Arsip Kategori: C. KITAB JANAZAH (IBANATUL AHKAM)

HADITS KE 89 : MENTALQIN ORANG YANG SAKARATUL MAUT DENGAN KALIMAT TAUHID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 89 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَالْأَرْبَعَةُ

Dari Abu Said dan Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tuntunlah orang yang hampir mati di antara kamu dengan Laa ilaaha illallah.” Riwayat Muslim dan Imam Empat.

MAKNA HADITS :

Mengajarkan kalimah tauhid dan kalimah syahadat kepada orang yang sedang menghadapi kematiannya merupakan salah satu cara untuk mengingatkannya.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (٥٥)

Allah (s.w.t) berfirman:

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang yang beriman.” (Surah al-Zariyat: 55)

Hukum mengajarkan kalimah tauhid kepada orang yang sedang dalam
sakaratul maut adalah sunnah dan setiap orang muslim dianjurkan melakukan hal
tersebut terhadap saudaranya yang sedang nazak. Ini telah disepakati oleh seluruh ulama. Tujuannya adalah agar kalimah syahadat merupakan akhir dari ucapannya ketika meninggal dunia, karena kalimah syahadat dapat menghapus semua dosa sebelumnya serta menjadi penyebab baginya untuk masuk ke dalam surga.
Akan tetapi, dimakruhkan memperbanyak talqin ini terhadap orang yang sedang sakratul maut, agar seseorang berkenaan tidak terganggu dan tidak merasa
sempit.

Adapun talqin sesudah mengkebumikan jenazah dan dilakukan di atas kuburan, maka itu masih dipertikai oleh ulama. Menurut Imam Ahmad, itu tidak
disyariatkan, namun menurut Imam Malik, itu makruh karena ia belum pernah
dilakukan oleh ulama Madinah. Sedangkan menurut Imam al-Syafi’i dan Imam
Abu Hanifah, itu disunnahkan karena berdalilkan kepada hadis-hadis dha’if yang menerangkan masalah ini, seperti mana hadis yang diceritakan oleh Abu Umamah
(r.a).

FIQH HADITS :

1. Galakan memperbanyak zikir kalimah ” لا إله إلا الله ” lebih-lebih lagi di hadapan orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut, karena itu dapat menyebabkannya memperoleh kebahagiaan yang abadi.

2. Orang lain selain kaum muslimin tidak boleh diajarkan talqin tersebut,
tetapi mereka hendaklah disuruh masuk Islam terlebih dahulu apabila nyawa mereka belum sampai tenggorokan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi (s.a.w) terhadap bapak saudaranya, Abu Talib. Nabi (s.a.w) menawarkannya supaya masuk Islam ketika dia sedang menghadapi kematiannya, dan baginda pernah melakukan hal yang sama kepada seorang pembantunya yang masih berstatus kafir dzimmi. Ketika itu si pembantu sakit parah yang membawa kematian, lalu Nabi (s.a.w) datang melawat dan menawarkannya supaya masuk Islam. Si pembantu itu menerima tawaran Nabi (s.a.w) dan dia masuk Islam. Dia akhirnya selamat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 88 : TANDA-TANDA SAKRATUL MAUT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 88 :

وَعَنْ بُرَيْدَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اَلْمُؤْمِنُ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ ) رَوَاهُ الثَّلَاثَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

Dari Buraidah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang yang beriman itu mati dengan peluh di dahi.” Riwayat Imam Tiga. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menggambarkan cara mati yang dialami oleh orang mukmin. Baginda menjelaskan bahwa rasa sakit yang dialaminya adalah untuk membersihkan dosa-dosanya dan menaikkan lagi derajat pahalanya. Ketika dia sedang dalam
keadaan nazak mengalami rasa sakit yang tidak terperikan, hingga keningnya
berpeluh dan keluarlah roh dari dalam tubuhya. Maksud dalam hadis ini dapat
ditafsirkan bahwa ia merupakan gambaran tentang keadaan seorang mukmin
ketika mencari rezeki halal dan sabar menanggung semua beban dan resiko ketika mencarinya hingga keningnya berpeluh karena kerja keras yang dicurahkannya.

Di samping itu, dia tetap menjalankan amal ibadah kepada Allah (s.w.t). Tiada
sesuatu apapun yang dapat memalingkannya dari Allah, baik perniagaan maupun jual beli. Dari sini, maksud hadis ini ialah menggambarkan tentang keadaan seorang mukmin yang berusaha dan taat, kemudian maut datang menjemputnya secara tiba-tiba.

FIQH HADITS :

Maut dan sakratul mautnya, hidup dan seluruh jerih payahnya merupakan
penderitaan yang menyebabkan kening seseorang beriman berpeluh ketika
menghembuskan nafas yang terakhir. Semoga Allah menolong kita dalam
kehidupan ini dan menetapkan hati kita dalam keimanan ketika berhadapan dengan sakratul maut.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 87 : LARANGAN MEMINTA MATI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 87 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ اَلْمَوْتَ لِضُرٍّ يَنْزِلُ بِهِ, فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ: اَللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الحَيَاةُ خَيْرًا لِي, وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الوَفَاةُ خَيْرًا لِي ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu menginginkan mati karena kesusahan yang menimpanya, bila ia benar-benar menginginkannya hendaknya ia berdoa: Ya Allah hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku jika sekiranya itu lebih baik bagiku.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Seseorang yang mengharapkan segera mati bererti tidak sabar dan tidak reda
dengan apa yang telah ditakdirkan untuk dirinya. Oleh itu, Nabi (s.a.w) melarang
seseorang mengharapkan mati lantaran ditimpa musibah, dugaan, perasaan takut
terhadap musuh atau karena sakit dan lain-lain sebagainya.

Nabi (s.a.w) mengajarkan seseorang yang mendapat musibah besar hingga
membuat hatinya merasa sempit supaya memohon perlindungan kepada Allah
(s.w.t) dengan berdo’a sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Do’a tersebut
menunjukkan pasrah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah dan ridha dengan
qadha serta takdir-Nya.

Jika seseorang ingin mati lantaran merasa kawatir ditimpa fitnah dalam agamanya, maka itu tidak dilarang sebagaimana yang telah ditegaskan oleh hadis berikut ini:

إذا أردت بعبادك فتنة فاقبضني إليك غير مفتون

“Jika Engkau ingin menimpakan satu fitnah ke atas hamba-hamba-Mu, maka cabutlah nyawaku, sehingga aku menghadap kepada-Mu dalam keadaan tidak terfitnah.”

Dibolehkan mengharapkan mati demi memperoleh ganjaran pahala syahid.
Hal ini dianjurkan oleh syariat sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ulama salaf. Demikian pula apabila seseorang mengharapkan mati karena merasa kawatir kehormatannya diinjak-injak, maka dibolehkan baginya mengharapkan mati. Allah (s.w.t) berfirman menceritakan keluhan Maryam (a.s):

….يا بني مت قبل هذا… (٢٣)

“… Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini…” (Surah Maryam: 23)

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa rahsia adanya ikatan dalam larangan
hadis ini, yaitu “karena musibah yang menimpanya.”

FIQH HADITS :

1. Dilarang mengharapkan mati lantaran ditimpa musibah, dugaan, takut terhadap musuh, sakit atau karena miskin, mengingat ini menunjukkan sikap tidak sabar dan tidak reda dengan takdir yang telah ditentukan oleh Allah.

2. Dianjurkan berserah diri kepada Allah (s.w.t) dalam setiap urusan.

3. Seorang hamba dianjurkan memilih do’a yang lebih baik.

4. Boleh mengharapkan mati, namun bukan karena mudarat yang menimpa
diri seseorang, melainkan karena adanya tujuan-tujuan yang dibolehkan oleh syariat Islam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 86 : ANJURAN MENGIT KEMATIAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 86 :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ: اَلْمَوْتِ ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perbanyaklah menyebut pelebur kenikmatan, yaitu : mati.” Riwayat Tirmidzi dan Nasa’i, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Manusia dianjurkan untuk tidak melupakan Allah, karena mengingat Allah
merupakan benteng yang paling kuat dalam kehidupan ini. Mereka juga
dinasihatkan untuk tidak melupakan pelajaran paling besar, yaitu mengingat
kematian. Dengan mengingat kematian akan timbul perasaan zuhud terhadap
perkara duniawi, menghapus dosa-dosa dan seseorang merasa reda dengan
kehidupannya. Apabila seseorang sedang berada dalam keadaan sukar, maka
dengan mengingat kematian dapat menghibur hatinya. Jika dia sedang berada dalam keadaan lapang, maka dengan mengingat kematian akan membuatnya merasa sempit. Mengingat kematian dapat memutuskan semua kesenangan, cukuplah mati sebagai pelajaran dan al-Qur’an sebagai pengingat.

FIQH HADITS :

Manusia dianjurkan untuk tidak melupakan mati, karena mengingat kematian ini
merupakan pelajaran yang paling berharga. Jika seseorang mengingatnya pada waktu kaya, maka itu membuatnya zuhud terhadap duniawi. Jika mengingatnya pada waktu miskin, maka itu membuatnya reda dengan kehidupannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..