Arsip Kategori: Thoharoh

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Thaharah.

T012. HUKUM MENYENTUH ALAT KELAMIN MANUSIA YANG SUDAH TERPISAH DARI RAGANYA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Batalkah wudhu seseorang yang menyentuh dzakar/farji yang sudah terpisah dengan jasadnya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Kalau sekiranya dzakar/ farji tersebut masih layak disebut sebagai alat kelamin maka masih tetap membatalkan wudhu, lihat Syarh sulam attawfiiq hal. 21 :

وشمل إطلاقه الذكر المبان لصدق الاسم وأما فرج المرأة المبان فحكمه كذلك إن بقي الاسم وإلا فلا يؤخذ من ذلك أن الذكر لو قطع ودق حتى خرج عن كونه يسمى ذكرا أنه لا ينقض وهو كذلك

Kemutlakan penjabaran Mushannif (pengarang kitab-tentang batalnya menyentuh alat kelamin) mencakup pada dzakar (alat kelamin jantan) yang terputus (juga dihukumi membatalkan wudhu) bila masih layak disebut dzakar, sehingga dapat disimpulkan apabila ada dzakar terputus dan tercacah hingga tidak layak untuk disebut dzakar maka tidak membatalkan wudhu begitu juga dengan farji (alat kelamin wanita). [ Nihaayah alMuhtaaj I/119-120 ]. Lanjutkan membaca T012. HUKUM MENYENTUH ALAT KELAMIN MANUSIA YANG SUDAH TERPISAH DARI RAGANYA

T011. HUKUM MENYENTUH ALAT KELAMIN HEWAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukum menyentuh qubul/dubur (alat kelamin) hewan, Apakah membatalkan wudhu’?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Menyentuh alat kelamin hewan tidak membatalkan wudhu’.

إعانة الطالبين ١/٦١-٦٣

وثالثها أى و ثالث نواقض الوضوء مس فرج آدمي أو محل قطعه ولو لميت أو صغير وخرج بآدمي فرج البهيمة إذ لا يشتهى ومن ثم جاز النظر إليه أى إلى فرج البهيمة ومحله إن لم ينظر إليه بشهوة وإلا حرم كما هو ظاهر.

Dan yang ketiga dari hal-hal yang membatalkan wudhu’ adalah Menyentuh kemaluan anak adam walaupun kemaluan mayat ataupun anak kecil. keluar dari kata “anak adam” adalah alat kelamin hewan atau tempat terpotongnya (tidak membatalkan wudhu’ menyentuhnya) karena ia bukan hal yang menarik hasrat (syahwat), maka dari itu boleh memandang alat kelamin hewan jika tidak disertai syahwat. Lanjutkan membaca T011. HUKUM MENYENTUH ALAT KELAMIN HEWAN

T010. HUKUM MEMAKAN IKAN (LELE) YANG MAKANANNYA DARI BARANG NAJIS

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum Wr. Wb..

Diskripsi masalah :

Seorang pengusaha ayam ternak juga buka usaha ternak IKAN LELE, yang mana jika ada salah satu ayamnya mati maka di langsung di taruh di kolam lele buat makan lelenya agar cepat besar dengan modal yang tidak begitu besar namun hasil akan melimpah. Bahkan ada sebagian yang memakan kotoran manusia.

Pertynyaannya :
Bagaimana hukum memakan ikan lele tersebut?

terima kasih..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Bila terjadi perubahan pada bau, rasa atau warna pada daging lele yang diberi makan kotoran manusia tersebut maka mengkonsumsi daging lele tersebut hukumnya MAKRUH, bila tidak terjadi perubahan pada dagingnya meskipun ia hanya diberikan makanan kotoran manusia maka tidak makruh. Lanjutkan membaca T010. HUKUM MEMAKAN IKAN (LELE) YANG MAKANANNYA DARI BARANG NAJIS

T009. KESUCIAN LEMAK YANG ADA DALAM USUS SAPI (HEWAN)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mohon maaf kepada semua para ustadz dan para kiyai..

Sering saya temukan disaat penyembelihan kambing atau sapi, usus dari hewan tersebut di bedakan diantara usus yang berisi kotoran tapi bersih dan usus yang berisi kotoran yg sudah seperti layaknya kotoran. Sehingga pada usus tersebut di potong.
Lalu yang isinya kotor dan bau, dibersihkan setelah isinya di keluarkan.
Sedangkan yang isinya masih bersih hanya di cuci dari luar tanpa di keluarkan isinya. Bahkan supaya tidak keluar isi tersebut biasanya di ikat pada dua ujungnya..

Yang saya ingin tanyakan,
Adakah perbedaan diantara isi usus yg masih bersih dan yang sudah agak menghitam juga berbau dalam bidang najisnya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.. Lanjutkan membaca T009. KESUCIAN LEMAK YANG ADA DALAM USUS SAPI (HEWAN)

T008. DAGING DIGILING LANSUNG TANPA DICUCI. SEPERTI PROSES PEMBUATAN PENTOL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mau tanya bagaimana hukum pentol bakso yang ada di daerah kita. Karena kita tau càra membuatnya digiling dan bercampur dgn darah bahkan kebanyakan oleh penjualnya tidak dicuci dulu dan langsung digiling. Halal atau haram? Mohon penjelásannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh dan halal memakannya karena darah yg melekat di daging dan tulang di ma’fu selama tidak bercampur dg air…

كاشفة السجا على سفينة النجا..ص..٤٣
أَنَّهُ يُعْفٰى عَنِ الدَّمِ الَّذِى عَلَى اللَّحْمِ إِذَا لَمْ يَخْتَلِطْ بِمَاءٍ وَإِلاَّ فَلاَ يُعْفٰى عَنْهُ..

وإلا فلا يعفى..اى وإذا كان اللحم يختلط بماء فلا يعفى

Kalau kenyataannya sdh bercampur dgn air menurut pemahaman diatas maka najisnya tdk dima’fu.

Darah tersebut dihukumi najis yang di ma’fu (diampuni) kalau tidak bercampur dengan perkara lain seperti air sedang menurut Imam an-Nawaawi serta as-Subky dihukumi SUCI

وأما الدم الباقي على اللحم وعظامه وعروقه من المذكاة فنجس معفو عنه وذلك إذا لم يختلط بشيء كما لو ذبحت شاة وقطع لحمها فبقي عليه أثر من الدم وإن تلون المرق بلونه بخلاف ما لو اختلط بغيره كالماء كما يفعل في البقر الذي تذبح في المحل المعد لذبحها من صب الماء عليها لإزالة الدم عنها فإن الباقي من الدم على اللحم بعد صب الماء عليه لا يعفى عنه وإن قل لاختلاطه بأجنبي ولو شك في الاختلاط وعدمه لم يضر لأن الأصل الطهارة

Sedang darah yang terdapat pada daging, tulang, urat dari hewan yang disembelih maka hukumnya najis yang dima’fu bila tidak tercampuri sesuatu, seperti bila seekor kambing disembelih, dagingnya dipotong-potong dan ternyata masih tersisa bekas darahnya meskipun air kuah masih berwarna merah karenanya.Brbeda saat ia tercampuri oleh perkara lainnya seperti air seperti seekor sapi yang disembelih ditempat yang telah dipersiapkan yang disirami air agar menghilangkan darahnya, maka bila masih tersisa darah pada daging setelah penyiraman air tersebut darahnya tidak dima’fu (harus dicuci sihkan sebelum memasaknya) meskipun hanya sedikit karena telah bercampur dengan hal lain.Bila diragukan tercampur dengan hal lain dan tidaknya maka tidak bahaya karena kaidah asalnya adalah suci. [ Nihaayah az-Zain I/40 ].

( قوله حتى ما بقي على نحو عظم ) أي حتى الدم الباقي على نحو عظم فإنه نجس وقيل إنه طاهر وهو قضية كلام النووي في المجموع وجرى عليه السبكي

(Hingga darah yang tersisa pada semacam tulang) artinya darah yang tersisa pada semacam tulang hewan yang disembelih dihukumi najis, namun dikatakan menurut pendapat ulama “sesungguhnya ia suci” dan inilah keputusan pernyataan an-Nawawy dalam kitab al-Majmu’ dan yang dijalani oleh as-Subky. [ I’aanah at-Thoolibiin I/83 ].

Pertanyaannya, apa alasannya darah tadi kok di-ma’fu ?? dan istinbatnya apa ? Jawabnya baca ibaroh berikut :

ويدل له من السنة قول عائشة رضي الله عنها كنا نطبخ البرمة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم تعلوها الصفرة من الدم فيأكل ولا ينكره والمعتمد الأول لأنه دم مسفوح ولا ينافيه ما تقدم من السنة لأنه محمول على العفو عنه ومعلوم أن العفو لا ينافي النجاسة

[ I’aanah at-Thoolibiin I/83 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

T007. BERSENTUHAN ANTARA SUAMI ISTRI ATAU LAIN JENIS DALAM BAB WUDHU’

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana hukum menyentuh isterinya, batal atau tidak?
Jika batal kasih dalil dan jika tidak kasih dalil dari masing2 madzhab,
Sebab di tempat tinggal saya ada hal seperti itu.

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

Wudlunya tidak sah / harus diulang, niat lagi dan membasuh dari awal lagi, karena salah satu syarat sahnya wudhu adalah tidak adanya sesuatu yang merusaknya (di tengah wudhu) semisal haid dan menyentuh dzakar. Wallohu a’lam.

.وشرطه أى الوضوء كون الماء مطلقا إلى أن قال وعدم المنافي من نحو حيض ومس ذكر حال الوضوء لأنه اذا طرأ عليه أبطله فلا يصح مع وجوده، قوله لأنه اذا طرأ الخ ويحتاج بعد زواله الى استئناف طهارة وتجديد نية.الشرقاوي ١/٦٤

MENURUT EMPAT MADZHAB :

– Madzhab Syafii : menyentuh wanita ( seperti bersalaman dengan wanita ) membatalkan wudhu secara mutlaq

– Madzhab Imam Malik : membatalkan wudhu apabila bermaksud (menstimulus) birahi, atau (reflek) muncul syahwat

– Madzhab Imam Abi Hanifah : tidak membatalkan wudhu secara absolut

(Catatan:)

Sikap kita terhadap perbedaan pendapat para ulama adalah mengambil atau mengaplikasikan hukum yang sesuai dengan kondisi kita ;

_ apabila dalam kondisi normal dan mudah, kita memakai hukum yang azimah yaitu madzhab Syafii

_ namun bila kondisinya tidak memungkinkan, maka kita mengikuti imam Abi Hanifah.

Agama Islam itu mudah …

 فتاوى البيت المسلم لفضيلة الامام العلامة ا. د. علي جمعة مفتي الديارالمصرية

Wallahu a’lam ..

SOLUSI :

Ada solusi Qiil dalam madzhab syafi’i. Menurut imam Furoni dan Imam Haromain tidak batal bila tak disengaja, menurut imam Ibnu Suraij tidak batal bila tidak syahwat, menurut imam AL AUZA’I tidak batal bila tidak menyentuh dengan tangan. Baca ktab AL BAHJAH JuZ 1 HLM 137 -138. Apakah itu mutlaq atau khusus dalam thowaf? Jawabannya MUTLAQ.

Memang terdapat pendapat di kalangan Syafi’iyah yang menyatakan tidak membatalkan wudhu bila persentuhan terjadi akibat tidak adanya kesengajaan, yaitu pendapat al-Furaani dan Imam Haramain. SOLUSINYA :

1. Mengikuti pendapat di atas

2. Pindah Madzhab, namun demikian harus mengikuti segala ketentuaan yang berlaku dalam madzhab yang diikutinya seperti syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkan wudhu.

( قَوْلُهُ : وَسَوَاءٌ إلَخْ ) وَلَنَا وَجْهٌ أَنَّهُ لَا يُنْتَقَضُ وُضُوءُ الْمَلْمُوسِ ، وَوَجْهٌ أَنَّ لَمْسَ الْعُضْوِ الْأَشَلِّ أَوْ الزَّائِدِ لَا يَنْقُضُ ، وَوَجْهٌ لِابْنِ سُرَيْجٍ أَنَّهُ يُعْتَبَرُ الشَّهْوَةُ فِي الِانْتِقَاضِ قَالَ الْحَنَّاطِيُّ وَحُكِيَ هَذَا عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ ، وَوَجْهٌ حَكَاهُ الْفُورَانِيُّ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَآخَرُونَ أَنَّ اللَّمْسَ لَا يَنْقُضُ إلَّا إذَا وَقَعَ قَصْدًا ، وَأَمَّا تَخْصِيصُ النَّقْضِ بِأَعْضَاءِ الْوُضُوءِ فَلَيْسَ وَجْهًا لَنَا بَلْ مَذْهَبُ الْأَوْزَاعِيِّ وَحُكِيَ عَنْهُ أَنَّهُ لَا يَنْقُضُ إلَّا اللَّمْسُ بِالْيَدِ كَذَا فِي الْمَجْمُوعِ

Dari kalangan Syafiiyah juga terdapat beberapa pendapat :

a. Ada yang menyatakan tidak menjadi batal wudhunya orang yang disentuh

b. Ada yang menyatakan tidak membatalkan menyentuh anggauta badan yang telah lumpuh atau anggauta tambahan

c. Ada yang menyatakan (pendapat Ibn Suraij) yang membatalkan saat terjadi syahwat dalam persentuhan, berkata al-Hannaathy diceritakan ini adalah hokum yang telah ditetapkan oleh Imam Syafi’i

d. Ada yang menyatakan (Pendapat al-Furaani dan Imam Haramain dan ulama-ulama lain) persentuhan kulit tidak membatalkan kecuali bila terjadi unsure kesengajaan.

Sedang bersentuhan kulit yang membatalkan terbatas pada anggauta wudhu saja bukan merupakan pendapat kalangan syafi’i namun pendapat al-Auzaa’i yang juga diceritakan menurutnya bahwa tidak membatalkan wudhu kecuali menyentuhnya dengan tangan, inilah yang diuaraikan dalam kitab al-majmuu’.

[ Syarh alBahjah alWardiyyah II/44 ].

ومما تعم به البلوي في الطواف ملامسة النساء للزحمة ، فينبغي للرجل أن لا يزاحمهن ولها أن لا تزاحم الرجال خوفا من انتقاض الطهارة ، فإن لمس أحدهما بشرة الآخر ببشرته انتقض طهور اللامس وفي الملموس قولان للشافعي رحمه الله تعالي أصحهما أنه ينتقض وضوءه وهو نصه في أكثر كتبه ، والثاني لا ينتقض واختاره جماعة قليلة من أصحابه والمختار الأول .

Termasuk cobaan yang umum dalam thowaf adalah bersentuhan kulit dengan wanita karena berdesakan, maka sebaiknya bagi laki-laki tidak mendesaknya dan bagi wanita tidak mendesak kaum pria karena dikhawatirkan rusaknya bersuci, bila terjadi persentuhan kulit diantara keduanya naka batal kesuciannya orang yang menyentuh. Sedang bagi yang disentuh terdapat dua pendapat milik Imam Syafi’i rh. Pendapat yang paling shahih menyatakan juga batal wudhunya ini teks keterangan beliau dibeberapa kitabnya, sedang menurut pendapat yang kedua tidak batal, pendapat ini dipilih oleh sebagian golongan dari pengikut beliau sedang pendapat yang terpilih adalah pendapat yang pertama. [ Al-Iidhooh Hal. 102 ].

Wallahu A’lamu Bis Showaab..

T006. HUKUM TATO. WUDHU, ADUS DAN SHOLATNYA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Nyo’onnah pamangki apakah boleh tato badan & apakah diterima (essa) wudhu’ & mandi besarnya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

HUKUM TATO :

Dan bagi yang sudah terlanjur memakainya wajib menghilangkannya sedapat mungkin bila memang tidak menimbulkan bahaya pada dirinya dengan bahaya yang dapat diperkenankan seseorang menjalani tayammum, bila khawatir menimbulkan bahaya maka tidak wajib menghilangkannya dan ia juga tidak berdosa karenanya bila memang ia telah bertaubat.Ketentuan ini (wajib menghilangkannya) saat tattoo tersebut dilakoni dengan kerelaannya (tidak dipaksa) waktu ia sudah baligh/dewasa, bila terdapat sebelum dewasa atau dipaksa saat membuatnya maka tidak wajib dihilangkan.Shalat dan menjadikan imam orang bertatto dihukumi sah, dan tinak menjadi najis akibat semacam tangan disentuhkan pada anggauta tubuh yang terdapat tattonya.
(IQNAA’ I/139)

==================

والنقاء عما منع وصول ماء جسما….وليس منه طبوع عسر زواله كوشم فيعفي عنه

Diantara syarat-syarat wudhu adalah bersih dari segala hal yang dapat mencegah sampainya air pada tubuh, dan tidak tergolong mencegah sampainya air tera yang sulit dihilangkan seperti tattoo maka hukumnya dima’fu (dimaafkan)

Inaarah ad-Dujaa hal. 60

============

الكتاب : حاشية البجيرمي على الخطيب 4 / 55( الْوَشْمُ ) وَهُوَ غَرْزُ الْإِبْرَةِ فِي الْجِلْدِ حَتَّى يَخْرُجَ الدَّمُ ثُمَّ يَذُرَّ عَلَيْهِ نَحْوَ نِيلَةٍ لِيَخْضَرَّ أَوْ يَزْرَقَّ ا هـ ا ج .قَوْلُهُ : ( فَفِيهِ التَّفْصِيلُ الْمَذْكُورُ ) وَهُوَ أَنَّهُ إذَا فَعَلَهُ مُكَلَّفٌ مُخْتَارٌ عَالِمٌ بِالتَّحْرِيمِ بِلَا حَاجَةٍ وَقَدْرَ عَلَى إزَالَتِهِ لَزِمَتْهُ ، وَإِلَّا فَلَا .فَإِذَا فُعِلَ بِهِ فِي صِغَرِهِ أَوْ فَعَلَهُ مُكْرَهًا أَوْ جَاهِلًا بِالتَّحْرِيمِ أَوْ لِحَاجَةٍ وَخَافَ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ فَلَا تَلْزَمُهُ إزَالَتُهُ وَصَحَّتْ صَلَاتُهُ وَإِمَامَتُهُ ، وَعُلِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ فَعَلَ الْوَشْمَ بِرِضَاهُ فِي حَالِ تَكْلِيفِهِ ، وَلَمْ يَخَفْ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ مَنَعَ ارْتِفَاعَ الْحَدَثِ عَنْ مَحَلِّهِ لِتَنَجُّسِهِ وَإِلَّا عُذِرَ فِي بَقَائِهِ مُطْلَقًا وَحَيْثُ لَمْ يُعْذَرْ فِيهِ وَلَاقَى مَاءً قَلِيلًا أَوْ مَائِعًا أَوْ رَطْبَا نَجَّسَهُ ، كَذَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ شَرْحُ م ر .

Tatto ialah tanda pada tubuh yang dihasilkan dengan cara menusukkan jarum pada tubuh hingga mengeluarkan darah kemudian meninggalkan warna membiru atau menghijau dari bekas tusukan jarum tersebut.Hukum menghilangkan tatto bila dilakukan saat seseorang sudah mukallaf (dewasa dan berakal), tidak dipaksa, tahu keharamannya, tanpa kepentingan, bisa dihilangkan maka wajib menghilangkannya, bila tidak maka tidak wajib.Maka bila dilakukan saat ia masih kecil, dipaksa, tidak tahu keharamannya, karena ada keperluan, khawatir timbul bahaya yang hingga diperbolehkan baginya tayaammum maka tidak wajib menghilangkannya dan sahlah shalat serta menjadikan imam dia.Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa orang yang menjalaninya setelah ia mukallaf atas dasar kerelaan, tidak menimbulkan bahaya saat menghilangkannya dengan bahaya yang memperkenankan menjalani tayammum maka terhalanglah hilangnya hadats dari tempat dari anggauta tubuh yang ditatto karena kenajisannya, bila tidak dalam ketentuan diatas (mukallaf atas dasar kerelaan, tidak menimbulkan bahaya saat menghilangkannya dengan bahaya yang memperkenankan menjalani tayammum) maka dianggap udzur keberadaannya.Keberadaan tattoo yang tidak dianggap udzur bila bertemu dengan air sedikit atau barang cair lainnya atau sesuatu yang basah dapat menjadikan kenajisannya. Bujairomi alaa al-Khothiib IV/55

WUDHU, ADUS DAN SHOLATNYA ORANG YANG BERTATO :

Adapun waudhu dan mandinya tetap sah, sebagaimana dalam kitab Qurratul ‘Ain bifatawaa Ismail Zain halaman 49 berikut:

سؤال . ماقولكم فيمن غرز فى أعضاء وضوءه او فى سائر بدنه بالإبرة مثلا ووضع محله نحو حبر للتلوين والتصوير فإذا التحم بعد ذلك فهل يصح وضوؤه وكذلك غسله اولا ؟ الجواب : نعم يصح وضوؤه وغسله مع كونه إثما بذلك الفعل يجب عليه التوبة وإزالته ان لم يؤد الى ضرر لأنه نوع من الوشم ففعله غير جائز ولكن الوضوء والغسل معه صحيحان للضرورة لأنه داخل الجلد ملتحم عليه فلا يمنع صحة الوضوء والغسل لكونه داخل البشرة والصلاة معه صحيحة للضرورة.

Terjemah fatwa Syeikh Isma’il Zain: Bagiamana pendapat anda tentang orang yang mencocok pada anggota wudhunya atau disemua badannya dengan jarum misalnya, kemudian dia meletakkan tinta ditempat yang dicocok tsb dengan tujuan mewarnai atau melukis. Ketika merapat (tumbuh daging diatasnya) setelah itu, apakah sah wudhunya, begitu juga mandinya atau tidak ?

Benar, sah wudhu dan mandinya, namun dia berdosa dengan perbuatan itu, dia wajib bertaubat, dan wajib menghilangkannya jika memang tidak mendatangkan bahaya, karena itu termasuk WASYM, yang membuatnya tidak boleh, akan tetapi wudhu dan mandi dengan keduanya sah karena darurat, karena itu didalam kulit yang telah merapat (tumbuh daging diatasnya), maka tidak menghalng-halangi sahnya wudhu dan mandi karena itu didalam kulit. Shalat dengannya sah karena darurat.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T005. NIFAS WANITA OPERASI CAESAR

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Ini ada sesorang melahirkan di operasi. yang kellas kan tidak ada darah yang keluar dari farji’nya. Apakah harus mengerjakan sholat?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Darah yang keluar dari farji wanita yang habis melahirkan dengan jalan operasi caesar tetap dinamakan darah nifas :

الشافعية قالوا : يشترط في تحقق أنه دم نفاس أن يخرج الدم بعد فراغ الرحم من الولد بأن يخرج كله فلو خرج بعض الولد أو أكثره لا يكون دم نفاس ومعنى كونه عقب الولادة أن لا يفصل بينه وبينها خمسة عشر يوما فأكثر وإلا كان دم حيض أما الدم الذي يصاحب الولد وينزل قبل الطلق فليس هو دم نفاس بل هو دم حيض إن كانت حائضا لأن الحامل قد تحيض عندهم كما تقدم وإن لم تكن حائضا فهو دم فاسد

islamport.com/w/fqh/Web/2793/111.htm
Kalau keluar darah dari farjinya maka darah yang keluar dari farji sehabis operasi caesar tsb dinamakan nifas, jika keluar bukan lewat farji maka itu bukan nifas :

الموسوعة الفقهية :

18 – لما كان النفاس هو الدم الخارج من الفرج عقب الولادة ، فقد نص الحنفية على أنه إذا ولدت من سرتها- مثلا- وسال منها دم لا تكون نفساء ، بل هي صاحبة جرح ما لم يسل من فرجها ، لكن يتعلق بالولد سائر أحكام الولادة .

Jawaban ini dinukil dari hasil keputusan bahtsul masai’il LBM Sumenep Madura :

Status Nifas Wanita yang Melahirkan Sesar

Pertanyaan :

1. Bagaimana hukumnya persalinan dengan cara operasi bedah sesar ?

2. Apakah diwajibkan bagi wanita tersebut untuk melakukan mandi wiladah setelah melakukan operasi ?

3. Bagaimana status nifas wanita tersebut ?

Jawaban :

Jawaban dari tiga pertanyaan di atas adalah sebagai berikut :

Pertama, Operasi sesar adalah operasi yang bertujuan untuk mengeluarkan janin dari perut ibunya, baik itu dilakukan setelah janin tersebut sempurna penciptaannya atau sebelumnya.

Terdapat dua kondisi diperbolehkannya melakukan operasi sesar :

1. Dhorurot, yaitu keadaan dikhawatirkannya keselamatan ibu, janinnya atau keselamatan keduanya, seperti pada kondisi kehamilan diluar rahim, kematian ibu yang sedang mengandung dan tergoncangnya rahim. Dalam kondisi seperti ini operasi cesar boleh dilakukan, bahkan wajib jika memang itumerupakan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bayi atau wanita yang mengandungnya.

2. Hajat, yaitu keadaan dimana dokter merasa perlu untuk melakukan operasi yang disebabkan sulitnya melahirkan secara normal, dan akan menimbulkan bahaya yang menghawatirkan akan menyebabkan kematian bayi atau ibunya, seperti operasi yang dilakukan karena sempitnya rahim atau rahim sang ibu lemah.

Pada keadaan seperti ini para dokter lah yang memutuskan apakah melakukan operasi atau tidak, bukan atas permintaan wanita yang akan melahirkan atau suaminya yang menginginkan terhindar dari kesakitan saat melahirkan. Dokter yang memutuskan untuk melakukan operasi dengan mempertimbangkan kondisi wanita tersebut, apakah mampu untuk melahirkan secara normal atau tidak, selain itu dipertimbangkan juga tentang efek yang akan ditimbulkan, jika memang bahaya yang akan ditimbulkan diluar kemampuan wanita tersebut atau akan membahayakan keselamatan janin maka diperbolehkan untuk melakukan operasi jika memang tak ada cara lain yang bisa dilakukan.

Kedua, Para Fuqoha’ dalam hal ini berbeda pendapat. Sebagian menggolongkan persalinan dengan jalan operasi sebagai wiladah, dengan demikian tetap wajib mandi wiladah. Sedangkan sebagian lagi yang lain, menganggapnya bukan wiladah, maka mandi wiladah tidak lagi menjadi sebuah kewajiban.

Ketiga, Darah yang keluar setelah melakukan kelahiran bayi dengan jalan operasi tersebut tidak termasuk darah nifas dan bukan pula darah haidl, maka tidak ada konsekuensi hukum apapun kecuali ia adalah sesuatu yang najis.

Ibarot :

– Ahkamul Jirohah Ath Thibbiyyah Wal Atsar Al Mutarottibah Alaiha, Hal. 154-158 :

المبحث الثالث في جراحة الولادة

وهي الجراحة التي يقصد منها إخراج الجنين من بطن أمه، سواء كان ذلك بعد اكتمال خلقه، أو قبله، ولا تخلو الحاجة الداعية إلى فعلها من حالتين

الحالة الأولى

أن تكون ضرورية، وهي الحالة التي يخشى فيها على حياة الأم، أو جنينها، أو هما معًا، ومن أمثلتها ما يلي:

(1) جراحة الحمل المنتبذ.

(2) جراحة استخراج الجنين الحي بعد وفاة أمه.

(3) الجراحة القيصرية في حال التمزق الرحمي

فهذه الحالات تعتبر فيها جراحة الولادة ضرورية، لأن المقصود منها إنقاذ حياة الأم، أو الجنين، أو هما معاً

ففي المثال الأول: يتكون الجنين خارج الرحم في قناة المبيض، ويسمى بالحمل المهاجر، أو القنوي، وهذا الموضع الذي تكون فيه الجنين يستحيل بقاؤه فيه حيًا، وغالبًا ما ينفجر في القناة التي بداخلها، وحينئذ تصبح حياة الأم مهددة بالخطر، فيرى الأطباء ضرورة إجراء الجراحة، واستخراجه قبل انفجاره، وذلك كله إنقاذًا لحياة الأم

وفي المثال الثاني: تموت الأم بعد اكتمال خلق الجنين، وحياته، فيضطر الأطباء إلى شق بطنها لاستخراج ذلك الجنين قبل موته.

وهذه الصورة ليست بحديثة بل هي صورة كانت موجودة من القدم وهي محل خلاف بين أهل العلم -رحمهم الله- سيأتي بيانه إن شاء الله تعالى في مباحث العمل الجراحي، وأنه لا حرج في فعل هذا النوع من الجراحة إنقاذًا لحياة الجنين

وفي المثال الثالث: يتعرض الرحم إلى التمزق الذي يهدد حياة الأم، وجنينها وذلك بعد اكتمال خلقه، فيضطر الأطباء إلى إجراء الجراحة واستخراج الجنين. حتى لا تتعرض الأم وجنينها للهلاك

فهذه ثلاث صور من صور جراحة الولادة الضرورية، الأولى قصد منها إنقاذ حياة الأم، والثانية قصد منها إنقاذ حياة الأثنين، والثالثة قصد منها إنقاذ حياتهما معًا

وهذا النوع من الجراحة يعتبر مشروعًا وجائزًا، نظرًا لما يشتمل عليه من إنقاذ النفس المحرمة الذي هو من أجلِّ ما يتقرب به إلى الله عز وجل، وهو داخل في عموم قوله سبحانه: {وَمَن أحْيَاهَا فَكَأنَّمَا أحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا} (1)، ولأنه كما جاز استئصال الداء الموجب للهلاك من جسم المريض كذلك يجوز استخراج الجنين إذا كان بقاؤه موجبًا لهلاك أمه، بجامع دفع الضرر في كل.

وكذلك شق بطن المرأة الحامل الميتة من أجل إنقاذ جنينها الحي، فكما يجوز شق البطن للعلاج والتداوي، كذلك يجوز شقها لإنقاذ النفس المحرمة، ولأن بقاءها في البطن بدون ذلك يعتبر ضررًا محضًا، فتشرع إزالته بالجراحة اللازمة للقاعدة الشرعية التي تقول: الضرر يزال

قال الإمام ابن حزم -رحمه الله-: “ولو ماتت امرأة حامل، والولد حي يتحرك قد تجاوز ستة أشهر فإنه يشق عن بطنها طولاً، ويخرج الولد، لقوله تعالى: {وَمَنْ أحْيَاهَا فَكَأنمَا أحْيَا الناسَ جَمِيعًا} ومن تركه عمدًا حتى يموت فهو قاتل نفس” (3) اهـ.

فاعتبر -رحمه الله- فعل هذا النوع من الجراحة فرضًا لازمًا على الطبيب إذا امتنع من فعله عمدًا كان قاتلاً، لامتناعه من فعل السبب الموجب للنجاة مع قدرته على فعله

ولا يشكل على القول بجواز الجراحة في الصورة الأولى ما تتضمنه من إتلاف الجنين وتعريضه للهلاك، وذلك لأن حياة الأم مهددة ببقائه، وبقاؤه في الغالب غير منته بسلامته وخروجه حيًا، ومن ثم كانت حياة الجنين موهومة، وحياة الأم متيقنة فلا يجوز تعريض الحياة المتيقنة للهلاك طلبًا لحياة موهومة، وجاز استخراج الجنين بالجراحة على هذا الوجه ارتكابًا لأخف الضررين للقاعدة الشرعية التي تقول: إذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما ضرراً بارتكاب أخفهما

فالضرر المترتب على بقاء الجنين في هذه الصورة يعرض الأم والجنين للهلاك، بخلاف الضرر المترتب على استخراجه فإنه مختص بالجنين فهو أخفهما.

وينبغي على الأطباء أن يتقوا الله عز وجل، وأن يبذلوا كل ما في وسعهم لعلاج هذه الحالات بالوسائل التي تنتهي بسلامة الأم وجنينها، وألا يقدموا على فعل هذا النوع من الجراحة إلا إذا تعذرت تلك الوسائل، وتحققوا من أن بقاء الجنين مفض إلى هلاكه وأمه، أو غلب على ظنهم ذلك … والله تعالى أعلم

الحالة الثانية

أن تكون حاجية: وهي الحالة التي يحتاجها الأطباء فيها إلى فعل الجراحة بسبب تعذر الولادة الطبيعية، وترتب الأضرار عليها إلى درجة لا تصل إلى مرتبة الخوف على الجنين أو أمه من الهلاك.

ومن أشهر أمثلتها: الجراحة القيصرية التي يلجأ إليها الأطباء عند خوفهم من حصول الضرر على الأم أو الجنين أو هما معًا، إذا خرج المولود بالطريقة المعتادة, وذلك بسبب وجود العوائق الموجبة لتلك الأضرار، ومن أمثلتها: ضيق عظام الحوض، أو تشوهها أو إصابتها ببعض الآفات المفصلية، بحيث يتعذر تمدد مفاصل الحوض.

أو يكون جدار الرحم ضعيفًا، ونحو ذلك من الأمور الموجبة للعدول عن الولادة الطبيعية دفعًا للضرر المترتب عليها

والحكم بالحاجة في هذا النوع من الجراحة راجع إلى تقدير الأطباء، فهم الذين يحكمون بوجودها، ولا يعد طلب المرأة أو زوجها مبررًا لفعل هذا النوع من الجراحة طلبًا للتخلص من آلام الولادة الطبيعية، بل ينبغي للطبيب أن يتقيد بشرط وجود الحاجة، وأن ينظر في حال المرأة وقدرتها على تحمل مشقة الولادة الطبيعية وكذلك ينظر في الآثار المترتبة على ذلك، فإن اشتملت على أضرار زائدة عن القدر المعتاد في النساء ووصلت إلى مقام يوجب الحوج والمشقة على المرأة، أو غلب على ظنه أنها تتسبب في حصول ضرر للجنين، فإنه حينئذ يجوز له العدول إلى الجراحة وفعلها، بشرط ألا يوجد بديل يمكن بواسطته دفع تلك الأضرار وإزالتها … والله تعالى أعلم

– Qutul Habib Al Ghorib, Hal. 25 :

ويجب الغسل على من ولدت من غير الطريق المعتاد، لثبوت أمية الولدمنه

– Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz. 1 Hal. 90 :

قوله ونحو ولادة ) ظاهره ولو من غير محلها المعتاد لانه أطلق فيه، وفصل فيما بعده ع ن، وقيد إبن قاسم بكون الفرج منسدا

– Hasyiyah Bujairomi Alal Khotib, Juz 1 Hal. 205 :

قال الشوبري فيما كتبه على المنهاج ولو ولدت من غير طريقه المعتاد فالذي يظهر وجوب الغسل أخذا مما قالوه من ثبوت أمية الولدبه ومما بحثه م ر فيما لوقال إن ولدت فأنت طالق فألقته من غير طريقه المعتاد حيث لم يقع، فليحرر، وقد يتجه عدم وجوب الغسل، لأن علته خروج المني، ولاعبرة بخروجه من غير طريقه المعتاد مع إنفتاح الأصلي. وقد يفرق بينه وبين ما مر. إنتهى ما قاله ق ل ( ألشهاب أحمد ألقليوبي )، أ ج ( عطية الأجهوري ) . وقوله وقد يفرق بينه أي بين عدم وجوب الغسل وبين ثبوت أمية الولد ووقوع الطلاق. وصورة الفرق أن أمية الولد منوطة بالولادة وقدحصلت، ولو من غير طريقها المعتاد. ووجوب الغسل بخروج المني من طريقه ولم يوجد. قلت؛ وقد يرد الفرق، ويقال بوجوب الغسل بأنه إنما وجب هنا للولادة لا لخروج المني، بقيده الذي ذكره ، فالولادة غير خروج المني، والغسل يجب بكل منهما. فإذا كان الخارج منيا تقيد بمحله كما ذكر، والولادة لا تتقيد, إذ المقصود خروج الولد من أي محل ، فليتأمل، ذكر ذلك م د ( محمد المدابغي ). وعبارة الاطفيحي : وينبغي أن يأتي فيه ما تقدم من التفصيل في إنسداد الفرج بين الأصلي و العارض، فإن كان الإنسداد أصليا: قيل لها ولادة وكانت مو جبة للغسل ، و إلا فلا، لأن خروج الولد من جنبها مثلا مع إنفتاح فرجها لا يسمى ولادة

– Hasyiyah Al Baijuri Ala Syarhi Ibnul Qosim, Juz 1 Hal. 74 :

ولو ولدت من غير الطريق المعتاد فالذي يظهر وجوب الغسل أخذا مما بحثه الرملي فيما لو قال؛ إن ولدت فأنت طالق، فولدت من غير طريقه المعتاد، وقال بعضهم : قد يتجه عدم الوجوب، لأن علته أن الولد مني منعقد، ولاعبرة بخروجه من غير طريقه المعتاد مع إنفتاح الاصلي، ورد، بأن الولادة نفسها صارت موجبة للغسل، فهي غير خروج المني

– Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz 14 Hal. 16 :

الولادة بجرح في البطن

لما كان النفاس هو الدم الخارج من الفرج عقب الولادة، فقد نص الحنفية على أنه إذا ولدت من سرتها – مثلا – وسال منها دم لا تكون نفساء، بل هي صاحبة جرح ما لم يسل من فرجها، لكن يتعلق بالولد سائر أحكام الولادة

– Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba’ah, Juz 1 Hal. 121 :

ولو شق بطن المرأة ، ولو خرج منها الولد، فإنها لاتكون نفساء

Wallahu a’lamu bisshowab..

T004 Hukum Petis – Suci atau Najis?

Petis

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum wr. wb.
Saya mau bertanya terkait petis. Begini ustadz, petis itu kan suci dan boleh dikonsumsi layaknya makanan pada umumnya. Tapi, ada yang mengatakan kalau petis tersebut kena baju maka tidak sah kalau dipakai saat shalat. Dan ada pula yang mengatakan bukan petis tapi terasi.  Kalau memang benar begitu, apa alasannya? Mohon penjelasannya ustadz! Lanjutkan membaca T004 Hukum Petis – Suci atau Najis?