎﻥ ﺑﺎﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ﻭﻗﻴﻞ ﺑﺎﻟﻤﺮﻱﺀ ﻭﻫﻤﺎ ﺍﻟﻮﺭﻳﺪﺍﻥ ﻣﻦ ﺍﻵﺩﻣﻲ ، ﻷﻧﻪ ﺃﻭﺣﻰ ﻭﺃﺳﻬﻞ ﻟﺨﺮﻭﺝ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺍﻹﺣﺴﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﺑﺢ ﻭﻻ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻗﻄﻊ ﻣﺎ ﻭﺭﺍﺀ ﺫﻟﻚ

ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ ج: ٩ ص: ٩٥

والمستحب أن يقطع الحلقوم والمرىء والودجين، لأنه أوحي وأروح للذبيحة فإن اقتصر على قطع الحلقوم والمرىء أجزأه، لأن الحلقوم مجرى النفس، والمرىء مجرى الطعام، والروح لا تبقى مع قطعهما، والمستحب أن ينحر الإبل ويذبح البقر والشاة، فإن خالف ونحر البقر والشاة وذبح الإبل أجزأه، لأن الجميع موت من غير تعذيب، ويكره أن يبين الرأس وأن يبالغ في الذبح إلى أن يبلغ النخاع، وهو عرق يمتد من الدماغ، ويستبطن الفقار إلى عجب الذنب لما روى عن عمر رضي الله عنه أنه «نهى عن النخع» ولأن فيه زيادة تعذيب *فإن فعل ذلك لم يحرم لأن ذلك يوجد بعد حصول الذكاة*

المجموع شرح المهذب ج: ٩ ص : ٩٩

ﻭﺃﻣﺎ ‏) ﺍﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ﻓﻬﻮ ﻣﺠﺮﻯ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﺧﺮﻭﺟﺎ ﻭﺩﺧﻮﻻ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﻱﺀ ﻣﺠﺮﻯ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﺍﻟﺸﺮﺍﺏ ﻭﻫﻮ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ﻭﻭﺭﺍﺀﻫﻤﺎ ﻋﺮﻗﺎﻥ ﻓﻲ ﺻﻔﺤﺘﻲ ﺍﻟﻌﻨﻖ ﻳﺤﻴﻄﺎﻥ ﺑﺎﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ، ﻭﻗﻴﻞ : ﻳﺤﻴﻄﺎﻥ ﺑﺎﻟﻤﺮﻱﺀ ، ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻬﻤﺎ : ﺍﻟﻮﺩﺟﺎﻥ ، ﻭﻳﻘﺎﻝ ﻟﻠﺤﻠﻘﻮﻡ ﻭﺍﻟﻤﺮﻱﺀ ﻣﻌﻬﻤﺎ ﺍﻷﻭﺩﺍﺝ . ﻭﻳﺸﺘﺮﻁ ﻟﺤﺼﻮﻝ ﺍﻟﺬﻛﺎﺓ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ﻭﺍﻟﻤﺮﻱﺀ ، ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺍﻟﻤﻨﺼﻮﺹ ﻭﺑﻪ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻭﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ، ﻭﻓﻴﻪ ﻭﺟﻪ ﻷﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ ﺍﻹﺻﻄﺨﺮﻱ ﺃﻧﻪ ﻳﻜﻔﻲ ﻗﻄﻊ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻷﻥ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﻻ ﺗﺒﻘﻰ ﺑﻌﺪﻩ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ : ‏ ﻫﺬﺍ ﺧﻼﻑ ﻧﺺ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﺧﻼﻑ ﻣﻘﺼﻮﺩ ﺍﻟﺬﻛﺎﺓ ﻭﻫﻮ ﺍﻹﺯﻫﺎﻕ ﺑﻤﺎ ﻳﻮﺣﻲ ﻭﻻ ﻳﻌﺬﺏ ، ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﻘﻄﻊ ﺍﻟﻮﺩﺟﻴﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ﻭﺍﻟﻤﺮﻱﺀ ﻷﻧﻪ ﺃﻭﺣﻰ ﻭﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺃﻧﻬﻤﺎ ﻳﻘﻄﻌﺎﻥ ﺑﻘﻄﻊ ﺍﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ﻭﺍﻟﻤﺮﻱﺀ ﻓﻠﻮ ﺗﺮﻛﻬﻤﺎ ﺟﺎﺯ ﻟﺤﺼﻮﻝ ﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﺑﺎﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ﻭﺍﻟﻤﺮﻱﺀ ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ : ﻭﻟﻮ ﺗﺮﻙ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ﻭﺍﻟﻤﺮﻱﺀ ﺷﻴﺌﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻥ ﻓﻬﻮ ﻣﻴﺘﺔ ، ﻭﻛﺬﺍ ﻟﻮ ﺍﻧﺘﻬﻰ ﺇﻟﻰ ﺣﺮﻛﺔ ﺍﻟﻤﺬﺑﻮﺡ ﻓﻘﻄﻊ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺘﺮﻭﻙ ﻓﻬﻮ ﻣﻴﺘﺔ ﻭﺣﻜﻰ ﺍﻟﻤﺎﻭﺭﺩﻱ ﻭﺍﻟﺸﺎﺷﻲ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻭﺟﻬﺎ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺑﻘﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻠﻘﻮﻡ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺮﻱﺀ ﺷﻲﺀ ﻳﺴﻴﺮ ﻻ ﻳﻀﺮ ﺑﻞ ﺗﺤﺼﻞ ﺍﻟﺬﻛﺎﺓ ﻭﺍﺧﺘﺎﺭﻩ ﺍﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻠﻴﺔ . ﻭﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻷﻭﻝ

Wallahu a’lamu bisshowab..

H008. HUKUM MEMPERGUNAKAN DAGING KURBAN UNTUK ACARA WALIMAHAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya mepergunakan daging kurban untuk acara walimahan?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Daging kurban wajib disedekahkan dalam keadaan mentah dan boleh mudhahhi memakan sebagiannya, kecuali jika kurban itu dinadzarkan (kurban wajib), maka harus disedekahkan keseluruhannya.

والفرض بعض اللحم لوبنزر# وكل من المندوب دون النذر) متن زبد ابن رسلان ج 1 ص: -136 )

Wajib (dalam kurban sunnah) mensedekahkan sebagian dagingnya walaupun sedikit dan makanlah dari kurban sunnah bukan kurban nadzar.

ويشترط فى اللحم ان يكون نيأ ليتصرف فيه من يأخذه بما شاء من بيع وغيره (الباجورى جز 2 ص : 302)

Disyaratkan untuk daging dibagikan dengan mentah agar sipenerima bebas mentasarufkan dengan sekehendaknya apakah dijual atau yang lain.

Dlm kitab ianatuttolibin juz 2, hal.333 :

ويجب التصدق ولو على فقير واحد بشيء نيئا ولو يسيرا من المتطوع والأفضل التصدق بكاه الا لقما يتبرك باكلها. وقوله نيئا اى ليتصرف فيه المسكين بما شاء من بيع وغيره فلا يكفي جعله طعاما ودعاء الفقير اليه لان حقه في تملكه لا في اكله

Disebutkan dlm kitab Albajuri juz 2, hal 302 :

قوله ويطعم حتما اي وجوبا قوله من الا ضحية المتطوع بها اي من لحمها لا من غيره كالجلد والكرش ويشترط في اللحم ان يكون نيئا لتصرف فيه من يأخذه بما شاء من بيع وغيره………. الفقراء والمساكين

Adapun yang berhak menerima daging qurban adalah orang faqir sebgaimana yang dijelaskan oleh al-Qur’an :

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (الحج : 27 )

Maka makanlah sebagian daripadanya dan berikanlah (sebagian yang lain) untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.

Ijtihad para fuqaha’ tentang pembagian daging qurban ini setidaknya ada tiga pendapat :

(1) Disedekahkan seluruhnya kecuali sekedar untuk lauk-pauk

(2) Dimakan sendiri separo dan disedekahkan separo

(3) Sepertiga dimakan sendiri, sepertiga dihadiahkan dan sepertiga lagi disedekahkan. (Kifayatul Akhyar, juz 2 : 241)

Bagaimana dengan mendistribusikan daging qurban ke daerah lain atau disalurkan kepada masyarakat yang sedang tertimpa bencana?

