Arsip Kategori: Bahtsul Masail

Bahtsul Masail yang dimuat disini adalah hasil dari Bahtsul Masail yang dibahas di forum Majelis Syar’ie IKABA dan forum grup Bahtsul Masail IKABA di Media Sosial

T045. HUKUM MENGKONSUMSI TELUR BUAYA,TELUR ULAR ,TELUR ELANG DAN TELUR PENYU

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum kyai, halal apa haram hukumnya telur buaya, telur ular, telur elang, telur penyu ?

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Ta’bir Raudhah dan Tuhfah adalah untuk JALLAALAH (hewan halal yang memakan kotoran manusia dan barang-barang najis) dengan catatan dagingnya berubah dari rasanya atau warnanya atau baunya. Dan yang haram bukan dagingnya saja termasuk anggota badan lainnya dan yang keluar darinya seperti susunya, telurnya dll.

– Kitab Tuhfah:

وإذا ظهر تغير لحم جلالة ) أي طعمه أو لونه أو ريحه كما ذكره الجويني واعتمده جمع متأخرون ومن اقتصر على الأخير أراد الغالب وهي آكلة الجلة بفتح الجيم أي النجاسة كالعذرة وقول الشارح وهي التي تأكل العذرة اليابسة أخذا من الجلة بفتح الجيم لا يوافق قول القاموس والجلالة البقرة تتبع النجاسات ثم قال والجلة مثلثة البعر والبعرة ا هـ . فتقييده باليابسةوقوله أخذا إلخ يحتاج فيه السند ( حرم ) أكله كسائر أجزائها وما تولد منها كلبنها وبيضها

WA IDZAA ZHAHARA TAGHAYYURU LAHMI JALLAALATIN AIY THA’MUHUU AU LAUINUHUU AU RAIHUHUU… HARUMA AKLUHUU KASAA`IRI AJZAA`IHAA WA MAA TAWAALLADA MINHAA KALABANIHAA WA BAIDHIHAA.

Adapun ta’bir kehalalan telur buaya dsb adalah sebagaimana yang ada di bawah sendiri, yaitu i’anah 1 : 87

وكذا بيض غير مأكول ويحل أكله على الأصح ، (قوله ويحل أكله) قال فى التحفة مالم يعلم ضرره

WA KADZAA BAIDHU GHAIRI MA`KUULIN WA YAHIKLLU AKLUHUU ‘ALAL ASHAHHIQAULIHUU WA YAHILLU AKLUHUU QAALA FITTUHFATI MAA LAM YU’LAM DHARARUHUU

Begitu juga dihukumi suci telur hewan yang tidak boleh dimakan, dan halal memakannya menurut qaul ashah, ucapan mushannif dan halal memakannya, berkata Imam Ibnu Hajar dalam Tuhfah selagi tidak diketahui bahayanya.

Sebagai tambahan bisa dari Nihayatuzzain, untuk menegaskan halalnya telur buaya dan elang namun menyatakan haramnya telur ular :

فائدة: إذا فسد البـيض بحيث لا يصلح للتخلق فهو نجس، وكذا بـيض الميتة وما عدا ذلك طاهر مأكول ولو من حيوان غير مأ
كول كالحدأة والغراب والعقاب والبومة والتمساح والسلحفاة ونحوها إلا بـيض الحيات

Faidah : ketika telur telah rusak, hingga tidak bisa berkembang hidup, maka hukumnya najis, demikian pula telur hewan yang telah mati (telur bangkai). Dan selain daripada itu hukumnya suci dan bisa dimakan meskipun dari hewan yang tidak bisa dimakan seperti rajawali, gagak, elang, burung hantu, buaya, kura-kura dan semisalnya kecuali telur dari golongan ular.

– I’anatut tholibin juz 1 halaman 87 :

( قوله وكذا بيض ) معطوف على قوله وكذا بلغمأي فهو طاهر مثل المنيوقوله غير مأكول أي من حيوان طاهروعبارة الروض وشرحه والبيض المأخوذ من حيوان طاهر ولو من غير مأكول وكذا المأخوذ من ميتة إن تصلب وبزر قز ومني غير الكلب والخنزير طاهرةوخرج بما ذكر بيض الميتة غير المتصلب ومني الكلب وما بعده وشمل إطلاقه البيض إذا استحال دمااه بحذف( قوله ويحل أكله ) قال في التحفة ما لم يعلم ضرره

Semua telur hukumnya halal dimakan selama tidak membahayakan tubuh, berdasar ibaroh I’anatut tholibin di atas.

Wallaahu A’lamu bisShowaab..

D054. MENINDIK TELINGA BAYI PEREMPUAN

MENINDIK TELINGA BAYI PEREMPUAN

A. HUKUM DAN HIKMAH MENINDIK

Menindik anggota tubuh selain telinga seperti hidung, lidah, pusar dan kelopak mata semua itu dihukumi haram secara mutlak, karena tindakan ekstream melubangi anggota-anggota tubuh itu tidak dianggap sebagai berhias yang di tolelir kecuali oleh segelintir kalangan saja. Beda halnya dengan apa yang dilakukan pada telinga, menggantungkan perhiasan di telinga merupakan perhiasan wanita.

Berkenaan tindakan menindik telinga, Mayoritas Ulama merumuskan bahwa praktek penindikan telinga bayi ini diperbolehkan, karena memang praktek ini telah dilakukan oleh para wanita di zaman Rasulullah Saw tanpa adanya pengingkaran dari Beliau

صحيح البخاري ـ م م (7/ 158)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْعِيدِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلَالٌ فَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَجَعَلَتْ الْمَرْأَةُ تُلْقِي قُرْطَهَا

“bahwa Nabi Saw melakukan shalat ‘ied dua rakaat, beliau tidak mengerjakan shalat sebelum maupun sesudahnya,lalu Beliau menemui para wanita, sahabat Bilal menyertai Beliau, kemudian baginda Nabi memerintahkan mereka untuk bersedekah, hingga para wanita banyak yang melempar anting mereka.”(HR, al-Bukhori)

Dalam hadits ini Rasulullah tidak mengingkari ketika melihat para wanita yang memakai anting dan menjadikannya sebagai sedekah. Hal ini dipahami oleh para Ulama bahwa menindik telinga dan memakai perhiasan sebagai anting-anting bagi wanita hukumnya boleh .dalam hadits lain

Ibnu hajar al-Haitami dalam menyikapi riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menyebutkan bahwa menindik telinga bayi hukumnya sunnah, sebagaimna berikut

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 39 / ص 274)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّهُ عَدَّ مِنْ السُّنَّةِ فِي الصَّبِيِّ يَوْمَ السَّابِعِ أَنْ تُثْقَبَ آذَانُهُ

“dari ibnu ‘Abbas, bahwa beliaumenyebut termasuk dari kesunnahan (tindakan terhadap) bayi laki-laki di hari ketujuh kelahirannya adalah menindik telinganya”.

Beliau berkomentar; hadits yang disampaikan oleh ath-Thobraniy, dengan perawi yang terpercaya secara jelas menunjukkan bolehnya menindik bayi laki-laki, maka untuk bayi perempuan lebih utama.

& تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 39 / ص 274)

وَزَعَمَ أَنَّ تَأْخِيرَ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ مُمْتَنِعٌ لَا يُجْدِي هُنَا ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ تَأْخِيرُ ذَلِكَ إلَّا لَوْ سُئِلَ عَنْ حُكْمِ التَّثْقِيبِ أَوْ رَأَى مَنْ يَفْعَلُهُ أَوْ بَلَغَهُ ذَلِكَ فَهَذَا هُوَ وَقْتُ الْحَاجَةِ ، وَأَمَّا شَيْءٌ وَقَعَ وَانْقَضَى وَلَمْ يَعْلَمْ هَلْ فُعِلَ بَعْدُ أَوْ لَا فَلَا حَاجَةَ مَاسَّةَ لِبَيَانِهِ ، نَعَمْ خَبَرُ الطَّبَرَانِيِّ بِسَنَدٍ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّهُ عَدَّ مِنْ السُّنَّةِ فِي الصَّبِيِّ يَوْمَ السَّابِعِ أَنْ تُثْقَبَ آذَانُهُ

Diantara para Ulama yang berpendapat bolehnya menindik bayi wanita adalah al-Imam Abu Hanifah dan al-Imam Ahmad Bin Hanbal. Adapun dari golongan syafi’iyyah adalah Imam az-Zarkasyi dan Imam ‘Ali Syibramulisi, kesemuanya mengatakan diperbolehkan menindik bayi perempuan, sedangkan untuk bayi laki-laki menurut mayoritas Ulama tidak diperbolehkan secara mutlak (hanya saja Syaikh Syihabuddin ar-Ramli memperbolehkannya dalam satu pendapatnya) , mereka memberikan ‘ilat mengenai tidak diperbolehkannya menindik telinga bagi laki-laki sebagai berikut;

@ Pertama;karena dalam hadits riwayat imam Bukhori yang menjadi dalil diatas hanya menceritakan tentang perempuan saja

@ Kedua, Pada dasarnya penindikan ini bukan merupakan perhiasan yang dibutuhkan oleh seorang bayi laki-laki

@ Ketiga, Proses penindikan adalah hal yang menyakitkan.

Pada dasarnya melakukan perbuatan yang berdampak sakit itu tidak diperbolehkan, namun akan diperbolehkan untuk para wanita sebab terdapat faktor hajat (kepentingan) yang berorientasi kemashlahatan, maka rasa sakit yang dirasakan si bayi ketika proses penindikan itu ditolelir oleh syariat. Dan memang kenyataannya rasa sakit itu tergolong ringan dan pada umumnya bisa ditanggung, proses kesembuhannya pun cepat, jelas tidak ada mafsadah bagi si-bayi dalam penindikan trsebut. Bagi kaum wanita, menindik telinga memang sudah menjadi perhiasan yang dibutuhkan sejak zaman dahulu hingga sekarang, disamping menyimpan kemashlahatan tersendiri bagi bayi wanita nantinya, karena ketika mereka telah dewasa dan menikah bisa menjadikan mereka lebih menarik ketika memakai anting-anting di telinga, sehingga bisa menjadikan sang suami nantinya lebih sayang dan cinta kepada mereka. Selain itu, mengingat adanya keterangan bahwa diperbolehkan bagi seorang wali perempuan untuk menggunakan hartanya demi kepentingan putrinya dalam berhias, baik berupa pakaian atau lainnya guna menarik calon suaminya untuk segera melamarnya.

Beberapa faktor diatas tidak ditemukan pada bayi laki-laki sehingga hukum menindik telinga haram jika dilakukan pada bayi laki-laki.

Referensi:

@ Asnal Mathalib

تنبيه ) تثقيب أذن الصبية لتعليق الحلق جائز على الراجح خلافا للغزالي قال شيخنا ما كتبه الوالد هناهو الأوجه وإن وافق الغزالي على الحرمة في فتاويه

@ Mughny Muhtaj jilid 4 hal 296 cet. Dar Fikr

فائدة قال في الإحياء لا أدري رخصة في تثقيب أذن الصبية لأجل تعليق حلي الذهب أي أو نحوه فيها ، فإن ذلك جرح مؤلم ، ومثله موجب للقصاص ، فلا يجوز إلا لحاجة مهمة كالفصد والحجامة والختان .والتزين بالحلي غير مهم ، فهذا وإن كان معتادا فهو حرام ، والمنع منه واجب، والاستئجار عليه غير صحيح ، والأجرة المأخوذة عليه حرام ا هـ

فإن قيل في البخاري فجعلن يلقين من أقراطهن وخواتيمهن في حجر بلال ؟

أجيب بأن النبي صلى الله عليه وسلم أقر على التعليق لا على التثقيب ، وعند الحنابلة أن تثقيب آذان البنات للزينة جائز ويكره للصبيان ، وعند الحنفية لا بأس بتثقيب آذان الصبية لأنهم كانوا يفعلونه في الجاهلية ولم ينكر عليهم النبي صلى الله عليه وسلم .قال الحسن بن إسحاق بن راهويه ولد أبو إسحاق مثقوب الأذنين فمضى جدي إلى الفضل بن موسى فسأله عن ذلك فقال يكون ابنك رأسا إما في الخير وإما في الشر

@ Tuhfatul Muhtaj jilid 9 hal 228 Cet. dar Fikr

( فلو مات ) المولى ( بجائز من هذا ) الذي هو قطع السلعة أو الفصد أو الحجامة ، ومثلها ما في معناها ( فلا ضمان ) بدية ولا كفارة ( في الأصح ) ؛ لئلا يمتنع من ذلك فيتضرر المولى ، نعم صرح الغزالي وغيره بحرمة تثقيب أذن الصبي أو الصبية ؛ لأنه إيلام لم تدع إليه حاجة ، قال الغزالي إلا أن يثبت فيه من جهة النقل رخصة ولم تبلغنا

وكأنه أشار بذلك إلى رد ما قيل مما جرى عليه قاضي خان من الحنفية في فتاويه أنه لا بأس به ؛ لأنهم كانوا يفعلونه جاهلية ولم ينكر عليهم صلى الله عليه وسلم وفي الرعاية للحنابلة يجوز في الصبية لغرض الزينة ويكره في الصبي وأما ما في الحديث الصحيح { أن النساء أخذن

ما في آذانهن وألقينه في حجر بلال ، والنبي صلى الله عليه وسلم يراهن } فليس فيه دليل للجواز ؛لأن التثقيب سبق قبل ذلك فلم يلزم من سكوته عليه حله ، وزعم أن تأخير البيان عن وقت الحاجة ممتنع لا يجدي هنا ؛ لأنه ليس فيه تأخير ذلك إلا لو سئل عن حكم التثقيب أو رأى من يفعله أو بلغه ذلك فهذا هو وقت الحاجة ، وأما شيء وقع وانقضى ولم يعلم هل فعل بعد أو لا فلا حاجة ماسة لبيانه ، نعم خبر الطبراني بسند رجاله ثقات عن ابن عباس : أنه عد من السنة في الصبي يوم السابع أن تثقب آذانه صريح في الجواز في الصبي، فالصبية أولى ؛ لأن قول الصحابي من السنة كذا في حكم المرفوع وبهذا يتأيد ما ذكر عن قاضي خان والرعاية من حيث مطلق الحل ، ثم رأيت الزركشي استدل للجواز بما في حديث أم زرع في الصحيح ، وهو { قوله صلى الله عليه وسلم لعائشة : كنت لك كأبي زرع لأم زرع } مع قولها : أناس أي : ملأ من حلي أذني انتهى

وفيه نظر يتلقى مما ذكرناه في حديث النساء ؛ إذ بفرض دلالة الحديث على أن أذنيها كانتا مخرقتين وأنه صلى الله عليه وسلم ملأهما حليا هو محتمل إذ لم يدر من خرقهما ، وقد تقرر أن وجود الحلي فيهما لا يدل على حل ذلك التخريق السابق ، ويظهر في خرق الأنف بحلقة تعمل فيه من فضة أو ذهب أنه حرام مطلقا ؛ لأنه لا زينة في ذلك يغتفر لأجلها إلا عند فرقة قليلة ولا عبرة بها مع العرف العام بخلاف ما في الآذان فإنه زينة للنساء في كل محل

