Arsip Kategori: KAJIAN HADITS

Kajian Hadits disini adalah kajian kitab Hadits Ibanatuh Al-Ahkam Karya  ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

HADITS KE 70 : DO’A DALAM SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 70 :

وَعَنْ أَنَسٍ ( أَنَّ عُمَرَ رضي الله عنه كَانَ إِذَا قَحِطُوا يَسْتَسْقِي بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ. وَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَسْقِي إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا, وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا، فَيُسْقَوْنَ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Anas bahwa Umar Radliyallaahu ‘anhu bila orang-orang ditimpa kemarau ia memohon hujan dengan tawasul (perantaraan Abbas Ibnu Abdul Mutholib. Ia berdoa: Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu memohon hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, lalu Engkau beri kami hujan, dan sekarang kami bertawasul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka berilah kami hujan. Lalu diturunkan hujan kepada mereka. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Pada masa Khalifah Umar ibn al-Khatthab (r.a), umat manusia pernah mengalami musim kemarau yang panjang pada tahun 18 Hijriah. Tahun tersebut dikenali dengan tahun al-Ramadah, hingga permukaan tanah nampak kering gersang
karena tidak ada hujan. Banyak orang mengadukan hal tersebut kepada Khalifah Umar, lalu beliau mengumpulkan semua sahabat Nabi (s.a.w). Orang yang mula-
mula dijemput hadir ialah al-Abbas ibn Abdul Mutthalib, bapak saudara Nabi (s.a.w), karena kedudukannya yang dihormati dan kedekatan pertalian kekerabatannya dengan Rasulullah (s.a.w). Kemudian Khalifah Umar bertawassul kepada Allah melalui bapak saudara Nabi (s.a.w) dengan harapan Dia menurunkan hujan kepada mereka. Lalu al-Abbas berdo’a, sedangkan orang yang berada di sekelilingnya mengaminkan do’anya.

Di dalam riwayat lain telah disebutkan bahwa al-Abbas (r.a) ber-tadharru’
memohon hujan kepada Allah pada hari itu. Beliau membaca doa berikut:

اللهم إنه لم ينزل بلاء إلا بذنب ولم يرفع إلا بتوبة. وهذه أيدينا إليك بالذنوب وتواصينا إليك بالتوبة فاسقنا الغيث.

“Ya Allah, sesungguhnya tidak ada malapetaka yang diturunkan melainkan karena perbuatan dosa, dan tidak ada cara lain yang mampu melenyapkannya melainkan dengan cara bertaubat. Sekarang inilah tangan-tangan kami menengadah kepada Engkau dengan semua dosa kami, dan kami kembali kepada-Mu dengan bertaubat. Maka siramilah kami dengan hujan.”

Seketika itu juga langit menjadi mendung dan turunlah hujan dengan lebat
bagaikan dicurah dari atas langit, hingga bumi menjadi subur kembali dan
kehidupan umat manusia pun berjalan lancar.

FIQH HADITS :

1. Meminta syafaat kepada Allah melalui orang sholeh dan orang alim serta ahli bait Nabi (s.a.w).

2. Keutamaan al-Abbas (r.a) dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah
karena do’anya dikabulkan oleh Allah (s.w.t).

3. Keutamaan Umar (r.a) karena beliau bersikap rendah diri terhadap al-Abbas dan mengetahui apa yang sepatutnya beliau lakukan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 69 : DO’A DALAM SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 69 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه ( أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الجُمُعَةِ, وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَائِمٌ يَخْطُبُ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ, هَلَكَتِ الأَمْوَالُ, وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ, فَادْعُ اللَّه] عَزَّ وَجَلَّ] يُغِيثُنَا, فَرَفَعَ يَدَيْهِ, ثُمَّ قَالَ: “اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا, اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا” ) فَذَكَرَ الحَدِيثَ، وَفِيهِ الدُّعَاءُ بِإِمْسَاكِهَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Anas bahwa ada seorang laki-laki masuk ke masjid pada hari Jum’at di saat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdiri memberikan khutbah, lalu orang itu berkata: Ya Rasulullah, harta benda telah binasa, jalan-jalan putus, maka berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan kita hujan. Lalu beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah turunkanlah hujan pada kami, ya Allah turunkanlah hujan kepada kami.” Lalu dia meneruskan hadits itu dan didalamnya ada doa agar Allah menahan awan itu. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Kedudukan Nabi (s.a.w) di sisi Allah sangat tinggi dan do’anya senantiasa dimakbulkan. Sepanjang hidupnya, kedudukan baginda di hati umat manusia sangatlah mulia. Pada suatu hari ada seorang Arab badawi mengadu kepadanya tentang musim kemarau yang membinasakan harta (ternakan) mereka dan begitu pula anak-anak mereka hidup dalam kesengsaraan karena sumber kehidupan mereka terganggu.

Ketika itu Nabi (s.a.w) berada di atas mimbar sedang berkhutbah. Tetapi keadaan ini tidak mencegah baginda untuk mendengarkan aduan lelaki badawi itu. Baginda mendengarkan dan memenuhi permintaannya yang didorong oleh perasaan kasih sayang yang sememangnya tabiat semula jadinya, sehingga Nabi (s.a.w) segera berdo’a memohon kepada Allah. Allah mengabulkan do’anya dan ketika itu juga turun hujan dengan lebatnya bagaikan dicurahkan dari atas langit secara berterusan tanpa henti selama satu minggu. Datang pula seorang lelaki badawi yang lain memohon agar hujan tersebut dihentikan karena kawatir akan menimbulkan kerusakan, banjir dan kemudaratan.
Nabi (s.a.w) berdo’a agar hujan ditahan dan airnya dipindahkan ke bukit-bukit serta dataran-dataran yang tinggi. Dalam hal ini Nabi (s.a.w) tidak memohon agar hujan dihentikan demi melestarikan nikmat. Kisah ini termasuk salah satu bukti kenabiannya, kasih sayangnya kepada umat dan betapa perhatian kepada kemaslahatan umum, tetapi tanpa melupakan etika terhadap Allah Tuhan semesta alam.

FIQH HADITS :

1. Boleh berbicara dengan imam ketika dia sedang berkhutbah apabila ada
keperluan penting, sebab khutbah tidak terputus karena adanya percakapan
yang penting diperlukan, misalnya menjawab pertanyaan seseorang.

2. Berdiri ketika berkhutbah.

3. Boleh bersuara keras di dalam masjid karena ada keperluan penting yang
mendorong untuk berbuat demikian.

4. Meminta dido’akan kepada orang alim dan orang sholeh ketika ditimpa
malapetaka dan mengulang-ulangi permintaan itu supaya dikabulkan.

5. Mengulang-ulangi do’a sebanyak tiga kali.

6. Memasukkan doa istisqa’ dan sholatnya di dalam khutbah Jum’at.

7. Tingginya kedudukan Rasulullah (s.a.w) di sisi Allah karena do’anya dikabulkan dengan seketika.

8. Kebijaksanaan Nabi (s.a.w) yang luar biasa karena baginda memenuhi
permintaan si penanya dengan perkara yang bakal mendatangkan
kemaslahatan.

9. Etika dalam berdo’a memandang Rasulullah (s.a.w) tidak berdo’a agar
hujan dihentikan secara mutlak, karena adanya kemungkinan bahwa kita masih memerlukannya. Oleh itu, dalam do’anya itu Nabi (s.a.w) mengecualikan jenis hujan yang dapat membuat mudarat (bahaya),
dan baginda meminta hujan yang membawa manfaat. Barang siapa yang telah dianugerahi suatu kenikmatan oleh Allah, maka tidak layak baginya membenci nikmat tersebut hanya karena suatu peristiwa yang menghambatnya, tetapi hendaklah dia meminta kepada Allah agar hambatan tersebut dilenyapkan dan nikmat tetap diturunkan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 68 : TATACARA DALAM SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 68 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( شَكَا اَلنَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قُحُوطَ الْمَطَرِ, فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ, فَوُضِعَ لَهُ فِي اَلْمُصَلَّى, وَوَعَدَ اَلنَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ, فَخَرَجَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ اَلشَّمْسِ, فَقَعَدَ عَلَى اَلْمِنْبَرِ, فَكَبَّرَ وَحَمِدَ اللَّهَ, ثُمَّ قَالَ: “إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدَبَ دِيَارِكُمْ, وَقَدْ أَمَرَكُمْ اللَّهُ أَنْ تَدْعُوَهُ, وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ, ثُمَّ قَالَ: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ” ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ, فَلَمْ يَزَلْ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ, ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ, وَقَلَبَ رِدَاءَهُ, وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ, ثُمَّ أَقْبِلَ عَلَى اَلنَّاسِ وَنَزَلَ, وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, فَأَنْشَأَ اللَّهُ سَحَابَةً, فَرَعَدَتْ, وَبَرَقَتْ, ثُمَّ أَمْطَرَتْ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَقَالَ: “غَرِيبٌ, وَإِسْنَادُهُ جَيِّدٌ”

وَقِصَّةُ التَّحْوِيلِ فِي “الصَّحِيحِ” مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ، وَفِيهِ: ( فَتَوَجَّهَ إِلَى اَلْقِبْلَةِ, يَدْعُو, ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ, جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ )

وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ مِنْ مُرْسَلِ أَبِي جَعْفَرٍ اَلْبَاقِرِ: وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ؛ لِيَتَحَوَّلَ الْقَحْطُ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu : Bahwa orang-orang mengadu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang tidak turunnya hujan. Beliau menyuruh mengambil mimbar dan meletakkannya di tempat sholat, lalu beliau menetapkan hari dimana orang-orang harus keluar. Beliau keluar ketika mulai tampak sinar matahari. Beliau duduk di atas mimbar, bertakbir dan memuji Allah, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian telah mengadukan kekeringan negerimu padahal Allah telah memerintahkan kalian agar berdoa kepada-Nya dan Dia berjanji akan mengabulkan doamu. Lalu beliau berdoa, segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang merajai hari pembalasan, tidak ada Tuhan selain Allah yang melakukan apa yang Ia kehendaki, ya Allah Engkaulah Allah tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahakaya dan kami orang-orang fakir, turunkanlah pada kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang lama.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya terus menerus hingga tampak warna putih kedua ketiaknya, lalu beliau masih membelakangi orang-orang dan membalikkan selendangnya dan beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap orang-orang dan turun, lalu sholat dua rakaat. Lalu Allah mengumpulkan awan, kemudian terjadi guntur dan kilat, lalu turun hujan. Riwayat Abu Dawud. Dia berkata: Hadits ini gharib dan sanadnya baik.

Mengenai kisah membalikkan selendang dalam shahih Bukhari dari hadits Abdullah Ibnu Zaid di dalamnya disebutkan: Lalu beliau menghadap kiblat dan berdoa, kemudian sholat dua rakaat dengan bacaan yang keras.

Menurut riwayat Daruquthni dari hadits mursal Abu Ja’far al-Baqir: Beliau membalikkan selendang itu agar musim kemarau berganti (dengan musim hujan).

MAKNA HADITS :

Sholat istisqa’ terdiri dari dua khutbah, do’a, menghadap ke arah kiblat, dan membalikkan kain selendang. Pelaksanaan sholatnya sama dengan sholat hari raya, yaitu terdiri dari dua rakaat dan setelah imam memberitahunya kepada orang banyak, hari di mana mereka akan mengerjakan sholat istisqa’ dengan tujuan mereka bersiap sedia untuk bertaubat, bersedekah dan mengembalikan hak-hak milik orang lain yang sebelum ini diambil dengan cara tidak betul.
Dua khutbah dilakukan sesudah mengerjakan sholat dan dimulai membaca istighfar disertai dengan do’a. Do’a dilakukan ketika menghadap ke arah kiblat pada akhir khutbah kedua. Hendaklah khatib berdo’a dengan bahasa yang dia inginkan, tetapi apa yang lebih utama ialah membaca do’a-do’a yang pernah diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w), seperti yang tercantum di dalam hadits ini.
Manakala tahwil atau membalikkan kain selendang hendaklah dilakukan
ketika khatib hendak turun dari atasmimbar. Cara membalikkan kain selendang ialah dengan membalikkan bagian tepi selendang yang sebelah kanan ke arah kiri dan sebaliknya. Hikmah membalikkan kain selendang ini ialah mengandung harapan yang baik dan sebagai isyarat permohonan semoga keadaan berubah menjadi lebih
baik. Ini seakan-akan dikatakan kepadanya: “Balikkanlah kain selendangmu agar keadaanmu berubah menjadi lebih baik!” Membalikkan kain selendang ini sunat dan bukannya fardu.

FIQH HADITS :

1. Merujuk kepada pemimpin ketika terjadi malapetaka.

2. Imam disyariatkan keluar dengan membawa semua anggota masyarakat
menuju padang untuk mengerjakan sholat istisqa’ dan menentukan harinya agar mereka bersiap sedia menyambutnya dengan terlebih dahulu membersihkan diri daripada perbuatan zalim dan dosa lain yang selama mereka lakukan, dan diharapkan mereka bertaubat terlebih dahulu.

3. Disunatkan keluar menuju tempat sholat istisqa’ pada permulaan siang hari.

4. Disunatkan melakukan khutbah di tempat yang tinggi dan memulainya
dengan membaca takbir, pujian, dan apa-apa yang ada kaitannya dengan istisqa’.

5. Dalam khutbah sholat istisqa’ dibolehkan mengulang-ulangi pujian.

6. Dianjurkan orang yang melakukan khutbah adalah orang yang dikenal
bersifat zuhud dan warak agar do’anya cepat dimakbulkan.

7. Imam disunatkan menghadap ke arah orang ramai ketika sedang
menyampaikan khutbah.

8. Disunatkan mengangkat kedua tangan setinggi yang mungkin ketika
berdo’a istisqa’ dengan menghadap ke arah kiblat. Adapun hadits yang
diriwayatkan dari Anas (r.a) yang menyatakan bahwa Nabi (s.a.w)
tidak pernah mengangkat kedua-dua tangannya ketika berdo’a kecuali
dalam do’a istisqa’, maka ini ditafsirkan bahwa apa yang dinafikan ialah
sifat kesungguhannya atau dengan kata lain tidak bersungguh-sungguh
mengangkat kedua tangannya. Ini karena telah disebutkan dalam beberapa
hadis yang menceritakan bahwa mengangkat kedua tangan ketika
berdo’a memang disyariatkan.

9. Imam boleh membalikkan tulang belakang ketika dia telah selesai berdo’a.

10. Disunatkan membalikkan kain selendang dengan niat ber-tafa’ul (beroptimis) agar keadaan dibalikkan menjadi lebih baik, menurut pendapat jumhur ulama. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa tidak boleh membalikkan kain selendang. Hal ini merupakan satu riwayat yang bersumber daripada Abu Yusuf, salah seorang murid Imam Abu Hanifah. Ulama berselisih
pendapat mengenai cara membalikkannya. Mazbab Maliki dan mazhab Hambali mengatakan bahwa bagian tepi yang sebelah kanan dibalikkan ke arah kiri, dan yang sebelah kiri dibalikkan ke arah kanan. Hal yang sama dikatakan pula oleh mazhab Imam al-Syafi’i. Mazhab Imam al-Syafii mengatakan bahwa itu dilakukan apabila kain selendangnya berbentuk bulat; jika kainnya berbentuk empat persegi panjang, maka cara membalikkannya ialah dengan menjadikan bagian atasnya ke arah bawah dan bagian bawahnya ke arah atas. Imam Muhammad dari mazhab Hanafi mengatakan bahwa imam membalikkan kain selendangnya dengan cara menjadikan bagian atasnya ke bagian bawah, sedangkan para makmum tidak dianjurkan berbuat demikian. Apabila kain selendangnya berbentuk bulat, maka bagian dalaman dikeluarkan, sedangkan bagian luar dimasukkan ke dalam.

11. Boleh melakukan khutbah sebelum sholat.

12. Disyariatkan menguatkan suara bacaan dalam sholat.

13. Khatib boleh tersenyum di atas mimbar karena kagum melihat banyak orang.

14. Menjelaskan kedudukan Rasulullah (s.a.w) yang mulia di sisi Allah, karena
do’anya dikabulkan dengan seketika.

15. Menjelaskan keadaan hadis dimana hadis ini boleh dijadikan sebagai
hujah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 67 : TATACARA SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 67 :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( خَرَجَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُتَوَاضِعًا, مُتَبَذِّلًا, مُتَخَشِّعًا, مُتَرَسِّلًا, مُتَضَرِّعًا, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, كَمَا يُصَلِّي فِي اَلْعِيدِ, لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَأَبُو عَوَانَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar dengan rendah diri, berpakaian sederhana, khusyu’, tenang, berdoa kepada Allah, lalu beliau sholat dua rakaat seperti pada sholat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti pada sholat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti khutbahmu ini. Riwayat Imam Lima dan dinilai shahih oleh Tirmidzi, Abu Awanah, dan Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Istisqa’ adalah meminta hujan kepada Allah (s.w.t) apabila terjadi kekeringan.
Penyebab terjadinya kekeringan dan kemarau yang panjang itu adalah manusia tidak mau berzakat dan sering curang dalam melakukan timbangan serta ukuran mereka. jika itu sudah terjadi, maka tidak ada cara lain untuk menghilangkannya kecuali dengan memohon perlindungan kepada Allah melalui berdo’a dan bertadharru’ kepada-Nya.

Pernah ada suatu kaum mengadu kepada Nabi (s.a.w) tentang kemarau panjang yang menimpa negeri mereka, lalu baginda bersabda kepada mereka:
“Duduklah di atas lutut kamu lalu berdoalah: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’.” Kemudian disyariatkan sholat istisqa’.

Jika Nabi (s.a.w) menghadapi suatu masalah besar, baginda segera melakukan sholat. Baginda pernah melakukan sholat untuk memohon hujan sebanyak dua
rakaat seperti halnya baginda melakukan sholat hari raya sebagai satu syariat bagi
umatnya. Adakalanya baginda tidak melakukan sholat, tetapi cukup dengan berdo’a di dalam khutbah Jum’at atau dalam kesempatan-kesempatan yang lain. Ini untuk menjelaskan bahwa cara itu juga dibolehkan.

Sesudah melakukan sholat istisqa’, baginda selalu menyampaikan khutbah untuk memberikan nasehat serta berdo’a kepada Allah (s.w.t). Khatib dianjurkan menggunakan lafadz do’a yang pernah dibaca oleh Nabi (s.a.w) ketika
meminta turun hujan, karena dengan cara ini diharapkan apa yang dipintanya
itu segera dikabulkan. Tetapi ada sebagian ulama yang tidak berkhutbah
ketika mengerjakan sholat istisqa, dan mereka mentafsirkan semua riwayat yang menceritakan masalah khutbah ini sebagai do’a semata-mata.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengerjakan sholat istisqa’. Cara mengerjakan sholat istisqa’
sama dengan mengerjakan sholat hari raya. Imam al-Syafi’i berkata: “Takbir
pada rakaat pertama dilakukan sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram,
sedangkan pada rakaat kedua dilakukan sebanyak lima kali selain takbir
berdiri. Imam Malik dan Imam Ahmad mengatakan bahwa tidak ada takbir
tambahan dalam sholat istisqa’ dan mereka mentafsirkan hadis ini dengan
mengatakan bahwa maksud menyamakan sholat istisqa’ dengan sholat hari raya ialah dalam bilangan rakaat, bacaan mesti dibaca dengan suara kuat dan sholat dilakukan sebelum menyampaikan khutbah. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa sholat istisqa’ tidak disyariatkan, sebaliknya apa yang disyariatkan adalah berdo’a memohon turun hujan.

2. Disyariatkan khutbah sesudah mengerjakan sholat. Jumhur ulama
mengatakan bahwa apa yang paling afdhal ialah mengakhirkan khutbah
sebagaimana dalam sholat hari raya. Namun jika khutbah didahulukan ke
atas sholat, maka khutbah dan sholat istisqa’ tetap dianggap sah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 66 : BIMBINGAN SHALAT KETIKA ADA MUSIBAH GEMPA BUMI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT GERHANA

HADITS KE 66 :

وَعَنْهُ: ( أَنَّهُ صَلَّى فِي زَلْزَلَةٍ سِتَّ رَكَعَاتٍ, وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ, وَقَالَ: هَكَذَا صَلَاةُ اَلْآيَاتِ ) رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ. وَذَكَرَ اَلشَّافِعِيُّ عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه مِثْلَهُ دُونَ آخِرِهِ

Dari dia (Ibnu Abbas) Radliyallaahu ‘anhu : Bahwa beliau sholat dengan enam ruku’ dan empat sujud ketika terjadi gempa bumi, dan beliau bersabda: “Beginilah cara sholat (jika terlihat) tanda kekuasaan Allah.” Diriwayatkan oleh Baihaqi. Syafi’i juga menyebut hadits seperti itu dari Ali Ibnu Abu Thalib namun tanpa kalimat akhirnya.

MAKNA HADITS :

Gempa bumi, gerhana matahari, gerhana bulan dan banjir menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah yang dengannya Allah ingin mengingatkan hamba-hambaNya mudah-mudahan mereka segara bertaubat kepada-Nya. Oleh itu, dianjurkan meminta pertolongan kepada Allah dengan cara mengerjakan sholat sebagaimana

yang dianjurkan di dalam firman-Nya:

ياأيها الذين أمنوا استعينوا بالصبر والصلوة (١٥٣)

“Hai orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu…” (Surah al-Baqarah: 153)

Jika Nabi (s.a.w) menghadapi suatu peristiwa besar, baginda segera melakukan sholat namun belum pernah dibuktikan dalam Sunnah bahwa baginda melakukan sholat secara berjemaah ketika sedang dilanda gempa bumi dan tidak menyeru orang banyak untuk turut sama melakukannya. Oleh itu, dianjurkan bahwa sholat itu dilakukan secara perseorangan sama halnya dengan sholat sunat yang lain. Apapun, Imam Ahmad mengatakan bahwa sholat karena ada gempa bumi dilakukan sama dengan sholat karena ada gerhana.

FIQH HADITS :

Disyariatkan mengerjakan sholat ketika melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, misalnya gempa bumi dan lain-lain yang dengannya Allah (s.w.t) ingin
mengingatkan hamba-Nya. Mazhab al-Syafi’i dan mazhab Hanafi mengatakan
bahwa sholat ini dikerjakan secara sendirian, bukan dengan cara berjemaah.

Mazhab Hanbali mengatakan bahwa tidak disunatkan mengerjakan sholat apabila melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, kecuali gempa bumi yang terjadi secara terus menerus. Sholat itu dikerjakan dengan tatacara yang sama dengan sholat gerhana.

Sejumlah ulama telah menukil dari Imam Ahmad bahwa disunahkan melakukan sholat apabila melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya, tanpa terkecuali.

Imam Malik berkata: “Makruh melakukan sholat karena melihat salah satu
dari tanda kekuasaan dari sekian tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, kecuali gerhana.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 65 : CARA SHALAT DAN DO’A KETIKA ADA BENCANA ANGIN TOPAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT GERHANA

HADITS KE 65 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( مَا هَبَّتْ رِيحٌ قَطُّ إِلَّا جَثَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى رُكْبَتَيْهِ, وَقَالَ: “اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً, وَلَا تَجْعَلَهَا عَذَابًا” ) رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ وَالطَّبَرَانِيُّ وَعَنْهُ: ( أَنَّهُ صَلَّى فِي زَلْزَلَةٍ سِتَّ رَكَعَاتٍ, وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ, وَقَالَ: هَكَذَا صَلَاةُ الْآيَاتِ ) رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ. وَذَكَرَ الشَّافِعِيُّ عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه مِثْلَهُ دُونَ آخِرِهِ

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Tidak berhembus angin sedikitpun kecuali Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berlutut di atas kedua lututnya, seraya berdoa: “Ya Allah jadikan ia rahmat dan jangan jadikan ia siksa.” Riwayat Syafi’i dan Thabrani. Dari dia Radliyallaahu ‘anhu : Bahwa beliau sholat dengan enam ruku’ dan empat sujud ketika terjadi gempa bumi, dan beliau bersabda: “Beginilah cara sholat (jika terlihat) tanda kekuasaan Allah.” Diriwayatkan oleh Baihaqi. Syafi’i juga menyebut hadits seperti itu dari Ali Ibnu Abu Thalib namun tanpa kalimat akhirnya.

MAKNA HADITS :

Angin datang bertiup dari sisi Allah dengan tunduk perintah-Nya. Adakalanya ia membawa rahmat dan adakalanya pula membawa adzab. Oleh itu, seorang yang berakal apabila ada angin bertiup kencang dianjurkan memohon perlindungan
kepada Allah (s.w.t) dengan berdo’a dan merendahkan diri kepada-Nya agar
diselamatkan dari malapetaka yang dibawanya dan memperoleh kebaikan
yang ada padanya. Dia tidak boleh memaki angin yang sedang bertiup kerana angin datang berdasarkan perintah Allah.

Jika ada angin kencang bertiup, Nabi (s.a.w) duduk sambil merapatkan kedua
lututnya. Cara duduk seperti ini menggambarkan keadaan orang yang sedang dilanda ketakutan dan merendah diri memohon perlindungan kepada Allah
(s.w.t). Baginda berbuat demikian karena kawatir terhadap umatnya yang senantiasa menyimpan sejuta kasih sayang kepada umatnya.

FIQH HADITS :

1. Rasulullah (s.a.w) senantiasa merasa takut kepada Allah.

2. Nabi (s.a.w) betapa sayang kepada umatnya dimana baginda senantiasa
memohonkan rahmat-Nya bagi mereka dan memohon supaya mereka diselamatkan daripada azab.

3. Menjelaskan do’a yang seharusnya dibaca ketika angin bertiup kencang.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 64 : MACAM-MACAM CARA SHALAT GERHANA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT GERHANA

HADITS KE 64 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : ( اِنْخَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّى, فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا, نَحْوًا مِنْ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ, ]ثُمَّ سَجَدَ, ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً, وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ], ثُمَّ رَفَعَ, فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً, وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ, ثُمَّ سَجَدَ, ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ. فَخَطَبَ النَّاسَ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: ( صَلَّى حِينَ كَسَفَتِ الشَّمْسُ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ )

وَعَنْ عَلِيٍّ مِثْلُ ذَلِكَ

وَلَهُ: عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه ( صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بِأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ )

وَلِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: ( صَلَّى, فَرَكَعَ خَمْسَ رَكَعَاتٍ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ, وَفَعَلَ فِي الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ )

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, maka beliau sholat, beliau berdiri lama sekitar lamanya bacaan surat al-Baqarah, kemudian ruku’ lama, lalu bangun dan berdiri lama namun lebih pendek dibandingkan berdiri yang pertama, kemudian ruku’ lama namun lebih pendek dibanding ruku’ yang pertama, lalu sujud, kemudian berdiri lama namun lebih pendek dibanding berdiri yang pertama, lalu ruku’ lama namun lebih pendek dibandingkan ruku’ yang pertama, kemudian bangun dan berdiri lama namun lebih pendek dibanding berdiri yang pertama, lalu ruku’ lama namun lebih pendek dibanding ruku’ yang pertama, kemudian beliau mengangkat kepala lalu sujud, kemudian selesailah dan matahari telah terang, lalu beliau berkhutbah di hadapan orang-orang. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari. Dalam suatu riwayat Muslim: Beliau sholat ketika terjadi gerhana matahari delapan ruku’ dalam empat sujud.

Dari Ali Radliyallaahu ‘anhu juga ada hadits semisalnya.

Dalam riwayat Bukhari dari Jabir: Beliau sholat enam ruku’ dengan empat sujud.

Menurut riwayat Abu Dawud dari Ubay Ibnu Ka’ab Radliyallaahu ‘anhu : Beliau sholat lalu ruku’ lima kali dan sujud dua kali, dan melakukan pada rakaat kedua seperti itu.

MAKNA HADITS :

Menurut pendapat yang paling kuat, hukum sholat gerhana adalah sunat mu’akkad. Pada dasarnya sholat gerhana terdiri dari dua rakaat. Tetapi telah disebutkan dalam hadis yang riwayatnya berbeda-beda antara satu sama lain tentang bilangan rukuknya, yaitu lebih banyak daripada sholat fardu, meskipun seluruh riwayat itu bersepakat tentang bilangan sujudnya sebanyak dua kali. Hadis ini menyebutkan perincian sholat gerhana agar dapat diketahui oleh orang yang belum
mengetahuinya. Berbagai macam riwayat yang menceritakan bilangan rukuk pada setiap rakaat sholat gerhana. Menurut riwayat al-Bukhari dari Ibn Abbas (r.a), sholat gerhana itu sebanyak dua rakaat, pada setiap rakaat terdapat dua rukuk dan dua sujud.

Menurut riwayat Muslim, dua rakaat dan pada setiap rakaat terdapat empat kali rukuk dan dua kali sujud. Dalam riwayat yang lain oleh Muslim dari Jabir (r.a) disebutkan dua rakaat dan pada setiap rakaat terdapat tiga kali rukuk dan dua kali sujud. Dalam riwayat Abu Daud disebutkan bahwa pada setiap rakaat terdapat lima kali rukuk dan dua kali sujud.

FIQH HADITS :

1. Sholat gerhana adalah dua rakaat.

2. Menjelaskan cara pertama mengerjakan sholat gerhana, yaitu dua rakaat; pada setiap rakaat dua kali rukuk dan dua kali sujud.

3. Menjelaskan cara kedua mengerjakan sholat gerhana, yaitu dua rakaat; pada
setiap rakaat empat kali rukuk dan dua kali sujud.

4. Menjelaskan cara ketiga mengerjakan sholat gerhana, yaitu dua rakaat; pada
setiap rakaat tiga kali rukuk dan dua kali sujud.

5. Menjelaskan cara keempat mengerjakan sholat gerhana, yaitu dua rakaat dengan lima kali rukuk dan dua kali sujud pada setiap rakaatnya.

