Arsip Kategori: KAJIAN HADITS

Kajian Hadits disini adalah kajian kitab Hadits Ibanatuh Al-Ahkam Karya  ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

HADITS KE 99 : CARA MERAWAT JENAZAH ORANG MUNAFIK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 99 :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: ( لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ جَاء اِبْنُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم . فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ, فَأَعْطَاه إيَّاهُ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِِ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa ketika Abdullah Ibnu Ubay wafat, puteranya datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Berikan baju baginda padaku untuk mengkafaninya. Lalu beliau memberikan kepadanya. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) sentiasa bersikap kasih sayang untuk menjinakkan hati orang lain agar mau menerima ajarannya, gemar memberikan imbalan kepada orang yang pernah berbuat kebaikan dan tidak pernah menolak orang yang meminta sesuatu kepadanya.

Ketika Abdullah ibn Ubay, tokoh munafiq terkemuka meninggal dunia, anak laki-lakinya datang menghadap Rasulullah (s.a.w) untuk meminta baju gamisnya. Baju gamis Rasulullah (s.a.w) itu kelak akan dia gunakan untuk mengkafankan ayahnya karena dia meyakini itu dapat meringankan siksa neraka bagi ayahnya dan menolak siksa kuburnya. Lalu Rasulullah (s.a.w) memberikan apa yang dipintanya karena menghormati kedudukan anaknya yang telah berbuat baik di dalam Islam dan untuk melunakkan hati kaumnya sekaligus membalas kebaikan yang pernah dilakukan oleh ayahnya terhadap bapak saudara Nabi (s.a.w) (al-Abbas r.a) ketika ditawan di Badar. Pada saat itu bapak saudara Nabi (s.a.w) tidak memakai baju gamis, kemudian Ibn Ubay memberikan baju gamis kepadanya. Dengan demikian, Nabi (s.a.w) telah membalas jasa kebaikan yang pernah dilakukan Ibn Ubay terhadap bapak saudaranya sebagai bakti seorang anak terhadap bapak saudaranya.

FIQH HADITS :

1. Akhlak Rasulullah (s.a.w) yang mulia dan sifat dermawannya dimana baginda tidak pernah menolak orang yang pernah meminta kepadanya.

2. Orang munafik tetap diperlakukan hukum-hakum Islam ke atas dirinya
karena memandangnya berdasarkan dzahir semata, seperti memandikan,
mengkafankan dan mengkebumikan jenazahnya hendaklah mengikut
hukum Islam.

3. Disyariatkan melawat mayat dan memberitakan kematiannya.

4. Boleh meminta pakaian-pakaian orang sholeh untuk mengambil barokah
darinya, sekalipun si peminta adalah orang yang berkemampuan.

5. Disyariatkan mengafankan mayat dengan baju gamis. Keutamaan Abdullah ibn Abdullah ibn Ubay, karena Rasulullah (s.a.w) telah memperkenankan permintaannya dan memberikan baju gamis kepadanya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 98 : BATASAN MENGKAFANI JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 98 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كُفِّنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ, لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ. ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dikafani dengan tiga kain putih bersih dari kapas, tanpa ada baju dan surban padanya. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Kain kafan disyariatkan untuk menutupi aurat si mayat dan memperindah
penampilannya. Batas minimum ukuran kain kafan adalah yang dapat menutup
aurat. Jika tidak ada kain kafan, kecuali kain yang hanya dapat menutupi aurat,
maka itu pun sudah dianggap memadai. Jika ada kain kafan yang lebih lebar,
maka bagian kepala si mayat harus ditutup, dan bagian kakinya dibubuhi
rerumputan atau yang sejenisnya, seperti yang pernah dilakukan terhadap Mush’ab
bin ‘Umair.

Sedangkan yang paling sempurna adalah seperti kain kafan. yang dipakai
untuk mengkafankan Rasulullah (s.a.w) ketika meninggal dunia, yaitu tiga helai
kain putih yang dipakaikan berlapis-lapis antara satu sama lain.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan mengkafankan jenazah dengan kain putih.

2. Disunatkan bagi jenazah laki-laki dikafankan dengan tiga helai kain yang
menutupi seluruh tubuhnya. Ini merupakan cara yang paling sempurna.

Namun menurut cara yang minimum sekedar menutupi semua auratnya
dan itu sudah mencukupi. Imam al-Syafi’i berkata: “Di dalam kain kafan
disunatkan tidak terdapat gamis dan surban.” Imam Ahmad berkata:

“Disunatkan mengkafankan mayat dengan tiga helai kain, dan makruh melebihi tiga helai kain karena berlandaskan kepada makna dzahir hadis ini. Jika jenazah dikafankan dengan memakai baju gamis yang berlengan dan sehelai kain kafan, maka hukumnya boleh, tanpa makruh.”

