Arsip Kategori: Shalat

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Shalat.

S064. HUKUM MENGERASKAN SUARA KETIKA BERDZIKIR SETELAH SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum Ustadz..

Apakah dzikir dengan suara keras bagi imam bersama makmum sesudah sholat itu ada dalilnya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalil mengeraskan dzikir bagi imam bersama makmum setelah salat berdasarkan riwayat Ibnu Abbas berikut ini:

اِنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ (رواه البخاري)

Sesungguhnya mengeraskan (bacaan) dzikir bagi imam bersama makmum setelah para sahabat selesai melakukan salat wajib sudah ada sejak masa Nabi Muhammad Saw.” Ibnu Abbas berkata: “Saya mengetahui yang demikian setelah mereka melakukan salat wajib dan saya mendengarnya” HR Bukhari No 796, Muslim No 919, Ahmad No 3298, dan Ibnu Khuzaimah No 1613. Riwayat Ibnu Abbas ini juga diperkuat oleh sahabat Abdullah bin Zubair, ia berkata: “Rasulullah Saw mengeraskan (yuhallilu) kalimat-kalimat dzikirnya setiap selesai salat” (Sahih Muslim No 1372, Ahmad No 16150 dan al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra No 3135)

Dari hadis ini Imam Nawawi berkata:

هَذَا دَلِيْلٌ لِمَا قَالَهُ بَعْضُ السَّلَفِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالتَّكْبِيْرِ وَالذِّكْرِ عَقِبَ الْمَكْتُوْبَةِ (شرح النووي على مسلم 2 / 360)

Riwayat ini adalah dalil sebagian ulama salaf mengenai disunahkannya mengeraskan suara bacaan takbir dan dzikir bagi imam bersama makmum setelah salat wajib ” (Syarah Sahih Muslim II/260). Al-Mubarakfuri berkata: “Anjuran mengeraskan suara dengan takbir dan dzikir bagi imam bersama makmum setelah setiap salat wajib adalah pendapat yang unggul (rajih) menurut saya, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas diatas” (Syarah Misykat al-Mashabih III/315)

Wallahu a’lamu bisshowab..

S063. IMAM DAN MAKMUM TERHALANG KACA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya sholat di luar masjid dengan ada nya satir tapi dengan kaca bening

JAWABAN :

Waalaikumussalaam Warohmatullahi Wabarokaatuh.

Orang shalat di luar masjid dengan adanya satir (tirai, penutup) dengan kaca bening itu ditafshil:

(1). Sah, jika satir yang berupa kaca bening tersebut tidak mencegah kepada makmum untuk melewati menuju imam. Misalnya masih ada pintu menuju imam (baik pintu itu dibuka ataupun ditutup, asalkan pintu itu tidak dikunci). Dan dengan syarat makmum itu mengetahui terhadap berpindah-pindahnya imam dari satu rukun shalat menuju rukun shalat lainnya (mengetahui) dengan melihat kepada imam melalui kaca yang bening itu, atau (mengetahui terhadap berpindah-pindahnya imam dari satu rukun shalat menuju rukun shalat lainnya) melalui mendengar suara muballigh.

(2). Tidak sah, jika satir yang berupa kaca bening tersebut mencegah kepada makmum untuk melewati menuju imam. Misalnya ada pintu yang dikunci (yang mana pintu itu menuju imam). Walaupun makmum itu mengetahui terhadap berpindah-pindahnya imam dari satu rukunnya shalat kepada rukun shalat lainnya (mengetahui) melalui kaca yang bening.

 (التقريرات السديدۃ في المسائل المفيدۃ,في قسم العبادات,صحيفۃ ٢٩٥)

شروط صحۃ الجماعۃ :
الثاني:ان يعلم الماموم انتقالات الامام برؤيۃ او سماع مبلغ.

 (التقريرات السديدۃ في المسائل المفيدۃ,في قسم العبادات,صحيفۃ ٢٩٩)

مسائل من شروط الجماعۃ :
١-الباب المغلق في المسجد لا يضر, وامٌَا الۡمُسَمٌَرُ فَيَضُرٌُ.

٢-اذا كان بينهما حائل يمنع المرور-كزجاج في المسجد-فيضر وان علم المأموم انتقالات امامه

Wallahu a’lamu bisshowab..

S062. HUKUM MENGUNCI PINTU MASJID DI LUAR WAKTU SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Dekkripsi masalah:
Di negara Indonesia terdapat para wali yang terkenal dengan nama wali sogo, sehingga tidak sedikit masyarakat muslim yang berantosias untuk berkunjung kepasarean/maqbarah mereka.
Setudi kasus ada serombongan musafir majlis ta’lim ingin berkunjung kemaqbarah para wali songo yang namanya musafir ketika berangkat serombongan tentu butuh istirahat ternyata setelah sampai ditengah perjalanan mereka ingin beristirahat dimasjid namun ketika sampai dimasjid ternyata pintu masjidnya ditutup padahal sebagaimana dimaklumi masjid itu dibangun untuk tempat ibadah entah dibukanya apa setiap adzan untuk shalat lima waktu atau setiap shalat jum’at.

Pertanyaannya:
Bagaimana pandangan hukum agama tentang menutup pintu masjid di luar shalat lima waktu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Mengunci masjid di luar waktu shalat atau membuat larangan tidur dalam masjid untuk menjaga kebersihan dan keamanan masjid hukumnya boleh.

Menurut imam Ashshoimari dan selain imam Ashshoimari dari madhab syafii, “tidak apa apa mengunci pintunya masjid pada waktu selain waktunya sholat, dengan syarat jika tujuannya ialah kerena menjaga masjid, atau karena menjaga alat-alatnya masjid. Dan diperbolehkannya mengunci pintunya masjid dengan syarat jika dikhawatirkan penghinaan terhadap masjid, dan jika dikhawatirkan hilangnya benda-benda yang ada di masjid, dan tidak ada keperluan yang mendorong untuk membuka pintunya masjid.

Adapun jika tidak dikhawatirkan kerusakan di dalam membuka pintunya masjid, dan jika tidak dikhawatirkan melanggar kehormatan (kemulyaan) masjid, dan jika didalam membuka pintunya masjid itu terdapat suatu perbuatan yaitu memberi manfaat/menolong/ramah kepada orang orang, maka disunnatkan membuka pintunya masjid, sebagaimana tidak dikuncinya pintu masjidnya Rosululloh SAW pada zamannya Rosululloh SAW dan pada zaman sesudah Rosululloh SAW.”

