Arsip Kategori: Bahtsul Masail

Bahtsul Masail yang dimuat disini adalah hasil dari Bahtsul Masail yang dibahas di forum Majelis Syar’ie IKABA dan forum grup Bahtsul Masail IKABA di Media Sosial

M106. WANITA KARIR DALAM PANDANGAN ISLAM

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Jaman sekarang ini banyak WANITA KARIR, malah hampir 80% semua perusahaan bertenaga kerja WANITA. Gmana hukumnya WANITA BERKARIR dalam Agama Islam ? Dan gmana menurut pandangan dari hati akhi wa ukhti dengan WANITA KARIR ? Dan yang terakhir buat para kaum adam tolong kasih nasehat buat kami khususnya buat WANITA KARIR umumnya buat semua wanita biar kami WANITA KARIR tidak salah jalan dalam menempuh hidup dengan berkarir. Kalau ada di piss ini yang istrinya berkarir / bekerja apa keluhannya punya istri bekerja ? Kami tunggu share-nya biar jadi bahan renungan dan pertimbangan buat kami KHUSUSNYA BUAT DINDA DAN UMUMNYA BUAT SEMUA WANITA KARIR. Salam santun.

JAWABAN :

Wa’alaikumsalam wr. wb.

Pandangan Fiqih tentang hukumnya Wanita karir TIDAK BOLEH kecuali :

1. Aman dari fitnah yakni aman dari hal-hal yang membahayakan dirinya hartanya serta aman dari maksiat,

2. Suami miskin / tidak mampu menafkahi keluarganya

3. Mendapat izin dari wali / suami jika suami masih mampu memberi nafkah. [Hasiah jamal Juz 4 hal 509].

Berikut Hasil Bahtsul Masaail PP Nurul Hudaa/1999 :

Di lingkungan perusahaan kami, pimpinan melarang saya berjilbab, tentu dengan niat bukan untuk mempertontonkan aurat. Saya berusaha melamar ditempat lain tetapi tidak ada panggilan. Jika harus berhenti bekerja saya bingung karena saya masih belum cukup membalas budi orang tua (saya anak angkat) dan saya ingin memberi pendidikan yang terbaik pada putra-putri nanti. Yang ingin saya tanyakan:

a.Bagaimana hukum perbuatan saya itu menurut Islam dan langkah apa yang terbaik untuk saya?

b.Lebih baik mana menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga?

c.Andai ada suami yang menyuruh isterinya bekerja keras karena dua alasan diatas, dengan posisi wanita seperti saya, apakah wajib dipatuhi?mohon disertai dasar dan penjelasan. Terima kasih.

Jawaban :

a.Hukum membuka tutup kepala bagi wanita dewasa untuk kepentingan bekerja, menurut pendapat yang muktamad (bisa dijadikan pegangan) adalah tetap haram. Menurut pendapat lain boleh bagi wanita yang keluar untuk jual beli dengan terbuka muka dan kedua telapak tangannya. Menurut madzhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, apabila tidak ada fitnah.Langkah yang terbaik untuk anda, jika ingin menjadi wanita yang shalihah yang berpegang teguh (disiplin) pada ajaran Islam, anda harus berusaha terus mencari tempat bekerja yang mengizinkan pegawainya berjilbab sambil memohon kepada Allah. Insya Allah akan berhasil.

b.Ibu rumah tangga yang berhasil mendidik putra-putrinya menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa, adalah jauh lebih baik daripada wanita karir yang manapun juga. Sebab menjadikan anak yang berhasil dalam mencapai tujuan hidupnya adalah jauh lebih mahal daripada gaji seorang presiden sekalipun.

c.Tidak wajib dipatuhi, sebab patuh kepada seseorang itu diperbolehkan oleh agama dalam hal-hal yang tidak menyangkut kemaksiatan.

Dasar pengambilan :

Kitab Al Bajuri juz 2 Bab Nikah :

(قَولُهُ إلَى أجْنَبِيَّةٍ) اى إلَى شَيءٍ مِنْ امْرَأةٍ أجْنَبِيَّةٍ اى غَيْرِ مَحْرَمٍ وَلَوْ أمَةً. شَمَلَ ذَلِكَ وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا فَيَحْرُمُ النَّظْرُ إلَيْهِمَا وَلَو مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ او خُوفِ فِتْنَةٍ عَلَى الصَّحِيْحِ كَمَا فِى المِنْهَجِ وَغَيْرِهِ إلَى أَنْ قَالَ: وَقِيْلَ لاَ يَحْرُمُ لِقَولِهِ تَعَالَى: ولاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَهُوَ مُفَسِّرٌ بِالوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ. وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ, وَلاَ بَأسَ بِتَقْلِيْدِ الثَّانِى لاَ سِيَمًا فِى هَذَا الزَّمَانِ الَّذِى كَثُرَ فِيْه خُرُوجُ النِّسَآءِ فِى الطُّرُقِ وَالأسْوَاقِ وَشَمَلَ ذَلِكَ ايْضًا شَعْرَهَا وَظُفْرَهَا.

(Ucapan Mushonnif : kepada wanita lain ), artinya kepada sesuatu dari wanita lain, yaitu yang bukan muhrim,meskipun budak belian. Hal itu meliputi mukanya dan kedua telapak tangannya, sehingga haram memandang muka dan kedua telapak tangan,meskipun tanpa sahwat atau rasa takut terhadap fitnah,menurut pendapat yang benar sebagaimana tersebut dalam kitab Al-Minhaj dan lainnya … sampai pada ucapan Mushanif: Dan dikatakan: tidak haram berdasar firman Allah ta’ala: “dan jnganlah para wanita menampakan tempat perhiasan mereka kecuali apa yang nampak darinya. Apa yang nampak ini ditafsirkan dengan muka dan kedua telapak tangan. Pendapat yang dapat dipegangi adalah yang pertama.dan tidak berdosa mengikuti pendapat yang kedua,lebih lebih pada zaman ini yang banyak para wanita keluar ke jalan-jalan dan pasar. Dan itu juga termasuk rambut kukunya”.

Hadist riwayat Imam Bukhori dari Ibn Umar :

قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَالَمْ يُؤْمَرْ بِالمَعْصِيَةِ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سُمِعَ وَلاَ طَاعَةَ.

Nabi saw bersabda: “Mendengarkan dan ketaatan (dari seorang isteri kepada suami, atau dari seorang murid kepada guru, atau dari rakyat kepada pemerintah… dst.) adalah wajib, selama tidak diperintah dengan kemaksiatan. Jika diperintah dengan kemaksiatan, maka tidak wajib mendengarkan dan mentaati.

Dalam segala hal wanita diharuskan berpegang dan mentaati peraturan syariat, baik dalam aspek tingkah laku, berpakaian maupun profesi. Seperti halnya ketika seorang wanita muslimah beraktifitas di luar rumah, maka beberapa ketentuan menjadi etika syariat yang wajib dilakukan di antaranya :

1. Ke luar rumah karena adanya keperluan (hajat).

2. Mendapatkan ijin suami atau wali.

3. Terjamin dari ancaman fitnah

4. Dengan menutup aurat

5. Harus menghindari terjadinya ikhtilath(bercampur baur) dengan laki-laki bukan mahram.

6. Tidak dengan cara tasyabbuh(yaitu wanita yang menyerupai laki-laki).

7. Tidak berhias

8. Tidak berpakaian ketat dengan menonjolkan bentuk tubuh.

9. Bentuk profesi yang dilakukan diperbolehkan (tidak dilarang) syariat seperti, menjadi pedagang, pengajar dsb.

آداب حياة الزوجية ص: 163ليس في الإسلام ما يمنع المرأة أن تكون تاجرة أو طبيبة أو مدرسة أو محترفة لأي حرفة تكسب منها الرزق الحلال ما دامت الضرورة تدعو إلى ذلك وما دامت تختار لنفسها الأوساط الفاضلة وتلتزم خصائص العفة التي اسلفنا بعضها اهـإسعاد الرفيق الجزء الثانى ص: 136ومنها خروج المرأة من بيتها متعطرة او متزينة ولو كانت مستورة وكان خروجها بإذن زوجها إذا كانت تمر فى طريقها على رجال أجانب-إلى أن قال-قال فى الزواجر وهو من الكبائر لصريح هذه الأحاديث وينبغى حمله ليوافق قواعدنا على ما إذا تحققت الفتنة أما مجرد خشيتها فإنما هو مكروه ومع ظنها حرام غير كبيرة كما هو ظاهر وعد من الكبائر أيضا خروجها بغير إذن زوجها ورضاه لغير ضرورة شرعية كاستفتاء لم يكفها إياه أو خشية نحو فجارة أو انهدام المنزل إهـ.

Wallahu A’lamu Bis showaab..

HJ011. JIKA TERJADI SENTUHAN KULIT DUA JENIS BUKAN MAHROM SAAT THOWAF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Di madzhab syafi’i saling bersentuhan kulit dua jenis bukan mahrom (mubaasyaroh) membatalkan wudu, sedangkan dalam thowaf hal ini bukanlah hal yang mudah dihindari dan pasti terjadi. Bagaimana cara mencari solusinya ? [Wahab Abdul].

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Ada solusi Qiil dalam madzhab syafi’i. Menurut imam Furoni dan Imam Haromain tidak batal bila tak disengaja, menurut imam Ibnu Suraij tidak batal bila tidak syahwat, menurut imam AL AUZA’I tidak batal bila tidak menyentuh dengan tangan. Baca ktab AL BAHJAH JuZ 1 HLM 137 -138. Apakah itu muTLAQ APA khusus dalam thowaf ? Muthlaq.

Memang terdapat pendapat di kalangan Syafiiyah yang menyatakan tidak membatalkan wudhu bila persentuhan terjadi akibat tidak adanya kesengajaan, yaitu pendapat al-Furaani dan Imam Haramain. SOLUSINYA :

1. Mengikuti pendapat di atas

2. Pindah Madzhab, namun demikian harus mengikuti segala ketentuaan yang berlaku dalam madzhab yang diikutinya seperti syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkan wudhu.

( قَوْلُهُ : وَسَوَاءٌ إلَخْ ) وَلَنَا وَجْهٌ أَنَّهُ لَا يُنْتَقَضُ وُضُوءُ الْمَلْمُوسِ ، وَوَجْهٌ أَنَّ لَمْسَ الْعُضْوِ الْأَشَلِّ أَوْ الزَّائِدِ لَا يَنْقُضُ ، وَوَجْهٌ لِابْنِ سُرَيْجٍ أَنَّهُ يُعْتَبَرُ الشَّهْوَةُ فِي الِانْتِقَاضِ قَالَ الْحَنَّاطِيُّ وَحُكِيَ هَذَا عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ ، وَوَجْهٌ حَكَاهُ الْفُورَانِيُّ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَآخَرُونَ أَنَّ اللَّمْسَ لَا يَنْقُضُ إلَّا إذَا وَقَعَ قَصْدًا ، وَأَمَّا تَخْصِيصُ النَّقْضِ بِأَعْضَاءِ الْوُضُوءِ فَلَيْسَ وَجْهًا لَنَا بَلْ مَذْهَبُ الْأَوْزَاعِيِّ وَحُكِيَ عَنْهُ أَنَّهُ لَا يَنْقُضُ إلَّا اللَّمْسُ بِالْيَدِ كَذَا فِي الْمَجْمُوعِ

Dari kalangan Syafiiyah juga terdapat beberapa pendapat :

a.Ada yang menyatakan tidak menjadi batal wudhunya orang yang disentuh

b.Ada yang menyatakan tidak membatalkan menyentuh anggauta badan yang telah lumpuh atau anggauta tambahan

c.Ada yang menyatakan (pendapat Ibn Suraij) yang membatalkan saat terjadi syahwat dalam persentuhan, berkata al-Hannaathy diceritakan ini adalah hokum yang telah ditetapkan oleh Imam Syafi’i

d.Ada yang menyatakan (Pendapat al-Furaani dan Imam Haramain dan ulama-ulama lain) persentuhan kulit tidak membatalkan kecuali bila terjadi unsur kesengajaan.

Sedang bersentuhan kulit yang membatalkan terbatas pada anggauta wudhu’ saja bukan merupakan pendapat kalangan syafi’i namun pendapat al-Auzaa’i yang juga diceritakan menurutnya bahwa tidak membatalkan wudhu kecuali menyentuhnya dengan tangan, inilah yang diuaraikan dalam kitab al-majmuu’. [ Syarh alBahjah alWardiyyah II/44 ].

ومما تعم به البلوي في الطواف ملامسة النساء للزحمة ، فينبغي للرجل أن لا يزاحمهن ولها أن لا تزاحم الرجال خوفا من انتقاض الطهارة ، فإن لمس أحدهما بشرة الآخر ببشرته انتقض طهور اللامس وفي الملموس قولان للشافعي رحمه الله تعالي أصحهما أنه ينتقض وضوءه وهو نصه في أكثر كتبه ، والثاني لا ينتقض واختاره جماعة قليلة من أصحابه والمختار الأول .

Termasuk cobaan yang umum dalam thowaf adalah bersentuhan kulit dengan wanita karena berdesakan, maka sebaiknya bagi laki-laki tidak mendesaknya dan bagi wanita tidak mendesak kaum pria karena dikhawatirkan rusaknya bersuci, bila terjadi persentuhan kulit diantara keduanya naka batal kesuciannya orang yang menyentuh. Sedang bagi yang disentuh terdapat dua pendapat milik Imam Syafi’i rh. Pendapat yang paling shahih menyatakan juga batal wudhunya ini teks keterangan beliau dibeberapa kitabnya, sedang menurut pendapat yang kedua tidak batal, pendapat ini dipilih oleh sebagian golongan dari pengikut beliau sedang pendapat yang terpilih adalah pendapat yang pertama. [ Al-Iidhooh Hal. 102 ].

Wallahu A’lamu Bis Showaab.

HJ010. HUKUM TOWAF MENGENDARAI SKUTER

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh.

Sahkah towafnya orang yang bertowaf mengelilingi baitulloh dengan mengendarai unta (skuter)?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Sah apabila ada udzur seperti sakit atau cacat.

Rosululloh Shollalloohu alaihi wasallam bertowaf pada haji wada’ di atas untanya Rosululloh Shollalloohu alaihi wasallam. Tujuan dari Rosuululloh itu bertowaf di atas untanya ialah agar supaya Rosululloh yang sedang towaf itu dilihat oleh orang-orang, dan agar supaya Rosululloh itu bisa melihat kepada orang-orang dari atas untanya. Alasannya ialah karena orang-orang itu mengerumuni (mengelilingi) Rosululloh.

Jadi, orang yang sakit itu diperbolehkan dan sah bertowaf di atas unta (di atas skuter).

[الطَّوَافُ رَاكِبًا]

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ الْمَكِّيُّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ: «طَافَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ لِيَرَاهُ النَّاسُ وَأَشْرَفَ لَهُمْ لِأَنَّ النَّاسَ غَشَوْهُ» ، أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – طَافَ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَاسْتَلَمَ الرُّكْنَ بِمَحَجَّتِهِ» ، أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ شُعْبَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِثْلَهُ، أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – طَافَ بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ رَاكِبًا فَقُلْت: لِمَ؟ قَالَ لَا أَدْرِي قَالَ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ» أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الْأَحْوَصِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ رَأَيْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَطُوفُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ رَاكِبًا عَلَى

ج: 2 ص: 189

حول المشروع, اتصل بناالمكتبة الشاملة الحديثة

لا خلاف بين الفقهاء في صحة طواف الراكب إذا كان له عذر

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang keabsahan thawaf di atas kendaraan bagi yang memiliki udzur. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 23/123).

[ وذهب الحنفية والمالكية وأحمد في إحدى الروايات عنه، إلى أن المشي في الطواف من واجبات الطواف، فإن طاف راكبا بلا عذر وهو قادر على المشي وجب عليه دم(الموسوعة الفقهية)

Hanafiyah, Malikiyah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad menyatakan pendapat bahwa berjalan merupakan bagian kewajiban dalam thawaf. Jika ada orang yang thawaf di atas kendaraan tanpa udzur, dan dia mampu berjalan, maka wajib bayar dam (Al Mausuu’atul Fiqhiyyah).

Wallohu a’lamu bisshowab..

S067. DINAMIKA MAKMUM MASBUQ SHALAT JAMA’AH

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Sewaktu sholat berjama’ah pada roka’at ke 3 ketinggalan membaca fatihahnya karena bermakmum pada imam yang cepat pelaksanaan sholatnya. Hal ini jika dilnjutkan membaca alfatihahnya maka akan ketingglan lebih “2 rukun” sedangkan jika tidak dilanjutkan membaca fatihahnya padahal bukankah hal itu wajb dibaca ? Pertanyaan : Apa yang harus dilakukan makmum tersebut ?

JAWABAN :

Wa’alaikumussalaam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Dalam i’anah Tholibiin halaman 138 ada penjelasan makmaum masbuQ hukmiy dan ada masbuQ haQiQiy. Makmum tersebut ikut gerakan imam saja, jadi langsung ikut imam rukuk saja dan tidak perlu meneruskan fatihahnya karena ia dihukumi masbuQ hukmi dan alfatihahnya ditanggung oleh imam.

وإن وجد الإمام في القيام قبل أن يركع وقف معه، فإن أدرك معه قبل الركوع زمنا يسع الفاتحة بالنسبة للوسط المعتدل فهو موافق، فيجب عليه إتمام الفاتحة ويغتفر له التخلف بثلاثة أركان طويلة كما تقدم.

وإن لم يدرك مع الإمام زمنا يسع الفاتحة فهو مسبوق يقرأ ما أمكنه من الفاتحة، ومتى ركع الإمام وجب عليه الركوع معه.

Jika mendapati Imam dalam keadaan berdiri sebelum ruku’, maka makmum mengikuti saja. Ketika Makmum tersebut mendapat waktu guna menyempurnakan bacaan Fatihahnya sebelum ruku’ bersama Imam, maka ikuti saja Imam itu, dan wajib menyempurnakan bacaan fatihahnya. dan makmum yang demikian keadaannya di perbolehkan menselisihi 3 gerakan Imam yang panjang”.

“Dan ketika Makmum tidak mendapati keluasan waktu untuk menyelesaikan bacaan Fatihahnya, maka yang demikian itu di anggap sebagai Makmum Masbuq, ia hanya membaca Fatihah yang ia bisa saja. dan ketika Imam telah Ruku’, maka ia juga harus mengikuti ruku’nya Imam”. [ Nihayatuzain halaman 122 ].

Sebelum kita membahas makmum bisa dihukumi masbuQ pada rokaat kedua,ketiga dan keempat, maka tidak ada salah nya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu makmum masbuQ dan yang muwafiq, silahkan anda fahami dari ibarot diatas. Selanjut nya, anda bisa memahami bahwaa makmum masbuQ itu bisa terjadi pada rokaat kedua,ketiga dan keempat pada ibarot selanjutnya ini, dan juga dalam ibarot ini menjelaskan bahwaa bcaan imam yang cepat, itu akan memungkinkan makmumnya tersebut akan masbuQ pada kesemua rokaatnya, al hasil.. Makmum tersebut tidak hrus membaca sempurna fatihahnya pada tiap2 rokaat-nya dalam sholat berjamaah tersebut, sebab statusnya masbuQ ( secara hukmiy ) dan fatihahnya ditanggung oleh imamnya. Ini ibarot nya:

ولو اقتدى بإمام راكع فركع واطمأن معه في ركوعه، ولما أتم الركعة وقام وجد إماما غيره راكعا فنوى مفارقة هذا واقتدى بالأخر وركع واطمأن معه، وهكذا إلى آخر صلاته جاز، وعلى هذا فيمكن سقوط الفاتحة عنه في جميع الركعات،

ولو إقتدى بإمام سريع القراءة على خلاف العادة، والمأموم معتدلها، وكان في قيام كل ركعة لايدرك مع الإمام زمنا يسع الفاتحة من الوسط المعتدل فهو مسبوق في كل ركعة فيقرأ من الفاتحة ما ادركه، وإذا ركع إمامه ركع معه وسقط عنه باقي الفاتحة لتحمل الإمام له، وعلى هذا فيمكن سقوط بعض الفاتحة عنه في كل ركعة.

Dan Ketika Imam telah ruku’ maka Makmum kemudian mengikuti ruku’nya, dan ketika si makmum menyempurnakan ruku’nya, tapi kemudian dia mendapati Imamnya telah ruku’ (Pada Roka’at berikutnya) laka si makmum harus berniat Mufaroqoh (Memisahkan diri dai Imam) dan kemudian berniat mengikuti Makmum yang lain sebagai Imamnya yang baru untuk di ikuti Ruku’nya secara Thumakninah, yang demikian ini memang di perbolehkan. dalam kasus seperti ini, makmum harus menggugurkan bacaan fatihahnya agar bisa mengikuti Imam tersebut di setiap roka’atnya (Membca fatihah sekedarnya, Untuk bisa masuk dalam kategori makmum yang sah).
Dan apa bila si makmum mengikuti Imam yang bacaannya cepat, dan makmum telah terbiasa dengan Imam itu, dan makmum itu tidak bisa mendapati pada setiap roka’atnya bersama Imam untuk bisa membaca fatihah yang biasa-biasa saja yang dapat mengimbangi gerakan Imam, maka Makmum seperti ini masuk dalam kategori sebagai Masbuq di setiap roka’atnya, maka Makmum di perbolehkan membaca fatihahnya yang bisa ia dapati (sebisanya saja) kemudian ia ruku’ mengikuti Imamnya, tidak perlu menyempurnakan bacaan fatihahnya, karena bacaan fatihahnya telah di tanggung sama Imamnya. Maka hal seperti ini bisa saja terjadi di setiap roka’atnya. [ Nihayatuzain halaman 60 ].

Wallohu a’lamu bisshowab..

D042. HUKUM MENJAWAB ADZAN DARI MEDIA ELEKTRONIK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Jika kita mendengar adzan dari media elektronik (Televisi, Radio, Hp, Dvd, Vcd), apakah sunnat untuk di jawab?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Hukum menjawab adzan yang didengar dari media elektronik (seperti radio, Televisi,Hp,Dvd,Vcd dan lain-lain) diperinci sebagai berikut :

1. Apabila adzan tersebut dilakukan secara langsung lalu disiarkan lewat media elektronik, semisal televisi yang sedang menyiarkan siaran langsung adzan dari suatu masjid atau adzan yang dikumandangkan di suatu masjid disiarkan lewat radio, maka hukumnya sunnat untuk dijawab.

2. Apabila suara adzan yang didengar merupakan rekaman suara adzan yang diputar, seperti suara adzan dari kaset, VCD, hape, aplikasi atau software dll, maka tidak sunat dijawab. Wallohu a’lam.

Referensi :
1. Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Isma’il Az-Zen, Hal : 52

Ibarot :
Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Isma’il Az-Zen, Hal : 52

سؤال : هل يسن جواب الاذان من مكبر الصوت إذا كان المؤذن بعيدا عنه بحيث لا يسمع أذانه إلا بواسطة مكبر الصوت أولا ؟ بينوا لنا ذلك

الجواب : نعم يسن إجابة المؤذن المذكور, والمكبر غاية ما فيه أنه يقوي الصوت ويبلغه إلى مدى بعيدة. هذا إذا كان الأذان منقولا بواسطة المكبر عن مؤذن يؤذن بالفعل, أما إذا كان الأذان في الشريط المسجل فلا تسن إجابته لأنه حاك والحاكي لا يحاكى. والله أعلم

Syarah Al-Yaqut Annafis,Ta`lif Fadhilatul Ustadz Muhammad bin Ahmad Asysyathiri juz 1 halaman 253 :

ثم لو أن تلاوة قرآن تسمع من راديو أو تلفاز أو غيرهما , وبعض الحاضرين أو واحد منهم يلهو ويعبث عبثا يعتبر قلة أدب , ألا يكون فيه إعراض وعدم تشريف لكتاب الله ؟ ولا تبعد الحرمة . فإذا قلنا بالحرمة , أو على الأقل قلنا بالكراهة , فهلا نستدل باحترام هذه القراءة والتأدب معها , ونقول يشرع السجود . وما دمنا اعتبرنا ما في هذه الأسطوانة أو الشريط محترما , فإن من كمال الأدب السجود عند سماع آية سجدة . وهذا كله كلام بحث فقط.
ومثله الأذان عند ما نسمعه من هذه الأجهزة يقرب أنه يندب إجابته وخصوصا إذا كان نقلا حيا مباشرة – كما نسمع كل يوم عند ما ينقلونه لنا من مكة – فإذا كان بعد دخول الوقت – حسب ما ظهر لي – يستحب إجابته, لأنه خصص للإعلام , فلا يبعد أن يكون مجزيا وتسن إجابته

Alhasil :
Tetap sunnah walau adzan dari radio atau tekevisi dll.

Wallahu a’lamu Bisshowab..

HUKUM UMROH BERRULANG-KALI DALAM HAJI TAMATTU’

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Langsung saja,
Kalau ada orang yg melakukan umroh di bulan2 ashurum maklumat (syawal, dulqo’dah, dulhijjah) maka ketika orang itu melakukan haji. hajinya di namakan haji tamattu” Yg mana haji tamattu’ harus bayar dam.

Pertanyaanya:
seandainya orang itu melakukan umroh berkali-kali, misal melakukan umroh sampai 4 kali apakah harus bayar dam 4 kali juga? (Umroh satu kali maka bayar damnya satu kali juga, Umroh 4 kali maka harus bayar dam 4 kali juga) apakah seperti ini?

Kami memohon jawaban dgn referensinya yg valid dan shohih yg sesuai pertanyaan.
Dan atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih, wassalam.!

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ulama Khilaf dalam masalah ini :

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj dan Hasiyatul Idhoh tidak adanya pengulangan dam artinya membayar dam cuma sekali
Dalam Nihayatul Muhtaj menuqil dari Imam Roimi membayar dam sesuai dengan jumlah umroh yg dia lakukan,
Dan pendapat yang mu’tamad menurut ‘Ali Syibro Malisi adalah membayar dam cuma sekali saja walaupun umrohnya berkali kali.

Referensi :

بغية المسترشدين : قلت وهل يتكرر الدم بتكرر العمرة في أشهر الحج أم لا واعتمد في التحفة وحاشية الإيضاح عدم التكرر. وقال في النهاية ولو قرر المتمتع لعمرة في أشهر الحج أفتى الريمي صاحب التفقيه شرح التنبيه بالتكرر وأفتى بعض مشايخ الناشري بعدمه قال أي الناشري وهو الظاهر اھ قال ع ش قوله وهو الظاهر هو المعتمد.

بغية المسترشدين ١١٩ حرمين

والله أعلم بالصواب

MACAM-MACAM NAJIS YANG DI MA’FU

MACAM-MACAM NAJIS YANG DI MA’FU:

1.najis yang dima’fu baik sedikit maupun banyaknya, baik di baju maupun di badan, yaitu : darahnya kutu loncat, kutu rambut, nyamuk, jerawat, nanah, bisul, cacar dan darah tempatnya bekam.di ma’funya najis-najis tsb dengan 2 syarat :

a.bukan atas perbuatan diri sendiri, jadi misalnya membunuh kutu kemudian darahnya mengotori baju dan banyak darahnya maka tidak dima’fu.

b.tidak melampaui batas dalam membiarkannya, karena manusia mempunyai kebiasaan mencuci baju,jika baju ditinggalkan tanpa dicuci selama setahun misalnya, dan dibiarkan bertumpuk-tumpuk maka tidak dima’fu.

2.najis yang sedikitnya dima’fu, jika banyak tidak dima’fu, yaitu : darahnya orang lain dan tanah jalanan yang diyakini najisnya.

3.najis yang dima’fu bekasnya dan tidak di ma’fu dzatiyahnya, yaitu : bekas istinja’ dan sisa bau atau warna najis yang sulit hilangnya.

4.najis yang tidak dima’fu dztiyah dan bekasnya, yaitu selain najis-najis yang disebut diatas.

Pembagian najis yang dima’fu :

1.najis yang dima’fu di air dan baju, yaitu : najis yang tidak terlihat pandangan mata, debu najis yang kering , sedikit asap, rambut, mulutnya kucing dan bayi.yang semisal air adalah benda cair, dan yang semisal baju adalah badan.

2.najis yang dima’fu di air dan benda cair tapi tidak di ma’fu dibaju dan badan, yaitu : bangkai hewan yang tidak mempunyai darah mengalir, lobang kotoran burung, kotoran ikan, dan cacing yang muncul dalam benda cair.

3.sebailknya kedua, dima’fu di baju dan badan tapi tidak dima’fu di air dan benda cair, yaitu : darah sedikit, tanah jalanan, ulat sutera jika mati di dalamnya.maka tidak wajib membasuhnya sebagaimana penjelasan al hamawy, sedangkan penjelasan qodhi husain sebaliknya.

4.najis yang dima’fu pada tempat saja, yaitu : kotoran burung di masjid dan tempat towaf, dan disamakan dengannya yaitu sesuatu yang berada dalam perut ikan yang kecil .

– kitab asbah wan nadhoir :

تقسيم النجاسات

أقسامأحدها : ما يعفى عن قليله وكثيره في الثوب والبدن وهو : دم البراغيث والقمل والبعوض والبثرات والصديد والدماميل والقروح وموضع الفصد والحجامة ولذلك شرطان

أحدهما : أن لا يكون بفعله ، فلو قتل برغوثا فتلوث به وكثر : لم يعف عنه

والآخر : أن لا يتفاحش بالإهمال فإن للناس عادة في غسل الثياب ، فلو تركه سنة مثلا وهو متراكم لم يعف عنه قال الإمام : وعلى ذلك حمل الشيخ جلال الدين المحلي قول المنهاج إن لم يكن بجرحه دم كثير .

الثاني : ما يعفى عن قليله دون كثيره وهو : دم الأجنبي وطين الشارع المتيقن نجاسته .

الثالث : ما يعفى عن أثره دون عينه وهو : أثر الاستنجاء ، وبقاء ريح أو لون عسر زواله .

الرابع : ما لا يعفى عن عينه ولا أثره وهو ما عدا ذلك .

تقسيم ثان ما يعفى عنه من النجاسة أقسام :

أحدها : ما يعفى عنه في الماء والثوب وهو : ما لا يدركه الطرف وغبار النجس الجاف وقليل الدخان والشعر وفم الهرة والصبيان . ومثل الماء : المائع ومثل الثوب : البدن

الثاني : ما يعفى عنه في الماء والمائع دون الثوب والبدن وهو الميتة التي لا دم لها سائل ومنفذ الطير وروث السمك في الحب والدود الناشئ في المائع .

الثالث : عكسه ، وهو : الدم اليسير وطين الشارع ودود القز إذا مات فيه : لا يجب غسله صرح به الحموي وصرح القاضي حسين بخلافه

الرابع : ما يعفى عنه في المكان فقط ، وهو ذرق الطيور في المساجد والمطاف كما أوضحته في البيوع ويلحق به ما في جوف السمك الصغار على القول بالعفو عنه لعسر تتبعها وهو الراجح .

Sumber : M2KAD

Wallahu a’lamu bisshowab..

J042. HUKUM ZIYARAH KUBUR BAGI WANITA

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum Ustadz

Saya bertanya tentang ziarah kubur. setiap hari kamis menuju ke malam jum’at kebanyakan orang muslim menuju kekuburan dan tujuannya adalah mengkhususkan si mayyit tersebut. Dan bagi setiap laki-laki berziarah ke kuburan keluarganya itu mendapatkan pahala, sedangkan seorang wanita itu tidak boleh ziarah kekuburan kekeluarganya sendiri selain ke maqom nabi saw.
Apakah ini benar atau tidak kiai…
tolong jelaskan juga ibarohnya

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Pada dasarnya ziarah kubur dianjurkan oleh agama pada zaman dahulu sampai sekarang Namun anjuran tentang Hukumnya di Tafshil:

a)-Sunnah bagi laki-laki dan bagi perempuan husus untuk ziyarah kemaqbarah Nabi muhammad saw.

b.)-Haram Yaitu bagi wanita yang merasa susah dan menangis bahkan menjerit -jerit sebagaimana kebiasaannya dizaman dahulu.

c)-Makruh. Yaitu bagi wanita yang tidak selamat dari fitnah(godaan).

d) Boleh/tidak makruh jika wanita berkumpul dengan muhrimnya sebagaimana berjamaah dimasjid atau orang perempuan yang sudah lanjut usia.

Dalam hadits Nabi pernah bertemu dengan orang perempuan menangis disisinya kuburan lalu Nabi bersabda : Takutlah kamu kepada Allah dan Sabarlah kamu.Dalam riwayat yang lain Aisyah bertanya kepada Rasulullah …ucapan apa jika kami berziyarah wahai Rasul…? maka Rasulullah menganjurkan agar mengucapkan salam sebagaimana ibarah berikut :

[ المجموع شرح المهذب – 2629/9792
فَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلرِّجَالِ زِيَارَةُ الْقُبُورِ وَهُوَ قَوْلُ الْعُلَمَاءِ كَافَّةً نَقَلَ الْعَبْدَرِيُّ فِيهِ إجْمَاعَ الْمُسْلِمِينَ وَدَلِيلُهُ مَعَ الْإِجْمَاعِ الْأَحَادِيثُ الصَّحِيحَةُ الْمَشْهُورَةُ وَكَانَتْ زِيَارَتُهَا مَنْهِيًّا عَنْهَا أَوَّلًا ثُمَّ نُسِخَ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ” قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا ” وَزَادَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَالنَّسَائِيُّ فِي رِوَايَتِهِمَا فَزُورُوهَا وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا وَالْهَجْرُ الْكَلَامُ الْبَاطِلُ وَكَانَ النَّهْيُ أَوَّلًا لِقُرْبِ عَهْدِهِمْ مِنْ الجاهلية فربما كانا يَتَكَلَّمُونَ بِكَلَامِ الْجَاهِلِيَّةِ الْبَاطِلِ فَلَمَّا اسْتَقَرَّتْ قَوَاعِدُ الْإِسْلَامِ وَتَمَهَّدَتْ أَحْكَامُهُ واستشهرت مَعَالِمُهُ أُبِيحَ لَهُمْ الزيارة واحتاط صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ وَلَا تَقُولُوا هجرا قَالَ أَصْحَابُنَا رَحِمَهُمُ اللَّهُ وَيُسْتَحَبُّ لِلزَّائِرِ أَنْ يَدْنُوَ مِنْ قَبْرِ الْمَزُورِ بِقَدْرِ مَا كَانَ يدنوا مِنْ صَاحِبِهِ لَوْ كَانَ حَيًّا وَزَارَهُ وَأَمَّا النِّسَاءُ فَقَالَ الْمُصَنِّفُ وَصَاحِبُ الْبَيَانِ لَا تَجُوزُ لَهُنَّ الزِّيَارَةُ وَهُوَ ظَاهِرُ هَذَا الْحَدِيثِ وَلَكِنَّهُ شَاذٌّ فِي الْمَذْهَبِ وَاَلَّذِي قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُورُ أَنَّهَا مَكْرُوهَةٌ لَهُنَّ كَرَاهَةَ تَنْزِيهٍ وَذَكَرَ الرُّويَانِيُّ فِي الْبَحْرِ وَجْهَيْنِ
(أَحَدَهُمَا)
يُكْرَهُ كَمَا قَالَهُ الْجُمْهُورُ
(وَالثَّانِي)
لَا يُكْرَهُ قَالَ وَهُوَ الْأَصَحُّ
عندي إذا أمن الا فتتان وَقَالَ صَاحِبُ الْمُسْتَظْهِرِيِّ وَعِنْدِي إنْ كَانَتْ زِيَارَتُهُنَّ لِتَجْدِيدِ الْحُزْنِ وَالتَّعْدِيدِ وَالْبُكَاءِ وَالنَّوْحِ عَلَى مَا جَرَتْ بِهِ عَادَتُهُنَّ حَرُمَ قَالَ وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ الْحَدِيثُ ” لَعَنَ اللَّهُ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ ” وَإِنْ كَانَتْ زيارتهن للاعتبار مِنْ غَيْرِ تَعْدِيدٍ وَلَا نِيَاحَةٍ كُرِهَ إلَّا إن تكون عجوزا لا تشثهى فَلَا يُكْرَهُ كَحُضُورِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسَاجِدِ وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ حَسَنٌ وَمَعَ هَذَا فَالِاحْتِيَاطُ لِلْعَجُوزِ تَرْكُ الزِّيَارَةِ لِظَاهِرِ الْحَدِيثِ وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللَّهُ فِي دُخُولِ النِّسَاءِ فِي قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا ” وَالْمُخْتَارُ عِنْدَ أَصْحَابِنَا أَنَّهُنَّ لَا يَدْخُلْنَ فِي ضِمْنِ الرِّجَالِ وَمِمَّا يَدُلُّ أَنَّ زِيَارَتَهُنَّ لَيْسَتْ حَرَامًا حَدِيثُ أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” مَرَّ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِ اللَّهَ واصبري ” رواه البحارى وَمُسْلِمٌ وَمَوْضِعُ الدَّلَالَةِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَنْهَهَا عَنْ الزِّيَارَةِ وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ ” كَيْفَ أَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ – يَعْنِي إذَا زُرْت الْقُبُورَ قَالَ قُولِي السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ قَالَ أَصْحَابُنَا رَحِمَهُمُ اللَّهُ وَيُسْتَحَبُّ لِلزَّائِرِ أَنْ يُسَلِّمَ عَلَى الْمَقَابِرِ وَيَدْعُوَ لِمَنْ يَزُورُهُ وَلِجَمِيعِ أَهْلِ الْمَقْبَرَةِ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ السَّلَامُ وَالدُّعَاءُ بِمَا ثَبَتَ فِي الْحَدِيثِ وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ مِنْ الْقُرْآنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوَ لَهُمْ عَقِبَهَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ الْأَصْحَابُ قَالَ الْحَافِظُ أَبُو مُوسَى الْأَصْفَهَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ آدَابِ زِيَارَةِ الْقُبُورِ الزَّائِرُ بِالْخِيَارِ إنْ شاء زار قَائِمًا وَإِنْ شَاءَ قَعَدَ كَمَا يَزُورُ الرَّجُلُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاةِ فَرُبَّمَا جَلَسَ عِنْدَهُ وَرُبَّمَا زاره قائما أومارا

(قَالَ) وَرَوَى الْقِيَامَ عِنْدَ الْقَبْرِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ وَالْحَكَمِ بْنِ الْحَارِثِ وَابْنِ عُمَرَ وَأَنَسٍ وَعَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ السَّلَفِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ أَبُو مُوسَى وَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو الْحَسَنِ مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ الزَّعْفَرَانِيُّ وَكَانَ مِنْ الْفُقَهَاءِ الْمُحَقِّقِينَ فِي كِتَابِهِ فِي الْجَنَائِزِ وَلَا يَسْتَلِمُ الْقَبْرَ بِيَدِهِ وَلَا يُقَبِّلُهُ قَالَ وَعَلَى هَذَا مَضَتْ السُّنَّةُ قَالَ أَبُو الْحَسَنِ وَاسْتِلَامُ الْقُبُورِ وَتَقْبِيلُهَا الَّذِي يَفْعَلُهُ الْعَوَامُّ الْآنَ مِنْ الْمُبْتَدَعَاتِ الْمُنْكَرَةِ شَرْعًا يَنْبَغِي تَجَنُّبُ فِعْلِهِ وَيُنْهَى فَاعِلُهُ قَالَ فَمَنْ قَصَدَ السَّلَامَ عَلَى مَيِّتٍ سَلَّمَ عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ وَجْهِهِ وَإِذَا أَرَادَ الدُّعَاءَ تَحَوَّلَ عَنْ مَوْضِعِهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ قَالَ أَبُو مُوسَى وَقَالَ الْفُقَهَاءُ الْمُتَبَحِّرُونَ الْخُرَاسَانِيُّونَ الْمُسْتَحَبُّ فِي زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَنْ يَقِفَ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلًا وَجْهَ الْمَيِّتِ يُسَلِّمُ وَلَا يَمْسَحُ
الْقَبْرَ وَلَا يُقَبِّلُهُ وَلَا يَمَسُّهُ فَإِنَّ ذَلِكَ عَادَةُ النَّصَارَى (قَالَ) وَمَا ذَكَرُوهُ صَحِيحٌ لِأَنَّهُ قَدْ صَحَّ النَّهْيُ عَنْ تَعْظِيمِ الْقُبُورِ وَلِأَنَّهُ إذَا لَمْ يُسْتَحَبَّ اسْتِلَامُ الرُّكْنَيْنِ الشَّامِيَّيْنِ مِنْ أَرْكَانِ الْكَعْبَةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يُسَنَّ مَعَ اسْتِحْبَابِ اسْتِلَامِ الرُّكْنَيْنِ الْآخَرَيْنِ فَلَأَنْ لَا يُسْتَحَبَّ مَسُّ الْقُبُورِ أولي .
والله أعلم

Dari paparan/ penjelasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum ziyarah kubur adalah:

1. Sunnah bagi laki-laki dan khususnya bagi perempuan jika ziyarah kemaqbarah Nabi Muhammad saw dan para Nabi yang lain juga kemaqbarah Pada ulama dan para wali juga orang yang sholeh.

2. Makruh: Bagi perempuan yang tidak mencakup berkumpul bersama muhrim.

3. Haram: Bagi perempuan ziyarah dengan tidak bersama dengan murimnya.
Yang paling dikokohkan ziyarah sebagaimana pertanyaan diatas betul memang pada hari raya juga hari kamis bahkan hari jum’at bagi anak yang berziyarah kepada maqbarah kedua orang tuanya.

Referensi :

تنوير القلوب.ص:216
تسن زيارة قبور المسلمين للرجال ﻷجل تذكير الموت واﻵخرة وإصلاح فساد القلب ونفع الميت بما يتلى عنده من القرآن لخبر مسلم (كما نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها.ولقوله صلى الله عليه وسلم( إطلع بالقبور واعتبرو بالنشور )رواه البيهقى خصوصا قبور اﻷنبياء واﻷولياء وأهل السلام.وتكره للنساء لمنعهن وقلة صبرهن ،ومحل الكراهة إن لم يشمل اجتماعهن على محرم وإﻻ حرم،ويندب لهن زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم وكذا قبور سائر اﻷنبياء والعلماء واﻷولياء وتتأكد يوم العيد ومن عيشة خميس إلى طلوع الشمس وسبت

إرشاد العباد .ص.:34
وابن أبى الدنيا والبيهقى عن محمد واسع قال بلغني أن الموتى يعرفون بزوارهم يوم الجمعة ويوما قبله ويوما بعده.*والبيهقى عن محمدابن النعمان مرسلا من زار قبر أبويه أو أحدهما فى كل جمعة غفر له وكتب له برا. والله أعلم.

Diriwayatkan dari ibni Abiddun-ya dan Baihaqi dari Muhammad bin Wasi’ dia berkata:Telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya orang yang mati mengetahui terhadap orang-orang yang berziyarah (berkunjung)pada hari jum’at,dan baik juga berziyarah pada satu hari sebelum Jum’at (yaitu hari Kamis) atau satu hari sesudah Jum’at (yaitu hari Sabtu).

Riwayat Baihaqi dari Muhammad ibnu Nu’man hadits mursal ;Barang siapa yang berziyarah ke kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari kuburan kedua orang tuanya setiap hari jum’at, maka dosa-dosa diampuni dan dicatat sebagai orang yang berbakti (berbuat baik).

Wallohu a’lamu bisshowab..

P015. CARA PEMBAGIAN FIDYAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau bertanya, Dalam masalah Fidyah. Yang dimaksud اطعام مسكين apakah diberikan mentahnys atau dimasak dulu baru diberikan.? Apa kedua-duanya boleh? Mohon penjelasan dan ibarohnya.
Terima kasih sebelumnya.

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh..

Dua-duanya sama-sama boleh baik dikasih mentahnya atau dimasak dulu lalu diberikan.

Referensi:

مقدار فدية إطعام مسكين، ووقت إخراجها

السؤال:

امرأة مصابةٌ بِسرطان مرحلة متقدِّمة، يشقُّ عليْها الصَّوم، متَى وكيْف تُخْرج فدية طعام مِسكينٍ لشهْر رمضان؟ هَلْ تخرجها يومًا بيوم أو يَجوز إخراجُها دفعةً واحدة؟ وهل بعدَ رمضان أو أثناء رمضان؟ وهل يَجوز إخْراجها في صورة مالٍ وليس طعامًا؟

الإجابة:

الحمدُ لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصَحْبِه ومَن والاه، أمَّا بعدُ:فنسألُ الله العليَّ العظيم أن يَمنَّ على هذه الأخْتِ بالشِّفاء العاجل، الذي لا يُغادر سقمًا، أن ينعِمَ عليها بِجميل الشِّفاء.أمَّا بِخصوص الإطعام، فإنَّه يُباح للمريض الذي يعجِز عن الصَّوم، أو يضرُّه، أو يؤخِّر بُرْأَه بإِخْبار طبيبٍ حاذقٍ – أن يُفطِر، ويقضي عدَّة ما أفطر من أيَّام أُخَر بعد شفائه؛ لقوله تعالى: {فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَر} [البقرة: 184]، هذا إذا كان المرضُ يُرْجى بُرْؤُه.

أمَّا المرضُ الَّذي لا يُرْجى زوالُه -إلا أن يشاءَ الله- ويعجِز فيه المريض عن الصَّوم – فعلى المريضِ أن يطْعِم عن كل يومٍ أفطَرَه مسكينًا؛ قال الله تعالى: {فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ} [البقرة:184]

.Menurut Ibnu Abbas, ayat diatas itu adalah diturunkan sebagai keringanan bagi orang laki-laki (orang perempuan) yang sudah sangat tua yang tidak mampu berpuasa, maka laki-laki (perempuan) yang sudah sangat tua itu memberi makan tiap hari kepada seorang miskin.Menurut Ibnu Qudamah, didalam kitab Al Mughni (madhab Hanbali), bahwa orang yang sakit yang tidak bisa berpuasa dan sudah tidak diharapkan sembuhnya, itu boleh tidak berpuasa, dan dia harus memberi makan tiap hari kepada seorang miskin.Nah, kata-kata “memberi makan” itu disebut fidyah. Dan caranya mengeluarkan fidyah adalah: laki-laki (perempuan) yang sudah sangat tua dan orang sakit yang sudah tidak diharapkan sembuhnya itu memberikan beras satu mud (750 gram) tiap hari kepada fakir miskin.

Menurut Ibnu Qudamah (madhab Hanbali), kecuali jika kita bisa mengumpulkan fakir miskin sekaligus dalam suatu waktu, dimana kita bisa memberi makanan pokok (seperti nasi dan ikan) yang bisa mengenyangkan kepada fakir miskin.Maka diperbolehkan bagi kita untuk memberi makan nasi dan ikan kepada fakir miskin sebagai fidyahnya laki-laki (perempuan) yang sudah sangat tua dan sebagai fidyahnya orang sakit yang sudah tidak bisa diharapkan sembuhnya.

Waktunya mengeluarkan fidyah beras satu mud ini, bisa dikeluarkan tiap hari,atau bisa juga berasnya itu dikumpulkan dan di keluarkan di akhir bulan.

قال ابن عبَّاس رضي الله عنهما: “نزلتْ رخصةً للشيخ الكبير، والمرأة الكبيرة، لا يستطيعانِ الصيام، فيُطْعِمان مكانَ كلِّ يومٍ مسكينًا” (رواه البخاري).

قال ابن قدامة في “المغني” (4/396): “والمَرِيضُ الَّذِي لا يُرْجَى بُرْؤُهُ يُفْطِرُ، ويُطْعِمُ لِكُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا؛ لأَنَّهُ في مَعْنَى الشَّيْخِ”.اهـ.وقال أيضًا: “وإنَّما يُصار إلى الفِدْية عندَ اليَأْس من القَضاء”.اهـ.أمَّا مقدار الفِدْية، فمختلف فيه بين أهل العلم، فمنهم من يقول يخرج صاعًا عن كل يوم، ومنهم من يقول: نصف صاع (يعني مُدَّين)، ومنهم من يقول: هو مُدٌّ من الطَّعام، وهو ما يساوي 750 غرامًا تقريبًا من الأُرْز، أو غيْرِه من غالب قُوت أهل البلد. ولعل إخراج نصف صاع هو الأولى إن شاء الله، إلا إذا تمكنتم من جمع المساكين وإطعامهم وجبة واحدة تشبعهم، إما عشاء، أو إفطارًا؛ كما يحصل في مشاريع تفطير الصائمين، وهذا لا يشترط فيه صاع ولا غيره. وتدفع هذه الفدية للمساكين بعدد أيام الشهر. ولا يجوز دفعها مالاً، بل لابد أن يكون طعامًا.أمَّا وقت إخراجِها، فهي مخيَّرة بين أن تُخرِج الفدية عن كلِّ يومٍ بيومه، أو تَجمعها في نِهاية الشهر، وإن لم تستَطِع أداءَها في هذَيْن الوقتَيْن، كان دَيْنًا في ذِمَّتها، تؤدِّيه وقتَ استِطاعتها. هذا والله أعلم

.Wallahu a’lam bisshowab..