Arsip Kategori: Thoharoh

Kategori ini berisikan hasil Bahtsul Masail IKABA di jejaring sosial yang berhubungan dengan Thaharah.

T003. NIFAS BAGI WANITA KEGUGURAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Masalah pertama ;
Ustadz/yai mau nanya, darah yang keluar dari orang perempuan karena keguguran (4 bulan) dinamakan darah apa?

JAWABAN :

Darah yang keluar setelah keguguran tetap dihukumi Nifas. Meski masih berupa Gumpalan darah yang dilahirkan tetap dihukumi Nifas.

قول الشارح : ( أي الدم الذي أوله يعقب الولادة ) مثله لو ولدت ولدا جافا ثم رأت الدم قبل خمسة عشر فإنها نفساء من حين الولادة على الأصح ، وقوله : الولادة ، أي ولو علقة أو مضغة ، .

Dalam hal wanita yang mengeluarkan darah sebab keguguran, ulama ahli fiqh membagi masalah menjadi dua kemungkinan;

Pertama, keadaan janin yang keguguran telah didapati tanda penciptaan.

Kedua, sebuah kelahiran yang tidak didapati tanda penciptaan padanya.

Selanjutnya terkait dua kemungkinan tersebut, ulama memutuskan :

1. Jika pada janin keguguran telah tampak sebagian tanda penciptaan seperti adanya ruas tubuh, bentuk wajah, dsb. Maka darah yang keluar setelah melahirkannya (keguguran) adalah darah nifas.

2. Jika belum tampak sebagian tanda penciptaan seperti adanya jari-jari atau yang lainya, maka terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama’ :

Pertama : Menurut madzhab Syafi’iy, Malikiy dan pendapat yang shahih dari madzhab Hanbaliy meskipun yang keluar hanyalah segumpal daging atau segumpal darah; jika memang itu adalah permulaan dari penciptaan bayi, maka darah yang keluar sesudahnya dihukumi darah nifas.

Kedua : Menurut madzhab Hanafiy dan sebagian riwayat dari madzhab Hanbaliy darah tersebut tidak dihukumi darah nifas.

CATATAN :

Darah nifas adalah darah yang keluar setelah kosongnya rahim seorang wanita dari sebuah kandungan, dan sebelum melewati masa minimal suci (15 hari 15 malam).

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ – ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﺍﻟﻜﻮﻳﺘﻴﺔ 114/4 :

ﺫﻫﺐ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺴﻘﻂ ﺍﻟﺬﻱ ﺍﺳﺘﺒﺎﻥ ﺑﻌﺾ ﺧﻠﻘﻪ ﻛﺄﺻﺒﻊ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻭﻟﺪ ﺗﺼﻴﺮ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻧﻔﺴﺎﺀ ، ﻷﻧﻪ ﺑﺪﺀ ﺧﻠﻖ ﺁﺩﻣﻲ ، ﻭﺗﺼﻴﺮ ﺍﻷﻣﺔ ﺃﻡ ﻭﻟﺪ ﺑﻪ ﺇﻥ ﺍﺩﻋﺎﻩ ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺗﻨﻘﻀﻲ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﺑﻪ .

ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﺒﻦ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺧﻠﻘﻪ ﻓﻘﺪ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻟﻴﻦ :

ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻷﻭﻝ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ، ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺇﺫﺍ ﺃﻟﻘﺖ ﻣﻀﻐﺔ ﺃﻭ ﻋﻠﻘﺔ ﺧﻔﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻘﻮﺍﺑﻞ ، ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﻮﺍﺑﻞ ﺇﻧﻪ ﻣﺒﺘﺪﺃ ﺧﻠﻖ ﺁﺩﻣﻲ ﻓﺎﻟﺪﻡ ﺍﻟﻤﻮﺟﻮﺩ ﺑﻌﺪﻩ ﻧﻔﺎﺱ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻟﻮ ﺃﻟﻘﺖ ﺩﻣﺎ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﻻ ﻳﺬﻭﺏ ﺑﺼﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺤﺎﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﺗﻨﻘﻀﻲ ﺑﻪ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﻭﻣﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻧﻔﺎﺱ .

ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ، ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ ﺇﻧﻪ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﺒﻦ ﻣﻦ ﺧﻠﻘﻪ ﺷﻲﺀ ﻓﻼ ﻧﻔﺎﺱ ﻟﻬﺎ .

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﻳﺜﺒﺖ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ﺑﻮﺿﻊ ﻣﺎ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﻓﻴﻪ ﺧﻠﻖ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻭﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺣﻤﺪ ، ﻓﻠﻮ ﻭﺿﻌﺖ ﻋﻠﻘﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻐﺔ ﻻ ﺗﺨﻄﻴﻂ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺑﺬﻟﻚ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ، ﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻗﺪﻣﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ ﻭﺍﻟﻤﺠﺪ ﻓﻲ ﺷﺮﺣﻪ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺗﻤﻴﻢ ﻭﺍﻟﻔﺎﺋﻖ . ﻭﻋﻨﻪ ﻳﺜﺒﺖ- ﺃﻱ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻨﻔﺎﺱ- ﺑﻤﻀﻐﺔ ، ﻭﻋﻨﻪ ﻭﻋﻠﻘﺔ . ﻭﻗﻴﻞ ﻳﺜﺒﺖ ﻟﻬﺎ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻨﻔﺴﺎﺀ ﺇﺫﺍ ﻭﺿﻌﺘﻪ ﻷﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻬﺮ

ﻛﺎﺷﻔﺔ ﺍﻟﺴﺠﺎ ﻟﻨﻮﻭﻱ ﺍﻟﺠﺎﻭﻱ ﺝ / 1 ﺹ 57 :

ﻭﺭﺍﺑﻌﻬﺎ : ﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺪﻡ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﻋﻘﺐ ﻓﺮﺍﻍ ﺭﺣﻢ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻤﻞ ﻭﻟﻮ ﻋﻠﻘﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻐﺔ ﻭﻗﺒﻞ ﻣﻀﻲ ﺃﻗﻞ ﺍﻟﻄﻬﺮ .

ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﺝ / 4 ﺹ 184 :

ﻗَﻮْﻟُﻪُ: ﺑَﻌْﺪَ ﻓَﺮَﺍﻍِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻢِ ﺃَﻱْ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺤَﻤْﻞِ ﻭَﻟَﻮْ ﻋَﻠَﻘَﺔً ﺃَﻭْ ﻣُﻀْﻐَﺔً ﺃَﻱْ ﻭَﻗَﺒْﻞَ ﻣُﻀِﻲِّ ﺧَﻤْﺴَﺔَ ﻋَﺸَﺮَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻓَﺈِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻧِﻔَﺎﺳًﺎ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﻉ ﺵ ﻭَﺷَﻴْﺨُﻨَﺎ

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ – ﺣﺎﺷﻴﺘﺎ ﻗﻠﻴﻮﺑﻲ – ﻭﻋﻤﻴﺮﺓ 2/53 :

ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺸﺎﺭﺡ : ﺃﻱ ﺍﻟﺪﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻭﻟﻪ ﻳﻌﻘﺐ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ . ﻣﺜﻠﻪ ﻟﻮ ﻭﻟﺪﺕ ﻭﻟﺪﺍ ﺟﺎﻓﺎ ﺛﻢ ﺭﺃﺕ ﺍﻟﺪﻡ ﻗﺒﻞ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻧﻔﺴﺎﺀ ﻣﻦ ﺣﻴﻦ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﺢ ، ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ، ﺃﻱ ﻭﻟﻮ ﻋﻠﻘﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻐﺔ ، ﻭﻟﻮ ﺧﺮﺝ ﺑﻴﻦ ﺗﻮﺃﻣﻴﻦ ﻓﻬﻮ ﺣﻴﺾ ﻻ ﻧﻔﺎﺱ .

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ – ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺒﺠﻴﺮﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ 1/367-368 :

ﻭﺍﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ ﻟﻠﻌﻠﻘﺔ ﻭﺍﻟﻤﻀﻐﺔ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻓﻲ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺑﻜﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻭﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻭﺃﻥ ﺍﻟﺪﻡ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﺑﻌﺪ ﻛﻞ ﻳﺴﻤﻰ ﻧﻔﺎﺳﺎ ﻭﺗﺰﻳﺪ ﺍﻟﻤﻀﻐﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻠﻘﺔ ﺑﻜﻮﻧﻬﺎ ﺗﻨﻘﻀﻲ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﻭﻳﺤﺼﻞ ﺑﻬﺎ ﺍﻻﺳﺘﺒﺮﺍﺀ ﻭﻳﺰﻳﺪ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﺑﺄﻧﻪ ﻳﺜﺒﺖ ﺑﻪ ﺃﻣﻴﺔ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻐﺮﺓ ﺑﺨﻼﻓﻬﻤﺎ ﺍ ﻫـ . ﺑﺮﻣﺎﻭﻱ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﻴﻮﺑﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺤﻠﻲ . ( ﻓﺎﺋﺪﺓ ) ﻳﺜﺒﺖ ﻟﻠﻌﻠﻘﺔ ﻣﻦ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻭﻓﻄﺮ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺑﻬﺎ ﻭﺗﺴﻤﻴﺔ ﺍﻟﺪﻡ ﻋﻘﺒﻬﺎ ﻧﻔﺎﺳﺎ ﻭﻳﺜﺒﺖ ﻟﻠﻤﻀﻐﺔ ﺫﻟﻚ ﻭﺍﻧﻘﻀﺎﺀ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﻭﺣﺼﻮﻝ ﺍﻻﺳﺘﺒﺮﺍﺀ ﻓﻘﻂ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻘﻮﻟﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﺻﻮﺭﺓ ﻓﺈﻥ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﺻﻮﺭﺓ ﻭﻟﻮ ﺧﻔﻴﺔ ﻭﺟﺐ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻏﺮﺓ ﻭﻳﺜﺒﺖ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﺑﻬﺎ ﺃﻣﻴﺔ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺃﻛﻠﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻥ ﺍﻟﻤﺄﻛﻮﻝ ﻋﻨﺪ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﻡ ﺭ .

Dasar pengambilan :

1. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Juz 4, hal. 114 (al-Mausu’ah al-Syamilah)

2. Kasyifah al-Sajaa, hal. 57

3. Tuhfah al-Muhtaj Fiy Syarh al-Minhaj, Juz 4, hal. 184

4. Hasyiyah Qulyubiy wa ‘Umairah, Juz 2, hal. 53 (al-Mausu’ah al-Syamilah)

5. Hasyiyah al-Bujairamiy ‘Ala al-Manhaj, Juz 1, hal. 367-368 (al-Mausu’ah al-Syamilah)

Masalah kedua :
Wanita yang hamil 2 bulan mengalami keguguran, darah yang keluar bersamaan dengan itu apa sudah termasuk darah nifas?

JAWABAN :

Batas minimal kandungan yang ketika keluar (dan atau keguguran), jika keluar darah setelahnya dinamakan nifas adalah kandungan yang minimal sudah berupa ‘alaqoh yakni berumur 40 hari (5 minggu lebih 5 hari). Oleh karena itu jika ada kandungan keluar sudah berwujud ‘alaqoh atau wujud setelahnya, jika ada darah yang keluar setelah wiladah tidak melebihi 15 hari maka disebut darah nifas, dan jika darah keluar setelah 15 hari maka disebut darah haidl (bukan nifas).

– Hasyiyah Al-Bajuri I / 109 :

(والنفاس هو الدم الخارج عقب الولادة) فالخارج مع الولد أو قبله لا يسمى نفاساً

 

Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Darah yang keluar bersamaan dengan anak atau sebelum keluarnya anak tidak disebut nifas.

(قوله عقب الولادة) أي بأن يكون قبل مضي خمسة عشر يوما منها ، فهذا ضابط العقبية وإلا كان حيضا ولا نفاس لها لكن لو نزل عليها الدم بعد عشرة أيام مثلا كانت تلك العشرة من النفاس عددا لا حكما ، فيجب عليها الصلاة ونحوها فيها كما قاله البلقيني واعتمده الرملي وكان الأولى أن يقول عقب فراغ الرحم من الحمل ليخرج ما بين التوأمين ومثل الولادة إلقاء علقة وهي الدم الغليظ المستحيل من المني سميت بذلك لأنها تعلق بما لاقته ، ومضغة وهي القطعة من اللحم المستحيلة من العلقة سميت بذلك لأنها بقدر ما يمضغ ـ اهـ الباجوري الجزء الأول ص ١٠٦

Dikatakan nifas dengan catatan keluarnya itu sebelum lewatnya 15 hari dari melahirkan, dan ini merupakan batas dari “setelah”, jika tidak demikian maka itu adalah haidl bukan nifas, akan tetapi jika darah turun atas perempuan setelah 10 hari dari melahirkan misalkan, maka 10 hari tersebut termasuk nifas dalam segi hitungan bukan hukum, maka wajib bagi perempuan untuk melaksanakan sholat dan semacamnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Bulqiniy dan dibuat pedoman /dikuatkan oleh Imam Ar-Romliy. dan yang lebih utama adalah mengatakan “setelah kosongnya rahim dari kehamilan” agar mengeluarkan waktu yang berada di antara dua bayi kembar .

Termasuk dari wiladah (melahirkan) adalah keguguran ‘alaqoh yaitu darah yang kental (menggumpal) yang berubah dari mani, disebut ‘alaqoh karena bergantung pada sesuatu yang darah itu melekat padanya, dan juga mudlghoh yaitu sepotong daging yang berubah dari ‘alaqoh, disebut mudlghoh karena seukuran sesuatu yang dikunyah.

Wallahu A’lam Bisshawab..

T002 Haid bagi wanita hamil

PERTANYAAN :

Assalamu’laikum Wr Wb..

Mohon Pencerahannya Ustadz..

*Diskripsi Masalah*

Fatim Adalah Seorang Wanita Yang Baru Menikah, Setelah Beberapa Bulan Dari Pernikahannya Alhamdulillah Dokter Menyatakan Bahwa Dirinya Hamil, Namun Dalam Masa Kehamilannya Dirinya Sering Keluar Darah Seperti Haid Biasanya Terlebih Dalam Usia Kandungan Antara 2 BuLan Sampai 5 Bulan

*Pertanyaan*

1. Apakah Darah Yang Keluar Termasuk Haid?

2. Apakah Boleh Jika Dalam Masa Keluar Darah Dirinya Melakukan Sholat, Mengingat Darah Yang Keluar Sedang Dalam Masa Kehamilan?

JAWABAN :

1. Memang hukumnya khilaf, menurut qoul adzhar wanita hamil itu bisa haid, sedangkan muqobilul adzhar darah itu ialah darah fasid, bukan haid. sebagian ulama’ menyatakan sebab keluarnya darah dari wanita hamil ialah karena lemahnya anak (bayi) maka sesungguhnya anak tersebut mengambil makanan darah haid, maka tatkalanya melahirkan maka keluarlah darah tersebut dengan luber (mengalir banyak) maka sesungguhnya kelemahan (anak ini) itu terjadi pada bulan genap (masa kehamilan) conto bulan ke 2, ke 4 dll, maka ketahuilah anak itu mengambil makanan pokoknya (yaitu berupa darah haid) terjadi pada bulan-bulan ganjil masa kehamilan yaitu bulan 1, 3 dll, dan disebabkan ini anak yang lahir pada bulan-bulan ganjil : contoh bulan ke 9 / ke 7 pokoknya ganjil akan hidup sedangkan anak yang lahir pada bulan-bulan genap contoh bulan ke 8 ke akan mati.

[ Lihat al mizan al kubra juz 1 hal 140 atau bidayatul mujtahid 1/53 ]. khasiyah qolyubi wa umairoh 2/46 :

‎( وَالْأَظْهَرُ أَنَّ دَمَ الْحَامِلِ وَالنَّقَاءَ بَيْنَ ) دِمَاءِ ( أَقَلِّ الْحَيْضِ ) فَأَكْثَرَ ( حَيْضٌ ) أَمَّا فِي الْأُولَى فَلِأَنَّهُ بِصِفَةِ دَمِ الْحَيْضِ ، وَمُقَابِلُهُ فِيهَا يَقُولُ : هُوَ دَمُ فَسَادٍ إذْ الْحَمْلُ يَسُدُّ مَخْرَجَ دَمِ الْحَيْضِ .

– bidayatul mujtahid 1/53 :

وسبب اختلافهم في ذلك عسر الوقوف على ذلك بالتجربة واختلاط الأمرين فإنه مرة يكون الدم الذي تراه الحامل دم حيض وذلك إذا كانت قوة المرأة وافرة والجنين صغيرا وبذلك أمكن أن يكون حمل على حمل على ما حكاه بقراط وجالينوس وسائر الأطباء ومرة يكون الدم الذي تراه الحامل لضعف الجنين ومرضه التابع لضعفها ومرضها في الأكثر فيكون دم علة ومرض وهو في الأكثر دم علة.

– hasyiyah bujairomiy ‘alal khotib :

حاشية البجيرمي على الخطيب (3/ 236) ( والأظهر أن دم الحامل حيض ) وهو قول مالك والشافعي في أرجح قوليهما أنها تحيض ، وقال أبو حنيفة وأحمد : إن الحامل لا تحيض وما تراه من الدم فهو دم فساد ، وفائدة الخلاف أنها على الأول لا تصوم ولا تلزمها الصلاة ، وعلى الثاني تصوم وتصلي أَمَّا الدَّمُ الَّذِي يَخْرُجُ قَبْلَ الْوِلَادَةِ فَهُوَ دَمُ حَيْضٍ عِنْدَهُمْ –عبد الرحمن الجزيري، الفقه على مذاهب الأربعة، بيروت-دار الفكر، الطبعة الأولى، 1417 هـ /1996 م، ج، 1، ص. 124

“Bahwa darah yang keluar sebelum melahirkan maka itu adalah darah haid menurut pendapat mereka (kalangan Madzhab Maliki)”. (al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba`ah, Bairut-Dar al-Fikr, cet ke-1, 1417 H/1996 M, juz, I, h. 124)

Pendapat Kedua, dari Madzhab Hanafi, bahwa darah yang keluar sebelum melahirkan adalah darah istihadlah. Karena perempuan yang hamil itu tidak mengalami haid. Pandangan ini didasarkan pada ibarah dibawah ini.

قَوْلُهُ : وَالدَّمُ الَّذِي تَرَاهُ الْحَامِلُ أَوْ مَا تَرَاهُ الْمَرْأَةُ فِي حَالِ وِلَادَتِهَا قَبْلَ خُرُوجِ أَكْثَرِ الْوَلَدِ اسْتِحَاضَةٌ ) وَإِنْ بَلَغَ نِصَابَ الْحَيْضِ ؛ لِأَنَّ الْحَامِلَ لَا تَحِيضُ (أبو بكر بن علي بن محمد الحداد اليمني، الجوهرة النيرة على مختصر القدوري، باكستان-مكتبة حقانية، ج، 1،ص. 39 “

(Darah yang dilihat perempuan hamil, atau darah yang dilihat seorang perempuan ketika melahirkan sebelum keluar sebagain besar bayi yang lahir, adalah darah istihadlah), dan sekalipun telah sampai batasan haid, karena orang yang hamil itu tidak mengalami haidl.” (Abu Bakr bin Ali bin Muhammad al-Haddad al-Yamani, al-Jauharah an-Nayyirah ‘ala Mukhtashar al-Quduri, Pakistan-Maktabah Haqqaniyyah, tt, juz, 1, h. 39).

Pendapat Ketiga, dari Madzhab Syafii, bahwa jika seeorang yang hamil melihat darah yang keluar sebelum melahirkan maka menurut qaul jadid, meskipun ini jarang terjadi, dikategorikan darah haid. Namun hal ini dengan catatan darah tersebut sesuai dengan syarat-syarat darah haid, baik dari segi sifat maupun ukurannya. Maksudnya adalah ciri-cirinya dan masa keluarnya, yaitu paling sedikit satu hari satu malam dan paling lama 15 hari. Jika tidak demikian maka itu dikatakan darah fasid atau darah istihadlah. pandangan ini didasarkan pada perkataan al-Mawardi dibawah ini:

وَالْقَوْلُ الثَّانِي : وَهُوَ قَوْلُهُ فِي الْجَدِيدِ : أَنَّ دَمَ الْحَامِلِ إِذَا ضَارَعَ الْحَيْضَ فِي الصِّفَةِ وَالْقَدْرِ كَانَ حَيْضًا (أبو الحسن الماوردي، الحاوي الكبير، بيرروت-دار الفكر، ج، 10، ص. 295)

“Pendapat yang kedua yaitu qaul jadid Imam Syafii, bahwa darah yang keluar dari orang hamil ketika menyerupai darah haid baik dari sifat dan ukurannya itu adalah darah haid”. (Abu al-Hasan al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, XI, h. 295). Pendapat Keempat, dari Madzhab Hanbali, bahwa darah yang keluar saat hamil adalah darah fasid kecuali darah tersebut keluar dua hari atau tiga hari sebelum melahirkan maka disebut darah nifas, tetapi dengan disertai tanda-tanda melahirkan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Qudamah.

(مَسْأَلَةٌ : قَالَ وَالْحَامِلُ لَا تَحِيضُ ، إلَّا أَنْ تَرَاهُ قَبْلَ وِلَادَتِهَا بِيَوْمَيْنِ ، أَوْ ثَلَاثَةٍ فَيَكُونُ دَمَ نِفَاسٍ مَذْهَبُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّ الْحَامِلَ لَا تَحِيضُ ، وَمَا تَرَاهُ مِنْ الدَّمِ فَهُوَ دَمُ فَسَادٍ وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ التَّابِعِينَ– ابن قدامة، المغني، رياض- دار عالم الكتب، ج، 1، ص. 443

“(Masalah: Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa orang hamil itu tidak mengalami haid, tetapi jika ia melihat darah sebelum melahirkan dua hari atau tiga hari maka darah tersebut adalah darah nifas). Madzhab Abi Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) rahimahullah menyatakan bahwa orang hamil tidak mengalami haid, sedang darah yang dilihatnya (saat hamil) adalah darah fasid. Pendapat ini sama dengan pendapat mayoritas tabiin.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, Riyadl-Daru ‘Alam al-Kutub, tt, juz, 1, h. 443).

Setelah kita mengetahui pelbagai pandangan para ulama, maka hemat kami pandangan yang menyatakan bahwa darah yang keluar pada saat hamil adalah darah fasid atau istihadlah. Dan seseorang yang mengalaminya tetap berkewajiban menjalankan shalat fardlu dengan terlebih dahulu membersihkan darah tersebut kemudian berwudlu. Sebab darah yang keluar tersebut bukan darah haid. Hal ini sejalan dengan pendangan medis yang menyatakan bahwa perempuan yang hamil tidak mengalami haid. Oleh karenanya, kami menyarankan ketika ada seorang perempuan hamil dan ditengah-tengah kehamilannya mengeluarkan darah maka sebaikanya segera berkonsultasi dengan dokter.

2. Tentang hukum shalatnya tidak boleh atau tidak sah jika mengikuti pendapat yang menghukumi haid ketika hamil.

Wallahu a’lamu bisshowab..