HADITD KE 146 : NISHABNYA HEWAN TERNAK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 146 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ أَبَا بَكْرٍ اَلصِّدِّيقَ رضي الله عنه كَتَبَ لَه ُ ( هَذِهِ فَرِيضَةُ اَلصَّدَقَةِ اَلَّتِي فَرَضَهَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى اَلْمُسْلِمِينَ, وَاَلَّتِي أَمَرَ اَلله بِهَا رَسُولَه ُ فِي أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنَ اَلْإِبِلِ فَمَا دُونَهَا اَلْغَنَم ُ فِي كُلِّ خَمْسٍ شَاةٌ, فَإِذَا بَلَغَتْ خَمْسًا وَعِشْرِينَ إِلَى خَمْسٍ وَثَلَاثِينَ فَفِيهَا بِنْتُ مَخَاضٍ أُنْثَى فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فَابْنُ لَبُونٍ ذَكَر ٍ فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ إِلَى خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ فَفِيهَا بِنْتُ لَبُون ٍ أُنْثَى, فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَأَرْبَعِينَ إِلَى سِتِّينَ فَفِيهَا حِقَّةٌ طَرُوقَةُ اَلْجَمَل ِ فَإِذَا بَلَغَتْ وَاحِدَةً وَسِتِّينَ إِلَى خَمْسٍ وَسَبْعِينَ فَفِيهَا جَذَعَة ٌ فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَسَبْعِينَ إِلَى تِسْعِينَ فَفِيهَا بِنْتَا لَبُونٍ, فَإِذَا بَلَغَتْ إِحْدَى وَتِسْعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِيهَا حِقَّتَانِ طَرُوقَتَا اَلْجَمَلِ, فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ, وَفِي كُلِّ خَمْسِينَ حِقَّةٌ, وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ إِلَّا أَرْبَعٌ مِنَ اَلْإِبِلِ فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا وَفِي صَدَقَةِ اَلْغَنَمِ سَائِمَتِهَا إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةِ شَاة ٍ شَاةٌ, فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ إِلَى مِائَتَيْنِ فَفِيهَا شَاتَانِ, فَإِذَا زَادَتْ عَلَى مِائَتَيْنِ إِلَى ثَلَاثمِائَةٍ فَفِيهَا ثَلَاثُ شِيَاه ٍ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى ثَلَاثِمِائَةٍ فَفِي كُلِّ مِائَةٍ شَاةٌ، فَإِذَا كَانَتْ سَائِمَةُ اَلرَّجُلِ نَاقِصَةً مِنْ أَرْبَعِينَ شَاة ٍ شَاةً وَاحِدَةً فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ, إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا. وَلَا يُجْمَعُ بَيْنَ مُتَفَرِّقٍ وَلَا يُفَرَّقُ بَيْنَ مُجْتَمِعٍ خَشْيَةَ اَلصَّدَقَةِ, وَمَا كَانَ مِنْ خَلِيطَيْنِ فَإِنَّهُمَا يَتَرَاجَعَانِ بَيْنَهُمَا بِالسَّوِيَّةِ, وَلَا يُخْرَجُ فِي اَلصَّدَقَةِ هَرِمَة ٌ وَلَا ذَاتُ عَوَارٍ, إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اَلْمُصَّدِّقُ، وَفِي اَلرِّقَة ِ رُبُعُ اَلْعُشْرِ, فَإِنْ لَمْ تَكُن ْ إِلَّا تِسْعِينَ وَمِائَةً فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا, وَمَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ مِنَ اَلْإِبِلِ صَدَقَةُ اَلْجَذَعَةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ جَذَعَةٌ وَعِنْدَهُ حِقَّةٌ, فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ اَلْحِقَّةُ, وَيَجْعَلُ مَعَهَا شَاتَيْنِ إِنِ اِسْتَيْسَرَتَا لَهُ, أَوْ عِشْرِينَ دِرْهَمًا, وَمَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ صَدَقَةُ اَلْحِقَّةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ اَلْحِقَّةُ, وَعِنْدَهُ اَلْجَذَعَةُ, فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ اَلْجَذَعَةُ, وَيُعْطِيهِ اَلْمُصَّدِّقُ عِشْرِينَ دِرْهَمًا أَوْ شَاتَيْنِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيّ

Dari Anas bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq Radliyallaahu ‘anhu menulis surat kepadanya: Ini adalah kewajiban zakat yang diwajibkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam atas kaum muslimin. Yang diperintahkan Allah atas rasul-Nya ialah setiap 24 ekor unta ke bawah wajib mengeluarkan kambing, yaitu setiap kelipatan lima ekor unta zakatnya seekor kambing. Jika mencapai 25 hingga 35 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun kedua, jika tidak ada zakatnya seekor anak unta jantan yang umurnya telah menginjak tahun ketiga. Jika mencapai 36 hingga 45 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun ketiga. Jika mencapai 46 hingga 60 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah masuk tahun keempat dan bisa dikawini unta jantan. Jika mencapai 61 hingga 75 ekor unta, zakatnya seekor unta betina yang umurnya telah masuk tahun kelima. Jika mencapai 79 hingga 90 ekor unta, zakatnya dua ekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun kedua. Jika mencapai 91 hingga 120 ekor unta, maka setiap 40 ekor zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya masuk tahun ketiga dan setiap 50 ekor zakatnya seekor unta betina yang umurnya masuk tahun keempat. Bagi yang hanya memiliki 4 ekor unta, tidak wajib atasnya zakat kecuali bila pemiliknya menginginkan. Mengenai zakat kambing yang dilepas mencari makan sendiri, jika mencapai 40 hingga 120 ekor kambing, zakatnya seekor kambing. Jika lebih dari 120 hingga 200 ekor kambing, zakatnya dua ekor kambing. Jika lebih dari 200 hingga 300 kambing, zakatnya tiga ekor kambing. Jika lebih dari 300 ekor kambing, maka setiap 100 ekor zakatnya seekor kambing. Apabila jumlah kambing yang dilepas mencari makan sendiri kurang dari 40 ekor, maka tidak wajib atasnya zakat kecuali jika pemiliknya menginginkan. Tidak boleh dikumpulkan antara hewan-hewan ternak terpisah dan tidak boleh dipisahkan antara hewan-hewan ternak yang terkumpul karena takut mengeluarkan zakat. Hewan ternak kumpulan dari dua orang, pada waktu zakat harus kembali dibagi rata antara keduanya. Tidak boleh dikeluarkan untuk zakat hewan yang tua dan yang cacat, dan tidak boleh dikeluarkan yang jantan kecuali jika pemiliknya menghendaki. Tentang zakat perak, setiap 200 dirham zakatnya seperempatnya (2 1/2%). Jika hanya 190 dirham, tidak wajib atasnya zakat kecuali bila pemiliknya menghendaki. Barangsiapa yang jumlah untanya telah wajib mengeluarkan seekor unta betina yang seumurnya masuk tahun kelima, padahal ia tidak memilikinya dan ia memiliki unta betina yang umurnya masuk tahun keempat, maka ia boleh mengeluarkannya ditambah dua ekor kambing jika tidak keberatan, atau 20 dirham. Barangsiapa yang sudah wajib mengeluarkan seekor anak unta betina yang umurnya masuk tahun keempat, padahal ia tidak memilikinya dan ia memiliki unta betina yang umurnya masuk tahun kelima, maka ia boleh mengeluarkannya ditambah 20 dirham atau dua ekor kambing. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) di dalam kitab-Nya telah menyebutkan sejumlah hukum syariat
yang penjelasannya bersifat umum, sedangkan perincian hukumnya diserahkan kepada Nabi (s.a.w). Dengan demikian, kedudukan Sunnah untuk menjelaskan dan mentafsirkan al-Qur’an, sebagaimana yang diungkapkan oleh firman-Nya:

“… Dan Kami menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an agar engkau menjelaskan kepada manusia hukum-hukum yang diturunkan kepada mereka…” (Surah al-Nahl: 44).

