HADITS KE 12 : CARA RUKUK DAN SUJUD BAGI ORANG SAKIT

kajian hadist ikaba 20171226_1238121962928569..jpg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 12 :

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: ( عَادَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَرِيضًا, فَرَآهُ يُصَلِّي عَلَى وِسَادَةٍ, فَرَمَى بِهَا, وَقَالَ: “صَلِّ عَلَى اَلْأَرْضِ إِنْ اِسْتَطَعْتَ, وَإِلَّا فَأَوْمِ إِيمَاءً, وَاجْعَلْ سُجُودَكَ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِكَ” ) رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ. وَصَحَّحَ أَبُو حَاتِمٍ وَقْفَهُ

Jabir r.a: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah menjenguk orang sakit. Beliau melihat orang itu sedang sholat di atas bantal, lalu beliau membuangnya. Beliau bersabda: “Sholatlah di atas tanah bila engkau mampu, jika tidak maka pakailah isyarat, dan jadikan (isyarat) sujudmu lebih rendah daripada (isyarat) ruku’mu.” Riwayat Baihaqi dan Abu Hatim membenarkan bahwa hadits ini mauquf.

MAKNA HADITS :

Syariat Islam memberikan keringanan dengan dibolehkan mengerjakan sholat dengan isyarat apabila seseorang tidak mampu sujud di atas tanah. Rasulullah (s.a.w) memberikan petunjuk bahwa hendaklah seseorang membedakan antara isyarat untuk rukuk dan sujud dengan cara lebih merendahkan isyarat untuk sujud berbanding isyarat untuk rukuk. Begitupun, dia tidak boleh mengangkat sesuatu dari tanah untuk digunakan sebagai tempat sujud ketika menggunakan
isyarat untuk sujud. Oleh itu, Nabi (s.a.w) mengingkari perbuatan seseorang yang meletakkan bantal sebagai tempat sujud, lalu baginda mencampakkan bantal itu.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan melawat orang yang sedang sakit.

2. Orang yang sedang sakit ketika mengerjakan sholat tidak boleh memakai suatu objek sebagai tempat bersujud.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Z015. FASAL ZAKAT PROFESI

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Saya mau bertanya. Saya bekerja tiap bulan gajian. Apakah ada zakatnya? Ketentuaannya bagaimana? Kalau ada zakatnya dikasihkan kemana?

JAWABAN :

Wa’alaikum salam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Penanya yang terhormat, semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat Allah swt dan selalu mendapatkan hidayah-Nya. Bahwa persoalan zakat gaji memang tidak diketemukan penjelasannya dalam ketentuan fiqih klasik. Ketiadaan keterangan dalam ketentuan fiqh klasik bukan berarti bahwa gaji tidak wajib dizakati. Para ulama seperti Syekh Muhammad al-Ghazali, Dr. Yusuf al-Qaradlawi telah melakukan upaya untuk memecahkan persoalan ini dengan mencari cantolan atau rujukan dalam fiqh klasik.

Misalnya, ijtihad yang dilakukan Syaikh Muhammad al-Ghazali bahwa orang yang bekerja dengan penghasilan yang melebihi petani wajib mengeluarkan zakat penghasilannya. Ini berarti, zakatnya gaji diqiyaskan dengan zakatnya pertanian.

إن مَنْ دَخْلُهُ لَا يَقِلُّ عَنْ دَخْلِ الْفَلَّاحِ الَّذِي تَجِبُ عَلَيْهِ الزَّكَاةُ يَجِبُ أَنْ يُخْرِجَ زَكَاةً؛ فَالطَّبِيْبُ، وَالْمَحَامِي، وَالْمُهَنْدِسُ، وَالصَّانِعُ، وَطَوَائِفُ الْمُحْتَرِفِيْنَ وَالْمُوَظَّفِيْنَ وَأَشْبَاهُهُمْ تَجِبُ عَلَيْهِمُ الزَّكَاةُ، وَلَابُدَّ أَنْ تُخْرَجَ مِنْ دَخْلِهِمْ الكَبِيْرِ –محمد الغزالي، الإسلام وأوضاعنا الإقتصادية، مصر-دار النهضة، الطبعة الأولى، ج، 1، ص. 118

“Sesungguhnya orang yang pemasukkannya tidak kurang dari petani yang diwajibkan zakat, maka ia wajib mengeluarkan zakat. Karenanya, dokter, pengacara, insinyur, pengrajin, para pekerja professional, karyawan, dan sejenisnya, wajib zakat atas mereka. Dan zakatnya harus dikeluarkan dari pendapatan mereka yang besar”. (Muhammad al-Ghazali, al-Islam wa Audla’una al-Iqtishadiyyah, )

Pandangan ini setidaknya didasari atas dua alasan. Pertama adalah keumumam firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ — البقرة:267

“Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 267)

Kedua, secara rasional, Islam telah mewajibkan zakat atas petani. Jika petani saja yang penghasilannya lebih rendah dari mereka diwajibkan zakat, apalagi mereka yang penghasilannya lebih tinggi dari petani.

Sedangkan Dr. Yusuf al-Qardlawi sampai pada kesimpulan bahwa gaji atau pendapatan yang diterima dari setiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu yang halal wajib dizakati. Hal ini disamakan dengan zakat al-mal al-mustafad (harta yang diperoleh seorang muslim melalui satu jenis proses kepemilikan yang baru dan halal).

فَالتَّكْيِيْفُ الفِقْهِيُّ الصَّحِيْحُ لِهَذَا الْكَسْبِ أَنَّهُ مَالٌ مُسْتَفَادٌ –يوسف القرضاوي، فقه الزكاة، بيروت-مؤسسة الرسالة، ط، 3، 1393هـ/1983 م، ج، 1، ص. 490

“Zakat diambil dari gaji atau sejenisnya. Sedang cantolan fiqhnya yang sahih terhadap penghasilan ini adalah mal mustafad (harta perolehan)” (Yusuf al-Qaradlawi, Fiqh az-Zakat, Bairut-Mu`assah ar-Risalah, cet ke-3, 1393 H/1983 M, juz, 1, h. 490)

Sedangkan mengenai nishab gaji adalah sama dengan nishabnya uang. Demikian ini karena banyak orang yang memperoleh gaji dan pendapatan dalam bentuk uang, karenanya yang paling baik adalah menentapkan nishab gaji berdasarkan nishab uang yang setara dengan nilai 85 gram emas. Dan zakat tersebut diambil dari gaji atau pendapat bersih. Dalam soal zakat gaji tidak disyaratkan adanya haul, tetapi zakatnya harus ditunaikan ketika gaji itu diterima sebesar 2,5 %.

وَأَوْلَى مِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ نِصَابُ النُّقُودِ هُوَ الْمُعْتَبَرُ هُنَا, وَقَدْ حَدَّدْنَاهُ بِمَا قِيْمَتُهُ 85 جِرَامًا مِنَ الذَّهَبِ…وَإِذَا كُنَّا قَدِ اخْتَرْنَا القَوْلَ بِزَكَاةِ الرَّوَاتِبِ وَالأُجُورِ وَنَحْوِهَا فَالَّذِي نُرَجِّحُهُ أَلَّا تُأْخَذَ الزَّكَاةُ إِلَّا مِنَ “الصَّافِي” … فَالَّذِي إِخْتَارَهُ أَنَّ الْمَالَ الْمُسْتَفَادَ كَرَاتِبِ الْمُوَظَّفَ وَأَجْرِ الْعَامِلِ وَالْمُهَنْدِسِ وَدَخْلِ الطَّبِيبِ وَالْمَحَامِي وَغَيْرِهِمْ مِنْ ذَوِي الْمِهَنِ الْحُرَّةِ وَكَإِيرَادِ رَأْسِ الْمَالِ الْمُسْتَغَلِ فِى غَيْرِ التِّجَارَةِ كَالسَّيَّارَاتِ وَالسُّفُنِ وَالطَّائِرَاتِ وَالْمَطَابِعِ وَالْفَنَادِقِ وَدُوَرِ الْلَهْوِ وَنَحْوِهَا لَا يُشْتَرَطُ لِوُجُوبِ الزَّكَاةِ فِيْهِ مُرُورُ حَوْلٍ بَلْ يُزَكِّيهِ حِيْنَ يَقْبِضُهُ ((يوسف القرضاوي، فقه الزكاة، بيروت-مؤسسة الرسالة، ط، 3، 1393هـ/1983 م، ج، 1، ص. 513، 517، 505)

“Yang paling utama dari semua itu adalah bahwa nishab uang merupakan yang mu’tabar (yang dijadikan patokan) dalam konteks ini (nishab gaji atau pendapatan). Dan kami telah menentukan nilainya setara dengan nilai 85 gram emas…..Dan ketika kami telah memilih pendapat (yang mewajibkan) zakar gaji, upah dan sejenisnya, maka pendapat yang kami kuatkan adalah bahwa zakatnya tidak diambil kecuali dari pendapatan bersih…. Maka pendapat yang saya pilih bahwa harta perolehan seperti gaji pegawai, gaji karyawan, insyinyur, dokter, pengacara dan yang lainnya yang mengerjakan profesi tertentu dan juga seperti pendapatan yang diperoleh modal yang investasikan di luar sektor perdangan seperti kendaraan, kapal laut, kapal terbang, percetakan, perhotelan, tempat hiburan dan yang lain, itu tidak disyaratkan bagi kewajiabn zakatnya adanya haul, tetapi zakat dikeluarkan ketika ia menerimanya (gaji)” (Yusuf al-Qaradlawi, Fiqh az-Zakat, Bairut-Mu’assah ar-Risalah, cet ke-3, 1393 H/1983 M, juz, 1, h. 513, 517, 505)

