Arsip Kategori: Bahtsul Masail

Bahtsul Masail yang dimuat disini adalah hasil dari Bahtsul Masail yang dibahas di forum Majelis Syar’ie IKABA dan forum grup Bahtsul Masail IKABA di Media Sosial

HE01. SEMBELIHAN HEWAN DARI LEHER BELAKANG SAMPAI KEPALA PUTUS

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukumnya menyenbelih hewan dari leher belakang sampai kepalanya putus, sebagaimana video yang sudah viral di media?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam video tersebut, hewan yang berupa kambing disembelih dengan cara ditebas putus dalam posisi leher tidak menghadap ke pisau.

Maka hukumnya memotong hewan dari belakang (tidak dari leher) termasuk maksiat atau dosa. Sedangkan memotong leher hingga terputus hukumnya adalah makruh menurut qoul muktamad dan bahkan ada yang mengatakan haram menurut.

Dasarnya dari Kitab Tausyih Ala Ibni Qosim (Syarkh Fathul Qorib) Madzhab Imam Syafii Halaman 267 Darul Fikr, sebagai berikut:

ولو ذبح الحيوان من قفاه أو من صفحة عنقه عصى للعدول عن محل الذبح لما فيه من التعذيب.

Artinya: Jika seseorang menyembelih hewan dari arah tengkuk (jito’: jawa) maka ia melakukan kemaksiatan karena berpindah dari tempat menyembelih yang sesuai syara’. Dikarenakan hal tersebut terdapat unsur ta’dzib / menyakiti hewan

menyembelih hewan hingga kepalanya putus, alias tidak menjadi bangkai, namun metode tersebut ada yang mengatakan haram, dan ada yang mengatakan makruh. Ta’bir :

Pertama : dalam kitab Hasyiyah Qalyubi 16/51 (maktabah syamilah) :

وَلَا يَحْرُمُ قَطْعُ مَا زَادَ وَلَوْ بِانْفِصَالِ رَأْسِهِ

WA LAA YAHRUMU QATH’U MAA ZAADA WA LAU BINFISHAALI RA`SIHII.

Tidak haram memotong organ lebih dari HULQUUM (saluran nafas) dan MARII` (saluran makanan), meskipun dengan terpisahnya kepala

Kedua : dalam kitab Hasyiyah Bujairimi ‘Alal Iqna’ juz 22 halaman 69 (maktabah syamilah) :

وَالزِّيَادَةُ عَلَى الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَالْوَدَجَيْنِ قِيلَ بِحُرْمَتِهَا لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ فِي التَّعْذِيبِ وَالرَّاجِحُ الْجَوَازُ مَعَ الْكَرَاهَةِ

WAZZIYAADAH ‘ALAL HULQUUMI WAL MARII`I WAL WADAJAINI QIILA BIHURMATIHAA LI ANNAHAA ZIYAADATUN FITTA’DZIIBI, WARRAAJIHU AL JAWAAZ MA’AL KARAAHAH.

(Menyembelih) melebihi HULQUUM (saluran nafas), MARII` (saluran makanan) dan WADAJAIN (dua urat leher) ada yang mengatakan haram, karena hal itu menambah penyiksaan. Pendapat yang rajih adalah boleh disertai karaahah (makruh).

Kesimpulan : Menyembelih tidak ada syarat kepalanya tidak boleh putus, jika kepalanya putus sembelihannya tetap sah dan hasilnya halal dimakan, namun penyembelihan seperti itu hukumnya makruh.

– Hasyiyah al Bujairimi ‘alaa Fat_hil Wahhaab juz IV halaman 287 :

و يكره له ابانة راسها حالا، و زيادة القطع و كسر العنق و قطع عضو عنها و تحريكها و نقلها حتى تخرج روحها

Dimakruhkan memisahkan kepalanya seketika, menambah pemotongan, mematahkan leher, memotong anggota tubuhnya, menggerak-gerakan serta memindahkan sampai ruhnya keluar.

Sah menyembelih hewan hingga kepalanya putus, alias tidak menjadi bangkai, namun metode tersebut ada yang mengatakan haram, dan ada yang mengatakan makruh. Ta’bir :

Pertama : dalam kitab Hasyiyah Qalyubi 16/51 (maktabah syamilah) :

وَلَا يَحْرُمُ قَطْعُ مَا زَادَ وَلَوْ بِانْفِصَالِ رَأْسِهِ

WA LAA YAHRUMU QATH’U MAA ZAADA WA LAU BINFISHAALI RA`SIHII.

Tidak haram memotong organ lebih dari HULQUUM (saluran nafas) dan MARII` (saluran makanan), meskipun dengan terpisahnya kepala

Kedua : dalam kitab Hasyiyah Bujairimi ‘Alal Iqna’ juz 22 halaman 69 (maktabah syamilah) :

وَالزِّيَادَةُ عَلَى الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَالْوَدَجَيْنِ قِيلَ بِحُرْمَتِهَا لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ فِي التَّعْذِيبِ وَالرَّاجِحُ الْجَوَازُ مَعَ الْكَرَاهَةِ

WAZZIYAADAH ‘ALAL HULQUUMI WAL MARII`I WAL WADAJAINI QIILA BIHURMATIHAA LI ANNAHAA ZIYAADATUN FITTA’DZIIBI, WARRAAJIHU AL JAWAAZ MA’AL KARAAHAH.

(Menyembelih) melebihi HULQUUM (saluran nafas), MARII` (saluran makanan) dan WADAJAIN (dua urat leher) ada yang mengatakan haram, karena hal itu menambah penyiksaan. Pendapat yang rajih adalah boleh disertai karaahah (makruh).

Kesimpulan : Menyembelih tidak ada syarat kepalanya tidak boleh putus, jika kepalanya putus sembelihannya tetap sah dan hasilnya halal dimakan, namun penyembelihan seperti itu hukumnya makruh.

– Hasyiyah al Bujairimi ‘alaa Fat_hil Wahhaab juz IV halaman 287 :

و يكره له ابانة راسها حالا، و زيادة القطع و كسر العنق و قطع عضو عنها و تحريكها و نقلها حتى تخرج روحها

Dimakruhkan memisahkan kepalanya seketika, menambah pemotongan, mematahkan leher, memotong anggota tubuhnya, menggerak-gerakan serta memindahkan sampai ruhnya keluar.

Wallahu a’lamu bisshowab…

M009. BATASAN MELIHAT AURAT ANAK KECIL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mau nanya, bolehkah anak kecil melihat aurat ibunya sendiri atau ibu melihat aurat anaknya sendiri. kalau boleh sampai batasan mana dibolehkan dan kalau tidak boleh sejak umur berapa tidak diperbolehkan?
Mohon penjelasannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Menurut pendapat yang paling shahih kemaluan bocah wanita kecil haram dilihat kecuali bagi seorang ibunya dimasa usia menyusui, sedang kemaluan bocah lelaki kecil menurut mayoritas pengikut syafi’i boleh dilihat.

فتح المعين بشرح قرة العين ج 3 – الصفحة 260 زين الدين بن عبد العزيز المليباري

والمعتمد عند الشيخين عدم جواز نظر فرج صغيرة لا تشتهى وقيل يكره ذلك وصحح المتولي حل نظر فرج الصغير إلى التمييز وجزم به غيره وقيل يحرم ويجوز لنحو الام نظر فرجيهما ومسه زمن الرضاع والتربية للضرورة

الكتاب : حاشية إعانة الطالبين ج 3 – الصفحة 320 المؤلف : أبو بكر (المشهور بالبكري) بن محمد شطا الدمياطي (المتوفى : بعد 1302هـ) [ هو حاشية على حل الفاظ فتح المعين لشرح قرة العين بمهمات الدين / لزين الدين بن عبد العزيز المعبري المليباري (المتوفى : 987 هـ) ]

(قوله: والمعتمد عند الشيخين) عبارة المنهاج مع المغني: والاصح حل النظر إلى صغيرة لا تشتهي إلا الفرج، فلا يحل نظره. قال الرافعي، كصاحب العمدة، اتفاقا. ورده في الروضة بأن القاضي جوزه جزما، فليس ذلك اتفاقا، بل فيه خلاف.اه. بحدف (قوله: وصحح المتولي حل نظر فرج الصغير) أي قبله، كما هو ظاهر، اه سم. والفرق بين فرج الصغير – حيث حل النظر إليه – وفرج الصغيرة – حيث حرم النظر إليه – أن فرجها أفحش

(Keterangan menurut pendapat Mu’tamad (yang dapat dijadikan pegangan) menurut as-Syaikhaani) redaksi dalam kitab al-Manhaj dan al-Mughni “Pendapat yang paling shahih boleh melihat bocah wanita yang belum menimbulkan gelora syahwat kecuali kemaluannya, maka tidak halal.

Ar-Roofi’i dan pengarang kitab al-‘Umdah menyatakan “dengan kesepakatan ulama” namun dalam ar-Raudhah diterangkan bahwa alQadhy membolehkannya, berarti tidak terjadi kesepakatan ulama tetapi ada khilaf dalam masalah ini.

(Keterangan Al-Mutawaaly menshahihkan pendapat yang menyatakan bolehnya melihat kemaluan bocah laki-laki) perbedaan diantara kedua kelamin bocah ini hingga mengakibatkan halalnya melihat kelamin bocah laki-laki dan haramnya melihat kelamin bocah wanita adalah kelamin wanita bentuknya lebih cabul.

Menurut pendapat Mu’tamad (yang dapat dijadikan pegangan) menurut as-Syaikhaani (an-Nawaawy dan ar-Roofi’i) tidak bolehnya melihat kemaluan bocah kecil wanita yang belum mengundang syahwat, menurut Qiil (sebuah pendapat) makruh.

Al-Mutawaaly menshahihkan pendapat yang menyatakan bolehnya melihat kemaluan bocah laki-laki hingga ia usia tamyiz (usia saat ia bisa makan, minum, tidur, buang air kotoran dengan sendiri). menurut Qiil (sebuah pendapat) haram.

Dan bagi semisal Ibu boleh melihat dan memegang kemaluan kedua bocah tersebut saat usia menyusui dan mendidik karena adanya darurat. [ Fath al-Mu’in III/260, Hasyiyah I’aanah at-Thoolibiin III/320 ].

فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب ج 2 – الصفحة 55 زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الأنصاري أبو يحيى سنة الولادة 823/ سنة الوفاة 926

( وحل بلا شهوة نظر لصغيرة ) لا تشتهي ( خلا فرج ) لأنها ليست في مظنة شهوة

أما الفرج فيحرم نظره وقطع القاضي بحله عملا بالعرف وعلى الأول استثنى ابن القطان الأم زمن الرضاع والتربية للضرورة أما فرج الصغير فيحل النظر إليه ما لم يميز كما صححه المتولي وجزم به غيره ونقله السبكي عن الأصحاب

Dan halal melihat bocah wanita kecil yang belum menimbulkan gelora syahwat kecuali kemaluannya yang haram melihatnya sedang alQaadhy (Husein) memutuskan diperbolehkannya dengan mempertimbangkan kebiasaan yang terjadi dimasyarakat. Ibn al-Qatthaan membolehkan melihatnya bagi seorang ibu saat usia menyusui dan mendidik karena adanya darurat. Sedang kemaluan bocah laki-laki halal melihatnya selagi ia belum tamyiz, pendapat ini dishahihkan oleh al-Mutawally dan lainnya dan dinuqil oleh as-Subky dari para Ashaab (pengikut as-Syaafi’i). [ Fath al-Wahhaab II/55 ]

AURAT ANAK KECIL :

الشافعية قالوا : إن عورة الصغير في الصلاة ذكرا كان أو أنثى مراهقا أو غير مراهق كعورة المكلف في الصلاة أما خارج الصلاة فعولة الصغير المراهق ذكرا كان أو أنثى كعورة البالغ خارجها في الأصح وعورة الصغير غير المراهق إن كان ذكرا كعورة المحارم إن كان ذلك الصغير يحسن وصف ما يراه من العورة بدون شهوة فإنه أحسنه بشهوة فالعورة بالنسبة له كالبالغ وإن لم يحسن الوصف فعورته كالعدم الا أنه يحرم النظر إلى قبله ودبره لغير من يتولى تربيته أما إن كان غير المراهق أنثى فإن كانت مشتهاة عند ذوي الطباع السليمة فعورتها عورة البالغة . وإلا فلا لكن يحرم النظر إلى فرجها لغير القائم بتربيتها

Kalangan Syafi’iyyah berpendapat : Aurat anak-anak baik pria atau wanita dalam shalat baik ia telah muraahiq (usia menjelang dewasa) atau belum seperti halnya aurat orang dewasa.Sedang aurat mereka diluar shalat menurut pendapat yang paling shahih juga seperti orang dewasa.

Aurat anak kecil yang belum murahiq bila ia pria maka seperti aurat diantara para mahram bila ia sudah mampu mensifati aurat yang ia lihat namun tanpa disertai syahwat, bila disertai syahwat maka auratnya seperti halnya orang dewasa.Sedang auratnya bila masih belum mensifati aurat yang ia lihat maka auratnya seperti tidak ada hanya saja diharamkan melihat kelamin dan duburnya bagi selain pengasuhnya.

Aurat anak kecil yang belum murahiq bila ia telah menimbulkan pesona syahwat menurut ukuran akal normal maka seperti wanita dewasa bila belum menimbulkan pesona maka tidak, namun haram melihat kemaluannya bagi selain pengasuhnya. [ Al-Fiqh alaa Madzaahib al-Arba’ah I/198 ].

نظر الرجل إلى الصغيرة :9 – اتفق الفقهاء على أن النظر إلى الصغيرة بشهوة حرام ، مهما كان عمرها ، ومهما كان العضو المنظور إليه منها ، واتفقوا أيضا على أنه يجوز للرجل أن ينظر بغير شهوة إلى جميع بدن الصغيرة التي لم تبلغ حد الشهوة سوى الفرج منها .

Semua Ulama sepakat bahwa melihat aurat anak kecil wanita dengan disertai syahwat maka haram hukumnya, usia berapapun anak kecil tersebut dan dibagian tubuh manapun yang ia lihat, dan Ulama juga sepakat bahwa diperbolehkan bagi pria dewasa melihat dengan tanpa syahwat terhadap anak kecil wanita yang belum sampai pada usia yang menimbulkan gelora kecuali pada kemaluannya. [ Al-Mausuu’h al-Fiqhiyyah 40/347 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

S006. MAKMUM MASBUQ UNTUK SHALAT JANAZAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Makmum yang bisa dikatakan ikut pada imam adalah ketika bisa mengikuti imam paling akhir yaitu ikut rukuknya (Sekedar bacaan dalam rukuk) Dalam kitab2 fikih banyak penjelasan nya tapi untuk sholat janazah, sampai dimana batasan makmum dikatakan ikut pada imam?
Apa takbir yang pertama?
Atau takbir yang kedua?
Atau yang penting bisa ikut takbir imam walaupun yang terakhir?

Nyo’onah jawabannya ustadz..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Ketentuan bagi makmum sholat jenazah sebagai berikut :

– MAKMUM MUWAFIQ

Makmum muwafiq ketika mengundur-undur takbir pertama dalam mengikuti imam tanpa adaya udzur sehingga imam takbir yang kedua maka batal shalatnya, karenaa meninggalkan takbir sama halnya meninggalkan 1 roka’at pada selain shalat jenazah.

– MAKMUM MASBUQ

Adapun makmum masbuq maka ia langsung takbir dan membaca al fatihah walaupun imam dalam shalat mayit sedang membaca shalwat kepada nabi (takbir kedua) atau membaca do’a, hal ini makmum masbuq agar memperhtikan urutan shalatnya sendiri, kemudian jika imam takbir selanjutnya sebelum makmum masbuq tersebut membaca al fatihah maka gugur bacaan al fatihahya, hal ini seperti imam rukuk dalam Selain shalat jenazah maka makmum masbuq langsung ruku dan tidak membaca al fatihah, kemudian jika imam takbir selanjutnya sedangkan makmum masbuq sedang membaca al fatihah maka ia harus meninggalkan bacaan al fatihahnya dan mengikuti imam, hal ini menurut madzhab untuk menjaga dalam mgikuti imam.

Kemudian setelah imam salam maka makmum masbuq menyempurnakan shalat jenazahya dengan takbir-takbir pada shalat jenazah dan dzikir-dzikirya yang tertinggal. Disunahkan untuk tidak mengangkat jenazah sehingga semua shalat makmumnya selesai dan tidak membahayakan mengangkat jenazah sblum semua makmum shalat jenazah selesai. [ Lihat kifayatul akhyar 1/168 ].

– ibaroh dari kitab Roudhotut Tholibin :

ﻓﺮﻉﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕ ﺇﺫﺍ ﺃﺩﺭﻙ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻛﺒﺮ ﻭﻟﻢﻳﻨﺘﻈﺮ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺒﻠﺔ ، ﺛﻢ ﻳﺸﺘﻐﻞ ﻋﻘﺐ ﺗﻜﺒﻴﺮﻩﺑﺎﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ، ﺛﻢ ﻳﺮﺍﻋﻲ ﻓﻲ ﺍﻷﺫﻛﺎﺭ ﺗﺮﺗﻴﺐ ﻧﻔﺴﻪ ، ﻓﻠﻮ ﻛﺒﺮﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕ ، ﻓﻜﺒﺮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻣﻊ ﻓﺮﺍﻏﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﻭﻟﻰ ، ﻛﺒﺮ ﻣﻊﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ، ﻭﺳﻘﻄﺖ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ، ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﺭﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺳﺎﺋﺮﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻋﻘﺐ ﺗﻜﺒﻴﺮﻩ . ﻭﻟﻮ ﻛﺒﺮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻭﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻝﻓﺎﺗﺤﺔ ، ﻓﻬﻞ ﻳﻘﻄﻊ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﻳﻮﺍﻓﻘﻪ ، ﺃﻡ ﻳﺘﻤﻬﺎ ؟ﻭﺟﻬﺎﻥ ﻛﺎﻟﻮﺟﻬﻴﻦ ﻓﻴﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﺭﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ، ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻷﻛﺜﺮﻳﻦ : ﻳﻘﻄﻊ ﻭﻳﺘﺎﺑﻌﻪ . ﻭﻋﻠﻰﻫﺬﺍ ، ﻫﻞ ﻳﺘﻢ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺓ ﻷﻧﻪ ﻣﺤﻞ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺨﻼﻑﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ، ﺃﻡ ﻻ ﻳﺘﻢ ؟ ﻓﻴﻪ ﺍﺣﺘﻤﺎﻻﻥ ﻟﺼﺎﺣﺐ ) ﺍﻟﺸﺎﻣﻞ ( .ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ : ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ . ﻭﻣﻦ ﻓﺎﺗﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺍﺕ ، ﺗﺪﺍﺭﻛﻬﺎ ﺑﻌﺪﺳﻼﻡ ﺍﻹﻣﺎﻡ ، ﻭﻫﻞ ﻳﻘﺘﺼﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺍﺕ ﻧﺴﻘﺎ ﺑﻼ ﺫﻛﺮ ، ﺃﻡﻳﺄﺗﻲ ﺑﺎﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ؟ ﻗﻮﻻﻥ . ﺃﻇﻬﺮﻫﻤﺎ : ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ .ﻗﻠﺖ : ﺍﻟﻘﻮﻻﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﻭﻋﺪﻣﻪ ، ﺻﺮﺡ ﺑﻪ ﺻﺎﺣﺐ) ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ( ﻭﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ – . ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺮﻓﻊ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ، ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻢ ﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻗﻮﻥ ﻣﺎﻋﻠﻴﻬﻢ ، ﻓﻠﻮ ﺭﻓﻌﺖ ، ﻟﻢ ﺗﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻬﻢ ﻭﺇﻥ ﺣﻮﻟﺖ ﻋﻦﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ، ﺑﺨﻼﻑ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﻋﻘﺪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻻ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﻓﻴﻪ ﺫﻟﻚﻭﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺣﺎﺿﺮﺓ

ﻓﺮﻉﻟﻮ ﺗﺨﻠﻒ ﺍﻟﻤﻘﺘﺪﻱ ﻓﻠﻢ ﻳﻜﺒﺮ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺣﺘﻰﻛﺒﺮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺒﻠﺔ ﻣﻦ ﻍﻳﺮ ﻋﺬﺭ ، ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻼﺗﻪﻛﺘﺨﻠﻔﻪ ﺑﺮﻛﻌﺔ

ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻭﻋﻤﺪﺓ ﺍﻟﻤﻔﺘﻴﻦ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺹ: [ 128 ﺍﻟﻤﻜﺘﺐ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲﺳﻨﺔ ﺍﻟﻨﺸﺮ1412 :ﻫـ 1991 /ﻡ

Makmum yang terlambat datang dalam berjamaah shalat jenazah, juga disebut makmum masbuq seperti shalat jamaah lainnya. Takbir dalam shalat jenazah sama dengan rakaat dalam shalat yang lain. Dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa adillatuh; 2/1525-1526 (Maktabah Syamilah) disebutkan bahwa, para ulama sepakat bahwa makmum masbuq shalat jenazah hendaknya mengikuti imam dalam rukun yang ia temui, lalu setelah imam salam, ia menyempurnakan rukun yang belum ia lakukan hingga salam.

Madzhab Syafi’i, memberikan perincian bahwa makmum masbuq shalat jenazah hendaknya takbiratul ihram lalu membaca fatihah, meskipun pada saat itu imam sudah melakukan takbir selain takbir pertama (takbirotul ihrom). Kemudian, jika imam takbir lagi, sebelum makmum menyelesaikan bacaan fatihah atau bahkan tidak mempunyai kesempatan membaca fatihah, maka si makmum hendaknya ikut takbir, dan bacaan fatihahnya gugur. Jika imam salam, si makmum meneruskan rukun-rukun shalat jenazah yang selanjutnya, hingga salam.

Menurut madzhab Hanafi dan Maliki, makmum masbuq langsung takbiratul ihram, lalu menanti imam melakukan takbir, kemudian takbir bersamanya dan membaca bacaan sesuai dengan apa yang dibaca imam. Setelah imam salam, si makmum menyempurnakan takbir secara langsung tanpa doa kemudian salam. Jika si makmum datang, sementara imam sudah melakukan takbir ke-4, maka ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berjamaah shalat jenazah.

Menurut Hanabilah, masbuq langsung takbir dan menyempurnakan takbir yang tertinggal hingga sama dengan jumlah takbir imam, tidak harus menyempurnakan takbir setelah imam salam.

Referensi:

الفقه الإسلامي وأدلته ج 2 ص 1525-1526

اتفق الفقهاء على أن المسبوق يتابع الإمام فيما لحقه، ويتم ما فاته، ولكن لهم تفصيلات في كيفية الإتمام (1). فقال الحنفية: المسبوق ببعض التكبيرات يكبر للتحريمة ثم لا يكبر في الحال، بل ينتظر تكبير الإمام ليكبر معه للافتتاح؛ لأن كل تكبيرة ركعة، كما سبق، ثم يكبر ما فاته كالمدرك الحاضر، بعد فراغ الإمام، تكبيراً متتابعاً، بلا دعاء إن خشي رفع الميت على الأعناق. أما لو جاء المسبوق بعد تكبيرة الإمام الرابعة فقد فاتته الصلاة، لتعذر الدخول في تكبيرة الإمام. وكذلك قال المالكية: يكبر المسبوق للتحريمة، ثم يصبر وجوباً إلى أن يكبر الإمام، فإن كبر صحت صلاته، ولا يعتد بها عند أكثر المشايخ، ثم يدعو المسبوق بعذ فراغ الإمام إن تركت الجنازة، وإلا بأن رفعت والى التكبير بلا دعاء وسلم. فالمالكية كالحنفية تماماً. وقال الشافعية: يكبر المسبوق ويقرأ الفاتحة، وإن كان الإمام في تكبيرة أخرى غير الأولى، فإن كبر الإمام تكبيرة أخرى قبل شروع المأموم في الفاتحة بأن كبر عقب تكبيره، كبر معه، وسقطت القراءة، وتابعه في الأصح، كما لو ركع الإمام عقب تكبير المسبوق، فإنه يركع معه، ويتحملها عنه. وإذا سلم الإمام وجب على المسبوق تدارك باقي التكبيرات بأذكارها. وقال الحنابلة: من فاته شيء من التكبير قضاه متتابعاً، فإن سلم مع الإمام ولم يقض، فلا بأس وصحت صلاته، أي أن المسبوق بتكبير الصلاة في الجنازة يسن له قضاء ما فاته منها على صفته، عملاً بقول ابن عمر: إنه لا يقضي. ولما روي عن عائشة أنها قالت: «يا رسول الله، إني أصلي على الجنازة، ويخفى علي بعض التكبير؟ قال: ما سمعت فكبري، وما فاتك فلا قضاء عليك» (1). فإن خشي المسبوق رفع الجنازة، تابع بين التكبير من غير قراءة ولا صلاة على النبي صلّى الله عليه وسلم ولا دعاء للميت، سواء رفعت الجنازة أم لا. ومتى رفعت الجنازة بعد الصلاة عليها لم توضع لأحد يريد أن يصلي عليها، تحقيقاً للمبادرة إلى مواراة الميت، أي يكره ذلك.

