HADITS KE 93 : BOLEH MENCIUM ORANG YANG TELAH WAFAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 93 :

وَعَنْهَا ( أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رضي الله عنه قَبَّلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ مَوْتِهِ ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Abu Bakar Radliyallaahu ‘anhu mencium Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah beliau wafat. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) memuliakan anak Adam dan menjadikan mayatnya pun suci. Allah

(s.w.t) berfirman:

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam…” (Surah al-Isra’: 70)

Oleh itu, dibolehkan mencium orang yang telah mati. Nabi (s.a.w) sendiri pernah mencium saudara sesusuannya, yaitu Utsman ibn Mazh’un ketika meninggal

dunia, sedangkan air mata baginda bercucuran. Abu Bakar (r.a) mencium Rasulullah (s.a.w) ketika baginda telah wafat. Cukuplah perbuatan Rasulullah (s.a.w) sebagai dalil dan hujah sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar (r.a). Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan itu tidak hanya khusus kepada Nabi (s.a.w) saja.

FIQH HADITS :

Boleh mencium orang yang telah meninggal dunia.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

M110. HUKUM TUKAR MENUKAR UANG BERSELISIH NOMINAL

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum.. Menjelang IDUL FITRI, biasanya orang-orang mendadak “latah” tukar uang baru. Bahkan sampai direwangi ngantri berpanjang panjang di Bank. Ada juga calo-calo yang berjajar di tepi jalan, menawarkan lembaran-lembaran uang baru.Untuk di Bank, tidak ada masalah. Karena 1 lembar uang 100 ribu akan ditukar dengan uang pecahan lain dengan nilai yang sama. Bagaimana hukumnya tukar uang kepada Calo, yang 1 lembar 100 ribu, jika ditukar dengan pecahan uang lainnya, maka hanya ditukar senilai 90 ribu. Jadi kurang 10 ribu, yang dianggap ” ongkos ” antri para Calo tersebut ?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Coba baca Hasil Keputusan Bahtsul Masail ke-9 FMP3 (Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri) se-Jawa Timur komisi A, Di Ponpes Putri Modern Ar-Rifa’ie Gondanglegi Malang, 6-7 Februari :

Deskripsi Masalah : Menjelang hari Lebaran, kebutuhan akan uang pecahan mengalami peningkatan.Praktis, kantor-kantor bank yang melayani penukaran uang menjadi penuh oleh nasabah yang ingin mendapatkan uang pecahan kecil. Panjangnya antrean menjadikan mereka enggan pergi ke bank. Fenomena(gejala) ini ditangkap oleh sebagian kalangan sebagai kesempatan untuk mengais rezeki. Yakni dengan menyediakan jasa penukaran uang, dengan adanya selisih nominal, semisal uang 100 ribuaan mereka tukar dengan 90-95 lembar uang 1000 atau pecahan lainnya. Dan, lahan bisnis ini terbukti mendapat respon. Usaha mereka laris manis.

Pertanyaan : Termasuk aqad apakah praktek dalam deskripsi(pemaparan, penggambaran) di atas ?Bagaimanakah hukum mengadakan transaksi (aqad)tersebut ?

Jawaban : Termasuk akad bay’ (jual beli)

Mengingat bahwa pada zaman sekarang, mata uang terkait dengan neraca perdagangannya,bukan berdasarkan cadangan emas dan perak yang dimilikinya, maka hukum transaksi(aqad) di atas adalah :

– Menurut ulama’ Syafi’iyyah, hukumnya diperbolehkan, karena mata uang rupiah tidak tergolong mal ribawi.

– Menurut ulama’ Malikiyyah, hukumnya tidak diperbolehkan, karena mata uang rupiah bisa disetarakan dengan emas dan perak dalam unsur ribawi-nya.

Referensi : Tuhfah al-Muhtaj juz VI hlm. 212, Hâsyiyah Al-Bujarimi ‘ala Al-Khathîb juz VII hlm. 339, I’ânah al-Thâlibîn juz III hlm. 12-13, Qaul al-Munaqqah hlm. 5, Al-Fawâkih al-Dawâni juz V hlm. 403 dan Hâsyiyah Al-’Adawi juz V hlm. 450.

Ibarot :

تحفة المحتاج الجزء السادس عشر ص: 212

(كتاب البيع) قيل أفرده لإرادته نوعا منه هو بيع الأعيان ويرد بأن إفراده هو الأصل إذ هو مصدر وإرادة ذاك تعلم من إفراده السلم بكتاب مستقل وهو لغة مقابلة شيء بشيء وشرعا عقد يتضمن مقابلة مال بمال بشرطه الآتي لاستفادة ملك عين أو منفعة مؤبدة وهو المراد هنا وقد يطلق على قسيم الشراء فيحد بأنه نقل ملك بثمن على وجه مخصوص والشراء بأنه قبوله على أن لفظ كل يقع على الآخر وأركانه عاقد ومعقود عليه وصيغة .

حاشية البجيرمي على الخطيب الجزء السابع ص: 339

(ولا يجوز بيع) عين (الذهب بالذهب و) لا بيع عين (الفضة كذلك) أي بالفضة (إلا) بثلاثة شروط الأول كونه (متماثلا) أي متساويا في القدر من غير زيادة حبة ولا نقصها . والثاني كونه (نقدا) أي حالا من غير نسيئة في شيء منه . والثالث كونه مقبوضا قبل التفرق أو التخاير للخبر السابق . وعلة الربا في الذهب والفضة جنسية الأثمان غالبا كما صححه في المجموع ويعبر عنه أيضا بجوهرية الأثمان غالبا وهو منتفية عن الفلوس وغيرها من سائر العروض . واحترز بغالبا عن الفلوس إذا راجت فإنه لا ربا فيها كما مر ولا أثر لقيمة الصنعة في ذلك حتى لو اشترى بدنانير ذهبا مصوغا قيمته أضعاف الدنانير اعتبرت المماثلة ولا نظر إلى القيمة .والحيلة في تمليك الربوي بجنسه متفاضلا كبيع ذهب بذهب متفاضلا أن يبيعه من صاحبه بدراهم أو عرض ويشتري منه بها أو به الذهب بعد التقابض فيجوز وإن لم يتفرقا ولم يتخايرا .

قوله : (وعلة الربا إلخ) أي حكمته فلا ينافي كون حرمة الربا من الأمور التعبدية كما قرره شيخنا العشماوي وإنما كان حكمة لا علة لأن الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما والحكمة لا يلزم اطرادها . وعبارة ق ل لو قال وحكمة الربا لكان أقوم إذ لا ربا في غيرها وإن غلبت الثمنية فتأمل ولعل عزوه لبراءته من عهدته وكذا ما بعده فقوله وهي منتفية إلخ مضر أو لا حاجة إليه ا هـ بحروفه .

إعانة الطالبين الحزء الثالث ص :12-13

(وشرط في بيع) ربوي وهو محصور في شيئين (مطعوم) كالبر والشعير والتمر والزبيب الملح والارز والذرة الفول (ونقد) أي ذهب وفضة ولو غير مضروبين كحلي وتبر (بجنسه) كبر ببر وذهب بذهب (حلول) للعوضين (وتقابض قبل تفرق).

(قوله: ونقد) قال في التحفة وعلة الربا فيه جوهرية الثمن فلا ربا في الفلوس وإن راجت . اهـ.

قول المنقح ص : 5

فإن بيعت الأوراق مثلها متماثلا أو متفاوتا كان من قبيل بيع النقد بنقد في الذمة فتجري فيه شروط الربوي فإن اتفق في الجنس كفضة بفضة اشترط في صحة العقود الحلول والتقابض والتماثل وإن اختلف في الجنس واتحد في علة الربا كذهب وفضة اشترط الأولان وإن فقد شرط من هذه الشروط لم يصح العقد

الفواكه الدواني الجزء الخامس ص 403

(خاتمة) وقع خلاف في علة الربا في النقود فقيل غلبة الثمنية وقيل مطلق الثمنية وعلى الأول تخرج الفلوس الجدد فلا يدخلها الربا ويدخلها على الثاني .

حاشية العدوي الجزء الخامس ص 450

واختلف في علة الربا في النقود فقيل غلبة الثمنية وقيل مطلق الثمنية وعلى الأول تخرج الفلوس الجدد فلا يدخلها الربا ويدخلها على الثاني وإنما كانت علة الربا في النقود ما ذكر لأنا لو لم نمنع الربا فيها لأدى ذلك إلى قلتها فيتضرر بها الناس كما قاله اللقاني وحمل قول مالك في الفلوس على الكراهة للتوسط بين الدليلين كما قاله خليل في توضيحه .

Wallahu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 92 : ANJURAN MENUTUPI MAYAT DENGAN KAIN SEBELUM DIMANDIKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 92 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: ( أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ بِبُرْدٍ حِبَرَةٍ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika wafat ditutup dengan kain bermotif dari Yaman. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Menutupi tubuh mayat sebelum dimandikan dengan selimut yang paling baik merupakan suatu perbuatan yang disunatkan. Hikmahnya ialah menjaga agar tubuhnya tidak terbuka dan menutupinya dari pandangan mata apabila terjadi perubahan.

Sesungguhnya menutupi tubuh mayat ini hanya dilakukan setelah menanggalkan semua pakaian si mayat dari tubuhnya, agar tubuh mayat tidak berubah dan mencegah agar tubuhnya tidak terkena kotoran yang keluar dari tubuhnya ketika sedang nazak dan ruhnya keluar.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menutupi tubuh mayat. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar
tubuhnya yang berubah tidak terbuka akibat proses kematiannya.

2. Disyariatkan menanggalkan pakaian yang dipakai oleh si mayat ketika dia
mati agar tubuhnya tidak berubah karena pakaian tersebut.

3. Disunatkan mengikat dagunya dengan kain yang agak lebar, dan melenturkan sendi-sendi tulangnya setelah rohnya keluar dengan cara menekukkan tangan ke lengannya, betis ke pahanya, dan paha ke perutnya, kemudian dikembalikan lagi kepada posisi semula agar mudah dimandikan, karena pada saat itu tubuh masih dalam keadaan hangat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 91 : MENDO’AKAN ORANG YANG LAGU SAKARATUL MAUT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 91 :

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى أَبِي سَلَمَةَ رضي الله عنه وَقَدْ شُقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ, ثُمَّ قَالَ: “إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ, اتَّبَعَهُ الْبَصَرُ” فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ, فَقَالَ: “لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ. فَإِنَّ المَلَائِكَةَ تُؤَمِّنُ عَلَى مَا تَقُولُونَ”. ثُمَّ قَالَ: “اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ, وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ, وَافْسِحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ, وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ, وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam masuk ke rumah Abu Salamah sewaktu matanya masih terbuka, lalu beliau memejamkan matanya. Kemudian berkata: “Sesungguhnya ruh itu bila dicabut maka pandangannya mengikutinya.” Maka menjeritlah orang-orang dari keluarganya, lalu beliau bersabda: “Janganlah kamu berdo’a untuk dirimu sendiri kecuali demi kebaikan, karena sesungguhnya malaikat itu mengamini apa yang kamu ucapkan.” Kemudian beliau berdo’a: “Ya Allah berilah ampunan kepada Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya ke tingkat orang-orang yang mendapat petunjuk, lapangkanlah baginya dalam kuburnya, terangilah dia didalamnya, dan berilah penggantinya dalam turunannya.” Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menjelaskan kepada orang yang hadir di hadapan orang yang sedang
dalam keadaan sakaratul maut supaya mereka segera memejamkan kedua mata
orang yang nazak setelah ruhnya dicabut. Baginda menjelaskan hikmahnya
bahwa pandangan mata itu melihat kepergian ruhnya dan mengikutinya. Oleh
itu, disunatkan segera memejamkan kedua mata si mayat agar penampilannya
tidak mengerikan. Nabi (s.a.w) menjelaskan kepada mereka bahwa antara etika yang dianjurkan untuk dilakukan pada saat itu ialah hendaklah mereka mendo’akan si mayat, keluarga dan orang yang ditinggalkannya, semoga agama dan dunia mereka tetap dalam keadaan baik, demikian pula urusan akhiratnya, karena do’a pada saat itu dikabulkan mengingat para malaikat yang bertugas mencabut nyawa
si mayat mengaminkannya. Do’a yang dibaca oleh Nabi (s.a.w) dalam hadis ini
menunjukkan adanya nikmat dan siksa kubur.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan memejamkan kedua mata mayat yang terbelalak.

2. Berdo’a untuk mayat dan keluarganya yang ditinggalkan dengan kebaikan

di dunia dan akhirat mereka.

3. Mayat adakalanya mengalami nikmat kubur dan siksa kubur.

4. Roh adalah tubuh yang tidak nampak oleh kasat mata dan menyatu dengan
tubuh. Jasad tidak dapat hidup lagi dengan kepergiannya, tetapi ruh bukanlah sesuatu seperti tubuh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

S068. CARA BERSEDEKAP DALAM SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskrisi masalah:
Ketika kami memasuki masjid/musholla kami melihat orang setelah takbiratul ihram atau setelah berdiri dari sujud bersedekap kedua tangannya diletakkan tepat ditengah-tengah dadanya dan sebagian diletakkan ditengah dadanya namun agak miring sedikit kelambung kirinya.

Pertanyaannya:
Mana yang lebih utama cara meletakkan kedua tangannya tepat ditengah dadanya dengan dimiringkan sedikit ke arah lambung kiri ketika takbir atau ketika berdiri setelah sujud? mohon penjelasannya.

JAWABAN :

Waalaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh..

Yang disunnatkan sesudah takbirotul ihrom menurut Syafi’iyah, telapak tangan kanan diletakkan di pergelangan tangan kiri, dan tangan kanan dan tangan kiri diletakkan di bawah dada dan di atas pusar, dalam keadaan condong ke arah kiri. Alasannya ialah karena hati itu ada di atas pusar dan di bawah dada, dalam keadaan condong ke arah kiri, sehingga tangan kanan dan tangan kiri berada pada paling mulianya anggota badan (yaitu hati).

Referensi:

(الفقه الاءسلامي وادلته،832/7732)
وضع اليد اليمنى على ظهر اليسرى: قال الجمهور غير المالكية: يسن بعد التكبير أن يضع المصلي يده اليمنى على ظهر كف ورسغ اليسرى، لما رواه وائل بن حجْر أنه رأى النبي صلّى الله عليه وسلم رفع يديه حين دخل في الصلاة، وكبر، ثم التحف بثوبه، ثم وضع يده اليمنى على كفه اليسرى والرسغ والساعد» (1)، ومارواه قَبيصة بن هُلب عن أبيه قال: «كان رسول الله صلّى الله عليه وسلم يؤمنا فيأخذ شماله بيمينه» (2) وما رواه سهل بن سعد قال: «كان الناس يؤمرون أن يضع الرجل يده اليمنى على ذراعه اليسرى في الصلاة» (3) وعن ابن مسعود: «أن النبي صلّى الله عليه وسلم مرّ به، وهو واضع شماله على يمينه، فأخذ يمينه، فوضعها على شماله» (4).

وصفة الوضع عند الحنابلة والشافعية: أن يضع يده اليمنى على كوع اليسرى أو ما يقاربه، لحديث ابن حجر السابق، علماً بأن الكوع طرف الزند مما يلي الإبهام، أما عند الحنفية: فهو أن يجعل باطن كف اليمنى على ظاهر كف اليسرى، محلقاً الرجل بالخنصر والإبهام على الرسغ. أما المرأة فتضع يديها على صدرها من غير تحليق لأنه أستر لها.
(1) رواه أحمد ومسلم وأبو داود، والنسائي واللفظ له.
(2) رواه الترمذي، وقال: حديث حسن.
(3) رواه البخاري.
(4) رواه أبو داود.

ويضعهما عند الحنفية والحنابلة تحت السُّرة، لما روي عن علي أنه قال: «من السنة وضع اليمين على الشمال تحت السرة» (1)، وهذا ينصرف إلى سنة النبي صلّى الله عليه وسلم.

والمستحب عند الشافعية: أن يجعلهما تحت الصدر فوق السرة، مائلاً إلى جهة اليسار؛ لأن القلب فيها، فتكونان على أشرف الأعضاء، وعملاً بحديث وائل بن حجر السابق: «رأيت رسول الله صلّى الله عليه وسلم يصلي، فوضع يديه على صدره، إحداهما على الأخرى» ويؤيده حديث آخر عند ابن خزيمة في وضع اليدين على هذه الكيفية.
وقال المالكية: يندب إرسال اليدين في الصلاة بوقار، لا بقوة، ولايدفع بهما من أمامه لمنافاته للخشوع. ويجوز قبض اليدين على الصدر في صلاة النفل لجواز الاعتماد فيه بلا ضرورة، ويكره القبض في صلاة الفرض لما فيه من الاعتماد أي كأنه مستند، فلو فعله لا للاعتماد، بل استناناً لم يكره، وكذا إذا لم يقصد شيئاً فيما يظهر.
والراجح المتعين لدي هو قول الجمهور بوضع اليد اليمنى على اليسرى، وهو المتفق مع حقيقة مذهب مالك الذي قرره لمحاربة عمل غير مسنون: وهو قصد الاعتماد، أي الاستناد، أو لمحاربة اعتقاد فاسد: وهو ظن العامي وجوب ذلك.

Kesunnahan dalam bersedekap menurut empat madzhab :

1. malikiyah : meletakkan yang kanan di atas yang kiri dengan posisi di antara pusar dan di bawah dada (pertengahannya) bagi laki-laki dan perempuan

2. hanafiyah : bagi (laki-laki) meletakkan yang kanan atas yang kiri dengan melingkarkan ibu jari dan kelingking (mempertemukan) dia pergelangan tangan dan posisinya di bawah pusar bagi (perempuan) meletakkan yang kanan di atas yang kiri dengan posisi di dada dengan tanpa melingkarkan jari di pergelangan tangan.

3. syafi’iyah : meletakkan yang kanan di atas yang kiri dan posisinya di bawah dada dan di atas pusar (di antaranya) dan agak ditarik ke samping sebelah kiri, jari-jari yang kanan direnggangkan(seperti memperlihatkan / memberi ruang bagi tangan kiri) bagi laki-laki dan perempuan.

4. hanabilah : meletakkan yang kanan di atas yang kiri bagi laki-laki dan perempuan dan posisinya di bawah pusar. [ AlFiqh ‘ala madzahibil arba’ah 1/144 ].

– al Fiqh ‘alal Madzaahibil Arba’ah1/285, maktabah syamilah :

يسن وضع اليد اليمنى على اليسرى تحت سرته أو فوقها وهو سنة باتفاق ثلاثة من الأئمة وقال المالكية : إنه مندوب أما كيفيته فانظرها تحت الخط.

المالكية قالوا : وضع اليد اليمنى على اليسرى فوق السرة وتحت الصدر مندوب لا سنة بشرط أن يقصد المصلي به التسنن – يعني اتباع النبي صلى الله عليه و سلم في فعله – فإن قصد ذلك كان مندوبا . أما إن قصد الاعتماد والاتكاء فإنه يكره بأي كيفية . وإذا لم يقصد شيئا . بل وضع يديه هكذا بدون أن ينوي التسنن فإنه لا يكره على الظاهر بل يكون مندوبا أيضا . هذا في الفرض أما في صلاة النفل فإنه يندب هذ الوضع بدون تفصيل

الحنفية قالوا : كيفيته تختلف باختلاف المصلي . فإن كان رجلا فيسن في حقه أن يضع باطن كفه اليمنى على ظاهر كف اليسرى محلقا بالخنصر والإبهام على الرسغ تحت سرته . وإن كانت امرأة فيسن لها أن تضع يديها على صدرها من غير تحليق.

الحنابلة قالوا : السنة للرجل والمرأة أن يضع باطن يده اليمنى على ظهر يده اليسرى ويجعلها تحت سرته.

الشافعية قالوا : السنة للرجل والمرأة وضع بطن كف اليد اليمنى على ظهر كف اليسرى تحت صدره وفوق سرته مما يلي جانبه الأيسر . وأما أصابع يده اليمنى بهو مخير بين أن يبسطها في عرض مفصل اليسرى وبين أن ينشرها في جهة ساعدها . كما تقدم إيضاحه في مذهبهم قريبا.

Wallahu A’lamu Bisshowab..

HADITS KE 90 : ANJURAN MEMBACA YASIN TERHADAP ORANG YANG SAKARATUL MAUT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 90 :

وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

Dari Ma’qil Ibnu Yasar bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Bacakanlah surat Yasin atas orang yang hampir mati di antara kamu.” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Ketika al-Qur’an dibacakan, maka rahmat dan ketenangan diturunkan serta berkat
menyelimuti si pembaca beserta orang yang mendengarnya. Oleh itu, jika Surah Yasin dibacakan di hadapan orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut,
Allah memudahkannya menghadapi penderitaan nazak yang dahsyar itu. Surah Yasin secara khusus disebutkan di dalam hadis ini karena memiliki keistimewaan,
yaitu sebagai jantung al-Qur’an, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis yang lain dan jantung kepada sesuatu itu mempunyai rahasia yang khusus.

FIQH HADITS :

Keutamaan Surah Yasin dan sunat membacakannya di hadapan orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut. Hikmah membacakannya di hadapan orang yang sedang menjelang kematiannya ialah dia berada dalam keadaan hatinya lemah, sedangkan hatinya ketika sedang menghadap kepada Allah. Jika dibacakan kepadanya Surah Yasin, maka hatinya kembali menjadi kuat dan keyakinannya terhadap agama menjadi kuat kembali serta menjadi rindu dengan kisah tentang keadaan-keadaan pada hari kiamat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 89 : MENTALQIN ORANG YANG SAKARATUL MAUT DENGAN KALIMAT TAUHID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 89 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَالْأَرْبَعَةُ

Dari Abu Said dan Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tuntunlah orang yang hampir mati di antara kamu dengan Laa ilaaha illallah.” Riwayat Muslim dan Imam Empat.

MAKNA HADITS :

Mengajarkan kalimah tauhid dan kalimah syahadat kepada orang yang sedang menghadapi kematiannya merupakan salah satu cara untuk mengingatkannya.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (٥٥)

Allah (s.w.t) berfirman:

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang yang beriman.” (Surah al-Zariyat: 55)

Hukum mengajarkan kalimah tauhid kepada orang yang sedang dalam
sakaratul maut adalah sunnah dan setiap orang muslim dianjurkan melakukan hal
tersebut terhadap saudaranya yang sedang nazak. Ini telah disepakati oleh seluruh ulama. Tujuannya adalah agar kalimah syahadat merupakan akhir dari ucapannya ketika meninggal dunia, karena kalimah syahadat dapat menghapus semua dosa sebelumnya serta menjadi penyebab baginya untuk masuk ke dalam surga.
Akan tetapi, dimakruhkan memperbanyak talqin ini terhadap orang yang sedang sakratul maut, agar seseorang berkenaan tidak terganggu dan tidak merasa
sempit.

Adapun talqin sesudah mengkebumikan jenazah dan dilakukan di atas kuburan, maka itu masih dipertikai oleh ulama. Menurut Imam Ahmad, itu tidak
disyariatkan, namun menurut Imam Malik, itu makruh karena ia belum pernah
dilakukan oleh ulama Madinah. Sedangkan menurut Imam al-Syafi’i dan Imam
Abu Hanifah, itu disunnahkan karena berdalilkan kepada hadis-hadis dha’if yang menerangkan masalah ini, seperti mana hadis yang diceritakan oleh Abu Umamah
(r.a).

FIQH HADITS :

1. Galakan memperbanyak zikir kalimah ” لا إله إلا الله ” lebih-lebih lagi di hadapan orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut, karena itu dapat menyebabkannya memperoleh kebahagiaan yang abadi.

2. Orang lain selain kaum muslimin tidak boleh diajarkan talqin tersebut,
tetapi mereka hendaklah disuruh masuk Islam terlebih dahulu apabila nyawa mereka belum sampai tenggorokan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi (s.a.w) terhadap bapak saudaranya, Abu Talib. Nabi (s.a.w) menawarkannya supaya masuk Islam ketika dia sedang menghadapi kematiannya, dan baginda pernah melakukan hal yang sama kepada seorang pembantunya yang masih berstatus kafir dzimmi. Ketika itu si pembantu sakit parah yang membawa kematian, lalu Nabi (s.a.w) datang melawat dan menawarkannya supaya masuk Islam. Si pembantu itu menerima tawaran Nabi (s.a.w) dan dia masuk Islam. Dia akhirnya selamat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

T047. HUKUM MEMAKAN IKAN TANPA MEMBUANG KOTORANNYA

PERTANYAAN


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh.

Mohon penjelasannya, bagaimana hukumnya memakan ikan kecil-kecil seperti ikan teri atau yang lainnya, yang tidak dibuang kotorannya ? Terimakasih. Wassalam.

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh..

Memakan ikan yang di dalamnya ada kotorannya hukumnya boleh karena kotoran dari ikan kecil hukumi suci, bahkan menurut imam Romliy kotorannya ikan itu suci baik ikan kecil maupun ikan besar. Kalau ikannya terbilang kecil maka tidak apa-apa. Tapi kalau ikannya tergolong besar maka kotorannya wajib dibuang. Ukuran besar atau kecil adalah kembali kepada ‘urf (penilaian umum di masyarakat). Kotoran ikan adalah najis dan wajib dibuang. Tapi dimaafkan, jika sulit membuangnya yakni pada ikan-ikan kecil. Lihat “Ghoyah At-Talkhiish” Hamisy Bughyah halaman 254 :

(مسألة): روث السمك نجس، ويجوز أكل صغاره قبل شقّ جوفه، ويعفى عن روث تعسر تنقيته وإخراجه، لكن يكره كما في الروضة، ويؤخذ منه أنه لا يجوز أكل كباره قبل إخراج روثه لعدم المشقة في ذلك

(Masalah) Kotoran ikan adalah najis. Boleh memakan ikan-ikan kecil sebelum ikan tersebut dibersihkan dari kotorannya, dan dimaafkan bagi kotoran yang sulit dibersihkan dan dikeluarkan, tetapi makruh (memakannya) sebagaimana disebutkan dalam kitab Ar-Raudhah. Dari itulah dapat diambil kesimpulan bahwa ikan-ikan besar tidka boleh dimakan sebelum dikeluarkan kotorannya, karena tidak adanya kesulitan untuk melakukan itu.”Ikan yang kotorannya tidak dibuang. Tidak boleh dikonsumsi, karena ‘ainun najasah (kotorannya) masih melekat.

(الفتاوى الكبرى الفقهية باب المسابقة والمناضلة )

وَلَا يَحِلُّ أَكْلُ سَمَكِ مِلْحٍ وَلَمْ يُنْزَعْ مَا فِيْ جَوْفِهِ لِأَنَّهُ فِي أَكْلِ السَّمَكَةِ كُلِّهَا مَعَ مَا فِيْ جَوْفِهَا مِنَ النَّجَاسَةِ

Tidaklah halal memakan hewan laut yang tidak dibuang isi perutnya karena itu berarti memakan ikan bersama najis yang ada di dalam perutnya.

Kesimpulan :

1.Ada ikhtilaf ulama dalam masalah kotoran pada ikan yang dikategorikan Besar, maka dalam masalah ini ada baiknya menggunakan qoidah : ” Al Khuruju minal khilafi mustahabun ” (keluar dari ikhtilaf itu disunahkan).

2.Khusus untuk ikan yang tergolong besar, maka ada baiknya dibersihkan dulu kotorannya sebelum dimasak. Wallahu A’lam.

– Ibarot Lain :

اعانةالطالبين ج 1 ص 91

(قول الشارح جواز أكل الصغير) في البجيرمي على الخطيب ما نصه ما يصدق عليه عرفا انه صغير فيدخل فيه كبار البسارية المعروفة بمصر و ان كان قدر اصبعين مثلا كما في ع ش على ر م لا ان كان كبيرا اهـ مؤلف

و نقل فى الجواهر عن الاصحاب لا يجوز اكل سمك ملح و لم ينزع ما فى جوفه اى من المستقذرات. وظاهره لا فرق بين كبيره و صغيره، و لكن ذكر الشيخان جواز اكل الصغير مع ما في جوفه لعسر تنقية ما فيه. (قوله لكن ذكر الشيخان جواز اكل الصغير الخ) و قوله مع ما في جوفه قال البجيرمي و ان كان الأصح نجاسته

( بغية المشترسدين ص 15 )

وعبارته : وقد اتفق ابن حجر وزياد و م ر وغيرهم على طهارة ما في جوف السمك الصغير من الدم والروث وجواز أكله معه وإنّه لا ينجس به الدهن بل جرى عليه م ر الكبير ايضا لأن لنا قولا قويا أن السمك لادم له . إهـ

(نهاية الزين : ص : ٤٣

وأما حكم الروث فيعفى عنه في السمك الصغير دون الكبير فلا يجوز أكله إذا لم ينزع ما في جوفه لامتزاج لحمه بفضلاته التي في باطنه بواسطة الملح.

Wallahu a’lamu bisshowab..

H021. SYARAT MENYEMBELIH HEWAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Apakah menyembelih itu ada syarat kepalanya tidak boleh putus? Jika kepalanya putus apakah sembelihannya tidak sah alias menjadi bangkai ??

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarokatuh..

Sah sembelihannya dan hasilnya halal, alias tidak menjadi bangkai, namun metode tersebut ada yang mengatakan haram, dan ada yang mengatakan makruh. Ta’bir :

Pertama : dalam kitab Hasyiyah Qalyubi 16/51 (maktabah syamilah) :

وَلَا يَحْرُمُ قَطْعُ مَا زَادَ وَلَوْ بِانْفِصَالِ رَأْسِهِ

Tidak haram memotong organ lebih dari HULQUUM (saluran nafas) dan MARII` (saluran makanan), meskipun dengan terpisahnya kepala

Kedua : dalam kitab Hasyiyah Bujairimi ‘Alal Iqna’ juz 22 halaman 69 (maktabah syamilah) :

وَالزِّيَادَةُ عَلَى الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَالْوَدَجَيْنِ قِيلَ بِحُرْمَتِهَا لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ فِي التَّعْذِيبِ وَالرَّاجِحُ الْجَوَازُ مَعَ الْكَرَاهَةِ

(Menyembelih) melebihi HULQUUM (saluran nafas), MARII` (saluran makanan) dan WADAJAIN (dua urat leher) ada yang mengatakan haram, karena hal itu menambah penyiksaan. Pendapat yang rajih(kuat) adalah boleh disertai karaahah (makruh).

Kesimpulan : Menyembelih tidak ada syarat kepalanya tidak boleh putus, jika kepalanya putus sembelihannya tetap sah dan hasilnya halal dimakan, namun penyembelihan seperti itu hukumnya makruh.

– Hasyiyah al Bujairimi ‘alaa Fat_hil Wahhaab juz IV halaman 287 :

و يكره له ابانة راسها حالا، و زيادة القطع و كسر العنق و قطع عضو عنها و تحريكها و نقلها حتى تخرج روحها

Dimakruhkan memisahkan kepalanya seketika, menambah pemotongan, mematahkan leher, memotong anggota tubuhnya, menggerak-gerakan serta memindahkan sampai ruhnya keluar.

Wallohu a’lamu bisshowab..

رابطة خرجي معهد منبع العلوم بتابتا

%d blogger menyukai ini: