Arsip Kategori: Janazah

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Janazah.

J036. CARA MERAWAT MAYAT KORBAN GEMPA DAN SUNAMI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah:

Di zaman sekarang ini tidak sedikit kita bertemu dan melihat seorang laki2 yang membiarkan rambutnya panjang sehingga sama dengan rambutnya wanita yang tidak berjilbab, begitu juga sebaliknya terkadang tanpa disengaja kita bertemu dengan wanita yang rambutnya pendek menyerupai orang laki-laki, bahkan bukan cuma itu pakainpun merip dengan orang laki-laki.

Akibat terjadinya gempa stunami yang terjadi di sulawesi tengah, maka banyak yang menjadi korban meninggal kurang lebih 386 dan masih banyak yang luka-luka ringan dan berat yang sekarang ini dirawat dirumah sakit. Yang meninggal mudah-mudahan diampuni oleh Allah dan yang luka-luka mudah-mudahan tertolong dan sembuh.

Studi kasus, setelah kurang lebih dari seminggu polisi dan mayarakat menemukan mayat yang sudah rusak akibat tsunami tersebut, sehingga sulit untuk diketahui jenisnya.

Pertanyaannya:

Bagaimana tatacara menyelesaikan kewajiban (tajhizulmayit) mulai dari memandikan menshalatinya sampai mengkuburkannya (mentalqiniya) menurut hukum agama, sementara ia tidak diketahui jenis kelaminnya?
Mohon dengan hormat atas jawabannya.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

CARA MEMANDIKAN :

Apabila mayatnya hancur/remuk karena gempa sehingga tidak diketahui jenis kelaminnya maka kewajiban kita masih tetap sama dengan janazah lainnya, mengkafani, mensholati dan menguburkannya hanya dalam masalah memandikan diganti dengan tayammum.

Referensi :

Al Bajuri 1/ 242 – 243 :

(وَيَلْزَمُ) عَلَى طِرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ)… الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ ) (قَوْلُهُ غُسْلُهُ) أَيْ أَوْ بَدُلُهُ وَهُوَ التَّيَمُّمُ كَمَا لَوْ حُرِقَ بِالنَّارِ وَكَانَ لَوْ غُسِلَ تَهَرَّى .

Dan wajib menurut secara fardlu kifayah pada mayat yang muslim selain orang yang mati dalam keadaan ihram dan mati syahid (dalam pertempuran membela agama) empat perkara, yaitu: memandikannya, mengkafaninya, melakukan shalat atasnya dan menguburnya. Ucapan pengarang: memandikannya, artinya atau penggantinya, yaitu tayammum, sebagaimana andaikata mayat yang terbakar oleh api dan andaikata dimandikan maka dagingnya terlepas dari tubuhnya.

– Asna alMathoolib I/305 :

وَإِنْ كان بِحَيْثُ لو غُسِّلَ تَهَرَّى لِحَرْقٍ أو نَحْوِهِ يُمِّمَ بَدَلَ الْغُسْلِ لِعُسْرِهِ

“Apabila janazah dalam keadaan rusak karena terbakar atau lainnya yang andai di mandikan kulitnya akan terkelupas maka janazah tersebut ditayammumi sebagai pengganti dari mandi karena sulitnya melaksanakan pemandian”.

CARA MEN-SHALATKAN :

Tidak disyaratkan dalam shalat jenazah harus mengetahui jenis kelamin mayit yang dishalati. Sebagaimana pula tidak dipersyaratkan harus mengetahui nama mayit.

An-Nawawi mengatakan,

ولا يفتقر إلى تعيين الميت، وأنه زيد أو عمرو أو امرأة أو رجل ، بل يكفيه نية الصلاة على هذا الميت وإن كان مأموما ونوى الصلاة على من يصلي عليه الإمام كفاه ، صرح به البغوي وغيره

Shalat jenazah tidak harus diniatkan untuk mayit tertentu. Seperti diniatkan untuk mayit bernama Zaid, atau Amr, atau seorang wanita atau seorang lelaki. Namun cukup dengan niat menshalatkan jenazah yang bersangkutan. Dan jika dia sebagai makmum shalat jenazah, lalu dia berniat shalat sebagaimana yang diniatkan imam, itu sah. Demikian yang ditegaskan al-Baghawi dan yang lainnya. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 5/230).

Keterangan yang lain juga disebutkan dalam kitab Kifayatul Akhyar,

ولا يشترط تعين الميت بل لو نوى الصلاة على من صلى عليه الإمام كفى

Tidak disyaratkan harus meniatkan shalat jenazah untuk mayit tertentu. Bahwa jika berniat shalat jenazah sebagaimana niatnya imam, itu sudah cukup. (Kifayatul Akhyar, hlm. 162).

Karena inti dari shalat jenazah adalah mendoakan mayit yang bersangkutan. Sekalipun kita tidak tahu jenis kelaminnya, tidak tahu namanya, selama dia muslim, maka doa kita bisa bermanfaat baginya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan” (HR. Bukhari & Muslim)

Bagaimana dengan Kata Ganti dalam Doanya?

Kata ganti orang ketiga dalam bahasa arab dibedakan untuk lelaki (mudzakkar) dan perempuan (muannats). Dalam posisinya sebagai objek, kata “dia lelaki” digunakan [هُـ]. Sementara kata “dia perempuan” digunakan [هَا].

Dalam bahasa arab, kata benda juga terbagi menjadi mudzakar dan muannats. Salah satu diantara cirinya adalah adalah kata muannats bertandakan huruf ta’ melingkar (marbuthah) ditulis [ة]. Sementara kata benda mudzakkar, umumnya tidak menggunakan ta’ marbuthah.

Sebagai contoh:

Kata mayit [المَيِّتُ] adalah kata mudzakkar, diantara cirinya tidak ada huruf ta’ marbuthah. Sehingga jika dibuat kata ganti (dhamir) bisa menggunakan huruf hu [هُـ].

Kata jenazah [الجَنَازَةُ] adalah kata muannats, diantara cirinya ada huruf ta’ marbuthah. Sehingga jika dibuat kata ganti (dhamir) bisa menggunakan huruf haa [هَا].

Sementara dalam shalat jenazah, kita bisa mendoakan dengan redaksi: “Ya Allah, ampunilah mayit ini…”, atau bisa juga dengan redaksi, “Ya Allah, ampunilah jenazah ini…”

Oleh karena itu, sekalipun kita tidak tahu jenis kelamin jenazah, menggunakan dhamir (kata) ganti apapun, tetap benar.

Misalnya, anda membaca doa ketika shalat jenazah,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

/Allahummagh-fir laHU war hamHU wa ‘aafiiHI wa’fu’anHU /

“Ya Allah berilah ampunan kepadanya, sayangilah ia, jagalah ia dan maafkanlah ia..”

Anda menggunakan kata ganti (dhamir) ‘hu’ dengan niat ditujukan kepada mayit. Sehingga kalimat “Ya Allah berilah ampunan kepadanya…” maksud kata ‘nya’ adalah mayit [المَيِّت], yang merupakan kata mudzakkar. Sehingga apapun jenis kelamin mayit, tidak mempengaruhi doa ini.

Atau misalnya,

anda membaca doa ketika shalat jenazah,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا

/Allahummagh-fir laHA war hamHA wa ‘aafiiHA wa’fu’anHA /

“Ya Allah berilah ampunan kepadanya, sayangilah ia, jagalah ia dan maafkanlah ia..”

Anda menggunakan kata ganti (dhamir) ‘ha’ dengan niat ditujukan kepada jenazah. Sehingga kalimat “Ya Allah berilah ampunan kepadanya…” maksud kata ‘nya’ adalah jenazah [الجَنَازَةُ], yang merupakan kata muannats. Sehingga apapun jenis kelamin mayit, tidak mempengaruhi doa ini.

Do’a dan bacaan saat menyolati mayyit yang tidak kita ketahui baik jenis kelamin, jumlah, dan balligh atau belumnya, adalah dengan dimudzakkarkan dhomirnya, karena sebetulnya tidak disyaratkan ta’yin mayyit yang hadir dicukupkan dengan ta’yin solat jenazah atau ta’yin fardhu / fardhu kifayah.

قوله ويكبر ) الي ان قال وأركانها سبعة أحدها النية ويجب فيها القصد والتعيين كصلاة الجنازة ونية الفرضية وإن لم يعترض للكفاية وغيرها ولا يشترط تعيين الميت الحاضر

Adapun rukun dari solat jenazah ialah 7 salah satunya niat dan diwajibkan untuk menyegaja niat dan ta’yin niat contoh solat jenazah dan niat fardhu walaupun tidak menyinggung/mengucapkan kifayah atau selainnya dan tidak disyaratkan menta’yin mayyit yang hadir.

Referensi :

– khasiyah albajuri juz 1 hal 249

فإن عينه كزيد أو رجل ولم يشر اليه ,أخطأ في تعيينه كأن بان عمر أو إمرأة لم تصح صلاته فأن أشار اليه كأن ٌقال نويت الصلاة علي زيد هذا فبان عمرا صحت صلاته تغليبا للإشارة ويلغو التعيين

Seandainya seorang yang menyolati jenazah menta’yin contoh mayyat bernama zaid atau mayyat laki-laki dan tidak menisyarohi/memakai lafad hadza maka demikian apabila salah pada ta’yinnya dalam contoh kenyataannya mayyatnya umar atau kenyataannya mayyatnya perempuan maka tidak sah solatnya berbeda seandainya orang yang solat jenazah tersebut mengisyarohi /melafdkan hadza seperti niat nawaitu as solata ala zaidin hadza ,maka apabila kenyaataannya salah maka sah solatnya karena yang dimenangkan adalah isyarohnya dan tidak dianggap ta’yinnya. [ referensi khasiyah al bajuri juz 1 hal 249 ].

– Syarh Al Bahjah al-Wardiyyah VI/97 ].

ويؤنث الضمائر ويجوز تذكيرها بقصد الشخص

Dan dhomir dijadikan ta’nits (dalam mayat wanita) dan boleh juga memudzakkarkannya.

– I’aanah at-Thoolibiin II/128

ويؤنث الضمائر في الأنثى ويجوز تذكيرها بإرادة الميت أو الشخص( قوله ويؤنث الضمائر في الأنثى ) كأن يقول اللهم اغفر لها وارحمها إلخ اللهم اجعلها فرطا لأبويها إلخ ( قوله ويجوز تذكيرها ) أي الضمائر في الأنثى ( وقوله بإرادة الميت أو الشخص ) يعني أنه إذا ذكر الضمير وكان الميت أنثى جاز ذلك بتأويلها بالشخص أو بالميت أي اللهم اغفر له أي هذا الميت أو الشخص أي أو الحاضر

CARA MENGUBURKAN :

Hukum menguburkan mayat secara massal adalah sebagai berikut:

a. Tidak boleh, apabila masih bisa menguburkannya secara normal (satu lubang kuburan untuk satu mayat)

b. Boleh, apabila dalam keadaan darurat (tidak memungkinkan untuk menguburkan mayat dengan normal). Sebagaimana keterangan dalam kitab al-Muhadzdzab berikut ini:

وَلاَ يُدْفَنُ مَيِّتٌ فِيْ مَوْضِعٍ فِيْهِ مَيِّتٌ إِلاَّ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّهُ قَدْ بَلِيَ وَلَمْ يَبْقَ مِنْهُ شَيْءٌ وَيُرْجَعُ فِيْهِ إِلَى أَهْلِ الْخُبْرَةِ بِتِلْكَ اْلأَرْضِ وَلاَ يُدْفَنُ فِيْ قَبْرٍ وَاحِدٍ اِثْناَنِ لِأَنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَدْفَنْ فِي كُلِّ قَبْرٍ إِلاَّ وَاحِدًا فَإِنْ دَعَتْ إِلَى ذلِكَ ضَرُوْرَةٌ جَازَ لِأَنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلم كاَنَ يَجْمَعُ اْلاِثْنَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ…. (المهذب في فقه الإمام الشافعي، ج 1 ص 253)

Dan mayit tidak boleh dikuburkan pada suatu tempat yang sudah ada mayatnya, kecuali mayat (yang sudah dikubur) telah rusak, dan tidak ada sesuatu di dalamnya, dan hal ini diserahkan pada ahlinya. Dan tidak dikuburkan dalam satu kuburan dua mayat, karena Nabi tidak mengubur dalam satu lubang kubur kecuali satu mayat, namun apabila dalam keadaan darurat maka diperbolehkan, karena sesungguhnya Nabi pernah mengumpul-kan dua mayat dalam satu kuburan pada saat perang uhud. (al-Muhadzdzab fii Fiqh al-Imam as-Syafi’i, juz 1, hal. 253)

Wallahu a’lamu bisshowab..

J035. HUKUM MENGGALI KUBURAN DI ATAS KUBURAN LAMA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Latar belakang masalah :
Ada seorang tokoh masyarakat mengubur mayat di dalam liang kubur yang sudah ada mayyitnya, mayat tersebut baru dikubur ± 1 tahun, tapi mayyit kedua dikubur di atas tempat kuburannya mayyit pertama, hal tersebut dilakukan karena tidak mampu membayar sewa tanah dan juga melaksanakan wasiat.

