Arsip Kategori: Tak Berkategori

HADITS KE 130 : HUKUM MEMBANGUN KUBURAN DAN MENGECATNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 130 :

ولمسلم عنه : نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر، وأن يقعد عليه، وأن يبنى عليه. متفق عليه.

Menurut riwayat Muslim dari Jabir (r.a) disebutkan sebagai berikut bahwa Rasulullah (s.a.w) telah melarang dari mengecat kuburan, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.” (MDttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Hukum-hakum syariat telah ditetapkan demi kemaslahatan sekaligus
menjauhkan kemudharatan, baik kemudharatan itu sendiri ataupun akibat yang bakal ditimbulkan oleh kemudharatan itu. Kejahilan telah merajalela di kalangan umat terdahulu hingga mereka menjadikan bangunan sebagai kenangan berganti peranan menjadi berhala-berhala yang disembah. Oleh sebab itu, syariat Islam melarang mengecat kuburan, membuat binaan di atasnya, dan menghiasinya
dengan kain kelambu serta mengusap dindingnya. Larangan ini untuk mencegah
perkara-perkara yang bakal mengakibatkan kemudharatan sesuai dengan hikmah
yang terdapat di sebalik rahsia syariat Islam ini.

FIQH HADITS :

1. Dilarang mengecat kuburan. Larangan ini menunjukkan hukum makruh menurut pendapat keempat imam mazhab. Hikmah larangan ini ialah karena kuburan itu sifatnya sementara, bukan untuk selamanya;
dan mengecatnya merupakan perhiasan duniawi, sedangkan mayat tidak memerlukan itu di samping dikawatiri kuburan tersebut akan berubah peranan menjadi tempat sesembahan apabila kejahilan telah merajalela di kalangan umat. Adapun mengecatnya dengan tanah liat, maka menurut Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, itu tidak dilarang selagi bertujuan keadaan kuburan senantiasa diketahui. Imam Malik pula berkata: “Makruh mengecat kuburan dengan tanah liat selagi tidak bertujuan untuk mencegah bau busuk, tetapi apabila itu dibuat untuk tujuan mencegah penyebaran bau busuk itu, maka ia dibolehkan. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya, menurut pendapat yang dipilih di kalangan mereka, mengatakan bahwa mengecat kuburan dengan tanah liat tidaklah dimakruhkan.

2. Dilarang duduk di atas kuburan. Menurut jumhur ulama, larangan ini menunjukkan hukum makruh. Jika duduk di atasnya untuk membuang hajat, baik hajat kecil ataupun hajat besar, maka larangan ini menunjukkan
hukum haram. Menurut pendapat yang masyhur dari Imam Malik, makruh
duduk dan berjalan di atas kuburan baik kuburan tersebut ditinggikan permukaannya atau diratakan sedangkan jalan berada di bawahnya dan diyakini masih ada tulang mayat di dalamnya. Jika diyakini sudah tidak ada lagi tulang di dalamnya, maka dibolehkan tanpa adanya hukum makruh. Imam Malik mentafsirkan hadits yang melarang berbuat demikian bahwa larangan itu ditujukan kepada orang yang duduk di atasnya untuk
membuang hajat kecil atau hajat besar.

3. Dilarang membuat bangunan di atas kuburan. Menurut pendapat yang paling sahih di sisi Imam al-Syafi’i dan murid-muridnya, Imam Abu Hanifah dan mazhab Hanbali, larangan ini menunjukkan hukum makruh apabila
bangunan tersebut berada di tanah milik si pembangun; sedangkan larangan
yang menunjukkan hukum haram adalah apabila bangunan tersebut berada
di kawasan perkuburan umum. Al-Nawawi berkata: Bangunan tersebut wajib diruntuhkan tanpa ada seorang ulama pun yang berselisih pendapat dalam masalah ini. Imam Abu Hanifah berkata: “Bangunan tersebut wajib diruntuhkan, sekalipun berada di dalam masjid.” Menurut mazhab Maliki,
makruh membuat bangunan di atas kuburan apabila kuburan itu berada di atas tanah umum atau milik orang lain setelah mendapat kebenaran dari pemiliknya, atau berada di atas tanah yang tidak bertuan selagi tidak bertujuan membanggakannya. Haram membuat bangunan di atas tanah yang bukan milik umum, misalnya di atas tanah waqaf khusus untuk
perkuburan atau itu dilakukan untuk membanggakan diri karena si mayat
termasuk orang yang disegani semasa hidupnya. Diharamkan berbuat demikian karena itu bererti menguasai hak umum, di samping tindakan sedemikian dianggap sifat takabbur dan perbuatan berbangga diri yang dilarang oleh Islam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 125 : ANJURAN BERDIRI MENGIRINGI JENAZAH DITURUNKAN KE TEMPAT PEMAKAMAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 125 :

عن أبي سعيد رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إذا رأيتم الجنازة فقوموا فمن تبعها فلا يجلس حتى توضع. متفق عليه.

Dari Abu Sa’id (r.a) bahwa Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Jika kamu melihat jenazah, maka berdirilah dan barang siapa yang mengiringinya, maka janganlah dia duduk sebelum jenazah diturunkan (ke tempat pengkebumian).” (Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Pada permulaan Islam berdiri untuk menghormati jenazah adalah disyariatkan
berdasarkan sabda Rasulullah (s.a.w): “Jika kamu melihat jenazah, maka berdirilah!”
Ini dilakukan untuk menghormati Allah yang mencabut nyawa si mayit dan para
malaikat yang ditugaskan untuk melaksanakan tugas itu.

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum perintah berdiri ini. Sebagian mereka ada yang mentafsirkannya sebagai perintah wajib sehingga diwajibkan berdiri untuk menghormati jenazah apabila lewat di hadapan seorang yang mukallaf,
meskipun dia tidak berniat turut serta mengiringinya. Ulama yang lain juga mengatakan bahwa perintah wajib ini telah dimansukh oleh hadis Ali (r.a) yang menceritakan bahwa Nabi (s.a.w) pernah berdiri untuk menghormati jenazah, kemudian setelah itu baginda duduk. Hadis ini memansukh perintah wajib yang ada hadis sebelum ini. Pendapat ini dianut oleh Imam al-Syafi’i. Antara mereka ada pula yang mentafsirkan perintah ini menunjukkan hukum sunat. Faktor yang memalingkan perintah wajib ialah adanya qarinah (bukti).
Mereka mengatakan bahwa hadis Ali (r.a) menunjukkan hukum mubah dan oleh karenanya, ia tidak bertentangan dengan hukum sunat. Boleh pula ditafsirkan
bahwa Nabi (s.a.w) duduk untuk tujuan membedakan diri dengan orang
Yahudi sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah ibnu al-Shamit yang
dikemukakan oleh Imam Ahmad. Dianjurkan tetap dalam keadaan berdiri hingga
jenazah diturunkan ke tanah. Al-Baihaqi mengemukakan hadis Abu Hurairah (r.a)
bahwa Nabi (s.a.w) bersabda:

القائم كالحامل في الأجر

“Orang yang berdiri mendapat pahala yang sama dengan orang yang mengusung (jenazah).”

FIQH HADITS :

1. Seseorang yang sedang dalam keadaan duduk disyariatkan berdiri apabila
iringan jenazah lalu di hadapannya untuk mengagungkan Allah (s.w.t).

2. Orang yang mengiringi jenazah tidak boleh duduk sebelum jenazah diturunkan dari atas bahu para pengusungnya ke tanah, karena orang yang mengiringi jenazah itu bertujuan mementingkan jenazah, bukan
mementingkan dirinya sendiri.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 124 : HUKUM MENGANTARKAN JANAZAH BAGI WANITA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 124 :

عن ام عطية رضي الله عنها قالت : نهينا عن اتباع الجنائز، ولم يعزم علينا. متفق عليه.

Dari Ummu Atiyyah (r.a), beliau berkata: “Kami (kaum wanita) telah dilarang mengiringi jenazah, tetapi larangan tersebut tidak diperketatkan.” (Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Pendapat paling kuat pada zaman sekarang dimana banyak kerusakan terjadi
dan hijab tidak lagi diendahkan adalah dilarang kaum wanita mengiringi jenazah
ke tempat pengkebumian. Selain itu perasaan pedih akibat musibah yang baru
menimpa mereka belum lagi hilang dari dalam diri mereka, tidak mempunyai
kesabaran dan tidak memiliki kemampuan untuk mengusung jenazah, lebih-lebih
lagi dikawatiri aurat mereka terlihat. Oleh itu, adalah wajar apabila Rasulullah
(s.a.w) bersabda kepada kaum wanita yang mengiringi jenazah:

ارجعن معزورات غير مأجورات

“Kembalilah kamu dalam keadaan membawa dosa, tanpa memperoleh suatu pahala!”

FIQH HADITS :

Kaum wanita dilarang mengantarkan jenazah ke tempat pengkebumian.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 123 : POSISI KETIKA MENGANTAR PEMAKAMAN JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 123 :

عن سالم عن أبيه رضي الله عنه أن النبي ﷺ وابا بكر وعمر يمشون أمام الجنازة. رواه الخمسة وصححه ابن حبان. وأعله النسائي وطائفة بالإرسال

Dari Salim dari ayahnya bahwa dia pernah melihat Nabi (s.a.w), demikian pula Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar berjalan di hadapan jenazah. (Diriwayatkan oleh al-Khamsah, dinilai sahih oleh Ibn Hibban, dan dinilai mursal oleh al-Nasa’i dan sekumpulan ulama yang lain)

MAKNA HADITS :

Orang yang mengiringi jenazah adalah orang yang memohonkan syafaat bagi si
mayat dan antara kebiasaan orang yang memohonkan syafaat adalah hendaklah
mereka berada di hadapan orang yang dipintakan syafaat, karena mengharap
supaya syafaat itu diterima. Inilah yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) dan para
khalifah sesudahnya mengikut pendapat jumhur ulama.

Menurut Imam Abu Hanifah, orang yang mengiringi jenazah hendaklah berada di belakangnya dan ini lebih diutamakan dengan tujuan permohonan syafaat dikabulkan dan perjalanan mengantarkannya ke tempat pengkebumian cepat sampai. Perbedaan ini hanya berkaitan masalah mana yang lebih utama, karena walau apapun dibolehkan berjalan di sebelah manapun, baik di belakang
jenazah, di hadapan, di sebelah kanan ataupun di sebelah kirinya. Bagi orang yang
berkendaraan, hendaklah berjalan di belakang jenazah mengikuti kesepakatan ulama.

FIQH HADITS :

Orang yang mengiringi jenazah disunatkan berada di sebelah hadapannya. Imam
al-Syafi’i dan Imam Malik berpendapat bahwa berjalan di hadapan jenazah lebih
afdhal berdasarkan pemahaman yang terdapat di dalam hadis ini, yaitu perbuatan yang telah dilakukan oleh Nabi (s.a.w) dan para khalifah sesudahnya.

Imam Ahmad mengatakan bahwa boleh berjalan di hadapan jenazah atau di sebelah belakangnya, di sebelah kanan atau di sebelah kirinya. Di dalam pendapatnya ini terdapat kebebasan bagi orang yang menghantarkan jenazah untuk berjalan di sebelah manapun, dan ini sesuai dengan sunat menyegerakan
untuk mengantar jenazah tanpa ada hubungan dengan tempat tertentu bagi posisi mereka ketika berjalan, agar tidak memberatkan mereka atau sebagian mereka yang mengiringi jenazah.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa berjalan di belakang jenazah lebih utama berdasarkan satu riwayat yang diketengahkan oleh Ibn Thawus dari ayahnya:

ما مشى رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى مات إلا خلف الجنازة

“Rasulullah (s.a.w) belum pernah berjalan (ketika mengiringi jenazah) hingga baginda
wafat, melainkan seantiasa berada di belakang jenazah.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 122 : PAHALA BAGI ORANG YANG MERAWAT JENAZAH SAMPAI DIKUBURKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 122 :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله ﷺ : مَنْ شَهِدَ الْجِنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ . قِيلَ : وَمَا الْقِيرَاطَانِ ؟ قَالَ : مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ .
وَلِمُسْلِمٍ : أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ. متفق عليه. ولمسلم حتى توضع فى اللحد.
وللبخاري : مَنْ تبعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا فَإِنَّه يَرْجِعُ مِنْ الأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ. كل قيراط مثل جبل أحد.

Dari Abu Hurairah (r.a), beliau berkata: Rasulullah (s.a.w) bersabda:
“Barang siapa yang menghadiri jenazah hingga menyembahyangkannya, maka baginya pahala satu qirath. Barang siapa yang menghadirinya hingga dikebumikan, maka baginya pahala dua qirath. Seorang sahabat bertanya: “Apakah maksud dua qirath itu?” Nabi (s.a.w)
menjawab: “Seperti dua buah bukit yang besar.” (Muttafaq ‘alaih) Menurut riwayat
Muslim disebutkan: “Hingga jenazah dimasukkan ke dalam liang lahad.”
Menurut riwayat al-Bukhari yang juga daripada Abu Hurairah (r.a) disebutkan:
“Barang siapa yang mengiringi jenazah seorang muslim berlandaskan iman dan mengharap pahala Allah, sedangkan dia selalu bersamanya hingga menyembahyangkannya dan selesai
mengikuti acara pengkebumiannya, maka sesungguhnya dia pulang dengan membawa pahala dua qirath; setiap satu qirath sama seperti bukit Uhud.”

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) menganjurkan untuk menyelenggarakan jenazah dan
membantu keluarganya mengiringinya ke tempat pemakaman, mengusung,
menyembahyangkan dan mengkebumikannya. Oleh itu, baginda memberitakan bahwa barang siapa yang mengiringi jenazah setelah menyembahyangkannya,
maka baginya pahala satu qirath yang besar. Nabi (s.a.w) menggambarkan sesuatu yang abstrak ini dengan sesuatu yang nyata yang mereka kenal, yaitu Bukit Uhud. Bukit Uhud berada di dekat mereka dan bukit yang paling disukai oleh jiwa mereka yang beriman.
Pahala makin bertambah apabila seseorang mengiringi jenazah sesudah
menyembahyangkannya hingga jenazah dikebumikan. Pahala yang dijanjikan di dalam hadis ini tidak diperoleh kecuali oleh orang yang menghadiri, menyembahyangkan dan mengkebumikan jenazah yang berlandaskan percaya kepada janji Allah yang menganugerahkan ganjaran pahala untuknya di sisi-Nya. Lain halnya dengan orang yang berbuat demikian karena ingin mengharapkan
imbalan upah semata-mata, atau riya dan menginginkan popularitas, maka dia tidak
memperoleh ganjaran pahala tersebut.

FIQH HADITS :

1. Diwajibkan mengkafani, menyembahyangkan, dan mengiringinya hingga selesai dari penguburannya.

2. Adalah satu kemuliaan dan penghormatan bagi mayat karena orang yang menyelenggarakan jenazahnya memperoleh ganjaran pahala yang banyak.

3. Kemurahan Allah (s.w.t) dan penghormatan-Nya kepada si mayat karena orang yang memperlakukannya dengan baik diberi ganjaran pahala yang berlimpah oleh-Nya.

4. Membuat perumpamaan dengan sesuatu yang nyata supaya mudah difahami dan lebih berkesan di hati.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 120 : ANJURAN IHLAS KETIKA MENDO’AKAN MAYIT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 120 :

وعنه أن النبي ﷺ قال : إذا صليت على الميت فأخلصوا عليه الدعاء. رواه أبو دود وصححه ابن حبان.

Dari Abu Hurairah (r.a), bahwa Nabi (s.a.w) bersabda: “Jika kamu melakukan
sholat jenazah, maka ikhlaslah ketika kamu mendo’akan jenazah itu.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban)

MAKNA HADITS :

Seseorang yang melakukan sholat jenazah adalah orang yang memohon syafaat untuk jenazah dan berharap semoga syafaatnya diterima untuk si mayat. Oleh itu, sudah sepatutnya dia bersungguh-sungguh ketika berdo’a dan ikhlas dalam melakukannya. Rasulullah (s.a.w) menyuruh kita untuk berbuat demikian melalui sabdanya: “Ikhlaslah kamu ketika mendo’akan jenazah itu.” Perintah yang terdapat di dalam hadis ini menunjukkan hukum sunnah.

FIQH HADITS :

Dianjurkan ikhlas ketika mendo’akan mayat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 118-119 : DO’A-DO’A DALAM SHALAT JANAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 118 :

عن عوف بن مالك رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال: صلى رَسُول اللَّهِ ﷺ على جنازة فحفظت من دعائه وهو يقول: اللهم اغفر له وارحمه، وعافه واعف عنه، وأكرم نزله ووسع مدخله، واغسله بالماء والثلج والبرد، ونقه من الخطايا كما نقيت الثوب الأبيض من الدنس، وأبد له داراً خيراً من داره، وأهلاً خيراً من أهله، وأدخله الجنة، وقه فتنة القبر وعذاب النار. رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Auf ibn Malik (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) telah
menyembahyangkan jenazah dan aku telah menghafal do’a yang telah dibaca
baginda itu:

اللهم اغفر له وارحمه، وعافه واعف عنه، وأكرم نزله ووسع مدخله، واغسله بالماء والثلج والبرد، ونقه من الخطايا كما نقيت الثوب الأبيض من الدنس، وأبد له داراً خيراً من داره، وأهلاً خيراً من أهله، وأدخله الجنة، وقه فتنة القبر وعذاب النار

“Ya Allah, ampunilah dia dan berilah rahmat kepadanya. Selamatkanlah dirinya dan berilah pengampunan kepadanya, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburnya, dan mandikanlah dia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah dirinya dari dosa-dosa sebagaimana membersihkan baju putih dari kotoran, dan gantilah untuknya rumah yang lebih baik daripada rumahnya, dan keluarga
yang lebih baik daripada keluarganya. Dan masukkanlah dia ke dalam surga serta peliharalah dirinya dari siksa kubur dan siksa neraka.” (Diriwayatkan
oleh Muslim)

HADITS KE 119 :

للَّهم اغفر لِحَيِّنَا وَميِّتِنا ، وَصَغيرنا وَكَبيرِنَا ، وذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا ، وشَاهِدِنا وَغائِبنَا . اللَّهُمَّ منْ أَحْيَيْتَه منَّا فأَحْيِه على الإسْلامِ ، وَمَنْ توَفَّيْتَه منَّا فَتَوَفَّهُ عَلى الإيمانِ ، اللَّهُمَّ لا تَحْرِمْنا أَجْرَهُ ، وَلا تَضلنا بَعْدَهُ » رواه مسلم والاربعة.

Dari Abu Hurairah (r.a), beliau berkata: “Jika Rasulullah (s.a.w)
menyembahyangkan jenazah, baginda berdo’a seraya mengatakan:

اللَّهُمَّ منْ أَحْيَيْتَه منَّا فأَحْيِه على الإسْلامِ ، وَمَنْ توَفَّيْتَه منَّا فَتَوَفَّهُ عَلى الإيمانِ ، اللَّهُمَّ لا تَحْرِمْنا أَجْرَهُ ، وَلا تَضلنا بَعْدَه

“Ya Allah, berikanlah ampunan bagi orang yang hidup di antara kami, orang yang
mati di antara kami, orang yang hadir di antara kami, orang yang tidak hadir di
antara kami, anak-anak dan orang tua di antara kami, lelaki dan perempuan kami. Ya Allah, siapa yang Engkau karuniakan hidup di antara kami, maka hidupkanlah dia dalam Islam dan siapa yang Engkau matikan di antara kami,
maka matikanlah dia dalam iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami untuk meraih pahala dan janganlah Engkau sesatkan kami sepeninggalannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan al-Arba’ah)

MAKNA HADITS :

Topik kedua hadis ini sama, yaitu cara berdo’a untuk si mayat. Rasulullah
(s.a.w) menyuruh kita supaya ikhlas ketika mendo’akan mayat, karena orang
yang mengerjakan sholat jenazah adalah orang yang memohon syafaat, dan orang
yang memohon syafaat itu hendaklah ikhlas supaya do’anya dikabulkan. Tidak diragukan bahwa do’a yang pernah dibaca oleh Nabi (s.a.w) lebih afdal untuk
didahulukan, karena baginda dianugerahkan Jawami’ al-Kalim dan baginda adalah seorang yang paling mengetahui cara berdo’a. Banyak hadis yang menceritakan do’a mayat ini dengan pelbagai bentuk kalimat yang dimuatkannya. Ini menunjukkan bahwa masalah ini luas dan tidak ada batasan dengan do’a tertentu. Do’a-do’a tersebut diucapkan ketika mengerjakan sholat jenazah dengan suara yang tidak kuat. Do’a-do’a untuk mayat yang dinukil oleh para sanabat dari Nabi (s.a.w) dapat ditafsirkan bahwa sesekali Nabi (s.a.w) menguatkan suara bacaan do’a ketika mengerjakan sholat jenazah supaya didengar oleh makmum di belakang, meskipun tidak menutup kemungkinan mereka bertanya tentang apa yang dibaca oleh baginda dalam do’anya itu, lalu Nabi (s.a.w) memberitahu hal tersebut kepada mereka.

FIQH HADITS :

1. Dalam sholat jenazah disyariatkan berdo’a untuk si mayat.

2. Disunatkan berdo’a dengan do’a-do’a yang terdapat di dalam hadis, karena
do’a-do’a tersebut lebih lebih afdal.

3. Menetapkan adanya siksa kubur dan siksa neraka.

4. Dianjurkan berdo’a dengan do’a yang memiliki makna yang menyeluruh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 109 : LARANGAN MERATAPI KEMATIAN SESEORANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 109 :

عن خذيفة رضي الله عنهأن النبي صلى الله عليه وسلم كان ينهى عن النعي. رواه أحمد والترمذي وحسنه

Dari Hudzaifah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) melarang dari melakukan al-na’yu (meratap dengan cara Jahiliah). (Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Tirmizi yang menilainya sebagai hasan).

MAKNA HADITS :

Al-Na’yu ialah memberitahu kematian seseorang dan untuk menyampaikan berita kematian ada beberapa cara.

Pertama, memberitahu kepada keluarga si mayat, rekan-rekannya, orang sholeh dan tetangga. Ini termasuk amalan Sunnah mengingat si mayat harus dihadiri oleh jemaah yang akan memandikan, menyembahyangkan dan mengkebumikannya yang semua itu merupakan fardu kifayah dan harus dilakukan.

Kedua, mengajak orang banyak untuk tujuan membanggakan diri. Cara ini dimakruhkan kecuali bertujuan untuk memperbanyakkan pahala dan syafa’at dengan banyaknya orang yang menyembahyangkan si mayat.
Ketiga, memberitahu dengan cara niyahah dan menangis yang disertai dengan jeritan pada setiap pintu rumah, di pasar dan di atas mimbar. Ada pula dengan mengirimkan seseorang untuk berkeliling ke seluruh kabilah sebagaimana yang dilakukan oleh orang Arab pada zaman Jahiliyah. Cara inilah yang dilarang oleh Nabi (s.a.w) dalam hadis ini, karena baginda tidak suka meniru perbuatan mereka. Ini dikuatkan oleh sabda Nabi (s.a.w) dalam hadis yang lain:

إياكم والنعي فإن النعي من أعمال الجاهلية

“Janganlah kamu melakukan na’yu, karena sesungguhnya na’yu termasuk perbuatan Jahiliah.”

Adapun pemberitahuan secara mutlak tanpa disertai niyahah dan berbangga-bangga, maka itu diperbolehkan dengan berdalilkan sabda Nabi (s.a.w): “Mengapa kamu tidak memberitahukannya kepadaku?” sebagimana dalam kisah kematian seorang wanita yang bekerja membersihkan masjid sebelum ini.

FIQH HADITS :

1. Larangan melakukan perbuatan yang dahulu biasa dikerjakan oleh masyarakat Jahiliah apabila ada orang yang dihormati di kalangan mereka meninggal dunia atau mati dibunuh.

2. Disyariatkan memberitahu kematian seseorang agar seluruh keluarganya berkumpul, begitu pula teman-teman si mayat dan orang soleh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..