Arsip Kategori: Thoharoh

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Thaharah.

SHOHIBUL JABAIR (ORANG YANG MEMAKAI PERBAN/PEMBALUT)

Shohibul Jabâ’ir

(Orang Yang Memakai Perban/Pembalut)

Pengertian

Secara definitiv, jabâ’ir yang merupakan bentuk jama’ dari jabîroh adalah pembalut yang dipasang pada bagian yang retak, patah, pecah, terluka atau terlepas, agar segera pulih kembali. Diantara bentuk jabîroh adalah gips, perban, pembalut, obat dan lain-lain.

Syarat Diperbolehkan Mengusap Jabîroh .

1. Tidak mungkin melepas jabîroh karena dikhawatirkan akan terlalu lama menderita, bertambah parah atau justru menambah luka baru.

2. Posisi jabîroh tidak melebihi anggota yang sehat di sekitar luka, dari sekedar bagian yang dibutuhkan untuk melekatkan.

3. Pemasangan jabîroh dilakukan dalam keadaan suci.

4. Posisi jabîroh berada diselain anggota tayammum (menurut pandapat masyhur yang dipilih Imam Nawawi. Sedang menurut mayoritas ulama’ tidak disayaratkan).

Apabila tidak memenuhi syarat di atas, maka tetap diperbolehkan mengusap jabîroh dan melakukan sholat, namun ketika lukanya telah sembuh dan jabîrohnya dilepas, wajib berwudlu dengan sempurna dan mengulangi sholat.

Tata cara bersuci.

Katika bersuci, perban harus dilepas dan membasuh anggotanya jika tidak khawatir akan menimbulkan bahaya pada anggota yang sakit. Jika khawatir, maka tata cara bersucinya sebagai berikut :

A. Hadas Besar.

Oleh karena dalam basuhan mandi tidak disyaratkan tertib, maka prakteknya boleh mendahulukan tayammum atau mendahulukan mandi.

Cara pertama :

1. Tayammum sebagaimana biasa, dan disunahkan mengusap jabîroh dengan debu

2. Membasuh anggota tubuh yang sehat dengan air.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

Cara demikian lebih utama, karena dengan mengakhirkan basuhan, sisa-sisa debu tayammum akan hilang.

Cara kedua :

1. Membasuh anggota tubuh yang sehat dengan air

2. Mengusap jabîroh dengan air.

3. Tayammum.

B. Hadas Kecil.

Jika jabîroh terletak di luar anggota wudlu, maka cara bersucinya dengan wudlu seperti biasa. Sedang bila jabîrohnya terletak pada anggota wudlu, maka cara bersucinya sebagaimana berikut :

1. Tayammum seperti biasa.

2. Membasuh seluruh anggota yang sehat di sekitar jabîroh.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

Karena dalam wudlu disyaratkan tertib, maka cara di atas dilakukan pada giliran anggota wudlu yang dibasuh, baru kemudian melanjutkan wudlunya. Mengenai urutan antara tayammum, membasuh anggota yang sehat di sekitar jabîroh dan mengusap jabîroh tidak disyaratkan tertib.

Praktek Bersuci Orang Yang Memakai Jabîroh.

Ø Jabîroh berada di wajah.

1. Niat wudlu besertaan membasuh bagian wajah yang sehat di sekitar jabîroh.

2. Mengusap jabîroh dengan air.

3. Tayammum.

4. Membasuh tangan.

5. Mengusap sebagian kepala.

6. membasuh kedua kaki.

Disamping urutan cara di atas, bisa juga dengan cara mendahulukan tayammum lalu mengusap jabîroh dengan air, setelah itu membasuh bagian wajah yang sehat.

Ø Jabîroh berada di kedua atau salah satu tangan.

1. Membasuh wajah bersamaan niat.

2. Tayammum.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

4. Membasuh anggota tangan yang sehat di sekitar jabîroh sebisa mungkin.

5. Mengusap sebagian kepala.

6. Membasuh kedua kaki.

Ø Jabîroh berada di sebagian kepala.

Caranya adalah berwudlu sebagaiman biasa, yakni mengusap sebagian kepala yang sehat dengan air.

Ø Jabîroh berada di kedua atau salah satu kaki.

1. Membasuh wajah disertai niat.

2. Membasuh kedua tangan.

3. Mengusap sebagian kepala.

4. Tayammum.

5. Mengusap jabîroh dengan air.

6. Membasuh bagian kaki yang sehat.

Ø Jabîroh berada di wajah dan kedua tangan.

Karena jabîroh berada pada dua anggota wudlu, maka tayammum juga harus dilakukan dua kali pada waktu giliran membasuh keduanya. Praktek lebih jelasnya sebagaimana berikut :

1. Membasuh wajah yang sehat disertai dengan niat.

2. Mengusap jabîroh dengan air yang ada pada wajah.

3. Tayammum.

4. Membasuh bagian tangan yang sehat

5. Tayammum.

6. Mengusap jabîroh yang berada di tangan.

7. Mengusap sebagian kepala.

8. Membasuh kedua kaki.

Ø Jabîroh berada di seluruh wajah.

1. Niat tayammum kemudian mengusap kedua tangan dengan debu.

2. Mengusap jabîroh dengan air.

3. Membasuh kedua tangan dengan air.

4. Mengusap sebagian kepala.

5. Membasuh kedua kaki.

Haruskah niat wudlu, jika harus dimana letaknya?

Ø Jabîroh berada di seluruh tangan.

1. Niat wudlu bersamaan membasuh wajah.

2. Tayammum.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

4. Mengusap sebagian kepala.

5. Membasuh kedua kaki.

Catatan :

1. Pengusapan jabîroh dengan air adalah sebagai pengganti tidak terbasuhnya anggota tayammum yang memang diperlukan untuk melekatkan jabîroh. Oleh karena itu, jabîroh yang sama sekali tidak melekat pada anggota yang sehat tidak perlu mengusap jabîroh. Cara bersucinya cukup dengan wudlu dan tayammum dan tidak perlu mengulangi sholatnya.

2. Pada saat tayammum disunahkan mengusap jabîroh dengan debu.

3. Tayammum adalah cara bersuci darurat yang hanya berlaku untuk satu sholat fardlu dan ibadah-ibadah sunah. Oleh karenanya, selama belum berhadas, setiap kali akan melakukan sholat fardlu, pemakai jabîrohharus mengulangi tayammum tanpa berwudlu dan megusap jabîroh. Berbeda ketika sudah berhadas, pemakai jabîroh harus mengulangi tata cara bersuci sebagaimana di atas secara tuntas.

Menurut Ibnu Hajar dalam Al-Î’âb tidak harus niat wudlu saat membasuh kedua tangan. Sedang menurut beliau dalamTuhfahnya wajib niat wudlu.

(المهذب,جز ٢,صحيفة ٣٧)
فاءن كان قد وضع الجباءر على غير طهر لزمه اعادة الصلاة،وان كان قد وضع على طهر ففيه قولان احدهما لا يلزمه كما لا يلزم ماسح الخف،والثاني يلزمه لاءنه ترك غسل العضو لعذر نادر غير متصل فكان كما لو ترك غسل العضو ناسيا

Jika orang itu meletakkan Jabiiroh (perbannya luka,perbannya patah tulang) di dalam keadaan tidak suci (tidak mempunyai wuduk atau dalam keadaan hadats besar),maka orang itu wajib mengulangi sholatnya. Tapi, jika orang itu meletakkan Jabiiroh dalam keadaan suci (mempunyai wuduk dan tidak sedang hadats besar), maka ada dua pendapat:

(1). Orang itu tidak wajib mengulangi sholatnya. Orang itu dikiaskan(di samakan) dengan orang yang mengusap sepatu,yang mana orang yang mengusap sepatu itu tidak diwajibkan mengulangi sholatnya.

(2). Orang itu wajib mengulangi sholatnya.Alasannya ialah karena orang itu meninggalkan terhadap membasuh anggota tubuh karena udzur yang jarang, yang mana udzurnya itu tidak terus menerus. Maka hukumnya orang itu adalah sama dengan hukumnya orang yang meninggalkan membasuh anggota tubuhnya karena lupa.

Walloohu a’lam bishshowaab..

T040. MAMIN (MAKANAN DAN MINUMAN) DIWARUNG NON MUSLIM YANG BANYAK ANJING

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum Ustadz

1. Bagaimana hukum minum & makan mamin (makanan & minuman) yang dihidangkan oleh orang non muslim (Hindu) yang disekitarnya banyak Anjing?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Ditafsil :

1. Jika didaerah warung itu dominan (lebih banyak) orang-orang muslim daripada non muslim, maka ditafsil :

a. Halal apabila mamin (makanan & minuman) tersebut tidak jelas mamin yang haram atau mamin yang terkena najis.

b. Haram apabila mamin tersebut nyata jelas/yakin mamin yang haram atau terkena najis.

2. Jika didaerah warung itu diragukan dominan orang-orang muslim/non muslim atau non muslim semuanya, maka hukum mamin itu haram kecuali mamin yang jelas/yakin halal/suci.

Referensi :

فتح المعين وإعانة الطالبين – (ج 1 / ص 104)

(قاعدة مهمة) وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله، فيه قولان معروفان بقولي الاصل والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر، عملا بالاصل المتيقن، لانه أضبط من الغالب المختلف بالاحوال والازمان، (وذلك كثياب خمار وحائض وصبيان)، وأواني متدينين بالنجاسة، وورق يغلب نثره على نجس، ولعاب صبي، وجوخ اشتهر عمله بشحم الخنزير، وجبن شامي اشتهر عمله بإنفحة الخنزير. وقد جاءه صلى الله عليه وسلم جبنة من عندهم فأكل منها ولم يسأل عن ذلك ذكره شيخنا في شرح المنهاج.

