Arsip Kategori: Shalat

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Shalat.

S009. KEWAJIBAN QADHA’ SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Apakah ada dalilnya tentang kewajiban qodho’ sholat?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

مباحث قضاء الصلاة الفائتة حكمه

قضاء الصلاة المفروضة التي فاتت واجب على الفور سواء فاتت بعذر غير مسقط لها أو فاتت بغير عذر أصلا باتفاق ثلاثة من الأئمة ( الشافعية قالوا : إن كان التأخير بغير عذر وجب القضاء على الفور وإن كا…ن بعذر وجب على التراخي

BAHASAN QADHA SHALAT. Hukum mengqadha shalat fardhu menurut kesepakatan tiga madzhab (Hanafi, Maliki dan Hanbali) adalah wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin baik shalat yang ditinggalkan sebab adanya udzur (halangan) atau tidak. Sedangkan menurut Imam Syafi’i qadha shalat hukumnya wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin bila shalat yang ditinggalkan tanpa adanya udzur dan bila karena udzur, qadha shalatnya tidak diharuskan dilakukan sesegera mungkin. [ Al-Fiqh ‘alaa Madzaahiba l-Arba’ah I/755 ].

Hadits-hadits tentang qadha shalat

1). HR.Bukhori, Muslim dari Anas bin Malik ra.: “Siapa yang lupa (melaksanakan) suatu sholat atau tertidur dari (melaksanakan)nya, maka kifaratnya (tebusannya) adalah melakukannya jika dia ingat”. Ibnu Hajr Al-‘Asqalany dalam Al-Fath II:71 ketika menerangkan makna hadits ini berkata; ‘Kewajiban menggadha sholat atas orang yang sengaja meninggalkannya itu lebih utama. Karena hal itu termasuk sasaran Khitab (perintah) untuk melaksanakan sholat, dan dia harus melakukannya…’.

Yang dimaksud Ibnu Hajr ialah kalau perintah Rasulallah saw. bagi orang yang ketinggalan sholat karena lupa dan tertidur itu harus diqadha, apalagi untuk sholat yang disengaja ditinggalkan itu malah lebih utama/wajib untuk menggadhanya. Maka bagaimana dan darimana dalilnya orang bisa mengatakan bahwa sholat yang sengaja ditinggalkan itu tidak wajib/tidak sah untuk diqadha ?

Begitu juga hadits itu menunjukkan bahwa orang yang ketinggalan sholat karena lupa atau tertidur tidak berdosa hanya wajib menggantinya. Tetapi orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dia berdosa besar karena kesengajaannya meninggalkan sholat, sedangkan kewajiban qadha tetap berlaku baginya.

2). Rasulallah saw. setelah sholat Dhuhur tidak sempat sholat sunnah dua raka’at setelah dhuhur, beliau langsung membagi-bagikan harta, kemudian sampai dengar adzan sholat Ashar. Setelah sholat Ashar beliau saw. sholat dua rakaat ringan, sebagai ganti/qadha sholat dua rakaat setelah dhuhur tersebut. (HR.Bukhori, Muslim dari Ummu Salamah).

3). Rasulallah saw. bersabda: ‘Barangsiapa tertidur atau terlupa dari mengerjakan shalat witir maka lakukanlah jika ia ingat atau setelah ia terbangun’. (HR.Tirmidzi dan Abu Daud).(dikutip dari at-taj 1:539)

4). Rasulallah saw. bila terhalang dari shalat malam karena tidur atau sakit maka beliau saw. menggantikannya dengan shalat dua belas rakaat diwaktu siang. (HR. Muslim dan Nasa’i dari Aisyah ra).(dikutip dari at-taj 1:539)

Nah alau sholat sunnah muakkad setelah dhuhur, sholat witir dan sholat malam yang tidak dikerjakan pada waktunya itu diganti/diqadha oleh Rasulallah saw. pada waktu setelah sholat Ashar dan waktu-waktu lainnya, maka sholat fardhu yang sengaja ketinggalan itu lebih utama diganti dari- pada sholat-sholat sunnah ini.

5). HR Muslim dari Abu Qatadah, mengatakan bahwa ia teringat waktu safar pernah Rasulallah saw. ketiduran dan terbangun waktu matahari menyinari punggungnya. Kami terbangun dengan terkejut. Rasulallah saw. bersabda: Naiklah (ketunggangan masing-masing) dan kami menunggangi (tunggangan kami) dan kami berjalan. Ketika matahari telah meninggi, kami turun. Kemudian beliau saw. berwudu dan Bilal adzan utk melaksanakan sholat (shubuh yang ketinggalan). Rasulallah saw. melakukan sholat sunnah sebelum shubuh kemudian sholat shubuh setelah selesai beliau saw. menaiki tunggangannya.

Ada sementara yang berbisik pada temannya; ‘Apakah kifarat (tebusan) terhadap apa

yang kita lakukan dengan mengurangi kesempurnaan shalat kita (at-tafrith fi ash-sholah)? Kemudian Rasulallah saw. bersabda: ’Bukan kah aku sebagai teladan bagi kalian’?, dan selanjutnya beliau bersabda : ‘Sebetulnya jika karena tidur (atau lupa) berarti tidak ada tafrith (kelalaian atau kekurangan dalam pelaksanaan ibadah, maknanya juga tidak berdosa). Yang dinamakan kekurangan dalam pelaksanaan ibadah(tafrith) yaitu orang yang tidak melakukan (dengan sengaja) sholat sampai datang lagi waktu sholat lainnya….’. (Juga Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Imaran bin Husain dengan kata-kata yang mirip, begitu juga Imam Bukhori dari Imran bin Husain).

Hadits ini tidak lain berarti bahwa orang yang dinamakan lalai/meng- gampangkan sholat ialah bila meninggalkan sholat dengan sengaja dan dia berdosa, tapi bila karena tertidur atau lupa maka dia tidak berdosa, kedua-duanya wajib menggadha sholat yang ketinggalan tersebut. Dan dalam hadits ini tidak menyebutkan bahwa orang tidak boleh/haram menggadha sholat yang ketinggalan kecuali selain dari yang lupa atau tertidur, tapi hadits ini menyebutkan tidak ada kelalaian (berdosa) bagi orang yang meninggal- kan sholat karena tertidur atau lupa. Dengan demikian tidak ada dalam kalimat hadits larangan untuk menggadha sholat !

6). Jabir bin Abdullah ra.meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab ra. pernah datang pada hari (peperangan) Khandaq setelah matahari terbenam. Dia mencela orang kafir Quraisy, kemudian berkata; ‘Wahai Rasulallah, aku masih melakukan sholat Ashar hingga (ketika itu) matahari hampir terbenam’. Maka Rasulallah saw. menjawab : ‘Demi Allah aku tidak (belum) melakukan sholat Ashar itu’. Lalu kami berdiri (dan pergi) ke Bith-han. Beliau saw. Berwudu untuk (melaksanakan) sholat dan kami pun berwudu untuk melakukannya. Beliau saw. (melakukan) sholat Ashar setelah matahari terbenam. Kemudian setelah itu beliau saw. melaksanakan sholat Maghrib. (HR.Bukhori dalam Bab ‘orang yg melakukan sholat bersama orang lain secara berjama’ah setelah waktunya lewat’, Imam Muslim I ;438 hadits nr. 631, meriwayatkannya juga, didalam Al-Fath II:68,dan pada bab ‘meng- gadha sholat yang paling utama’ dalam Al-Fath Al-Barri II:72)

7). Begitu juga dalam kitab Fiqih empat madzhab atau Fiqih lima madzhab bab 25 sholat Qadha’ menulis: Para ulama sepakat (termasuk Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan lainnya) bahwa barangsiapa ketinggalan shalat fardhu maka ia wajib menggantinya/menggadhanya. Baik shalat itu ditinggal- kannya dengan sengaja, lupa, tidak tahu maupun karena ketiduran.

Memang terdapat perselisihan antara imam madzhab (Hanafi, Malik, Syafi’i dan lainnya), perselisihan antara mereka ini ialah apakah ada kewajiban qadha atas orang gila, pingsan dan orang mabuk.

8). Dalam kitab fiqih Sunnah Sayyid Sabiq (bahasa Indonesia) jilid 2 hal. 195 bab Menggadha Sholat diterangkan: Menurut madzhab jumhur termasuk disini Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’i mengatakan orang yang sengaja meninggalkan sholat itu berdosa dan ia tetap wajib meng-gadhanya.

Yang menolak pendapat qadha dan ijma’ ulama ialah Ibnu Hazm dan Ibn Taimiyyah, mereka ini membatalkan (tidak sah) untuk menggadha sholat !! Dalam buku ini diterangkan panjang lebar alasan dua imam ini.

(Tetapi alasan dua imam ini terbantah juga oleh hadits-hadits diatas dan ijma’ para ulama pakar termasuk disini Imam Hanafi, Malik, Syafi’I dan ulama pakar lainnya yang mewajibkan qadha atas sholat yang sengaja ditinggal- kan. Mereka ini juga bathil dari sudut dalil dan berlawanan dengan madzhab jumhur—pen.).

Kesimpulan :

Kalau kita baca hadits-hadits diatas semuanya masalah qadha sholat, dengan demikian buat kita insya Allah sudah jelas bahwa menggadha/meng-gantikan sholat yang ketinggalan baik secara disengaja maupun tidak disengaja menurut ijma’ ulama hukumnya wajib, sebagaimana yang diutarakan oleh ulama-ulama pakar yang telah diakui oleh ulama-ulama dunia yaitu Imam Hanafi, Imam Malik dan Imam Syafi’i.

Hanya perbedaan antara yang disengaja dan tidak disengaja ialah masalah dosanya jadi bukan masalah qadhanya. Semoga dengan adanya dalil-dalil yang cukup jelas ini bisa menjadikan manfaat bagi kita semua. Semoga kita semua tidak saling cela-mencela atau merasa pahamnya/anutannya yang paling benar.

Hadits mengqodlo sholat :

إن المشركين شغلوا رسول الله صلّى الله عليه وسلم عن أربع صلوات يوم الخندق، حتى ذهب من الليل ما شاء الله ، فأمر بلالاً فأذن، ثم أقام، فصلى الظهر، ثم أقام فصلى العصر، ثم أقام فصلى المغرب، ثم أقام فصلى العشاء» (2)

رواه الترمذي والنسائي وأحمد، قال الترمذي: ليس بإسناده بأس، إلا أن أبا عبيدة ( راويه عن أبيه عن ابن مسعود ) لم يسمع من أبيه. ورواه النسائي أيضاً عن أبي سعيد الخدري، ورواه البزار عن جابر ابن عبد الله ( نصب الراية: 2 /164- 166 ).

ومن شغلت ذمته بأي تكليف لا تبرأ إلا بتفريغها أداء أو قضاء، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «فدين الله أحق أن يقضى» (3) . فمن وجبت عليه الصلاة، وفاتته بفوات الوقت المخصص لها، لزمه قضاؤها (4) فهو آثم بتركها عمداً، والقضاء عليه واجب، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «إذا رقد أحدكم عن الصلاة، أو غفل عنها، فليصلها إذا ذكرها، فإن الله عز وجل يقول: {أقم الصلاة لذكري} [طه:14/20] (5) وللبخاري: «من نسي صلاة، فليصلها إذا ذكرها، لا كفارة لها إلا ذلك» ومجموع الحديث المتفق عليه بين البخاري ومسلم: «من نام عن صلاة أو نسيها، فليصلها إذا ذكرها» فمن فاتته الصلاة

لنوم أو نسيان قضاها، وبالأولى من فاتته عمداً بتقصير يجب عليه قضاؤها. وعليه: يجب القضاء بترك الصلاة عمداً أو لنوم أو لسهو، ولوشكاً. ولا يجب القضاء عند المالكية لجنون أو إغماء أو كفر، أو حيض أو نفاس، أو لفقد الطهورين. (3) رواه البخاري والنسائي عن ابن عباس. وهناك أحاديث أخرى في الحج في معناه (نيل الأوطار:285/4 وما بعدها). (4) الكتاب مع اللباب: 1 / 88، الشرح الصغير: 1 /364، مغني المحتاج: 1 /127، المهذب: 1 / 54، المجموع: 3 /72 وما بعدها، المغني: 2 /108، بداية المجتهد:175/1. (5) رواه مسلم عن أنس بن مالك (نيل الأوطار: 2 /25).

Wallaahu A’lamu Bisshowaab..

S008. MERUBAH NIAT DI PERTENGAHAN SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bolehkah merubah niat dari shalat sendiri ke makmum?
Contoh, ana sholat sendirian, ketika sudah dua rakaat, ada yang sholat berjamaah di depan, Boleh ikut imam itu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukum dasar dalam sholat, merubah niat di tengah-tengah sholat merupakan salah satu dari perkara-perkara yang membatalkan sholat. Namun hukum ini akan tidak berlaku dalam permasalahan ketika ada orang sholat fardlu sendirian kemudian ditengah-tengah sholatnya ia melihat ada jamaah dengan sholat yang sama, maka dia malah dianjurkan untuk merubah sholat fardlunya menjadi sholat sunnah mutlak.

Tata caranya:

1. Bila melihat jamaahnya diwaktu ia dalam keadaan belum berdiri menuju rokaat ketiga (bisa dirokaat pertama atau kedua), maka setelah sujud yang kedua dirokaat yang kedua ia langsung tasyahhud kemudian salam dan ikut sholat berjamaah.

Demikian ini bila untuk menyempurnakan dua rokaatnya tidak ada kekhawatiran akan tertinggal jamaah. Sehingga bila ia khawatir akan tertinggal, ia boleh membatalkan atau memutus sholatnya dan langsung ikut berjamaah sebagaimana keterangan imam An-Nawawi dalam kitab “Majmu” nya. Sedang menurut imam Al-Bulqini bila baru mendapatkan satu rokaat ia diperbolehkan melakukan tasyahhud dan salam, kemudian ikut berjamaah. Sehingga solusi yang diberikan oleh imam Al-Bulqini ini menunjukkan bahwa sholat sunnah mutlak boleh satu rokaat ketika keadaannya demikian.

Lalu seumpamanya di pertengahan sholat tapi sudah 3 rakaat apkah tetap bisa diubah menjadi niat sholat sunnat?
Contoh: saya sholat asar sendrian setelah sudah tiga rakaat ternyata ada orang yang bikin sholat berjamaah apakah sholat saya itu walaupun sdh smpai tiga rokaat boleh di ubah niat sholat sunnat mutlak?

Bila melihat jamaahnya dalam keadaan ia sudah berdiri dirokaat yang ketiga, maka disunnahkan untuk tetap menyempurnakan sampai selesai. Kemudian ikut berjamaah dalam rangka mengulangi sholat fardlunya. Namun bila ia khawatir ketika harus menyenpurnakan akan tertinggal jamaah, maka ia boleh membatalkan atau memutus sholatnya kemudian ikut berjamaah.

Untuk permasalahan yang kedua ini, ia diperbolehkan merubah sholatnya menjadi sunnah mutlak. Kemudian sholat fardlunya ikut jamaah. Sehingga cara ini sholat fardlu yang ia kerjakan bersama jamaah bukan dalam rangka mengulangi, sebab sholat yang awal telah ia rubah menjadi sholat sunnah mutlak.

CATATAN :

Merubah niat sholat fardlu menjadi sholat sunnah yang boleh hanyalah dirubah menjadi sholat sunnah mutlak saja, tidak boleh dirubah menjadi sholat sunnah mu’ayyan, misalnya; dirubah menjadi sholat sunnah Dluha dan semisalnya. Sebab malah akan menyebabkan batalnya sholat bila niatnya selain sholat sunnah mutlak.

Referensi :

– Hasyiyah Ianah Ath-Thalibin beserta Hamisynya Fathul Muin, juz.1 halaman.263-264 :

ﻭﻧﺪﺏ ﻟﻤﻨﻔﺮﺩ ﺭﺃﻯ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﺸﺮﻭﻋﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﻠﺐ ﻓﺮﺿﻪ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﻻ ﺍﻟﻔﺎﺋﺖ ﻧﻔﻼ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻳﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻘﻢ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ .

ﻧﻌﻢ ﺇﻥ ﺧﺸﻲ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺇﻥ ﺗﻤﻢ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺍﺳﺘﺤﺐ ﻟﻪ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﺳﺘﺌﻨﺎﻓﻬﺎ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ .

ﻭﺑﺤﺚ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﻠﻢ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺔ ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺃﺗﻤﻬﺎ ﻧﺪﺑﺎ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺨﺶ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ .

(قوله أما إذا قام لثالثة الخ …. ) محترز إذا لم يقم لثالثة . (قوله أتمها ندبا) فلو خالف وقلبها نفلا وسلم لم يندب ولكنه يجوز كما مر . (قوله إن لم يخش فوت الجماعة) فإن خشي فوتها قطعها واستأنفها مع الجماعة

– Al Iqna’ li Zirbiniy, juz.1 halaman.151 (Maktabah Syameela) :

( ﻭ ) ﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺱ ( ﺗَﻐْﻴِﻴﺮ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ) ﺇِﻟَﻰ ﻏﻴﺮ ﺍﻟْﻤَﻨﻮِﻱ ﻓَﻠَﻮ ﻗﻠﺐ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻫُﻮَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺻَﻠَﺎﺓ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻋَﺎﻟﻤﺎ ﻋَﺎﻣِﺪًﺍ ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻭَﻟَﻮ ﻋﻘﺐ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ﺑِﻠَﻔْﻆ ﺇِﻥ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪ ﺃَﻭ ﻧَﻮَﺍﻫَﺎ ﻭَﻗﺼﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﺘَّﺒَﺮُّﻙ ﺃَﻭ ﺃَﻥ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞ ﻭَﺍﻗﻊ ﺑِﺎﻟْﻤَﺸِﻴﺌَﺔِ ﻟﻢ ﻳﻀﺮ ﺃَﻭ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴﻖ ﺃَﻭ ﻃﻠﻖ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻟﻠﻤﻨﺎﻓﺎﺓ ﻭَﻟَﻮ ﻗﻠﺐ ﻓﺮﺿﺎ ﻧﻔﻼ ﻣُﻄﻠﻘًﺎ ﻟﻴﺪﺭﻙ ﺟﻤَﺎﻋَﺔ ﻣَﺸْﺮُﻭﻋَﺔ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﻨْﻔَﺮﺩ ﻭَﻟﻢ ﻳﻌﻴﻦ ﻓَﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻟﻴﺪﺭﻛﻬﺎ ﺻَﺢَّ ﺫَﻟِﻚ

ﺃﻣﺎ ﻟَﻮ ﻗَﻠﺒﻬَﺎ ﻧﻔﻼ ﻣﻌﻴﻨﺎ ﻛﺮﻛﻌﺘﻲ ﺍﻟﻀُّﺤَﻰ ﻓَﻠَﺎ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻻﻓﺘﻘﺎﺭﻩ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻌْﻴِﻴﻦ ﺃﻣﺎ ﺇِﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﺸﺮﻉ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟﻈّﻬْﺮ ﻓَﻮﺟﺪَ ﻣﻦ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮ ﻓَﻠَﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟْﻘﻄﻊ ﻛَﻤَﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺠْﻤُﻮﻉ.

…………………………………………………………………….

هل يجوز تغيير النية أثناء الصلاة؟

الجواب:
1 – كل عمل لا بد له من نية، ولا يجوز تغيير النية من معين لمعين كتغيير نية العصر إلى الظهر، ولا يجوز أيضا من مطلق لمعين كمن يصلي نافلة ثم ينوي بها الفجر، ولكن يجوز تغير النية من معين لمطلق، كمن يصلي فريضة منفردا ثم يحولها لنافلة لحضور جماعة مثلا.

2 – يجوز للمصلي أن يغير نيته وهو في الصلاة من مأموم أو منفرد إلى إمام، أو من مأموم إلى منفرد، أو من نية فرض إلى نفل لا العكس.

3 – إذا قطع المصلي النية أثناء الصلاة بطلت صلاته ووجب عليه الابتداء من أولها.

…………………………………………………………………

قال المصنف – رحمه الله تعالى – ( ولا تصح الجماعة حتى ينوي المأموم الجماعة ; لأنه يريد أن يتبع غيره فلا بد من نية الاتباع ، فإن رأى رجلين يصليان على الانفراد فنوى الائتمام بهما لم تصح صلاته ; لأنه لا يمكنه أن يقتدي بهما في وقت واحد ، وإن نوى الاقتداء بأحدهما بغير عينه لم تصح صلاته .

