Arsip Kategori: Munakahat

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Pernikahan.

N004 PERNIKAHAN DAN HAK WALI ORANG KAFIR SETELAH MASUK ISLAM

PERTANYAAN :

Assalamualaikim wr. wb..

Deskripsi,
Ada orang kafir masuk islam. dan mempunyai anak perempuan.
A. ada hakkah/ bolehkah dia menjadi wali dalam pernikahan anaknya
B. Bagaimna status pernikahan dengan istrinya apa harus menikah lagi dengan istrinya mengingat waktu menikah belum masuk islam.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

A. Jika nikahnya dihukumi sah maka ayah kandungnya berhak menjadi walinya.

B. Para ulama telah ijma’ (sepakat) bahwa suami isteri kafir lalu masuk Islam secara bersama dalam satu waktu maka pernikahannya sah selama tidak ada hubungan nasab (keturunan) atau sepersusuan.

Di zaman Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sejumlah orang masuk Islam beserta isteri-isteri mereka dan mereka meneruskan pernikahan mereka. Apabila ada suami istri yang kemudian salah satu masuk Islam sementara yang lain masih beragama sebelumnya dan telah terjadi hubungan badan, maka (ketika salah satu masuk Islam) sang suami tidak lagi boleh melakukan hubungan badan dengan istrinya serta nikahnya menjadi terputus dan menggantung selama masa iddah.

Masa iddahnya sama dengan iddah wanita yang ditalak. Jika si istri atau si suami menyusul masuk islam sebelum masa iddah selesai maka status pernikahannnya tidak batal (tidak perlu nikah ulang). Namun jika dia baru menyusul masuk islam setelah masa iddah selesai maka ikatan pernikahan telah putus dan harus mengulang nikah yang baru.

REFERENSI :

– Al Mausu’ah al Fiqhiyyah juz 41 hal. 319 :

فذهب جمهور الفقهاء – الحنفية والشافعية على الصحيح والحنابلة وقول عند المالكية – إلى أن نكاح الكفار غير المرتدين بعضهم لبعض صحيح

– Mughniy al Muhtaj juz 4 hal. 326 :

ونكاح الكفار صحيح على الصحيح) لقوله تعالى: {وقالت امرأت فرعون} [القصص: 9] [القصص] {وامرأته حمالة الحطب} [المسد: 4] [المسد] ، ولحديث غيلان وغيره ممن أسلم وتحته أكثر من أربع نسوة فأمره – صلى الله عليه وسلم – بالإمساك، ولم يسأل عن شرائط النكاح، فلا يجب البحث عن شرائط أنكحتهم فإنه – صلى الله عليه وسلم – أقرهم عليها، وهو – صلى الله عليه وسلم – لا يقر أحدا على باطل، ولأنهم لو ترافعوا إلينا لم نبطله قطعا،

ولو أسلموا أقررناه (وقيل فاسد) لعدم مراعاتهم الشروط، لكن لا يفرق بينهم لو ترافعوا إلينا رعاية للعهد والذمة، ونقرهم بعد الإسلام رخصة وخشية من التنفير (وقيل) موقوف (إن أسلم وقرر تبينا صحته، وإلا فلا) أي وإن لم يقرر تبينا فساده،

واعترض على المصنف في تعبيره على القول الأول بالصحة، وعبارة الروضة وأصلها محكوم بصحته. قال السبكي: ونعما هي، والمختار عندي فيها أنها إن وقعت على حكم وفق الشرع فصحيحة وإلا فمحكوم لها بالصحة إن اتصلت بالإسلام رخصة، وعفوا من الله تعالى، وما كان مستجمعا لشروط الإسلام فهو صحيح ولا أرى أن فيه خلافا

– Al Umm juz 5 hal. 48 :