(قوله: وأواني متدينين بالنجاسة) أي أواني مشركين متدينين باستعمال النجاسة، كطائفة من المجوس يغتسلون بأبوال البقر تقربا.
(قوله: وجوخ إلخ) في المغني: سئل ابن الصلاح عن الجوخ الذي اشتهر على ألسنة الناس أن فيه شحم الخنزير ؟ فقال: لا يحكم بنجاسته إلا بتحقق النجاسة اهـ

حواشي الشرواني – (ج 1 / ص 127)

تتمة: يكره استعمال أواني الكفار وملبوسهم وما يلي أسافلهم أي مما يلي الجلد أشد وأواني مائهم أخف وكذلك المسلم الذي ظهر منه عدم تصوبه عن النجاسات ويسن إذا جن الليل تغطية الاناء ولو بعرض عود وألحق به ابن العماد البئر وإغلاق الابواب وإيكاء السقاء مسميا لله تعالى في الثلاثة وكف الصبيان والماشية أول ساعة من الليل وإطفاء المصباح للنوم ويسن ذكر اسم الله على كل أمر ذي بال كردي ومغني وقوله: (أواني الكفار) أي وإن كانوا يتدينون باستعمال النجاسة كطائفة من المجوس يغتسلون ببول البقر تقربا إلى الله تعالى قوله: (وكذلك المسلم الذي الخ) أي كمدمني الخمر والقصابين الذين لا يحترزون عن النجاسة مغني وشيخنا.

حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 13 / ص 130)
تَتِمَّةٌ تَتَعَلَّقُ بِالصَّيْدِ: لَوْ أَرْسَلَ كَلْبًا وَسَهْمًا فَأَزْمَنَهُ الْكَلْبُ ثُمَّ ذَبَحَهُ السَّهْمُ حَلَّ. وَإِنْ أَزْمَنَهُ السَّهْمُ ثُمَّ قَتَلَهُ الْكَلْبُ حَرُمَ وَلَوْ أَخْبَرَهُ فَاسِقٌ أَوْ كِتَابِيٌّ أَنَّهُ ذَبَحَ هَذِهِ الشَّاةَ مَثَلًا حَلَّ أَكْلُهَا لِأَنَّهُ مِنْ أَهْلِ الذَّبْحِ فَإِنْ كَانَ فِي الْبَلَدِ مَجُوسٌ وَمُسْلِمُونَ وَجُهِلَ ذَابِحُ الْحَيَوَانِ. هَلْ هُوَ مُسْلِمٌ أَوْ مَجُوسِيٌّ؟ لَمْ يَحِلَّ أَكْلُهُ لِلشَّكِّ فِي الذَّبْحِ الْمُبِيحِ وَالْأَصْلُ عَدَمُهُ نَعَمْ إنْ كَانَ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ كَمَا فِي بِلَادِ الْإِسْلَامِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَحِلَّ وَفِي مَعْنَى الْمَجُوسِيِّ كُلُّ مَنْ لَمْ تَحِلَّ ذَبِيحَتُهُ.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 1 / ص 220)
(يَنْبَغِي) أَيْ يُطْلَبُ وَمِنْ ثَمَّ كَانَ الْأَغْلَبُ فِيهَا اسْتِعْمَالَهَا فِي الْمَنْدُوبِ تَارَةً وَالْوُجُوبِ أُخْرَى، وَقَدْ تُسْتَعْمَلُ لِلْجَوَازِ أَوْ التَّرْجِيحِ وَلَا يَنْبَغِي قَدْ تَكُونُ لِلتَّحْرِيمِ أَوْ الْكَرَاهَةِ.

حواشي الشرواني – (ج 1 / ص 55)
(قَوْلُهُ اسْتِعْمَالُهَا) أَيْ لَفْظَةُ يَنْبَغِي (قَوْلُهُ فِي الْمَنْدُوبِ تَارَةً وَالْوُجُوبِ أُخْرَى) ، وَتُحْمَلُ عَلَى أَحَدِهِمَا بِالْقَرِينَةِ نِهَايَةٌ بَقِيَ مَا لَوْ لَمْ تَدُلَّ قَرِينَةً وَيَنْبَغِي أَنْ تُحْمَلَ عَلَى النَّدْبِ إنْ كَانَ التَّرَدُّدُ فِي حُكْمٍ شَرْعِيٍّ، وَإِلَّا فَعَلَى الِاسْتِحْسَانِ وَاللِّيَاقَةِ وَمَعْنَاهَا هُنَا كَمَا قَالَ عَمِيرَةُ إنَّهُ يُطْلَبُ وَيَحْسُنُ شَرْعًا تَرْكُ خُلُوِّ الْكِتَابِ مِنْهَا ع ش قَوْلُ الْمَتْنِ (أَنْ يُخَلِّيَ) لَعَلَّهُ مِنْ الْإِخْلَاءِ

اعانة الطالبين 1/105
إذا ثبت اصل فى الحل اوالحرمة اوالطهارة اوالنجاسة فلايزال الا باليقين فلو كان معه اناء من الخل او لبن المأكول اودهنه فشك فى تخمره لم يحرم التناول.

فتح الجواد بشرح منظومة ابن عماد ص : 73 – 75
ولو شك أنه لبن مأكول أو لحم مأكول أو غيره أو وجد شاة مذبوحة ولم يدر أذابحه مسلم أو مجوسي أو نباتا وشك أنه سم قاتل أم لا حرم التناول ولو أخبر فاسق أو كتابى بأنه ذكاها قبل وإذا تعارض أصل وظاهر فالعمل بالأصل اهـ

الأشباه والنظائر 47
( والثالث ) ما يرجح فيه الاصل على الاصح وضابطهان يستند الاحتمال الى سبب ضعيف وامثلته لاتكاد تحصر منها الشئ الذى لا يتقين بنجاسته ولكن الغالب فيه النجاسة كاوانى وثياب مدنى الخمر والقصابين والكفار المتدينين بها كا المجوس ومن ظهر اختلاطه بالنجاسة وعدم اخترازه منها مسلمل كان او كافرا كما فىشرح المهذب عن الامام…….. الى ان قال وفى جميع ذلك قولان اصحهما الحكم بالطاهرة استصحابا للاصل اهـ

بغية المسترشدين ص 15
(مسئلة) خذ قائدة ينبغى الاعتناء بها لكثرة فروعها ونفعها وهى كل عين لم تتيقن نجاستها لكن غلبت النجاسة فى جنسها كثياب الصبيان وجهلة الجزارين والمتدينين من الكفار بالنجاسة كاكلة الخنازير ارجح القولين فيها العمل بالاصل وهو الطهارة نعم يكره استعمال كل ما احتمل النجاسة على قرب وكل عين تيقنا نجاستها ولو بمغلظ ثو احتمل طهارتها ولو على بعد لاتنجس مالاقته فحينئذ لايحكم بنجاسة دكاكين الجزارين والحوتيت وزوارتهمالتى شوهدت الكلاب تلحسها اولايحكم بنجاسة اللحم او الحوت الموضوع عليها ومالاقاه من ابدان الناس الا ان شوهد ملاقتها للنجاسة فتكون البقعة التى لحسها الكلب نجسة وكذا مالاقاها يقينا بمشاهدة اواخبار عدل مع الرطوبة قبل احتمال طهرها بمرور سبع جريات بماء بتراب طهور ولايتعدى حكمها لباقى الدكان فضلا عن غيره وكل لحم وحوت وغيرهما خرج من تلك الاماكن محكوما بطهارته الا ما تيقنملاقاته لنفس المحل المتنجس ولم يشق ويعم الابتلاء به والا ما عفى عنه ايضا قاله ابو قصام وخالفه ابن حجر وفى النهاية والضابط ان كل ما يشق الاحتراز عنه غالبا

الاشباه والنظائر للسيوطي
قَالَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ: ذَكَر جَمَاعَةٌ مِنْ مُتَأَخِّرِي الْخُرَاسَانِيِّينَ: أَنَّ كُلَّ مَسْأَلَةٍ تَعَارَضَ فِيهَا أَصْلٌ وَظَاهِرٌ أَوْ أَصْلَانِ فَفِيهَا قَوْلَانِ، وَهَذَا الْإِطْلَاقُ لَيْسَ عَلَى ظَاهِرِهِ فَإِنَّ لَنَا مَسَائِلُ يُعْمَل فِيهَا بِالظَّاهِرِ بِلَا خِلَافٍ، كَشَهَادَةِ عَدْلَيْنِ، فَإِنَّهَا تُفِيدُ الظَّنَّ، وَيُعْمَل بِهَا بِالْإِجْمَاعِ، وَلَا يُنْظَرُ إلَى أَصْلِ بَرَاءَةِ الذِّمَّةِ، وَمَسْأَلَةُ بَوْلِ الظَّبْيَة وَأَشْبَاهِهَا، وَمَسَائِلُ يُعْمَلُ فِيهَا بِالْأَصْلِ بِلَا خِلَافٍ.
كَمَنْ ظَنَّ حَدَثًا، أَوْ طَلَاقًا، أَوْ عِتْقًا، أَوْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا فَإِنَّهُ يُعْمَلُ فِيهَا بِالْأَصْلِ بِلَا خِلَافٍ، قَالَ: وَالصَّوَابُ فِي الضَّابِطِ مَا حَرَّرَهُ ابْنُ الصَّلَاحِ فَقَالَ: إذَا تَعَارَضَ أَصْلَانِ أَوْ أَصْلُ وَظَاهِرٌ، وَجَبَ النَّظَرُ فِي التَّرْجِيح، كَمَا فِي تَعَارُضِ الدَّلِيلَيْنِ، فَإِنْ تَرَدَّدَ فِي الرَّاجِحِ فَهِيَ مَسَائِلُ الْقَوْلَيْنِ، وَإِنْ تَرَجَّحَ دَلِيلُ الظَّاهِرِ حُكِمَ بِهِ بِلَا خِلَافٍ، وَإِنْ تَرَجَّحَ دَلِيلٌ أَصْلِيٌّ حُكِمَ بِهِ بِلَا خِلَافٍ انْتَهَى.

الاشباه والنظائر للسيوطي
الْفَائِدَةُ الثَّانِيَةُ: قَالَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ الْإسْفَرايِينِيّ: الشَّكُّ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ، شَكٌّ طَرَأَ عَلَى أَصْلِ حَرَامٍ، وَشَكٌّ طَرَأَ عَلَى أَصْلٍ مُبَاحٍ، وَشَكٌّ لَا يُعْرَفُ أَصْلُهُ، فَالْأَوَّلُ: مِثْلُ أَنْ يَجِدَ شَاةً فِي بَلَدٍ فِيهَا مُسْلِمُونَ وَمَجُوسٌ فَلَا يَحِلُّ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّهَا ذَكَاةُ مُسْلِمٍ لِأَنَّهَا أَصْلَهَا حَرَامٌ، وَشَكَكْنَا فِي الذَّكَاةِ الْمُبِيحَةِ، فَلَوْ كَانَ الْغَالِبَ فِيهَا الْمُسْلِمُونَ جَازَ الْأَكْلُ عَمَلًا بِالْغَالِبِ الْمُفِيدِ لِلظُّهُورِ.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 1 / ص 497)
فُرُوعٌ : وَلَوْ رَفَعَ نَحْوُ كَلْبٍ رَأْسَهُ مِنْ إنَاءٍ فِيهِ مَائِعٌ أَوْ مَاءٌ قَلِيلٌ وَفَمُهُ رَطْبٌ لَمْ يُنَجَّسْ إنْ اُحْتُمِلَ تَرَطُّبُهُ مِنْ غَيْرِهِ عَمَلًا بِالْأَصْلِ ، وَإِلَّا تَنَجَّسَ وَلَوْ غَلَبَتْ النَّجَاسَةُ فِي شَيْءٍ ، وَالْأَصْلُ فِيهِ طَاهِرٌ كَثِيَابِ مُدْمِنِي الْخَمْرِ وَمُتَدَيِّنِينَ بِالنَّجَاسَةِ أَيْ كَالْمَجُوسِ وَمَجَانِينَ وَصِبْيَانٍ وَجَزَّارِينَ حُكِمَ بِالطَّهَارَةِ عَمَلًا بِالْأَصْلِ وَإِنْ كَانَ مِمَّا اطَّرَدَتْ الْعَادَةُ بِخِلَافِهِ كَاسْتِعْمَالِ السِّرْجِينِ فِي أَوَانِي الْفَخَّارِ خِلَافًا لِلْمَاوَرْدِيِّ ، وَيُحْكَمُ أَيْضًا بِطَهَارَةِ مَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى كَعَرَقِ الدَّوَابِّ أَيْ وَإِنْ كَثُرَ وَلُعَابِهَا وَلُعَابِ الصِّغَارِ أَيْ لِلْأُمِّ وَغَيْرِهَا وَالْجُوخِ .
وَقَدْ اُشْتُهِرَ اسْتِعْمَالُهُ بِشَحْمِ الْخِنْزِيرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَمِنْ الْبِدَعِ الْمَذْمُومَةِ غَسْلُ ثَوْبٍ جَدِيدٍ وَقَمْحٍ وَفَمٍ مِنْ نَحْوِ أَكْلِ خُبْزٍ وَالْبَقْلِ النَّابِتِ فِي نَجَاسَةِ مُتَنَجِّسٍ نَعَمْ مَا ارْتَفَعَ عَنْ مَنْبَتِهِ طَاهِرٌ ، وَلَوْ وُجِدَ قِطْعَةُ لَحْمٍ فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٌ بِبَلَدٍ لَا مَجُوسَ فِيهِ فَهِيَ طَاهِرَةٌ أَوْ مَرْمِيَّةٌ مَكْشُوفَةٌ فَنَجِسَةٌ أَوْ فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٍ وَالْمَجُوسُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَلَيْسَ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ فَكَذَلِكَ فَإِنْ غَلَبَ الْمُسْلِمُونَ فَطَاهِرَةٌ نِهَايَةٌ ، وَكَذَا فِي الْمُغْنِي إلَّا أَنَّهُ أَسْقَطَ قَوْلَهُ وَإِنْ كَانَ إلَى وَيُحْكَمُ وَزَادَ عَقِبَ خُبْزٍ قَوْلُهُ وَتَرَكَ مُوَاكَلَةَ الصِّبْيَانِ لِتَوَهُّمِ نَجَاسَتِهَا ا هـ .
وَفِي الْآخَرِ قَوْلُهُ وَكَذَا إنْ اسْتَوَيَا فِيمَا يَظْهَرُ ا هـ قَالَ ع ش قَوْلُهُ م ر عَمَلًا بِالْأَصْلِ أَيْ مَعَ غَلَبَةِ النَّجَاسَةِ عَلَى أَبْدَانِهِمْ ، وَمِنْ ذَلِكَ الْخُبْزُ الْمَخْبُوزُ بِمِصْرَ وَنَوَاحِيهَا فَإِنَّ الْغَالِبَ فِيهَا النَّجَاسَةُ لِكَوْنِهِ يُخْبَزُ بِالسِّرْجِينِ ، وَالْأَصْلُ فِيهِ الطَّهَارَةُ وَقَوْلُهُ كَاسْتِعْمَالِ السِّرْجِينِ إلَخْ أَيْ وَكَعَدِمِ الِاسْتِنْجَاءِ فِي فَرْجِ الصَّغِيرِ وَنَجَاسَةِ مَنْفَذِ الطَّائِرِ وَالْبَهِيمَةِ فَلَوْ جَلَسَ صَغِيرٌ فِي حِجْرِ مُصَلٍّ مَثَلًا أَوْ وَقَعَ طَائِرٌ عَلَيْهِ فَنَحْكُمُ بِصِحَّةِ صَلَاتِهِ اسْتِصْحَابًا لِأَصْلِ الطَّهَارَةِ فِي فَرْجِ الصَّغِيرِ ، وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ وَإِنْ اطَّرَدَتْ الْعَادَةُ بِنَجَاسَتِهِ وَقَوْلُهُ غَسْلُ ثَوْبٍ جَدِيدٍ أَيْ مَا لَمْ يَغْلِبْ عَلَى ظَنِّهِ نَجَاسَتُهُ ، وَمِمَّا يَغْلِبُ كَذَلِكَ مَا اُعْتِيدَ مِنْ التَّسَاهُلِ فِي عَدَمِ التَّحَرُّزِ عَنْ النَّجَاسَةِ مِمَّنْ يَتَعَاطَى حِيَاكَتَهُ أَوْ خِيَاطَتَهُ وَنَحْوَهُمَا .
وَقَوْلُهُ فَنَجِسَةٌ قَالَ سم عَلَى شَرْحِ الْبَهْجَةِ قَضِيَّتُهُ أَنَّهَا تُنَجِّسُ مَا أَصَابَتْهُ وَهُوَ مَمْنُوعٌ ؛ لِأَنَّ الْأَصْلَ الطَّهَارَةُ وَقَدْ صَرَّحَ بَعْضُهُمْ بِأَنَّ هَذَا بِالنِّسْبَةِ لِلْأَكْلِ كَمَا فَرَضَهُ فِي الْمَجْمُوعِ أَمَّا لَوْ أَصَابَتْ شَيْئًا فَلَا تُنَجِّسُهُ انْتَهَى ، وَقَدْ سَبَقَهُ الْإِسْنَوِيُّ إلَى ذَلِكَ ا هـ .
( فَائِدَةٌ ) لَوْ وُجِدَ قِطْعَةٌ مَعَ حِدَأَةٍ مَثَلًا هَلْ يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا عَمَلًا بِالْأَصْلِ وَهُوَ عَدَمُ تَذْكِيَةِ الْحَيَوَانِ أَمْ لَا فِيهِ نَظَرٌ ، وَالْأَقْرَبُ الْأَوَّلُ ع ش بِحَذْفِ أَقُولُ وَقَوْلُهُمَا وَالْجُوخُ وَقَدْ اُشْتُهِرَ اسْتِعْمَالُهُ بِشَحْمِ الْخِنْزِيرِ هَلْ يُلْحَقُ بِهِ السُّكَّرُ الْإِفْرِنْجِيُّ ، وَقَدْ اشْتَهَرَ أَنَّ عَمَلَهُ وَتَصْفِيَتَهُ بِدَمِ الْخِنْزِيرِ أَمْ لَا فِيهِ نَظَرٌ ، وَالظَّاهِرُ الْأَوَّلُ إذْ لَا يَظْهَرُ بَيْنَهُمَا فَرْقٌ ، وَالْأَصْلُ فِيهِ الطَّهَارَةُ فَلْيُرَاجَعْ ، ثُمَّ رَأَيْت فِي الْمُغْنِي مَا هُوَ كَالصَّرِيحِ فِي الطَّهَارَةِ .

أسنى المطالب – (ج 1 / ص 132)
( وَإِنْ وَجَدَ قِطْعَةَ لَحْمٍ فِي إنَاءٍ ) أَوْ خِرْقَةٍ ( بِبَلَدٍ لَا مَجُوسَ فِيهِ فَطَاهِرَةٌ أَوْ )، وَجَدَهَا ( مَرْمِيَّةً ) مَكْشُوفَةً ( أَوْ ) فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٍ (، وَالْمَجُوسِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ فَنَجِسَةٌ ) نَعَمْ إنْ كَانَ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبُ كَبِلَادِ الْإِسْلَامِ فَطَاهِرَةٌ لِأَنَّهُ يَغْلِبُ عَلَى الظَّنِّ أَنَّهَا ذَبِيحَةُ مُسْلِمٍ ذَكَرَهُ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَالْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَالْمَحَامِلِيُّ، وَغَيْرُهُمْ.
( قَوْلُهُ أَوْ وَجَدَهَا مَرْمِيَّةً، وَفِي إنَاءٍ إلَخْ ) قَالَ ابْنُ الْعِمَادِ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَثْنَى مَا إذَا كَانَتْ مَشْوِيَّةً أَوْ مَطْبُوخَةً فَإِنَّ ذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى طَهَارَتِهَا.
( قَوْلُهُ نَعَمْ إنْ كَانَ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ كَبِلَادِ الْإِسْلَامِ فَطَاهِرَةٌ إلَخْ ) قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ قَالَ الْمُتَوَلِّي لَوْ رَأَى حَيَوَانًا مَذْبُوحًا وَلَمْ يَدْرِ إذْ ذَبَحَهُ مُسْلِمٌ أَوْ كَافِرٌ أَوْ رَأَى قِطْعَةَ لَحْمٍ وَشَكَّ هَلْ هِيَ مِنْ مَأْكُولٍ أَوْ غَيْرِهِ لَمْ تَحِلَّ لِأَنَّهَا لَا تُبَاحُ إلَّا بِذَكَاةِ أَهْلِ الذَّكَاةِ وَشَكَكْنَا فِي ذَلِكَ وَالْأَصْلُ عَدَمُهُ اهـ وَفِي اشْتِبَاهِ الْمُحَرَّمِ بِالْحَلَالِ غَالِبٌ مُحَقَّقٌ وَهُوَ الْأَجْنَبِيَّاتُ وَالْحَرَامُ أَيْضًا مُحَقَّقٌ لَكِنَّهُ مَغْمُورٌ فِي الْحَلَالِ فَقُدِّمَ الْغَالِبُ بِخِلَافِ الْمُسْلِمِينَ إذَا غَلَبَ وُجُودُهُمْ فَإِنَّهُ لَمْ يَتَحَقَّقْ مِنْهُمْ فِعْلٌ فَلَيْسَ هَذَا نَظِيرَ ذَلِكَ وَإِذَا لَمْ يَتَحَقَّقْ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فِعْلٌ رَجَعْنَا إلَى الْأَصْلِ وَبِهَذَا يَظْهَرُ صِحَّةُ مَا قَالَهُ الْقَاضِي وَالْمُتَوَلِّي وَضَعَّفَ مَا نَقَلَهُ صَاحِبُ الْبَيَانِ عَنْ الشَّيْخِ أَبِي حَامِدٍ وَمِمَّا يُضَعِّفُهُ أَيْضًا مَسْأَلَةٌ ذَكَرَهَا الْأَصْحَابُ وَهُوَ أَنَّهُ لَوْ أَسْلَمَ إلَيْهِ فِي لَحْمٍ فَجَاءَ الْمُسْلِمُ إلَيْهِ بِاللَّحْمِ فَقَالَ الْمُسْلِمُ هَذَا لَحْمُ مَيْتَةٍ وَقَالَ الْمُسْلِمُ إلَيْهِ بَلْ لَحْمُ مُذَكَّاةٍ صَدَقَ الْمُسْلِمُ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي اللَّحْمِ التَّحْرِيمُ إلَّا بِذَكَاةٍ شَرْعِيَّةٍ.

أسنى المطالب – (ج 1 / ص 137)
( فَرْعٌ إذَا غَلَبَتْ النَّجَاسَةُ ) فِي شَيْءٍ ( وَالْأَصْلُ ) فِيهِ أَنَّهُ ( طَاهِرٌ كَثِيَابِ مُدْمِنِي الْخَمْرِ وَ ) ثِيَابِ ( مُتَدَيِّنَيْنِ بِالنَّجَاسَةِ ) كَالْمَجُوسِ ( وَ ) ثِيَابِ ( صِبْيَانِ ) بِكَسْرِ الصَّادِ أَشْهَرُ مِنْ ضَمِّهَا ( وَمَجَانِينَ وَقَصَّابِينَ ) أَيْ جَزَّارِينَ ( حُكِمَ ) لَهُ ( بِالطَّهَارَةِ ) عَمَلًا بِالْأَصْلِ ، وَمَحَلُّ الْعَمَلِ بِهِ إذَا اسْتَنَدَ ظَنَّ النَّجَاسَةِ إلَى غَلَبَتِهَا ، وَإِلَّا عَمِلَ بِالْغَالِبِ كَمَا مَرَّ فِي بَوْلِ الظَّبْيَةِ ، وَذِكْرُ الْمَجَانِينِ مِنْ زِيَادَتِهِ ( وَمَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى مِنْ ذَلِكَ كَعُرْفِ الدَّوَابِّ ، وَلُعَابِهَا ، وَلُعَابِ الصَّبِيِّ ، وَالْحِنْطَةِ ) الَّتِي ( تُدَاسُ ، وَالثَّوْرُ يَبُولُ ) عَلَيْهَا جُمْلَةٌ حَالِيَّةٌ ( وَالْجُوخُ ، وَقَدْ اُشْتُهِرَ اسْتِعْمَالُهُ بِشَحْمِ الْخِنْزِيرِ مَحْكُومٌ بِطَهَارَتِهِ ) ، وَالتَّصْرِيحُ بِهَذَا مِنْ زِيَادَتِهِ ، وَلَوْ قَالَ ، وَكَذَا مَا عَمَّتْ إلَخْ ، وَحَذَفَ قَوْلِهِ مَحْكُومٌ بِطَهَارَتِهِ كَانَ أَوْضَحَ ، وَأَخْصَرَ .
( قَوْلُهُ وَمَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى إلَخْ ) سُئِلَ ابْنُ الصَّلَاحِ عَنْ الْأَوْرَاقِ الَّتِي تُعْمَلُ وَتُبْسَطُ وَهِيَ رَطْبَةٌ عَلَى الْحِيطَانِ الْمَعْمُولَةِ بِرَمَادٍ نَجِسٍ فَقَالَ لَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا وَسُئِلَ عَنْ قَلِيلِ قَمْحٍ فِي سُفْلٍ وَقَدْ عَمَّتْ الْبَلْوَى بِزِبْلِ الْفَأْرِ وَأَمْثَالِ ذَلِكَ فَقَالَ لَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهِ إلَّا أَنْ تُعْلَمَ نَجَاسَةً فِي هَذَا الْحَبِّ الْمُعَيَّنِ.

مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج – (ج 1 / ص 124)
وَلَوْ غَلَبَتْ النَّجَاسَةُ فِي شَيْءٍ ، وَالْأَصْلُ فِيهِ الطَّهَارَةُ كَثِيَابِ مُدْمِنِي الْخَمْرِ ، وَمُتَدَيِّنِينَ بِالنَّجَاسَةِ كَالْمَجُوسِ ، وَمَجَانِينَ ، وَصِبْيَانٍ بِكَسْرِ الصَّادِ أَشْهُرُ مِنْ ضَمِّهَا وَجَزَّارِينَ حُكِمَ لَهُ بِالطَّهَارَةِ عَمَلًا بِالْأَصْلِ ، وَكَذَا مَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى مِنْ ذَلِكَ كَعَرَقِ الدَّوَابِّ وَلُعَابِهَا وَلُعَابِ الصَّبِيِّ وَالْحِنْطَةِ الَّتِي تُدَاسُ ، وَالثَّوْرُ يَبُولُ عَلَيْهَا وَالْجُوخُ ، وَقَدْ اشْتَهَرَ اسْتِعْمَالُهُ بِشَحْمِ الْخِنْزِيرِ ، وَمِنْ الْبِدَعِ الْمَذْمُومَةِ غَسْلُ ثَوْبٍ جَدِيدٍ وَقَمْحٍ وَفَمٍ مِنْ أَكْلِ نَحْوِ خُبْزٍ ، وَتَرْكُ مُؤَاكَلَةِ الصِّبْيَانِ لِتَوَهُّمِ نَجَاسَتِهَا قَالَهُ فِي الْعُبَابِ وَالْبَقْلُ النَّابِتُ فِي نَجَاسَةٍ مُتَنَجِّسٌ لَا مَا ارْتَفَعَ عَنْ مَنْبَتِهِ فَإِنَّهُ طَاهِرٌ ، وَلَوْ وَجَدَ قِطْعَةَ لَحْمٍ فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٍ بِبَلَدٍ لَا مَجُوسَ فِيهِ فَطَاهِرَةٌ ، أَوْ مَرْمِيَّةً مَكْشُوفَةً فَنَجِسَةٌ أَوْ فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٍ وَالْمَجُوسُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَلَمْ يَكُنْ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ فَكَذَلِكَ وَإِنْ كَانَ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ فَطَاهِرَةٌ وَكَذَا إذَا اسْتَوَيَا فِيمَا يَظْهَرُ.

Wallahua’lamu bisshowab..

T039 : CARA MENSUCIKAN BADAN SETELAH MAKAN DAGING BABI

PERTANYAAN :

Asslamualaikum Ustadz..

Deskripsi maslah:

Dono makan daging babi yang jelas haram di konsumsi oleh stiap manusia karena najis, kemudian hari si Dono ingin bertaubat dan menyesal terhdap apa yang telah di makan.

Pertanyaannya:
Bagaimna si dono cara menghilangkan najis yang ada di dalam tubuhnya sebab makan daging babi tersebut.?

mohon ibarotnya juga.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tetap wajib dicuci untuk bagian tubuh yang bisa terjangkau seperti mulut.

المختاج في شرح المنهاج

لو أكل مغلظا ثم خرج منه لم يجب تسبيع المخرج لأن الجوف محيل مطهر لانا نقول الجوف لايحيل النجس الى الطهارة مطلقا

Jika ada orang makan anjing atau babi kemudian keluar lagi daging anjing tersebut dari dalam orang yang makan tersebut, maka baginya tidak wajib membasuh 7 kali pada tempat keluarnya tersebut (DUBUR) dikarenakan perut memiliki kekuatan untuk merubah dzat suatu benda dan mensucikannya. dikarenakan kita (Syafiiyyah) menyatakan bahwa perut ini tidak bisa merubah dzatiyah benda najis menjadi suci secara mutlak.

Keringatnya orang yang memakan daging babi tetap suci karena bukan benda yang keluar dari dua lobang depan-belakang, juga bukan muntah :

وخرج بقوله من السبيلين الخارج من بقية المنافذ فهو طاهر الا القيئ الخارج من الفم بعد وصوله الى المعدة.الباجوري ١ / ١٠٠

Mulutnya wajib dibasuh 7 kali dan dicampur debu. :

ولو أكل لحم كلب نص الشافعي على أنه يغسل فمه سبعا ويعفره.هامش أسنى المطالب ١/٢٢

Bila orang yang makan daging anjing tersebut memuntahkan daging tersebut dalam keadaan utuh / dagingya tidak hancur menjadi kotoran maka wajib mulutnya di basuh 7 x lagi dan dicampuri debu, dan bila muntah tidak berupa daging / sudah hancur menjadi kotoran maka bila mulutnya sudah dibasuh 7 x dan dicampuri debu maka tidak wajib dibasuh 7 kali lagi / cukup dibasuh 1 x saja.:

ومن القيئ ما عاد حالا ولو من مغلظ فلا يجب تسبيع الفم منه كالدبر نعم اعتمد ع ش عدم وجوب التسبيع من خروج ما من شأنه الإستحالة وإن لم يستحل كاللحم الا إن خرج من الفم كذلك و وجوبه مما شأنه عدمها وإن استحال. بغية المسترشدين ص : ٢٢

.ولو تقايأ لحم نحو كلب غير مستحيل وجب عليه تسبيع فمه منه مع التتريب فإن استحال لم يجب ما ذكر اذا خرج منه بعد غسل فمه وتتريبه من الأكل وإلا وجبا فإن خرج من دبره كفاه الإستسجاء من فضلته ولو بالحجر وإن خرج غير مستحيل لأن شأنه ذلك وخرج باللحم العظم فيجب التسبيع بخروجه من الدبر ولو على غير صورته وكذا من الفم ومثل العظم الشعر لأن شأنه عدم الإستحالة ومثل اللحم العظم الرقيق الذي يؤكل معه عادة لأن شأنه الإستحالة. الشرقاوي ١/١١٨-١١٩

Sedangkan mengenai sesuatu yang dari dubur atau qubulnya orang yang makan najis mugholazhoh maka ditafsil sebagai berikut :

1. Wajib dibasuh 7 x dan dicampur dengan debu bila yang dimakan berupa sesuatu yang tidak mungkin berubah/tidak jadi kotoran seperti tulang dan rambut / bulu walaupun keluarnya sudah tidak berupa tulang dan rambut lagi.

2. Tidak wajib di basuh 7 x dan dicampuri debu bila yang dimakan berupa sesuatu yang berubah menjadi kotoran seperti daging walaupun keluarnya tetap berupa daging. :

.ولو أكل لحم كلب لم يجب تسبيع دبره من خروجه وإن خرج بعينه قبل إستحالته فيما يظهر وأفتى به البلقيني لأن الباطن محيل.نهاية المحتاج ١/٢٥٤

.فإن خرج من دبره كفاه الإستسجاء من فضلته ولو بالحجر وإن خرج غير مستحيل لأن شأنه ذلك وخرج باللحم العظم فيجب التسبيع بخروجه من الدبر ولو على غير صورته وكذا من الفم ومثل العظم الشعر لأن شأنه عدم الإستحالة ومثل اللحم العظم الرقيق الذي يؤكل معه عادة لأن شأنه الإستحالة. الشرقاوي ١/١١٨-١١٩

.اعتمد ع ش عدم وجوب التسبيع من خروج ما من شأنه الإستحالة وإن لم يستحل كاللحم الا إن خرج من الفم كذلك و وجوبه مما شأنه عدمها وإن استحال. بغية المسترشدين ص :

Wallahu a’lamu bisshowab..

T038. HUKUM MENULIS AL-QUR’AN BAGI WANITA HAID DAN ORANG JUNUB

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum menulis Al Qur’an bagi wanita haid dan orang junub, misalnya untuk menulis jawaban ketika ujian?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh asalkan tidak menyentuhnya.

Referensi :

Asnal Matholib Juz 1 Hlm. 61

اسنى المطالب ج ١ ص ٦١
(وَلَا) يَحْرُمُ (كَتْبُهُ) أَيْ الْقُرْآنَ (بِلَا مَسٍّ وَ) حَمْلٍ لَا (قَلْبِ وَرَقِهِ بِعُودِ) لِأَنَّهُ لَيْسَ بِحَمْلٍ وَلَا مَسٍّ

Boleh menulis al qur’an selagi tdk menyentuh atau memegang tulisanya(al maktub).

شرح البهجة الوردية الجزء 1 صحـ : 146 مكتبة المطبعة الميمنية:
وَلَا يَمْنَعُ الْحَدَثُ كَتْبَ الْقُرْآنِ إذَا خَلَا الْمَكْتُوبُ عَنْ مَسٍّ وَحَمْلٍ اهـ

Menulis al qur’an dlm keadaan punya hadats (muhdits) atau junub d bolehkan jika saat menulisya tidak menyentuh dan memegang tulisanya(al maktub).

Menulis pada waktu hadas atau junub ada 3 pendapat:

– Jika pada waktu menulis mushaf memegang dan menyentuh tulisan maka d haramkan menulisya, tp jika tdk menyentuh dan memegang tulisan maka menurut qoul shohih hukumya boleh menulisya.

– Menurut qoul masyhur hukumya haram secara mutlaq.

– Menurut imam mawardi, hukumya haram bagi org yang junub dan boleh bagi orang yang punya hadats (muhdits).

Menyentuh tulisanya tidak di haramkan jika niatya tidak krn al qur’an, tp jika menyentuhya krena niat al qur’an maka d haramkan.

al majmu’ syarah muhadzab 2/70

hasyiyah jamal 3/19

Referensi :

التبيان للنواوي ص 181
إذا كتب المحدث أو الجنب مصحفا إذا كان يحمل الورقة أو يمسها حال الكتابة فهو حرام, وان لم يحملها ولم يمسها, ففيه ثلاثة أوجوه: الصحيح جوازه, والثاني تحريمه, والثالث يجوز للمحدث ويحرم على الجنب.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T037. HUKUM MEMAKAN BUAH PALA/ PA’ALAH (Madura Red.)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Saya mau bertanya apakah Buah Pala/Pa’alah (Madura Red.) itu haram? Soalnya saya pernah baca artikel kalo buah pala itu haram.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Buah Pala/Pa’alah (Madura Red.) yang dalam bahasa Arab disebut (جوزة الطيب) adalah tanaman daerah tropis yang memiliki 200 spesies dan seluruhnya tersebar di daerah tropis. Buah pala biasa dipakai sebagai bahan bumbu makanan untuk menambah cita rasa dan aroma makanan ini sudah lama dikenal.

Sifat biji buah pala memabukkan
Ulama dalam kitab-kitab mereka menyebutkan bahwa buah Pala termasuk jenis tanaman yang memabukkan. [1] Hal ini juga diperkuat oleh penelitian modern, buah pala mengandung zat yang bisa mengganggu kerja syaraf dan otak seseorang. Disebutkan bahwa efeknya hampir sama dengan ganja jika dikonsumsi dalam jumlah besar.

Hukum memakan buah dan bijinya

Ulama berbeda pendapat tentang hukum buah Pala, sebagian mengharamkan secara mutlak sedangkan sebagian ulama yang lain menghalalkan bila tidak dengan kadar yang memabukkan.

1. Haram secara mutlak
Mayoritas ulama mengharamkan buah pala secara mutlak. Baik dikonsumsi sedikit maupun banyak. Atau dikonsumsi secara terpisah atau dicampur dengan makanan.[2] Hal ini karena keumuman hadits :

مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ

Apa yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya tetap haram.” (HR. Tirmidzi)

Referensi :

وجوزة الطيب (1) والبرش (2) وغيرها بالمضغ أو التدخين أو غيرهما ينتج عنه تغييب العقل، وقد يؤدي إلى الإدمان، مما يسبب تدهورا في عقلية المدمنين وصحتهم، وتغير الحال المعتدلة في الخلق والخلق.
قال ابن تيمية: كل ما يغيب العقل فإنه حرام، وإن لم تحصل به نشوة ولا طرب، فإن تغييب العقل حرام بإجماع المسلمين، أي إلا لغرض معتبر شرعا. (3)
6 – وذهب جمهور الفقهاء إلى حرمة تناول المخدرات التي تغشى العقل، ولو كانت لا تحدث الشدة المطربة التي لا ينفك عنها المسكر المائع.
وكما أن ما أسكر كثيره حرم قليله من المائعات، كذلك يحرم مطلقا ما يخدر من الأشياء الجامدة المضرة بالعقل أو غيره من أعضاء الجسد.
وذلك إذا تناول قدرا مضرا منها. دون ما يؤخذ منها من أجل المداواة؛ لأن حرمتها ليست لعينها، بل لضررها.
7 – وعلى هذا يحرم تناول البنج والحشيشة
(1) جوزة الطيب: وسمي بذلك لعطريته ودخوله في الأطياب، وهو ثمر شجرة في عظم شجرة الرمان. (التذكرة لداود الأنطاكي 1 / 101 ط محمد على صبيح)
(2) البرش: وهو مركب من الأفيون والبنج. (تذكرة داود الأنطاكي 1 / 66)
(3) مجموعة فتاوى ابن تيمية 34 / 198، 204، 211

2. Boleh bila kadarnya sedikit
Sedangkan sebagian ulama diantaranya imam Abu Hanifah, sebagian Malikiyyah, sebagian ulama syafi’iyyah seperti imam Ramli dan Syekh Wahbah Zuhaili berpendapat bahwa buah pala yang dicampur dengan masakan sekedar untuk penyedap rasa atau pengharum masakan hukumnya boleh.

Syekh Wahbah Zuhaili berkata : “Tidak mengapa menggunakan sedikit buah pala untuk memberi aroma dan rasa kepada makanan dan haram jika dalam jumlah yang banyak karena ia sesuatu yang bisa membius. Hal itu, menurutnya, karena hadis yang mengatakan, “Apa yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya tetap haram,” berlaku untuk sesuatu yang memang khusus dibuat untuk memabukkan seperti minuman keras. Sedangkan, buah pala ini biasanya digunakan untuk bumbu makanan atau untuk obat, bukan untuk tujuan memabukkan.”[3]

Kesimpulan :

Hukum menggunakan buah pala sebagai penyedap masakan khilaf ditengah-tengah ulama, antara yang mengharamkan dan yang membolehkan. Syaikh Wahbah Zuhaili termasuk yang menghalalkan, namun demikian yang terbaik adalah meninggalkannya untuk kehati-hatian.