6. Disyariatkan berkhutbah sesudah mengerjakan sholat gerhana. Isi khutbah
memuatkan pujian dan sanjungan kepada Allah (s.w.t) dan anjuran untuk berdo’a dan bersedekah. Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa disunatkan melakukan dua khutbah sesudah mengerjakan sholat. Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad meriwayatkan bahwa sholat gerhana
tidak ada khutbah setelahnya dan mereka mentafsirkan hadis-hadis yang
menyebutkan adanya khutbah di dalamnya hanyalah semata-mata sebagai khutbah nasehat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 63 : CARA SHALAT GERHANA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT GERHANA

HADITS KE 63 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم جَهَرَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ, فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ, وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ. وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: فَبَعَثَ مُنَادِيًا يُنَادِي: اَلصَّلَاةُ جَامِعَةٌ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengeraskan bacaannya dalam sholat gerhana, beliau sholat empat kali ruku’ dalam dua rakaat dan empat kali sujud. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim. Dalam riwayat Muslim yang lain: Lalu beliau menyuruh seorang penyeru untuk menyerukan: Datanglah untuk sholat berjama’ah.

MAKNA HADITS :

Hadis-hadis yang disebut dalam bab ini menunjukkan bahwa sholat gerhana
dilakukan dengan berbagai macam cara yang berbeda antara satu sama lain, antara
lain ialah ada yang menyebutkan dua rakaat dengan cara yang sama seperti sholat sunat yang lainnya. Ada riwayat yang menyebutkan dua rakaat, tetapi dalam
setiap rakaat terdiri dari tiga kali rukuk. Ada pula yang mengatakan dua rakaat
dan setiap rakaat terdiri dari empat rukuk. Dan ada riwayat yang mengatakan
dua rakaat, tetapi setiap rakaat terdiri dari lima kali rukuk.

Cara-cara tersebut telah diriwayatkan melalui perbuatan Nabi (s.a.w) yang kesemuanya merupakan Sunnah Nabi (s.a.w). Dengan kata lain, apapun cara yang dilakukan oleh seorang mukallaf dalam mengerjakan sholat gerahana ini bererti dia telah melakukan apa yang telah disyariatkan untuknya.

Tetapi memilih riwayat yang paling shahihmerupakan kebiasaan yang dilakukan oleh orang yang mencintai keutamaan dan mengetahui bagaimana cara menyimpulkan dalil syariat. Disini dapat disimpulkan bahwa hadis-hadis yang
meriwayatkan dua kali rukuk pada setiap rakaat adalah yang paling shahih. Hal ini
berkat keshahihan hadisnya dan banyak ulama yang menilainya sebagai lebih kuat.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menguatkan suara bacaan ketika mengerjakan sholat gerhana.
Imam Ahmad dan dua orang murid Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa bacaan surah ketika mengerjakan sholat gerhana hendaklah dikuatkan. Jumhur ulama mengatakan bahwa ketika mengerjakan sholat gerhana matahari suara bacaan hendaklah tidak dikuatkan, sedangkan
ketika mengerjakan sholat gerhana bulan suara bacaan hendaklah dikuatkan.
Mereka mengatakan demikian karena menqiaskannya dengan sholat lima
waktu.

2. Menjelaskan cara yang pertama dalam melakukan sholat gerhana yaitu dengan empat kali rukuk dalam dua rakaat; setiap rakaat terdiri dari dua rukuk dan dua sujud. Inilah yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa sholat gerhana dilakukan dua rakaat yang caranya sama dengan sholat-sholat sunat yang lain yaitu satu kali rukuk dan dua kali sujud pada setiap rakaat.

3. Sholat gerhana dikerjakan secara berjemaah, tetapi menurut jumhur
ulama, sholat gerhana sah dilakukan secara sendirian. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa sholat gerhana hendaklah dikerjakan secara berjemaah dengan imam sholat Jum’at. Jika imam menolak berbuat demikian, maka hendaklah mereka mengerjakannya secara sendiri-sendiri karena dikawatiri timbul fitnah.

Adapun solat gerhana bulan, menurut mazhab al-Syafi’i dan mazhab
Hanbali, sholat itu hendaklah dilakukan sebanyak dua rakaat, pada setiap
rakaat terdiri dari dua rukuk sama dengan sholat gerhana matahari dan dilakukan secara berjemaah.

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa sholat gerhana bulan hendaklah dikerjakan dua rakaat dengan satu kali rukuk sama dengan sholat sunat yang lain dan dikerjakan sendiri-sendiri, karena pernah terjadi gerhana bulan berkali-kali pada zaman Rasulullah (s.a.w), tetapi tidak ada satu riwayat pun yang menyatakan bahwa baginda menghimpun orang banyak untuk mengerjakan sholat gerhana bulan secara berjemaah. Dengan demikian, setiap orang melakukannya secara sendiri-sendiri.

Mazhab Maliki mengatakan bahwa disunatkan melakukan sholat gerhana bulan sebanyak dua rakaat dengan suara bacaan yang kuat dan dikerjakan satu kali berdiri serta satu kali rukuk sama dengan sholat sunat yang lain. Ia hendaklah dilakukan oleh setiap orang Islam di dalam rumahnya secara sendiri-sendiri. Sholat hendaklah dilakukan berulang kali hingga gerhana bulan lenyap atau bulan tenggelam atau fajar terbit. Makruh melakukan sholat gerhana bulan di dalam masjid, baik secara berjemaah ataupun secara sendiri-sendiri.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 62 : ANJURAN SHALAT GERHANA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT GERHANA

HADITS KE 62 :

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رضي الله عنه قَالَ: ( اِنْكَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ, فَقَالَ النَّاسُ: اِنْكَسَفَتِ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ, فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا, فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا, حَتَّى تَنْكَشِفَ” ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: (حَتَّى تَنْجَلِىَ )

وَلِلْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه ( فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ )

Al-Mughirah Ibnu Syu’bah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah terjadi gerhana matahari yaitu pada hari wafatnya Ibrahim. Lalu orang-orang berseru: Terjadi gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian dan kehidupan seseorang. Jika kalian melihat keduanya berdo’alah kepada Allah dan sholatlah sampai kembali seperti semula.” Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Bukhari disebutkan: “Sampai terang kembali.”

Menurut riwayat Bukhari dari hadits Abu Bakrah Radliyallaahu ‘anhu : “Maka sholatlah dan berdoalah sampai kejadian itu selesai atasmu.”

MAKNA HADITS :

Pada Zaman Rasulullah (s.a.w) pernah terjadi gerhana. Peristiwa itu bersamaan
dengan kematian putera Nabi (s.a.w), yaitu Ibrahim. Itu terjadi pada tahun ke-10 Hijriah. Lalu sekumpulan kaum muslimin berkesimpulan bahwa matahari mengalami gerhana karena kematian Ibrahim. Mereka mengatakan demikian dengan tujuan memuliakan Nabi (s.a.w) dan puteranya. Ketika Rasulullah (s.a.w) mendengar apa yang mereka katakan itu, baginda pun marah, lalu berkhutbah kepada mereka yang isinya menjelaskan bahwa matahari dan bulan merupakan dua dari sekian banyak tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah (s.w.t) dan tidak ada satu kekuasaan pun bagi seseorang untuk mempengaruhi gerhana itu. Kedua-duanya tidak gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang, betapa pun besar atau hebatnya orang itu. Peristiwa gerhana itu hanyalah merupakan fenomena alam yang menunjukkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Maha Besar agar manusia menyaksikan suatu gambaran tentang hari kiamat, hingga mereka segera kembali kepada-Nya dengan berdo’a dan mengerjakan sholat serta ingat bahwa Allah ada kalanya menjatuhi hukuman bagi orang yang tidak berdosa, lebih-lebih lagi orang yang berdosa. Akhirnya manusia tidak mempunyai jalan lain kecuali segera bertaubat dan kembali kepada-Nya agar dimasukkan ke dalam golongan orang yang berjaya.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan melakukan sholat ketika terjadi gerhana matahari dan gerhana
bulan. Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa sholat gerhana ini boleh dikerjakan pada waktu lantaran ada sebab telah mendahuluinya, sekalipun dikerjakan pada waktu makruh untuk mengerjakan sholat. Jumhur ulama mengatakan bahwa sholat gerhana tidak boleh dikerjakan pada
waktu-waktu makruh. Sholat gerhana bulan dilakukan pada waktu malam hari tanpa ada pengecualian karena pada malam hari tidak ada waktu yang dimakruhkan.

2. Sanggahan terhadap sekumpulan manusia yang mengatakan bahwa matahari dan bulan mengalami gerhana karena kematian seorang yang hebat atau ada peristiwa besar yang sedang berlaku. Pada zaman Jahiliah mereka berkeyakinan bahwa gerhana memastikan terjadinya suatu perubahan di bumi seperti kematian seseorang atau petaka besar sedang terjadi. Oleh itu, Nabi (s.a.w) memberitahu para sahabat bahwa itu merupakan keyakinan yang salah. Matahari dan bulan merupakan dua makhluk yang tunduk patuh kepada Allah. Kedua-duanya tidak mempunyai suatu kekuatan untuk berbuat sesuatu terhadap dirinya dan tidak ada seorang pun yang mempunyai kekuasaan melakukan sesuatu terhadap keduanya.

3. Sanggahan terhadap sebagian masyarakat Jahiliah yang menyembah matahari dan bulan. Rasulullah (s.a.w) menjelaskan kepada mereka bahwa matahari dan bulan adalah dua makhluk Allah (s.w.t), sama halnya dengan makhluk-makhluk yang lain. Kedua-duanya pasti mengalami perubahan
dan tidak ada kekuasaan bagi siapapun untuk berbuat sesuatu terhadap kedua-duanya.

4. Berlindung kepada Allah ketika terjadi fenomena-fenomena yang menakutkan dan peristiwa dahsyat dengan cara mengerjakan sholat dan lain-lain sebagainya berupa do’a dan istighfar untuk menolak petaka yang akan terjadi, baik yang bersifat segera di dunia ataupun yang ditangguhkan

nanti di akhirat karena adanya perbuatan maksiat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..