Arsip Kategori: Muamalat

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Muamalah.

M095. HUKUM ZIYARAH KE MAKAM PARA WALI DAN BERTAWASSUL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Bolehkah berziarah ke makam wali sambil bertawassul dan mencari berkah?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Inilah yang menjadi kesalah pahaman dari sebagian kecil umat Islam yang kemudian menghukumi syirik bagi umat Islam yang berziarah ke makam para ulama dan Auliya’ dengan maksud bertabarruk. Hal yang perlu diluruskan bahwa umat Islam yang berziarah dengan bertawassul dan bertabarruk adalah orang Islam yang beriman, yang mengesakan Allah, tidak berdo’a dan tidak mencari berkah kecuali hanya kepada Allah.

Ziarah yang demikian sudah menjadi amaliyah para ahli hadis, diantaranya:

– Ziarah ke Makam Rasulullah Saw

1. Jawaban dari Imam Ahmad

سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يَمُسُّ مِنْبَرَ النَّبِيِّ g وَيَتَبَرَّكُ بِمَسِّهِ وَيُقَبِّلُهُ وَيَفْعَلُ بِالْقَبْرِ مِثْلَ ذَلِكَ أَوْ نَحْوَ هَذَا يُرِيْدُ بِذَلِكَ التَّقَرُّبَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَزَّ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ (العلل ومعرفة الرجال لاحمد بن حنبل 2 / 492 رقم 3243)

Saya (Abdullah bin Ahmad) bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang memegang mimbar Nabi Saw, mencari berkah dengan memegangnya dan menciumnya. Ia juga melakukannya dengan makam Rasulullah seperti diatas dan sebagainya. Ia lakukan itu untuk mendekatkan dir kepada Allah. Imam Ahmad menjawab: Tidak apa-apa” (Ahmad bin Hanbal al-‘lal wa Ma’rifat al-Rijal 3243)

2. Ahli Hadis ath-Thabrani dan Abu Syaikh (Ibnu Hibban)

قَالَ ابْنُ الْمُقْرِئِ كُنْتُ أَنَا وَالطَّبَرَانِيُّ وَأَبُوْ الشَّيْخِ بِالْمَدِيْنَةِ فَضَاقَ بِنَا الوَقْتُ فَوَاصَلْنَا ذَلِكَ اليَوْمَ فَلَمَّا كَانَ وَقتُ العِشَاءِ حَضَرْتُ الْقَبْرَ وَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ الْجُوْعَ فَقَالَ لِي الطَّبْرَانِيُّ اِجْلِسْ فَإِمَّا أَنْ يَكُوْنَ الرِّزْقُ أَوِ الْمَوْتُ فَقُمْتُ أَنَا وَأَبُوْ الشَّيْخِ فَحَضَرَ اْلبَابَ عَلَوِيٌّ فَفَتَحْنَا لَهُ فَإِذَا مَعَهُ غُلاَمَانِ بِقَفَّتَيْنِ فِيْهِمَا شَيْءٌ كَثِيْرٌ وَقَالَ اَشَكَوْتُمْ إِلَى النَّبِيِّ g؟ رَأَيْتُهُ فِي النَّوْمِ فَأَمَرَنِي بِحَمْلِ شَيْءٍ إِلَيْكُمْ (الحافظ الذهبي في تذكرة الحفاظ 3 / 121 وفي سير أعلام النبلاء 31 / 473 والحافظ ابن الجوزي في الوفا بأحوال المصطفى 818)

“Ibnu al-Muqri berkata: Saya berada di Madinah bersama al-Hafidz al-Thabrani dan al-Hafidz Abu al-Syaikh. Waktu kami sangat sempit hingga kami tidak makan sehari semalam. Setelah waktu Isya’ tiba, saya mendatangi makam Rasulullah, lalu saya berkata: Ya Rasulallah, kami lapar. Al-Thabrani berkata kepada saya: Duduklah, kita tunggu datangnya rezeki atau kematian. Saya dan Abu al-Syaikh berdiri, tiba-tiba datang laki-laki Alawi (keturunan Rasulullah Saw) di depan pintu, lalu kami membukakan pintu. Ternyata ia membawa dua orang budaknya yang membawa dua keranjang penuh dengan makanan. Alawi itu berkata: Apakah kalian mengadu kepada Rasulullah Saw? Saya bermimpi Rasulullah dan menyuruhku membawa makanan untuk kalian” (Diriwayatkan oleh al-Hafidz al-Dzahabi dalam Tadzkirah al-Huffadz III/121 dan Siyar A’lam al-Nubala’ XXXI/473, dan oleh Ibnu al-Jauzi dalam al-Wafa’ bi Ahwal al-Musthafa 818)

– Makam Imam Abu Hanifah

عَنْ عَلِيِّ بْنِ مَيْمُوْنٍ قَالَ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُوْلُ اِنِّي َلأَتَبَرَّكُ بِأَبِي حَنِيْفَةَ وَأَجِيْءُ إِلَى قَبْرِهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ يَعْنِي زَائِرًا فَإِذَا عُرِضَتْ لِي حَاجَةٌ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَجِئْتُ إِلَى قَبْرِهِ وَسَأَلْتُ اللهَ تَعَالَى الْحَاجَةَ عِنْدَهَ فَمَا تَبْعُدُ عَنِّي حَتَّى تُقْضَى (الحافظ الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد 1 / 123 وعبد القادر ابن ابي الوفا في طبقات الحنفية 2 / 519) أخبار أبي حنيفة للقاضي الصيمري – (1 / 94) الطبقات السنية في تراجم الحنفية التقي الغزي – (1 / 46)

“Dari Ali bin Maimun, ia berkata: Saya mendengar Syafi’i berkata bahwa: Saya mencari berkah dengan mendatangi makam Abu Hanifah setiap hari. Jika saya memiliki hajat maka saya salat dua rakaat dan saya mendatangi makam Abu Hanifah. Saya meminta kepada Allah di dekat makam Abu Hanifah. Tidak lama kemudian hajat saya dikabulkan” (al-Hafidz Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad I/123 dan Ibnu Abi Wafa dalam Thabaqat al-Hanafiyah II/519)

– Makam Yahya bin Yahya

قَالَ الْحَاكِمُ سَمِعْتُ أَبَا عَلِيِّ النَّيْسَابُوْرِي يَقُوْلُ كُنْتُ فِي غَمٍّ شَدِيْدٍ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ g فِي الْمَنَامِ كَأَنَّهُ يَقُوْلُ لِي صِرْ إِلَى قَبْرِ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى وَاسْتَغْفِرْ وَسَلْ تُقْضَ حَاجَتُكَ فَاَصْبَحْتُ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَقُضِيَتْ حَاجَتِي (الحافظ ابن حجر في تهذيب التهذيب 11 / 261 والحافظ الذهبي في تاريخ الاسلام 1756)

“Al-Hakim berkata: Saya mendengar Abu Ali al-Naisaburi berkata bahwa saya berada dalam kesulitan yang sangat berat, kemudian saya bermimpi melihat Rasulullah Saw seolah beliau berkata kepada saya: Pergilah ke makam Yahya bin Yahya, mintalah ampunan dan berdolah kepada Allah, maka hajatmu akan dikabulkan. Pagi harinya saya melakukannya dan hajat saya dikabulkan” (al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Tahdzib al-Tahdzib XI/261 dan al-Hafidz al-Dzhabi dalam Tarikh al-Islam 1756)

– Makam Musa bin Ja’far al-Kadhim

عَنْ عَلِيِّ الْخَلاَّلِ يَقُوْلُ مَا هَمَّنِي أَمْرٌ فَقَصَدْتُ قَبْرَ مُوْسَى بْنِ جَعْفَرٍ فَتَوَسَّلْتُ بِهِ اِلاَّ سَهَّلَ اللهُ تَعَالَى لِي مَا أُحِبُّ (تاريخ بغداد للحافظ الخطيب البغدادي 1 / 120)

“Diriwayatkan dari Ali al-Khallal (pemuka Madzhab Hanbali), ia berkata: Saya tidak pernah mengalami masalah lalu saya datang ke makam Musa bin Ja’far dan bertawassul dengannya, kecuali Allah memudahkan kepada saya hal-hal yang saya inginkan” (al-Hafidz Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad I/120)

Wallahu a’lamu bisshowab..

M094. HUKUM MEMVIRALKAN BERITA BOHONG (HOAX)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..
1. Bagaimana tanggapan para mujawwib sehubungan dampak memviralkan berita bohong?

2. Lalu bagaimana pula dengan para artis yang kadang memviralkan diri dengan keadaan dirinya menampakkan aurat /berpenampilan seksi yang mengundang syahwat dan tidak mustahil para penggemarnya pun ikut memviralkan?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

(1). Memviralkan (menyiarkan) berita bohong (hoax) hukumnya haram.

(اسعاد الرفيق,جز ٢,صحيفۃ ١۰٥)
(و)منها(كتابۃ ما يحرم النطق به). قال في البدايۃ لاءن القلم احد اللسانين قاحفظه عما يجب حفظ اللسان منه: اي من غيبۃ وغيرها فلا يكتب به ما يحرم النطق به من جميع ما مر وغيره,وفي الخطبۃ وكاللسان في ذلك كله:اي ما ذكر من افات اللسان القلم اذ هو احد اللسانين بلا جرم اي شك بل ضرره اعظم وادوم,فليصن الاءنسان قلمه عن كتابۃ الحيل والمخادعات ومنكرات حادثات المعاملات

(2). Para artis yang memviralkan dirinya menampakkan aurat dan berpenampilan seksi itu hukumnya haram. Dan juga para penggemarnya yang memviralkan artis itu juga berdosa, karena para penggemarnya itu melakukan

الاءِعَانَۃُ عَلَی المَعۡصِيَۃِ

“membantu terhadap perbuatan ma’shiyat. sesuai dengan haditsnya nabi Muhammad SAW :

من اعان علی معصيۃ ولو بشطر كلمۃ كان شريكا له

Barangsiapa yang membantu terhadap suatu ma’siyat, walaupun hanya dengan separuh kalimat, maka orang yang membantu ma’siyat itu bersekutu dengan orang yang mengerjakan ma’siyat.

(رواءع البيان,جز ٢,صحيفۃ ١٦٧)
ينبغي علی الرجال ان يمنعوا النساء من كل ما يُوءَدِي الی الفتنۃ والاءغراء كخروجهن بملابس ضيقۃ او ذات الوان جَذابۃٍ ورفعِ اصواتِهِنٌَ وتَعَطُرِهِنٌَ اذا خرجن للاءسواق وتَبَخۡتُرِهِنٌَ في المِشۡيَۃِ وتَكَسٌُرِهِنٌَ في الكلام,
(رواءع البيان,جز ٢,صحيفۃ ١٦٧)
وذهبَ ابنُ كثيرٍ رحمهُ اللهُ الی انٌَ المَراءۃَ منهِيٌَۃُ عنۡ كلٌِ شيءٍ يُلفِتُ النَظرَ اليهَا او يُحَرِكُ شَهۡوۃَ الرِجَالِ نحۡوَهَا,ومن ذلكَ انهَا تُنهَی عنِ التَعَطٌُرِ والتَطَيٌُبِ عندَ خروجهَا منۡ بَيًتِهَا فيَشُمٌُ الرجَالُ طِيۡبَهَا.

(الباجوري,جز ١,صحيفۃ ١٤٥)
(قوله ويجب سترها)اي العورۃ لا بقيد كونِهِ عَورۃَ الصَلاَۃِ كما هو ظَاهِرُ-الی ان قال-قوله عن الناس اي الذينَ يَحرمُ عَلَيهِمۡ النَظَرُ اِلَيهِ وَاِنۡ لَزِمَهُمۡ غَضٌُ اَبۡصَارِهِمۡ,فَلُزُوۡمُ الغَضٌِ لاَ يُجَوٌِزُ الكَشۡفَ.

Wallahu a’lamu bisshowab..

M093. HUKUM MEMANFAATKAN BARANG GADAI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya menggadaikan sawah, lalu ditanami padi, dari yang menggadaikan diperbolehkan agar diambil hasilnya. Bagaimana hasil panin sawah tersebut?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Pada dasarnya hukum memanfaatkan barang gadaian tidak diperbolehkan. Akan tetapi jika syarat pemanfaatan tidak disebutkan dalam transaksi atau akad maka terjadi khilaf:

Dalam permasalahan semacam ini terdapat tiga pendapat dari para ulama Fiqh :

1. Haram : sebab termasuk hutang yang dipungut manfaatnya.

2. Halal : Bila tidak terdapat syarat pada waktu akad sebab menurut pendapat ulama fiqh yang masyhur adat yang berlaku di masyarakat tidak termasuk syarat.

3. Syubhat : (Tidak jelas halal haramnya) karena terjadi perselisihan pendapat dalam permasalahan ini.

Referensi :

الاشباه والنظائر ج ١ ص ١٩٢

و منها : لو عم في الناس اعتياد إباحة منافع الرهن للمرتهن فهل ينزل منزلة شرطه حتى يفسد الرهن قال الجمهور : لا و قال القفال : نعم

Jika sudah umum dikalangan masyarakat kebiasaan kebolehan memanfaatkan barang gadaian oleh pemilik gadai apakah kebiasaan tersebut sama dengan pemberlakuan syarat (kebolehan pemanfaatan) sampai barang yang digadaikan tersebut rusak ? Mayoritas Ulama menyatakan tidak sama sedang Imam ql-Qaffal menyatakan sama. [ Asybah wa an-Nazhooir I/192 ].

( و ) جاز لمقرض ( نفع ) يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا أو صفة والأجود في الرديء ( بلا شرط ) في العقد بل يسن ذلك لمقترض…. وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا

( قوله ففاسد ) قال ع ش ومعلوم أن محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد فلا فساد

Diperbolehkan bagi sipemberi pinjaman untuk memanfaatkan (sesuatu kelebihan) yang diperoleh dari si peminjam seperti pengembalian yang lebih baik ukuran ataupun sifat dan lebih baik pada pinjaman yang jelek asalkan tidak tersebutkan pada waktu akad sebagai persyaratan bahkan hal yang demikian bagi peminjam disunahkan (mengembalikan yang lebih baik dibandingkan barang yang dipinjamnya)

Adapun peminjaman dengan syarat boleh mengambil manfaat oleh peminjam maka hukumnya rusak/haram sesuai dengan hadits “semua peminjaman yang menarik sesuatu (terhadap yang dipinjamkanny maka termasuk riba”

حاشية إعانة الطالبين – (ج 3 / ص 65)
وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا وجبر ضعفه مجيء معناه عن جمع من الصحابة ومنه القرض لمن يستأجر ملكه أي مثلا بأكثر من قيمته لأجل القرض إن وقع ذلك شرطا إذ هو حينئذ حرام إجماعا وإلا كره عندنا وحرام عند كثير من العلماء قاله السبكي (قوله: ففاسد) قال ع ش: ومعلوم أن محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد.أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد، فلا فساد.اه.والحكمة في الفساد أن موضوع القرض: الارفاق، فإذا شرط فيه لنفسه حقا: خرج عن موضوعه فمنع صحته.(قوله: جر منفعة) أي شرط فيه جر منفعة. (قوله: فهو ربا) أي ربا القرض، وهو حرام (قوله: وجبر ضعفه) أي أن هذا الخبر ضعيف، ولكن جبر ضعفه.- أي قوى ضعفه – مجئ معناه – أي الخبر – وهو أن شرط جر النفع للمقرض مفسد للقرض.وعبارة النهاية: وروي – أي هذا الخبر – مرفوعا بسند ضعيف، لكن صحح الامام والغزالي رفعه، وروي البيهقي معناه عن جمع من الصحابة.اه.(قوله: ومنه القرض إلخ)أي ومن ربا القرض: القرض لمن يستأجر ملكه. (وقوله: أي مثلا) راجع للاستئجار – يعني أن الاستئجار ليس قيدا، بل مثالا.ومثله القرض، لمن يشتري ملكه بأكثر من قيمته.(وقوله: لاجل القرض) علة للاستئجار بأكثر من قيمته.

