Arsip Kategori: Thoharoh

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Thaharah.

MACAM-MACAM NAJIS YANG DI MA’FU

MACAM-MACAM NAJIS YANG DI MA’FU:

1.najis yang dima’fu baik sedikit maupun banyaknya, baik di baju maupun di badan, yaitu : darahnya kutu loncat, kutu rambut, nyamuk, jerawat, nanah, bisul, cacar dan darah tempatnya bekam.di ma’funya najis-najis tsb dengan 2 syarat :

a.bukan atas perbuatan diri sendiri, jadi misalnya membunuh kutu kemudian darahnya mengotori baju dan banyak darahnya maka tidak dima’fu.

b.tidak melampaui batas dalam membiarkannya, karena manusia mempunyai kebiasaan mencuci baju,jika baju ditinggalkan tanpa dicuci selama setahun misalnya, dan dibiarkan bertumpuk-tumpuk maka tidak dima’fu.

2.najis yang sedikitnya dima’fu, jika banyak tidak dima’fu, yaitu : darahnya orang lain dan tanah jalanan yang diyakini najisnya.

3.najis yang dima’fu bekasnya dan tidak di ma’fu dzatiyahnya, yaitu : bekas istinja’ dan sisa bau atau warna najis yang sulit hilangnya.

4.najis yang tidak dima’fu dztiyah dan bekasnya, yaitu selain najis-najis yang disebut diatas.

Pembagian najis yang dima’fu :

1.najis yang dima’fu di air dan baju, yaitu : najis yang tidak terlihat pandangan mata, debu najis yang kering , sedikit asap, rambut, mulutnya kucing dan bayi.yang semisal air adalah benda cair, dan yang semisal baju adalah badan.

2.najis yang dima’fu di air dan benda cair tapi tidak di ma’fu dibaju dan badan, yaitu : bangkai hewan yang tidak mempunyai darah mengalir, lobang kotoran burung, kotoran ikan, dan cacing yang muncul dalam benda cair.

3.sebailknya kedua, dima’fu di baju dan badan tapi tidak dima’fu di air dan benda cair, yaitu : darah sedikit, tanah jalanan, ulat sutera jika mati di dalamnya.maka tidak wajib membasuhnya sebagaimana penjelasan al hamawy, sedangkan penjelasan qodhi husain sebaliknya.

4.najis yang dima’fu pada tempat saja, yaitu : kotoran burung di masjid dan tempat towaf, dan disamakan dengannya yaitu sesuatu yang berada dalam perut ikan yang kecil .

– kitab asbah wan nadhoir :

تقسيم النجاسات

أقسامأحدها : ما يعفى عن قليله وكثيره في الثوب والبدن وهو : دم البراغيث والقمل والبعوض والبثرات والصديد والدماميل والقروح وموضع الفصد والحجامة ولذلك شرطان

أحدهما : أن لا يكون بفعله ، فلو قتل برغوثا فتلوث به وكثر : لم يعف عنه

والآخر : أن لا يتفاحش بالإهمال فإن للناس عادة في غسل الثياب ، فلو تركه سنة مثلا وهو متراكم لم يعف عنه قال الإمام : وعلى ذلك حمل الشيخ جلال الدين المحلي قول المنهاج إن لم يكن بجرحه دم كثير .

الثاني : ما يعفى عن قليله دون كثيره وهو : دم الأجنبي وطين الشارع المتيقن نجاسته .

الثالث : ما يعفى عن أثره دون عينه وهو : أثر الاستنجاء ، وبقاء ريح أو لون عسر زواله .

الرابع : ما لا يعفى عن عينه ولا أثره وهو ما عدا ذلك .

تقسيم ثان ما يعفى عنه من النجاسة أقسام :

أحدها : ما يعفى عنه في الماء والثوب وهو : ما لا يدركه الطرف وغبار النجس الجاف وقليل الدخان والشعر وفم الهرة والصبيان . ومثل الماء : المائع ومثل الثوب : البدن

الثاني : ما يعفى عنه في الماء والمائع دون الثوب والبدن وهو الميتة التي لا دم لها سائل ومنفذ الطير وروث السمك في الحب والدود الناشئ في المائع .

الثالث : عكسه ، وهو : الدم اليسير وطين الشارع ودود القز إذا مات فيه : لا يجب غسله صرح به الحموي وصرح القاضي حسين بخلافه

الرابع : ما يعفى عنه في المكان فقط ، وهو ذرق الطيور في المساجد والمطاف كما أوضحته في البيوع ويلحق به ما في جوف السمك الصغار على القول بالعفو عنه لعسر تتبعها وهو الراجح .

Sumber : M2KAD

Wallahu a’lamu bisshowab..

T043. HUKUM PENGOLAHAN AIR MUTANAJJIS DENGAN RESERVE OSMOSIS

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum wr.wb.

Baru-baru ini banyak hotel & apartemen memakai sistem pengairan yang disebut “reverse osmosis” yaitu pengolahan air kotor, tinja dan sebagainya yang disaring / difilter kotorannya hingga air itu terlihat menjadi bersih. Bagamana kedudukan air tersebut ?? silahkan di-share.

JAWABAN :

Wa’alaikumussaalaam warahmatullaah.

Air mutanajjis. Bagaimana jika air mutanajjis tersebut dikumpulkan sehingga menjadi dua kulah atau lebih, dan air tersebut sudah hilang warna, rasa dan bau najisnya, asalkan hilang dengan sendirinya. Bukankah air tersebut menjadi suci ? dalam Fat_hul Wahhaab / hamisy hasyiyah Jamal 1/42-43 :

فإن زال تغيره) الحسى أو التقديري (بنفسه) أي لا بعين كطول، مكث (أو بماء) انضم إليه ولو نجسا أو أخذ منه والباقي قلتان (طهر) لانتفاء علة التنجس، ولا يضر عود تغيره إذا خلا عن نجس جامد. أما إذا زال حسا بغيرهما كمسك وتراب وخل فلا يطهر للشك في أن التغير زال أو استتر بل، الظاهر أنه استتر. فإن صفا الماء ولا تغير به طهر

Anapun tetkalane ilang opo owah kanthi kadriyo ( dengan apa yang bisa dilihat panca indera ) kelawan liyane karone ilang dewe utowo dicemplungi banyu liyo, contone minyak misik, lebu lan cukak, mongko banyu mau ora biso suci kerono ono kemamangan opotoh owahe banyu bener-bener ilang utowo ketutup, malah menurut zhahire owahe banyu ketutup ( maksudnya berubahnya air masih tertutup dengan adanya minyak wangi/debu/cuka, misalnya bau najis tertutup dengan bau minyyak wangi ), Mongko lamun wis bening opo banyu, lan ora ono owah, mongko suci opo banyu.

Karena sumber air bersih dari tahun ke tahun semakin langka, maka digunakanlah berbagai metode untuk memperoleh air bersih dan memenuhi standar kesehatan. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan metode Reserve Osmosis atau yang dikenal dengan istilah osmosis terbalik yaitu proses penyaringan berbagai zat dari suatu larutan dengan menambahkan tekanan ketika larutan tersebut berada di membran penyaring.

Walhasil zat-zat yang berbaur dengan larutan seperti karbon dioksida, hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Selain itu partikel-partikel mineral yang terlarut seperti besi, mangan dll akan teroksidasi secara cepat membentuk endapan. Larutan yang sudah jernih tadi akan kembali disaring untuk ke-2 atau ke-3 kalinya untuk menghasilkan hasil yang optimal. Dari hasil pengolahan tersebut terciptalah suatu air yang jernih, higienis, dan tidak berbau.

Dalam tinjauan fiqih air yang sudah kembali murni ini, dalam artian tidak berasa, berbau dan berwarna maka dihukumi suci sehingga boleh dikonsumsi ataupun digunakan untuk bersuci.

فان صاف الماء و لا تغير به طهر(قوله فان صاف الماء) اي زال ريح المسك او لون التراب او طعم الخل، (وقوله طهر) اي حكمنا بطهريته لانتفاء علة التنجيس

“Apabila air menjadi jernih dan tidak berubah sama sekali maka sucilah air itu, yang dimaksud jernih adalah bahwa bau misik atau warna tanah atau rasa cuka telah hilang, dan yang dimaksud suci yakni hukumnya suci lantaran ‘illat kenajisan telah tiada”. (Ket. Hasyiyah albujairimi juz 1 hal.26).

الحاصل انه اذا صاف الماء و لم يبق فيه تكدر يحصل به الشك في زوال التغير طهر كل من الماء والتراب سواء كان الباقي عما رسب فيه التراب قلتين ام لا

“Kesimpulan bahwa apabila air menjad jernih dan di dalamnya tidak tersisa kekeruhan yang menimbulkan keraguan mengenai hilangnya perubahan air,maka masing-masing air dan tanah menjadi suci baik air yang tersisa setelah penyerapan mencapai 2 kulah atau tidak”. (Ket. Hasyiyah aljamal juz 1 hal 42).

Wallohu a’lamu bisshowab..

T042. KERINGAT ORANG YANG MEMAKAN DAGING BABI, NAJISKAH ?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Mohon penjelasannya Apakah keringat orang yang makan babi najis ? Sehingga tidak boleh disentuh ? Syukron kyai.

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Apakah tubuh orang yang makan daging anjing itu najis seumur hidup ? Tidak najis selamanya,dikarenakan perut memiliki kekuatan untuk merubah dzat suatu benda dan mensucikannya.

تحفة المختاج في شرح المنهاج

لو أكل مغلظا ثم خرج منه لم يجب تسبيع المخرج لأن الجوف محيل مطهر لانا نقول الجوف لايحيل النجس الى الطهارة مطلقا

Jika ada orang makan anjing atau babi kemudian keluar lagi daging anjing tersebut dari dalam orang yang makan tersebut, maka baginya tidak wajib membasuh 7 kali pada tempat keluarnya tersebut (DUBUR) dikarenakan perut memiliki kekuatan untuk merubah dzat suatu benda dan mensucikannya. dikarenakan kita (Syafiiyyah) menyatakan bahwa perut ini tidak bisa merubah dzatiyah benda najis menjadi suci secara mutlak.

Keringatnya orang yang memakan daging babi tetap suci karena bukan benda yang keluar dari dua lobang depan-belakang, juga bukan muntah :

وخرج بقوله من السبيلين الخارج من بقية المنافذ فهو طاهر الا القيئ الخارج من الفم بعد وصوله الى المعدة.الباجوري ١ / ١٠٠

KERINGAT MANUSIA PEMAKAN NAJIS

Dalam kitab Fiqh ulama secara tegas menyatakan bahwa keringat manusia hukumnya adalah suci. Mereka tidak membedakan status si Pemakan dan apa yang dikonsumsinya. Imam Nawawi menyatakan ; Keringat, air ludah dan air mata itu sama, baik berasal dari orang yang berhadats besar, orang muslim, orang kafir, hewan jinak dan hewan buas, yakni kesemuanya dihukumi suci. Kecuali jika berasal dari anjing dan babi serta anak turun keduanya.

Beliau hanya mengecualikan keringat yang berasal dari anjing dan bagi, ini bukan berarti hukum asli dari keringat adalah najis, akan tetapi najisnya keringat sebab bersinggungan dengan badannya anjing dan babi tersebut yang secara otomatis membuat keringat yang berupa cairan menjadi ikut najis juga.

Perihal keringat manusia pun beliau tidak membedakan itu manusianya siapa dan bagaimana keadaan tubuhnya – dalam keadaan berhadats atau tidak – serta tidak menyinggung sama sekali harus manusia yang menkonsumsi ini dan itu yang bisa dihukumi suci keringatnya.

Dan mengenai manusia yang mengkonsumsi barang najis apakah badannya menjadi najis ? Hal ini meskipun tidak ada tekstual yang shorih dalam kitab fiqh klassik kita, namun ini bisa kita raba dengan ;

1.Tubuh manusia tidak bisa berubah menjadi najis sebab masuknya barang najis ke dalam tubuh. Mau tidak mau ini harus kita terima, sebab meskipun kita tidak pernah mengkonsumsi barang najis, tapi pada akhirnya segala sesuatu yang masuk ke dalam perut dan berubah ini akan menjadi barang najis yang keluar menjadi kotoran dan kencing. Bila najis dalam perut ini bisa menyebabkan najisnya badan, maka tidak ada satupun manusia yang sah sholatnya sebab badannya dihukumi najis.

2.Pernyataan ulama bahwa anggota bathin ini tidak bisa dihukumi Mutanajjis meskipun bersinggungan dengan barang najis.

3.Pemasalahan hewan pemakan kotoran manusia dan semisalnya. Dalam hal ini tidak satu pun ulama yang menyatakan dagingnya hewan tersebut menjadi najis. Meskipun ada ulama yang mengharamkan memakan dagingnya, tapi keharaman ini bukan berangkat dari hukum najis, melainkan daging hewan pemakan daging ini akan berubah menjadi bacin sehingga haram untuk dimakan. Jadi karena bacinnya bukan karena najis.

4.Dalam ilmu pengetahuan umum, keringat tidaklah berasal dari cairan yang terdapat dalam perut. Akan tetapi cairan yang dikeluarkan oleh KELENJAR KERINGAT pada mamalia.

5.Sesuatu yang keluar tidak melalui dua saluran pembuangan hukumnya adalah suci kecuali muntahan yang sudah berubah dan air liur yang berasal dari perut.

KESIMPULANNYA :
Keringat yang berasal dari tubuh manusia tetap dihukumi suci meskipun yang ia konsumsi setiap hari adalah barang najis semisal daging babi dan anjing. Wallohu A’lam. (Fakhrur Rozy, Ghufron Bkl, Muhammad Harsandi Kudung Kantil).

– Al-Umm, juz. 1 halaman. 18 – Maktabah Syameela :

ولا ينجس عرق جنب ولا حائض من تحت منكب ولا مأبض ولا موضع متغير من الجسد ولا غير متغير فإن قال قائل وكيف لا ينجس عرق الجنب والحائض قيل بأمر ( ( ( أمر ) ) ) النبي صلى الله عليه وسلم الحائض بغسل دم الحيض من ثوبها ولم يأمرها بغسل الثوب كله والثوب الذي فيه دم الحيض الإزار ولا شك في كثرة العرق فيه وقد روى عن بن عباس وبن عمر أنهما كانا يعرقان في الثياب وهما جنبان ثم يصليان فيها ولا يغسلانها

– Al-Hawi Fi Fiqh Asy-Syafii, juz. 15 halaman. 147 – Maktabah Syameela :

فصل : روى مجاهد عن ابن عمر أن النبي – صلى الله عليه وسلم – نهى عن أكل الجلالة وألبانها وروى نافع عن ابن عمر أن النبي – صلى الله عليه وسلم – نهى عن الجلالة والمجثمة وعن المصبورة . فأما الجلالة فهي التي ترعى الجلة ، وهي البعر والعذرة ، فحمل بعض أصحاب الحديث النهي على التحريم ، وبه قال سفيان الثوري ، وأحمد بن حنبل . وعندي أنه محمول على الكراهة دون التحريم ، لأن النهي عنها وارد ، لأجل ما تأكله من الأنجاس ، وهي تغتذيه في كرشها ، والعلف الطاهر ينجس في الكرش ، فساوى في حصوله منه حال النجس ، ولأن لحوم ما ترعى الأنجاس نتن ، وأكل اللحم إذا نتن يحرم ، وإذا كان هكذا فكلما كان أكثر غذائه رعي الأنجاس كان أكل لحمه وشرب لبنه مكروها .

– Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz. 2 halaman 559 :

559واعلم انه لا فرق في العرق واللعاب والمخاط والدمع بين الجنب والحائض والطاهر والمسلم والكافر والبغل والحمار والفرس والفار وجميع السباع والحشرات بل هي طاهرة من جميعها ومن كل حيوان طاهر وهو ما سوى الكلب والخنزير وفرع أحدهما ولا كراهة في شئ من ذلك عندنا وكذا لا كراهة في سؤر شئ منها وهو بقية ما شربت منه والله أعلم

Wallahu a’lamu bisshowab..

T042. MENGGABUNGKAN DUA NIAT BERSUCI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Jika saya mempunyai hadas besar & kecil lalu saya mandi besar:

1. Apakah hadas kecil otomatis hilang bersamaan hadas besar?

2. Habis mandi besar langsung sholat tanpa wudhu sah kah? (melakukan mandi junub tidak melakukan sunah seperti wudhu sebelum mandi).
Terimakasih..

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

1. Iya benar menurut pendapat yang shohih dalam madhab Syafi’i.

2. Sah asalkan setelah air merata keseluruh tubuh (dalam artian mandi besarnya sudah sah) tidak melakukan hal hal yang membatalkan wudhu.

– Kitab Roudhotut Tholibin karya Imam Nawawi I / 94 Cet Beirut :

فرع من اجتمع عليه حدثان : أصغر . وأكبر . فيه أوجه . الصحيح : يكفيه غسل جميع البدن بنية الغسل وحده ، ولا ترتيب عليه . والثاني : يجب نية الحدثين إن اقتصر على الغسل . والثالث : يجب وضوء مرتب ، وغسل جميع البدن . فإن شاء قدم الوضوء ، وإن شاء أخره . والرابع : يجب وضوء مرتب ، وغسل باقي البدن . هذا كله إذا وقع الحدثان معا ، أو سبق الأصغر ، وأما إذا سبق الأكبر ، فطريقان . أصحهما : طرد الخلاف . والثاني : القطع بالاكتفاء بالغسل .

[ Cabang ] Barang siapa yang terkumpul padanya dua hadats, kecil dan besar, maka terdapat beberapa pendapat :

1.Pendpat yang shohih adalah cukup baginya membasuk seluruh badannya dengan niat mandi saja dan tidak memerlukan tartib (urutan dalam wudhu)

2.Jika melakukan mandi saja maka wajib niat dua hadats

3.Wajib wudhu secara urut dan membasuh seluruh badan, boleh wudhu di awal atau di akhir mandi

4.Wajib wudhu secara urut dan membasuh sisa badan yang belum terkena air.

Itu semua jika hadasnya terjadi secara bersamaan atau hadas kecil mendahulinya.
Adapun jika hadast besarnya yang mendahului hadas kecil maka ada dua pendapat :

1. Pendapat yang paling sohih adalah sebgaimana hilaf diatas.

2. Sudah pasti cukup dengan sekali mandi.

Disebutkan dalam Al-Asybah Wannadho-ir halaman 86 Cet Thoha Putra Semarang :

ﺍﻟﻘﺎﻋﺪﺓ ﺍﻟﺘﺎﺳﻌﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺃﻣﺮﺍﻥ ﻣﻦ ﺟﻨﺲ ﻭﺍﺣﺪ ، ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻣﻘﺼﻮﺩﻫﻤﺎ ، ﺩﺧﻞ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮ ﻏﺎﻟﺒﺎ

فَمِنْ فُرُوعِ ذَلِكَ إذَا اجْتَمَعَ حَدَثٌ وَجَنَابَةٌ, كَفَى الْغُسْلُ عَلَى الْمَذْهَبِ, كَمَا لَوْ اجْتَمَعَ جَنَابَةٌ وَحَيْضٌ

“Qaidah ke sembilan : Apabila ada dua perkara yang sejenis dan maksud (tujuannya) tidak berbeda berkumpul jadi satu maka secara umum salah satunya masuk kepada yang lain”.
Diantara yang masuk dalam qaidah ini adalah : Apabila hadats dan junub berkumpul menjadi satu, maka cukup mandi saja menurut madhab Syafi’i, seperti halnya berkumpulnya junub dan hadats dan hadats sebab haidl, maka cukup mandi satu saja.

Walaahu A’lamu bisshowab..

T041. SHOHIBUL JABAIR (ORANG YANG MEMAKAI PERBAN/PEMBALUT)

Shohibul Jabâ’ir

(Orang Yang Memakai Perban/Pembalut)

Pengertian

Secara definitiv, jabâ’ir yang merupakan bentuk jama’ dari jabîroh adalah pembalut yang dipasang pada bagian yang retak, patah, pecah, terluka atau terlepas, agar segera pulih kembali. Diantara bentuk jabîroh adalah gips, perban, pembalut, obat dan lain-lain.

Syarat Diperbolehkan Mengusap Jabîroh .

1. Tidak mungkin melepas jabîroh karena dikhawatirkan akan terlalu lama menderita, bertambah parah atau justru menambah luka baru.

2. Posisi jabîroh tidak melebihi anggota yang sehat di sekitar luka, dari sekedar bagian yang dibutuhkan untuk melekatkan.

3. Pemasangan jabîroh dilakukan dalam keadaan suci.

4. Posisi jabîroh berada diselain anggota tayammum (menurut pandapat masyhur yang dipilih Imam Nawawi. Sedang menurut mayoritas ulama’ tidak disayaratkan).

Apabila tidak memenuhi syarat di atas, maka tetap diperbolehkan mengusap jabîroh dan melakukan sholat, namun ketika lukanya telah sembuh dan jabîrohnya dilepas, wajib berwudlu dengan sempurna dan mengulangi sholat.

Tata cara bersuci.

Katika bersuci, perban harus dilepas dan membasuh anggotanya jika tidak khawatir akan menimbulkan bahaya pada anggota yang sakit. Jika khawatir, maka tata cara bersucinya sebagai berikut :

A. Hadas Besar.

Oleh karena dalam basuhan mandi tidak disyaratkan tertib, maka prakteknya boleh mendahulukan tayammum atau mendahulukan mandi.

Cara pertama :

1. Tayammum sebagaimana biasa, dan disunahkan mengusap jabîroh dengan debu

2. Membasuh anggota tubuh yang sehat dengan air.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

Cara demikian lebih utama, karena dengan mengakhirkan basuhan, sisa-sisa debu tayammum akan hilang.

Cara kedua :

1. Membasuh anggota tubuh yang sehat dengan air

2. Mengusap jabîroh dengan air.

3. Tayammum.

B. Hadas Kecil.

Jika jabîroh terletak di luar anggota wudlu, maka cara bersucinya dengan wudlu seperti biasa. Sedang bila jabîrohnya terletak pada anggota wudlu, maka cara bersucinya sebagaimana berikut :

1. Tayammum seperti biasa.

2. Membasuh seluruh anggota yang sehat di sekitar jabîroh.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

Karena dalam wudlu disyaratkan tertib, maka cara di atas dilakukan pada giliran anggota wudlu yang dibasuh, baru kemudian melanjutkan wudlunya. Mengenai urutan antara tayammum, membasuh anggota yang sehat di sekitar jabîroh dan mengusap jabîroh tidak disyaratkan tertib.

Praktek Bersuci Orang Yang Memakai Jabîroh.

Ø Jabîroh berada di wajah.

1. Niat wudlu besertaan membasuh bagian wajah yang sehat di sekitar jabîroh.

2. Mengusap jabîroh dengan air.

3. Tayammum.

4. Membasuh tangan.

5. Mengusap sebagian kepala.

6. membasuh kedua kaki.

Disamping urutan cara di atas, bisa juga dengan cara mendahulukan tayammum lalu mengusap jabîroh dengan air, setelah itu membasuh bagian wajah yang sehat.

Ø Jabîroh berada di kedua atau salah satu tangan.

1. Membasuh wajah bersamaan niat.

2. Tayammum.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

4. Membasuh anggota tangan yang sehat di sekitar jabîroh sebisa mungkin.

5. Mengusap sebagian kepala.

6. Membasuh kedua kaki.

Ø Jabîroh berada di sebagian kepala.

Caranya adalah berwudlu sebagaiman biasa, yakni mengusap sebagian kepala yang sehat dengan air.

Ø Jabîroh berada di kedua atau salah satu kaki.

1. Membasuh wajah disertai niat.

2. Membasuh kedua tangan.

3. Mengusap sebagian kepala.

4. Tayammum.

5. Mengusap jabîroh dengan air.

6. Membasuh bagian kaki yang sehat.

Ø Jabîroh berada di wajah dan kedua tangan.

Karena jabîroh berada pada dua anggota wudlu, maka tayammum juga harus dilakukan dua kali pada waktu giliran membasuh keduanya. Praktek lebih jelasnya sebagaimana berikut :

1. Membasuh wajah yang sehat disertai dengan niat.

2. Mengusap jabîroh dengan air yang ada pada wajah.

3. Tayammum.

4. Membasuh bagian tangan yang sehat

5. Tayammum.

6. Mengusap jabîroh yang berada di tangan.

7. Mengusap sebagian kepala.

8. Membasuh kedua kaki.

Ø Jabîroh berada di seluruh wajah.

1. Niat tayammum kemudian mengusap kedua tangan dengan debu.

2. Mengusap jabîroh dengan air.

3. Membasuh kedua tangan dengan air.

4. Mengusap sebagian kepala.

5. Membasuh kedua kaki.

Haruskah niat wudlu, jika harus dimana letaknya?

Ø Jabîroh berada di seluruh tangan.

1. Niat wudlu bersamaan membasuh wajah.

2. Tayammum.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

4. Mengusap sebagian kepala.

5. Membasuh kedua kaki.

Catatan :

1. Pengusapan jabîroh dengan air adalah sebagai pengganti tidak terbasuhnya anggota tayammum yang memang diperlukan untuk melekatkan jabîroh. Oleh karena itu, jabîroh yang sama sekali tidak melekat pada anggota yang sehat tidak perlu mengusap jabîroh. Cara bersucinya cukup dengan wudlu dan tayammum dan tidak perlu mengulangi sholatnya.

2. Pada saat tayammum disunahkan mengusap jabîroh dengan debu.

3. Tayammum adalah cara bersuci darurat yang hanya berlaku untuk satu sholat fardlu dan ibadah-ibadah sunah. Oleh karenanya, selama belum berhadas, setiap kali akan melakukan sholat fardlu, pemakai jabîrohharus mengulangi tayammum tanpa berwudlu dan megusap jabîroh. Berbeda ketika sudah berhadas, pemakai jabîroh harus mengulangi tata cara bersuci sebagaimana di atas secara tuntas.

Menurut Ibnu Hajar dalam Al-Î’âb tidak harus niat wudlu saat membasuh kedua tangan. Sedang menurut beliau dalamTuhfahnya wajib niat wudlu.

(المهذب,جز ٢,صحيفة ٣٧)
فاءن كان قد وضع الجباءر على غير طهر لزمه اعادة الصلاة،وان كان قد وضع على طهر ففيه قولان احدهما لا يلزمه كما لا يلزم ماسح الخف،والثاني يلزمه لاءنه ترك غسل العضو لعذر نادر غير متصل فكان كما لو ترك غسل العضو ناسيا

Jika orang itu meletakkan Jabiiroh (perbannya luka,perbannya patah tulang) di dalam keadaan tidak suci (tidak mempunyai wuduk atau dalam keadaan hadats besar),maka orang itu wajib mengulangi sholatnya. Tapi, jika orang itu meletakkan Jabiiroh dalam keadaan suci (mempunyai wuduk dan tidak sedang hadats besar), maka ada dua pendapat:

(1). Orang itu tidak wajib mengulangi sholatnya. Orang itu dikiaskan(di samakan) dengan orang yang mengusap sepatu,yang mana orang yang mengusap sepatu itu tidak diwajibkan mengulangi sholatnya.

(2). Orang itu wajib mengulangi sholatnya.Alasannya ialah karena orang itu meninggalkan terhadap membasuh anggota tubuh karena udzur yang jarang, yang mana udzurnya itu tidak terus menerus. Maka hukumnya orang itu adalah sama dengan hukumnya orang yang meninggalkan membasuh anggota tubuhnya karena lupa.

Walloohu a’lam bishshowaab..

T040. MAMIN (MAKANAN DAN MINUMAN) DIWARUNG NON MUSLIM YANG BANYAK ANJING

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum Ustadz

1. Bagaimana hukum minum & makan mamin (makanan & minuman) yang dihidangkan oleh orang non muslim (Hindu) yang disekitarnya banyak Anjing?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Ditafsil :

1. Jika didaerah warung itu dominan (lebih banyak) orang-orang muslim daripada non muslim, maka ditafsil :

a. Halal apabila mamin (makanan & minuman) tersebut tidak jelas mamin yang haram atau mamin yang terkena najis.

b. Haram apabila mamin tersebut nyata jelas/yakin mamin yang haram atau terkena najis.

2. Jika didaerah warung itu diragukan dominan orang-orang muslim/non muslim atau non muslim semuanya, maka hukum mamin itu haram kecuali mamin yang jelas/yakin halal/suci.

Referensi :

فتح المعين وإعانة الطالبين – (ج 1 / ص 104)

(قاعدة مهمة) وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله، فيه قولان معروفان بقولي الاصل والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر، عملا بالاصل المتيقن، لانه أضبط من الغالب المختلف بالاحوال والازمان، (وذلك كثياب خمار وحائض وصبيان)، وأواني متدينين بالنجاسة، وورق يغلب نثره على نجس، ولعاب صبي، وجوخ اشتهر عمله بشحم الخنزير، وجبن شامي اشتهر عمله بإنفحة الخنزير. وقد جاءه صلى الله عليه وسلم جبنة من عندهم فأكل منها ولم يسأل عن ذلك ذكره شيخنا في شرح المنهاج.

(قوله: وأواني متدينين بالنجاسة) أي أواني مشركين متدينين باستعمال النجاسة، كطائفة من المجوس يغتسلون بأبوال البقر تقربا.
(قوله: وجوخ إلخ) في المغني: سئل ابن الصلاح عن الجوخ الذي اشتهر على ألسنة الناس أن فيه شحم الخنزير ؟ فقال: لا يحكم بنجاسته إلا بتحقق النجاسة اهـ

حواشي الشرواني – (ج 1 / ص 127)

تتمة: يكره استعمال أواني الكفار وملبوسهم وما يلي أسافلهم أي مما يلي الجلد أشد وأواني مائهم أخف وكذلك المسلم الذي ظهر منه عدم تصوبه عن النجاسات ويسن إذا جن الليل تغطية الاناء ولو بعرض عود وألحق به ابن العماد البئر وإغلاق الابواب وإيكاء السقاء مسميا لله تعالى في الثلاثة وكف الصبيان والماشية أول ساعة من الليل وإطفاء المصباح للنوم ويسن ذكر اسم الله على كل أمر ذي بال كردي ومغني وقوله: (أواني الكفار) أي وإن كانوا يتدينون باستعمال النجاسة كطائفة من المجوس يغتسلون ببول البقر تقربا إلى الله تعالى قوله: (وكذلك المسلم الذي الخ) أي كمدمني الخمر والقصابين الذين لا يحترزون عن النجاسة مغني وشيخنا.

حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 13 / ص 130)
تَتِمَّةٌ تَتَعَلَّقُ بِالصَّيْدِ: لَوْ أَرْسَلَ كَلْبًا وَسَهْمًا فَأَزْمَنَهُ الْكَلْبُ ثُمَّ ذَبَحَهُ السَّهْمُ حَلَّ. وَإِنْ أَزْمَنَهُ السَّهْمُ ثُمَّ قَتَلَهُ الْكَلْبُ حَرُمَ وَلَوْ أَخْبَرَهُ فَاسِقٌ أَوْ كِتَابِيٌّ أَنَّهُ ذَبَحَ هَذِهِ الشَّاةَ مَثَلًا حَلَّ أَكْلُهَا لِأَنَّهُ مِنْ أَهْلِ الذَّبْحِ فَإِنْ كَانَ فِي الْبَلَدِ مَجُوسٌ وَمُسْلِمُونَ وَجُهِلَ ذَابِحُ الْحَيَوَانِ. هَلْ هُوَ مُسْلِمٌ أَوْ مَجُوسِيٌّ؟ لَمْ يَحِلَّ أَكْلُهُ لِلشَّكِّ فِي الذَّبْحِ الْمُبِيحِ وَالْأَصْلُ عَدَمُهُ نَعَمْ إنْ كَانَ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ كَمَا فِي بِلَادِ الْإِسْلَامِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَحِلَّ وَفِي مَعْنَى الْمَجُوسِيِّ كُلُّ مَنْ لَمْ تَحِلَّ ذَبِيحَتُهُ.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 1 / ص 220)
(يَنْبَغِي) أَيْ يُطْلَبُ وَمِنْ ثَمَّ كَانَ الْأَغْلَبُ فِيهَا اسْتِعْمَالَهَا فِي الْمَنْدُوبِ تَارَةً وَالْوُجُوبِ أُخْرَى، وَقَدْ تُسْتَعْمَلُ لِلْجَوَازِ أَوْ التَّرْجِيحِ وَلَا يَنْبَغِي قَدْ تَكُونُ لِلتَّحْرِيمِ أَوْ الْكَرَاهَةِ.

حواشي الشرواني – (ج 1 / ص 55)
(قَوْلُهُ اسْتِعْمَالُهَا) أَيْ لَفْظَةُ يَنْبَغِي (قَوْلُهُ فِي الْمَنْدُوبِ تَارَةً وَالْوُجُوبِ أُخْرَى) ، وَتُحْمَلُ عَلَى أَحَدِهِمَا بِالْقَرِينَةِ نِهَايَةٌ بَقِيَ مَا لَوْ لَمْ تَدُلَّ قَرِينَةً وَيَنْبَغِي أَنْ تُحْمَلَ عَلَى النَّدْبِ إنْ كَانَ التَّرَدُّدُ فِي حُكْمٍ شَرْعِيٍّ، وَإِلَّا فَعَلَى الِاسْتِحْسَانِ وَاللِّيَاقَةِ وَمَعْنَاهَا هُنَا كَمَا قَالَ عَمِيرَةُ إنَّهُ يُطْلَبُ وَيَحْسُنُ شَرْعًا تَرْكُ خُلُوِّ الْكِتَابِ مِنْهَا ع ش قَوْلُ الْمَتْنِ (أَنْ يُخَلِّيَ) لَعَلَّهُ مِنْ الْإِخْلَاءِ

اعانة الطالبين 1/105
إذا ثبت اصل فى الحل اوالحرمة اوالطهارة اوالنجاسة فلايزال الا باليقين فلو كان معه اناء من الخل او لبن المأكول اودهنه فشك فى تخمره لم يحرم التناول.