Referensi :

(المجموع علی شرح المهذب,جز ٢,صحيفۃ ١٧٨)
(الثانيۃ والعشرون)قال الصيمري وغيره من اصحابنا:لا باءس باءغلاق المسجد في غير وقت الصلاۃ لصيانته او لحفظ الاته,هكذا قالوه,وهذا اذا خيف امتهانها وضياع ما فيها ولم يدع الی فتحها حاجۃ,فاءما اذا لم يخف من فتحها مفسدۃ ولا انتهاك حرمتها وكان في فتحها رفق بالناس فالسنۃ فتحها كما لم يغلق مسجد رسول الله صلی ﷲ عليه وسلم في زمنه ولا بعده

Menurut Badruddin az-Zarkasy, dalam sebagian kitab madzhab hanafi terdapat keterangan yang memakruhkan penguncian pintu masjid dengan dasarkan kepada firman Allah ta’ala:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya?”(Q.S. Al-Baqarah[2]: 114)

لَا بَأْسَ بِإِغْلَاقِ الْمَسْجِدِ فِى غَيْرِ وَقْتِ الصَّلَاةِ صِيَانَةً وَحِفْظًا لِمَا فِيهِ خِلَافًا لِأَبِي حَنِيفَةَ فَإِنَّهُ مَنَعَ مِنْ غَلْقِهَا بِحَالٍ. قَالَهُ الصَّيْمِرِي فِى شَرْحِ الْكِفَايَةِ وَنَقَلَهُ فِى الرَّوْضَةِ عَنْهُ وَأَقَرَّهُ وَجَزَمَ بِهِ قَبْلَ بَابِ السَّجَدَاتِ، وَفِى بَعْضِ كُتُبِ الْحَنَفِيَّةِ يُكْرَهُ غَلْقُ بَابِ الْمَسْجِدِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا.

Tidak apa-apa menutup (mengunci pintu) masjid untuk menjaga barang-barang yang tedapat di dalam masjid, berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah yang melarang untuk menutup masjid. Hal ini sebagaimana dikemukakan Ash-Shaimiri dalam Syarah al-Kifayah. Sedangkan Muhyiddin Syaraf An-Nawawi menukil darinya dalam kitab Raudlatut Thalibin dan menetapkan pendapat tersebut sebelum bab sujud. Dalam sebagian kitab-kitab madzhab hanafi terdapat pendapat yang menyatakan makruh menutup pintu masjid karena firman Allah Ta’ala: ‘Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya?’ (QS Al-Baqarah[2]: 114),” (Lihat Badruddin az-Zarkasyi, I’lamus Sajid bi Ahkam al-Masjid, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1416 H/1995 M, h. 239).

Dalam pemahaman kami, maksud dari hukum makruh dalam konteks ini adalah makruh tahrim. Penalaran yang digunakan untuk menyimpulkan hukum tersebut adalah bahwa penguncian pintu masjid identik dengan pelarangan atau pencegahan shalat, sedang pelarang ini jelas diharamkan karena firman Allah di atas. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kitab al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah.

وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يُكْرَهُ تَحْرِيمًا إِغْلاَقُ بَابِ الْمَسْجِدِ لِأَنَّهُ يُشْبِهُ الْمَنْعَ مِنَ الصَّلاَةِ وَالْمَنْعُ مِنَ الصَّلاَةِ حَرَامٌ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا

Madzhab hanafi berpendapat bahwa mengunci pintu masjid hukumnya adalah makruh tahrim sebab identik dengan menghalangi shalat. Sedangkan menghalangi shalat adalah diharamkan karena firman Allah ta’ala: ‘Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya?’ (QS Al-Baqarah[2]: 114),” (Lihat al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Mesir, Darus Shafwah, juz XXXVII, halaman 288).

Namun, pandangan kelompok hanafi yang cendrung tidak memperbolehkan menutup atau mengunci pintu masjid dengan alasan yang dikemukakan di atas oleh Badruddin az-Zarkasyi sedikit dipersoalkan. Menurutnya, pendapat yang menyatakan ketidakbolehan untuk mengunci pintu masjid itu harus diletakkan dalam situasinya. Zaman dulu pendapat ini relevan, namun pada saat ini di mana banyak sekali terjadi kriminalitias berbeda. Karenanya mengunci pintu masjid diperbolehkan misalnya untuk menjaga barang-barang milik masjid.

وَخُولِفَ فِى ذَلِكَ فَقِيلَ كَانَ هَذَا فى زَمَانِ السَّلَفِ فَأَمَّا زَمَنُنَا وَقَدْ كَثُرَتِ الْجِنَايَاتِ فَلَا بَأْسَ بِإِغْلَاقِهِ اِحْتِيَاطًا عَلَى مَتَاعِ الْمَسْجِدِ

“(Tetapi) pandangan yang memakrukan penutupan pintu masjid disangkal. Maka dikatakan, bahwa hal ini berlaku pada masa lampau. Adapun zaman sekarang di mana banyak sekali tindakan kriminal maka tidak apa-apa mengunci pintu masjid untuk menjaga barang-barang masjid dan menjaga masjid dari jalan rumah sekitarnya…,” (Lihat Badruddin az-Zarkasyi, I’lamus Sajid bi Ahkamil Masjid, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1416 H/1995 M, halaman 239).

Berangkat dari pemaparan di atas, setidaknya ada dua pandangan mengenai hukum menutup pintu masjid. Ada yang mengatakan boleh dan ada yang mengatakan tidak. Hemat kami, kedua pandangan ini tidak perlu dipertentangkan. Keduanya bisa kita ambil sesuai dengan kondisi dan situasi di mana masjid itu berada.

Jika memang daerah sekitar masjid rawan kriminalitas seperti pencurian, pandangan yang memperbolehkan untuk mengunci pintu masjid selain waktu shalat bisa kita pakai. Tetapi jika lingkungan sekitar masjid aman dan kecil kemungkinan adanya kriminalitas, pendapat yang menyatakan tidak boleh mengunci masjid di luar waktu shalat bisa kita rujuk.

Wallahu a’lamu bisshowab..

S062. HUKUM BERJAMAAH DALAM SHALAT DHUHA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Bagaimana hukumnya sholat Dhuha berjamaah? karena hal tersebut banyak dilakukan di sekolah-sekolah pagi sebagai bentuk pembiasaan terhadap murid²nya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Sholat dhuha lebih baik dikerjakan sendirian, namun boleh dikerjakan secara berjama’ah apalagi jika bertujuan mengajarkan tata caranya atau memberikan semangat, asalalkan tidak menimbulkan keharaman. Wallahu a’lam.