لأنه إذا لم يعين لا يمكنه الاقتداء ، وإن كان أحدهما يصلي بالآخر فنوى الاقتداء بالمأموم لم تصح صلاته ; لأنه تابع لغيره فلا يجوز أن يتبعه غيره ، وإن صلى رجلان فنوى كل واحد منهما أنه هو الإمام لم تبطل صلاته ; لأن كل واحد منهما يصلي لنفسه ، ، وإن نوى كل واحد منهما أنه مؤتم بالآخر لم تصح صلاته ; لأن كل واحد منهما ائتم بمن ليس بإمام ) .

الحاشية رقم: 1( الشرح ) اتفق نص الشافعي والأصحاب على أنه يشترط لصحة الجماعة أن ينوي المأموم الجماعة والاقتداء والائتمام ، قالوا : وتكون هذه النية مقرونة بتكبيرة الإحرام كسائر ما ينويه ، فإن لم ينو في الابتداء ، وأحرم منفردا ثم نوى الاقتداء في أثناء صلاته ففيه خلاف ذكره المصنف بعد هذا ، وإذا ترك نية الاقتداء والانفراد وأحرم مطلقا انعقدت صلاته منفردا ، فإن [ ص: 96 ] تابع الإمام في أفعاله من غير تجديد نية فوجهان : حكاهما القاضي حسين في تعليقه والمتوليوآخرون ( أصحهما ) وأشهرهما : تبطل صلاته ; لأنه ارتبط بمن ليس بإمام له فأشبه الارتباط بغير المصلي ، وبهذا قطع البغويوآخرون .

( والثاني ) : لا تبطل ; لأنه أتى بالأركان على وجهها ، وبهذا قطع الأكثرون ، فإن قلنا : لا تبطل صلاته كان منفردا ، ولا يحصل له فضيلة الجماعة بلا خلاف ، صرح به المتولي وغيره .

وإن قلنا : تبطل صلاته فإنما تبطل إذا انتظر ركوعه وسجوده وغيرهما ليركع ويسجد معه وطال انتظاره ، فأما إذا اتفق انقضاء فعله مع انقضاء فعله أو انتظره يسيرا جدا فلا تبطل بلا خلاف ، ولو شك في أثناء صلاته في نية الاقتداء لم تجز له متابعته إلا أن ينوي الآن المتابعة ، وحيث قلنا بجواز الاقتداء في أثناء الصلاة ; لأن الأصل عدم النية ، فإن تذكر أنه كان نوى قال القاضي حسين والمتولي وغيرهما : حكمه حكم من شك في نية أصل الصلاة فإن تذكر قبل أن يفعل فعلا على خلاف متابعة الإمام ، وهو شاك لم يضره .

وإن تذكر بعد أن فعل فعلا على متابعته في الشك بطلت صلاته إذا قلنا بالأصح : إن المنفرد تبطل صلاته بالمتابعة ; لأنه في حال شكه له حكم المنفرد ، وليس له المتابعة حتى قال أصحابنا : لو عرض له هذا الشك في التشهد الأخير لا يجوز أن يقف سلامه على سلام الإمام .

أما إذا اقتدى بإمام فسلم من صلاته ثم شك هل كان نوى الاقتداء ؟ فلا شيء عليه ، وصلاته ماضية على الصحة هذا هو المذهب ، وذكر القاضي حسين في تعليقه أن فيه الخلاف السابق فيمن شك بعد فراغه من الصلاة ، هل ترك ركنا من صلاته أم لا ؟ وهذا ضعيف ، والله أعلم .

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=14&ID=2255

Wallahu a’lamu bisshowab..

S007. MENGGABUNGKAN DUA NIAT DALAM SATU SHALAT

PERTANYAAN :

Assalaamualaikum ustadz.

Bolehkah dalam satu sholat diniatin dua? Contohnya seperti sholat sunnah QOBLIYAH dan TAHIYATAL MASJID mohon jawabnnya ustadz.. mksh..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya boleh.

ﺍﻟﻘﺎﻋﺪﺓ ﺍﻟﺘﺎﺳﻌﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺃﻣﺮﺍﻥ ﻣﻦ ﺟﻨﺲﻭﺍﺣﺪ ، ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻣﻘﺼﻮﺩﻫﻤﺎ ، ﺩﺧﻞ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﻏﺎﻟﺒﺎ

Qaidah ke sembilan : apabila dua perkara yang sejenis dan maksud (tujuannya) tidak berbeda berkumpul jadi satu maka secara umum salah satunya masuk kepada yang lain .

ﻓﻤﻦ ﻓﺮﻭﻉ ﺫﻟﻚ

di antara yang masuk dalam qaidah ini adalah :

ﻭﻟﻮ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﺩﺧﻠﺖ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺘﺤﻴﺔ ، ﻭﻟﻮﺩﺧﻞ ﺍﻟﺤﺮﻡ ﻣﺤﺮﻣﺎ ، ﺑﺤﺞ ﻓﺮﺽ ﺃﻭ ﻋﻤﺮﺓ . ﺩﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡﻟﺪﺧﻮﻝ ﻣﻜﺔ . ﻭﻟﻮ ﻃﺎﻑ ﺍﻟﻘﺎﺩﻡ ﻋﻦ ﻓﺮﺽ ﺃﻭ ﻧﺬﺭ ، ﺩﺧﻞ ﻓﻴﻪﻃﻮﺍﻑ ﺍﻟﻘﺪﻭﻡ ، ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻃﺎﻑ ﻟﻺﻓﺎﺿﺔ ﻻ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪﻃﻮﺍﻑ ﺍﻟﻮﺩﺍﻉ ﻷﻥ ﻛﻼ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻣﻘﺼﻮﺩ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ، ﻭﻣﻘﺼﻮﺩﻫﻤﺎﻣﺨﺘﻠﻒ ﻭﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻮ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ، ﻓﻮﺟﺪﻫﻢﻳﺼﻠﻮﻥ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻓﺼﻼﻫﺎ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﺼﻞ ﻟﻪ ﺗﺤﻴﺔ ﺍﻟﺒﻴﺖ ،ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻄﻮﺍﻑ ، ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺟﻨﺲ ﺍﻟﺼﻼﺓ

▪Bila ada orang masuk masjid untuk sholat fardlu (atau sholat yang lain : pent) maka sholat tahiyyatul masjid sudah otomatis masuk (dengan syarat tertentu)

▪Bila ada orang masuk kota Makkah dalam keadaan ihrom untuk haji ataupun umroh maka kesunahan ihrom karena masuk kota Makkah sudah otomatis masuk .

▪Bila ada orang datang ke Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf fardlu haji atau nadzar maka thowaf qudum (thowaf karena masuk Masjidil Haram) otomatis masuk ,

lain halnya ketika melakukan thowaf ifadloh maka thowaf wada’ tidak masuk karena tujuannya dan maksudnya beda. sama juga ketika orang masuk Masjidil Haram disana sedang ada orang berjama’ah kemudian dia ikut makmum dibelakangnya, maka dia mendapat fadhilah jama’ah tapi belum mendapat kesunahan ibadah ketika masuk Masjidil Haram (tahiyyatul bait) karena tahiyyatul bait bukan sholat melainkan thowaf.

[ Asybah wannadho-ir 126 maktabah dar el-kutub el-‘ilmiyyah ].

BOLEH JUGA MENGGABUNGKAN DUA NIAT QOBLIYAH DAN BA’DIYAH :

Ini contoh niat sholat sunnah qobliyah dzuhur 4 rokaat digabung dengan sholat sunnah ba’diyahnya 4 rokaat juga. Tapi jikalau ingin mengerjakan yang muakkadahnya saja (2 rokaat qobliyah dan 2 rokaat ba’diyah ), tinggal diganti saja kata kata :

ثمان ركعات

Dengan :

أربع ركعات

Selainnya sama
Jadi niatnya seperti ini :

نويت أصلي ثمان ركعات سنة الظهر القبلية و البعدية

Apakah Talafudz nya boleh tidak diikutkan ? Boleh karena sejatinya niat adalah menyengaja melakukan sesuatu sekira pekerjaan yang ia lakukan adalah murni dari pilihannya sendiri. Wallohu A’lam.

Ibarot :

حاشية البيجوري ج ١ ص ٢٥٦

و له أيضا جمع القبلية و البعدية معا بإحرام واحد بعد الفرض بأن يقول نويت أصلي ثمان ركعات سنة الظهر القبلية و البعدية و الله أعلم

فتاوي الرملي ج. ١ ص. ٢١٢

(سئل) عما لو أخر سنة المغرب التي قبلها ثم أراد صلاتها مع التي بعدها بتسليمة واحدة هل تصح؟

(فأجاب) بأنه تصحان بتسليمة واحدة ناويا القبلية والبعدية

الغرر البهية ج. ١ ص. ٣٩٢

(قوله: في سنة الظهر والعصر) فيجوز جمع الأربع القبلية المؤكدة، وغيرها وجمع الثمان القبلية، والبعدية المؤكدة، وغيرها، وجمع الأربع القبلية والبعدية المؤكدة، ولا يجوز جمع سنة الظهر مع سنة العصر ولو في جمع التقديم، أو التأخير لاختلاف النوع. ا. هـ ع ش

الغرر البهية في شرح منظومة الفرائد البهية ص. ١٥

وقال الغزالي في فتاويه ؛ أمر النية سهل في العبادات، وإنما يتعسر بسبب الجهل بحقيقة النية أو الوسوسة، فحقيقة النية القصد الى الفعل. وذلك مما يصير به الفعل اختيارا كالهوي إلى السجود فإنه يكون تارة بقصده وتارة يكون بسقوط الإنسان على وجهه بصدمة.

Wallahu a’lamu bisshowab..

S006. MAKMUM MASBUQ UNTUK SHALAT JANAZAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Makmum yang bisa dikatakan ikut pada imam adalah ketika bisa mengikuti imam paling akhir yaitu ikut rukuknya (Sekedar bacaan dalam rukuk) Dalam kitab2 fikih banyak penjelasan nya tapi untuk sholat janazah, sampai dimana batasan makmum dikatakan ikut pada imam?
Apa takbir yang pertama?
Atau takbir yang kedua?
Atau yang penting bisa ikut takbir imam walaupun yang terakhir?

Nyo’onah jawabannya ustadz..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Ketentuan bagi makmum sholat jenazah sebagai berikut :

– MAKMUM MUWAFIQ

Makmum muwafiq ketika mengundur-undur takbir pertama dalam mengikuti imam tanpa adaya udzur sehingga imam takbir yang kedua maka batal shalatnya, karenaa meninggalkan takbir sama halnya meninggalkan 1 roka’at pada selain shalat jenazah.

– MAKMUM MASBUQ

Adapun makmum masbuq maka ia langsung takbir dan membaca al fatihah walaupun imam dalam shalat mayit sedang membaca shalwat kepada nabi (takbir kedua) atau membaca do’a, hal ini makmum masbuq agar memperhtikan urutan shalatnya sendiri, kemudian jika imam takbir selanjutnya sebelum makmum masbuq tersebut membaca al fatihah maka gugur bacaan al fatihahya, hal ini seperti imam rukuk dalam Selain shalat jenazah maka makmum masbuq langsung ruku dan tidak membaca al fatihah, kemudian jika imam takbir selanjutnya sedangkan makmum masbuq sedang membaca al fatihah maka ia harus meninggalkan bacaan al fatihahnya dan mengikuti imam, hal ini menurut madzhab untuk menjaga dalam mgikuti imam.

Kemudian setelah imam salam maka makmum masbuq menyempurnakan shalat jenazahya dengan takbir-takbir pada shalat jenazah dan dzikir-dzikirya yang tertinggal. Disunahkan untuk tidak mengangkat jenazah sehingga semua shalat makmumnya selesai dan tidak membahayakan mengangkat jenazah sblum semua makmum shalat jenazah selesai. [ Lihat kifayatul akhyar 1/168 ].

– ibaroh dari kitab Roudhotut Tholibin :

ﻓﺮﻉﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕ ﺇﺫﺍ ﺃﺩﺭﻙ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻛﺒﺮ ﻭﻟﻢﻳﻨﺘﻈﺮ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺒﻠﺔ ، ﺛﻢ ﻳﺸﺘﻐﻞ ﻋﻘﺐ ﺗﻜﺒﻴﺮﻩﺑﺎﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ، ﺛﻢ ﻳﺮﺍﻋﻲ ﻓﻲ ﺍﻷﺫﻛﺎﺭ ﺗﺮﺗﻴﺐ ﻧﻔﺴﻪ ، ﻓﻠﻮ ﻛﺒﺮﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕ ، ﻓﻜﺒﺮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻣﻊ ﻓﺮﺍﻏﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﻭﻟﻰ ، ﻛﺒﺮ ﻣﻊﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ، ﻭﺳﻘﻄﺖ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ، ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﺭﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺳﺎﺋﺮﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻋﻘﺐ ﺗﻜﺒﻴﺮﻩ . ﻭﻟﻮ ﻛﺒﺮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻭﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻝﻓﺎﺗﺤﺔ ، ﻓﻬﻞ ﻳﻘﻄﻊ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﻳﻮﺍﻓﻘﻪ ، ﺃﻡ ﻳﺘﻤﻬﺎ ؟ﻭﺟﻬﺎﻥ ﻛﺎﻟﻮﺟﻬﻴﻦ ﻓﻴﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﺭﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ، ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻷﻛﺜﺮﻳﻦ : ﻳﻘﻄﻊ ﻭﻳﺘﺎﺑﻌﻪ . ﻭﻋﻠﻰﻫﺬﺍ ، ﻫﻞ ﻳﺘﻢ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺓ ﻷﻧﻪ ﻣﺤﻞ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺨﻼﻑﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ، ﺃﻡ ﻻ ﻳﺘﻢ ؟ ﻓﻴﻪ ﺍﺣﺘﻤﺎﻻﻥ ﻟﺼﺎﺣﺐ ) ﺍﻟﺸﺎﻣﻞ ( .ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ : ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ . ﻭﻣﻦ ﻓﺎﺗﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺍﺕ ، ﺗﺪﺍﺭﻛﻬﺎ ﺑﻌﺪﺳﻼﻡ ﺍﻹﻣﺎﻡ ، ﻭﻫﻞ ﻳﻘﺘﺼﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺍﺕ ﻧﺴﻘﺎ ﺑﻼ ﺫﻛﺮ ، ﺃﻡﻳﺄﺗﻲ ﺑﺎﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ؟ ﻗﻮﻻﻥ . ﺃﻇﻬﺮﻫﻤﺎ : ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ .ﻗﻠﺖ : ﺍﻟﻘﻮﻻﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﻭﻋﺪﻣﻪ ، ﺻﺮﺡ ﺑﻪ ﺻﺎﺣﺐ) ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ( ﻭﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ – . ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺮﻓﻊ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ، ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻢ ﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻗﻮﻥ ﻣﺎﻋﻠﻴﻬﻢ ، ﻓﻠﻮ ﺭﻓﻌﺖ ، ﻟﻢ ﺗﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻬﻢ ﻭﺇﻥ ﺣﻮﻟﺖ ﻋﻦﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ، ﺑﺨﻼﻑ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﻋﻘﺪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻻ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﻓﻴﻪ ﺫﻟﻚﻭﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺣﺎﺿﺮﺓ

ﻓﺮﻉﻟﻮ ﺗﺨﻠﻒ ﺍﻟﻤﻘﺘﺪﻱ ﻓﻠﻢ ﻳﻜﺒﺮ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺣﺘﻰﻛﺒﺮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺒﻠﺔ ﻣﻦ ﻍﻳﺮ ﻋﺬﺭ ، ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻼﺗﻪﻛﺘﺨﻠﻔﻪ ﺑﺮﻛﻌﺔ

ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻭﻋﻤﺪﺓ ﺍﻟﻤﻔﺘﻴﻦ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺹ: [ 128 ﺍﻟﻤﻜﺘﺐ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲﺳﻨﺔ ﺍﻟﻨﺸﺮ1412 :ﻫـ 1991 /ﻡ

Makmum yang terlambat datang dalam berjamaah shalat jenazah, juga disebut makmum masbuq seperti shalat jamaah lainnya. Takbir dalam shalat jenazah sama dengan rakaat dalam shalat yang lain. Dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa adillatuh; 2/1525-1526 (Maktabah Syamilah) disebutkan bahwa, para ulama sepakat bahwa makmum masbuq shalat jenazah hendaknya mengikuti imam dalam rukun yang ia temui, lalu setelah imam salam, ia menyempurnakan rukun yang belum ia lakukan hingga salam.

Madzhab Syafi’i, memberikan perincian bahwa makmum masbuq shalat jenazah hendaknya takbiratul ihram lalu membaca fatihah, meskipun pada saat itu imam sudah melakukan takbir selain takbir pertama (takbirotul ihrom). Kemudian, jika imam takbir lagi, sebelum makmum menyelesaikan bacaan fatihah atau bahkan tidak mempunyai kesempatan membaca fatihah, maka si makmum hendaknya ikut takbir, dan bacaan fatihahnya gugur. Jika imam salam, si makmum meneruskan rukun-rukun shalat jenazah yang selanjutnya, hingga salam.

Menurut madzhab Hanafi dan Maliki, makmum masbuq langsung takbiratul ihram, lalu menanti imam melakukan takbir, kemudian takbir bersamanya dan membaca bacaan sesuai dengan apa yang dibaca imam. Setelah imam salam, si makmum menyempurnakan takbir secara langsung tanpa doa kemudian salam. Jika si makmum datang, sementara imam sudah melakukan takbir ke-4, maka ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berjamaah shalat jenazah.

Menurut Hanabilah, masbuq langsung takbir dan menyempurnakan takbir yang tertinggal hingga sama dengan jumlah takbir imam, tidak harus menyempurnakan takbir setelah imam salam.

Referensi:

الفقه الإسلامي وأدلته ج 2 ص 1525-1526

اتفق الفقهاء على أن المسبوق يتابع الإمام فيما لحقه، ويتم ما فاته، ولكن لهم تفصيلات في كيفية الإتمام (1). فقال الحنفية: المسبوق ببعض التكبيرات يكبر للتحريمة ثم لا يكبر في الحال، بل ينتظر تكبير الإمام ليكبر معه للافتتاح؛ لأن كل تكبيرة ركعة، كما سبق، ثم يكبر ما فاته كالمدرك الحاضر، بعد فراغ الإمام، تكبيراً متتابعاً، بلا دعاء إن خشي رفع الميت على الأعناق. أما لو جاء المسبوق بعد تكبيرة الإمام الرابعة فقد فاتته الصلاة، لتعذر الدخول في تكبيرة الإمام. وكذلك قال المالكية: يكبر المسبوق للتحريمة، ثم يصبر وجوباً إلى أن يكبر الإمام، فإن كبر صحت صلاته، ولا يعتد بها عند أكثر المشايخ، ثم يدعو المسبوق بعذ فراغ الإمام إن تركت الجنازة، وإلا بأن رفعت والى التكبير بلا دعاء وسلم. فالمالكية كالحنفية تماماً. وقال الشافعية: يكبر المسبوق ويقرأ الفاتحة، وإن كان الإمام في تكبيرة أخرى غير الأولى، فإن كبر الإمام تكبيرة أخرى قبل شروع المأموم في الفاتحة بأن كبر عقب تكبيره، كبر معه، وسقطت القراءة، وتابعه في الأصح، كما لو ركع الإمام عقب تكبير المسبوق، فإنه يركع معه، ويتحملها عنه. وإذا سلم الإمام وجب على المسبوق تدارك باقي التكبيرات بأذكارها. وقال الحنابلة: من فاته شيء من التكبير قضاه متتابعاً، فإن سلم مع الإمام ولم يقض، فلا بأس وصحت صلاته، أي أن المسبوق بتكبير الصلاة في الجنازة يسن له قضاء ما فاته منها على صفته، عملاً بقول ابن عمر: إنه لا يقضي. ولما روي عن عائشة أنها قالت: «يا رسول الله، إني أصلي على الجنازة، ويخفى علي بعض التكبير؟ قال: ما سمعت فكبري، وما فاتك فلا قضاء عليك» (1). فإن خشي المسبوق رفع الجنازة، تابع بين التكبير من غير قراءة ولا صلاة على النبي صلّى الله عليه وسلم ولا دعاء للميت، سواء رفعت الجنازة أم لا. ومتى رفعت الجنازة بعد الصلاة عليها لم توضع لأحد يريد أن يصلي عليها، تحقيقاً للمبادرة إلى مواراة الميت، أي يكره ذلك.

Wallahu a’lamu bisshowab..

S004 Anak kecil belum disunnat memegang orang yang sedang sholat

PERTANYAAN :

Assalamualaikun ustadz…

bagaimana hukumnya kalau ada orang sholat kemudian di pegang anak kecil yang belum disunnat?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Kalau cuman dipegang tidak masalah. Yangg batal apabila anak kecil tersebut digendong karena anak yang belum disunnat di quflahnya mengandung najis.

Sebenarnya dalam mas’alah Qulfah terjaadi hilaf. Menurut qaul ashohQulfah dihukumi sebagai anggota dhohir sehingga wajib disucikan. Dan menurut muqobilnya Qulfah dihukumi sebagai anggota batin sehingga tidak wajib disucikan. Dengan demikian berpijak pada dua qaul ini sholat orang tersebut dihukumi sah. Sebab meskipun berpijak pada qaul yang mengatakan anggota dlohir, kalau hanya bersentuhan atau menempel pada sesuatu (bayi) yang membawa najis tidak sampai membatalkan solat.

Catatan : Berpijak pada qaul ashoh, yang dapat membatalkan sholat dalam mas’alah ini adalah menggendong, mengikat, memegang merangkul, dan memangku anak kecil tersebut.

.قرة العين بفتاوى إسماعيل الزين ص 55

سؤال: ما قولكم فيمن يصلى فاعتنقه صبي لم يختتن وتعلق به ومعلوم أن ذلك الصبى لا بد من أن يحمل نجاسة في فرجه فهل صلاته مع ذلك صحيحة أم لا؟

الجواب: إذا كان معلوما أن الصبي المذكور يحمل نجاسة ظاهرة في جلدة قلفة الختان أو في ظاهر فرجه مثلا فصلاة من يحمله باطلة وإن لم يكن معلوما ولا مظنونا ظنا غالبا فصلاة من يحمله صحيحة عملا بأصل الطهارة(1). (1) أما مجرد مماسة لباس الصبي وتعلقه بالمصلي دون أن يحمله فلا تبطل به الصلاة وهو كمن يصلى ويضع تحت قدمه طرف الحبل المتصل بالنجاسة والله أعلم.

– ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺒﺠﻴﺮﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻷﻭﻝ ﺹ 53 :

) ﻓﺮﻉ) ﻟﻮ ﺗﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻲ ﺻﺒﻲ ﺃﻭ ﻫﺮﺓ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻻ ﺗﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻤﺎ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻓﻴﻪ ﺍﻷﺻﻞ ﻭﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺇﺫ ﺍﻷﺻﻞ ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻭﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻭﺧﺮﺝ ﺑﻘﻮﻟﻨﺎ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻋﻠﻤﻪ ﺛﻢ ﻏﺎﺑﺖ ﺍﻟﻬﺮﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﺯﻣﻨﺎ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﻏﺴﻞ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻓﻬﻮ ﺑﺎﻕ ﻋﻠﻰ ﻧﺠﺎﺳﺘﻪ ﻓﺘﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ ﻟﺘﻌﻠﻘﻬﻤﺎ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻲ ﻭﻻ ﻳﺤﻜﻢ ﺑﻨﺠﺎﺳﺔ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺏ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻛﺎﻟﻬﺮﺓ ﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﺖ ﻓﺄﺭﺓ ﺛﻢ ﻏﺎﺑﺖ ﻏﻴﺒﺔ ﻳﻤﻜﻦ ﻃﻬﺮ ﻓﻤﻬﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﺍ ﻫـ ﻉ ﺵ ﻋﻠﻰ ﻡ ﺭ. ﻓﻼ ﺗﻨﺠﺲ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺑﻪ ﻓﻤﻬﺎ ﻭﻗﺪ ﻳﻘﺎﻝ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻣﺘﻴﻘﻨﺔ ﻭﺍﻟﻄﻬﺮ ﻣﺸﻜﻮﻙ ﻓﻴﻪ ﻓﻤﻘﺘﻀﺎﻩ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺑﻪ ﻓﻤﻬﺎ

– ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺹ 199 :
ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻏﻴﺮ ﻣﺨﺘﻮﻥ ﻓﻬﻞ ﻳﻠﺰﻣﻪ ﻓﻲ ﻏﺴﻞ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﺠﻠﺪﺓ ﺍﻟﺘﻰ ﺗﻘﻄﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ ﺣﻜﺎﻫﻤﺎ ﺍﻟﻤﺘﻮﻟﻲ ﻭﺍﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻭﺁﺧﺮﻭﻥ ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﺻﺤﺤﻪ ﺍﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﻷﻥ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺠﻠﺪﺓ ﻣﺴﺘﺤﻘﺔ ﺍﻹﺯﺍﻟﺔ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻟﻮ ﺃﺯﺍﻟﻬﺎ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﻟﻢ ﻳﻀﻤﻦ ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺴﺘﺤﻘﺔ ﺍﻹﺯﺍﻟﺔ ﻓﻤﺎ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﻛﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻻ ﻳﺠﺐ ﻭﺑﻪ ﺟﺰﻡ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﻋﺎﺻﻢ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﻻﻧﻪ ﻳﺠﺐ ﻏﺴﻞ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺠﻠﺪﺓ ﻭﻻ ﻳﻜﻔﻲ ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﻓﻠﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻛﺎﻟﻤﻌﺪﻭﻣﺔ ﻟﻢ ﻳﺠﺐ ﻏﺴﻠﻬﺎ ﻓﺒﻘﻰ ﻣﺎ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﺑﺎﻃﻨﺎ

Wallahu a’lamu bisshowab..

S003 Hukum Shalat Jum’at Bagi Perempuan

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum. Mau nanya

  1. Untuk perempuan apakah boleh shalat jum’at di dua tanah suci, kalau boleh apakah masih perlu shalat dhuhur?
  2. Bolehkah shalat ashar dijama’ taqdim dengan shalat jum’at? Kolau boleh mohon sertakan dalilnya!

Jawaban :

  1. Shalat jum’at bagi wanita sudah cukup sebagai pengganti dari sholat dhuhur. Bahkan, bagi wanita yang sekiranya tidak menimbulkan fitnah (tidak cantik, tidak banyak aksi/gaya, tidak bersolek dan semacamnya) sebaiknya menghadiri shalat jum’at.

يَجُوْزُ لِمَنْ لاَ تَلْزَمُهُ الْجُمْعَةُ كَعَبْدٍ وَمُسَافِرٍ اَوْ اِمْرَاَةٍ يُصَلِّى الْجُمْعَةَ بَدَلاً عَنِ الظُّهْرِ وَيُجْزِئُهُ بَلْ هِيَ اَفْضَلٌ ِلاَنَّهَا فَرْضٌ ِلاَهْلِ الْكَمَالِ وَلاَ تَجُوْزُ اِعَادَتُهَا بَعْدُ حَيْثُ كَمُلَتْ شُرُوْطُهَا (بغية المسترشدين فى باب الصلاة الجمعة, ص 78-79 . و فى المهذب وموهبة ذى الفضل)

Diperkenankan bagi wanita yang tidak berkewajiban shalat jum’at seperti budak, musafir, dan wanita untuk melaksanakan shalat jum’at sebagai pengganti shalat dhuhur, bahkan melaksanakan shalat jum’at adalah lebih baik, karena merupakan kewajiban bagi mereka yang sudah sempurna memenuhi syarat dan tidak boleh diulangi dengan shalat dhuhur sesudahnya, sebab semua syarat-syaratnya sudah terpenuhi secara sempurna. (Bughyah al-Mustarsyidin bab shalat jum’at hal.78-79, al-Muhadzab, dan Mauhibah Dzi al-Fadhal). Wallahu a’lam.

Berdasarkan keterangan di atas, jika ada wanita ikut melaksanakan shalat jum’at, maka shalatnya sah dan tidak perlu shalat dzuhur setelahnya, karena shalat jum’at tersebut sudah menjadi pengganti dari shalat dhuhur. Namun, meskipun demikian, wanita tidak termasuk di antara orang-orang yang berstatus pengabsah shalat jum’at.

Lebih lanjut, kenapa umumnya wanita tidak melaksanakan shalat jum’at ? Karena ada sebuah Hadits: AL JUMU’ATU HAQQUN WAAJIBUN ‘ALAA KULLI MUSLIMIN FII JAMAA’ATIN ILLAA ARBA’ATAN MAMLUUKUN WA IMRA’ATUN WA SHABIYYUN WA MARIIDHUN. Artinya : “Shalat jum’at adalah hak yang wajib atas setiap orang Islam, kecuali empat : hamba sahaya (budak). wanita, anak-anak dan orang sakit”. (sumber: Bulughul Maram / Subulussalaam 2/57).

Dalam kitab Minhaajul Qawiim/Hawaasyi Madaniyyah 2/57 diterangkan : WA MAN SHAHHAT DHUHRUHUU MIMMAN LAA TALZAMUHUL JUMU’ATU SHAHHAT JUM’ATUHUU FAYATAKHAYYARU BAINA FI’IL MAA SYAA`A MINHUMAA LAAKINIL JUMU’ATU AFDHALU LI ANNHAA SHALAATU AHLIL KAMAAL. Artinya : “Orang yang sah melakukan shalat dhuhur dari orang yang tidak berkewajiban melakukan shalat Jumat, maka sah shalat jum’atnya. Dia boleh memilih dari keduanya (boleh shalat dhuhur, dan boleh pula shalat Jumat), namun yang lebih utama adalah shalat jum’at”.

Perempuan sholat jum’at hukumnya afdlal (lebih utama) dan setelahnya memang tidak perlu shalat dhuhur. Sumber: kitab Bughyah hal 76 : YAJUZU LIMAN LA TALZAMUHUL JUM ATI KA ABDIN WA MUSAFIR WA IMROATI AN YUSOLLIYAL JUM ATA BADALAN ANIL DUHRI WAYUJIUHU BAL HIYA AFDOLU LIANNAHA FARDU AHLIL KAMALI WALA TAJUZU IADA TUHA BA’DA HAISU KAMULAT SURUTUHA.

Berikut alasan wanita  tidak wajib melaksanakan shalat jum’at:

  • Berdasarkan dalil nash berupa hadits
  • Terjadi percampuran dengan laki-laki

الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا أربعة عبد مملوك أو امرأة أو صبي أو مريض

(2) رواه النسائي عن حفصة رضي الله عنها، ورواه أبو داود عن طارق بن شهاب بلفظ «الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا أربعة: عبد مملوك، أو امرأة، أو صبي، أو مريض» (نيل الأوطار:226/3.

“Shalat jum’at wajib bagi setiap orang islam secara berjamaah, kecuali bagi hamba sahaya (budak), wanita, anak kecil dan orang sakit” (HR. An-Nasaa-i dari Hafshah, Abu Daud dari Thaariq Bin Syihab Nail al-Authaar III/226).

ولا تجب علي المرأة لما روى جابر قال ” قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فعليه الجمعة الا على امرأة أو مسافر أو عبد أو مريض حديث جابر رواه أبو داود والبيهقي” ولانها تختلط بالرجال وذلك لا يجوز

Shalat jum’at tidak diwajibkan bagi wanita berdasarkan hadits riwayat sahabat Jabir ra, ia berkata “Rasulullah shallaalu alaihi wa sallam bersabda : ”Barang siapa iman kepada Allah dan hari akhir maka wajib baginya shalat jum’at kecuali bagi wanita, orang bepergian, hamba sahaya (budak) dan orang sakit” (HR. Abu Daud dan Baehaqi). Dan karena shalat jum’at bagi wanita akan mengakibatkan terjadi ikhtilath (percampuran) dengan kaum laki-laki. [ alMajmuu’ Syarh alMuhaddzab IV/484 ].

(الثالث) الذكورة فلا جمعة على امرأة لما روينا من الخبرين

  • Bagi orang perempuan, maka tidak diwajibkan shalat jum’at berdasarkan dua hadits di atas. [ Syarh alWajiiz 4/603 ].

Namun demikian, shalat jum’at bagi wanita sudah cukup sebagai pengganti dari shalat dhuhur, bahkan bagi wanita yang tidak menimbulkan fitnah (tidak cantik, tidak banyak aksi/gaya, tidak bersolek dan semacamnya) sebaiknya melaksanakan shalat jum’at.

2.  Shalat ashar dijama’ taqdim dengan shalat jum’at adalah bisa atau boleh dikerjakan. sebaliknya, kalau jama’ ta’khir maka titak bisa. Untuk musafir diperbolehkan men-jama’ shalat dhuhur dengan shalat ashar, baik jama’ taqdim maupun jama’ ta’khir. Termasuk boleh juga men-jama’ sholat jum’at dengan shalat ‘ashar. Hanya saja ketentuannya harus dilakukan dengan jama’ taqdim, tidak bisa jama ta’khir, sebab shalat jum’at tidak bisa dikerjakan di luar waktu shalat dhuhur. Wallahu a’lam.

albujairomi alaa alkhotib 5/242 :

وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ ) سَفَرَ قَصْرٍ ( أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ ) صَلَاتَيْ ( الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ ) تَقْدِيمًا وَتَأْخِيرًا ( وَ ) أَنْ يَجْمَعَ ( بَيْنَ ) صَلَاتَيْ ( الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ ) تَقْدِيمًا وَتَأْخِيرًا .

albujairomi alaa alkhotib 5/247 :

وَالْجُمُعَةُ كَالظُّهْرِ فِي جَمْعِ التَّقْدِيمِ ، وَالْأَفْضَلُ لِسَائِرِ وَقْتِ أُولَى تَأْخِيرٌ وَلِغَيْرِهِ تَقْدِيمٌ لِلِاتِّبَاعِ .

الشَّرْحُ  قَوْلُهُ : ( وَالْجُمُعَةُ كَالظُّهْرِ فِي جَمْعِ التَّقْدِيمِ ) أَيْ كَأَنْ دَخَلَ الْمُسَافِرُ قَرْيَةً بِطَرِيقِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الظُّهْرُ ، لَكِنْ لَوْ صَلَّى الْجُمُعَةَ مَعَهُمْ فَيَجُوزُ لَهُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ أَنْ يَجْمَعَ الْعَصْرَ مَعَهَا تَقْدِيمًا ا ط ف .  وَقَوْلُهُ : فِي جَمْعِ التَّقْدِيمِ أَيْ وَيَمْتَنِعُ جَمْعُهَا تَأْخِيرًا لِأَنَّهَا لَا يَتَأَتَّى تَأْخِيرُهَا عَنْ وَقْتِهَا كَمَا فِي شَرْحِ م ر

Masalah jama’ antara shalat jum’at dengan shalat ashar adalah permasalahan yang diperselisihkan hukumnya di antara ulama’:

  1. Menurut madzhab Syafi’I diperbolehkan men-jama’ shalat jum’at dengan shalat dhuhur, diqiyaskan dengan kebolehan menjama’ sholat dhuhur dan sholat ashar. namun yang diperbolehkan hanya jama’ taqdim (dikerjakan di waktu dhuhur) saja, dan tidak diperbolehkan jama’ ta’khir (dikerjakan di waktu ashar), karena sholat jum’at tidak boleh diakhirkan dengan dikerjakan di waktu ashar.
  2. Menurut madzhab Hanbali, men-jama’ shalat jum’at dengan shalat ashar itu tidak diperbolehkan dengan alasan bahwa tidak ada dalil yang menjelaskan tentang kebolehan men-jama’ shalat jum’at dan sholat ashar.

Wallahu a’lam.

Referensi :

  1. Hasyiyah At-Tarmasi (Mauhibatu Dzil Fadhl), Juz : 4  Hal : 135 (Madzhab Syafi’i)
  2. Hasyiyah Al-Bujairomi Alal Khotib, Juz : 2  Hal : 175 (Madzhab Syafi’i)
  3. Kasyaful Qona’ An Matnil Iqna’,  Juz : 2  Hal : 20- 21 (Madzhab Hanbali)
  4. Matholibu Ulin Nuha Fi Syarhi Ghoyatil Muntaha, Juz : 1  Hal : 755 (Madzhab Hanbali)

‘Ibarat :

Hasyiyah At-Tarmasi (Mauhibatu Dzil Fadhl), Juz : 4  Hal : 135

فصل : في الجمع بالسفر والمطر

ويجوز ) في السفر الذي يجوز فيه القصر ( الجمع بين العصرين ) أي ك الظهر والعصر

[حاشية اترمسي]

قوله : (أي : الظهر والعصر ) أي : والجمعة كالظهر في جمع التقديم, كأن يقيم ببلد الجمعة إقامة لا تمنع الترخيص فله أن يصلي الجمعة ثم العصر عقبها, وأما جمع التأخير فيمتنع لاستحالة تأخير الجمعة

Hasyiyah Al-Bujairomi Alal Khotib, Juz : 2  Hal : 175

ويجوز للمسافر) سفر قصر (أن يجمع بين) صلاتي (الظهر والعصر في وقت أيهما شاء) تقديما وتأخيرا (و) أن يجمع (بين) صلاتي (المغرب والعشاءفي وقت أيهما شاء) تقديما وتأخيرا. والجمعة كالظهر في جمع التقديم

[حاشية البجيرمي]

قوله: (والجمعة كالظهر في جمع التقديم) أي كأن دخل المسافر قرية بطريقه يوم الجمعة فالأفضل في حقه الظهر، لكن لو صلى الجمعة معهم فيجوز له في هذه الحالة أن يجمع العصر معها تقديما اط ف. وقوله: في جمع التقديم أي ويمتنع جمعها تأخيرا لأنها لا يتأتى تأخيرها عن وقتها كما في شرح م ر

Kasyaful Qona’ An Matnil Iqna’,  Juz : 2  Hal : 20- 21

 باب صلاة الجمعة) بتثليث الميم، حكاه ابن سيده والأصل الضم واشتقاقها من اجتماع الناس للصلاة وقيل: لجمعها الجماعات، وقيل: لجمع طين آدم فيها وقيل: لأن آدم جمع فيها خلقه رواه أحمد من حديث أبي هريرة وقيل: لأنه جمع مع حواء في الأرض فيها وفيه خبر مرفوع وقيل: لما جمع فيها من الخير قيل: أول من سماه يوم الجمعة كعب بن لؤي، واسمه القديم: يوم العروبة، وهو أفضل أيام الأسبوع (وهي صلاة مستقلة) ليست بدلا عن الظهر (لعدم انعقادها بنية الظهر ممن لا تجب) الجمعة (عليه) كالعبد والمسافر (ولجوازها) أي الجمعة (قبل الزوال) ولأنه (لا) يجوز أن تفعل (أكثر من ركعتين) لما يأتي عند قوله: والجمعة ركعتان. (ولا تجمع) مع العصر (في محل يبيح الجمع) بين الظهر والعصر، لعذر مما تقدم في الجمع

Matholibu Ulin Nuha Fi Syarhi Ghoyatil Muntaha, Juz : 1  Hal : 755

ولا تجمع) جمعة إلى عصر ولا غيرها (حيث أبيح الجمع) ، لعدم وروده

 

S002 Lewat di depan orang yang sedang sholat

PERTANYAAN :

Assalamualaikum wr wb.. ingin tanya,
Hukum lewat di depan sholat itu kan gak boleh / di larang keras.
Pertanyaannya bagaimana kalau seperti di masjidil haram makkah?

JAWABAN :

Seandainya orang yang sedang sholat memakai sutroh seperti sajadah misalnya maka haram melintasi di sekitar sajadah tersebut, dan ada pendapat dari imam Ghozali bahwa hal tersebut tidak haram akan tetapi makruh. Dan disunnahkan bagi orang yang sholat tersebut untuk menghadangnya dengan tangannya jika ada orang yang melintasinya. Namun ada beberapa hal yang dikecualikan akan keharamannya melintasi orang yang sedang sholat yaitu :

  1. Jika orang sholat di masjidil harom maka boleh bagi orang lain melintasinya. ( ini berlaku selama ia sholatnya di batasan yang diperbolehkannya thowaf).
  2. Jika ada seseorang yang sholat akan tetapi dia sholatnya di tempat yang orang biasa lalu lalang seperti dia sholat di depan pintu.
  3. Seandainya ada tempat yang kosong maka boleh bagi seseorang melintasi orang orang yang sedang sholat untuk mengisi tempat tersebut.
  4. Jika dia dalam keadaan terdesak seperti dia akan buang hajat ketika sholat sedangkan dia misalkan berada di shof atau barisan awal maka boleh baginya untuk melintasi orang orang untuk menunaikan hajatnya.

