Arsip Kategori: KAJIAN HADITS

Kajian Hadits disini adalah kajian kitab Hadits Ibanatuh Al-Ahkam Karya  ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

HADITS KE 80 : LARANGAN MEMAKAI SUTERA BAGI LAKI-LAKI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PAKAIAN

HADITS KE 80 :

وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: ( كَسَانِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حُلَّةً سِيَرَاءَ, فَخَرَجْتُ فِيهَا, فَرَأَيْتُ الغَضَبَ فِي وَجْهِهِ, فَشَقَقْتُهَا بَيْنَ نِسَائِي ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ

Ali Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah memberiku pakaian dari campuran sutera. Lalu aku keluar dengan menggunakan pakaian itu dan kulihat kemarahan di wajah beliau, maka aku bagikan pakaian itu kepada wanita-wanita di rumahku. Muttafaq Alaihi dan lafadz hadits ini menurut Muslim.

MAKNA HADITS :

Memakai pakaian sutera menurut hukum syara’ adalah haram bagi lelaki yang telah berusia baligh dan ini merupakan satu ketetapan. Rasulullah (s.a.w) pernah mengirimkan sehelai pakaian yang dibuat dari kain sutera kepada Ali ibn Abi Talib dengan tujuan bukan untuk dipakainya melainkan untuk dimanfaatkan dengan cara lain, yaitu membahagikannya kepada kaum kerabat wanitanya dengan cara memotongnya menjadi beberapa helai kerudung, lalu dibagikan kepada mereka. Akan tetapi, Ali malah mentafsirkan pengertian ini berdasarkan makna dzahir pengiriman, sehingga memanfaatkannya dengan cara memakainya.

Ketika Nabi (s.a.w) melihat itu, baginda marah, karena itu tidak bersesuaian
dengan apa yang dimaksudkannya. Lalu Nabi (s.a.w) memberinya petunjuk apa
yang dimaksudnya dan menjelaskan kepadanya bahwa memakai kain sutera tidak dibolehkan baginya. Hal ini menunjukkan boleh mengakhirkan dua keterangan sampai dengan waktu yang diperlukan karena mengandalkan kecerdasan mukhatab (lawan bicara) atau sebagai pendorong agar mukhatab mengajukan pertanyaan sehingga
jawaban itu diberikan setelah pertanyaan itu diajukan, dan keadaan demikian
lebih berkesan di dalam hatinya.

FIQH HADITS :

1. Wajib mempererat ikatan silaturahim dengan kaum kerabat dan handai taulan.

2. Boleh menerima hadiah.

3. Kaum lelaki haram memakai kain sutera.

4. Boleh mengakhirkan penjelasan hukum sampai waktu yang dikehendakinya,
karena Ali (r.a) memanfaatkan kiriman Rasulullah (s.a.w) dengan memakainya, kemudian baginda menjelaskan kepadanya bahwa dia tidak boleh memakai kain sutera itu.

5. Boleh menghadiahkan sesuatu yang dihalalkan bagi penerimanya agar
dia memanfaatkannya untuk kaum kerabatnya yang halal untuk memakai
hadiah itu.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 79 : BOLEHNYA MEMAKAI SUTERA BAGI LAKI-LAKI UNTUK BEROBAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PAKAIAN

HADITS KE 79 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَخَّصَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ, وَالزُّبَيْرِ فِي قَمِيصِ الحَرِيرِ, فِي سَفَرٍ, مِنْ حَكَّةٍ كَانَتْ بِهِمَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memberi keringanan kepada Abdurrahman Ibnu Auf dan Zubair untuk memakai pakaian sutera dalam suatu bepergian karena penyakit gatal yang menimpa mereka. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Antara toleransi Islam ialah lelaki dibolehkan memakai pakaian sutera apabila dia berpenyakit kudis atau kurap. Sedangkan wanita dibolehkan memakainya secara mutlak tanpa terkecuali.

FIQH HADITS :

Boleh memakai pakaian sutera apabila ada uzur seperti penyakit gatal, karena
kain sutera memiliki keistimewaan khusus, yaitu dapat meredam rasa gatal. Inilah
pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, tetapi tidak demikian halnya dengan Imam malik dan Imam Abu Hanifah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 78 : BATASAN MEMAKAI SUTERA BAGI LAKI-LAKI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PAKAIAN

HADITS KE 78 :

وَعَنْ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: ( نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ لُبْسِ الحَرِيرِ إِلَّا مَوْضِعَ إِصْبَعَيْنِ, أَوْ ثَلَاثٍ, أَوْ أَرْبَعٍ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang memakai sutera kecuali sebesar dua, tiga, atau empat jari. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.

MAKNA HADITS :

Antara tolak angsur Islam adalah memberikan keringanan kepada kaum lelaki untuk memakai pakaian yang bercampur dengan sutera selebar kain bendera, yaitu selebar empat jari tangan, baik ketika diagungkan ataupun ketika dipisahkan. Kain sutera selebar empat jari ini diberi nama tathrif atau tathriz.

Kaum wanita dibolehkan memakai kain sutera secara mutlak, baik untuk
perhiasan ataupun untuk tujuan yang lainnya.

FIQH HADITS :

Lelaki dibolehkan memakai pakaian yang bercampur dengan sedikit sutera,
misalnya selebar bendera, baik secara disatukan ataupun dipisahkan, tetapi apapun campuran tersebut dalam kadar yang sedikit.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 77 : LARANGAN MENGGUNAKAN WADAH DARI EMAS DAN PERAK & MEMAKAI KAIN SUTERA ASLI BAGI LAKI-LAKI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PAKAIAN

HADITS KE 77 :

وَعَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ: ( نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَشْرَبَ فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ, وَأَنْ نَأْكُلَ فِيهَا, وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ, وَأَنْ نَجْلِسَ عَلَيْهِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Hudzaifah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang kami minum dan makan dalam tempat terbuat dari emas dan perak, memakai pakaian dari sutera tipis dan tebal, serta duduk di atasnya. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Diharamkan memakai kain sutera tulen bagi kaum lelaki yang telah berusia baligh. Rasulullah (s.a.w) pernah menerima hadiah sehelai baju dari sutera, lalu para sahabat memegangnya sambil menaruh sikap takjub. Melihat itu, Rasulullah (s.a.w) bertanya: “Apakah kamu mengagumi kain sutera ini?” Mereka menjawab: “Ya.” Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Sapu tangan Sa’ad ibn Mu’adz di dalam surga jauh lebih baik daripada ini.”
Peristiwa yang menjadi latar belakang hadis yang bersumber dari Huzaifah ini adalah ketika beliau berada di al-al-Mada’in, ibu kota Kerajaan Parsi, dia minta minum, lalu datanglah pemimpin kaum membawa sebuah bekas yang dibuat dari perak yang berisi air. Huzaifah membuang bekas tersebut berikut airnya, kemudian dia berkata kepada hadirin yang merasa heran dengan sikapnya itu: “Tidaklah sekali-kali aku membuangnya, melainkan kerana aku telah berkali-kali melarangnya dengan cara yang baik supaya tidak menyediakan minuman dengan bekas yang dibuat dari perak, namun terayata dia tidak mau mematuhinya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah (s.a.w)
bersabda: “Janganlah kamu memakai sutera tipis dan tebal, serta makan dengan menggunakan bekas yang dibuat dari perak, karena sesungguhnya barang-barang tersebut biasa digunakan oleh orang kafir di dunia. Maka bedakanlah diri kamu dengan mereka, niscaya barang-barang tersebut untuk kamu kelak di akhirat.”
Diqiyaskan dengan bekas yang digunakan untuk makan dan minum adalah bekas minyak wangi dan celak mata.

FIQH HADITS :

1. Haram makan dan minum dengan menggunakan bekas yang dibuat dari emas dan perak bagi kaum lelaki dan wanita. Lain halnya jika dijadikan perhiasan bagi kaum wanita, sehingga emas dan perak boleh dipakai oleh mereka.

2. Lelaki diharamkan memakai kain sutera. Jumhur ulama mengharamkan kaum lelaki duduk di atas hamparan kain sutera, karena berlandaskan kepada satu hadis yang mengatakan:

“Nabi (s.a.w) melarang kami (kaum lelaki) daripada memakai kain sutera yang nipis dan yang tebal, serta melarang kami daripada duduk di atasnya.”

Tetapi Imam Abu Hanifah membolehkan kaum lelaki duduk di atasnya. Beliau menyanggah pendapat jumhur ulama bahawa lafaz “نهى” tidak menunjukkan hukum haram secara pasti atau larangan tersebut ditujukan kepada gabungan antara memakainya dengan duduk di atasnya, bukan hanya ditujukan kepada duduk di atasnya semata. Adapun memegang kain sutera, memperjualbelikannya dan
memanfaatkannya maka itu tidaklah diharamkan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 76 : DIHARAMKAN MEMAKAI KAIN SUTERA BAGI LAKI-LAKI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PAKAIAN

HADITS KE 76 :

عَنْ أَبِي عَامِرٍ اَلْأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الحِر وَالْحَرِيرَ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ

Dari Abu Amir al-Asy’ari Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya akan ada di antara umatku kaum yang menghalalkan kemaluan dan sutra.” Riwayat Abu Dawud dan asalnya dalam riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) menganugerahkan pakaian kepada hamba-Nya, lalu dimudahkan-
Nya untuk memperolehinya. Allah (s.w.t) berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا (٢٦)

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk
menutupi auratmu dan pakaian yang indah sebagai perhiasanmu…” (Surah al-A’raf: 26)

Pakaian itu ada dua jenis. Pertama, pakaian yang bersifat konkrit, seperti pakaian yang lazim kita pakai. Jenis ini ada dua jenis, yaitu pakaian halal dan pakaian haram. Pakaian halal seperti pakaian yang dibuat dari bahan kapas atau bahan yang lainnya yang halal. Sedangkan pakaian haram seperti pakaian yang dibuat dari sutera dan emas, khusus bagi kaum lelaki tanpa ada udzur untuk memakainya.

Kedua, jenis pakaian yang bersifat abstrak, yaitu menghiasi diri dengan akhlak
mulia dan mengerjakan perintah Allah (s.w.t) Allah (s.w.t) berfirman:

ولباس التقوى ذلك خير (٢٦)

“… Dan pakaian takwa itulah yang paling baik…” (Surah al-A’raf: 26)

Salah seorang penyair berkata:

“Jika akhlak seseorang tidak dinodai sifat tercela maka seluruh pakaian yang dipakainya indah belaka”.

Seorang bijak pandai berpesan:
“Jika seseorang tidak menghiasi dirinya dengan takwa sebagai pakaiannya, maka bererti dia sama dengan bertelanjang, sekalipun dia berpakaian secara dzahir.”

FIQH HADITS :

1. Lelaki haram memakai kain sutera, karena pakaian yang dibuat dari kain sutera merupakan pakaian miwah dan perhiasan yang hanya layak dipakai oleh kaum wanita atau pakaian sutera menunjukkan penampilan yang bongkak dan sombong atau ia dilarang sebagai perkara yang dilarang oleh Islam.

2. Haram berzina dan tidak boleh menghalalkan kemaluan wanita kecuali
setelah kawin dengannya.

3. Barang siapa yang menghalalkan perkara yang diharamkan sebagaimana yang telah dinyatakan oleh agama dengan tegas, maka sesungguhnya orang itu dianggap telah keluar dari agama dan tidak termasuk umat Islam lagi sehinggalah dia bertaubat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 75 : CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO’A

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 75 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memohon hujan, lalu beliau memberi isyarat dengan punggung kedua telapak tangannya ke langit. Dikeluarkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Dalam berdo’a disunatkan memohon agar malapetaka dijauhkan seperti memohon agar musim kemarau dihilangkan dan lain-lain sebagainya. Hendaklah seseorang mengangkat kedua tangan dan menjadikan kedua telapak tangannya menghadap ke arah langit sebagai isyarat, semoga keadaan hidup yang keras dan gersang berubah menjadi keadaan yang subur dan makmur.

Dalam berdo’a memohon kebaikan, hendaklah bagian dalam kedua
telapak tangan diarahkan ke langit. Hal ini diperkuatkan lagi dengan apa yang
disabdakan oleh Nabi (s.a.w) dalam hadis yang lain:

إذا سألتم الله فاسألوه ببطون أكفكم ولا تسألوه بظهورها

“Jika kamu memohon sesuatu kepada Allah, maka pohonlah kepada-Nya dengan menengadahkan bagian dalam telapak tangan kamu; dan janganlah kamu meminta kepada-Nya dengan bagian luar telapak tangan kamu.

FIQH HADITS :

Menjelaskan cara mengangkat kedua tangan ketika berdo’a memohon agar
malapetaka dihilangkan.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 74 : ANJURAN MENGELUARKAN HEWAN TERNAK KETIKA SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 74 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( خَرَجَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَسْتَسْقِي, فَرَأَى نَمْلَةً مُسْتَلْقِيَةً عَلَى ظَهْرِهَا رَافِعَةً قَوَائِمَهَا إِلَى السَّمَاءِ تَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنَّا خَلْقٌ مِنْ خَلْقِكَ, لَيْسَ بِنَا غِنًى عَنْ سُقْيَاكَ, فَقَالَ: ارْجِعُوا لَقَدْ سُقِيتُمْ بِدَعْوَةِ غَيْرِكُمْ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Nabi Sulaiman pernah keluar untuk memohon hujan, lalu beliau melihat seekor semut terlentang di atas punggungnya dengan kaki-kakinya terangkat ke langit seraya berkata: “Ya Allah kami adalah salah satu makhluk-Mu yang bukan tidak membutuhkan siraman airmu. Maka Nabi Sulaiman berkata: Pulanglah, kamu benar-benar akan diturunkan hujan karena doa makhluk selain kamu.”

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) menciptakan hewan dan binatang dengan membekalinya fitrah
untuk selalu memohon perlindungan kepada-Nya dan mereka tahu bahwa yang menciptakan mereka adalah Allah (s.w.t) Yang Maha Suci yang ada di atas Arasy-
Nya, sebagaimana yang dikehendaki-Nya tanpa ada yang dapat menggambarkan-Nya dan tanpa ada yang dapat menyerupakan-Nya. Allah (s.w.t) berfirman:

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ (٤٤)

“… Dan tak ada suatu (makhluk) pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya…” (Surah al-Isra: 44)

Akan tetapi, ada sekumpulan hewan berwujud manusia menggambarkan Allah
yang menciptakan mereka dengan sifat-sifat makhluk. Mereka menggambarkan
pengertian fawqiyyah sebagai pengertian alam nyata yang memiliki batasan ruang
serta tempat tertentu. Pengertian seperti itu pada hakikatnya tidak memahami
hakikat Allah yang benar di samping keluar dari pemahaman yang benar dan menyimpang dari apa yang disifatkan oleh Allah (s.w.t) terhadap zat-Nya di dalam Kitab-Nya dan oleh Rasul-Nya. Tidak ada suatu nash pun yang menggambarkan Tuhan Yang Maha Pencipta dengan gambaran yang mempunyai batasan, arah dan rupa Allah (s.w.t) sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١١)

“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat…” (Surah al-Syura: 11)

Dalam ayat yang lain Allah (s.w.t) berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ (٤)

“… Dan Dia bersama kamu di mana sahaja kamu berada…” (Surah al-Hadid: 4)

Dengan demikian, tidak ada ta’til (meniadakah sifat-sifat Allah), ta’wil, tasybih dan tamtsil melainkan kita menyifatkan Allah (s.w.t) sesuai dengan apa yang Dia sifatkan untuk zat-Nya dan sesuai dengan apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan berangkat menuju lapangan untuk mengerjakan sholat istisqa’.

2. Istisqa’ juga disyariatkan bagi umat-umat terdahulu.

3. Dianjurkan mengeluarkan semua hewan ternak ketika beristisqa’, karena hewan juga mempunyai tabiat yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai Allah. Ia berzikir dan berdo’a kepada-Nya dengan
bahasanya sendiri yang hanya difahami oleh Allah (s.w.t), meskipun manusia tidak memahaminya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 73 : DO’A RASULULLAH DALAM SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 73 :

وَعَنْ سَعْدٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَعَا فِي اَلِاسْتِسْقَاءِ: ( اَللَّهُمَّ جَلِّلْنَا سَحَابًا, كَثِيفًا, قَصِيفًا, دَلُوقًا, ضَحُوكًا, تُمْطِرُنَا مِنْهُ رَذَاذًا, قِطْقِطًا, سَجْلًا, يَا ذَا الجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) رَوَاهُ أَبُو عَوَانَةَ فِي صَحِيحِهِ

Dari Sa’ad Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdoa sewaktu memohon hujan: “Ya Allah ratakanlah bagi kami awan yang tebal, berhalilintar, yang deras, berkilat, yang menghujani kami dengan rintik-rintik, butir-butir kecil yang banyak siramannya, wahai Dzat yang Maha Agung dan Mulia.” Riwayat Abu Awanah dalam kitab shahihnya.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) dianugerahi jawami’ al-kalim dan semua do’a yang dibaca ketika
beristisqa’ merupakan do’a yang paling fasih dari segi bahasa dan memiliki nilai
kesastraan yang paling tinggi. Di dalamnya terdapat ungkapan tadharru’, memohon kepada Allah agar rahmat-Nya tetap dilestarikan, sedangkan bahaya
yang terkandung di dalamnya dihilangkan. Ia turut memuatkan etika ketika
memohon kepada-Nya melalui sabdanya: “يا ذا الجلال والاكرام “ yang bermaksud:
(Wahai Tuhan yang memiliki kekayaan secara mutlak dan memiliki anugerah yang sempurna, lestarikanlah anugerah-Mu, dan lenyapkanlah malapetaka dari kami).

Pada suatu hari Nabi (s.a.w) bersua dengan seorang lelaki yang sedang berdo’a di dalam sholatnya seraya membaca: “يا ذا الجلال والاكرام” “Wahai Tuhan Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” Mendengar itu, baginda bersabda kepada lelaki itu:
“Sungguhnya do’amu itu telah dikabulkan oleh Allah.”

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca do’a istisqa’ dengan salah satu dari do’a-do’a yang
dinukil dari Rasulullah (s.a.w).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 72 : DO’A KETIKA TURUN HUJAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 72 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَأَى المَطَرَ قَالَ: ( اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا ) أَخْرَجَاهُ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila melihat hujan, beliau berdo’a: “Ya Allah curahkanlah hujan yang bermanfaat.” Dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) amat pengasih lagi penyayang. Jika melihat hujan turun dengan lebat, baginda segera berdo’a kepada Allah memohon agar hujan tersebut dijadikan sebagai hujan yang bermanfaat dan kaum muslimin terhindar daripada hujan yang membahayakan seperti hujan yang menumbangkan pepohonan dan meruntuhkan rumah-rumah. Oleh itu, Nabi (s.a.w) berdo’a: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.” Oleh itu, do’a ini sunnah dibaca ketika hujan turun.

FIQH HADITS :

Disunatkan berdo’a ketika hujan turun.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..