Arsip Kategori: Munakahat

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Pernikahan.

N072. APA ITU ANAK SYUBHAT?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Apa itu anak syubhat? Kedengarannya aneh. Tolong jelaskan

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Anak syubhat adalah anak yang dihasilkan dari nikah syubhat. Apa itu nikah syubhat?

Syubhat artinya kerancuan dan ketidak jelasan. Disebut nikah syubhat, karena sejatinya nikah ini batal, namun diyakini sah oleh pelaku, karena ketidak tahuannya.

Syaikh Sholeh al-Azhari (w. 1335 H) memberikan pengertian nikah syubhat sebagai berikut,

وضابط نكاح الشبهة أن ينكح نكاحا فاسدا مجمعا على فساده، لكن يدرأ الحد كأن يتزوج بمعتدة أو خامسة أو ذات محرم غير عالم ويتلذذ بها أو يطأ امرأة يظنها زوجته فيحرم عليه أصل كل واحدة منهن وفرعها

Batasan nikah syubhat adalah seseorang menikah dengan pernikahan yang tidak sah, yang telah disepakati tidak sahnya, akan tetapi tidak ditegakkan (zina). Seperti menikahi wanita yang masih dalam masa ‘iddah, atau dengan wanita sebagai istri yang kelima, atau dengan wanita mahramnya, dalam kondisi dia TIDAK mengetahui hal tersebut, sementara dia telah bercumbu dengannya, atau dia melakukan hubungan dengan wanita yang dia sangka istrinya. Sehingga semua wanita tersebut haram bagi lelaki yang bersangkutan, termasuk selain hubungan badan.” (Ats-Tsamr Ad-Daani fi Tqriib al-Ma’aani, syarh Risaalah Ibni Abi Zaid Al-Qoyrowaani, Al-Azhari, hal 451)

Berdasarkan keterangan di atas, pernikahan digolongkan sebagai nikah syubhat, dengan beberapa syarat,

Terjadi akad nikahPernikahan dinilai batal dengan sepakat ulama, karena tidak memenuhi rukun dan syaratnya.Dilakukan karena tidak tahu, sehingga tidak ditegakkan hukuman perbuatan zinaKonsekuensi dari Nikah Syubhat

Dalam ensiklopedi fikih dinyatakan,

اتفق الفقهاء على وجوب العدة وثبوت النسب بالوطء في النكاح المختلف فيه بين المذاهب , كالنكاح بدون شهود , أو بدون ولي , وكنكاح المحرم بالحج , ونكاح الشغار

Ulama sepakat wajibnya menjalani menjalani iddah dan sahnya nasab karena hubungan badan setelah pernikahan yang statusnya diperselisihkan oleh berbagai madzhab. Seperti nikah tanpa saksi, atau tanpa wali, atau pernikahan yang dilakukan orang ihram ketika haji atau nikah syighar.

ويتفقون كذلك على وجوب العدة وثبوت النسب في النكاح المجمع على فساده بالوطء ، كنكاح المعتدة , وزوجة الغير ، والمحارم ، إذا كانت هناك شبهة تسقط الحد , بأن كان لا يعلم بالحرمة ; ولأن الأصل عند الفقهاء : أن كل نكاح يدرأ فيه الحد ، فالولد لاحق بالواطئ

Ulama juga sepakat wajibnya iddah dan sahnya nasab dari hasil pernikahan yang disepakati batalnya, seperti menikahi wanita di masa iddah, atau menikahi istri orang lain, atau menikahi mahram, jika di sana ada syubhat, yang menyebabkan gugurnya hukuman zina, yaitu dia tidak mengetahui haramnya pernikahan tersebut. Kaidah yang ditetapkan para ulama, bahwa semua pernikahan (yang batal) namun tidak berhak mendapatkan hukuman zina, maka anak dinisbatkan kepada bapak biologisnya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 8/123).

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang hukum menikah tanpa wali dan saksi, apakah pernikahan sah?

Beliau memberikan jawaban dengan terlebih dahulu beliau jelaskan bahwa menikah tanpa wali dan saksi adalah penikahan yang batal. Selanjutnya beliau mengatakan,

لكن إن اعتقد هذا نكاحاً جائزا كان الوطء فيه وطء شبهة يلحق الولد فيه ويرث أباه

Namun jika pelaku meyakini bahwa nikah semacam ini sah, maka hubungan badan yang dilakukan statusnya hubungan badan karena syubhat. Anak yang dihasilkan dinasabkan kepada ayah biologisnya dan dia bisa mendapatkan warisan dari ayahnya. (al-Fatawa al-Kubro, 4/9).

Kemudian, as-Sarkhasi dalam al-Mabsuth menyatakan,

وقضى علي رضي الله عنه في الوطء بالشبهة بسقوط الحد ووجوب مهر المثل على الواطئ والعدة على الموطوءة

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memutuskan untuk hubungan badan yang terlarang karena tidak tahu, dengan digugurkannya hukuman had bagi pezina, dan wajibnya memberikan mahar standar bagi si lelaki dan wanita wajib menjalani masa iddah. (al-Mabsuth, 34/219).

Dari keterangan di atas, bisa kita simpulkan bahwa ketika terjadi nikah syubhat, konsekuensi yang terjadi,

Ikatan nikah dibubarkanSang wanita wajib menjalani masa iddah, 3 kali haidAnak tetap dinasabkan kepada ayah biologis, sebagaimana layaknya anak kandung.Si lelaki wajib memberikan mahar standar kepada wanita, menurut madzhab Hanafi.

Contoh kasus :

Nikah syubhat yang mungkin sering terjadi di sekitar kita adalah nikah tanpa wali yang sah. Misalnya, gadis dinikahkan oleh ayah angkatnya tanpa memberitahukan ayahnya, atau dinikahkan oleh saudaranya, sementara ayahnya masih ada. Kemudian mereka meyakini pernikahan ini sah dan hingga menghasilkan anak. Status anak ini digolongkan sebagai anak syubhat.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N071. HUKUM IJAB QABUL HANYA DENGAN LAFADZ “QOBILTU NIKAHAN”

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Lansung saya bertanya:
Sahkah dalam akad nikah, jika si Cantin (calon pengantin laki-laki) dalam qabul hanya mengatakan kalimat “قبلت نكاحا ”
Contoh :

Wali bilang :

انكحتك وزوجتك بنتي عاءشۃ بمهر منك خمسماءۃ الاف روبيۃ

saya nikahkan kamu dan saya kawinkan kamu kepada putriku yang bernama ‘Aisyah. dengan maskawin dari kamu 500 ribu rupiah.
Lalu calon mempelai laki-laki menjawab :

قبلت نكاحا

(saya terima nikah),
Apakah aqad nikahnya sah?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Menurut QAUL AZHAR tidak sah. Namun ada yang mengatakan sah. Dalam kitab Raudhah, Imam Nawawi menjelaskan:

فرع  إذا قال : زوجتكها ، فليقل : قبلت نكاحها أو تزويجها ، أو قبلت هذا النكاح ، فإن اقتصر على قبلت ، لم ينعقد على الأظهر . وقيل : قطعا . وقيل : ينعقد قطعا

Imam Haramain dalam kitab Nihayah halaman 196 menerangkan :

فإن قال: “قبلت” واقتصر على ذلك، فقد اختلف أصحابنا في المسألة: فمنهم من قال: لا ينعقد النكاح؛ فإن المجيب لم يذكر لفظ النكاح في قبوله، ولم يضف القبول إلى المرأة أيضاًً، والنكاح يتطرق إليه الاعتناء باللفظ، كما سبق تقريره.  ومنهم من قال: يصح؛ فإن الجواب يترتب على الخطاب، حتى كأن الخطاب في حكم المعاد في الجواب.

Sementara Imam Syirbini dalam kitab Mughni menjelaskan bahwa ‘ALAL MADZHAB tidak sah. Dan dalam satu QAUL sah.

ولو قال ‘ الولي ‘ زوجتك ‘ الخ ‘ فقال ‘ الزوج ‘ قبلت ‘ واقتصر عليه ‘ لم ينعقد ‘ هذا النكاح ‘ على المذهب ‘ لأنه لم يوجد منه التصريح بواحد من لفظي النكاح والتزويج ونيته لا تفيد.

وفي قول ينعقد بذلك لأنه ينصرف إلى ما أوجبه الولي فإنه كالمعاد لفظا كما هو الأصح في نظيره من البيع وفرق الأول بأن القبول وإن انصرف إلى ما أوجل البائع إلا أنه من قبيل الكنايات والنكاح لا ينعقد بها بخلاف البيع.  وقيل بالمنع قطعا وقيل بالصحة قطعا.

Keterangan dari Fathul mu’in :

( وقبول متصل به ) أي بالإيجاب من الزوج وهو ( كتزوجتها أو نكحتها ) فلا بد من دال عليها من نحو اسم أو ضمير أو إشارة ( أو قبلت أو رضيت ) على الأصح خلافا للسبكي لا فعلت ( نكاحها ) أو تزويجها أو قبلت النكاح أو التزويج على المعتمد  لا قبلت ولاقبلتهامطلقا أي المنكوحة ولا قبلته أي النكاح والأولى في القبول قبلت نكاحها لأنه القبول الحقيقي  (3/275

Qobul yang sambung dengan ijab dari suami seperti ” zawwajtuha atau nakahtuha ” maka harus ada suatu yang menunjukkan calon istri seperti nama, dlomir atau isyaroh, berbeda dengan imam assubqi, bukan lafadzfa’aaltu nikahaha, atau tazwijaha, nikah, attazwij menurut yang mu’tamad, tidak sah qobiltu doang ( قبلت ). Juga tidak sah qobiltuha ( قبلتها ) scr mutlaq, jug qobiltuhu ( قبلته ) yang paling siiip dalam qobul yaitu qobiltu nikahaha (نكاحها ) karena ini qobul yang sebenarnya.

اعانة الطالبين  وقوله مطلقا انظر ما في معنى الاطلاق في كلامه ؟ وفي التحفة بعد قوله ولا قبلته زيادة في مسئلة المتوسط . فيكون المراد بالاطلاق في عبارة التحفة انه لا فرق بين مسئلة المتوسط وغيرها في قبلت وقبلتها  فيعلم منها تفسير الاطلاق في عبارتنا بما ذكر ونصها لاقبلتها مطلقا ولا قبلتها في مسئلة المتوسط علي ما في الروضة لكن ردوه ولايشترط فيها ايضا تخاطب

 

Wallahu a’lamu bisshowab..

N070. BATASAN MEMANDANG WANITA DALAM TA’ARUF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Dimanakah batasan melihat perempuan dalam ta’aruf untuk wanita yang mau dipinang?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Beberapa pendapat para ulama tentang batasan memandang kepada pinangan yang diperbolehkan:

Imam Asy-Syafi’i berkata Jika seseorang pria ingin menikahi seorang wanita, maka ia tidak boleh melihat wanita tersebut dalam keadaan terbuka kepala dan lengannya.

Ia boleh melihat wajah dan kedua telapak tangannya dalam keadaan tertutup baik itu dengan izinnya maupun tidak.

Allah Ta’ala berfirman: {Dan janganlah mereka (para wanita)menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang nampak darinya} maksudnya yaitu “Wajah dan kedua telapak tangan”.

Imam An-Nawawi berkata Dalam Raudhah Ath-Thalibin wa Umdah Al-Muftin (7/19-20)

Jika seorang pria ingin menikahi seorang wanita, maka mustahab(sunnah)untuk melihatnya agar tidak menyesal.

Ada pendapat lain yaitu bukan sunnah melihat di sini melainkan hanya mubah.
Namun yang benar adalah pendapat pertama berdasarkan berbagai hadits. Dan boleh mengulang melihat di sini baik dengan izin wanita tersebut maupun tidak.

Jika tidak mudah untuk melihat wanita tersebut, maka boleh mengutus seorang wanita untuk memperhatikan wanita tersebut dan menggambarkannya untuknya.

Dan seorang wanita boleh melihat kepada pria jika ia ingin menikah dengannya.

Karena sesungguhnya seorang wanita tertarik kepada seorang pria sebagaimana seorang pria tertarik kepada seorang wanita.

Kemudian yang boleh dilihat darinya yaitu wajah dan dua telapak tangan yang luar maupun dalam. Dan tidak boleh melihat kepada selain itu.

Imam Abu Hanifah berpendapat boleh melihat kedua telapak kaki beserta wajah dan dua telapak tangan
Ibnu Abidin dalam Hasyiahnya (5/325) Boleh melihat ke wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki dan tidak boleh lebih dari itu ” dan itu telah dinukilkan oleh IbnuRusyd sebagaimana telah berlalu.

Referensi:

~ Al-Hawi Al-Kabir juz 9/34 :

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ – ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ( ﻭﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﺘﺰﻭﺝﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﻠﻴﺲ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺣﺎﺳﺮﺓ ، ﻭﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰﻭﺟﻬﻬﺎ ﻭﻛﻔﻴﻬﺎ ﻭﻫﻲ ﻣﺘﻐﻄﻴﺔ ﺑﺈﺫﻧﻬﺎ ﻭﺑﻐﻴﺮ ﺇﺫﻧﻬﺎ ، ﻗﺎﻝﺗﻌﺎﻟﻰ : ) ﻭﻻ ﻳﺒﺪﻳﻦ ﺯﻳﻨﺘﻬﻦ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻇﻬﺮ ﻣﻨﻬﺎ ( ﻗﺎﻝ :ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ) ﺍﻟﺤﺎﻭﻱ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﺝ ٩ ﺹ ٣٤

~ Raudhah Ath-Thalibin wa Umdah Al-Muftin juz 7/19-20 :

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ) ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻭﻋﻤﺪﺓﺍﻟﻤﻔﺘﻴﻦ ﺝ ٧ ﺹ ٢٠-١٩ ﺇﺫﺍ ﺭﻏﺐ ﻓﻲ ﻧﻜﺎﺣﻬﺎ ﺍﺳﺘﺤﺐﺃﻥ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻟﺌﻼ ﻳﻨﺪﻡ ، ﻭﻓﻲ ﻭﺟﻪ : ﻻ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻫﺬﺍﺍﻟﻨﻈﺮ ﺑﻞ ﻫﻮ ﻣﺒﺎﺡ ، ﻭﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺍﻷﻭﻝ ﻟﻸﺣﺎﺩﻳﺚ ،ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺗﻜﺮﻳﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺑﺈﺫﻧﻬﺎ ﻭﺑﻐﻴﺮ ﺇﺫﻧﻬﺎ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢﻳﺘﻴﺴﺮ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺑﻌﺚ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺗﺘﺄﻣﻠﻬﺎ ﻭﺗﺼﻔﻬﺎ ﻟﻪ . ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓﺗﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩﺕ ﺗﺰﻭﺟﻪ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻌﺠﺒﻬﺎ ﻣﻨﻪﻣﺎ ﻳﻌﺠﺒﻪ ﻣﻨﻬﺎ

~ Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid juz 3/10 :

ﻭﺃﺟﺎﺯ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺪﻣﻴﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﻮﺟﻪﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ

~ Ibnu Abidin dalam Hasyiahnya juz 5/325 :

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺎﺑﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﺣﺎﺷﻴﺘﻪ ) ﺝ ٥ ﺹ ٣٢٥ﻳﺒﺎﺡ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ ﻭﺍﻟﻘﺪﻣﻴﻦ ﻻ ﻳﺘﺠﺎﻭﺯﺫﻟﻚ ” ﺃ.ﻫـ ﻭﻧﻘﻠﻪ ﺍﺑﻦ ﺭﺷﺪ ﻛﻤﺎ ﺳﺒﻖ

~ Fathul Baari 11/78 :

ﻭﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻲ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ) ﺝ١١ ﺹ ٧٨ ( .. ﻭﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪﺓ ﻓﻲ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔﻫﻲ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ

Wallahu a’lamu bisshowab..

N069. BOLEHKAH WALI AQROB PINDAH KE WALI AB’AD KARENA BISU?

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:
Ahmadi dan Sitti Maisarah dua insan yang telah lama menjalin hubungan “pertunangan” sedangkan ayah Sitti Maisarah telah meninggal seminjak dia masih kecil,namun untungnya Sitti Maisarah masih masih punya kakek dan saudara laki-laki seayah seibu bernama Yusuf.
Selang beberapa minggu hubungan Ahmadi dan Sitti Aisyah semakin dekat sehingga tumbuh hasrat (keinginan) dalam hatinya untuk segera melangsungkan pernikahan. Akan tetapi sangat disayangkan manakala pernihan akan segera dilangsungkan kekak kesayangannya jatuh sakit (struk) sehingga mengakibatkan bisu, tidak bisa berjalan, tidak mendengar (tuli) bahkan fikiran dan akalnya menjadi tidak normal.

Pertanyaannya:
Bolehkah Yusuf saudara Sitti Maisarah menikahkan adiknya (menjadi wali nikah) dikala situasi kakeknya sakit srtuk (bisu, fikiran dan akalnya tidak normal)?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Boleh Yusuf saudara Sitti Maisarah yang seayah seibu menikahkan dan mengawinkan Sitti Maisarah (menjadi wali nikah) manakala kakekya dalam situasi sakit struk yang mengakibatkan bisu dan tidak normalnya akal dan fikirannya sehingga tidak memungkinkan menikahkan sendiri dan mewakilkan baik secara isyarah ataupun tulisan. Dengan alasan karena adanya kakek telah dianggap tidak memenuhi persyaratan wali nikah.

Referensi :

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٤
{تنبيه}مماتركه المصنف من شروط الولى أن لايكون مختل النظر بهرم أو خبل وأن لايكون محجورا عليه بسفه متى كان الأقرب ببعض هذه الصفات المانعة للولاية فالولاية للأبعد

“(Satu peringatan)” Diantara perkara yang ditinggalkan oleh Kyai Mushonnif adalah diantara bebera syarat menjadi wali diantaranya adalah:

1. Harus memiliki fikiran atau akal yang sempurna artinya tidak cukup syarat bilamana fikirannya dan akalnya rusak karena disebabkan pikun.

2. Tidak menjadi “Mahhjur alaih” dengan sebab kebodohannya.
Kapan walinikah yang “aqrab”(lebih dekat) tidak memenuhi syarat yang ada diantara sebagian sifat tersebut yang mencegah(adanya maani’) atas kewalian maka wali nikah nya adalah beralih kepada wali ab-ad(lebih jauh) yakni Saudar-Nya yang seayah seibu dan seterusnya.

Referensi :

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٥
{فرع} الأحرس إن كان وليا وله إشارة يفهمها كل واحد عقد بها وإن فهمها الفطن أوكان له كتابة وأمكن التوكيل بهما وكل وإلا زوج الآبعد، وأما إن كان زوجا فإن كانت إشارته صريحة عقدبها وإن كانت كناية أوكانت له كتابة فإن أمكنه التوكيل وكل وإلا عقد للضرورة وتعرف نيته بإشارة أخرى أو كتابة وقيل يكون كالمجنون فزوج الحاكم عند فقد الأب والجد.

(“Satu cabang”) Orang yang bisu (tidak bisa bicara) manakala dia bersetatus wali nikah sedangkan dia bisa memberikan isyarah dan bisa difahami oleh setiap seorang dan atau bisa difahami oleh orang yang cerdas maka dia boleh mengakadnya atau sibisu bisa menulis dan memungkinkan mewakilkan maka wakilkan. Akan tetapi jika hal tersebut tidak memungkinkan mengakad dan mewakilkan, maka yang menikahkannya (menjadi wali nikah) adalah wali ab’ad (lebih jauh) yakni Yusuf saudaranya Sitti Maisarah dan serusnya.
Dan adapun jika si bisu punya istri dan sedangkan isyarah sharikh (jelas) baik dalam bentuk kinayah atau tulisan maka dia mengakadnya dan jika bisa mewakilkan dengan tulisan maka wakilkan dengan tulisan jika tidak bisa maka akadlah (wali ab’ad) dengan kondisi dlorurah. Dan niatnya dapat dikenal/diketahui disisi yang lain.

Dikatakan oleh sebagian ulama, dia diibaratkan orang gila
maka hakim yang menikahkan (menjadi wali) diwaktu tidak adanya ayah dan kakek.

CATATAN:

Jika ada ungkapan kata “قيل” (dikatakan) adalah:

a. Menunjukkan adanya khilaf (perbedaan pendapat) pada wajah-wajah ashhab.

b. Menunjukkan pendapat yang lemah.

لايقال قيل إلا ضعيف

Tidak dikatakan suatu perkatan “قيل” terkecuali lemah.

Adapun yang dimaksud wali aqrab (dekat) diatas adalah “Ayah” karena wali yang lebih dekat dengan perempuan untuk menikahkan.

Sedangka yang dimaksud dengan wali ab’ad (jauh) adalah Kakek/Saudara se ayah se ibu. Sebagaiman rincian wali nikah sebagai berikut :

Derajat (tingkatan) wali nikah (Wali yang mengakad nikah) pada dasarnya ada dua macam:

1- Wali nasab

Wali nasab adalah wali yang ada hubungan darah dengan perenpuan yang akan mereka kawini adalah :
a.) Ayah kandung
b.) Kakek dari ayah
c.) Saudara laki-laki seayah seibu
d.) Saudara laki-laki seayah
e.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu seayah
f.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah
g.) Saudara laki-laki seayah dari ayah
h.) Saudara laki-laki seayah dari ayah
i.) Anak laki-laki dari saudara laki laki seeibu seayah dari ayah
j.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah dari ayah
Wali kolom a.) di atas disebut
“Wali yang paling dekat” kepada perempuan yang hendak dinikahkan. Dalam bahasa Arab disebut “ألولى الأقرب”.
Wali yang dibelakangnya disebut (dinamakan) “Wali yang lebih jauh”. Dalam bahasa Arab disebut “الولى الآبعد”.

Jika wali kolom 1/ a.) tidak ada karena berhalangan tetap (meninggal) atau berhalangan tidak tetap karena ada perjalanan sampai dua marhalah maka yang mengakatnya wali kolom 2/ b.) yang lebih dekat dan jika wali kolom b.) tidak ada maka yang menjadi wali adalah kolom 3/c.) dan seterudnya.

2- Wali hakim.
Yang dimaksud ” Wali Hakim” ialah kepala negara yang beragama Islam, dan dalam hal ini biasanya Pengadilan Agama, ia dapat mengangkat orang lain menjadi Hakim (biasanya yang diangkat KUA (Kepala Kantor Urusan Agama) Kecamatan untuk mengakatkan nikah perempuan yang berwali Hakim.

Sebagaimana Sabda Rasulullah (S.a.w) :

عن عائشة رضى الله عنها قالت:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل، فإن دخل بها فلها المهر بمااستحلّ من فرجها،فإن اشتجروا فالسلطان ولىّ من لا ولى له (أخرجه الأربعة إلا النسائي وصححه أبو عوانة وابن حبان والحاكم)

الباجورى الجزء الثانى ص: ١٠٥
(وأولى الولاية )
أى أحق الآولياء بالتزويج (الأب ثم الجد أبو الأب) ثم أبوه وهكذا ويقدم الأقرب من الأجداد على الأبعد (ثم الأخ للآب والأم) ولو عبر بالشقيق لكان أخصر (ثم الأخ للأب ثم ابن الآخ للأب والأم وإن سفل(ثم إبن الأخ للأب) وإن سفل………الخ
{قوله الأب ثم الجد} إنمالم يقل الأب وإن علا وإنه أخصر لضرورة أفادة الترتيب بين الأب والجد فإنه لو قال ماذكر لم يفد الترتيب بينهما فاندفع بذلك قول المحشى تبعا للقليوبى لو قال الأب وان علا لكان أولى وأخصر وقوله أبو الأب إحتراز من الجد أبى الأم فلا ولاية له كمالايخفى {قوله ثم أبوه} أى أبو الجد وقوله وهكذا أى ثم ابو أبيه ثم أبو ابي أبيه قوله ويقدم الأقرب من الأجداد على الأبعد وهو مستفاد من قوله ثم أبوه وهكذا وهو تصريح بما علم أتى به توضيحا {قوله ثم الآخ للأب والأم } أى لادلائه بالأب فهو أقرب من ابن الأخ……… الخ

والله أعلم بالصواب

N068. PERWAKILAN PERWALIAN KEPALA KUA KEPADA ORANG LAIN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Deskripsi Masalah :
Dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2005 telah ditetapkan, bahwa Wali Hakim adalah Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan yang ditunjuk oleh Menteri Agama untuk bertindak sebagai wali nikah bagi calon mempelai wanita yang tidak mempunyai wali.

Apabila kepala KUA Kecamatan yang bersangkutan berhalangan atau tidak ada, maka Kepala Seksi yang membidangi Tugas Urusan Agama Islam atas nama Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota diberikuasa untuk atas nama Menteri Agama menunjuk salah satu Penghulu pada kecamatan tersebut atau yang terdekat untuk sementara waktu menjadi wali hakim pada wilayahnya.

Pertanyaan :

a. Bolehkah Kepala KUA Kecamatan mewakilkan perwaliannya kepada orang lain seperti halnya wali nasab?

b. Dalam fikih, apa istilah pembentukan dan pengangkatan Kepala KUA Kecamatan oleh Menteri Agama? Qadhi, Naib, atau apa?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

a. Berdasar Peraturan Menteri Agama No.30 Tahun 2005 Pasal 3 ayat 2, Kepala KUA tidak boleh istikhlaf/mewakilkan, untuk istikhlaf dibutuhkan izin dari Imam, sementara aturan yang berlaku menunjukkan tidak adanya izin dari Imam.

Dasar Pengambilan Hukum :
Umdat al Mufti wa al Mustafti Juz 2 Halaman 521

قال الشيخ الفقيه جمال الدين محمد بن عبد الرحمن بن حسن بن عبد الباري الأهدل رحمه الله : يشترط في متولي عقود الأنكحة أن يكون حرا ذكرا مسلما عدلا فقيها اى عارفا بأبواب النكاح و مقادير العدة وصريح الطلاق و الرجعة و كناياتها وللقاضي الإستخلاف و النيابة في ذلك ان أذن له الإمام او كثر عمله في الناحية التى هو متول فيها وعجز عن الإتيان بجميع ما وليه فله ان يستخلف في القدر المعجوز عنه وإلا فلا يجوز وصيغة التولية أن يقول من تجوز له التولية كالإمام والقاضي لمن يريد توليته وليتك عقوج الأنكحة او استخلفتك فيها فيقول قبلت ولو قال الإمام وليت من رغب في عقج النكاح من علماء بلد كذا لم يصح.

Tuhfat al Muhtaj Juz 11 Halaman 282

(ولو وكل) غير الحاكم (قبل استئذانها) يعني إذنها (في النكاح لم يصح) النكاح (على الصحيح) لأنه لا يملك التزويج بنفسه حينئذ فكيف يفوضه لغيره أما بعد إذنها وإن لم يعلم به حال التوكيل فإنه يصح كما هو ظاهر اعتبارا بما في نفس الأمر أما الحاكم فله تقديم إنابة من يزوج موليته على إذنها له بناء على الأصح أن استنابته في شغل معين استخلاف لا توكيل

Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah Juz 33 Halaman 312

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ الإْمَامَ إِذَا أَذِنَ لِلْقَاضِي فِي الاِسْتِخْلاَفِ فَلَهُ ذَلِكَ وَعَلَى أَنَّهُ إِذَا نَهَاهُ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ، وَذَلِكَ لأِنَّ الْقَاضِيَ إِنَّمَا يَسْتَمِدُّ وِلاَيَتَهُ مِنَ الإْمَامِ، فَلاَ يَمْلِكُ أَنْ يُخَالِفَهُ فِي تَعْيِينِ خَلَفٍ لَهُ مَتَى نَهَاهُ،كَالْوَكِيل مَعَ الْمُوَكِّل،أَمَّا إِنْ أَطْلَقَ الإْمَامُ فَلَمْ يَأْذَنْ وَلَمْ يَنْهَ فَهُنَاكَ اتِّجَاهَاتٌ فِي الْمَذَاهِبِ تَفْصِيلُهَا فِي مُصْطَلَحِ(اسْتِخْلاَف ف 2 )

Roudlotut Tholibin Juz 7 halaman 74

فرع في فتاوى البغوي أنه إذا لم يكن ولي سوى الحاكم فأمر يستأذنها رجلا بتزويجها فزوجها الرجل بإذنها هل يصح النكاح يبنى على أن استنابة القاضي في شغل معين كتحليف وسماع شهادة يجري مجرى الإستخلاف أم لا إن قلنا نعم جاز قبل استئذانها وصح النكاح وإلا فلا يصح على الأصح كتوكيل الولي قبل الإذن

b. Kepala KUA dalam kajian fiqh statusnya sebagai Mutawalli Li Uqudi al Ankihah atau Mustakhlaf.

Dasar Pengambilan Hukum :

Hasiyah al Bajuri ala Fath al Qarib Juz 3 Hal 229

ثم الحاكم. عاما كان او خاصا كالقاضي والمتولي لعقد الأنكحة او لهذا العقد بخصوصه

Umdat al Mufti wa al Mustafti Juz 2 Halaman 521

والمراد بمن يتولي عقود الأنكحة هو من يزوج من لا ولي لها او لها ولي غائب الى مرحلتين او عضلها وليها او كان محرما او فقد ولم يعرف موضعه هذا هو الذي تحتاج الي الشروط المذكرة أما لو جاء الولي والزوج الي شخص ليتوسط بينهما في العقد ويلقنهما فلايشترط فيه شيء من الشروط السابقة لأنه لو قال الولي للزوج بحضرة شاهدين عدلين زوجتك بنتي فقال قبلت نكاحها صح وان لم يكن بينهما قاض ولاعالم ولاغيرهما اذا تم ذلك.

Al Gharar al Bahiyyah Sharh al Bahjah al Wardiyah Juz 14 Hal. 243

( قَوْلُهُ : ثُمَّ السَّلْطَنَةُ ) قَالَ م ر الْمُرَادُ بِالسُّلْطَانِ هُنَا وَفِيمَا يَأْتِي مَنْ شَمِلَهَا وِلَايَتُهُ عَامًّا كَانَ أَوْ خَاصًّا كَالْقَاضِي وَالْمُتَوَلِّي لِعُقُودِ الْأَنْكِحَةِ .وَالْمُرَادُ بِالْمُتَوَلِّي لِعُقُودِ الْأَنْكِحَةِ مَنْ نَصَّبَهُ بَدَلَهُ فِي وِلَايَةِ الْعُقُودِ لَا مَنْ نَصَّبَهُ لِإِجْرَاءِ الْعَقْدِ بَيْنَ الزَّوْجِ وَالْوَلِيِّ كَمَا هُمْ الْآنَ

Wallahu a’lamu bisshowab..

N057. ANTARA WALI HAKIM DAN WALI AQROB

ANTARA WALI HAKIM DAN WALI AQROB

Dalam perkawinan, Islam menggariskan suatu aturan bahwa orang yang berhak menikahkan adalah wali mempelai perempuan, sehingga tidak boleh seorang perempuan menikahkan dirinya sendiri atau orang lain yang tidak punya hubungan kerabat. Wali yang dimaksud adalah; ayah, kakek, saudara laki-laki sekandung (se-ayah dan se-ibu), saudara laki-laki se-ayah, paman (saudaranya ayah), anaknya paman (saudaranya ayah). Kemudian apabila orang-orang diatas tidak ada, maka wilayah annikah pindah kepada ahli ashobah binnafsih, yaitu; setiap orang laki-laki yang punya hubungan kerabat dan diantara mereka tidak dipisah orang perempuan, mereka adalah; anak laki-laki, cucu laki-laki, ayah, kakek, saudara laki-laki yang sekandung, saudara laki-laki yang se-ayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki yang sekandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki yang se-ayah, paman yang sekandung dengan ayah, paman yang se-ayah dengan bapak, anaknya paman yang sekandung, anaknya paman yang se-ayah dengan bapak.
Daftar wali nikah diatas adalah urut-urutan orang yang berhak menikahkan anak perempuannya. Orang yang berada pada urutan yang paling atas disebut wali aqrob, sedangkan orang yang paling jauh dalam daftar urutan disebut wali ab’ad.

Referensi :

[1] المفتاح في النكاح /16-17

(الولي في النكاح واحق الأولياء بالتزويج) اولى اللأولياء واحقهم بالتزويج :

الأب
ثم الجد ابو الأب وان علا
ثم الأخ الشقيق
ثم الأخ لأب
ثم ابن الأخ الشقيق
ثم ابن الأخ لأب وان سفل
ثم العم الشقيق
ثم العم لأب
ثم ابن العم الشقيق
ثم ابن العم لأب وان سفل
ثم عم الأب
ثم ابنه وان سفل
ثم عم الجد
ثم ابنه وان سفل
ثم عم ابي الجد
ثم ابنه وان سفل

وهكذا على هذه الترتيب في سائر العصبات، ويقد الشقيق منهم على من كان لأب، فاذا لم يوجد احد من عصبات النسب فالمعتق فعصبته ثم معتق المعتق ثم عصبته ثم الحاكم او نائبه

*ترتيب الأولياء*
الاب : *بفاء*
الجد – *امبا*
(وإن علا) *بوجؤ ……*
الاخ الشقيق: *تريتان تفأ*
الاخ لاب: *تريتان توغكل بفأ*
ابن الاخ الشقيق: *فناكن تفأ*
ابن الاخ لاب- *فناكن توغكل بفأ*
وان سفل- *كومفوي فناكن ….*
العم الشقيق: *مجادئ تفأ*
العم لاب : *مجادئ توغكل بفأ*
ابن العم الشقيق: *سفوفوه تفأ*
ابن العم لاب- *سفوفوه توغكل بفأ*
وان سفل: *فناكن سفوفوه….*
عم الاب : *مجادئنه بفأ/امبا عيريغ*
ابن عم الاب: *مجادئ سفوفوه*
وان سفل : *دوفوفوه ……*
عم الجد : *مجادئنه أمبا/ بوجؤ عيريغ*
ابن عم الجد: *امبا سفوفوه*
وان سفل : *مجادئ دوفوفوه، فس انأنه (تلوفوفوه)*
عم ابي الجد : *مجادئنه بفأنه امبا/ جوجؤ عيريغ*
ابن عم ابي الجد: *أمبا دوفوفوه* – وان سفل: *مجادئ تلوفوفوه، فس انأنه ( امفأ فوفوه)*
*المفتاح لباب النكاح*
الكاتب نوائي شفيع الدين تدّان:

نعم، لوكان ابن العم لاب أخا لام قدم على ابن العم الشقيق ثم عم الاب الشقيق ثم عمه لاب ثم ابن عم الأب كذالك
والله اعلم بالصواب

(باكيّان ولي نكاح سي غلّي كا ولي أبعد)

وعَشْرةٌ سَوالبُ الولايَـة ** كُفرٌ , وفسقٌ , والصِّبا لغَـاية
رِقٌّ , جُنونٌ مُطبِقٌ , أوِ الخَبَلْ ** وأَخْرَسٌ جَوابُهُ قدِ اقْتَفَلْ
ذُو عَتَـهٍ , نظِيرُهُ مُبَرسَمُ ** وأبلَهٌ لاَ يَهتَدِي , وأبكَـمُ

(باكيّان سي غلّي كا حاكم)

وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُهُمْ الْمَوَاضِعَ الَّتِي يُزَوِّجُ فِيهَا الْحَاكِمُ فِي أَبْيَاتٍ فَقَالَ:

وَتُزَوِّجُ الْحُكَّامُ فِي صُوَرٍ أَتَتْ … مَنْظُومَةً تَحْكِي عُقُودَ جَوَاهِرِ
عَدَمُ الْوَلِيِّ وَفَقْدُهُ وَنِكَاحُهُ … وَكَذَاكَ غَيْبَتُهُ مَسَافَةَ قَاصِرِ
وَكَذَاكَ إغْمَاءٌ وَحَبْسٌ مَانِعٌ … أَمَةً لِمَحْجُورٍ تَوَارِي الْقَادِرِ

إحْرَامُهُ وَتَعَزُّزٌ مَعَ عَضْلِهِ … إسْلَامُ أُمِّ الْفَرْعِ وَهِيَ لِكَافِرِ

https://drive.google.com/file/d/1ioFmqWKbW-YrUF4gtNEJrLM8r_wf4IpQ/view?usp=drivesdk

OTORITAS WALI HAKIM

1. الاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع – (ج 2 / ص 155)
والأوجه إطلاق المتن لأن الحاكم يزوج للضرورة وقضاؤه نافذ أمام الإمام الأعظم فلا يقدح فسقه لأنه لا ينعزل به فيزوج بناته وبنات غيره بالولاية العامة تفخيما لشأنه فعليه إنما يزوج بناته إذا لم يكن لهن ولي غيره كبنات غيره

Menurut pendapat Awjah, otoritas hakim dalam mengawinkan perempuan itu bersifat dhorurot, kekuasaannya sebagai kepanjangan tangan dari Imam a’dhom (presiden), sehingga ia tidak cacat hukum hanya karena berbuat fasiq dan bisa dicopot kekuasaanya. Ia boleh mengawinkan anaknya sendiri atau anak orang lain, karena kekuasaanya itu bersifat umum, ia boleh mengawinkan anak orang lain apabila tidak ada wali dari kerabat yang bisa mengawinkannya.

2. تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 30 / ص 26)
( وَلَوْ غَابَ الْأَقْرَبُ إلَى مَرْحَلَتَيْنِ ) أَوْ أَكْثَرَ وَلَمْ يُحْكَمْ بِمَوْتِهِ وَلَا وَكَّلَ مَنْ يُزَوِّجُ مُوَلِّيَتَهُ إنْ خُطِبَتْ فِي غَيْبَتِهِ ( زَوَّجَ السُّلْطَانُ ) لَا الْأَبْعَدُ وَإِنْ طَالَتْ غَيْبَتُهُ وَجُهِلَ مَحَلُّهُ وَحَيَاتُهُ لِبَقَاءِ أَهْلِيَّةِ الْغَائِبِ وَالْأَصْلُ إبْقَاؤُهَا وَالْأَوْلَى أَنْ يَأْذَنَ لِلْأَبْعَدِ أَوْ يَسْتَأْذِنَهُ لِيَخْرُجَ مِنْ الْخِلَافِ.

Apabila wali mempelai perempuan yang terdekat sedang pergi pada radius dua marhalah (80 Km) atau lebih, sedang ia belum meninggal dunia atau tidak menyerahkan pernikahan puterinya yang telah dilamar kepada orang lain, maka hakim boleh menikahkanya. Sedangkan wali yang jauh (ab’ad) maka tidak diperbolehkan mengawinkannya, meskipun wali aqrob (yang terdekat) berada di tempat yang sangat jauh dan tidak diketahui tempat tinggalnya dan apakah ia masih hidup atau tidak. Demikian, karena yang berhak menikahkan adalah hakim (pihak KUA) dan hak bagi wali aqrob masih belum hilang. Namun demikian, yang lebih utama hendaklah hakim meminta izin (konfirmasi) kepada wali ab’ad sebagai solusi dari khilaf ulama’ yang mewajibkan pensyaratan meminta izin.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N056. SAUDARA RADHA’AH (SEPERSUSUAN) SERTA HAK-HAKNYA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz

Mohon penjelasannya mengenai saudara Radha’ serta hak-haknya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

فَصْلٌ : فِي الرَّضَاعِ هُوَ بِفَتْحِ الرَّاءِ وَيَجُوزُ كَسْرُهَا وَإِثْبَاتُ التَّاءِ مَعَهُمَا لُغَةً اسْمٌ لِمَصِّ الثَّدْيِ وَشُرْبِ لَبَنِهِ وَشَرْعًا اسْمٌ لِحُصُولِ لَبَنِ امْرَأَةٍ أَوْ مَا حَصَلَ مِنْهُ فِي مَعِدَةِ طِفْلٍ أَوْ دِمَاغِهِ

…..radha’ menurut syara’ yaitu berhasil masuknya air susu seorang perempuan ke dalam perut besar anak kecil ……..

وَأَرْكَانُهُ ثَلَاثَةٌ : مُرْضِعٌ وَرَضِيعٌ وَلَبَنٌ

Dalam hadits nabi memang disebutkan bahwa anak susuan itu menjadi mahram sebagaimana mahram-nya anak nasab (kandung).

يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ

“diharamkan karena sebab penyusuan apa-apa yang diharamkan karena nasab” (Muttafaq ‘Alayh)

maka ketika ada seorang wanita yang menyusui seorang anak, amak secara otomatis anak tersebut menjadi mahramnya layaknya ibu, termasuk suaminya juga menjadi mahram anak susuan itu layaknya ayah kandung yang terlarang untuk meninkah.

Jika wanita penyusu itu punya anak kandung, maka status anak kandungnya pun menjadi mahramdengan anak susuannya tersebut, boleh bersentuhan jika memang berbeda jenis kelamin dan juga boleh berkholwat, akan tetapi haram untuk dinikahi karena statusnya adalah mahram.

Mewarisi Atau Tidak?

Kemudian muncul pertanyaan, apakah mereka (anak susuan) itu selain menjadi mahram, mereka juga mendapatkan waris sebagaimana anak atau saudara kandung lainnya?

Jawabannya jelas tidak! menyusui itu hanya merubah status menjadi mahram, tapi tidak memasukkan ke dalam jajaran ahli waris yang akan mewariskan nantinya ketika ada salah satu kerabat meninggal.

Karena sebab-sebab waris itu ada 3:

[1] Pernikahan (Suami-Istri),

[2] Nasab (keturunan),

[3] Perbudakan,

Dan penyusuan tidak termasuk dalam 3 tersebut. Yang berubah setelah penyusuan itu ialah hanya status ke-mahram-an saja, tidak untuk yang lainnya.

Imam Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim (10/19) menjelaskan:

وأجمعت الأمة على ثبوتها (الحرمة) بين الرضيع والمرضعة وأنه يصير ابنها يحرم عليه نكاحها أبدا ويحل له النظر اليها والخلوة بها والمسافرة ولا يترتب عليه أحكام الأمومة من كل وجه فلا يتوارثان ولا يجب على واحد منهما نفقة الآخر ولا يعتق عليه بالملك ولا ترد شهادته لها …….. فهما كالأجنبيين في هذه الأحكام

“Umat ini telah ber’ijma’ atas ke-mahram-an antara yang menyusui dan disusui, dan ia menjadi anaknya yang haram dinikahi selamanya, dan ia boleh melihat kepadanya (auratnya) dan berkhalwat dengannya serta berpergian bersamanya. Dan tidak semua hukum per-ibu-an berlaku (akibat susuan), seperti bahwa ia tidak mewarisi satu sama lain, dan tidak wajib saling menafkahi, dan tidak membebaskan perbudakannya, dan juga tidak tertolak kesaksian keduanya untuk satu sama lain…..mereka dalam hukum-hukum ini seperti 2 orang asing” .

Jadi memang seorang anak susuan tidak punya jatah warisan dari ibu atau babapk susuannya, jika salah satu dari keduanya meninggal anak susuan tersebut kedudukannya bukanlah sebagai ahli waris. Karena memang susuan itu hanya menyebabkan kemahraman saja, tidak menjadikannya sebagai ahli waris.

Wallahu a’lam bishshawab..

N055. HUKUM MEMBAYANGKAN WANITA LAIN DIWAKTU JIMAK

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana hukumnya melakukan jimak sambil membayangkan wanita lain?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمةالله وبركاته

Ulama melarang dan mengharamkan ketika pasangan suami istri sedang bercinta. Suami membayangkan wanita lain, atau istri membayangkan pria lain.

Ibnul Hajj al Maliki (w. 737 H) mengatakan,

من هذه الخصلة القبيحة التي عمت بها البلوى في الغالب، وهي أن الرجل إذا رأى امرأة أعجبته، وأتى أهله جعل بين عينيه تلك المرأة التي رآها، وهذا نوع من الزنا

”Termasuk perbuatan tercela yang merebak di masyarakat pada umumnya adalah seorang lelaki melihat seorang wanita yang menarik hatinya, kemudian lelaki itu mendatangi istrinya (jima’), dia membayangkan wanita yang tadi dilihatnya berada di hadapannya maka ini termasuk zina.

Kemudian Ibnul Hajj menyebutkan beberapa contoh. Selanjutnya beliau menegaskan,

وما ذكر لا يختص بالرجل وحده بل المرأة داخلة فيه بل هي أشد؛ لأن الغالب عليها في هذا الزمان الخروج أو النظر من الطاق فإذا رأت من يعجبها تعلق بخاطرها، فإذا كانت عند الاجتماع بزوجها جعلت تلك الصورة التي رأتها بين عينيها، فيكون كل واحد منهما في معنى الزاني نسأل الله السلامة بمنه

Keterangan ini tidak hanya untuk kaum lelaki saja akan tetapi juga untuk para wanita bahkan lebih sangar lagi. Karena yang banyak terjadi pada wanita di zaman ini keluar rumah dan memandang sekitarnya. Apabila seorang wanita melihat seorang laki-laki yang menarik perhatiannya, wajahnya bersemayam dalam hatinya. Ketika dia berjima’ dengan suaminya, dia membayangkan lelaki yang dilihatnya di depan matanya. Dan keduanya termasuk berzina.. kita meminta perlindungan kepada Allah… (al-Madkhal Ibnul Haj, 2/195)

قرة العيون شرح نظام إبن يمون فى النكاح الشرعي وآدابه .ص ٢.٢-٢.٣
أخبر رحمه الله :أن الزوج يحرم عليه أن يأتي زوجته ويجعل بين عينيه غيرها لأن ذلك نوع من الزنا قال فى المدخل وليحذرمماعمت به البلوى.وذلك أن الرجل إذا رآى امرأة وأتى أهله جعل بين عينيه تلك المرأة التى رآها.وهذانوع من الزنا وقد قال العلماء من أخذ كوزماء بارد فشربه وصور بين عينيه أنه خمرٌ صارذلك الماء عليه حراما.والمرأة كالرجل أو أشد ..اهى.

“Nadhim rahimahullah telah memberi tahu (mengabarkan). Bahwa sesungguhnya haram atas suami ketika menjimak istrinya ia membayangkan diantara kedua matanya orang perempuan lain. Karena keadaan yang sedemian itu termasuk sebagian dari zina.

Berkata: Pengarang kitab “Madkhal” didalam kitab madkhal. Dan takutilah pada sesuatu yang dapat menjadikan keumuman balwa ( cobaan ). Dan keumuman balwa itu sesungguhnya seorang lelaki manakala melihat seorang perempuan lain kemudian ia datang pada istrinya (Jima’) dan ia membayangkan orang perempuan yang telah dilihat itu diantara kedua matanya. Dan ini adalah bagian dari zina. Dan sungguh para Ulama’ berkata: Barang siapa yang mengambil segelas air yang dingin maka ia minum sementara ia menggambarkan/ membayangkan (ketika minum) diantara kedua matanya bahwa sesungguhnya itu adalah khamr, maka air itu menjadi haram atas dia. Dan seorang perempuan sama saja seperti orang laki-laki bahkan melebihi laki2.

والله أعلم بالصواب

N054. WAKTU YANG UTAMA UNTUK MELAKSANAKAN PERNIKAHAN (WALIMAH)

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Deskripsi masalah : Pernikahan(nikah) atau perkawinan adalah merupakan sunnatullah sejak Nabi Adam sampai sekarang ini, namun tentu terdapat hari dan tanggal juga bulan yang utama untuk melaksanakan akad pernikahan/ perkawinan, mengingat dalam mengarungi rumah tangga (berkeluarga) tidak hanya untuk sebentar melaikan untuk selamanya demi tujuan keluarga yang ASMARA (Assakinah Mawaddah & Rahmah) .

Pertanyaanya:
Pada hari/ tanggal/ bulan apa yang wajar dan utama untuk melaksanakan pernikahan?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

PALING UTAMANYA PROSESI PERNIKAHAN ADALAH HARI JUMAT PAGI DI BULAN SYAWAL DAN SEKALIGUS MENJALANI RITUAL ‘BELAH DUREN’ JUGA DI DALAMNYA

وأن يكون العقد في المسجد ويوم الجمعة وأول النهار وفي شوال وأن يدخل فيه أيضا

( قوله ويوم الجمعة) أي وأن يكون في يوم الجمعة لأنه أشرف الأيام وسيدها وقوله أول النهار أي وأن يكون في أول النهار لخبر اللهم بارك لأمتي في بكورها حسنه الترمذي (قوله وفي شوال ) أي ويسن أن يكون العقد في شوال وقوله وأن يدخل فيه أي ويسن أن يدخل على زوجته في شوال أيضا والدليل عليه وعلى ما قبله خبر عائشة رضي الله عنها قالت تزوجني رسول الله صلى الله عليه وسلم في شوال ودخل فيه وأي نسائه كان أحظى عنده مني وفيه رد على من كره ذلك

Hendaknya akad nikah dilaksanakan di masjid, di hari jumat, di permulaan hari (dini hari), di bulan syawal dan menjalani dukhul (belah duren) juga di dalamnya. (Keterangan di hari jumat) artinya hendaknya akad nikah diselenggarakan di hari jumat karena ia adalah lebih utama dan pimpinan semua hari. (Keterangan di permulaan hari) artinya hendaknya akad nikah diselenggarakan di awal hari berdasarkan hadits “Ya Allah berkahilah umatku dipagi harinya” (Dihasankan oleh at-Tirmidzi).

(Keterangan di bulan syawal) artinya disunahkan akad nikah diselenggarakan pada bulan syawal. (Keterangan menjalani dukhul) artinya di sunahkan mendukhul (belah duren) terhadap istrinya juga di bulan syawal, dasar adalah hadits riwayat ‘Aisyah ra. “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menikahi dan mendukhul diriku dibulan syawal, dan mana antara istri-istri beliau yang lebih utama ketimbang diriku ?”. Hal ini sekaligus menepis pendapat orang yang membenci pelaksanaan akad nikah pada masa-masa tersebut. [I’aanah at-Thoolibiin III/273 ]

Pelaksanaan pernikahan/perkawinan (akad nikah) yang disunnatkan dan utama adalah di bulan Syawal dan juga bulan ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya.

Adapun harinya adalah: Hari Ahad sedangkan tanggalnya pilih selain tanggal berikut: Tanggal 3-5-13- 16-21-24-25 disetiap bulan. Kalau dibulan Syawal lebih utama di awal bulan dibandingkan di akhir bulan dengan tujuan selain agar keluarganya sakinah mawaddah warohmah juga anaknya/ keturunannya baik (sholeh/sholehah).

Referensi :

قرة العيون :
فى شرح نظم إبن يمون فى النكاح الشرعي وآدابه :ص ٧٤-٨٣
وذكره فى الجامع الصغير. والثالث من كل شهر والخامس من كل شهر والثالث عشر من كل شهر والسادس عشر من كل شهروالحادى وعشرين من كل شهر والرابع وعشرين من كل شهر فهذه الأيام الثمانية ينبغي للمرء أن يتوقاها فى الأمور المهمة كالنكاح والسفر وحفرالأبار وغرس الشجر نحو ذلك

ثم أشار إلى ماهو الأفضل فى البناء بقوله، وفضّلن غرة الشهر فقد فضّل فى الأيام،قل يوم الأحد أخبر رحمه الله أن البناء فى أول الشهر أفضل من آخره لمايرجى من نجابة الولد المكنون عند زيادة القمر،وكذلك الغرس فى آخره كماقال القزينى، ويستحب أن يكون فى شوال لحديث عائشة رضى الله عنها قالت: تزوجني رسول الله وبنى بي فى شوال فأي نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم كانت أحظى عنده منى ؟ وكانت تستحب أن تدخل نساؤها فى شوال وكان صلى الله عليه وسلم ويستحب النكاح فى رمضان.

Dari ibaroh diatas dapat disimpulkan bahwa pada bulan Syawal, bulan ramadhan sunnah melakukan pernikahan di awal bulan lebih utama dari pada di akhir bulan selain tanggal yang telah tertera diatas.

والله أعلم بالصواب