Kenyataan yang ada para pemerintah dan perusahaan mengatur gaji pegawainya beradasarkan ukuran tahun, meskipun dibayarkan perbulan karena kebutuhan pegawai yang mendesak. Berdasarkan hal itu zakat penghasilan bersih seorang pegawai dan golongan profesi dapat diambil dalam setahun penuh, jika pendapatan bersih mencapai satu nishab.

Dari penjelasan di atas setidak dapat ditarik gambaran sebagai berikut. Jika pendapatan bersih seorang pekerja selama setahun seperti dokter atau karyawan sebuah perusahaan atau pegawai pemerintahan mencapai nishab yang telah ditentukan maka ia wajib mengeluarkan zakatnya. Sedang zakatnya dikeluarkan ketika menerima pendapatan tersebut. Contohnya jika seseorang selama setahun memperoleh pendapatan bersih sekitar 48 juta, dengan asumsi ia menerima pendapatan bersih setiap bulan 4 juta. Maka ia harus mengeluarkan zakat setiap bulannya 2,5 % dari 4 juta tersebut, yaitu sebesar 100 ribu. Jadi selama setahun ia mengeluarkan zakat sebesar 1,2 juta.

Selanjutnya mengenai zakat gaji tersebut bisa langsung diberikan kepada golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana firman Allah swt:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ–التوبة: 60

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil-amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Q.S. At-Taubah [9]: 60)

Atau bisa melalui lembaga zakat yang terpecaya seperti LAZISNU (Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama). Dan semoga dengan berzakat, harta anda menjadi bersih dan barakah. Amin.

Wallahu a’lamu bisshowab..

M0100. HUKUM MERAYAKAN HARI RAYA IMLEK DAN MEMAKAI BAJU IMLEK

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (bahasa Tionghoa: 正月; pinyin: zhēng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh 十五冥 元宵节 di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti “malam pergantian tahun”.

Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Imlek sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Imlek secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2009 masehi “Tahun Tionghoa” dapat japada tahun 4707, 4706, atau 4646.

Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Makau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi suku Han yang signifikan, Tahun Baru Imlek juga dirayakan, dan pada berbagai derajat, telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.

Di Indonesia, Sejak tahun 1968 s/d 1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang untuk dirayakan di depan umum. Hal itu berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, yang dikeluarkan oleh Presiden Soeharto. Serta melarang segala hal yang berbau Tionghoa, termasuk di antaranya tahun baru Imlek.

Namun, sejak kepemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, kembali mendapatkan kebebasan dalam merayakan tahun baru Imlek, yaitu di mulai pada tahun 2000. Di mana, Presiden Abdurrahman Wahid secara resmi mencabut Inpres Nomor 14/1967. Serta menggantikannya dengan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya).

Selanjutnya, baru pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu Hari Libur Nasional, oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003 hingga saat ini. (Sumber: Wikipedia)

Masuk Dalam Islam Secara Kaffah

Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaaffah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208). Kata Mujahid, maksud ‘masuklah dalam Islam secara keseluruhan‘ berarti “Lakukanlah seluruh amalan dan berbagai bentuk kebaikan.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir). Artinya di sini, jika suatu kebaikan bukan dari ajaran Islam, maka seorang muslim tidak boleh bercapek-capek melakukan dan memeriahkannya. Karena kita diperintahkan dalam ayat untuk mengikuti seluruh ajaran Islam saja, bukan ajaran di luar Islam.

Ketika menjelaskan ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Laksanakanlah seluruh ajaran Islam, jangan tinggalkan ajaran Islam yang ada. Jangan sampai menjadikan hawa nafsu sebagai tuan yang dituruti. Artinya, jika suatu ajaran bersesuaian dengan hawa nafsu, barulah dilaksanakan dan jika tidak, maka ditinggalkan,. Yang mesti dilakukan adalah hawa nafsu yang tunduk pada ajaran syari’at dan melakukan ajaran kebaikan sesuai kemampuan. Jika tidak mampu menggapai kebaikan tersebut, maka dengan niatan saja sudah bisa mendapatkan pahala kebaikan.” Lihat Taisir Al Karimir Rahman karya Syaikh As Sa’di tentang tafsiran ayat di atas.

