Arsip Kategori: Shalat

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Shalat.

S058. HUKUM MEMUTUS SHOLAT KARENA ADANYA GEMPA (MUSIBAH)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Ada beberapa hal yg berkaitan dgn gempa yg terjadi di lombok dan bali yg membutuhkan solusi hukum. Kejadian trsebut bersamaan dgn waktu orang2 muslim melakukan shalat seperti contoh dalam video ini :

Pertanyaannya :

Bagaimana hukum meninggalkan sholat/ qot’us sholah pada saat gempa tersebut terjadi dgn alasan menyelamatkan nyawa/ mencari aman soalnya ada yg menganggap pelakunya sama dgn gugur dari peperangan ada yg menganggap hal itu wajib hukumnya dgn landasan qoidah درءالمفاسد أولى من جلب المصالح

Mohon jawaban dan referensinya.
Syukron

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh bahkan wajib demi menyelamatkan nyawa dari musibah/ gempa, banjir, kebakaran dll.

Keterangan al-Izz bin Abdus Salam – ulama Syafi’iyah – wafat 660 H.

Dalam kitabnya Qawaid al-Ahkam, beliau menjelaskan,

ﺗَﻘْﺪِﻳﻢُ ﺇﻧْﻘَﺎﺫِ ﺍﻟْﻐَﺮْﻗَﻰ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼُﻮﻣِﻴﻦَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕِ، ﻟِﺄَﻥَّ ﺇﻧْﻘَﺎﺫَ ﺍﻟْﻐَﺮْﻗَﻰ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼُﻮﻣِﻴﻦَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻣِﻦْ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ، ﻭَﺍﻟْﺠَﻤْﻊُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺼْﻠَﺤَﺘَﻴْﻦِ ﻣُﻤْﻜِﻦٌ ﺑِﺄَﻥْ ﻳُﻨْﻘِﺬَ ﺍﻟْﻐَﺮِﻳﻖَ ﺛُﻢَّ ﻳَﻘْﻀِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ

Harus mendahulukan upaya penyelamatan orang yang tenggelam, dari pada pelaksanaan shalat. karena menyelamatkan nyawa orang yang tenggelam, lebih afdhal di sisi Allah dibandingkan melaksanaan shalat. Disamping menggabungkan kedua maslahat ini sangat mungkin, yaitu orang yang tenggelam diselamatkan dulu, kemudian shalatnya diqadha. (Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam , 1/66).

Begitu juga boleh membatalkan sholat orang yang melihat kejadian tersebut untuk menyelamatkan mereka dari marabahaya. Bahkan berdosa jika membiarkannya.

ﻭﻳﺠﺐ ﺇﻧﻘﺎﺫ ﻏﺮﻳﻖ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻛﺤﺮﻳﻖ ﻓﻴﻘﻄﻊ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻟﺬﻟﻚ ﻓﺮﺿﺎً ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻭ ﻧﻔﻼً، ﻭﻇﺎﻫﺮﻩ ﻭﻟﻮ ﺿﺎﻕ ﻭﻗﺘﻬﺎ ﻷﻧﻪ ﻳﻤﻜﻦ ﺗﺪﺍﺭﻛﻬﺎ ﺑﺎﻟﻘﻀﺎﺀ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﻐﺮﻳﻖ ﻭﻧﺤﻮﻩ، ﻓﺈﻥ ﺃﺑﻰ ﻗﻄﻌﻬﺎ ﻹﻧﻘﺎﺫ ﺍﻟﻐﺮﻳﻖ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﺃﺛﻢ ﻭﺻﺤﺖ ﺻﻼﺗﻪ

Wajib menyelamatkan orang tenggelam atau korban kebakaran, sehingga harus membatalkan shalat, baik shalat wajib maupun sunah. Dan yang kami pahami, aturan ini berlaku meskipun waktunya pendek. Karena shalat tetap bisa dilakukan dengan cara qadha, berbeda dengan menolong orang tenggelam atau semacamnya. Jika dia tidak mau membatalkan shalatnya untuk menyelamatkan orang yang tenggelam atau korban lainnya, maka dia berdosa meskpiun shalatnya sah. ( Kasyaf al-Qi’na , 1/380).

Wallahu a’lamu bisshowab..

S057. HUKUM MENTERJEMAH KHUTBAH JUM’AT & UNGKAPAN RKH. ABDUL MAJID BATA-BATA TENTANG TIDAK MENTERJEMAH KHUTBAH KE BAHASA DAERAH (‘AJAMI)

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Diskripsi maslah:
Khutbah jum’at adalah merupakan bagian dari salah satu rukun shalat ju’mat, terkadang ketika kami bepergian sering kali kami shalat di kota dan khatbah diterjemah ada yang diterjemah dengan basaha Indonesia dan ada dengan basa madura.

Pertanyaannya:
1- Bagaiman hukumnya khutbah diterjemah?

2-Apakah Syaratnya khutbah harus difahami sehingga perlu diterjemah?

Mohon tanggapan/ jawabannya. Terimakasih.

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jawaban No.1 :

Dalam madzhab Syafi’i tidak ada khilaf (perbedaan) dalam menterjemahkan khutbah jum’at hukumnya boleh dengan catatan/ asalkan tidak panjang. Karena jika panjang ada salah satu pendapat dapat memutuskan muwalah. Sedangkan pendapat lain memperbolehkan.

Referensi :

البجيرمى الخطيب الجزء الأول ص٣٨٩
{قوله والمراد أركانهما} يفيد أنه لوكان مابين أركانهما بغير العربية لم يضر قال م ر محله مالم يطل الفصل بغير العربية وإلا ضر لإخلاله بالموالاة كالسكوت بين الأركان إذا طال بجامع أن غير العربية لغو لايحسب لأن العربيّ لايجزئ مع القدرة على العربي فهو لغو سم، والقياس عدم الضرر مطلقا ويفرق بينه وبين السكوت بأن فى السكوت إعراضا عن الخطبة بالكلية بخلاف غير العربيّ فإن فيه وعظا فى الجملة فلايخرج بذلك عن كونه من الخطبة ع ش.

(“Ungkapan Syaih Zakariyya al-Anshari.” Dan dimaksud adalah rukun-rukun dua khutbah jum’at.”) memberi pengertian, bila khutbah yang disampaikan selain rukun-rukun dua khutbah jum’at itu dengan selain bahasa Arab maka tidak apa-apa.

Al-Ramli berkata : Penerapan hukum tersebut bila pemisah antara rukun-rukun khutbah dengan selain bahasa Arab tersebut tidak panjang. Apabila panjang maka mempengaruhi keabsahan khutbah, karena merusak muwalah (kesinambungan antara rukun-rukunnya.) Seperti hal nya diam diantara rukun ketika diam itu panjang, yakni dengan titik temu bahwa selain bahasa Arab itu sia-sia yang tidak dianggap. Sebab bahasa selain bahasa Arab itu tidak mencukupi untuk khutbah ketika mampu berbahasa Arab. Maka bahasa selain bahasa Arab lghw (sia-sia). Demikian kata Ibnu Qasim al-Ubbadi. Namun yang sesuai Qiyas adalah tidak apa-apa secara muthlak. Maka antara selain bahasa Arab dan diam dibedakan yakni bahwa diam itu berpaling dari khutbah secara tolal, sedangkan selain bahasa Arab itu dalam sebagian kesempatan mengandung mauidhah (Nashehat). Maka denggan hal itu, selain bahasa Arab tidak keluar dari khutbah Begitu hemat Ali Syibramallisi”.

BERIKUT KAMI CANTUMKAN PENDAPAT RKH. ABDUL MAJID BATA-BATA TENTANG KHUTBAH JUM’AT TIDAK MEMAKAI BAHASA SELAIN BAHASA ARAB :

الحمد لله، وأما الفقير “عبد المجيد” فلم يترجم خطبة الجمعة ولم يفسرها بالعجمية، لأنه في شدة الرجاء بأن يحشر مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ومع ورثته من العلماء الراسخين الصالحين، خصوصا قطب أهل مدوري “شيخ والدي المرحوم الحاج اسماعيل” قاضي القضاة في فمكاسن، وخصوصا قطب أهل جاوي ومدوري “شيخنا وشيخ مشايخنا المرحوم كياهي محمد خليل” بغكالن رحمة الله عليهم، وذلك لحديث البخاري “يحشر الناس مع من أحب”. ومن علامات محبتهم الأقتداء بهم، وهم في الخطبة لم يترجموها ولم يفسروها بالعجمية، لكن يصححون ترجمة سوى الأركان. والتفسير بالعجمية عند الولاء مع الكراهة، لأن من سنن الخطبة كما في كتبهم أن تكون بليغة أي غير مبتذلة ولاركيكة. والعجمية مبتذلة، فالفقير كذلك لم يترجم ولم يفسر بالعجمية الا لضرورة بل يصح ترجمة سوى الأركان. والتفسير بالعجمية مع الكراهة كما أنهم يصححون الصلاة مع كشف الرأس أو مع كشف البدن غير العورة ولكن لم يفعلوها، فالفقير كذلك.

“Segala puji bagi Allah, Adapun “Al-Faqir Abdul-Majid” tidak menterjemah khutbah jum’at dan tidak menafsirkannya ke dalam bahasa daerah (‘Ajami), dikarenakan harapan yang kuat agar supaya dikumpulkan bersama Rasulullah saw, beserta para pewarisnya dari golongan para ulama yang mendalam ilmunya yang saleh. khususnya Penghulu ahli madura, guru ayah saya Almarhum Haji Ismail hakim agung di daerah pamekasan, dan secara khususnya penghulu penduduk jawa dan madura, guru kami, guru para guru kami yaitu Almarhum Kiai Muhammad Kholil Bangkalan” Rahmatullah alaihim. Hal itu dikarenakan ada hadis yang diriwatkan oleh Imam Al-Bukhari: “Manusia akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai”. Dan diantara tanda-tanda mencintai mereka adalah mengikutinya. Mereka tidak menterjemahkan khutbah dan tidak menafsirkannya dengan bahasa daerah (‘Ajami). Namun mereka tetap membenarkan terjemah selain rukun-rukun khutbah dan menafsirkannya dengan bahasa ‘Ajami ketika dilakukan terus menerus tapi makruh. karena diantara sunnah-sunnahnya khutbah sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab mereka, hendaknya menggunakan bahasa yang fasih, artinya tidak klise dan tidak dangkal maknanya, sedangkan bahasa ‘Ajami itu dangkal maknanya. Oleh karenanya al-Faqir seperti itu adanya tidak menterjemahkan dan tidak menafsirkan dengan bahasa ‘Ajami, kecuali karena darurat (terpaksa), bahkan sah menterjermahkan khutbah selain rukun-rukunya (khutbah) dan menafsirkannya dengan bahasa ‘Ajami, namun makruh, sebagaimana mereka menghukumi sah shalat dengan tanpa kopiyah dan tanpa pakaian, kecuali hanya menutup aurat, sekalipun demikian mereka tidak pernah melakukannya. Maka al-Faqir (Abdul Majid) seperti itu juga adanya.

والله أعلم بالصواب

Jawaban No.2 :

Adanya Khutbah tidak harus difahami/ dimengerti. Sebagimana yang telah kita ketahui bersama, adanya anggota jamaah shalat jum’at terkadang atau bahkan kebanyakan tidak mengerti maksud yang disampaikan oleh khatib. Apakah khatbah tersebut masih sah? maka selama masih mendengarkan khutbah meskipun tidak mengerti maksudnya tetap dihukumi sah.

Referensi :

مرقاة صعود التصديق في شرخ سلم التوفيق ص ٣٥
ولو سمعوا الخطبة ولم يفهموا معناها صحت

“Apabila para jamaah shalat jum’ah mendengarkan khutbah, namun tidak mengerti maksudnya maka khotbahnya sah”.

والله أعلم بالصواب

S056. HUKUM MEMUTUS FATIHAH DENGAN KALIMAT “AMIIN” KARENA MANJAWAB AMIN-NYA IMAM

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah :
Jika seseorang berjamaah (Jadi makmum) ketika imam baca fatihah dan belum selesai dari fatihnya, lalu makmum menyusul baca juga fatihah (bersamaan dengan imam) tetapi sebelum selesai fatihahnya sang imam sudah duluan selesai baca fatihah dan imam baca آمين.

Pertanyaannya:
Bolehkah makmum berhenti baca fatihah dengan tujuan untuk membaca آمين bersamaan dengan آمين-Nya imam dan apakah tidak termasuk memutus fatihah?

JAWABAN :

وعلكيم السلام ورحمة الله وبركاته

Boleh dan tidak membatalkan fatihah.

منهاج القويم ص : ٤٠

فتنقطع الفاتحة بالسكوت الطويل ان تعمده أو ان طان يسيرا وقصد به قطع القرأة وبالذكر إن كان ناسيا والا إذا سن في الصلاة كالتأمين والتعوذ وسؤال الرحمة وسجود اتلاوة لقراءة امامه والرد عليه والتعوذ من العذاب وسؤال الرحمة عند قرائة آياتهما منه أو من امامه

Maka bacaan fatihah itu terputus dengan diam yang lama apabila dia melakukannya dengan sengaja atau sebentar, akan tetapi dia berniat memutus bacaan dan juga terputus dengan dzikir kecuali apabila dia lupa. Apabila tidak, maka tidak apa2 selagi dzikir tersebut termasuk dzikir yang disunnahkan didalam sholat seperti membaca امين، ta’awwud, meminta rahmat, sujud tilawah karena bacaan imam dan menjawabnya.

Membaca “Aamiin” setelah selesai membaca surahal-Fatihah, baik ketika dalam shalat ataupun di luar shalat, baik sedang menjadi imam, makmum, ataupun sahalat sendirian, merupakan hal yang dianjurkan (sunnah) dalam syari’at Islam. Dan pembacaan amin ini sangatlah dianjurkan ketika dalam keadaan shalat, terlebih ketika sedang menunaikan shalat dengan berjamaah maka pembacaan amin ini lebih utama dibaca oleh makmum bersamaan dengan aminnya sang imam shalat dengan tujuan agar mencocoki aminnya para malaikat sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan :

إذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوافَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya : “Apabila imam membaca amin maka aminlah kaliansemua, karena sesungguhnya barangsiapa yang aminnya mencocoki aminnya paramalaikat maka dosa yang telah lalu baginya akan diampuni”. (HR. BukhariMuslim)

Ya benar demikian, akan tetapi membaca amin ketika dirinya sedang tidak membaca surah al-Fatihah, atau mendengar bacaan dari selain imamnya danatau orang lain, baik dalam keadaan shalat ataupun di luar shalat, hal ini terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Menurut kalangan Hanafiyyah yang merupakan sebagian dari pandangan kalangan Malikiyyah dan pendapat lemah bagiminoritas Syafi’iyyah, adalah sunnah membaca amin. Sedangkan pendapat yangmu’tamad bagi mayoritas Syafi’iyyah yang juga merupakan sebagian dari pandangan kalangan Malikiyyah, adalah tidak dianjurkan (tidak sunnah) membaca amin, sebagaimana pendapat Aliy al-Syibramulsiy yang dikutip oleh al-Bujairamiy, bahwa tidak disunnahkan membaca amin bagi selain bacaan dirinya sendiri atauimamnya, baik di dalam shalat ataupun di luar shalat.

Selanjutnya, apabila berangkat dari pendapat yang menganjurkan membaca amin; bilamana amin tersebut dibaca ketika mushalliy (orang yang shalat) sedang membaca surah al-Fatihah atau di tengah-tengah bacaan fatihahnya, maka demikian tidak dianggap memutus kesinambungan pembacaan surahal-Fatihah. Dan sebaliknya, apabila berangkat dari pendapat ulama yang tidak merekomendasikan hukum sunnah dalam hal ini maka demikian dianggap memutus kesinambungan pembacaan surah al-Fatihah, dan wajib baginya untuk mengulangi membaca surahal-Fatihah dari awal. Dan akan tetapi mengenai amin tersebut (bacaan aminkarena mendengar bacaan surah al-Fatihah dari selain imamnya, atau orang lain), ketika mushalliy tidak sedang membaca surah al-Fatihah meskipun berangkat dari ulama yang tidak menganjurkannya, membacanya tidak membatalkan shalat karena “Aamiin” itu merupakan lafazd yang bermakna doa (menurut qaul ashah), sedangkan shalat itu tidak batal sebab sebuah do’a meskipun do’a tersebutmanfaatnya tidak kembali kepada orang yang berdoa, melainkan untuk orang lain.

حاشية الجمل ج 1 ص 355-356 | موقعالإسلام

(وَ) سُنَّ (فِي جَهْرِيَّةٍ جَهَرَبِهَا) لِلْمُصَلِّي حَتَّى لِلْمَأْمُومِ لِقِرَاءَةِ إمَامِهِ تَبَعًا لَهُ(وَأَنْ يُؤَمِّنَ) الْمَأْمُومُ (مَعَ تَأْمِينِ إمَامِهِ) لِخَبَرِالشَّيْخَيْنِ [إذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَتَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ]وَلِأَنَّ الْمَأْمُومَ لَا يُؤَمِّنُ لِتَأْمِينِ إمَامِهِ بَلْ لِقِرَاءَتِهِالْفَاتِحَةَ وَقَدْ فَرَغَتْ فَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ إذَا أَمَّنَ الْإِمَامُإذَا أَرَادَ التَّأْمِينَ وَيُوضِحُهُ خَبَرُ الشَّيْخَيْنِ [إذَا قَالَالْإِمَامُ {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} فَقُولُواآمِينَ] فَإِنْ لَمْ يَتَّفِقْ لَهُ مُوَافَقَتُهُ أَمَّنَ عَقِبَ تَأْمِينِهِوَإِنْ تَأَخَّرَ إمَامُهُ عَنْ الزَّمَنِ الْمَسْنُونِ فِيهِ التَّأْمِينُأَمَّنَ الْمَأْمُومُ وَخَرَجَ بِزِيَادَتِي فِي جَهْرِيَّةٍ السِّرِّيَّةُ فَلَاجَهْرَ بِالتَّأْمِينِ فِيهَا وَلَا مَعِيَّةَ بَلْ يُؤَمِّنُ الْإِمَامُ وَغَيْرُهُسِرًّا مُطْلَقًا. إهـ

(قَوْلُهُ مَعَ تَأْمِينِ إمَامِهِ)أَيْ: لَا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ وَشَمِلَ ذَلِكَ مَا لَوْ وَصَلَ التَّأْمِينَبِالْفَاتِحَةِ بِلَا فَصْلٍ وَهُوَ كَذَلِكَ وَلَيْسَ فِي الصَّلَاةِ مَا تُسَنُّفِيهِ الْمُقَارَنَةُ غَيْرُهُ ا هـ شَرْحُ م ر. (قَوْلُهُ أَيْضًا مَعَ تَأْمِينِإمَامِهِ) يَخْرُجُ مَا لَوْ كَانَ خَارِجَ الصَّلَاةِ فَسَمِعَ قِرَاءَةَغَيْرِهِ مِنْ إمَامٍ أَوْ مَأْمُومٍ فَلَا يُسَنُّ لَهُ التَّأْمِينُ ا هـ ع شعَلَى م ر. (قَوْلُهُ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَالْمَلَائِكَةِ إلَخْ) أَيْ وَمَعْلُومٌ مِنْ حَدِيثٍ آخَرَ [أَنَّ الْمَلَائِكَةَتُؤَمِّنُ مَعَ تَأْمِينِ الْإِمَامِ] فَيَكُونُ الدَّلِيلُ مُنْتِجًالِلْمُدَّعَى. اهـ

الموسوعة الفقهية الكويتية ج 1 ص 112| موقع الإسلام

ارتباط التأمين بالسماع

اتفقت المذاهب الأربعة على أنه يسنالتأمين عند سماع قراءة الإمام، أما إن سمع المأموم التأمين من مقتد آخر فللفقهاءفي ذلك رأيان الأول: ندب التأمين، وإليه ذهب الحنفية، وهو قول للمالكية وقول مضعفللشافعية الثاني: لا يطلب التأمين، وهو المعتمد عند الشافعية والقول الآخرللمالكية، ولم نقف على نص للحنابلة في هذا. إهـ

فتح المعين بشرح قرة العين و إعانةالطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ج 1 ص 141-142 | دار إحياء الكتب العربية

(و) مَعَ رِعايَةِ (مُوالاةٍ) فيهابأن يأتي بِكلِماتِها على الوَلاءِ بأن لا يَفْصُلَ بينَ شيءٍ منها وما بَعْدَهُ بأكثَر من سَكْتَةِ التَّنَفُّسِ أوِ العَيّ، (فَيُعِيدُ) قِراءَةُ الفاتِحَةِ،(بِتَخَلُّلِ ذِكْرٍ أَجْنَبِيّ) لا يَتَعَلَّقُ بالصَّلاةِ فيها، وإن قَلَّ، كَبَعْضِآيَةٍ من غَيْرِها، وكَحَمْدِ عاطِسٍ ـ وإن سُنَّ فيها كخارِجِها ـ لإِشعارِهِ بالإِعراضِ. (لا) يعيدُ الفاتِحَةَ (بـ) ــــتَخَلُّل ما له تَعَلُّقٌ بالصَّلاةِ، كـ (ـتأمِينٍ وسُجودٍ) لتلاوَةِ إمامِهِ معه، (ودُعاءٍ) من سُؤالِ رَحْمَةٍ،واستعاذَةٍ من عَذابٍ، وقولُ: بَلَى وأنا على ذلِكَ من الشَّاهِدينَ (لِقِراءَةِإمامِهِ) الفاتِحَةَ أو آيَةَ السَّجدَةِ، أو الآيةَ التي يُسَنّ فيها ما ذُكِرَلِكُلَ مِن القارِىءِ والسَّامِع، مَأموماً أو غيرَه، في صَلاةٍ وخارِجِها. فلوقَرأَ المُصَلِّي ـ آيةً ـ أو سَمِعَ آيةً ـ فيها اسمُ مُحَمَّدٍ لم تُنْدَبالصَّلاةُ عليه، كما أفتى به النووي. إهـ

Bacaan fatihah yang bersaamaan dengan imam hukumnya makruh, sedangkan bacaan آمين yang bersaamaan dengan imam adalah sangat dianjurkan bahkan hukumnya sunnah. Dengan alasan karena jika makmum bersamaam Aamin-nya dengan Imam dan malaikatpun juga baca Aamiin maka dosanya diampuni oleh Allah swt. Sebagaimana dijelas dalam hadits yang dhahih.

Referensi :

فقه السنة ص ١٤٣

ويستحب للمأموم أن يوافق الامام، فلا يسبقه في التأمين ولا يتأخر عنه فعن أبي هريرة: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (إذا قال الامام: غير المغضوب عليهم ولا الضالين، فقولوا: آمين، فإن من وافق قوله قول الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه) رواه البخاري.
وعنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا قال الامام (غير المغضوب عليهم ولا الضالين) فقولوا آمين (1) فإن الملائكة يقولون: آمين وإن الامام يقول: آمين، فمن وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه) رواه أحمد وأبو داود والنسائي.

وعنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (إذا أمن الامام فأمنوا فإن من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه) رواه الجماعة.
وبيان هذا في الحديث الاخر (أن الامام يقول آمين) إلى آخر الحديث.
(1) قال الخطابي: معنى قوله صلى الله عليه وسلم: (إذا قال الامام ولا الضالين) فقولوا (آمين) : أي مع الامام، حتى يقع تأمينكم وتأمينه معا.
وأما قوله: (إذا أمن أمنوا) فانه لا يخالفه ولا يدل على أنهم يؤخرونه عن وقت تأمينه، وإنما هو كقول القائل: إذا رحل الامير فارحلوا: يعني إذا أخذ الامير في الرحيل فتهيأوا للارتحال، لتكون رحلتكم مع رحلته.

Dalam ibarah yang lain disebutkan sebagai berikut :

مرقاة صعود التصديق في شرح سلم التوفيق

…………………(إلا التأمين) فإن المقارنة فيه مندوبة

“Dan dimakruhkan bersamaan bacaan dengan imam kecuali bacaan Aamiin maka sunnah (bersamaan dengan imam).

ومن شروط الفاتحة الأول الترتيب الثانى الموالاة بأن لا يأتي بفاصل فإن تخلل ذكر أجنبي غير متعلق بالصلاة ولو قليلا كحمد عاطس وإن سن خارجها وكإحابة المؤذن قطع الموالاة فيعيد القراءة ولاتبطل الصلاته ومثل ذلك الصلاة على النبي وقول لا إله إلا الله

Wallahu a’lamu bisshowab..

S055. TATACARA SHALAT TASBIH

SHALAT TASBIH

Shalat tasbih Empat rakaat dan Setiap rakaat membaca 75 kali ”subhaanallah walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar”, dengan perincian: 15 kali sesudah membaca fatihah, 10 kali pada setiap ruku’, i’tidal, sujud dua kali dan duduk di antara dua sujud sehingga -jumlah semuanya 50 kali tasbih , yang dibaca sesudah masing2 dzikir yang berlaku dalam masing2 rukun tersebut.. dan 10 kali pada duduk istirahah.

Untuk duduk istirahah ini caranya, setelah selesai sujud kedua, lalu mulai duduk, terlebih dahulu takbir, dan ketika berdiri tidak usah takbir. Untuk raka’at yang tak ada duduk istirahahnya, maka pembacaan tasbih 10 kali ini diletakkan setelah duduk tasyahud sebelum membca tasyahud. Untuk lebih jelasnya lihat di fathul mu’in

ومنه صلاة التسابيح

وهي أربع ركعات بتسليمة واحدة وهو الأحسن نهارا أو بتسليمتين وهو الأحسن ليلا لحديث صلاة الليل مثنى مثنى وصفتها أن تحرم بها وتقرأ دعاء الافتتاح والفاتحة وشيئا من القرآن إن أردت والأولى في ذلك أوائل سورة الحديد والحشر والصف والتغابن للمناسبة في ذلك فإن لم يكن فسورة الزلزلة والعاديات وألهاكم والإخلاص ثم تقول بعد ذلك وقبل الركوع سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم خمس عشرة مرة وفي الركوع عشرا وفي الاعتدال عشرا وفي السجود الأول عشرا وفي الجلوس بين السجدتين عشرا وفي السجود الثاني عشرا وفي جلسة الاستراحة أو بعد التشهد عشرا فتلك خمسة وسبعون في كل ركعة منها فأربعة في خمسة وسبعين بثلاثمائة ويأتي قبل هذه التسبيحات بالذكر الوارد في هذه الأركان وهذه رواية ابن عباس وهي أرجح من رواية ابن مسعود وهي بعد التحرم وقبل القراءة خمس عشرة مرة وبعد القراءة وقبل الركوع عشرا وفي الركوع عشرا وفي الاعتدال عشرا وفي السجود الأول عشرا وفي الجلوس بين السجدتين عشرا وفي السجود الثاني عشرا ولا شيء في جلوس الاستراحة ولا بعد التشهد وفيما عدا الركعة الأولى يقول الخمسة عشر بعد القيام وقبل القراءة فإن استطعت أن تصليها في كل يوم فافعل فإن لم تستطع ففي كل شهر مرة فإن لم تستطع ففي كل سنة مرة فإن لم تستطع ففي عمرك مرة فإن لم يفعلها أصلا دل ذلك على تكاسله في الدين

ويدعو بعد التشهد الأخير بهذا الدعاء اللهم إني أسألك توفيق أهل الهدى وأعمال أهل اليقين ومناصحة أهل التوبة وعزم أهل الصبر ووجل أهل الخشية وطلب أهل الرغبة وتعبد أهل الورع وعرفان أهل العلم حتى أخافك اللهم إني أسألك مخافة تحجزني عن معاصيك حق أعمل بطاعتك عملا أستحق به رضاك وحتى أناصحك في التوبة وخوفا منك حتى أخلص لك النصيحة وحتى أتوكل عليك في الأمور كلها وحتى أكون حسن الظن بك سبحان خالق النور

Artinya : Diantara sholat yang disunahkan adalah sholat TASBIH. Sholat TASBIH berjumlah 4 rokaat yang baik dengan sekali salam bila dilakukan di siang hari dan dengan dua kali salam bila di lakukan di malam hari berdasarkan hadits nabi “sholat malam dua rokaat, dua rokaat”.

Tata cara sholat Tasbih :

1. Takbiratul Ihram (bersamaan niat)

2. Membaca doa iftitah

3. membaca Surat Alfaatihah

4. membaca surat-surat dari alquran bisa memakai surat permulaan surat alhadiid, surat alhasyri, surat shoff dan surat attaghoobun karena keempat surat ini memiliki kecocokan dengan sholat tasbih bila tidak boleh memakai surat azzalzalah, al’aadiyaat, attakaatsur dan al-ikhlas

5. membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 15 kali (sebelum ruku)

6. Ruku dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

7. I’tidal dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

8. sujud dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

9. Duduk diantara dua sujud dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

10. Sujud yang kedua dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

11. Duduk istirohah (sebelum bangun untuk berdiri) dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

12. Tasyahud dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

Maka hitungan bacaan tasbih :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Dalam setiap rokaat menjadi 75 kali. Hitungan jumlah tasbih dan penempatannya seperti ini paling kuatnya pendapat diantara hadits riwayat Ibnu mas’ud ra. :

”Setelah takbiratul ihram 15 kali, setelah membaca fatihah sebelum membaca surat 10 kali, dalam rukuk, I’tidal sujud awal dan ke dua serta duduk dianta dua sujud masing-masing 10 kali dengan tidak membaca tasbih pada duduk istirohat dan setelah tasyahhud, kemudian setelah berdiri membaca tasbih 15 kali begitu juga setelah selesai membaca fatihah sebelum membaca surat 15 kali”.

Bila engkau mampu melakukan sholat tasbih tiap hari maka lakukan, bila tidak mampu boleh sebulan sekali, setahun sekali bahkan seumur hidup sekali, bila tidak berarti anda termasuk orang malas dalam menjalani agama, Dan berdo’alah setelah usai tasyahhud akhir *sebelum salam) dengan memakai doa :

DOA SOLAT TASBIH :

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ تَوْفِيْقَ اَهْلِ الهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِ اليَقِيْنِ وَمُنَاصَحَةَ اَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزْمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَوَجَلَ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَ اَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ اْلعِلْمِ حَتَّى نَخَافَـكَ اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ مَخَافَةَ تُحْجِزُنَا عَنْ مَعَاصِيْكَ حَتَّى نَعْمَلَ بِطَاعَتِـكَ سُبْحَانَ خَالِقَ النُّوْرُ. والصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ والحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

” Ya Allah aku meminta padaMu pertolongan (melakukan kebaikan) sebagaimana yang Engkau berikan kepada orang-orang yang mendapatkan petunjuk, amal-amal yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai keyakinan tinggi, nasihat-nasihat orang yang ahli bertaubat, kemauan kuat yang dimiliki orang-orang yang ahli bersabar, kesungguhan orang-orang yang selalu takut (padaMu), permintaan orang-orang yang selalu cinta (padaMu), beribadahnya orang-orang yang ahli menjaga diri dari perkara subhat, pengetahuan orang-orang yang ahli dalam ilmu (agama) sehingga akupun dapat takut kepada Mu. Ya Allah sesungguhnya aku meminta padaMu rasa takut yang menjagaku dari melakukan kemaksiatan padaMu, sehingga dengan taat padaMu akupun bisa melakukan amal, yang dengannya bisa kuraih ridloMu dan dengan taubat aku dapat mengambil rasa takut kepada Engkau, dan kumurnikan padaMu nasehat karena malu pada Engkau. Dan aku pasrahkan segala urusan padaMu karena wujudnya prasangka baik kepadaMu. Maha Suci Allah Sang Pencipta Cahaya”. [ Nihaayah Azzain I/115 ].

S054. HUKUM BERLUDAH SAAT SHALAT DI MASJID

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah :
Ada seseorang yang melakukan shalat dimasjid sementara ia berludah.

Pertanyaannya:

a- Bagaimana hukumnya berludah di masjid..?

b- Sahkah shalat dalam keadaan berludah.

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukum secara universal (Umum) asalnya air mulut manusia adalah suci selama tidak ada yang menjadikan najis (bercabur najis).

hukum meludah jika di masjid maka haram. meludahnya di pucuk baju sebelah kiri misalnya pd lengan baju.

jika di selain masjid maka tdk haram meludah ke tanah dan boleh ke arah kiri di bajunya atau di bawah telapak kakinya dan lebih utama di bajunya, makruh jika kearah kanan atau ke arah depan.

– kitab majmu’ :

وإذا عرض للمصلي بصاق فإن كان في مسجد حرم البصاق فيه ، بل يبصق في طرف ثوبه من جانبه الأيسر ككمه وغيره ، وإن كان في غير المسجد لم يحرم البصاق في الأرض فله أن يبصق عن يساره في ثوبه ، أو تحت قدمه أو بجنبه وأولاه في ثوبه ، ويحك بعضه ببعض أو يدعه ، ويكره أن يبصق عن يمينه أو تلقاء وجهه وإذا بصق في المسجد فقد ارتكب الحرام وعليه أن يدفنه واختلفوا في دفنه فالمشهور أنه يدفنه في تراب المسجد ورمله إن كان له تراب أو رمل ونحوهما ، فإن لم يكن أخذه بعود أو خرقة أو نحوهما أو بيده وأخرجه من المسجد ، وقيل : المراد بالدفن إخراجها من المسجد مطلقا ، ولا يكفي دفنها في ترابه ، حكاه صاحب البحر في باب الاعتكاف ، ومن رأى من يبصق في المسجد لزمه الإنكار عليه ومنعه منه إن قدر ومن رأى بصاقا أو نحوه في المسجد فالسنة أن يزيله بدفعه أو رفعه وإخراجه ويستحب تطييب محله .

Terkait dengan ludah terdapat beberapa hukum:

1-Haram hukumnya berludah di dalam masjid.

2- Makruh berludah di dinding masjid.

Dengan demikian jika seseorang melakukan shalat di dalam masjid maka hukumnya ia wajib memendamnya (menutupinya)
Sedangkan shalat-Nya sah (tidak batal).

Sebagiman ibarah berikut:

Referensi :

موسوعة الفقهية الكويتية ص ٤٧٧١

الْحُكْمُ الإِْجْمَالِيُّ:
الأَْصْل فِي مَاءِ فَمِ الإِْنْسَانِ طَهُورِيَّتُهُ مَا لَمْ يُنَجِّسْهُ نَجَسٌ. (٢)
وَلِلْبُصَاقِ أَحْكَامٌ تَتَعَلَّقُ بِهِ. فَهُوَ حَرَامٌ فِي الْمَسْجِدِ وَمَكْرُوهٌ عَلَى حِيطَانِهِ. (٢)

Berludah di masjid adalah suatu kekeliruan (kesalahan) sedangkan tebusannya (kaffaratnya) ia wajib memendamnya (menutupinya) sebagaimana dijelaskan dalam hadits: “Berludah di masjid adalah satu kesalahan maka tebusannya adalah memendamnya”

Menurut Pendapat ulama’ yang masyhur cara memendam ludah adalah dengan debu atau pasir atau sejenisnya. Jika tidak ada debu dan pasir maka ia harus mengambil ludahnya dengan memakai kayu atau kain kemudian buanglah keluar, sebagaimana ia tidak meludahi temboknya, dan diantara kedua tangannya diatas tongkat dan tidak berludah diatas tikar. Dan shalatnya tidak batal, kecuali ia memperbanyak ludah,
sebagaimana ibarah berikut:

فَإِذَا بَصَقَ الْمُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ كَانَ عَلَيْهِ أَنْ يَدْفِنَهُ، إِذِ الْبَصْقُ فِيهِ خَطِيئَةٌ، وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهُ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْبُصَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ، وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا. (٣)
وَالْمَشْهُورُ فِي ذَلِكَ أَنْ يَدْفِنَهُ فِي تُرَابِ الْمَسْجِدِ وَرَمْلِهِ، إِنْ كَانَ لَهُ تُرَابٌ أَوْ رَمْلٌ وَنَحْوُهُمَا. فَإِنْ لَمْ يَكُنْ أَخَذَهُ بِعُودٍ أَوْ خِرْقَةٍ أَوْ نَحْوِهِمَا أَوْ بِيَدِهِ وَأَخْرَجَهُ مِنْهُ. (٤)
كَمَا لاَ يَبْصُقُ عَلَى حِيطَانِهِ، وَلاَ بَيْنَ يَدَيْهِ عَلَى الْحَصَى، وَلاَ فَوْقَ الْبَوَارِي (أَيِ الْحُصْرِ) وَلاَ تَحْتَهَا. وَلَكِنْ يَأخُذُهُ بِطَرَفِ ثَوْبٍ وَيَحُكُّ بَعْضَهُ بِبَعْضٍ، وَلاَ تَبْطُل بِهِ الصَّلاَةُ إِلاَّ أَنْ يَتَوَالَى وَيَكْثُرَ. وَإِنْ كَانَ قَدْ بَصَقَ فِي تُرَابِ الْمَسْجِدِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَدْفِنَهُ.
َ
(١) حاشية ابن عابدين ١ / ٩٣
(٢) الأشباه والنظائر لابن نجيم ٣٧٠، وإعلام الساجد بأحكام المساجد ص ٣٠٨
(٣) حديث: ” البصاق في المسجد خطيئة. . . ” أخرجه البخاري (١/ ٥١١ – الفتح ط السلفية) ومسلم (1 / ٣٩٠ – ط الحلبي) .
(٤) المجموع شرح المهذب ٤ / ١٠١، وإعلام الساجد بأحكام المساجد ص ٣٠٨ – ٣٠٩

Maka jika mudlorat dengan alat tersebut, maka temukannlah ludah diatasnya tikar krn lebih mudah dibandingkan dibawahnya tikar. Dengan alasan tikar/karpet hakikatnya tidak bertemu (besambung) dengan masjid, dan dibawahnya tikar hakikatnya adalah masjid. Jika didalam masjid tidak ada tikar/karpet, maka tutupilah (pendamlah) dengan abu atau pasir dan jangan sampai meninggalkan ludah diatas bumi (lantai masjid). sebagaimana ibarah berikut:

فَإِن اضْطُرَّ إلىٰ ذٰلِك
َ كَانَ الإِْلْقَاءُ فَوْقَ الْحَصِيرِ أَهْوَنَ مِنَ الإِْلْقَاءِ تَحْتَهُ. لأَِنَّ الْبَوَارِيَ لَيْسَتْ بِمَسْجِدٍ حَقِيقَةً، وَمَا تَحْتَهَا مَسْجِدٌ حَقِيقَةً. وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ الْبَوَارِي يَدْفِنُهُ فِي التُّرَابِ، وَلاَ يَتْرُكُهُ عَلَى وَجْهِ الأَْرْضِ. (١)
وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِ الْمَسْجِدِ لَمْ يَبْصُقْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ، وَلاَ عَنْ يَمِينِهِ، بَل يَبْصُقُ تَحْتَ قَدَمِهِ الْيُسْرَى، أَوْ عَنْ يَسَارِهِ. (2)
وَمَنْ رَأَى مَنْ يَبْصُقُ فِي الْمَسْجِدِ لَزِمَهُ الإِْنْكَارُ عَلَيْهِ وَمَنْعُهُ مِنْهُ إِنْ قَدَرَ. وَمَنْ رَأَى بُصَاقًا وَنَحْوَهُ فِي الْمَسْجِدِ فَالسُّنَّةُ أَنْ يُزِيلَهُ بِدَفْنِهِ أَوْ إِخْرَاجِهِ، وَيُسْتَحَبُّ لَهُ تَطْيِيبُ مَحَلِّهِ.
وَأَمَّا مَا يَفْعَلُهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ إِذَا بَصَقَ أَوْ رَأَى بُصَاقًا دَلَكَهُ بِأَسْفَل مَدَاسِهِ الَّذِي دَاسَ بِهِ النَّجَاسَةَ وَالأَْقْذَارَ فَحَرَامٌ، لأَِنَّهُ تَنْجِيسٌ لِلْمَسْجِدِ وَتَقْذِيرٌ لَهُ.
وَعَلَى مَنْ رَآهُ يَفْعَل ذَلِكَ الإِْنْكَارُ عَلَيْهِ بِشَرْطِهِ. (3)
وَلاَ يَسُوغُ مَسْحُ لَوْحِ الْقُرْآنِ أَوْ بَعْضِهِ بِالْبُصَاقِ. وَيَتَعَيَّنُ عَلَى مُعَلِّمِ الصِّبْيَانِ أَنْ يَمْنَعَهُمْ مِنْ ذَلِكَ. (4)
(1) الفتاوى الهندية 1 / 110، وبدائع الصنائع 1 / 216.
(2) المغني لابن قدامة 2 / 213 ط الرياض الحديثة، وقليوبي وعميرة 1 / 194، والمجموع شرح المهذب 4 / 100.
(3) المجموع شرح المهذب 4 / 101، وإعلام الساجد بأحكام المساجد ص308.
(4) حاشية البناني على شرح الزرقاني على مختصر خليل 1 / 93.

Wallahu a’lamu bisshowab..

S053 : BACAAN MAKMUM BERSAMAAN DENGAN IMAM

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana hukumnya makmum dalam shalat berjamaah (tarawih) atau shalat yang lainnya sementara bacaan fatihahnya makmum bersaamaan dengan imam?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bagi orang yang melakukan shalat berjamaah baik shalat jum’ah atau yang lainnya maka ia wajib untuk tidak mendahului imam pada posisi berdiri dan takbiratul ihram. bahkan bersamaan denga imam dalam takbiratul ihram bisa membatalkan shalat. Dan selain takbiratul ihram bersamaan dimakruhkan kecuali lafadz Aamiin, maka hukumnya sunnah.

Refernsi :

مرقاة صعود التصديق في شرح سلم التوفيق.ص ٣٥
يجب على من صلى مقتديا في جمعة أوغيرها أن لايتقدم على إمامه فى الموقف والإحرام بل تبطل المقارنة فى الإحرام.
وتكره فى غيره إلا التأمين .اى فإن المقارنة فيه مندوبة

Dalam ibarah yang lain dijelaskan tidak disyaratkan untuk sahnya iqtidak mengikuti imam dalam semua perkataan di dalam shalat selain takbiratul ihram dan salam. Seperti tasyahhud, bacaan dan tasbih maka boleh mendahului dan mengahiri imam dan juga bersamaan dengan imam.

لاَ يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الاِقْتِدَاءِ مُتَابَعَةُ الإِْمَامِ فِي سَائِرِ أَقْوَال الصَّلاَةِ غَيْرَ تَكْبِيرَةِ الإِْحْرَامِ وَالسَّلاَمِ، كَالتَّشَهُّدِ وَالْقِرَاءَةِ وَالتَّسْبِيحِ، فَيَجُوزُ فِيهَا التَّقَدُّمُ وَالتَّأَخُّرُ وَالْمُوَافَقَةُ.
موسوعة الفقهية ص ٣٣٣٥

والله تعالى أعلم بالصواب
ِ

S052. FENOMENA SHALAT KAFFARAH DI HARI JUM’AT AKHIR BULAN RAMADHAN

Tentang shalat kaffarah di hari Jum’at pada akhir bulan Ramadhan adalah amalan yang tidak mempunyai dasar hukum.

Dijelaskan bahwa sholat baro-ah adalah termasuk bid’ah madzmumah, dan berdosa jika dikerjakan, dan bagi pihak yang berwenang wajib untuk melarang melakukan praktek nya, bahkan di dalam kitab Fatawa Fiqhiyyah Al-kubro tergolong dari pekerjaan yang termasuk kategori “MUHARROMAH SYADIDAATU AT-TAHRIM” sebab praktek semacam ini pada akhirnya ada yang meremehkan sholat. Sholat baro’ah yang dilakukan di hari jum’at terakhir di bulan romadlon yang mana dipercaya bisa melebur sholat 1 tahun yang telah lewat maka hukumnya haram bahkan sangat haram. Kesimpulannya sholat kafaroh itu bid’ah yang tercela dan haditsnya adalah palsu.

I’anatut Tholibin :

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ١ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٣١٢ :ﻗﻮﻟﻪ: ﻓﺎﺋﺪﺓ: ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻓﺔ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺮﻏﺎﺋﺐ ﺇﻟﺦ. ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺆﻟﻒ ﻓﻲ ﺇﺭﺷﺎﺩ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ: ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﻤﺬﻣﻮﻣﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺄﺛﻢ ﻓﺎﻋﻠﻬﺎ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﻭﻻﺓ ﺍﻻﻣﺮ ﻣﻨﻊ ﻓﺎﻋﻠﻬﺎ: ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺮﻏﺎﺋﺐ ﺍﺛﻨﺘﺎ ﻋﺸﺮﺓ ﺭﻛﻌﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀﻳﻦ ﻟﻴﻠﺔ ﺃﻭﻝ ﺟﻤﻌﺔ ﻣﻦ ﺭﺟﺐ. ﻭﺻﻼﺓ ﻟﻴﻠﺔ ﻧﺼﻒ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻣﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ، ﻭﺻﻼﺓ ﺁﺧﺮ ﺟﻤﻌﺔ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺳﺒﻌﺔ ﻋﺸﺮ ﺭﻛﻌﺔ، ﺑﻨﻴﺔ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﺍﻟﺘﻲ ﻟﻢ ﻳﻘﻀﻬﺎ. ﻭﺻﻼﺓ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﺃﺭﺑﻊ ﺭﻛﻌﺎﺕ ﺃﻭ ﺃﻛﺜﺮ. ﻭﺻﻼﺓ ﺍﻷﺳﺒﻮﻉ، ﺃﻣﺎ ﺃﺣﺎﺩﻳﺜﻬﺎ ﻓﻤﻮﺿﻮﻋﺔ ﺑﺎﻃﻠﺔ، ﻭﻻ ﺗﻐﺘﺮ ﺑﻤﻦ ﺫﻛﺮﻫﺎ. ﺍﻫ.

هل تَجُوزُ صَلَاةُ الرَّغَائِب وَالْبَرَاءَةِ جَمَاعَةً أَمْ لَا فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ أَمَّا صَلَاةُ الرَّغَائِب فَإِنَّهَا كَالصَّلَاةِ الْمَعْرُوفَةِ لَيْلَةَ النِّصْفِ من شَعْبَانُ بِدْعَتَانِ قَبِيحَتَانِ مَذْمُومَتَانِ وَحَدِيثهمَا مَوْضُوعٌ فَيُكْرَهُ فِعْلُهُمَا فُرَادَى وَجَمَاعَةً وَأَمَّا صَلَاةُ الْبَرَاءَة فَإِنْ أُرِيدَ بها ما يُنْقَلُ عن كَثِيرٍ من أَهْلِ الْيَمَنِ من صَلَاةِ الْمَكْتُوبَاتِ الْخَمْسِ بَعْد آخِرِ جُمُعَةٍ في رَمَضَانَ مُعْتَقِدِينَ أنها تُكَفِّرُ ما وَقَعَ في جُمْلَةِ السَّنَةِ من التَّهَاوُن في صَلَاتِهَا فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ شَدِيدَةُ التَّحْرِيم يَجِبُ مَنْعُهُمْ منها لِأُمُورٍ منها أَنَّهُ تَحْرُمُ إعَادَةُ الصَّلَاةِ بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا وَلَوْ في جَمَاعَةٍ وَكَذَا في وَقْتِهَا بِلَا جَمَاعَةٍ وَلَا سَبَبٍ يَقْتَضِي ذلك وَمِنْهَا أَنَّ ذلك صَارَ سَبَبًا لِتَهَاوُنِ الْعَامَّةِ في أَدَاءِ الْفَرَائِض لِاعْتِقَادِهِمْ أَنَّ فِعْلَهَا على تِلْكَ الْكَيْفِيَّةِ يُكَفِّرُ عَنْهُمْ ذلك وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

– Fatawiy AlFiqhiyyah Kubro :

الفتاوى الفقهية الكبرى (1/ 217)وَأَمَّا صَلَاةُ الْبَرَاءَة فَإِنْ أُرِيدَ بها ما يُنْقَلُ عن كَثِيرٍ من أَهْلِ الْيَمَنِ من صَلَاةِ الْمَكْتُوبَاتِ الْخَمْسِ بَعْد آخِرِ جُمُعَةٍ في رَمَضَانَ مُعْتَقِدِينَ أنها تُكَفِّرُ ما وَقَعَ في جُمْلَةِ السَّنَةِ من التَّهَاوُن في صَلَاتِهَا فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ شَدِيدَةُ التَّحْرِيم يَجِبُ مَنْعُهُمْ منها لِأُمُورٍ منها أَنَّهُ تَحْرُمُ إعَادَةُ الصَّلَاةِ بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا وَلَوْ في جَمَاعَةٍ وَكَذَا في وَقْتِهَا بِلَا جَمَاعَةٍ وَلَا سَبَبٍ يَقْتَضِي ذلك وَمِنْهَا أَنَّ ذلك صَارَ سَبَبًا لِتَهَاوُنِ الْعَامَّةِ في أَدَاءِ الْفَرَائِض لِاعْتِقَادِهِمْ أَنَّ فِعْلَهَا على تِلْكَ الْكَيْفِيَّةِ يُكَفِّرُ عَنْهُمْ ذلك وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

– I’anatut Tholibin :

إعانة الطالبين (1/ 270) ( قوله فائدة أما الصلاة المعروفة ليلة الرغائب إلخ ) قال المؤلف في إرشاد العباد ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الأمر منع فاعلها صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر وصلاة الأسبوع أما أحاديثها فموضوعة باطلة ولا تغتر بمن ذكرها

Wallohu a’lam bisshowab..

S051. MAKMUM TIDAK MEMBACA FATIHAH HANYA MENDENGARKAN BACAAN FATIHAHNYA IMAM

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:

Ada seseorang yang shalat berjamaah sementara ma’mum yang berada dibelakangnya imam tidak membaca fatihah tetapi dia mendengarkan bacaannya imam ketika baca fatihah.
Pertanyaannya: Sahkah salatnya makmum dengan tampa membaca fatihah?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Tidak sah karena fatehah termasuk rukun yang wajib dibaca bagi imam dan makmum.

اسعاد الرفيق ج ١ ص ٩١

الركن الرابع قراءة جميع أيات الفاتحة أو بدلها في قيام كل ركعة او بدلها في فرض او نفل حفظا او تلقينا او نظرا في نحو مصحف.

Rukun sholat yang ke empat adalah membaca fatehah atau penggantinya ketika berdiri di semua rokaat baik berupa sholat fardu atau sunnat.
Membacanya karena hafal atau di tuntun atau dengan cara melihat pada mushaf.

الا لمعذور لسبق حقيقة او حكما كزحمة ونسيان وبطء حركة كأن لم يقم من السجود الا والامام راكع او قريب منه فتسقط كلها في الاولى وبعضها في الثانية.

Terkecuali tidak membaca fatehah karena ada udzur, seperti :
Berdesak desakan atau lupa bahwa dia wajib baca fatehah, maka boleh tidak baca fateha langsung rukuk bersama imam.
—————-
Atau makmum termasuk lambat gerakannya, maka boleh langsung rukuk bersama imam walaupun fatehahnya tidak sempurna.

—————
إعانة الطالبين ج ٢ ص ٤٢-٤٣ دار الفكر

او لم تشتغل بشيئ بأن سكت بعد تحرمه وقبل قراءته وهو عالم بان واجبه الفاتحة.

Jika makmum setelah takbir dan sebelum baca fahehah diam sedangkan dia tahu bahwa kewajibannya baca fateha.

او استمع قراءة الإمام قرأ وجوبا من الفاتحة بعد ركوع الإمام… الخ

Atau makmum hanya mendengarkan bacaan fatehahnya imam, maka dia wajib baca fatehah walaupun imam ruku’ dia tidak boleh ikut. (harus membaca fateha sesuai lamanya kelalaian)

Yang dimaksud lalai disini adalah: diam setelah takbir atau mendengar bacaan imam.

والله اعلم بالصواب

S050. BILA SHALAT ‘ID BERTEPATAN PADA HARI JUM’AT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau tanya kalau lebaran pas bertepatan dengan hari jum’at adakah dalil yang memprbolehkan cukup sholat id dan gak usah shalat jum’at? terimakasih..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Terdapat perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini.

Referensi :

1. Bughyah al-Mustarsyidiin I/187

مسألة) : فيما إذا وافق يوم الجمعة يوم العيد ففي الجمعة أربعة مذاهب ، فمذهبنا أنه إذا حضر أهل القرى والبوادي العيد وخرجوا من البلاد قبل الزوال لم تلزمهم الجمعة وأما أهل البلد فتلزمهم ، ومذهب أحمد لا تلزم أهل البلد ولا أهل القرى فيصلون ظهراً ، ومذهب عطاء لا تلزم الجمعة ولا الظهر فيصلون العصر ، ومذهب أبي حنيفة تلزم الكل مطلقاً ، اهـ من الميزان الشعراني.

MASALAH

Dalam pembahasan “SAAT HARI JUMAT BERTEPATAN DENGAN HARI RAYA” Maka dalam kewajiban pelaksaan menunaikan shalat jumat terdapat empat madzhab :

▪Madzhab kami (syafi’iyyah) bila penduduk desa dan pedalaman menjalankan shalat Ied dan keluar dari desa sebelum tergelincirnya matahari maka tidak wajib bagi penduduk pedalaman mengerjakan shalat jumat sedang bagi penduduk desa masih diwajibkan mengerjakannya.

▪Madzhab Imam Ahmad, bagi penduduk desa dan pedalaman tidak berkewajiban menjalankan shalat jumat, kerjakanlah shalat dhuhur.

▪Madzhab Imam ‘Atha’ tidak diwajibkan bagi mereka menjalankan shalat Jumat juga shalat dhuhur, kerjakanlah shalat Ashar.

▪Madzhab Abu Hanifah, semua shalat masih diwajibkan bagi mereka. (al-Miizaan as-Sya’rooni).

2. Raudhah at-Thoolibiin I/173

فرع إذا وافق يوم العيد يوم جمعة وحضر أهل القرى الذين يبلغهم لصلاة العيد وعلموا أنهم لو انصرفوا لفاتتهم الجمعة فلهم أن ينصرفوا ويتركوا الجمعة في هذا اليوم على الصحيح المنصوص في القديم والجديد. وعلى الشاذ عليهم الصبر للجمعة.

[ SUB BAHASAN ] Bila hari raya bertepatan dengan hari jumah dan penduduk desa yakni mereka-mereka yang mendengan seruan shalat Ied dan mereka yakin andaikan mereka membubarkan diri (meninggalkan masjid dan pulang kerumah masing-masing) mereka akan ketinggalan shalat maka bagi mereka diperkenankan membubarkan diri dan meninggalkan shalat jumah dihari seperti ini menurut pendapat yang shahih, sedang menurut pendapat yang SYADZ (ganjil) bagi mereka wajib menunggu pelaksanaan shalat jumat.

Wallahu a’lamu bisshowab..