Soal : Bagaimanakah hukumnya ? Apabila haram tindakan apa yang harus dilakukan ? Sebab sudah terlanjur

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya boleh

Referensi:
– Rohmatul ummah Hahmisy mizanul kubro juz 1 hal 89 :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺩُﻓِﻦَ ﻣَﻴِّﺖٌ ﻟَﻢْ ﻳَﺠُﺰْ ﺣَﻔْﺮُ ﻗَﺒْﺮِﻩِ ﻟِﺪَﻓْﻦِ ﺁﺧَﺮٍ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ
ﻳَﻤْﻀَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍْﻟﻤَﻴِّﺖِ ﺯَﻣَﺎﻥٌ ﻳَﺒْﻠَﻰ ﻓِﻰ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﻳَﺼِﻴْﺮُ ﺭَﻣِﻴْﻤًﺎ ﻓَﻴَﺠُﻮْﺯُ ﺣَﻔْﺮُﻩُ ﻟِﺈﺗِّﻔَﺎﻕٍ . ﻭَﻋَﻦْ ﻋُﻤَﺮِ ﺍِﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍْﻟﻌَﺰِﻳْﺰِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﻀَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﺣَﻮْﻝٌ ﻓَﺎﺯْﺭَﻋُﻮْﺍ ﺍﻟْﻤَﻮْﺿِﻊَ .

Apabila ada mayit yang dikuburkan maka tidak diperbolehkan menggali kuburannya guna untuk mengkuburkan mayit yang lain, kecuali apabila telah berlalu atas mayit yang pertama suatu masa yang diperkirakan ia dan semisalnya telah rusak dan menjadi usang, maka diperbolehkan menggalinya karena kesepakatan ulama’. Diriwayatkan dari Umar bin Abdil ‘Aziz bahwasanya dia berkata: Apabila telah berlalu atas mayit masa satu tahun, maka olahlah tempat-tempat (pemakaman).

– Hamisy ianatu tholibin juz 2 hal 116 :

ﻭَﺩَﻓْﻨُﻪُ ﻓِﻰ ﺣَﻔْﺮَﺓٍ ﺗَﻤْﻨَﻌُﻪُ ﺑَﻌْﺪَ ﻃَﻤِّﻬَﺎ ﺭَﺍﺋِﺤَﺔً ﺃَﻯْ ﻇُﻬُﻮْﺭُﻫَﺎ
ﻭَﺳَﺒُﻌًﺎ ﺃَﻯْ ﻧَﺒْﺴَﻪُ ﻟَﻬَﺎ ﻓَﻴَﺄْﻛُﻞُ ﺍْﻟﻤَﻴِّﺖَ

Dan mengkuburkan mayit dalam suatu lubang yang bisa mencegah bau dan binatang buas yang memangsa mayat setelah ditanam
Tambahan Keterangan
Haram hukumnya menggali kuburan sebelum mayit di dalamnya telah rusak dan menjadi debu untuk dimasuki mayit baru, jadi selama mayit yang awal telah rusak dan menjadi debu maka boleh menggali kuburannya untuk ditempati mayit lainnya. Kecuali kuburannya orang alim yang terkenal atau waliyulloh yang terkenal maka secara mutlak tidak boleh digali menurut imam romli.

Jika dalam proses penggalian tersebut ditemukan adanya tulang, maka tanah galian wajib di kembalikan dan mayit yang kedua tidak boleh di kuburkan di situ. Tapi jika tulang tersebut di temukan setelah selesainya penggalian maka mayit yang kedua boleh di kuburkan di sampingnya karena adanya kesulitan untuk memulai penggalian baru. Keharaman memasukkan mayyit kedua tersebut jika tidak dhorurot, jika ada dhorurot maka boleh sebagaimana bolehnya mengubur dua jenazah sekaligus di permulaan ketika adanya dhorurot.

– Al Majmu’ (5/273) :

ﻭَﻳﺠﻮﺯ ﻧﺒﺶ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﺇﺫﺍ ﺑﻠﻲ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺻﺎﺭ ﺗﺮﺍﺑﺎ، ﻭﺣﻴﻨﺌﺬ ﻳﺠﻮﺯ ﺩﻓﻦ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻴﻪ

– Hasiyah Ibnu Qosim ala Tuhfah (3/173) :

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺃﻳﻀﺎ ﺇﺩﺧﺎﻝ ﻣﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﺁﺧﺮ ﻭﺇﻥ ﺍﺗﺤﺪﺍ ﻗﺒﻞ ﺑﻠﻰ ﺟﻤﻴﻌﻪ ﺃﻱ ﺇﻻ ﻋﺠﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺒﻠﻰ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ

‏( ﻗﻮﻟﻪ ﻗﺒﻞ ﺑﻠﻰ ﺟﻤﻴﻌﻪ ‏) ﺃﻓﻬﻢ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﻨﺒﺶ ﺑﻌﺪ ﺑﻠﻰ ﺟﻤﻴﻌﻪ ﻭﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﻗﺒﺮ ﻋﺎﻟﻢ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﺃﻭ ﻭﻟﻲ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﻓﻴﻤﺘﻨﻊ ﻧﺒﺸﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ

– Fatawa Fiqhiyah Kubro (2/14) :

ﺣﻴﺚ ﺣﻔﺮ ﻗﺒﺮ ﺇﻣﺎ ﺗﻌﺪﻳﺎ ﻭﺇﻣﺎ ﻣﻊ ﻇﻦ ﺃﻧﻪ ﺑﻠﻲ ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻖ ﻓﻴﻪ ﻋﻈﻢ ﻓﻮﺟﺪ ﻓﻴﻪ ﻋﻈﻢ ، ﺭﺩ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺟﻮﺑﺎ ، ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺪﻓﻦ ﻓﻴﻪ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺒﻠﻰ .

– Asnal Matholib (4/358) :

‏( ﻓﺈﻥ ﺣﻔﺮ ﻓﻮﺟﺪ ﻋﻈﺎﻡ ﻣﻴﺖ ‏)
ﺃﻱ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻨﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﺤﻔﺮ ‏( ﻭﺟﺐ ﺭﺩ ﺗﺮﺍﺑﻪ ﻋﻠﻴﻪ .
ﻭﺇﻥ ﻭﺟﺪﻫﺎ ﺑﻌﺪ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﺤﻔﺮ ﺟﻌﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﺟﺎﻧﺐ ‏) ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺒﺮ ‏( ﻭﺟﺎﺯ ‏) ﻟﻤﺸﻘﺔ ﺍﺳﺘﺌﻨﺎﻑ ﻗﺒﺮ ‏( ﺩﻓﻨﻪ ‏) ﺃﻱ ﺍﻵﺧﺮ ‏( ﻣﻌﻪ ‏) ﻭﻧﻘﻠﻮﻩ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺺ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻭﺿﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ

– Hasiyah Syarwani ala Tuhfah (3/174) :

‏( ﻗﻮﻟﻪ ﺇﺩﺧﺎﻝ ﻣﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﺁﺧﺮ ﺇﻟﺦ ‏)
ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﻱ ﻭﻣﺤﻞ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ ﻋﻨﺪ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭﺃﻣﺎ ﻋﻨﺪﻫﺎ ﻓﻴﺠﻮﺯ ﻛﻤﺎ في ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﺀ ﺭﻣﻠﻲ ﺍﻧﺘﻬﻰ ﺍ ﻫـ ﻉ ﺵ

Wallahu a’lamu bisshowab..