Nabi (s.a.w) menjelaskan maksud Allah yang terdapat di dalam kitab-Nya melalui Sunnahnya, baik secara lisan, perbuatan, pengakuan, maupun tulisan. Hadis ini merupakan surat Nabi (s.a.w) yang pernah ditujukan kepada Amr ibn Hazm, lalu dikutip oleh para khalifahnya yang ditujukan kepada amil-amil mereka. Dalam surat ini disebutkan penjelasan mengenai jumlah zakat yang waijb dikeluarkan, batasan nisab zakat, dan usia hewan yang wajib dikeluarkan sebagai zakat. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik kepada Nabi kita atas nama Islam dan kaum muslimin, demikian pula kepada para khalifahnya.

Merekalah yang memelihara khzanah ilmiah paling berharga ini, lalu mereka menukilnya untuk disampaikan kepada umat Islam dengan penuh kejujuran dan kepercayaan.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengutus amil untuk mengutip zakat.

2. Dibolehkan mengambil unta ibnu labun apabila tidak ada bint al-makhadh.

3. Khithob ditujukan kepada pemilik harta dan petugas zakat, dimana mereka diperintahkan untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang berkaitan dengan penyatuan dan pemisahan ternakan karena kawatir
dikenakan kewajiban zakat. Pemilik harta kawatir dikenakan kewajiban zakat yang lebih banyak dan oleh kerananya, dia melakukan penyatuan atau pemisahan supaya zakatnya menjadi sedikit. Sedangkan petugas
zakat kawatir apabila kutipan zakat yang diperolehinya sedikit dan oleh karenanya, dia melakukan penyatuan ataupun pemisahan supaya zakat menjadi lebih banyak.

4. Dua orang yang berkerjasama dalam suatu hewan ternak boleh dianggap sebagai satu orang pemilik. Jika pertugas zakat mengambil zakat dari salah satu diantara mereka, maka pihak yang membayar zakat merujuk kepada rekan kerjanya untuk mengambil harga zakat yang
semestinya dia bayar.

5. Petugas zakat dibolehkan berijtihad untuk memilih mana yang lebih mendatangkan maslahat bagi kaum fakir miskin, karena kedudukannya sama dengan wakil sehingga dia terikat oleh kemaslahatan mereka.

6. Menjelaskan barang-barang yang tidak boleh diambil oleh petugas zakat
kecuali dengan keridaan dari pemilik harta, misalnya kambing pejantan, mengingat pemiliknya amat memerlukannya.

7. Menjelaskan barang-barang yang tidak boleh diterima sebagai zakat, misalnya ternak yang sudah tua, sakit, berkudis dan haiwan buta.

8. Petugas zakat diwajibkan menerima barang yang lebih rendah nilainya
daripada wajib zakat dan mengambil perbedaan harga mengikut jenis yang
tidak wajib dikeluarkan zakatnya.

9. Petugas zakat diwajibkan menerima barang yang lebih tinggi nilainya daripada zakat yang benar, dan dia harus membayar perbedaan harga itu kepada si pemilik harta, sekalipun bukan dari jenis yang wajib
dikeluarkan zakat.

10. Menjelaskan nisab sebagian harta yang wajib dikeluarkan zakat, misalnya ternakan unta, ternakan kambing dan perak. Manakala jenis yang lain akan diterangkan kemudian.

11. Harta yang jumlahnya kurang dari nisab tidak wajib dikeluarkan zakatnya, tetapi apabila pemilik harta secara suka rela mengeluarkannya, maka petugas zakat boleh menerimanya dan dianggap sebagai sedekah sunat dari pemiliknya.

12. Gembalaan merupakan syarat utama wajib zakat bagi ternakan kambing menurut pendapat jumhur ulama, tetapi Imam Malik tidak mensyaratkannya.

13. Peringatan terhadap orang yang melakukan tipu muslihat yang bertujuan untuk menghindari kewajipan berzakat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 144 : LARANGAN MENCELA ORANG YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 144 :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -: «لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ ; فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا» أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. وروى الترموذي عن المغيرة نحوه. لكن قال : فتؤذوا الأحياء

Dari Aisyah (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda:
“Janganlah kamu mencela orang yang telah mati, karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka amalkan.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari) Al-Tirmizi turut meriwayatkan hadis ini dari al-Mughirah, tetapi di dalam riwayatnya disebutkan: “Karena dengan perbuatan tersebut kamu telah menyakiti orang yang hidup (dari kalangan keluarga mereka).”

MAKNA HADITS :

Orang yang sudah mati telah menjumpai balasan amal yang dia kerjakan selama dunia ini. Dalam pada itu, tidak ada gunanya memaki dan mengaibkan diri mereka, karena itu hanya menyakiti ahli warisnya yang muslim yang masih hidup, kecuali
jika si mayat adalah orang yang secara terang-terangan berbuat kefasikan selama hidupnya, maka dibolehkan memakinya. Ini merupakan peringatan bagi orang lain agar tidak melakukan perkara yang sama mengumpat orang fasik hingga dia tidak berdosa. Inilah jawaban ke atas hadis-hadis yang membolehkan memaki setengah
orang yang telah mati, karrna adanya larangan dari berbuat demikian.

FIQH HADITS :

1. Haram mencela orang yang sudah mati.

2. Disebutkan penyebab larangan, yaitu mereka (orang yang sudah mati) telah
menjumpai balasan amalnya dan itu boleh menyakiti hati orang yang masih hidup dari kalangan keluarganya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 145 : ZAKAT UNTUK FAKIR MISKIN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 145 :

عَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَلله عَنْهُمَا: ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَ مُعَاذًا رضي الله عنه إِلَى اَلْيَمَنِ ) فَذَكَرَ اَلْحَدِيثَ, وَفِيهِ: ( أَنَّ الله قَدِ اِفْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ, تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ, فَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ ِ

Dari Ibnu Abbas r. bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengutus Mu’adz ke negeri Yaman –ia meneruskan hadits itu– dan didalamnya (beliau bersabda): “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan mereka zakat dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) mengutus Mu’adz ke negeri Yaman pada akhir tahun ke-9 Hijriah ketika baginda kembali pulang dari medan Perang Tabuk. Mu’adz (r.a) diberi tugas untuk menjadi gubernur kepada penduduk negeri Yaman sekaligus mengajarkan al-Qur’an, hukum-hukum Islam, memutuskan sengketa yang terjadi diantara
mereka dan mengutip zakat.