(فرع) محل التضحية بلد المضحى وفى نقل الاضحية وجهان يخرجان من نقل الزكاة والصحيح هنا الجواز (كفاية الأخيار جز 2 ص : 242)

Tempat penyembelihan qurban ditempat orang berkorban. Dalam hal memindah qurban terdapat dua pendapat ulama yang ditakhrij dari masalah memindah zakat dan menurut pendapat yang shahih dalam hal qurban adalah diperbolehkan.

وقد يستعمل فيمن نزلت به نازلة دهر وان لم يكن فقيرا (تفسير القرطبى جز 12 ص : 49)

Terkadang dipergunakan (makna) dari البائس الفقير pada orang yang tertimpa musibah bencana alam sekalipun ia bukan orang fakir.

Bagaimanakah hukum menjadikan daging hewan kurban sebagai hidangan acara semisal pernikahan?”

Imam Sulaiman bin Amr bin Mashur al-‘Ajili al-Ashari yang populer dengan sebutan “al-Jamal” di dalam kitabnya (Hasyiyah al-Jamal) juga menjelaskan bahwa Aqiqah adalah sebagaimana kurban dalam semua hukum, meliputi jenis (hewan), usia, keselamatan (dari cacat), niat, hal yang lebih utama, mensedekahkan, hasil sunah dengan 1 kambing walaupun bagi anak laki-laki dan hal-hal lain yang akan diterangkan dalam bab Aqiqah. Namun dalam Aqiqah tidak wajib bersedekah dengan daging mentah darinya sebagaimana keterangan yang akan diketehui mendatang.

Imam Sa’id bin Muhammad Baa’alawi Baa’asyin al-Hadrami al-Syafi’i di dalam kitabnya (Busyra al-Karim) juga menjelaskan bahwa dalam kurban sunah wajib mensedekahkan sebagian dagingnya. Beliau juga mengutip pernyataan Syaikh Ali bin Asy-Syibromilsy (عش) yang menyatakan bahwa daging (yang dibagikan) harus mencapai 2564 gram. Maka haram memakan seluruhnya, karena yang dimaksud (dengan kurban) adalah berbagi dan berbelas kasih dengan orang-orang miskin dan tidak cukup dengan hanya menyembelih (dan seterusnya). Dan harus diberikan dalam keadaan mentah, bukan daging yang telah dimasak atau dendeng kepada orang Muslim merdeka atau budak (mukatab atau muba’ad) yang fakir atau miskin walaupun hanya 1 orang. Dan tidak cukup dengan menjadikannya makanan siap saji lalu memanggil orang miskin atau mengirimkannya, karena haknya adalah memiliki bukan mengkonsumsinya.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum menjadikan daging hewan kurban sebagai hidangan sebuah acara oleh wakil adalah diperinci sebagai berikut:

• Jika seluruh daging kurban tersebut memang dibagikan secara matang kepada orang-orang miskin sebagai hidangan dalam sebuah acara, maka hal itu tidak dapat dibenarkan dan tidak sah sebagai kurban.

• Jika kurban tersebut berstatus sunah dan sebagian dagingnya dibagikan kepada orang miskin sedang sebagian yang lain dipergunakan sebagai santapan dalam sebuah acara serta mendapat izin dari orang yang mewakilkan, maka hal itu tidak dilarang dan sah sebagai kurban.

وَهِيَ) أَيْ الْعَقِيقَةُ (كَضَحِيَّةٍ) فِي جَمِيعِ أَحْكَامِهَا مِنْ جِنْسِهَا وَسِنِّهَا وَسَلَامَتِهَا وَنِيَّتِهَا وَالْأَفْضَلِ مِنْهَا وَالْأَكْلِ وَالتَّصَدُّقِ وَحُصُولِ السُّنَّةِ بِشَاةٍ وَلَوْ عَنْ ذَكَرٍ وَغَيْرِهَا مِمَّا يَتَأَتَّى فِي الْعَقِيقَةِ لَكِنْ لَا يَجِبُ التَّصَدُّقُ بِلَحْمٍ مِنْهَا نِيئًا كَمَا يُعْلَمُ مِمَّا يَأْتِي فَتَعْبِيرِي بِذَلِكَ أَعَمُّ مِنْ قَوْلِهِ وَسِنُّهَا وَسَلَامَتُهَا وَالْأَكْلُ وَالتَّصَدُّقُ كَالْأُضْحِيَّةِ.. حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب (5/ 264)