Islam Hanya Mengenal Dua Hari Raya Besar

Dalam Islam, hari raya besar itu cuma dua, tidak ada yang lainnya, yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Kalau dikatakan bahwa dua hari raya di atas (Idul Fithri dan Idul Adha) yang lebih baik, maka selain dua hari raya tersebut tidaklah memiliki kebaikan. Termasuk dalam hal ini perayaan yang diadakan oleh sebagian muslim berdarah Tionghoa yaitu perayaan Imlek. Sudah seharusnya setiap muslim mencukupkan dengan ajaran Islam yang ada, tidak perlu membuat perayaan baru selain itu. Karena Islam pun telah dikatakan sempurna, sebagaimana dalam ayat,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3). Kalau ajaran Islam sudah sempurna, maka tidak perlu ada perayaan baru lagi.

Perayaan di luar dua perayaan di atas adalah perayaan Jahiliyah karena yang dimaksud ajaran jahiliyah adalah setiap ajaran yang menyelisihi ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sehingga merayakan perayaan selain perayaan Islam termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلاَثَةٌ مُلْحِدٌ فِى الْحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ

“Manusia yang dibenci oleh Allah ada tiga: (1) seseorang yang berbuat kerusakan di tanah haram, (2) melakukan ajaran Jahiliyah dalam Islam, dan (3) ingin menumpahkan darah orang lain tanpa jalan yang benar.” (HR. Bukhari no. 6882).

Itu Bukan Perayaan Umat Islam

Apalagi jika ditelusuri, perayaan Imlek ini bukanlah perayaan kaum muslimin. Sehingga sudah barang tentu, umat Islam tidak perlu merayakan dan memeriahkannya. Tidak perlu juga memeriahkannya dengan pesta kembang api maupun bagi-bagi ampau, begitu pula tidak boleh mengucapkan selamat tahun baru Imlek.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud no. 4031 dan Ahmad 2: 92. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Tidak boleh pula seorang muslim bersikap boros pada perayaan non-muslim dengan memeriahkannya melalui pesta kembang api. Allah Ta’ala berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27)

Memberi ucapan selamat tahun baru Imlek, ada yang mengucapkan do’a ‘gong he xin xi’ (hormat bahagia menyambut tahun baru) atau ‘gong xi fa cai’ (hormat bahagia berlimpah rejeki) pun terlarang. Hal ini disebabkan karena telah ada klaim ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa mengucapkan selamat atau mendoakan untuk perayaan non-muslim itu haram. Ijma’ adalah satu dalil yang menjadi pegangan. Nukilan ijma’ tersebut dikatakan oleh Ibnul Qayyim, di mana beliau rahimahullah berkata,

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم ، فيقول: عيد مبارك عليك ، أو تهْنأ بهذا العيد ونحوه ، فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثماً عند الله ، وأشد مقتاً من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس ، وارتكاب الفرج الحرام ونحوه ، وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنّأ عبداً بمعصية أو بدعة ، أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal dan selamat tahun baru imlek, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441).

Kalau dikatakan para ulama sepakat, maka itu berarti ijma’. Dan umat tidak mungkin bersepakat dalam kesesatan, sehingga menyelisihi ijma’ itulah yang terkena klaim sesat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. An Nisa’: 115). Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) ulama kaum muslimin.

Bersikap toleran bukan berarti membolehkan segala hal yang dapat meruntuhkan akidah seorang muslim. Namun toleran yang benar adalah membiarkan mereka merayakan tanpa perlu loyal (wala’) pada perayaan mereka.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Wallahu a’lam bisshowab..

HADITS KE 11 : PENTINGNYA SHALAT DALAM SITUASI APAPUN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 11 :

وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: ( كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ, فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَنْ الصَّلَاةِ؟ فَقَالَ: “صَلِّ قَائِمًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ” ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Imam Ibnu Hushoin Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mempunyai penyakit bawasir, bila aku menanyakan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang cara sholat. Beliau bersabda: “Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu maka dengan berbaring.” Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Sholat merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Orang yang meninggalkannya berhak mendapat siksaan dari Allah dan orang yang mengingkari kewajipan sholat hukumnya kafir. Jadi sholat tidak dapat ditinggalkan dalam keadaan apapun. Sholat mesti dikerjakan dalam keadaan berdiri bagi orang yang mampu berdiri, dan bagi yang tidak mampu berdiri karena sakit, maka dia boleh mengerjakannya sambil duduk. Jika tidak mampu duduk, maka dia hendaklah mengerjakannya dalam keadaan berbaring pada lambungnya seraya menghadapkan dadanya ke arah kiblat. Jika tidak mampu berbaring, dia boleh melakukannya dengan isyarat kepalanya untuk mengerjakan rukun ucapan dan rukun perbuatan.

Hadis ini merupakan dorongan untuk senantiasa tetap mengerjakan sholat dan memuat kemudahan hukum-hukum syariat apabila seseorang itu menderita sakit. Agama itu mudah dan tidak sekali-kali Allah menentukan sesuatu di dalam agama yang membawa kesulitan bagi kita.

FIQH HADITS :

1. Sholat lima waktu itu hukumnya wajib dan tidak boleh ditinggalkan walau dalam keadaan apapun.

2. Menjelaskan cara mengerjakan sholat bagi orang sakit dan udzur.

3. Berdiri ketika mengerjakan sholat fardu tidak boleh ditinggalkan kecuali karena udzur, misalnya sakit, pening kepala atau takut tenggelam di dalam lautan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

SHOHIBUL JABAIR (ORANG YANG MEMAKAI PERBAN/PEMBALUT)

Shohibul Jabâ’ir

(Orang Yang Memakai Perban/Pembalut)

Pengertian

Secara definitiv, jabâ’ir yang merupakan bentuk jama’ dari jabîroh adalah pembalut yang dipasang pada bagian yang retak, patah, pecah, terluka atau terlepas, agar segera pulih kembali. Diantara bentuk jabîroh adalah gips, perban, pembalut, obat dan lain-lain.

Syarat Diperbolehkan Mengusap Jabîroh .

1. Tidak mungkin melepas jabîroh karena dikhawatirkan akan terlalu lama menderita, bertambah parah atau justru menambah luka baru.

2. Posisi jabîroh tidak melebihi anggota yang sehat di sekitar luka, dari sekedar bagian yang dibutuhkan untuk melekatkan.

3. Pemasangan jabîroh dilakukan dalam keadaan suci.

4. Posisi jabîroh berada diselain anggota tayammum (menurut pandapat masyhur yang dipilih Imam Nawawi. Sedang menurut mayoritas ulama’ tidak disayaratkan).

Apabila tidak memenuhi syarat di atas, maka tetap diperbolehkan mengusap jabîroh dan melakukan sholat, namun ketika lukanya telah sembuh dan jabîrohnya dilepas, wajib berwudlu dengan sempurna dan mengulangi sholat.

Tata cara bersuci.

Katika bersuci, perban harus dilepas dan membasuh anggotanya jika tidak khawatir akan menimbulkan bahaya pada anggota yang sakit. Jika khawatir, maka tata cara bersucinya sebagai berikut :

A. Hadas Besar.

Oleh karena dalam basuhan mandi tidak disyaratkan tertib, maka prakteknya boleh mendahulukan tayammum atau mendahulukan mandi.

Cara pertama :

1. Tayammum sebagaimana biasa, dan disunahkan mengusap jabîroh dengan debu

2. Membasuh anggota tubuh yang sehat dengan air.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

Cara demikian lebih utama, karena dengan mengakhirkan basuhan, sisa-sisa debu tayammum akan hilang.

Cara kedua :

1. Membasuh anggota tubuh yang sehat dengan air

2. Mengusap jabîroh dengan air.

3. Tayammum.

B. Hadas Kecil.

Jika jabîroh terletak di luar anggota wudlu, maka cara bersucinya dengan wudlu seperti biasa. Sedang bila jabîrohnya terletak pada anggota wudlu, maka cara bersucinya sebagaimana berikut :

1. Tayammum seperti biasa.

2. Membasuh seluruh anggota yang sehat di sekitar jabîroh.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

Karena dalam wudlu disyaratkan tertib, maka cara di atas dilakukan pada giliran anggota wudlu yang dibasuh, baru kemudian melanjutkan wudlunya. Mengenai urutan antara tayammum, membasuh anggota yang sehat di sekitar jabîroh dan mengusap jabîroh tidak disyaratkan tertib.

Praktek Bersuci Orang Yang Memakai Jabîroh.

Ø Jabîroh berada di wajah.

1. Niat wudlu besertaan membasuh bagian wajah yang sehat di sekitar jabîroh.

2. Mengusap jabîroh dengan air.

3. Tayammum.

4. Membasuh tangan.

5. Mengusap sebagian kepala.

6. membasuh kedua kaki.

Disamping urutan cara di atas, bisa juga dengan cara mendahulukan tayammum lalu mengusap jabîroh dengan air, setelah itu membasuh bagian wajah yang sehat.

Ø Jabîroh berada di kedua atau salah satu tangan.

1. Membasuh wajah bersamaan niat.

2. Tayammum.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

4. Membasuh anggota tangan yang sehat di sekitar jabîroh sebisa mungkin.

5. Mengusap sebagian kepala.

6. Membasuh kedua kaki.

Ø Jabîroh berada di sebagian kepala.

Caranya adalah berwudlu sebagaiman biasa, yakni mengusap sebagian kepala yang sehat dengan air.

Ø Jabîroh berada di kedua atau salah satu kaki.

1. Membasuh wajah disertai niat.

2. Membasuh kedua tangan.

3. Mengusap sebagian kepala.

4. Tayammum.

5. Mengusap jabîroh dengan air.

6. Membasuh bagian kaki yang sehat.

Ø Jabîroh berada di wajah dan kedua tangan.

Karena jabîroh berada pada dua anggota wudlu, maka tayammum juga harus dilakukan dua kali pada waktu giliran membasuh keduanya. Praktek lebih jelasnya sebagaimana berikut :

1. Membasuh wajah yang sehat disertai dengan niat.

2. Mengusap jabîroh dengan air yang ada pada wajah.

3. Tayammum.

4. Membasuh bagian tangan yang sehat

5. Tayammum.

6. Mengusap jabîroh yang berada di tangan.

7. Mengusap sebagian kepala.

8. Membasuh kedua kaki.

Ø Jabîroh berada di seluruh wajah.

1. Niat tayammum kemudian mengusap kedua tangan dengan debu.

2. Mengusap jabîroh dengan air.

3. Membasuh kedua tangan dengan air.

4. Mengusap sebagian kepala.

5. Membasuh kedua kaki.

Haruskah niat wudlu, jika harus dimana letaknya?

Ø Jabîroh berada di seluruh tangan.

1. Niat wudlu bersamaan membasuh wajah.

2. Tayammum.

3. Mengusap jabîroh dengan air.

4. Mengusap sebagian kepala.

5. Membasuh kedua kaki.

Catatan :

1. Pengusapan jabîroh dengan air adalah sebagai pengganti tidak terbasuhnya anggota tayammum yang memang diperlukan untuk melekatkan jabîroh. Oleh karena itu, jabîroh yang sama sekali tidak melekat pada anggota yang sehat tidak perlu mengusap jabîroh. Cara bersucinya cukup dengan wudlu dan tayammum dan tidak perlu mengulangi sholatnya.

2. Pada saat tayammum disunahkan mengusap jabîroh dengan debu.

3. Tayammum adalah cara bersuci darurat yang hanya berlaku untuk satu sholat fardlu dan ibadah-ibadah sunah. Oleh karenanya, selama belum berhadas, setiap kali akan melakukan sholat fardlu, pemakai jabîrohharus mengulangi tayammum tanpa berwudlu dan megusap jabîroh. Berbeda ketika sudah berhadas, pemakai jabîroh harus mengulangi tata cara bersuci sebagaimana di atas secara tuntas.

Menurut Ibnu Hajar dalam Al-Î’âb tidak harus niat wudlu saat membasuh kedua tangan. Sedang menurut beliau dalamTuhfahnya wajib niat wudlu.

(المهذب,جز ٢,صحيفة ٣٧)
فاءن كان قد وضع الجباءر على غير طهر لزمه اعادة الصلاة،وان كان قد وضع على طهر ففيه قولان احدهما لا يلزمه كما لا يلزم ماسح الخف،والثاني يلزمه لاءنه ترك غسل العضو لعذر نادر غير متصل فكان كما لو ترك غسل العضو ناسيا

Jika orang itu meletakkan Jabiiroh (perbannya luka,perbannya patah tulang) di dalam keadaan tidak suci (tidak mempunyai wuduk atau dalam keadaan hadats besar),maka orang itu wajib mengulangi sholatnya. Tapi, jika orang itu meletakkan Jabiiroh dalam keadaan suci (mempunyai wuduk dan tidak sedang hadats besar), maka ada dua pendapat:

(1). Orang itu tidak wajib mengulangi sholatnya. Orang itu dikiaskan(di samakan) dengan orang yang mengusap sepatu,yang mana orang yang mengusap sepatu itu tidak diwajibkan mengulangi sholatnya.

(2). Orang itu wajib mengulangi sholatnya.Alasannya ialah karena orang itu meninggalkan terhadap membasuh anggota tubuh karena udzur yang jarang, yang mana udzurnya itu tidak terus menerus. Maka hukumnya orang itu adalah sama dengan hukumnya orang yang meninggalkan membasuh anggota tubuhnya karena lupa.

Walloohu a’lam bishshowaab..

HADITS KE 10 : KEUTAMAAN MENGERJAKAN RUKHSAH BAGI MUSAFIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 10 :

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( خَيْرُ أُمَّتِي اَلَّذِينَ إِذَا أَسَاءُوا اِسْتَغْفَرُوا, وَإِذَا سَافَرُوا قَصَرُوا وَأَفْطَرُوا ) أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي “الْأَوْسَطِ” بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ وَهُوَ فِي مُرْسَلِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عِنْدَ الْبَيْهَقِيِّ مُخْتَصَر

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik umatku adalah mereka yang bila berbuat kesalahan memohon ampunan dan bila bepergian mengqashar sholat dan membatalkan puasa.” Dikeluarkan oleh Thabrani dalam Ausath dengan sanad yang lemah. Hadits tersebut juga terdapat dalam Mursal Said Ibnu al-Musayyab dengan ringkas.

FIQH HADITS :

1. Mengqasar sholat dan berbuka puasa ketika dalam perjalanan lebih baik bagi orang yang musafir daripada mengerjakan sholat dengan sempurna dan berpuasa.

2. Menghapus dosa dengan cara banyak membaca istighfar. Allah (s.w.t) berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ (١٣٥)

“Dan (juga) orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka mengingat Allah, lalu memohon ampun di atas dosa-dosa mereka,
dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah?…” (Surah Ali ‘Imran: 135)

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 9 : JARAK MENGQASHAR SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 9 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم : ( لَا تَقْصُرُوا الصَّلَاةَ فِي أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ; مِنْ مَكَّةَ إِلَى عُسْفَانَ ) رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيف وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ، كَذَا أَخْرَجَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan mengqashar sholat kurang dari empat burd, yakni dari Mekkah ke Usfan.” Diriwayatkan oleh Daruquthni dengan sanad lemah. Menurut pendapat yang benar hadits ini mauquf sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Di dalam Sunnah tidak terdapat hadis marfu’ yang sahih mengenai batasan jarak qasar ketika dalam musafir. Jadi masalah ini terbuka luas bagi ijtihad untuk memainkan peranannya. Menurut jumhur ulama, sholat boleh diqasar ketika dalam perjalanan yang menempuh jarak dua marhalah yang diperkirakan sama dengan empat burud. Menurut Imam Abu Hanifah, sholat boleh diqasar dalam jarak
tiga marhalah. Menurut sebagian ulama lain, sholat boleh diqasar dalam setiap perjalanan, tetapi pendapat ini dinilai tidak berlandaskan kepada kajian yang
mencukupi, karena hadis dalam bab ini meskipun sanadnya dhaif tetapi dikuatkan oleh hadis mawquf Ibn Khuzaimah yang sanadnya shahih.

FIQH HADITS :

Batasan minimum jarak perjalanan yang membolehkan seseorang melakukan sholat qasar sejauh empat burud atau 48 mil.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 8 : JAMAK TAKKHIR DAN JAMAK TAQDIM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 8 :

وَعَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه قَالَ: ( خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ، فَكَانَ يُصَلِّي الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا, وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Muadz Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami pernah pergi bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam perang Tabuk. Beliau Sholat Dhuhur dan Ashar dengan jamak serta Maghrib dan Isya’ dengan jamak. Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Syariat Islam telah menetapkan waktu-waktu tertentu untuk mengerjakan sholat. Setiap sholat pada dasarnya mestilah dikerjakan dalam waktu-waktu yang telah
ditetapkan itu. Mengingat musafir merupakan salah satu faktor yang bisa mmenyebabkan kesusahan, maka syariat Islam memberi keringanan atau rukhsah
untuk menjamak dua sholat yang waktunya saling berdekatan berdekatan antara satu sama lain; sholat dzuhur r dengan sholat Asar disatukan, baik jamak taqdim
ataupun jamak ta’khir, demikian pula sholat Maghrib dengan sholat Isyak disatukan, baik jamak taqdim atau jamak ta’khir.

Jika perjalanan telah dimulai pada waktu sholat yang pertama, maka jamak yang dilakukan adalah jamak ta’khir. Jika perjalanan telah dimulai pada waktu sholat yang kedua, maka jamak yang dilakukan adalah jamak taqdim. Faktor yang membolehkan berbuat demikian adalah kesulitan dan hukumnya mubah, sedangkan hikmahnya adalah memberikan keringanan kepada orang yang sedang bermusafir. Melakukan sholat jamak di tempat tinggal hukumnya dilarang. Hadis-hadis yang menyebutkan hal ini mestilah ditafsirkan sebagai jamak formalitas saja, tetapi pada hakikatnya setiap sholat mesti dikerjakan pada waktunya, dimana sholat pertama dikerjakan pada akhir waktunya dan sholat yang kedua dikerjakan pada permulaan waktunya.

Imam Abu Hanifah tetap berpegang kepada kaidah asal dimana beliau mewajibkan setiap sholat dikerjakan pada waktunya yang telah ditetapkan, kecuali jamak taqdim di Arafah dan jamak ta’khir di Muzdalifah, karena adanya nash yang menerangkan hal tersebut. Beliau menjadikan jamak ini sebagai salah satu dari kesempurnaan manasik haji dan inilah yang menjadi faktor yang membolehkan jamak. Beliau mentafsirkan keadaan-keadaan yang disebutkan di dalam Sunnah berkaitan disyariatkan sholat jamak, bahwa jamak yang dimaksud itu adalah jamak formalitas saja.

FIQH HADITS :

Seseorang yang bermusafir disyariatkan menjamak dua sholat yang waktunya saling berdekatan antara satu sama lain.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 7 : SHALAT YANG BISA DIJAMAK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 7 :

وَعَنْ أَنَسٍ: ( كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ, ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا, فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ, ثُمَّ رَكِبَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةِ الْحَاكِمِ فِي “الْأَرْبَعِينَ” بِإِسْنَادِ اَلصَّحِيحِ: ( صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ, ثُمَّ رَكِبَ )وَلِأَبِي نُعَيْمٍ فِي “مُسْتَخْرَجِ مُسْلِمٍ”: ( كَانَ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ, فَزَالَتْ الشَّمْسُ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا, ثُمَّ اِرْتَحَلَ )

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Biasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila berangkat dalam bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan sholat Dhuhur hingga waktu Ashar. Kemudian beliau turun dan menjamak kedua sholat itu. Bila matahari telah tergelincir sebelum beliau pergi, beliau sholat Dhuhur dahulu kemudian naik kendaraan. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu hadits riwayat Hakim dalam kitab al-Arba’in dengan sanad shahih: Beliau sholat Dhuhur dan Ashar kemudian naik kendaraan. Dalam riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Mustakhroj Muslim: Bila beliau dalam perjalanan dan matahari telah tergelincir, beliau sholat Dhuhur dan Ashar dengan jamak, kemudian berangkat.

MAKNA HADITS :

Mengingat musafir merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kesusahan, maka Islam memberikan keringanan kepada musafir untuk menjamak di antara dua sholat yang waktunya saling berdekatan seperti sholat dzuhur dengan sholat Asar dan sholat Maghrib dengan sholat Isyak, baik jamak ta’khir ataupun jamak taqdim. Ini merupakan salah satu dari rahmat kepada orang yang sedang musafir. Inilah pendapat jumhur ulama. Dari hadis ini mereka berkesimpulan bahwa boleh melakukan jamak ta’khir dan dari hadis ini pula kemudian disimpulkan boleh melakukan jamak taqdim.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak boleh melakukan jamak di antara kedua sholat, baik jamak taqdim maupun jamak ta’khir. Beliau mentakwil hadis-hadis yang menyebut masalah jamak ini dengan mengatakan bahwa jamak yang disebutkan oleh hadis-hadis tersebut hanyalah dalam bentuk formalitas saja. Dengan kata lain mengerjakan sholat pertama di akhir waktunya dan sholat yang kedua pada permulaan waktunya. Barang siapa yang memandang kepada dzahir hadis ini, dia pasti meyakini bahwa kedua sholat itu dilakukan secara jamak; dan barang siapa yang memandang hakikat hadis ini, maka dia yakin bahwa kedua sholat tersebut dikerjakan pada waktunya masing-masing.

FIQH HADITS :

Seorang yang bepergian diperbolehkan melakukan jamak taqdim dan jamak ta’khir diantara dua sholat yang waktu saling berdekatan antara satu sama lain. Inilah pendapat Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam al-Syafi’i. Menurut suatu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad, musafir hanya dibolehkan melakukan jamak ta’khir.

Menurut Imam Abu Hanifah, orang yang musafir tidak dibolehkan
melakukan sholat jamak, baik jamak taqdim ataupun jamak ta’khir. Beliau mentafsirkan hadis yang menerangkan bahwa Nabi (s.a.w) melakukan sholat jamak dalam bentuk formalitas saja, yakni melakukan sholat Dzuhur di akhir waktunya dan mengerjakan sholat Asar pada permulaan waktu. Begitu pula dengan sholat Maghrib dan sholat Isyak. Boleh melakukan jamak taqdim di ‘Arafah untuk menjamak sholat Dzuhur dengan sholat Asar, dan jamak ta’khir untuk menjamak sholat Maghrib dengan sholat Isyak di Muzdalifah. Hal ini merupakan satu bentuk kesempurnaan untuk manasik haji.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

رابطة خرجي معهد منبع العلوم بتابتا

%d blogger menyukai ini: