Arsip Kategori: Bahtsul Masail

Bahtsul Masail yang dimuat disini adalah hasil dari Bahtsul Masail yang dibahas di forum Majelis Syar’ie IKABA dan forum grup Bahtsul Masail IKABA di Media Sosial

H002. HUKUM MEWAKILKAN HAJI

Pelaksanaan+Ibadah+haji

 

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Diskripsi ;
Diantara syarat sebelum berangkat haji adalah para jamaah wajib tes kesehatan terlebih dahulu. Namun tanpa diduga, banyak para Jamaah yang mendadak sakit ketika tengah melakukan ritual haji.

Pertanyaan :
Apakah bagi seseorang yang sakit ketika tengah menunaikan ritual haji diperbolehkan mewakilkan orang lain supaya menyempurnakan hajinya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh, bahkan wajib sebab mewakilkan keseluruhan ritual haji tatkala sakit saja diperbolehkan apalagi hanya mewakilkan sebagiannya saja. Tapi bagi orang yang mati di tengah-tengah dia melakukan ibadah haji maka dia dicegah dari menyempurnakan ibadah haji alasannya ialah karena dia sudah keluar dari keahlian(kecakapan ke pantasan)secara keseluruhan.

Referensi :

(فتاوي الرملي,الجزء ٢,صحيفۃ ٩٣)
)سءل عن حاج ترك طواف الاءفاضۃ وجاء الی مصر مثلا ثم صار معضوبا(اي مقطوعا) بشرطه فهل يجوز له ان يستنيب في هذا الطواف او في غيره من ركن او واجب(فاءجاب) باءنه يجوز له ذلك بل يجب عليه لاءن الاءنا بۃ اذا اجزاءت في جميع النسك ففي بعضه اولی, لا يقال النسك عبادۃ بدنيۃ فلا يبنی فيه فعل شخص علی فعل غيره لاءن محله عند موته او قدرته علی تمامه, واما عند العجز عنه فيبني ,فقط قالوا ان الحاج لو وقف بعرفۃ مجنونا وقع حجه نفلا, واستشكل بوقوف المغمی عليه فاءجيب باءن الجنون لا ينافي الوقوع نفلا,بخلاف المغمی عليه,وقالو ان للولي ان يحرم عن المجنون ابتداء ففي الدوام اولی ان يتم حجه ويقع نفلا,بخلاف المغمی عليه, وقالوا ان للولي ان يحرم عن الصبي المميز وغير المميز والمجنون, ويفعل ما عجز كل منهما عنه,ففي هاتين المساءلتين تم النسك النفل بالاءنابۃ, مع انه لا اثم علی من وقع له بترك اتمامه, بخلاف مساءلتنا, لقوله صلی اﷲ عليه وسلم (اذا امرتكم باءمر فاءتوا منه ما استطعتم) ولاءن الميسور لا يسقط بالمعسور, وقالوا ان من عجز عن الرمي وقته وجب عليه ان يستنيب فيه,وعللوه باءن الاءستتابۃ في الحج جاءزۃ,وكذالك في ابعاضه, فنزلوا فعل ماءذونه منزلۃ فعله, فاءذا كان هذا في الواجب الذي يجبر تركه ولو مع القدرۃ عليه بدم, فكيف بركن النسك, وانما امتنع اتمام نسك من مات في اثناءه لخروجه عن الاءهليۃ بالكليۃ, انتهی.

PERIHAL BADAL HAJI

Masalah menghajikan orang lain Pendapat ulama yang mengatakan boleh menghajikan orang lain, dengan syarat bahwa orang tersebut telah meninggal dunia dan belum melakukan ibadah haji, atau karena sakit berat sehingga tidak memungkinkannya melakukan ibadah haji namun ia kuat secara finansial. Ulama Haanfi mengatakan orang yang sakit atau kondisi badanya tidak memungkinkan melaksanakan ibadah haji namun mempunyai harta atau biaya untuk haji, maka ia wajib membayar orang lain untuk menghajikannya, apalagi bila sakitnya kemungkinan susah disembuhkan, ia wajib meninggalkan wasiat agar dihajikan. Mazhab Maliki mengatakan menghajikan orang yang masih hidup tidak diperbolehkan. Untuk yang telah meninggal sah menghajikannya asalkan ia telah mewasiatkan dengan syarat biaya haji tidak mencapai sepertiga dari harta yang ditinggalkan. Mazhab Syafi’i mengatakan boleh menghajikan orang lain dalam dua kondisi; Pertama : untuk mereka yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji karena tua atau sakit sehingga tidak sanggup untuk bisa duduk di atas kendaraan. Orang seperti ini kalau mempunyai harta wajib membiayai haji orang lain, cukup dengan biaya haji meskipun tidak termasuk biaya orang yang ditinggalkan. Kedua orang yang telah meninggal dan belum melaksanakan ibadah haji, Ahli warisnya wajib menghajikannya dengan harta yang ditinggalkan, kalau ada. Ulama syafi’i dan Hanbali melihat bahwa kemampuan melaksanakan ibadah haji ada dua macam, yaitu kemampuan langsung, seperti yang sehat dan mempunyai harta. Namun ada juga kemampuan yang sifatnya tidak langsung, yaitu mereka yang secara fisik tidak mampu, namun secara finansial mampu. Keduanya wajib melaksanakan ibadah haji.

Dalil-dalil :

1. Hadist riwayat Ibnu Abbas “Seorang perempuan dari kabilah Khats’am bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah ayahku telah wajib Haji tapi dia sudah tua renta dan tidak mampu lagi duduk di atas kendaraan apakah boleh aku melakukan ibadah haji untuknya?” Jawab Rasulullah “Ya, berhajilah untuknya” (H.R. Bukhari Muslim dll.).

2. Hadist riwayat Ibnu Abbas ” Seorang perempuan dari bani Juhainah datang kepada Rasulullah s.a.w. bertanya “Rasulullah!, Ibuku pernah bernadzar ingin melaksanakan ibadah haji, hingga beliau meninggal padahal dia belum melaksanakan ibadah haji tersebut, apakah aku bisa menghajikannya?. Rasulullah menjawab “Hajikanlah untuknya, kalau ibumu punya hutang kamu juga wajib membayarnya bukan? Bayarlah hutang Allah, karena hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi” (H.R. Bukhari & Nasa’i).

3. “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w. berkata “Ayahku meninggal, padahal dipundaknya ada tanggungan haji Islam, apakah aku harus melakukannya untuknya? Rasulullah menjawab “Apakah kalau ayahmu meninggal dan punya tanggungan hutang kamu juga wajib membayarnya ? “Iya” jawabnya. Rasulullah berkata :”Berahjilah untuknya”. (H.R. Dar Quthni)

4. Riwayat Ibnu Abbas, pada saat melaksanakan haji, Rasulullah s.a.w. mendengar seorang lelaki berkata “Labbaik ‘an Syubramah” (Labbaik/aku memenuhi pangilanmu ya Allah, untuk Syubramah), lalu Rasulullah bertanya “Siapa Syubramah?”. “Dia saudaraku, Rasulullah”, jawab lelaki itu. “Apakah kamu sudah pernah haji?” Rasulullah bertanya. “Belum” jawabnya. “Berhajilah untuk dirimu, lalu berhajilah untuk Syubramah”, lanjut Rasulullah. (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Dar Quthni dengan tambahan “Haji untukmu dan setelah itu berhajilah untuk Syubramah”. Hukum menyewa orang untuk melaksanakan haji (badal haji): Mayoritas ulama Hanafi mengatakan tidak boleh menyewa orang melaksanakan ibadah haji, seperti juga tidak boleh mengambil upah dalam mengajarkan al-Qur’an. Dalam sebuah hadist riwayat Ubay bin Ka’ab pernah mengajari al-Qur’an lalu ia diberi hadiah busur, Rasulullah bersabda “Kalau kamu mau busur dari api menggantung di lehermu, ya ambil saja”.(H.R. Ibnu Majah). Rasulullah juga berpesan kepada Utsman bin Abi-l-Aash agar jangan mengangkat muadzin yang meminta upah” (H.R. Abu Dawud).

Sebagian ulama Hanafi dan mayoritas ulama Syafi’i dan Hanbali mengatakan boleh saja menyewa orang melaksanakan ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya yang boleh diwakilkan, dengan landasan hadist yang mengatakan “Sesungguhkan yang layak kamu ambil upah adalah Kitab Allah” (Dari Ibnu Abbas H.R. Bukhari). dan hadist-hadiat yang mengatakan boleh mengambil upah Ruqya (pengobatan dengan membaca ayat al-Qur;an). Ulama yang mengatakan boleh menyewa orang untuk melaksanakan ibadah haji, berlaku baik untuk orang yang telah meninggal maupun orang yang belum meninggal. Ulama Maliki mengatakan makruh menyewa orang melaksanakan ibadah haji, karena hanya upah mengajarkan al-Qur’an yang diperbolehkan dalam masalah ini menurutnya. Menyewa orang melaksanakan ibadah haji juga hanya boleh untuk orang yang telah meninggal dunia dan telah mewasiatkan untuk menyewa orang melakukan ibadah haji untuknya. Kalau tidak mewasiatkan maka tidak sah.

Syarat-syarat menghajikan orang lain :

1. Niyat menghajikan orang lain dilakukan pada saat ihram. Dengan mengatakan, misalnya, “Aku berniyat melaksanakan ibadah haji atau umrah ini untuk si fulan”.

2. Orang yang dihajikan tidak mampu melaksanakan ibadah haji, baik karena sakit atau telah meninggal dunia. Halangan ini, bagi orang yang sakit, harus tetap ada hingga waktu haji, kalau misalnya ia sembuh sebelum waktu haji, maka tidak boleh digantikan.

3. Telah wajib baginya haji, ini terutama secara finansial.

4. Harta yang digunakan untuk biaya orang yang menghajikan adalah milik orang yang dihajikan tersebut, atau sebagian besar miliknya.

5. Sebagian ulama mengatakan harus ada izin atau perintah dari pihak yang dihajikan. Ulama Syafi’i dan Hanbali mengatakan boleh menghajikan orang lain secara sukarela, misalnya seorang anak ingin menghajikan orang tuanya yang telah meninggal meskipun dulu orang tuanya tidak pernah mewasiatkan atau belum mempunyai harta untuk haji.

6. Orang yang menghajikan harus sah melaksanakan ibadah haji, artinya akil baligh dan sehat secara fisik.

7. Orang yang menghajikan harus telah melaksanakan ibadah haji, sesuai dalil di atas. Seorang anak disunnahkan menghajikan orang tuanya yang telah meninggal atau tidak mampu lagi secara fisik. Dalam sebuah hadist Rasulullah berkata kepada Abu Razin “Berhajilah untuk ayahmu dan berumrahlah”. Dalam riwayat Jabir dikatakan “Barang siapa menghajikan ayahnya atau ibunya, maka ia telah menggugurkan kewajiban haji keduanya dan ia mendapatkan keutamaan sepuluh haji”. Riwayat Ibnu Abbas mengatakan “Barangsiapa melaksanakan haji untuk kedua orang tuanya atau membayar hutangnya, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat nanti bersama orang-orang yang dibebaskan” (Semua hadist riwayat Daruquthni). Demikian, semoga membantu.

الحديث)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ : إِنِّي تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ فَقَالَ : وَجَبَ أَجْرُكِ ، وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ ، قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا ؟ قَالَ : صُومِي عَنْهَا ، قَالَتْ : إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا ؟ قَالَ : حُجِّي عَنْهَا : رواه مسلم(1149 )

المغني ابن قدامة جزء 3 ص185 :

فصل : ولا يجوز أن يستنيب من يقدر على الحج بنفسه في الحج الواجب إجماعا . قال ابن المنذر : أجمع أهل العلم على أن من عليه حجة الإسلام ، وهو قادر على أن يحج ، لا يجزئ عنه أن يحج غيره عنه ، والحج المنذور كحجة الإسلام ، في إباحة الاستنابة عند العجز ، والمنع منها مع القدرة ; لأنها حجة واجبة ، فأما حج التطوع ، فينقسم أقساما ثلاثة

أحدها ، أن يكون ممن لم يؤد حجة الإسلام ، فلا يصح أن يستنيب في حجة التطوع ، لأنه لا يصح أن يفعله بنفسه ، فبنائبه أولى .

الثاني ، أن يكون ممن قد أدى حجة الإسلام ، وهو عاجز عن الحج بنفسه ، فيصح أن يستنيب في التطوع ، فإن ما جازت الاستنابة في فرضه ، جازت في نفله ، كالصدقة . الثالث ، أن يكون قد أدى حجة الإسلام ، وهو قادر على الحج بنفسه ، فهل له أن يستنيب في حج التطوع ؟ فيه روايتان ; إحداهما ، يجوز . وهو قول أبي حنيفة ; لأنها حجة لا تلزمه بنفسه ، فجاز أن يستنيب فيها ، كالمعضوب . والثانية ، لا يجوز . وهو مذهب الشافعي ; لأنه قادر على الحج بنفسه ، فلم يجز أن يستنيب فيه ، كالفرض

شرح النووي على مسلم جزء 8 ص 27

والجمهور على أن النيابة في الحج جائزة عن الميت والعاجز الميئوس من برئه ، واعتذر القاضي عياض عن مخالفة مذهبهم – أي : المالكية – لهذه الأحاديث في الصوم عن الميت والحج عنه بأنه مضطرب ، وهذا عذر باطل ، وليس في الحديث اضطراب ، ويكفى في صحته احتجاج مسلم به في صحيحه

فتح الباري جزء 4 ص70

واتفق من أجاز النيابة في الحج على أنها لا تجزى في الفرض إلا عن موت أو عضَب – أي : شلل – ، فلا يدخل المريض ؛ لأنه يرجى برؤه ، ولا المجنون ؛ لأنه ترجى إفاقته ، ولا المحبوس ؛ لأنه يرجى خلاصه ، ولا الفقير ؛ لأنه يمكن استغناؤه

المجموع شرح المهذب جزء 7 ص 96

قال المصنف رحمه الله تعالى ( وتجوز النيابة في حج الفرض في موضعين ( أحدهما ) : في حق الميت إذا مات وعليه حج ، والدليل عليه حديث بريدة ( والثاني ) : في حق من لا يقدر على الثبوت على الراحلة إلا بمشقة غير معتادة ، كالزمن والشيخ الكبير ، والدليل عليه ما روى ابن عباس رضي الله عنه ، أن امرأة من خثعم أتت النبي صلى الله عليه وسلم فقالت : يا رسول الله إن فريضة الله في الحج على عباده ، أدركت أبي شيخا كبيرا ، لا يستطيع أن يستمسك على الراحلة ، أفأحج عنه ؟ قال : نعم ، قالت أينفعه ذلك ؟ قال : نعم ، كما لو كان على أبيك دين فقضيته نفعه : ولأنه أيس من الحج بنفسه فناب عنه غيره كالميت ، وفي حج التطوع قولان ( أحدهما ) : لا يجوز ; لأنه غير مضطر إلى الاستنابة فيه ، فلم تجز الاستنابة فيه كالصحيح ( والثاني ) أنه يجوز ، وهو الصحيح ; لأن كل عبادة جازت النيابة في فرضها جازت النيابة في نفلها كالصدقة ، فإن استأجر من يتطوع عنه ، وقلنا : لا يجوز ، فإن الحج للحاج ، وهل يستحق الأجرة ؟ فيه قولان ( أحدهما ) : أنه لا يستحق ، لأن الحج قد انعقد له ، فلا يستحق الأجرة كالصرورة ( والثاني ) : يستحق ; لأنه لم يحصل له بهذا الحج منفعة ; لأنه لم يسقط به عنه فرض ولا حصل له به ثواب بخلاف الصرورة ، فإن هناك قد سقط عنه الفرض .

( فأما ) الصحيح الذي يقدر على الثبوت على الراحلة ، فلا تجوز النيابة عنه في الحج ; لأن الفرض عليه في بدنه ، فلا ينتقل الفرض إلى غيره إلا في الموضع الذي وردت فيه الرخصة ، وهو إذا أيس وبقي فيما سواه على الأصل ، فلا تجوز النيابة عنه فيه ( وأما ) المريض ، فينظر فيه ، فإن كان غير مأيوس منه لم يجز أن يحج عنه غيره ; لأنه لم ييأس من فعله بنفسه ، فلا تجوز النيابة عنه فيه كالصحيح فإن خالف وأحج عن نفسه ثم مات ، فهل يجزئه عن حجة الإسلام ؟ فيه قولان

أحدهما : يجزئه ; لأنه لما مات تبينا أنه كان مأيوسا منه :والثاني : لا يجزئه ; لأنه أحج وهو غير مأيوس منه في الحال ، فلم يجزه ، كما لو برئ منه ، وإن كان مريضا مأيوسا منه جازت النيابة عنه في الحج ; لأنه مأيوس منه فأشبه الزمن والشيخ الكبير :فإن أحج عن نفسه ثم برئ من المرض ، ففيه طريقان ( أحدهما ) أنه كالمسألة التي قبلها ، وفيها قولان ( والثاني ) أنه يلزمه الإعادة قولا واحدا ; لأنا تبينا الخطأ في الإياس ، ويخالف ما إذا كان غير مأيوس منه فمات ، لأنا لم نتبين الخطأ ; لأنه يجوز أنه لم يكن مأيوسا منه ، ثم زاد المرض ، فصار مأيوسا منه ، ولا يجوز أن يكون مأيوسا منه ، ثم يصير غير مأيوس منه.

Wallahu a’lamu bisshowab..

H001. UDZUR SAAT THAWAF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana solusi bagi orang yang udzur di pertengahan pelaksanaan towaf wajib. Apakah ada rukhsoh atau bisa diganti dengan pekerjaan yang lain?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1 . Menurut SYAFI’IYYAH ia harus menunggu masa sucinya kembali untuk menjalankan ibadah thowafnya dan menetap ditanah haram, kalau tidak memungkinkan baginya menetap disana kewajiban thawafnya masih ada padanya dan tidak bisa gugur.

2. Menurut selain SYAFI’IYYAH suci saat thawaf tidak menjadi persyaratan saat thawaf, hanya sebagai kewajiban yang bila ditinggalkan dia wajib membayar DAM (denda) dan bahkan ada yang berpendapat hanya sunah membayarnya.