Referensi :

1. Al-Majmu’, juz 4 hal. 55

وأما باقي النوافل كالسنن الراتبة مع الفرائض والضحى والنوافل المطلقة فلا تشرع فيها الجماعة أي لا تستحب لكن لو صلاها جماعة جاز ولا يقال إنه مكروه وقد نص الشافعي رحمه الله في مختصري البويطي والربيع على أنه لا بأس بالجماعة في النافلة ودليل جوازها جماعة أحاديث كثيرة في الصحيح

2. Shahih Muslim, juz 1 hal. 497

وحدثنا محمد بن المثنى، وابن بشار، قالا: حدثنا محمد بن جعفر، حدثنا شعبة، عن عمرو بن مرة، عن عبد الرحمن بن أبي ليلى، قال: ما أخبرني أحد أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم يصلي الضحى إلا أم هانئ، فإنها حدثت «أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل بيتها يوم فتح مكة، فصلى ثماني ركعات، ما رأيته صلى صلاة قط أخف منها، غير أنه كان يتم الركوع والسجود» . ولم يذكر ابن بشار في حديثه قوله قط

3. I’anatut Tholibin, juz 1 hal. 284

وصلاة النفل قسمان: قسم لا تسن له جماعة

قوله: قسم لا تسن له جماعة) أي دائما وأبدا بأن لم تسن له أصلا، أو تسن في بعض الأوقات كالوتر في رمضان. قال في النهاية: ولو صلى جماعة لم يكره. اه. ونقل ع ش عن سم أنه يثاب عليها. وقال ح ل: لا يثاب عليها. قال البجيرمي: واعتمد شيخنا ح ف كلام ح ل. اه

4. Nihayatuz Zain, hal. 99

وأفراد النوافل لا تنحصر أما المؤقت فهو قسمان قسم تسن فيه الجماعة وسيأتي

وقسم لا تسن فيه الجماعة فهي فيه خلاف الأولى وإن حصل ثوابها على المعتمد كما نقله الونائي عن ابن قاسم

5. Bughyatul Mustarsyidin, hal. 136

مسألة : ب ك : تباح الجماعة في نحو الوتر والتسبيح فلا كراهة في ذلك ولا ثواب ، نعم إن قصد تعليم المصلين وتحريضهم كان له ثواب ، وأي ثواب بالنية الحسنة ، فكما يباح الجهر في موضع الإسرار الذي هو مكروه للتعليم فأولى ما أصله الإباحة ، وكما يثاب في المباحات إذا قصد بها القربة كالتقوّي بالأكل على الطاعة ، هذا إذا لم يقترن بذلك محذور ، كنحو إيذاء أو اعتقاد العامة مشروعية الجماعة وإلا فلا ثواب بل يحرم ويمنع منها

6. Syarah Shahih Muslim li an-Nawawi, juz 5 hal. 162

حدثنا يحيى بن يحيى، قال: قرأت على مالك، عن إسحاق بن عبد الله بن أبي طلحة، عن أنس بن مالك، أن جدته مليكة، دعت رسول الله صلى الله عليه وسلم لطعام صنعته، فأكل منه، ثم قال: «قوموا فأصلي لكم» ، قال أنس بن مالك فقمت إلى حصير لنا قد اسود من طول ما لبس، فنضحته بماء، فقام عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم وصففت أنا، واليتيم وراءه، والعجوز من ورائنا، فصلى لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ركعتين، ثم انصرف

قوله صلى الله عليه وسلم قوموا فلأصلي لكم فيه جواز النافلة جماعة وتبريك الرجل الصالح والعالم أهل المنزل بصلاته في منزلهم فقال بعضهم ولعل النبي صلى الله عليه وسلم أراد تعليمهم أفعال الصلاة مشاهدة مع تبريكهم فإن المرأة قلما تشاهد أفعاله صلى الله عليه وسلم في المسجد فأراد أن تشاهدها وتتعلمها وتعلمها غيرها

Wallahu a’lamu bisshowab..

S061. HUKUM BERMAKMUM KEPADA ORANG YANG SHALAT LIHURMATIL WAKTI

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi Masalah:
Suatu saat terdapat seseorang sholat lihurmat wakti karena pada waktu itu ia tidak bisa memakai air dari sangat dinginnya. Kemudian disaat sholat ada seseorang yg berma’mum kepadanya.

Pertanyaannya:
Bagaimana hukum sholatnya makmum tersebut?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Tidak boleh Berjamaah/bermakmum kepada orang yang melakukan shalat lihurmatil wakti (karen tidak adanya suci dari dua hadas). Dan juga karena tidak memenuhi syaratnya الإقتداء
(bermakmum).

Selain itu shalat jamaah/bermakmum adalah merupakan ikatan shalat yang sempurna. Maka suatu keharusan dalam shalat berjamaah minimal adanya imam dan makmun kecuali shalat ‘id dan shalat jum’at, hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw,: “Dua orang ataupun lebih maka itu adalah berjamaah”. Ini pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, beserta Abbas ra. Jamaah (dua orang) baik salah satunya adalah laki-laki atau perempuan atau anak2 yang berakal. Karena itu Rasulullah Saw, menyebutnya berjamaah atas mereka berdua.

Adapun orang yang gila dan anak kecil yang tidak berakal maka tidak termasuk dalam kategori ahli jamaah. Oleh karenanya dalam shalat berjamaah ada syarat- tertentu sebagaimana dalam ibarah berikut:

Referensi :

موسوعة الفقهية ص: ٣٣١١/٣١٩٤٩
الاِقْتِدَاءُ فِي الصَّلاَةِ
٧- الاِقْتِدَاءُ فِي الصَّلاَةِ هُوَ: رَبْطُ صَلاَةِ الْمُؤْتَمِّ بِصَلاَةِ الإِْمَامِ كَمَا سَبَقَ، فَلاَ بُدَّ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ إِمَامٌ وَمُقْتَدٍ، وَلَوْ وَاحِدًا. وَأَقَل مَنْ تَنْعَقِدُ بِهِ الْجَمَاعَةُ – فِي غَيْرِ الْعِيدَيْنِ وَالْجُمُعَةِ – اثْنَانِ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ مَعَ الإِْمَامِ وَاحِدٌ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الاِثْنَانِ فَمَا فَوْقَهُمَا جَمَاعَةٌ (١) وَلِفِعْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ حِينَ صَلَّى بِابْنِ عَبَّاسٍ وَحْدَهُ. (٢)
وَسَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ الْوَاحِدُ رَجُلاً أَوِ امْرَأَةً أَوْ صَبِيًّا يَعْقِل، لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمَّى الاِثْنَيْنِ مُطْلَقًا جَمَاعَةً.
وَأَمَّا الْمَجْنُونُ وَالصَّبِيُّ الَّذِي لاَ يَعْقِل فَلاَ عِبْرَةَ بِهِمَا، لأَِنَّهُمَا لَيْسَا مِنْ أَهْل الصَّلاَةِ. (٣)
هَذَا، وَهُنَاكَ شُرُوطٌ لاَ بُدَّ مِنْ تَوَفُّرِهَا فِي الاِقْتِدَاءِ وَالْمُقْتَدَى بِهِ (الإِْمَامِ) ، وَحَالاَتٌ تَخُصُّ الْمُقْتَدِيَ أَيْ (الْمَأْمُومَ) نَذْكُرُهَا فِيمَا يَلِي:

شُرُوطُ الْمُقْتَدَى بِهِ (الإِْمَامِ) :
٨ – يُشْتَرَطُ فِي الإِْمَامِ فِي الْجُمْلَةِ: الإِْسْلاَمُ وَالْعَقْل اتِّفَاقًا، وَالْبُلُوغُ عِنْدَ الْجُمْهُورِ، وَكَذَلِكَ الذُّكُورَةُ إِذَا كَانَ الْمُقْتَدُونَ ذُكُورًا، وَالسَّلاَمَةُ مِنَ الأَْعْذَارِ – كَرُعَافٍ وَسَلَسِ الْبَوْل – إِذَا اقْتَدَى بِهِ أَصِحَّاءُ، وَالسَّلاَمَةُ مِنْ عَاهَاتِ اللِّسَانِ – كَفَأْفَأَةٍ وَتَمْتَمَةٍ – إِذَا اقْتَدَى بِهِ السَّلِيمُ مِنْهُمَا، وَكَذَا السَّلاَمَةُ مِنْ فَقْدِ شَرْطٍ،كَطهَارةٍ ، وَسِتْرِ الْعَوْرَةِ….الخ

(١) حديث: ” الاثنان فما فوقهما جماعة. . . ” أخرجه ابن ماجه (١ / ٣١٢ – ط الحلبي) وقال الحافظ البوصيري في الزوائد: الربيع وولده ضعيفان.
(٢) حديث: ” صلى النبي صلى الله عليه وسلم بابن عباس وحده. . . “. أخرجه البخاري (٢ / ١٩٠- الفتح – ط السلفية) .
(٣) البدائع ١ / ١٥٦ والقليوبي ١ / ٢٢٠، وكشاف القناع ١ / ٤٥٣ وجواهر الإكليل ١ / ٧٦

والله أعلم بالصواب

S060. HUKUM BERSALAMAN SETELAH SHALAT

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Langsung saja saya mau nanya;

Sering sekali saya melihat ketika selesai shalat orang-orang bersalaman.

Pertanyaannya:
Bagaimana hukumnya bersalaman setelah shalat?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukumnya mubah.

Memang benar, dalam kitab-kitab fikih Syaifiiyah tidak ada kesunahan tersebut. Namun, apa yang telah banyak dilakukan oleh umat Islam tersebut berdasarkan sebuah hadis:

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ إِذَا صَلَّى وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ مَسَحَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى رَأْسِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللهِ الِّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ وَفِي رِوَايَةٍ: مَسَحَ جَبْهَتَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى وَقَالَ فِيْهَا “اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ” (رواه الطبراني في الأوسط والبزار بنحوه بأسانيد وفيه زيد العمى وقد وثقه غير واحد وضعفه الجمهور وبقية رجال أحد إسنادي الطبراني ثقات وفي بعضهم خلاف مجمع الزوائد 10/ 145)

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw jika selesai dari salatnya, beliau mengusap kepalanya (dalam riwayat lain keningnya/jabhat) dengan tangan kanannya dan berdoa ‘Bismillahi alladzi Laa ilaaha illaa huwa ar-Rahmaanu ar-Rahiimu. Allahumma adzhib ‘anni al-hamma wa al-hazana (Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ya Allah hilangkan dari saya kesedihan dan kesusahan)”

Al-Hafidz al-Haitsami berkata: HR ath-Thabrani dalam al-Ausath dan al-Bazzar. Sebagian perawinya dinilai terpercaya dan dlaif, perawi lainnya terpercaya. Seandainya pun hadis ini dlaif, maka sesuai kesepakatan ulama ahli hadis bahwa hadis dlaif boleh diamalkan dalam keutamaan amal.

Sedangkan bersalaman setelah salat berdasarkan hadis:

وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ g بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ … وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ ، فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ، فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِى، فَإِذَا هِىَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ (رواه أحمد والبخاري)

“Diriwayatkan dari Abu Juhaifah bahwa Rasulullah Saw keluar dari pada siang hari yang sangat panas menuju Bathha’, kemudian berwudlu’, salat Dzuhur 2 rakaat dan Ashar 2 rakaat dan dihadapan beliau ada tongkat (sebagai sutrah/pembatas). Kemudian Rasulullah Saw berdiri, dan orang-orang memegang tangan beliau (bersalaman) dan meletakkan tangan beliau ke wajah mereka. Saya (Abu Juhaifah) juga melakukannya. Ternyata tangan beliau lebih sejuk daripada salju dan lebih harum daripada minyak misik” (HR al-Bukhari No 3289 dan Ahmad No 18789. Dalam riwayat lain para sahabat bersalaman dengan Rasulullah Saw setelah salat Subuh, HR Ahmad No 17513 dari Yazid bin Aswad)

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengutip pendapat para ulama:

قَالَ النَّوَوِيّ: وَأَمَّا تَخْصِيصُ الْمُصَافَحَةِ بِمَا بَعْد صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ فَقَدْ مَثَّلَ اِبْنُ عَبْدِ السَّلَامِ فِي “الْقَوَاعِدِ” الْبِدْعَةَ الْمُبَاحَةَ مِنْهَا. قَالَ النَّوَوِيّ: وَأَصْلُ الْمُصَافَحَة سُنَّةٌ، وَكَوْنُهمْ حَافَظُوا عَلَيْهَا فِي بَعْضِ الْأَحْوَال لَا يُخْرِجُ ذَلِكَ عَنْ أَصْلِ السُّنَّةِ (فتح الباري لابن حجر – ج 17 / ص 498)

“An-Nawawi berkata: Penentuan bersalaman setelah salat Subuh dan Ashar digolongkan oleh Ibnu Abdissalam seabagai bid’ah yang diperbolehkan. An-Nawawi berkata: Pada dasarnya bersalaman adalah sunah. Mereka melakukan salaman pada waktu-waktu tertentu

tidaklah sampai menyimpang dari sunah” (Fath al-Baari 17/498)

PENDAPAT PARA ULAMA :

1. Imam al-Thahawi.

تُطْلَبُ اْلمُصَافحَة فَهِيَ سُنَّة عَقِبَ الصَّلاةِ كُلّهَا وَعِندَ كلِّ لَقِيٍّ

Artinya: Bahwa bersalaman setelah shalat adalah sunah dan begitu juga setiap berjumpa dengan sesama Muslim.

2. Imam Izzuddin bin Abdissalam

Beliau berkata :

اَنَّهَا مِنَ اْلبِدَعِ المُبَاحَةِ

Artinya : (Mushafahah setelah shalat) adalah masuk dalam kategori bid’ah yang diperbolehkan.

3. Syeikh Abdul Ghani an-Nabilisi

Beliau berkata :

انَّهَا دَاخِلَة تحْت عُمُوْمِ سُنّةِ اْلمُصَافحَةِ مُطْلقا

Artinya : Mushafahah setelah shalat masuk dalam keumuman hadits tentang mushafahah secara mutlak.

4. Imam Muhyidin an-Nawawi

Beliau berkata :

اَنَّ اْلمُصَا فحَة بَعْدَ الصَّلاة وَدُعَاء المُسْلِمِ لآخِيْهِ اْلمُسْلِمِ بِأنْ يَّتقبَلَ الله مِنهُ صَلاتهُ بِقوْلِهِ (تقبَّلَ الله) لاَ يَخفى مَا فِيْهِمَا مِنْ خَيْرٍ كَبِيْرٍ وَزِيَادَةِ تَعَارُفٍ وَتألُفٍ وَسَبَب لِرِبَطِ القلوْبِ وَاِظهَار للْوَحْدَةِ وَالترَابُطِ بَيْنَ اْلمُسْلِمِينْ.

Artinya : Sesungguhnya mushafahah setelah shalat dan mendo’akan saudara muslim supaya shalatnya diterima oleh Allah, dengan ungkapan (semoga Allah menerima shalat anda), adalah di dalamnya terdapat kebaikan yang besar dan menambah kedekatan (antar sesama) dan menjadi sabab eratnya hati dan menampakkan kesatuan antar sesama umat Islam.]

(Disarikan dari buku Tradisi Amaliah NU dan Dalil-Dalilnya, LTM-PBNU)

والله أعلم بالصواب

S059. HUKUM SHOLAT MEMAKAI BARANG GHASAB (BARANG CURIAN)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah:
Termasuk dari rukun iman yang ke enam adalah percaya pada qodlo’ dan qodar Allah (baik dan buruknya ketentuan itu adalah dari Allah).Ada salah seorang yang nakal kadang kala ia mencuri, dari hasil curiannya sebagian ia belikan baju dan sarung, pada suatu saat dengan hidayah Allah ia sadar lalu ia tobat dan melakukan shalat namun pakaian dan sarung yang ia pakai masih hasil dari uang haram/curian.

Pertanyaannya :

1-Shahkah shalat seseorang dengan pakaian atau sarung dengan hasil uang haram/curian atupun ghasab.?

2-Apakah shalatnya diterima sementara pakaian/sarung yang ia pakai masih diperoleh dari uang haram(curian)..?
Mohon jawaban..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1. Menurut pendapat ulama Hanafi, shalat dengan menggunakan pakaian yang haram (hasil curian,korupsi) itu tetap sah, tetapi menggunakan pakaian itu dihukumi makruh tahrim. Sebab, menggunakan pakaian yang tidak boleh dipakai sama halnya memakai sutra bagi laki-laki, dan orang tersebut juga berdosa seperti hukum shalat di atas tanah ghashab (rampasan) tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syara’.

Sedangkan menurut pendapat ulama Hambali, tidak sah shalat dengan menggunakan benda yang haram, seperti memakai pakaian yang dibuat dari sutra, atau shalat di atas tanah ghashab sekalipun yang di-ghashab hanya faedahnya atau sebagian darinya saja. Atau, shalat menggunakan pakaian yang dibeli dengan uang haram, ataupun shalat dengan menggunakan cincin emas. Ini semua jika ia mengetahui tentang keharaman memakai pakaian itu dan tidak dalam keadaan lupa. Pendapat ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh imam Amad dari Ibnu Umar, “Siapa yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham, sedangkan satu dirham darinya adalah uang haram, niscaya Allah ta’ala tidak menerima shalatnya selama pakain itu dipakainya.” Kemudian Ibnu Umar memasukkan dua jarinya ke dalam dua lubang telinganya dan berkata, “ Tulilah kedua telinga ini jika Nabi Muhammad tidak berkata yang demikian.”

Juga, berdasarkan hadits riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan yang tidak kami perintahkan, maka ia ditolak.”

Jika seorang tidak mengetahui atau lupa bahwa pakaian yang ia pakai adalah terbuat dari sutra atau hasil ghashab, atau dikurung di tempat hasil ghashab atau tempat bernajis, maka shalat dalam keadaan tersebut dianggap sah, karena itu tidak termasuk berdosa.[1]

[1] Fiqh al Islami wa Adillatuhu (1/635 ), Al Mughni (1/587).