Wallahu a’lamu bisshowab..

D004. HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN BAGI PEREMPUAN HAID

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bolehkah membaca amalan ayat Al-Qur’an bagi perempuan haid?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Membaca al-Quran bagi wanita haid juga haram hukumnya kecuali bila tidak terdapat unsur qoshdul qiroáh (bertujuan membaca) seperti saat bertujuan membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan atau berdoa.

( مسألة ى ) يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم. وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ولا بقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء .

Makruh membawa dan memegang Tafsir yang jumlahnya melebihi tulisan qurannya bila tidak maka haram.

Dan haram membacanya bagi semisal orang junub bila bertujuan untuk membacanya meskipun alQurannya bersama tulisan lain tapi tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya menurut pendapat yang kuat dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya seperti saat membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan dan berdoa. [ Bughyah al-Mustarsyidiin hal. 26 ]

Boleh baca al-Qur’an bagi orang haid atau junub dengan niat dzikir

ولا فرق بين ما لا يوجد نظمه الا فيه كآية الكرسي وسورة الاخلاص وبينما يوجد فيه وفي غيره على المعتمد عند العلامة م ر تبعا لوالده وهو الاقرب … قال الشيخ الخطيب أفتى الشيخ السهاب الرملي أنه لو قرأ القرأن جميعه لا بقصد القرأن جاز وهو المعتمد … ومعنى عدم القصد أن يقصد بالقراءة التعبد لاننا متعبدون بذكر القرآن جميعه … وهل يشترط في قصد الذكر بالقراءة ملاحظة الذكر في جميع القراءة قياسا على تكبير الانتقالات أو يكفي قصد الذكر في الأول وان غفل عنه في الأثناء فيه نظر والاقرب الثاني اهـ حاشية الجمل 1/157

Dan tidak ada beda antara ayat yang tidak ada pemakainnya kecuali di dalam al-Qur’an semisal ayat kursi dan surat al-ikhlash dan ayat yang biasa dipakai di selain al-qur’an (semisal hamdalah atau basmalah) menurut pendapat yang Mu’tamad (yang bisa dibuat pegangan) yang dikemukakan oleh Imam Romli mengikuti pendapat ayahnya. Pendapat inilah yang lebih dekat.

Berkata syekh Khotib : Berfatwa syekh as-Syihab al-Romli bahwasannya jika membaca al-Qur’an selururhnya tidak dengan tujuan baca al-Qur’an boleh, dan inilah pendapat yang mu’tamad.

Yang dimaksud dengan “tidak dengan tujuan baca al-Qur’an” ialah membaca al-Qur’an dengan tujuan ibadah. Karena kita bisa beribadah dengan dzikir al-Qur’an seluruhnya.

Apakah dalam niat dzikir ini harus ingat niat tersebut pada seluruh bagiannya diqiyaskan dengan niat takbir pada saat takbir intiqal? Ataukah cukup dengan niat dzikir di awalnya saja walaupun di pertengahan lupa? Dalam masalah ini terjadi pemikiran, dan yang lebih mendekati “benar” adalah yang kedua.

•••••••••••○•••••••••••

Mengenai hukum wanita haidh membaca al-Qur’an, dalam mazhab syafi’iyah terdapat tujuh pembahasan :

1.Bila membaca al-Qur’an diniati untuk membaca al-Qur’annya maka haram.

2.Bila membaca al-Qur’an diniati untuk membaca al-Qur’annya besertaan niat lainnya maka juga dihukumi haram.

3.Bila membaca al-Qur’an diniati selain untuk membaca al-Qur’an seperti untuk menjaga hafalan, membaca zikirnya, kisah-kisah, mauizah, hukum-hukum, maka diperbolehkan.

4.Bila membaca al-Qur’an karena kelepasan bicara maka diperbolehkan.

5.Bila membaca al-Qur’an diniati secara mutlak, yakni sekedar ingin membaca tanpa niat tertentu maka diperbolehkan.

6.Bila membaca al-Qur’an diniati secara mutlak atau niat selain al-Qur’an, namun yang dibaca adalah susunan kalimat khas al-Qur’an atau satu surat panjang atau keseluruhan al-Qur’an maka khilaf. Menurut an-Nawawi, ar-Ramli Kabir, dan Ibnu Hajar diperbolehkan, sedangkan bagi az-Zarkasyi dan as-Suyuthi diharamkan.

7.Bila membaca al-Qur’an diniatkan pada salah satunya tanpa dijelaskan yang mana maka khilaf. Menurut qaul mu’tamad diharamkan sebab adanya kemungkinan niat pada bacaan al-Qur’an.

Sedangkan dalam mazhab malikiyah boleh bagi wanita haidh membaca al-Qur’an. Lebih jelasnya tentang hal ini terdapat dua pembahasan:

1.Boleh secara mutlak, yakni ketika membacanya dalam kondisi darah haidh sedang merembes keluar.

2.Tidak diperbolehkan sebelum mandi hadats, yakni ketika membacanya dalam kondisi darah haidh sedang mampet. Kecuali bila khawatir lupa, atau kecuali dengan menengok pada qaul dha’if yang memperbolehkannya asalkan haidhnya tidak disertai junub.

Berikut uraian selengkapnya dari kitab Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Iqna’ karya Sulaiman bin Umar bin Muhammad al-Bujairimi :

( وَ ) الثَّالِثُ ( قِرَاءَةُ ) شَيْءٍ مِنْ ( الْقُرْآنِ ) بِاللَّفْظِ أَوْ بِالْإِشَارَةِ مِنْ الْأَخْرَسِ كَمَا قَالَ الْقَاضِي فِي فَتَاوِيهِ ، فَإِنَّهَا مُنَزَّلَةٌ مَنْزِلَةَ النُّطْقِ هُنَا وَلَوْ بَعْضَ آيَةٍ لِلْإِخْلَالِ بِالتَّعْظِيمِ ، سَوَاءٌ أَقَصَدَ مَعَ ذَلِكَ غَيْرَهَا أَمْ لَا لِحَدِيثِ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ : { لَا يَقْرَأْ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ }

الشَّرْحُ قَوْلُهُ : ( وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ) وَعَنْ مَالِكٍ : يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ، وَعَنْ الطَّحَاوِيِّ يُبَاحُ لَهَا مَا دُونَ الْآيَةِ كَمَا نَقَلَهُ فِي شَرْحِ الْكَنْزِ مِنْ كُتُبِ الْحَنَفِيَّةِ

“Keharaman sebab haid yang ketiga adalah membaca sesuatu dari al-Qur’an, dengan diucapkan atau dengan isyarah dari orang bisu, seperti yang dikatakan Qadhi Husein dalam Fatawinya. Mengingat konteks isyarah diletakkan pada konteksnya hukum berucap pada permasalahan ini, meskipun yang dibaca hanyalah sebagian ayat saja dikarenakan hal itu menunjukkan pada unsur penghinaan. Baik bacaan itu diniati bersama dengan niat yang lain ataupun tidak, berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi dan lainnya, “Orang yang sedang junub dan orang yang haid tidak diperbolehkan membaca sesuatu dari al-Qur’an.

Komentar pensyarah: [Membaca al-Qur’an] dari Imam Malik dijelaskan bahwa diperbolehkan bagi perempuan haid membaca al-Qur’an. Dan dari Ath-Thahawi diterangkan bahwa diperbolehkan bagi dia untuk membaca al-Qur’an namun kurang dari satu ayat, seperti yang dia kutipkan dalam Syarah Al-Kanzu dari kitabnya mazhab Hanafi.” (Hasyiyah Bujairimi, 3/259-261)

تَنْبِيهٌ : يَحِلُّ لِمَنْ بِهِ حَدَثٌ أَكْبَرُ أَذْكَارُ الْقُرْآنِ وَغَيْرُهَا كَمَوَاعِظِهِ وَأَخْبَارِهِ وَأَحْكَامِهِ لَا بِقَصْدِ الْقُرْآنِ كَقَوْلِهِ عِنْدَ الرُّكُوبِ : { سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ } أَيْ مُطِيقِينَ ، وَعِنْدَ الْمُصِيبَةِ : { إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ } وَمَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِلَا قَصْدٍ فَإِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ الذِّكْرِ حُرِّمَ ، وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا .

كَمَا نَبَّهَ عَلَيْهِ النَّوَوِيُّ فِي دَقَائِقِهِ لِعَدَمِ الْإِخْلَالِ بِحُرْمَتِهِ ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَّا بِالْقَصْدِ قَالَهُ النَّوَوِيُّ وَغَيْرُهُ ، وَظَاهِرُهُ أَنَّ ذَلِكَ جَارٍ فِيمَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ كَالْآيَتَيْنِ الْمُتَقَدِّمَتَيْنِ وَالْبَسْمَلَةِ وَالْحَمْدَلَةِ ، وَفِيمَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ إلَّا فِيهِ كَسُورَةِ الْإِخْلَاصِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ ، وَهُوَ كَذَلِكَ ، وَإِنْ قَالَ الزَّرْكَشِيّ : لَا شَكَّ فِي تَحْرِيمِ مَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ ، وَتَبِعَهُ عَلَى ذَلِكَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ كَمَا شَمِلَ ذَلِكَ قَوْلَ الرَّوْضَةِ ، أَمَّا إذَا قَرَأَ شَيْئًا مِنْهُ لَا عَلَى قَصْدِ الْقُرْآنِ فَيَجُوزُ .

الشَّرْحُ

قَوْلُهُ : ( تَنْبِيهٌ إلَخْ ) هَذَا التَّنْبِيهُ بِمَنْزِلَةِ قَوْلِهِ مَحَلُّ حُرْمَةِ الْقِرَاءَةِ إذَا كَانَتْ بِقَصْدِ الْقُرْآنِ أَوْ بِقَصْدِ الْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ ، و َإِلَّا فَلَا حُرْمَة .

قَوْلُهُ : ( يَحِلُّ إلَخْ ) كَلَامُهُ فِي الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ فَدُخُولُ غَيْرِهِمَا مَعَهُمَا اسْتِطْرَادِيٌّ تَأَمَّلْ ق ل .

قَوْلُهُ : ( كَمَوَاعِظِهِ ) أَيْ مَا فِيهِ تَرْغِيبٌ أَوْ تَرْهِيبٌ .

قَوْلُهُ : ( وَأَخْبَارِهِ ) أَيْ عَنْ الْأُمَمِ السَّابِقَةِ .

قَوْلُهُ : ( وَأَحْكَامِهِ ) أَيْ مَا تَعَلَّقَ بِفِعْلِ الْمُكَلَّف .

قَوْلُهُ : ( وَمَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِلَا قَصْدٍ ) بِأَنْ سَبَقَ لِسَانُهُ إلَيْهِ .

قَوْلُهُ : ( وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا ) كَمَا لَا يَحْرُمُ إذَا قَصَدَ الذِّكْرَ فَقَطْ ، فَالصُّوَرُ أَرْبَعَةٌ يَحِلُّ فِي ثِنْتَيْنِ ، وَيَحْرُمُ فِي ثِنْتَيْنِ وَأَمَّا لَوْ قَصَدَ وَاحِدًا لَا بِعَيْنِهِ فَفِيهِ خِلَافٌ ، وَالْمُعْتَمَدُ الْحُرْمَةُ ؛ لِأَنَّ الْوَاحِدَ الدَّائِرَ صَادِقٌ بِالْقُرْآنِ فَيَحْرُمُ لِصِدْقِهِ بِهِ . قَوْلُهُ : ( لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَخْ ) أَيْ لَا يَكُونُ قُرْآنًا تَحْرُمُ قِرَاءَتُهُ عِنْدَ وُجُودِ الصَّارِفِ إلَّا بِالْقَصْدِ ، وَإِلَّا فَهُوَ قُرْآنٌ مُطْلَقًا ، أَوْ الْمَعْنَى لَا يُعْطَى حُكْمَ الْقُرْآنِ إلَّا بِالْقَصْدِ ، وَمَحَلُّهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي صَلَاةٍ كَأَنْ أَجْنَبَ وَفَقَدَ الطَّهُورَيْنِ وَصَلَّى لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ بِلَا طُهْرٍ ، وَقَرَأَ الْفَاتِحَةَ ، فَلَا يُشْتَرَطُ قَصْدُ الْقُرْآنِ ، بَلْ يَكُونُ قُرْآنًا عِنْدَ الْإِطْلَاقِ لِوُجُوبِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ فَلَا صَارِفَ فَاحْفَظْهُ وَاحْذَرْ خِلَافَهُ كَمَا ذَكَرَهُ ابْنُ شَرَفٍ عَلَى التَّحْرِيرِ .

“(Tanbih): Diperbolehkan bagi orang yang mempunyai hadats besar untuk membaca dzikir al-Qur’an dan yang lainnya, seperti mauizhahnya, cerita, dan hukum yang ada di dalam al-Qur’an, dengan tidak diniatkan pada al-Qur’annya. Seperti perkataanya ketika naik kendaraan :

(سبحان الذي سخر لنا هذا و ما كنا له مقرنين)

dan ketika mendapat musibah dia mengucapkan :

(إنا لله و إنا اليه راجعون).

Serta pada apa yang tanpa dikehendaki terucap oleh lisannya. Namun jika dia memaksudkan al-Qur’an saja atau memaksudkan al-Qur’an beserta dzikirnya, maka diharamkan. Kemudian jika dia memutlakkannya maka tidak diharamkan, sesuai dengan peringatan an-Nawawi dalam kitab Daqaiq, sebab tidak ada unsur penghinaan pada kemuliaan al-Qur’an di sini. Memandang bahwasanya al-Qur’an tidak akan diberlakukan hukum al-Qur’an kecuali ketika dengan wujudnya niat.

Secara zahir pendapat tersebut berlaku baik pada ayat yang bisa ditemukan susunan kalimatnya di luar al-Qur’an semisal dua ayat di atas, juga basmalah dan al-fatihah. Serta pada ayat yang tidak akan ditemukan susunan kalimatnya selain di al-Qur’an semisal surat al-Ikhlas dan ayat kursi. Benarlah demikian, meski az-Zarkasyi berpendapat tidak diragukannya keharaman pada ayat yang tidak akan ditemukan susunan kalimatnya selain di al-Qur’an. Pendapat az-Zarkasyi ini dianut oleh sebagian ulama mutaakhirin.

Keterangan an-Nawawi tentang kemutlakan tersebut juga terkandung dalam kitab ar-Raudhah. Sedangkan ketika membaca al-Qur’an itu tidak diniatkan pada membaca al-Qur’annya maka diperbolehkan.

Komentar pensyarah :

[Tanbih dst.] Tanbih ini menempati perkataan mushannif, “Tempat keharaman membaca al-Qur’an adalah ketika dalam pembacaan itu dengan maksud al-Qur’an atau dengan maksud al-Qur’an dan dzikir. Jika tidak memaksudkan dengan itu semua maka tidak diharamkan.”

[Diperbolehkan dst.] Pembahasan penulis tentang wanita haidh dan nifas, namun bisa dikonfirmasikan juga pembahasan selain keduanya. Cermatilah. (al-Qulyubi)

[Seperti mauizhah] Yakni perkara tentang anjuran dan ancaman.

[Cerita] Yakni dari kisah umat terdahulu.

[Dan hukum yang ada di dalam al-Qur’an] Yakni perkara yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf.

[Serta pada apa yang tanpa dikehendaki terucap oleh lisannya] Dengan kelepasan bicara.

[Kemudian jika dia memutlakkannya maka tidak diharamkan] Sebagaimana tidak pula diharamkan ketika diniatkan pada dzikirnya saja. Sehingga bisa disimpulkan ada empat situasi pembacaan al-Qur’an di sini. Dua diperbolehkan, dan dua lainnya diharamkan.

Sedangkan ketika dia meniatkan pada salah satunya namun tanpa dijelaskan yang mana maka hukumnya khilaf. Menurut qaul Mu’tamad dihukumi haram. Sebab unsur salah satunya bisa dimungkinkan niat pada al-Qur’annya sehingga diharamkan memandang adanya kemungkinan tersebut. [Al-Qur’an tidak akan diberlakukan hukum al-Qur’an dst.] Yakni ketika muncul qarinah pembeda maka tidak dianggap sebagai al-Qur’an yang haram dibaca kecuali dengan wujudnya niat. Atau bisa juga diartikan tidak diberlakukan hukum al-Qur’an kecuali dengan wujudnya niat. Konteks ini mengesampingkan pada kasus shalat, semisal pada orang junub yang tidak bisa bersuci dengan wudhu dan tayammum, lantas dia shalat li hurmatil waqti, membaca al-Fatihah, maka tidak berlaku persyaratan niat membaca al-Qur’an. Bahkan tetap dianggap sebagai hukum bacaan al-Qur’an ketika dimutlakkan sebab tidak ada qarinah pembeda di sini. Camkanlah dan hati-hati terhadap kesalahpahaman tentang hal itu, sebagaimana dituturkan oleh an-Nawawi dalam kitab at-Tahrir.” (Hasyiyah al-Bujairimi, 1/259-264).

Elaborasi tentang khilafiyah Imam Malik dituturkan dalam kitab al-Mausu’ah:

وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْحَائِضَ يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي حَال اسْتِرْسَال الدَّمِ مُطْلَقًا ، كَانَتْ جُنُبًا أَمْ لاَ ، خَافَتِ النِّسْيَانَ أَمْ لاَ . وَأَمَّا إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا ، فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ حَتَّى تَغْتَسِل جُنُبًا كَانَتْ أَمْ لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَخَافَ النِّسْيَانَ .

هَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَهُمْ ، لأَنَّهَا قَادِرَةٌ عَلَى التَّطَهُّرِ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ ، وَهُنَاكَ قَوْلٌ ضَعِيفٌ هُوَ أَنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا جَازَ لَهَا الْقِرَاءَةُ إِنْ لَمْ تَكُنْ جُنُبًا قَبْل الْحَيْضِ . فَإِنْ كَانَتْ جَنْبًا قَبْلَهُ فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ .

“Kalangan malikiyah berpendapat bahwa wanita haidh diperbolehkan membaca al-Qur’an di masa sedang keluarnya darah haidh secara mutlak, baik disertai junub maupun tidak, entah karena khawatir lupa ataupun tidak. Sedangkan di masa darah haidh sedang berhenti maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur’an sampai dia mandi bersuci, baik kondisinya disertai junub maupun tidak, kecuali bila khawatir lupa (maka boleh membaca, pen).

Pendapat di atas adalah qaul mu’tamad, sebab seorang wanita dipandang mampu bersuci dalam kondisi darah sedang berhenti tersebut. Namun dalam hal ini ada qaul dha’if yang berpendapat seorang wanita ketika darahnya sedang berhenti tetap diperbolehkan membaca al-Qur’an asalkan kondisinya tidak disertai junub sebelum haidh. Ketika sebelum haidh telah disertai junub maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur’an (sampai dia mandi bersuci, pen)” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwatiyyah, 18/322).

Wallaahu A’lamu Bis Showaab..

M008. HUTANG UANG DENGAN AKAD PINJAM

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bolehkah hutang uang dengan memakai akad pinjam seperti yang sudah umum terjadi di masyarakat?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam tradisi keseharian, banyak ditemukan ungkapan yang tidak sesuai dengan maksud orang yang mengungkapkannya. Terbukti ketika seseorang mau berhutang kepada yang lain, sering kita dengar, “Saya pinjam uangmu Rp. 10.000,-”. Termasuk transaksi apakah perkataan seperti itu?

Jawab: Termasuk akad hutang, karena menurut urf, maksud kata-kata tersebut adalah hutang bukan pinjam.

ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﺍﻟﺠﺰﺀ 5 ﺻﺤـ : 124 ﻣﻜﺘﺒﺔ ﺩﺍﺭ ﺍﻟﻔﻜﺮ

ﻭَﻟَﻮْ ﺷَﺎﻉَ ﺃَﻋِﺮْﻧِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘَﺮْﺽِ ﻛَﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺯِ ﻛَﺎﻥَ ﺻَﺮِﻳﺤًﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻗَﺎﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻻﻧْﻮَﺍﺭِ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻴُﻔَﺮَّﻕُ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﻗَﻮْﻟِﻬِﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻄَّﻼﻕِ ﻻ ﺃَﺛَﺮَ ﻟِﻺِﺷَﺎﻋَﺔِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﺮَﺍﺣَﺔِ ﺑِﺄَﻧَّﻪُ ﻳُﺤْﺘَﺎﻁُ ﻟِﻼﺑْﻀَﺎﻉِ ﻣَﺎ ﻻ ﻳُﺤْﺘَﺎﻁُ ﻟِﻐَﻴْﺮِﻫَﺎ ﻭَﻇَﺎﻫِﺮُ ﻛَﻼﻣِﻬِﻢْ ﺻَﺮَﺍﺣَﺔُ ﺟَﻤِﻴﻊِ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻻﻟْﻔَﺎﻅِ ﻭَﻧَﺤْﻮِﻫَﺎ ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻻ ﻛِﻨَﺎﻳَﺔَ ﻟِﻠْﻌَﺎﺭِﻳَّﺔِ ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺗَﻮَﻗُّﻒٌ ﻇَﺎﻫِﺮٌ ‏( ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺻَﺮِﻳﺤًﺎ ‏) ﻭَﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻴُﻤْﻜِﻦُ ﺃَﻥْ ﻳُﻘَﺎﻝَ ﺗَﺘَﻤَﻴَّﺰُ ﺍﻟْﻌَﺎﺭِﻳَّﺔُ ﺑِﻤَﻌْﻨَﻰ ﺍﻹِﺑَﺎﺣَﺔِ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺑِﻤَﻌْﻨَﻰ ﺍﻟْﻘَﺮْﺽِ ﺑِﺎﻟْﻘَﺮَﺍﺋِﻦِ ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗُﻮﺟَﺪْ ﻗَﺮِﻳﻨَﺔٌ ﺗُﻌَﻴِّﻦُ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﻓَﻴَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻋَﺪَﻡُ ﺍﻟﺼِّﺤَّﺔِ ﺃَﻭْ ﻳُﻘَﻴَّﺪُ ﺣَﻤْﻠُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻔَﺮْﺽِ ﺑِﻤَﺎ ﺍُﺷْﺘُﻬِﺮَ ﻓِﻴﻪِ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻫَﺠَﺮَ ﻣَﻌَﻪُ ﺍﺳْﺘِﻌْﻤَﺎﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌَﺎﺭِﻳَّﺔِ ﺇﻻ ﺑِﻘَﺮِﻳﻨَﺔٍ ﻭَﻇَﺎﻫِﺮُﻩُ ﺃَﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﺷَﺎﺋِﻊٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻓِﻲ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﺪَّﺭَﺍﻫِﻢِ ﻛَﺄَﻋِﺮْﻧِﻲ ﺩَﺍﺑَّﺘَﻚ ﻣَﺜَﻼ ﺍﻫـ

📚 *إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين*

مهمة) من تصرف في مال غير ببيع أو غيره ظانا تعديه فبان أن له عليه ولاية، كأن كان مال مورثه فبان موته، أو مال أجنبي فبان إذنه له، أو ظانا فقد شرط فبان مستوفيا للشروط، صح تصرفه، لان العبرة في العقود بما في نفس الامر

(مهمة) من تصرف في مال غير ببيع أو غيره ظانا تعديه فبان أن له عليه ولاية، كأن كان مال مورثه فبان موته، أو مال أجنبي فبان إذنه له، أو ظانا فقد شرط فبان مستوفيا للشروط، صح تصرفه، لان العبرة في العقود بما في نفس الامر، وفي العبادات بذلك، وبما في ظن المكلف.
ومن ثم لو توضأ ولم يظن أنه مطلق: بطل طهوره، وإن بان مطلقا، لان المدار فيها على ظن المكلف.
وشمل قولنا ببيع أو غيره: التزويج، والابراء، وغيرهما.
فلو أبرأ من حق ظانا أنه لا حق له فبان له حق،
(قوله: فلا يصح بيع آبق وضال) مثل البيع: الشراء به – فلا يصح دفع عبد آبق أو ضال ثمنا لغير قادر على انتزاعه – كما علمت.
(قوله: لغير قادر على انتزاعه) أي أخذه من المحل الذي أبق إليه أو ضل فيه، أو من الغاصب الذي غصبه.
(قوله: وكذا سمك بركة) أي وكذلك لا يصح بيع سمك بركة لغير قادر على أخذه.
ومثل البيع: الشراء به، بأن يدفع ثمنا – كما علمت – (وقوله: شق تحصيله) أي السمك على المشتري، أي أو على البائع في الصورة التي زدناها.
(قوله: مهمة) أي في بيان حكم من تصرف في مال غيره ظاهرا ثم تبين أنه له.
ولا يقال إن هذا قد ذكره بقوله: ويصح بيع مال غيره ظاهر إلخ، لأنا نقول ذاك خاص في التصرف بالبيع، وما هنا في مطلق التصرف.
نعم، كان الأولى والأخصر أن يقتصر على هذا، لأنه شامل للبيع ولغيره، أو يقتصر على ذاك، ولكن يعمم فيه. فتنبه.
(قوله: من تصرف في مال غير) المراد بالمال: ما يشمل المنفعة، وإلا لما صح – قوله فيما يأتي: وشمل قولنا ببيع أو غيره: التزويج.
(قوله: أو غيره) أي البيع، كالهبة، والعتق، والوقف.
(قوله: ظانا تعديه) أي حال كونه معتقدا أنه متعد في تصرفه.
والظاهر أن هذا ليس بقيد، بل مثله ما إذا اعتقد أنه ليس متعديا، كأن كان يعتقد أن التصرف في مال مورثه في حياته جائز.
(قوله: فبان) أي ظهر بعد التصرف.
(وقوله: أن له) أي المتصرف.
(وقوله: عليه) أي المتصرف فيه.
(وقوله: ولاية) أي سلطنة بملك، أو وكالة، أو إذن – كما مر – (قوله: كأن كان) أي المتصرف فيه.
(وقوله: فبان موته) أي فتبين بعد التصرف فيه موت من له الولاية قبيل التصرف.
(قوله: أو مال أجنبي) معطوف على مال مورثه، أي وكأن كان المال الذي تصرف فيه مال أجنبي – أي أو مال مورثه – فكونه أجنبيا ليس يقيد – كما هو ظاهر -.
(قوله: فبان إذنه له) أي فتبين بعد التصرف أن ذلك الأجنبي إذن له في التصرف قبله.
(قوله: أو ظانا فقد إلخ) ظاهره أنه معطوف على ظانا تعديه، والمعنى: أو تصرف في مال غيره ظانا فقد شرط من شروط التصرف.
وفيه أن هذا ليس مرادا، بل المراد أنه تصرف في مال نفسه ظانا فقد شرط من شروط صحة التصرف، فتبين أنه لم يفقد شرط من ذلك.
ولو قال: أو باع ماله ظانا فقد شرط إلخ – لكان أولى – فتنبه.
(قوله: فبان مستوفيا للشروط) أي فتبين أن تصرفه مستوف لشروط التصرف.
(قوله: صح تصرفه) جواب من.
(قوله: لأن العبرة في العقود إلخ) تعليل للصحة.
(وقوله: بما في نفس الأمر) أي بما هو مطابق للواقع.
وإنما كانت العبرة في العقود به، لعدم احتياجها للنية، فانتفى التلاعب.
وبفرضه لا يضر لصحة نحو بيع الهازل – كذا في النهاية، والتحفة -.
(قوله: وفي العبادات إلخ) أي ولأن العبرة في العبادات بما في نفس الأمر، وبما في ظن المكلف.
وهذا يفيد أن العبرة في العبادات بمجموع الأمرين: ما في نفس الأمر وما في ظن المكلف.
وصورته الآتية: وهي أنه لو توضأ إلخ، مع علتها، وهي قوله لأن المدار الخ تفيد أن العبرة بالثاني فقط، وهذا خلف، ولا يصح أن يقال إن الواو في قوله وبما في ظن المكلف، بمعنى أو، لأن ذلك يقتضي أن ما في نفس الأمر كاف وحده في العبادات، وليس كذلك.
فتأمل.
(قوله: ومن ثم) أي ومن أجل أن العبرة في العبادات بما ذكر: لو توضأ إلخ.
(قوله: أنه مطلق) أي أن ما توضأ به ماء مطلق.
(وقوله: وإن بان) أي ما توضأ به.
(وقوله: مطلقا) أي ماء مطلقا.
(قوله: لأن المدار إلخ) لا حاجة إلى هذه العلة بعد قوله ومن ثم إلخ.
(والحاصل) عبارته لا تخلو عن النظر.
(قوله: وشمل قولنا ببيع أو غيره) الأولى إسقاط لفظ ببيع – كما هو ظاهر -.

[جزء ٣ صفحة ١٦

Dan untuk permasalahan beda Lafadz saya kira jawaban sudah jelas berdasar pada koidah العبرة……. dalam jual beli pun seperti itu. Jadi Lafadz Dari ijab qobul tidak ditentukan meskipun pakek kata minta tapi maksud yang dipahami adalah membeli ya berarti membeli.

واختار للنواوي وجماعة صحة البيع بها في كل ما يعد الناس بيعا لان المدار فيه على رضا المتعاقدين ولم يثبت اشتراط لفظ فيراجع فيه الى العرف (البجور ي ج ١ ص ٣٤١ )[17/1

Kalau pinjam korek itu akad apa? Monggo dibahas..

Menurut qaul yang muktamad, hukum meminjam dan termasuk akad pinjaman seperti ini di perbolehkan Karena yang diakad pinjam adalah koreknya sedangkang minyak dan batrenya masuk pada bahahnya. sama seperti meminjam pen untuk menulis walaupun sang pemberi pinjaman tidak mengatakan “saya perbolehkan kamu mengambil minyaknya” Karena ini bukan berarti meminjam hakikat minyaknya. Dan juga lafadz ‘ariyahnya yang mewakili ibahah.

فلو قال لشخص خذ هذه الشاة … الخ الفرق بين هذه الصورة وما قبلها على كلام الشارح ان هذه صرح فيها بالاباحة فكانه اعار اللبن والثمر بخلاف ما قبلها والمعتمد في ذالك الصحة فيهما لان لفظ العارية قائم مقام لفظ الاباحة وان لم يصرح بالاباحة.(البجور ي ج ٢ ص ٩ )

وهذا الاخراح ضعيف والمعتمد ان العارية صحيحة والمستفاد منها منافعه وهي تو صلك لحقك من اللبن ونحوه،واما اللبن ماءخوذ بالاباحة لا العارية ،…… ولهذا قال ق ل لا يخفى ان العارية في ذالك هو الشاة وان اللبن ماءخوذ بالاباحة وذالك صحيح فقوله لم يصح ليس في محله الا ان كان مراده اعار ة نفس اللبن او الثمرة لانه باطل ……..الخ او نحو ذالك كاعارة دواة للكتابة منها( بجيرمي على الخطيب ج ٣ ص ٤٩١-٤٩٢)

Wallahu a’lamu bisshowab..

T003. NIFAS BAGI WANITA KEGUGURAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Masalah pertama ;
Ustadz/yai mau nanya, darah yang keluar dari orang perempuan karena keguguran (4 bulan) dinamakan darah apa?

JAWABAN :

Darah yang keluar setelah keguguran tetap dihukumi Nifas. Meski masih berupa Gumpalan darah yang dilahirkan tetap dihukumi Nifas.

قول الشارح : ( أي الدم الذي أوله يعقب الولادة ) مثله لو ولدت ولدا جافا ثم رأت الدم قبل خمسة عشر فإنها نفساء من حين الولادة على الأصح ، وقوله : الولادة ، أي ولو علقة أو مضغة ، .

Dalam hal wanita yang mengeluarkan darah sebab keguguran, ulama ahli fiqh membagi masalah menjadi dua kemungkinan;

Pertama, keadaan janin yang keguguran telah didapati tanda penciptaan.

Kedua, sebuah kelahiran yang tidak didapati tanda penciptaan padanya.

Selanjutnya terkait dua kemungkinan tersebut, ulama memutuskan :

1. Jika pada janin keguguran telah tampak sebagian tanda penciptaan seperti adanya ruas tubuh, bentuk wajah, dsb. Maka darah yang keluar setelah melahirkannya (keguguran) adalah darah nifas.

2. Jika belum tampak sebagian tanda penciptaan seperti adanya jari-jari atau yang lainya, maka terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama’ :

Pertama : Menurut madzhab Syafi’iy, Malikiy dan pendapat yang shahih dari madzhab Hanbaliy meskipun yang keluar hanyalah segumpal daging atau segumpal darah; jika memang itu adalah permulaan dari penciptaan bayi, maka darah yang keluar sesudahnya dihukumi darah nifas.

Kedua : Menurut madzhab Hanafiy dan sebagian riwayat dari madzhab Hanbaliy darah tersebut tidak dihukumi darah nifas.

CATATAN :

Darah nifas adalah darah yang keluar setelah kosongnya rahim seorang wanita dari sebuah kandungan, dan sebelum melewati masa minimal suci (15 hari 15 malam).

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ – ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﺍﻟﻜﻮﻳﺘﻴﺔ 114/4 :

ﺫﻫﺐ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺴﻘﻂ ﺍﻟﺬﻱ ﺍﺳﺘﺒﺎﻥ ﺑﻌﺾ ﺧﻠﻘﻪ ﻛﺄﺻﺒﻊ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻭﻟﺪ ﺗﺼﻴﺮ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻧﻔﺴﺎﺀ ، ﻷﻧﻪ ﺑﺪﺀ ﺧﻠﻖ ﺁﺩﻣﻲ ، ﻭﺗﺼﻴﺮ ﺍﻷﻣﺔ ﺃﻡ ﻭﻟﺪ ﺑﻪ ﺇﻥ ﺍﺩﻋﺎﻩ ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺗﻨﻘﻀﻲ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﺑﻪ .

ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﺒﻦ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺧﻠﻘﻪ ﻓﻘﺪ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻟﻴﻦ :

ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻷﻭﻝ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ، ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺇﺫﺍ ﺃﻟﻘﺖ ﻣﻀﻐﺔ ﺃﻭ ﻋﻠﻘﺔ ﺧﻔﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻘﻮﺍﺑﻞ ، ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﻮﺍﺑﻞ ﺇﻧﻪ ﻣﺒﺘﺪﺃ ﺧﻠﻖ ﺁﺩﻣﻲ ﻓﺎﻟﺪﻡ ﺍﻟﻤﻮﺟﻮﺩ ﺑﻌﺪﻩ ﻧﻔﺎﺱ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻟﻮ ﺃﻟﻘﺖ ﺩﻣﺎ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﻻ ﻳﺬﻭﺏ ﺑﺼﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺤﺎﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﺗﻨﻘﻀﻲ ﺑﻪ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﻭﻣﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻧﻔﺎﺱ .

ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ، ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ ﺇﻧﻪ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﺒﻦ ﻣﻦ ﺧﻠﻘﻪ ﺷﻲﺀ ﻓﻼ ﻧﻔﺎﺱ ﻟﻬﺎ .

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﻳﺜﺒﺖ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ﺑﻮﺿﻊ ﻣﺎ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﻓﻴﻪ ﺧﻠﻖ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻭﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺣﻤﺪ ، ﻓﻠﻮ ﻭﺿﻌﺖ ﻋﻠﻘﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻐﺔ ﻻ ﺗﺨﻄﻴﻂ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺑﺬﻟﻚ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ، ﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻗﺪﻣﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ ﻭﺍﻟﻤﺠﺪ ﻓﻲ ﺷﺮﺣﻪ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺗﻤﻴﻢ ﻭﺍﻟﻔﺎﺋﻖ . ﻭﻋﻨﻪ ﻳﺜﺒﺖ- ﺃﻱ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻨﻔﺎﺱ- ﺑﻤﻀﻐﺔ ، ﻭﻋﻨﻪ ﻭﻋﻠﻘﺔ . ﻭﻗﻴﻞ ﻳﺜﺒﺖ ﻟﻬﺎ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻨﻔﺴﺎﺀ ﺇﺫﺍ ﻭﺿﻌﺘﻪ ﻷﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻬﺮ

ﻛﺎﺷﻔﺔ ﺍﻟﺴﺠﺎ ﻟﻨﻮﻭﻱ ﺍﻟﺠﺎﻭﻱ ﺝ / 1 ﺹ 57 :

ﻭﺭﺍﺑﻌﻬﺎ : ﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺪﻡ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﻋﻘﺐ ﻓﺮﺍﻍ ﺭﺣﻢ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻤﻞ ﻭﻟﻮ ﻋﻠﻘﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻐﺔ ﻭﻗﺒﻞ ﻣﻀﻲ ﺃﻗﻞ ﺍﻟﻄﻬﺮ .

ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﺝ / 4 ﺹ 184 :

ﻗَﻮْﻟُﻪُ: ﺑَﻌْﺪَ ﻓَﺮَﺍﻍِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻢِ ﺃَﻱْ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺤَﻤْﻞِ ﻭَﻟَﻮْ ﻋَﻠَﻘَﺔً ﺃَﻭْ ﻣُﻀْﻐَﺔً ﺃَﻱْ ﻭَﻗَﺒْﻞَ ﻣُﻀِﻲِّ ﺧَﻤْﺴَﺔَ ﻋَﺸَﺮَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻓَﺈِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻧِﻔَﺎﺳًﺎ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﻉ ﺵ ﻭَﺷَﻴْﺨُﻨَﺎ

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ – ﺣﺎﺷﻴﺘﺎ ﻗﻠﻴﻮﺑﻲ – ﻭﻋﻤﻴﺮﺓ 2/53 :

ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺸﺎﺭﺡ : ﺃﻱ ﺍﻟﺪﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻭﻟﻪ ﻳﻌﻘﺐ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ . ﻣﺜﻠﻪ ﻟﻮ ﻭﻟﺪﺕ ﻭﻟﺪﺍ ﺟﺎﻓﺎ ﺛﻢ ﺭﺃﺕ ﺍﻟﺪﻡ ﻗﺒﻞ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻧﻔﺴﺎﺀ ﻣﻦ ﺣﻴﻦ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﺢ ، ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ، ﺃﻱ ﻭﻟﻮ ﻋﻠﻘﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻐﺔ ، ﻭﻟﻮ ﺧﺮﺝ ﺑﻴﻦ ﺗﻮﺃﻣﻴﻦ ﻓﻬﻮ ﺣﻴﺾ ﻻ ﻧﻔﺎﺱ .

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ – ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺒﺠﻴﺮﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ 1/367-368 :

ﻭﺍﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ ﻟﻠﻌﻠﻘﺔ ﻭﺍﻟﻤﻀﻐﺔ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻓﻲ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺑﻜﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻭﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻭﺃﻥ ﺍﻟﺪﻡ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﺑﻌﺪ ﻛﻞ ﻳﺴﻤﻰ ﻧﻔﺎﺳﺎ ﻭﺗﺰﻳﺪ ﺍﻟﻤﻀﻐﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻠﻘﺔ ﺑﻜﻮﻧﻬﺎ ﺗﻨﻘﻀﻲ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﻭﻳﺤﺼﻞ ﺑﻬﺎ ﺍﻻﺳﺘﺒﺮﺍﺀ ﻭﻳﺰﻳﺪ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﺑﺄﻧﻪ ﻳﺜﺒﺖ ﺑﻪ ﺃﻣﻴﺔ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻐﺮﺓ ﺑﺨﻼﻓﻬﻤﺎ ﺍ ﻫـ . ﺑﺮﻣﺎﻭﻱ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﻴﻮﺑﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺤﻠﻲ . ( ﻓﺎﺋﺪﺓ ) ﻳﺜﺒﺖ ﻟﻠﻌﻠﻘﺔ ﻣﻦ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻭﻓﻄﺮ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺑﻬﺎ ﻭﺗﺴﻤﻴﺔ ﺍﻟﺪﻡ ﻋﻘﺒﻬﺎ ﻧﻔﺎﺳﺎ ﻭﻳﺜﺒﺖ ﻟﻠﻤﻀﻐﺔ ﺫﻟﻚ ﻭﺍﻧﻘﻀﺎﺀ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﻭﺣﺼﻮﻝ ﺍﻻﺳﺘﺒﺮﺍﺀ ﻓﻘﻂ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻘﻮﻟﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﺻﻮﺭﺓ ﻓﺈﻥ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﺻﻮﺭﺓ ﻭﻟﻮ ﺧﻔﻴﺔ ﻭﺟﺐ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻏﺮﺓ ﻭﻳﺜﺒﺖ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﺑﻬﺎ ﺃﻣﻴﺔ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺃﻛﻠﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻥ ﺍﻟﻤﺄﻛﻮﻝ ﻋﻨﺪ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﻡ ﺭ .

Dasar pengambilan :

1. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Juz 4, hal. 114 (al-Mausu’ah al-Syamilah)

2. Kasyifah al-Sajaa, hal. 57

3. Tuhfah al-Muhtaj Fiy Syarh al-Minhaj, Juz 4, hal. 184

4. Hasyiyah Qulyubiy wa ‘Umairah, Juz 2, hal. 53 (al-Mausu’ah al-Syamilah)

5. Hasyiyah al-Bujairamiy ‘Ala al-Manhaj, Juz 1, hal. 367-368 (al-Mausu’ah al-Syamilah)

Masalah kedua :
Wanita yang hamil 2 bulan mengalami keguguran, darah yang keluar bersamaan dengan itu apa sudah termasuk darah nifas?

JAWABAN :

Batas minimal kandungan yang ketika keluar (dan atau keguguran), jika keluar darah setelahnya dinamakan nifas adalah kandungan yang minimal sudah berupa ‘alaqoh yakni berumur 40 hari (5 minggu lebih 5 hari). Oleh karena itu jika ada kandungan keluar sudah berwujud ‘alaqoh atau wujud setelahnya, jika ada darah yang keluar setelah wiladah tidak melebihi 15 hari maka disebut darah nifas, dan jika darah keluar setelah 15 hari maka disebut darah haidl (bukan nifas).

– Hasyiyah Al-Bajuri I / 109 :

(والنفاس هو الدم الخارج عقب الولادة) فالخارج مع الولد أو قبله لا يسمى نفاساً

 

Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Darah yang keluar bersamaan dengan anak atau sebelum keluarnya anak tidak disebut nifas.

(قوله عقب الولادة) أي بأن يكون قبل مضي خمسة عشر يوما منها ، فهذا ضابط العقبية وإلا كان حيضا ولا نفاس لها لكن لو نزل عليها الدم بعد عشرة أيام مثلا كانت تلك العشرة من النفاس عددا لا حكما ، فيجب عليها الصلاة ونحوها فيها كما قاله البلقيني واعتمده الرملي وكان الأولى أن يقول عقب فراغ الرحم من الحمل ليخرج ما بين التوأمين ومثل الولادة إلقاء علقة وهي الدم الغليظ المستحيل من المني سميت بذلك لأنها تعلق بما لاقته ، ومضغة وهي القطعة من اللحم المستحيلة من العلقة سميت بذلك لأنها بقدر ما يمضغ ـ اهـ الباجوري الجزء الأول ص ١٠٦

Dikatakan nifas dengan catatan keluarnya itu sebelum lewatnya 15 hari dari melahirkan, dan ini merupakan batas dari “setelah”, jika tidak demikian maka itu adalah haidl bukan nifas, akan tetapi jika darah turun atas perempuan setelah 10 hari dari melahirkan misalkan, maka 10 hari tersebut termasuk nifas dalam segi hitungan bukan hukum, maka wajib bagi perempuan untuk melaksanakan sholat dan semacamnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Bulqiniy dan dibuat pedoman /dikuatkan oleh Imam Ar-Romliy. dan yang lebih utama adalah mengatakan “setelah kosongnya rahim dari kehamilan” agar mengeluarkan waktu yang berada di antara dua bayi kembar .

Termasuk dari wiladah (melahirkan) adalah keguguran ‘alaqoh yaitu darah yang kental (menggumpal) yang berubah dari mani, disebut ‘alaqoh karena bergantung pada sesuatu yang darah itu melekat padanya, dan juga mudlghoh yaitu sepotong daging yang berubah dari ‘alaqoh, disebut mudlghoh karena seukuran sesuatu yang dikunyah.

Wallahu A’lam Bisshawab..

D003 Membaca Basmalah di pertengahan surah At-Taubah

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mau tanya, awal Surah At-Taubah kan haram diawali dengan Basmalah, bagaimana jika membacanya dimulai dari pertengahan surah At Taubah apakah boleh diawali dengan basmalah?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh tapi makruh

قوله: (ومن ثم حرمت الخ) عليه منع ظاهر وفي الجعبري ما يدل على خلافه فراجعه سم عبارة ع ش قوله م ر: سورة براءة أي فلو أتى بها في أولها كان مكروها خلافا لحج حيث قال بالحرمة اه عبارة شيخنا فتكره البسملة في أولها وتسن في أثنائها كما قاله الرملي، وقيل: تحرم في أولها وتكره في أثنائها كما قاله ابن حج

Menurut Imam ROMLI hukum membaca BASMALAH pada awal surat baraooah adalah MAKRUH sedang menurut Imam Ibnu Hajar membaca basmalah diawal surat hukumnya haram, sedang di tengah surat hukumnya makruh.

Hawasyi Assyarwaani wa al ‘ubaady II36.

Di awal suroh itu baca Basmalah hukumnya haram menurut Imam Ibnu Hajar dan menurut Imam Romli Makruh. Sedangkan baca suroh at-taubah ditengah diawali dengan basmalah menurut Imam Ibnu Hajar Makruh dan Imam Romli Jaiz, boleh boleh aja, Begitu juga menurut mazhab imam maliki Rahimahumullah.
Wallahu A’lam.

واختلف العلماء في سبب سقوط البسملة منها على أقوال:

منها: أن البسملة رحمة وأمان و”براءة” نزلت بالسيف؛ فليس فيها أمان، وهذا القول مروي عن علي رضي الله عنه، وسفيان بن عيينة.

ومنها: أن ذلك على عادة العرب إذا كتبوا كتاباً فيه نقض عهد أسقطوا منه البسملة، فلما أرسل النَّبي صلى الله عليه وسلم علياً رضي الله عنه ليقرأها عليهم في الموسم؛ قرأها، ولم يبسمل على عادة العرب في شأن نقض العهد، نقل هذا القول بعض أهل العلم، ولا يخفى ضعفه.

ومنها: أن الصحابة لما اختلفوا: هل “براءة” و”الأنفال” سورة واحدة أو سورتان؛ تركوا بينهما فرجة لقول من قال: إنهما سورتان، وتركوا البسملة لقول من قال: هما سورة واحدة، فرضي الفريقان وثبتت حجتاهما في المصحف.

ومنها: أن سورة “براءة” نسخ أولها فسقطت معه البسملة، وهذا القول رواه ابن وهب، وابن القاسم، وابن عبد الحكم، عن مالك، كما نقله القرطبي.

وعن ابن عجلان، وسعيد بن جبير، أنها كانت تعدل سورة “البقرة”، وقال القرطبي: والصحيح أن البسملة لم تكتب في هذه السورة؛ لأن جبريل لم ينزل بها فيها. قاله القشيري. اهـ.

Adwaa’ alBayaan Fii Iidhooh al’Qur’an X/2.

Bagaimana kalau kita ikut yang tak boleh baca basmalah saja ?

Demikian Itu malah bagus, sebab dalam kaidah FIQH dikatakan الخروج من الخلاف مستحب “ALKHURUUJ MINAL KHILAAF MUSTAHABB”, menghindar dari perbedaan ulama dianjurkan. Seperti keterangan diatas basmalah diawal surat taubah ada yang mengharamkan dan ada yang memakruhkan, kalau kita tidak mengerjakan baca basmalah berarti keluar dari perbedaan diantara dua pendapat di atas.

Wallaahu A’lamu Bis Showaab..

D002 Berdzikir sambil menggerakkan kepala dan seluruh badan

PERTANYAAN :

Assalamualaikum.. bagaimana hukumnya berdzikir dengan menggerakkan seluruh badan?

JAWABAN :

Waalaikumussalam wr wb..

Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam karyanya Al-Fatawi Al-Haditsiyah, menceritakan sahabat Ja‘far bin Abi Thalib RA yang menari dengan ceria karena hatinya tengah ditenggelamkan rasa gembira luar biasa.

نعم له أصل فقد روي في الحديث أن جعفر بن أبى طالب رضي الله عنه رقص بين يدي النبي صلى الله عليه وسلم لما قال له “أشبهت خلقي وخلقي” وذلك من لذة هذا الخطاب ولم ينكر عليه صلى الله عليه وسلم. وقد صح القيام والرقص في مجالس الذكر والسماع عن جماعة من كبار الأئمة منهم عز الدين شيخ الإسلام ابن عبد السلام

Tentu. Aksi tarian para sufi ketika perasaannya gembira bukan kepalang, memiliki asal-usulnya. Sebuah hadits meriwayatkan Ja‘far bin Abi Thalib RA menari di hadapan Rasulullah SAW ketika Beliau SAW mengatakan kepadanya, “Rupa dan perilakumu (akhlaqmu) serupa denganku”.

Mendengar indahnya pujian itu, Ja‘far lalu menari. Sementara Rasulullah SAW sendiri tidak mengingkari tarian tersebut. Karenanya berdiri dan menari di majelis-majelis zikir dan tabligh akbar (ngaji kuping), telah sahih diriwayatkan dari banyak ulama besar. Satu di antara mereka Izzuddin bin Abdis Salam.

Mendengar kata-kata yang seindah dan semurni itu, terus dita’birkan dengan menari-nari di hadapan Rasullullah SAW. Tingkah laku beliau itu atau ‘body language’ beliau tidak ditegah atau ditegur oleh Rasulullah SAW.

Di sinilah dikatakan atau dijadikan asal usul sandaran bahawa menari-nari sambil berzikir kepada Allah yang dilakukan oleh ahli tarikat atau golongan sufiyah, ada sandarannya.

Sahlah berlaku tarian di majlis zikir yang dihadiri oleh ulama besar yang muktabar. Antara mereka ialah al-Imam Izzuddin Abdus Salam dan tidak diengkarinya.

Ditanya Shaikhul Islam Sirajuddin al-Balqini tentang persoalan tari-menari dalam majlis zikir, lalu dijawab beliau dengan mengiyakannya, yakni boleh dilakukan.

Ditanya al-Allamah Burhanuddin al-Abnasi, perkara yang sama, maka beliau menjawab dengan membolehkannya.

Ditanya ulama besar dalam mazhab Hanafi dan Maliki, semuanya menjawab, “Tidak mengapa dan boleh dilakukan.”

Semua jawapan ini dibuat dengan bersandarkan kepada ayat dalam Surah ‘Ali-’Imran di atas berserta hadis yang diriwayatkan oleh Jaafar bin Abi Talib r.a.

Adapun tarian yang dilarang adalah tarian yang bercampur lelaki perempuan yang bukan mahram, lebih-lebih lagi ia diadakan dalam majlis yang kemaksiatannya ketara seperti berpakaian tidak menutup aurat, diiringi dengan muzik dan suasana yang mengundang kepada syahwat dan lain-lain.

Itulah yang disebut haram. Haram bukan soal tarian, tetapi dilihat dari aspek persembahan, suasana dan dilihat dengan jelas kemaksiatan.

Adapun tarian dalam zikrullah, adalah tarian khusus yang lahir daripada rasa kesyahduan kepada Allah, dengan kelazatan munajat dan bertaladdud (berseronok kerana zikrullah).

Perasaan seronok dan lazat itu yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya, merupakan anugerah Allah kepada mereka.

Mereka hendak menunjukkan bahasa badan (body language) mereka dengan menari-nari tanda keseronokan, tetapi dibuat kerana Allah SWT.

Inilah yang disebut di dalam Al-Quran (mafhumnya): “(Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah. Ketahuilah dengan “zikrullah” itu, tenang tenteramlah hati manusia.” (Surah Ar-Rad, ayat 28).

Ketenangan adalah suatu kenikmatan. Hendak menghargai kenikmatan itu adalah sesuatu yang boleh dita’birkan dengan isyarat, dengan kata-kata, dengan bahasa badan yang dijelmakan dalam bentuk tarian untuk menyatakan kesyukuran dan kenikmatan yang mereka perolehi hasil anugerah Allah.

Atas itulah pada pendapat saya bahawa tarian dalam majlis-majlis sufi itu adalah harus.

Untuk menyatakan haram atau tidak boleh memang mudah, tetapi harus disandarkan kepada dalil. Jika tidak ada dalil atau hujah, berbaliklah kepada hukum fekah bahawa, “Asal semua perkara adalah harus sehingga ada dalil yang membuktikannya haram.”

Oleh itu berzikrullah yang difahami dari ayat al-Quran di atas, hadis Rasulullah SAW dan pandangan ulama muktabar, maka saya menyatakan ia harus dan bukanlah haram.

Berdzikir kepada Allah swt sangat dianjurkan dalam berbagai kesempatan dan kondisi. Tidak hanya ketika khusyu’ berdiam diri (tuma’ninah) tetapi juga ketika beraktifitas, qiyaman wa qu’udan baik berdiri maupun duduk, bahkan juga ketika berbaring wa a’la junubihim. Apalagi hanya sekedar menggeleng-gelengkan kepala, selagi hal itu memiliki pengaruh yang positif maka hukumnya boleh-boleh saja. bahkan disunnahkan. Hal inilah yang diinformasikan oleh kitab Fatawal Khalili ala Madzhabil Imamis Syafi’i:

… علمت أن الحركة فى الذكر والقرأة ليست محرمة ولا مكروهة بل هي مطلوبة فى جملة أحوال الذاكرين من قيام وقعود وجنوب وحركة وسكون وسفر وحضر وغني وفقر …

Saya jadi mengerti bahwasannya menggerakkan (anggauta badan) ketika berdzikir maupun membaca (al-qur’an)  bukanlah sesuatu yang haram ataupun makruh. Akan tetapi sangat dianjurkan dalam semua kondisi baik ketika berdiri, duduk, berbaring, bergerak, diam, dalam perjalanan, di rumah, ketika kaya, ataupun ketika faqir…

Dengan demikian teringat kita dengan tarian sufi yang dinisbatkan kepada Jalaluddin Rumi. Bagaimana dzikir juga diapresiasikan dalam seni tari.

Dzikir Dengan Menggerakkan Kepala ;

Banyak dari ulama dan kyai kita saat berdzikir menggerakkan kepala, ke kanan dan ke kiri, baik saat Dzikir Thariqah maupun majlis Dzikir. Ada yang mengatakan bidah, tidak ada contohnya dari Nabi dan lainnya.

Kita temukan riwayat para Sahabat melakukan hal tersebut, seperti yang disampaikan dua ulama ahli hadis dan ahli sejarah, Al-Hafidz Ibnu Katsir dan Al-Hafidz Ibnu Jauzi:

ﻭاﻟﻠﻪ ﻟﻘﺪ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻤﺎ ﺃﺭﻯ اﻟﻴﻮﻡ ﺷﻴﺌﺎ ﻳﺸﺒﻬﻬﻢ، ﻟﻘﺪ ﻛﺎﻧﻮا ﻳﺼﺒﺤﻮﻥ ﺻﻔﺮا ﺷﻌﺜﺎ ﻏﺒﺮا ﺑﻴﻦ ﺃﻋﻴﻨﻬﻢ ﻛﺄﻣﺜﺎﻝ ﺭﻛﺐ اﻟﻤﻌﺰﻯ، ﻗﺪ ﺑﺎﺗﻮا ﻟﻠﻪ ﺳﺠﺪا ﻭﻗﻴﺎﻣﺎ ﻳﺘﻠﻮﻥ ﻛﺘﺎﺏ اﻟﻠﻪ ﻳﺘﺮاﻭﺣﻮﻥ ﺑﻴﻦ ﺟﺒﺎﻫﻬﻢ ﻭﺃﻗﺪاﻣﻬﻢ، ﻓﺈﺫا ﺃﺻﺒﺤﻮا ﻓﺬﻛﺮﻭا اﻟﻠﻪ ﻣﺎﺩﻭا ﻛﻤﺎ ﻳﻤﻴﺪ اﻟﺸﺠﺮ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ اﻟﺮﻳﺢ

Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata: “Demi Allah, sungguh aku telah melihat para sahabat Nabi Muhammad. Tidak ku lihat hari ini sesuatu yang menyerupai mereka. Sungguh para sahabat telah terlihat di pagi hari dalam keadaan rambut acak-acakan, diantara kedua mata mereka seperti lutut kambing, mereka telah bermalam karena Allah, mereka bersujud, mereka bangun ibadah, membaca Alquran dan mereka istirahat diantara dahi dan kaki mereka. Jika mereka telah bangun di pagi hari mereka berdzikir kepada Allah dengan bergerak seperti pohon yang bergerak di saat angin kencang” (Al-Bidayah wa An-Nihayah 8/7 da Sifat Ash-Shafwah 1/124)

Jadi sebenarnya mereka yang menuduh bidah itu tidak pernah dzikir banyak dan lama. Coba mereka ajak dzikir lama (seperti perintah Allah dalam Al-Ahzab 41) tanpa menggerakkan kepala, in sya Allah tidak lama lehernya akan terasa nyeri otot.

Wallahu a’lamu bisshowab..

IMAM DAN MAKMUM BERADA DI RUANGAN BERBEDA

news-1502260963-7506_large1055411582.jpg

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana batasan2 makmum boleh ikut imam yang makmumnya ada di dalam ruangan yang berbeda?
Syukron..

 

JAWABAN :

Penjelasannya seperti berikut ;

ولا يضر في جميع ما ذكر شارع ولو كثر طروقه ولا نهر وإن أحوج الى سباحة وهي بكسر السين العوم وهو علم لا ينسى لأنهما لم يعدا للحيلولة. الباجوري ١/٢٠٠

تقريرات السديدة ٢٩٩

ولايضر تخلل الشارع بين الإمام والمأمو، وكذلك النهر الكبير، ولاالبحر بين سفينتين.

Tak mengapa antara imam dan ma’mum dipisah jalan besar, sungai besar dan lautan antara dua perahu (imam dan ma’mum beda perahu).

Jika sholat di atas loteng masjid sedangkan imam di atas loteng rumah atau di atas loteng masjid yang lain yang terpisah tapi jaraknya dekat (kurang dari 300 dziro’) dan antara keduanya tidak ada penghalang maka ada yang bilang TIDAK SAH karena berada dalam bangunan yang berbeda dan tidak adanya sambungan dan karena udara juga tidak mempunyai tempat yang tetap, tapi pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran mengatakan SAH sebagaimana contoh sahnya jama’ah antara makmum dan imam berada dalam 2 bangunan yang dihalangi jalan dan sungai.

أسنى المطالب في شرح روض الطالب – (ج 1 / ص 225)

وَلَوْ صلى فَوْقَ سَطْحِ مَسْجِدٍ وَإِمَامُهُ فَوْقَ سَطْحِ بَيْتٍ أو مَسْجِدٍ آخَرَ مُنْفَصِلٍ مع قُرْبِ الْمَسَافَةِ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا حَائِلٌ فَقَدْ يُقَالُ بِعَدَمِ الصِّحَّةِ لِاخْتِلَافِ الْأَبْنِيَةِ وَعَدَمِ الِاتِّصَالِ لِأَنَّ الْهَوَاءَ لَا قَرَارَ له وَالْأَقْرَبُ الصِّحَّةُ كما لو وَقَفَا في بِنَاءَيْنِ على الْأَرْضِ وَحَالَ بَيْنَهُمَا شَارِعٌ أو نَهْرٌ وَإِنْ كان الْإِمَامُ أو من على الْمَنْفَذِ أو الْمَأْمُومُ الْمُحَاذِي له في عُلْوٍ وَالْآخَرُ في سُفْلٍ وَقَدَمُ الْأَعْلَى مُحَاذٍ لِرَأْسِ الْأَسْفَلِ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا فُرْجَةٌ تَسَعُ وَاقِفًا إنْ صلى بِجَنْبِهِ وَلَا أَكْثَرُ من ثَلَاثَةِ أَذْرُعٍ إنْ صلى خَلْفَهُ لم يَضُرَّ فَإِنْ لم يُحَاذِهِ على الْوَجْهِ الْمَذْكُورِ بَطَلَتْ صَلَاةُ الْمُقْتَدِي لِأَنَّهُمَا حِينَئِذٍ لَا يُعَدَّانِ مُجْتَمِعَيْنِ في مَكَان وَاحِدٍ بِخِلَافِ ما لو كان ذلك في الْمَسْجِدِ لِمَا مَرَّ.

Apabila ruangan tersebut masih dalam satu masjid maka shalat jama’ah dengan pelantara TV atau sejenisnya sah asal ada jalan tembus yang bisa sampai pada imam.

Penjelasan kitab Nihayatuz zain, syarat makmum yang ke tiga adalah mengetahui gerakan imam (dari satu rukun kerukun lain) dengan melihat imam tsb atau melihat shaf di mukanya atau melihat sebagian dari shaf atau mendengar suara imam. Apabila sekiranya ada di ruangan atas dan ma’mum berada di ruangan bawah atau sebaliknya, seperti di sumur, menara dan loteng masjid. Sementara tanda penghubung ada di belakang ma’mum dengan artian tidak dapat sampai pada imam kecuali dengan berbelok, dengan memalingkan punggungnya dari arah kiblat maka sah hukum bermakmumnya karena para ulama’ memutlakkan akan ke-sah-an bermakmum di masjid walaupun terhalang bangunan yang terhubung pintu-pintu ke masjid atau lotengnya maka kemutlakan itu cukuplah adanya tanda penghubung tersebut baik ada di depan/di belakang/samping kanan/samping kiri makmum. Tapi kalau tidak ada tanda penghubung sama sekali maka tidak sah ma’mumnya, ini pendapat yang mu’tamad. Wallahu a’lam.

Ibarot :

– AlBajuriy Juz 1/199 :

.و هو أى المأموم عالم بصلاته أى الإمام بمشاهدة المأموم له أو بمشاهدته بعض صف أجزأه أى كفاه ذلك في صحة الإقتداء به، وقوله أو بمشاهدته بعض صف أى أو نحو ذلك كسماع صوت الإمام أو صوت مبلغ ولو فاسقا وقع في قلبه صدقه فلا يشترط كونه عدلا وإن أوهمه كلام المحشي بل المدار على وقوع صدقه في قلبه وإن لم يكن مصليا ومثل ذلك هداية من غيره له. الباجوري ١/١٩٩ :

– Bughyatul Mustarsyidin hal. 70 :

.من شروط القدوة اجتماع الإمام والمأموم في مكان ثم إن جمعهما مسجد و منه جداره و رحبته بفتح الحاء وهي ما حجر لأجله و إن فصل بينهما طريق مالم يعلم حدوثها بعده و منارته التي بابها فيه أو في رحبته لا حريمه وهو ما هيئ لإلقاء نحو قمامته فالشرط العلم بانتقالات الإمام و إمكان المرور من غير إزورار و إنعطاف بأن يولي ظهره القبلة على ما فهمه الشيخ عبد الله باسودان من عبارة التحفة لكن رجح العلامة على ابن قاضي عدم ضرر الإزورار و الإنعطاف في المسجد مطلقا و كما يأتي في ى و لا يضر غلق الباب و كذا تسميره كما في التحفة خلافا لم ر. بغية المسترشدين : ص : ٧٠

– KITAB NIHAYATUZ ZAIN JUZ 1 HALAMAN 121 :

.والثالث (علم بنتقالا امام) برؤية صف او بعضه او سماع صوته

– Bughyatul Mustarsyidin (halaman 147) :

مسألة : ي) : لا يشترط في المسجد كون المنفذ أمام المأموم أو بجانبه بل تصح القدوة وإن كان خلفه ، وحينئذ لو كان الإمام في علو والمأموم في سفل أو عكسه كبئر ومنارة وسطح في المسجد ، وكان المرقى وراء المأموم بأن لا يصل إلى الإمام إلا بازورار بأن يولي ظهره القبلة ، صح الاقتداء لإطلاقهم صحة القدوة في المسجد ، وإن حالت الأبنية المتنافذة الأبواب إليه وإلى سطحه ، فيتناول كون المرقى المذكور أمام المأموم أو وراءه أو يمينه أو شماله ،

بل صرح في حاشيتي النهاية والمحلي بعدم الضرر ، وإن لم يصل إلى ذلك البناء إلا بازورار وانعطاف ، نعم إن لم يكن بينهما منفذ أصلاً لم تصح القدوة على المعتمد ،

ورجح البلقيني أن سطح المسجد ورحبته والأبنية الداخلة فيه لا يشترط تنافذها إليه ، ونقله النووي عن الأكثرين ، وهو المفهوم من عبارة الأنوار والإرشاد وأصله ، وجرى عليه ابن العماد والأسنوي ، وأفتى به الشيخ زكريا ،.

Yang masih terjadi perselisihan mengenai hukumnya adalah mengenai disyaratkannya harus ada manfadz antara imam dan ma’mum apabila sholat jama’ah dilakukan didalam masjid. Menurut pendapat yang mu’tamad hukum sholat jama’ahnya tidak sah. Namun,menurut sebagian ulama’ selama imam dan ma’mum masih dalam lingkup bangunan masjid, sholat jama’ah tetap sah. Imam Nawawi menukil pendapat yang menyatakan sholat jama’ah tetap sah meski tanpa adanya manfadz tersebut dari banyak ulama’, pendapat ini pula yang bisa disimpulkan dari ibarot-ibarot dalam kitab “Al-Anwar” dan “Al-Irsyad”, pendapat ini juga dipilih oleh Syekh Ibnul Imad dan Syekh Al-Asnawi dan difatwakan oleh Syekh Zakariya.

Dalam kitab-kitab fiqih pada bab sholat jama’ah dijelaskan bahwasanya sholat jama’ahyang dilaksanakan “di masjid” tidak disyaratkanadanya manfadz (jalan tembus) menuju imam yang berada disamping atau didepan ma’mum, yang sekiranya ma’mum dapat menuju ketempat imam tanpamembelakangi kiblat.

Berbeda halnya ketika sholat jama’ah dikerjakan “di luarmasjid” atau ditempat-tempat lain selain masjid yang manadisyaratkan harus ada jalan menuju imam bagi ma’mum,sekiranya ma’mum bisa berjalan menuju tempat imam dengan tanpa membelakangikiblat.

Jadi, apabila seorang salah satu dari imam atau ma’mum sholat ditempat yang lebih tinggi, misalnya imamnya dilantai pertama dan ma’mumnya dilantai kedua, meskipun jalan yang digunakan untuk menuju imam yang berupa tangga semisal, berada dibelakang ma’mum, sehingga apabila ma’mum hendak menuju imam harus membelakangi kiblat, sholat jama’ahnya tetap sah.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konstruksi tangga bangunan masjid bertingkat yang baik adalah sebagai berikut:

1. Konstruksi Terbaik adalah mengadopsi pendapat yang mu’tamad, yaitu bila “bangunan tangga” ditempatkan di dalam masjid dan terletak di bagian arah qiblat jamaah.

2. Konstruksi minimal, Ketentuan peletakan tangga untuk lantai kedua dan seterusnya, adalah pokok harus berada di dalam masjid. Tangga masjid tidak harus menghadap ke kiblat, tangganya boleh diletakkan didepan, disamping atau dibelakang, sebab saatsholat jama‘ah di dalammasjid, jalan ma‘mum untuk menuju imam tidak disyaratkan harus menghadap kiblat.
Wallohu a’lam.

Ketika imam dan ma’mum melakukan sholat jam’ah di luar masjid, seperti mushola rumah dan sebagainya, ini membutuhkan 4 syarat.

Yang pertama :

Antara imam dan ma’mum tidak melebihi jarak 300 dziro’ ( +- 150 m )

Yang kedua :

Antara imam dan ma’mum tidak ada ha’il ( penghalang )

Yang ketiga :

Ma’mum harus mengetahui gerak gerik imam seperti melihat imam, melihat gerakan orang yang ikut imam, mendengar suara imam, atau mendengar suara muballigh ( penyampai suara imam / speaker dan lain2 )

Yang ke empat :

Ma’mum tidak boleh mendahului imam.

Maka dengan demikian bila kita melihat syarat yang kedua, maka jelas praktek sholat jama’ah seperti yang di pertanyakan ” tidak sah “.
Akan tetapi andai pintu itu tertutup di pertengahan sholat , maka tidak apa2 ( sah )

Di dalam kitab Nihayatuz Zain hal 122 yang merupakan karangan Imam Nawawi di jelaskan :

نهاية الزين ص 122 :

فإن كانا في بناء أو بنأين أو كان أحدهما في فضاء والآخر في بناء، والجميع غير مسجد أشترط مع ما مر آنفا عدم حائل بينهما يمنع الرؤية أو الإستطراق العادي بحيث لو أراد الوصول للإمام لايمكنه أو يستدبر القبلة ـــ إلى أن قال ـــ فلو حال بينهما جدار لا باب فيه أو باب مسمر أو مغلق أو مردود أو شباك منع صحة الإقتداء. إهـ

Apabila mereka (imam & makmum) berada di satu bangunan atau di dua bangunan, atau salah satunya ada di tanah lapang dan yg satunya lagi berada di bangunan, sementara semua tempat tersebut bukan masjid, maka beserta persyaratan yg telah lalu disyaratkan tidak adanya penghalang di antara mereka yg dapat mencegah melihat imam atau mencegah untuk bisa menuju imam sekira andai makmum berkehendak menuju imam maka tidak memungkinkan atau membelakangi qiblat -sampai perkataan pengarang- lantas andai di antara mereka terdapat dinding yg tak berpintu, atau pintu yg dicukil dg paku, atau pintu yg dikunci, atau ditutup, atau jendela teralis, maka hal tersebut dapat mencegah keabsahan shalat berjamaah.

هامش حاشية إعانة الطالبين الجزء الثاني ص 28-29 :

أو وقوف واحد من المأمومين حذاء منفذ في الحائل إن كان كما إذا كانا ببنأين كصحن وصفة من دار أو كان أحدهما ببناء والآخر بفضاء فيشترط أيضا هنا ما مر، فإن حال ما يمنع مرورا كشباك أو رؤية كباب مردود وإن لم تغلق ضبته لمنعه المشاهدة وإن لم يمنع الإستطراق، ومثله الستر المرخى، أو لم يقف أحد حذاء منفذ لم يصح الإقتداء فيهما. إهـ

Apabila terdapat penghalang maka disyaratkan ada seseorang dari anggota makmum yg berdiri di depan pintu sebagaimana ketika mereka berada di dua bangunan, seperti di dalam kamar dan teras rumah, atau salah satu dari mereka berada di bangunan dan yg satunya lagi berada di tanah lapang, maka persyaratan yg telah lalu juga menjadi syarat dalam hal ini. Lantas apabila terdapat penghalang yg mencegah untuk berjalan seperti jendela teralis, atau mencegah melihat imam seperti pintu yg tertutup meskipun tidak dikunci dan meskipun tidak mencegah untuk melakukan Istithraq (menuju imam); dan sama seperti pintu yaitu kain kelambu yg turun ke bawah (ngelembreh ; Jawa), atau tidak ada orang yg berdiri di depan pintu, maka shalat berjamaah dalam kasus ini tidak sah karena pintu tersebut mencegah untuk bisa melihat imam.

 

Lalu bagaimana makmum yang shalat di lain tempat seperti di masjidil haram makmumnya di hotel hanya melihat dari kaca?

JAWABAN :

Khilaf ; menurut imam abu hanifah sah secara mutlaq walaupun ada penghalang antara imam dan makmum.

Referensi :

وقال النووي من فقهاء الشافعية في المجموع: (لو صلى في دار أو نحوها بصلاة الإمام في المسجد، وحال بينهما حائل لم يصح عندنا، وبه قال أحمد.
وقال مالك: تصح إلا في الجمعة. وقال أبو حنيفة: تصح مطلقاً.

وقال النووي أيضاً: يشترط لصحة الاقتداء علم المأموم بانتقالات الإمام، سواء صليا في المسجد، أو في غيره، أو أحدهما فيه، والآخر في غيره. وهذا مجمع عليه.

قال أصحابنا: ويحصل له العلم بذلك بسماع الإمام، أو من خلفه، أو مشاهدة فعله، أو فعله من خلفه، ونقلوا الإجماع في جواز اعتماد كل واحد من هذه الأمور، فلو كان المأموم أعمى اشترط أن يصلي بجنب كامل، ليعتمد موافقته مستدلا بها.

وجاء في المغني لابن قدامة:

قال ابن قدامة: (فإن كان بين الإمام والمأموم حائل يمنع رؤية الإمام، أو من وراءه، فقال ابن حامد: فيه روايتان:

إحداهما: لا يصح الائتمام به. اختاره القاضي؛ لأن عائشة قالت لنساء كن يصلين في حجرتها: “لا تصلين بصلاة الإمام، فإنكن دونه في حجاب” ولأنه لا يمكنه الاقتداء في الغالب.

والثانية: يصح… ولأنه أمكنه الاقتداء بالإمام، فصح اقتداؤه به من غير مشاهدة كالأعمى، ولأن المشاهدة تراد للعلم بحال الإمام، والعلم يحصل بسماع التكبير، فجرى مجرى الرؤية، ولا فرق بين أن يكون المأموم في المسجد، أو في غيره.

واختار القاضي أنه يصح إذا كانا في المسجد، ولا يصح في غيره”. والله أعلم.4

إذن المسألة فيها خلاف، والصحيح الجواز لأن الجميع في مسجد واحد. والله أعلم.

المجموع للنووي (ج 7 / ص 361)
المصدر السابق (ج 8 / ص 38-39).

Wallahu a’lamu bisshowab..