J034. CARA MERAWAT MAYAT YANG SUDAH DI MUTILASI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana cara merawat jenazah yang dimutilasi (dibunuh lalu dipotong-potong badannya)?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Kewajiban kita masih tetap sama dengan janazah lainnya, mengkafani, mensholati dan menguburkannya hanya dalam masalah memandikan diganti dengan tayammum.

(وَيَلْزَمُ) عَلَى طِرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ)… الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ ) (قَوْلُهُ غُسْلُهُ) أَيْ أَوْ بَدُلُهُ وَهُوَ التَّيَمُّمُ كَمَا لَوْ حُرِقَ بِالنَّارِ وَكَانَ لَوْ غُسِلَ تَهَرَّى .

Dan wajib menurut secara fardlu kifayah pada mayat yang muslim selain orang yang mati dalam keadaan ihram dan mati syahid (dalam pertempuran membela agama) empat perkara, yaitu: memandikannya, mengkafaninya, melakukan shalat atasnya dan menguburnya. Ucapan pengarang: memandikannya, artinya atau penggantinya, yaitu tayammum, sebagaimana andaikata mayat yang terbakar oleh api dan andaikata dimandikan maka dagingnya terlepas dari tubuhnya. [ Al Bajuri 1/ 242 – 243 ].

وَإِنْ كان بِحَيْثُ لو غُسِّلَ تَهَرَّى لِحَرْقٍ أو نَحْوِهِ يُمِّمَ بَدَلَ الْغُسْلِ لِعُسْرِهِ

“Apabila janazah dalam keadaan rusak karena terbakar atau lainnya yang andai di mandikan kulitnya akan terkelupas maka janazah tersebut ditayammumi sebagai pengganti dari mandi karena sulitnya melaksanakan pemandian”. [ Asna alMathoolib I/305 ].

Dalam kasus mutilasi apakah potongan tubuh yang ditemukan di kemudian hari, wajib dimandikan & dikubur jadi satu dengan potongan tubuh yang lainya ? Wajib kang, tapi nggak usah menggali potongan yang telah dikubur.

وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ مُسْلِمٍ غَيْرِ شَهِيدٍ صُلِّيَ عَلَيْهِ بَعْدَ غُسْلِهِ وَسُتِرَ بِخِرْقَةٍ وَدُفِنَ كَالْمَيِّتِ الْحَاضِرِ ، وَإِنْ… كَانَ الْجُزْءُ ظُفْرًا أَوْ شَعْرًا لَكِنْ لَا يُصَلَّى عَلَى الشَّعْرَةِ الْوَاحِدَةِ

قَوْلُهُ : ( وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ ) أَيْ تَحَقَّقَ انْفِصَالُهُ مِنْهُ حَالَ مَوْتِهِ أَوْ فِي حَيَاتِهِ وَمَاتَ عَقِبَهُ فَخَرَجَ الْمُنْفَصِلُ مِنْ حَيٍّ وَلَمْ يَمُتْ عَقِبَهُ إذَا وُجِدَ بَعْدَ مَوْتِهِ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ ، وَيُسَنُّ مُوَارَاتُهُ بِخِرْقَةٍ وَدَفْنُهُ .اهـ .

Bila diketemukan bagian dari janazah orang muslim maka wajib di sholati setelah terlebih dahulu dimandikan dan dibungkus dengan kain, dan juga dikuburkan selayaknya janazah yang hadir, meskipun bagian tersebut hanyalah kuku atau rambut hanya saja bila hanya sehelai rambut tidak perlu disholati.

(Perkataan pengarang “Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim”) dengan syarat bila diketahui pasti anggota tersebut milik mayit saat ia sudah mati/saat matinya, atau saat hidupnya kemudian mati setelahnya, berbeda dengan bagian tubuh yang terpisah dari orang hidup namun ia tidak mati setelah anggautanya terpisah dan baru diketemukan saat ia mati maka tidak wajib disholati”. [ Hasyiyah Bujairomi VI/98, I/455 ].

Wallaahu A’lamu bis showaab..

J023. HUKUM DUDUK KETIKA MENUNGGU PEMAKAMAN JENAZAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Bolehkah kita duduk menunggu jenazah dimakamkan?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh

Terdapat hadis yang melarang kita untuk duduk ketika mengantar jenazah ke kuburan, sampai jenazah diletakkan di tanah.

Disebutkan dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُ الْجَنَازَةَ فَقُومُوا ، فَمَنْ تَبِعَهَا فَلاَ يَقْعُدْ حَتَّى تُوضَعَ

Apabila kalian melihat jenazah, berdirilah. Dan siapa yang mengikuti jenazah, jangan duduk sampai dia diletakkan. (HR. Bukhari 1310 & Muslim 2265)

Juga disebutkan dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبِعْتُمُ الْجَنَازَةَ فَلاَ تَجْلِسُوا حَتَّى تُوضَعَ

Apabila kalian mengiringi jenazah, jangan duduk sampai jenazah itu diletakkan.

Imam Bukhari mencantumkan hadis ini dalam judul bab

باب من تبع جنازة فلا يقعد حتى توضع عن مناكب الرجال فإن قعد أمر بالقيام

Bab orang yang yang mengiringi jenazah, jangan duduk sampai diturunkan dari pundak pengiring. Jika ada yang duduk maka dia diperintahkan untuk berdiri.

Ibnul Hammam – ulama Hanafiyah – mengatakan,

وإذا بلغوا إلى قبره يكره أن يجلسوا قبل أن يوضع عن أعناق الرجال”؛ لأنه قد تقع الحاجة إلى التعاون ، والقيام أمكن منه ؛ ولأن المعقول من ندب الشرع لحضور دفنه إكرام الميت , وفي جلوسهم قبل وضعه ازدراء به وعدم التفات إليه , هذا في حق الماشي معها

Ketika sudah sampai di kuburan, makruh untuk duduk sebelum jenazah diletakkan dari pundak-pundak lelaki yang membawanya. Karena terkadang butuh kerja sama dan menangani jenazah semampunya. Dan secara logika, anjuran dari syariat untuk mengiringi pemakaman jenazah adalah dalam rangka memuliakan jenazah. Sementara mengambil sikap duduk sebelum jenazah diletakkan, termasuk penghinaan dan sikap tidak peduli dengannya. Aturan ini berlaku bagi mereka yang mengiringi jenazah. (Fathul Qadir, 2/135)

Al-Buhuti – ulama Hambali – mengatakan,

ويكره جلوس من تبعها” أي : الجنازة ( حتى توضع بالأرض للدفن ) ، نص عليه

Makruh bagi yang mengiringi jenazah untuk duduk, sampai dia diletakkan di tanah untuk dimakamkan. Demikian yang ditegaskan (dalam madzhab hambali). (Kasyaf al-Qina’, 2/130)

Demikian, Wallahu a’lamu bisshowab..