(الفقه الاءسلامي وادلته,جز ١,صحيفۃ ٣٩٥)
,الصلاۃ في الاءرض المغصوبۃ حرام بالاءجماع,لاءن اللبث فيها يحرم في غير الصلاۃ,فلاءن يحرم في الصلاۃ اولی,وهل تصح الصلاۃ في المكان المغصوب؟
قال الجمهور غير الحنابلۃ:الصلاۃ صحيحۃ,لاءن النهي لايعود الی الصلاۃ,فلم يمنع صحتها,كما لو صلی وهو يری غريقا يمكنه انقاذه,فلم ينقذه,او حريقا يقدر علی اطفاءه فلم يطفءه,او مطل غريمه الذي يمكن ايفاءه وصلی,ويسقط بها الفرض مع الاءثم,ويحصل بها الثواب,فيكون مثابا علی فعله,عاصيا بمقامه,واثمه اذن للمكث في مكان مغصوب.
وقال الحنابلۃ في الاءرجح عندهم:لا تصح الصلاۃ في الموضع المغصوب,ولو كان جزءا مشاعا,او في ادعاءه الملكيۃ,او في المنفعۃ المغصوبۃ من ارض او حيوان او بادعاء اجارتها ظالما,او وضع يده عليها بدون حق.لاءنها عبادۃ اتي بها علی الوجه المنهي عنه,فلم تصح,كصلاۃ الحاءض وصومها,وذلك لاءن النهي يقتضي تحريم الفعل واجتنابه والتاءثيم بغعله,فكيف يكون مطيعا بما هو عاص به,ممتثلا بما هو محرم عليه,متقربا بما يبعد به؟فاءن حركاته ۃسكناته من القيام والركوع والسجود افعال اختيایيۃ,هو عاص بها منهي عنها.ويختلف الاءمر عن انقاذ الغربق واطفاء الحريق,لاءن افعال الصلاۃ في نفسها منهي عنها.

2. Shalat menggunakan pakaian hasil ghosob sah namun tidak diterima karena Allah tidak menerima amal kecuali yang thoyyib , namun walaupun begitu secara aqliy Allah berhak menerima dan memberi pahala sebagai fadlol/anugerah kepada hambanya.

Syarah arba’in NAwawi Ibnu Daqiq al-‘Id :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الله تعالى طيب 1 لا يقبل إلا طيباً، وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين، فقال تعالى: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ} . فقال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} . ثم ذكر: “الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء: يا رب يا رب ومطعمه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب له” رواه مسلم.
وهذا الحديث أحد الأحاديث التي عليها قواعد الإسلام ومباني الأحكام، وفيه الحث على الإنفاق من الحلال والنهى عن الإنفاق من غيره وأن المأكول والمشروب والملبوس ونحوها ينبغي أن يكون حلالاً خالصاً لا شبهة فيه وأن من أراد الدعاء كان أولى بالاعتناء بذلك من غيره، وفيه أن العبد إذا أنفق نفقة طيبة فهي التي تزكو وتنمو وأن الطعام اللذيذ غير المباح يكون وبالاً على آكله ولا يقبل الله عمله. 1 قيل: “الطيب” في صفات الله بمعنى المنزه عن النقائص.

وقوله: ثم ذكر “الرجل يطيل السفر أشعث أغبر” إلى آخره: معناه – والله أعلم – يطيل السفر في وجوه الطاعات: الحج وجهاد وغير ذلك من وجوه البر ومع هذا فلا يستجاب له لكون مطعمه ومشربه وملبسه حراماً فكيف هو بمن هو منهمك في الدنيا أو في مظالم العباد أو من الغافلين عن أنواع العبادات والخير.وقوله: “يمد يديه” أي يرفعهما بالدعاء لله مع مخالفته وعصيانه، قوله: “وغُذي بالحرام” هو بضم الغين المعجمة وتخفيف الذال المكسورة. وقوله: “فأنى يستجاب له؟ ” وفي رواية: “فأنى يستجاب لذلك؟ ” يعني من أين يستجاب لمن هذه صفته، فإنه ليس أهلاً للإجابة، لكن يجوز أن يستجيب الله تعالى له تفضلا ولطفاً وكرماً والله أعلم.

Dalam ibarah yang lain dijelaskan bahwa melalsanakan dengan pakaian yang haram(ghasab) huknya sah namun tidak mendapatkan pahala.

Referensi:

إعانة الطالبين الجزء الأول.ص ٢٢٧
وفى الأرض المغصوبة بل تصح الصلاة بلاثواب،كمافى ثوب مغصوب.

“Dan shalat ditanah ghasaban shalatnya sah dengan tidak berpahala, seperti halanya shalat dengan pakaian hasil curian(ghasab).
Selanjudnya,shalatnya orang dengan memakai pakaian hasil curian atau barang haram maka tidak diterima.

Refensi:

إسعاد الرفيق الجزء الأول ص ٨٧
قال صلى الله عليه وسلم ” من اشترى ثوبا بعشرة دراهم فيه درهم حرام لم يقبل الله منه صلاة مادام عليه.

“Rasulullah saw.bersabda:” Barang siapa mbeli baju seharga sepuluh dirham, satu dirham diantaranya adalah uang haram,maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama ia memakai pakaian tersebut.

Shalat dengan pakaian ghasab hukumnya harom, dan shalatnya tetap sah tapi tidak berpahala. :

وتحرم الصلاة لقبر نبي أو نحو ولي تبركا أو إعظاما_وفي أرض مغصوبة وتصح بلا ثواب كما في ثوب مغصوب أى فإنها تحرم فيه مع صحتها بلا ثواب. إعانة الطالبين ١/١٩٥

النهي إن عاد إلى الذات أو شرط الصحة دل على الفساد وإن عاد إلى أمر خارج فلا أن يكون النهي عائدًا إلى أمر خارج عن الذات والشرط فإنه لا يدل على فساد المنهي عنه وإنما يدل على نقصان الأجر لكن الفعل صحيح

Larangan, apabila menyangkut obyek/dzat kasus atau syarat sahnya maka berkonsekwensi pada keTIDAK SAHannya. apabila larangan menyangkut hal di luar itu maka tidak mengganggu keabsahannya, hanya saja mengurangi nilai pahala. [ talqihul ifham al’aliyyah 1/37 ].

Masalah haramnya shalat memakai barang ghoshob ulama’ sepakat. Dan sah atau tidak sholatnya ulama’ khilaf. Dan al jumhur menyataKan sah.