Mazhab Maliki mengatakan bahwa disunatkan memakaikan kain, baju gamis, dan dua helai kain serta surban yang panjang ujung kainnya memadai satu asta, lalu dipakaikan pada wajah si mayat. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa disunatkan memakaikan kain sarung, baju gamis, dan satu helai kain. Ciri baju gamis itu ialah panjang dari kedua pundak hingga kedua telapak kaki, bagian bawah tidak dilonggarkan dan bagian tepi tidak dijahit, serta tidak berlengan. Sedangkan panjang sehelai kain dan sarung dari atas kepala hingga telapak kaki. Mazhab Hanafi menyanggah hadis Aisyah (r.a) bahwa beliau telah meniadakan baju gamis dan surban, karena beliau tidak melihat pengurusan jenazah sejak awal, sedangkan selain Aisyah (r.a) menetapkan adanya baju gamis, kain sarung serta surban. Ada pula kemungkinan baawa Aisyah (r.a) bermaksud baju gamis dan surban
tersebut selain tiga helai kain kafan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 97 : CARA MEMANDIKAN DAN MENGKAFANI JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 97 :

وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ نُغَسِّلُ ابْنَتَهُ، فَقَالَ: “اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا, أَوْ خَمْسًا, أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ, بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا, أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ”، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ, فَأَلْقَى إِلَيْنَا حِقْوَهُ.فَقَالَ: “أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ” ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: ( ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا ). وَفِي لَفْظٍ ِللْبُخَارِيِّ: ( فَضَفَّرْنَا شَعْرَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ, فَأَلْقَيْنَاهُ خَلْفَهَا )

Ummu Athiyyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam masuk ketika kami sedang memandikan jenazah puterinya, lalu beliau bersabda: “Mandikanlah tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu. Jika kamu pandang perlu pakailah air dan bidara, dan pada yang terakhir kali dengan kapur barus :kamfer) atau campuran dari kapur barus.” Ketika kami telah selesai, kami beritahukan beliau, lalu beliau memberikan kainnya pada kami seraya bersabda: “Bungkuslah ia dengan kain ini.” Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat: “Dahulukan bagian-bagian yang kanan dan tempat-tempat wudlu.” Dalam suatu lafadz menurut Bukhari: Lalu kami pintal rambutnya tiga pintalan dan kami letakkan di belakangnya.

MAKNA HADITS :

Para ulama berpedoman dengan hadis Ummu ‘Atiyyah dalam cara memandikan
mayat, karena dalam hadis ini Nabi (s.a.w) menjelaskan kepadanya bagaimana
cara memandikan mayat dan baginda sendiri yang memimpinnya sehingga ini
merupakan satu ketetapan darinya.
Untuk memandikan mayat ada dua cara. Pertama ialah cara minimum yaitu
dengan meratakan basuhan ke seluruh tubuh si mayat. Kedua ialah cara maksimum yaitu memandikannya dengan basuhan (siraman) dalam hitungan witir (ganjil), memberinya wangian, dan mulai membasuh anggota wuduk sebelah kanan, kemudian mengepangkan rambutnya menjadi tiga bagian.

FIQH HADITS :

1. Wajib memandikan mayat. Cara manimum ialah meratakan air pada seluruh tubuh si mayat. Sedangkan cara maksimum ialah memandikannya dalam
hitungan witir apabila dianggap mencukupi untuk menyucikannya dengan
mendahulukan anggota wuduk daripada yang lain untuk memuliakannya dan memelihara ghurrah dan tahjil bagi mayat.

2. Imam dikehendaki memberi nasihat kepada orang yang tidak memahami apa-
apa yang dialaminya serta menyerahkan pelaksanaannya kepada seseorang
apabila dia mampu mengerjakannya sendiri setelah mendapat petunjuk
dari imam atau imam sendiri yang memimpin pelaksanaannya.

3. Disunatkan memandikan jenazah dengan air yang dicampur daun bidara.

4. Disunatkan memakai kapur barus pada siraman kali yang terakhir, karena
bau kapur barus ini sangat wangi, bermanfaat untuk mengusir lalat dan
lain-lain dari jenazah, serta dapat mencegah pembusukan.

5. Disunatkan memulai memandikan mayat dari sebelah kanan.

6. Wanita lebih berhak memandikan mayat perempuan dari suaminya.
Jumhur ulama berpendapat bahwa seorang suami boleh memandikan
jenazah isterinya. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa suami tidak
boleh memandikannya, tetapi ulama telah bersepakat bahwa seorang isteri boleh memandikan jenazah suaminya.

7. Boleh mengkafankan seorang mayat wanita dengan pakaian lelaki.

8. Mengambil berkat dari pakaian-pakaian yang pernah dipakai oleh Rasulullah (s.a.w).

9. Disunatkan menyikat rambut jenazah wanita, lalu mengepangnya menjadi
tiga bagian dan meletakkan semua kepangan ke belakang tubuhnya.
Demikianlah menurut pendapat Imam Ahmad, Imam al-Syafi’i, dan mazhab
Malik. Sedangkan mazhab Hanafi mengatakan bahwa rambut jenazah
wanita tidak boleh disikat, tetapi hanya dikepang menjadi dua bagian, lalu diletakkan pada dadanya di luar baju gamisnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 95 : MENCAMPURKAN AIR DENGAN DAUN BIDARA UNTUK MEMANDIKAN JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 95 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ فِي الذِي سَقَطَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَاتَ: ( اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Mengenai orang yang terjatuh dari kendaraannya kemudian meninggal, mandikanlah ia dengan air dan bidara, dan kafankanlah dengan dua lapis kainnya.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Ibn Abbas (r.a) menceritakan bahwa ketika beliau bersama Nabi (s.a.w) sedang berwukuf di Arafah dan banyak orang yang di sekelilingnya, tiba-tiba ada seorang
lelaki jatuh dari atas kendaraannya, hingga lehernya patah dan meninggal dunia
seketika itu juga. Melihat itu, Rasulullah (s.a.w) menyuruh para sahabatnya
untuk memandikannya dan meletakkan daun bidara di dalam air mandinya serta
mengafaninya dengan kedua pakaian ihramnya. Ketika itu lelaki tersebut sedang berihram dan memakai pakaian ihram, iaitu kain dan selendang.

Nabi (s.a.w) melarang mereka meletakkan hanuth (bahan pengawet) dan menutupi kepalanya. Mereka harus membiarkannya dalam keadaan berpakaian ihram sebagaimana ketika dia mati, karena sesungguhnya kelak pada hari kiamat
dia akan dihimpun dalam keadaan berpakaian ihram sebagaimana keadaannya ketika dia meninggal dunia seraya mengucapkan: “لبيك اللهم لبيك”

FIQH HADITS :

1. Wajib memandikan mayat dan mengkafaninya.

2. Boleh memandikan mayat yang mati dalam keadaan berihram dengan daun bidara dan air karena berlandaskan kepada perintah Rasulullah (s.a.w) dalam hadis ini. Imam al-Syafi’i berkata: “Orang hidup yang sedang berihram dibolehkan mandi dengan air dan daun bidara.” Sedangkan menurut jumhur ulama, itu makruh.

3. Boleh mengkafankan mayat dengan dua pakaian, tetapi yang lebih afdhal ialah dengan tiga helai pakaian, yaitu tiga helai kain.

4. Ihram lelaki berkaitan dengan kepalanya, bukan dengan wajahnya.

5. Disunatkan mengkafankan mayat yang mati selagi berihram dengan pakaian ihramnya.

6. Orang yang sedang mengerjakan amal ibadah lalu dia mati ketika mengerjakannya dan amal ibadahnya itu belum sempat dia selesaikan, maka diharapkan kelak pada hari kiamat dihimpun bersama orang yang
rajin dalam amal ibadah itu.

7. Jika seseorang yang sedang ihram meninggal dunia, maka status ihramnya
masih tetap wujud pada dirinya. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengatakan bahwa haram menutup kepala mayat yang mati ketika sedang berihram, bagitu pula memberinya wangian, karena berlandaskan kepada hadis ini. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa menutup kepala dan memberinya wangian boleh dilakukan ke atasnya sama dengan apa yang diperlakukan ke atas orang yang mati dalam keadaan tidak berihram. Ketetapan ini berdasarkan qiyas, karena status ibadah telah terputus dengan hilangnya beban taklif, yaitu hidup. Mereka menyanggah hadis ini bahwa hal tersebut merupakan keistimewaan bagi lelaki yang mati sedang berihram pada zaman Rasulullah (s.a.w) itu saja. Ini kerana pemberitahuan baginda yang menyatakan bahwa lelaki itu kelak akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah (berihram) merupakan kesaksian baginda yang haji lelaki itu telah diterima dan status ini tidak dapat diperlakukan kepada orang lain.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 94 : TENTANG ARWAH ORANG YANG MASIH MEMPUNYAI BEBAN HUTANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 94 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( نَفْسُ المُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ, حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ruh orang mati itu tergantung dengan hutangnya sampai hutang itu dilunasi untuknya.” Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Hadits hasan menurut Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Hutang membuat seseorang tidak dapat tidur nyenyak pada waktu malam bari,
sedangkan waktu pada siang harinya merupakan kesusahan dan kesulitan yang selalu mengejar dirinya. Orang yang berakal akan berusaha dengan daya upaya untuk membebaskan diri dari berhutang.
Ini kerana si mayat terhambat oleh hutangnya sesudah dia mati dan hadis ini menjelaskan bahwa jiwa seorang mukmin tergantung pada hutangnya hingga tidak dapat mencapai kedudukan yang benar, sebelum hutangnya diselesaikan. Nabi
(s.a.w) tidak mau menyembahyangkan jenazah orang yang masih mempunyai
hutang, karena sholat jenazah merupakan do’a untuk si mayat, sedangkan do’a Nabi (s.a.w) dikabulkan, maka baginda tidak mau menyia-nyiakan hak-hak hamba Allah. Tetapi apabila ada seseorang yang mau menanggung hutang si mayat,
maka barulah Nabi (s.a.w) menyembahyangkannya.

Ini terjadi pada permulaan Islam, kemudian ketika Allah menganugerahkan banyak harta ghanimah, maka Nabi (s.a.w) tetap menyembahyangkan setiap
orang muslim yang meninggal dunia, dan baginda sendiri yang membayarkan hutangnya dari baitul mal, karena Nabi (s.a.w) adalah wali bagi orang yang tidak mempunyai wali. Inilah salah satu contoh kesempurnaan kasih sayang baginda
terhadap umatnya.

Selain itu hadis ini menyarankan supaya seseorang mengelakkan diri dari kebiasaan berhutang. Di dalam hadis tersebut disebutkan bahwa setiap dosa orang yang mati syahid diampuni, kecuali hutang. Jika itu berkaitan dengan hutang yang diambil melalui cara yang dibenarkan oleh syariat, lebih-lebih lagi hutang yang
diambil secara paksa dan merompak.

Ya Allah, semoga Engkau menyelesaikan hutang kami di dunia dan di akhirat.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan membebaskan diri dari hutang sebelum mati.

2. Mayat masih tetap disibukkan oleh hutangnya sebelum ada orang yang
menyelesaikannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 93 : BOLEH MENCIUM ORANG YANG TELAH WAFAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 93 :

وَعَنْهَا ( أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رضي الله عنه قَبَّلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ مَوْتِهِ ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Abu Bakar Radliyallaahu ‘anhu mencium Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah beliau wafat. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) memuliakan anak Adam dan menjadikan mayatnya pun suci. Allah

(s.w.t) berfirman:

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam…” (Surah al-Isra’: 70)

Oleh itu, dibolehkan mencium orang yang telah mati. Nabi (s.a.w) sendiri pernah mencium saudara sesusuannya, yaitu Utsman ibn Mazh’un ketika meninggal

dunia, sedangkan air mata baginda bercucuran. Abu Bakar (r.a) mencium Rasulullah (s.a.w) ketika baginda telah wafat. Cukuplah perbuatan Rasulullah (s.a.w) sebagai dalil dan hujah sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar (r.a). Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan itu tidak hanya khusus kepada Nabi (s.a.w) saja.

FIQH HADITS :

Boleh mencium orang yang telah meninggal dunia.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 92 : ANJURAN MENUTUPI MAYAT DENGAN KAIN SEBELUM DIMANDIKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 92 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: ( أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ بِبُرْدٍ حِبَرَةٍ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika wafat ditutup dengan kain bermotif dari Yaman. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Menutupi tubuh mayat sebelum dimandikan dengan selimut yang paling baik merupakan suatu perbuatan yang disunatkan. Hikmahnya ialah menjaga agar tubuhnya tidak terbuka dan menutupinya dari pandangan mata apabila terjadi perubahan.

Sesungguhnya menutupi tubuh mayat ini hanya dilakukan setelah menanggalkan semua pakaian si mayat dari tubuhnya, agar tubuh mayat tidak berubah dan mencegah agar tubuhnya tidak terkena kotoran yang keluar dari tubuhnya ketika sedang nazak dan ruhnya keluar.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menutupi tubuh mayat. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar
tubuhnya yang berubah tidak terbuka akibat proses kematiannya.

2. Disyariatkan menanggalkan pakaian yang dipakai oleh si mayat ketika dia
mati agar tubuhnya tidak berubah karena pakaian tersebut.

3. Disunatkan mengikat dagunya dengan kain yang agak lebar, dan melenturkan sendi-sendi tulangnya setelah rohnya keluar dengan cara menekukkan tangan ke lengannya, betis ke pahanya, dan paha ke perutnya, kemudian dikembalikan lagi kepada posisi semula agar mudah dimandikan, karena pada saat itu tubuh masih dalam keadaan hangat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 91 : MENDO’AKAN ORANG YANG LAGU SAKARATUL MAUT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 91 :

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى أَبِي سَلَمَةَ رضي الله عنه وَقَدْ شُقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ, ثُمَّ قَالَ: “إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ, اتَّبَعَهُ الْبَصَرُ” فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ, فَقَالَ: “لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ. فَإِنَّ المَلَائِكَةَ تُؤَمِّنُ عَلَى مَا تَقُولُونَ”. ثُمَّ قَالَ: “اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ, وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ, وَافْسِحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ, وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ, وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam masuk ke rumah Abu Salamah sewaktu matanya masih terbuka, lalu beliau memejamkan matanya. Kemudian berkata: “Sesungguhnya ruh itu bila dicabut maka pandangannya mengikutinya.” Maka menjeritlah orang-orang dari keluarganya, lalu beliau bersabda: “Janganlah kamu berdo’a untuk dirimu sendiri kecuali demi kebaikan, karena sesungguhnya malaikat itu mengamini apa yang kamu ucapkan.” Kemudian beliau berdo’a: “Ya Allah berilah ampunan kepada Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya ke tingkat orang-orang yang mendapat petunjuk, lapangkanlah baginya dalam kuburnya, terangilah dia didalamnya, dan berilah penggantinya dalam turunannya.” Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menjelaskan kepada orang yang hadir di hadapan orang yang sedang
dalam keadaan sakaratul maut supaya mereka segera memejamkan kedua mata
orang yang nazak setelah ruhnya dicabut. Baginda menjelaskan hikmahnya
bahwa pandangan mata itu melihat kepergian ruhnya dan mengikutinya. Oleh
itu, disunatkan segera memejamkan kedua mata si mayat agar penampilannya
tidak mengerikan. Nabi (s.a.w) menjelaskan kepada mereka bahwa antara etika yang dianjurkan untuk dilakukan pada saat itu ialah hendaklah mereka mendo’akan si mayat, keluarga dan orang yang ditinggalkannya, semoga agama dan dunia mereka tetap dalam keadaan baik, demikian pula urusan akhiratnya, karena do’a pada saat itu dikabulkan mengingat para malaikat yang bertugas mencabut nyawa
si mayat mengaminkannya. Do’a yang dibaca oleh Nabi (s.a.w) dalam hadis ini
menunjukkan adanya nikmat dan siksa kubur.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan memejamkan kedua mata mayat yang terbelalak.

2. Berdo’a untuk mayat dan keluarganya yang ditinggalkan dengan kebaikan

di dunia dan akhirat mereka.

3. Mayat adakalanya mengalami nikmat kubur dan siksa kubur.

4. Roh adalah tubuh yang tidak nampak oleh kasat mata dan menyatu dengan
tubuh. Jasad tidak dapat hidup lagi dengan kepergiannya, tetapi ruh bukanlah sesuatu seperti tubuh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 90 : ANJURAN MEMBACA YASIN TERHADAP ORANG YANG SAKARATUL MAUT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 90 :

وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

Dari Ma’qil Ibnu Yasar bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Bacakanlah surat Yasin atas orang yang hampir mati di antara kamu.” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Ketika al-Qur’an dibacakan, maka rahmat dan ketenangan diturunkan serta berkat
menyelimuti si pembaca beserta orang yang mendengarnya. Oleh itu, jika Surah Yasin dibacakan di hadapan orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut,
Allah memudahkannya menghadapi penderitaan nazak yang dahsyar itu. Surah Yasin secara khusus disebutkan di dalam hadis ini karena memiliki keistimewaan,
yaitu sebagai jantung al-Qur’an, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis yang lain dan jantung kepada sesuatu itu mempunyai rahasia yang khusus.

FIQH HADITS :

Keutamaan Surah Yasin dan sunat membacakannya di hadapan orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut. Hikmah membacakannya di hadapan orang yang sedang menjelang kematiannya ialah dia berada dalam keadaan hatinya lemah, sedangkan hatinya ketika sedang menghadap kepada Allah. Jika dibacakan kepadanya Surah Yasin, maka hatinya kembali menjadi kuat dan keyakinannya terhadap agama menjadi kuat kembali serta menjadi rindu dengan kisah tentang keadaan-keadaan pada hari kiamat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..