Arsip Kategori: C. KITAB JANAZAH (IBANATUL AHKAM)

HADITS KE 144 : LARANGAN MENCELA ORANG YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 144 :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -: «لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ ; فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا» أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. وروى الترموذي عن المغيرة نحوه. لكن قال : فتؤذوا الأحياء

Dari Aisyah (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda:
“Janganlah kamu mencela orang yang telah mati, karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka amalkan.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari) Al-Tirmizi turut meriwayatkan hadis ini dari al-Mughirah, tetapi di dalam riwayatnya disebutkan: “Karena dengan perbuatan tersebut kamu telah menyakiti orang yang hidup (dari kalangan keluarga mereka).”

MAKNA HADITS :

Orang yang sudah mati telah menjumpai balasan amal yang dia kerjakan selama dunia ini. Dalam pada itu, tidak ada gunanya memaki dan mengaibkan diri mereka, karena itu hanya menyakiti ahli warisnya yang muslim yang masih hidup, kecuali
jika si mayat adalah orang yang secara terang-terangan berbuat kefasikan selama hidupnya, maka dibolehkan memakinya. Ini merupakan peringatan bagi orang lain agar tidak melakukan perkara yang sama mengumpat orang fasik hingga dia tidak berdosa. Inilah jawaban ke atas hadis-hadis yang membolehkan memaki setengah
orang yang telah mati, karrna adanya larangan dari berbuat demikian.

FIQH HADITS :

1. Haram mencela orang yang sudah mati.

2. Disebutkan penyebab larangan, yaitu mereka (orang yang sudah mati) telah
menjumpai balasan amalnya dan itu boleh menyakiti hati orang yang masih hidup dari kalangan keluarganya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 143 : CARA MENGUCAPKAN SALAM KEPADA AHLI KUBUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 143 :

عَنْ ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَما قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِقُبُورِ الْمَدِينَةِ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ فَقَالَ ‏ “‏ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْقُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ أَنْتُمْ سَلَفُنَا وَنَحْنُ بِالأَثَرِ ‏”‏ ‏.‏ رواه الترمذي وقال حسن

Dari Ibn Abbas (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) melewati kuburan

penduduk Madinah, lain baginda menghadapkan wajahnya ke arah mereka,

kemudian membaca:

السَّلامُ عَلَيْكُمْ يا أَهْلَ القُبُورِ ، يَغْفِرُ اللَّهُ لَنا وَلَكُمْ ، أَنْتُم سَلَفُنا ونحْنُ بالأَثَرِ

“Semoga keselamatan senantiasa dilimpahkan ke atas kamu, wahai para penghuni kubur. Semoga Allah mengampuni kami dan kamu. Kamu adalah orang yang mendahului kami, dan kami akan menyusul kemudian.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmizi)

MAKNA HADITS :

Barang siapa yang tidak ingin menziarahi kubur, tetapi hanya melewatinya saja karena kuburan tersebut terletak di tengah laluan perjalanan, maka dia disunatkan
mengucapkan salam kepada para penghuninya, karena mereka mengetahui orang yang melewati kawasan perkuburan mereka dan mengucapkan salam kepadanya. Itu terjadi karena Allah telah memperlihatkan hal tersebut kepada mereka dan menjadikan mereka dapat mendengar salamnya.

Ini lebih disunatkan lagi apabila dilakukan pada hari Jum’at dan pada waktu malam harinya. Ini menunjukkan bahwa seseorang memperoleh manfaat dari
amalan orang lain sebagai karunia Allah (s.w.t). Seseorang yang mendo’akan orang lain dikehendaki memulai do’a untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Allah (s.w.t) berfirman:

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ…. (١٩)

…Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang mukmin….” (Surah Muhammad: 19)

FIQH HADITS :

1. Mayat mengetahui orang yang lewat berdekatan dengannya dan mengetahui ucapan salam yang ditujukan kepadanya.

2. Memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang yang masih hidup dan orang yang telah mati.

3. Memulai berdo’a untuk diri sendiri terlebih dahulu, kemudian untuk orang lain, baik bagi mereka yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 142 : CARA BERZIYARAH KUBUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 142 :

عن سليمان ابن بُرَيْدَةَ عن أبيه رضي الله عنهما قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ : (السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ ، أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ). رواه مسلم

Daripada Sulaiman ibn Buraidah (r.a) daripada ayahnya, beliau berkata:
“Rasulullah (s.a.w) pernah mengajarkan doa berikut ini apabila mereka hendak
menziarahi kubur:

السَّلامُ عَلَيكُمْ أَهْل الدِّيارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ والمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ للاَحِقُونَ ، أَسْأَلُ اللَّه لَنَا وَلَكُمُ العافِيَةَ

“Semoga keselamatan sentiasa dilimpah ke atas kamu wahai para penghuni kubur
dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya, insya Allah, kami
akan menyusul kamu. Kami memohon keselamatan kepada Allah untuk diri kami
dan diri kamu.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menganjurkan menziarahi kubur agar dapat mengambil pengajaran
daripadanya sekaligus mendoakan para penghuninya agar diselamatkan daripada
seksa kubur dan pertanyaan semasa hisab.
Orang yang melakukan ziarah akan teringat dengan hari akhirat dan tertanam
dalam dirinya sikap zuhud terhadap urusan duniawi. Mengucapkan salam kepada
orang yang telah meninggal dunia sama dengan mengucapkan salam kepada orang
yang masih hidup. Mendoakan mereka sememangnya disyariatkan dan dalilnya
adalah firman Allah (s.w.t):

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdo’a:
“Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Surah al-Hasyr: 10).

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menziarahi kubur dan mengucapkan salam kepada para
penghuninya serta berdo’a untuk diri sendiri, untuk orang yang masih hidup dan orang yang telah mati dengan do’a-do’a yang pernah dibaca oleh Nabi (s.a.w) dalam masalah ini.

2. Rasulullah (s.a.w) senantiasa memberikan pelajaran tentang cara berziarah kubur yang dibenarkan oleh syari’at kepada para sahabatnya.

3. Hendaklah kalimat-kalimat do’a mengandung makna umum yang mencakupi kaum lelaki dan wanita.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 142 : UCAPAN SALAM BAGI AHLI KUBUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 142 :

عن سليمان ابن بُرَيْدَةَ عن أبيه رضي الله عنهما قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ : (السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ ، أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ). رواه مسلم

Dari Sulaiman ibn Buraidah (r.a) daripada ayahnya, beliau berkata:
“Rasulullah (s.a.w) pernah mengajarkan doa berikut ini apabila mereka hendak
menziarahi kubur:

السَّلامُ عَلَيكُمْ أَهْل الدِّيارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ والمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ للاَحِقُونَ ، أَسْأَلُ اللَّه لَنَا وَلَكُمُ العافِيَةَ

“Semoga keselamatan sentiasa dilimpah ke atas kamu wahai para penghuni kubur
dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya, insya Allah, kami
akan menyusul kamu. Kami memohon keselamatan kepada Allah untuk diri kami
dan diri kamu.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menganjurkan menziarahi kubur agar dapat mengambil pengajaran
daripadanya sekaligus mendoakan para penghuninya agar diselamatkan daripada
seksa kubur dan pertanyaan semasa hisab.
Orang yang melakukan ziarah akan teringat dengan hari akhirat dan tertanam
dalam dirinya sikap zuhud terhadap urusan duniawi. Mengucapkan salam kepada
orang yang telah meninggal dunia sama dengan mengucapkan salam kepada orang
yang masih hidup. Mendoakan mereka sememangnya disyariatkan dan dalilnya
adalah firman Allah (s.w.t):

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdo’a:
“Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Surah al-Hasyr: 10)

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menziarahi kubur dan mengucapkan salam kepada para
penghuninya serta berdo’a untuk diri sendiri, untuk orang yang masih hidup dan orang yang telah mati dengan do’a-do’a yang pernah dibaca oleh Nabi (s.a.w) dalam masalah ini.

2. Rasulullah (s.a.w) senantiasa memberikan pelajaran tentang cara berziarah kubur yang dibenarkan oleh syari’at kepada para sahabatnya.

3. Hendaklah kalimat-kalimat do’a mengandung makna umum yang mencakupi kaum lelaki dan wanita.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 141: ANJURAN MENGHIBUR KELUARGA MAYIT DENGAN MEMBERI MAKANAN UNTUKNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 141:

عن عبد الله ابن جعفر رضي الله عنهما قال : لما جاء نعل جعفر حين قتل، قال النبي صلى الله عليه وسلم: اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا ، فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ ( أخرجه الخمسة الا النسائي)

Dari Abdullah ibn Ja’far (r.a), beliau berkata: “Ketika sampai berita tentang kematian Ja’far pada hari kematiannya, Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang sesuatu yang membuat mereka sibuk.” (Diriwayatkan oleh al-Khamsah, kecuali al-Nasa’i)

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menganjurkan supaya keluarga mayat dihibur dengan cara
membuatkan makanan untuk mereka karena mereka sedang berada dalam keadaan berduka. Berkumpul di rumah keluarga mayat dan menghidangkan makanan untuk para tamu yang datang ke rumah duka tidak termasuk amalan Sunnah. Ini karena orang-orang yang berkumpul di rumah keluarga mayat boleh menyebabkan keluarga mayat bertambah sedih dan berniyahah.

FIQH HADITS :

Disyariatkan menghibur keluarga mayat dengan membuatkan makanan untuk mereka, karena mereka sedang disibukkan oleh musibah yang menimpa diri mereka, hingga lupa menyediakan makanan untuk diri mereka sendiri.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 140 : MAKRUH MENGUBURKAN JENAZAH PADA MALAM HARI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 140 :

َوَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَا تَدْفِنُوا مَوْتَاكُمْ بِاللَّيْلِ إِلَّا أَنْ تُضْطَرُّوا ) أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَه ْ. وَأَصْلُهُ فِي “مُسْلِمٍ”, لَكِنْ قَالَ: زَجَرَ أَنْ يُقْبَرَ اَلرَّجُلُ بِاللَّيْلِ, حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu sekalian menguburkan mayatmu pada waktu malam kecuali jika keadaan memaksamu.” Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan asalnya dalam riwayat Muslim, namun ia berkata: Beliau melarang seseorang menguburkan mayat malam hari sebelum disholatkan terlebih dahulu.

MAKNA HADITS :

Mengikut hukum asal, pengkebumian mayat dilakukan pada waktu siang hari.
Ini lebih diutamakan karena melakukan pengkebumian pada waktu malam hari
diyakini akan mengakibatkan perlakuan yang tidak betul terhadap hak si mayat,
seperti jumlah orang yang menyembahyangkan tidak ramai, penyelenggaraan proses pengkafanan tidak betul, orang yang diharapkan datang malah tidak hadir, padahal kehadiran dan do’a mereka sangat diharapkan, malaikat siang hari jauh lebih bersifat penyayang apabila dibandingkan dengan malaikat yang bertugas pada waktu malam hari sebagaimana yang telah disebutkan di dalam sebuah atsar.
Selain itu, dikawatiri orang yang melakukan pengkebumian pada waktu malam
hari diganggu oleh hewan berbisa yang terdapat di sekitar perkuburan.
Meskipun, pengkebumian mayat pada waktu malam hari, syariat telah memberikan rukhsah bahwa apabila dalam keadaan mendesak, misalnya dikawatiri mayat akan membusuk seandainya pengkebumian ditangguhkan hingga menunggu waktu pagi hari, orang yang menyembahyangkannya akan kepanasan, dikawatiri bakal terjadi kesesakan atau dikawatiri akan terjadi fitnah, maka dalam keadaan ini dibolehkan.

Rasulullah (s.a.w) sendiri dikebumikan pada waktu malam hari. Ali (r.a) mengkebumikan Fatimah pada waktu malam hari, Abu Bakar (r.a) pun dikebumikan pada waktu malam hari. Di dalam hadis Ibn Abbas (r.a) disebutkan sebagai berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ قَبْرًا لَيْلاً فَأُسْرِجَ لَهُ سِرَاجٌ فَأَخَذَهُ مِنْ قِبَلِ الْقِبْلَةِ وَقَالَ ‏ “‏ رَحِمَكَ اللَّهُ إِنْ كُنْتَ لأَوَّاهًا تَلاَّءً لِلْقُرْآنِ ‏”‏.

“Nabi (s.a.w) memasuki kuburan pada suatu malam, lalu dinyalakan pelita untuknya, kemudian baginda mengambil posisi di hadapan arah kiblat seraya bersabda: “Semoga Allah merahmatimu, jika kamu benar-benar penghuni kuburan ini dalam keadaan banyak membaca al-Qur’an.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmizi dan
berkata: “Hadis ini hasan.”)

Selain itu telah ditetapkan di dalam hadis Uqbah ibn ‘Amir larangan melakukan
pengkebumian dalam tiga waktu, yaitu: ketika matahari terbit hingga tinggi, pada
waktu tengah hari hingga matahari tergelincir dan ketika matahari mulai condong untuk tenggelam hingga tenggelam dengan sempurna.

FIQH HADITS :

1. Makruh melakukan pengkebumian pada waktu malam hari, karena diyakini akan mengakibatkan perbuatan sempurna terhadap hak mayat seperti mayat tidak disholatkan dan proses pengkafanan kurang sempurna.

2. Boleh melakukan pengkebumian pada waktu malam hari karena keadaan
darurat seperti dikawatiri akan menyebabkan kesesakan orang ramai yang
menghadirinya, jenazah akan membusuk atau dikawatiri akan menimbulkan
perkara-perkara lain yang tidak diingini. Jumhur ulama dan ulama khalaf
membolehkan melakukan pengkebumian pada waktu malam hari, karena
berlandaskan kepada amalan para sahabat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 139 : BATASAN BOLEHNYA MERATAPI KEMATIAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 139 :

عن أنس رضي الله عنه قال : شهدت بنتا للنبي صلى الله عليه وسلم تدفن ورسول الله صلى الله عليه وسلم جالس عند القبر، فرأيت عينيه تدمعان. رواه البخاري.

Dari Anas (r.a), beliau berkata: “Saya pernah menghadiri pengkebumian salah seorang puteri Nabi (s.a.w). Ketika itu Rasulullah (s.a.w) duduk di tepi kuburan dan saya melihat kedua mata baginda mengeluarkan air mata.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

MAKNA HADITS :

Mati merupakan satu perkara yang telah ditetapkan oleh Allah (s.w.t) dimana setiap makhluk pasti mengalaminya. Adalah satu kewajipan bagi keluarga mayat untuk bersikap rela terhadap ketetapan dan takdir Allah serta berserah diri kepada-Nya.
Nabi (s.a.w) telah memberikan rukhsah dengan membolehkan menangisi mayat,
tetapi bukan dengan tangisan yang menjerit-jerit, niyahah, mengoyak pakaian atau menampar pipi, karena perbuatan itu merupakan tradisi Jahiliah sekaligus bukti
membenci dan kecewa terhadap takdir Allah (s.w.t). Tangisan dengan suara yang keras disertai niyahah merupakan dosa besar dan haram hukumnya.

FIQH HADITS :

1. Boleh menangisi kematian seseorang tanpa menyebut-nyebut kebaikannya
mengingat kesedihan di kala itu tidak dapat dibendung hingga matapun mengeluarkan air mata karena berpisah dengan keluarga atau orang yang disayangi.

2. Boleh duduk di sisi kubur menunggu selesainya proses pengkebumian.

3. Para sahabat senantiasa memperhatikan segala tindak-tanduk Nabi (s.a.w)
untuk kemudian diikuti dan diamalkan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 138 : SIKSA MAYIT DALAM KUBUR KARENA TANGISAN KELUARGANYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 138 :

عن ابن عمر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : الميت يعذب في قبره بما نيح عليه. متفق عليه. ولهما عن المغيرة ابن شعبة

Dari Ibn ‘Umar (r.a) dari Nabi (s.a.w), beliau bersabda: “Mayat disiksa di dalam kuburnya karena niyahah yang ditujukan kepadanya.” (Muttafaq ‘alaih)
Hadis yang serupa turut dikemukakan oleh al-Bukhari dan Muslim dari al-Mughirah ibn Syu’bah (r.a).

MAKNA HADITS :

Mayat disiksa di dalam kubur karena tangisan keluarganya apabila dia berwasiat
supaya berbuat demikian kepada mereka. Wasiat seperti itu merupakan tradisi
Jahiliah yang telah dihapus oleh Islam untuk selama-lamanya. Barang siapa yang berwasiat bahwa apabila dirinya mati kelak supaya ditangisi, maka dia disiksa lantaran wasiatnya itu dan apabila mereka mematuhi wasiatnya, maka si mayat disiksa lagi karenanya, hingga dia harus menerima dua kali ganda siksaan; pertama karena wasiatnya supaya ditangisi dan kedua karena niyahah yang ditujukan kepadanya.
Jika si mayat tidak berwasiat supaya berbuat demikian sebelumnya, maka dia tidak disiksa karena perbuatan niyahah yang dilakukan oleh keluarganya yang ditujukan kepadanya. Allah (s.w.t) berfirman:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ (١٦٤)

“… Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain…” (Surah al-An’am:
164)

FIQH HADITS :

1. Siksa kubur itu benar-benar ada.

2. Mayat disiksa di dalam kubur karena tangisan keluarganya yang ditujukan kepadanya apabila sebelumnya dia pernah berwasiat supaya ditangisi atau itu merupakan tradisi yang biasa dilakukan oleh keluarganya, dan ketika masih hidup dia setuju dengan apa yang mereka lakukan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 137 : HARAM HUKUMNYA MERATAPI KEMATIAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 137 :

عن أم عطية رضي الله عنها قالت : أخذ علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن لا ننوح. متفق عليه.

Dari Ummu Athiyah (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) telah membaiat kami untuk tidak melakukan niyahah.” (Muttafaq ‘alaih).

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) telah membaiat kaum wanita yang dilakukannya secara lisan tanpa
bersalaman tangan, karena baginda sama sekali tidak pernah bersalaman tangan
dengan wanita lain. Dalil bai’at ini adalah firman Allah (s.w.t):

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰ أَن لَّا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ ….. (١٢)

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk
mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan menderhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka…” (Surah al-Mumtahanah: 12)

Antara bai’at Rasulullah (s.a.w) kepada kaum wanita itu ialah tidak boleh niyahah. Ini menunjukkan perbuatan niyahah adalah haram dan haram pula mendengarkannya.

FIQH HADITS :

Haram melakukan niyahah dan betapa besar dosa melakukan niyahah. Ia wajib diingkari dan dijauhi, sebab perbuatan ini menggugah perasaan sedih, menghilangkan kesabaran dan di dalamnya terdapat sikap yang menentang sikap berserah diri kepada takdir Allah dan tunduk kepada keputusan-Nya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..