المجموع شرح المهذب juz 3/169 :
( الشرح ) الصلاة في الأرض المغصوبة حرام بالإجماع ، وصحيحة عندنا وعند الجمهور من الفقهاء وأصحاب الأصول . وقال أحمد بن حنبل والجبائي وغيره من المعتزلة : باطلة ، واستدل عليهم الأصوليون بإجماع من قبلهم . قال الغزالي في المستصفى : هذه المسألة قطعية ليست اجتهادية ، والمصيب فيها واحد ; لأن من صحح الصلاة أخذه من الإجماع وهو قطعي ومن أبطلها أخذه من التضاد الذي بين القربة والمعصية ، ويدعي كون ذلك محالا بالعقل ، فالمسألة قطعية ، ومن صححها يقول هو عاص من وجه متقرب من وجه ، ولا استحالة في ذلك ، إنما الاستحالة في أن يكون متقربا من الوجه الذي هو عاص به وقال القاضي أبو بكر الباقلاني يسقط الفرض عند هذه لا بها ، بدليل الإجماع على سقوط الفرض إذا صلى ، واختلف أصحابنا هل في هذه الصلاة ثواب أم لا ؟ ففي الفتاوى التي نقلها القاضي أبو منصور أحمد بن محمد بن محمد بن عبد الواحد عن عمه أبي نصر بن الصباغ صاحب الشامل رحمه الله قال : ” المحفوظ من كلام أصحابنا بالعراق أن الصلاة في الدار المغصوبة صحيحة يسقط بها الفرض ولا ثواب فيها ” . قال القاضي أبو منصور : ورأيت أصحابنا بخراسان اختلفوا ، منهم من قال : لا تصح صلاته قال : وذكر شيخنا يعني ابن الصباغ في كتابه الكامل : إنا إذا قلنا بصحة الصلاة ينبغي أن يحصل الثواب ، فيكون مثابا على فعله عاصيا بمقامه . قال القاضي وهذا c5هو القياس إذا صححناها.

Wallahu a’lamu bisshowab..

S058. HUKUM MEMUTUS SHOLAT KARENA ADANYA GEMPA (MUSIBAH)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Ada beberapa hal yg berkaitan dgn gempa yg terjadi di lombok dan bali yg membutuhkan solusi hukum. Kejadian trsebut bersamaan dgn waktu orang2 muslim melakukan shalat seperti contoh dalam video ini :

Pertanyaannya :

Bagaimana hukum meninggalkan sholat/ qot’us sholah pada saat gempa tersebut terjadi dgn alasan menyelamatkan nyawa/ mencari aman soalnya ada yg menganggap pelakunya sama dgn gugur dari peperangan ada yg menganggap hal itu wajib hukumnya dgn landasan qoidah درءالمفاسد أولى من جلب المصالح

Mohon jawaban dan referensinya.
Syukron

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh bahkan wajib demi menyelamatkan nyawa dari musibah/ gempa, banjir, kebakaran dll.

Keterangan al-Izz bin Abdus Salam – ulama Syafi’iyah – wafat 660 H.

Dalam kitabnya Qawaid al-Ahkam, beliau menjelaskan,

ﺗَﻘْﺪِﻳﻢُ ﺇﻧْﻘَﺎﺫِ ﺍﻟْﻐَﺮْﻗَﻰ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼُﻮﻣِﻴﻦَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕِ، ﻟِﺄَﻥَّ ﺇﻧْﻘَﺎﺫَ ﺍﻟْﻐَﺮْﻗَﻰ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼُﻮﻣِﻴﻦَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻣِﻦْ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ، ﻭَﺍﻟْﺠَﻤْﻊُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺼْﻠَﺤَﺘَﻴْﻦِ ﻣُﻤْﻜِﻦٌ ﺑِﺄَﻥْ ﻳُﻨْﻘِﺬَ ﺍﻟْﻐَﺮِﻳﻖَ ﺛُﻢَّ ﻳَﻘْﻀِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ

Harus mendahulukan upaya penyelamatan orang yang tenggelam, dari pada pelaksanaan shalat. karena menyelamatkan nyawa orang yang tenggelam, lebih afdhal di sisi Allah dibandingkan melaksanaan shalat. Disamping menggabungkan kedua maslahat ini sangat mungkin, yaitu orang yang tenggelam diselamatkan dulu, kemudian shalatnya diqadha. (Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam , 1/66).

Begitu juga boleh membatalkan sholat orang yang melihat kejadian tersebut untuk menyelamatkan mereka dari marabahaya. Bahkan berdosa jika membiarkannya.

ﻭﻳﺠﺐ ﺇﻧﻘﺎﺫ ﻏﺮﻳﻖ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻛﺤﺮﻳﻖ ﻓﻴﻘﻄﻊ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻟﺬﻟﻚ ﻓﺮﺿﺎً ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻭ ﻧﻔﻼً، ﻭﻇﺎﻫﺮﻩ ﻭﻟﻮ ﺿﺎﻕ ﻭﻗﺘﻬﺎ ﻷﻧﻪ ﻳﻤﻜﻦ ﺗﺪﺍﺭﻛﻬﺎ ﺑﺎﻟﻘﻀﺎﺀ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﻐﺮﻳﻖ ﻭﻧﺤﻮﻩ، ﻓﺈﻥ ﺃﺑﻰ ﻗﻄﻌﻬﺎ ﻹﻧﻘﺎﺫ ﺍﻟﻐﺮﻳﻖ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﺃﺛﻢ ﻭﺻﺤﺖ ﺻﻼﺗﻪ

Wajib menyelamatkan orang tenggelam atau korban kebakaran, sehingga harus membatalkan shalat, baik shalat wajib maupun sunah. Dan yang kami pahami, aturan ini berlaku meskipun waktunya pendek. Karena shalat tetap bisa dilakukan dengan cara qadha, berbeda dengan menolong orang tenggelam atau semacamnya. Jika dia tidak mau membatalkan shalatnya untuk menyelamatkan orang yang tenggelam atau korban lainnya, maka dia berdosa meskpiun shalatnya sah. ( Kasyaf al-Qi’na , 1/380).

Wallahu a’lamu bisshowab..

S057. HUKUM MENTERJEMAH KHUTBAH JUM’AT & UNGKAPAN RKH. ABDUL MAJID BATA-BATA TENTANG TIDAK MENTERJEMAH KHUTBAH KE BAHASA DAERAH (‘AJAMI)

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Diskripsi maslah:
Khutbah jum’at adalah merupakan bagian dari salah satu rukun shalat ju’mat, terkadang ketika kami bepergian sering kali kami shalat di kota dan khatbah diterjemah ada yang diterjemah dengan basaha Indonesia dan ada dengan basa madura.

Pertanyaannya:
1- Bagaiman hukumnya khutbah diterjemah?

2-Apakah Syaratnya khutbah harus difahami sehingga perlu diterjemah?

Mohon tanggapan/ jawabannya. Terimakasih.

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jawaban No.1 :

Dalam madzhab Syafi’i tidak ada khilaf (perbedaan) dalam menterjemahkan khutbah jum’at hukumnya boleh dengan catatan/ asalkan tidak panjang. Karena jika panjang ada salah satu pendapat dapat memutuskan muwalah. Sedangkan pendapat lain memperbolehkan.

Referensi :

البجيرمى الخطيب الجزء الأول ص٣٨٩
{قوله والمراد أركانهما} يفيد أنه لوكان مابين أركانهما بغير العربية لم يضر قال م ر محله مالم يطل الفصل بغير العربية وإلا ضر لإخلاله بالموالاة كالسكوت بين الأركان إذا طال بجامع أن غير العربية لغو لايحسب لأن العربيّ لايجزئ مع القدرة على العربي فهو لغو سم، والقياس عدم الضرر مطلقا ويفرق بينه وبين السكوت بأن فى السكوت إعراضا عن الخطبة بالكلية بخلاف غير العربيّ فإن فيه وعظا فى الجملة فلايخرج بذلك عن كونه من الخطبة ع ش.

(“Ungkapan Syaih Zakariyya al-Anshari.” Dan dimaksud adalah rukun-rukun dua khutbah jum’at.”) memberi pengertian, bila khutbah yang disampaikan selain rukun-rukun dua khutbah jum’at itu dengan selain bahasa Arab maka tidak apa-apa.

Al-Ramli berkata : Penerapan hukum tersebut bila pemisah antara rukun-rukun khutbah dengan selain bahasa Arab tersebut tidak panjang. Apabila panjang maka mempengaruhi keabsahan khutbah, karena merusak muwalah (kesinambungan antara rukun-rukunnya.) Seperti hal nya diam diantara rukun ketika diam itu panjang, yakni dengan titik temu bahwa selain bahasa Arab itu sia-sia yang tidak dianggap. Sebab bahasa selain bahasa Arab itu tidak mencukupi untuk khutbah ketika mampu berbahasa Arab. Maka bahasa selain bahasa Arab lghw (sia-sia). Demikian kata Ibnu Qasim al-Ubbadi. Namun yang sesuai Qiyas adalah tidak apa-apa secara muthlak. Maka antara selain bahasa Arab dan diam dibedakan yakni bahwa diam itu berpaling dari khutbah secara tolal, sedangkan selain bahasa Arab itu dalam sebagian kesempatan mengandung mauidhah (Nashehat). Maka denggan hal itu, selain bahasa Arab tidak keluar dari khutbah Begitu hemat Ali Syibramallisi”.

BERIKUT KAMI CANTUMKAN PENDAPAT RKH. ABDUL MAJID BATA-BATA TENTANG KHUTBAH JUM’AT TIDAK MEMAKAI BAHASA SELAIN BAHASA ARAB :

الحمد لله، وأما الفقير “عبد المجيد” فلم يترجم خطبة الجمعة ولم يفسرها بالعجمية، لأنه في شدة الرجاء بأن يحشر مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ومع ورثته من العلماء الراسخين الصالحين، خصوصا قطب أهل مدوري “شيخ والدي المرحوم الحاج اسماعيل” قاضي القضاة في فمكاسن، وخصوصا قطب أهل جاوي ومدوري “شيخنا وشيخ مشايخنا المرحوم كياهي محمد خليل” بغكالن رحمة الله عليهم، وذلك لحديث البخاري “يحشر الناس مع من أحب”. ومن علامات محبتهم الأقتداء بهم، وهم في الخطبة لم يترجموها ولم يفسروها بالعجمية، لكن يصححون ترجمة سوى الأركان. والتفسير بالعجمية عند الولاء مع الكراهة، لأن من سنن الخطبة كما في كتبهم أن تكون بليغة أي غير مبتذلة ولاركيكة. والعجمية مبتذلة، فالفقير كذلك لم يترجم ولم يفسر بالعجمية الا لضرورة بل يصح ترجمة سوى الأركان. والتفسير بالعجمية مع الكراهة كما أنهم يصححون الصلاة مع كشف الرأس أو مع كشف البدن غير العورة ولكن لم يفعلوها، فالفقير كذلك.

“Segala puji bagi Allah, Adapun “Al-Faqir Abdul-Majid” tidak menterjemah khutbah jum’at dan tidak menafsirkannya ke dalam bahasa daerah (‘Ajami), dikarenakan harapan yang kuat agar supaya dikumpulkan bersama Rasulullah saw, beserta para pewarisnya dari golongan para ulama yang mendalam ilmunya yang saleh. khususnya Penghulu ahli madura, guru ayah saya Almarhum Haji Ismail hakim agung di daerah pamekasan, dan secara khususnya penghulu penduduk jawa dan madura, guru kami, guru para guru kami yaitu Almarhum Kiai Muhammad Kholil Bangkalan” Rahmatullah alaihim. Hal itu dikarenakan ada hadis yang diriwatkan oleh Imam Al-Bukhari: “Manusia akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai”. Dan diantara tanda-tanda mencintai mereka adalah mengikutinya. Mereka tidak menterjemahkan khutbah dan tidak menafsirkannya dengan bahasa daerah (‘Ajami). Namun mereka tetap membenarkan terjemah selain rukun-rukun khutbah dan menafsirkannya dengan bahasa ‘Ajami ketika dilakukan terus menerus tapi makruh. karena diantara sunnah-sunnahnya khutbah sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab mereka, hendaknya menggunakan bahasa yang fasih, artinya tidak klise dan tidak dangkal maknanya, sedangkan bahasa ‘Ajami itu dangkal maknanya. Oleh karenanya al-Faqir seperti itu adanya tidak menterjemahkan dan tidak menafsirkan dengan bahasa ‘Ajami, kecuali karena darurat (terpaksa), bahkan sah menterjermahkan khutbah selain rukun-rukunya (khutbah) dan menafsirkannya dengan bahasa ‘Ajami, namun makruh, sebagaimana mereka menghukumi sah shalat dengan tanpa kopiyah dan tanpa pakaian, kecuali hanya menutup aurat, sekalipun demikian mereka tidak pernah melakukannya. Maka al-Faqir (Abdul Majid) seperti itu juga adanya.

والله أعلم بالصواب

Jawaban No.2 :

Adanya Khutbah tidak harus difahami/ dimengerti. Sebagimana yang telah kita ketahui bersama, adanya anggota jamaah shalat jum’at terkadang atau bahkan kebanyakan tidak mengerti maksud yang disampaikan oleh khatib. Apakah khatbah tersebut masih sah? maka selama masih mendengarkan khutbah meskipun tidak mengerti maksudnya tetap dihukumi sah.

Referensi :

مرقاة صعود التصديق في شرخ سلم التوفيق ص ٣٥
ولو سمعوا الخطبة ولم يفهموا معناها صحت

“Apabila para jamaah shalat jum’ah mendengarkan khutbah, namun tidak mengerti maksudnya maka khotbahnya sah”.

والله أعلم بالصواب