Arsip Kategori: C. KITAB JANAZAH (IBANATUL AHKAM)

HADITS KE 116-117 : HUKUM MEMBACA SURAH AL-FATIHAH DALAM SHALAT JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 116 :

عن جابر رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكبر على جنائزنا أربعا ويقرأ بفاتحة الكتاب في التكبيرة الأولى . رواه الشافعي بإسناد ضعيف.

Dari Jabir (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) bertakbir untuk jenazah
kami sebanyak empat kali dan pada takbir yang pertama baginda membaca Surah
al-Fatihah.” (Diriwayatkan oleh al-Syafi’i dengan sanad berkedudukan dha’if)

HADITS KE 117 :

عن طلحة ابن عبد الله ابن عوف رضي الله عنه قال صليت خلف ابن عباس على جنازة فقرأ فاتحة الكتاب فقال لتعلموا أنها سنة. رواه البخاري والنسائي

Dari Talhah ibn Abdullah ibn Auf (r.a), beliau berkata: “Saya pernah
melakukan sholat jenazah di belakang Ibn Abbas, lalu beliau membaca Surah al-
Fatihah dan berkata: “Ketahuilah bahwa bacaan al-Fatihah ini Sunnah (tuntunan
Nabi (s.a.w).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

MAKNA HADITS :

Ulama berselisih pendapat mengenai hukum disyariatkan bacaan al-Fatihah dalam sholat jenazah. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, mengatakan bahwa membaca Surah al-Fatihah sesudah takbir pertama adalah wajib. Mereka beralasan bahwa sholat jenazah termasuk salah satu sholat, sedangkan Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda:

لا صلاة إلا بفاتحة الكتاب

Tidak ada sholat kecuali dengan Fatihah al-Kitab.”

Dengan demikian, sholat jenazah termasuk ke dalam pengertian umum hadis ini. Selain itu, ia turut berlandaskan kepada hadits di atas yang mengatakan bahwa bacaan al-Fatihah ini adalah Sunnah atau termasuk Sunnah. Menurut riwayat lain disebutkan haq, yaitu suatu ketetapan. Ini mengukuhkan lagi bahwa membaca al-Fatihah adalah wajib, karena Sunnah adalah kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) atau tuntunan Nabi (s.a.w), sementara pengertian haq adalah sesuatu yang telah ditetapkan.
Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa di dalam sholat
jenazah tidak ada bacaan al-Qur’an, karena tujuan utamanya adalah mendo’akan
si mayat. Mereka melandaskan pendapatnya dengan perkataan Ibn Mas’ud (r.a): “Rasulullah (s.a.w) tidak menetapkan suatu bacaan apa pun dalam sholat jenazah kepada kami.”
Apapun, pendapat kedua imam yang pertama lebih baik untuk dijadikan pegangan.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca Surah al-Fatihah ketika mengerjakan sholat jenazah.
Sehubungan ini, ulama berbeda pendapat. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad
mengatakan bahwa membaca Surah al-Fatihah ketika mengerjakan sholat jenazah adalah wajib. Sedangkan menurut mazhab Maliki, membaca Surah al-Fatihah
dalam sholat jenazah adalah makruh.
Mazhab Hanafi mengatakan bahwa tidak ada bacaan Surah al-Fatihah
dalam sholat jenazah. Antara yang mensyariatkan membaca Surah al-Fatihah dalam mengerjakan sholat jenazah adalah Ibnu Mas’ud, al-Hasan ibn Ali dan Ibn
Umar. Manakala antara yang tidak mensyariatkannya adalah Ibn ‘Umar dan Abu Hurairah. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa Surah al-Fatihah dibaca dengan suara yang tidak kuat dan mereka bersepakat untuk tidak membaca satu surah pun sesudah membaca Surah al-Fatihah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 114 : JUMLAH TAKBIR DALAM SHOLAT JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 114 :

عن عبد الرحمن بن أبي ليلى رضي الله عنه قال : كان زيدُ بنُ أرقمَ يُكبِّرُ على جنائزِنا أربعًا وإنه كبر على جنازة خمسًا، فسأَلْناه فقال: كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يكبرها. رواه مسلم والاربعة.

Dari Abdul Rahman ibn Abu Laila (r.a), beliau berkata: “Zaid ibn Arqam
melakukan empat kali takbir ketika menyembahyangkan jenazah kami. Pada suatu ketika, beliau melakukan lima kali takbir ketika mengerjakan sholat jenazah, lalu aku bertanya kepadanya (mengenai hal itu), kemudian beliau berkata: “Dahulu
Rasulullah (s.a.w) pernah melakukannya.”
(Diriwayatkan oleh Muslim dan al-Arba’ah)

HADITS KE 115 :

عن علي رضي الله عنه أنه كبر على سهل بن حنيف ستا. قال إنه بدري. رواه سعيد ابن منصور وأصله في البخاري

Dari Ali (r.a) bahwa beliau pernah bertakbir sebanyak enam kali untuk menyembahyangkan jenazah Sahl ibn Hunaif. Beliau mengatakan bahwa
sesungguhnya Sahl ibn Hunaif seorang ahli Badar. (Diriwayatkan oleh Sa’id ibn
Manshur dan asal hadis berada pada al-Bukhari)

MAKNA HADITS :

Para sahabat melakukan takbir sholat jenazah pada zaman Rasulullah (s.a.w), ada yang empat kali, lima kali dan ada pula yang enam serta tujuh kali. Kemudian
Khalifah Umar (r.a) mengumpulkan seluruh sahabat Rasulullah (s.a.w), setiap
mereka memberitahu jumlah takbir sesuai dengan apa yang pernah mereka lihat.
Lalu Khalifah ‘Umar (r.a) menghimpun pendapat-pendapat itu, hingga terjadilah
kesepakatan untuk melakukan empat kali takbir dalam sholat jenazah.

Sesudah Raja al-Najasyi meninggal dunia, Rasulullah (s.a.w) melakukan sholat je nazah dengan empat kali takbir, lalu ditetapkan seterusnya menjadi empat
kali takbir hingga Allah (s.w.t) mewafatkannya. Akan tetapi, Khalifah ‘Umar (r.a) dan orang yang bersamanya masih belum mengetahui bahwa takbir itu telah ditetapkan menjadi empat kali, hingga Khalifah ‘Umar (r.a) mengumpulkan mereka dan bermusyawarah memecahkan masalah ini.

FIQH HADITS :

Jumhur ulama bersepakat bahwa takbir sholah jenazah adalah empat kali.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 113 : HUKUM MENSHOLATKAN JANAZAH DI DALAM MASJID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 113 :

عن عائشة رضي الله عنها قالت : والله لقد صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على ابني بيضاء في المسجد. رواه مسلم.

Dari Aisyah (r.a), beliau berkata: “Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah
(s.a.w) pernah menyembahyangkan jenazah kedua anak laki-laki Baidha’ di
dalam masjid.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS :

Ketika Sa’ad ibn Abu Waqqash meninggal dunia, semua isteri Nabi (s.a.w) mengirimkan utusan meminta agar orang’orang membawa jenazah Sa’ad melewati masjid supaya mereka dapat turut serta menyembahyangkannya. Akhirnya orang-orang pun memenuhi permintaan mereka lalu jenazah Sa’ad dihentikan di hadapan rumah-rumah mereka, lalu mereka menyembahyangkannya. Sesudah itu jenazah Sa’ad dikeluarkan melalui pintu al-Jana’iz, lalu tersiarlah berita bahwa banyak orang mencela perbuatan istri-istri Nabi dan mereka mengatakan bahwa tidak
patut jenazah dimasukkan ke dalam masjid. Keadaan itu kemudian terdengar oleh Aisyah (r.a) lalu beliau berkata: “Banyak orang terlalu terburu-buru mencela suatu perbuatan, padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan apapun mengenainya. Mereka mencela kami yang meminta agar iringan jenazah melewati masjid. Saya bersumpah bahwa Rasulullah (s.a.w) pernah melakukan sholat jenazah untuk kedua anak Baidha’ di dalam masjid.”

FIQH HADITS :

1. Boleh bersumpah tanpa diminta untuk mengukuhkan perkara yang telah
terjadi.

2. Menurut Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, boleh melakukan sholat jenazah
di dalam masjid. Tetapi menurut pendapat yang masyhur dari Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, itu dimakruhkan. Kedua ulama ini melandaskan pendapatnya dengan hadis Abu Hurairah (r.a) berikut:

من صلى على جنازة في المسجد فلا شيء له

Barang siapa yang menyembahyangkan jenazah di dalam masjid, maka dia tidak
memperoleh ganjaran pahala.”

Tetapi sanad hadis ini dha’if mengingat di dalamnya terdapat Shalih, pembantu al-Taw’amah, seperti yang ditegaskan oleh Imam Ahmad. Umar pernah menyembahyangkan jenazah Abu Bakar di dalam masjid. Begitu pula Shuhaib, beliau pernah menyembahyangkan jenazah ‘Umar di dalam masjid.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 112 : POSISI BERDIRI DALAM MENSHALATKAN JANAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 112 :

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال : صليت وراء رسول الله صلى الله عليه وسلم على امرأة ماتت في نفاسها، فقام وسطها. متفق عليه.

Dari Samurah ibn Jundub (r.a), beliau berkata: “Aku pernah mengerjakan sholat jenazah di belakang Nabi (s.a.w) untuk seorang wanita yang meninggal dunia karena melahirkan. Baginda berdiri di tengah-tengah (tubuh) nya.” (Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Ulama telah bersepakat membolehkan imam berdiri di dekat mayit ketika melakukan sholat jenazah di bagian manapun yang disukainya. Tetapi mereka berselisih pendapat tentang tempat berdiri yang paling afdal bagi imam. Hadis ini menunjukkan adanya perbedaan antara jenazah lelaki dengan jenazah perempuan. Jika jenazah tersebut adalah seorang perempuan, maka apa yang lebih afdhal
hendaklah imam berdiri di bagian tengahnya. Jika jenazahnya lelaki, maka apa yang lebih afdhal adalah berdiri di dekat kepala. Apa yang diwajibkan ialah menghadap ke posisi manapun anggota si mayit, baik mayat itu lelaki maupun mayat perempuan.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan melakukan sholat jenazah ke atas mayit wanita, baik meninggal dunia karena melahirkan anak, pendarahan ketika haid ataupun sebab-sebab yang lain.

2. Imam berdiri di bagian tengah jenazah wanita. Tetapi apabila jenazahnya
itu laki-laki, maka imam berdiri di dekat kepalanya. Imam al-Syafi’I, Imam
Ahmad dan Abu Yusuf berkata: “Imam dan makmum disunatkan berdiri di dekat dubur jenazah wanita. Jika jenazahnya itu laki-laki, hendaklah berdiri di dekat kepalanya agar tidak memandang ke arah kemaluannya,
lain halnya dengan jenazah wanita yang biasanya diletakkan di dalam keranda. Maksud “imam berdiri di bagian tengahnya” ialah untuk menutupi jenazah dari penglihatan orang banyak. Menurut pendapat yang masyhur di kalangan mazhab Hanafi, hendaklah imam berdiri sejajar dengan dada mayat baik mayat laki-laki maupun mayat perempuan. Imam Malik berkata: “Jika mayat itu laki-laki, maka imam berdiri di bagian tengahnya. Jika mayat itu perempuan, maka imam berdiri di dekat kedua bahunya.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 111 : ANJURAN MENSHALATKAN JANAZAH SAMPAI 40 ORANG ATAU LEBIH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 111 :

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم يقول: ما من رجل مسلم يموت، فيقوم على جنازته أربعون رجلا، لا يشركون بالله شيئا إلا شفعهم الله فيه. رواه مسلم

Dari Ibnu Abbas (r.a) bahwa saya pernah mendengar Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Tidaklah sekali-kali ada seorang muslim meninggal dunia, lalu jenazahnya disholatkan oleh empat puluh orang lelaki yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, kecuali Allah memberikan syafaat kepada mereka untuk si mayit.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS :

Antara rahmat Allah (s.w.t) kepada hamba-Nya ialah diterima-Nya syafaat saudara-saudara si mayat yang menyembahyangkannya, karena rahasia sholat jenazah untuk mayit ialah memohonkan syafaat untuknya. Jika orang yang melakukan sholat itu banyak, maka syafaat yang diinginkan diterima oleh Allah. Telah disebutkan di dalam beberapa hadis yang mengkhususkan jumlah orang yang melakukan sholat jenazah sehingga syafaatnya dapat diterima, misalnya empat puluh orang lelaki, namun ada pula yang mengatakan bahwa jumlah mereka mestilah sebanyak seratus orang. Telah diketahui bahwa jumlah ini bukanlah batasan melainkan menganjurkan agar memperbanyak jumlah orang yang melakukan sholat jenazah.

Barangkali hadis tersebut sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang menanyakan jumlahnya, sehingga muncullah jawaban seperti itu. Apapun, kesemua hadis itu boleh dapat diamalkan, sekalipun jumlah orang yang mengerjakan sholat jenazah itu sedikit dan syafaat mereka insya Allah dapat diterima di sisi Allah sebagai wujud dari karunia-Nya.

FIQH HADITS :

1. Keutamaan memperbanyak jamaah ketika mengerjakan sholat jenazah.

2. Syafaat orang yang beriman bermanfaat dan diterima di sisi Allah.

3. Menjelaskan betapa berlimpah rahmat Allah ketika dengan syafaat itu
diterima di sisi-Nya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 110 : TAKBIR DALAM SHALAT JANAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 110 :

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم نعى النجاشي في اليوم الذي مات فيه، وخرج بهم إلى المصلى، فصف بهم وكبر عليه أربعا. متفق عليه

Dari Abu Hurairah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) pernah mengumumkan berita tentang kematian al-Najasyi pada hari kematiannya, lalu baginda keluar bersama mereka menuju tempat sholat dan membariskan mereka menjadi bershaf- shaf. Nabi (s.a.w) melakukan empat kali takbir untuk al-Najasyi. (Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Oleh karena makna dzahir hadis yang pertama menunjukkan larangan melakukan na’yu secara mutlak, maka Ibn Hajar mengiringinya dengan hadis Abu Hurairah yang bertujuan mengecualikannya sekaligus menjelaskan bahwa melakukan na’yu tidak dilarang apabila hanya sekedar memberitahu kematian seseorang tanpa disertai niyahah (tangisan ala Jahiliah dan juga tidak bertujuan membanggakan diri). Nabi (s.a.w) melakukan sholat jenazah untuk ahli Badar dengan enam kali takbir, lima kali takbir untuk sahabat yang lain, dan empat kali takbir untuk orang
selain mereka. Ketika Raja al-Najasyi meninggal dunia, baginda mengerjakan sholat jenazah untuknya sebanyak empat kali takbir, kemudian sholat jenazah ditetapkan menjadi empat kali takbir hingga baginda wafat.

Rasulullah (s.a.w) menyukai apabila bilangan orang yang sholat jenazah
diperbanyak, agar permohonan ampun bagi si mayat bertambah, begitu pula do’a
untuknya.

FIQH HADITS :

1. Boleh memberitahu kematian seseorang agar jenazahnya segera dilawat dan segala sesuatunya segera dipersiapkan dengan cepat,
menyembahyangkannya, berdo’a untuknya, dan memohonkan ampunan baginya. Hal ini tidak termasuk cara na’yu yang dilarang.

2. Boleh melakukan sholat ghaib ke atas kematian seseorang yang berada
di negeri yang berjauhan menurut pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Tetapi Imam Malik dan Imam Abu Hanifah melarang dari melakukan sholat ghaib; mereka mengatakan bahwa sesungguhnya sholat untuk Raja al-Najasyi merupakan suatu keistimewaan baginya.

3. Salah satu mukjizat Rasulullah (s.a.w) ialah baginda memberitahu kematian
Raja al-Najasyi tepat pada hari kematiannya kepada orang banyak, padahal jarak antara kota Madinah dengan negeri Habsyah sangatlah jauh.

4. Keutamaan Raja al-Najasyi bertambah.

5. Takbir sholat jenazah berjumlah empat kali. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad
berkata: “Disyariatkan mengangkat kedua tangan pada setiap kali bertakbir.” Imam Abu Hanifah dan pendapat yang masyhur di kalangan mazhab Maliki mengatakan bahwa tidak ada mengangkat tangan setiap kali bertakbir, kecuali takbir pertama saja.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 109 : LARANGAN MERATAPI KEMATIAN SESEORANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 109 :

عن خذيفة رضي الله عنهأن النبي صلى الله عليه وسلم كان ينهى عن النعي. رواه أحمد والترمذي وحسنه

Dari Hudzaifah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) melarang dari melakukan al-na’yu (meratap dengan cara Jahiliah). (Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Tirmizi yang menilainya sebagai hasan).

MAKNA HADITS :

Al-Na’yu ialah memberitahu kematian seseorang dan untuk menyampaikan berita kematian ada beberapa cara.

Pertama, memberitahu kepada keluarga si mayat, rekan-rekannya, orang sholeh dan tetangga. Ini termasuk amalan Sunnah mengingat si mayat harus dihadiri oleh jemaah yang akan memandikan, menyembahyangkan dan mengkebumikannya yang semua itu merupakan fardu kifayah dan harus dilakukan.

Kedua, mengajak orang banyak untuk tujuan membanggakan diri. Cara ini dimakruhkan kecuali bertujuan untuk memperbanyakkan pahala dan syafa’at dengan banyaknya orang yang menyembahyangkan si mayat.
Ketiga, memberitahu dengan cara niyahah dan menangis yang disertai dengan jeritan pada setiap pintu rumah, di pasar dan di atas mimbar. Ada pula dengan mengirimkan seseorang untuk berkeliling ke seluruh kabilah sebagaimana yang dilakukan oleh orang Arab pada zaman Jahiliyah. Cara inilah yang dilarang oleh Nabi (s.a.w) dalam hadis ini, karena baginda tidak suka meniru perbuatan mereka. Ini dikuatkan oleh sabda Nabi (s.a.w) dalam hadis yang lain:

إياكم والنعي فإن النعي من أعمال الجاهلية

“Janganlah kamu melakukan na’yu, karena sesungguhnya na’yu termasuk perbuatan Jahiliah.”

Adapun pemberitahuan secara mutlak tanpa disertai niyahah dan berbangga-bangga, maka itu diperbolehkan dengan berdalilkan sabda Nabi (s.a.w): “Mengapa kamu tidak memberitahukannya kepadaku?” sebagimana dalam kisah kematian seorang wanita yang bekerja membersihkan masjid sebelum ini.

FIQH HADITS :

1. Larangan melakukan perbuatan yang dahulu biasa dikerjakan oleh masyarakat Jahiliah apabila ada orang yang dihormati di kalangan mereka meninggal dunia atau mati dibunuh.

2. Disyariatkan memberitahu kematian seseorang agar seluruh keluarganya berkumpul, begitu pula teman-teman si mayat dan orang soleh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 108 : MENSHOLATKAN MAYIT DI ATAS KUBURANNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 108 :

عن أبي هريرة رضي الله عنه في قصة المرأة التي كانت تقم المسجد، قال فسأل عنها النبي صلى الله عليه وسلم فقالوا : ماتت فقال أفلا كنتم أذنتموني؟ فكأنهم صغروا أمرها، فقال دلوني على قبرها، فدلوا فصلى عليها. متفق عليه. وزاد مسلم ثم قال : أن هذه القبور مملوءة ظلمة على أهلها، وإن الله ينورها لهم بصلاتي عليهم

Dari Abu Hurairah (r.a) menceritakan seorang wanita yang bertugas membersihkan masjid, lalu Nabi (s.a.w) menanyakan dirinya (karena sudah lama tidak melihatnya: Mereka (para sahabat) menjawab: “Dia telah meninggal dunia.” Mendengar itu, Nabi (s.a.w) bersabda: “Mengapa kamu tidak memberitahunya kepadaku?” Mereka selama ini seakan-akan tidak menganggap penting wanita yang bertugas menyapu masjid itu, lalu Nabi (s.a.w) bersabda: “Tunjukkan kuburannya kepadaku di mana kuburnya.” Kemudian mereka menunjukkan kuburannya kepada Nabi (s.a.w) lalu baginda menyembahyangkannya di atas kuburannya itu.” (Muttafaq ‘alaih).

Muslim menambahkan bahwa setelah itu Nabi (s.a.w) bersabda:
“Sesungguhnya kegelapan menyelimuti penghuni kuburan ini dan sesungguhnya Allah memberikan cahaya kepada penghuni kuburan ini berkat sholatku ke atas mereka.”

MAKNA HADITS :

Inilah sikap rendah hati yang amat terpuji dan etika mulia yang diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w) kepada para sahabatnya ketika baginda bertanya tentang pembantu wanita masjid. Baginda merasa sudah lama tidak melihat wanita itu meskipun dia tidak menjadi pembantu Nabi (s.a.w) secara peribadi, melainkan bertugas menjaga kebersihan masjid. Adakalanya rekan-rekan yang sebaya dengannya menganggap tugasnya sebagai sesuatu yang remih dan tidak berharga, namun menurut Nabi (s.a.w), tugasan itu mempunyai kedudukan yang mulia.

Sungguh suatu pelajaran besar yang diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w) kepada para sahabatnya ketika baginda mengetahui bahwa mereka mengkebumikannya tanpa memberitahu terlebih dahulu kematiannya kepada baginda, sekalipun mereka pada hakikatnya tidak ingin menyibukkan Nabi (s.a.w) hanya kareqna seorang tukang sapu masjid meninggal dunia. Rasulullah (s.a.w) menegur mereka melalui sabdanya: “Tidak baik sikap seperti itu dilakukan oleh kamu. Jangan sekali-kali kamu mengulangi perbuatan yang sama. Mulai sekarang aku harus mengetahui setiap orang yang meninggal dunia diantara kamu tanpa melihat siapa itu orangnya selagi aku masih hidup1 di tengah-tengah kamu.”
Betapa kasih sayangnya engkau kepada umatmu, wahai Rasulullah. Betapa indahnya sopan santunmu kepada mereka. Perasaan sayangmu kepada kaum fakir miskin demikian kuat, semoga Allah membalasmu dengan imbalan yang setimpal.

Dari kisah ini nampak jelas satu fenomena yang menunjukkan betapa kasih sayang Nabi (s.a.w), karena baginda sudi melakukan sholat jenazah di atas kubur tukang sapu tersebut sesudah disholatkan oleh orang lain. Dengan demikian, ini merupakan cahaya di atas cahaya. Sholat untuk mayat merupakan syafaat dan do’a baginya, dan do’a Nabi (s.a.w) tidak ditolak. Wanita hitam ini ternyata beruntung memperoleh derajat yang paling tinggi sebagai satu kemuliaan baginya berkat amal kebaikan yang selama dia lakukan ketika berkhidmat menjadi tukang sapu masjid.

FIQH HADITS :

1. Rasulullah (s.a.w) adalah seorang yang bersifat rendah hati.

2. Rasulullah (s.a.w) senantiasa ingin menaikkan derajat umatnya, mencari
tau keadaan mereka, menunaikan hak-hak mereka dan mengutamakan
kemaslahatan mereka.

3. Membalas dengan do’a dan kasih sayang terhadap orang yang pernah
mengabdikan dirinya untuk kepentingan dan kemaslahatan kaum
muslimin.

4. Mengurus masjid dan membersihkannya.

5. Disyariatkan memberitahu kematian kepada orang banyak.

6. Galakkan menyaksikan jenazah orang sholeh.

7. Allah menyinari kuburan karena sholat Nabi (s.a.w) bagi para penghuninya, namun tidak bermaksud meniadakan syariat mengerjakan sholat jenazah di atas kuburan bagi orang selain baginda. Ulama berselisih pendapat syariat sholat jenazah di atas kuburan bagi orang yang belum menyembahyangkan jenazah sebelumnya. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengakui bahwa disyariatkan sholat jenazah di atas kuburan bagi orang yang belum menyembahyangkan jenazah sebelumnya. Namun kedua ulama berselisih pendapat mengenai batasan waktu yang dibolehkan menyembahyangkannya di atas kuburan. Imam al-Syafi’i berkata: “Batasan maksimum adalah hingga satu bulan, karena Nabi (s.a.w) menyembahyangkan Ummu Sa’ad ibn Ubadah sesudah satu bulan dikebumikan. Imam Ahmad berkata: Batas maksimum ialah selagi tubuh
mayat masih belum hancur. Apabila tubuhnya telah hancur, maka tidak
boleh lagi mengerjakan sholat di atas kuburnya.” Tetapi Imam Ahmad
mempunyai pendapat yang lain yang mengatakan tidak ada batasan waktu
tertentu untuk mengerjakan sholat jenazah, karena tujuan sholat jenazah ialah mendo’akan mayat dan ini boleh dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa mengkebumikan mayat yang dilakukan tanpa sholat jenazah hendaklah disembahyangkan selagi diyakini jenazahnya masih belum hancur, namun jika jenazahnya telah hancur, maka tidak perlu lagi disembahyangkan. Mazhab Maliki mengatakan bahwa barang siapa
yang dikebumikan tanpa disholatkan terlebih dahulu, maka jenazahnya
dikeluarkan semula, lalu disholatkan jika tidak dikawatirkan telah berubah.
Tapi jika diyakini telah berubah, maka disholatkan di atas kuburnya. Hal ini wajib selagi diyakini bahwa jenazahnya belum lagi hancur. Bagi mayat yang telah disholatkan, makruh melakukan sholat jenazah di atas kuburnya.
Mereka memberikan jawapan mengenai hadis ini bahwa masalah ini bersifat pesan tertentu dan tidak boleh diperlakukan secara umum. Dengan kata lain, menyembahyangkan jenazah wanita di atas kubur sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah (s.a.w) merupakan satu keistimewaan tersendiri baginya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 107 : HUKUM MENYEMBAHYANGKAN ORANG YANG MATI BUNUH DIRI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 107 :

عن جابر ابن سمرة رضي الله عنهما – قال : أتي النبي صلى الله عليه وسلم برجل قتل نفسه بمشاقص، فلم يصل عليه. رواه مسلم

Dari Jabir ibn Samrah (r.a), beliau berkata: “Didatangkan kepada Nabi (s.a.w) jenazah orang yang membunuh dirinya sendiri dengan pisau tetapi baginda tidak mau menyembahyangkannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS :

Orang yang membunuh dirinya sendiri, jika dia menganggap halal apa yang telah
dilakukannya itu, maka dia kafir, namun jika tidak menganggap halal apa yang
dilakukannya itu, maka dia orang fasik.
Rasulullah (s.a.w) tidak mau menyembahyangkan jenazah orang yang
membunuh dirinya sendiri. Sikap baginda itu sebagai peringatan bagi orang lain
agar tidak melakukan perbuatan yang serupa dengannya. Tetapi para sahabat
menyembahyangkannya agar jenazah orang tersebut tidak dikebumikan dalam
keadaan tanpa disholatkan.”

FIQH HADITS :

1. Hakim tidak boleh menyembahyangkan jenazah orang yang membunuh dirinya
sendiri, tetapi selain hakim dibolehkan untuk menyembahyangkannya. Ini
berlandaskan kepada hadis yang diriwayatkan oleh al-Nasa’i bahwa Rasulullah (s.a.w) bersabda:

أما أنا فلا أصلي عليه

“Aku tidak mau menyembayangkannya.”

Dari riwayat ini dapat disimpulkan bahwa selain hakim atau imam boleh menyembahyangkannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..