[1]Az Zawaajir ‘an Iqtiraab al Kaba’ir (1/212), al Mukhdarat hal 16.
[2] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (11/34).
[3] Fiqh al Islami wa Adillatuhu (7/444

Wallahu a’lamu bisshowab..

T036. CARA MENSUCIKAN KASUR TANPA MENCUCINYA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana cara menyucikan kasur (tebal) yang kenak najis, masalahnya agak kesulitan dalam menyucikannya.

Apakah ada pendapat yang lebih ringan dalam hal itu?

Mohon pencerahannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Kita mungkin pernah mendapati ada kotoran binatang, air kencing, atau barang najis lain melekat di tengah-tengah karpet atau kasur. Untuk menyucikannya, sebagian orang mengangkat karpet atau kasur tersebut, lalu mencucinya: menyiram langsung air ke area najis atau keseluruhan permukaan kasur atau karpet hingga barang najis itu benar-benar hilang.

Meski sah dalam menyucikan, cara tersebut tergolong merepotkan, apalagi untuk jenis karpet berbulu atau kasur berbusa, dan berukuran besar, karena akan memperlukan tenaga ekstra dan waktu pengeringan yang lebih lama. Sebenarnya ada cara yang lebih efisien dan efektif dari sekadar mencuci karpet atau kasur itu dengan cara-cara yang melelahkan.

Dalam fiqih, hal pokok yang menjadi perhatian dalam persoalan najis adalah warna, bau, dan rasa. Karena itu, fiqih Syafi’iyah membedakan antara najis ‘ainiyah dan najis hukmiyah. Yang pertama adalah najis berwujud (terdapat warna, bau, atau rasa); sedangkan yang kedua adalah najis tak berwujud (tak ada warna, bau, atau rasa) tapi tetap secara hukum berstatus najis. Air kencing yang merupakan najis ‘ainiyah dianggap berubah menjadi najis hukmiyah ketika air kencing tersebut mengering hingga tak tampak lagi warna, bau, bahkan rasanya.
Cara menyucikan kedua najis itu juga berbeda. Syekh Ahmad Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’în bi Syarhi Qurratil ‘Ain bi Muhimmâtid Dîn menjelaskan bahwa najis ‘ainiyah disucikan dengan cara membasuhnya hingga hilang warna, bau, dan rasanya. Sementara najis hukmiyah disucikan dengan cara cukup menuangkan air sekali di area najis.

Kembali pada kasus karpet atau kasur terkena najis di atas, bagaimana cara mudah dalam menyucikannya?

Pertama, membuat najis ‘ainiyah di karpet atau kasur berubah menjadi najis hukmiyah. Secara teknis, seorang harus membuang/membersihkan najis itu hingga tak tampak warna, bau, dan rasanya (cukup dengan perkiraan, bukan menjilatnya). Di tahap ini mungkin ia perlu menggunakan sedikit air, menggosok, mengelap, atau cara lain yang lebih mudah. Selanjutnya, biarkan mengering, dan tandai area bekas najis itu karena secara hukum tetap berstatus najis.

Kedua, tuangkan air suci-menyucikan cukup di area najis yang ditandai itu, maka sucilah kasur atau karpet tersebut, meskipun air dalam kondisi menggenang di atasnya atau meresap ke dalamnya. Cara yang sama juga bisa kita lakukan pada najis yang mengenai lantai ubin, sofa, bantal, permukaan tanah, dan lain-lain.

Syekh Ahmad Zainuddin al-Malibari menerangkan:

لَوْ أَصَابَ الأَرْضَ نَحْوُ بَوْلٍ وَجَفَّ، فَصُبَّ عَلى مَوْضِعِهِ مَاءٌ فغَمره طهُرَ ولو لمْ يَنْصُبْ، أي: يغُورُ، سواء كانت الأرضُ صُلبةً أم رَخْوَةً

Artinya: “Seandainya ada tanah yang terkena najis semisal air kencing lalu mengering, lalu air dituangkan di atasnya hingga menggenang, maka sucilah tanah tersebut walaupun tak terserap ke dalamnya, baik tanah itu keras ataupun gembur.” (Syekh Ahmad Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’în bi Syarhi Qurratil ‘Ain bi Muhimmâtid Dîn [Beirut: Dar Ibnu Hazam, 2004], halaman 78)

Keterangan tersebut berlaku untuk najis level sedang (mutawasithah) seperti ompol bayi usia lebih dari dua tahun, kotoran binatang, darah, muntahan, air liur dari perut, feses, atau sejenisnya.

Sementara air kencing bayi laki-laki kurang dua tahun yang belum mengonsumsi apa pun kecuali ASI (masuk kategori najis level ringan atau mukhaffafah) dapat disucikan dengan hanya memercikkan air ke tempat yang terkena najis. Tidak disyaratkan air harus mengalir, hanya saja percikan mesti kuat dan volume air harus lebih banyak dari air kencing bayi tersebut. Namun, bila air kecing itu mengering, kucuran sekali air sudah cukup menyucikannya.

Dengan demikian, bila najis itu memang didapati cuma sedikit, kita tak perlu repot-repot mencuci seluruh permukaan kasur/karpet, mengepel semua permukaan lantai, atau mengguyur seluruh permukaan bantal, dan seterusnya. Cukup dua langkah saja: menghilangkan sifat-sifat najis itu lalu menuangkan air suci-menyucikan di atas area bekas najis. Wallahu a’lamu..

KASUR YANG SUDAH DI JEMUR

Cara mensucikan kasur yang sudah dijemur masih harus diperinci :

– Jika setelah dijemur, kasur tersebut masih mengandung salah satu dari warna, bau dan rasa pipis maka najis di kasur tersebut dihukumi najis ‘ainiyyah. Sehingga cara mensucikannya harus disiram air sampai hilang sifat najisnya (warna, rasa, bau).

– Jika setelah dijemur, kasur tersebut sudah tidak mengandung seluruh sifat najis, maka najis tersebut dihukumi najis hukmiyyah, sehingga cukup dialiri air satu kali saja.

Namun demikian menurut kalangan Hanafiyah, bila sifat-sifat suatu najis sudah dapat hilang dengan dijemur pada sinar matahari maka kasur tersebut sudah dihukumi suci, karena dalam madzhab Hanafi, api dan sinar matahari bisa untuk menghilangkan najis.

REFERENSI :

– Kifayah Al Akhyar, juz 1, hal.66

– Roudloh Al Tholibin Wa ‘Umdah Al Muftiyyin, juz 1, hal.100

– Al Um, juz 1, hal.74

كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار – (ج 1 / ص 66)(وغسل جميع الأبوال والأرواث واجب إلا بول الصبي الذي لم يأكل الطعام فإنه يطهر برش الماء عليه). حجة الوجوب حديث الأعرابي وغيره، وأما كيفية الغسل فالنجاسة تارة تكون عينية أي تشاهد بالعين وتارة تكون حكمية أي حكمنا على المحل بنجاسته من غير أن ترى عين النجاسة فإن كانت النجاسة عينية فلا بد مع إزالة العين من محاولة إزالة ما وجد منها من طعم ولون وريح فإن بقي طعم النجاسة لم يطهر المحل المتنجس لأن بقاء الطعم يدل على بقاء النجاسة وصورته فيما إذا تنجس فمه وإن بقي الأثر مع الرائحة لم يطهر أيضاً وإن بقي لون النجاسة وحده وهو غير عسر الإزالة لم يطهر إلى أن قال وأما النجاسة الحكمية فيشترط فيها الغسل أيضاً. والحاصل أن الواجب في إزالة النجاسة غسلها المعتاد بحيث ينزل الماء بعد الحت والتحامل صافياً إلا في بول الصبي الذي لم يطعم ولم يشرب سوى اللبن

روضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 1 / ص 100)أما إذا طرأ مناقض لا باختياره ولا بتقصيرة فإن أزاله في الحال كمن انكشفت عورته فسترها في الحال أو وقعت عليه نجاسة يابسة فنفضها في الحال أو ألقى الثوب الذي وقعت عليه في الحال فصلاته صحيحة

الأم – (ج 1 / ص 74)(قال الشافعي) رضى الله عنه إلى أن قال فإذا أصابتهما نجاسة يابسة لا رطوبة فيها فحكهما حتى نظفا وزالت النجاسة عنهما صلى فيهما

– Kitab Rahmatul Ummah / Hamisy Mizan Kuibra 1/5 :

ليس للنار والشمس في إزالة النجاسة تأثير إلا عند أبي حنيفة حتى إن جلد الميتة إذا جف في الشمس طهر عنده بلا دبغ وكذلك إذا كان على الأرض نجاسة فجفت في الشمس طهر موضعها وجازت الصلاة عليه لا التيمم به وكذلك النار تزيل النجاسة عنده

– Al-Majmuu’ ala Syarh al-Muhadzdzab II/596 :

قال المصنف رحمه الله [إذا أصاب الارض نجاسة ذائبة في موضع ضاح فطلعت عليه الشمس وهبت عليه الريح فذهب اثرها ففيه قولان قال في القديم والاملاء يطهر لانه لم يبق شئ من النجاسة فهو كما لو غسل بالماء وقال في الام لا يطهر وهو الاصح لانه محل نجس فلا يطهر بالشمس كالثوب النجس]* [الشَّرْحُ] هَذَانِ الْقَوْلَانِ مَشْهُورَانِ وَأَصَحُّهُمَا عِنْدَ الْأَصْحَابِ لَا يَطْهُرُ كَمَا صَحَّحَهُ الْمُصَنِّفُ وَنَقَلَهُ الْبَنْدَنِيجِيُّ عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ فِي عَامَّةِ كُتُبِهِ وَحَكَى فِي الْمَسْأَلَةِ طَرِيقَيْنِ أَحَدُهُمَا فِيهِ الْقَوْلَانِ وَالثَّانِي القطع بأنها لا تطهر وتأويل نصفه عَلَى أَرْضٍ مَضَتْ عَلَيْهِ سُنُونَ وَأَصَابَهَا الْمَطَرُ ثُمَّ الْقَوْلَانِ فِيمَا إذَا لَمْ يَبْقَ مِنْ النجاسة طعم ولا لون ولا رائحة ومن قَالَ بِأَنَّهَا لَا تَطْهُرُ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَزُفَرُ وَدَاوُد وَمِمَّنْ قَالَ بِالطَّهَارَةِ أَبُو حَنِيفَةَ وَصَاحِبَاهُ ثُمَّ قَالَ الْعِرَاقِيُّونَ هُمَا إذَا زَالَتْ النَّجَاسَةُ بِالشَّمْسِ أَوْ الرِّيحِ فَلَوْ ذَهَبَ أَثَرُهَا بِالظِّلِّ لَمْ تَطْهُرْ عِنْدَهُمْ قَطْعًا وَقَالَ الْخُرَاسَانِيُّونَ فِيهِ خِلَافٌ مُرَتَّبٌ وَأَمَّا الثَّوْبُ النَّجِسُ بِبَوْلٍ وَنَحْوِهِ إذَا زَالَ أَثَرُ النَّجَاسَةِ مِنْهُ بِالشَّمْسِ فَالْمَذْهَبُ القطع بأنه لا يطهر وبه قطع العرقيون وَنَقَلَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ عَنْ الْأَصْحَابِ أَنَّهُمْ طَرَدُوا فِيهِ الْقَوْلَيْنِ كَالْأَرْضِ قَالَ وَذَكَرَ بَعْضُ الْمُصَنِّفِينَ يَعْنِي الْفُورَانِيَّ أَنَّا إذَا قُلْنَا يَطْهُرُ الثَّوْبُ بِالشَّمْسِ فَهَلْ يَطْهُرُ بِالْجَفَافِ فِي الظِّلِّ فِيهِ وَجْهَانِ وَهَذَا ضَعِيفٌ قَالَ الْإِمَامُ وَلَا شَكَّ أَنَّ الْجَفَافَ لَا يَكْفِي فِي هَذِهِ الصُّورَةِ فَإِنَّ الْأَرْضَ تَجِفُّ بِالشَّمْسِ عَلَى قُرْبٍ وَلَمْ يَنْقَلِعْبَعْدُ آثَارُ النَّجَاسَةِ فَالْمُعْتَبَرُ انْقِلَاعُ الْآثَارِ عَلَى طُولِ الزَّمَانِ بِلَا خِلَافٍ وَكَذَا الْقَوْلُ فِي الثِّيَابِ وَقَوْلُ الْمُصَنِّفِ (مَوْضِعٌ ضَاحٍ) هُوَ بِالضَّادِ الْمُعْجَمَةِ قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ هُوَ الْبَارِزُ

Wallahu a’lamu bisshowab..

T035. HUKUM SPERMA YANG KELUAR DARI FARJIK PEREMPUAN SETELAH ADUS (MANDI WAJIB)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi Masalah:
Ada Pasutri Melakukan jimak, lalu adus. Selang Beberapa Jam setelah adus pada saat si istri beraktifitas maka dari Farji’nya keluar sperma lagi.

Pertanyaan:
1. Bagaimana Hukum Keluarnya Sperma tsb, apakah si istri harus Mandi Besar Lagi?

2. Bagaimana Hukum Sperma tsb (Najis/tdk)?

3. Bagaimana Hukum Wudu’nya si istri Apabila sewaktu keluarnya sperma dalm Kondisi Punya Wudu’?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1). Jawabannya ditafsil :

a. Bila saat menjalani senggama dia juga mengeluarkan sperma maka wajib baginya mengulangi mandinya.

b. Bila saat senggama dia tidak mengeluarkan sperma maka tidak wajib mengulangi mandinya karena sesungguhnya yang keluar dari kemaluannya adalah mani suaminya.

2). Kalau jelas yang keluar adalah mani maka suci.

3). Ditafshil :

a. Bila saat menjalani senggama dia juga mengeluarkan sperma maka wudhuknya tidak batal, namun wajib adus.

b. Bila saat senggama dia tidak mengeluarkan sperma maka wuduknya batal karena sesungguhnya yang keluar dari kemaluannya adalah mani suaminya. Dan tidak wajib adus.

Referensi :

at-Taqriirat as-sadiidah di bagian ta’liiq hal. 115 :

فلو جامع الرجل زوجته ولم تقض وطرها بأن كانت نائمة أو مكرهة ثم اغتسلت فخرج منها مني زوجها فلا يجب عليها الغسل مرة أخرى، ولكن ينتقض وضوؤها، بخلاف ما إذا قضت وطرها فيجب عليها الغسل مرة أخرى

– as-Syarqowi juz 1 hal 77 :

قوله وخرج بمنيه مني غيره (إلي أن قال أوفي قبلها وخرج منه بعد ماذكر فإن قضت شهوتهاحال الوطء بأن كانت بالغة مختارة مستيقظة وجب عليه إعادة الغسل لأن الظاهر أنه منيهما معا لإختلاطهما وأقيم الظن هنا مقام اليقين

I’aanah I/70 :

وخرج بمني نفسه مني غيره كأن وطئت المرأة في دبرها فاغتسلت ثم خرج منها مني الرجل فلا يجب عليها إعادة الغسل أو وطئت في قبلها ولم يكن لها شهوة كصغيرة أو كان لها شهوة ولم تقضها كنائمة فكذلك لا إعادة عليها

Dikecualikan dengan maninya sendiri adalah mani orang lain, seperti :

1. Wanita yang disenggamai duburnya kemudian ia mandi dan keluar mani suaminya (saat mandi) maka tidak wajib baginya mengulangi mandinya.

2. Atau wanita tersebut digauli dikemaluannya hanya saja tidak ada gairah syahwat darinya (hingga memungkinkan baginya keluar sperma saat senggama) seperti wanita yang masih kecil

3. Atau dia punya gairah hanya saja dia tidak menuntaskannya (tidak sampai orgasme/keluar mani)

Dalam tiga cgambaran diatas kesemuanya tidak mewajibkan mengulangi mandi. [ I’aanah I/70 ].

– Hasyiyah Al-Qolyubi I/72 :

والمراد مني الشخص نفسه ولو مع مني غيره , فلو قضت المرأة شهوتها واغتسلت , ثم خرج منها مني وجب عليها الغسل إقامة للمظنة مقام اليقين , ولو خرج المني في دفعات وجب الغسل بكل مرة وإن قل .

Yang dimaksud dengan sperma adalah spermanya sendiri meskipun bercampur dengan sperma orang lain karenanya bila seorang wanita saat mandi wajib telah mendatangi syahwatnya (orgasme) kemudian keluar darinya sperma (saat mandi) maka wajib baginya mandi sebab dugaan kuat didudukkan dalam hukum yakin (artinya diduga itu juga maninya yang keluar bersama mani suaminya karena dalam persenggamaan dia juga orgasme) dan bila mani tersebut keluar dengan berulang-ulang wajib baginya mandi meskipun keluarnya sedikit.

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: إِذَا أَمْنَى وَاغْتَسَل ثُمَّ خَرَجَ مِنْهُ مَنِيٌّ عَلَى الْقُرْبِ بَعْدَ غُسْلِهِ لَزِمَهُ الْغُسْل ثَانِيًا، سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ قَبْل أَنْ يَبُول بَعْدَ الْمَنِيِّ أَوْ بَعْدَ بَوْلِهِ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ (٢) ، وَلَمْ يُفَرِّقْ؛ وَلأَِنَّهُ نَوْعُ حَدَثٍ فَنَقَضَ مُطْلَقًا، كَالْبَوْل وَالْجِمَاعِ وَسَائِرِ الأَْحْدَاثِ (٣) .

(٢) حديث: ” إنما الماء من الماء “. تقدم تخريجه ف٥
(٣) المجموع شرح المهذب للنووي ٢ / ١٣٩ – ١٤٠

Dan menurut pendapat Syafi’iyah : Jika seseorang keluar mani dan ia langsung mandi, kemudian setalah mandi keluar mani lagi dengan jarak yang dekat, Maka ia mandi lagi (mandi dua kali). Sama saja keluarnya mani sebelum berkencing atau keluarnya setelah berkencing. Karena adanya hadits Nabi saw. “Sesungguhnya air itu dari air”. Hal itu sebagian dari hadats sebagaimana kencing, jimak dan hadats2 yang lain.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T034. HUKUM KEPUTIHAN PADA WANITA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum keputihan yang terjadi pada perempuan apakah termasuk najis?

JAWABAN :

Waalaikumussalaam Warohmatullahi Wabarokaatuh..

Keputihan adalah getah atau cairan yang keluar dari vagina, yang ditimbulkan oleh jamur. Dalam ilmu Kedokteran disebut jamur candida. Kelembaban dan kehangatan vagina, merupakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan dan berkembang biaknya jamur. Getah atau cairan yang ditimbulkan keputihan berwarna putih, kental, keruh dan kekuning-kuningan. Biasanya rasanya gatal, membuat vagina meradang dan luka.

Penyebab timbulnya keputihan diantaranya :

– Menopause, yaitu masa yang sudah tidak keluar haidl, sebab dengan aktif keluar haidl, ada cairan yang selalu membasahi dinding vagina dan mempertahankan vagina tetap segar dan sehat.

– Pil penghambat atau penyubur kehamilan. Hal ini disebabkan, pil tersebut mempunyai efek mengurangi ketahanan pelindung vagina dari infeksi jamur.

– Efek dari kontrasepsi dari rahim.
Stres.

– Celana yang terbuat dari nilon.
Celana ketat.

– Sabun bubuk pembersih.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa keputihan dalam fiqih dikategorikan sebagai “ruthubatul farji” (cairan basah vagina). Sedangkan hukum dari keputihan diperinci sebagai berikut :

Apabila cairan tersebut keluar dari luar farji (bagian vagina yang nampak ketika jongkok), maka hukumnya suci.

Apabila cairan tersebut keluar dari farji (bagian vagiana yang tidak wajib dibasuh ketika istinja’ (cebok) dan terjangkau penis saat bersenggama), maka hukumnya suci menurut pendapat yang ashoh.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa keputihan dalam fiqih dikategorikan sebagai “ruthubatul farji” (cairan basah vagina).

Sedangkan hukum dari keputihan diperinci sebagai berikut :

1. Apabila cairan tersebut keluar dari luar farji (bagian vagina yang nampak ketika jongkok), maka hukumnya suci.

2. Apabila cairan tersebut keluar dari farji (bagian vagiana yang tidak wajib dibasuh ketika istinja’ (cebok) dan terjangkau penis saat bersenggama), maka hukumnya suci menurut pendapat yang ashoh.

3. Apabila cairan tersebut keluar dari balik farji (vagina bagian dalam yang tidak terjangkau penis saat bersenggama), maka hukumnya najis dan menyebabkan batalnya wudlu.

Sedangkan apabila cairan yang keluar termasuk dalam kategori cairan yang najis (No. 3) maka hukum-hukum yang berlaku bagi wanita tersebut adalah hukum-hukum yang berlaku bagi wanita yang mengeluarkan darah istihadhoh. Dan langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum sholat adalah sebagai berikut:

Karena cairan keputihan bukanlah termasuk darah haidh atau nifas, maka wanita yag sedang mengalami keputihan tidak diwajibkan melakukan mandi besar, dan tidak diberlakukan hukum wanita haidh dan nifas baginya. Dan dihukumi seperti wanita yang suci apabila cairan yang keluar masuk dalam kategori suci (No.1 & 2).
Menaruh semisal kapas pada tempat keluarnya darah untuk menyumbat darahnya agar tidak keluar. Namun menaruh kapas pada tempat keluarnya cairan itu tidak boleh dilakukan orang yang sedang puasa, karena dapat membatalkan puasanya, begitu juga hal tersebut tidak wajib dilakukan bagi wanita yang merasa sakit apabila menaruh kapas pada tempat keluarnya cairan. Apabila kapas itu tidak cukup bisa mencegah darah keluar maka wajib menambahkan kain atau pembalut.

Setelah itu, jika waktu sholat sudah masuk, diwajibkan segera berwudhu, dan wudhunya harus dilakukan setelah waktu sholat masuk, tidak boleh dilakukan sebelum masuknya waktu sholat.

Ada dua hal yang membedakan antara wudhu wanita istihadlah dengan wudhu wanita pada umumnya, yaitu :

Niat wudhunya tidak seperti wudhu pada umumnya yang menggunakan niat “lirof’il hadatsi” (untuk menghilangkan hadats), karena wudhunya wanita yang sedang mengeluarkan darah istihadhoh tidak menghilangkan maka niat wudhunya sebelum melakukan sholat adalah :

نويت الوضوء لاستباحة الصلاة لله تعالى

NAWAITUL WUDHU’A LISTIBAHATIS SHOLATI FARDHON LILLAHI TA’ALA.

Saya niat wudhu agar diperbolehkan melakukan sholat…”

Atau bisa juga dengan niat secara umum, maksudnya entah itu mau sholat atau melakukan hal-hal lain yang diharuskan wudhu dahulu, yaitu:

نويت الوضوء لاستباحة مفتقر الى وضوء فرضا لله تعالى

“NAWAITUL WUDHU’A LISTIBAHATI MUFTAQIRIN ILA WUDHU’IN FARDHON LILLAHI TA’ALA”

Saya niat wudhu agar diperbolehkan melakukan perkara yang membutuhkan wudhu’…

Ketika wudhu, diwajibkan untuk muwalah (terus menerus) dalam membasuh dan mengusap anggota badannya. Maksud dari muwalah adalah pembasuhan atau pengusapan anggota badan dilakukan sebelum anggota badan yang dibasuh atau diusap sebelumnya kering.

Setelah wudhu, diwajibkan untuk segera melakukan sholat dan tidak boleh mengakhirkannya kecuali apabila mengakhirkannya karena melakukan hal-hal yang berkaitan dengan sholat, seperti menjawab adzan, melakukan sholat sunat qobliyah atau menunggu dimulainya sholat jama’ah.

Semua hal diatas dilakukan setiap kali akan melakukan sholat fardhu, termasuk mengganti kapas dan pembalutnya, atau mencuci kain yang dipakai sebagai pembalut sebelumnya.Dan bila semua hal diatas sudah dilakukan, maka sholat yang dikerjakan sah dan tidak usah mengqodho’
(mengulaingi) nya lagi.

Ibarot :

Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarah Al-Manhaj, Juz : 1 Hal : 179

قوله ورطوبة فرج) هي ماء أبيض متردد بين المذي والعرق ومحل ذلك إذا خرجت من محل يجب غسله، فإن خرجت من محل لا يجب غسله فهي نجسة؛ لأنها رطوبة جوفية وهي إذا خرجت إلى الظاهر يحكم بنجاستها وإذا لاقاها شيء من الطاهر تنجس وحينئذ يشكل قولهم بعدم تنجيس ذكر المجامع مع أنه يجاوز في الدخول ما يجب غسله إلا أن يقال عفي عن ذلك كما عفي عن الولد الخارج من الباطن

At-Taqrirot Asy-Syadidah, Hal : 171

الأحكام العامة للمستحاضة :
تختلف المستحاضة عن الحائض والنفساء, فالمستحاضة يجب عليها أن تصلي, وصلاتها صحيحة ولا قضاء عليها, وإذا حل رمضان وجب يجب عليها الصوم, ويجوز لزوجها أن يأتيها ولو مع سيلان الدم الخطوات التي تتخذها المستحاضة إذا أرادت الصلاة يجب عليها أن تتطهر من النجاسة الدم وغيره يجب عليها الخشو في موضع خروج الدم بقطن أو نحوه, إلا غذا كانت تتأذى, أو كانت صائمة, لأن ذلك يفطرها, ويجب عليها التعصب إن لم يكف الحشو يجب عليها المبادرة بعد ذلك بالوضوء, وشرطه أن يكون بعد دخول الوقت, والموالة فيهيجب عليها المبادرة إلى الصلاة, فلا يجوز تأخيرها, إلا إذا كان التأخير لمصلحة الصلاة كإجابة مؤذن ونافلة قبلية وانتظار جماعة

Hasyiyah I’anatut Tholibin, Juz : 1 Hal : 104

قوله: وهي) أي رطوبة الفرج الطاهرة على الاصح. (قوله: متردد بين المذي والعرق) أي ليس مذيا محضا ولا عرقا كذلك. (قوله: الذي لا يجب غسله) خالف في ذلك الجمال الرملي، وقال: إنها إن خرجت من محل لا يجب غسله فهي نجسة، لانها حينئذ رطوبة جوفية وحاصل ما ذكره الشارح فيها أنها ثلاثة أقسام طاهرة قطعا، وهي ما تخرج مما يجب غسله في الاستنجاء، وهو ما يظهر عند جلوسها ونجسة قطعا، وهي ما تخرج من وراء باطن الفرج، وهو ما لا يصله ذكر المجامع وطاهرة على الاصح، وهي ما تخرج مما لا يجب غسله ويصله ذكر المجامع

Wallahu a’lamu bisshowab..

T033. HUKUM MEMAKAI SIWAK SELAIN KAYU ‘ARAK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau tanya ustad bagaimana tanggapan pandangan islam dalam menyikapi kepada orang yang bersiwak menggunakan lengan bajunya. Karena Melihat Begitu sangat di anjurkan nya bersiwak. Terimakasih. Mohon penjelasannya.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh manakala tidak punya siwak yang asli bahkan pakai pasta gigi dan yang lain-Nya dengan syarat barang yang dijadikan siwak tidak tersambung dengan badan seperti halya jari-jari tangan itu tidak boleh. karena bersambung dengan badan.

Referensi :

رياض الباديعة فى أصول الدين وبعض فروع الشريعة) ص٢٣
{وتحصل السنة فيه بكل طاهر } خلافا لإبن حجر إلا أصبعه المتصلة {يزيل صفوة الأسنان ولو خرقة} لحصول المقصود بها {وأفضله الأراك اليابس المبلول بالماء } ويدعو بعد ذلك كأن يقول اللهم طيب نكهتي ونور قلبي وطهر أعضائي ومحص ذنوبي وأدخلني برحمتك فى عبادك الصالحين وارزقني جنتك يارب العالمين. هاكذا

Boleh dan mendapat kesunnatan bersiwak dengan memakai setiap barang yang suci, dan terpisah (tidak bersambung seperti bebera jari-jari tangan) barang yang terpisah seperti halnya kayu yang kasar dan kain (baju), namun yang paling utama adalah memakai kayu ‘Arak yang kering yang dibasahi dengan air (siwak yang basah).

(بجيرمي علی الخطيب,جز ١,صحيفۃ ١٧٨)
(القول في الۃ السواك) ويحصل بكل خشن يزيل القلح كعود من اراك اوغيره اوخرقة او اشنان لحصول المقصود بذلك, لكن العود اولی من غيره والأراك اولی (قوله بكل خشن) اي طاهر وفاقا للرملي وخلافا لابن حجر حيث قال: يكفي النجس ولو من مغلظ, ورد بقوله عليه الصلاۃ والسلام (,السواك مطهرۃ للفم) وهذا منجسة ,لكنه اجاب بأن المراد الطهارۃ اللغوية, وحشن بكسرتين كما قاله الأشموني في شرح قول المتن:
وفعل اولی وفعيل بفعل.
لكن جوز القاموس فيه فتح الخاء وكسر الشين, (قوله يزيل القلخ) هو ما يتراكم علی الأسنان من الوسخ ق ل.

Boleh bersiwak menggunakan lengan bajunya. Alasannya ialah Alat-alat siwak itu bisa terjadi dengan setiap benda kasar yang bisa menghilangkan kotoran gigi, seperti kayu yang harum yaitu kayu ‘arak atau kayu lainnya, atau kain, atau sikat gigi. Tapi kayu arak itu lebih utama dari lainnya, Disebabkan karena diperolehnya sesuatu yang dituju (yaitu bersihnya gigi) dengan kayu arak, kain dan sikat gigi.

Wallahu a’lamu bisshowab..