Arsip Kategori: Shalat

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Shalat.

S004 Anak kecil belum disunnat memegang orang yang sedang sholat

PERTANYAAN :

Assalamualaikun ustadz…

bagaimana hukumnya kalau ada orang sholat kemudian di pegang anak kecil yang belum disunnat?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Kalau cuman dipegang tidak masalah. Yangg batal apabila anak kecil tersebut digendong karena anak yang belum disunnat di quflahnya mengandung najis.

Sebenarnya dalam mas’alah Qulfah terjaadi hilaf. Menurut qaul ashohQulfah dihukumi sebagai anggota dhohir sehingga wajib disucikan. Dan menurut muqobilnya Qulfah dihukumi sebagai anggota batin sehingga tidak wajib disucikan. Dengan demikian berpijak pada dua qaul ini sholat orang tersebut dihukumi sah. Sebab meskipun berpijak pada qaul yang mengatakan anggota dlohir, kalau hanya bersentuhan atau menempel pada sesuatu (bayi) yang membawa najis tidak sampai membatalkan solat.

Catatan : Berpijak pada qaul ashoh, yang dapat membatalkan sholat dalam mas’alah ini adalah menggendong, mengikat, memegang merangkul, dan memangku anak kecil tersebut.

.قرة العين بفتاوى إسماعيل الزين ص 55

سؤال: ما قولكم فيمن يصلى فاعتنقه صبي لم يختتن وتعلق به ومعلوم أن ذلك الصبى لا بد من أن يحمل نجاسة في فرجه فهل صلاته مع ذلك صحيحة أم لا؟

الجواب: إذا كان معلوما أن الصبي المذكور يحمل نجاسة ظاهرة في جلدة قلفة الختان أو في ظاهر فرجه مثلا فصلاة من يحمله باطلة وإن لم يكن معلوما ولا مظنونا ظنا غالبا فصلاة من يحمله صحيحة عملا بأصل الطهارة(1). (1) أما مجرد مماسة لباس الصبي وتعلقه بالمصلي دون أن يحمله فلا تبطل به الصلاة وهو كمن يصلى ويضع تحت قدمه طرف الحبل المتصل بالنجاسة والله أعلم.

– ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺒﺠﻴﺮﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻷﻭﻝ ﺹ 53 :

) ﻓﺮﻉ) ﻟﻮ ﺗﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻲ ﺻﺒﻲ ﺃﻭ ﻫﺮﺓ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻻ ﺗﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻤﺎ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻓﻴﻪ ﺍﻷﺻﻞ ﻭﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺇﺫ ﺍﻷﺻﻞ ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻭﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻭﺧﺮﺝ ﺑﻘﻮﻟﻨﺎ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻋﻠﻤﻪ ﺛﻢ ﻏﺎﺑﺖ ﺍﻟﻬﺮﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﺯﻣﻨﺎ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﻏﺴﻞ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻓﻬﻮ ﺑﺎﻕ ﻋﻠﻰ ﻧﺠﺎﺳﺘﻪ ﻓﺘﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ ﻟﺘﻌﻠﻘﻬﻤﺎ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻲ ﻭﻻ ﻳﺤﻜﻢ ﺑﻨﺠﺎﺳﺔ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺏ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻛﺎﻟﻬﺮﺓ ﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﺖ ﻓﺄﺭﺓ ﺛﻢ ﻏﺎﺑﺖ ﻏﻴﺒﺔ ﻳﻤﻜﻦ ﻃﻬﺮ ﻓﻤﻬﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﺍ ﻫـ ﻉ ﺵ ﻋﻠﻰ ﻡ ﺭ. ﻓﻼ ﺗﻨﺠﺲ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺑﻪ ﻓﻤﻬﺎ ﻭﻗﺪ ﻳﻘﺎﻝ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻣﺘﻴﻘﻨﺔ ﻭﺍﻟﻄﻬﺮ ﻣﺸﻜﻮﻙ ﻓﻴﻪ ﻓﻤﻘﺘﻀﺎﻩ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺑﻪ ﻓﻤﻬﺎ

– ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺹ 199 :
ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻏﻴﺮ ﻣﺨﺘﻮﻥ ﻓﻬﻞ ﻳﻠﺰﻣﻪ ﻓﻲ ﻏﺴﻞ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﺠﻠﺪﺓ ﺍﻟﺘﻰ ﺗﻘﻄﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ ﺣﻜﺎﻫﻤﺎ ﺍﻟﻤﺘﻮﻟﻲ ﻭﺍﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻭﺁﺧﺮﻭﻥ ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﺻﺤﺤﻪ ﺍﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﻷﻥ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺠﻠﺪﺓ ﻣﺴﺘﺤﻘﺔ ﺍﻹﺯﺍﻟﺔ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻟﻮ ﺃﺯﺍﻟﻬﺎ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﻟﻢ ﻳﻀﻤﻦ ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺴﺘﺤﻘﺔ ﺍﻹﺯﺍﻟﺔ ﻓﻤﺎ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﻛﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻻ ﻳﺠﺐ ﻭﺑﻪ ﺟﺰﻡ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﻋﺎﺻﻢ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﻻﻧﻪ ﻳﺠﺐ ﻏﺴﻞ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺠﻠﺪﺓ ﻭﻻ ﻳﻜﻔﻲ ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﻓﻠﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻛﺎﻟﻤﻌﺪﻭﻣﺔ ﻟﻢ ﻳﺠﺐ ﻏﺴﻠﻬﺎ ﻓﺒﻘﻰ ﻣﺎ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﺑﺎﻃﻨﺎ

Wallahu a’lamu bisshowab..

S003 Hukum Shalat Jum’at Bagi Perempuan

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum. Mau nanya

  1. Untuk perempuan apakah boleh shalat jum’at di dua tanah suci, kalau boleh apakah masih perlu shalat dhuhur?
  2. Bolehkah shalat ashar dijama’ taqdim dengan shalat jum’at? Kolau boleh mohon sertakan dalilnya!

Jawaban :

  1. Shalat jum’at bagi wanita sudah cukup sebagai pengganti dari sholat dhuhur. Bahkan, bagi wanita yang sekiranya tidak menimbulkan fitnah (tidak cantik, tidak banyak aksi/gaya, tidak bersolek dan semacamnya) sebaiknya menghadiri shalat jum’at.

يَجُوْزُ لِمَنْ لاَ تَلْزَمُهُ الْجُمْعَةُ كَعَبْدٍ وَمُسَافِرٍ اَوْ اِمْرَاَةٍ يُصَلِّى الْجُمْعَةَ بَدَلاً عَنِ الظُّهْرِ وَيُجْزِئُهُ بَلْ هِيَ اَفْضَلٌ ِلاَنَّهَا فَرْضٌ ِلاَهْلِ الْكَمَالِ وَلاَ تَجُوْزُ اِعَادَتُهَا بَعْدُ حَيْثُ كَمُلَتْ شُرُوْطُهَا (بغية المسترشدين فى باب الصلاة الجمعة, ص 78-79 . و فى المهذب وموهبة ذى الفضل)

Diperkenankan bagi wanita yang tidak berkewajiban shalat jum’at seperti budak, musafir, dan wanita untuk melaksanakan shalat jum’at sebagai pengganti shalat dhuhur, bahkan melaksanakan shalat jum’at adalah lebih baik, karena merupakan kewajiban bagi mereka yang sudah sempurna memenuhi syarat dan tidak boleh diulangi dengan shalat dhuhur sesudahnya, sebab semua syarat-syaratnya sudah terpenuhi secara sempurna. (Bughyah al-Mustarsyidin bab shalat jum’at hal.78-79, al-Muhadzab, dan Mauhibah Dzi al-Fadhal). Wallahu a’lam.

Berdasarkan keterangan di atas, jika ada wanita ikut melaksanakan shalat jum’at, maka shalatnya sah dan tidak perlu shalat dzuhur setelahnya, karena shalat jum’at tersebut sudah menjadi pengganti dari shalat dhuhur. Namun, meskipun demikian, wanita tidak termasuk di antara orang-orang yang berstatus pengabsah shalat jum’at.

Lebih lanjut, kenapa umumnya wanita tidak melaksanakan shalat jum’at ? Karena ada sebuah Hadits: AL JUMU’ATU HAQQUN WAAJIBUN ‘ALAA KULLI MUSLIMIN FII JAMAA’ATIN ILLAA ARBA’ATAN MAMLUUKUN WA IMRA’ATUN WA SHABIYYUN WA MARIIDHUN. Artinya : “Shalat jum’at adalah hak yang wajib atas setiap orang Islam, kecuali empat : hamba sahaya (budak). wanita, anak-anak dan orang sakit”. (sumber: Bulughul Maram / Subulussalaam 2/57).

Dalam kitab Minhaajul Qawiim/Hawaasyi Madaniyyah 2/57 diterangkan : WA MAN SHAHHAT DHUHRUHUU MIMMAN LAA TALZAMUHUL JUMU’ATU SHAHHAT JUM’ATUHUU FAYATAKHAYYARU BAINA FI’IL MAA SYAA`A MINHUMAA LAAKINIL JUMU’ATU AFDHALU LI ANNHAA SHALAATU AHLIL KAMAAL. Artinya : “Orang yang sah melakukan shalat dhuhur dari orang yang tidak berkewajiban melakukan shalat Jumat, maka sah shalat jum’atnya. Dia boleh memilih dari keduanya (boleh shalat dhuhur, dan boleh pula shalat Jumat), namun yang lebih utama adalah shalat jum’at”.

Perempuan sholat jum’at hukumnya afdlal (lebih utama) dan setelahnya memang tidak perlu shalat dhuhur. Sumber: kitab Bughyah hal 76 : YAJUZU LIMAN LA TALZAMUHUL JUM ATI KA ABDIN WA MUSAFIR WA IMROATI AN YUSOLLIYAL JUM ATA BADALAN ANIL DUHRI WAYUJIUHU BAL HIYA AFDOLU LIANNAHA FARDU AHLIL KAMALI WALA TAJUZU IADA TUHA BA’DA HAISU KAMULAT SURUTUHA.

Berikut alasan wanita  tidak wajib melaksanakan shalat jum’at:

  • Berdasarkan dalil nash berupa hadits
  • Terjadi percampuran dengan laki-laki

الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا أربعة عبد مملوك أو امرأة أو صبي أو مريض

(2) رواه النسائي عن حفصة رضي الله عنها، ورواه أبو داود عن طارق بن شهاب بلفظ «الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا أربعة: عبد مملوك، أو امرأة، أو صبي، أو مريض» (نيل الأوطار:226/3.

“Shalat jum’at wajib bagi setiap orang islam secara berjamaah, kecuali bagi hamba sahaya (budak), wanita, anak kecil dan orang sakit” (HR. An-Nasaa-i dari Hafshah, Abu Daud dari Thaariq Bin Syihab Nail al-Authaar III/226).

ولا تجب علي المرأة لما روى جابر قال ” قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فعليه الجمعة الا على امرأة أو مسافر أو عبد أو مريض حديث جابر رواه أبو داود والبيهقي” ولانها تختلط بالرجال وذلك لا يجوز

Shalat jum’at tidak diwajibkan bagi wanita berdasarkan hadits riwayat sahabat Jabir ra, ia berkata “Rasulullah shallaalu alaihi wa sallam bersabda : ”Barang siapa iman kepada Allah dan hari akhir maka wajib baginya shalat jum’at kecuali bagi wanita, orang bepergian, hamba sahaya (budak) dan orang sakit” (HR. Abu Daud dan Baehaqi). Dan karena shalat jum’at bagi wanita akan mengakibatkan terjadi ikhtilath (percampuran) dengan kaum laki-laki. [ alMajmuu’ Syarh alMuhaddzab IV/484 ].

(الثالث) الذكورة فلا جمعة على امرأة لما روينا من الخبرين

  • Bagi orang perempuan, maka tidak diwajibkan shalat jum’at berdasarkan dua hadits di atas. [ Syarh alWajiiz 4/603 ].

Namun demikian, shalat jum’at bagi wanita sudah cukup sebagai pengganti dari shalat dhuhur, bahkan bagi wanita yang tidak menimbulkan fitnah (tidak cantik, tidak banyak aksi/gaya, tidak bersolek dan semacamnya) sebaiknya melaksanakan shalat jum’at.

2.  Shalat ashar dijama’ taqdim dengan shalat jum’at adalah bisa atau boleh dikerjakan. sebaliknya, kalau jama’ ta’khir maka titak bisa. Untuk musafir diperbolehkan men-jama’ shalat dhuhur dengan shalat ashar, baik jama’ taqdim maupun jama’ ta’khir. Termasuk boleh juga men-jama’ sholat jum’at dengan shalat ‘ashar. Hanya saja ketentuannya harus dilakukan dengan jama’ taqdim, tidak bisa jama ta’khir, sebab shalat jum’at tidak bisa dikerjakan di luar waktu shalat dhuhur. Wallahu a’lam.

albujairomi alaa alkhotib 5/242 :

وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ ) سَفَرَ قَصْرٍ ( أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ ) صَلَاتَيْ ( الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ ) تَقْدِيمًا وَتَأْخِيرًا ( وَ ) أَنْ يَجْمَعَ ( بَيْنَ ) صَلَاتَيْ ( الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ ) تَقْدِيمًا وَتَأْخِيرًا .

albujairomi alaa alkhotib 5/247 :

وَالْجُمُعَةُ كَالظُّهْرِ فِي جَمْعِ التَّقْدِيمِ ، وَالْأَفْضَلُ لِسَائِرِ وَقْتِ أُولَى تَأْخِيرٌ وَلِغَيْرِهِ تَقْدِيمٌ لِلِاتِّبَاعِ .

الشَّرْحُ  قَوْلُهُ : ( وَالْجُمُعَةُ كَالظُّهْرِ فِي جَمْعِ التَّقْدِيمِ ) أَيْ كَأَنْ دَخَلَ الْمُسَافِرُ قَرْيَةً بِطَرِيقِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الظُّهْرُ ، لَكِنْ لَوْ صَلَّى الْجُمُعَةَ مَعَهُمْ فَيَجُوزُ لَهُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ أَنْ يَجْمَعَ الْعَصْرَ مَعَهَا تَقْدِيمًا ا ط ف .  وَقَوْلُهُ : فِي جَمْعِ التَّقْدِيمِ أَيْ وَيَمْتَنِعُ جَمْعُهَا تَأْخِيرًا لِأَنَّهَا لَا يَتَأَتَّى تَأْخِيرُهَا عَنْ وَقْتِهَا كَمَا فِي شَرْحِ م ر

Masalah jama’ antara shalat jum’at dengan shalat ashar adalah permasalahan yang diperselisihkan hukumnya di antara ulama’:

  1. Menurut madzhab Syafi’I diperbolehkan men-jama’ shalat jum’at dengan shalat dhuhur, diqiyaskan dengan kebolehan menjama’ sholat dhuhur dan sholat ashar. namun yang diperbolehkan hanya jama’ taqdim (dikerjakan di waktu dhuhur) saja, dan tidak diperbolehkan jama’ ta’khir (dikerjakan di waktu ashar), karena sholat jum’at tidak boleh diakhirkan dengan dikerjakan di waktu ashar.
  2. Menurut madzhab Hanbali, men-jama’ shalat jum’at dengan shalat ashar itu tidak diperbolehkan dengan alasan bahwa tidak ada dalil yang menjelaskan tentang kebolehan men-jama’ shalat jum’at dan sholat ashar.

Wallahu a’lam.

Referensi :

  1. Hasyiyah At-Tarmasi (Mauhibatu Dzil Fadhl), Juz : 4  Hal : 135 (Madzhab Syafi’i)
  2. Hasyiyah Al-Bujairomi Alal Khotib, Juz : 2  Hal : 175 (Madzhab Syafi’i)
  3. Kasyaful Qona’ An Matnil Iqna’,  Juz : 2  Hal : 20- 21 (Madzhab Hanbali)
  4. Matholibu Ulin Nuha Fi Syarhi Ghoyatil Muntaha, Juz : 1  Hal : 755 (Madzhab Hanbali)

‘Ibarat :

Hasyiyah At-Tarmasi (Mauhibatu Dzil Fadhl), Juz : 4  Hal : 135

فصل : في الجمع بالسفر والمطر

ويجوز ) في السفر الذي يجوز فيه القصر ( الجمع بين العصرين ) أي ك الظهر والعصر

[حاشية اترمسي]

قوله : (أي : الظهر والعصر ) أي : والجمعة كالظهر في جمع التقديم, كأن يقيم ببلد الجمعة إقامة لا تمنع الترخيص فله أن يصلي الجمعة ثم العصر عقبها, وأما جمع التأخير فيمتنع لاستحالة تأخير الجمعة

Hasyiyah Al-Bujairomi Alal Khotib, Juz : 2  Hal : 175

ويجوز للمسافر) سفر قصر (أن يجمع بين) صلاتي (الظهر والعصر في وقت أيهما شاء) تقديما وتأخيرا (و) أن يجمع (بين) صلاتي (المغرب والعشاءفي وقت أيهما شاء) تقديما وتأخيرا. والجمعة كالظهر في جمع التقديم

[حاشية البجيرمي]

قوله: (والجمعة كالظهر في جمع التقديم) أي كأن دخل المسافر قرية بطريقه يوم الجمعة فالأفضل في حقه الظهر، لكن لو صلى الجمعة معهم فيجوز له في هذه الحالة أن يجمع العصر معها تقديما اط ف. وقوله: في جمع التقديم أي ويمتنع جمعها تأخيرا لأنها لا يتأتى تأخيرها عن وقتها كما في شرح م ر

Kasyaful Qona’ An Matnil Iqna’,  Juz : 2  Hal : 20- 21

 باب صلاة الجمعة) بتثليث الميم، حكاه ابن سيده والأصل الضم واشتقاقها من اجتماع الناس للصلاة وقيل: لجمعها الجماعات، وقيل: لجمع طين آدم فيها وقيل: لأن آدم جمع فيها خلقه رواه أحمد من حديث أبي هريرة وقيل: لأنه جمع مع حواء في الأرض فيها وفيه خبر مرفوع وقيل: لما جمع فيها من الخير قيل: أول من سماه يوم الجمعة كعب بن لؤي، واسمه القديم: يوم العروبة، وهو أفضل أيام الأسبوع (وهي صلاة مستقلة) ليست بدلا عن الظهر (لعدم انعقادها بنية الظهر ممن لا تجب) الجمعة (عليه) كالعبد والمسافر (ولجوازها) أي الجمعة (قبل الزوال) ولأنه (لا) يجوز أن تفعل (أكثر من ركعتين) لما يأتي عند قوله: والجمعة ركعتان. (ولا تجمع) مع العصر (في محل يبيح الجمع) بين الظهر والعصر، لعذر مما تقدم في الجمع

Matholibu Ulin Nuha Fi Syarhi Ghoyatil Muntaha, Juz : 1  Hal : 755

ولا تجمع) جمعة إلى عصر ولا غيرها (حيث أبيح الجمع) ، لعدم وروده

 

S002 Lewat di depan orang yang sedang sholat

PERTANYAAN :

Assalamualaikum wr wb.. ingin tanya,
Hukum lewat di depan sholat itu kan gak boleh / di larang keras.
Pertanyaannya bagaimana kalau seperti di masjidil haram makkah?

JAWABAN :

Seandainya orang yang sedang sholat memakai sutroh seperti sajadah misalnya maka haram melintasi di sekitar sajadah tersebut, dan ada pendapat dari imam Ghozali bahwa hal tersebut tidak haram akan tetapi makruh. Dan disunnahkan bagi orang yang sholat tersebut untuk menghadangnya dengan tangannya jika ada orang yang melintasinya. Namun ada beberapa hal yang dikecualikan akan keharamannya melintasi orang yang sedang sholat yaitu :

  1. Jika orang sholat di masjidil harom maka boleh bagi orang lain melintasinya. ( ini berlaku selama ia sholatnya di batasan yang diperbolehkannya thowaf).
  2. Jika ada seseorang yang sholat akan tetapi dia sholatnya di tempat yang orang biasa lalu lalang seperti dia sholat di depan pintu.
  3. Seandainya ada tempat yang kosong maka boleh bagi seseorang melintasi orang orang yang sedang sholat untuk mengisi tempat tersebut.
  4. Jika dia dalam keadaan terdesak seperti dia akan buang hajat ketika sholat sedangkan dia misalkan berada di shof atau barisan awal maka boleh baginya untuk melintasi orang orang untuk menunaikan hajatnya.

Boleh terpaksa lewat di depan orang shalat, bila darurat tidak ada jalan lain.

Referensi ;

– Taqrirot Sadidah :

التقريرات السديدة ج ١ ص ٢٥٠

إذا كانت السترة معتبرة فيحرم المرور و نقل الإمام النووي في مجموعه قولا عن الإمام الغزالي : أنه يكره المرور و لا يحرم و في هذا سعة لكثير من الناس و يندب للمصلي دفع المار

و يجوز المرور مع وجود السترة في أربع حالات :

١. إذا كان في حرم مكة في محل الطواف فقط

٢. إذا قصر المصلي بأن صلى في الطريق

٣. إذا وجد المصلى فرجة فيجوز له المرور لسد الفرجة

٤. إذا كان مضطرا بأن كان يريد قضاء الحاجة أثناء الصلاة

– AlMajmu’ :

المجموع شرح المهذب

( المسألة الثانية ) إذا صلى إلى سترة حرم على غيره المرور بينه وبين السترة ، ولا يحرم وراء السترة . وقال الغزالي ” يكره ولا يحرم ” والصحيح [ ص: 228 ] بل الصواب أنه حرام ، وبه قطع البغوي والمحققون ، واحتجوا بحديث أبي الجهيم الأنصاري الصحابي رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : { لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه ؟ لكان أن يقف أربعين خيرا له من أن يمر بين يديه } رواه البخاري ومسلم ، وفي رواية رويناها في كتاب الأربعين للحافظ عبد القادر الرهاوي : { لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه من الإثم }

– Fatkhul ‘Alam :

فتح العلام

واعتمد الأسنوي ما نقله الإمام عن الأئمة من جواز المرور حيث لا طريق غير ما بين المصلي وسترته كما في الكردي وبشرى الكريم

– AlHawasyi AlMadinah :

الحواشي المدنية

قال الأذرعي لا شك في حل المرور اذا لم يجد طريقا سواه عند ضرورة خوف نحو بول أو لعذر يقبل منه وكل ما رجحت مصلحته على مفسدة المرور فهو في معنى ذلك

•••••••••••○○○○○○○•••••••••••

LEWAT DI DEPAN ORANG YANG SEDANG SHOLAT ADA TIGA PENJELASAN :

Pertama,
Menurut pendapat yang shohih lewat didepan orang yang sedang sholat (maksutnya tempat antara tempat meletakkan kening ketika sujud dan kedua telapak kaki orang yang sedang sholat) baik sholat yang sedang dikerjakan adalah sholat fardhu atau sholat sunat, dan baik sholatnya sholat jama’ah atau sendirian, jika dilakukan oleh orang yang sudah mukallaf dengan sengaja bahkan menurut Al-Azizi hal tersebut masuk dalam kategori dosa besar. Ketentuan hukum ini berdasarkan hadits Nabi ;

لَوْ يَعْلَمُ المَارُّ بَيْنَ يَدَيِ المُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sholat mengetahui dosa yang akan dipikulnya maka ia lebih baik berdiri empat puluh hari daripada harus lewat di depannya”.(Shohih Bukhori, no.510 dan Shohih Muslim, no.507).

Dan diqiyaskan dengan lewat didepan orang sholat, duduk, menjulurkan kaki dan berbaring didepan orang yang sedang sholat. Begitu juga menjulurkan tangan untuk mengambil sesuatu didepan orang yang sedang sholat, karena hal tersebut bisa mengganggu orang yang sedang sholat.

Kedua,
Ketentuan hukum haromnya lewat didepan orang yang sedang sholat ini berlaku jika orang yang sedang sholat tersebut memakai”sutroh” (penghalang atau penanda) didepannya, hal ini dipahami dari anjuran untuk mencegah orang yang lewat didepan orang yang sedang sholat yang sudah memakai sutroh sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi ;

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ اَلنَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Apabila seseorang di antara kamu sholat dengan memasang batas yang membatasinya dari orang-orang lalu ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya, maka hendaklah ia mencegahnya. Bila tidak mau perangilah dia sebab dia sesungguhnya adalah setan”. (Shohih Bukhori, no.509 dan Shohih muslim, no.505)

Begitu juga keharoman lewat didepan orang yang sedang sholat ini masih berlaku jika sewaktu sholat ia memakai sutroh, lalu sutroh tersebut hilang, misalnya karena tertiup angin atau diambil orang dan orang yang lewat tersebut mengetahuinya.
Dari keterangan diatas bisa dipahami bahwa jika orang yang sedang sholat tidak memakai sutroh, maka tidak diharomkan lewat didepannya, namun hukumnya makruh sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi.

Ketiga,
Meskipun tidak ada tempat lainnya bagi seseorang selain lewat didepan orang yang sedang sholat tetap tidak diperkenankan untuk lewat didepan orang yang sedang sholat, sebagaimana diceritakan oleh Abu Sholih bin As-Samman dalam satu hadits ;

رَأَيْتُ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ يُصَلِّي إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ شَابٌّ مِنْ بَنِي أَبِي مُعَيْطٍ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَدَفَعَ أَبُو سَعِيدٍ فِي صَدْرِهِ، فَنَظَرَ الشَّابُّ فَلَمْ يَجِدْ مَسَاغًا إِلَّا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَعَادَ لِيَجْتَازَ، فَدَفَعَهُ أَبُو سَعِيدٍ أَشَدَّ مِنَ الأُولَى، فَنَالَ مِنْ أَبِي سَعِيدٍ، ثُمَّ دَخَلَ عَلَى مَرْوَانَ، فَشَكَا إِلَيْهِ مَا لَقِيَ مِنْ أَبِي سَعِيدٍ، وَدَخَلَ أَبُو سَعِيدٍ خَلْفَهُ عَلَى مَرْوَانَ، فَقَالَ: مَا لَكَ وَلِابْنِ أَخِيكَ يَا أَبَا سَعِيدٍ؟ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Pada hari jum’at aku melihat Abu Sa’id Al Khudri shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang-orang (yang lewat). Kemudian ada seorang pemuda dari Bani Abu Mu’aith hendak lewat di depannya. Maka Abu Sa’id menghalangi orang itu dengan menahan dadanya. Pemuda itu mencari jalan tapi tidak ada kecuali di depan Abu Sa’id. Maka pemuda itu mengulangi lagi untuk lewat. Abu Sa’id kembali menghadangnya dengan lebih keras dari yang pertama. Kemudian pemuda itu pergi meninggalkan Abu Sa’id dan menemui Marwan, ia lalu mengadukan peristiwa yang terjadai antara dirinya dengan Abu Sa’id. Setelah itu Abu Sa’id ikut menemui Marwan, Marwan pun berkata, “Apa yang kau lakukan terhadap anak saudaramu ini, wahai Abu Sa’id?” Abu Sa’id menjawab, “Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang, kemudian ada seseorang yang hendak lewat dihadapannya maka hendaklah dicegah. Jika dia tidak mau maka perangilah dia, karena dia adalah setan”. (Shohih Bukhori, no.509)

Sedangkan menurut Imam Haromain, Imam Ghozali, Imam Al-Isnawi dan beberapa ulama’ lainnya hukumnya dari kalangan madzhab Syafi’i boleh lewat didepan orang yang sedang sholat jika tak ada jalan lainnya. Dan ini juga merupakan pendapat tiga Imam Madzhab. Begitu juga diperbolehkan lewat jika memang terpaksa (dhorurot ) seperti jika takut akan kencing sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Adzro’i.

Ibarot :
Subulus Salam, Juz : 1 Hal : 213

والحديث دليل على تحريم المرور بين يدي المصلي؛ أي ما بين موضع جبهته في سجوده وقدميه، وقيل غير هذا، وهو عام في كل مصل، فرضا أو نفلا، سواء كان إماما أو منفردا، يختص بالإمام والمنفرد، إلا المأموم فإنه لا يضره من مر بين يديه؛ لأن سترة الإمام سترة له، إلا أنه قد رد هذا القول بأن السترة إنما ترفع الحرج عن المصلي لا عن المار، ثم ظاهر الوعيد يختص بالمار لا بمن وقف عامدا مثلا بين يدي المصلي، أو قعد أو رقد، ولكن إذا كانت العلة فيه التشويش على المصلي فهو في معنى المار

Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 3 Hal : 249

المسألة الثانية : إذا صلى الي سترة حرم علي غبره المرور بينه وبين السترة ولا يحرم وراء السترة وقال الغزالي يكره ولا يحرم والصحيح بل الصواب انه حرام وبه قطع التغوى والمحققون واحتجوا بحديث أبى الجهيم الانصاري الصاحبي رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ” لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه لكان أن يقف أربعين خيرا له من أن بمر بين يديه ” رواه البخاري ومسلم وفي رواية رويناها في كتاب الأربعين للحافظ عبد القادر الرهاوي ” لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه من الإثم ” وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إذا صلي احدكم إلى شئ يستره من الناس فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه فإن أبى فليقاتله فإنما هو شيطان ” رواه البخاري ومسلم –الى أن قال- أما إذا لم يكن بين يديه سترة لو كانت وتباعد عنها فوجهان أحدهما له الدفع لتقصير المار وأصحهما ليس له الدفع لتقصيره بترك السترة ولمفهوم قوله صلى الله عليه وسلم ” إذا صلى احدكم الي شئ يستره ” ولا يحرم في هذه الحالة المرور بين يديه ولكن يكره

فرع : إذا وجد الداخل فرجة في الصف الأول فله أن يمر بين يدي الصف الثاني ويقف فيها لتقصير أهل الصف الثاني بتركها

فرع : قال إمام الحرمين النهى عن المرور الامر بالدفع إنما هو إذا وجد المار سبيلا سواه فإن لم يجد وازدحم الناس فلا نهي عن المرور ولا يشرع الدفع وتابع الغزالي إمام الحرمين على هذا قال الرافعي وهو مشكل ففي صحيح البخاري خلافه وأكثر كتب الأصحاب ساكتة عن التقييد بما إذا وجد سواه سبيلا

قلت : الحديث الذي في صحيح البخاري عن أبي صالح السمان فال ” رأيت أبا سعيد الخدري رضي الله عنه في يوم جمعة يصلى الي شئ يستره من الناس فأراد شاب أن يجتاز بين يديه فدفع أبو سعيد في صدره فنظر الشاب فلم يجد مساغا إلا بين يديه فعاد ليجتاز فدفعه أبو سعيد أشد من الأول فنال من أبي سعيد ثم دخل على مروان فشكا إليه ما لقي من أبي سعيد ودخل أبو سعيد خلفه على مروان فقال مالك ولابن أخبك يا أبا سعيد قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول إذا صلى أحدكم إلى شئ يستره من الناس فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه فإن أبى فليقاتله فإنما هو شيطان ” رواه البخاري ومسلم

Hasyiyah Qulyubi Ala Syarhil Mahalli, Juz : 1 Hal : 219

والصحيح تحريم المرور حينئذ) أي حين سن الدفع قال – صلى الله عليه وسلم – «لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه لكان أن يقف أربعين خيرا له من أن يمر بين يديه» رواه الشيخان هو بعد حمله على المصلي إلى سترة محتمل للكراهة المقابلة للصحيح وظاهر في التحريم، ويدل عليه نصا رواية البخاري من الإثم بعد قوله عليه، ولو صلى من غير سترة أو تباعد عنها فليس له الدفع لتقصيره، ولا يحرم المرور بين يديه

[حاشية قليوبي]

قوله: (وتحريم المرور) أي على العامد العالم المكلف المعتقد للحرمة، وإن زالت السترة كما مر. ويحرم على الولي تمكين موليه غير المكلف من المرور. نعم إن قصر المصلي بوقوفه في محل المرور لم يحرم المرور ولا يسن الدفع. قوله: (أربعين) في رواية البزار «أربعين خريفا» أي عاما. قوله: (ظاهر في التحريم) أي من لفظ عليه، فقدم على الندب وعليه، فالدفع أخف لأنه كالتنبيه. قوله: (رواية البخاري) فيه رد على من قال كابن حجر، إن لفظة من الإثم لم توجد في رواية. قوله: (أو تباعد عنها) ومن التباعد مجاوزة أعلى المصلي، أو الخط على ثلاثة أذرع من موقف المصلي، وإن لم يكن طولهما ثلاثة أذرع. قوله: (إلى سترة) خرج المصلي على سترة، كالسجادة لأن الصلاة عليه لا إليه

Hasyiyah Asy-Syibromilsi Ala Nihayatul Muhtaj, Juz : 2 Hal : 54

والصحيح تحريم المرور) بينه وبين سترته حينئذ: أي عند سن دفعه، وهو في صلاة صحيحة في اعتقاد المصلي فيما يظهر فرضا كانت أو نفلا

………………………………………………….

قوله: والصحيح تحريم المرور) قال سم على حج: ويلحق بالمرور جلوسه بين يديه ومده رجليه واضطجاعه. اهـ بالمعنى. وقوله ومده رجليه ومثله مد يده ليأخذ من خزانته متاعا؛ لأنه يشغله وربما شوش عليه في صلاته

Hasyiyah Asy-Syarwani Ala Tuhfatul Muhtaj, Juz : 2 Hal : 159-160

قول المتن (تحريم المرور) أي على المكلف العالم م ر اهـ سم وفي البجيرمي عن العزيزي أنه من الكبائر أخذا من الحديث اهـ.

(قوله أي حين إذ سن له الدفع) أي وهو في صلاة صحيحة في اعتقاد المصلي فيما يظهر فرضا كانت أو نفلا شرح م ر اهـ سم (قوله وإن لم يجد المار سبيلا) نعم قد يضطر المار إلى المرور بحيث تلزمه المبادرة لأسباب لا يخفى كإنذار نحو مشرف على الهلاك تعين المرور لإنقاذه شرح م ر اهـ سم قال ع ش قوله م ر كإنذار نحو مشرف إلخ أو خطف نحو عمامته وتوقف إنقاذها من السارق على المرور فلا يحرم المرور بل يجب في إنقاذ نحو المشرف ويحرم على المصلي الدفع إن علم بحاله اهـ

وعبارة الكردي وفي الإيعاب قال الأذرعي ولا شك في حل المرور إذا لم يجد طريقا سواه عند ضرورة خوف نحو بول أو لعذر يقبل منه وكل ما رجحت مصلحته على مفسدة المرور فهو في معنى ذلك انتهى وما ذكره في الضرورة ظاهر بخلاف ما بعده على إطلاقه انتهى كلام الإيعاب ونقل الإمام عن الأئمة جواز المرور إن لم يجد طريقا واعتمده الإسنوي والعباب وغيرهما اهـ

Hasyiyah Al-Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1 Hal : 250-251

وحرم مرور) وإن لم يجد المار سبيلا آخر لخبر «لو يعلم المار بين يدي المصلي – أي: إلى السترة – ماذا عليه من الإثم لكان أن يقف أربعين خريفا خيرا له من أن يمر بين يديه» رواه الشيخان إلا من الإثم فالبخاري،، وإلا خريفا فالبزار، والتحريم مقيد بما إذا لم يقصر المصلي بصلاته في المكان، وإلا كأن وقف بقارعة الطريق فلا حرمة، بل ولا كراهة، كما قاله في الكفاية أخذا من كلامهم، وبما إذا لم يجد المار فرجة أمامه، وإلا فلا حرمة، بل له خرق الصفوف، والمرور بينها ليسد الفرجة، كما قاله في الروضة كأصلها، وفيها لو صلى بلا سترة، أو تباعد عنها، أي: أو لم تكن بالصفة المذكورة، فليس له الدفع لتقصيره، ولا يحرم المرور بين يديه لكن الأولى تركه فقوله في غيرها: ” لكن يكره ” محمول على الكراهة غير الشديدة

قوله: وحرم مرور) وهو من الكبائر، أخذا من الحديث اهـ عزيزي، وهو معطوف على قوله: فيسن إلخ فيكون مرتبا على الصلاة لنحو جدار فكان المناسب الإتيان بالمضارع، ويلحق بالمرور الجلوس بين يديه، ومد رجليه، واضطجاعه ع ش ولو أزيلت سترته حرم على من علم بها المرور، كما بحثه الأذرعي لعدم تقصيره، وقياسه أن من استتر بسترة يراها مقلده، ولا يراها مقلد المار، تحريم المرور ولو قيل باعتبار اعتقاد المصلي في جواز الدفع، وفي تحريم المرور باعتبار اعتقاد المار، لم يبعد وكذا إن لم يعلم مذهب المصلي ولو صلى بلا سترة فوضعها غيره اعتد بها –الى أن قال _ قوله: مقيد بما إذا لم يقصر المصلي إلخ) يؤخذ منه أنه لو لم يجد محلا يقف فيه إلا باب المسجد لكثرة المصلين كيوم الجمعة مثلا حرم المرور، وسن له الدفع وهو محتمل، ويحتمل عدم حرمة المرور لاستحقاقه المرور في ذلك المكان على أنه قد يقال بتقصير المصلي حيث لم يبادر للمسجد بحيث يتيسر له الجلوس في غير الممر وهذا أقرب.

(قوله: بقارعة الطريق) أي: أو شارع أو درب ضيق، أو باب نحو مسجد كالمحل الذي يغلب مرور الناس فيه وقت الصلاة ولو في المسجد كالمطاف قال شيخنا ع ش وليس منه ما جرت به العادة من الصلاة برواق ابن معمر بالجامع الأزهر، فإن هذا ليس محلا للمرور غالبا، نعم ينبغي أن يكون منه ما لو وقف في مقابلة الباب، اهـ. برماوي (قوله: وبما إذا لم يجد المار فرجة) ليس بقيد، بل المدار على السعة ولو بلا خلاء بأن يكون بحيث لو دخل بينهم لوسعوه، كما سيصرح به في شروط الاقتداء ح ل. (قوله: بل له خرق الصفوف) وإن تعددت وزادت على صفين بخلاف ما سيأتي في الجمعة من تخطي الرقاب، حيث يتقيد ذلك بصفين؛ لأن خرق الصفوف في حال القيام أسهل من التخطي؛ لأنه في حال القعود ح ل (قوله: ليسد الفرجة) وإن لزم عليه المرور بين يدي المصلين، وفيه تصريح بأنا لا نكتفي في السترة للمصلي بالصفوف ح ل وهو كذلك كما صرح به م ر. (قوله: وفيها إلخ) مراده بيان مفهوم قوله: وسن إلخ. (قوله: فليس له الدفع) أي: فيحرم عليه ذلك وإن تعذرت السترة بسائر أنواعها ز ي (قوله: ولا يحرم المرور) قال م ر في شرحه ولو استتر بسترة في مكان مغصوب لم يحرم المرور بينها وبينه، ولم يكره كما أفتى به الوالد اهـ. أي؛ لأنها لا قرار لها لوجوب إزالتها فهي كالعدم

Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 112

فائدة : يحرم المرور بين المصلي وسترته ، وإن لم يجد طريقاً ولو لضرورة كما في الإمداد والإيعاب ، لكن قال الأذرعي : ولا شك في حل المرور إذا لم يجد طريقاً سواء عند ضرورة خوف بول ، ككل مصلحة ترجحت على مفسدة المرور ، وقال الأئمة الثلاثة : يجوز إذا لم يجد طريقاً مطلقاً ، واعتمده الأسنوي والعباب وغيرهما اهـ كردي ، وبه يعلم جواز المرور لنحو الإمام عند ضيق الوقت أو إدراك جماعة اهـ باسودان. وقال في فتح الباري : وجواز الدفع وحرمة المرور عام ولو بمكة المشرفة ، واغتفر بعض الفقهاء ذلك للطائفين للضرورة عن بعض الحنابلة جوازه في جميع مكة اهـ

Wallahu a’lamu bisshowab..

S001 Hukum Mengetahui Gerakan Imam Hanya dengan Alat Dalam Shalat Berjama’ah

Oleh : KH Ach. Mustofa AB

Persoalan :

Bagaimana jika sholat berjamaah menggunakan LCD proyektor, TV dan semacamnya, Makmum tidak mengetahui gerakan imam secara langsung, hanya mengetahui dari layar alat-alat tersebut,

Apakah sholatnya sah? Lanjutkan Klik Di Sini