J006. CARA MERAWAT SEORANG IBU DAN ANAKNYA SAMA-SAMA MENINGGAL DUNIA NAMUN SI BAYI BELUM KELUAR SEUTUHNYA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Diskripsi masalah :
Ada seorang perempuan katakanlah (Zulaihah) hamil ketika hendak melairkan janin ternyata anaknya keluar separuh dan anak itu laki-laki namun sizulaihah tidak mampu untuk melahirkan anak secara tuntas akhirnya sizulaihah meninggal dan anakpun ikut meninggal dan tetap masih ada difarji’nya sang ibu (masih bersambung jasatnya).

Pertanyaannya :

1-Bagaimana niat dan cara memandikannya ?

2-Bagaimana cara mensolatinya dan cara mendo’akannya

3-Bagaimana cara menguburkannya (untuk menghadapkan sikepalanya) karen itu terdapat dua kepala (kepala ibu & anak)

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Didalam kitab Attajriid Linaf’il ‘Abiid/ Hasyiyah Al Bujairimi, Jilid 1, halaman 298.

وكما لو دفنت امراۃ حامل بجننين ترجی حياته باءن يكون له ستۃ اشهر فاءكثر فيشق جوفها ويخرج اذ شقه لازم قبل دفنها ايضا.فاءن لم ترج حياتٌه فلا,لكن يترك دفنها الی موته ثم تدفن.م ر.وقوله لكن يترك دفنها الی موته اي ولو تغيرت مثلا ولا يدفن الحمل حيا.عش.

Demikianlah halnya kalau wanita hamil dikubur bersama janinnya yang masih diharapkan hidup, misalnya sudah mencapai enam bulan atau lebih, maka perut wanita tersebut harus dibelah dan janinnya dikeluarkan, sebab membelah perutnya itu wajib pula sebelum dikuburkan. Bila sudah tidak diharapkan hidupnya bayi itu maka bayi itu tidak perlu dibedah, namun pemakaman mayat wanita itu ditunda sampai si janin mati, lalu dimakamkan. Demikian pendapat Ar Ramli. Ungkapan beliau : “namun pemakaman mayat si wanita itu ditunda sampai si janin mati”, maksudnya meskipun janin itu telah berubah(membusuk)umpamanya, dan si janin tidak boleh dikubur hidup hidup”. Demikian pernyataan Ali Syibromallisi.

Jawaban :

(1). Niat dan cara memandikan wanita dan bayi itu, didalam kitab Bujairimi Alal Khotiib,juz 1,halaman 516 :

ولا تجب نيۃ الغاسل لاءن القصد بغسل الميت النظافۃ وهي لا تتوقف علی نيۃ فيكفي غسل كافر

Dan juga didalam kitab Kasyifatussajaa, halaman 101 disebutkan :

ولا يجب نيۃ الغسل لاءن القصد به النظافۃ وهي لا تتوقف علی نيۃ لكن تسن خروجا من الخلاف فيقول الغاسل نويت الغسل اداء عن هذا الميت اواستباحۃ الصلاۃ عليه

Niat memandian wanita dan bayi itu tidak wajib. karena yang dituju dari memandikan adalah kebersihan. Sedangkan kebersihan itu tidak tergantung kepada niat. tapi disunnatkan berniat, hal itu karena keluar dari perbedaan pendapat ulama. Maka orang yang memandikan itu berniat “saya niat memandikan mayit wanita dan bayinya ini, a daa-an(karena memandikan pada waktunya)
Cara memandikannya adalah sama dengan cara memandikan mayit biasa. Alasannya ialah karena didalam kitab Bujairimi diatas tidak disebutkan cara memandikan mayit wanita yang didalam perutnya ada bayi yang mati

(2). Cara mensholatkannya adalah disholatkan dalam keadaan wanita dan bayi itu tetap bersatu. Karena didalam kitab Bujairimi diatas tidak disebutkan cara mensholatkan yang lain dari cara mensholatkan mayit yang biasa.
Cara mendoakannya ialah di kitab Kaasyifatudsajaa, halaman 104 :
jika baligh maka doanya adalah :

اللهم الطف بها الی اخره.

ditambah dengan do’a yang ada di kitab Kaasyifatussajaa halaman 104 :

اما الصغير فيقول فيه مع الدعاء الاءول

Adapun jika mayitnya itu anak kecil maka orang yang sholat jenazah itu berdo’a seperti do’a yang awwal lalu ditambah dengan :

اللهم اجعله فرطا لاءبوبه وسلفا وذخرا وعظۃ واعتبارا وشفيعا, وثقل به موازيننا, وافرغ الصبر علی فلوبهما ولا تفتنهما بعده ولا تحرمنا اجره.

(3). Cara menguburkannya adalah sebagaimana keterangan dari kitab Bujairimi diatas, yaitu wanita dan bayi yang melekat pada ibunya itu dikuburkan bersama, dalam posisi kepala ibunya anak itu diwajibkan dihadapkan ke kiblat, dan disunnatkan pipi kanan ibunya itu dirapatkan ke tanah (setelah membuka kain kafan dari ibu itu), atau disunnatkan pipi kanan ibu itu dirapatkan ke batu bata, Karena sesungguhnya merapatkan pipi yang kanan ke tanah itu lebih sangat didalam menunjukkan kehinaan. Sedangkan kepala bayi itu dibiarkan menghadap kemana saja.

Sedangkan menurut mazhab Syâf’î, maka perut wanita tersebut harus dibedah jika besar kemungkinan bahwa janin yang ada dalam perut masih dalam keadaan hidup. Sebab hal tersebut termasuk merusak sebagian dari anggota tubuh wanita yang telah meninggal untuk menyelamatkan orang yang masih hidup. Maka –berdasarkan alasan ini- dibolehkan membedah perut ibunya. Hal ini sama hukumnya, jika sebagian tubuh bayi tersebut telah keluar, namun tidak mungkin mengeluarkannya secara utuh kecuali dengan melakukan pembedahan. Disamping itu apabila perut orang yang telah meninggal dunia boleh dibedah untuk mengeluarkan harta –misalnya uang atau mutiara- yang ia telan, maka apalagi membedahnya disebabkan untuk mengeluarkan manusia yang masih hidup.