فتح الجواد بشرح منظومة ابن عماد ص : 73 – 75
ولو شك أنه لبن مأكول أو لحم مأكول أو غيره أو وجد شاة مذبوحة ولم يدر أذابحه مسلم أو مجوسي أو نباتا وشك أنه سم قاتل أم لا حرم التناول ولو أخبر فاسق أو كتابى بأنه ذكاها قبل وإذا تعارض أصل وظاهر فالعمل بالأصل اهـ

الأشباه والنظائر 47
( والثالث ) ما يرجح فيه الاصل على الاصح وضابطهان يستند الاحتمال الى سبب ضعيف وامثلته لاتكاد تحصر منها الشئ الذى لا يتقين بنجاسته ولكن الغالب فيه النجاسة كاوانى وثياب مدنى الخمر والقصابين والكفار المتدينين بها كا المجوس ومن ظهر اختلاطه بالنجاسة وعدم اخترازه منها مسلمل كان او كافرا كما فىشرح المهذب عن الامام…….. الى ان قال وفى جميع ذلك قولان اصحهما الحكم بالطاهرة استصحابا للاصل اهـ

بغية المسترشدين ص 15
(مسئلة) خذ قائدة ينبغى الاعتناء بها لكثرة فروعها ونفعها وهى كل عين لم تتيقن نجاستها لكن غلبت النجاسة فى جنسها كثياب الصبيان وجهلة الجزارين والمتدينين من الكفار بالنجاسة كاكلة الخنازير ارجح القولين فيها العمل بالاصل وهو الطهارة نعم يكره استعمال كل ما احتمل النجاسة على قرب وكل عين تيقنا نجاستها ولو بمغلظ ثو احتمل طهارتها ولو على بعد لاتنجس مالاقته فحينئذ لايحكم بنجاسة دكاكين الجزارين والحوتيت وزوارتهمالتى شوهدت الكلاب تلحسها اولايحكم بنجاسة اللحم او الحوت الموضوع عليها ومالاقاه من ابدان الناس الا ان شوهد ملاقتها للنجاسة فتكون البقعة التى لحسها الكلب نجسة وكذا مالاقاها يقينا بمشاهدة اواخبار عدل مع الرطوبة قبل احتمال طهرها بمرور سبع جريات بماء بتراب طهور ولايتعدى حكمها لباقى الدكان فضلا عن غيره وكل لحم وحوت وغيرهما خرج من تلك الاماكن محكوما بطهارته الا ما تيقنملاقاته لنفس المحل المتنجس ولم يشق ويعم الابتلاء به والا ما عفى عنه ايضا قاله ابو قصام وخالفه ابن حجر وفى النهاية والضابط ان كل ما يشق الاحتراز عنه غالبا

الاشباه والنظائر للسيوطي
قَالَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ: ذَكَر جَمَاعَةٌ مِنْ مُتَأَخِّرِي الْخُرَاسَانِيِّينَ: أَنَّ كُلَّ مَسْأَلَةٍ تَعَارَضَ فِيهَا أَصْلٌ وَظَاهِرٌ أَوْ أَصْلَانِ فَفِيهَا قَوْلَانِ، وَهَذَا الْإِطْلَاقُ لَيْسَ عَلَى ظَاهِرِهِ فَإِنَّ لَنَا مَسَائِلُ يُعْمَل فِيهَا بِالظَّاهِرِ بِلَا خِلَافٍ، كَشَهَادَةِ عَدْلَيْنِ، فَإِنَّهَا تُفِيدُ الظَّنَّ، وَيُعْمَل بِهَا بِالْإِجْمَاعِ، وَلَا يُنْظَرُ إلَى أَصْلِ بَرَاءَةِ الذِّمَّةِ، وَمَسْأَلَةُ بَوْلِ الظَّبْيَة وَأَشْبَاهِهَا، وَمَسَائِلُ يُعْمَلُ فِيهَا بِالْأَصْلِ بِلَا خِلَافٍ.
كَمَنْ ظَنَّ حَدَثًا، أَوْ طَلَاقًا، أَوْ عِتْقًا، أَوْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا فَإِنَّهُ يُعْمَلُ فِيهَا بِالْأَصْلِ بِلَا خِلَافٍ، قَالَ: وَالصَّوَابُ فِي الضَّابِطِ مَا حَرَّرَهُ ابْنُ الصَّلَاحِ فَقَالَ: إذَا تَعَارَضَ أَصْلَانِ أَوْ أَصْلُ وَظَاهِرٌ، وَجَبَ النَّظَرُ فِي التَّرْجِيح، كَمَا فِي تَعَارُضِ الدَّلِيلَيْنِ، فَإِنْ تَرَدَّدَ فِي الرَّاجِحِ فَهِيَ مَسَائِلُ الْقَوْلَيْنِ، وَإِنْ تَرَجَّحَ دَلِيلُ الظَّاهِرِ حُكِمَ بِهِ بِلَا خِلَافٍ، وَإِنْ تَرَجَّحَ دَلِيلٌ أَصْلِيٌّ حُكِمَ بِهِ بِلَا خِلَافٍ انْتَهَى.

الاشباه والنظائر للسيوطي
الْفَائِدَةُ الثَّانِيَةُ: قَالَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ الْإسْفَرايِينِيّ: الشَّكُّ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ، شَكٌّ طَرَأَ عَلَى أَصْلِ حَرَامٍ، وَشَكٌّ طَرَأَ عَلَى أَصْلٍ مُبَاحٍ، وَشَكٌّ لَا يُعْرَفُ أَصْلُهُ، فَالْأَوَّلُ: مِثْلُ أَنْ يَجِدَ شَاةً فِي بَلَدٍ فِيهَا مُسْلِمُونَ وَمَجُوسٌ فَلَا يَحِلُّ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّهَا ذَكَاةُ مُسْلِمٍ لِأَنَّهَا أَصْلَهَا حَرَامٌ، وَشَكَكْنَا فِي الذَّكَاةِ الْمُبِيحَةِ، فَلَوْ كَانَ الْغَالِبَ فِيهَا الْمُسْلِمُونَ جَازَ الْأَكْلُ عَمَلًا بِالْغَالِبِ الْمُفِيدِ لِلظُّهُورِ.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 1 / ص 497)
فُرُوعٌ : وَلَوْ رَفَعَ نَحْوُ كَلْبٍ رَأْسَهُ مِنْ إنَاءٍ فِيهِ مَائِعٌ أَوْ مَاءٌ قَلِيلٌ وَفَمُهُ رَطْبٌ لَمْ يُنَجَّسْ إنْ اُحْتُمِلَ تَرَطُّبُهُ مِنْ غَيْرِهِ عَمَلًا بِالْأَصْلِ ، وَإِلَّا تَنَجَّسَ وَلَوْ غَلَبَتْ النَّجَاسَةُ فِي شَيْءٍ ، وَالْأَصْلُ فِيهِ طَاهِرٌ كَثِيَابِ مُدْمِنِي الْخَمْرِ وَمُتَدَيِّنِينَ بِالنَّجَاسَةِ أَيْ كَالْمَجُوسِ وَمَجَانِينَ وَصِبْيَانٍ وَجَزَّارِينَ حُكِمَ بِالطَّهَارَةِ عَمَلًا بِالْأَصْلِ وَإِنْ كَانَ مِمَّا اطَّرَدَتْ الْعَادَةُ بِخِلَافِهِ كَاسْتِعْمَالِ السِّرْجِينِ فِي أَوَانِي الْفَخَّارِ خِلَافًا لِلْمَاوَرْدِيِّ ، وَيُحْكَمُ أَيْضًا بِطَهَارَةِ مَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى كَعَرَقِ الدَّوَابِّ أَيْ وَإِنْ كَثُرَ وَلُعَابِهَا وَلُعَابِ الصِّغَارِ أَيْ لِلْأُمِّ وَغَيْرِهَا وَالْجُوخِ .
وَقَدْ اُشْتُهِرَ اسْتِعْمَالُهُ بِشَحْمِ الْخِنْزِيرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَمِنْ الْبِدَعِ الْمَذْمُومَةِ غَسْلُ ثَوْبٍ جَدِيدٍ وَقَمْحٍ وَفَمٍ مِنْ نَحْوِ أَكْلِ خُبْزٍ وَالْبَقْلِ النَّابِتِ فِي نَجَاسَةِ مُتَنَجِّسٍ نَعَمْ مَا ارْتَفَعَ عَنْ مَنْبَتِهِ طَاهِرٌ ، وَلَوْ وُجِدَ قِطْعَةُ لَحْمٍ فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٌ بِبَلَدٍ لَا مَجُوسَ فِيهِ فَهِيَ طَاهِرَةٌ أَوْ مَرْمِيَّةٌ مَكْشُوفَةٌ فَنَجِسَةٌ أَوْ فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٍ وَالْمَجُوسُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَلَيْسَ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ فَكَذَلِكَ فَإِنْ غَلَبَ الْمُسْلِمُونَ فَطَاهِرَةٌ نِهَايَةٌ ، وَكَذَا فِي الْمُغْنِي إلَّا أَنَّهُ أَسْقَطَ قَوْلَهُ وَإِنْ كَانَ إلَى وَيُحْكَمُ وَزَادَ عَقِبَ خُبْزٍ قَوْلُهُ وَتَرَكَ مُوَاكَلَةَ الصِّبْيَانِ لِتَوَهُّمِ نَجَاسَتِهَا ا هـ .
وَفِي الْآخَرِ قَوْلُهُ وَكَذَا إنْ اسْتَوَيَا فِيمَا يَظْهَرُ ا هـ قَالَ ع ش قَوْلُهُ م ر عَمَلًا بِالْأَصْلِ أَيْ مَعَ غَلَبَةِ النَّجَاسَةِ عَلَى أَبْدَانِهِمْ ، وَمِنْ ذَلِكَ الْخُبْزُ الْمَخْبُوزُ بِمِصْرَ وَنَوَاحِيهَا فَإِنَّ الْغَالِبَ فِيهَا النَّجَاسَةُ لِكَوْنِهِ يُخْبَزُ بِالسِّرْجِينِ ، وَالْأَصْلُ فِيهِ الطَّهَارَةُ وَقَوْلُهُ كَاسْتِعْمَالِ السِّرْجِينِ إلَخْ أَيْ وَكَعَدِمِ الِاسْتِنْجَاءِ فِي فَرْجِ الصَّغِيرِ وَنَجَاسَةِ مَنْفَذِ الطَّائِرِ وَالْبَهِيمَةِ فَلَوْ جَلَسَ صَغِيرٌ فِي حِجْرِ مُصَلٍّ مَثَلًا أَوْ وَقَعَ طَائِرٌ عَلَيْهِ فَنَحْكُمُ بِصِحَّةِ صَلَاتِهِ اسْتِصْحَابًا لِأَصْلِ الطَّهَارَةِ فِي فَرْجِ الصَّغِيرِ ، وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ وَإِنْ اطَّرَدَتْ الْعَادَةُ بِنَجَاسَتِهِ وَقَوْلُهُ غَسْلُ ثَوْبٍ جَدِيدٍ أَيْ مَا لَمْ يَغْلِبْ عَلَى ظَنِّهِ نَجَاسَتُهُ ، وَمِمَّا يَغْلِبُ كَذَلِكَ مَا اُعْتِيدَ مِنْ التَّسَاهُلِ فِي عَدَمِ التَّحَرُّزِ عَنْ النَّجَاسَةِ مِمَّنْ يَتَعَاطَى حِيَاكَتَهُ أَوْ خِيَاطَتَهُ وَنَحْوَهُمَا .
وَقَوْلُهُ فَنَجِسَةٌ قَالَ سم عَلَى شَرْحِ الْبَهْجَةِ قَضِيَّتُهُ أَنَّهَا تُنَجِّسُ مَا أَصَابَتْهُ وَهُوَ مَمْنُوعٌ ؛ لِأَنَّ الْأَصْلَ الطَّهَارَةُ وَقَدْ صَرَّحَ بَعْضُهُمْ بِأَنَّ هَذَا بِالنِّسْبَةِ لِلْأَكْلِ كَمَا فَرَضَهُ فِي الْمَجْمُوعِ أَمَّا لَوْ أَصَابَتْ شَيْئًا فَلَا تُنَجِّسُهُ انْتَهَى ، وَقَدْ سَبَقَهُ الْإِسْنَوِيُّ إلَى ذَلِكَ ا هـ .
( فَائِدَةٌ ) لَوْ وُجِدَ قِطْعَةٌ مَعَ حِدَأَةٍ مَثَلًا هَلْ يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا عَمَلًا بِالْأَصْلِ وَهُوَ عَدَمُ تَذْكِيَةِ الْحَيَوَانِ أَمْ لَا فِيهِ نَظَرٌ ، وَالْأَقْرَبُ الْأَوَّلُ ع ش بِحَذْفِ أَقُولُ وَقَوْلُهُمَا وَالْجُوخُ وَقَدْ اُشْتُهِرَ اسْتِعْمَالُهُ بِشَحْمِ الْخِنْزِيرِ هَلْ يُلْحَقُ بِهِ السُّكَّرُ الْإِفْرِنْجِيُّ ، وَقَدْ اشْتَهَرَ أَنَّ عَمَلَهُ وَتَصْفِيَتَهُ بِدَمِ الْخِنْزِيرِ أَمْ لَا فِيهِ نَظَرٌ ، وَالظَّاهِرُ الْأَوَّلُ إذْ لَا يَظْهَرُ بَيْنَهُمَا فَرْقٌ ، وَالْأَصْلُ فِيهِ الطَّهَارَةُ فَلْيُرَاجَعْ ، ثُمَّ رَأَيْت فِي الْمُغْنِي مَا هُوَ كَالصَّرِيحِ فِي الطَّهَارَةِ .

أسنى المطالب – (ج 1 / ص 132)
( وَإِنْ وَجَدَ قِطْعَةَ لَحْمٍ فِي إنَاءٍ ) أَوْ خِرْقَةٍ ( بِبَلَدٍ لَا مَجُوسَ فِيهِ فَطَاهِرَةٌ أَوْ )، وَجَدَهَا ( مَرْمِيَّةً ) مَكْشُوفَةً ( أَوْ ) فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٍ (، وَالْمَجُوسِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ فَنَجِسَةٌ ) نَعَمْ إنْ كَانَ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبُ كَبِلَادِ الْإِسْلَامِ فَطَاهِرَةٌ لِأَنَّهُ يَغْلِبُ عَلَى الظَّنِّ أَنَّهَا ذَبِيحَةُ مُسْلِمٍ ذَكَرَهُ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَالْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَالْمَحَامِلِيُّ، وَغَيْرُهُمْ.
( قَوْلُهُ أَوْ وَجَدَهَا مَرْمِيَّةً، وَفِي إنَاءٍ إلَخْ ) قَالَ ابْنُ الْعِمَادِ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَثْنَى مَا إذَا كَانَتْ مَشْوِيَّةً أَوْ مَطْبُوخَةً فَإِنَّ ذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى طَهَارَتِهَا.
( قَوْلُهُ نَعَمْ إنْ كَانَ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ كَبِلَادِ الْإِسْلَامِ فَطَاهِرَةٌ إلَخْ ) قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ قَالَ الْمُتَوَلِّي لَوْ رَأَى حَيَوَانًا مَذْبُوحًا وَلَمْ يَدْرِ إذْ ذَبَحَهُ مُسْلِمٌ أَوْ كَافِرٌ أَوْ رَأَى قِطْعَةَ لَحْمٍ وَشَكَّ هَلْ هِيَ مِنْ مَأْكُولٍ أَوْ غَيْرِهِ لَمْ تَحِلَّ لِأَنَّهَا لَا تُبَاحُ إلَّا بِذَكَاةِ أَهْلِ الذَّكَاةِ وَشَكَكْنَا فِي ذَلِكَ وَالْأَصْلُ عَدَمُهُ اهـ وَفِي اشْتِبَاهِ الْمُحَرَّمِ بِالْحَلَالِ غَالِبٌ مُحَقَّقٌ وَهُوَ الْأَجْنَبِيَّاتُ وَالْحَرَامُ أَيْضًا مُحَقَّقٌ لَكِنَّهُ مَغْمُورٌ فِي الْحَلَالِ فَقُدِّمَ الْغَالِبُ بِخِلَافِ الْمُسْلِمِينَ إذَا غَلَبَ وُجُودُهُمْ فَإِنَّهُ لَمْ يَتَحَقَّقْ مِنْهُمْ فِعْلٌ فَلَيْسَ هَذَا نَظِيرَ ذَلِكَ وَإِذَا لَمْ يَتَحَقَّقْ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فِعْلٌ رَجَعْنَا إلَى الْأَصْلِ وَبِهَذَا يَظْهَرُ صِحَّةُ مَا قَالَهُ الْقَاضِي وَالْمُتَوَلِّي وَضَعَّفَ مَا نَقَلَهُ صَاحِبُ الْبَيَانِ عَنْ الشَّيْخِ أَبِي حَامِدٍ وَمِمَّا يُضَعِّفُهُ أَيْضًا مَسْأَلَةٌ ذَكَرَهَا الْأَصْحَابُ وَهُوَ أَنَّهُ لَوْ أَسْلَمَ إلَيْهِ فِي لَحْمٍ فَجَاءَ الْمُسْلِمُ إلَيْهِ بِاللَّحْمِ فَقَالَ الْمُسْلِمُ هَذَا لَحْمُ مَيْتَةٍ وَقَالَ الْمُسْلِمُ إلَيْهِ بَلْ لَحْمُ مُذَكَّاةٍ صَدَقَ الْمُسْلِمُ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي اللَّحْمِ التَّحْرِيمُ إلَّا بِذَكَاةٍ شَرْعِيَّةٍ.

أسنى المطالب – (ج 1 / ص 137)
( فَرْعٌ إذَا غَلَبَتْ النَّجَاسَةُ ) فِي شَيْءٍ ( وَالْأَصْلُ ) فِيهِ أَنَّهُ ( طَاهِرٌ كَثِيَابِ مُدْمِنِي الْخَمْرِ وَ ) ثِيَابِ ( مُتَدَيِّنَيْنِ بِالنَّجَاسَةِ ) كَالْمَجُوسِ ( وَ ) ثِيَابِ ( صِبْيَانِ ) بِكَسْرِ الصَّادِ أَشْهَرُ مِنْ ضَمِّهَا ( وَمَجَانِينَ وَقَصَّابِينَ ) أَيْ جَزَّارِينَ ( حُكِمَ ) لَهُ ( بِالطَّهَارَةِ ) عَمَلًا بِالْأَصْلِ ، وَمَحَلُّ الْعَمَلِ بِهِ إذَا اسْتَنَدَ ظَنَّ النَّجَاسَةِ إلَى غَلَبَتِهَا ، وَإِلَّا عَمِلَ بِالْغَالِبِ كَمَا مَرَّ فِي بَوْلِ الظَّبْيَةِ ، وَذِكْرُ الْمَجَانِينِ مِنْ زِيَادَتِهِ ( وَمَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى مِنْ ذَلِكَ كَعُرْفِ الدَّوَابِّ ، وَلُعَابِهَا ، وَلُعَابِ الصَّبِيِّ ، وَالْحِنْطَةِ ) الَّتِي ( تُدَاسُ ، وَالثَّوْرُ يَبُولُ ) عَلَيْهَا جُمْلَةٌ حَالِيَّةٌ ( وَالْجُوخُ ، وَقَدْ اُشْتُهِرَ اسْتِعْمَالُهُ بِشَحْمِ الْخِنْزِيرِ مَحْكُومٌ بِطَهَارَتِهِ ) ، وَالتَّصْرِيحُ بِهَذَا مِنْ زِيَادَتِهِ ، وَلَوْ قَالَ ، وَكَذَا مَا عَمَّتْ إلَخْ ، وَحَذَفَ قَوْلِهِ مَحْكُومٌ بِطَهَارَتِهِ كَانَ أَوْضَحَ ، وَأَخْصَرَ .
( قَوْلُهُ وَمَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى إلَخْ ) سُئِلَ ابْنُ الصَّلَاحِ عَنْ الْأَوْرَاقِ الَّتِي تُعْمَلُ وَتُبْسَطُ وَهِيَ رَطْبَةٌ عَلَى الْحِيطَانِ الْمَعْمُولَةِ بِرَمَادٍ نَجِسٍ فَقَالَ لَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا وَسُئِلَ عَنْ قَلِيلِ قَمْحٍ فِي سُفْلٍ وَقَدْ عَمَّتْ الْبَلْوَى بِزِبْلِ الْفَأْرِ وَأَمْثَالِ ذَلِكَ فَقَالَ لَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهِ إلَّا أَنْ تُعْلَمَ نَجَاسَةً فِي هَذَا الْحَبِّ الْمُعَيَّنِ.

مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج – (ج 1 / ص 124)
وَلَوْ غَلَبَتْ النَّجَاسَةُ فِي شَيْءٍ ، وَالْأَصْلُ فِيهِ الطَّهَارَةُ كَثِيَابِ مُدْمِنِي الْخَمْرِ ، وَمُتَدَيِّنِينَ بِالنَّجَاسَةِ كَالْمَجُوسِ ، وَمَجَانِينَ ، وَصِبْيَانٍ بِكَسْرِ الصَّادِ أَشْهُرُ مِنْ ضَمِّهَا وَجَزَّارِينَ حُكِمَ لَهُ بِالطَّهَارَةِ عَمَلًا بِالْأَصْلِ ، وَكَذَا مَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى مِنْ ذَلِكَ كَعَرَقِ الدَّوَابِّ وَلُعَابِهَا وَلُعَابِ الصَّبِيِّ وَالْحِنْطَةِ الَّتِي تُدَاسُ ، وَالثَّوْرُ يَبُولُ عَلَيْهَا وَالْجُوخُ ، وَقَدْ اشْتَهَرَ اسْتِعْمَالُهُ بِشَحْمِ الْخِنْزِيرِ ، وَمِنْ الْبِدَعِ الْمَذْمُومَةِ غَسْلُ ثَوْبٍ جَدِيدٍ وَقَمْحٍ وَفَمٍ مِنْ أَكْلِ نَحْوِ خُبْزٍ ، وَتَرْكُ مُؤَاكَلَةِ الصِّبْيَانِ لِتَوَهُّمِ نَجَاسَتِهَا قَالَهُ فِي الْعُبَابِ وَالْبَقْلُ النَّابِتُ فِي نَجَاسَةٍ مُتَنَجِّسٌ لَا مَا ارْتَفَعَ عَنْ مَنْبَتِهِ فَإِنَّهُ طَاهِرٌ ، وَلَوْ وَجَدَ قِطْعَةَ لَحْمٍ فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٍ بِبَلَدٍ لَا مَجُوسَ فِيهِ فَطَاهِرَةٌ ، أَوْ مَرْمِيَّةً مَكْشُوفَةً فَنَجِسَةٌ أَوْ فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٍ وَالْمَجُوسُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَلَمْ يَكُنْ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ فَكَذَلِكَ وَإِنْ كَانَ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ فَطَاهِرَةٌ وَكَذَا إذَا اسْتَوَيَا فِيمَا يَظْهَرُ.

Wallahua’lamu bisshowab..

T039 : CARA MENSUCIKAN BADAN SETELAH MAKAN DAGING BABI

PERTANYAAN :

Asslamualaikum Ustadz..

Deskripsi maslah:

Dono makan daging babi yang jelas haram di konsumsi oleh stiap manusia karena najis, kemudian hari si Dono ingin bertaubat dan menyesal terhdap apa yang telah di makan.

Pertanyaannya:
Bagaimna si dono cara menghilangkan najis yang ada di dalam tubuhnya sebab makan daging babi tersebut.?

mohon ibarotnya juga.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tetap wajib dicuci untuk bagian tubuh yang bisa terjangkau seperti mulut.

المختاج في شرح المنهاج

لو أكل مغلظا ثم خرج منه لم يجب تسبيع المخرج لأن الجوف محيل مطهر لانا نقول الجوف لايحيل النجس الى الطهارة مطلقا

Jika ada orang makan anjing atau babi kemudian keluar lagi daging anjing tersebut dari dalam orang yang makan tersebut, maka baginya tidak wajib membasuh 7 kali pada tempat keluarnya tersebut (DUBUR) dikarenakan perut memiliki kekuatan untuk merubah dzat suatu benda dan mensucikannya. dikarenakan kita (Syafiiyyah) menyatakan bahwa perut ini tidak bisa merubah dzatiyah benda najis menjadi suci secara mutlak.

Keringatnya orang yang memakan daging babi tetap suci karena bukan benda yang keluar dari dua lobang depan-belakang, juga bukan muntah :

وخرج بقوله من السبيلين الخارج من بقية المنافذ فهو طاهر الا القيئ الخارج من الفم بعد وصوله الى المعدة.الباجوري ١ / ١٠٠

Mulutnya wajib dibasuh 7 kali dan dicampur debu. :

ولو أكل لحم كلب نص الشافعي على أنه يغسل فمه سبعا ويعفره.هامش أسنى المطالب ١/٢٢

Bila orang yang makan daging anjing tersebut memuntahkan daging tersebut dalam keadaan utuh / dagingya tidak hancur menjadi kotoran maka wajib mulutnya di basuh 7 x lagi dan dicampuri debu, dan bila muntah tidak berupa daging / sudah hancur menjadi kotoran maka bila mulutnya sudah dibasuh 7 x dan dicampuri debu maka tidak wajib dibasuh 7 kali lagi / cukup dibasuh 1 x saja.:

ومن القيئ ما عاد حالا ولو من مغلظ فلا يجب تسبيع الفم منه كالدبر نعم اعتمد ع ش عدم وجوب التسبيع من خروج ما من شأنه الإستحالة وإن لم يستحل كاللحم الا إن خرج من الفم كذلك و وجوبه مما شأنه عدمها وإن استحال. بغية المسترشدين ص : ٢٢

.ولو تقايأ لحم نحو كلب غير مستحيل وجب عليه تسبيع فمه منه مع التتريب فإن استحال لم يجب ما ذكر اذا خرج منه بعد غسل فمه وتتريبه من الأكل وإلا وجبا فإن خرج من دبره كفاه الإستسجاء من فضلته ولو بالحجر وإن خرج غير مستحيل لأن شأنه ذلك وخرج باللحم العظم فيجب التسبيع بخروجه من الدبر ولو على غير صورته وكذا من الفم ومثل العظم الشعر لأن شأنه عدم الإستحالة ومثل اللحم العظم الرقيق الذي يؤكل معه عادة لأن شأنه الإستحالة. الشرقاوي ١/١١٨-١١٩

Sedangkan mengenai sesuatu yang dari dubur atau qubulnya orang yang makan najis mugholazhoh maka ditafsil sebagai berikut :

1. Wajib dibasuh 7 x dan dicampur dengan debu bila yang dimakan berupa sesuatu yang tidak mungkin berubah/tidak jadi kotoran seperti tulang dan rambut / bulu walaupun keluarnya sudah tidak berupa tulang dan rambut lagi.

2. Tidak wajib di basuh 7 x dan dicampuri debu bila yang dimakan berupa sesuatu yang berubah menjadi kotoran seperti daging walaupun keluarnya tetap berupa daging. :

.ولو أكل لحم كلب لم يجب تسبيع دبره من خروجه وإن خرج بعينه قبل إستحالته فيما يظهر وأفتى به البلقيني لأن الباطن محيل.نهاية المحتاج ١/٢٥٤

.فإن خرج من دبره كفاه الإستسجاء من فضلته ولو بالحجر وإن خرج غير مستحيل لأن شأنه ذلك وخرج باللحم العظم فيجب التسبيع بخروجه من الدبر ولو على غير صورته وكذا من الفم ومثل العظم الشعر لأن شأنه عدم الإستحالة ومثل اللحم العظم الرقيق الذي يؤكل معه عادة لأن شأنه الإستحالة. الشرقاوي ١/١١٨-١١٩

.اعتمد ع ش عدم وجوب التسبيع من خروج ما من شأنه الإستحالة وإن لم يستحل كاللحم الا إن خرج من الفم كذلك و وجوبه مما شأنه عدمها وإن استحال. بغية المسترشدين ص :

Wallahu a’lamu bisshowab..

T038. HUKUM MENULIS AL-QUR’AN BAGI WANITA HAID DAN ORANG JUNUB

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum menulis Al Qur’an bagi wanita haid dan orang junub, misalnya untuk menulis jawaban ketika ujian?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh asalkan tidak menyentuhnya.

Referensi :

Asnal Matholib Juz 1 Hlm. 61

اسنى المطالب ج ١ ص ٦١
(وَلَا) يَحْرُمُ (كَتْبُهُ) أَيْ الْقُرْآنَ (بِلَا مَسٍّ وَ) حَمْلٍ لَا (قَلْبِ وَرَقِهِ بِعُودِ) لِأَنَّهُ لَيْسَ بِحَمْلٍ وَلَا مَسٍّ

Boleh menulis al qur’an selagi tdk menyentuh atau memegang tulisanya(al maktub).

شرح البهجة الوردية الجزء 1 صحـ : 146 مكتبة المطبعة الميمنية:
وَلَا يَمْنَعُ الْحَدَثُ كَتْبَ الْقُرْآنِ إذَا خَلَا الْمَكْتُوبُ عَنْ مَسٍّ وَحَمْلٍ اهـ

Menulis al qur’an dlm keadaan punya hadats (muhdits) atau junub d bolehkan jika saat menulisya tidak menyentuh dan memegang tulisanya(al maktub).

Menulis pada waktu hadas atau junub ada 3 pendapat:

– Jika pada waktu menulis mushaf memegang dan menyentuh tulisan maka d haramkan menulisya, tp jika tdk menyentuh dan memegang tulisan maka menurut qoul shohih hukumya boleh menulisya.

– Menurut qoul masyhur hukumya haram secara mutlaq.

– Menurut imam mawardi, hukumya haram bagi org yang junub dan boleh bagi orang yang punya hadats (muhdits).

Menyentuh tulisanya tidak di haramkan jika niatya tidak krn al qur’an, tp jika menyentuhya krena niat al qur’an maka d haramkan.

al majmu’ syarah muhadzab 2/70

hasyiyah jamal 3/19

Referensi :

التبيان للنواوي ص 181
إذا كتب المحدث أو الجنب مصحفا إذا كان يحمل الورقة أو يمسها حال الكتابة فهو حرام, وان لم يحملها ولم يمسها, ففيه ثلاثة أوجوه: الصحيح جوازه, والثاني تحريمه, والثالث يجوز للمحدث ويحرم على الجنب.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T037. HUKUM MEMAKAN BUAH PALA/ PA’ALAH (Madura Red.)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Saya mau bertanya apakah Buah Pala/Pa’alah (Madura Red.) itu haram? Soalnya saya pernah baca artikel kalo buah pala itu haram.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Buah Pala/Pa’alah (Madura Red.) yang dalam bahasa Arab disebut (جوزة الطيب) adalah tanaman daerah tropis yang memiliki 200 spesies dan seluruhnya tersebar di daerah tropis. Buah pala biasa dipakai sebagai bahan bumbu makanan untuk menambah cita rasa dan aroma makanan ini sudah lama dikenal.

Sifat biji buah pala memabukkan
Ulama dalam kitab-kitab mereka menyebutkan bahwa buah Pala termasuk jenis tanaman yang memabukkan. [1] Hal ini juga diperkuat oleh penelitian modern, buah pala mengandung zat yang bisa mengganggu kerja syaraf dan otak seseorang. Disebutkan bahwa efeknya hampir sama dengan ganja jika dikonsumsi dalam jumlah besar.

Hukum memakan buah dan bijinya

Ulama berbeda pendapat tentang hukum buah Pala, sebagian mengharamkan secara mutlak sedangkan sebagian ulama yang lain menghalalkan bila tidak dengan kadar yang memabukkan.

1. Haram secara mutlak
Mayoritas ulama mengharamkan buah pala secara mutlak. Baik dikonsumsi sedikit maupun banyak. Atau dikonsumsi secara terpisah atau dicampur dengan makanan.[2] Hal ini karena keumuman hadits :

مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ

Apa yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya tetap haram.” (HR. Tirmidzi)

Referensi :

وجوزة الطيب (1) والبرش (2) وغيرها بالمضغ أو التدخين أو غيرهما ينتج عنه تغييب العقل، وقد يؤدي إلى الإدمان، مما يسبب تدهورا في عقلية المدمنين وصحتهم، وتغير الحال المعتدلة في الخلق والخلق.
قال ابن تيمية: كل ما يغيب العقل فإنه حرام، وإن لم تحصل به نشوة ولا طرب، فإن تغييب العقل حرام بإجماع المسلمين، أي إلا لغرض معتبر شرعا. (3)
6 – وذهب جمهور الفقهاء إلى حرمة تناول المخدرات التي تغشى العقل، ولو كانت لا تحدث الشدة المطربة التي لا ينفك عنها المسكر المائع.
وكما أن ما أسكر كثيره حرم قليله من المائعات، كذلك يحرم مطلقا ما يخدر من الأشياء الجامدة المضرة بالعقل أو غيره من أعضاء الجسد.
وذلك إذا تناول قدرا مضرا منها. دون ما يؤخذ منها من أجل المداواة؛ لأن حرمتها ليست لعينها، بل لضررها.
7 – وعلى هذا يحرم تناول البنج والحشيشة
(1) جوزة الطيب: وسمي بذلك لعطريته ودخوله في الأطياب، وهو ثمر شجرة في عظم شجرة الرمان. (التذكرة لداود الأنطاكي 1 / 101 ط محمد على صبيح)
(2) البرش: وهو مركب من الأفيون والبنج. (تذكرة داود الأنطاكي 1 / 66)
(3) مجموعة فتاوى ابن تيمية 34 / 198، 204، 211

2. Boleh bila kadarnya sedikit
Sedangkan sebagian ulama diantaranya imam Abu Hanifah, sebagian Malikiyyah, sebagian ulama syafi’iyyah seperti imam Ramli dan Syekh Wahbah Zuhaili berpendapat bahwa buah pala yang dicampur dengan masakan sekedar untuk penyedap rasa atau pengharum masakan hukumnya boleh.

Syekh Wahbah Zuhaili berkata : “Tidak mengapa menggunakan sedikit buah pala untuk memberi aroma dan rasa kepada makanan dan haram jika dalam jumlah yang banyak karena ia sesuatu yang bisa membius. Hal itu, menurutnya, karena hadis yang mengatakan, “Apa yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya tetap haram,” berlaku untuk sesuatu yang memang khusus dibuat untuk memabukkan seperti minuman keras. Sedangkan, buah pala ini biasanya digunakan untuk bumbu makanan atau untuk obat, bukan untuk tujuan memabukkan.”[3]

Kesimpulan :

Hukum menggunakan buah pala sebagai penyedap masakan khilaf ditengah-tengah ulama, antara yang mengharamkan dan yang membolehkan. Syaikh Wahbah Zuhaili termasuk yang menghalalkan, namun demikian yang terbaik adalah meninggalkannya untuk kehati-hatian.

[1]Az Zawaajir ‘an Iqtiraab al Kaba’ir (1/212), al Mukhdarat hal 16.
[2] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (11/34).
[3] Fiqh al Islami wa Adillatuhu (7/444

Wallahu a’lamu bisshowab..