Boleh terpaksa lewat di depan orang shalat, bila darurat tidak ada jalan lain.

Referensi ;

– Taqrirot Sadidah :

التقريرات السديدة ج ١ ص ٢٥٠

إذا كانت السترة معتبرة فيحرم المرور و نقل الإمام النووي في مجموعه قولا عن الإمام الغزالي : أنه يكره المرور و لا يحرم و في هذا سعة لكثير من الناس و يندب للمصلي دفع المار

و يجوز المرور مع وجود السترة في أربع حالات :

١. إذا كان في حرم مكة في محل الطواف فقط

٢. إذا قصر المصلي بأن صلى في الطريق

٣. إذا وجد المصلى فرجة فيجوز له المرور لسد الفرجة

٤. إذا كان مضطرا بأن كان يريد قضاء الحاجة أثناء الصلاة

– AlMajmu’ :

المجموع شرح المهذب

( المسألة الثانية ) إذا صلى إلى سترة حرم على غيره المرور بينه وبين السترة ، ولا يحرم وراء السترة . وقال الغزالي ” يكره ولا يحرم ” والصحيح [ ص: 228 ] بل الصواب أنه حرام ، وبه قطع البغوي والمحققون ، واحتجوا بحديث أبي الجهيم الأنصاري الصحابي رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : { لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه ؟ لكان أن يقف أربعين خيرا له من أن يمر بين يديه } رواه البخاري ومسلم ، وفي رواية رويناها في كتاب الأربعين للحافظ عبد القادر الرهاوي : { لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه من الإثم }

– Fatkhul ‘Alam :

فتح العلام

واعتمد الأسنوي ما نقله الإمام عن الأئمة من جواز المرور حيث لا طريق غير ما بين المصلي وسترته كما في الكردي وبشرى الكريم

– AlHawasyi AlMadinah :

الحواشي المدنية

قال الأذرعي لا شك في حل المرور اذا لم يجد طريقا سواه عند ضرورة خوف نحو بول أو لعذر يقبل منه وكل ما رجحت مصلحته على مفسدة المرور فهو في معنى ذلك

•••••••••••○○○○○○○•••••••••••

LEWAT DI DEPAN ORANG YANG SEDANG SHOLAT ADA TIGA PENJELASAN :

Pertama,
Menurut pendapat yang shohih lewat didepan orang yang sedang sholat (maksutnya tempat antara tempat meletakkan kening ketika sujud dan kedua telapak kaki orang yang sedang sholat) baik sholat yang sedang dikerjakan adalah sholat fardhu atau sholat sunat, dan baik sholatnya sholat jama’ah atau sendirian, jika dilakukan oleh orang yang sudah mukallaf dengan sengaja bahkan menurut Al-Azizi hal tersebut masuk dalam kategori dosa besar. Ketentuan hukum ini berdasarkan hadits Nabi ;

لَوْ يَعْلَمُ المَارُّ بَيْنَ يَدَيِ المُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sholat mengetahui dosa yang akan dipikulnya maka ia lebih baik berdiri empat puluh hari daripada harus lewat di depannya”.(Shohih Bukhori, no.510 dan Shohih Muslim, no.507).

Dan diqiyaskan dengan lewat didepan orang sholat, duduk, menjulurkan kaki dan berbaring didepan orang yang sedang sholat. Begitu juga menjulurkan tangan untuk mengambil sesuatu didepan orang yang sedang sholat, karena hal tersebut bisa mengganggu orang yang sedang sholat.

Kedua,
Ketentuan hukum haromnya lewat didepan orang yang sedang sholat ini berlaku jika orang yang sedang sholat tersebut memakai”sutroh” (penghalang atau penanda) didepannya, hal ini dipahami dari anjuran untuk mencegah orang yang lewat didepan orang yang sedang sholat yang sudah memakai sutroh sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi ;

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ اَلنَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Apabila seseorang di antara kamu sholat dengan memasang batas yang membatasinya dari orang-orang lalu ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya, maka hendaklah ia mencegahnya. Bila tidak mau perangilah dia sebab dia sesungguhnya adalah setan”. (Shohih Bukhori, no.509 dan Shohih muslim, no.505)

Begitu juga keharoman lewat didepan orang yang sedang sholat ini masih berlaku jika sewaktu sholat ia memakai sutroh, lalu sutroh tersebut hilang, misalnya karena tertiup angin atau diambil orang dan orang yang lewat tersebut mengetahuinya.
Dari keterangan diatas bisa dipahami bahwa jika orang yang sedang sholat tidak memakai sutroh, maka tidak diharomkan lewat didepannya, namun hukumnya makruh sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi.

Ketiga,
Meskipun tidak ada tempat lainnya bagi seseorang selain lewat didepan orang yang sedang sholat tetap tidak diperkenankan untuk lewat didepan orang yang sedang sholat, sebagaimana diceritakan oleh Abu Sholih bin As-Samman dalam satu hadits ;

رَأَيْتُ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ يُصَلِّي إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ شَابٌّ مِنْ بَنِي أَبِي مُعَيْطٍ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَدَفَعَ أَبُو سَعِيدٍ فِي صَدْرِهِ، فَنَظَرَ الشَّابُّ فَلَمْ يَجِدْ مَسَاغًا إِلَّا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَعَادَ لِيَجْتَازَ، فَدَفَعَهُ أَبُو سَعِيدٍ أَشَدَّ مِنَ الأُولَى، فَنَالَ مِنْ أَبِي سَعِيدٍ، ثُمَّ دَخَلَ عَلَى مَرْوَانَ، فَشَكَا إِلَيْهِ مَا لَقِيَ مِنْ أَبِي سَعِيدٍ، وَدَخَلَ أَبُو سَعِيدٍ خَلْفَهُ عَلَى مَرْوَانَ، فَقَالَ: مَا لَكَ وَلِابْنِ أَخِيكَ يَا أَبَا سَعِيدٍ؟ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Pada hari jum’at aku melihat Abu Sa’id Al Khudri shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang-orang (yang lewat). Kemudian ada seorang pemuda dari Bani Abu Mu’aith hendak lewat di depannya. Maka Abu Sa’id menghalangi orang itu dengan menahan dadanya. Pemuda itu mencari jalan tapi tidak ada kecuali di depan Abu Sa’id. Maka pemuda itu mengulangi lagi untuk lewat. Abu Sa’id kembali menghadangnya dengan lebih keras dari yang pertama. Kemudian pemuda itu pergi meninggalkan Abu Sa’id dan menemui Marwan, ia lalu mengadukan peristiwa yang terjadai antara dirinya dengan Abu Sa’id. Setelah itu Abu Sa’id ikut menemui Marwan, Marwan pun berkata, “Apa yang kau lakukan terhadap anak saudaramu ini, wahai Abu Sa’id?” Abu Sa’id menjawab, “Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang, kemudian ada seseorang yang hendak lewat dihadapannya maka hendaklah dicegah. Jika dia tidak mau maka perangilah dia, karena dia adalah setan”. (Shohih Bukhori, no.509)

Sedangkan menurut Imam Haromain, Imam Ghozali, Imam Al-Isnawi dan beberapa ulama’ lainnya hukumnya dari kalangan madzhab Syafi’i boleh lewat didepan orang yang sedang sholat jika tak ada jalan lainnya. Dan ini juga merupakan pendapat tiga Imam Madzhab. Begitu juga diperbolehkan lewat jika memang terpaksa (dhorurot ) seperti jika takut akan kencing sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Adzro’i.

Ibarot :
Subulus Salam, Juz : 1 Hal : 213

والحديث دليل على تحريم المرور بين يدي المصلي؛ أي ما بين موضع جبهته في سجوده وقدميه، وقيل غير هذا، وهو عام في كل مصل، فرضا أو نفلا، سواء كان إماما أو منفردا، يختص بالإمام والمنفرد، إلا المأموم فإنه لا يضره من مر بين يديه؛ لأن سترة الإمام سترة له، إلا أنه قد رد هذا القول بأن السترة إنما ترفع الحرج عن المصلي لا عن المار، ثم ظاهر الوعيد يختص بالمار لا بمن وقف عامدا مثلا بين يدي المصلي، أو قعد أو رقد، ولكن إذا كانت العلة فيه التشويش على المصلي فهو في معنى المار

Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 3 Hal : 249

المسألة الثانية : إذا صلى الي سترة حرم علي غبره المرور بينه وبين السترة ولا يحرم وراء السترة وقال الغزالي يكره ولا يحرم والصحيح بل الصواب انه حرام وبه قطع التغوى والمحققون واحتجوا بحديث أبى الجهيم الانصاري الصاحبي رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ” لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه لكان أن يقف أربعين خيرا له من أن بمر بين يديه ” رواه البخاري ومسلم وفي رواية رويناها في كتاب الأربعين للحافظ عبد القادر الرهاوي ” لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه من الإثم ” وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إذا صلي احدكم إلى شئ يستره من الناس فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه فإن أبى فليقاتله فإنما هو شيطان ” رواه البخاري ومسلم –الى أن قال- أما إذا لم يكن بين يديه سترة لو كانت وتباعد عنها فوجهان أحدهما له الدفع لتقصير المار وأصحهما ليس له الدفع لتقصيره بترك السترة ولمفهوم قوله صلى الله عليه وسلم ” إذا صلى احدكم الي شئ يستره ” ولا يحرم في هذه الحالة المرور بين يديه ولكن يكره

فرع : إذا وجد الداخل فرجة في الصف الأول فله أن يمر بين يدي الصف الثاني ويقف فيها لتقصير أهل الصف الثاني بتركها

فرع : قال إمام الحرمين النهى عن المرور الامر بالدفع إنما هو إذا وجد المار سبيلا سواه فإن لم يجد وازدحم الناس فلا نهي عن المرور ولا يشرع الدفع وتابع الغزالي إمام الحرمين على هذا قال الرافعي وهو مشكل ففي صحيح البخاري خلافه وأكثر كتب الأصحاب ساكتة عن التقييد بما إذا وجد سواه سبيلا

قلت : الحديث الذي في صحيح البخاري عن أبي صالح السمان فال ” رأيت أبا سعيد الخدري رضي الله عنه في يوم جمعة يصلى الي شئ يستره من الناس فأراد شاب أن يجتاز بين يديه فدفع أبو سعيد في صدره فنظر الشاب فلم يجد مساغا إلا بين يديه فعاد ليجتاز فدفعه أبو سعيد أشد من الأول فنال من أبي سعيد ثم دخل على مروان فشكا إليه ما لقي من أبي سعيد ودخل أبو سعيد خلفه على مروان فقال مالك ولابن أخبك يا أبا سعيد قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول إذا صلى أحدكم إلى شئ يستره من الناس فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه فإن أبى فليقاتله فإنما هو شيطان ” رواه البخاري ومسلم

Hasyiyah Qulyubi Ala Syarhil Mahalli, Juz : 1 Hal : 219

والصحيح تحريم المرور حينئذ) أي حين سن الدفع قال – صلى الله عليه وسلم – «لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه لكان أن يقف أربعين خيرا له من أن يمر بين يديه» رواه الشيخان هو بعد حمله على المصلي إلى سترة محتمل للكراهة المقابلة للصحيح وظاهر في التحريم، ويدل عليه نصا رواية البخاري من الإثم بعد قوله عليه، ولو صلى من غير سترة أو تباعد عنها فليس له الدفع لتقصيره، ولا يحرم المرور بين يديه

[حاشية قليوبي]

قوله: (وتحريم المرور) أي على العامد العالم المكلف المعتقد للحرمة، وإن زالت السترة كما مر. ويحرم على الولي تمكين موليه غير المكلف من المرور. نعم إن قصر المصلي بوقوفه في محل المرور لم يحرم المرور ولا يسن الدفع. قوله: (أربعين) في رواية البزار «أربعين خريفا» أي عاما. قوله: (ظاهر في التحريم) أي من لفظ عليه، فقدم على الندب وعليه، فالدفع أخف لأنه كالتنبيه. قوله: (رواية البخاري) فيه رد على من قال كابن حجر، إن لفظة من الإثم لم توجد في رواية. قوله: (أو تباعد عنها) ومن التباعد مجاوزة أعلى المصلي، أو الخط على ثلاثة أذرع من موقف المصلي، وإن لم يكن طولهما ثلاثة أذرع. قوله: (إلى سترة) خرج المصلي على سترة، كالسجادة لأن الصلاة عليه لا إليه

Hasyiyah Asy-Syibromilsi Ala Nihayatul Muhtaj, Juz : 2 Hal : 54

والصحيح تحريم المرور) بينه وبين سترته حينئذ: أي عند سن دفعه، وهو في صلاة صحيحة في اعتقاد المصلي فيما يظهر فرضا كانت أو نفلا

………………………………………………….

قوله: والصحيح تحريم المرور) قال سم على حج: ويلحق بالمرور جلوسه بين يديه ومده رجليه واضطجاعه. اهـ بالمعنى. وقوله ومده رجليه ومثله مد يده ليأخذ من خزانته متاعا؛ لأنه يشغله وربما شوش عليه في صلاته

Hasyiyah Asy-Syarwani Ala Tuhfatul Muhtaj, Juz : 2 Hal : 159-160

قول المتن (تحريم المرور) أي على المكلف العالم م ر اهـ سم وفي البجيرمي عن العزيزي أنه من الكبائر أخذا من الحديث اهـ.

(قوله أي حين إذ سن له الدفع) أي وهو في صلاة صحيحة في اعتقاد المصلي فيما يظهر فرضا كانت أو نفلا شرح م ر اهـ سم (قوله وإن لم يجد المار سبيلا) نعم قد يضطر المار إلى المرور بحيث تلزمه المبادرة لأسباب لا يخفى كإنذار نحو مشرف على الهلاك تعين المرور لإنقاذه شرح م ر اهـ سم قال ع ش قوله م ر كإنذار نحو مشرف إلخ أو خطف نحو عمامته وتوقف إنقاذها من السارق على المرور فلا يحرم المرور بل يجب في إنقاذ نحو المشرف ويحرم على المصلي الدفع إن علم بحاله اهـ

وعبارة الكردي وفي الإيعاب قال الأذرعي ولا شك في حل المرور إذا لم يجد طريقا سواه عند ضرورة خوف نحو بول أو لعذر يقبل منه وكل ما رجحت مصلحته على مفسدة المرور فهو في معنى ذلك انتهى وما ذكره في الضرورة ظاهر بخلاف ما بعده على إطلاقه انتهى كلام الإيعاب ونقل الإمام عن الأئمة جواز المرور إن لم يجد طريقا واعتمده الإسنوي والعباب وغيرهما اهـ

Hasyiyah Al-Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1 Hal : 250-251

وحرم مرور) وإن لم يجد المار سبيلا آخر لخبر «لو يعلم المار بين يدي المصلي – أي: إلى السترة – ماذا عليه من الإثم لكان أن يقف أربعين خريفا خيرا له من أن يمر بين يديه» رواه الشيخان إلا من الإثم فالبخاري،، وإلا خريفا فالبزار، والتحريم مقيد بما إذا لم يقصر المصلي بصلاته في المكان، وإلا كأن وقف بقارعة الطريق فلا حرمة، بل ولا كراهة، كما قاله في الكفاية أخذا من كلامهم، وبما إذا لم يجد المار فرجة أمامه، وإلا فلا حرمة، بل له خرق الصفوف، والمرور بينها ليسد الفرجة، كما قاله في الروضة كأصلها، وفيها لو صلى بلا سترة، أو تباعد عنها، أي: أو لم تكن بالصفة المذكورة، فليس له الدفع لتقصيره، ولا يحرم المرور بين يديه لكن الأولى تركه فقوله في غيرها: ” لكن يكره ” محمول على الكراهة غير الشديدة

قوله: وحرم مرور) وهو من الكبائر، أخذا من الحديث اهـ عزيزي، وهو معطوف على قوله: فيسن إلخ فيكون مرتبا على الصلاة لنحو جدار فكان المناسب الإتيان بالمضارع، ويلحق بالمرور الجلوس بين يديه، ومد رجليه، واضطجاعه ع ش ولو أزيلت سترته حرم على من علم بها المرور، كما بحثه الأذرعي لعدم تقصيره، وقياسه أن من استتر بسترة يراها مقلده، ولا يراها مقلد المار، تحريم المرور ولو قيل باعتبار اعتقاد المصلي في جواز الدفع، وفي تحريم المرور باعتبار اعتقاد المار، لم يبعد وكذا إن لم يعلم مذهب المصلي ولو صلى بلا سترة فوضعها غيره اعتد بها –الى أن قال _ قوله: مقيد بما إذا لم يقصر المصلي إلخ) يؤخذ منه أنه لو لم يجد محلا يقف فيه إلا باب المسجد لكثرة المصلين كيوم الجمعة مثلا حرم المرور، وسن له الدفع وهو محتمل، ويحتمل عدم حرمة المرور لاستحقاقه المرور في ذلك المكان على أنه قد يقال بتقصير المصلي حيث لم يبادر للمسجد بحيث يتيسر له الجلوس في غير الممر وهذا أقرب.

(قوله: بقارعة الطريق) أي: أو شارع أو درب ضيق، أو باب نحو مسجد كالمحل الذي يغلب مرور الناس فيه وقت الصلاة ولو في المسجد كالمطاف قال شيخنا ع ش وليس منه ما جرت به العادة من الصلاة برواق ابن معمر بالجامع الأزهر، فإن هذا ليس محلا للمرور غالبا، نعم ينبغي أن يكون منه ما لو وقف في مقابلة الباب، اهـ. برماوي (قوله: وبما إذا لم يجد المار فرجة) ليس بقيد، بل المدار على السعة ولو بلا خلاء بأن يكون بحيث لو دخل بينهم لوسعوه، كما سيصرح به في شروط الاقتداء ح ل. (قوله: بل له خرق الصفوف) وإن تعددت وزادت على صفين بخلاف ما سيأتي في الجمعة من تخطي الرقاب، حيث يتقيد ذلك بصفين؛ لأن خرق الصفوف في حال القيام أسهل من التخطي؛ لأنه في حال القعود ح ل (قوله: ليسد الفرجة) وإن لزم عليه المرور بين يدي المصلين، وفيه تصريح بأنا لا نكتفي في السترة للمصلي بالصفوف ح ل وهو كذلك كما صرح به م ر. (قوله: وفيها إلخ) مراده بيان مفهوم قوله: وسن إلخ. (قوله: فليس له الدفع) أي: فيحرم عليه ذلك وإن تعذرت السترة بسائر أنواعها ز ي (قوله: ولا يحرم المرور) قال م ر في شرحه ولو استتر بسترة في مكان مغصوب لم يحرم المرور بينها وبينه، ولم يكره كما أفتى به الوالد اهـ. أي؛ لأنها لا قرار لها لوجوب إزالتها فهي كالعدم

Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 112

فائدة : يحرم المرور بين المصلي وسترته ، وإن لم يجد طريقاً ولو لضرورة كما في الإمداد والإيعاب ، لكن قال الأذرعي : ولا شك في حل المرور إذا لم يجد طريقاً سواء عند ضرورة خوف بول ، ككل مصلحة ترجحت على مفسدة المرور ، وقال الأئمة الثلاثة : يجوز إذا لم يجد طريقاً مطلقاً ، واعتمده الأسنوي والعباب وغيرهما اهـ كردي ، وبه يعلم جواز المرور لنحو الإمام عند ضيق الوقت أو إدراك جماعة اهـ باسودان. وقال في فتح الباري : وجواز الدفع وحرمة المرور عام ولو بمكة المشرفة ، واغتفر بعض الفقهاء ذلك للطائفين للضرورة عن بعض الحنابلة جوازه في جميع مكة اهـ

Wallahu a’lamu bisshowab..

S001 Hukum Mengetahui Gerakan Imam Hanya dengan Alat Dalam Shalat Berjama’ah

Oleh : KH Ach. Mustofa AB

Persoalan :

Bagaimana jika sholat berjamaah menggunakan LCD proyektor, TV dan semacamnya, Makmum tidak mengetahui gerakan imam secara langsung, hanya mengetahui dari layar alat-alat tersebut,

Apakah sholatnya sah? Lanjutkan Klik Di Sini