والحاصل أن الذي يتمشى على القواعد حرمة ذلك في الصبي مطلقا ؛ لأنه لا حاجة فيه يغتفر لأجلها ذلك التعذيب ، ولا نظر لما يتوهم أنه زينة في حقه ما دام صغيرا ؛ لأن الحق أنه لا زينة فيه بالنسبة إليه وبفرضه هو عرف خاص ، وهو لا يعتد به لا في الصبية لما عرف أنه زينة مطلوبة في حقهن قديما وحديثا ، وقد جوز صلى الله عليه وسلم اللعب لهن للمصلحة ، فكذا هذا ، وأيضا جوز الأئمة لوليها صرف مالها فيما يتعلق بزينتها لبسا وغيره مما يدعو الأزواج إلى خطبتها وإن ترتب عليه فوات مال لا في مقابل تقديما لمصلحتهاالمذكورة ، فكذا هنا ينبغي أن يغتفر هذا التعذيب ؛ لأجل ذلك على أنه تعذيب سهل محتمل وتبرأ منه سريعا ، فلم يكن في تجويزه لتلك المصلحة مفسدة بوجه فتأمل ذلك فإنه مهم

@ Ihya `Ulumiddin dan ittihaf Sadatil Muttaqin jilid 8 hal 128 Cet. Dar Kutub Ilmiyah

ولا أرى رخصة في تثقيب أذن الصبية لأجل تعليق حلق الذهب فيها فإن هذا جرح مؤلم ومثله موجب للقصاص فلا يجوز إلا لحاجة مهمة كالفصد والحجامة والختان والتزين بالحلق غير مهم بل في التقريط بتعليقه على الأذن وفي المخانق والأسورة كفاية عنه

فهذا وإن كان معتادا فهو حرام والمنع منه واجب والاستئجار عليه غير صحيح والأجرة المأخوذة عليه حرام إلا أن يثبت من جهة النقل فيه رخصة ولم يبلغنا إلى الآن فيه رخصة

(قوله فهو حرام والمنع منه واجب والاستئجار عليه غير صحيح والأجرة المأخوذة عليه حرام إلا أن يثبت من جهة النقل فيه رخصة ولم يبلغنا إلى الآن فيه رخصة) و المشهور ان السيدة سارة اماسحاق عليه السلام لما غضبت على هاجر ام اسماعليل عليه السلام حلفت لتقطعن من اطرافها فتثقبت اذنها وانفها وخفضتها لأجل اليمين فبقي ذلك سنة ولم يثبت ان النبي صلى الله عليه وسلم نهى عنه فهذا وجه الرخصة

@ Nihayatuz Zain hal 385 Cet. Dar Fikr

وحرم تثقيب أذن ) قال الزيادي والأوجه أن ثقب أذن الصغيرة لتعليق الحلق حرام لأنه لم تدع إليه حاجة وغرض الزينة لا يجوز بمثل هذا التعذيب هذا ما قاله الغزالي في الإحياء وأفتى بذلك الشيخ الرملي ورجح في موضع آخر الجواز وهو المعتمد كذا في تحفة الحبيب أما خرم أذن الصبي فحرم قطعا كما يحرم خرم الأنف ليجعل فيه حلقة من ذهب أو نحوه ولا فرق في ذلك بين الذكر والأنثى ولا عبرة باعتياد ذلك لبعض الناس في نسائهم

@ Hasyiah Bujairimy `ala Khatib jilid 2 hal 260 Cet. Dar Fikr

قال الشريف الرحماني : وخرق الأنف لما يجعل فيه من نحو حلقة نقد حرام مطلقا ، ولا عبرة باعتياد ذلك لبعض الناس في نسائهم وأذن الصبي كذلك ، ولا نظر لزينته بذلك دون الأنثى ، فيجوز خرق أذنها على المعتمد من إفتاءين للرملي متناقضين . وعبارة الرملي في شرح الزبد : وأما تثقيب آذان الصبية لتعليق الحلق فحرام لأنه جرح لم تدع إليه حاجة

صرح به الغزالي في الإحياء وبالغ فيه مبالغة شديدة ، قال : إلا أن ثبت فيه من جهة النقل رخصة ولم يبلغنا . وقوله : فحرام ضعيف ، وفي الرعاية في مذهب الإمام أحمد : يجوز تثقيب آذانالصبية للتزيين ويكره ثقب أذن الصبي اه بحروفه

@ Ghayatul Bayan Syarah Zubad ibnu Ruslan hal 40 Cet. Dar Ma`rifah

وأما تثقيب آذان الصبية لتعليق الحلق فحرام لأنه جرح لم تدع إليه حاجة صرح به الغزالى في الإحياء وبالغ فيه مبالغة شديدة قال إلا أن يثبت فيه من جهة النقل رخصة ولم تبلغنا وفي الرعاية في مذهب أحمد يجوزتثقيب آذان الصبية للزينة ويكره ثقب آذان الصبي وفي فتاوى قاضيخان من الحنفية أنه لا بأس بتثقيب آذان الصبية لأنهم كانوا يفعلونه في الجاهلية ولم ينكر عليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم

Wallahu a’lamu Bisshowab..

D053. APAKAH WAJIB MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN TAJDWID?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Membaca Al Qur’an adalah amalan yang agung dan banyak keutamaannya. Dalam membaca Al Qur’an dikenal ilmu tajwid. Bagaimanakah hukum ilmu tajwid ini? Apakah wajib membaca Al Qur’an dengan menerapkan kaidah-kaidah tajwid?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Definisi ilmu tajwid

Tajwid secara bahasa adalah mashdar dari jawwada-yujawwidu, yang artinya membaguskan. Sedangkan secara istilah, Imam Ibnul Jazari menjelaskan:

الإتيان بالقراءة مجودة بالألفاظ بريئة من الرداءة في النطق ومعناه انتهاء الغاية في التصحيح وبلوغ النهاية في التحسين

“tajwid adalah membaca dengan membaguskan pelafalannya, yang terhindar dari keburukan pelafalan dan keburukan maknanya, serta membaca dengan maksimal tingkat kebenarannya dan kebagusannya” (An Nasyr fil Qira’at Al ‘Asyr, 1/210).

Beliau juga menjelaskan hakekat dari ilmu tajwid,

فالتجويد هو حلية التلاوة ، وزينة القراءة ، وهو إعطاء الحروف حقوقها وترتيبها مراتبها ، ورد الحرف إلى مخرجه وأصله ، وإلحاقه بنظيره وتصحيح لفظه وتلطيف النطق به على حال صيغته ، وكمال هيئته ; من غير إسراف ولا تعسف ولا إفراط ولا تكلف

“maka tajwid itu merupakan penghias bacaan, yaitu dengan memberikan hak-haknya huruf-huruf, urutan dan tingkatan yang benar kepada setiap huruf, dan mengembalikan setiap huruf pada tempat keluarnya dan pada asalnya, dan menyesuaikan huruf-huruf tersebut pada setiap keadaannya, dan membenarkan lafadznya dan memperindah pelafalannya pada setiap konteks(hubungan kalimat, keadaan), menyempurnakan bentuknya. tanpa berlebihan, dan tanpa meremehkan” (An Nasyr fil Qira’at Al ‘Asyr, 1/212).

Hukum ilmu tajwid

Para ulama pernah ditanya, “apakah seorang Muslim boleh membaca Al Qur’an tanpa berpegangan pada kaidah-kaidah tajwid?”. Para ulama menjawab:

نعم يجوز ذلك إذا لم يلحن فيه فإن لحن فيه فالواجب عليه تعديل اللحن وأما التجويد فهو واجب، التجويد تحسين للفظ فقط وتحسين اللفظ بالقرآن لا شك أنه خير وأنه أتم في حسن القراءة بحيث نقول بل إن القرآن نزل على سبعة أحرف حتى كان كل من الناس يقرؤه بلغته إلا أنه بعد أن خيف النزاع والشقاق بين المسلمين وحد المسلمون في القراءة على لغة قريش في زمن أمير المؤمنين عثمان بن عفان رضي الله عنه وهذا من فضائله ومناقبه وحسن رعايته في خلافته أن جمع الناس على حرف واحد لئلا يحصل النزاع والخلاصة أن القراءة بالتجويد فهي واجبة ،ونقول إنما الواجب إقامة الحركات والنطق بالحروف على ما هي عليه فلا يبدل الراء لاما مثلا ولا الذال زاياً وما أشبه ذلك هذا هو الممنوع

“Ya, itu dibolehkan. Selama tidak terjadi lahn (kesalahan bacaan) di dalamnya. Jika terjadi lahn(kesalahan bacaan) maka wajib untuk memperbaiki lahn-nya(kesalahan bacaannya) tersebut. Adapun tajwid, maka hukumnya wajib. Tajwid itu untuk memperbagus pelafalan saja, dan untuk memperbagus bacaan Al Qur’an. Tidak diragukan bahwa tajwid itu baik, dan lebih sempurna dalam membaca Al Qur’an.

