Arsip Kategori: Thoharoh

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Thaharah.

T032 : WANITA MUSTAHADHAH JADI IMAM

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Deskripsi Masalah

Di suatu Desa terpencil (sebut saja Desa Sumber Anyar) ada sebuah Mushollah yang dijadikan tempat sholat berjama’ah khusus untuk bagian putri, setelah beberapa lama sholat berjema’ah berjalan di Mushollah tersebut, pada suatu hari tepatnya pada waktu sholat dluhur para jama’ah kebingungan karena tidak ada seorangpun yang bisa menjadi imam kecuali seorang perempuan yang sedang mengalami istihadhah, karena saking bingungnya para jama’ah mengangkatnya sebagai Imam.

Pertanyaan

1. Sahkah seorang mustahadhah menjadi Imam dari ma’mun yang tidak sedang dalam istihadhoh?

2. Jika imam dan ma’mum sama-sama mustahadhah, bagaimanakah sholat berjama’ahnya.?

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawaban No. 1 :

Hukum berma’mum pada seorang mustahadhah terjadi khilaf sebagaimana berikut;

a. Menurut Qoul ashoh hukumnya sah dengan syarat tidak dalam keadaan Mutahayyiroh.

b. Muqobilul Ashoh tidak sah.

Jawaban No. 2 :

Ditafsil:

a. Jika tidak dalam keadaan mutahayyiroh hukumnya sah.

b. Jika dalam keadaan mutahayyiroh walaupun sama-sama mutahayyiroh hukumnya tidak sah.

Referensi

نهاية المحتاج (ج ٢ ص ١٧٢)

(ﻭﺍﻷﺻﺢ ﺻﺤﺔ ‏) ‏( ﻗﺪﻭﺓ ‏) ﻧﺤﻮ ‏( ﺍﻟﺴﻠﻴﻢ ﺑﺎﻟﺴﻠﺲ ‏) ﺑﻜﺴﺮ ﺍﻟﻼﻡ : ﺃﻱ ﺳﻠﺲ ﺍﻟﺒﻮﻝ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻣﻤﻦ ﻻ ﺗﻠﺰﻣﻪ ﺇﻋﺎﺩﺓ ‏( ﻭﺍﻟﻄﺎﻫﺮﺓ ﺑﺎﻟﻤﺴﺘﺤﺎﺿﺔ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺘﺤﻴﺮﺓ ‏) ﻭﺍﻟﻤﺴﺘﻮﺭ ﺑﺎﻟﻌﺎﺭﻱ ﻭﺍﻟﻤﺴﺘﻨﺠﻲ ﺑﺎﻟﻤﺴﺘﺠﻤﺮ ﻭﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺑﻤﻦ ﺑﻪ ‏ﺟﺮﺡ ﺳﺎﺋﻞ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺛﻮﺑﻪ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻌﻔﻮ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﺼﺤﺔ ﺻﻼﺗﻬﻢ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺇﻋﺎﺩﺓ .

ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻻ ﺗﺼﺢ ﻟﻮﺟﻮﺩ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺻﺤﺤﻨﺎ ﺻﻼﺗﻬﻢ ﻟﻠﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭﻻ ﺿﺮﻭﺭﺓ ﻟﻼﻗﺘﺪﺍﺀ ﺑﻬﻢ ، ﺃﻣﺎ ﻗﺪﻭﺓ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﺑﻤﺜﻠﻪ ﻓﺼﺤﻴﺤﺔ ﺟﺰﻣﺎ ، ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻤﺘﺤﻴﺮﺓ ﻓﻼ ﻳﺼﺢ ﺍﻻﻗﺘﺪﺍﺀ ﺑﻬﺎ ﻭﻟﻮ ﻟﻤﺜﻠﻬﺎ ﻟﻮﺟﻮﺏ ﺍﻹﻋﺎﺩﺓ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﺍﻗﺘﻀﺎﻩ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻫﻨﺎ ﻭﺭﺟﺤﺎﻩ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻭﻣﺎ ﻧﻘﻠﻪ ﺍﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻋﻦ ﻧﺺ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻣﻦ ﻋﺪﻡ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T031. HUKUM MEMASAK TELUR DENGAN KULITNYA TANPA DICUCI TERLEBIH DAHULU

Pertanyaan :

Bagaimana hukum kulit telur apakah harus dicuci terlebih dahulu atau langsung boleh dimasak?

Jawaban :
Memasak telor sebelum mencucinya terlebih dahulu adalah sebagai berikut :

A. Apabila pada kulit telur tersebut tidak terdapat kotorannya / Najisnya maka boleh-boleh saja memasaknya langsung tanpa membasuhnya terlebih dahulu, dan air rebusannya juga dihukumi suci. [Kulit telurnya suci]

B. Apabila pada kulit telur tersebut terdapat kotoran/ Najis maka lebih baik membasuhnya terlebih dulu sebelum memasaknya. Maka apabila ia memasak/ merebus telur tersebut tanpa mencucinya terlebih maka air rebusannya dihukumi Najis dan dan isi telurnya adalah suci, serta kulit telurnya dihukumi Mutanajjis yang bisa suci setelah disucikan.

C. Apabila telur tersebut pecah dan tercampur dengan air mutanajjis maka dihukumi najis.

فتح المعين و إعانة الطالبين ج ١ ص ١٠٤
ولا يجب غسل ذكر المجامع والبيض والولد
قوله: وكذا بيض) معطوف على قوله وكذا بلغم. أي فهو طاهر مثل المني.

الإقناع وحاشية البجيرمي ج ١ ص ١١٢
وَلَوْ سُقِيَتْ سِكِّينٌ أَوْ طُبِخَ لَحْمٌ بِمَاءٍ نَجِسٍ كَفَى غَسْلُهُمَا
الحاشية : قَوْلُهُ: (كَفَى غَسْلُهُمَا) أَيْ وَلَا يَحْتَاجُ إلَى سَقْيِ السِّكِّينِ وَإِغْلَاءِ اللَّحْمِ بِالْمَاءِ أَيْ وَيَطْهُرَانِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا

Wallahu a’lamu bisshowab..

T030. PERBEDAAN MADI, WADI DAN MANI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Apakah keluarnya madi itu membatalkan puasa?
Dan maaf sebelumnya minta referensi perbedaan Mani, Wadi, madi, ustadz..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tidak membatalkan puasa.

Perbedaan antara mani, madzi dan wadi sebagai berikut :

MANI adalah cairan putih keluar dengan tersendat-sendat disertai syahwat serta menyebabkan loyo setelah keluarnya.

Hukumnya suci dan wajib mandi. Ciri-ciri mani ada 3, yaitu :

– keluar disertai syahwat (kenikmatan).

– keluar dengan tersendat-sendat.

– jika basah baunya mirip adonan kue dan jika kering mirip putih telur.

Jika didapatkan salah satu dari tiga ciri di atas, maka disebut mani. Hal ini berlaku pada laki-laki dan perempuan.

MADZI adalah cairan putih lembut dan licin keluar pada permulaan bergejolaknya syahwat. Istilah madzi untuk laki-laki, namun jika keluar dari perempuan dinamakan QUDZA.

Hukumnya najis dan membatalkan wudhu tapi tidak wajib mandi.

WADI adalah cairan putih keruh dan kental, keluar setelah melaksanakan kencing atau ketika mengangkat beban berat.

Hukumnya seperti madzi yaitu najis dan membatalkan wudhu’ tapi tidak wajib mandi.

KESIMPULAN :

1.Jika cairan keluar mengandung salah satu ciri-ciri mani, maka dihukumi mani. Namun jika tidak ada dan keluarnya pada mulai gejolaknya syahwat atau sesudah syahwat, maka dihukumi madzi.

2.Jika ragu yang keluar mani atau madzi ?, maka boleh memilih antara menjadikannya mani sehingga wajib mandi, atau menjadikannya madzi sehingga hukumnya najis, tidak wajib mandi namun batal wudhu’nya. Paling afdholnya menggabung keduanya yaitu mandi janabah dan menyucikan tempat yang terkena cairan tersebut.

3.Wanita juga mengeluarkan mani dengan ciri-ciri sebagaimana di atas. Namun menurut imam Al-Ghozali, mani wanita hanya bercirikan keluar disertai syahwat (kenikmatan).

التقريرات االسديدة في المسائل المفيدة ص 115-116

الفرق بين المني والمذي والودي :

المني : ماء أبيض يتدفق حال خروجه ويخرج بشهوة ويعقب خروجه فتور.

المذي : ماء أبيض رقيق لزج يخرج عند ثوران الشهوة بلا شهوة كاملة

الودي : ماء أبيض ثخين كدر يخرج بعد البول أو عند حمل شيئ ثقيل

الحكم عند خروج أحدها :

المني يوجب الغسل ولا ينقض الوضوء وهو طاهر

المذي والودي حكمهما كالبول فينقضان الوضوء وهما نجسان

علامة المني يجب الغسل إذا وجدت إحدى هذه العلامات ولا يشترط كلها والمرأة مثل الرجل في ذلك وهي ثلاثة :

1. التلذذ بخروجه أي يخرج بشهوة

2. التدفق أي يخرج على دفعات

3. الرائحة إذا كان رطبا كرائحة العجين أو الطلع ، وإذا كان جافا كرائحة بياض البيض

فليس من علامات المني كونه أبيضا أو يعقب خروجه فتور ولكن هذا على سبيل الغالب

كما قال صاحب صفوة الزبد :

ويعرف المني باللذة حين # خروجه وريح طلع أو عجن

مسألة : إذا شك هل الخارج مني ام مذي فما الحكم؟ يتخير فإن شاء جعله منيا فيجب عليه الغسل وإن شاء جعله مذيا فينتقض وضوؤه ويجب غسل ما أصابه منه والأفضل أن يجمع بينهما فيغتسل ويغسل ما اصابه منه

Wallahu a’lamu bisshowab

T029. HUKUM MINUM KOPI LUWAK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum kopi luwak yang diambil dari sisa kotoran musang?

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya boleh dimakan apabila masih berupa biji kopi asli (tidak hancur) seandainya ditanam bisa tumbuh lagi. dengan catatan wajib dicuci terlebih dahulu karena kopi tersebut mutanajjis.

Referensi :

1. Dalam kitab Majmu’ Syarah al-Muhazzab karya Imam al-Nawawi disebtukan :

ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﺖ ﺍﻟﺒﻬﻤﻴﺔ ﺣﺒﺎ ﻭﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﺑﻄﻨﻬﺎ ﺻﺤﻴﺤﺎ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺻﻼﺑﺘﻬﺎ ﺑﺎﻗﻴﺔ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻧﺒﺖ ﻓﻌﻴﻨﻪ ﻃﺎﻫﺮﺓ ﻟﻜﻦ ﻳﺠﺐ ﻏﺴﻞ ﻇﺎﻫﺮﻩ ﻟﻤﻼﻗﺎﺓ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻻﻧﻪ ﻭﺍﻥ ﺻﺎﺭ ﻏﺬﺍﺀ ﻟﻬﺎ ﻓﻤﺎ ﺗﻐﻴﺮ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻔﺴﺎﺩ ﻓﺼﺎﺭ ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﻧﻮﺍﺓ ﻭﺧﺮﺟﺖ ﻓﺄﻥ ﺑﺎﻃﻨﻬﺎ ﻃﺎﻫﺮ ﻭﻳﻄﻬﺮ ﻗﺸﺮﻫﺎ ﺑﺎﻟﻐﺴﻞ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺻﻼﺑﺘﻬﺎ ﻗﺪ ﺯﺍﻟﺖ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻟﻢ ﻳﻨﺒﺖ ﻓﻬﻮ ﻧﺠﺲ ﺫﻛﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﻔﺼﻴﻞ ﻫﻜﺬﺍ ﺍﻟﻘﺎﺿﻰ ﺣﺴﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺘﻮﻟﻰ ﻭﺍﻟﺒﻐﻮﻯ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ

“ Sahabat kami r.a. berkata, ‘Ketika binatang menelan sebuah biji, lalu keluar dari perutnya dalam keadaan utuh, maka harus dilihat dari kerasnya biji itu. Kalau kerasnya biji itu tetap dalam arti ketika biji itu ditanam lantas tumbuh, maka hukum biji itu suci. Tetapi wajib dicuci permukaan biji itu karena bersentuhan dengan najis. Karena, meskipun biji itu merupakan makanan binatang itu, tetapi biji tersebut tidak menjadi rusak. Ini sama halnya dengan biji yang ditelan binatang, lalu keluar dari duburnya, maka bagian dalam bijinya adalah suci dan suci kulit bijinya dengan dibasuh. Tetapi jika kekerasan biji itu hilang artinya ketika biji ditanam tidak tumbuh, maka hukum biji itu najis.’ Demikian disebutkan secara rinci. Begitulah dikatakan Qadhi Husein, al-Mutawalli, al-Baghawi, dan ulama lain.”

2. Dalam kitab Nihayatul Muhtaj karya Imam al-Ramli disebutkan :.

ﻧَﻌَﻢْ ﻟَﻮْ ﺭَﺟَﻊَ ﻣِﻨْﻪُ ﺣَﺐٌّ ﺻَﺤِﻴﺢٌ ﺻَﻠَﺎﺑَﺘُﻪُ ﺑَﺎﻗِﻴَﺔٌ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻟَﻮْ ﺯُﺭِﻉَ ﻧَﺒَﺖَ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺘَﻨَﺠِّﺴًﺎ ﻟَﺎ ﻧَﺠِﺴًﺎ ، ﻭَﻳُﺤْﻤَﻞُ ﻛَﻠَﺎﻡُ ﻣَﻦْ ﺃَﻃْﻠَﻖَ ﻧَﺠَﺎﺳَﺘَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺇﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﺒْﻖَ ﻓِﻴﻪِ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﻘُﻮَّﺓِ . ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻃْﻠَﻖَ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﻣُﺘَﻨَﺠِّﺴًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻘَﺎﺋِﻬَﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻛَﻤَﺎ ﻓِﻲ ﻧَﻈِﻴﺮِﻩِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﻭْﺙِ ، ﻭَﻗِﻴَﺎﺳُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺒَﻴْﺾِ ﻟَﻮْ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻨْﻪُ ﺻَﺤِﻴﺤًﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﺑْﺘِﻠَﺎﻋِﻪِ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻓِﻴﻪِ ﻗُﻮَّﺓُ ﺧُﺮُﻭﺝِ ﺍﻟْﻔَﺮْﺥِ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻣُﺘَﻨَﺠِّﺴًﺎ ﻟَﺎ ﻧَﺠِﺴًﺎ .

“Namun demikian, jika biji tersebut kembali dalam kondisi semula sekira ditanam dapat tumbuh maka hukumnya adalah mutanajjis, bukan najis. Karena itu, dapat difahami bahwa pendapat yang menyebutkan kenajisannya secara mutlaq kemungkinan jika tidak dalam kondisi kuat. Sementara itu, pendapat yang menyebut secara mutlaq sebagai mutanajjis kemungkinan dalam kondisi tetap, sebagaimana barang yang terkena kotoran lain. Yang serupa dengan biji-bijian adalah pada telur, maka jika keluar dalam kondisi utuh setelah ditelan dengan sekira ada kekuatan untuk dapat menetas, maka hukumnya mutanajjis bukan najis.”

3. Dalam Fathul Mu`in karya Zainuddin al-Malibari disebutkan :

ﻭﻟﻮ ﺭﺍﺛﺖ ﺃﻭ ﻗﺎﺀﺕ ﺑﻬﻴﻤﺔ ﺣﺒﺎ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺻﻠﺒﺎ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻧﺒﺖ، ﻓﻤﺘﻨﺠﺲ ﻳﻐﺴﻞ ﻭﻳﺆﻛﻞ، ﻭﺇﻻ ﻓﻨﺠﺲ

“Seandainya seekor binatang mengeluarkan kotoran atau memuntahkan biji-bijian, jika biji itu tersebut masih keras sekira kalau ditanam masih tumbuh, maka hukumnya adalah mutanajjis yang dapat dibasuh dan kemudian dimakan, tetapi jika tidak keras lagi, maka najis.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T028. HUKUM KOTORAN CICAK/ BURUNG YANG ADA DI DALAM MASJID

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Saya sering tenggok di dalam masjid ada tai burung/ cekcek langsung di pel gak di buang duluan tai burungnya. Bagaimana hukumnya hal tersebut?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tentang masalah tahi cicak yang ada di masjid masih diselisihkan ulama :

Pertama :
Ulama menegaskan bahwa binatang yang tidak memiliki darah merah, seperti serangga, dan sebangsanya, bangkainya tidak najis. Demikian pula kotorannnya.

Ibnu Qudamah –ulama Madzhab Hanbali– mengatakan:

مَا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ ، فَهُوَ طَاهِرٌ بِجَمِيعِ أَجْزَائِهِ وَفَضَلَاتِهِ

“Binatang yang tidak memiliki darah merah mengalir, dia suci, sekaligus semua bagian tubuhnya, dan yang keluar dari tubuhnya.” (al-Mughni, 3:252).

Hal yang sama juga disampaikan ar-Ramli –ulama Madzhab Syafii– dalam an-Nihayah:

ويستثنى من النجس ميته لا دم لها سائل عن موضع جرحها، إما بأن لا يكون لها دم أصلاً، أو لها دم لا يجري

“Dikecualikan dari benda najis (tidak termasuk najis), bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir ketika dilukai, baik karena tidak memiliki darah sama sekali atau memliki darah, namun tidak mengalir.” (Nihayah al-Muhtaj, 1:237).

Kedua :
Ulama juga berbeda pendapat apakah cicak termasuk binatang yang darahnya mengalir atau tidak.

Mayoritas ulama mengatakan, cicak termasuk binatang yang tidak memiliki darah mengalir. An-Nawawi mengatakan:

وأما الوزغ فقطع الجمهور بأنه لا نفس له سائلة

“Untuk cicak, mayoritas ulama menegaskan, dia termasuk binatang yang tidak memiliki darah merah yang mengalir.” (al-Majmu’, 1:129)

Hal yang sama juga ditegaskan Ar-Ramli:

Dikecualikan dari benda najis (tidak termasuk najis), bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir ketika dilukai, baik karena tidak memiliki darah sama sekali atau memliki darah, namun tidak mengalir. Seperti cicak, tawon, kumbang, atau lalat. Semuanya tidak najis bangkainya. (Nihayah al-Muhtaj, 1:237)

Sementara ulama lainnya mengelompokkan cicak sebagai binatang yang memiliki darah merah mengalir, sebagaimana ular.

An-Nawawi menukil keterangan al-Mawardi:

وَنَقَلَ الْمَاوَرْدِيُّ فِيهِ وَجْهَيْنِ كَالْحَيَّةِ وَقَطَعَ الشَّيْخُ نَصْرٌ الْمَقْدِسِيُّ بِأَنَّ لَهُ نَفْسًا سَائِلَةً

Dinukil oleh al-Mawardi, mengenai cicak ada dua pendapat ulama syafiiyah, (ada yang mengatakan) sebagaimana ular. Sementara Syaikh Nasr al-Maqdisi menegaskan bahwa cicak termasuk hewan yang memiliki darah merah mengalir. (al-Majmu’, 1:129)

Dari Madzhab Hanbali, al-Mardawi mengatakan:

والصحيح من المذهب: أن الوزغ لها نفس سائلة. نص عليه كالحية

“Pendapat yang benar dalam Madzhab Hanbali bahwa cicak memliki darah merah yang mengalir. Hal ini telah ditegaskan, sebagaimana ular.” (al-Inshaf, 2:28).

Ketiga :
Sebagian ulama memberikan kaidah, binatang yang memiliki darah merah mengalir dan dia tidak halal dimakan maka kotorannya najis.

Jika Anda menguatkan pendapat bahwa cicak termasuk binatang yang tidak memiliki darah merah mengalir, maka bangkai dan kotoran cicak tidak najis. Sebaliknya, jika Anda berkeyakinan bahwa cicak memiliki darah merah mengalir, maka kotorannya najis. Meskipun banyak ulama berpendapat bahwa najis sangat sedikit, yang menempel di badan, dari binatang yang sulit untuk dihindari, termasuk najis yang ma’fu (boleh tidak dicuci). Allahu a’lam.

Disebut juga dalam kitab i’anatuthalibin :

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ١ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٢٦

ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻳﻌﻔﻰ ﻋﻤﺎ ﺟﻒ ﻣﻦ ﺫﺭﻕ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﻄﻴﻮﺭ. ﺫﻛﺮ ﺷﺮﻃﻴﻦ ﻟﻠﻌﻔﻮ ﻭﻫﻤﺎ ﺍﻟﺠﻔﺎﻑ ﻭﻋﻤﻮﻡ ﺍﻟﺒﻠﻮﻯ، ﻭﺑﻘﻲ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﻌﻤﺪ ﺍﻟﻤﺸﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ. ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ: ﻭﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﺫﺭﻕ ﺍﻟﻄﻴﻮﺭ ﻓﻴﻌﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﻓﻴﻪ ﺃﺭﺿﻪ ﻭﻛﺬﺍ ﻓﺮﺍﺷﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻭﺟﻪ، ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺟﺎﻓﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﺘﻌﻤﺪ ﻣﻼﻣﺴﺘﻪ. ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﻜﻠﻒ ﺗﺤﺮﻱ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ. ﺍﻫ

Ibarot lain :

وأما الوزغ فقطع الجمهور بأنه لا نفس له سائلة ، ممن صرح بذلك الشيخ أبو حامد في تعليقه والبندنيجي والقاضي حسين وصاحب الشامل وغيرهم . ونقل الماوردي فيه وجهين كالحية ، وقطع الشيخ نصر المقدسي بأن له نفسا سائلة قال : وقد ذكره أبو عبيد في كتاب الطهور ، وأنه قتل فوجد في رأسه دم ، وكذا رأيت أنا في كتاب الطهور لأبي عبيد : أن الوزغ والحية لهما نفس سائلة ، ودم في رءوسهما

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=14&ID=154

Dikecualikan dari benda najis (tidak termasuk najis), bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir ketika dilukai, baik karena tidak memiliki darah sama sekali atau memliki darah, namun tidak mengalir. Seperti cicak, tawon, kumbang, atau lalat. Semuanya tidak najis bangkainya. (Nihayah al-Muhtaj, 1:237).

( ويستثنى ) من النجس ( ميتة لا دم لها سائل ) عن موضع جرحها إما بأن لا يكون لها دم أصلا أو لها دم لا يجري كالوزغ والزنبور والخنفساء والذباب ( فلا تنجس مائعا ) كزيت وخل ، وكل رطب بموتها فيه ( على المشهور ) لمشقة الاحتراز عنها

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=25&ID=62

– Kitab Al Majmu’ An-Nawawi :

وحكى الخراسانيون وجهاً ضعيفاً في طهارة روث السمك والجراد وما لا نفس له سائل، وقد قدمنا وجهاً عن حكاية صاحب «البيان» والرافعي أن بول ما يؤكل وروثه طاهران وهو غريب، وهذا المذكور من نجاسة ذرق الطيور كلها هو مذهبنا، وقال أبو حنيفة : كلها طاهرة إلا ذرق الدجاج لأنه لا نتن إلا في ذرق الدجاج، ولأنه عام في المساجد، ولم يغسله المسلمون كما غسلوا بول الآدمي. واحتج أصحابنا بما ذكره المصنف وأجابوا عن عدم النتن بأنه منتقض ببعر الغزلان، وعن المساجد بأنه ترك للمشقة في إزالته مع تجدده في كل وقت، وعندي أنه إذا عمت به البلوى وتعذر الإحتراز عنه يعفى عنه وتصح الصلاة كما يعفى عن طين الشوارع وغبار السرجين.

Fokus :

ولأنه عام في المساجد، ولم يغسله المسلمون كما غسلوا بول الآدمي. واحتج أصحابنا بما ذكره المصنف وأجابوا عن عدم النتن بأنه منتقض ببعر الغزلان، وعن المساجد بأنه ترك للمشقة في إزالته مع تجدده في كل وقت، وعندي أنه إذا عمت به البلوى وتعذر الإحتراز عنه يعفى عنه وتصح الصلاة كما يعفى عن طين الشوارع وغبار السرجين.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T027. HUKUM MUNTAH TERTELAN KEMBALI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi :
Ada seseorang yang makannya terlalu kenyang sehingga selang beberapa menit setelah makan orang tersebut makanan yang sudah dimakan barusan keluar lagi atau muntah namun makanan yang keluar dari perutnya tadi di telan.

Pertaxaannya :
Bagaimana hukumnya menelan makanan tersebut?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya ditafshil :

a). Jika makanan tersebut sudah berubah dari bentuk aslinya maka hukum menelannya haram karena termasuk najis.

Referensi :

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata :

القيء نجس لأنه طعام استحال في الجوف إلى الفساد فأشبه الغائط

“Muntah hukumnya najis, karena perubahan makanan yang ada diperut menjadi rusak, sehingga disamakan dengan kotoran (manusia)” (Al-Kafi 1/153)

Imam Ibnu Hazam rahimahullah berkata :

وَالْقَيْءُ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ أَوْ كَافِرٍ حَرَامٌ يَجِبُ اجْتِنَابُهُ ؛ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْعَائِدِ فِي قَيْئِه

“Muntah baik dari orang muslim ataupun kafir adalah haram wajib dijauhi berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam “oarng yang meminta kembali pemberiannya seperti orang yang memakan muntahnya” (Al-Muhalla 1/191). Maksud haram disini adalah najis.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وَالْقَيْءُ نَجِسٌ ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (قَاءَ فَتَوَضَّأَ) وَسَوَاءٌ أُرِيدَ غَسْلُ يَدِهِ أَوِ الْوُضُوءُ الشَّرْعِيُّ ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ إِلَّا عَنْ نَجَاسَةٍ

“Muntah hukumnya najis karena Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah muntah lalu beliau berwudhu, baik wudhu bermakna cuci tangan ataupun wudhu bermakna wudhu syar’i (seperti wudhu mau shalat) menunjukan bahwa Beliau tidaklah melakukan itu kecuali karena najis” (Syarah Umdatul Fiqih 1/108, Majmul Fatawa 21/597)

Komite tetap dewan Fatwa Saudi Arabiya menyatakan didalam fatwanya :

القيء نجس سواء كان من صغير أو كبير لأنه طعام استحال في الجوف إلى الفساد أشبه الغائط والدم ، فإذا أصاب الثوب أو غيره وجب غسله بالماء مع الفرك والعصر حتى تذهب عين النجاسة وتزول أجزاؤها وينقى المحل

“Muntah hukumnya najis baik muntah orang dewasa ataupun anak kecil, karena ia adalah makanan yang berubah diperut menjadi sesuatu yang rusak sehingga disamakan hukumnya dengan tinja dan darah, maka apabila terkena pakaian atau yang lainya wajib dicuci dengan air sambil digosok serta diperas sampai hilang najisnya lenyap bekasnya dan bersih” (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah 4/193 no : 20902)

b). Dihukumi suci apabila masih berbentuk makanan murni.

Referensi :

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

نجاسة القيء متفق عليها ، وسواء فيه قيء الآدمي وغيره من الحيوانات .. وسواء خرج القيء متغيراً أو غير متغير ، وقيل : إن خرج غير متغير فهو طاهر ، وهو مذهب مالك

“Najisnya muntah adalah perkara yang disepakati atasnya, baik muntah manusia ataupun muntahnya binatang…baik keluar dengan berubah ataupun tidak. Dan ada yang berpenpendapat bahwa kalau tidak berubah maka muntah itu suci dan ini madzhabnya Malik” (Al-Majmu’ 2/551)

Al-Qurrafi rahimahullah berkata :

الْقَيْءُ وَالْقَلْسُ طَاهِرَانِ إِنْ خَرَجَا عَلَى هَيْئَةِ طَعَامٍ

“Al-Qoi-u (muntah) dan qalas (sejenis muntah kalau dalam bahasa nenek moyang saya OLAB) keduanya adalah suci apabila keluar dalam keadaan dalam bentuk makanan” (Ad-Dzakhirah 1/185)

KESIMPULAN :

[a] Hukum muntah ada khilaf dikalangan para ulama antara yang menajiskan dan yang tidak menajiskan.

[b] Pendapat jumhur mayoritas menyatakan najis secara mutlak tanpa perincian.

[c] Diantara ulama ada yang merinci seperti Imam Malik, kalau muntah tersebut sudah berubah kondisinya dari makanan menjadi zat yang rusak dan berbau maka najis kalau tidak berubah maka suci. Dalam hal ini tidak dibedakan antara bayi atau dewasa.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T026. CARA MENCUCI PAKAIAN & HUKUM BAU SABUN YANG MUTANAJJIS NEMPEL DI PAKAIAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi Masalah :
Baju direndam dalam bak berisi air sabun. Lalu dikucek dipisahkan dari air sabun. Setelah itu air sabun dalam bak dibuang dan diganti dg air bersih. Baju yg telah dicuci dimasukkan ke dalam air dg tujuan membersihkan sisa air sabun. Setelah dirasa sisa sabun sdh habis, air dibuang. Setelah itu finising :
baju cucian dimasukkan bak kosong, lalu bak air diisi air sampai meluap.

Pertanyaanya :

1. Sucikah baju yang memakai cara tersebut?

2. Bagaimana hukum sisa bau sabun di baju yang awalnya tercampur dengan pakain mutanajjis dalam satu wadah air?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawaban untuk No.1 :

Cara seperti yang uraikan diatas sudah benar, jadi dengan cara seperti itu baju cucian yang di dalam ember sudah dihukumi suci.

Referensi:

روضة الطالبين الجزء الأول صـ 31

قال المتولي وغيره للماء قوة عند الورود على النجاسة فلا ينجس بملاقاتها بل يبقى مطهرا فلو صبه على موضع النجاسة من ثوب فانتشرت الرطوبة في الثوب لا يحكم بنجاسة موضع الرطوبة ولو صب الماء في إناء نجس ولم يتغير بالنجاسة فهو طهور فإذا أداره على جوانبه طهرت الجوانب كلها قال ولو غسل ثوب عن نجاسة فوقعت عليه نجاسة عقب عصره هل يجب غسل جميع الثوب أم يكفي غسل موضع النجاسة وجهان الصحيح الثاني والله أعلم.

Imam Mutawalli dan lainnya berkata tentang kekuatan air yang didatangkan atas najis, maka air tidak menjadi najis karena bertemu dengan sesuatu yang najis akan tetapi ia tetap suci dan mensucikan. umpama air disiramkan ke sesuatu bagian baju yang najis, lalu basahnya menyebar ke bagian baju yang lain, maka basah yang menyebar tersebut tidak dihukumi najis.

Jawaban untuk No.2 :

Adapun bau sabun yang melekat pada cucian, berikut pendapat para ulama :

a. Ada ulama’ yang menghukumi tidak apa-apa, artinya baju cucian suci apabila hanya tersisa baunya saja, ini pendapat Imam Thobalawie.

b. Imam Romli menyatakan sisa bau sabun masih dihukumi najis, kecuali sulit untuk menghilangkannya.

Referensi:

ﻫﺎﻣﺶ ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ ﺻ 12

ﻭﻟﻮ ﺯﺍﻟﺖ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺑﺎﻻﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﺎﻟﺼﺎﺑﻮﻥ ﻭﺑﻘﻰ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ ﻃﻬﺮ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻄﺒﻼﻭﻯ ﻭﻗﺎﻝ ﻣ ﺭ ﻻﺗﻄﻬﺮ ﺣﺘﻰ ﺗﺼﻔﻮ ﺍﻟﻐﺴﺎﻟﺔ ﺍﻩـ

ﺑﺸﺮﻯ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺻـ 144

ﺗﻨﺒﻴﻪ ﺁﺧﺮ : ﺇﺫﺍ ﻏﺴﻞ ﺛﻮﺑﺎً ﻣﺘﻨﺠﺴﺎً ﺑﻨﺤﻮ ﺻﺎﺑﻮﻥ ﺣﺘﻰ ﺯﺍﻟﺖ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ .. ﻃﻬﺮ ﻭﺇﻥ ﺑﻘﻲ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ، ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻄﺒﻼﻭﻱ . ﻭﻗﺎﻝ ‏( ﻡ ﺭ ‏) : ﻻ ﻳﻄﻬﺮ ﺣﺘﻰ ﺗﺼﻔﻮ ﺍﻟﻐﺴﺎﻟﺔ ﻣﻦ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ، ﺃﻱ : ﻹﻣﻜﺎﻥ ﺍﺳﺘﺘﺎﺭ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﻨﺠﺲ ﻓﻲ ﺭﻳﺤﻪ ﻭﻳﻌﻔﻰ ﻋﻤﺎ ﻳﺸﻖ ﺍﺳﺘﻘﺼﺎﺅﻩ

Apabila baju najis dicuci dengan bantuan sabun dan sejenisnya sampai bersih, maka baju tersebut suci, walaupun masih tersisa bau sabun, ini pendapat Imam Thobalawie.

Sedangkan Imam Romli berkata : Tidak suci sampai cucian bersih dari bau sabun, karena dimungkinkan bau najis tertutup oleh bau sabun, akan tetapi dima’fu jika sulit menghilangkannya.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T025. HUKUM AIR SEDIKIT YANG DITAMBAH DENGAN BARANG NAJIS MENJADI DUA KULLAH

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi :
Ada air untuk mencapai ukuran dua qullah hanya kurang satu cangkir/gelas, kemudian air tersebut ditambah barang najis berupa air seni ukuran satu cangkir/gelas sehingga air tersebut menjadi sampai ukuran dua qullah.

Pertanyaan : Sucikah air yang pas dua qulla tersebut dengan dicampur air seni satu cangkir/gelas

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukumnya tetap najis karena penambahannya dengan barang najis, bukan dengan sesama jenis air walaupun mutanajjis atau mustakmal.

فصل: وإذا كان الماء قلتين) ولو احتمالاً، وإن تيقنت قلّته قبل، بأن جمع شيئاً فشيئاً فبلغ قلتين لا ببول أو مائع، بل من خالص الماء ولو متنجساً أو مستعملاً أو متغيراً ( .. فلا ينجس بوقوع النجاسة فيه)؛ لخبر القلتين المتقدم (إلا إن تغير) من تلك النجاسة الواقعة فيه يقيناً (طعمه، أو لونه، أو ريحه، ولو تغيراً يسيراً) ولو بمعفو عنه، ولو بمجاور أو مخالط لم يستغن الماء عنه؛ لغلظ النجاسة.

(بشرى الكريم شرح المقدمة الحضرمية )

Apabila air belum sampai dua kullah, lalu ditambah dengan air murni menjadi dua kullah walaupun penambahan tersebut mutanajjis atau mustakmal atau air yang sudah berubah, (bukan dari barang najis seperti kencing dan benda cair sejenisnya), maka air tersebut tidak bisa najis kecuali berubah rasa, warna dan baunya walaupun perubahannya hanya sedikit.

ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﺨﺘﺮﻋﻪ ﺑﻌﺾ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﺇﻥ ﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻗﻠﺘﻴﻦ ﺇﻻ ﻛﻮﺯا ﻓﻜﻤﻠﻪ ﺑﺒﻮﻝ ﻃﻬﺮ ﻓﺒﻬﺘﺎﻥ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ: ﻗﺎﻝ اﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺣﺎﻣﺪ ﺷﻴﺦ اﻷﺻﺤﺎﺏ ﺇﺫا ﻛﻤﻠﻪ ﺑﺒﻮﻝ ﺃﻭ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺃﺧﺮﻯ ﻓﺎﻟﺠﻤﻴﻊ ﻧﺠﺲ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ ﺑﻴﻦ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﻴﻦ: ﻭﻗﺎﻝ ﻭﺃﺻﺤﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﺤﻜﻮﻥ ﻋﻨﺎ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﺬﻫﺒﺎ ﻟﻨﺎ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

(المجموع)

Lihat kitab Fath al-Mu’in :

والماء القليل إذا تنجس يطهر ببلوغه قلتين ولو بماء متنجس حيث لا تغير به

( قوله والماء القليل إذا تنجس ) أي بوقوع نجاسة فيه وقوله يطهر ببلوغه قلتين أي بانضمام ماء إليه لا بانضمام مائع فلا يطهر ولو استهلك فيه وقوله ولو بماء متنجس أي ولو كان بلوغه ما ذكر بانضمام ماء متنجس إليه أي أو بماء مستعمل أو متغير أو بثلج أو برد أذيب

Air sedikit bila menjadi najis bisa suci kembali dengan menjadikan ia dua qullah meskipun memakai air yang terkena najis asalkan tidak menjadikannya berubah.

(Keterangan Air sedikit bila menjadi najis) artinya menjadi najis sebab kejatuhan najis.

(Keterangan bisa suci kembali dengan menjadikan ia dua qullah) artinya dengan menambahkan air lain padanya tidak dengan menambahkan barang cair lainnya meskipun bisa melebur dengan air.

(Keterangan meskipun memakai air yang terkena najis) artinya meskipun penambahan untuk menjadikannya dua qullah tersebut memakai air lain yang terkena najis, atau menggunakan air musta’mal, atau air yang berubah, atau es atau embun yang telah meleleh. [ I’anah at-Thoolibiin I/34 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

T024. HUKUM MELAKUKAN JIMAK DIWAKTU HAID

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Mau tanya ustadz..

1. Bagaimana hukumnya suami istri melakukan jimak sedang istri dalam situasi haid?

2. Bagaimana cara mandi besar/ adus (Bhs Madura) bagi yang melakukan hal tersebut?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

Jawaban untuk No.1 :

Hukum melakukan jimak ketika istri dalam keadaan haid adalah haram dan termasuk bagian dari perbuatan dosa bilamana ia lakukan dengan sengaja, sebagaimana ibarah berikut :

Referensi :

الإقناع فى حل الألفاظ ابي شجاع.ص٨٧
{الوطء} ولو بعد انقطاعه وقبل الغسل لقوله تعالى ولاتقربو هن حتى يطهرن ووطئها فى الفرح كبيرة من العامد العالم بالتحريم المختار ويكفر مستحله كما فى المجموع عن الأصحاب وغيرهم بخلاف الناسي والجاهل والمكره لخبر إن الله تجاوز عن أمتي الخطاء والنسيان ومااستكرهوا عليه رواه البهقي وغيره، ويسن للواطئ المتعمد المختار بالتحريم فى أول الدم وقوعه التصدق بمثقال اسلامى من الذهب الخالص وفى آخر الدم وضعفه بنصف مثقال لخبر إذا وقع الرجل أهله وهى حائض ان كان دما أحمر فليتصدق بدينار وان كان أصفر فليتصدق بنصف دينار .رواه ابوادود.

“(Wathi’/jima).”Walau setelah terputusnya darah dan sebelumnya mandi, karena berdasarkan firman Allah swt, ” Janganlah kau dekati (wathi’/jima’) mereka (perempuan) sehingga mereka dalam keadaan suci. Dan menjima’ perempuan dalam keadaan haid adalah termasuk dosa besar bilamana ia lakukan dengan sengaja dan sudah tahu akan keharaman yang terpilih. Dan ia menjadi penyebab kekafiran manakala ia menghalalkannya (wathi’ dalan situasi haid) sebgaimana dijelaskan dalam kitab majmu’ dari Ashhab dan yang lain-Nya, dan berbeda dengan situasi lupa, tidak tahu dan dipakasa, karena berdasarkan sebuah hadits ” Sesungguhnya Allah mengampuni dari ummatku yaitu: keliru dan lupa dan sesuatu yang dipaksa.{HR.Baihaqi}.

Dan disunnatkan bagi orang yang yang sengaja melakukan wathi’ dan sudah mengetahui akan keharaman-Nya, diawal terjadinya darah, yaitu bersedekah seberat satu misqol islamiy dari emas yang murni, dan dalam berakhirnya darah dan lemahnya darah bersedakah dengan separuhnya mistqol, karena hadits “Apabila telah terjadi wathi’ (jima) seorang laki-laki pada ahlinya (istrinya) sedangkan istrinya dalam keadan haid, jika adanya darah mirah maka bersedakalah dengan dinar. Dan bilamana adanya darah kuning maka bersedakahlah dengan separuh dinar. { HR.Abudaud}.

SELAIN hukumnya haram Bagi yang tau namun tetap sengaja menjimak istrinya
maka ia dianjurkan (Sunnah) bersedekah se dinar. Jika mewathi’ di waktu Kuatnya darah.

Jika mewathi’nya di waktu darah sudah lemah serta sebelum perempuan adus,
Maka disunnahkn bersedekah separuh dinar.

Pesan kitab majmuk dibawah juga ada teks :
Bagi pelanggar tersebut hendaklah beristighfar dan bertaubat kepada Allah (s.w.t) يستغفر الله تعالى ويتوب

المجموع شرح المهذب [2 /359]

فان وطئها مع العلم بالتحريم ففيه قولان قال في القديم ان كان في أول الدم لزمه أن يتصدق بدينار وان كان في آخره لزمه أن يتصدق بنصف دينار لما روى ابن عباس رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال في الذى يأتي امرأته وهى حائض يتصدق بدينار أو بنصف دينار وقال في الجديد لا يجب لانه وطئ محرم للاذى فلم تتعلق به الكفارة كالوطئ في الدبر ]

[ الشرح ] أجمع المسلمون علي تحريم وطئ الحائض للآية الكريمة والاحاديث الصحيحة قال المحاملي في المجموع قال الشافعي رحمه الله من فعل ذلك فقد اتي كبيرة قال أصحابنا وغيرهم من استحل وطئ الحائض حكم بكفره قالوا ومن فعله جاهلا وجود الحيض أو تحريمه أو ناسيا أو مكرها فلا اثم عليه ولا كفارة لحديث ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال (ان الله تجاوز لى عن امتى الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه) حديث حسن رواه ابن ماجه والبيهقي وغيرهما وحكي الرافعي عن بعض الاصحاب انه يجئ علي القديم قول انه يجب علي الناسي كفارة كالعامد وهذا ليس بشئ

واما إذا وطئها عالما بالحيض وتحريمه مختارا ففيه قولان الصحيح الجديد لا يلزمه كفارة بل يعذر ويستغفر الله تعالى ويتوب.

ويستحب ان يكفر الكفارة التى يوجبها القديم والثاني وهو القديم يلزمه الكفارة وذكر المصنف دليلهما والكفارة الواجبة في القديم دينار ان كان الجماع في اقبال الدم ونصف دينار ان كان في ادباره.

والمراد باقبال الدم زمن قوته واشتداده وبادباره ضعفه وقربه من الانقطاع هذا هو المشهور الذى قطع به الجمهور وحكي الفوراني وامام الحرمين وجها عن الاستاذ ابي اسحق الاسفراينى ان اقباله ما لم ينقطع وادباره ما بعد انقطاعه وقبل اغتسالها وبهذا قطع القاضى أبو الطيب في تعليقه فعلي قول الجمهور لو وطئ بعد الانقطاع وقبل الاغتسال لزمه نصف دينار قاله البغوي وغيره واستدلوا لهذا القول القديم بحديث ابن عباس المذكور وحملوا قوله بدينار أو بنصف دينار علي التقسيم وان الدينار في الاقبال والنصف في الادبار.

Jawaban untuk No.2 :

Adapun cara bersuci/ adus (Bhs Madura) bagi orang yang terlanjur jima dalam keadaan haid, (ia dalam situasi menanggung dua hadas yakni janabah dan haid). Maka carannya adalah cukup memilih salah satu dari keduanya, berdasarkan Qaidah :

إذاتزامحت المصالح قدم الأعلى * وإذا تزامحت المفاسد قدم الأخف

“Jika terdapat beberapa kemasalahan bertabrakan maka dahulukannlah mashlahat yang paling tinggi. Dan bilamana kerusakan-kerusakan (bahaya) bertabrakan maka dahulukanlah kerusakan yang lebih ringan. Dalam hal ini dikokohkan dalam ibarah berikut dalam kitab fiqhussuh :

يجزئ غسل واحد من حيض وجنابة ، أو عن جمعة وعيد، أو عن جنابة وجمعة ،إذا نوى الكل، لقوله صلى الله عليه وسلم.” وإنما لكل امرئ مانوى”

“Cukuplah mandi salah satu diatara dari haid dan janabah, dan diatara jum’at dan aid, atau diantara janabah dan jum’at, manakala ia berniat secara keseluruhan, karena berdasarkan pada hadits Nabi saw. Dan sesungguhn-Nya keabsahan sesuatu pekerjaan adalah tergantung pada niat.

والله تعالى أعلم بالصواب