بغية المسترشدين – ( ص 221)
القرض الفاسد المحرم هو القرض المشروط فيه النفع للمقرض ، هذا إن وقع في صلب العقد ، فإت تواطآ عليه قبله ولم يذكر في صلبه أو لم يكن عقد جاز مع الكراهة كسائر حيل الربا الواقعة لغير غرض شرعي.

Wallahu a’lamu bisshowab..

M092. KENAPA HARUS BERMADZHAB?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya taqlid (mengikuti) kepada salah satu dari imam madhab yang empat (yaitu imam Malik, imam Syafii, imam Ahmad bin Hanbal, imam Abu Hanifah)?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya wajib karena kita belum mancapai tingkatan mujtahid.

KETERANGAN TENTANG WAJIBNYA BERMADZHAB (TAQLID) KEPADA SALAH SATU MADZHAB EMPAT

Dalam kitab Hidayatus Saary Ila Dirosatil Bukhori – Muqaddimah Syarah Shohih Bukhori karya Al-Muhaddits Imdadul Haq As-Silhaty Al-Bangladisyi disebutkan :

وقال الشيخ ابن الهمام فى آخر التحرير؛ ولما اندرست المذاهب الحقة إلا هذه الأربعة ، كان إتباعها إتباعا للسواد الأعظم والخروخ عنها خروجا عن السواد الأعظم ، وأيضا قال فيه لأن الناس لم يزالوا من زمان الصحابة الى أن ظهرت المذاهب الأربعة يقلدون من اتفق من العلماء من غير نكير من أحد يعتبر إنكاره ، ولو كان باطلا لا نكروه

Berkata Asy-Syaikh Ibnul Himam di akhir kitab karangannya : ketika madzhab mazhab yang haq (pada jaman dulu) telah habis dan menyisakan madzhab empat, maka mengikuti mereka (madzhab empat) ini seperti mengikuti As-Sawaadul A’dhom (golongan mayoritas yang selamat), dan keluar darinya berarti keluar dari As-Sawaadul A’dhom.
Beliau melanjutkan karena umat islam sejak zaman shahabat sampai lahirnya madzhab empat merka senantiasa TAQLID (mengikuti) kepada ulama yang telah disepakati keilmuannya dengan tanpa ingkar dari seseorang yang disebut sebut keingkarannya, walaupun perkara tersebut bathil mereka tidak mengingkarinya (karena keterbatasan ilmu mereka).

وأيضا قال فيه إعلم أن في الأخذ بهذه المذاهب الأربعة مصلحة عظيمة ، وفى الإعراض عنها كلها مفسدة كبيرة ، وقال الشيخ ابن الهمام فى فتح القادر؛ انعقد الإجماع على عدم العمل بالمذاهب المخالفة للأئمة الأربعة ، وقال ابن حجر المكى فى فتح المبين ؛ أما فى زماننا فقال أئمتنا لا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة الشافعى ومالك وأبى حنيفة وأحمد بن حنبل ، وقال الطحاوى من كان خارجا عن هذه الأربعة فهو من أهل البدعة والنار

Asy-Syaikh Ibnul Himam melanjutkan : ketahuilah sesungguhnya mengikuti madzhab empat ini terdapat mashlahah (kebaikan) yang agung, dan menentangnya adalah kerusakan yang besar.

Berkata Asy-Syaikh Ibnul Himam dalam kitab Fathul Qodir : telah sah kesepakatan ulama dalam masalah TIDAK BOLEH mengikuti madzhab yang menyelisihi (berbeda) terhadap madzhabnya imam yang empat.

Berkata Asy-Syaikh Ibnu Hajar Al-Maky dalam kitab Fathil Mubin Adapun di zaman kita berkata para imam (guru) kita : TIDAK BOLEH taqlid kepada SELAIN madzhab empat , Imam Asy-Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad Bin Hambal.

Ath-Thohawi berkata : Barangsiapa yang keluar dari madzhab empat ini maka termasuk ahli bid’ah dan ahli naar.

Selama seseorang belum mencapai darajat Mujtahid baik ia orang alim atau awam tetap wajib taqlid.
Apa itu taqlid?

Muhammad Said Ramadhan al-Buthi mendifinisikan sebagai berikut.

والتقليد هو اتباع قول انسان دون معرفة الحجة على صحة ذلك القول وان توافرت معرفة الحجة على صحة التقليد نفسه. ( اللامذهبية اخطر بدعة تهدد الشريعة الاسلامية، ص: ٦٩)

Taqlid hukumnya tidak boleh bagi seorang yang berderajat mujtahid dan wajib bagi kalangan awam sebagaimana disampaikan oleh Imam al- Suyuthi.

ثم الناس مجتهد وغيره فغير المجتهد يلزمه التقليد مطلقا عاميا كان اوعالما لقوله تعالى ” فاسألوا أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون ( الكوكب الساطع في نظم جمع الجوامع جز الثاني ص ٤٩٣)

Sehubungan dengan ketidak bolehan taqlid seorang mujtahid kepada lainnya Imam Ahmad pernah berkata kepada Imam abu Dawud pengarang Sunan Abu Dawud

قال لي احمد لا تقلدني ولا مالكا ولا الشافعي ولا الاوزعي ولا الثوري وخذ من حيث اخذوا. ( القول المفيد للامام محمد بن علي الشوكاني ص ٦١)

Dalam redaksi ibarat menunjukkan ketidak bolehan Abu Dawud Taqlid pada orang lain kerena menurut Imam Ahmad beliau sudah mencapai darajat mujtahid beliau telah memuat hadis sebanyak lima ribu dua ratus delapan puluh empat Hadis lengkap dengan sanadnya dengan kata lain Imam Abu Dawud telah memiliki kemampuan untuk berijtihad. Selanjutnya hal yang sama juga diungkapkan oleh Syekh Waliullah al-Dahlawi ketika mengumentari pendapat Ibn Hazm:

فما ذهب اليه ابن حزم حيث قال التقليد حرام…… الى ان … انما يتم في من له ضرب من الاجتهاد ولو في مساءلة واحدة). ( حجة الله البالغة جز الاول .ص. ٤٤٣- ٤٤٤)

Artinya :

pedapat Ibn Hazm yang mengatakan bahwa taqlid itu haram………. Berlaku bagi orang yang mempunyai kemampuan Ijtihad Walau hanya satu masalah (Hujjatullah al-Balighah, juz 1, hal 443-444).

ﻛﻞ ﻣﻦ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﻭﻳﺠﺐ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﻭﻣﻦ ﻗﻠﺪ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻣﻨﻬﻢ ﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﻋﻬﺪﺓ ﺍﻟﺘﻜﻠﻴﻒ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻘﻠﺪ ﺃﺭﺟﺤﻴﺔ ﻣﺬﻫﺒﻪ ﺃﻭ ﻣﺴﺎﻭﺍﺗﻪ ﻭﻻﻳﺠﻮﺯ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻓﻰ ﺇﻓﺘﺎﺀ ﺃﻭ ﻗﻀﺎﺀ . ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻭﻻﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﺎﻟﻀﻌﻴﻒ ﺑﺎﻟﻤﺬﻫﺐ ﻭﻳﻤﺘﻨﻊ ﺍﻟﺘﻠﻔﻴﻖ ﻓﻰ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻛﺄﻥ ﻗﻠﺪ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﻓﻰ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﻓﻰ ﻣﺴﺢ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺮﺃﺱ ـ ﺍﻫـ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﺍﻟﺠﺰﺀ ١ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٧

“Setiap imam yang empat itu berjalan di jalan yang benar maka wajiblah bagi umat islam untuk bertaqlid kepada salah satu diantara yang empat tadi sebab orang yang sudah bertaqlid kepada salah satu imam yang empat tersebut maka ia telah terlepas dari tanggungan dalam keagamaan dan orang yang bertaqlid haruslah yakin bahwa madzhab yang ia ikuti itu benar dan sama benarnya dengan yang lain serta tidak boleh bertaqlid kepada madzhab lain selain madzhab yang ia ikuti, seperti apa yang dikatakan oleh ibnu hajar alhaitami: tidak boleh seseorang yang menganut suatu madzhab berbuat talfiq (mencampur adukkan madzhab untuk mencari yang ringan-ringan) misalnya mengikuti imam malik yang mensucikan anjing dan juga mengikuti imam syafi’ie dalam membasuh sebagian kepala dalam berwudu”. I’anatut Tholibin I/17.

ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻘﻠﺪ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻣﻨﻬﻢ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻧﺎ ﺍﻋﻤﻞ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﺪﻋﻴﺎ ﻓﻬﻢ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻓﻼ ﻳﺴﻠﻢ ﻟﻪ ﺑﻞ ﻫﻮ ﻣﺨﻄﺊ ﺿﺎﻝ ﻣﻀﻞ ﺳﻴﻤﺎ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺍﻟﺬﻯ ﻋﻢ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻔﺴﻖ ﻭﻛﺜﺮﺕ ﺍﻟﺪﻋﻮﻯ ﺍﻟﺒﺎﻃﻠﺔ ﻷﻧﻪ ﺍﺳﺘﻈﻬﺮ ﻋﻠﻰ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻫﻮ ﺩﻭﻧﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﻭﺍﻟﻌﺪﺍﻟﺔ ﻭﺍﻻﻃﻼﻉ

“Dan barangsiapa yang tidak mengikuti salah satu dari mereka (Imam madzhab) dan berkata “saya beramal berdasarkan alQuran dan hadits”, dan mengaku telah memahami hukum-hukum alquran dan hadits maka orang tersebut tidak dapat diterima, bahkan termasuk orang yang bersalah, sesat dan menyesatkan terutama pada masa sekarang ini dimana kefasikan merajalela dan banyak tersebar dakwah-dakwah yang salah, karena ia ingin mengungguli para pemimpin agama padahal ia di bawah mereka dalam ilmu, amal, keadilan dan analisa”. Tanwiir Al-Quluub 74-75

Ketetapan wajib bertaqlid bagi orang yang belum sampai derajat mujtahid adalah berdasar:

1. Dalil Al-Qur’an Q.S. an-Nahl: 43:

فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kalian semua kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”

Dan sudah menjadi ijma’ ulama bahwa ayat tersebut memerintahkan bagi orang yang tidak mengetahui hukum dan dalilnya untuk ittiba’ (mengikuti) orang yang tahu. Dan mayoritas ulama ushul fiqh berpendapat bahwa ayat tersebut adalah dalil pokok pertama tentang kewajiban orang awam (orang yang belum mempunyai kapasitas istinbath [menggali hukum]) untuk mengikuti orang alim yang mujtahid.

senada dengan ayat diatas didalam Qur`an surat At-Taubah ayat 122;

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.( 122)

2. Ijma’

Maksudnya, sudah menjadi kesepakatan dan tanpa ada khilaf, bahwa shahabat-shahabat Rasulallah berbeda-beda taraf tingkatan keilmuannya, dan tidak semua adalah ahli fatwa (mujtahid) seperti yang disampaikan Ibnu Khaldun. Dan sudah nyata bahwa agama diambil dari semua sahabat, tapi mereka ada yang memiliki kapasitas ijtihad dan itu relatif sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah semua sahabat. Di antaranya juga ada mustafti atau muqallid (sahabat yang tidak mempunyai kapasitas ijtihad atau istinbath) dan shahabat golongan ini jumlahnya sangat banyak.

Setiap shahabat yang ahli ijtihad seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Ustman, Ali, ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar dan lain-lain saat memberi fatwa pasti menyampaikan dalil fatwanya.

3. Dalil akal

Orang yang bukan ahli ijtihad apabila menemui suatu masalah fiqhiyyah, pilihannya hanya ada dua, yaitu: antara berfikir dan berijtihad sendiri sembari mencari dalil yang dapat menjawabnya atau bertaqlid mengikuti pendapat mujtahid.

Jika memilih yang awal, maka itu sangat tidak mungkin karena dia harus menggunakan semua waktunya untuk mencari, berfikir dan berijtihad dengan dalil yang ada untuk menjawab masalahnya dan mempelajari perangkat-perangkat ijtihad yang akan memakan waktu lama sehingga pekerjaan dan profesi ma’isyah pastinya akan terbengkalai. Klimaksnya dunia ini rusak. Maka tidak salah kalau Dr. al-Buthi memberi judul salah satu kitabnya dengan “Tidak bermadzhab adalah bid’ah yang paling berbahaya yang dapat menghancurkan agama”.

Dan pilihan terakhirlah yang harus ditempuh, yaitu taqlid. (Allamadzhabiyah hlm. 70-73, Takhrij Ahadits al-Luma’ hlm. 348. )

Kesimpulannya dalam hal taqlid ini adalah:

1. Wajib bagi orang yang tidak mampu ber-istinbath dari Al-Qur’an dan Hadits.

2. Haram bagi orang yang mampu dan syaratnya tentu sangat ketat, sehingga mulai sekitar tahun 300 hijriah sudah tidak ada ulama yang memenuhi kriteria atau syarat mujtahid. Mereka adalah Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Sufyan ats-Tsauri, Dawud azh-Zhahiri dan lain-lain.

Lalu menjawab perkataan empat imam madzhab yang melarang orang lain bertaqlid kepada mereka adalah sebagaimana yang diterangkan ulama-ulama, bahwa larangan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mampu berijtihad dari Al-Qur’an dan Hadits, dan bukan bagi yang tidak mampu, karena bagi mereka wajib bertaqlid agar tidak tersesat dalam menjalankan agama. (Al-Mizan al-Kubra 1/62. )

Wallahu a’lamu bisshowab..

M091. HUKUM ONANI/ MASTURBASI DALAM ISLAM

PERTANYAAN

Assalamualaikum Ustadz

Mau tanya para asatidz..pertanyaan titipan. termasuk dosa besarkah orang yang beronani ??

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.

Dalam kajin fiqih madzhab Syafi’i onani termasuk dosa kecil. Tapi dosa kecil yang di ulang² akan menjadi dosa besar. ( Nihayatuzzein hal 214, lihat redaksi ibaroh di daftar refrensi).

Tapi mari kita simak hadis berikut dalam kitab Hasyiyah Aljamal 5/128

حاشية الجمل ٥ ص ١٢٨

وَقَدْ رَوَى أَبُو جَعْفَرٍ الْفِرْيَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْبَجَلِيِّ عَنْ ابْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا «سَبْعَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَيَقُولُ لَهُمْ اُدْخُلُوا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ الْفَاعِلُ وَالْمَفْعُولُ بِهِ وَالنَّاكِحُ يَدَهُ وَنَاكِحُ الْبَهِيمَةِ وَنَاكِحُ الْمَرْأَةِ فِي دُبُرِهَا وَالْجَامِعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَابْنَتِهَا وَالزَّانِي بِحَلِيلَةِ جَارِهِ وَالْمُؤْذِي جَارَهُ حَتَّى يَلْعَنَهُ اللَّهُ» اهـ

Makna;
Benar² Abu Ja’far Alfiryaniy telah meriwayatkan dari Abdurrohman Albajaliy dari Ibnu ‘Umar hadis marfu’ :
” Tujuh orang yg Alloh Ta’ala tidak akan melihat (tidak akan merahmati) mereka di hari kiyamat dan Alloh Ta’ala tidak akan mensucikan mereka , dan mereka akan disiksa dg pedih dan dikatakan pada mereka : “masuklah kalian ke neraka bersama orang² yg masuk neraka yaitu
1. Pelaku liwath dan yg di liwath.
( Liwath adalah memasukkan dzakar ke anus laki² maupun anus perempuan).
2. Orang yg kawin dg tangannya (termasuk onani baik dg tangan ataupun alat).
3. Orang yg mengawini menyetubuhi hewan.
4. Orang yg mengawini wanitanya di anusnya.
5. Orang yg menikahi wanita dan anaknya (Atau menikahi ibunya juga menyetubuhi putrinya atau sebaliknya).
6. Orang yg menzinai (menyelingkuhi) istri tetangganya.
7. Orang yg menyakiti tetangganya sampai dilaknat oleh Alloh.
–selesei–

Demikian juga dalam kitab Syu’ubul-iman onani masuk ke dalam 7 golongan orang yg tidak dilihat oleh Alloh Ta’ala dg penglihatan rohmat, dan tidak akan disucikan oleh Alloh Ta’ala dan akan di asingkan.

شعب الإيمان

٥٠٨٧ – أَخْبَرَنَا أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذَبَارِيُّ، وَأَبُو عَبْدِ اللهِ الْحُسَيْنُ بْنُ عُمَرَ بْنِ بُرْهَانَ الْغَزَّالُ، وَأَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ الْفَضْلِ الْقَطَّانُ، وَأَبُو مُحَمَّدِ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ السُّكَّرِيُّ، نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، ثنا عَلِيُّ بْنُ ثَابِتٍ الْجَزَرِيُّ، عَنْ مَسْلَمَةَ بْنِ جَعْفَرٍ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” سَبْعَةٌ لَا يَنْظُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يُزَكِّيهِمْ، وَلَا يَجْمَعُهُمْ مَعَ الْعَالَمِينَ، يُدْخِلُهُمُ النَّارَ أَوَّلَ [ص: ٣٣٠] الدَّاخِلِينَ إِلَّا أَنْ يَتُوبُوا، إِلَّا أَنْ يَتُوبُوا، إِلَّا أَنْ يَتُوبُوا، فَمَنْ تَابَ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ النَّاكِحُ يَدَهُ، وَالْفَاعِلُ وَالْمَفْعُولُ بِهِ، وَالْمُدْمِنُ بِالْخَمْرِ، وَالضَّارِبُ أَبَوَيْهِ حَتَّى يَسْتَغِيثَا، وَالْمُؤْذِي جِيرَانَهُ حَتَّى يَلْعَنُوهُ، وَالنَّاكِحُ حَلِيلَةَ جَارِهِ ” ” تَفَرَّدَ بِهِ هَكَذَا مَسْلَمَةُ بْنُ جَعْفَرٍ هَذَا ” قَالَ الْبُخَارِيُّ فِي التَّارِيخِ

Makna Hadis; Dari Anas bin Malik dari Nabi ﷺ bersabda: ” Tujuh yg Alloh Azza wa Jalla tidak akan melihat pada mereka di hari kiyamat dan Alloh Ta’ala tidak akan mensucikan mereka dan Alloh Ta’ala tidak akan mengumpulkan mereka bersama orang² , Alloh Ta’ala akan memasukkan mereka ke Neraka dalam golongan awal orang² yang masuk neraka , kecuali mereka bertaubat, kecuali mereka bertaubat, kecuali mereka bertaubat. Maka sesiapa saja yg bertaubat maka Alloh Ta’ala menerima taubat mereka. Tujuh tersebut adalah:
1. Orang yang menikahi tangannya (melampiaskan syahwat dg tangan, onani maupun dg alat).
2. Pelaku liwath dan
3. Orang yang di liwath.
( Liwath adalah memasukkan dzakar ke anus laki² maupun anus perempuan).
4. Orang yang pemabuk dengan khomer.
5. Orang yang memukul kedua orang tuanya sampai keduanya minta tolong.
6. Orang yang menyakiti tetangganya sehingga tetangganya melaknatnya.
7. Orang yang menikahi (menyelingkuhi) istri tetangganya.

Wallohu a’lam.

Daftar refrensi lainnya:

جامع الأحاديث

٣٣٩٣٧- عن الحارث عن على قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سبعة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم، يقال لهم: ادخلوا النار مع الداخلين، إلا أن تتوبوا، إلا أن يتوبوا، إلا أن يتوبوا:الفاعل، والمفعول به، والناكح يده، والناكح حليلة جاره، والكذاب الأشر، ومعسر المعسر، والضارب والديه حتى يستغيثا (ابن جرير وقال: لا يعرف عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إلا رواية على ولا يعرف له مخرج عن على إلا من هذا الوجه غير أن معانيه معانى قد وردت عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بها أخبار بألفاظ خلاف هذه الألفاظ [كنز العمال ٤٤٣٦٣]

نهاية الزين ، ص ٢١٤
وَتجب فِي جَمِيع هَذِه الْمُحرمَات الْفِدْيَة إِلَّا عقد النِّكَاح فَلَا فديَة فِيهِ لِأَنَّهُ لَا ينْعَقد فوجوده كَالْعدمِ وَلَا دم فِي النّظر بِشَهْوَة والقبلة بِحَائِل وَإِن أنزل بِخِلَاف مَا سوى ذَلِك من الْمُقدمَات فَإِن فِيهِ الدَّم إِن بَاشر عمدا بِشَهْوَة وَبِخِلَاف الاستمناء فَلَا تجب الْفِدْيَة إِلَّا إِذا أنزل وَكلهَا صغائر إِلَّا قتل الصَّيْد وَالْجِمَاع الْمُفْسد فَإِنَّهُمَا من الْكَبَائِر

أسنى المطالب

(ومن الصغائر) جمع صغيرة وهي كل ذنب ليس بكبيرة. (النظر المحرم – ومن ذلك القبلة للصائم التي تحرم شهوته والوصال في الصوم والاستمناء ومباشرة الأجنبية بغير جماع.

Wallahu a’lamu bisshowab..

M090. HUKUM Ngecas HAND PHOND DI MASJID

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Deskripsi Masalah :

Di zaman teknologi yang makin canggih pada saat ini keberadaan Hp sudah menjadi keperluan kebanyakan masyarakat, baik di kota maupun di desa sampai di gunung-gunung, baik itu gubernur, bupati, camat bahkan para pekerja biasapun mereka perlu yang namanya Hp. Hampir setiap orang di mana saja ia berada di rumah, di toko, di pabrik ataupun ketika bepergian Hp akan selalu ada di sisinya. Yang menjadi permasalahan, terkadang orang yang sedang bepergian ketika singgah di masjid untuk sholat ataupun i’tikaf, maka ketika setrum batrinya habis mereka akan mencarge (mengecas) Hpnya di masjid tersebut.

Pertanyaan :
a. Bagaimana hukum mengecas Hp di masjid tersebut?
b. Kalau di perlukan izin kepada siapakah minta izin?
c. Bagaimana solusi bagi orang yang sudah terlanjur ngecas Hp di masjid tempat ia singgah?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawaban :
a. HARAM hukumnya mengecas Hp di masjid dengan izin ataupun tanpa izin, karena listrik masjid di qiyaskan dengan Az-zait (minyak) yang di gunakan untuk penerangan masjid yang merupakan bagian (أجزاء ) dari masjid dan tidak boleh di ambil sedikitpun.

Referensi :

أعانة الطالبين: ج 3 ص 216
ويحرم أخذ شىء من زيته وشمعه اى للمسجد اى المختص به بأن يكون موقوفا عليه أومملوكا له بهبة أو شراء من ريع موقوف علي مصالحه واذا أخذ منه ذلك وجب رده (كصحاه وترابه) اى كما يحرم أخذ حصى المسجد وترا به.

المجموع ج 3 ص 206
لايجوز أخذ شيء من أجزاء المسجد كحجر وحصا ة وتراب وغيره وقد سبق في هذه المسائل تحريم التيمم بتراب المسجد ومثله الزيت والمشع الذى يسرج فيه وفي سنن ابي داود باسناد صحيح عن ابي هريسرة بعد الرواة أراه رفعه الى النبي صلى الله عليه وسلم قال: ان الحصاة لتناشد الذى يخرجها من المسجد

Jawaban :
b. Tidak perlu izin, karena hukumnya HARAM mutlak baik izin terlebih dahulu ataupun tidak.

Referensi :
Ibaratnya sama dengan jawaban soal pertama

Jawaban :
c. Solusinya ia harus mengembalikan qimah ( biaya senilai listrik yang telah di ambil ) kepada pihak masjid. Bila masjidnya jauh dan sulit di jangkau, maka ia bertaubat, banyak istighfar dan sedekah.

Referensi :

نها ية الزين :ص 241
وعلى الغاصب رد وضمان تلف بأقصى قيمته من حين غصب الى تلف.

الاشباه والنظائر ج 2 \ 407
قال في التدريب : كل من غصب شيئا وجب رده الا بست صور :مسئلة الخيط واللوح والخلط حيث لايتميز والخمر والعصير اذا تخمر في يده

حاشية الجمل : ج 5 ص 388
ثم رأيت في منهاج العابدين للغزالى ان الذنوب التى بين العباد اما في المال ويجب رده عند المكنة فان عجز لفقر استحله فان عجز عن استحلاله لغيبته او موته وامكن التصدق عنه فعله والا فليكثر من الحسنات ويرجع الى الله تعالى ويتضرع اليه في ان يرضيه عنه يوم القيامة

Wallahu a’lamu bisshowab..

M089. HUKUM BEKERJA KEPADA MAJIKAN YANG MENGELOLA BARANG HARAM

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau tanya Ustad..

Ada kasus, ada seorang bekerja di salah satu rumah, seorang tersbeut bekerja sebagai pembantu di rumah itu. Dan dia tau bahwa sang majikannya pekerjaan nya tidak halal. Seperti menjual sabu2, Pertanyaan nya bagaimanakah hukum pembantu tersebut menerima gaji dari majikannya apakah berstatus halal atau haram mengingat status pekerjaan majikannya tersebut pekerjaan yg tidak halal. Sedangkan pembantu itu pekerjaan yg halal yakni jadi pembantu di rumah tersebut. Mohon penjelasan nya ustad..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

‎Upah yang didapat dari pekerjaan tersebut haram dengan dasar bahwa ia termasuk membantu kemaksiatan dan ia tahu bahwa harta yang didapat dari bosnya hasil dari penjualan miras

وَأَمَّا المَظْنُونُ بِعَلاَمَةٍ فَهُوَ مَالُ السُّلْطَانِ وَعُمَّالِهِ وَمَالُ مَنْ لاَ كَسَبَ لَهُ إلاَّ مِنَ النَّاحِيَةِ او بَيْعِ الخَمْرِ او الرِّبَا او المَزَامِيْرِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ آلاَتِ اللَّهْوِ المُحَرَّمَةِ. فَإِنَّ مَنْ عَلِمَتْ أَنَّ كَثِيْرَمَالِهِ حَرَامٌ مُطْلَقًا فَمَا تَأخُذُهُ مِنْ يَدِهِ وَإِنْ أَمْكَنَ أَنْ يَكُونَ حَلاَلاً نَادِرًا, فَهُوَ حَرَامٌ, لأَنَّهُ الغَالِبُ عَلَى الظَّّنِّ.

اسعاد الرفيق جزء 2 ص 127

ومنها أي من معاصى البدن الاعانة على المعصية أي على معصية من معاصى الله بقول او فعل او غيره ثم ان كانت المعصية كبيرة كانت الاعانة عليها كذالك كما في الزواجر قال فيها وذكري لهذين أي الرضا بها والاعانة عليها باي نوع كان ظاهر معلوم مما سيأتـي في الامر بالمعروف والنهي عن المنكر

“Di antara maksiat tubuh adalah ikut menolong (terlibat) dalam melancarkan maksiat-maksiat yang dimurkai Allah, baik berupa ucapan, perbuatan dll. Bila maksiat tadi tergolong dalam dosa besar, maka dosa yang didapat dari keterlibatannya pun juga besar, seperti dijelaskan dalam kitab Zawajir. Di dalam kitab tersebut Ibn Hajar berkata :” (alasan) saya menyebutkan dua hal diatas, yakni membiarkan maksiat terjadi ( الرضا بالمعصية) dan terlibat di dalamnya (اعانة لها) dengan berbagai macam ragamnya, sudah cukup jelas dan maklum seperti yang akan dijelaskan dalam Bab Amr Ma’ruf –Nahy Munkar”.

“berikutnya dalam Kaidah dijelaskan : Apapun yang haram dilakukan maka haram untuk dicarinya. Kaidah dalam nadzam ini berbeda dengan kaidah yang ada di dalam kitab Asybah Wa Nadzoir, justru kaidah yang ada adalah sebaliknya, yaitu: Setiap hal yang yang haram dicari, haram pula untuk dikerjakan. Dan dari keharaman ‘mengerjakan’ ini menyebabkan haramnya ‘mencari’nya, bukan sebaliknya. Seperti kasus suap, mengerjakannya haram, mencarinya pun juga demikian”.

فوائد الجنية جزء 2 ص 302

قاعدة وهي ما يحرم فعله حرم طلبه كذ الناظم وهو عكس ما في الاشباه والنظائر اذ الذي فيها : ما حرم طلبه حرم فعله فحرمة الفعل مسببة عن حرمة الطلب لا العكس وذالك كالرشوة فعلها حرام وطلبها حرام بشرطه (ايضا كما ذكر عنهم)

Lebih lanjut Uang yang dihasilkan dari pekerjaan untuk mensuburkan kemaksiatan haram hukumnya, disedekahkan juga tidak SAH

من أَعاَنَ عَلَى مَعْصِيَةٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ كاَنَ شَرِيْكاً فِيْهاَوفى نفس الكتاب اجرة العمل الذى يتعلق بالمعصية حرام والتصدق به منها لايجوز ولايصح إهـ.

Barang siapa yang menolong kemaksiyatan walaupun hanya dengan setengah kalimat, maka ia telah terlibat dalam maksiyat tersebut” (al-Hadits). Dalam Kitab al-Ihyaa’ ‘Uluumiddiin dijelaskan “Ongkos pekerjaan yang berhubungan dengan maksiat haram, dan mensedekahkannya juga tidak boleh dan tidak sah”. [ Ihyaa’ ‘Uluumiddiin II/91 ].

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من اصاب مالا من ماثم فوصل به رحما او تصدق به انفقه في سبيل الله جمع الله جميعه ثم قذفه فى النار احياء ٢/٩١

Rosululloh bersabda : barang siapa yang memperoleh harta dari pekerjaan dosa, kemudian ia pergunakan untuk menyambung kerabat atau disedekahkan di jalan Allah SWT, maka Allah akan mengumpulkan semuanya dan melemparkannya ke neraka.

اجرة العمل الذى يتعلق بالمعصية حرام والتصدق به منها لا يجوز و لا يصح نفس الكتاب

Upah dari pekerjaan yang terkait dengan maksiat itu haram, dan tidak boleh serta tidak sah bersedekah dengan upah itu”.

Wallaahu A’lamu Bis showaab..

M088. HUKUM DEMONTRASI DALAM ISLAM

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah :
Pada tahun yang silam telah terjadi “Demontrasi” Yang dikenal dengan pasukan sakera yang dipinpin oleh Sakera Tunngul manik.
Terjadinya aksi demo tersebut karena Pememerintahannya disaat itu tidak adil bahkan membohongi rakyat (tidak sesuai dengan komitmennya) dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, rakyat sengsara harga sembakau tambah meningkat. Akhirnya terjadi aksi para Demo sakera dan pihak keamanan bahkan rayat menjadi korban sebagian kantor dibakar bahkan foto presidennya dibakar.

Pertanyaanya:
1)- Sejauh mana dalam tijauan Islam demontrasi bisa dibenarkan?

2)- Bolehkah aksi Demontrasi tersebut dalam melakukan demo sampai membakar kantor dan foto pejabat (preseden)?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawaban No.1:

Demonstrasi dan unjuk rasa yang bermuatan amar ma’ruf nahi munkar untuk mencari kebenaran dan demi tegaknya keadilan itu boleh selama:

– Tidak menimbulkan mafsadah yang lebih besar.

– Sudah tidak ada jalan lain seperti menempuh musywarah dan lobi.

– Apabila ditujukan pada penguasa pemerintah, hanya boleh dilakukan dengan cara ta’rif (menyampaikan penjelasan) dan al-wa’zhu (pemberian nasihat).

Keterangan, dari kitab:

1. Ihya ‘Ulum al-Din, Jilid 2, h. 337

قد ذكرنا درجات الأمر بالمعروف وأن أوله التعريف وثانيه والوعظ وثالثه التخشين في القول ورابعه المنع بالقهر في الحمل على الحق بالضرب والعقوبة. والجائز من جملة ذلك مع السلاطين الرتبتان الأوليان وهما التعريف والوعظ. وأما المنع بالقهر فليس ذلك لآحاد الرعية مع السلطان فإن ذلك يحرك الفتنة ويهيج الشر ويكون ما يتولد منه من المحذور أكثر وأما التخشين في القول كقوله يا ظالم يا من لا يخاف الله وما يجري مجراه فذلك إن كان يحرك فتنة يتعدى شرها إلى غيره لم يجز وإن كان لا يخاف إلا على نفسه فهو جائز بل مندوب إليه. فلقد كان من عادة السلف التعرض للأخطار والتصريح بالإنكار من غير مبالاة بهلاك المهجة والتعرض لأنواع العذاب لعلمهم بأن ذلك شهادة

2. Al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kabair, Juz 2, h. 156

والنسائي من رأى منكم منكرا فغيره بيده فقد برئ، ومن لم يستطع أن يغيره بيده فغيره بلسانه فقد برئ، ومن لم يستطع أن يغيره بلسانه فغيره بقلبه – أي أنكره – فقد برئ وذلك أضعف الإيمان

3. Al-jami’ al-Shaghir min Hadits al-Basyir al-Nadzir, Juz 2, h. 327

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان. (حم م ٤) عن أبي سعيد (صح

Unjuk rasa ( upaya melahirkan rasa kekecewaan serta tuntutan hak ) apabila hak tersebut dibenarkan syara’, dan dengan cara yang juga dibenarkan syara’, hukumnya boleh dan bahkan bisa wajib.

Referensi :

1. إسعاد الرفيق ج:2 ص:139 الهداية { ومنها الوصال} ولو نفلا للنهى عنه وفسره فى المجموع بأن يصوم يومين فأكثر من غير تناول مطعوم عمدا والتعبير بمطعوم للغالب فالجماع يمنعه وليست العلة الضعف فقط وإلا لم تزل الحرمة بتناول قطرة ماء ليلا بل مع مراعاة أن ذلك من خصوصياته عليه الصلاة والسلام ففطن الناس عنه ولذا لو ترك غير الصائم الأكل يومين لم يحرم

2. المجالس السنية ص :99 طه فوترا ولنذكر جملة من أنواع الظلم والضرر ليكون الشخص منها على حذر من ذلك المكس وأكل مال اليتيم والمماطلة بحق عليه مع قدرته على وفائه الى أن قال …. ومن الظلم والضرر أيضا عدم إيفاء الأجير حقه اهـ

3. التفسير لابن كثير ج :1 ص :229 شركة النور آسيا{وأنفقوا فى سيبل الله ولا تلقوا بأيديكم الى التهلكة} وذلك أن رجالا كانوا يخرجون فى بعوث يبعثها رسول الله صلى الله عليه وسلم بغير نفقة فإما أن يقطع بهم وإما كانوا عيالا فأمرهم الله أن يستنفقوا مما رزقهم الله ولا يلقوا بأيديهم الى التهلكة والتهلكة أن يهلك الرجال من الجوع والعطش او من المشى اهـ

Jawaban No.2:

Tidak boleh bertindak /atau sampai melakukan kerusakan dengan prinsip pesan pesan Rasulullah Kapada tiga ribu tentara yang utus untuk menyerang mu’tah sebagai berikut;

A. Sesampainya disana kalian akan menemukan beberapa laki laki yang sedang nyepi ditempat ibatnya maka janganlah ganggu mereka.

B. Janganlah melakukan pembunuhan disana terhadap anak anak para wanita dan orang orang tua.

C. Dan janganlah kalian merobohkan pepohanan dan janganlah menghancurkan bangunan bangunan yang ada disana.
(kholashoh Nurul yaqin juz 4 hal; 27)

Dengan dasar ini sekalipun mendemo sudah dijamin oleh konstitusi maka tidak boleh sampai melakukan pengrusakan dll. Islam mengajarkan kepada kita untuk taat kapada pemerintah sekalipun mereka berbuat dzalim.

Referensi :

التشريع الجنائى الإسلامى الجزء الثانى ص: 675-682 662 –

يشترط لوجود جريمة البغى الخروج على الإمام, والخروج المقصود هو مخالفة الإمام والعمل لخلعه, أو الامتناع عما وجب على الخارجين من حقوق. ويستوى أن تكون هذه الحقوق لله أى مقررة لمصلحة الجماعة, أو للأشخاص أى مقررة لمصلحة الأفراد. فيدخل تحتها كل حق تفرضه الشريعة للحاكم على المحكوم, وكل حق للجماعة على الأفراد, وكل حق للفرد على الفرد, فمن امتنع عن أداء الزكاة فقد امتنع عن حق وجب عليهم ومن امتنع عن تنفيذ حكم متعلق بحق الله كحد الزنا, أو متعلق بحق الأفراد كالقصاص فقد امتنع عن حق وجب عليه ومن امتنع عن طاعة الإمام فقد امتنع عن الحق الذى وجب عليه وهكذا. ولكن من المتفق عليه أن الامتناع عن الطاعة فى معصية ليس بغيا وإنما هو واجب على كل مسلم لأن الطاعة لم تفرض إلا فى معروف ولا تجوز فى معصية فإذا أمر الإمام بما يخالف الشريعة فليس لأحد أن يطيعه فيما أمر إذ الطاعة لا تجب إلا فيما تجيز ه الشريعة. والخروج قد يكون على الإمام وهو رئيس الدولة الأعلى وقد يكون على من ينوب عنه فمن امتنع عن طاعة الإمام فى معصية فليس بغيا لأن حق الأمر واجب الطاعة كلاهما مقيد غير مطلق فليس لآمر أن يأمر بما يخالف الشريعة وليس لمأمور أن يطيعه فيما يخالف الشريعة وذلك ظاهر من قوله تعالى: ( فإن تنازعتم فى شئ فردوه إلى الله والرسول ) ومن قول الرسول صلى الله عليه وسلم ( لا طاعة لمخلوق فى معصية الخالق ) وقوله ( من أمركم من الولاة بغير طاعة الله فلا تطيعوا ) وقوله ( لا طاعة فى معصية الله إنما الطاعة فى المعروف ) وقد احتاط الفقهاء لهذا فى تعريف البغاة. والإمام هو رئيس الدولة الإسلامى الأعلى أو من ينوب عنه من سلطان أو وزير أو حاكم أو غير ذلك من المصطلحات ويعبر بعض الفقهاء عن رئيس الدولة الإسلامية الأعلى بالإمام الذى ليس فوقه إمام, وعمن دونه بالإمام مطلقا إذا كان مستقلا بجزء من الدولة الإسلامية وبنائب الإمام إذا كان ينوب عن الإمام الأعظم. – إلى أن قال – ومع أن العدالة شرط من شروط الإمامة إلا أن الرأى الراجحة فى المذهب الأربعة ومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الإمام الفاسق الفاجر ولو كان الخروج للأمر بالمعروف والنهى عن المنكر. لأن الخروج على الإمام يؤدى عادة إلى ما هو أنكر مما فيه وبهذا يمتنع النهى عن المنكر لأن من شرطه أن لا يؤدى الإنكار إلى ما هو أنكر من ذلك, إلى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد وإضلال العباد وتوهين الأمن وهدم النظام. وإذا كانت القاعدة أن للأمة خلع الإمام وعزله بسبب يوجبه كالفسق إلا أنهم يرون أن لا يعزل إذا استلزم العزل فتنة. وأما الرأى المرجوح فيرى أصحابه أن للأمة خلع وعزل الإمام بسبب يوجبه وأنه ينعزل بالفسق والظلم وتعطيل الحقوق فإذا وجد من الإمام ما يوجب اختلال أموال المسلمين وانتكاس أمور الدين كان للأمة خلعه كما كان لهم تنصيبه لانتظام شؤون الأمة وإعلائها ويرى بعض هذا الفريق أنه إذا أدى الخلع لفتنة احتمل أدنى الضررين.

وعبارة المنهج مخالفو إمام قال في شرحه ولو جائرا ومثله الشيخ الخطيب فتجب طاعة الإمام ولوجائرا فيما لا يخالف الشرع من أمر أو نهي بخلاف ما يخالف الشرع لأنه لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق كما في الحديث وفي شرح مسلم يحرم الخروج على الإمام الجائر إجماعا.

الباجوري٢/٢٥٢i

Wallahu a’lamu bisshowab..

M087. HUKUM MEMAKAI SANDAL YANG TERTUKAR

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bolehkah memakai sandal yang tertukar dengan milik orang lain?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tidak boleh dipakai meski yang tertukar itu lebih jelek. Dan hukumnya sama dengan barang temuan. Bisa dimiliki setelah diumumkan dan pemiliknya tidak ada yang mengaku.

Jika diketahui itu sengaja ditukar, maka tetap tidak boleh dipakai, namun boleh dijual. Ketika sandal laku dengan harga yang lebih mahal, maka lebihnya dikembalikan pada pemilik.

Atau jika pemilik sudah memberikan sandal itu maka boleh dipakai tanpa harus dijual.

(نهايۃ المحتاج,جز ٥,صحيفۃ ٤٤٤)
(فصل)في تملكها اي اللقطۃ وغرمها وما يتبعها,
(اذا عرف اللقطۃ)بعد قصده تملكها(سنۃ)او دونها في الحقير جاز له تملكها ولو هاشميا او فقيرا الا في صور مرت كاءن اخذ للخيانۃ او اعرض عنه او كانت امۃ تحل له,
(,لم يملكها حتی يختاره بلفظ)من ناطق صريح فيه(كتملكت)او كنايۃ مع النيۃ كما هو قياس ساءر الاءبواب(ونحوه)كاءخذته او اشارۃ اخرس مفهمۃ كما قاله الزركشي,

Hukumnya memakai sandal yang tertukar adalah tidak halal kecuali :

– Dengan cara diumumkan selama satu tahun dengan alasan karena sandal yang tertukar termasuk bagian dari luqothoh.

– Jika si pemilik sandal yang tertinggal sengaja mengambil sandal orang lain maka boleh mengambilnya dan menjualnya. Dan ulama sepakat atas kebolehan mengambilnya didalam jumlah karena adanya beberapa hadits dalam luqothoh.

Referensi :

– بغية المشترشدين ص١٧٨
{ فائدة } من اللقطة أن تبدل نعله بغيرهافيأخذها فلا يحل له إستعماله إلا بعد تعريفها بشرطه أو تحقق إعراض المالك عنها، فإن علم أن صاحبها تعمد أخذ نعله جاز له بيعها ظفرا بشرطه، وأجمعوا على جواز أخذ اللقطة فى الجملة لأحاديث فيها.

البجيرمى على الخطيب ٣/١٤١
فرع من ضل نعله فى مسجد ووجد غيره لم يجز له لبسه و ان كان لمن اخذ نعله، وله فى هذه الحالة بيعه و اخذ قدر قيمة نعله من ثمنه ان علم انه لمن اخذ نعله، و الا فهو لقطة

Barang siapa yang tertukar sandalnya di masjid dan ia menemukan sandal lain, maka ia tidak boleh memakainya walaupun sandal itu milik orang yang mengambilnya.
jika ia tahu dan yakin sandal tsb, adalah sandal dari org yg mengambil sandalnya, maka ia boleh mengambil dan menjualnya, dan jika tidak mengetahuinya maka sandal tsb dihukumi barang temuan.

بغية المسترشدين ٢٢١
فا ئدة من اللقطة ان يبدل نعله بغيرها فياخذها فلا يحل له استعملها الا بعد تعرضها بشرطه او تحقق اعراص المالك عنها فان علم ان صاحبها تعمد اخذ نعله جاز له بيعها ظفرا بشرطه

Termasuk barang temuan adalah tertukar sandalnya dgn sandal orang lain, maka mengambil dan memakainya tidak dihalalkan, kecuali setelah diumumkan sesuai dgn persyaratan, atau sudah yakin bahwa si pemiliknya memang telah meninggalkannya. jika diketahui pemiliknya memang sengaja meninggalkan sandalnya, maka ia boleh menjual sandal tsbt sesuai dgn persyaratan.

Wallahu a’lamu bisshowab..