Yaitu bahwasanya Al Qur’an diturunkan dalam 7 huruf, hingga setiap manusia membacanya dengan gaya bahasa mereka sendiri. Sampai suatu ketika, dikhawatirkan terjadi perselisihan dan persengketaan di antara kaum Muslimin, maka disatukanlah kaum Muslimin dalam satu qira’ah dengan gaya bahasa Qura’isy di zaman Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiallahu’anhu. Dan ini merupakan salah satu keutamaan beliau (Utsman), dan jasa beliau, serta bukti perhatian besar beliau dalam masa kekhalifahannya untuk mempersatukan umat dalam satu qira’ah. Agar tidak terjadi perselisihan di tengah umat.

Kesimpulannya, membaca Al Qur’an dengan tajwid adalah wajib. Dan yang wajib adalah membaca harakat dan mengucapkan huruf sesuai yang sebagaimana mestinya. Misalnya, tidak mengganti huruf ra’ (ر) dengan lam (ل), atau huruf dzal (ذ) diganti zay (ز), atau semisal itu yang merupakan perkara yang terlarang”. (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 5/2, Asy Syamilah).

Dengan demikian, apa yang disebutkan sebagian ulama qiraat, bahwa wajib membaca Al Qur’an dengan tajwid, yaitu semisal wajib membaca dengan ikhfa, idgham, izhar dan lainnya, adalah hal yang sangat tepat . Dan ilmu tajwid adalah wajib dalam kadar yang bisa menghindari seseorang dari kesalahan makna dalam bacaannya. Terdapat penjelasan yang bagus dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah :

ذَهَبَ الْمُتَأَخِّرُونَ إِلَى التَّفْصِيل بَيْنَ مَا هُوَ (وَاجِبٌ شَرْعِيٌّ) مِنْ مَسَائِل التَّجْوِيدِ، وَهُوَ مَا يُؤَدِّي تَرْكُهُ إِلَى تَغْيِيرِ الْمَبْنَى أَوْ فَسَادِ الْمَعْنَى، وَبَيْنَ مَا هُوَ (وَاجِبٌ صِنَاعِيٌّ) أَيْ أَوْجَبَهُ أَهْل ذَلِكَ الْعِلْمِ لِتَمَامِ إِتْقَانِ الْقِرَاءَةِ، وَهُوَ مَا ذَكَرَهُ الْعُلَمَاءُ فِي كُتُبِ التَّجْوِيدِ مِنْ مَسَائِل لَيْسَتْ كَذَلِكَ، كَالإِْدْغَامِ وَالإِْخْفَاءِ إِلَخْ. فَهَذَا النَّوْعُ لاَ يَأْثَمُ تَارِكُهُ عِنْدَهُمْ.
قَال الشَّيْخُ عَلِيٌّ الْقَارِيُّ بَعْدَ بَيَانِهِ أَنَّ مَخَارِجَ الْحُرُوفِ وَصِفَاتِهَا، وَمُتَعَلِّقَاتِهَا مُعْتَبَرَةٌ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ: فَيَنْبَغِي أَنْ تُرَاعَى جَمِيعُ قَوَاعِدِهِمْ وُجُوبًا فِيمَا يَتَغَيَّرُ بِهِ الْمَبْنَى وَيَفْسُدُ الْمَعْنَى، وَاسْتِحْبَابًا فِيمَا يَحْسُنُ بِهِ اللَّفْظُ وَيُسْتَحْسَنُ بِهِ النُّطْقُ حَال الأَْدَاءِ

“para ulama muta’akhirin merinci antara wajib syar’i dengan wajib shina’i dalam masalah tajwid. Wajib syar’i (kewajiban yang dituntut oleh syariat) adalah yang jika meninggalkannya dapat menjerumuskan pada perubahan struktur kalimat atau makna yang rusak. Dan wajib shina’i adalah hal-hal yang diwajibkan para ulama qiraat untuk menyempurnakan kebagusan bacaan.

Maka apa yang disebutkan pada ulama qiraat dalam kitab-kitab ilmu tajwid mengenai wajibnya berbagai hukum tajwid, bukanlah demikian memahaminya. Seperti idgham, ikhfa’, dan seterusnya, ini adalah hal-hal yang tidak berdosa jika meninggalkannya menurut mereka.

Asy Syaikh Ali Al Qari setelah beliau menjelaskan bahwa makharijul huruf berserta sifat-sifat dan hal-hal yang terkait dengannya itu adalah hal yang berpengaruh dalam bahasa arab, beliau berkata: ‘hendaknya setiap orang memperhatikan semua kaidah-kaidah makharijul huruf ini. Wajib hukumnya dalam kadar yang bisa menyebabkan perubahan struktur kalimat dan kerusakan makna. Sunnah hukumnya dalam kadar yang bisa memperbagus pelafalan dan pengucapan ketika membacanya’” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 10/179).

Makna ayat “bacalah secara tartil”

Sebagian orang yang menganggap wajibnya menerapkan kaidah tajwid secara mutlak, berdalil dengan ayat:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا

“dan bacalah Al Qur’an dengan tartil” (QS. Al Muzammil: 4).

Tartil di sini dimaknai dengan hukum-hukum tajwid. Kita simak penjelasan para ulama tafsir mengenai ayat ini.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: {وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا} أَيِ: اقْرَأْهُ عَلَى تَمَهُّلٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ عَوْنًا عَلَى فَهْمِ الْقُرْآنِ وَتَدَبُّرِهِ

“dan firman-Nya: ‘dan bacalah Al Qur’an dengan tartil‘, maksudnya bacalah dengan pelan karena itu bisa membantu untuk memahaminya dan men-tadabburi-nya” (Tafsir Ibni Katsir, 8/250).

Imam Ath Thabari juga menjelaskan:

وقوله: (وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا) يقول جلّ وعزّ: وبين القرآن إذا قرأته تبيينا، وترسل فيه ترسلا

“dan firman-Nya: ‘dan bacalah Al Qur’an dengan tartil‘, maksudnya Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan: perjelaslah jika engkau membaca Al Qur’an dan bacalah dengan tarassul(pelan dan hati-hati)” (Tafsir Ath Thabari, 23/680).

As Sa’di menjelaskan:

{وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا} فإن ترتيل القرآن به يحصل التدبر والتفكر، وتحريك القلوب به، والتعبد بآياته، والتهيؤ والاستعداد التام له

“‘dan bacalah Al Qur’an dengan tartil‘, karena membaca dengan tartil itu adalah membaca yang disertai tadabbur dan tafakkur, hati bisa tergerak karenanya, menghamba dengan ayat-ayat-Nya, dan tercipta kewaspadaan dan kesiapan diri yang sempurna kepadanya” (Taisir Karimirrahman, 892).

Demikian yang dijelaskan para ulama ahli tafsir mengenai makna tartil.

Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lamu bis shawab.

M107. HUKUM MERENOVASI BANGUNAN WAQAF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau bahas soal waqof. Didesaku mesjidnya direnovasi (di perbaharui), lantai tegelnya diganti keramik padahal masih bisa dipakai.

Bolehkah mengganti waqofan seperti diatas yang masih bisa dipakai dengan yang baru ?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Dalam hal ini ulama’ berbeda pendapat :

تنبيه : لا بجوز تغيير شئ من عين الوقف و لو لارفع منها فان شرط الواقف العمل بالمصلحة اتبع شرطه ، و قال السبكي يجوز تغيير الوقف بشروط ثلاثة ان لا يغير مسماه ، و ان يكون مصلحة له كزيادة ريعه ، و ان لا تزال عبنه فلا يضر نقلها من جانب الى اخر

Tidak boleh merubah sedikitpun dari bangunan wakaf meskipun untuk yang lebih baik. Apabila pihak pewakaf meminta syarat perbaikan, maka harus dipenuhi.
Menurut Assubki boleh merubah bentuk wakaf dgn 3 syarat, yaitu :
1. Tidak merubah status nama
2. Untuk kemaslahatan wakaf
3. Tidak menghilangkan bangunan fisiknya, sehingga jika sekedar menggesernya ke posisi lain di area yg sama diperbolehkan.
Hasyiyah al-Qulyubi juz 3 hal 108.

Kalau memang diperlukan boleh, dengan syarat ada izin dari nadzir (pengelola harta waqof) atau hakim.

Menurut Imam ibn Abidin dari madzhab Hanafi boleh apabila yang membangun adalah penduduk setempat dengan dana diambil dari harta mereka sendiri
bukan dari kas masjid kecuali ada perintah dari Qadhi (pemerintah)

( وَيَجُوزُ تَجْدِيدُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ لِمَصْلَحَةٍ ) لِحَدِيثِ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا { لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْتِ فَهُدِمَ ، فَأَدْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ ، وَأَلْزَقْتُهُ بِالْأَرْضِ وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ بَابًا شَرْقِيًّا، وَبَابًا غَرْبِيًّا ، فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إبْرَاهِيمَ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Kisyaaf al-Qinaa’ 14/489

ويجوز توسيع المسجد وتغيير بنائه بنحو رفعه للحاجة بشرط إذن الناظر من جهة الواقف ، ثم الحاكم الأهل ، فإن لم يوجد وكان الموسع ذا عدالة ورآه مصلحة بحيث يغلب على الظن أنه لو كان الواقف حياً لرضي به جاز ، ولا يحتاج إلى إذن ورثة الواقف إذا لم يشرط لهم النظر ،

Bughyah al-Mustarsyidiin I/131

ولا ينقض المسجد إلا إذا خيف على نقضه فينقض يحفظ أو يعمر به مسجد آخر إن رآه الحاكم

Fath al-Mu’in III/181

[ فَرْعٌ ] أَرَادَ أَهْلُ الْمَحَلَّةِ نَقْضَ الْمَسْجِدِ وَبِنَاءَهُ أَحْكَمَ مِنْ الْأَوَّلِ أَنَّ الْبَانِيَ مِنْ أَهْلِ الْمَحَلَّةِ لَهُمْ ذَلِكَ وَإِلَّا لَا بَزَّازِيَّةٌ .

الشَّرْحُ

( قَوْلُهُ : أَنَّ الْبَانِيَ إلَخْ ) الْمُتَبَادَرُ مِنْ الْعِبَارَةِ أَنَّ الْمُرَادَ بَانِي الْمَسْجِدِ أَوَّلًا ، لَكِنَّ الْمُنَاسِبَ أَنْ يُرَادَ مُرِيدُ الْبِنَاءِ الْآنَ وَفِي ط عَنْ الْهِنْدِيَّةِ : مَسْجِدٌ مَبْنِيٌّ أَرَادَ رَجُلٌ أَنْ يَنْقُضَهُوَيَبْنِيَهُ أَحْكَمَ لَيْسَ لَهُ ذَلِكَ ؛ لِأَنَّهُ لَا وِلَايَةَ لَهُ مُضْمَرَاتٌ إلَّا أَنْ يَخَافَ أَنْ يَنْهَدِمَ ، إنْ لَمْ يُهْدَمْ تَتَارْخَانِيَّةٌ وَتَأْوِيلُهُ إنْ لَمْ يَكُنْ الْبَانِي مِنْ أَهْلِ تِلْكَ الْمَحَلَّةِ ، وَأَمَّا أَهْلُهَا فَلَهُمْ أَنْ يَهْدِمُوهُ وَيُجَدِّدُوا بِنَاءَهُ وَيَفْرِشُوا الْحَصِيرَ ، وَيُعَلِّقُوا الْقَنَادِيلَ ، لَكِنْ مِنْ مَالِهِمْ لَا مِنْ مَالِ الْمَسْجِدِ إلَّا بِأَمْرِ الْقَاضِي

Radd al-Muhtaar 17/224

Menurut Syafi’iyah mengganti barang waqof dengan yang lain, tidak boleh MUTHLAQAN.apalagi masih layak untuk digunakan.

Ta’bir Tuhfatul Muhtaj :

اسْتِبْدَالَ جُزْءِ وَقْفٍ بِجُزْءٍ آخَرَ وَقْفٍ وَهُوَ مُمْتَنِعٌ مُطْلَقًا

“mengganti juz/bagian waqaf dengan juz waqof yg lain, adalah dilarang secara muthlaq”

Ta’bir Nihayatuz Zain :

وَلَا يجوز استبدال الْمَوْقُوف عندنَا وَإِن خرب
“menurut kami (Syafi’iyah) tidak boleh mengganti barang waqaf sekalipun telah roboh”

merenovasi masjid menurut imam Ibn Ujail,Syaikh Abdullah Balhaj dan imam Abu Syakil d perbolehkn scara muthlaq, sedangkan menurut imam Ibn al Munir di perbolehkan dengan alasan menjga dari hinaan(fath al baariy libn Hajar 2/187 al nash alwaarid fi hukmi tajdid al masaajid hlm 13 – 14)

KESIMPULAN :

Dari ibaroh2 diatas dapat diambil pelajaran bahwasanya waqof itu secara asal tidak boleh diganti, ditukar, dijual dll tetapi jika orang yang memberi wakaf / pengelola wakaf /hakim telah mengizinkan maka hukumnya boleh.
Yang perlu digaris bawahi
dalam masalah ini adalah faktor keuntungan dari pewakaf, karena hakekatnya pewakaf mewakafkan sesuatu adalah supaya pahala dapat mengalir sampai ia dialam qubur (sebagai jariahnya).Jikalau sampai diganti, ditukar maka kemanfaatan itu bisa hilang. Karena pahala akan didapat ketika sesuatu yang diberikan itu masih dipakai.
Ya…meski ada perkhilafan dalam masalah pahala ini.

Wallahu A’lamu Bisshowab..

M106. WANITA KARIR DALAM PANDANGAN ISLAM

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Jaman sekarang ini banyak WANITA KARIR, malah hampir 80% semua perusahaan bertenaga kerja WANITA. Gmana hukumnya WANITA BERKARIR dalam Agama Islam ? Dan gmana menurut pandangan dari hati akhi wa ukhti dengan WANITA KARIR ? Dan yang terakhir buat para kaum adam tolong kasih nasehat buat kami khususnya buat WANITA KARIR umumnya buat semua wanita biar kami WANITA KARIR tidak salah jalan dalam menempuh hidup dengan berkarir. Kalau ada di piss ini yang istrinya berkarir / bekerja apa keluhannya punya istri bekerja ? Kami tunggu share-nya biar jadi bahan renungan dan pertimbangan buat kami KHUSUSNYA BUAT DINDA DAN UMUMNYA BUAT SEMUA WANITA KARIR. Salam santun.

JAWABAN :

Wa’alaikumsalam wr. wb.

Pandangan Fiqih tentang hukumnya Wanita karir TIDAK BOLEH kecuali :

1. Aman dari fitnah yakni aman dari hal-hal yang membahayakan dirinya hartanya serta aman dari maksiat,

2. Suami miskin / tidak mampu menafkahi keluarganya

3. Mendapat izin dari wali / suami jika suami masih mampu memberi nafkah. [Hasiah jamal Juz 4 hal 509].

Berikut Hasil Bahtsul Masaail PP Nurul Hudaa/1999 :

Di lingkungan perusahaan kami, pimpinan melarang saya berjilbab, tentu dengan niat bukan untuk mempertontonkan aurat. Saya berusaha melamar ditempat lain tetapi tidak ada panggilan. Jika harus berhenti bekerja saya bingung karena saya masih belum cukup membalas budi orang tua (saya anak angkat) dan saya ingin memberi pendidikan yang terbaik pada putra-putri nanti. Yang ingin saya tanyakan:

a.Bagaimana hukum perbuatan saya itu menurut Islam dan langkah apa yang terbaik untuk saya?

b.Lebih baik mana menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga?

c.Andai ada suami yang menyuruh isterinya bekerja keras karena dua alasan diatas, dengan posisi wanita seperti saya, apakah wajib dipatuhi?mohon disertai dasar dan penjelasan. Terima kasih.

Jawaban :

a.Hukum membuka tutup kepala bagi wanita dewasa untuk kepentingan bekerja, menurut pendapat yang muktamad (bisa dijadikan pegangan) adalah tetap haram. Menurut pendapat lain boleh bagi wanita yang keluar untuk jual beli dengan terbuka muka dan kedua telapak tangannya. Menurut madzhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, apabila tidak ada fitnah.Langkah yang terbaik untuk anda, jika ingin menjadi wanita yang shalihah yang berpegang teguh (disiplin) pada ajaran Islam, anda harus berusaha terus mencari tempat bekerja yang mengizinkan pegawainya berjilbab sambil memohon kepada Allah. Insya Allah akan berhasil.

b.Ibu rumah tangga yang berhasil mendidik putra-putrinya menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa, adalah jauh lebih baik daripada wanita karir yang manapun juga. Sebab menjadikan anak yang berhasil dalam mencapai tujuan hidupnya adalah jauh lebih mahal daripada gaji seorang presiden sekalipun.

c.Tidak wajib dipatuhi, sebab patuh kepada seseorang itu diperbolehkan oleh agama dalam hal-hal yang tidak menyangkut kemaksiatan.

Dasar pengambilan :

Kitab Al Bajuri juz 2 Bab Nikah :

(قَولُهُ إلَى أجْنَبِيَّةٍ) اى إلَى شَيءٍ مِنْ امْرَأةٍ أجْنَبِيَّةٍ اى غَيْرِ مَحْرَمٍ وَلَوْ أمَةً. شَمَلَ ذَلِكَ وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا فَيَحْرُمُ النَّظْرُ إلَيْهِمَا وَلَو مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ او خُوفِ فِتْنَةٍ عَلَى الصَّحِيْحِ كَمَا فِى المِنْهَجِ وَغَيْرِهِ إلَى أَنْ قَالَ: وَقِيْلَ لاَ يَحْرُمُ لِقَولِهِ تَعَالَى: ولاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَهُوَ مُفَسِّرٌ بِالوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ. وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ, وَلاَ بَأسَ بِتَقْلِيْدِ الثَّانِى لاَ سِيَمًا فِى هَذَا الزَّمَانِ الَّذِى كَثُرَ فِيْه خُرُوجُ النِّسَآءِ فِى الطُّرُقِ وَالأسْوَاقِ وَشَمَلَ ذَلِكَ ايْضًا شَعْرَهَا وَظُفْرَهَا.

(Ucapan Mushonnif : kepada wanita lain ), artinya kepada sesuatu dari wanita lain, yaitu yang bukan muhrim,meskipun budak belian. Hal itu meliputi mukanya dan kedua telapak tangannya, sehingga haram memandang muka dan kedua telapak tangan,meskipun tanpa sahwat atau rasa takut terhadap fitnah,menurut pendapat yang benar sebagaimana tersebut dalam kitab Al-Minhaj dan lainnya … sampai pada ucapan Mushanif: Dan dikatakan: tidak haram berdasar firman Allah ta’ala: “dan jnganlah para wanita menampakan tempat perhiasan mereka kecuali apa yang nampak darinya. Apa yang nampak ini ditafsirkan dengan muka dan kedua telapak tangan. Pendapat yang dapat dipegangi adalah yang pertama.dan tidak berdosa mengikuti pendapat yang kedua,lebih lebih pada zaman ini yang banyak para wanita keluar ke jalan-jalan dan pasar. Dan itu juga termasuk rambut kukunya”.

Hadist riwayat Imam Bukhori dari Ibn Umar :

قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَالَمْ يُؤْمَرْ بِالمَعْصِيَةِ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سُمِعَ وَلاَ طَاعَةَ.

Nabi saw bersabda: “Mendengarkan dan ketaatan (dari seorang isteri kepada suami, atau dari seorang murid kepada guru, atau dari rakyat kepada pemerintah… dst.) adalah wajib, selama tidak diperintah dengan kemaksiatan. Jika diperintah dengan kemaksiatan, maka tidak wajib mendengarkan dan mentaati.

Dalam segala hal wanita diharuskan berpegang dan mentaati peraturan syariat, baik dalam aspek tingkah laku, berpakaian maupun profesi. Seperti halnya ketika seorang wanita muslimah beraktifitas di luar rumah, maka beberapa ketentuan menjadi etika syariat yang wajib dilakukan di antaranya :

1. Ke luar rumah karena adanya keperluan (hajat).

2. Mendapatkan ijin suami atau wali.

3. Terjamin dari ancaman fitnah

4. Dengan menutup aurat

5. Harus menghindari terjadinya ikhtilath(bercampur baur) dengan laki-laki bukan mahram.

6. Tidak dengan cara tasyabbuh(yaitu wanita yang menyerupai laki-laki).

7. Tidak berhias

8. Tidak berpakaian ketat dengan menonjolkan bentuk tubuh.

9. Bentuk profesi yang dilakukan diperbolehkan (tidak dilarang) syariat seperti, menjadi pedagang, pengajar dsb.

آداب حياة الزوجية ص: 163ليس في الإسلام ما يمنع المرأة أن تكون تاجرة أو طبيبة أو مدرسة أو محترفة لأي حرفة تكسب منها الرزق الحلال ما دامت الضرورة تدعو إلى ذلك وما دامت تختار لنفسها الأوساط الفاضلة وتلتزم خصائص العفة التي اسلفنا بعضها اهـإسعاد الرفيق الجزء الثانى ص: 136ومنها خروج المرأة من بيتها متعطرة او متزينة ولو كانت مستورة وكان خروجها بإذن زوجها إذا كانت تمر فى طريقها على رجال أجانب-إلى أن قال-قال فى الزواجر وهو من الكبائر لصريح هذه الأحاديث وينبغى حمله ليوافق قواعدنا على ما إذا تحققت الفتنة أما مجرد خشيتها فإنما هو مكروه ومع ظنها حرام غير كبيرة كما هو ظاهر وعد من الكبائر أيضا خروجها بغير إذن زوجها ورضاه لغير ضرورة شرعية كاستفتاء لم يكفها إياه أو خشية نحو فجارة أو انهدام المنزل إهـ.

Wallahu A’lamu Bis showaab..

HJ011. JIKA TERJADI SENTUHAN KULIT DUA JENIS BUKAN MAHROM SAAT THOWAF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Di madzhab syafi’i saling bersentuhan kulit dua jenis bukan mahrom (mubaasyaroh) membatalkan wudu, sedangkan dalam thowaf hal ini bukanlah hal yang mudah dihindari dan pasti terjadi. Bagaimana cara mencari solusinya ? [Wahab Abdul].

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Ada solusi Qiil dalam madzhab syafi’i. Menurut imam Furoni dan Imam Haromain tidak batal bila tak disengaja, menurut imam Ibnu Suraij tidak batal bila tidak syahwat, menurut imam AL AUZA’I tidak batal bila tidak menyentuh dengan tangan. Baca ktab AL BAHJAH JuZ 1 HLM 137 -138. Apakah itu muTLAQ APA khusus dalam thowaf ? Muthlaq.

Memang terdapat pendapat di kalangan Syafiiyah yang menyatakan tidak membatalkan wudhu bila persentuhan terjadi akibat tidak adanya kesengajaan, yaitu pendapat al-Furaani dan Imam Haramain. SOLUSINYA :

1. Mengikuti pendapat di atas

2. Pindah Madzhab, namun demikian harus mengikuti segala ketentuaan yang berlaku dalam madzhab yang diikutinya seperti syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkan wudhu.

( قَوْلُهُ : وَسَوَاءٌ إلَخْ ) وَلَنَا وَجْهٌ أَنَّهُ لَا يُنْتَقَضُ وُضُوءُ الْمَلْمُوسِ ، وَوَجْهٌ أَنَّ لَمْسَ الْعُضْوِ الْأَشَلِّ أَوْ الزَّائِدِ لَا يَنْقُضُ ، وَوَجْهٌ لِابْنِ سُرَيْجٍ أَنَّهُ يُعْتَبَرُ الشَّهْوَةُ فِي الِانْتِقَاضِ قَالَ الْحَنَّاطِيُّ وَحُكِيَ هَذَا عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ ، وَوَجْهٌ حَكَاهُ الْفُورَانِيُّ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَآخَرُونَ أَنَّ اللَّمْسَ لَا يَنْقُضُ إلَّا إذَا وَقَعَ قَصْدًا ، وَأَمَّا تَخْصِيصُ النَّقْضِ بِأَعْضَاءِ الْوُضُوءِ فَلَيْسَ وَجْهًا لَنَا بَلْ مَذْهَبُ الْأَوْزَاعِيِّ وَحُكِيَ عَنْهُ أَنَّهُ لَا يَنْقُضُ إلَّا اللَّمْسُ بِالْيَدِ كَذَا فِي الْمَجْمُوعِ

Dari kalangan Syafiiyah juga terdapat beberapa pendapat :

a.Ada yang menyatakan tidak menjadi batal wudhunya orang yang disentuh

b.Ada yang menyatakan tidak membatalkan menyentuh anggauta badan yang telah lumpuh atau anggauta tambahan

c.Ada yang menyatakan (pendapat Ibn Suraij) yang membatalkan saat terjadi syahwat dalam persentuhan, berkata al-Hannaathy diceritakan ini adalah hokum yang telah ditetapkan oleh Imam Syafi’i

d.Ada yang menyatakan (Pendapat al-Furaani dan Imam Haramain dan ulama-ulama lain) persentuhan kulit tidak membatalkan kecuali bila terjadi unsur kesengajaan.

Sedang bersentuhan kulit yang membatalkan terbatas pada anggauta wudhu’ saja bukan merupakan pendapat kalangan syafi’i namun pendapat al-Auzaa’i yang juga diceritakan menurutnya bahwa tidak membatalkan wudhu kecuali menyentuhnya dengan tangan, inilah yang diuaraikan dalam kitab al-majmuu’. [ Syarh alBahjah alWardiyyah II/44 ].

ومما تعم به البلوي في الطواف ملامسة النساء للزحمة ، فينبغي للرجل أن لا يزاحمهن ولها أن لا تزاحم الرجال خوفا من انتقاض الطهارة ، فإن لمس أحدهما بشرة الآخر ببشرته انتقض طهور اللامس وفي الملموس قولان للشافعي رحمه الله تعالي أصحهما أنه ينتقض وضوءه وهو نصه في أكثر كتبه ، والثاني لا ينتقض واختاره جماعة قليلة من أصحابه والمختار الأول .

Termasuk cobaan yang umum dalam thowaf adalah bersentuhan kulit dengan wanita karena berdesakan, maka sebaiknya bagi laki-laki tidak mendesaknya dan bagi wanita tidak mendesak kaum pria karena dikhawatirkan rusaknya bersuci, bila terjadi persentuhan kulit diantara keduanya naka batal kesuciannya orang yang menyentuh. Sedang bagi yang disentuh terdapat dua pendapat milik Imam Syafi’i rh. Pendapat yang paling shahih menyatakan juga batal wudhunya ini teks keterangan beliau dibeberapa kitabnya, sedang menurut pendapat yang kedua tidak batal, pendapat ini dipilih oleh sebagian golongan dari pengikut beliau sedang pendapat yang terpilih adalah pendapat yang pertama. [ Al-Iidhooh Hal. 102 ].

Wallahu A’lamu Bis Showaab.

HJ010. HUKUM TOWAF MENGENDARAI SKUTER

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh.

Sahkah towafnya orang yang bertowaf mengelilingi baitulloh dengan mengendarai unta (skuter)?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Sah apabila ada udzur seperti sakit atau cacat.

Rosululloh Shollalloohu alaihi wasallam bertowaf pada haji wada’ di atas untanya Rosululloh Shollalloohu alaihi wasallam. Tujuan dari Rosuululloh itu bertowaf di atas untanya ialah agar supaya Rosululloh yang sedang towaf itu dilihat oleh orang-orang, dan agar supaya Rosululloh itu bisa melihat kepada orang-orang dari atas untanya. Alasannya ialah karena orang-orang itu mengerumuni (mengelilingi) Rosululloh.

Jadi, orang yang sakit itu diperbolehkan dan sah bertowaf di atas unta (di atas skuter).

[الطَّوَافُ رَاكِبًا]

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ الْمَكِّيُّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ: «طَافَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ لِيَرَاهُ النَّاسُ وَأَشْرَفَ لَهُمْ لِأَنَّ النَّاسَ غَشَوْهُ» ، أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – طَافَ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَاسْتَلَمَ الرُّكْنَ بِمَحَجَّتِهِ» ، أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ شُعْبَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِثْلَهُ، أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – طَافَ بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ رَاكِبًا فَقُلْت: لِمَ؟ قَالَ لَا أَدْرِي قَالَ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ» أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الْأَحْوَصِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ رَأَيْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَطُوفُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ رَاكِبًا عَلَى

ج: 2 ص: 189

حول المشروع, اتصل بناالمكتبة الشاملة الحديثة

لا خلاف بين الفقهاء في صحة طواف الراكب إذا كان له عذر

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang keabsahan thawaf di atas kendaraan bagi yang memiliki udzur. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 23/123).

[ وذهب الحنفية والمالكية وأحمد في إحدى الروايات عنه، إلى أن المشي في الطواف من واجبات الطواف، فإن طاف راكبا بلا عذر وهو قادر على المشي وجب عليه دم(الموسوعة الفقهية)

Hanafiyah, Malikiyah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad menyatakan pendapat bahwa berjalan merupakan bagian kewajiban dalam thawaf. Jika ada orang yang thawaf di atas kendaraan tanpa udzur, dan dia mampu berjalan, maka wajib bayar dam (Al Mausuu’atul Fiqhiyyah).

Wallohu a’lamu bisshowab..

S067. DINAMIKA MAKMUM MASBUQ SHALAT JAMA’AH

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Sewaktu sholat berjama’ah pada roka’at ke 3 ketinggalan membaca fatihahnya karena bermakmum pada imam yang cepat pelaksanaan sholatnya. Hal ini jika dilnjutkan membaca alfatihahnya maka akan ketingglan lebih “2 rukun” sedangkan jika tidak dilanjutkan membaca fatihahnya padahal bukankah hal itu wajb dibaca ? Pertanyaan : Apa yang harus dilakukan makmum tersebut ?

JAWABAN :

Wa’alaikumussalaam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Dalam i’anah Tholibiin halaman 138 ada penjelasan makmaum masbuQ hukmiy dan ada masbuQ haQiQiy. Makmum tersebut ikut gerakan imam saja, jadi langsung ikut imam rukuk saja dan tidak perlu meneruskan fatihahnya karena ia dihukumi masbuQ hukmi dan alfatihahnya ditanggung oleh imam.

وإن وجد الإمام في القيام قبل أن يركع وقف معه، فإن أدرك معه قبل الركوع زمنا يسع الفاتحة بالنسبة للوسط المعتدل فهو موافق، فيجب عليه إتمام الفاتحة ويغتفر له التخلف بثلاثة أركان طويلة كما تقدم.

وإن لم يدرك مع الإمام زمنا يسع الفاتحة فهو مسبوق يقرأ ما أمكنه من الفاتحة، ومتى ركع الإمام وجب عليه الركوع معه.

Jika mendapati Imam dalam keadaan berdiri sebelum ruku’, maka makmum mengikuti saja. Ketika Makmum tersebut mendapat waktu guna menyempurnakan bacaan Fatihahnya sebelum ruku’ bersama Imam, maka ikuti saja Imam itu, dan wajib menyempurnakan bacaan fatihahnya. dan makmum yang demikian keadaannya di perbolehkan menselisihi 3 gerakan Imam yang panjang”.

“Dan ketika Makmum tidak mendapati keluasan waktu untuk menyelesaikan bacaan Fatihahnya, maka yang demikian itu di anggap sebagai Makmum Masbuq, ia hanya membaca Fatihah yang ia bisa saja. dan ketika Imam telah Ruku’, maka ia juga harus mengikuti ruku’nya Imam”. [ Nihayatuzain halaman 122 ].

Sebelum kita membahas makmum bisa dihukumi masbuQ pada rokaat kedua,ketiga dan keempat, maka tidak ada salah nya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu makmum masbuQ dan yang muwafiq, silahkan anda fahami dari ibarot diatas. Selanjut nya, anda bisa memahami bahwaa makmum masbuQ itu bisa terjadi pada rokaat kedua,ketiga dan keempat pada ibarot selanjutnya ini, dan juga dalam ibarot ini menjelaskan bahwaa bcaan imam yang cepat, itu akan memungkinkan makmumnya tersebut akan masbuQ pada kesemua rokaatnya, al hasil.. Makmum tersebut tidak hrus membaca sempurna fatihahnya pada tiap2 rokaat-nya dalam sholat berjamaah tersebut, sebab statusnya masbuQ ( secara hukmiy ) dan fatihahnya ditanggung oleh imamnya. Ini ibarot nya:

ولو اقتدى بإمام راكع فركع واطمأن معه في ركوعه، ولما أتم الركعة وقام وجد إماما غيره راكعا فنوى مفارقة هذا واقتدى بالأخر وركع واطمأن معه، وهكذا إلى آخر صلاته جاز، وعلى هذا فيمكن سقوط الفاتحة عنه في جميع الركعات،

ولو إقتدى بإمام سريع القراءة على خلاف العادة، والمأموم معتدلها، وكان في قيام كل ركعة لايدرك مع الإمام زمنا يسع الفاتحة من الوسط المعتدل فهو مسبوق في كل ركعة فيقرأ من الفاتحة ما ادركه، وإذا ركع إمامه ركع معه وسقط عنه باقي الفاتحة لتحمل الإمام له، وعلى هذا فيمكن سقوط بعض الفاتحة عنه في كل ركعة.

Dan Ketika Imam telah ruku’ maka Makmum kemudian mengikuti ruku’nya, dan ketika si makmum menyempurnakan ruku’nya, tapi kemudian dia mendapati Imamnya telah ruku’ (Pada Roka’at berikutnya) laka si makmum harus berniat Mufaroqoh (Memisahkan diri dai Imam) dan kemudian berniat mengikuti Makmum yang lain sebagai Imamnya yang baru untuk di ikuti Ruku’nya secara Thumakninah, yang demikian ini memang di perbolehkan. dalam kasus seperti ini, makmum harus menggugurkan bacaan fatihahnya agar bisa mengikuti Imam tersebut di setiap roka’atnya (Membca fatihah sekedarnya, Untuk bisa masuk dalam kategori makmum yang sah).
Dan apa bila si makmum mengikuti Imam yang bacaannya cepat, dan makmum telah terbiasa dengan Imam itu, dan makmum itu tidak bisa mendapati pada setiap roka’atnya bersama Imam untuk bisa membaca fatihah yang biasa-biasa saja yang dapat mengimbangi gerakan Imam, maka Makmum seperti ini masuk dalam kategori sebagai Masbuq di setiap roka’atnya, maka Makmum di perbolehkan membaca fatihahnya yang bisa ia dapati (sebisanya saja) kemudian ia ruku’ mengikuti Imamnya, tidak perlu menyempurnakan bacaan fatihahnya, karena bacaan fatihahnya telah di tanggung sama Imamnya. Maka hal seperti ini bisa saja terjadi di setiap roka’atnya. [ Nihayatuzain halaman 60 ].

Wallohu a’lamu bisshowab..

D042. HUKUM MENJAWAB ADZAN DARI MEDIA ELEKTRONIK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Jika kita mendengar adzan dari media elektronik (Televisi, Radio, Hp, Dvd, Vcd), apakah sunnat untuk di jawab?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Hukum menjawab adzan yang didengar dari media elektronik (seperti radio, Televisi,Hp,Dvd,Vcd dan lain-lain) diperinci sebagai berikut :

1. Apabila adzan tersebut dilakukan secara langsung lalu disiarkan lewat media elektronik, semisal televisi yang sedang menyiarkan siaran langsung adzan dari suatu masjid atau adzan yang dikumandangkan di suatu masjid disiarkan lewat radio, maka hukumnya sunnat untuk dijawab.

2. Apabila suara adzan yang didengar merupakan rekaman suara adzan yang diputar, seperti suara adzan dari kaset, VCD, hape, aplikasi atau software dll, maka tidak sunat dijawab. Wallohu a’lam.

Referensi :
1. Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Isma’il Az-Zen, Hal : 52

Ibarot :
Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Isma’il Az-Zen, Hal : 52

سؤال : هل يسن جواب الاذان من مكبر الصوت إذا كان المؤذن بعيدا عنه بحيث لا يسمع أذانه إلا بواسطة مكبر الصوت أولا ؟ بينوا لنا ذلك

الجواب : نعم يسن إجابة المؤذن المذكور, والمكبر غاية ما فيه أنه يقوي الصوت ويبلغه إلى مدى بعيدة. هذا إذا كان الأذان منقولا بواسطة المكبر عن مؤذن يؤذن بالفعل, أما إذا كان الأذان في الشريط المسجل فلا تسن إجابته لأنه حاك والحاكي لا يحاكى. والله أعلم

Syarah Al-Yaqut Annafis,Ta`lif Fadhilatul Ustadz Muhammad bin Ahmad Asysyathiri juz 1 halaman 253 :

ثم لو أن تلاوة قرآن تسمع من راديو أو تلفاز أو غيرهما , وبعض الحاضرين أو واحد منهم يلهو ويعبث عبثا يعتبر قلة أدب , ألا يكون فيه إعراض وعدم تشريف لكتاب الله ؟ ولا تبعد الحرمة . فإذا قلنا بالحرمة , أو على الأقل قلنا بالكراهة , فهلا نستدل باحترام هذه القراءة والتأدب معها , ونقول يشرع السجود . وما دمنا اعتبرنا ما في هذه الأسطوانة أو الشريط محترما , فإن من كمال الأدب السجود عند سماع آية سجدة . وهذا كله كلام بحث فقط.
ومثله الأذان عند ما نسمعه من هذه الأجهزة يقرب أنه يندب إجابته وخصوصا إذا كان نقلا حيا مباشرة – كما نسمع كل يوم عند ما ينقلونه لنا من مكة – فإذا كان بعد دخول الوقت – حسب ما ظهر لي – يستحب إجابته, لأنه خصص للإعلام , فلا يبعد أن يكون مجزيا وتسن إجابته

Alhasil :
Tetap sunnah walau adzan dari radio atau tekevisi dll.

Wallahu a’lamu Bisshowab..