إذا كان الزوجان مشركين وثنيين أو مجوسيين عربيين أو أعجميين من غير بني إسرائيل ودانا دين اليهود والنصارى أو أي دين دانا من الشرك إذا لم يكونا من بني إسرائيل أو يدينان دين اليهود والنصارى فأسلم أحد الزوجين قبل الآخر وقد دخل الزوج بالمرأة فلا يحل للزوج الوطء والنكاح موقوف على العدة فإن أسلم المتخلف عن الإسلام منهما قبل انقضاء العدة فالنكاح ثابت وإن لم يسلم حتى تنقضي العدة فالعصمة منقطعة بينهما وانقطاعها فسخ بلا طلاق وتنكح المرأة من ساعتها من شاءت ويتزوج أختها وأربعا سواها وعدتها عدة المطلقة

Wallahu a’lamu bisshowab..

N003. PERKAWINAN BEDA AGAMA

PERTANYAAN :

Assalamu Alaikum Ustadz..

Saya mendengar dari seseorang bahwa perkawinan lain agama noleh asalkan si mempelai Laki-lakinya beragama islam.

Apakah Hal Itu Dibenarkan Secara Syariat? Mohon Refrenshinya..

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

A. NIKAH ANTARA MUSLIM DAN KAFIR MUSYRIK

Allah ta’ala berfirman:

) ولا تنكحوا المشركات حتى يؤمن ولأمة مؤمنة خير من مشركة ولو أعجبتكم ولا تنكحوا المشركين حتى يؤمنوا ولعبد مؤمن خير من مشرك ولو أعجبكم أولئك يدعون إلى النار والله يدعو إلى الجنة والمغفرة بإذنه ويبين ءاياته للناس لعلهم يتذكرون( (سورة البقرة: 221)

Maknanya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (Q.S. al Baqarah:221)

Berdasarkan ayat ini dan dalil-dalil yang lain, para ulama menyepakati (ijma’) keharaman pernikahan antara seorang laki-laki atau perempuan muslim dengan orang-orang kafir musyrik laki-laki maupun perempuan.

B. NIKAH ANTARA LELAKI MUSLIM DENGAN PEREMPUAN AHLI KITAB.

Allah ta’ala berfirman:

) اليوم أحل لكم الطيبات وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم وطعامكم حل لهم والمحصنات من المؤمنات والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم إذا ءاتيتموهن أجورهن محصنين غير مسافحين ولا متخذي أخدان ومن يكفر بالإيمان فقد حبط عمله وهو في الآخرة من الخاسرين( (سورة المائدة: 5)

Maknanya: “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang ahli kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi “. (Q.S. al Ma-idah:5).

Berdasarkan ayat ini dan dalil-dalil yang lain, mayoritas para ulama berpendapat bolehnya pernikahan antara seorang laki-laki muslim dengan perempuan Ahli Kitab, yahudi dan nasrani saja. Hanya saja menurut Imam Syafi’i Perempuan Ahli Kitab yang dimaksud (yang boleh dinikahi) adalah mereka yang memang memiliki nenek moyang yahudi sebelum diutusnya Nabi Isa dan yang memiliki nenek moyang nasrani sebelum diutusnya Nabi Muhammad. Sebagian ulama melarang lelaki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab karena memang mengharamkannya dan sebagian lagi melarang dalam artian menganjurkan dan menasehatkan (Min Bab an-Nashihah wa at-Taujiih wa al Irsyad) agar tidak melakukan hal itu lebih karena alasan kemaslahatan. Mereka menganggap pernikahan semacam ini sedikit banyak akan membawa bahaya dan yang lebih besar maslahatnya adalah menghindari model pernikahan semacam ini.

Pernikahan dengan perempuan Ahli Kitab ini dilakukan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, di antaranya: Utsman ibn ‘Affan menikah dengan Ibnatul Farafishah al Kalabiyyah, seorang nasrani kemudian masuk Islam. Thalhah ibn Ubaidillah menikahi perempuan dari Bani Kulayb nasrani atau yahudi. Hudzaifah ibn al Yaman menikahi seorang perempuan yahudi.

ومن دخل في دين اليهود والنصارى بعد التبديل لا يجوز للمسلم أن ينكح حرائرهم ولا أن يطأ إماءهم بملك اليمين لانهم دخلوا في دين باطل فهم كمن ارتد من المسلمين

Pemeluk agama yahudi dan Nasrani setelah terjadinya perubahan, maka lelaki muslim tidak boleh menikahi wanita2 merdeka dan bersetubuh dengan budak2 mereka karena mereka telah masuk dalam agama yamg bathil seperti hukumnya orang muslim yang murtad. [ AlMuhaddzab II/44 ].

Adalah orang-orang ahli kitab yang berperilaku lurus, konsekwen dengan ajarannya yang kemudian beriman dan membenarkan Nabi Muhammad SAW.

{مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ} من آمن مع النبي صلى الله عليه وسلم. وقال ابن إسحاق عن ابن عباس لما أسلم عبدالله بن سلام ، وثعلبة بن سعية ، وأسيد بن سعيه ، وأسيد بن عبيد ، ومن أسلم من يهود ؛ فآمنوا وصدقوا ورغبوا في الإسلام ورسخوا فيه ، قالت أحبار يهود وأهل الكفر منهم : ما آمن بمحمد ولا تبعه إلا شرارنا ، ولو كانوا من خيارنا ما تركوا دين آبائهم وذهبوا إلى غيره ؛ فأنزل الله عز وجل في ذلك من قولهم : {لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ} إلى قوله : {وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ} . وقال الأخفش : التقدير من أهل الكتاب ذو أمة ، أي ذو طريقة حسنة.

“Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).(QS. 3:113)Ialah orang-orang ahli kitab yang kemudian beriman pada Nabi Muhammad SAW.Ibn Ishaq dari Ibn Abbas berkata “Saat Abdullah Bin Salama’yah, Usaid Bin ‘Ubaid dan orang-orang yahudi yang kemudian beriman, para pendeta yahudi dan ahli Kufur mereka berkata “Tidak beriman dan mengikuti agama Muhammad kecuali orang-orang rendahan dari kami, bila mereka orang-orang pilihan kami niscaya mereka tidak meninggalkan agama moyang-moyang mereka dan berpaling pada agama lainnya, kemudian Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).( QS. 3:113) sampai pada ayat “mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.(QS. . 3:114).

Oleh karena itu al-Akhfasy berkata “di antara Ahli Kitab itu ada golongan umat yakni golongan yang memiliki perilaku lurus”. [ Al-Jaami’ Li Ahkaam al-Quraan IV/175 ].

وقال عطاء: “ليسوا سواء من أهل الكتاب أمةٌ قائمة” الآية يريد: أربعين رجلا من أهل نجران من العرب واثنين وثلاثين من الحبشة وثمانية من الروم كانوا على دين عيسى وصدّقوا محمدًا صلى الله عليه وسلم

“Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus”, Yang dikehendaki adalah 40 laki-laki dari Najran, 32 dari Habasyah dan 8 orang dari negeri Rum, adalah mereka berada pada agama nabi Isa As, dan membenarkan keberadaan Muhammad SAW. [ Tafsiir al-Baghaawy II/93 ].

{ من أهل الكتاب أمة قائمة } استئناف لبيان نفي الاستواء والقائمة المستقيمة العادلة من أقمت العود فقام وهم الذين أسلموا منهم

“Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus”. Yang dimaksud adalah orang-orang yang kemudian memeluk agama islam dari kalangan ahli kitab. [ Tafsiir al-Baedhawy I/80 ].

TAFSIR TENTANG PENGERTIAN AHLI KITAB
الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آَتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (QS. 5:5).
لما ذكر تعالى ما حرمه على عباده المؤمنين من الخبائث، وما أحله لهم من الطيبات

 

Setelah Allah Taala menjelaskan tentang hal-hal yang di halalkan dan di haramkan bagi orang2 Mukmin (lihat ayat sebelumnya) kemudian Allah menjelaskan tentang makanan dan wanita-wanita yang halal bagi orang2 mukmin
Tafsiir Ibnu Katsiir III/39
Ada dua POINT penting dalam bahasan ayat ini :
 
يريد ذبائح اليهود والنصارى ومن دخل في دينهم من سائر الأمم قبل مبعث النبي محمد صلى الله عليه وسلم حلال لكم، فأما من دخل في دينهم بعد مبعث محمد صلى الله عليه وسلم فلا تحل ذبيحته
Tafsir Baghowi QS Almaidah ayat 5
 
وقوله تعالى : ( وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم ( يعني وذبائح أهل الكتاب حل لكم وهم اليهود والنصارى ومن دخل في دينهم من سائر الأمم قبل مبعث النبي ( صلى الله عليه وسلم ) .
فأما من دخل في دينهم بعد مبعث النبي ( صلى الله عليه وسلم ) وهم منتصروا العرب من بني تغلب فلا تحل ذبيحته.
روي عن علي بن أبي طالب قال : لا تأكل من ذبائح نصارى
العرب بني تغلب فإنهم لم يتمسكوا بشيء من النصرانية إلا بشرب الخمر.
وبه قال ابن مسعود.
 
ومذهب الشافعي : أن من دخل في دين أهل الكتاب بعد نزول القرآن , فإنه لا تحل ذبيحته.
 
1. Yang dimaksud disini adalah daging semebelihan orang2 Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani dan orang2 yang masuk agama mereka) dihalalkan bagi orang2 mukmin saat sebelum terutusnya Nabi Muhammad SAW, sedangkan daging semebelihanorang2 Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani dan orang2 yang masuk agama mereka) setelah di utusnya Nabi Muhammad menjadi Nabi maka tidak halal
Tafsiir Khozin II/14
2. Point yang kedua ini masih berhubungan dengan pertanyaan
ومن دخل في دين اليهود والنصارى بعد التبديل لا يجوز للمسلم أن ينكح حرائرهم ولا أن يطأ إماءهم بملك اليمين لانهم دخلوا في دين باطل فهم كمن ارتد من المسلمين
 
Pemeluk agama yahudi dan Nasrani setelah terjadinya perubahan, maka lelaki muslim tidak boleh menikahi wanita2 merdeka dan bersetubuh dengan budak2 mereka karena mereka telah masuk dalam agama yamg bathil seperti hukumnya orang muslim yang murtad.
AlMuhaddzab II/44
 
فَصْلٌ : فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَهْلُ كِتَابٍ يَحِلُّ نِكَاحُ حَرَائِرِهِمْ فَهُمْ ضَرْبَانِ : بَنُو إِسْرَائِيلَ ، وَغَيْرُ بَنِي إِسْرَائِيلَ .
فَأَمَّا بَنُو إِسْرَائِيلَ : وَهُوَ يَعْقُوبُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ ، فَجَمِيعُ بَنِيهِ الَّذِينَ دَخَلُوا فِي دِينِ مُوسَى حِينَ دَعَاهُمْ ، دَخَلَ مِنْهُمْ فِي دِينِ عِيسَى مَنْ دَخَلَ مِنْهُمْ ، فَقَدْ كَانُوا عَلَى دِينِ حَقٍّ دَخَلُوا فِيهِ قَبْلَ تَبْدِيلِهِ ، فَيَجُوزُ إِقْرَارُهُمْ بِالْجِزْيَةِ ، وَأَكْلُ ذَبَائِحِهِمْ وَنِكَاحُ حَرَائِرِهِمْ .
وَأَمَّا غَيْرُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِمَّنْ دَخَلَ فِي الْيَهُودِيَّةِ مِنَ النَّصْرَانِيَّةِ مِنَ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ وَالتُّرْكِ ، فَهُمْ ثَلَاثَةُ أَصْنَافٍ : صِنْفٌ دَخَلُوا فِيهِ قَبْلَ التَّبْدِيلِ كَالرُّومِ حِينَ دَخَلُوا النَّصْرَانِيَّةَ ، فَهَؤُلَاءِ كَبَنِي إِسْرَائِيلَ فِي إِقْرَارِهِمْ بِالْجِزْيَةِ وَأَكْلِ ذَبَائِحِهِمْ وَنِكَاحِ حَرَائِرِهِمْ : لِأَنَّ النَّبِيَّ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} كَتَبَ إِلَى قَيْصَرَ الرُّومِ كِتَابًا ، الجزء التاسع < 223 > قَالَ فِيهِ : قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ [ آلِ عِمْرَانَ : 64 ] الْآيَةَ ، فَجَعَلَهُمْ أَهْلَ الْكِتَابِ : وَلِأَنَّ الْحُرْمَةَ لِلدِّينِ وَالْكِتَابِ لَا لِلنَّسَبِ : فَلِذَلِكَ مَا اسْتَوَى حُكْمُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَغَيْرِهِمْ فِيهِ .
وَالصِّنْفُ الثَّانِي : أَنْ يَكُونُوا قَدْ دَخَلُوا فِيهِ بَعْدَ التَّبْدِيلِ ، فَهَؤُلَاءِ لَمْ يَكُونُوا عَلَى حَقٍّ ، وَلَا تَمَسَّكُوا بِكِتَابٍ صَحِيحٍ ، فَصَارُوا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ حُرْمَةٌ كَعَبَدَةِ
الْأَوْثَانِ فِي أَنْ لَا تُقْبَلَ لَهُمْ جِزْيَةٌ ، وَلَا يُؤْكَلُ لَهُمْ ذَبِيحَةٌ ، وَلَا تُنْكَحُ مِنْهُمُ امْرَأَةٌ .
وَالصِّنْفُ الثَّالِثُ : أَنْ يُشَكَّ فِيهِمْ هَلْ دَخَلُوا فِيهِ قَبْلَ التَّبْدِيلِ أَوْ بَعْدَهُ كَنَصَارَى الْعَرَبِ ، كَوَجٍّ وَفِهْرٍ وَتَغْلِبَ ، فَهَؤُلَاءِ شَكَّ فِيهِمْ عُمَرُ فَشَاوَرَ فِيهِمُ الصَّحَابَةَ ، فَاتَّفَقُوا عَلَى إِقْرَارِهِمْ بِالْجِزْيَةِ حَقْنًا لِدِمَائِهِمْ : وَأَنْ لَا تُؤْكَلَ ذَبَائِحُهُمْ وَلَا تُنْكَحَ نِسَاؤُهُمْ لِأَنَّ الدِّمَاءَ مَحْقُونَةٌ ، فَلَا تُبَاحُ بِالشَّكِّ وَالْفُرُوجَ مَحْظُورَةٌ فَلَا تُسْتَبَاحُ بِالشَّكِّ .
فَهَذَا حُكْمُ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى .
 
Ahli Kitab terbagi atas :
1. BANI ISRAEL
Adalah mereka yang keturunan Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim AS. setiap keturunannya yang masuk di Agama Nabi musa as masuk juga sebagiannya di agama nabi Isa As (kala itu), mereka ada dalam agama yang benar (diakui hak2 mereka dengan penarikan pajak sebagai jaminan keselamatanya dan hukum menikahi dan makan daging sembelihannya halal)
2. SELAIN BANI ISRAEL
Mereka terbagi atas :
A. Sekelompok orang yang yang masuk nasrani sebelum terjadinya perubahan kitab, seperti orang RUM, hukumnya seperti orang2 Bani israel.
B. Sekelompok orang yang masuk Nasrani setelah terjadinya perubahan, mereka tidak berada pada kebenaran dan tidak berpegang pada kitab yang akurat maka tidak diakui hak2 mereka dengan penarikan pajak sebagai jaminan keselamatanya dan hukum menikahi dan makan daging sembelihannya tidak boleh
C. Sekelompok orang yang diragukan apakah dia masuk nasrani setelah terjadi perubahan/belum seperti orang2 nasrani arab, bani wajj, fihr, dan tsa’lab maka sahabat umar ragu2 memutusinya, kemudian bermusyawarah dengan para shohabat diakui hak2 mereka dengan penarikan pajak sebagai jaminan keselamatanya tapi hukum menikahi dan makan daging sembelihannya tidak boleh.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N002. HUKUM MENGAMBIL LAMARAN KARENA BERCERAI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Ini yang sering terjdi di tempat saya. Biasanya kalau ada pernikahan dari pengantin cowok membawa lamaran seperti tempat tidur lemari dan perabotan lainnya. Tapi kalau misalnya ada perceraian lamaran tersebut di ambil lagi sama si mantan suami.

Pertanyaannya, boleh ngak lamaran tersebut diambil lagi? Karena hal ini sudah menjadi kebiasaan di tempat kami.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Mengenai kasus harta yang di berikan saat prosesi lamaran hukumnya ditafshil:

1. Tidak boleh diminta lagi atau sudah jadi milik istri sepenuhnya, apabila harta yang dibawa tersebut diberikan kepada pihak wanita dengan tujuan hibah atau sebagai mahar maka tidak boleh ditarik kembali.

2. Boleh diminta lagi, apabila harta yang dibawa tersebut diberikan kepada pihak wanita bukan termasuk bagian dari mahar atau ada niat akan diminta lagi apabila tidak jadi menikah denganya atau tidak ada niat sama sekali maka boleh diminta lagi. Kemudian apabila barang/harta tersebut rusak atau hilang maka bagi si wanita harus bertanggung jawab dengan menggantinya.

– Kitab Fatawy Fiqhiyah Imam Ibnu Hajar :

[بَابٌ فِي الصَّدَاقِ] (وَسُئِلَ) عَمَّنْ خَطَبَ امْرَأَةً وَأَجَابُوهُ فَأَعْطَاهُمْ شَيْئًا مِنْ الْمَالِ يُسَمَّى الْجِهَازَ هَلْ تَمْلِكُهُ الْمَخْطُوبَةُ أَوْ لَا بَيِّنُوا لَنَا ذَلِكَ؟

(فَأَجَابَ) بِأَنَّ الْعِبْرَةَ بِنِيَّةِ الْخَاطِبِ الدَّافِعِ فَإِنْ دَفَعَ بِنِيَّةِ الْهَدِيَّةِ مَلَكَتْهُ الْمَخْطُوبَةُ أَوْ بِنِيَّةِ حُسْبَانِهِ مِنْ الْمَهْر حُسِبَ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ أَوْ بِنِيَّةِ الرُّجُوعِ بِهِ عَلَيْهَا إذَا لَمْ يَحْصُلْ زَوَاجٌ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ نِيَّةٌ لَمْ تَمْلِكهُ وَيُرْجَعُ بِهِ عَلَيْهَا

[Bab Mahar] Imam Ibnu Hajar ditanya: “ada seorang laki-laki melamar seorang perempuan, lalu laki-laki tersebut memberikan sejumlah harta benda kepada mereka yang disebutkan sebagai persiapan (jihaz) nikah, apakah perempuan yang dilamar itu berhak memilikinya? Mohon dijelaskan!
Imam Ibnu Hajar menjawab : “sesungguhnya yang diterima adalah niat pelamar yang memberinya.
Jika ia memberinya dengan niat sebagai hadiah, maka perempuan yang dilamar berhak memilikinya, atau jika laki-laki itu beniat sebagai maskawin, maka dianggap sebagai maskawin.
Jika laki-laki itu berniat bukan sebagai maskawin atau ia berniat untuk menarik kembali jika perkawinan gagal atau ia tidak berniat apapun, maka perempuan itu tidak berhak memilikinya dan pemberian itu kembali kepada pihak laki-laki terseb

الفتاوى الكبرى لابن حجر الهيتمي ج 4 ص 111

وسئل عمن خطب امرأة وأجابوه فأعطاهم شيئاً من المال يسمى الجهاز هل تملكه المخطوبة أو لا بينوا لنا ذلك؟. فأجاب بأن العبرة بنية الخاطب الدافع فإن دفع بنية الهدية ملكته المخطوبة أو بنية حسبانه من المهر حسب منه وإن كان من غير جنسه أو بنية الرجوع به عليها إذا لم يحصل زواج أو لم يكن له نية لم تملكه ويرجع به عليها.

إعانة الطالبين ج 3 ص 269

(سئل م ر) عمن خطب امرأة وأنفق عليها ليتزوجها ولم يحصل التزوّج بها فهل لها الرجوع بما أنفقه لأجل ذلك أم لا؟.

(فأجاب) بأن له الرجوع بما أنفقه على من دفعه له سواء كان مأكلاً أم مشرباً أم ملبساً أم حلياً، وسواء رجع هو أم مجيبة أم مات أحدهما لأنه إنما أنفق لأجل تزوّجها فيرجع به إن بقي وببدله إن تلف. اهـ. ببعض تصرّف. ومحل رجوعه حيث أطلق أو قصد الهدية لأجل النكاح، فإِن قصد الهدية، لا لأجل ذلك فلا رجوع وإنما حرم التصريح بها لأنها ربما تكذب في انقضاء العدة إذا تحققت رغبته فيها لما عهد على النساء من قلة الديانة وتضييع الأمانة فإِنهن ناقصات عقل ودين.

حاشية البجرمي ج 3 ص 331

وقد سئل م ر عمن خطب امرأة وأنفق عليها ولم يتزوج بها فهل له الرجوع بما أنفقه أم لا؟ فأجاب بأن له الرجوع بما أنفقه على من دفعه له سواء كان مأكلاً أم مشرباً أم ملبساً أم حلياً، وسواء رجع هو أم مجيبه أم مات أحدهما لأنه إنما أنفق لأجل تزوجها فيرجع به إن بقي وببدله إن تلف. قوله: (من يجد مثلك) وأنا راغب فيك، وأما الكناية وهي الدلالة على الشيء بذكر لازمة فقد تفيد ما يفيده التصريح فتحرم نحو: أريد أن أنفق عليك نفقة الزوجات وأتلذذ بك، فإن حذف أتلذذ بك لم يكن تصريحاً ولا تعريضاً ح ل .

إعانةالطالبين ج 3 ص 157

(سئل م ر) عمن خطب امرأة، ثم أنفق عليها نفقة ليتزوّجها، فهل له الرجوع بما أنفقه أم لا؟.

(فأجاب) بأن له الرجوع بما أنفقه على من دفع له، سواء كان مأكولاً، أو مشروباً، أم ملبساً، أم حلواً، أم حلياً، وسواء رجع هو، أم مجيبه، أم مات أحدهما، لأنه إنما أنفقه لأجل تزوّجها، فيرجع به إن بقي، وببدله إن تلف، وظاهر أنه لا حاجة إلى التعرّض لعدم قصده الهدية لا لأجل تزوّجه بها، لأنه صورة المسألة، إذ لو قصد ذلك، أي الهدية، لا لأجل تزوّجه بها، لم يختلف في عدم الرجوع. اهـ. (قوله: ولو بعث) أي شخص (قوله: فمات المهدى إليه) أي الشخص الذي أهدي إليه (قوله: قبل وصولها) أي الهدية (قوله: بقيت على ملك المهدي) أي لما تقدّم أن الهبة بأنواعها الثلاثة لا تملك إلا بالقبض بدليل أنه لما مات النجاشي قبل وصول ما أهداه رسول الله ، ردّ له وقسمه بين زوجاته (قوله: فإن مات المهدي) أي قبل وصول ما أهداه للمهدى إليه، (وقوله: لم يكن للرسول الخ) أي لا يجوز له ذلك إلا بإذن الوارث. وعبارة الروض وشرحه.

Wallahu a’lamu bisshowab..