Wallahu A’lam Bis Showaab.

Referensi :

– Hasyiyah al-Jamal IX/151 :

وَلَا يَجُوزُ طَوَافُ الرُّكْنِ وَلَا غَيْرُهُ لِفَاقِدِ الطَّهُورَيْنِ ، بَلْ الْأَوْجَهُ أَنْ يَسْقُطَ عَنْهُ طَوَافُ الْوَدَاعِ ، وَلَوْ طَرَأَ حَيْضُهَا قَبْلَ طَوَافِ الرُّكْنِ وَلَمْ يُمْكِنْهَا التَّخَلُّفُ لِنَحْوِ فَقْدِ نَفَقَةٍ أَوْ رُفْقَةٍ أَوْ خَوْفٍ عَلَى نَفْسِهَا رَحَلَتْ إنْ شَاءَتْ ثُمَّ إذَا وَصَلَتْ لِمَحَلٍّ يَتَعَذَّرُ الرُّجُوعُ عَلَيْهَا مِنْهُ إلَى مَكَّةَ تَتَحَلَّلُ كَالْمُحْصَرِ وَيَبْقَى الطَّوَافُ فِي ذِمَّتِهَا فَيَأْتِي فِيهِ مَا تَقَرَّرَ وَفِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ مَزِيدُ بَسْطٍ بَيَّنْته فِي الْحَاشِيَةِ وَأَنَّ الْأَحْوَطَ لَهَا أَنْ تُقَلِّدَ مَا يَرَى بَرَاءَةَ ذِمَّتِهَا بِطَوَافِهَا قَبْلَ رَحِيلِهَا .

– Hasyiyah al-Jamal IX/154 :

أَنَّ مَنْ حَاضَتْ قَبْلَ طَوَافِ الرُّكْنِ وَلَمْ يُمْكِنْهَا الْإِقَامَةُ حَتَّى تَطْهُرَ لَهَا أَنْ تَرْحَلَ فَإِذَا وَصَلَتْ إلَى مَحَلٍّ يَتَعَذَّرُ عَلَيْهَا الرُّجُوعُ مِنْهُ إلَى مَكَّةَ جَازَ لَهَا حِينَئِذٍ أَنْ تَتَحَلَّلَ كَالْمُحْصَرِ وَتُحِلُّ حِينَئِذٍ مِنْ إحْرَامِهَا وَيَبْقَى الطَّوَافُ فِي ذِمَّتِهَا إلَى أَنْ تَعُودَ وَالْأَقْرَبُ أَنَّهُ أَيْ الْعَوْدَ عَلَى التَّرَاخِي وَأَنَّهَا تَحْتَاجُ عِنْدَ فِعْلِهِ إلَى إحْرَامٍ لِخُرُوجِهَا مِنْ نُسُكِهَا بِالتَّحَلُّلِ بِخِلَافِ مَنْ طَافَ بِتَيَمُّمٍ تَجِبُ مَعَهُ الْإِعَادَةُ أَيْ إعَادَةُ الطَّوَافِ لِعَدَمِ تَحَلُّلِهِ حَقِيقَةً .

– Badaa-i as-Shonaa-i’ IV/385 :

فَأَمَّا الطَّهَارَةُ عَنْ الْحَدَثِ ، وَالْجَنَابَةِ ، وَالْحَيْضِ ، وَالنِّفَاسِ فَلَيْسَتْ بِشَرْطٍ لِجَوَازِ الطَّوَافِ ، وَلَيْسَتْ بِفَرْضٍ عِنْدنَا بَلْ وَاجِبَةٌ حَتَّى يَجُوزَ الطَّوَافُ بِدُونِهَا .وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ فَرْضٌ لَا يَصِحُّ الطَّوَافُ بِدُونِهَا .وَاحْتَجَّ بِمَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { الطَّوَافُ صَلَاةٌ إلَّا أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَبَاحَ فِيهِ الْكَلَامَ } .وَإِذَا كَانَ صَلَاةً فَالصَّلَاةُ لَا جَوَازَ لَهَا بِدُونِ الطَّهَارَةِ ، وَلَنَا قَوْله تَعَالَى : { وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ } أَمَرَ بِالطَّوَافِ مُطْلَقًا عَنْ شَرْطِ الطَّهَارَةِ

– Al-Mughni III/397 :

وقال أبو حنيفة : ليس شيء من ذلك شرطا واختلف أصحابه فقال بعضهم هو واجب وقال بعضهم هو سنة لأن الطواف ركن للحج فلم يشترط له الطهارة كالوقوف

– Al-Fiqh al-Islaam I/494 :

2 – الطواف بالبيت الحرام فرضاً أو نفلاً؛ لأنه صلاة، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «الطواف بالبيت صلاة، ولكن الله أحل فيه المنطق، فمن نطق فلا ينطق إلا بخير»

(3) .إلا أن الحنفية جعلوا الطهارة للطواف واجباً لا شرطاً في صحته، فيصح مع الكراهة التحريمية الطواف محدثاً؛ لأن الطواف بالبيت شبيه بالصلاة بنص الحديث السابق، ومعلوم أنه ليس بصلاة حقيقة، فلكونه طوافاً حقيقة يحكم بالجواز، ولكونه شبيهاً بالصلاة يحكم بالكراهة.

Tambahan ibarot :

وللطواف شروط وسنن وآداب نذكرها فيما يلي:
شروط الطواف:
1 – الطهارة من الحدث الاصغر والاكبر والنجاسة (1) لما رواه ابن عباس رضي الله عنهما، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” الطواف صلاة … إلا أن الله تعالى أحل فيه الكلام فمن تكلم فلا يتكلم إلا بخير “.
رواه الترمذي والدارقطني، وصححه الحاكم وابن خزيمة وابن السكن.
وعن عائشة رضي الله عنها: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وهي تبكي، فقال: ” أنفست؟ (2) ” – يعني الحيضة – قالت، نعم.
قال: ” إن هذا شئ كتبه الله على بنات آدم، فاقضي ما يقضي الحاج، غير أن لا تطوفي بالبيت حتى تغتسلي “.
رواه مسلم.
وعنها قالت: إن أول شئ بدأ به النبي صلى الله عليه وسلم – حين قدم مكة – أنه توضأ ثم طاف بالبيت.
رواه الشيخان.
ومن كان به نجاسة، لا يمكن إزالتها، كمن به سلس بول وكالمستحاضة
التي لا يرقا دمها، فإنه يطوف ولا شئ عليه باتفاق.
روى مالك: ان عبد الله بن عمر جاءته امرأة تستفتيه، فقالت: إني أقبلت أريد أن أطوف بالبيت، حتى إذا كنت عند باب المسجد هرقت الدماء،

(1) يرى الحنفية أن الطهارة من الحدث ليست شرطا وإنما هي واجب يجبر بالدم. فلو كان محدثا حدثا أصغر وطاف صح طوافه ولزمه شاة. وإن طاف جنبا أو حائضا، صح ولزمه بدنة، ويعيده ما دام بمكة. وأما الطهارة من النجاسة في الثوب أو البدن، فهي سنة عندهم فقط. (2)” أنفست ” أي أحضت.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N014. HAK ANAK ATAS HARTA AYAH IBUNYA YANG SUDAH BERCERAI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Ada keluarga (suami dan isteri) yang bercerai, sedangkan keluarga tersebut sudah punya anak. Tapi dalam pembagian hartanya anak tersebut tidak dapat bagian. Bagaimana hukumnya?

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Bughyatul Mustarsyidin, halaman 159 :

اختلط مال الزوجين ولم يعلم لاءيهما اكثر,ولا قرينۃ تميز احدهما,وحصلت بينهما فرقۃ او موت,لم يصح لاءحدهماولا وارثه تصرف في شيء منه قبل التمييز اوالصلح الا مع صاحبه,اذ لا مرجح,وحينءذ فاءن امكن معرفتهما,والا وقف الاءمر حتی يصطلح الزوجان او ورثتهمابلفظ صلح او تواهب بتساو او تفاوت ان كانوا كاملين,ويجب ان لا ينقص عن النصف في المحجور,نعم ان جرت العادۃ المطردۃ باءن احدهما يكسب اكثر من الاءخر كان الصلح والتواهب علی نحو ذلك,فاءن لم يتفقوا علی شيء من ذلك فمن بيده شيء من المال فالقول قوله بيمينه انه ملكه,فاءن كان بيدهما فلكل تحليف الاءخر ثم يقسم نصفين(بغيۃ المسترشدين,صحيفۃ ١٥٩)

Telah bercampur harta benda suami isteri, dan tidak diketahui milik siapa yang lebih banyak, dan tidak ada tanda-tanda yang dapat membedakan salah satu diantara kedua harta itu. Dan diantara keduanya terjadi perceraian atau mati, maka tidak sah bagi salah satu dari kedua suami isteri itu dan tidak sah juga bagi ahli warisnya salah satu dari suami istri itu (tidak sah) bertindak kepada harta itu sebelum membedakan atau sebelum berdamai, kecuali beserta orang yang punya harta itu, karena tidak ada yang memenangkan kepada salah satu dari suami isteri itu. Maka disaat itu jika mungkin untuk mengetahui kepada kedua harta itu, maka harta itu diberikan kepada yang berhak. Dan jika tidak mungkin maka urusan itu ditangguhkan sampai kedua suami isteri itu atau ahli waris dari suami isteri itu berdamai dengan menggunakan lafal “shulhu” (perdamaian), atau sampai diantara suami isteri itu terjadi saling memberi dengan sama bagiannya,atau dengan berbeda bagiannya. (itupun terjadi) jika suami isteri itu sempurna(artinya tidak termasuk mahjur alaihi). dan diwajibkan didalam pembagian harta supaya tidak kurang dari separuh bagian bagi suami/isteri yang termasuk mahjur alaihi. Tapi jika berlaku adat, bahwa salah seorang dari kedua suami isteri itu bekerja lebih banyak dari yang lain, maka diadakan shulhu (perdamaian) dan saling memberi. Dan jika suami dan isteri itu tidak sepakat atas perdamaian dan saling memberi, maka suami/isteri yang memegang harta, maka ucapan yang diterima adalah ucapan dari suami/isteri yang memegang harta itu dengan sumpahnya bahwa harta itu miliknya.

Maka jika harta itu ada ditangan kedua suami isteri itu, maka masing-masing menyumpah lainnya, kemudian harta itu dibagi dua. Karena didalam ibarot diatas, didalam pembagian harta antara suami isteri itu, hanya menyebut bahwa yang berhak mendapat harta itu hanya suami dan isteri, dan didalam ibarot diatas tidak ada keterangan bahwa anak mendapatkan bagian dari harta itu. Maka menurut saya, anak tersebut tidak berhak mendapat bagian dari hartanya suami/isteri itu, kecuali jika suami/isteri itu rela menghibahkan sebagian hartanya untuk anaknya.

Wallahu a’lamu bisshowab..

P001. WAJIBKAH IMSAK KETIKA BATAL DALAM PUASA KODHO’

PERTANYAAN :

Assalamualaikum..

Ustad, jika ada seorang yang tidak sengaja puasanya batal. Dan ia sedang puasa Qodo Ramadhan. Apakah ia harus imsak sebagaimana harus imsak ketika batal dalam puasa Ramadhan.

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Ada enam orang yang wajib imsak (menahan diri untuk tidak makan dan minum setelah batalnya puasa sampai Maghrib)

1. Orang yang membatalkan puasa Ramadhan tanpa udzur. Jadi jika itu adalah puasa qodho tidak wajib imsak.

2. Orang yang lupa niat puasa di malam hari untuk puasa fardhu.

3.Orang yang sahur mengira masih malam ternyata sudah Shubuh.

4. Orang yang berbuka mengira sudah Maghrib padahal belum.

5. Orang yang tidak puasa di hari 30 Syakban kemudian menjadi jelas bahwasanya hari itu ternyata adalah tanggal 1 Ramadhan.

6. Orang yang secara tidak sengaja menelan air kumur-kumur dan istinsaq (masukan air ke hidung) yang dilakukan dengan berlebihan.

Dari kesimpulan ini diketahui bahwa orang yang batal puasa untuk qodho karena uzur tidak wajib imsak walau pun dalam puasa Ramadhan apalagi dalam puasa qodho.

Referensi:

كاشفة الشجا شرح سفينة النجا

(ويجب مع القضاء الإمساك للصوم في ستة مواضع: الأول في رمضان لا في غيره) كنذر وقضاء وكفارة (على متعد بفطره) لتعديه بإفساده، قال الشرقاوي: ولو شرب خمراً بالليل وأصبح صائماً فرضاً فقد تعارض عليه واجبان الإمساك والتقيؤ فيراعي حرمة الصوم فيما يظهر للاتفاق على وجوب الإمساك فيه، والاختلاف في وجوب التقيؤ على الصائم، أما النفل فلا يبعد عدم وجوب التقيؤ وإن جاز محافظة على حرمة العبادة. (والثاني: على تارك النية ليلاً في الفرض) لتقصيره حقيقة إن عمد الترك أو حكماً إن لم يتعمده كأن كان ناسياً أو جاهلاً لأن ذلك يشعر بترك الاهتمام بأمر العبادة فهو ضرب تقصير أي فيجب عليه الإمساك، ويجب عليه بعد ذلك القضاء فوراً إن تعمد تركها وإلا فلا، وله تقليد أبي حنيفة فينوي نهاراً (والثالث: على من تسحر ظانا بقاء الليل فبان خلافه) لتقصيره حقيقة إن كان بغير اجتهاد وإلا فحكماً. (والرابع: على من أفطر ظاناً الغروب فبان خلافه أيضاً) كما يقع الآن كثيراً بسبب جهل الميقاتية قاله الشرقاوي.

(والخامس: على من بان له يوم ثلاثي شعبان أنه من رمضان) لأنه كان يلزم الصوم ولو على حقيقة الحال، ثم إن ثبت قبل نحو أكلهم ندب لهم نية الصوم بخلاف المسافر إذا قدم بعد الإفطار لأنه يباح له الأكل مع العلم بأنه من رمضان قاله الرملي (والسادس: على من سبقه ماء المبالغة من مضمضة واستنشاق) لتقصيره بها بخلاف صبي بلغ مفطراً أو مجنون أفاق وكافر أسلم ومسافر مريض زال عذرهما بعد الفطر لا يجب عليهم الإمساك بل يسن إذ لا تقصير منهم ولا يجب على الصبي القضاء، أما لو بلغ صائماً فيجب إتمامه بلا قضاء أيضاً لصيرورته من أهل الوجوب في أثناء العبادة، فأشبه ما لو دخل في صوم تطوع ثم نذر إتمامه، ولو جامع بعد بلوغه لزمته الكفارة، وكذا المسافر والمريض إذا زال عذرهما صائمين فيجب الإتمام عليهما كالصبي ولصحة صومهما ثم الممسك ليس في صوم وإن أثيب عليه، فلو ارتكب محظوراً كالجماع فلا شيء عليه سوى الإثم أي لا كفارة، ولو ارتكب مكروهاً كسواك بعد الزوال ومبالغة مضمضمة كره في حقه ذلك كالصائم، وأما فاقد الطهورين فهو في صلاة شرعية، والفرق أن المفقود هنا ركن وهناك شرط، وإنما أثيب الممسك مع أنه ليس في صوم لأنه قام بواجب خوطب به فثوابه من تلك الجهة لا من جهة الصوم.

Wallahu a’lamu bisshowab..

J006. CARA MERAWAT SEORANG IBU DAN ANAKNYA SAMA-SAMA MENINGGAL DUNIA NAMUN SI BAYI BELUM KELUAR SEUTUHNYA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Diskripsi masalah :
Ada seorang perempuan katakanlah (Zulaihah) hamil ketika hendak melairkan janin ternyata anaknya keluar separuh dan anak itu laki-laki namun sizulaihah tidak mampu untuk melahirkan anak secara tuntas akhirnya sizulaihah meninggal dan anakpun ikut meninggal dan tetap masih ada difarji’nya sang ibu (masih bersambung jasatnya).

Pertanyaannya :

1-Bagaimana niat dan cara memandikannya ?

2-Bagaimana cara mensolatinya dan cara mendo’akannya

3-Bagaimana cara menguburkannya (untuk menghadapkan sikepalanya) karen itu terdapat dua kepala (kepala ibu & anak)

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Didalam kitab Attajriid Linaf’il ‘Abiid/ Hasyiyah Al Bujairimi, Jilid 1, halaman 298.

وكما لو دفنت امراۃ حامل بجننين ترجی حياته باءن يكون له ستۃ اشهر فاءكثر فيشق جوفها ويخرج اذ شقه لازم قبل دفنها ايضا.فاءن لم ترج حياتٌه فلا,لكن يترك دفنها الی موته ثم تدفن.م ر.وقوله لكن يترك دفنها الی موته اي ولو تغيرت مثلا ولا يدفن الحمل حيا.عش.

Demikianlah halnya kalau wanita hamil dikubur bersama janinnya yang masih diharapkan hidup, misalnya sudah mencapai enam bulan atau lebih, maka perut wanita tersebut harus dibelah dan janinnya dikeluarkan, sebab membelah perutnya itu wajib pula sebelum dikuburkan. Bila sudah tidak diharapkan hidupnya bayi itu maka bayi itu tidak perlu dibedah, namun pemakaman mayat wanita itu ditunda sampai si janin mati, lalu dimakamkan. Demikian pendapat Ar Ramli. Ungkapan beliau : “namun pemakaman mayat si wanita itu ditunda sampai si janin mati”, maksudnya meskipun janin itu telah berubah(membusuk)umpamanya, dan si janin tidak boleh dikubur hidup hidup”. Demikian pernyataan Ali Syibromallisi.