Nabi (s.a.w) telah membekalinya dengan arahan dan nasehat yang diperlukan ketika menjalankan tugas itu. Baginda menyuruhnya bahwa langkah pertama yang mesti dilakukan menganjurkan mereka mengucapkan dua kalimah syahadat, karena dua kalimah syahadat merupakan pokok utama yang boleh mengeluarkan
seorang mukallaf dari belenggu kemusyrikan dan masuk ke dalam naungan Islam. Jika mereka menerimanya dengan baik, maka hendaklah dia mengajarkan fardu-fardu agama dan tiangnya yang pertama, yaitu sholat fardu; kemudian zakat yang dibebankan kepada kaum hartawan untuk kemudian diberikan kepada kaum fakir miskin, karena zakat merupakan hak Allah yang terdapat di dalam harta kaum hartawan, lalu dialihkan kepada orang yang berhak menerimanya dari kalangan kaum fakir miskin muslim. Nabi (s.a.w) mengingatkan gubernur dan hakim ini supaya berhati-hati dengan do’a orang yang dianiaya dan menyuruh mengelak daripada berbuat zalim dengan cara menjauhi faktor-faktor yang boleh mengakibatkannya. Hendaklah seseorang tidak berbuat aniaya terhadap orang lain yang berada di bawah kekuasaannya, baik ke atas diri mereka seperti menyakiti ataupun ke atas harta mereka dengan cara
mengambil zakat dari harta dan hewan ternakan kesayangan mereka. Ini bisa
menyebabkan dada bergejolak dan lisan pun bergerak untuk mengucapkan do’a-do’a panas yang keluar dari dalam lubuk hati. Do’a itu naik ke langit dan menembus semua lapisannya tanpa ada sesuatu pun yang menghalanginya. Kemudian Allah
mengabulkannya dengan penuh ridha bagi orang yang berdo’a itu. Ini siksaan yang dikenakan ke atas orang yang berbuat aniaya.

FIQH HADITS :

1. Memulai (dakwah) dengan menyampaikan rukun agama dan syiar Islam yang paling penting.

2. Bersikap lemah lembut dalam berdakwah dan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan yang lebih penting; setiap tahapan hendaklah disampaikan hingga tuntas, lalu berpindah ke tahapan yang berikutnya.

3. Mengajak orang kafir untuk masuk Islam sebelum memerangi mereka dan
mereka dikatakan sebagai orang Islam apabila mengucapkan dua kalimah
syahadat.

4. Inti Islam ialah mengakui keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad (s.a.w).

5. Sholat lima waktu sehari semalam adalah fardu.

6. Zakat merupakan salah satu kewajipan Islam dan pemimpin yang wajib mengatur kutipannya dengan cara dia sendiri yang terjun langsung untuk mengutipnya atau menyuruh orang lain menjalankan tugas itu sebagai wakilnya.

7. Mengutus para amil untuk mengutip zakat.

8. Zakat tidak wajib dibagikan kepada seluruh delapan golongan yang wajib menerima zakat dan pemimpin boleh memberikannya hanya kepada satu golongan saja. Pendapat ini berlandaskan kepada sabda Nabi
(s.a.w): “Lalu diagihkan kepada orang fakir di kalangan mereka.” Ini karena Rasulullah (s.a.w) disini hanya menyebutkan satu golongan saja. Imam Abu Hanifah, murid-muridnya dan Imam Ahmad mengatakan bahwa disunatkan meratakan pembagian bagi delapan golongan ini selagi
itu memungkinkan dan boleh memberikannya hanya kepada sebagian diantara mereka, meskipun hanya satu orang. Imam Malik berkata: “Pemberian zakat diutamakan bagi orang yang paling memerlukannya, lalu orang yang di bawahnya dan tidak perlu pemerataan.” Menurut pendapat yang muktamad di kalangan mazhab al-Syafi’i disebutkan bahwa wajib
dibagikan secara merata jika pemimpin yang membagikannya, begitu pula jika pemiliknya sendiri yang membagikannya, sedangkan jumlah penerima zakat terbatas.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 143 : CARA MENGUCAPKAN SALAM KEPADA AHLI KUBUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 143 :

عَنْ ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَما قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِقُبُورِ الْمَدِينَةِ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ فَقَالَ ‏ “‏ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْقُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ أَنْتُمْ سَلَفُنَا وَنَحْنُ بِالأَثَرِ ‏”‏ ‏.‏ رواه الترمذي وقال حسن

Dari Ibn Abbas (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) melewati kuburan

penduduk Madinah, lain baginda menghadapkan wajahnya ke arah mereka,

kemudian membaca:

السَّلامُ عَلَيْكُمْ يا أَهْلَ القُبُورِ ، يَغْفِرُ اللَّهُ لَنا وَلَكُمْ ، أَنْتُم سَلَفُنا ونحْنُ بالأَثَرِ

“Semoga keselamatan senantiasa dilimpahkan ke atas kamu, wahai para penghuni kubur. Semoga Allah mengampuni kami dan kamu. Kamu adalah orang yang mendahului kami, dan kami akan menyusul kemudian.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmizi)

MAKNA HADITS :

Barang siapa yang tidak ingin menziarahi kubur, tetapi hanya melewatinya saja karena kuburan tersebut terletak di tengah laluan perjalanan, maka dia disunatkan
mengucapkan salam kepada para penghuninya, karena mereka mengetahui orang yang melewati kawasan perkuburan mereka dan mengucapkan salam kepadanya. Itu terjadi karena Allah telah memperlihatkan hal tersebut kepada mereka dan menjadikan mereka dapat mendengar salamnya.

Ini lebih disunatkan lagi apabila dilakukan pada hari Jum’at dan pada waktu malam harinya. Ini menunjukkan bahwa seseorang memperoleh manfaat dari
amalan orang lain sebagai karunia Allah (s.w.t). Seseorang yang mendo’akan orang lain dikehendaki memulai do’a untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Allah (s.w.t) berfirman:

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ…. (١٩)

…Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang mukmin….” (Surah Muhammad: 19)

FIQH HADITS :

1. Mayat mengetahui orang yang lewat berdekatan dengannya dan mengetahui ucapan salam yang ditujukan kepadanya.

2. Memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang yang masih hidup dan orang yang telah mati.

3. Memulai berdo’a untuk diri sendiri terlebih dahulu, kemudian untuk orang lain, baik bagi mereka yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 142 : CARA BERZIYARAH KUBUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 142 :

عن سليمان ابن بُرَيْدَةَ عن أبيه رضي الله عنهما قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ : (السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ ، أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ). رواه مسلم

Daripada Sulaiman ibn Buraidah (r.a) daripada ayahnya, beliau berkata:
“Rasulullah (s.a.w) pernah mengajarkan doa berikut ini apabila mereka hendak
menziarahi kubur:

السَّلامُ عَلَيكُمْ أَهْل الدِّيارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ والمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ للاَحِقُونَ ، أَسْأَلُ اللَّه لَنَا وَلَكُمُ العافِيَةَ

“Semoga keselamatan sentiasa dilimpah ke atas kamu wahai para penghuni kubur
dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya, insya Allah, kami
akan menyusul kamu. Kami memohon keselamatan kepada Allah untuk diri kami
dan diri kamu.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menganjurkan menziarahi kubur agar dapat mengambil pengajaran
daripadanya sekaligus mendoakan para penghuninya agar diselamatkan daripada
seksa kubur dan pertanyaan semasa hisab.
Orang yang melakukan ziarah akan teringat dengan hari akhirat dan tertanam
dalam dirinya sikap zuhud terhadap urusan duniawi. Mengucapkan salam kepada
orang yang telah meninggal dunia sama dengan mengucapkan salam kepada orang
yang masih hidup. Mendoakan mereka sememangnya disyariatkan dan dalilnya
adalah firman Allah (s.w.t):

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdo’a:
“Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Surah al-Hasyr: 10).

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menziarahi kubur dan mengucapkan salam kepada para
penghuninya serta berdo’a untuk diri sendiri, untuk orang yang masih hidup dan orang yang telah mati dengan do’a-do’a yang pernah dibaca oleh Nabi (s.a.w) dalam masalah ini.

2. Rasulullah (s.a.w) senantiasa memberikan pelajaran tentang cara berziarah kubur yang dibenarkan oleh syari’at kepada para sahabatnya.

