Arsip Kategori: 009. BAB TAYAMUM

HADITS KE 116 : TAYAMMUM HANYA UNTUK SATU SHALAT FARDHU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 116 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( مِنْ اَلسُّنَّةِ أَنْ لَا يُصَلِّيَ اَلرَّجُلُ بِالتَّيَمُّمِ إِلَّا صَلَاةً وَاحِدَةً ثُمَّ يَتَيَمَّمُ لِلصَّلَاةِ اَلْأُخْرَى ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ جِدًّا

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Termasuk sunnah Rasul adalah seseorang tidak menunaikan shalat dengan tayammum kecuali hanya untuk sekali shalat saja kemudian dia bertayammum untuk shalat yang lain. Riwayat Daruquthni dengan sanad yang amat lemah.

MAKNA HADITS :

Tayammum adalah bersuci dengan debu, tetapi kesuciannya masih dikategorikan lemah, kerana ia hanya boleh digunakan untuk sekali sholat fardu saja berikut sunat-sunat yang mengiringinya. Tayammum tidak seperti wuduk yang dapat menghilangkan hadas. Inilah pendapat jumhur ulama. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya mengatakan bahwa seseorang boleh melakukan sholat sesuka hatinya baik sholat fardu mahupun sholat sunat hanya dengan sekali tayammum,
sama halnya dengan wuduk. Mereka memandang dari segi keumuman makna hadirs di sampingmengqiyaskan solat fardu dengan sholat sunat.

FIQH HADITS :

Menurut jumhur ulama, bertayammum disyari’atkan untuk setiap kali hendak
mengerjakan sholat fardu. Dalam kaitan ini Imam Abu Hanifah berbeda pendapat dengan mereka.

KESIMPULAN :

Hadis yang terdapat dalam bab ini menunjukkan kesimpulan berikut:

1. Nabi (s.a.w) dan umatnya mempunyai beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki umat-umat sebelum ini, dimana Allah (s.w.t) mengutus Nabi Muhammad (s.a.w) untuk seluruh umat manusia, Allah memberinya syafa’at
al-‘uzhma untuk membebaskan umat manusia dari huru-hara hari kiamat,
Allah menolongnya dengan rasa gentar yang mencekam dalam hati musuh-
musuhnya dan Allah menghalalkan harta ghanimah kepadanya dan umatnya serta boleh melakukan solat di tempat manapun di muka bumi ini tanpa ada ketentuan tempat yang khusus.

2. Diberi rukhsah boleh bertayammum ketika tidak ada air untuk berwuduk dan mandi dan ketika dalam keadaan darurat, seperti mengusap pembalut luka. Begitu pula ketika sakit serta apa saja yang membolehkan bertayammum. Menjelaskan mengenai tatacara tayammum. Satu kali tayammum hanya untuk satu kali sholat fardu, tetapi boleh digunakan untuk melakukan beberapa kali sholat sunat, mengikut semau kita.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 115 : BOLEH BERTAYAMUM APABILA DARURAT MENGGUNAKAN AIR DISEBABKAN LUKA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 115 :

وَعَنْ جَابِرٍ]بْنُ عَبْدِ اَللَّهِ] رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا فِي اَلرَّجُلِ اَلَّذِي شُجَّ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ -: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ فِيهِ ضَعْفٌ وَفِيهِ اِخْتِلَافٌ عَلَى رُوَاتِه

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu tentang seorang laki-laki yang terluka pada kepalanya lalu mandi dan meninggal. (Nabi bersabda: “Cukup baginya bertayammum dan membalut lukanya dengan kain kemudian mengusap di atasnya dan membasuh seluruh tubuhnya.” Riwayat Abu Dawud dengan sanad yang lemah. Di dalamnya ada perbedaan pendapat tentang para perawinya.

MAKNA HADITS :

Islam memerintahkan umat manusia supaya bertanya kepada ahli al-dzikr yang memahami al-Qur’an dan Sunnah untuk memecahkan masalah-masalah sukar yang mereka hadapi berdasarkan kajian teliti. Oleh itu Rasulullah (s.a.w) marah ketika mereka memberikan fatwa kepada seorang lelaki yang terluka bahwa tidak ada rukhsah baginya, hingga akhirnya itu menyebabkan kematiannya. Rasulullah (s.a.w) marah dengan adanya fatwa yang salah itu. Baginda bersabda: “Mengapa mereka tidak bertanya lebih dahulu apabila mereka tidak tahu?” Baginda menjelaskan bahawa bertanya merupakan ubat kebodohan. Dengan kata lain, malu bertanya pasti sesat di jalan.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan merujuk kepada pemimpin ketika berdepan dengan urusan-urusan penting.

2. Dilarang mencela fatwa tanpa ilmu pengetahuan, kerana sikap sebegitu
merupakan dosa besar.

3. Tidak ada qishas dan dhiyat ke atas seorang mufti apabila dia memberikan fatwa tanpa kebenaran, meskipun orang yang jelas-jelas melakukan kesalahan tidak dimaafkan. Nabi (s.a.w) mencela mereka, sebab mereka melakukan fatwa tanpa berlandaskan kepada ilmu dan baginda mendo’akan binasa kepada mereka dengan bersabda: “Semoga mereka dilaknat oleh Allah.”

4. Disyari’atkan bertayammum bagi orang yang merasa kawatir akan tertimpa mudharat apabila menggunakan air.

5. Boleh mengusap pembalut luka dan membasuh anggota tubuh yang lain
dengan air.

6. Menanyakan suatu masalah yang sukar kepada orang yang berilmu merupakan penawar bagi kebodohan.

7. Orang yang junub diwajibkan mandi.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 114 : KETENTUAN MENGUSAP PERBAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 114 :

وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: ( اِنْكَسَرَتْ إِحْدَى زَنْدَيَّ فَسَأَلَتْ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَمَرَنِي أَنْ أَمْسَحَ عَلَى اَلْجَبَائِرِ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه بِسَنَدٍ وَاهٍ جِدًّا

Ali Radliyallaahu ‘anhu berkata: Salah satu dari pergelanganku retak. Lalu aku tanyakan pada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan beliau menyuruhku agar aku mengusap di atas pembalutnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang amat lemah.

MAKNA HADITS :

Di antara kemudahan agama Islam ialah memberikan kemudahan kepada hamba-hamba Allah yang antara lain dalam masalah mengusap perban kerana diqiyaskan kepada khuff dan surban. Ia dianggap qiyas jali (qiyas yang bertujuan memperkuat nash). Diantara ulama ada yang berpendapat menggabungkan antara mengusap dan mandi serta tayammum.

FIQH HADITS :

Wajib mengusap perban. Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat. Hal ini telah diuraikan secara terperinci dalam kitab-kitab fiqh.

1. Barang siapa mengalami luka, patah atau infeksi pada salah satu bagian tubuhnya lalu pada bagian tersebut dipasang perban dan dia merasa kawatir akan menimbulkan bahaya apabila dibuka, maka menurut Imam al-Syafi’i orang itu boleh mengusap perban tersebut dan bertayammum serta tidak perlu mengqadha’ (sholat yang telah dilakukan) mengikut pendapat yang paling kuat jika perban tersebut dipasang dalam keadaan suci dan diletakkan pada anggota tayammum.

2. Barang siapa pada salah satu anggota tubuhnya mengalami luka, patah atau infeksi, sedangkan sebagian yang lain sehat namun kadar anggota tubuh yang sehat lebih banyak, maka anggota tubuh yang sehat mesti dibasuh, sedangkan yang terluka diusap saja. Jika kadar anggota yang terluka lebih banyak daripada yang sehat, maka dia boleh bertayammum dan kewajiban mandi menjadi gugur. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Abu Hanifah sedangkan menurut Imam Ahmad, anggota tubuh yang sehat mesti dimandikan, sedangkan anggota yang terluka hendaklah ditayammumin.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 112 : MENEMUKAN AIR SESUDAH TAYAMUM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 112 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: ( خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَتْ اَلصَّلَاةَ -وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ- فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا فَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَا اَلْمَاءَ فِي اَلْوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا اَلصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ وَلَمْ يُعِدِ اَلْآخَرُ ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ: أَصَبْتَ اَلسُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ وَقَالَ لِلْآخَرِ: لَكَ اَلْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ و النَّسَائِيّ

Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ada dua orang laki-laki keluar bepergian lalu datanglah waktu shalat sedangkan mereka tidak mempunyai air maka mereka bertayamum dengan tanah suci dan menunaikan shalat. Kemudian mereka menjumpai air pada waktu itu juga. Lalu salah seorang dari keduanya mengulangi shalat dan wudlu sedang yang lainnya tidak. Kemudian mereka menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka beliau bersabda kepada orang yang tidak mengulanginya: “Engkau telah melakukan sesuai sunnah dan shalatmu sudah sah bagimu.” Dan beliau bersabda kepada yang lainnya: “Engkau mendapatkan pahala dua kali.” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i.

MAKNA HADITS :

Cabang hukum yang memiliki banyak rincian serta beraneka ragam jenis dan
peristiwanya tidak mungkin disebutkan dengan secara terperinci jelas oleh al-Qur’an dan Sunnah. Dalam menganalisis perkara seperti itu diperlukan ijtihad dengan cara menyamakan suatu permasalahan yang mempunyai kemiripan dengan yang lain dan menyesuaikan cabang kepada pokoknya. Oleh itu, setiap sahabat melakukan ijtihad pada zaman Nabi (s.a.w) dan baginda mengakui perbuatan mereka dan menyetujuinya.

Antara contohnya ialah kisah dua orang lekaki yang sedang melakukan suatu
perjalanan lalu keduanya bertayammum dalam perjalanannya kerana persediaan air mereka tidak memadai untuk digunakan berwuduk. Kemudian salah seorang di antara keduanya mengulangi solatnya, sedangkan yang seorang lagi tidak, tetapi Nabi (s.a.w) menyetujui perbuatan kedua-dua orang sahabat itu. Baginda bersabda kepada orang yang mengulangi solatnya: “Engkau mendapat ganjaran pahala dua kali ganda” yakni pahala bersuci dengan debu dan bersuci dengan air. Dan kepada yang seorang lagi, yaitu orang yang tidak mengulangi solatnya, baginda bersabda: “Solatmu sudah memadai.” Dikatakan demikian kerana dia telah mengerjakan sesuai dengan apa yang diperintahkan kepadanya, yaitu bertayammum.

FIQH HADITS :

1. Menyegerakan sholat dengan mengerjakannya pada awal waktu.

2. Disyariatkan bertayammum ketika tidak ada air.

3. Boleh berijtihad pada zaman Nabi (s.a.w) ketika tidak berada di hadapan
baginda.

4. Setiap perkara penting hendaklah dirujuk kepada pemimpin.

5. Orang yang ditanya dituntut untuk menjawab persoalan si penanya dengan jawapan yang memuaskannya

6. Orang yang telah bersholat dengan tayammum, lalu dia menemukan air sesudah dia mengerjakan sholat tidak wajib mengulangi solatnya, meskipun waktu solat itu masih belum berakhir.

7. Tayammum menjadi batal dengan adanya air sebelum mengerjakan solat. Jika air ditemukan sesudah masuk dalam solat, maka seseorang tidak boleh membatalkannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 111 : DEBU ADALAH PENGGANTI SEMENTARA APABILA TIDAK ADA AIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 111 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلصَّعِيدُ وُضُوءُ اَلْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ اَلْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ فَإِذَا وَجَدَ اَلْمَاءَ فَلْيَتَّقِ اَللَّهَ وَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ ) رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ اَلْقَطَّانِ و لَكِنْ صَوَّبَ اَلدَّارَقُطْنِيُّ إِرْسَالَه

وَلِلتِّرْمِذِيِّ: عَنْ أَبِي ذَرٍّ نَحْوُهُ وَصَحَّحَه

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tanah itu merupakan alat berwudlu bagi orang Islam meskipun ia tidak menjumpai air hingga sepuluh tahun. Maka jika ia telah mendapatkan air hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menggunakan air itu untuk mengusap kulitnya.” Diriwayatkan oleh al-Bazzar. Shahih menurut Ibnul Qaththan dan mursal menurut Daruquthni.

Menurut riwayat Tirmidzi dari Abu Dzar ada hadits serupa dengan hadits tersebut. Hadits tersebut shahih menurutnya.

MAKNA HADITS :

Tayammum dengan debu merupakan salah satu keistimewaan umat Nabi
Muhammad (s.a.w), sebagaimana yang disebutkan dalam sabdanya:

وجعلت التراب ترابتها لنا طهورا، إذا لم نجد الماء

“Dan debunya dijadikan bagi kami dapat menyucikan apabila kami tidak menjumpai air.” Debu merupakan sarana bersuci orang muslim. Dengan debu tersebut dia dierbolehkan melakukan perkara-perkara yang dilarang kerana berhadas kecil dan berhadas besar (junub). Tetapi debu pada dasarnya tidak dapat menghilangkan hadas. Buktinya ialah apabila dijumpai air, maka seseorang diwajibkan berwuduk atau mandi junub. Hukum boleh bertayammum dibatasi dengan adanya air.

Oleh kerana tayammum merupakan cara yang masih belum dikenali oleh
masyarakat Arab dan belum pula oleh yang bangsa yang lain, maka syariat mengukuhkan perintahnya kepada mereka dan menamakannya sebagai sesuatu yang boleh menyucikan ketika air tidak ada. Hal ini dinyatakan dengan ungkapan mubalaghah melalui sabdanya: “Apabila tidak menemukan air, sekalipun selama sepuluh tahun.” Nabi (s.a.w) menamakannya sebagai pengganti air yang menyucikan.

Dalam keadaan di mana sukar dijumpai, tidak ada bedanya antara ketiadaan
yang hakiki atau ketiadaan hukmi seperti seseorang yang kehilangan alat untuk mengeluarkan air atau sedang sakit yang melarangnya menggunakan air kerana sakitnya dikawatiri bertambah terus atau malah lambat sembuh, atau akan mengakibatkan komplikasi penyakit lain yang diketahui secara pasti atau hanya berlandaskan prasangka melalui uji coba atau nasehat pakar seorang dokter muslim.

FIQH HADITS :

1. Tayammum juga disebut sebagai wudhu.

2. Tayammum menggantikan kedudukan air yang dapat menghilangkan junub untuk sementara waktu hingga air ditemukan.

3. Orang yang junub lalu bertayammum apabila dia menemukan air, maka dia wajib segera mandi junub.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 110 : CARA MEMBASUH MUKA DAN TANGAN KETIKA TAYAMMUM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 110 :

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى اَلْمِرْفَقَيْنِ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اَلْأَئِمَّةُ وَقْفَه

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tayammum itu dengan dua tepukan. Tepukan untuk muka dan tepukan untuk kedua belah tangan hingga siku-siku.” Riwayat Daruquthni dan para Imam Hadits menganggapnya mauquf.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) memberi petunjuk kepada umatnya dan menjelaskan kepada mereka tentang hukum. Kadang kala baginda menjelaskan perkara yang wajib secara komprehensif dan kadang pula menjelaskan apa yang dianjurkan secara lengkap. Baginda menjelaskan bahwa tayammum itu dilakukan dengan dua kali pukulan debu; sekali pukulan untuk mengusap wajah dan sekali pukulan lagi untuk mengusap kedua tangan.

Ada sebagian ulama fiqih yang menjadikan hadis ini sebagai batasan tayammum yang sempurna dan menjadikan perkara yang diwajibkan hanya dengan sekali pukulan. Ada yang menjadikan pengusapan terhadap kedua tangan hanya sampai batas kedua pergelangan tangan serta menjadikan pukulan yang kedua dan mengusap sampai batas kedua siku sebagai batas tayammum yang sempurna. Pendapat ini berlandaskan kepada usaha menggabungkan beberapa hadis dalam masalah ini. Ada juga di antara mereka yang menjadikan dua kali pukulan serta mengusap kedua tangan sampai batas kedua siku itu merupakan perkara yang diwajibkan dalam tayammum karena berdasarkan tarjih hadis-hadis yang menunjukkan demikian. Cara ini merupakan yang ditempuh melalui tarjih.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan cara bertayammum, iaitu dilakukan dengan dua kali pukulan. Ini menurut pendapat Imam al-Syafi’i, Imam Abu Hanifah dan satu riwayat dari Imam Malik. Tetapi pendapat yang paling masyhur di kalangan mazhab Maliki ialah pukulan pertama fardu, sedangkan pukulan kedua sunat. Imam Ahmad mengatakan bahwa apa yang diwajibkan ialah sekali pukulan kerana berlandaskan kepada hadis ‘Ammar ibn Yasir (r.a) yang menceritakan: “Aku pernah bertanya kepada Nabi (s.a.w) mengenai cara tayammum. Baginda memerintahkan kepadaku melakukan sekali pukulan untuk mengusap wajah dan kedua telapak tangan.”

2. Disyariatkan tertib (berurutan), yaitu dengan mendahulukan pengusapan wajah ke atas pengusapan kedua tangan. Ini adalah wajib menurut Imam al-Syafi’i. Sedangkan menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, berurutan bukanlah syarat dalam bertayammum, sebaliknya ia hanya disyaratkan ketika menyucikan diri dari hadas besar saja, bukannya untuk hadats kecil.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 109 : TATA CARA TAYAMMUM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 109 :

وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( بَعَثَنِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ فَلَمْ أَجِدِ اَلْمَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فِي اَلصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ اَلدَّابَّةُ ثُمَّ أَتَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَقُولَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ اَلْأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ اَلشِّمَالَ عَلَى اَلْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: وَضَرَبَ بِكَفَّيْهِ اَلْأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْه

Ammar Ibnu Yassir Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengutusku untuk suatu keperluan lalu aku junub dan tidak mendapatkan air maka aku bergulingan di atas tanah seperti yang dilakukan binatang kemudian aku mendatangi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu padanya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “sesungguhnya engkau cukup degnan kedua belah tanganmu begini.” Lalu beliau menepuk tanah sekali kemudian mengusapkan tangan kirinya atas tangan kanannya punggung kedua telapak tangan dan wajahnya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.

Dalam suatu riwayat Bukhari disebutkan: Beliau menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya dan meniupnya lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya.

MAKNA HADITS :

Sahabat yang mulia ‘Ammar ibn Yasir (r.a) menempuh cara dzahir sebagaimana yang dituntut oleh pemahaman analogi dan akal. Beliau berpandangan tayammum merupakan pengganti mandi. Oleh sebab itu beliau meyakini bahwa seluruh tubuh mesti terkena debu sebagaimana halnya mandi. Untuk itu, beliau berguling di atas pasir seperti bergulingnya seekor hewan ternakan. Nabi (s.a.w) menjelaskan kepadanya tatacara bertayammum yang disyariatkan oleh Allah (s.w.t).

FIQH HADITS :

1. Tidak ada celaan terhadap seorang mujtahid apabila dia telah mengerahkan seluruh kemampuannya tetapi masih tetap salam dan tidak mencapai kebenaran.

2. Pengajaran secara praktikal memiliki kesan yang lebih mendalam dibanding pengajaran secara teori.

3. Boleh membatasi tayammum hanya dengan sekali pukulan (sekali ambil debu).

4. Disyariatkan mengusap wajah dan dua telapak tangan dalam tayammum menurut pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafi’i di dalam qaul jadidnya, batas mengusap tangan sampai kepada kedua siku. Keduanya melandaskan pendapat mereka kepada dalil hadis kedua yang akan disebut sesudah ini.

5. Tayammum sudah mencukupi dijadikan sebagai pengganti mandi junub apabila air tidak dijumpai.

6. Disyariatkan menepuk kedua tangan ketika bertayammum.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 108 : DEBU SEBAGAI PENGGANTI AIR UNTUK BERSUCI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 108 :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي اَلْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ اَلصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ ) وَذَكَرَ اَلْحَدِيث

وَفِي حَدِيثِ حُذَيْفَةَ عِنْدَ مُسْلِمٍ: ( وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ اَلْمَاءَ)

وعن علي رضي الله عنه عند أحمد “وجعل التراب لي طهورا”

Dari Jabir Ibnu Abdullah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepad seorang pun sebelumku yaitu aku ditolong dengan rasa ketakutan (musuhku) sejauh perjalanan sebulan; bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud (masjid) dan alat bersuci maka siapapun menemui waktu shalat hendaklah ia segera shalat. “Muttafaq Alaihi”.

Dan menurut Hadits Hudzaifah Radliyallaahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan: “Dan debunya dijadikan bagi kami sebagai alat bersuci.”

Menurut riwayat Ahmad daripada ‘Ali (r.a) disebutkan: “Dan dijadikan bagiku tanah dapat menyucikan.”

MAKNA HADITS :

Dalam pembahasan sebelum ini telah disebutkan bersuci dengan air, baik ber-suci kecil (wudhu) maupun bersuci besar (mandi junub) di samping hukum-hukum yang berkaitan dengan keduanya.

Dalam bab ini diterangkan pula bersuci dengan debu kerana tanah dapat dijadikan sebagai pengganti bersuci dengan air, tetapi tidak boleh menggunakan cara ini kecuali dalam keadaan yang tidak memungkinkan memperoleh dan menggunakan air. Ini merupakan salah satu keistimewaan umat Nabi Muhammad (s.a.w).

Allah (s.w.t) telah memuliakan Rasul-Nya dan umatnya dengan keistimewaan yang amat banyak, antara lain ialah mendapat pertolongan melalui perasaan takut yang mencekam hati musuh. Rasa takut itu dilemparkan oleh Allah ke dalam hati mereka sekalipun jarak antara Nabi (s.a.w) dengan mereka memerlukan perjalanan sejauh satu bulan. Umat Nabi (s.a.w) diperbolehkan mengerjakan sholat di mana-mana tempat di muka bumi ini kerana semua bumi adalah tempat sujud untuknya dan tanahnya dapat menyucikan. Bagi umat sebelum ini, ibadah mereka tidak sah kecuali hanya di tempat-tempat ibadah mereka sendiri.

Dihalalkan pula harta ghanimah bagi umat Nabi (s.a.w). Oleh sebab itu, mereka dapat menikmatinya. Sedangkan umat sebelum ini diharamkan ke atas mereka harta ghanimah itu. Allah (s.w.t) memerintahkan mereka mengumpulkan harta ghanimah di tanah lapang, lalu Dia mengirimkan api dari langit yang langsung membakarnya. Nabi (s.a.w) diberi Syafa’ah al-‘Uzhma untuk memberikan ketenangan kepada ahli mawqif di padang mahsyar kelak. Nabi (s.a.w) diutus untuk seluruh umat manusia secara umum, sedangkan sebelum itu setiap nabi hanya diutus untuk kaumnya secara khusus.

Ya Allah, berilah Nabi kami kebenaran untuk memberi syafaat kepada kami, dan jadikanlah kami berada di bawah panjinya, yaitu panji pujian kelak pada hari kiamat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Engkau memperkenankan orang yang berdo’a kepada-Mu, wahai Tuhan semesta alam.

FIQH HADITS :

1. Keutamaan Nabi (s.a.w) ke atas nabi-nabi yang lain.

2. Membicarakan nikmat Allah bukan untuk tujuan membanggakan diri dan bukan pula untuk menyombongkan diri, sebaliknya untuk mendorong dirinya dan orang lain yang memperoleh suatu nikmat supaya bersyukur dan bertambah giat melakukan amal ibadah kepada Allah yang memberi nikmat itu. Allah (s.w.t) berfirman: وأما بنعمة ربك فحدث “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (Surah al-Dhuha: 11).

3. Rasulullah (s.a.w) ditolong oleh Allah melalui perasaan takut yang mencekam dan menggentarkan hati musuh-musuhnya. Al-Ru’b atau perasaan takut atau gementar merupakan salah satu dari balatenteranya yang maju menggempur hati dan semangat musuh-musuhnya hingga mereka sudah merasa kalah sebelum perang yang sebenar dimulakan.

4. Menetapkan hukum-hukum syariat yang antara lain ialah mengerjakan solat tidak mesti dilakukan hanya di dalam masjid sahaja.

5. Pada asalnya tanah itu hukumnya suci.

6. Tayammum membolehkan apa yang dicegah oleh hadas sama halnya dengan air. Pendapat ini merupakan mazhab Imam Abu Hanifah. Jadi, baginya seseorang dengan tayammum boleh mengerjakan solat fardu dan solat sunat sebanyak apa yang dia kehendaki selagi belum berhadas atau belum menjumpai air, kerana tayammum baginya merupakan pengganti air secara mutlak. Namun Jumhur ulama mengatakan dibolehkan mengerjakan sekali solat fardu dan solat sunat seberapa banyak dia mampu mengerjakannya, tetapi tidak boleh digunakan untuk menggabungkan dua solat fardu. Jika ketika bertayammum seseorang itu berniat untuk mengerjakan solat fardu, maka dia dibolehkan mengerjakan sekali solat fardu dan solat sunat. Tetapi jika berniat untuk melakukan solat sunat, maka dia tidak dibolehkan mengerjakan solat fardu kecuali dengan tayammum yang baru.

7. Tayammum hanya khusus dilakukan dengan debu, sedangkan bertayammum dengan menggunakan objek yang selainnya tidak dianggap memadai menurut pendapat Imam Ahmad dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan menurut mazhab Maliki dibolehkan bertayammum dengan apa-apa yang termasuk jenis tanah dengan syarat tidak dibakar. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mengatakan bahawa tayammum sah dengan menggunakan semua benda suci yang termasuk jenis tanah, iaitu segala sesuatu yang tidak menjadi abu dan tidak lembek apabila dibakar dengan api, seperti debu, pasir dan batu. Jika sesuatu itu menjadi abu apabila dibakar seperti kayu serta daun kering, dan sesuatu yang menjadi lembek apabila dibakar dengan api seperti besi dan timah, maka tayammum tidak sah dengan menggunakan benda tersebut
apabila tidak terdapat debu yang melekat padanya. Abu Yusuf, salah seorang ulama mazhab Hanafi, mengatakan bahawa tidak sah bertayammum kecuali dengan menggunakan debu dan pasir.

8. Ghanimah dihalalkan bagi umat Nabi Muhammad (s.a.w).

9. Hanya Rasulullah (s.a.w) yang diutus kepada seluruh umat manusia secara umum.

10. Allah (s.w.t) menganugerahkan Syafa’at al-‘Uzhma kepada Rasul-Nya untuk membebaskan umat manusia dari kesusahan dan huru-hara pada hari kiamat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini

Semoga bermanfaat. Aamiin..