J022. APAKAH RUH BISA MELIHAT ORANG YANG MASIH HIDUP?

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Apakah ruh orang yang sudah meninggal dunia bisa melihat orang yang menziarahinya?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

1- Ruh adalah jiwa yakni jiwa adalah ruh yang halus yang diciptakan oleh Allah sebelum jasad. Setelah ruh berhubungan dengan jasad maka ruh itu dapat mengenal/mengetahui kepada yang lain dan terhijab dari Allah dengan sebab kesibukannya dari Allah. Maka dari itu ruh (jiwa) butuh kepada peringatan.

Allah berfirman :

فذكر فإن الذكر تنفع المؤمنين

“Maka berilah peringatan sesungguhnya peringan itu berguna terhadap orang-orang yang beriman”

Jiwa (ruh) berupa mutiara yang bersinar di badan, maka jika ia bersinar di luarnya badan dan di dalamnya maka ia akan menghasilkan bangun, dan jika hanya menyinarinya di dalam badan maka ia akan menghasilkan tidur, dan jika sinarnya semua terputus (diluar badan dan didalam badan) maka akan menghasilkan mati. Ruh adalah halus yang bangsa robbaniy dari halusnya hingga ia tidak dapat terlihat. Oleh karenanya jika bertanya tentang hakikat ruh, maka ruh itu adalah urusan Allah.

Dalam hal ini Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Anfal :

ويسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh katakanlah bahwa ruh adalah urusan Tuhanku”

2- Ruh jika sudah terpisah dari badan maka ketika dia ada di alam barzah dia hidup secara barzahiyyah ia mengenal atau mengetahui tehadap orang yang hidup yakni orang yang datang berziarah ke kuburannya.

Bahkan dia menjawab ucapan salamnya orang yang berziarah:

Dalil hadits :

مامن أحد يمر على قبر أخيه المؤمن كان يعرفه فى الدنيا فسلم عليه إلا عرفه ورد عليه السلام {رواه إبن أبى الدنيا والبيهقى}

“Tiada seorang yang yang berjalan diatas kuburan saudaranya yang mu’min sedangkan dia (ahli kubur) mengenalinya di dunia lalu dia (yang berjalan/zaair) mengucapkan salam, maka dia (ahli kubur) menjawab tehadap salamnya. {HR. Ibnu dunya dan Baihaqi}.

المراجع : تنوير القلوب ص: ٢١٦-٢١٧

Referensi :
تنوير القلوب ص: ٤٦٥
ثم اعلم أن النفس لطيفة ربانية وهى الروح قبل تعلقها بالأجساد،وقد خلق الله الروح قبل الأجساد،فكانت حينئذ فى جوار الحق وقربه، فلما أمرها الحق ان تعلق بالأجساد عرفت الغير فحجبت عن حضرة الحق بسب شغلها عنه تعالى فلذلك احتاجت الى مذكر قال الله تعالى( فذكر فإن الذكر تنفع المؤمنين) وهى جوهر مشرق على البدن ، فإن أشرق على ظاهر البدن وباطنه حصلت اليقظة، وإن أشرق على باطن البدن دون ظاهره حصل النوم ، وإن انقطع إشرافه بالكلية حصل الموت

Dalil dari hadits lain :

عَنْ سُفْيَانَ عَمَّنْ سَمِعَ مِنْ اَنَسِ ابْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْأَعْمَالَ الْأَحْيَاءِ تُعْرَضُ عَلَى عَشَآئِرِهِمْ وَعَلَى آبَآئِهِمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ فَإِنْ كَانَ خَيْرًا حَمِدُوا اللهَ تَعَالَى وَاسْتَبْشِرُوْا وَإِنْ يَرَوْا غَيْرَ ذٰلِكَ قَالُوْا : اَللهم لَا تَمُتُّهُمْ حَتَّى تَهْدِيْهِمْ هِدَايَةً فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامَ يُؤْذِى الْمَيِّتِ فِى قَبْرِهِ كَمَا يُؤْذِى فِى حَيَاتِهِ قِيْلَ مَا اِيْذَاءُ الْمَيِّتِ قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامَ اِنَّ الْمَيِّتَ لَايَذْنَبُ وَلَايَتَنَازَعُ وَلَايَخَاصَمُ أَحَدًا وَلَايُؤْذِى جَارًا إِلَّا أَنَّكَ اِنْ نَازَعْتَ أَحَدًا لَابُدَ اَنْ يَسْتَمَكَ وَوَالِدَيْكَ فَيُؤْذِيَانِ عِنْدَ الْاُسَاةِ وَكَذٰالِكَ يَفْرَحَانِ عِنْدَ اْلإِحْسَانِ فِى حَقِّهِمَا.

Dari Sufyan, dia dari seseorang yang pernah mendengar dari Anas bin Malik ra. dia berkata, Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya amal-amal (perbuatan) mereka yang masih hidup itu bisa diperlihatkan kepada keluarga dan ayah-ayahnya yang sudah meninggal dunia. Jika amal tersebut baik maka mereka merasa gembira dan memuji Allah swt. akan tetapi jika amal tersebut buruk, maka mereka (para mayit) berdo’a ‘Ya Allah, janganlah Engkau tutup usianya sebelum Engkau memberi petunjuk kepada mereka’ “. Kemudian, Rasulullah saw. bersabda : “Mayit yang ada di dalam kubur itu juga bisa merasakan sakit, apabila dia disakiti sebagaimana halnya saat dia masih hidup ”. ‘Apa yang dapat menyakiti si mayit?’ demikian beliau ditanya. Rasulullah saw. menjawab, “ Jika engkau bersengketa dengan seseorang, kemudian orang tersebut mencacimu dan mencaci kedua orang tuamu (yang sudah meninggal). Maka, si mayit yang sama sekali tidak merasa berdosa, bersengketa dan bersitegang (bermusuhan) kepada orang itu serta tidak merasa menyakiti hati tetangga, akan turut juga terkena cacian dari orang tersebut. Jadi, si mayit akan merasa disakiti hatinya jika dijelek-jelekkan (di caci-maki). Begitu juga sebaliknya, si mayit akan merasa senang hatinya jika dibagus-baguskan (di puji).”

(Dinukil dari Kitab ‘Ushfuriyyah)

Dalam salah satu kitab yang membahas tentang hal ini, yaitu kitab yang berjudul “Ar-Ruh” karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan banyak dalil bahwa orang yang telah meninggal dunia mengetahui jika diziarahi dan menjawab salam jika disalami. Sebuah hadits dari Nabi saw. menjelaskan : “Jika seseorang berziarah kepada makam saudaranya, dan duduk dekat pusara saudaranya itu, maka saudaranya yang telah meninggal dunia itu akan merasa tenang dan menjawab salamnya, sampai orang tadi berdiri pergi meninggalkan pemakaman”.

Bahkan, di halaman-halaman berikutnya Ibnu Qayyim menjelaskan banyak pendapat sekaligus dalil bahwa perbuatan dan tindakan orang-orang yang masih hidup disiarkan secara langsung kepada kerabatnya yang telah meninggal dunia; jika mereka melihat amal keluarganya itu baik, maka mereka akan gembira dan bahagia. Namun, jika mereka melihat amal keluarganya jelek, maka mereka berusaha mendo’akannya agar Allah memberi petunjuk kepada keluarganya.

Ibnu Qayyim membagi ruh menjadi dua :

– Ruh yang disiksa

– Ruh yang bergelimang nikmat

Ruh-ruh yang disiksa, disibukkan oleh siksaan yang dialaminya sehingga tidak sempat saling bertemu atau berkunjung. Sedangkan ruh yang mendapat nikmat, dalam keadaan bebas tidak ditahan sehingga bisa ke mana saja untuk saling berkunjung, bahkan memperbincangkan masa lalu mereka saat hidup di dunia.

Lalu, apakah ruh-ruh orang yang meninggal dunia bisa bertemu dengan orang yang masih hidup?

Ibnu Qayyim berkata, bisa, yaitu melalui mediasi dunia mimpi saat orang yang masih hidup sedang tidur, saling bicara, ngobrol tentang apa saja, bahkan tentang yang terjadi di dunia, dan cerita soal ini sangat banyak sekali kita dengar. Salah satunya terjadi di zaman Nabi saw.,yaitu yang dialami oleh sahabat-sahabat beliau.

Diriwayatkan, bahwa ada dua sahabat Nabi saw. yang saling berteman karib (akrab), yaitu Auf bin Malik dan Sha’b bin Jutsamah, keduanya membuat sebuah kesepakatan, jika salah satu dari keduanya meninggal dunia lebih dulu, maka jika bisa, yang meninggal dunia lebih dulu harus datang di mimpi yang masih hidup.

Beberapa waktu kemudian Sha’b meninggal dunia, dan dia datang ke mimpi Auf, Auf pun melihatnya di mimpi dan keduanya mulai berbincang.

“Apa yang kau alami di sana?” tanya Auf.

“Alhamdulillah, Allah mengampuni dosa-dosaku” jawab Sha’b. Hanya saja Auf melihat bercak hitam di leher Sha’b.

“Apa ini?” tanya Auf.

“Oh, ini sebab hutangku pada seorang Yahudi, 10 Dinar, belum aku bayar, tolong bayarkan hutangku, uangnya ada di kotak di rumahku, tempatnya di sudut.” kata Sha’b.

“Auf, aku beri tahu kamu, bahwa semua kabar keluargaku sepeninggalku, seluruhnya sampai kepadaku, bahkan kucing kami yang barusan mati beberapa hari lalu,” lanjut Sha’b menutup pertemuan itu.

Setelah itu, Auf terbangun dengan penuh keheranan, dan langsung bergegas ke rumah sahabatnya itu untuk membuktikan apakah mimpi itu benar. Setelah sampai di rumah sang sahabat, ternyata apa yang dikatakan di mimpi tadi memang benar. Uang 10 Dinar juga ditemukan di sebuah kotak di sudut rumah, dan oleh Auf diambil untuk dibayarkan pada Yahudi tadi.

Namun, Auf bertanya pada Yahudi tadi apa benar Sha’b berhutang padanya 10 Dinar dan belum sempat dibayar? Yahudi tadi membenarkan jika Sha’b berhutang padanya.

Lalu, Auf kembali ke rumah Sha’b, dan bertanya pada Istri Sha’b, apakah terjadi sesuatu di rumah ini? Istri Sha’b menjawab, tidak terjadi apa-apa, kecuali kucing yang mati beberapa hari lalu.

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

Dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku telah melarang kalian untuk berziarah kubur, sekarang berziarahlah. Karena ia dapat menjadikan zuhud di dunia dan mengingatkan dengan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

Dari keterangan hadits-hadits di atas dan riwayat dari sahabat Nabi saw. tersebut menjadikan bukti kuat bahwa orang yang telah meninggal dunia bisa mengetahui keadaan orang yang masih hidup terutama keluarganya. Bahkan, perintah Nabi saw. kepada umatnya untuk mengirim doa, bacaan Al-Qur’an dan ziarah kubur serta membaca salam kepada ahli kubur ketika masuk pemakaman menjadi bagian bukti kuat bahwa orang yang sudah meninggal dunia sangat mengharap do’a dan bisa menjawab salam orang yang masih hidup.

والله أعلم بالصواب

J021. POSISI JANAZAH KETIKA DIMANDIKAN

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum Ustadz

Mau tanya ada orang meninggal di perkampungan sedangkan jalan kampung tersebut barat dan timur. di sebelah manakah posisi kepala si mayyit saat di mandikan mohon penjelasannya.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Posisi kepala mayyit ketika dimandikan adalah sama dengan posisi kepala mayyit pada waktu dia mati dan sama dengan posisi kepala mayyit pada waktu dia sakarotul maut (hampir meninggal dunia) yaitu

(وَوجهَ لِلۡقِبۡلَۃ كَمحۡتَضَرٍ) لٰكِنۡ يلۡقٰی هٌنَا عَلی قَفَاه

Mukanya dihadapkan ke kiblat, tapi dia diposisikan telentang di atas tengkuknya (bagian belakang lehernya). Jadi, jika qiblat itu ada di sebelah barat, maka posisi kepalanya itu ada disebelah timur.

Referensi :

(السراج الوهاج.علی شرح المنهاج, صحيفۃ ١۰٢-١۰٣)

(فاءذا مات غمض) ندبا (وشد لحياه بعصابۃ) تعمهما وتربط فوق راءسه (ولينت مفاصله) باءن يردٌَ ساعده الی عضده, وساقه الی فخده, وفخده الی بطنه, ولينت اصابعه (وستر جميع بدنه) ان لم يكن محرما (بثوب خفيف) بعد نزع ثيابه (ووضع علی بطنه شيء ثقيل) كسيف (ووضع علی سرير ونحوه) كدكۃ, ولا يوضع علی فرش (ونزعت ثيابه) لكن يترك عليه قميصه الذي يغسل فيه, ويشمر حتی لا يتنجس بما يخرج منه (,وَوٌجٌِهَ لِلۡقِبۡلَۃِ كَمٌحۡتَضَرٍ) لَٰكِنۡ يٌلۡقَی هٌنَا عَلَی قَفَاه.