Alasan yang mendasari pendapat kami adalah: pada kebiasaannya anak yang terdapat dalam perut wanita yang telah meninggal dunia, ikut meninggal dunia bersama ibunya. Lagi pula tidak dapat diyakinkan bahwa anak tersebut masih dalam keadaan hidup. Oleh sebab itu tidak dibolehkan menginjak kehormatan yang pasti hanya demi sesuatu yang masih diragukan. Dan sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: “mematahkan tulang orang mati, sama hukumnya dengan mematahkan tulang orang yang masih hidup” (H.R. Abu Daud).

Disamping itu pembedahan tersebut mengandung makna mencincang orang yang telah mati dan hal ini dilarang oleh Rasulullah s.a.w. Ini berbeda dengan masalah yang telah dijadikan sebagai sumber qiyas (maksudnya adalah perkataan: Hal ini sama hukumnya, jika sebagian tubuh bayi tersebut telah keluar, namun tidak mungkin mengeluarkannya secara utuh kecuali dengan melakukan pembedahan). Sebab pada masalah ini kematian bayi tersebut lebih besar kemungkinannya daripada hidupnya.

Dengan demikian, apabila sebagian tubuh bayi telah keluar, namun kelahiran tersebut tidak dapat dilaksanakan secara utuh kecuali dengan melakukan pembedahan, maka dibolehkan membedah vagina dan mengeluarkan bayi tersangkut. Hal ini berdasarkan alasan yang telah kami sebutkan diatas.

Kemudian apabila bayi tersebut meninggal dalam kondisi seperti itu (sebagian tubuhnya telah berada diluar) dan memungkinkan untuk mengeluarkannya, maka bayi tersebut harus dikeluarkan secara utuh lalu dimandikan secara tersendiri. Adapun apabila bayi yang tersangkut tersebut tidak mungkin dikeluarkan secara utuh, maka ia tetap dibiarkan sebagaimana adanya, lalu ibunya beserta bagian tubuh bayi yang keluar dimandikan. Sedangkan sisa tubuhnya yang masih berada didalam rahim ibunya, dianggap termasuk anggota dalam tubuh yang tidak perlu ditayammumi lagi. Sebab semuanya telah dianggap anggota tubuh bagian dalam. Adapun selebihnya maka hukumnya seperti biasa (semula).

Pendapat ini telah disebutkan oleh Ibnu ‘Aqîl r.a, dan beliau berkata: masalah ini bermula dari peristiwa yang terjadi dan aku ditanyakan orang tentang hukumnya, maka akupun berfatwa sebagaimana yang disebutkan diatas.

فعن أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (كَسْرُ عَظْمِ المَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا) رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه، وقال ابن دقيق العيد: إسناده على شرط مسلم.

معنى الحديث :

هذا الحديث العظيم يدل على حرمة التعدي على الميت كما يحرم التعدي على الحي، يقول الحافظ ابن حجر في شرحه لهذا الحديث: “يستفاد منه أن حرمة المؤمن بعد موته باقية كما كانت في حياته”، ويقول الإمام الطيبي: “إشارة إلى أنه لا يهان ميتا، كما لا يهان حيّا”، ويقول الإمام الباجي: “يريد أن له من الحرمة في حال موته مثل ما له منها حال حياته، وأن كسر عظامه في حال موته يحرم كما يحرم كسرها حال حياته”.

مسائل وأحكام

يمكن الاستدلال بهذا الحديث على جملة من المسائل والأحكام، نذكر منها:

– حرمة بيع أعضاء الميت: إذ أن حرمة جسد المسلم تمتد إلى ما بعد وفاته كما يدل على ذلك الحديث؛ ولذا لا يجوز الاعتداء عليه بأي نوع من أنواع الأذى، سواء كان ذلك ببيع أعضائه أو التصرف فيها، لأن الواجب في جسد المسلم بعد موته تغسيله وتكفينه والصلاة عليه ثم دفنه، وفي حال بيع أعضائه أو التصرف فيها إسقاط لهذه الواجبات.

– حرمة تشريح الجثة: يحرم تشريح جثة الميت المسلم وجعلها محلاً للتدريب والتعليم، فإن هذا مناف لتكريم الله له، وأما وجود الحاجة لتشريح الجثث للبحث العلمي، فهذه الحاجة يمكن أن تتحقق بجثث غير المعصومين كالكافر الحربي والمرتد عن الإسلام.

– كسر عظم الميت عن غير عمد ليس فيه قصاص أو دية: إذا انكسر عظم الميت أثناء دفنه أو عند دفن شخص آخر في نفس القبر بعد أن تبلى عظامه فليس في ذلك قصاص ولا أرش، قال الإمام ابن قدامة رحمه الله مؤيدا لذلك: “المراد بالحديث التشبيه في أصل الحرمة، لا في مقدارها، بدليل اختلافهما في الضمان والقصاص ووجوب صيانة الحي بما لا يجب به صيانة الميت”، والله أعلم.

Mungkin jawabannya sementara begini ustad hal ini di kiaskan pada sembelihan kandungan yang ikut pada ibunya berdasar pada koidah fikih, ini kan gini wanita yang melahirkn namun sebaagian saja maka hukumx ikut pada ibunya karena kelahiran tsb tidak sempurna dan hal ini sama halx dihukumi tidak lahir.

وقوله بعد خروجه من بطن امه اي تمام خروجه فلو اخرج رأسه وفيه حياة مستقرة ثم ذبحت امه فمات قبل تمام خروجه حل لان خروج بعضه كعدم خروجه في الغرة ونحوها فلا يجب ذبحه وان صار بخروج رأسه مقدورا عليه ( البجور ي ج ٢ ص ٢٩٠)

رابعها التابع لشيء تا بع له في حكمه ( الاشباه والنظائر ص ١٧٨)

Ibarot tambahan :

1661 ) مسألة ; قال : ( والمرأة إذا ماتت ، وفي بطنها ولد يتحرك ، فلا يشق بطنها ، ويسطو عليه القوابل ، فيخرجنه ) معنى ” يسطو القوابل ” أن يدخلن أيديهن في فرجها ، فيخرجن الولد من مخرجه . والمذهب أنه لا يشق بطن الميتة لإخراج ولدها ، مسلمة كانت أو ذمية ، وتخرجه القوابل إن علمت حياته بحركة . وإن لم يوجد نساء لم يسط الرجال عليه ، وتترك أمه حتى يتيقن موته ، ثم تدفن .

ومذهب مالك ، وإسحاق قريب من هذا . ويحتمل أن يشق بطن الأم ، إن غلب على الظن أن الجنين يحيا ، وهو مذهبالشافعي ; لأنه إتلاف جزء من الميت [ ص: 216 ] لإبقاء حي ، فجاز ، كما لو خرج بعضه حيا ، ولم يمكن خروج بقيته إلا بشق ، ولأنه يشق لإخراج المال منه ، فلإبقاء الحي أولى . ولنا ، أن هذا الولد لا يعيش عادة ، ولا يتحقق أنه يحيا ، فلا يجوز هتك حرمة متيقنة لأمر موهوم ، وقد قال عليه السلام : { تخريج الحديث كسر عظم الميت ككسر عظم الحي } . رواه أبو داود ،

وفيه مثلة ، وقد { ‘تخريج الحديث نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن المثلة } . وفارق الأصل ; فإن حياته متيقنة ، وبقاءه مظنون ، فعلى هذا إن خرج بعض الولد حيا ، ولم يمكن إخراجه إلا بشق ، شق المحل ، وأخرج ; لما ذكرنا . وإن مات على تلك الحال ، فأمكن إخراجه ، أخرج وغسل .

وإن تعذر غسله ترك ، وغسلت الأم ، وما ظهر من الولد ، وما بقي ففي حكم الباطن لا يحتاج إلى التيمم من أجله ; لأن الجميع كان في حكم الباطن ، فظهر البعض ، فتعلق به الحكم ، وما بقي فهو على ما كان عليه . ذكر هذا ابن عقيل . وقال : هي حادثة سئلت عنها ، فأفتيت فيها

الفقه المقارن المغني موفق الدين عبد الله بن أحمد بن قدامةدار إحيار التراث العربي

سنة النشر: 1405هـ / 1985م
رقم الطبعة: الأولى
عدد الأجزاء: عشرة أجزاء

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

قال المصنف رحمه الله :
{وإن مَاتَتْ امْرَأَةٌ وَفِي جَوْفِهَا جَنِينٌ حَيٌّ شُقَّ جوفها لانه استبقاء حي باتلاف جزء من الميت فأشبه إذا اضطر الي أكل جزء من الميت}
* {الشَّرْحُ} هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مَشْهُورَةٌ فِي كُتُبِ الْأَصْحَابِ، وَذَكَرَ صَاحِبُ الْحَاوِي أَنَّهُ لَيْسَ لِلشَّافِعِيِّ فِيهَا نَصٌّ. قَالَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَالْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَالْمَاوَرْدِيُّ وَالْمَحَامِلِيُّ وَابْنُ الصَّبَّاغِ وَخَلَائِقُ مِنْ الْأَصْحَابِ قَالَ ابْنُ سُرَيْجٍ إذَا مَاتَتْ امْرَأَةٌ وَفِي جَوْفِهَا جَنِينٌ حَيٌّ شُقَّ جَوْفُهَا وَأُخْرِجَ، فَأَطْلَقَ ابْنُ سُرَيْجٍ الْمَسْأَلَةَ. قَالَ أَبُو حَامِدٍ وَالْمَاوَرْدِيُّ وَالْمَحَامِلِيُّ وَابْنُ الصَّبَّاغِ وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا لَيْسَ هُوَ كَمَا أَطْلَقَهَا ابْنُ سُرَيْجٍ بَلْ يعرض علي القوابل، فان قلنا هَذَا الْوَلَدُ إذَا أُخْرِجَ يُرْجَى حَيَاتُهُ وَهُوَ ان يكون له ستة اشهر فصاعدا شق جوفها واخرج. وإن قلنا لَا يُرْجَى بِأَنْ يَكُونَ لَهُ دُونَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ لَمْ يُشَقَّ لِأَنَّهُ لَا مَعْنَى لِانْتِهَاكِ حُرْمَتِهَا فِيمَا لَا فَائِدَةَ فِيهِ. قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَقَوْلُ ابْنِ سُرَيْجٍ هُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ (قُلْت) وَقَطَعَ بِهِ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ فِي تَعْلِيقِهِ والعبدري فِي الْكِفَايَةِ، وَذَكَرَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ وَالْفُورَانِيُّ وَالْمُتَوَلِّي والبغوى وغيرهم في الذى لا يرجى حياته وجهين (احداهما) يُشَقُّ.
(وَالثَّانِي) لَا يُشَقُّ. قَالَ الْبَغَوِيّ وَهُوَ الْأَصَحُّ قَالَ جُمْهُورُ الْأَصْحَابِ فَإِذَا قُلْنَا لَا تشقّ لَمْ تُدْفَنْ حَتَّى تَسْكُنَ حَرَكَةُ الْجَنِينِ وَيُعْلَمَ أَنَّهُ قَدْ مَاتَ، هَكَذَا صَرَّحَ بِهِ الْأَصْحَابُ فِي جَمِيعِ الطُّرُقِ. وَنَقَلَ اتِّفَاقَ الْأَصْحَابِ عَلَيْهِ الْقَاضِي حُسَيْنٌ وَآخَرُونَ وَهُوَ مَوْجُودٌ كَذَلِكَ فِي كُتُبِهِمْ إلَّا مَا انْفَرَدَ بِهِ الْمَحَامِلِيُّ فِي الْمُقْنِعِ وَالْقَاضِي حُسَيْنٌ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ مِنْ تَعْلِيقِهِ قَبْلَ بَابِ الشَّهِيدِ بِنَحْوِ وَرَقَتَيْنِ وَالْمُصَنِّفُ في التنبيه فقالوا ترك عليه شئ ثَقِيلٌ حَتَّى يَمُوتَ ثُمَّ تُدْفَنُ الْمَرْأَةُ وَهَذَا غَلَطٌ فَاحِشٌ، وَقَدْ أَنْكَرَهُ الْأَصْحَابُ أَشَدَّ إنْكَارٍ. وَكَيْفَ يُؤْمَرُ بِقَتْلِ حَيٍّ مَعْصُومٍ وَإِنْ كَانَ ميؤوسا مِنْ حَيَاتِهِ بِغَيْرِ سَبَبٍ مِنْهُ يَقْتَضِي الْقَتْلَ.
ومختصر المسألة ان رجي حياة الجنين وجب شق جوفها واخراجه، والافثلاثة أَوْجُهٍ (أَصَحُّهَا) لَا تُشَقُّ وَلَا تُدْفَنُ حَتَّى يَمُوتَ (وَالثَّانِي) تُشَقُّ وَيُخْرَجُ (وَالثَّالِثُ) يُثْقَلُ بَطْنُهَا بشئ لِيَمُوتَ وَهُوَ غَلَطٌ. وَإِذَا قُلْنَا يُشَقُّ جَوْفُهَا شُقَّ فِي الْوَقْتِ الَّذِي يُقَالُ إنَّهُ أَمْكَنُ لَهُ، هَكَذَا قَالَهُ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ. وَقَالَ الْبَنْدَنِيجِيُّ يَنْبَغِي أَنْ تُشَقَّ فِي الْقَبْرِ فَإِنَّهُ أَسْتَرُ لَهَا.

المجموع شرح المهذب.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N013. NGAKU TIDAK PUNYA ISTRI, APAKAH TERMASUK TALAQ

PERTANYAAN :

Assalamualaikum wr wb..

Saya mau tanya di jaman sekarang ini kebanyakan seorang laki2 yang memiliki istri ngakunya tidak punya istri ketika ngobrol di medsos.
Pertanyaannya apakah itu termasuk talaq mohon penjelesannya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jika seorang bertanya pada laki-laki, apakah kamu punya istri ? lalu dia menjawab tidak / belum maka jika dia tidak punya niat thalak maka istrinya tidak terthalak karena ini tidak termasuk shorih, dan jika berniat thalak maka jatuhlah thalak karena hal ini masuk pada thalak. Ulama’ berbeda pendapat, ada yang bilang itu thalaq kinayah seperti ibaroh dan keterangan di bawah. Ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi apa-apa dan tidak berpengaruh sama sekali dan hal ini tidak dinamakan thalaq kinayah maupun shorih walaupun dengan adanya niat karena hal ini adalah murni kebohongan.

– Almuhadzdzab :

ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ ﻓﻲ ﻓﻘﺔ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻟﻠﺸﻴﺮﺍﺯﻱ • ﻟﻠﻤﻜﺘﺒﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ ﻭﺇﻥ ﻗﺎﻝ ﻟﻪ ﺭﺟﻞ ﺃﻟﻚ ﺯﻭﺟﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﻻ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻨﻮﺑﻪ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﻟﻢ ﺗﻄﻠﻖ ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﺼﺮﻳﺢ ﻭﺇﻥ ﻧﻮﻯ ﺑﻪ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﻭﻗﻊ ﻷﻧﻪ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺍﻟﻄﻼﻕ.

– Almajmu’ :

وان قال له رجل: ألك زوجة ؟ فقال لا، فإن لم ينو به الطلاق لم تطلق، لانه ليس بصريح، وان نوى به الطلاق وقع لانه يحتمل الطلاق. المجموع . ج: 17. ص: 102

– Attanbih, Mughnil Muhtaj, Khobaya Zawaya :

التنبيه – (ج 1 / ص 175) وإن قال ألك زوجة فقال لا لم يكن شيئا

مغني المحتاج – (ج 3 / ص 329)

ولو قيل له ألك زوجة فقال لا لم تطلق وإن نوى لأنه كذب محض وهذا ما نقله في أصل الروضة عن نص الإملاء وقطع به كثير من الأصحاب

ثم ذكر تفقها ما حاصله أنه كناية على الأصح وبه صرح المصنف في تصحيحه وأن لها تحليفه أنه لم يرد طلاقها وعليه جرى الأصفوني والحجازي في اختصارهما كلام الروضة والأول أوجه كما جرى عليه ابن المقري في روضه

خبايا الزوايا ـ للزركشى – (ج 1 / ص 70)

ذكر في باب التدبير أنه لو أنكر الزوجية فليس بطلاق على الأصح وذكر في باب الدعاوي أن المرأة لو ادعت النكاح فأنكر ففي جعل انكاره طلاقا وجهان أصحهما في النهاية واختاره القفال المنع وقال في هذا الباب لو قيل ألك زوجة فقال لا فعن نصه في الاملاء وبه قال كثير أنه لا يقع وإن نوى لأنه كذب محض ولايأمن الفرق بين أن يكون القائل مستخبرا أو ملتمسا إنشاء الطلاق

Wallahu a’lamu bisshowab..

N012. PEMASRAHAN WALI NIKAH SECARA ONLINE

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mohon maaf, Barangkali ada ibarot dari kitab yang membolehkan tawkiilulwaliyyi melalui telpon di HP, melalui WhatsApp, melalui Imo. Mohon ibarot yang dari kitab itu disebutkan. Saya mengucapkan terimakasih atas jawabannya.

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

Hukum tawkil untuk akad nikah lewat telepon adalah sah, selama taukil tersebut dapat dipahami dan tidak ada penolakan dari pihak yang menerima wakalah.

Dasar Pengambilan :

Kitab Asy Syarqowi juz 2 halaman 10

(قَوْلُهُ وَصِيْغَةً) كَوَكَّلْتُكَ فِى كَذَا او فَوَّضْتُ إِلَيْكَ كَذَا سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ مَشَافَهَةً او كِتَابَةً او مُرَاسَلَةً وَيُشْتَرَطُ عَدَمُ رَدِّهَا كَمَا يَأْتِى وَلاَ يُشْتَرَطُ العِلْمُ بِهَا. فَلَو وَكَّلَهُ وَهُوَ لاَيَعْلَمُ صَحَّتْ حَتَّى لَوْ تَصَرَّفَ قَبْلَ عِلْمِهِ صَحَّ كَبَيْعِ مَالِ أَبْيْهِ يَظُنُّ حَيَاتِهِ.

(Ucapan mushannif “dan shighat”) seperti: Aku mewakilkan kepadamu dalam masalah demikian, atau aku menyerahkan kepadamu demikian. Baik penyerahan itu secara lisan atau secara tertulis atau pengiriman utusan. Disyaratkan pula tidak ada penolakan terhadap wakalah (perwakilan) tersebut sebagaimana keterangan yang akan datang, dan tidak disyaratkan mengetahui wakalah. Andaikata seseorang mewakilkan kepadanya sedang dia tidak tahu, maka sah wakalah tersebut; sehingga andaikata dia mentasarufkan sebelum mengetahui ada wakalah, tasaruf(distribusi)-nya sah, seperti menjual harta ayahnya yang dia sangka ayahnya masih hidup.

Kitab Bujairimi ‘Ala al Iqna’ juz 3 halaman 10

وَجُمْلَةُ مَا ذَكَرَهُ مِنْ شُرُوطِ الصِّيْغَةِ خَمْسَةٌ وَذَكَرَ فِى شَرْحِ المِنْهَجِ أرْبَعَةٌ:… إلَى أنْ قَالَ: الثَّانِى: أنْ يَتَلَفَّظَ بِحَيْثُ يَسْمَعُهُ مَنْ بِقُرْبِهِ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْهُ صَاحِبُهُ بِأَنْ بَلَغَهُ ذَلِكَ فَورًا او حَمَلَتْهُ الرِّيْحُ إلَيْهِ فَقَبِلَ.

“Jumlah dari apa yang telah mushannif sebutkan tentang syarat-syarat shighat adalah lima dan dalam kitab Syarah Minhaj, mushannif menyebutkan empat: … sampai mushannif berkata: “Yang kedua, hendaklah seseorang mengucapkan sekira orang yang berada didekatnya mendengar ucapannya, meskipun temannya tidak mendengar, dengan sekita dia menyampaikan hal tersebut kepada temannya seketika, atau angin telah membawa ucapan tersebut kepada temannya dan temannya menerima.

Sumber : Koleksi Bahtsul Masail yang dimiliki oleh KH. A. Masduqi Machfudh, termasuk arsip Kolom Bahtsul Masail dari majalah PWNU Jawa Timur Aula, Bahtsul Masail Wilayah (PWNU) Jawa Timur, dan Bahtsul Masail pada muktamar maupun pra-muktamar NU.

TAMBAHAN :

1. Dalam mewakilkan perwalian nikah melalui telefon atau surat kepada seseorang yang dipercayainya hukumnya diperbolehkan. Dan akan lebih baik jika yang mewakilkan mengenali suara dan mendengar langsung dari penerima wakil supaya tidak ada keraguan. Adapun yang tidak diperbolehkan adalah akad nikah yang melalui telepon, karena disyaratkan baginya (wali perempuan) dan kedua saksi harus hadir dalam satu dimajlis.

(2). Adapun diantara beberapa syarat sahnya taukil sebagai berikut :

(a). Adanya orang yang mewakilkan.
(b). Orang yang diberi wakil.
(c). Ucapan atau lafadz seperti berkata: Aku mewakilkan kepadamu untuk menikahkan anak saya yang bernama fulanah dengan fulan bin fulan.
(d). Sesuatu yang diwakilkan.

NB: Dan menurut qaul yang mu’tamad bahwa yang didahulukan adalah wakil ketimbang KUA.

Referensi Kitab:

(1). Hasyiayah As_Syarwani. Juz 5. Hal 359-360.
(2). Fiqhul Islam wa adillatuh. Juz 4. Hal 109.
(3). Tuhfatul Muhtaj. Juz 5. Hal 309.
(4). Hasyiyah As_Syarqowi. Juz 2. Hal 229.
(5). Fiqhul Islam wa Adillatuh. Juz 9. Hal 112.
(6). Kifayatul Akhyar. Juz 2. Hal 5.
(7). Nihayatuz Zain.Juz 1. Hal 251.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N011. AKAD NIKAH BAGI ORANG BISU

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mau bertanya bagaiman hukum nikahnya orang laki-laki yang bisu?
Bagaimna cara ijab qobulnya?

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Ada dua cara :

1. Dengan pakai bahasa isyarat yang jelas dan dapat dimengerti.

2. kalau pake bahasa isyarat tidak dapat dimengerti maka akadnya pakai tulisan. [ hasyiyah syarqowi.juz 2/225 ].

kalau isyarat tidak mampu, nulis juga tidak bisa, boleh dengan perantara walinya.

و ينعقد باشارة اخرس مفهمة و قيل لا ينعقد النكاح الا بالصغة العربية فعليه يصبر عند العجز الى ان يتعلم او يوكل

اعانة الطالبين ٣ /٢٧٧

Cara Ijab Qabul orang bisu dalam akad nikah bisa dilakukan dengan isyarat, dengan syarat bila isyaratnya sharih (jelas), jika tidak sharih, dalam arti isyaratnya menimbulkan kinayah atau ia bisa menulis maka bila ia masih bisa mewakilkan ia harus mewakilkan dan jika tidak bisa mewakilkan maka ijab qabulnya boleh dilakukan dengan isyarat kinayah atau dengan tulisan karena darurat.

واما ان كان زوجا فان كانت اشارته صريحة عقد بها وان كانت كناية او كان له كتابة فان امكنه التوكيل وكل والا عقد بها للضرورة

Bila ia seorang (calon suami) maka bila isyaratnya sharih (jelas) maka ia bisa diakadi dengan isyaratnya, bila isyaratnya kinayah (masih memberikan pengertian lain selain nikah) atau ia bisa menulis maka bila ia memungkinkan mewakilkan ia harus mewakilkan, bila tidak bisa mewakilkan maka ijab qabulnya boleh dilakukan dengan isyarat kinayah atau dengan tulisan karena darurat.

[ Hamisy al-Iqnaa II/125 ].

( إيمَاءُ الْأَخْرَسِ وَكِتَابَتُهُ كَالْبَيَانِ ) بِاللِّسَانِ ( بِخِلَافِ مُعْتَقَلِ اللِّسَانِ ) وَقَالَ الشَّافِعِيُّ : هُمَا سَوَاءٌ فِي وَصِيَّةٍ وَنِكَاحٍ وَطَلَاقٍ وَبَيْعٍ وَشِرَاءٍ وَقَوَدٍ وَغَيْرِهَا مِنْ الْأَحْكَامِ

Isyarat orang bisu dan tulisannya seperti penjelasan dengan lisannya berbeda dengan orang yang terikan lisannya.Imam As-Syafi’i berkata “Isyarat dan tulisannya sama dalam berbagai masalah-masalah hukum seperti dalam hal wasiat, nikah, talak, jual beli, qishas dan sebagainya. [ Radd al-Muhtaar 29/272 ].

Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bahasa tulisan lebih diutamakan dibandingkan dengan bahasa isyarat.

( قوله وينعقد ) أي النكاح وقوله بإشارة أخرس مفهمة عبارة التحفة وينعقد نكاح الأخرس بإشارته التي لا يختص بفهمها الفطن وكذا بكتابته بلا خلاف على ما في المجموع لكنه معترض بأنه يرى أنها في الطلاق كناية والعقود أغلظ من الحلول فكيف يصح النكاح بها فضلا عن كونه بلا خلاف وقد يجاب بحمل كلامه على ما إذا لم تكن له إشارة مفهمة وتعذر توكيله لاضطراره حينئذ ويلحق بكتابته في ذلك إشارته التي يختص بفهمها الفطن إعانة الطالبين . الجز 3. صفحة 277.

Artinya ;
Aqad nikah itu sah dengan isyarohnya orang yang bisu, yang dimengerti. Keterangan dari kitab Tuhfah, Sah aqad nikahnya orang yang bisu, dengan isyarohnya orang yang bisu, yang mana tidak perlu kepandaian yang khusus untuk mengerti kepada isyarohnya orang yang bisu. Dan sah juga aqad nikahnya orang yang bisu dengan tulisannya orang yang bisu, dengan tanpa khilaf ulama, sebagaimana yang ada di dalam kitab Al Majmu’. Tapi hal itu ditentang, bahwa tulisannya orang yang bisu didalam bab tolak itu dianggap kinayah, sedangkan aqad nikah itu lebih berat daripada bab tolak, maka kenapa aqad nikah itu bisa sah dengan tulisannya orang yang bisu, apalagi sahnya aqad nikahnya orang yang bisu yang menggunakan tulisan itu tanpa khilaf ulama.

Pertanyaan diatas itu dijawab,bahwa aqad nikahnya orang yang bisu itu bisa sah dengan tulisannya orang yang bisu, ialah dengan syarat jika orang yang bisu itu tidak mempunyai isyaroh yang bisa dimengerti, maka barulah orang yang bisu itu sah aqad nikahnya dengan tulisannya orang yang bisu,dan orang yang bisu itu tidak bisa mewakilkan aqad nikahnya.Alasannya ialah karena orang yang bisu itu terpaksa harus mengaqad nikah dengan tulisannya didalam keadaan orang yang bisu itu tidak mempunyai isyaroh yang bisa dimengerti.

Dan disamakan dengan tulisannya orang yang bisu (didalam sahnya aqad nikahnya orang yang bisu) ialah isyarohnya orang yang bisu yang mana isyaroh itu hanya bisa dimengerti oleh orang tertentu yang mengerti isyarohnya orang yang bisu itu.(Hasyiyah kitab ‘I aanatuththoolibiin, juz 3, halaman 277)

ويستثنى من عدم الصحة بالكناية كتابة الأخرس وكذا إشارته التي اختص بفهمها الفطن فإنهما كنايتان وينعقد بهما النكاح منه تزويجا وتزوجا ا هـ من شرح م ر وع ش عليه من موانع ولاية النكاح وبعضهم منع انعقاده بالكناية مطلقا حتى في هاتين الصورتين قال ولا ينعقد نكاح الأخرس بالإشارة إلا إذا كان يفهمها كل أحد قال م ر فيما يأتي فإن لم يفهم إشارته أحد زوجه الأب فالجد فالحاكم . حاشية البجيرمي . الجز 3. صفحة 333

Artinya ;
Dan dikecualikan dari tidak sahnya aqad nikah dengan tulisan, ialah tulisannya orang yang bisu. Dan juga sah aqad nikah dengan isyarohnya orang yang bisu, yang mana isyaroh itu hanya bisa dimengerti oleh orang tertentu. Maka aqad nikah dengan tulisan dan aqad nikah dengan isyaroh itu termasuk kinayah. Tapi aqad nikah bisa sah, dari tulisannya orang yang bisu dan dari isyarohnya orang yang bisu. Orang yang bisu itu bisa sah mengawinkan dan dikawinkan dengan menggunakan tulisannya orang yang bisu atau dengan menggunakan isyarohnya orang yang bisu. Intaha dari syarohnya Imam Romli Al Kabir dan Imam Ali Syabromallisi. dari bab Penghalang menjadi walinya nikah.

Dan sebagian ulama mencegah sahnya aqad nikah dengan kinayah secara mutlak(contohnya seperti mentalak lewat sms di HP). Sehingga sebagian ulama juga mencegah sahnya aqad nikah didalam kedua contoh diatas yaitu : (1) aqad nikah dengan tulisannya orang yang bisu, dan (2) aqad nikah dengaan isyarohnya orang yang bisu). Sebagian ulama berkata ; “Tidak sah aqad nikahnya orang yang bisu dengan isyarohnya orang yang bisu. Kecuali jika isyarohnya orang yang bisu itu dimengerti oleh setiap orang. Imam Romli Al Kabir berkata”, Maka jika tidak ada seorangpun yang mengerti kepada isyarohnya orang yang bisu itu, maka yang berhak mengawinkan orang yang bisu itu adalah bapaknya orang yang bisu, kemudian kakeknya orang yang bisu, kemudian Hakim. (Hasyiyah Al Bujairimi, juz 3, halaman 333)

Wallaahu A’lamu Bis Showaab..

J005. APAKAH JIN BISA MASUK SURGA?

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ust mau tanya,

Kalau jin ada yang masuk surga gak? Kalau bisa dengan dalilnya. terima kasih.. wassalamu alaikum

JAWABAN:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama’ tentang masuknya jin kafir ke dalam neraka, tetapi mereka berbeda pendpat tentang masuknya jin mukmin ke dalam syurga. Menurut pendapat yang benar adalah jin yang beriman bisa msuk syurga, ini adalah pendapat yang dipilih oleh imam ibnu katsir dlm kitab tafsirnya juga pendapatnya jama’ah ulama’ salaf. Sedangkan ulama’ yang berpendapat bahwa jin mukmin bisa masuk syurga maka mereka juga berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa jin cuma berada di emperan syurga saja, ada yang berpendapat bahwa jin di syurga tidak makan dan minum, ada yang berpendapat bahwa mereka di syurga tidak bisa melihat kita tetapi kita bisa melihatnya kebalikan ketika di dunia, ini pendapatnya Haris al muhasibi.ada juga yang berpendapat bahwa jin mukmin tidak masuk syurga tetapi pahala mereka adalah tidak masuk neraka dan mereka berada di al a’rof. Wallohu a’lam.

– kitab asbah wan nadhoir imam suyuti :

: لا خلاف في أن كفار الجن في النار . واختلف : هل يدخل مؤمنهم الجنة ، ويثابون على الطاعة ؟ على أقوال ، أحسنها : نعم ، وينسب للجمهور ومن أدلته : قوله تعالى { ولمن خاف مقام ربه جنتان فبأي آلاء ربكما تكذبان } إلى آخر السورة ، والخطاب للجن والإنس ، فامتن عليهم بجزاء الجنة ووصفها لهم ، وشوقهم إليها ، فدل على أنهم ينالون ما امتن به عليهم إذا آمنوا . وقيل : لا يدخلونها ، وثوابهم النجاة من النار . وقيل : يكونون في الأعراف . الثالثة : ذهب الحارث المحاسبي إلى أن الجن الذين يدخلون الجنة يكونون يوم القيامة نراهم ولا يرونا ، عكس ما كانوا عليه في الدنيا .

– kitab tafsir ibnu katsir :

والحق أن مؤمنهم كمؤمني الإنس يدخلون الجنة ، كما هو مذهب جماعة من السلف ، وقد استدل بعضهم لهذا بقوله : ( لم يطمثهن إنس قبلهم ولا جان ) [ الرحمن : 74 ] ، وفي هذا الاستدلال نظر ، وأحسن منه قوله تعالى : ( ولمن خاف مقام ربه جنتان فبأي آلاء ربكما تكذبان ) [ الرحمن : 46 ، 47 ] ، فقد امتن تعالى على الثقلين بأن جعل جزاء محسنهم الجنة ، وقد قابلت الجن هذه الآية بالشكر القولي أبلغ من الإنس ، فقالوا : ” ولا بشيء من آلائك ربنا نكذب ، فلك الحمد ” فلم يكن تعالى ليمتن عليهم بجزاء لا يحصل لهمالي ان قال] ، ولا خلاف أن مؤمني قومه في الجنة ، فكذلك هؤلاء . وقد حكي فيهم أقوال غريبة فعن عمر بن عبد العزيز : أنهم لا يدخلون بحبوحة الجنة ، وإنما يكونون في ربضها وحولها وفي أرجائها . ومن الناس من زعم أنهم في الجنة يراهم بنو آدم ولا يرون بني آدم عكس ما كانوا عليه في الدار الدنيا . ومن الناس من قال : لا يأكلون في الجنة ولا يشربون ، وإنما يلهمون التسبيح والتحميد والتقديس ، عوضا عن الطعام والشراب كالملائكة ، لأنهم من جنسهم . وكل هذه الأقوال فيها نظر ، ول دليل عليها

Wallahu a’lamu bisshowab..

N010. ‘IDDAH BAGI WANITA TIDAK HAID BERTAHUN-TAHUN

PERTANYAAN :

Asslamu alaikum, pengen nanya..

Bagaimana solusi seorang perempuan yang di talak oleh suaminya sedangkan setelah di talaq dia tidak pernah haid lagi, namun sebelumnya biasa haid seperti perempuan umumnya, (sampai sekarang sudah 1 tahun nggak pernah haid) minta jawaban yang bukan sampai sinnul ya’si kalau ada, walaupun sampai beda madzhab karena ini fakta.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Iddahnya tetap harus menunggu 3 sucian, tak bisa dengan model iddah yang lain, walaupun masa haidnya berjauhan dan masa sucinya panjang, tetap memakai iddah tsalatsatu quru’ (3 kali suci). Solusinya bisa dicoba berobat ke dokter atau minum obat agar cepat bisa haid.

– kitab roudhoh (8/369) :

فصل المعتدات أصناف : الأول : من لها حيض وطهر صحيحان ، فتعتد بالأقراء وإن تباعد حيضها وطال طهرها .

– kitab al mausu’ah fiqhiyah kuwaitiyah (30/309) :

ذهب جمهور الفقهاء إلى أن عدة المرأة الحرة ذات الأقراء وهي من لها حيض وطهر صحيحان ثلاثة قروء ، فتعتد بالأقراء وإن تباعد حيضها وطال طهرها ،لقوله تعالى: { والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء }

فصل

المعتدات أصناف :

الأول : من لها حيض وطهر صحيحان ، فتعتد بالأقراء وإن تباعد حيضها وطال طهرها .

الصنف الثاني : المستحاضة ، فإن كان لها مرد ، اعتدت بالأقراء المردود إليها من تمييز أو عادة ، أو الأقل ، أو الغالب إن كانت مبتدأة كما سبق في الحيض ، والأظهر : رد المبتدأة إلى الأقل . وعلى القولين : إذا مضت ثلاثة أشهر ، انقضت عدتها ، لاشتمال كل شهر على حيض وطهر غالبا ، وشهرها ثلاثون يوما ، والحساب من أول رؤية الدم ، هكذا أطلق ، ويمكن أن يعتبر بالأهلة ، كما سنذكره إن شاء الله تعالى في الناسية ، وقد أشار إليه مشيرون ، فإن لم يكن لها مرد وهي المتحيرة ، فقد سبق في كتاب الحيض أنها على قول ترد إلى مرد المبتدأة ، وأن المذهب أن عليها الاحتياط . فإن قلنا : كالمبتدأة ، انقضت عدتها بثلاثة أشهر ، وإن قلنا بالاحتياط ، فالأصح أنها كالمبتدأة أيضا لعظم المشقة في الانتظار . والثاني : يلزمها الاحتياط كمن تباعد حيضها ، فتؤمر بالتربص إلى سن اليأس ، أو أربع سنين ، أو تسعة أشهر ، على الخلاف الآتي ، ولا نقول : تمتد الرجعة وحق السكنى جميع هذه المدة ، لأن الزوج يتضرر به ، بل لا يزيد ذلك على ثلاثة أشهر ، ويختص الاحتياط بما يتعلق بها ، وهو تحريم النكاح .

وإذا قلنا : تنقضي عدتها بثلاثة أشهر في الحال ، فالاعتبار بالأهلة ، فإن انطبق الطلاق على أول الهلال ، فذاك ، وإن وقع في أثناء الشهر الهلالي ، فإن كان الباقي أكثر من خمسة عشر يوما ، حسب قرءا ، وتعتد بعده بهلالين . وإن كان خمسة عشر فما دونها ، فهل يحسب قرءا ؟ وجهان . أصحهما : لا . وعلى هذا ، فقد ذكر أكثرهم أن ذلك الباقي لا اعتبار به ، وأنها تدخل[ ص: 370 ] في العدة لاستقبال الهلال . والمفهوم مما قالوا تصريحا وتلويحا أن الأشهر ليست متأصلة في حق الناسية ، ولكن يحسب كل شهر قرءا لاشتماله على حيض وطهر غالبا . وأشار بعضهم إلى أن الأشهر أصل في حقها ، كما في حق الصغيرة والمجنونة ، ومقتضى هذا أن تدخل في العدة من وقت الطلاق ، ويكون كما لو طلق ذات الأشهر في أثناء الشهر ، كما سنذكره إن شاء الله تعالى . ولو كانت المتحيرة المنقطعة الدم ، ترى يوما دما ، ويوما نقاء ، لم تنقض عدتها إلا بثلاثة أشهر سواء قلنا بالتلفيق أم بالسحب .

والأطهار الناقصة المتخللة لا تنقضي بها العدة بحال .

الصنف الثالث : من لم تر دما ليأس ، وصغر ، أو بلغت سن الحيض أو جاوزته ولم تحض ، فعدتها ثلاثة أشهر بنص القرآن ، ولو ولدت ولم تر حيضا قط ولا نفاسا ، فهل تعتد بالأشهر ، أم هي كمن انقطع حيضها بلا سبب ؟ وجهان . وبالأول قال الشيخ أبو حامد .

قلت : الصحيح الاعتداد بالأشهر ، لدخولها في قول الله تعالى : ( ‘تفسير الآية واللائي لم يحضن ) وذكر الرافعي في آخر العدد عن فتاوىالبغوي : أن التي لم تحض قط ، إذا ولدت ونفست ، تعتد بثلاثة أشهر ، ولا يجعلها النفاس من ذوات الأقراء فجزمالبغوي بهذا ، ولم يذكر الرافعي هناك خلافا . والله أعلم .

Jika berhentinya haidh itu tanpa sebab yang jelas, maka ada dua pendapat:

Qoul JADID → Menunggu usia menapouse, kemudian ber’iddah 3 bulan.

Qoul QADIM → Menunggu sampai diyakini rahimnya bersih, baru ber’iddah sebagaimana iddahnya wanita menapouse di atas. Masa MENUNGGU s/d diyakini barā_atu-r rahim ini ada dua pendapat di kalangan ulama Syafiiyah:
● 9 bulan (masa normal kehamilan)
● 4 tahun (masa maksimal kehamilan)
● 6 bulan (masa maksimal kehamilan)

Sumbangan jawaban ini kami simpulkan dari ibarah dalam
al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab (XVII/hlm. 135-136):

(فصل) وان كانت من ذوات الاقراء فارتفع حيضها، فإن كان لعارض معروف كالمرض والرضاع تربصت إلى أن يعود الدم، فتعتد بالاقراء لان ارتفاع الدم بسبب يزول فانتظر زواله. فإن ارتفع بغير سبب معروف، ففيه قولان. قال في القديم تمكث إلى أن تعلم براءة رحمها ثم تعتد عدة الآيسة، لان العدة تراد لبراءة الرحم. وقال في الجديد تمكث إلى أن تيأس من الحيض ثم تعتد عدة الآيسة لان الاعتداد بالشهور جعل بعد الاياس فلم يجز قبله، فإن قلنا بالقول القديم ففي القدر الذي تمكث فيه قولان. (أحدهما) تسعة أشهر لانه غالب عادة الحمل ويعلم به براءة الرحم في الظاهر. (والثاني) تمكث أربع سنين لانه لو جاز الاقتصار على براءة الرحم في الظاهر لجاز الاقتصار على حيضة واحدة، لانه يعلم بها براءة الرحم في الظاهر، فوجب أن يعتبر أكثر مدة الحمل ليعلم براءه الرحم بيقين.

dan Mughniy-l Muhtāj (III/hlm. 387):

(أو لا) بأن انقطع دمها لا (لعلة) تعرف (فكذا) تصبر حتى تحيض فتعتد بالأقراء أو تيأس فتعتد بالأشهر ( في الجديد ) كما لو انقطع لعلة لأن الله تعالى لم يجعل الاعتداد بالأشهر إلا للتي لم تحض والآيسة وهذه ليست واحدة منهما لأنها ترجو عود الدم فأشبهت من انقطع دمها لعارض معروف. (وفي القديم تتربص) غالب مدة الحمل (تسعة أشهر) لتعرف فراغ الرحم لأن الغالب أن الحمل لا يمكث في البطن أكثر من ذلك. قال البيهقي وقد عاب الشافعي في القديم على من خالفه وقال كان يقضي به أمير المؤمنين عمر بين المهاجرين والأنصار رضي الله تعالى عنهم ولم ينكر عليه فكيف تجوز مخالفته. (وفي قول) من القديم تتربص أكثر مدة الحمل (أربع سنين) لتعلم براءة الرحم بيقين. وفي قول مخرج على القديم أنها تتربص ستة أشهر أقل مدة الحمل. وحاصل القديم أنها تتربص مدة الحمل لكن غالبه أو أكثره أو أقله (ثم تعتد بالأشهر) على كل من أقوال القديم إذا لم يظهر حمل.

Wallahu a’lamu bisshowab..

M014. PROFESI WANITA SEBAGAI TKW

20180206_1616261223011310.png

 

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mau nanya bagaimana hukumnya seorang wanita yang punya suami masih kerjaa di luar negeri tapi sebelum berangkat udah dimintain izin sama suaminya lalu si suami mengizinkanya?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pandangan Fiqih wanita berprofesi sebagai TKW hukumnya haram, TIDAK BOLEH kecuali:

1. Aman dari fitnah yakni aman dari hal-hal yang membahayakan dirinya hartanya serta aman dari maksiat.

2. Suami miskin / tidak mampu menafkahi keluarganya.

3. Mendapat izin dari wali / suami jika suami masih mampu meberi nafkah.

4. Di tempat kerja disertai mahram atau suami

Hukum wanita yang sudah bersuami kerja ke luar negeri tidak boleh, apabila ada salah satu di bawah ini :

1. Tidak mendapat izin dari suami jika suami masih mampu menafaqahi

2. