Arsip Kategori: Tak Berkategori

D022. HUKUM MERUBAH DHOMIR DALAM DO’A YANG MA’TSUR DARI AL-QUR’AN DAN HADITS

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:
Sudah menjadi tradisi khusus-Nya di dairah kami ummat Islam madura dan juga jawa pada umumnya, jika seseorang hendak berangkat haji kemekah al-Mukarramah maka diadakan acara selamatan tasyakkur bahkan istighasah (pernyo’onan: red)dengan bermacam-macam amalan dan bacaan setiap malam, seperti shalawat sir, ayat kursi, shalawat nariyah dll, mulai berangkat sampai datang dari mekah, setelah selasai mengamalkan amalan atau bacaan biasanya lalu ditutup dengan do’a oleh sang Kyai. Studi kasus kami pernah ikut istighasah (apernyo’onan haji) sedang yang haji dua orang/ suami istri (Fulan dan Fulanah), setelah selesai berdzikir/ shalawat sang Kyai berdo’a begini:

اللهم اجعلهما حجا مبرورا وسعيا لهما سعيا مشكورا وذنبا لهما ذنبا مغفورا وعملا لهما عملا صالحا وتجارة لهما تجارة لن تبور.

Pertanyaannya:
1-Bolehkah merubah kalimat dan dlomir dalam do’a yang warid dari Nabi saw,?

2-Kalau boleh merubah kata dari mufrad ke tatsniyah atau jama’ atau merubah dlomir dengan merujuk pada kata sebelumnya menurut ilmu tata bahasa (ilmu nahwu) benarkah dalam setudi kasus susunan kalimat do’a tersebut diatas?

3-Jika misalkan kalimat/dan dlomirnya salah apakah bisa diterima sementara ma’nanya sudah tidak sesuai (keliru)?

Mohon jawaban para mujawwib /Kyai dan ust.. Syukron..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jawaban No.1 :

Boleh merubah do’a yang warid atau yang ma’tzurah yakni dari dlomir mutakallim wahdah menjadi dlomir mutakallim maal ghair dengan mengkodisikan (menyesuaikan dengan keadaan) dan si pembaca tidak dihukumi kafir dengan niat iqtibas karena yang namanya iqtibas pasti berubah dari kata asalnya begitu juga ma’nanya walau tidak terlalu jauh. Oleh karenanya sebagai tokoh agama yang memimpin do’a harus menguasi medan atau keadaan yang paling terpenting adalah ilmu tata bahasa, dengan tujuan agar terkesan baik oleh jamaah yang dapat memahaminya.

Referensi :

جواهر البلاغة ص.٣٣٨-٣٣٩
الإقتباس هو أن يضمن المتكلم
منثورة، أو منظومه، شيأ من القرآن او الحديث ، على وجه لايشعر بأنه منهما فمثاله من {النثر} {فلم يكن إلا كلمح البصر أو هو أقرب} حتى أنشد فأغرب، ونحو قول الحريرى، أنا أنبئكم بتأويله،-إلى أن قال من الحديث فى {النثر} قول الحرير ،شاهت الوجوه ،وقبح الله ومن يرجوه،وكقوله الحريرى أيضا وكتمان الفقر زهاده، وانتشار الفرج عباده

Dalam ibarah yang lain dijelaskan sebagai berikut:

زهر الحكم فى الأمثال والحكام الجزء الثانى ٢٦
وهذا من الإقتباس وهو أن يؤتى فى الكلام المنثور او المنظوم بلفظ يشبه لفظ القرآن او الحديث غير منوى إنه قرآن او حديث، ولابد من هذاالقيد الآخر:ولذلك ساغ سوق اللفظ مع تغيير فيه أوفي معناه ولايلزم فيه كفر تبديل القرآن ولا خلاف نقل الحديث بالمعنى

Begitu juga diperkuat dalam ibarah yang lain :

الإتقان الجزء الأول ص٣٨٦-٣٨٧
الإقتباس تضمين الشعر أوالنثر بعض القرآن لا على أنه منه بأن لا يقال قال الله تعالى ونحوه فإن ذلك حينئذ لا يكون إقتباسا،وقد استشهر عن المالكية بتحريمه وتشديد النكير على فاعله وأما أهل مذهبنا فلم يتعرض له المتقدمون ولا أكثر المتأخرين مع شيوع الإقتباس فى أعصارهم واستعمال الشعراء له قديما وحديثا. وقد تعرض له جماعة من المتأخرين فسئل عنه الشيخ عز الدين إبن عبد السلام فأجازه واستدل له بما ورد عنه صلى الله عليه وسلم من قوله فى الصلاة وغيرها “وجهت وجهى” الخ ..وقوله: ” اللهم فالق الإصباح وجعل اليل سكنا والشمس والقمر حسبانا إقض عني الدين وأغننى من الفقر ….إلى أن قال- فى شرخ بديعية إبن حجة:ألإقتباس ثلاثة أقسام : مقبول ،ومباح، ومردود، {فلأول} ماكان فى الخطب والمواعظ والعهود .{والثانى} ماكان فى القول والرسائل والقصص {والثالث} على ضربين أحدهما مانسبه الله الى نفسه ، ونعوذ بالله ممن ينقله الى نفسه كما قيل عن أحد بنى مروان أنه وقع على مطالعة فيها شكاية عماله : {إن علينا إيابهم ثم علينا حسابهم } والآخر تضمين آية فى معنى هزل ونعوذ بالله من ذلك ، كقوله: أوحى إلى عشاقه طرفه هيهات هيهات لما توعدون ،وردفه ينطق من خلفه ،لمثل ذا فليعمل العاملون ،وهذاالقسم حسن جدا وبه أقول .
وكذلك يذ كر أيضا عن الإقتباس فى حاشية إعانة الطالبين الجزء الأول ص:١٨
وما ذكر إقتباس من القرآن ،وهو أن يضمن المتكلم كلامه شيأ من القرآن او الحديث، لا على أنه منه ،ولايضر فيه التغيير لفظا ومعنى لأن الإشارة فى القرآن للنعيم ،وهنا للتأليف

Kemudian yang penjelasan terahir makruh bagi pinpinan (Imam) mengkhususkan do’a dalam qunut. Dengan alasan karena adanya larangan mengkhususkan do’a untuk dirinya.

Referensi :
فتح المعين ص ١١٤
وكره لإمام تحصيص نفسه بدعاء أو دعاء القنوت للنهى عن تخصيص نفسه بالدعاء فيقول الإمام :إهدنا وما عطف عليه بلفظ الجمع وقضيته أن سائر الدعاء كذلك

Jawaban No.2 :
Dalam dlomir هما itu adalah menunjukkan dua yang artinya merujuk kalimat sebelumnya jika memang dua orang maka tentu benar.

Untuk lafadz itu maka lebih pas dibiarkan saja sebagimana adanya.
Kalau seperti itu berarti di mufrodkan. Sebab “lafadz hajjan, sa’yan dan dzanban” yang dimksudkan pada kandungan dalam ketiga kalimat tersebut adalah jenis. Yaitu jenis haji yang mabrur. Jenis sa’i yang masykur dan jenis dosa yang terampuni.

Jika yang dimksudkan dalam seuatu kalimat adalah jenisnya maka kalimat terkait tidak bisa dihukumi mufrod, Tasniyyah maupun jamak.

Jawaban No.3 :
Diterima dan tidaknya suatu do’a
seseorang bergantung pada sang Khaliq.

Jelasnya Allah tidak akan menerima terhadap do’a hamba yang tidak yakin dan hatinya adalah kosong (lupa) sebagaimana dijelaskan dalam hadits :

أدعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة. واعلموا أن الله لايستجيب الدعاء من قلب غافل لاه. رواه الترمذى والحاكم

“Berdo’alah kepada Allah dengan keyakinan bahwa do’amu akan diterima (dikabulkan Allah). Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan do’a yang timbul dari hati yang hampa dan tidak sungguh-sungguh (main-main).

والله تعالى أعلم بالصواب

DOKUMEN KAJIAN 1 HARI 1 HADITS IKABA BAB SHALAT-MASJID : 128-210

Silahkan buka link berikut ini :

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/05/kajian-hadits-ikaba-128-133.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/05/kajian-hadits-ikaba-134-142.html

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/06/kajian-hadits-143-150.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/06/kajian-hadits-ikaba-151-160.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/07/kajian-hadits-ikaba-162-170.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/07/kajian-hadits-ikaba-171-180.html

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/07/kajian-hadits-ikaba-181-190.html

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/07/kajian-hadits-ikaba-190-199.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/08/kajian-hadits-ikaba-200-210.html?m=1

M069. MAFAHIM : DALIL-DALIL TAWASSUL YANG DIPRAKTEKKAN KAUM MUSLIMIN

TERJEMAH KITAB MAFAHIM YAJIBU AN TUSHOHHAH

PAHAM-PAHAM YANG HARUS DILURUSKAN

Terjemah Kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah karangan Assayyid Alhabib Muhammad bin Alawi Almaliky Alhasany

BAB I

Pembahasan Masalah

”AQIDAH”

”KESALAHAN PARAMETER KEKUFURAN DAN KESESATAN DI ZAMAN SEKARANG”

DALIL-DALIL TAWASSUL YANG DIPRAKTEKKAN KAUM MUSLIMIN

Allah swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Wasilah adalah segala sesuatu yang dijadikan Allah swt. sebagai faktor untuk mendekatkan kepada Allah swt. dan sebagai media untuk mencapai kebutuhan. Parameter dalam bertawassul adalah bahwa yang dijadikan wasilah itu memiliki kedudukan dan kemuliaan di mata yang ditawassulkan.

Lafadz al-Wasilah dalam ayat di atas bersifat umum sebagaimana anda lihat. Lafadz ini mencakup tawassul dengan sosok-sosok mulia dari kalangan para Nabi dan sholihin baik di dunia maupun sesudah mati dan tawassul dengan melakukan amal shalih sesuai dengan ketentuannya. Tawassul dengan amal shalih ini dilakukan setelah amal ini dikerjakan.
Dalam hadits dan atsar yang akan anda dengar terdapat keterangan yang menjelaskan keumuman ayat di atas. Maka perhatikan dengan seksama agar anda bisa melihat bahwa tawassul dengan Nabi saw. sebelum wujudnya beliau dan sesudahnya di dunia, sesudah wafat dalam alam barzakh dan sesudah dibangkitkan di hari kiamat, terdapat di dalamnya.

TAWASSUL DENGAN NABI MUHAMMAD SAW. SEBELUM WUJUD DI DUNIA

Nabi Adam as. bertawassul dengan Nabi Muhammad saw.
Di dalam sebuah hadits terdapat keterangan bahwa Nabi Adam as. bertawassul dengan Nabi Muhammad saw.
Dalam al-Mustadrok, Imam al-Hakim berkata: Abu Sa’id Amr ibnu Muhammad al-‘Adlu menceritakan kepadaku, Abul Hasan Muhammad Ibnu Ishak Ibnu Ibrahim al-Handhori menceritakan kepadaku, Abul Harits Abdullah ibnu Muslim al-Fihri menceritakan kepadaku, Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam menceritakan kepadaku, dari ayahnya dari kakeknya dari Umar ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: ”Ketika Adam melakukan kesalahan, ia berkata Ya Tuhanku, Aku mohon kepadaMu dengan haqqnya Muhammad agar Engkau mengampuniku.” Allah berkata; Wahai Adam bagaimana engkau mengenal Muhammad padahal Aku belum menciptakanya. “ Wahai Tuhanku, karena ketika Engkau menciptakanku dengan kekuatanMu dan Engkau tiupkan nyawa pada tubuhku dari roh-Mu, maka aku tengadahkan kepalaku lalu saya melihat di kaki-kaki ‘Arsy terdapat tulisan “Laa Ilaha illa Allahu Muhammadur Rasulullah”, maka saya yakin Engkau tidak menyandarkan namaMu kecuali nama makhluk yang paling Engkau cintai,” jawab Adam. “Benar kamu wahai Adam, Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdo’alah kepadaKu dengan haqqnya Muhammad maka Aku ampuni kamu. Seandainya tanpa Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu,” lanjut Allah.

Imam al-Hakim meriwayatkan hadits di atas dalam kitab Al Mustadrok dan menilainya sebagai hadits shahih ( vol. 2 hal. 615 ). Al Hafidh As Suyuthi meriwayatkan dalam kitab Al Khashais An Nabawiyah dan mengategorikan sebagai hadits shahih. Imam Al Baihaqi meriwayatkanya dalam kitab Dalail Nubuwah, dan beliau tidak meriwayatkan hadits palsu sebagaimana telah ia jelaskan dalam pengantar kitabnya. Al Qasthalani dan Az Zurqani dalam Al Mawahib Al Laduniyah juga menilainya sebagai hadits shahih. vol. 1 hal. 62. As Subuki dalam kitabnya Syifaussaqaam juga menilainyasebagai hadits shahih. Al Hafidh Al Haitami berkata, “At Tabrani meriwayatkan hadits di atas dalam Al Ausath dan di dalam hadits tersebut terdapat rawi yang tidak saya kenal.” Majma’uzzawaid vol. 8 hal. 253.

Terdapat hadits dari jalur lain dari Ibnu ‘Abbas dengan redaksi: “Jika tidak ada Muhammad maka Aku tidak akan menciptakan Adam, surga dan neraka.” ..HR. Al-Hakim dalam Al Mustadrak dengan isnad yang menurutnya shahih. Syaikhul Islam Al Bulqini dalam Fatawinya juga menilai hadits ini shahih. Hadits ini juga dicantumkan oleh Syaikh Ibnul Jauzi dalam Al Wafaa pada bagian awal kitab dan dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah vol. 1 hlm. 180.

Sebagian ulama tidak sepakat atas keshahihan hadits tersebut lalu mengomentari statusnya, menolaknya dan memvonisnya sebagai hadits palsu (maudlu’) seperti Adz Dzahabi dan pakar hadits lain. Sebagian menilainya sebagai hadits dlo’if dan sebagian lagi menganggapnya sebagai hadits munkar. Dari penjelasan ini, tampak bahwa para pakar hadits tidak satu suara dalam menilainya. Karena itu persoalan ini menjadi polemik antara yang pro dan kontra berdasarkan perbedaan mereka menyangkut status hadits. Ini adalah kajian dari aspek sanad dan eksistensi hadits. Adapun dari aspek makna, maka mari kita simak penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengenai hadits tawassul ini.

DOKUMEN-DOKUMEN TENTANG HADITS TAWASSUL ADAM AS

Dalam konteks ini Ibnu Taimiyyah menyebut dua hadits seraya berargumentasi dengan keduanya. Ia berkata, “Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi meriwayatkan dengan sanadnya sampai Maisarah. Maisarah berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan engkau menjadi Nabi?” “Ketika Allah menciptakan bumi dan naik ke atas langit dan menyempurnakannya menjadi tujuh langit, dan menciptakan ‘arsy maka Allah menulis di atas kaki ( betis ) ‘arsy “Muhammad Rasulullah Khaatamul Anbiyaa’.” Dan Allah menciptakan sorga yang ditempati oleh Adam dan Hawwaa’. Lalu Dia menulis namaku pada pintu, daun, kubah dan kemah. Saat itu kondisi Adam berada antara ruh dan jasad. Ketika Allah menghidupkan Adam, ia memandang ‘arsy dan melihat namaku. Lalu Allah menginformasikan kepadanya bahwa Muhammad ( yang tercatat pada ‘arsy ) junjungan anakmu. Ketika Adam dan Hawwa’ terpedaya oleh syetan, keduanya bertaubat dan memohon syafa’at dengan namaku kepada-Nya.”

Abu Nu’aim Al-Hafidh meriwayatkan dalam kitab Dalaailu al-Nubuwwah dan melalui jalur Syaikh Abi al-Faraj. Menceritakan kepadaku Sulaiman ibn Ahmad, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Rasyid, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Sa’id al-Fihri, menceritakan kepadaku Abdullah ibn Ismail al-Madani dari Abdurrahman ibn Yazid ibn Aslam dari ayahnya dari ‘Umar ibn al-Khaththab, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Adam melakukan kesalahan, ia mendongakkan kepalanya. “Wahai Tuhanku, dengan hak Muhammad, mohon Engkau ampuni aku,” ujar Adam. Lalu Adam mendapat pertanyaan lewat wahyu, “Apa dan siapakah Muhammad?” “Ya Tuhanku, ketika Engkau menyempurnakan penciptaanku, aku mendongakkan kepalaku ke arah ‘arsy-Mu dan ternyata di sana tertera tulisan “Laa Ilaaha illa Allaah MuhammadunRasulullaah”. Jadi saya tahu bahwa Muhammad adalah makhluk Engkau yang paling mulia di sisi-Mu. Karena Engkau merangkai namanya dengan nama-Mu,” jawab Adam. “Betul,” jawab Allah, “Aku telah mengampunimu, dan Muhammad Nabi terakhir dari keturunanmu. Jika tanpa dia, Aku tidak akan menciptakanmu.”

Hadits ini menguatkan hadits sebelumnya, dan keduanya seperti tafsir atas beberapa hadits shahih. (Al-Fatawa, vol. II hlm. 150).
Pendapat saya, fakta ini menunjukkan bahwa hadits di atas layak dijadikan penguat dan legitimasi. Karena hadits maudlu’ atau bathil tidak bisa dijadikan penguat di mata para pakar hadits. Dan anda melihat sendiri bahwa Syaikh Ibnu Taimiyyah menjadikannya sebagai penguat atas penafsiran.

M061 : MAFAHIM : ANTARA SEBAIK-BAIK BID’AH DAN SEBURUK-BURUKNYA

TERJEMAH KITAB MAFAHIM YAJIBU AN TUSHOHHAH

PAHAM-PAHAM YANG HARUS DILURUSKAN

Terjemah Kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah karangan Alhabib Muhammad bin Alwi Almaliky Alhasany

BAB I

Pembahasan Masalah

”AQIDAH”

”KESALAHAN PARAMETER KEKUFURAN DAN KESESATAN DI ZAMAN SEKARANG”

ANTARA SEBAIK-BAIK BID’AH DAN SEBURUK-BURUKNYA

Di antara mereka yang mengklaim memahami substansi permasalahan adalah orang-orang yang menilai diri mereka sebagai salaf shalih. Mereka bangkit mendakwahkan gerakan salafiyah dengan cara biadab dan tolol, fanatisme buta, akal-akal yang kosong, pemahaman-pemahaman yang dangkal dan tidak toleran dengan memerangi segala hal yang baru dan menolak setiap kreativitas yang berguna dengan anggapan bahwa hal itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat tanpa memilah klasifikasinya padahal spirit syariah Islam mengharuskan kita membedakan bermacam-macam bid’ah dan mengatakan bahwa: “Sebagian bid’ah ada yang baik dan sebagian ada yang buruk”.

Klasifikasi ini adalah tuntutan akal yang cemerlang dan pandangan yang dalam. Klasifikasi bid’ah ini adalah hasil kajian mendalam para sarjana ushul fiqh dari generasi klasik kaum muslimin seperti al-Imam al-‘Izz ibn Abdissalam, an-Nawawi, as-Suyuthi, al-Mahalli dan Ibnu Hajar. Hadits-hadits Nabi itu saling menafsirkan dan saling melengkapi. Maka diharuskan menilainya dengan penilaian yang utuh dan komprehensif serta harus menafsirkannya dengan menggunakan spirit dan persepsi syariah dan yang telah mendapat legitimasi dari para pakar.

Karena itu kita menemukan banyak hadits mulia dalam penafsirannya membutuhkan akal yang jernih, fikiran yang dalam, pemahaman yang relevan, dan emosi yang sensitif yang digali dari samudera syariah, yang bisa memperhatikan kondisi dan kebutuhan umat, dan mampu menyesuaikan kondisi dan kebutuhan tersebut dalam batasan kaidah-kaidah syari’at dan teks-teks al-Qur’an dan hadits yang mengikat. Salah satu contoh dari hadits-hadits di muka adalah hadits:

كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Setiap bid’ah itu sesat.”

Bid’ah dalam hadits ini harus ditafsirkan sebagai bid’ah sayyi’ah (bid’ah tercela) yang tidak termasuk dalam naungan dalil syar’i.

Penafsiran semacam ini terjadi pula dalam hadits lain seperti:

لاَ صَلاَةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلاَّ فِى الْمَسْجِدِ

“Tidak ada sholatnya seseorang yang tinggal di dekat masjid kecuali dilakukan di masjid.”

Hadits ini meskipun menunjukkan pengkhususan akan tidak sahnya sholat tetangga masjid kecuali di masjid namun keumuman-keumuman hadits memberikan batasan bahwa sholat tersebut tidak sempurna bukan tidak sah, di samping masih adanya perbedaan dalam kalangan ulama.
Seperti hadits:

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ

“Tidak ada sholat di hadapan makanan”.

Para ulama menafsirkan bahwa sholat tersebut tidak sempurna.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah satu dari kalian sehingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.”

واللهِ لا يُؤْمِن والله لا يؤمن والله لا يؤمن قيل: مَن يا رسول الله؟ قال:مَنْ لَمْ يَأْمَنْ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman. Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah wahai Rasulullah”. “Seseorang yang tetangganya merasa terganggu dengannya”.

Para ulama menafsirkan dengan tidak adanya iman yang sempurna.

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ….., لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ وعاق لوالديه

“Tidak akan masuk sorga orang yang suka mengadu domba…….tidak akan masuk sorga orang yang memutus hubungan kerabat dan yang durhaka kepada kedua orang tuanya.”

Para ulama menegaskan bahwa yang dimaksud tidak akan masuk surga ialah tidak akan masuk pertama kali atau tidak masuk surga jika menilai perbuatan tercela tersebut halal dilakukan. Walhasil, para ulama tidak memahami hadits di atas secara tekstual tapi menafsirkannya dengan bermacam-macam penafsiran yang sesuai.

Hadits di atas yang menjelaskan bid’ah termasuk dalam kategori ini. Keumuman-keumuman hadits dan keadaan-keadaan sahabat memberi kesimpulan bahwa bid’ah yang dimaksud adalah bid’ah tercela yang tidak berada dalam naungan prinsip umum. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَ أَجْر مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Siapapun yang mengawali tradisi yang terpuji maka ia memperoleh pahala darinya dan dari pahala mereka yang mengamalkannya sampai hari kiamat.”

“Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaurrasyidin sesudah wafatku.”

Umar ibn Khaththab berkomentar mengenai sholat tarawih: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini (sholat tarawih berjama’ah dalam satu masjid dengan seorang imam)”.

HADITS KE 151 : BOLEH MELANTIK DUA ORANG MUADZIN DALAM SATU MASJID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 150 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ وَعَائِشَةَ قَالَا: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ بِلَالاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ اِبْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ” وَكَانَ رَجُلاً أَعْمَى لَا يُنَادِي حَتَّى يُقَالَ لَهُ: أَصْبَحْتَ أَصْبَحْتَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وفي أخره إدراج.

Dari Ibnu Umar dan ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Bilal akan beradzan pada malam hari maka makan dan minumlah sampai Ibnu Maktum beradzan. Ia (Ibnu Maktum) adalah laki-laki buta yang tidak akan beradzan kecuali setelah dikatakan kepadanya: Engkau telah masuk waktu Shubuh engkau telah masuk waktu Shubuh.” Muttafaq Alaihi. Akan tetapi pada akhir hadis ini terdapat idraj.

MAKNA HADITS :

Jika azan disyariatkan untuk memberitahu masuknya waktu solat sekaligus menyeru kaum muslimin supaya menghadiri solat berjamaah, maka ia turut disyariatkan untuk membangunkan orang yang masih tidur supaya mengerjakan solat sunat tahajjud, di samping membangunkan orang yang tertidur setelah mengerjakan qiyamul lail bersiap sedia mengerjakan solat Subuh. Azan ini dinamakan azan pertama dan ia tidak mengharamkan makan dan minum bagi orang yang hendak berpuasa, malah dia masih diperbolehkan makan sahur ketika itu. Dengan azan itu, orang yang tidur diharapkan bangun untuk mengerjakan solat tahajjud dan memperingatkan orang yang qiyamul lail supaya tidur sebentar sambil menunggu masuknya waktu solat Subuh.

Di zaman Nabi (s.a.w) orang yang bertugas mengumandangkan azan pertama ini adalah Bilal (r.a).
Azan kedua ialah azan untuk solat Subuh. Azan ini bertujuan memberitahu masuknya waktu solat Subuh. Orang yang hendak berpuasa diwajibkan imsak sebelum itu. Orang yang bertugas mengumandangkan azan Subuh ini pada zaman Nabi (s.a.w) ialah Ibn Ummi Maktum.

FIQH HADITS :

1. Boleh melantik dua orang muazzin dalam satu masjid, dimana keduanya saling berganti dalam mengumandangkan azan. Tujuan dibolehkan melantik dua orang muazzin ini adalah salah seorang darinya dikhuatiri akan
mempunyai halangan dan oleh kerananya, muazzin yang seorang mestilah menggantikan tugas kawannya yang mempunyai halangan itu. Ada lima orang
sahabat yang pernah menjadi juru azan Rasulullah (s.a.w), baik mereka bertugas ketika bermukim maupun ketika bermusafir. Mereka adalah Bilal ibn Rabah, Abdullah ibn Ummi Maktum, Abu Mahdzurah al-Makki, Sa’d al-Qurazhi dan Ziyad ibn al-Harits al-Shuda’i.

2. Disunatkan makan sahur.

3. Orang yang hendak berpuasa boleh makan dan minum hingga fajar shadiq terbit.

4. Orang buta boleh mengumandangkan azan apabila dapat mengetahui ketepatan waktu seperti melalui berita orang yang berada di sebelahnya.

5. Boleh berpegang kepada suara dalam periwayatan apabila seseorang berkenaan mengenalinya, sekalipun dia tidak melihatnya.

6. Dibolehkan menceritakan perihal seseorang yang berkaitan dengan keperibadiannya jika bertujuan memperkenalkannya kepada orang lain.

7. Boleh menisbatkan seorang lelaki kepada nama ibunya jika itu sudah masyhur.

8. Disyariatkan mengumandangkan azan pertama sebelum masuk waktu solat Subuh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 146 : ETIKA DALAM MENGUMANDANGKAN ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 146 :

وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ: ( رَأَيْتُ بِلَالاً يُؤَذِّنُ وَأَتَتَبَّعُ فَاهُ هَاهُنَا وَهَاهُنَا وَإِصْبَعَاهُ فِي أُذُنَيْهِ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ.

وَلِابْنِ مَاجَهْ: وَجَعَلَ إِصْبَعَيْهِ فِي أُذُنَيْهِ.

وَلِأَبِي دَاوُدَ: ( لَوَى عُنُقَهُ لَمَّا بَلَغَ “حَيَّ عَلَى اَلصَّلَاةِ ” يَمِينًا وَشِمَالاً وَلَمْ يَسْتَدِرْ ). وَأَصْلِهِ فِي اَلصَّحِيحَيْنِ

Abu Juhaifah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah melihat Bilal adzan dan aku perhatikan mulutnya kesana kemari (komat kamit dan dua jari-jarinya menutup kedua telinganya. Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.

Menurut Ibnu Majah: Dia menjadikan dua jari-jarinya menutup kedua telinganya.

Menurut Riwayat Abu Dawud: Dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri ketika sampai pada ucapan “hayya ‘alash sholaah” dan dia tidak memutar tubuhnya. Asal hadits tersebut dari Bukhari-Muslim.

MAKNA HADITS :

Azan mempunyai etika tersendiri yang mesti dipelihara dan dijaga. Antara lain adalah hendaklah muazin memiliki suara yang merdu; mengumandangkan azan diatas tempat yang tinggi seperti di atas menara, menolehkan kepala ketika membaca al-hayya’alatain ke arah kanan dan ke arah kiri, meletakkan kedua jari telunjuknya pada kedua telinga supaya suaranya lebih kuat dan orang tuli dapat memahami yang dia sedang mengumandangkan azan dan bukannya untuk meminta pertolongan, dan tetap kekal menghadap ke arah kiblat ketika mengumandangkan azan meskipun menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan.

FIQH HADITS :

1. Boleh memakai pakaian yang bergaris-garis merah.

2. Disyariatkan menolehkan kepala ketika mengumandangkan azan ke arah kanan dan kiri terutama ketika mengucapkan al-hay’alatain disertai dengan meletakkan kedua jari telunjuk pada kedua telinga. Ini bertujuan supaya seseorang berada di kejauhan atau orang tuli tahu bahwa dia sedang mengumandangkan azan, di samping dengan cara demikian bisa menguatkan suara.

3. Orang yang sholat disyariatkan meletakkan penghalang di hadapannya.

4. Dibolehkan mengambil berkat dari bekas yang pernah digunakan oleh Rasulullah (s.a.w), sisa air wuduk, sisa makan dan minum serta bekas pakaiannya.

5. Disyariatkan mengqasar sholat ketika dalam perjalanan.

6. Para sahabat amat menghormati Rasulullah (s.a.w).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 127 : TIDAK DIWAJIBKAN MENGKODHO’ SHOLAT BAGI WANITA YANG NIFAS

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB HAID*_

HADITS KE 127 :

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَتِ اَلنُّفَسَاءُ تَقْعُدُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ نِفَاسِهَا أَرْبَعِينَ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ وَاللَّفْظُ لِأَبِي دَاوُد

وَفِي لَفْظٍ لَهُ ( وَلَمْ يَأْمُرْهَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَضَاءِ صَلَاةِ اَلنِّفَاسِ ) وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِم

Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Wanita-wanita yang sedang nifas pada masa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam meninggalkan shalat selama 40 hari semenjak darah nifasnya keluar. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i dan lafadznya dari Abu Dawud.

Dalam lafadz lain menurut riwayat Abu Dawud: Dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak menyuruh mereka mengqadla shalat yang mereka tinggalkan saat nifas. Hadits ini shahih menurut Hakim.

MAKNA HADITS :

Islam memberi keringanan kepada wanita yang nifas dan menyamakannya dengan wanita yang haid, dimana mereka tidak boleh sholat dan puasa. Malah Islam memanjangkan masa nifas hingga empat puluh hari. Ia wajib mengqadha’ puasa fardhu yang ditinggalkannya selama nifas, namun tidak demikian dengan sholat dan ini merupakan satu kemudahan baginya. Jika seorang perempuan telah merasa suci sebelum masa empat puluh hari, maka dia mesti bersuci, dan tidak ada batasan minimum bagi masa nifas.

FIQH HADITS :

1. Batasan maksimum nifas ialah empat puluh hari menurut pendapat jumhur ulama. Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa batasan maksimumnya adalah enam puluh hari, meskipun biasanya hanya memerlukan empat puluh hari,
sedangkan batasan minimumnya ialah setetes, (yakni hanya sekali
mengeluarkan darah). Imam Malik dan Imam Ahmad mengatakan tidak ada batasan minimum bagi tempoh nifas. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa masa nifas itu terbatas, yaitu selama dua puluh lima hari. Abu Yusuf mengatakan sebelas hari, sedangkan al-Hasan al-Basri mengatakan dua puluh hari.

2. Tidak ada qadha’ bagi sholat yang ditinggalkan selama masa nifas, kerana Nabi (s.a.w) tidak menyuruh kaum wanita berbuat demikian. Pada asalnya qadha’ itu tidak diwajibkan kecuali kerana adanya perintah yang baru dan perintah yang baru ini telah disebutkan dalam masalah puasa melalui firman-Nya:

…فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر… (البقرة : ١٨٤)

“… Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…” (Surah al-Baqarah: 184)

Di sini tidak ada perintah baru yang mewajibkan mengqadha’ sholat yang ditinggalkan selama nifas. Jadi, hukum asal, yaitu tidak wajib qadha sholat mesti tetap dikekalkan. Hadis ini menyanggah pendapat sekumpulan Khawarij yang mengatakan sholat yang ditinggalkan oleh wanita yang haid dan nifas wajib diqadha’.

3. Menjelaskan hukum darah yang keluar sesudah bersalin. Jika darah tersebut terus mengalir selama empat puluh hari, maka dalam masa itu wanita tersebut tidak boleh sholat dan tidak boleh pula berpuasa. Tetapi apabila tetap mengalir hingga melebihi tempoh empat puluh hari, maka hukum darah tersebut adalah darah istihadhah yang ketentuan hukumnya telah disebutkan dalam hadits-hadits sebelum ini.

KESIMPULAN :

Hadis yang disebut dalam bab haid ini menunjukkan kesimpulan berikut:

1. Menjelaskan perbedaan warna darah haid dengan darah istihadhah, tempat keluarnya, cara untuk membedakan diantara keduanya dan demikian pula hukumnya.

2. Wanita yang haid tidak boleh mengerjakan sholat dan puasa selama masa haid. Dia wajib mengqadha’ puasanya, tetapi tidak wajib mengqadha’ sholatnya. Selama masa itu, suaminya tidak boleh menyetubuhinya. Jika suami
menyetubuhinya, maka dia mesti membayar kifarat menurut pendapat Imam Ahmad. Menurut jumhur ulama, suami boleh menggaulinya, tetapi pada bagian atas kain. Tetapi Imam Ahmad membolehkan untuk menggaulinya, meskipun dibawah kainnya (kecuali farjinya).

3. Perkiraan masa istihadhah ditentukan berdasarkan kebiasaan sebelum itu atau membandingkannya dengan wanita lain yang sebaya dengannya. Dibolehkan baginya mengerjakan sholat dan puasa, dan suaminya boleh menyetubuhinya, dan disunatkan baginya mengerjakan sholat secara jamak shuri.

4. Perkiraan masa nifas sama dengan wanita yang haid di mana mereka tidak boleh mengerjakan solat dan puasa. Tidak diwajibkan mengqadha’ sholat yang ditinggalkan selama masa nifas, tetapi wajib mengqadha’ puasanya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 113 : ORANG JUNUB BOLEH TAYAMMUM APABILA KAWATIR TERTIMPA MUDARAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 113 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ، قَالَ: إِذَا كَانَتْ بِالرَّجُلِ اَلْجِرَاحَةُ فِي سَبِيلِ اَللَّهِ وَالْقُرُوحُ فَيُجْنِبُ فَيَخَافُ أَنْ يَمُوتَ إِنْ اِغْتَسَلَ: تَيَمَّمَ رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ مَوْقُوفًا وَرَفَعَهُ اَلْبَزَّارُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِم

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu tentang firman Allah (Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan) beliau mengatakan: “Apabila seseorang mengalami luka-luka di jalan Allah atau terserang penyakit kudis lalu ia junub tetapi dia takut akan mati jika dia mandi maka bolehlah baginya bertayammum.” Riwayat Daruquthni secara mauquf marfu’ menurut al-Bazzar dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Hakim.

MAKNA HADITS :

Agama Islam adalah agama yang mengamalkan prinsip bertolak angsur. Semua hukum yang ada di dalamnya selalu disertai oleh berbagai hikmah dan rahsia. Setiap sesuatu yang mengandung unsur mudarat pasti tidak diakui oleh Islam bahkan disediakan jalan keluar untuk menolaknya. Jika seorang lelaki merasa kawatir apabila berwuduk atau mandi dengan air akan mendatangkan mudarat bagi dirinya, maka syariat membolehkannya bertayammum untuk menolak mudharat tersebut sebagai rahmat (belas kasihan) agama kepada orang mukallaf, sebagaimana yang ditegaskan oleh keumuman makna yang terkandung di dalam firman-Nya: “Dan jika kamu sakit ….” (Surah al-Nisa‟: 43). Musafir pada umumnya mengalami kesulitan. Oleh sebab itu, syariat membolehkan tayammum bagi orang yang bepergian apabila air tidak dijumpai sebagai kemudahan dari Allah untuk hamba-Nya.

FIQH HADITS :

1. Orang yang junub boleh tayammum apabila kawatir akan ditimpa mudarat.
Ini merupakan pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafi’i.

2. Orang yang junub tidak boleh tayammum kecuali apabila kawatir dirinya akan mati apabila mandi dengan air. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan satu riwayat dari Imam al-Syafi’i.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

S039. HUKUM MENJAMAK SHALAT KARENA TERJEBAK MACET DI JALAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Saya penduduk kota yg rawan macet. suatu ketika saya nyetir mobil dlm perjalanan menuju tempat kerja yg tak begitu jauh dari rumah saya namun kena macet sehingga masuk waktu sholat, sehingga :
– Tidak bisa turun dari mobil
– Tidak bisa ambil wudhu

Pertanyaannya :

1-Bagaimana caranya agar bisa sholat?

2-Bolehkah sy niat menjamak sholat (kalau sholat yg bisa dijamak) padahal sy bukan musafir.

Mohon penjelasannya berikut dalilnya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1. Jawaban untuk pertanyaan yang pertama.

Orang yg tidak bisa turun dari mobil, dan orang itu tidak punya wuduk, dan jalannya macet, dan didalam mobil tidak ada debu yang bisa digunakan untuk bertayammum, maka hal tersebut disebut faaqiduththohuuroini (فاقد الطهورين), sama halnya dengan orang yang dipenjara dalam ruangan yang tidak ada air untuk wuduk dan tidak ada debu untuk tayammum, dia tetap wajib shalat dalam keadaan tersebut seadanya dengan sholat lihurmatil waqti:
Umpama niat shalat Dzuhur

(اصلي فرض الظهر لحرمۃ الوقت )

Namun ketika sudah menemukan air atau debu baik masih dalam perjalanan atau dirumah, maka orang itu harus mengqodho’ (mengganti) sholat duhurnya dengan cara berwuduk memakai air atau dengan cara bertayammum memakai debu (jika tidak ada air).

Referensi:

فاقد الطهورين هو الذي لم يجد ماء ولا صعيدا يتيمم به ، كأن حبس في مكان ليس فيه واحد منهما ، أو في موضع نجس ليس فيه ما يتيمم به ، وكان محتاجا للماء الذي معه لعطش ، وكالمصلوب وراكب سفينة لا يصل إلى الماء ، وكمن لا يستطيع الوضوء ولا التيمم لمرض ونحوه .فذهب جمهور العلماء إلى أن صلاة فاقد الطهورين واجبة لحرمة الوقت ولا تسقط عنه مع وجوب إعادتها عند الحنفية والشافعية ، ولا تجب إعادتها عند الحنابلة ، أما عند المالكية فإن الصلاة عنه ساقطة على المعتمد من المذهب أداء وقضاء

Faqidut Thahuurain adalah Orang yang tidak mendapati sarana untuk bersuci baik berupa air atau debu seperti saat ia dipenjara dan tidak mendapati salah satu dari keduanya, atau ditempat najis yang tidak ia dapatkan debu untuk bersuci sementara air yang ada dibutuhkan untuk dahaganya orang yang bersamanya, orang yang sedang disalib atau berada diperahu yang tidak dapat meraih air dan seperti orang sakit yang tidak mampu menjalani wudhu atau tayammum sebab sakit atau semacamnya, maka mayoritas ulama mewajibkan hukum shalat baginya sekedar penghormatan terhadap waktu, hukum kewajiban shalat tidak semata-mata gugur baginya namun baginya wajib mengulangi shalat yang ia kerjakan dalam kondisi demikian menurut kalangan Hanafiyyah dan Syafi’iyyah, sedang menurut kalangan hanabilah tidak wajib mengulangi shalatnya. Menurut pendapat yang mu’tamad (dapat dijadikan pegangan) dikalangan Malikiyyah seseorang yang dalam kondisi diatas shalatnya gugur dan dalam pendapat lainnya wajib menjalani dan mengqadhainya. [ Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah 14/273 ].

Referensi lain:

(المجموع شرح المهذب,جز ٢,صحيفۃ ٣۰٣-٣۰٤) واما حكم المسئلۃ: فإذا لم يجد المكلف ماء ولا ترابا بأن حبس في موضع نجس او كان في ارض ذات وحل ولم يجد ماء يجففه به او ما اشبه ذلك ففيه اربعۃ اقوال حكاها اصحابنا الخراسانيون. (احدها) يجب عليه ان يصلي في الحال علی حسب حاله ويجب عليه الاءعادۃ اذا وجد ماء او ترابا في موضع يسقط الفرض فيه بالتيمم. وهذا قول هو الصحيح الذي قطع به كثيرون من الاءصحاب او اكثرهم وصصحه الباقون وهو المنصوص في الكتب الجديدۃ. (والثاني )لا تجب الصلاۃ بل تستحب ويجب القضاء,سواء صلی ام لم يصل حكوه عن القديم,وحكاه الشيخ ابو حامد وغيره من العراقيين (والثالث),يحرم عليه الصلاۃ ويجب القضاء حكاه الاءمام الحرمين وجماعۃ من الخراسنيين عن القديم. (والرابع)تجب الصلاۃ في الحال علی حسب حاله ولا تجب الاءعادۃ,حكاه عن القديم ايضا,وستاءتي ادلۃ هذه الاءقوال في فرع مذاهب العلماء ان شاء ﷲ تعالی ,انتهی,

2. Jawaban untuk pertanyaan yang kedua

Ketika seseorang dalam situasi seperti dalam deskripsi diatas maka yang diterapkan tetap penjelasan dalam jawaban yang pertama yaitu tidak boleh jamak, dia wajib sholat lihurmatil wakti setiap masuk waktu shalat dan wajib qadla apabila menemukan air atau debu sebagaimana penjelasan diatas.

Namun terlepas dari deskripsi penanya, ketika seseorang dalam keadaan suci dari najis dan hadats serta memungkinkan mengerjakan shalat, maka dalam situasi tertentu boleh menjamak shalat walaupun tidak dalam perjalanan jauh, sebagaimana uraian berikut;

Dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin hal. 77 disebutkan :

(فائدة) لنا قول بجواز الجمع في السفر القصير اختاره البندنيجي. وظاهر الحديث جوازه في حضر كما في شرح مسلم. وحكى الخطابي عن ابي اسحاق جوازه في الحضر للحاجة وإن لم يكن خوف ولا مطر ولا مرض. وبه قال ابن المنذر ا.هـ

(Faidah)
Kami berpendapat boleh menjamak shalat bagi orang yang menempuh perjalanan singkat yang telah dipilih oleh Syekh Albandaniji. Sebuah hadits dengan jelas memperbolehkan melakukan shalat jamak bagi orang yang bukan musafir sebagaimana yang tercantum dalam Syarah Muslim. Alkhatthabi menceritakan dari Abu Ishak tentang bolehnya menjamak shalat dalam perjalanan singkat karena suatu keperluan/hajat meskipun tidak dalam kondisi keamanan terancam, hujan lebat, dan sakit. Ibnul Munzir juga memegang pendapat ini,”

والله اعلم بالصواب.