Posisi kepala disebelah timur dan kedua telapak kakinya menghadap kiblat,sebagaimana sholatnya mustalqi (orang yang sholat terlentang).

(حاشيۃ البجيرمي علی شرح المنهاج,جز ١,صحيفۃ ٥٨٥)
(قوله وَوُجٌِهَ لِلۡقِبۡلَۃِ) اي خلافا للاءذرعي حيث قال: ان المراد بتوجيهه هنا القاءه علی قفاه ووجهه واخمصاه للقبلۃۡ.

(روضۃ الطالبين,جز ٢,صحيفۃ ٩٧)
(ويستقبل به القبلۃ كالمحتضر) قوله ويستقبل به القبلۃ كالمحتضر اي يستقبل به القبلۃ,وفي كيفيته وجهان:,احدهما:يلقی علی قفاه واخمصاه الی القبلۃ,والثانی وهو الصحيح المنصوص,وبه قطع العراقيون وصححه الاءخرون: يضجع علی جنبه الاءيمن مستقبل القبلۃ كالموضوع في اللحد,فاءن لم يمكن لضيق الموضع,او سبب اخر,فعلی قفاه ووجهه واخمصاه الی القبلۃ.

Wallahu a’lamu bisshowab..

J020. HUKUM MEMANDIKAN DAN MENSHOLATKAN BAYI YANG MATI UMUR 6 BULAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustad..

Mau tanya! Jika bayi mati dalam kandungan usia 6 bulan setelah keluar apa perlu juga di mandikan, di kafani dan di shalati?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dikafani dan dimandikan tapi tidak usah disholatkan.

Referensi :

وأما السقط حالتان

الأولى أن يستهل أي يرفع صوته بالبكاء أو لم يستهل ولكن شرب اللبن أو نظر أو تحرك حركة كبيرة تدل على الحياة ثم مات فإنه يغسل ويصلى عليه بلا خلاف لأنا تيقنا حياته وفي الحديث ( إذا استهل الصبي ورث وصلي عليه ) …

الحالة الثانية أن لا يتيقن حياته بأن لا يستهل ولا ينظر ولا يمتص ونحوه فينظر إن عرى عن إمارة الحياة كالاختلاج ونحوه فينظر أيضا إن لم يبلغ حدا ينفخ فيه الروح وهو أربعة أشهر فصاعدا لم يصل عليه بلا خلاف في الروضة ولا يغسل على المذهب لأن الغسل أخف من الصلاة ولهذا يغسل الذمي ولا يصلى عليه.

وإن بلغ أربعة أشهر فقولان الأظهر أنه أيضا لا يصلى عليه لكن يغسل على المذهب وأما إذا اختلج أو تحرك فيصلى عليه على الأظهر ويغسل على المذهب.

Dua orang yang matinya tidak dimandikan dan dishalati : Orang mati syahid dan bayi lahir keguguran yang tidak bersuara (menjerit)…. Bayi yang lahir keguguran terbagi atas :

• Saat ia lahir dengan mengeluarkan suara, menangis, atau tidak mengeluarkan suara tetapi ia minum air susu atau melihat, atau bergerak-gerak layaknya pergerakan orang dewasa yang menunujukkan adanya kehidupan pada dirinya, kemudian ia meninggal dunia maka ia dimandikan dan dishalatkan hal ini sesuai kesepakatan ulama karena diyakini adanya kehidupan pada dirinya dan dalam sebuah hadits “Bayi yang lahir mengeluarkan suara maka berhak harta warisan dan dishalatkan”

• Tidak diyakini adanya kehidupan pada dirinya seperti saat kelahiran tidak bersuara, tidak melihat, tidak menetek, maka perihalnya ditinjau terlebih dahulu sebagai berikut :

~ Bila tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti bergerak dan sejenisnya dan kegugurannya belum sampai pada batas tertiupnya ruh pada dirinya (dalam kandungan usia 4 bulan keatas) maka ulama sepakat ia tidak dishalati, dan tidak dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab dikalangan syafi’iyyah karena hokum memandikan lebih ringan ketimbang menshalatkan karenanya orang mati kafir dzimmi dimandikan tapi tidak boleh dishalatkan.

~ Bila ia telah berusia 4 bulan keatas maka :

a. Menurut pendapat yang paling azhhar ia tidak boleh dishalatkan, tetapi boleh dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab.

b. Bila ia bergerak maka dishalatkan menurut pendapat yang paling azhhar ia tidak boleh dishalatkan, tetapi boleh dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab. [ Kifaayah al-Akhyaar I/160-161 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

J019. HUKUM ANGGOTA BADAN YANG TERPISAH DARI RAGA MAYIT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum anggota badan mayit yang sudah terpisah dari raganya, seperti orang yang kakinya putus disebabkan karena kecelakaan?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya tetap wajib dirawat sebagaimana raga aslinya kecuali potongan badan tersebut milik orang yang masih hidup maka tidak wajib disholatkan.

Referensi :

Hasyiyah Bujairomi VI/98, I/455 :

قَوْلُهُ : ( وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ ) أَيْ تَحَقَّقَ انْفِصَالُهُ مِنْهُ حَالَ مَوْتِهِ أَوْ فِي حَيَاتِهِ وَمَاتَ عَقِبَهُ فَخَرَجَ الْمُنْفَصِلُ مِنْ حَيٍّ وَلَمْ يَمُتْ عَقِبَهُ إذَا وُجِدَ بَعْدَ مَوْتِهِ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ ، وَيُسَنُّ مُوَارَاتُهُ بِخِرْقَةٍ وَدَفْنُهُ .ا هـ .

(Perkataan pengarang “Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim”) dengan syarat bila diketahui pasti anggota tersebut milik mayit saat ia sudah mati/saat matinya, atau saat hidupnya kemudian mati setelahnya, berbeda dengan bagian tubuh yang terpisah dari orang hidup namun ia tidak mati setelah anggautanya terpisah dan baru diketemukan saat ia mati maka tidak wajib disholati”.

وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ مُسْلِمٍ غَيْرِ شَهِيدٍ صُلِّيَ عَلَيْهِ بَعْدَ غُسْلِهِ وَسُتِرَ بِخِرْقَةٍ وَدُفِنَ كَالْمَيِّتِ الْحَاضِرِ ، وَإِنْ… كَانَ الْجُزْءُ ظُفْرًا أَوْ شَعْرًا لَكِنْ لَا يُصَلَّى عَلَى الشَّعْرَةِ الْوَاحِدَةِ

Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim maka wajib di sholati setelah terlebih dahulu dimandikan dan dibungkus dengan kain, dan juga dikuburkan selayaknya janazah yang hadir, meskipun bagian tersebut hanyalah kuku atau rambut hanya saja bila hanya sehelai rambut tidak perlu disholati.

Wallahu a’lamu bisshowab..

J018. HUKUM PENGUBURAN MAYAT DENGAN BARANG BERHARGA

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum ustadz..

Ma’af pak kiyai kalo’ kami sering bertanya. begini pak kiyai, tiga minggu yg lalu ada kasus mayat terdampar di pinggir pantai gili raja dia seorang perempuan, dan identitasnya sampek sekarang belum diketahui, dan dia waktu di evakuasi ternyata memakai gelang emas dan mayat langsung di kubur. yang jadi pertanya’an :

1. bagaimana hukumnya mayat yang dikubur langsng sementara emasnya belum dilepas karena takut untuk melepasnya karna baubusuk yang menyengat?

2. beratkah beban pada simayat dalam kubur karena emasnya belum dibuka?

3. berdosakah bagi yang hidup karena mengubur mayat tanpa melepas emas yang dipakai?

Nb: mohon dgn hormat jawabannya karena ini kejadian yang nyata didesa kami gili raja. Terimakasih..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawaban untuk No.1 :

HUKUMNYA DITAFSHIL :

1. Bila dengan melepas itu menyebabkan hilangnya kehormatan mayit, maka tidak boleh dilepas / harom.

2. Kalau tidak menyebabkan hilangnya kehormatan mayit, maka tergantung kerelaan ahli waritsnya.

.إن كان خلعه يهتك حرمة الميت فيحرم خلعه وإلا فيوقف على إمضاء الورثة. أحكام الفقهاء ٢/٧٠

Jenazah muslim wajib disikapi sebagaimana orang hidup. Artinya tidak boleh dikerasi, tidak boleh dilukai, atau diambil bagian tubuhnya, apalagi dipatahkan tulangnya.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

”Mematahkan tulang mayit, statusnya sama dengan mematahkan tulangnya ketika masih hidup.” (HR. Abu Daud 3207, Ibnu Majah 1616, dan yang lainnya).

Jawaban untuk No.2 :

para ulama menegaskan bahwa tidak wajib mengambil benda asing yang ada pada tubuh mayit. Makna tidak wajib, artinya keberadaan barang itu di tubuh mayit, tidak memberikan dampak apapun bagi mayit. Keberadaan benda itu, tidaklah menyebabkan si mayit menjadi tertahan amalnya atau dia tidak tenang, atau keyakinan semacamnya.

Dalam kitab al-Inshaf, al-Mardawi al-Hambali (w. 885 H) mengatakan,

قال في الفصول: وكذا لو رآه محتاجا إلى ربط أسنانه بذهب فأعطاه خيطا من ذهب، أو أنفا من ذهب فأعطاه فربطه به ومات، لم يجب قلعه ورده، لأن فيه مثلة

“Dalam kitab al-Fushul dinyatakan, jika ada orang yang butuh untuk mengikat giginya dengan emas, kemudian giginya diberi kawat emas. Atau dia butuh hidung emas, kemudian dia diberi hidung emas lalu diikat, kemudian dia mati, maka tidak wajib dilepas dan dikembalikan kepada pemiliknya. Karena melepasnya menyebabkan menyayat mayat.” (al-Inshaf, 2/555).

Hal yang sama juga disampaikan Ibnu Qudamah,

وإن جبر عظمه بعظم فجبر، ثم مات، لم ينزع إن كان طاهرا. وإن كان نجسا فأمكن إزالته من غير مثلة أزيل؛ لأنه نجاسة مقدور على إزالتها من غير مضرة. وإن أفضى إلى المثلة لم يقلع

”Jika tulang seseorang ditambal dengan tulang hewan lain, lalu ditutup, kemudian dia mati, maka tidak boleh dilepas, jika tulang pasangan itu suci. Namun jika tulang pasangan itu najis, dan memungkinkan untuk dihilangkan tanpa menyayat mayit maka dia diambil. Karena ini termasuk benda najis yang mampu untuk dihilangkan tanpa membahayakan. Namun jika harus menyayat mayit maka tidak perlu dilepas.” (al-Mughni, 2/404).

Jawaban untuk No.3 :

Tidak berdosa apabila tidak disengaja.

Bila mayit terlanjur dikubur sebelum gelang atau cincinnya dilepas maka ditafsil :

1.Bila gelang tersebut milik orang lain dan pemiliknya memintanya sedangkan ahli warits atau orang lain tidak ada yang menanggungnya maka harus dibongkar untuk mengambil cincin tersebut.

2.Kalau harta tersebut milik sendiri maka tidak usah dibongkar :

.فإن ابتلع مال نفسه فلا ينبش ولا يشق لاستهلاكه له حال حياته. إعانة الطالبين ٢/١٢٢ وكذا في مغني المحتاج ٢/٥٩

gelang yang ikut terkubur maka makam wajib digali dan diambil akiknya

الاقناع في حل ألفاظ أبى شجاع (1/ 194) وأما نبشه بعد دفنه وقبل البلى عند أهل الخبرة بتلك الارض للنقل وغيره كالصلاة عليه وتكفينه فحرام لان فيه هتكا لحرمته إلا لضرورة كأن دفن بلا غسل ولا تيمم بشرطه وهو ممن يجب غسله لانه واجب، فاستدرك عند قربه فيجب على المشهور نبشه وغسله إن لم يتغير أو دفن في أرض أو في ثوب مغصوبين وطالب بهما مالكهما فيجب النبش ولو تغير الميت ليصل المستحق إلى حقه، ويسن لصاحبهما الترك. ومحل النبش في الثوب إذا وجد ما يكفن فيه الميت وإلا فلا يجوز النبش كما اقتضاه كلام الشيخ أبي حامد وغيره.

قال الرافعي: والكفن الحرير أي للرجل كالمغصوب. قال النووي: وفيه نظر وينبغي أن يقطع فيه بعدم النبش انتهى. وهذا هو المعتمد لانه حق الله تعالى أو وقع في القبر مال وإن قل كخاتم فيجب نبشه وإن تغير الميت لان تركه فيه إضاعة مال

Atau di dalam kubur kejatuhan harta walau sedikit seperti cincin maka wajib menggali kembali walaupun mayatnya sudah hancur karena meninggalkan penggalian dalam masalah ini termasuk mensia-siakan harta.

Wallahu a’lamu bisshowab..