(ويجب) في أضحية التطوّع (التصدق بشيء من لحمها) يقع عليه الاسم. قال (ع ش): (ولا بد من كون له وقع كرطل) فيحرم أكل جميعه؛ إذ المقصود إرفاق المساكين، ولا يحصل بمجرد الذبح، ……….الى ان قال. ويجب أن يعطيه (نيئاً) طرياً لا مطبوخاً ولا قديداً لمسلم حر أو مبعض في نوبته، أو مكاتب -والمعطي غير سيده- فقير أو مسكين ولو واحداً، ولا يكفي جعله طعاماً ودعاء المسكين أو إرساله إليه؛ لأن حقه في تملكه لا في أكله، ولا مما لا يسمى لحماً كجلد وكبد. شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم (ص: 700)

Wallahu a’lamu bisshowab..

H007. CIRI-CIRI BELALANG YANG HALAL DIMAKAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Seperti apa ciri-ciri belalang yang halal dimakan?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Spesifikasi belalang yang dihalalkan adalah seperti dijelaskankan dalam kitab Jamal dan Baajuri bahwa jarod (belalang) adalah :

– Saat bertelur mencari tempat yang keras yang ia gali dengan ekornya yang lancip

– Berkaki enam, 2 di depan yang fungsinya sebagai tangannya, 2 di dada dan 2 lagi di belakang, yang di ujung kedua kakinya berwarna kuning

– Dalam penciptaannya memiliki kemiripan menyamai 10 binatang lainnya : Berwajah seperti kuda, berwajah kuda, bermata gajah (sipit), berleher sapi jantan, bertanduk unta, berdada macan, berperut kalajengking, bersayap burung nasar, berpaha unta, berkaki burung unta, berekor ular

– Memiliki racun di liurnya yang mampu merusak segala tumbuh-tumbuhan.

Hasyiyah al-jamal I/172 :

( قوله وجراد ) مشتق من الجرد وهو اسم جنس واحده جرادة يطلق على الذكر والأثى وهو بري وبحري وبعضه أصفر وبعضه أبيض وبعضه أحمر كبير الجثة وبعضه صغيرها واذا أراد أن يبيض التمس المواضع الصلبة وضربها بذنبه فتنفرج فيلقى بيضه فيها ويكون حاضنا له ومربيا وله ستة أرجل يدان فى صدرها وقائمان فى وسطها ورجلان فى مؤخرها وطرف رجليه صفروان وفى خلقته عشرة من جبابرة البوادى وجه فراس وعين فيل وعنوق ثور وقرن ابل وصدر اسد وبطن عقرب وجناحا نسر وفخذا جمل ورجلا نعامة وذنب حية وليس فى الحيوانات أكثر افسادا منه ولعابه سم على الأشجار ولا يقع على شىء الا أفسدها اهـ برماوى.

– Hasyiyah al-Baajuri II/303 :

وقوله والجراد مشتق من الجرد وهو بري وبحري وبعضه أبيض وبعضه أحمر وبعضه كبير الجثة وبعضه صغيرها وله يدان في صدره وقائمتان في وسطه ورجلان في مؤخره وليس في الحيوانات أكثر أفسادا منه

Wallaaahu A’lamu Bis Showaab

H006. AQIQAH UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bolehkah aqiqah untuk orang yang sudah meninggal dunia?

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Bila kita ilhaqkan (samakan) dengan kurban untuk orang yang telah meninggal maka terdapat pendapat yang memperbolehkan aqiqah pada anak dewasa yang telah meninggal karena aqiqah juga merupakan bagian daripada shadaqah dan shadaqah atas nama mayit adalah sah dan dapat memberi manfaat.

ولا) تضحية (عن ميت لم يوص بها) لقوله تعالى “وان ليس للانسان الا ما سعي ” فان اوصى بها جاز الى ان قال وقيل تصح التضحية عن الميت وان لم يوص بها لانها ضرب من الصدقة وهى تصح عن الميت وتنفعه اهـ

Tidak sah berkorban atas nama mayit yang tidak mewasiatkannya, karena firman Allah swt (artinya) :”Dan sesungguhnya bagi manusia hanyalah apa yang ia usahakan”. Jadi jika ia mewasiatkannya maka boleh sampai ungkapan Dikatakan : sah berkorban atas nama mayit walaupun dia tidak mewasiatkannya, karena berkurban merupakan bagian daripada shadaqah dan shadaqah atas nama mayit adalah sah dan dapat memberi manfaat. [ Mughni al-Muhtaaj IV/292-293 ].

Wallaahu A’lamu Bis showaab..

H005. SEPUTAR AQIQAH

A.Q.I.Q.A.H

Sekapur Sirih.

الحمد لله وكفى وسلام على عباده الذين اصطفى

وعلى آله وصحبه أهل التقى والوفا

Segala puja dan puji hanya milik Allah Swt, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah ke hadirat junjungan semesta alam, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Aqiqah adalah salah satu dari sekian banyak amalan Sunnah Rasulullah Saw yang harus terus dilaksanakan dan diwariskan ummat Islam kepada generasi selanjutnya. Namun dalam pelaksanaannya banyak hal yang tidak sesuai syariat Islam, karena kelalaian dan kekurangan ummatnya. Semoga buku saku yang singkat ini dapat menjadi pengingat yang terlupa tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan Aqiqah.

Akhirnya, kesempurnaan hanya milik Allah. Semoga ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir, bagian dari ilmu yang bermanfaat, amin ya Robbal’alamin.

Definisi Aqiqah.

Aqiqah menurut bahasa adalah: rambut yang dibawa janin ketika lahir. Saat rambut tersebut akan dicukur, maka disembelihkan kambing, maka kambing yang disembelih saat mencukur rambut tersebut disebut dengan Aqiqah.

Aqiqah menurut istilah adalah:

الذبيحة التي تذبح عن المولود.

Sembelihan yang disembelih untuk anak yang dilahirkan. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/326).

Dasar Aqiqah.

Aqiqah berdasarkan hadits Rasulullah Saw:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى ».

Dari Samurah bin Jundub, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Setiap anak tergadai dengan Aqiqahnya, maka disembelihkan untuknya pada hari ke-tujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama”. (HR. Abu Daud).

Hukum Aqiqah.

والعقيقة سنة مؤكدة ولو كان الاب معسرا، فعلها الرسول، صلى الله عليه وسلم، وفعلها أصحابه، روى أصحاب السنن أن النبي، صلى الله عليه وسلم، عق عن الحسن والحسين كبشا كبشا، ويرى وجوبها الليث وداود الظاهري.

Hukum Aqiqah itu Sunnat Mu’akkadah, meskipun seorang ayah dalam kesulitan (ekonomi).

Aqiqah dilaksanakan Rasulullah Saw dan para shahabat. Diriwayatkan oleh para penyusun kitab as-Sunan bahwa Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan dan Husein masing-masing satu ekor kambing. Menurut Imam al-Laits dan Imam Daud azh-Zhahiri hukum Aqiqah itu wajib. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/326).

Hikmah Aqiqah.

Dalam kitab al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/285 disebutkan tentang hikmah Aqiqah adalah:

شكر نعمة الله تعالى برزق الولد، وتنمية فضيلة الجود والسخاء وتطييب قلوب الأهل والأقارب والأصدقاء بجمعهم على الطعام، فتشيع المحبة والمودة والألفة.

Ungkapan syukur kepada Allah Swt atas diberi rezeki seorang anak. Menumbuhkan keutamaan berbagi dan sifat kedermawanan. Melembutkan hati keluarga, kerabat dan para sahabat dengan mengumpulkan mereka dengan makan bersama. Menebarkan kasih sayang, cinta kasih dan kebersamaan.

Jumlah Kambing Yang Disembelih.

Mazhab Maliki:

Satu ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abbas:

عق عن الحسن شاة، وعن الحسين شاة

Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan satu ekor kambing dan Husein satu ekor kambing.

Mazhab Syafi’i dan Hanbali:

Dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan, berdasarkan hadits riwayat Aisyah:

عن الغلام شاتان مكافئتان، وعن الجارية شاة

“Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sama dan untuk satu orang anak perempuan satu ekor kambing”. (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).

Berdasarkan dua hadits diatas, jika disembelihkan satu ekor kambing untuk anak laki-laki, maka hukumnya sah. Jika disembelihkan dua ekor untuk anak laki-laki, maka afdhal. Karena hadits riwayat Ibnu Abbas mengandung makna boleh.

Hewan Selain Kambing.

Adapun menyembelih hewan selain kambing, maka pendapat ulama Fiqh:

فلو ذبح بدنة أو بقرة عن سبعة أولاد، جاز.

Jika disembelihkan satu ekor unta atau satu ekor lembu untuk tujuh orang anak, maka hukumnya boleh. (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/286).

Waktu Penyembelihan.

Apakah hari ketujuh menjadi batasan, sehingga kurang atau lebih dari itu Aqiqah menjadi tidak sah? Ulama Fiqh menjelaskan:

والذبح يكون يوم السابع بعد الولادة إن تيسر، وإلا ففي اليوم الرابع عشر وإلا ففي اليوم الواحد والعشرين من يوم ولادته، فإن لم يتيسر ففي أي يوم من الايام.

ففي حديث البيهقي: تذبح لسبع، ولاربع عشر، ولاحدي وعشرين.

Penyembelihan Aqiqah itu pada hari ke-tujuh setelah kelahirkan, jika memungkinkan. Jika tidak, maka pada hari ke-14. Jika tidak memungkinkan, maka pada hari ke-21 sejak kelahirannya. Jika tidak memungkinkan, maka kapan saja pada hari-hari berikutnya. Dalam hadits riwayat al-Baihaqi disebutkan: “Disembelihkan pada hari ke-7, ke-14 dan ke-21”. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/328).

وصرح الشافعية والحنابلة: أنه لو ذبح قبل السابع أو بعده، أجزأه.

Mazhab Syafi’i dan Hanbali menyatakan: jika disembelihkan Aqiqah sebelum hari ketujuh atau setelah hari ketujuh, maka tetap sah. (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/286).

Aqiqah, Tanggung Jawab Siapa Terhadap Siapa?

Apakah Aqiqah itu tanggung jawab seorang Ayah terhadap anaknya saja? Atau seseorang dapat meng-aqiqah-kan dirinya sendiri setelah ia dewasa?

وأضاف الحنابلة والمالكية: لا يعق غير الأب، ولا يعق المولود عن نفسه إذا كبر، لأنها مشروعة في حق الأب، فلا يفعلها غيره. واختار جماعة من الحنابلة: أن للشخص أن يعق عن نفسه استحباباً. ولا تختص العقيقة بالصغر، فيعق الأب عن المولود، ولو بعد بلوغه؛ لأنه لا آخر لوقتها.

Menurut Mazhab Hanbali dan Maliki: yang meng-aqiqah-kan hanya ayah saja (terhadap anaknya). Seorang anak tidak meng-aqiqah-kan dirinya sendiri setelah ia dewasa. Karena pensyariatan aqiqah itu terhadap ayah, tidak dapat dilaksanakan orang lain.

Sekelompok ulama Mazhab Hanbali berpendapat: seseorang boleh meng-aqiqah-kan dirinya sendiri, jika ia ingin melakukannya.

Aqiqah tidak hanya dilakukan saat masih kecil. Seorang ayah dapat meng-aqiqah-kan anaknya setelah aqil baligh, karena tidak ada batasan akhir waktu untuk aqiqah. (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/286).

Ucapan Saat Menyembelih Aqiqah.

اَللَّهُمَّ مِنْكَ وَإِلَيْكَ عَقِيْقَة فُلاَن

“Ya Allah, dari-Mu dan kepada-Mu Aqiqah si fulan”.

Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dengan Sanad yang Hasan.

أن النبي صلّى الله عليه وسلم عق عن الحسن والحسين،

وقال: «قولوا: بسم الله ، اللهم لك وإليك عقيقة فلان» .

Diriwayatkan Aisyah bahwa Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan dan Husein dan berkata: “Ucapkanlah: dengan nama Allah, ya Allah, untuk-Mu dan kepada-Mu Aqiqah si fulan”.

Hukum Daging dan Kulit Aqiqah.

حكم اللحم كالضحايا، يؤكل من لحمها، ويتصدق منه، ولا يباع شيء منها. ويسن طبخها، ويأكل منها أهل البيت وغيرهم في بيوتهم

Hukum daging Aqiqah sama seperti daging kurban. Dagingnya dimakan, disedekahkan, tidak boleh dijual meskipun sedikit. Disunnatkan agar dimasak, dimakan bersama keluarga dan orang lain di rumah.

وأجاز الإمام أحمد في رواية عنه بيع الجلد والرأس والتصدق به.

Imam Ahmad bin Hanbal -dalam satu riwayat- memperbolehkan menjual kulit dan kepala Aqiqah kemudian mensedekahkan hasil penjualannya. (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/287).

Memberi Nama dan Mencukur Rambut.

ومن السنة أن يختار للمولود اسم حسن ويحلق شعره ويتصدق بوزنه فضة إن تيسر ذلك، لما رواه أحمد والترمذي عن ابن عباس، أن النبي، صلى الله عليه وسلم، عق عن الحسن بشاة، وقال: يا فاطمة، احلقي رأسه وتصدقي بوزنه فضة على المساكين، فوزناه فكان وزنه درهما أو بعض درهم.

Termasuk amalan Sunnah memilihkan nama yang baik untuk anak, mencukur rambutnya dan bersedekah seberat perak dari berat rambut tersebut, jika memungkinkan. Berdasarkan riwayat Imam Ahmad dan at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan satu ekor kambing, beliau berkata: “Wahai Fathimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah seberat perak dari rambut itu, sedekahkan kepada orang-orang miskin”. Maka kami pun menimbang rambutnya, beratnya satu Dirham (uang perak), atau sebagian Dirham. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/328).

Aqiqah dan Kurban.

Tidak ada kaitan antara Aqiqah dan Kurban. Oleh sebab itu orang yang belum Aqiqah tetap boleh berkurban.

Akan tetapi jika bertepatan antara hari Aqiqah dan Kurban, maka menurut Mazhab Hanbali:

قالت الحنابلة: وإذا اجتمع يوم النحر مع يوم العقيقة فإنه يمكن الاكتفاء بذبيحة واحدة عنهما، كما إذا اجتمع يوم عيد ويوم جمعة واغتسل لاحدهما.

Mazhab Hanbali berpendapat: jika bertepatan antara hari Kurban dengan Aqiqah, maka cukup menyembelih satu ekor sembelihan saja. Sama seperti bertepatan antara hari raya dengan hari Jum’at, maka cukup satu mandi saja. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/328).

Wallahu a’lamu bisshowab

H004. HUKUM MEMAKAN KURA KURA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum makan kura kura dan penyu menurut ilam. Saya mau tahu karena tadi saya diajak teman makan kotempah?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya haram karena hidup di dua alam (air dan darat).

> Ibnu Hasyim Alwi:

و يحرم اكل السلحفاة برية كان او بحرية و هى المعروفة بالترسة لانها تعيش فى البر و البحر
الحنابلة و المالكية قالويحل اكل السلحفاة البحرية الترسة بعد ذبحها. اما السلحفاة البرية فالراجح عند حنابلة حرمتها

Haram memakan kura-kura baik kura-kura darat maupun laut yang biasa dikenal dengan nama penyu karena mereka bisa hidup di darat dan di laut. Ulama-ulama khanabilah dan malikiyah berpendapat halal memakan kura-kura laut(penyu) setelah di sembelih terlebih dahulu.Adapun kura-kura darat maka menurut qaol rojih ulama khanabilah hukumnya haram. (Madzahib al Arba’ah : 2/7).

Dalam Qoul Rojih pun mengkonsumsi daging kura-kura hukumnya haram.

Lihat kifayatul ahyar : 2/235 :

يحرم الضفدع و السرطان و السلحفاة على الراجيح.

Daging kura kura adalah haram, sewaktu tidak tahu hukumnya tidak apa-apa. Memakan daging kura-kura menurut Qoul Al-Ashah hukumnya haram

الضرب الثاني ما يعيش في الماء والبر أيضا___ ويحرم التمساح على الصحيح والسلحفاة على الأصح. روضة الطالبين

Wallahu a’lamu bisshowab..