Jawaban :

(1). Niat dan cara memandikan wanita dan bayi itu, didalam kitab Bujairimi Alal Khotiib,juz 1,halaman 516 :

ولا تجب نيۃ الغاسل لاءن القصد بغسل الميت النظافۃ وهي لا تتوقف علی نيۃ فيكفي غسل كافر

Dan juga didalam kitab Kasyifatussajaa, halaman 101 disebutkan :

ولا يجب نيۃ الغسل لاءن القصد به النظافۃ وهي لا تتوقف علی نيۃ لكن تسن خروجا من الخلاف فيقول الغاسل نويت الغسل اداء عن هذا الميت اواستباحۃ الصلاۃ عليه

Niat memandian wanita dan bayi itu tidak wajib. karena yang dituju dari memandikan adalah kebersihan. Sedangkan kebersihan itu tidak tergantung kepada niat. tapi disunnatkan berniat, hal itu karena keluar dari perbedaan pendapat ulama. Maka orang yang memandikan itu berniat “saya niat memandikan mayit wanita dan bayinya ini, a daa-an(karena memandikan pada waktunya)
Cara memandikannya adalah sama dengan cara memandikan mayit biasa. Alasannya ialah karena didalam kitab Bujairimi diatas tidak disebutkan cara memandikan mayit wanita yang didalam perutnya ada bayi yang mati

(2). Cara mensholatkannya adalah disholatkan dalam keadaan wanita dan bayi itu tetap bersatu. Karena didalam kitab Bujairimi diatas tidak disebutkan cara mensholatkan yang lain dari cara mensholatkan mayit yang biasa.
Cara mendoakannya ialah di kitab Kaasyifatudsajaa, halaman 104 :
jika baligh maka doanya adalah :

اللهم الطف بها الی اخره.

ditambah dengan do’a yang ada di kitab Kaasyifatussajaa halaman 104 :

اما الصغير فيقول فيه مع الدعاء الاءول

Adapun jika mayitnya itu anak kecil maka orang yang sholat jenazah itu berdo’a seperti do’a yang awwal lalu ditambah dengan :

اللهم اجعله فرطا لاءبوبه وسلفا وذخرا وعظۃ واعتبارا وشفيعا, وثقل به موازيننا, وافرغ الصبر علی فلوبهما ولا تفتنهما بعده ولا تحرمنا اجره.

(3). Cara menguburkannya adalah sebagaimana keterangan dari kitab Bujairimi diatas, yaitu wanita dan bayi yang melekat pada ibunya itu dikuburkan bersama, dalam posisi kepala ibunya anak itu diwajibkan dihadapkan ke kiblat, dan disunnatkan pipi kanan ibunya itu dirapatkan ke tanah (setelah membuka kain kafan dari ibu itu), atau disunnatkan pipi kanan ibu itu dirapatkan ke batu bata, Karena sesungguhnya merapatkan pipi yang kanan ke tanah itu lebih sangat didalam menunjukkan kehinaan. Sedangkan kepala bayi itu dibiarkan menghadap kemana saja.

Sedangkan menurut mazhab Syâf’î, maka perut wanita tersebut harus dibedah jika besar kemungkinan bahwa janin yang ada dalam perut masih dalam keadaan hidup. Sebab hal tersebut termasuk merusak sebagian dari anggota tubuh wanita yang telah meninggal untuk menyelamatkan orang yang masih hidup. Maka –berdasarkan alasan ini- dibolehkan membedah perut ibunya. Hal ini sama hukumnya, jika sebagian tubuh bayi tersebut telah keluar, namun tidak mungkin mengeluarkannya secara utuh kecuali dengan melakukan pembedahan. Disamping itu apabila perut orang yang telah meninggal dunia boleh dibedah untuk mengeluarkan harta –misalnya uang atau mutiara- yang ia telan, maka apalagi membedahnya disebabkan untuk mengeluarkan manusia yang masih hidup.

Alasan yang mendasari pendapat kami adalah: pada kebiasaannya anak yang terdapat dalam perut wanita yang telah meninggal dunia, ikut meninggal dunia bersama ibunya. Lagi pula tidak dapat diyakinkan bahwa anak tersebut masih dalam keadaan hidup. Oleh sebab itu tidak dibolehkan menginjak kehormatan yang pasti hanya demi sesuatu yang masih diragukan. Dan sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: “mematahkan tulang orang mati, sama hukumnya dengan mematahkan tulang orang yang masih hidup” (H.R. Abu Daud).

Disamping itu pembedahan tersebut mengandung makna mencincang orang yang telah mati dan hal ini dilarang oleh Rasulullah s.a.w. Ini berbeda dengan masalah yang telah dijadikan sebagai sumber qiyas (maksudnya adalah perkataan: Hal ini sama hukumnya, jika sebagian tubuh bayi tersebut telah keluar, namun tidak mungkin mengeluarkannya secara utuh kecuali dengan melakukan pembedahan). Sebab pada masalah ini kematian bayi tersebut lebih besar kemungkinannya daripada hidupnya.

Dengan demikian, apabila sebagian tubuh bayi telah keluar, namun kelahiran tersebut tidak dapat dilaksanakan secara utuh kecuali dengan melakukan pembedahan, maka dibolehkan membedah vagina dan mengeluarkan bayi tersangkut. Hal ini berdasarkan alasan yang telah kami sebutkan diatas.

Kemudian apabila bayi tersebut meninggal dalam kondisi seperti itu (sebagian tubuhnya telah berada diluar) dan memungkinkan untuk mengeluarkannya, maka bayi tersebut harus dikeluarkan secara utuh lalu dimandikan secara tersendiri. Adapun apabila bayi yang tersangkut tersebut tidak mungkin dikeluarkan secara utuh, maka ia tetap dibiarkan sebagaimana adanya, lalu ibunya beserta bagian tubuh bayi yang keluar dimandikan. Sedangkan sisa tubuhnya yang masih berada didalam rahim ibunya, dianggap termasuk anggota dalam tubuh yang tidak perlu ditayammumi lagi. Sebab semuanya telah dianggap anggota tubuh bagian dalam. Adapun selebihnya maka hukumnya seperti biasa (semula).

Pendapat ini telah disebutkan oleh Ibnu ‘Aqîl r.a, dan beliau berkata: masalah ini bermula dari peristiwa yang terjadi dan aku ditanyakan orang tentang hukumnya, maka akupun berfatwa sebagaimana yang disebutkan diatas.

فعن أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (كَسْرُ عَظْمِ المَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا) رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه، وقال ابن دقيق العيد: إسناده على شرط مسلم.

معنى الحديث :

هذا الحديث العظيم يدل على حرمة التعدي على الميت كما يحرم التعدي على الحي، يقول الحافظ ابن حجر في شرحه لهذا الحديث: “يستفاد منه أن حرمة المؤمن بعد موته باقية كما كانت في حياته”، ويقول الإمام الطيبي: “إشارة إلى أنه لا يهان ميتا، كما لا يهان حيّا”، ويقول الإمام الباجي: “يريد أن له من الحرمة في حال موته مثل ما له منها حال حياته، وأن كسر عظامه في حال موته يحرم كما يحرم كسرها حال حياته”.

مسائل وأحكام

يمكن الاستدلال بهذا الحديث على جملة من المسائل والأحكام، نذكر منها:

– حرمة بيع أعضاء الميت: إذ أن حرمة جسد المسلم تمتد إلى ما بعد وفاته كما يدل على ذلك الحديث؛ ولذا لا يجوز الاعتداء عليه بأي نوع من أنواع الأذى، سواء كان ذلك ببيع أعضائه أو التصرف فيها، لأن الواجب في جسد المسلم بعد موته تغسيله وتكفينه والصلاة عليه ثم دفنه، وفي حال بيع أعضائه أو التصرف فيها إسقاط لهذه الواجبات.

– حرمة تشريح الجثة: يحرم تشريح جثة الميت المسلم وجعلها محلاً للتدريب والتعليم، فإن هذا مناف لتكريم الله له، وأما وجود الحاجة لتشريح الجثث للبحث العلمي، فهذه الحاجة يمكن أن تتحقق بجثث غير المعصومين كالكافر الحربي والمرتد عن الإسلام.

– كسر عظم الميت عن غير عمد ليس فيه قصاص أو دية: إذا انكسر عظم الميت أثناء دفنه أو عند دفن شخص آخر في نفس القبر بعد أن تبلى عظامه فليس في ذلك قصاص ولا أرش، قال الإمام ابن قدامة رحمه الله مؤيدا لذلك: “المراد بالحديث التشبيه في أصل الحرمة، لا في مقدارها، بدليل اختلافهما في الضمان والقصاص ووجوب صيانة الحي بما لا يجب به صيانة الميت”، والله أعلم.

Mungkin jawabannya sementara begini ustad hal ini di kiaskan pada sembelihan kandungan yang ikut pada ibunya berdasar pada koidah fikih, ini kan gini wanita yang melahirkn namun sebaagian saja maka hukumx ikut pada ibunya karena kelahiran tsb tidak sempurna dan hal ini sama halx dihukumi tidak lahir.

وقوله بعد خروجه من بطن امه اي تمام خروجه فلو اخرج رأسه وفيه حياة مستقرة ثم ذبحت امه فمات قبل تمام خروجه حل لان خروج بعضه كعدم خروجه في الغرة ونحوها فلا يجب ذبحه وان صار بخروج رأسه مقدورا عليه ( البجور ي ج ٢ ص ٢٩٠)

رابعها التابع لشيء تا بع له في حكمه ( الاشباه والنظائر ص ١٧٨)

Ibarot tambahan :

1661 ) مسألة ; قال : ( والمرأة إذا ماتت ، وفي بطنها ولد يتحرك ، فلا يشق بطنها ، ويسطو عليه القوابل ، فيخرجنه ) معنى ” يسطو القوابل ” أن يدخلن أيديهن في فرجها ، فيخرجن الولد من مخرجه . والمذهب أنه لا يشق بطن الميتة لإخراج ولدها ، مسلمة كانت أو ذمية ، وتخرجه القوابل إن علمت حياته بحركة . وإن لم يوجد نساء لم يسط الرجال عليه ، وتترك أمه حتى يتيقن موته ، ثم تدفن .

ومذهب مالك ، وإسحاق قريب من هذا . ويحتمل أن يشق بطن الأم ، إن غلب على الظن أن الجنين يحيا ، وهو مذهبالشافعي ; لأنه إتلاف جزء من الميت [ ص: 216 ] لإبقاء حي ، فجاز ، كما لو خرج بعضه حيا ، ولم يمكن خروج بقيته إلا بشق ، ولأنه يشق لإخراج المال منه ، فلإبقاء الحي أولى . ولنا ، أن هذا الولد لا يعيش عادة ، ولا يتحقق أنه يحيا ، فلا يجوز هتك حرمة متيقنة لأمر موهوم ، وقد قال عليه السلام : { تخريج الحديث كسر عظم الميت ككسر عظم الحي } . رواه أبو داود ،

وفيه مثلة ، وقد { ‘تخريج الحديث نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن المثلة } . وفارق الأصل ; فإن حياته متيقنة ، وبقاءه مظنون ، فعلى هذا إن خرج بعض الولد حيا ، ولم يمكن إخراجه إلا بشق ، شق المحل ، وأخرج ; لما ذكرنا . وإن مات على تلك الحال ، فأمكن إخراجه ، أخرج وغسل .

وإن تعذر غسله ترك ، وغسلت الأم ، وما ظهر من الولد ، وما بقي ففي حكم الباطن لا يحتاج إلى التيمم من أجله ; لأن الجميع كان في حكم الباطن ، فظهر البعض ، فتعلق به الحكم ، وما بقي فهو على ما كان عليه . ذكر هذا ابن عقيل . وقال : هي حادثة سئلت عنها ، فأفتيت فيها

الفقه المقارن المغني موفق الدين عبد الله بن أحمد بن قدامةدار إحيار التراث العربي

سنة النشر: 1405هـ / 1985م
رقم الطبعة: الأولى
عدد الأجزاء: عشرة أجزاء

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

قال المصنف رحمه الله :
{وإن مَاتَتْ امْرَأَةٌ وَفِي جَوْفِهَا جَنِينٌ حَيٌّ شُقَّ جوفها لانه استبقاء حي باتلاف جزء من الميت فأشبه إذا اضطر الي أكل جزء من الميت}
* {الشَّرْحُ} هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مَشْهُورَةٌ فِي كُتُبِ الْأَصْحَابِ، وَذَكَرَ صَاحِبُ الْحَاوِي أَنَّهُ لَيْسَ لِلشَّافِعِيِّ فِيهَا نَصٌّ. قَالَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَالْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَالْمَاوَرْدِيُّ وَالْمَحَامِلِيُّ وَابْنُ الصَّبَّاغِ وَخَلَائِقُ مِنْ الْأَصْحَابِ قَالَ ابْنُ سُرَيْجٍ إذَا مَاتَتْ امْرَأَةٌ وَفِي جَوْفِهَا جَنِينٌ حَيٌّ شُقَّ جَوْفُهَا وَأُخْرِجَ، فَأَطْلَقَ ابْنُ سُرَيْجٍ الْمَسْأَلَةَ. قَالَ أَبُو حَامِدٍ وَالْمَاوَرْدِيُّ وَالْمَحَامِلِيُّ وَابْنُ الصَّبَّاغِ وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا لَيْسَ هُوَ كَمَا أَطْلَقَهَا ابْنُ سُرَيْجٍ بَلْ يعرض علي القوابل، فان قلنا هَذَا الْوَلَدُ إذَا أُخْرِجَ يُرْجَى حَيَاتُهُ وَهُوَ ان يكون له ستة اشهر فصاعدا شق جوفها واخرج. وإن قلنا لَا يُرْجَى بِأَنْ يَكُونَ لَهُ دُونَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ لَمْ يُشَقَّ لِأَنَّهُ لَا مَعْنَى لِانْتِهَاكِ حُرْمَتِهَا فِيمَا لَا فَائِدَةَ فِيهِ. قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَقَوْلُ ابْنِ سُرَيْجٍ هُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ (قُلْت) وَقَطَعَ بِهِ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ فِي تَعْلِيقِهِ والعبدري فِي الْكِفَايَةِ، وَذَكَرَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ وَالْفُورَانِيُّ وَالْمُتَوَلِّي والبغوى وغيرهم في الذى لا يرجى حياته وجهين (احداهما) يُشَقُّ.
(وَالثَّانِي) لَا يُشَقُّ. قَالَ الْبَغَوِيّ وَهُوَ الْأَصَحُّ قَالَ جُمْهُورُ الْأَصْحَابِ فَإِذَا قُلْنَا لَا تشقّ لَمْ تُدْفَنْ حَتَّى تَسْكُنَ حَرَكَةُ الْجَنِينِ وَيُعْلَمَ أَنَّهُ قَدْ مَاتَ، هَكَذَا صَرَّحَ بِهِ الْأَصْحَابُ فِي جَمِيعِ الطُّرُقِ. وَنَقَلَ اتِّفَاقَ الْأَصْحَابِ عَلَيْهِ الْقَاضِي حُسَيْنٌ وَآخَرُونَ وَهُوَ مَوْجُودٌ كَذَلِكَ فِي كُتُبِهِمْ إلَّا مَا انْفَرَدَ بِهِ الْمَحَامِلِيُّ فِي الْمُقْنِعِ وَالْقَاضِي حُسَيْنٌ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ مِنْ تَعْلِيقِهِ قَبْلَ بَابِ الشَّهِيدِ بِنَحْوِ وَرَقَتَيْنِ وَالْمُصَنِّفُ في التنبيه فقالوا ترك عليه شئ ثَقِيلٌ حَتَّى يَمُوتَ ثُمَّ تُدْفَنُ الْمَرْأَةُ وَهَذَا غَلَطٌ فَاحِشٌ، وَقَدْ أَنْكَرَهُ الْأَصْحَابُ أَشَدَّ إنْكَارٍ. وَكَيْفَ يُؤْمَرُ بِقَتْلِ حَيٍّ مَعْصُومٍ وَإِنْ كَانَ ميؤوسا مِنْ حَيَاتِهِ بِغَيْرِ سَبَبٍ مِنْهُ يَقْتَضِي الْقَتْلَ.
ومختصر المسألة ان رجي حياة الجنين وجب شق جوفها واخراجه، والافثلاثة أَوْجُهٍ (أَصَحُّهَا) لَا تُشَقُّ وَلَا تُدْفَنُ حَتَّى يَمُوتَ (وَالثَّانِي) تُشَقُّ وَيُخْرَجُ (وَالثَّالِثُ) يُثْقَلُ بَطْنُهَا بشئ لِيَمُوتَ وَهُوَ غَلَطٌ. وَإِذَا قُلْنَا يُشَقُّ جَوْفُهَا شُقَّ فِي الْوَقْتِ الَّذِي يُقَالُ إنَّهُ أَمْكَنُ لَهُ، هَكَذَا قَالَهُ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ. وَقَالَ الْبَنْدَنِيجِيُّ يَنْبَغِي أَنْ تُشَقَّ فِي الْقَبْرِ فَإِنَّهُ أَسْتَرُ لَهَا.

المجموع شرح المهذب.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N013. NGAKU TIDAK PUNYA ISTRI, APAKAH TERMASUK TALAQ

PERTANYAAN :

Assalamualaikum wr wb..

Saya mau tanya di jaman sekarang ini kebanyakan seorang laki2 yang memiliki istri ngakunya tidak punya istri ketika ngobrol di medsos.
Pertanyaannya apakah itu termasuk talaq mohon penjelesannya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jika seorang bertanya pada laki-laki, apakah kamu punya istri ? lalu dia menjawab tidak / belum maka jika dia tidak punya niat thalak maka istrinya tidak terthalak karena ini tidak termasuk shorih, dan jika berniat thalak maka jatuhlah thalak karena hal ini masuk pada thalak. Ulama’ berbeda pendapat, ada yang bilang itu thalaq kinayah seperti ibaroh dan keterangan di bawah. Ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi apa-apa dan tidak berpengaruh sama sekali dan hal ini tidak dinamakan thalaq kinayah maupun shorih walaupun dengan adanya niat karena hal ini adalah murni kebohongan.

– Almuhadzdzab :

ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ ﻓﻲ ﻓﻘﺔ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻟﻠﺸﻴﺮﺍﺯﻱ • ﻟﻠﻤﻜﺘﺒﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ ﻭﺇﻥ ﻗﺎﻝ ﻟﻪ ﺭﺟﻞ ﺃﻟﻚ ﺯﻭﺟﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﻻ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻨﻮﺑﻪ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﻟﻢ ﺗﻄﻠﻖ ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﺼﺮﻳﺢ ﻭﺇﻥ ﻧﻮﻯ ﺑﻪ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﻭﻗﻊ ﻷﻧﻪ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺍﻟﻄﻼﻕ.

– Almajmu’ :

وان قال له رجل: ألك زوجة ؟ فقال لا، فإن لم ينو به الطلاق لم تطلق، لانه ليس بصريح، وان نوى به الطلاق وقع لانه يحتمل الطلاق. المجموع . ج: 17. ص: 102

– Attanbih, Mughnil Muhtaj, Khobaya Zawaya :

التنبيه – (ج 1 / ص 175) وإن قال ألك زوجة فقال لا لم يكن شيئا

مغني المحتاج – (ج 3 / ص 329)

ولو قيل له ألك زوجة فقال لا لم تطلق وإن نوى لأنه كذب محض وهذا ما نقله في أصل الروضة عن نص الإملاء وقطع به كثير من الأصحاب

ثم ذكر تفقها ما حاصله أنه كناية على الأصح وبه صرح المصنف في تصحيحه وأن لها تحليفه أنه لم يرد طلاقها وعليه جرى الأصفوني والحجازي في اختصارهما كلام الروضة والأول أوجه كما جرى عليه ابن المقري في روضه

خبايا الزوايا ـ للزركشى – (ج 1 / ص 70)

ذكر في باب التدبير أنه لو أنكر الزوجية فليس بطلاق على الأصح وذكر في باب الدعاوي أن المرأة لو ادعت النكاح فأنكر ففي جعل انكاره طلاقا وجهان أصحهما في النهاية واختاره القفال المنع وقال في هذا الباب لو قيل ألك زوجة فقال لا فعن نصه في الاملاء وبه قال كثير أنه لا يقع وإن نوى لأنه كذب محض ولايأمن الفرق بين أن يكون القائل مستخبرا أو ملتمسا إنشاء الطلاق

Wallahu a’lamu bisshowab..

N012. PEMASRAHAN WALI NIKAH SECARA ONLINE

PERTANYAAN :n

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mohon maaf, Barangkali ada ibarot dari kitab yang membolehkan tawkiilulwaliyyi melalui telpon di HP, melalui WhatsApp, melalui Imo. Mohon ibarot yang dari kitab itu disebutkan. Saya mengucapkan terimakasih atas jawabannya.

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

Hukum tawkil untuk akad nikah lewat telepon adalah sah, selama taukil tersebut dapat dipahami dan tidak ada penolakan dari pihak yang menerima wakalah.

Dasar Pengambilan :

Kitab Asy Syarqowi juz 2 halaman 10

(قَوْلُهُ وَصِيْغَةً) كَوَكَّلْتُكَ فِى كَذَا او فَوَّضْتُ إِلَيْكَ كَذَا سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ مَشَافَهَةً او كِتَابَةً او مُرَاسَلَةً وَيُشْتَرَطُ عَدَمُ رَدِّهَا كَمَا يَأْتِى وَلاَ يُشْتَرَطُ العِلْمُ بِهَا. فَلَو وَكَّلَهُ وَهُوَ لاَيَعْلَمُ صَحَّتْ حَتَّى لَوْ تَصَرَّفَ قَبْلَ عِلْمِهِ صَحَّ كَبَيْعِ مَالِ أَبْيْهِ يَظُنُّ حَيَاتِهِ.

(Ucapan mushannif “dan shighat”) seperti: Aku mewakilkan kepadamu dalam masalah demikian, atau aku menyerahkan kepadamu demikian. Baik penyerahan itu secara lisan atau secara tertulis atau pengiriman utusan. Disyaratkan pula tidak ada penolakan terhadap wakalah (perwakilan) tersebut sebagaimana keterangan yang akan datang, dan tidak disyaratkan mengetahui wakalah. Andaikata seseorang mewakilkan kepadanya sedang dia tidak tahu, maka sah wakalah tersebut; sehingga andaikata dia mentasarufkan sebelum mengetahui ada wakalah, tasaruf(distribusi)-nya sah, seperti menjual harta ayahnya yang dia sangka ayahnya masih hidup.

Kitab Bujairimi ‘Ala al Iqna’ juz 3 halaman 10

وَجُمْلَةُ مَا ذَكَرَهُ مِنْ شُرُوطِ الصِّيْغَةِ خَمْسَةٌ وَذَكَرَ فِى شَرْحِ المِنْهَجِ أرْبَعَةٌ:… إلَى أنْ قَالَ: الثَّانِى: أنْ يَتَلَفَّظَ بِحَيْثُ يَسْمَعُهُ مَنْ بِقُرْبِهِ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْهُ صَاحِبُهُ بِأَنْ بَلَغَهُ ذَلِكَ فَورًا او حَمَلَتْهُ الرِّيْحُ إلَيْهِ فَقَبِلَ.

“Jumlah dari apa yang telah mushannif sebutkan tentang syarat-syarat shighat adalah lima dan dalam kitab Syarah Minhaj, mushannif menyebutkan empat: … sampai mushannif berkata: “Yang kedua, hendaklah seseorang mengucapkan sekira orang yang berada didekatnya mendengar ucapannya, meskipun temannya tidak mendengar, dengan sekita dia menyampaikan hal tersebut kepada temannya seketika, atau angin telah membawa ucapan tersebut kepada temannya dan temannya menerima.

TAMBAHAN :

1. Dalam mewakilkan perwalian nikah melalui telefon atau surat kepada seseorang yang dipercayainya hukumnya diperbolehkan. Dan akan lebih baik jika yang mewakilkan mengenali suara dan mendengar langsung dari penerima wakil supaya tidak ada keraguan. Adapun yang tidak diperbolehkan adalah akad nikah yang melalui telepon, karena disyaratkan baginya (wali perempuan) dan kedua saksi harus hadir dalam satu dimajlis.

(2). Adapun diantara beberapa syarat sahnya taukil sebagai berikut :

(a). Adanya orang yang mewakilkan.
(b). Orang yang diberi wakil.
(c). Ucapan atau lafadz seperti berkata: Aku mewakilkan kepadamu untuk menikahkan anak saya yang bernama fulanah dengan fulan bin fulan.
(d). Sesuatu yang diwakilkan.

NB: Dan menurut qaul yang mu’tamad bahwa yang didahulukan adalah wakil ketimbang KUA.

Referensi Kitab:

(1). Hasyiayah As_Syarwani. Juz 5. Hal 359-360.
(2). Fiqhul Islam wa adillatuh. Juz 4. Hal 109.
(3). Tuhfatul Muhtaj. Juz 5. Hal 309.
(4). Hasyiyah As_Syarqowi. Juz 2. Hal 229.
(5). Fiqhul Islam wa Adillatuh. Juz 9. Hal 112.
(6). Kifayatul Akhyar. Juz 2. Hal 5.
(7). Nihayatuz Zain.Juz 1. Hal 251.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N011. AKAD NIKAH BAGI ORANG BISU

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mau bertanya bagaiman hukum nikahnya orang laki-laki yang bisu?
Bagaimna cara ijab qobulnya?

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Ada dua cara :

1. Dengan pakai bahasa isyarat yang jelas dan dapat dimengerti.

2. kalau pake bahasa isyarat tidak dapat dimengerti maka akadnya pakai tulisan. [ hasyiyah syarqowi.juz 2/225 ].

kalau isyarat tidak mampu, nulis juga tidak bisa, boleh dengan perantara walinya.

و ينعقد باشارة اخرس مفهمة و قيل لا ينعقد النكاح الا بالصغة العربية فعليه يصبر عند العجز الى ان يتعلم او يوكل

اعانة الطالبين ٣ /٢٧٧

Cara Ijab Qabul orang bisu dalam akad nikah bisa dilakukan dengan isyarat, dengan syarat bila isyaratnya sharih (jelas), jika tidak sharih, dalam arti isyaratnya menimbulkan kinayah atau ia bisa menulis maka bila ia masih bisa mewakilkan ia harus mewakilkan dan jika tidak bisa mewakilkan maka ijab qabulnya boleh dilakukan dengan isyarat kinayah atau dengan tulisan karena darurat.

واما ان كان زوجا فان كانت اشارته صريحة عقد بها وان كانت كناية او كان له كتابة فان امكنه التوكيل وكل والا عقد بها للضرورة

Bila ia seorang (calon suami) maka bila isyaratnya sharih (jelas) maka ia bisa diakadi dengan isyaratnya, bila isyaratnya kinayah (masih memberikan pengertian lain selain nikah) atau ia bisa menulis maka bila ia memungkinkan mewakilkan ia harus mewakilkan, bila tidak bisa mewakilkan maka ijab qabulnya boleh dilakukan dengan isyarat kinayah atau dengan tulisan karena darurat.

[ Hamisy al-Iqnaa II/125 ].

( إيمَاءُ الْأَخْرَسِ وَكِتَابَتُهُ كَالْبَيَانِ ) بِاللِّسَانِ ( بِخِلَافِ مُعْتَقَلِ اللِّسَانِ ) وَقَالَ الشَّافِعِيُّ : هُمَا سَوَاءٌ فِي وَصِيَّةٍ وَنِكَاحٍ وَطَلَاقٍ وَبَيْعٍ وَشِرَاءٍ وَقَوَدٍ وَغَيْرِهَا مِنْ الْأَحْكَامِ

Isyarat orang bisu dan tulisannya seperti penjelasan dengan lisannya berbeda dengan orang yang terikan lisannya.Imam As-Syafi’i berkata “Isyarat dan tulisannya sama dalam berbagai masalah-masalah hukum seperti dalam hal wasiat, nikah, talak, jual beli, qishas dan sebagainya. [ Radd al-Muhtaar 29/272 ].

Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bahasa tulisan lebih diutamakan dibandingkan dengan bahasa isyarat.

( قوله وينعقد ) أي النكاح وقوله بإشارة أخرس مفهمة عبارة التحفة وينعقد نكاح الأخرس بإشارته التي لا يختص بفهمها الفطن وكذا بكتابته بلا خلاف على ما في المجموع لكنه معترض بأنه يرى أنها في الطلاق كناية والعقود أغلظ من الحلول فكيف يصح النكاح بها فضلا عن كونه بلا خلاف وقد يجاب بحمل كلامه على ما إذا لم تكن له إشارة مفهمة وتعذر توكيله لاضطراره حينئذ ويلحق بكتابته في ذلك إشارته التي يختص بفهمها الفطن إعانة الطالبين . الجز 3. صفحة 277.

Artinya ;
Aqad nikah itu sah dengan isyarohnya orang yang bisu, yang dimengerti. Keterangan dari kitab Tuhfah, Sah aqad nikahnya orang yang bisu, dengan isyarohnya orang yang bisu, yang mana tidak perlu kepandaian yang khusus untuk mengerti kepada isyarohnya orang yang bisu. Dan sah juga aqad nikahnya orang yang bisu dengan tulisannya orang yang bisu, dengan tanpa khilaf ulama, sebagaimana yang ada di dalam kitab Al Majmu’. Tapi hal itu ditentang, bahwa tulisannya orang yang bisu didalam bab tolak itu dianggap kinayah, sedangkan aqad nikah itu lebih berat daripada bab tolak, maka kenapa aqad nikah itu bisa sah dengan tulisannya orang yang bisu, apalagi sahnya aqad nikahnya orang yang bisu yang menggunakan tulisan itu tanpa khilaf ulama.

Pertanyaan diatas itu dijawab,bahwa aqad nikahnya orang yang bisu itu bisa sah dengan tulisannya orang yang bisu, ialah dengan syarat jika orang yang bisu itu tidak mempunyai isyaroh yang bisa dimengerti, maka barulah orang yang bisu itu sah aqad nikahnya dengan tulisannya orang yang bisu,dan orang yang bisu itu tidak bisa mewakilkan aqad nikahnya.Alasannya ialah karena orang yang bisu itu terpaksa harus mengaqad nikah dengan tulisannya didalam keadaan orang yang bisu itu tidak mempunyai isyaroh yang bisa dimengerti.

Dan disamakan dengan tulisannya orang yang bisu (didalam sahnya aqad nikahnya orang yang bisu) ialah isyarohnya orang yang bisu yang mana isyaroh itu hanya bisa dimengerti oleh orang tertentu yang mengerti isyarohnya orang yang bisu itu.(Hasyiyah kitab ‘I aanatuththoolibiin, juz 3, halaman 277)

ويستثنى من عدم الصحة بالكناية كتابة الأخرس وكذا إشارته التي اختص بفهمها الفطن فإنهما كنايتان وينعقد بهما النكاح منه تزويجا وتزوجا ا هـ من شرح م ر وع ش عليه من موانع ولاية النكاح وبعضهم منع انعقاده بالكناية مطلقا حتى في هاتين الصورتين قال ولا ينعقد نكاح الأخرس بالإشارة إلا إذا كان يفهمها كل أحد قال م ر فيما يأتي فإن لم يفهم إشارته أحد زوجه الأب فالجد فالحاكم . حاشية البجيرمي . الجز 3. صفحة 333

Artinya ;
Dan dikecualikan dari tidak sahnya aqad nikah dengan tulisan, ialah tulisannya orang yang bisu. Dan juga sah aqad nikah dengan isyarohnya orang yang bisu, yang mana isyaroh itu hanya bisa dimengerti oleh orang tertentu. Maka aqad nikah dengan tulisan dan aqad nikah dengan isyaroh itu termasuk kinayah. Tapi aqad nikah bisa sah, dari tulisannya orang yang bisu dan dari isyarohnya orang yang bisu. Orang yang bisu itu bisa sah mengawinkan dan dikawinkan dengan menggunakan tulisannya orang yang bisu atau dengan menggunakan isyarohnya orang yang bisu. Intaha dari syarohnya Imam Romli Al Kabir dan Imam Ali Syabromallisi. dari bab Penghalang menjadi walinya nikah.

Dan sebagian ulama mencegah sahnya aqad nikah dengan kinayah secara mutlak(contohnya seperti mentalak lewat sms di HP). Sehingga sebagian ulama juga mencegah sahnya aqad nikah didalam kedua contoh diatas yaitu : (1) aqad nikah dengan tulisannya orang yang bisu, dan (2) aqad nikah dengaan isyarohnya orang yang bisu). Sebagian ulama berkata ; “Tidak sah aqad nikahnya orang yang bisu dengan isyarohnya orang yang bisu. Kecuali jika isyarohnya orang yang bisu itu dimengerti oleh setiap orang. Imam Romli Al Kabir berkata”, Maka jika tidak ada seorangpun yang mengerti kepada isyarohnya orang yang bisu itu, maka yang berhak mengawinkan orang yang bisu itu adalah bapaknya orang yang bisu, kemudian kakeknya orang yang bisu, kemudian Hakim. (Hasyiyah Al Bujairimi, juz 3, halaman 333)

Wallaahu A’lamu Bis Showaab..

J005. APAKAH JIN BISA MASUK SURGA?

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ust mau tanya,

Kalau jin ada yang masuk surga gak? Kalau bisa dengan dalilnya. terima kasih.. wassalamu alaikum

JAWABAN:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama’ tentang masuknya jin kafir ke dalam neraka, tetapi mereka berbeda pendpat tentang masuknya jin mukmin ke dalam syurga. Menurut pendapat yang benar adalah jin yang beriman bisa msuk syurga, ini adalah pendapat yang dipilih oleh imam ibnu katsir dlm kitab tafsirnya juga pendapatnya jama’ah ulama’ salaf. Sedangkan ulama’ yang berpendapat bahwa jin mukmin bisa masuk syurga maka mereka juga berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa jin cuma berada di emperan syurga saja, ada yang berpendapat bahwa jin di syurga tidak makan dan minum, ada yang berpendapat bahwa mereka di syurga tidak bisa melihat kita tetapi kita bisa melihatnya kebalikan ketika di dunia, ini pendapatnya Haris al muhasibi.ada juga yang berpendapat bahwa jin mukmin tidak masuk syurga tetapi pahala mereka adalah tidak masuk neraka dan mereka berada di al a’rof. Wallohu a’lam.

– kitab asbah wan nadhoir imam suyuti :

: لا خلاف في أن كفار الجن في النار . واختلف : هل يدخل مؤمنهم الجنة ، ويثابون على الطاعة ؟ على أقوال ، أحسنها : نعم ، وينسب للجمهور ومن أدلته : قوله تعالى { ولمن خاف مقام ربه جنتان فبأي آلاء ربكما تكذبان } إلى آخر السورة ، والخطاب للجن والإنس ، فامتن عليهم بجزاء الجنة ووصفها لهم ، وشوقهم إليها ، فدل على أنهم ينالون ما امتن به عليهم إذا آمنوا . وقيل : لا يدخلونها ، وثوابهم النجاة من النار . وقيل : يكونون في الأعراف . الثالثة : ذهب الحارث المحاسبي إلى أن الجن الذين يدخلون الجنة يكونون يوم القيامة نراهم ولا يرونا ، عكس ما كانوا عليه في الدنيا .

– kitab tafsir ibnu katsir :

والحق أن مؤمنهم كمؤمني الإنس يدخلون الجنة ، كما هو مذهب جماعة من السلف ، وقد استدل بعضهم لهذا بقوله : ( لم يطمثهن إنس قبلهم ولا جان ) [ الرحمن : 74 ] ، وفي هذا الاستدلال نظر ، وأحسن منه قوله تعالى : ( ولمن خاف مقام ربه جنتان فبأي آلاء ربكما تكذبان ) [ الرحمن : 46 ، 47 ] ، فقد امتن تعالى على الثقلين بأن جعل جزاء محسنهم الجنة ، وقد قابلت الجن هذه الآية بالشكر القولي أبلغ من الإنس ، فقالوا : ” ولا بشيء من آلائك ربنا نكذب ، فلك الحمد ” فلم يكن تعالى ليمتن عليهم بجزاء لا يحصل لهمالي ان قال] ، ولا خلاف أن مؤمني قومه في الجنة ، فكذلك هؤلاء . وقد حكي فيهم أقوال غريبة فعن عمر بن عبد العزيز : أنهم لا يدخلون بحبوحة الجنة ، وإنما يكونون في ربضها وحولها وفي أرجائها . ومن الناس من زعم أنهم في الجنة يراهم بنو آدم ولا يرون بني آدم عكس ما كانوا عليه في الدار الدنيا . ومن الناس من قال : لا يأكلون في الجنة ولا يشربون ، وإنما يلهمون التسبيح والتحميد والتقديس ، عوضا عن الطعام والشراب كالملائكة ، لأنهم من جنسهم . وكل هذه الأقوال فيها نظر ، ول دليل عليها

Wallahu a’lamu bisshowab..