Arsip Kategori: C. KITAB JANAZAH (IBANATUL AHKAM)

HADITS KE 136 : LARANGAN MENANGIS KARENA MERATAPI KEMATIAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 136 :

عن أبي أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم النائحة والمستمعة. أخرجه أبو داود

Dari Abu Sa’id al-Khudri (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) melaknat wanita yang melakukan niyahah dan yang gemar mendengarkannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

MAKNA HADITS :

Al-Niyahah ialah menangis dengan suara yang kuat disertai dengan perkataan
yang menyebut-nyebut perihal si mayyit dan kebaikan-kebaikannya. Ini adalah
tradisi masyarakat Jahiliah. Nabi (s.a.w) telah mengharamkannya dan para
ulama pun telah bersepakat bahwa ia diharamkan. Adapun menangis sekedar
meniteskan air mata tanpa menguatkan suara, maka itu tidak termasuk niyahah,
dan Allah tidak menyiksa mayat, karena menangis seperti itu.

Hikmah diharamkan niyahah karena perbuatan ini menunjukkan perasaan
kecewa dan penyesalan terhadap takdir Allah, padahal seorang mukmin diwajibkan
beriman dengan qadha’ dan takdir Allah disertai dengan perasaan berserah diri
kepada-Nya.

Wanita lain yang mendengarkan wanita yang sedang melakukan niyahah dianggap bersekutu dengannya dalam hal dosa. Wanita yang biasa ber-niyahah apabila dia mati dalam keadaan belum bertaubat dari perbuatannya itu, maka Allah membuatkan untuknya baju yang dibuat dari tar dan baju besi yang dibuat dari api neraka. Inilah ancaman yang disebutkan dalam hadis lain.
Rasulullah (s.a.w) telah berlepas diri dari wanita-wanita yang sering melakukan niyahah. Dalam kaitan ini, baginda bersabda:

ليس منا من ضرب الخدود وشق الجيوب ودعا بدعوى الجاهلية

“Tidak termasuk golongan kami orang yang suka memukul-mukul pipi, mengoyak baju dan mengucapkan kata-kata Jahiliah.”

FIQH HADITS :

Haram melakukan niyahah dan mendengarkannya, karena kedua perbuatan
ini termasuk dosa besar yang mengakibatkan pelakunya dijauhkan dari rahmat Allah (s.w.t).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 135 : LARANGAN ZIARAH KUBUR BAGI WANITA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 135 :

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن زائرات القبور. أخرجه الترمذي وصححه ابن حبان

Dari Abu Hurairah (r.a) bahwa Rasulullah (s.a.w) melaknat wanita-wanita yang melakukan ziarah kubur.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmizi, dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban)

MAKNA HADITS :

Laknat adalah dihalau atau dijauhkan dari rahmat Allah. Di antara bukti yang menunjukkan bahwa sesuatu itu dianggap sebagai dosa besar ialah adanya
hukum rajam, hudud atau ancaman yang berat bagi pelakunya. Di sini Nabi (s.a.w)
telah melaknat wanita-wanita yang melakukan ziarah kubur. Hal ini dijadikan
sebagai dalil oleh ulama yang mengharamkan kaum wanita melakukan ziarah kubur secara mutlak.
Menurut mereka yang membolehkan kaum wanita melakukan ziarah kubur,
hadis ini hendaklah ditafsirkan khusus berkaitan wanita yang melakukan perbuatan
mungkar ketika berziarah, seperti menampar pipi sendiri, mengoyak kerah baju
sendiri dan menangis dengan cara niyahah (menjerit-jerit). Ini karena kesabaran
mereka sangat rapuh dan cepat beremosi.

FIQH HADITS :

Haram menziarahi kubur bagi kaum wanita karena kebiasaan mereka dalam
berziarah seperti gemar menampar pipi sendiri, mengoyak baju, menangis dengan
cara menjerit, mengabaikan hak suami dan ber-tabarruj.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 134 : ANJURAN ZIARAH KUBUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 134 :

عن بريدة ابن الخصيب السلمي رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : نهيتكم عن زيارة القبر فزوروها. رواه مسلم.
زاد الترمذي : فإنها تذكر الأخرة. زاد ابن ماجة من حديث ابن مسعود ” وتزهد في الدنيا”.

Dari Buraidah ibn al-Hashib al-Aslami (r.a), beliau berkata: Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Dahulu aku melarang kamu dari menziarahi kubur, namun sekarang kamu hendaklah menziarahinya!” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Al-Tirmizi menambahkan: “Ini karena ziarah kubur itu bisa mengingatkan hari
akhirat.” Ibn Majah dari Ibn Mas’ud (r.a) menambahkan sebagai berikut: “Dan
menyebabkan zuhud terhadap urusan duniawi.”

MAKNA HADITS :

Menziarahi kubur mimang disyariatkan. Pada masa permulaan Islam, Nabi (s.a.w) melarang ziarah kubur karena mereka masih baru meninggalkan penyembahan kubur. Kemudian Nabi (s.a.w) membenarkan mereka menziarahi kubur setelah beberapa waktu kemudian dan baginda menjelaskan hikmah yang terdapat di dalam menziarahi kubur yang antara lain adalah mengingatkan seseorang kepada hari akhirat dan menyebabkan zuhud terhadap urusan duniawi. Oleh itu, menziarahi kubur hendaklah dilakukan oleh orang yang mempunyai ketabahan yang kuat dan sempurna agamanya. Ziarah kubur ini dikukuhkan lagi kepada kedua ibu bapak yang telah meninggal dunia karena ada hadis yang menganjurkan berbuat demikian.

FIQH HADITS :

Disyariatkan menziarahi kubur dan dianjurkan melakukannya, karena menziarahi
kubur merupakan pelajaran dan nasehat bagi orang yang rajin melakukannya.
Ulama telah bersepakat bahwa menziarahi kubur itu sunnah bagi kaum lelaki,
tetapi mereka berselisih pendapat bagi kaum wanita. Ada di antara mereka yang
mengharamkan kaum wanita menziarahi kubur karena mereka memiliki kesabaran
yang rapuh dan cepat emosi. Mereka yang mengharamkannya melandaskan
pendapatnya dengan berdalilkan kepada laknat Rasulullah (s.a.w) terhadap kaum
wanita yang melakukan ziarah kubur dimana hadis mengenainya akan disebutkan
setelah ini.

Ada pula di antara mereka yang membolehkan kaum wanita melakukan
menziarahi kubur dengan alasan bahwa rukhsah yang diberikan oleh Nabi (s.a.w)
dalam masalah menziarahi kubur ini bersifat umum yang mencakup kaum lelaki
dan kaum wanita. Selain itu, ada pula hadis yang mengatakan bahwa Nabi (s.a.w)
pernah mengajarkan do’a yang mesti dibaca ketika menziarah kubur kepada Aisyah
(r.a). Hukum boleh ini menurut mereka yang membolehkannya diikat oleh satu
syarat, yaitu selagi wanita itu tidak melakukan perbuatan mungkar atau melakukan niyahah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 133 : CARA MENTALQIN MAYIT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 133 :

عن ضمرة ابن حبيب رضي الله عنه احد التابعين قَالَ: كانوا يستحبون إذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه أن يقال عند قبره : يا فلان قل لا اله إلا الله ثلاث مرات يا فلان قل ربي الله وديني الإسلام ونبيي محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف. رواه سعيد ابن منصور موقوفا. وللطبراني نحوه من حديث أبي أمامة مرفوعا مطولا.

Dari Dhamrah ibn Habib (r.a), salah seorang tabi’in, berkata: “Mereka (para sahabat) menyukai apabila mayat telah dikebumikan dan orang-orang mulai meninggalkannya, di dekat kuburnya para sahabat membaca: “Hai pulan, katakanlah: ‘Tidak ada tuhan selain Allah,’ sebanyak tiga kali. Hai pulan,
katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam dan Nabi panutanku
adalah Muhammad’.” (Diriwayatkan oleh Sa’id ibn Manshur secara mawquf. Al-Thabarani turut mengemukakan hadits yang serupa dari Abu Umamah secara marfu’ secara panjang lebar)

MAKNA HADITS :

Mentalqin mayit ada dua cara:

Pertama, cara yang telah disepakati oleh seluruh ulama, yaitu talqin ketika seseorang sedang menghadapi kematiannya. Ini disunatkan dimana seseorang yang mentalqin disunatkan tidak mengatakan:
‘Katakanlah!’ dengan menggunakan kata-kata perintah, tetapi dia hendaklah mengucapkan dua kalimat syahadat mendekati telinganya dengan suara yang lemah lembut supaya orang yang sedang nazak itu tidak merasa terganggu dan menyusahkannya orang yang ditalqinnya. Jika orang yang ditalqinnya telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka janganlah dia mengulanginya kerana
itu sudah mencukupi.
Dalilnya adalah Nabi (s.a.w) bersabda:

لقنوا موتاكم لا اله الا الله فإن من كان أخر كلامه لا اله الا الله دخل الجنة

“Ajarkanlah kepada orang yang sedang nazak di antara kamu kalimat “لا اله الا الله” Tidak
ada tuhan selain Allah), karena apabila kalimat terakhir yang diucapkan oleh seseorang adalah “لا اله الا الله” Tidak ada tuhan selain Allah), niscaya dia masuk surga.”

Kedua, cara yang masih diperdebatkan oleh ulama, yaitu talqin yang diucapkan
berdekatan kuburan sesudah mayit dikebumikan. Imam Malik dan Imam Ahmad
tidak mengakui adanya talqin dengan cara seperti ini, karena ia tidak pernah
diamalkan dan hadis-hadisnya tidak mencapai status sahih. Tetapi Imam al-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah mengakui adanya talqin seperti ini, karena berlandaskan kepada keumuman makna hadis berikut:

من استطاع منكم أن ينفع أخاه فليفعل

“Barang siapa diantara kamu mampu berbuat manfaat untuk saudaranya, maka hendaklah
dia melakukannya.”

Di samping itu, adanya dalil yang menyatakan bahwa mayat dapat mendengar percakapan orang yang masih hidup dan mendengar suara terompah mereka. Dalil yang lain pula ialah hadis Abu Umamah yang serupa dengan hadis ini, meskipun hadisnya berstatus dha’if, tetapi itu sudah menjadi tradisi penduduk negeri Syam.

FIQH HADITS :

1. Dibolehkan mentalqin mayit sesudah menimbunkan tanah ke atas kuburnya
dan menyelesaikan proses penguburannya. Hal ini dianggap sunat oleh para pengikut mazhab al-Syafi’i. Ibn al-Qayyim dalam kitabnya al-Ruh berkata: “Hadis ini dha’if.” Jumhur ulama mengatakan bahwa hadis dha’if boleh diamalkan untuk tujuan keutamaan beramal.

2. Pertanyaan kubur itu ada dan terjadi setelah mayat dikebumikan.

3. Mayat mengalami kehidupan dalam bentuk yang lain di dalam kubur.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 132 : DO’A ATAS ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 132 :

عن عُثْمَانَ بن عَفَّانَ قَالَ: كانَ النَّبيُّ ﷺ إِذَا فرَغَ مِن دَفْنِ المَيِّتِ وقَفَ علَيهِ وقال: استَغْفِرُوا لأَخِيكُم، وسَلُوا لَهُ التَّثبيتَ، فإنَّهُ الآنَ يُسأَلُ. رواه أَبُو داود، وصححه الحاكم.

Dari Utsman (r.a), beliau berkata: “Jika Rasulullah (s.a.w) selesai mengkebumikan mayat, baginda berdiri dan bersabda: “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kamu ini dan pintakanlah agar dirinya diteguhkan, karena sesungguhnya dia sedang ditanya sekarang ini.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud
dan dinilai sahih oleh al-Hakim)

MAKNA HADITS :

Oleh karena mayat ditanya di dalam kubur dan permohonan ampunan orang
yang masih hidup untuknya boleh mendatangkan manfaat, maka disyariatkan
membaca istighfar dan mendo’akan dengan kebaikan kepada si mayat. Dalilnya
adalah firman Allah (s.w.t):

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذينَ سَبَقُونَا بِالْإيمَانِ…

“… Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami…” (Surah al-Hasyr: 10).

Demikian pula firman-Nya:

واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات

“… Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang mukmin lelaki dan
perempuan….” (Surah Muhammad: 19).

Hikmah dari hal ini ialah Allah membedakan yang buruk dan yang baik dengan membuka rahasia orang yang mati, menyingkap akidah serta keadaan mereka yang benar dan memberitahu balasan setiap mereka ke atas amal perbuatan yang telah dilakukannya selama ini di alam dunia.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan memohon ampunan untuk mayat setelah selesai proses
penguburannya.

2. Dianjurkan memohon keteguhan hati untuk si mayat ketika menghadapi pertanyaan dua malaikat.

3. Mayat memperoleh manfaat dari do’a orang hidup yang mendo’akannya.

4. Mayat mengalami kehidupan yang lain di dalam kubur.

5. Pertanyaan kubur itu ada dan terjadi setelah proses penguburan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 131 : MENABUR TANAH DI ATAS KUBURAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 131 :

عن عامر بن ربيعة رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى على عثمان ابن مظعون، وأتى القبر فحثى عليه ثلاث حثيات، وهو قائم. رواه الدارقطني.

Dari ‘Amir ibnu Rabi’ah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) pernah menyembahyangkan jenazah Utsman ibn Mazh’un, lalu baginda datang ke kuburnya dan menaburkan tanah di atas kuburannya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri. (Diriwayatkan oleh al-Daraquthni)

MAKNA HADITS :

Orang yang menghadiri acara pemakaman disyariatkan menaburkan tanah dengan kedua-dua tangannya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri berrdekatan
kepala tempat mayat dikebumikan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh
Rasulullah (s.a.w). Seseorang yang berbuat demikian demikian dicatat memperoleh
satu pahala kebaikan baginya untuk setiap taburan tanah itu sebagaimana yang
telah disebutkan di dalam satu hadis dha’if, tetapi dengan syarat seseorang yang
berbuat demikian berniat mengharapkan pahala dari Allah (s.w.t).

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menaburkan tanah sebanyak tiga kali di atas kuburan. Murid-murid
Imam al-Syafi’i menganggap sunat membaca do’a berikut ketika melakukan itu:

منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة أخرى

“Dari tanah kami menciptakan kalian, ke dalam tanah kami mengembalikan kalian, dan pada kesempatan lain Kami mengeluarkan kalian dari tanah (pada hari bangkit kelak).”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 130 : HUKUM MEMBANGUN KUBURAN DAN MENGECATNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 130 :

ولمسلم عنه : نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر، وأن يقعد عليه، وأن يبنى عليه. متفق عليه.

Menurut riwayat Muslim dari Jabir (r.a) disebutkan sebagai berikut bahwa Rasulullah (s.a.w) telah melarang dari mengecat kuburan, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.” (MDttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Hukum-hakum syariat telah ditetapkan demi kemaslahatan sekaligus
menjauhkan kemudharatan, baik kemudharatan itu sendiri ataupun akibat yang bakal ditimbulkan oleh kemudharatan itu. Kejahilan telah merajalela di kalangan umat terdahulu hingga mereka menjadikan bangunan sebagai kenangan berganti peranan menjadi berhala-berhala yang disembah. Oleh sebab itu, syariat Islam melarang mengecat kuburan, membuat binaan di atasnya, dan menghiasinya
dengan kain kelambu serta mengusap dindingnya. Larangan ini untuk mencegah
perkara-perkara yang bakal mengakibatkan kemudharatan sesuai dengan hikmah
yang terdapat di sebalik rahsia syariat Islam ini.

FIQH HADITS :

1. Dilarang mengecat kuburan. Larangan ini menunjukkan hukum makruh menurut pendapat keempat imam mazhab. Hikmah larangan ini ialah karena kuburan itu sifatnya sementara, bukan untuk selamanya;
dan mengecatnya merupakan perhiasan duniawi, sedangkan mayat tidak memerlukan itu di samping dikawatiri kuburan tersebut akan berubah peranan menjadi tempat sesembahan apabila kejahilan telah merajalela di kalangan umat. Adapun mengecatnya dengan tanah liat, maka menurut Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, itu tidak dilarang selagi bertujuan keadaan kuburan senantiasa diketahui. Imam Malik pula berkata: “Makruh mengecat kuburan dengan tanah liat selagi tidak bertujuan untuk mencegah bau busuk, tetapi apabila itu dibuat untuk tujuan mencegah penyebaran bau busuk itu, maka ia dibolehkan. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya, menurut pendapat yang dipilih di kalangan mereka, mengatakan bahwa mengecat kuburan dengan tanah liat tidaklah dimakruhkan.

2. Dilarang duduk di atas kuburan. Menurut jumhur ulama, larangan ini menunjukkan hukum makruh. Jika duduk di atasnya untuk membuang hajat, baik hajat kecil ataupun hajat besar, maka larangan ini menunjukkan
hukum haram. Menurut pendapat yang masyhur dari Imam Malik, makruh
duduk dan berjalan di atas kuburan baik kuburan tersebut ditinggikan permukaannya atau diratakan sedangkan jalan berada di bawahnya dan diyakini masih ada tulang mayat di dalamnya. Jika diyakini sudah tidak ada lagi tulang di dalamnya, maka dibolehkan tanpa adanya hukum makruh. Imam Malik mentafsirkan hadits yang melarang berbuat demikian bahwa larangan itu ditujukan kepada orang yang duduk di atasnya untuk
membuang hajat kecil atau hajat besar.

3. Dilarang membuat bangunan di atas kuburan. Menurut pendapat yang paling sahih di sisi Imam al-Syafi’i dan murid-muridnya, Imam Abu Hanifah dan mazhab Hanbali, larangan ini menunjukkan hukum makruh apabila
bangunan tersebut berada di tanah milik si pembangun; sedangkan larangan
yang menunjukkan hukum haram adalah apabila bangunan tersebut berada
di kawasan perkuburan umum. Al-Nawawi berkata: Bangunan tersebut wajib diruntuhkan tanpa ada seorang ulama pun yang berselisih pendapat dalam masalah ini. Imam Abu Hanifah berkata: “Bangunan tersebut wajib diruntuhkan, sekalipun berada di dalam masjid.” Menurut mazhab Maliki,
makruh membuat bangunan di atas kuburan apabila kuburan itu berada di atas tanah umum atau milik orang lain setelah mendapat kebenaran dari pemiliknya, atau berada di atas tanah yang tidak bertuan selagi tidak bertujuan membanggakannya. Haram membuat bangunan di atas tanah yang bukan milik umum, misalnya di atas tanah waqaf khusus untuk
perkuburan atau itu dilakukan untuk membanggakan diri karena si mayat
termasuk orang yang disegani semasa hidupnya. Diharamkan berbuat demikian karena itu bererti menguasai hak umum, di samping tindakan sedemikian dianggap sifat takabbur dan perbuatan berbangga diri yang dilarang oleh Islam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 129 : ANJURAN MENINGGIKAN KUBURAN SEJENGKAL DARI TANAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 129 :

عن سعد ابن أبي وقاص رضي الله عنه قال : ألحدوا لي لحدا، وانصبوا على اللبن نصبا، كما صنع برسول الله ﷺ. رواه مسلم. وللبيهقي عن جابر نحوه، ورفع قبره عن الأرض قدر شبر. وصححه ابن حبان.

Dari Sa’ad ibn Abu Waqqash (r.a), beliau berkata: “Buatkanlah liang lahad untukku dan tutupilah liang lahad itu dengan batu bata, sebagaimana yang telah dilakukan ke atas Rasulullah (s.a.w).” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Menurut riwayat al-Baihaqi daripada Jabir (r.a) disebutkan hadis yang serupa, tetapi ditambahkan sebagai berikut: “Dan kuburannya ditinggikan sejengkal dari permukaan tanah.” (Hadis ini dinilai shahih oleh Ibn Hibban)

MAKNA HADITS :

Asal mula wasiat Sa’ad ini ketika sahabat-sahabat yang lain mengatakan sesuatu kepadanya menjelang kematiannya: “Perlukah kami buatkan sesuatu untukmu seperti peti yang dibuat dari kayu?” Lalu Sa’ad menjawab: “Lakukanlah sesuatu untukku sebagaimana apa yang telah dilakukan ke atas Rasulullah (s.a.w).”
Hal ini merupakan bukti jelas tentang keinginan sahabat untuk mengikuti jejak langkah Rasulullah (s.a.w), baik sewaktu baginda masih hidup mahpun sesudah wafat.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan membuat liang lahad dan menutupnya dengan bata merah setelah meletakkan mayat di dalamnya. Cara inilah yang dilakukan ke atas Rasulullah (s.a.w) mengikuti kesepakatan para sahabat. Sahabat telah menceritakan bahwa jumlah batu bata yang digunakan untuk menutupi makam Rasulullah (s.a.w) sebanyak sembilan biji.

2. Disunatkan meninggikan kubur satu jengkal dari permukaan tanah supaya tidak dipijak orang lain atau supaya seseorang tidak membuang hajat di atasnya atau duduk di atasnya. Ini dilakukan untuk menghormati mayit.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 128 : KEWAJIBAN MENGHORMATI MAYIT SAMPAI PADA TULANG BELULANGNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 128 :

عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله ﷺ قال : كسر عظم الميت ككسره حيا. رواه أبو داود بإسناد على شرط مسلم. وزاد ابن ماجة من حديث أم سلمة : “في الاثم”.

Dari Aisyah (r.a) bahwa, Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Mematahkan tulang mayat sama dengan mematahkannya sewaktu masih hidup.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad mengikut syarat Muslim) Ibn Majah menambahkan dalam hadis Ummu Salamah (r.a): “(di mana mereka) sama-sama berdosa.”

MAKNA HADITS :

Para sahabat bersama Rasulullah (s.a.w) berangkat mengiringi suatu jenazah, lalu
baginda duduk di tepi kubur disertai oleh sahabat yang lain. Kemudian penggali
kubur mengeluarkan sebuah tulang betis atau tulang paha dari tanah yang digalinya,
lalu dia berhasrat mematahkannya. Melihat itu, Rasulullah (s.a.w) bersabda kepadanya: “Jangan kamu patahkan tulang itu, karena jika kamu mematahkannya meskipun ia sudah mati, maka berarti sama dengan mematahkannya ketika dalam keadaan hidup. Tanamlah lagu di sebelah kuburnya itu!” Dengan demikian, Rasulullah (s.a.w) telah membuat satu perumpamaan yang
paling indah untuk menghormati manusia, baik semasa hidup ataupun sesudah
mati. Barang siapa yang melakukan itu, yakni mematahkan tulang mayat, berarti
dia telah berdosa, tetapi dia tidak dikenakan ganti rugi dan hukuman qisas karena
adanya perbedaan hukum antara orang hidup dengan orang mati.

FIQH HADITS :

1. Mayat pun turut merasakan sakit, sama halnya dengan orang yang hidup.

2. Dianjurkan menghormati manusia, baik ketika masih hidup ataupun sesudah mati.

3. Wajib memelihara tulang-belulang mayat yang berada dalam kubur ketika dilakukan penggalian. Oleh itu, orang yang menggali kubur mestilah menanamnya lagi dan dilarang mematahkannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..