3. Hendaklah kalimat-kalimat do’a mengandung makna umum yang mencakupi kaum lelaki dan wanita.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 142 : UCAPAN SALAM BAGI AHLI KUBUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 142 :

عن سليمان ابن بُرَيْدَةَ عن أبيه رضي الله عنهما قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ : (السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ ، أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ). رواه مسلم

Dari Sulaiman ibn Buraidah (r.a) daripada ayahnya, beliau berkata:
“Rasulullah (s.a.w) pernah mengajarkan doa berikut ini apabila mereka hendak
menziarahi kubur:

السَّلامُ عَلَيكُمْ أَهْل الدِّيارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ والمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ للاَحِقُونَ ، أَسْأَلُ اللَّه لَنَا وَلَكُمُ العافِيَةَ

“Semoga keselamatan sentiasa dilimpah ke atas kamu wahai para penghuni kubur
dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya, insya Allah, kami
akan menyusul kamu. Kami memohon keselamatan kepada Allah untuk diri kami
dan diri kamu.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menganjurkan menziarahi kubur agar dapat mengambil pengajaran
daripadanya sekaligus mendoakan para penghuninya agar diselamatkan daripada
seksa kubur dan pertanyaan semasa hisab.
Orang yang melakukan ziarah akan teringat dengan hari akhirat dan tertanam
dalam dirinya sikap zuhud terhadap urusan duniawi. Mengucapkan salam kepada
orang yang telah meninggal dunia sama dengan mengucapkan salam kepada orang
yang masih hidup. Mendoakan mereka sememangnya disyariatkan dan dalilnya
adalah firman Allah (s.w.t):

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdo’a:
“Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Surah al-Hasyr: 10)

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menziarahi kubur dan mengucapkan salam kepada para
penghuninya serta berdo’a untuk diri sendiri, untuk orang yang masih hidup dan orang yang telah mati dengan do’a-do’a yang pernah dibaca oleh Nabi (s.a.w) dalam masalah ini.

2. Rasulullah (s.a.w) senantiasa memberikan pelajaran tentang cara berziarah kubur yang dibenarkan oleh syari’at kepada para sahabatnya.

3. Hendaklah kalimat-kalimat do’a mengandung makna umum yang mencakupi kaum lelaki dan wanita.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

M111 : ARISAN HUKUM DAN SEPUTAR PERMASALAHAN DI DALAMNYA

DASAR HUKUM ARISAN :

Firman Allah swt:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (Qs Al Maidah: 2)54

Ayat di atas memerintahkan kita untuk saling tolong menolong di dalam kebaikan, sedang tujuan “arisan” itu sendiri adalah menolong orang yang membutuhkan dengan
cara iuran secara rutin dan bergiliran untuk mendapatkannya, maka termasuk dalam kategori tolong menolong yang
diperintahkan Allah swt.

Arisan sendiri pada dasarnya tidak masalah. Arisan dalam syariat Islam dibenarkan sebagaimana ketarangan dalam Hasyiyah Qalyubi berikut ini:

فَرْعٌ) الْجمعَةُ الْمَشْهُوْرَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِأَنْ تَأْخُذَ امْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ إِلَى آخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَ الْوَالِيُّ الْعِرَاقِيُّ

Artinya, “Perkumpulan populer (semacam arisan) di kalangan wanita, di mana salah seorang wanita mengambil sejumlah tertentu (uang) dari peserta setiap jumatnya dan memberikannya kepada salah seorang dari mereka secara sampai wanita yang terakhir, maka tradisi demikian itu boleh, seperti pendapat Al-Wali Al-Iraqi,” (Lihat Qulyubi, Hasyiyah Qalyubi pada Hasyiyah Qalyubi wa ‘Umairah, [Mesir, Musthafa Al-Halabi: 1956], juz II, halaman 258).
PRAKTEK ARISAN DI MASYARAKAT :

1. Sistem diundi/ dikocok.

hal ini diperbolehkan apabila tidak ada yang dirugikan antara kedua belah pihak.

Semata melakukan undian, bukanlah hal tercela. Orang sholeh masa silam, termasuk para nabi, mereka melakukan undian.
Dulu, waktu Nabi Yunus bin Mata ‘alaihis salam naik perahu, ternyata perahu yang beliau tumpangi kelebihan penumpang. Sehingga salah satu diantara mereka harus menceburkan diri ke laut. Dilakukanlah undian, ternyata yang mendapat undian itu adalah Nabi Yunus. Allah menceritakan,

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ

”Sesungguhnya Yunus termasuk para rasul Allah. (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (QS. As-Shaffat: 139 – 141)
Dulu, ketika Maryam binti Imram masih kecil, ibunya menyerahkannya untuk berkhidmat bagi umat. Di saat itu ada beberapa orang yang berebut untuk mengasuh, ibunda nabi Isa. Salah satu yang terlibat adalah Nabi Zakariya. Ketika itu, beliau berharap memiliki anak, dan istri Zakariya adalah bibinya Maryam.

Ketika semua merasa berhak untuk mengasuh Maryam, akhirnya meraka berundi. Allah ceritakan dalam al-Quran,

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

Itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (QS. Ali Imran: 44).

Undian Diantara Istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau memiliki beberapa istri. Semua memiliki hak lahir yang sama. Istri muda tidak lebih berhak terhadap beliau dari pada istri tua. Sehingga, ketika beliau hendak berangkat safar, semua berhak untuk menemani untuk berangkat safar bersama beliau.

Di saat itulah, dilakukan undian untuk menentukan siapa kanjeng ratu yang akan menemani suaminya.
Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ

Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak safar, beliau mengundi diantara istrinya. Siapa yang namanya keluar, beliau akan berangkat bersama istrinnya yang menang. (HR. Bukhari 2593, Muslim 7196 dan yang lainnya).

JUAl – BELI NOMER ARISAN

Jual beli arisan pada dasarnya menjual uang, sedangkan menjuan uang harus memenui dua syarat
a. Tamatsul (sama)
b. Taqabud (serah terima langsung) sebagaimana hadits

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: (لا تبيعوا الذهب بالذهب، إلا مثلا بمثل ولا تشفوا بعضها على بعض، ولا تبيعوا الورق بالورق إلا مثلا بمثل، ولا تشفوا بعضها على بعض، ولا تبيعوا منها غائبا بناجز.) متفق عليه

“Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau menjual/membarterkan emas dengan emas, melainkan sama-sama (beratnya) dan janganlah engkau lebihkan sebagian atas lainnya. Dan janganlah engkau membarterkan perak dengan perak malainkan sama-sama (beratnya), dan janganlah engkau lebihkan sebagian atas lainnya. Dan janganlah engkau menjual sebagian darinya dalam keadaan tidak ada di tempat berlangsungnya akad perniagaan dengan emas atau perak yang telah hadir di tempat berlangsungnya akad perniagaan.” (Muttafaqun ‘alaih)
Berangkat dari hadist diatas maka hukum menjual aresan tidak diperbolehkan, solusinya :

Yaitu orang yang mendapatkan giliran arisan itu menghibahkan uang arisannya kepada anggota arisan yang membutuhkan uang arisan itu.

بَابُ الْهِبَة { مَسْأَلَةٌ } فِي النُّزُولِ عَنْ الْوَظَائِفِ اسْتَنْبَطْتهَا مِنْ هِبَةِ سَوْدَةَ لَيْلَتَهَا لِعَائِشَةَ وَإِجَازَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَقُلْت : هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كُلَّ مَنْ لَهُ حَقٌّ فَتَرَكَهُ لِشَخْصٍ مُعِينٍ يَصِحُّ وَيَكُونُ ذَلِكَ الشَّخْصُ أَحَقَّ بِهِ وَلَيْسَ لِلنَّاظِرِ أَنْ يُعْطِيَهُ لِغَيْرِهِ كَمَا لَيْسَ لِلزَّوْجِ أَنْ يَخُصَّ بِهِ مَنْ لَمْ تُعَيِّنْهَا الْوَاهِبَةُ وَلَا أَنْ يَجْعَلَهُ شَائِعًا بَيْنَ بَقِيَّةِ النِّسَاءِ بَلْ يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ إمَّا أَنْ يَخُصَّ بِهِ الْمَوْهُوبَ لَهَا وَإِمَّا أَنْ يَمْنَعَ الْهِبَةَ وَتَبْقَى نَوْبَةُ الْوَاهِبَةِ عَلَى حَالِهَا كَذَلِكَ الْفَقِيهُ الطَّالِبُ فِي مَدْرَسَةٍ أَوْ الْخَطِيبُ أَوْ إمَامُ الْمَسْجِدِ أَوْ الْمُدَرِّسُ أَوْ الْمُعِيدُ أَوْ غَيْرُهُمْ مِمَّنْ بِيَدِهِ وَظِيفَةٌ إذَا نَزَلَ لِشَخْصٍ مُعَيَّنٍ عَنْهَا لَمْ يَكُنْ لِلنَّاظِرِ أَنْ يَنْزِلَ أَنَّ ذَلِكَ إسْقَاطٌ لَحَقِّهِ بِالْكُلِّيَّةِ حَتَّى يُوَلِّيَ غَيْرَهُمَا بَلْ يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ إمَّا أَنْ يُنْزِلَ الْمَنْزُولَ لَهُ إنْ ظَهَرَ لَهُ أَنَّ ذَلِكَ مَصْلَحَةٌ دِينِيَّةٌ وَإِمَّا أَنْ لَا يَمْضِيَ هَذَا النُّزُولُ وَيَبْقَى النَّازِلُ عَلَى مَكَانِهِ وَلَا يَسْقُطُ حَقُّ النَّازِلِ إلَّا أَنْ يَتَّصِلَ النُّزُولُ بِتَوْلِيَةِ الْمَنْزُولِ لَهُ فَحِينَئِذٍ يَنْقَطِعُ حَقُّ النَّازِلِ اللَّهُمَّ إلَّا أَنْ يَقُولَ النَّازِلُ : نَزَلْت عَنْ حَقِّي مُطْلَقًا فَيَسْقُطُ كَمَا لَوْ قَالَتْ الزَّوْجَةُ : تَرَكْت حَقِّي مِنْ الْقِسْمِ مِنْ غَيْرِ تَعْيِينٍ وَلْيُنْظَرْ فِي مَوَادِّ ذَلِكَ وَنَظَائِرِهِ مِنْ حَقِّ الْحَجْرِ وَحَقِّ الشُّفْعَةِ وَغَيْرِهَا هَذَا فِي مُجَرَّدِ النُّزُولِ ، وَأَمَّا أَخْذُ الْعِوَضِ عَنْهُ فَلَا شَكَّ أَنَّ ذَلِكَ لَيْسَ بِبَيْعٍ ؛ لِأَنَّهُ لَا يَتَعَيَّنُ بِإِحْيَائِهِ وَلَا يَجْرِي فِيهِ الْخِلَافُ فِي حَقِّ الشُّفْعَةِ وَنَحْوِهِ لِمَا أَشَرْنَا إلَيْهِ ، لَكِنْ فِي جَوَازِ أَخْذِ الْعِوَضِ فِي مُقَابَلَةِ النُّزُولِ نَظَرٌ.
PRAKTEK-PRAKTEK ARESAN DI MASYARAKAT :

1.Memberi hak orang yang mendapatkan kepada orang lain hukumnya boleh sebgaimna di jelaskan di atas.

3. mengantikan hak nomer urut dalam arisan ke orang lain hukumya boleh karena termasuk hibah.

4. kumpulan arisan sdh ditentukan di awal, lalu diambil oleh yang lebih membutuhkan hukumnya tidak boleh tanpa ada kesepakatan dari semua peserta arisan.

5. Adanya pemotongan perolehan dalam pembagian nomer urut hukumnya haram karena merugikan sepihak.

6. Arisan uang namun berbentuk barang dalam perolehannya. selama nilai barang sesuai dengan jumlah perolehan uang dan disetujui oleh kedua belah pihak maka hukumnya boleh.

7. Arisan umroh/haji. hukumnya boleh asalkan tidak ada yang dirugikan, misalnya walaupun harga ongkos haji/ berubah mahal maka anggota tetap memberi iuran arisan sesuai yang disepakati pertamakali.

PRAKTEK ARISAN :

Sebelum kita mimijakkan kaki di medan arisan, sebaiknya kita ketahui lebih dahulu praktek dan cara- cara arisan tersebut. Nah, arisan adalah sebuah perkumpulan yang bersektor harta ( maliyyah ). Biasanya di pragakan dengan cara seperti ini : Si A dan teman- temannya ( misalnya 10 orang ) sepakat dengan akad ini, da untuk satu orang mengeluarkan Rp 100.000,- Jadi setiap kali ada perkumpulan, maka jumlah uang yang terkumpul adalah Rp 1000.000,- ( 1 juta ). Dan tentu, perkumpulan ini di lakukan beberapa kali tergantung jumlah orang yang mngikuti. Maka untuk contoh ini, tentu di adakan pengumpulan selama 10 kali. Untuk selanjutnya, ada yang memaka cara mengundinya setiap kali kumpul dan yang dengan cara mengundinya untuk pertama kali kumpul agar terketahui si A mendapat giliran nomer berapa, begitu juga B dan teman- teman.

Dari praktek yang seperti ini, sekilas nampak bahwa akad ini merupakan perjanjian hutang piutang dengan cara berjama’ah ( giliran memberi hutang ). Maka jelas hukumnya boleh. Adapan di pragakan dengan cara undian untuk menentukan giliran orang yang mendapatkan hutang saat itu, maka itupun boleh, untuk memutuskan pertententang agar di antara mereka tidak ada yang lebih berhak unutuk di tempatkan nomer paling depan dan belakangnya. Inilah ta’bir yang mengarah ke sini :

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 19 / ص 184)

( قَوْلُهُ أَوْ فِي مَكْرُوهٍ ) وَلَمْ يَذْكُرْ الْمُبَاحَ وَيُمْكِنُ تَصْوِيرُهُ بِمَا إذَا دُفِعَ إلَى غَنِيٍّ بِسُؤَالٍ مِنْ الدَّافِعِ مَعَ احْتِيَاجِ الْغَنِيِّ إلَيْهِ فَيَكُونُ مُبَاحًا لَا مُسْتَحَبًّا ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَشْتَمِلْ عَلَى تَنْفِيسِ كُرْبَةٍ وَقَدْ يَكُونُ فِي ذَلِكَ غَرَضٌ لِلدَّافِعِ كَحِفْظِ مَالِهِ بِإِحْرَازِهِ فِي ذِمَّةِ الْمُقْتَرِضِ ا هـ ع ش

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 32 / ص 16)

( وَالصَّحِيحُ ) فِيمَا إذَا لَمْ يَرْضَيْنَ فِي الِابْتِدَاءِ بِوَاحِدَةٍ بِلَا قُرْعَةٍ ( وُجُوبُ قُرْعَةٍ ) بَيْنَهُنَّ ( لِلِابْتِدَاءِ ) فِي الْقَسْمِ بِوَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ تَحَرُّزًا عَنْ التَّرْجِيحِ مِنْ غَيْرِ مُرَجِّحٍ فَيَبْدَأُ بِمَنْ خَرَجَتْ قُرْعَتُهَا ثُمَّ يَقْرَعُ لِلْبَاقِيَاتِ

فتح الباري لابن حجر – (ج 8 / ص 212)

وَإِنَّمَا أَفَادَتْ الْقُرْعَة أَنْ لَا يَخْتَار وَاحِد مِنْهُمْ شَيْئًا مُعَيَّنًا فَيَخْتَارهُ الْآخَر فَيُقْطَع التَّنَازُع ، وَهِيَ إِمَّا فِي الْحُقُوق الْمُتَسَاوِيَة وَإِمَّا فِي تَعْيِين الْمِلْك ، فَمِنْ الْأَوَّل عَقْد الْخِلَافَة إِذَا اِسْتَوَوْا فِي صِفَة الْإِمَامَة ، وَكَذَا بَيْن الْأَئِمَّة فِي الصَّلَوَات وَالْمُؤَذِّنِينَ وَالْأَقَارِب فِي تَغْسِيل الْمَوْتَى وَالصَّلَاة عَلَيْهِمْ وَالْحَاضِنَات إِذَا كُنَّ فِي دَرَجَة وَالْأَوْلِيَاء فِي التَّزْوِيج وَالِاسْتِبَاق إِلَى الصَّفّ الْأَوَّل وَفِي إِحْيَاء الْمَوَات وَفِي نَقْل الْمَعْدِن وَمَقَاعِد الْأَسْوَاق وَالتَّقْدِيم بِالدَّعْوَى عِنْد الْحَاكِم وَالتَّزَاحُم عَلَى أَخْذ اللَّقِيط وَالنُّزُول فِي الْخَان الْمُسَبَّل وَنَحْوه وَفِي السَّفَر بِبَعْضِ الزَّوْجَات وَفِي اِبْتِدَاء الْقَسَم وَالدُّخُول فِي اِبْتِدَاء النِّكَاح وَفِي الْإِقْرَاع بَيْن الْعَبِيد إِذَا أُوصِي بِعِتْقِهِمْ وَلَمْ يَسَعهُمْ الثُّلُث ، وَهَذِهِ الْأَخِيرَة مِنْ صُوَر الْقِسْم الثَّانِي أَيْضًا وَهُوَ تَعْيِين الْمِلْك وَمِنْ صُوَر تَعْيِين الْمِلْك الْإِقْرَاع بَيْن الشُّرَكَاء عِنْد تَعْدِيل السِّهَام فِي الْقِسْمَة .

Kemudian di dalam arisan biasa terjadi pertukaran nomer urut bersama anggota sendiri dan bahkan perjual belian nomer urut dengan non peserta. Misalnya, si A yang mendapat giliran nomer urut tujuh, karena sesuatu hal bertukar dengan si B yang mendapatkan nomer dua, dengan cara sukarela dari kedua pihak atau dengan cara merugikannya. Misalnya, A yang di dalam contoh ini semestinya mendapatkan satu juta rela mendapatkan sembilan ratus, asalkan B mau bergeser dengannya. Atau bertukar dengan non anggota. Contohnya, A yang mendapatkan nomer urut tujuh menjual nomer urut dengan segala hasil dan cicilan yang harus ia bayar kepada Z dengan harga sembilan ratus, dan untuk seterusnya Z-lah yang meneruskan pembayaran dan nantinya akan mendapat satu juta.

Nah, untuk contoh yang pertama bagian kedua ( menjual dengan cara merugi kepada anggota ) dan yang ketiga ( kepada Z ) tentu tidak boleh, dengan alas an bahwa hal tersebut adalah perdagangan hak semata, sedangkan hak tidaklah merupakan barang (‘ain ) atau manfaat yang boleh di jual. Inilah ta’bir yang mengarah ke situ :

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 32 / ص 51)

وَلَوْ أَخَذَتْ عَلَى حَقِّهَا عِوَضًا لَزِمَهَا رَدُّهُ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْنًا وَلَا مَنْفَعَةً فَلَا يُقَابَلُ بِمَالٍ لَكِنْ يَقْضِي لَهَا ؛ لِأَنَّهَا لَمْ تُسْقِطْ حَقَّهَا مَجَّانًا

مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج – (ج 13 / ص 161)

تَنْبِيهٌ : لَا يَجُوزُ لِلْوَاهِبَةِ أَنْ تَأْخُذَ عَلَى الْمُسَامَحَةِ بِحَقِّهَا عِوَضًا لَا مِنْ الزَّوْجِ وَلَا مِنْ الضَّرَائِرِ ، فَإِنْ أَخَذَتْ لَزِمَهَا رَدُّهُ وَاسْتَحَقَّتْ الْقَضَاءَ ؛ لِأَنَّ الْعِوَضَ لَمْ يُسَلَّمْ لَهَا ، وَإِنَّمَا لَمْ يَجُزْ أَخْذُ الْعِوَضِ عَنْ هَذَا الْحَقِّ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِعَيْنٍ وَلَا مَنْفَعَةٍ ؛ لِأَنَّ مُقَامَهُ عِنْدَهَا لَيْسَ بِمَنْفَعَةٍ مَلَكَتْهَا عَلَيْهِ .

وَقَدْ اسْتَنْبَطَ السُّبْكِيُّ مِنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَمِنْ خُلْعِ الْأَجْنَبِيِّ جَوَازَ النُّزُولِ عَنْ الْوَظَائِفِ ، وَاَلَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ رَأْيُهُ أَنَّ أَخْذَ الْعِوَضِ فِيهِ جَائِزٌ وَأَخْذُهُ حَلَالٌ لِإِسْقَاطِ الْحَقِّ لَا لِتَعَلُّقِ حَقِّ الْمَنْزُولِ لَهُ ، بَلْ يَبْقَى الْأَمْرُ فِي ذَلِكَ إلَى نَاظِرِ الْوَظِيفَةِ يَفْعَلُ مَا تَقْتَضِيهِ الْمَصْلَحَةُ شَرْعًا وَبَسَطَ ذَلِكَ ، وَلِلْوَاهِبَةِ الرُّجُوعُ مَتَى شَاءَتْ ، فَإِذَا رَجَعَتْ خَرَجَ فَوْرًا

Kemudian, jika di katakan bahwa “A boleh menjualnya pada B dengan alasan bahwa setelah pertama kali putaran dan kedua yang akan di cairkan, maka A sudah menyimpan/menghutangi satu atau dua teman. Maka sama saja ia telah memiliki/ mengantongi 100/200. Maka penjualan tersebut pada hakikatnya adalah menjual barang yang sebagiannya adalah miliknya sendiri. Maka hukumnya boleh.”, maka alasan yang demikian pun tidak menjadikan sebab kebolehan, karena harta yang telah di setorkan oleh A saat penjualan tersebut tidak ada di tangan sehingga A sama sekali tidak bisa menguasai untuk di serahkan kepada B. Sedangkan jual beli harus ada sarat bisa menguasai barang dan tsaman.

حاشيتا قليوبي – وعميرة – (ج 6 / ص 302)

( الثَّالِثُ ) مِنْ شُرُوطِ الْمَبِيعِ ( إمْكَانُ تَسْلِيمِهِ ) بِأَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ لِيُوثَقَ بِحُصُولِ الْعِوَضِ .

( فَلَا يَصِحُّ بَيْعُ الضَّالِّ وَالْآبِقِ وَالْمَغْصُوبِ ) لِلْعَجْزِ عَنْ تَسْلِيمِهَا فِي الْحَالِّ

حاشيتا قليوبي – وعميرة – (ج 6 / ص 306)

قَوْلُهُ : ( فِي الْحَالِ ) هَذَا يُفِيدُك أَنَّ الْمُضِرَّ الْعَجْزُ فِي الْحَالِ ، وَلَوْ أَمْكَنَ الْوُصُولُ إلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَسَوَاءٌ عَرَفَ مَكَانَ الْآبِقِ وَالضَّالِّ أَمْ لَا وَالْحَاصِلُ أَنْ يَكُونَ عَاجِزًا بِحَيْثُ لَوْ شُرِعَ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ ذَلِكَ .

حاشية الجمل – (ج 10 / ص 214)

( وَ ) رَابِعُهَا ( وِلَايَةٌ ) لِلْعَاقِدِ عَلَيْهِ ( فَلَا يَصِحُّ عَقْدُ فُضُولِيٍّ ) وَإِنْ أَجَازَهُ الْمَالِكُ لِعَدَمِ وِلَايَتِهِ عَلَى الْمَعْقُودِ عَلَيْهِ

حاشية الجمل – (ج 10 / ص 216)

( قَوْلُهُ فَلَا يَصِحُّ عَقْدُ فُضُولِيٍّ ) وَكَذَا حَلُّهُ وَفَسْخُهُ ا هـ .

شَوْبَرِيٌّ ( قَوْلُهُ أَيْضًا فَلَا يَصِحُّ عَقْدُ فُضُولِيٍّ ) أَيْ سَوَاءٌ الْبَيْعُ وَالشِّرَاءُ وَغَيْرُهُمَا مِنْ سَائِرِ عُقُودِهِ أَوْ فِي عَيْنٍ لِغَيْرِهِ أَوْ فِي ذِمَّةِ غَيْرِهِ كَقَوْلِهِ اشْتَرَيْت لَهُ كَذَا بِأَلْفٍ فِي ذِمَّتِهِ وَالْفُضُولِيُّ هُوَ مَنْ لَيْسَ بِوَكِيلٍ وَلَا وَلِيٍّ وَلَا مَالِكٍ فِي الْقَدِيمِ وَحُكِيَ عَنْ الْجَدِيدِ إنَّ عَقْدَهُ مَوْقُوفٌ عَلَى رِضَا الْمَالِكِ إنْ أَجَازَهُ نَفَذَ وَإِلَّا فَلَا وَالْمُعْتَبَرُ إجَازَةُ مَنْ يَمْلِكُ التَّصَرُّفَ عِنْدَ الْعَقْدِ فَلَوْ بَاعَ مَالَ الطِّفْلِ فَبَلَغَ وَأَجَازَ لَمْ يَنْفُذْ وَمَحَلُّ الْخِلَافِ مَا لَمْ يَحْضُرْ الْمَالِكُ فَلَوْ بَاعَ مِلْكَ غَيْرِهِ بِحَضْرَتِهِ وَهُوَ سَاكِتٌ لَمْ يَصِحَّ قَطْعًا كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ ا هـ .

Lalu, bagaimaa jika A yang membutuhkan dana saat itu meminjam ( bukan menjual ) kepada orang lain sebesar 900 ( misalnya ) dengan janji akan embayarnya nanti sebesar 1 juta jika ia sudah mendapatkan giliran ( berarti A tetaplah orang yang membayar cicilan arisan )?. Maka, ini juga tidak boleh, karena walaupun di dalam uang kita ( fulus ) tida ada unsure ribawy ( menurut qoul shohih ), maka uang 1 juta jelas lebih manfaat dari pada 900. Toh, setiap hutang yang ada perjanjian menarik kemanfaatan adalah riba. Inilah ibaratnya :

حاشيتا قليوبي – وعميرة – (ج 7 / ص 350)

( وَلَا يَجُوزُ ) الْإِقْرَاضُ فِي النَّقْدِ وَغَيْرِهِ ( بِشَرْطِ رَدِّ صَحِيحٍ عَنْ مُكَسَّرٍ أَوْ ) رَدُّ ( زِيَادَةٍ ) أَوْ رَدُّ الْجَيِّدِ عَنْ الرَّدِيءِ وَيَفْسُدُ بَذْلُ الْعَقْدِ

ARISAN SEDULURAN

Deskripsi :
Sebuah perusahaan kecil, CV. ARISAN SEDULURAN menawarkan program arisan dengan ketentuan:
-Arisan dengan hasil undian mendapatkan Honda Revo seharga Rp. 14.000.000;
-Peserta satu group arisan minimal 30 orang;
-Undian dilakukan 1 bulan sekali selama 24 bulan;
-Iuran pada bulan pertama sebesar Rp. 1.000.000 dan bulan berikutnya sebesar Rp. 500.000;
-Peserta yang namanya keluar saat undian, berhak mendapat Honda Revo dan tidak berkewajiban menyetorkan iuran di bulan-bulan berikutnya;
-Enam peserta yang tidak keluar namanya dalam 24 kali putaran undian, akan otomatis mendapatkan Honda Revo di akhir periode.

Melihat minat dan antusiasme masyarakat yang cukup tinggi (khususnya di daerah Indramayu) mengikuti model arisan ini, pihak CV. ARISAN SEDULURAN berusaha mengembangkan programnya dengan menawarkan hasil undian yang cukup variatif, seperti HP, peralatan elektronik, rumah tangga dll., namun tetap dengan ketentuan yang sama dan juga membatasi jumlah minimal peserta.

Sekilas, arisan model seperti ini adalah bisnis nekat yang hanya akan merugikan pihak CV. Namun kenyataannya, dari kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan, bahkan pihak CV. dapat meraup keuntungan yang tidak sedikit. Keuntungan pihak CV ini bisa diperoleh dengan pembelian Honda Revo langsung dari distributor Honda dengan sistem paket kredit, yakni 30 unit motor bonus 3 motor, plus potongan harga normal. Atau, pihak CV akan memutar uang yang diterima dari iuran peserta untuk modal usaha, didepositokan di bank dll., sehingga pihak CV tetap memperoleh untung dari program arisan ini.

Praktek lain yang hampir mirip dengan model ARISAN SEDULURAN ini adalah arisan yang diadakan dalam sebuah jam’iyyah. Hanya saja yang membedakan, iuran ini dilabeli atau lebih pasnya diatasnamakan sedekah, dan peserta yang namanya keluar saat undian berhak mendapatkan kesempatan umrah.

Pertanyaan:
a. Termasuk akad apa transaksi antara pihak CV dengan peserta arisan di atas? Dan bagaimana hukumnya?

Sa’il: Kelas III Aliyah MHM 201

Jawaban
Ada dua kemungkinan:
-Akad jual beli yang tidak sah karena ketidakjelasan harga, bentuk barang, dan pelaku akad (peserta yang memperoleh honda Revo.
-Dan atau akad qardlu yang hukumnya juga tidak sah bila ketentuan mendapatkan honda Revo disebutkan dalam akad.

Catatan:
-Praktek di atas dapat direalisasikan dengan solusi: peserta ketika menyerahkan uang kepada penyelenggara dimaksudkan menghutangi kemudian ketika undian keluar dan mendapatkan honda Revo dilakukan akad istibdal, yakni hutang yang diterima diganti dengan sepeda Revo, maka hukumnya sah.
-Bila ada ketentuan berupa peserta yang tidak bisa melanjutkan atau berhenti arisan uang yang disetorkan akan hangus, maka di samping akad qardlunya tidak sah juga tidak ada solusi untuk mengesahkannya.

Referensi
1. Al-Qulyubi vol. II hlm. 321
2. I’anatuth Thalibin vol. III hlm. 65
3. I’anatuth Thalibin vol. III hlm. 52
4. Bughyatul Mustarsyidin 132
5. Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra vol. II hlm. 280

Pertanyaan
b. Kalau tidak diperbolehkan, apa kewajiban bagi pihak CV yang telah memanfaatkan uang iuran peserta, dan kewajiban peserta yang telah mendapatkan Honda Revo?
Jawaban :

Bagi kedua belah pihak (CV dan peserta arisan) harus mengembalikan barang yang telah diterima.

Referensi
1. Al-Bujairami al-Khatib vol. 3, hal. 13-14
2. Hasyiyah Jamal vol. 3, hal. 377

Pertanyaan
c. Bagaimana hukum mengikuti arisan seperti dalam sebuah jam’iyyah dengan hadiah umrah?

Jawaban :
Diperinci:
-Apabila saat menyerahkan uang tersebut penyumbang semata-mata bermaksud untuk mendapatkan undian hadiah umroh, maka tergolong qimar (judi) meskipun dibungkus sedekah, sebagaimana SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah).
-Apabila saat menyerahkan bermaksud sedekah meskipun disertai harapan mendapatkan hadiah umrah, maka tidak diperbolehkan jika biaya umrah diambil dari uang sumbangan yang terkumpul karena menggunakan uang sedekah tidak semestinya.

Referensi
1. Tuhfah al-Muhtaj vol. 6, hal. 309
2. Hasyiyah al-Qalyubi vol. 6, hal. 206
3. Fatawi wa Masyurat (Dr. Romdlon Buthi) vol. 2, hal. 49.
4. Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, vol. 15, hal. 370.

HADITS KE 141: ANJURAN MENGHIBUR KELUARGA MAYIT DENGAN MEMBERI MAKANAN UNTUKNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 141:

عن عبد الله ابن جعفر رضي الله عنهما قال : لما جاء نعل جعفر حين قتل، قال النبي صلى الله عليه وسلم: اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا ، فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ ( أخرجه الخمسة الا النسائي)

Dari Abdullah ibn Ja’far (r.a), beliau berkata: “Ketika sampai berita tentang kematian Ja’far pada hari kematiannya, Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang sesuatu yang membuat mereka sibuk.” (Diriwayatkan oleh al-Khamsah, kecuali al-Nasa’i)

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menganjurkan supaya keluarga mayat dihibur dengan cara
membuatkan makanan untuk mereka karena mereka sedang berada dalam keadaan berduka. Berkumpul di rumah keluarga mayat dan menghidangkan makanan untuk para tamu yang datang ke rumah duka tidak termasuk amalan Sunnah. Ini karena orang-orang yang berkumpul di rumah keluarga mayat boleh menyebabkan keluarga mayat bertambah sedih dan berniyahah.

FIQH HADITS :

Disyariatkan menghibur keluarga mayat dengan membuatkan makanan untuk mereka, karena mereka sedang disibukkan oleh musibah yang menimpa diri mereka, hingga lupa menyediakan makanan untuk diri mereka sendiri.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 140 : MAKRUH MENGUBURKAN JENAZAH PADA MALAM HARI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 140 :

َوَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَا تَدْفِنُوا مَوْتَاكُمْ بِاللَّيْلِ إِلَّا أَنْ تُضْطَرُّوا ) أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَه ْ. وَأَصْلُهُ فِي “مُسْلِمٍ”, لَكِنْ قَالَ: زَجَرَ أَنْ يُقْبَرَ اَلرَّجُلُ بِاللَّيْلِ, حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu sekalian menguburkan mayatmu pada waktu malam kecuali jika keadaan memaksamu.” Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan asalnya dalam riwayat Muslim, namun ia berkata: Beliau melarang seseorang menguburkan mayat malam hari sebelum disholatkan terlebih dahulu.

MAKNA HADITS :

Mengikut hukum asal, pengkebumian mayat dilakukan pada waktu siang hari.
Ini lebih diutamakan karena melakukan pengkebumian pada waktu malam hari
diyakini akan mengakibatkan perlakuan yang tidak betul terhadap hak si mayat,
seperti jumlah orang yang menyembahyangkan tidak ramai, penyelenggaraan proses pengkafanan tidak betul, orang yang diharapkan datang malah tidak hadir, padahal kehadiran dan do’a mereka sangat diharapkan, malaikat siang hari jauh lebih bersifat penyayang apabila dibandingkan dengan malaikat yang bertugas pada waktu malam hari sebagaimana yang telah disebutkan di dalam sebuah atsar.
Selain itu, dikawatiri orang yang melakukan pengkebumian pada waktu malam
hari diganggu oleh hewan berbisa yang terdapat di sekitar perkuburan.
Meskipun, pengkebumian mayat pada waktu malam hari, syariat telah memberikan rukhsah bahwa apabila dalam keadaan mendesak, misalnya dikawatiri mayat akan membusuk seandainya pengkebumian ditangguhkan hingga menunggu waktu pagi hari, orang yang menyembahyangkannya akan kepanasan, dikawatiri bakal terjadi kesesakan atau dikawatiri akan terjadi fitnah, maka dalam keadaan ini dibolehkan.

Rasulullah (s.a.w) sendiri dikebumikan pada waktu malam hari. Ali (r.a) mengkebumikan Fatimah pada waktu malam hari, Abu Bakar (r.a) pun dikebumikan pada waktu malam hari. Di dalam hadis Ibn Abbas (r.a) disebutkan sebagai berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ قَبْرًا لَيْلاً فَأُسْرِجَ لَهُ سِرَاجٌ فَأَخَذَهُ مِنْ قِبَلِ الْقِبْلَةِ وَقَالَ ‏ “‏ رَحِمَكَ اللَّهُ إِنْ كُنْتَ لأَوَّاهًا تَلاَّءً لِلْقُرْآنِ ‏”‏.

“Nabi (s.a.w) memasuki kuburan pada suatu malam, lalu dinyalakan pelita untuknya, kemudian baginda mengambil posisi di hadapan arah kiblat seraya bersabda: “Semoga Allah merahmatimu, jika kamu benar-benar penghuni kuburan ini dalam keadaan banyak membaca al-Qur’an.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmizi dan
berkata: “Hadis ini hasan.”)

Selain itu telah ditetapkan di dalam hadis Uqbah ibn ‘Amir larangan melakukan
pengkebumian dalam tiga waktu, yaitu: ketika matahari terbit hingga tinggi, pada
waktu tengah hari hingga matahari tergelincir dan ketika matahari mulai condong untuk tenggelam hingga tenggelam dengan sempurna.

FIQH HADITS :

1. Makruh melakukan pengkebumian pada waktu malam hari, karena diyakini akan mengakibatkan perbuatan sempurna terhadap hak mayat seperti mayat tidak disholatkan dan proses pengkafanan kurang sempurna.

2. Boleh melakukan pengkebumian pada waktu malam hari karena keadaan
darurat seperti dikawatiri akan menyebabkan kesesakan orang ramai yang
menghadirinya, jenazah akan membusuk atau dikawatiri akan menimbulkan
perkara-perkara lain yang tidak diingini. Jumhur ulama dan ulama khalaf
membolehkan melakukan pengkebumian pada waktu malam hari, karena
berlandaskan kepada amalan para sahabat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

رابطة خرجي معهد منبع العلوم بتابتا

%d blogger menyukai ini: