Arsip Kategori: D. KITAB ZAKAT (IBANAH AL-AHKAM)

HADITD KE 146 : NISHABNYA HEWAN TERNAK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 146 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ أَبَا بَكْرٍ اَلصِّدِّيقَ رضي الله عنه كَتَبَ لَه ُ ( هَذِهِ فَرِيضَةُ اَلصَّدَقَةِ اَلَّتِي فَرَضَهَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى اَلْمُسْلِمِينَ, وَاَلَّتِي أَمَرَ اَلله بِهَا رَسُولَه ُ فِي أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنَ اَلْإِبِلِ فَمَا دُونَهَا اَلْغَنَم ُ فِي كُلِّ خَمْسٍ شَاةٌ, فَإِذَا بَلَغَتْ خَمْسًا وَعِشْرِينَ إِلَى خَمْسٍ وَثَلَاثِينَ فَفِيهَا بِنْتُ مَخَاضٍ أُنْثَى فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فَابْنُ لَبُونٍ ذَكَر ٍ فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ إِلَى خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ فَفِيهَا بِنْتُ لَبُون ٍ أُنْثَى, فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَأَرْبَعِينَ إِلَى سِتِّينَ فَفِيهَا حِقَّةٌ طَرُوقَةُ اَلْجَمَل ِ فَإِذَا بَلَغَتْ وَاحِدَةً وَسِتِّينَ إِلَى خَمْسٍ وَسَبْعِينَ فَفِيهَا جَذَعَة ٌ فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَسَبْعِينَ إِلَى تِسْعِينَ فَفِيهَا بِنْتَا لَبُونٍ, فَإِذَا بَلَغَتْ إِحْدَى وَتِسْعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِيهَا حِقَّتَانِ طَرُوقَتَا اَلْجَمَلِ, فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ, وَفِي كُلِّ خَمْسِينَ حِقَّةٌ, وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ إِلَّا أَرْبَعٌ مِنَ اَلْإِبِلِ فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا وَفِي صَدَقَةِ اَلْغَنَمِ سَائِمَتِهَا إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةِ شَاة ٍ شَاةٌ, فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ إِلَى مِائَتَيْنِ فَفِيهَا شَاتَانِ, فَإِذَا زَادَتْ عَلَى مِائَتَيْنِ إِلَى ثَلَاثمِائَةٍ فَفِيهَا ثَلَاثُ شِيَاه ٍ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى ثَلَاثِمِائَةٍ فَفِي كُلِّ مِائَةٍ شَاةٌ، فَإِذَا كَانَتْ سَائِمَةُ اَلرَّجُلِ نَاقِصَةً مِنْ أَرْبَعِينَ شَاة ٍ شَاةً وَاحِدَةً فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ, إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا. وَلَا يُجْمَعُ بَيْنَ مُتَفَرِّقٍ وَلَا يُفَرَّقُ بَيْنَ مُجْتَمِعٍ خَشْيَةَ اَلصَّدَقَةِ, وَمَا كَانَ مِنْ خَلِيطَيْنِ فَإِنَّهُمَا يَتَرَاجَعَانِ بَيْنَهُمَا بِالسَّوِيَّةِ, وَلَا يُخْرَجُ فِي اَلصَّدَقَةِ هَرِمَة ٌ وَلَا ذَاتُ عَوَارٍ, إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اَلْمُصَّدِّقُ، وَفِي اَلرِّقَة ِ رُبُعُ اَلْعُشْرِ, فَإِنْ لَمْ تَكُن ْ إِلَّا تِسْعِينَ وَمِائَةً فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا, وَمَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ مِنَ اَلْإِبِلِ صَدَقَةُ اَلْجَذَعَةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ جَذَعَةٌ وَعِنْدَهُ حِقَّةٌ, فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ اَلْحِقَّةُ, وَيَجْعَلُ مَعَهَا شَاتَيْنِ إِنِ اِسْتَيْسَرَتَا لَهُ, أَوْ عِشْرِينَ دِرْهَمًا, وَمَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ صَدَقَةُ اَلْحِقَّةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ اَلْحِقَّةُ, وَعِنْدَهُ اَلْجَذَعَةُ, فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ اَلْجَذَعَةُ, وَيُعْطِيهِ اَلْمُصَّدِّقُ عِشْرِينَ دِرْهَمًا أَوْ شَاتَيْنِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيّ

Dari Anas bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq Radliyallaahu ‘anhu menulis surat kepadanya: Ini adalah kewajiban zakat yang diwajibkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam atas kaum muslimin. Yang diperintahkan Allah atas rasul-Nya ialah setiap 24 ekor unta ke bawah wajib mengeluarkan kambing, yaitu setiap kelipatan lima ekor unta zakatnya seekor kambing. Jika mencapai 25 hingga 35 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun kedua, jika tidak ada zakatnya seekor anak unta jantan yang umurnya telah menginjak tahun ketiga. Jika mencapai 36 hingga 45 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun ketiga. Jika mencapai 46 hingga 60 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah masuk tahun keempat dan bisa dikawini unta jantan. Jika mencapai 61 hingga 75 ekor unta, zakatnya seekor unta betina yang umurnya telah masuk tahun kelima. Jika mencapai 79 hingga 90 ekor unta, zakatnya dua ekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun kedua. Jika mencapai 91 hingga 120 ekor unta, maka setiap 40 ekor zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya masuk tahun ketiga dan setiap 50 ekor zakatnya seekor unta betina yang umurnya masuk tahun keempat. Bagi yang hanya memiliki 4 ekor unta, tidak wajib atasnya zakat kecuali bila pemiliknya menginginkan. Mengenai zakat kambing yang dilepas mencari makan sendiri, jika mencapai 40 hingga 120 ekor kambing, zakatnya seekor kambing. Jika lebih dari 120 hingga 200 ekor kambing, zakatnya dua ekor kambing. Jika lebih dari 200 hingga 300 kambing, zakatnya tiga ekor kambing. Jika lebih dari 300 ekor kambing, maka setiap 100 ekor zakatnya seekor kambing. Apabila jumlah kambing yang dilepas mencari makan sendiri kurang dari 40 ekor, maka tidak wajib atasnya zakat kecuali jika pemiliknya menginginkan. Tidak boleh dikumpulkan antara hewan-hewan ternak terpisah dan tidak boleh dipisahkan antara hewan-hewan ternak yang terkumpul karena takut mengeluarkan zakat. Hewan ternak kumpulan dari dua orang, pada waktu zakat harus kembali dibagi rata antara keduanya. Tidak boleh dikeluarkan untuk zakat hewan yang tua dan yang cacat, dan tidak boleh dikeluarkan yang jantan kecuali jika pemiliknya menghendaki. Tentang zakat perak, setiap 200 dirham zakatnya seperempatnya (2 1/2%). Jika hanya 190 dirham, tidak wajib atasnya zakat kecuali bila pemiliknya menghendaki. Barangsiapa yang jumlah untanya telah wajib mengeluarkan seekor unta betina yang seumurnya masuk tahun kelima, padahal ia tidak memilikinya dan ia memiliki unta betina yang umurnya masuk tahun keempat, maka ia boleh mengeluarkannya ditambah dua ekor kambing jika tidak keberatan, atau 20 dirham. Barangsiapa yang sudah wajib mengeluarkan seekor anak unta betina yang umurnya masuk tahun keempat, padahal ia tidak memilikinya dan ia memiliki unta betina yang umurnya masuk tahun kelima, maka ia boleh mengeluarkannya ditambah 20 dirham atau dua ekor kambing. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) di dalam kitab-Nya telah menyebutkan sejumlah hukum syariat
yang penjelasannya bersifat umum, sedangkan perincian hukumnya diserahkan kepada Nabi (s.a.w). Dengan demikian, kedudukan Sunnah untuk menjelaskan dan mentafsirkan al-Qur’an, sebagaimana yang diungkapkan oleh firman-Nya:

“… Dan Kami menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an agar engkau menjelaskan kepada manusia hukum-hukum yang diturunkan kepada mereka…” (Surah al-Nahl: 44).

Nabi (s.a.w) menjelaskan maksud Allah yang terdapat di dalam kitab-Nya melalui Sunnahnya, baik secara lisan, perbuatan, pengakuan, maupun tulisan. Hadis ini merupakan surat Nabi (s.a.w) yang pernah ditujukan kepada Amr ibn Hazm, lalu dikutip oleh para khalifahnya yang ditujukan kepada amil-amil mereka. Dalam surat ini disebutkan penjelasan mengenai jumlah zakat yang waijb dikeluarkan, batasan nisab zakat, dan usia hewan yang wajib dikeluarkan sebagai zakat. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik kepada Nabi kita atas nama Islam dan kaum muslimin, demikian pula kepada para khalifahnya.

Merekalah yang memelihara khzanah ilmiah paling berharga ini, lalu mereka menukilnya untuk disampaikan kepada umat Islam dengan penuh kejujuran dan kepercayaan.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengutus amil untuk mengutip zakat.

2. Dibolehkan mengambil unta ibnu labun apabila tidak ada bint al-makhadh.

3. Khithob ditujukan kepada pemilik harta dan petugas zakat, dimana mereka diperintahkan untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang berkaitan dengan penyatuan dan pemisahan ternakan karena kawatir
dikenakan kewajiban zakat. Pemilik harta kawatir dikenakan kewajiban zakat yang lebih banyak dan oleh kerananya, dia melakukan penyatuan atau pemisahan supaya zakatnya menjadi sedikit. Sedangkan petugas
zakat kawatir apabila kutipan zakat yang diperolehinya sedikit dan oleh karenanya, dia melakukan penyatuan ataupun pemisahan supaya zakat menjadi lebih banyak.

4. Dua orang yang berkerjasama dalam suatu hewan ternak boleh dianggap sebagai satu orang pemilik. Jika pertugas zakat mengambil zakat dari salah satu diantara mereka, maka pihak yang membayar zakat merujuk kepada rekan kerjanya untuk mengambil harga zakat yang
semestinya dia bayar.

5. Petugas zakat dibolehkan berijtihad untuk memilih mana yang lebih mendatangkan maslahat bagi kaum fakir miskin, karena kedudukannya sama dengan wakil sehingga dia terikat oleh kemaslahatan mereka.

6. Menjelaskan barang-barang yang tidak boleh diambil oleh petugas zakat
kecuali dengan keridaan dari pemilik harta, misalnya kambing pejantan, mengingat pemiliknya amat memerlukannya.

7. Menjelaskan barang-barang yang tidak boleh diterima sebagai zakat, misalnya ternak yang sudah tua, sakit, berkudis dan haiwan buta.

8. Petugas zakat diwajibkan menerima barang yang lebih rendah nilainya
daripada wajib zakat dan mengambil perbedaan harga mengikut jenis yang
tidak wajib dikeluarkan zakatnya.

9. Petugas zakat diwajibkan menerima barang yang lebih tinggi nilainya daripada zakat yang benar, dan dia harus membayar perbedaan harga itu kepada si pemilik harta, sekalipun bukan dari jenis yang wajib
dikeluarkan zakat.

10. Menjelaskan nisab sebagian harta yang wajib dikeluarkan zakat, misalnya ternakan unta, ternakan kambing dan perak. Manakala jenis yang lain akan diterangkan kemudian.

11. Harta yang jumlahnya kurang dari nisab tidak wajib dikeluarkan zakatnya, tetapi apabila pemilik harta secara suka rela mengeluarkannya, maka petugas zakat boleh menerimanya dan dianggap sebagai sedekah sunat dari pemiliknya.

12. Gembalaan merupakan syarat utama wajib zakat bagi ternakan kambing menurut pendapat jumhur ulama, tetapi Imam Malik tidak mensyaratkannya.

13. Peringatan terhadap orang yang melakukan tipu muslihat yang bertujuan untuk menghindari kewajipan berzakat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 145 : ZAKAT UNTUK FAKIR MISKIN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 145 :

عَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَلله عَنْهُمَا: ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَ مُعَاذًا رضي الله عنه إِلَى اَلْيَمَنِ ) فَذَكَرَ اَلْحَدِيثَ, وَفِيهِ: ( أَنَّ الله قَدِ اِفْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ, تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ, فَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ ِ

Dari Ibnu Abbas r. bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengutus Mu’adz ke negeri Yaman –ia meneruskan hadits itu– dan didalamnya (beliau bersabda): “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan mereka zakat dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) mengutus Mu’adz ke negeri Yaman pada akhir tahun ke-9 Hijriah ketika baginda kembali pulang dari medan Perang Tabuk. Mu’adz (r.a) diberi tugas untuk menjadi gubernur kepada penduduk negeri Yaman sekaligus mengajarkan al-Qur’an, hukum-hukum Islam, memutuskan sengketa yang terjadi diantara
mereka dan mengutip zakat.

Nabi (s.a.w) telah membekalinya dengan arahan dan nasehat yang diperlukan ketika menjalankan tugas itu. Baginda menyuruhnya bahwa langkah pertama yang mesti dilakukan menganjurkan mereka mengucapkan dua kalimah syahadat, karena dua kalimah syahadat merupakan pokok utama yang boleh mengeluarkan
seorang mukallaf dari belenggu kemusyrikan dan masuk ke dalam naungan Islam. Jika mereka menerimanya dengan baik, maka hendaklah dia mengajarkan fardu-fardu agama dan tiangnya yang pertama, yaitu sholat fardu; kemudian zakat yang dibebankan kepada kaum hartawan untuk kemudian diberikan kepada kaum fakir miskin, karena zakat merupakan hak Allah yang terdapat di dalam harta kaum hartawan, lalu dialihkan kepada orang yang berhak menerimanya dari kalangan kaum fakir miskin muslim. Nabi (s.a.w) mengingatkan gubernur dan hakim ini supaya berhati-hati dengan do’a orang yang dianiaya dan menyuruh mengelak daripada berbuat zalim dengan cara menjauhi faktor-faktor yang boleh mengakibatkannya. Hendaklah seseorang tidak berbuat aniaya terhadap orang lain yang berada di bawah kekuasaannya, baik ke atas diri mereka seperti menyakiti ataupun ke atas harta mereka dengan cara
mengambil zakat dari harta dan hewan ternakan kesayangan mereka. Ini bisa
menyebabkan dada bergejolak dan lisan pun bergerak untuk mengucapkan do’a-do’a panas yang keluar dari dalam lubuk hati. Do’a itu naik ke langit dan menembus semua lapisannya tanpa ada sesuatu pun yang menghalanginya. Kemudian Allah
mengabulkannya dengan penuh ridha bagi orang yang berdo’a itu. Ini siksaan yang dikenakan ke atas orang yang berbuat aniaya.

FIQH HADITS :

1. Memulai (dakwah) dengan menyampaikan rukun agama dan syiar Islam yang paling penting.

2. Bersikap lemah lembut dalam berdakwah dan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan yang lebih penting; setiap tahapan hendaklah disampaikan hingga tuntas, lalu berpindah ke tahapan yang berikutnya.

3. Mengajak orang kafir untuk masuk Islam sebelum memerangi mereka dan
mereka dikatakan sebagai orang Islam apabila mengucapkan dua kalimah
syahadat.

4. Inti Islam ialah mengakui keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad (s.a.w).

5. Sholat lima waktu sehari semalam adalah fardu.

6. Zakat merupakan salah satu kewajipan Islam dan pemimpin yang wajib mengatur kutipannya dengan cara dia sendiri yang terjun langsung untuk mengutipnya atau menyuruh orang lain menjalankan tugas itu sebagai wakilnya.

7. Mengutus para amil untuk mengutip zakat.

8. Zakat tidak wajib dibagikan kepada seluruh delapan golongan yang wajib menerima zakat dan pemimpin boleh memberikannya hanya kepada satu golongan saja. Pendapat ini berlandaskan kepada sabda Nabi
(s.a.w): “Lalu diagihkan kepada orang fakir di kalangan mereka.” Ini karena Rasulullah (s.a.w) disini hanya menyebutkan satu golongan saja. Imam Abu Hanifah, murid-muridnya dan Imam Ahmad mengatakan bahwa disunatkan meratakan pembagian bagi delapan golongan ini selagi
itu memungkinkan dan boleh memberikannya hanya kepada sebagian diantara mereka, meskipun hanya satu orang. Imam Malik berkata: “Pemberian zakat diutamakan bagi orang yang paling memerlukannya, lalu orang yang di bawahnya dan tidak perlu pemerataan.” Menurut pendapat yang muktamad di kalangan mazhab al-Syafi’i disebutkan bahwa wajib
dibagikan secara merata jika pemimpin yang membagikannya, begitu pula jika pemiliknya sendiri yang membagikannya, sedangkan jumlah penerima zakat terbatas.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..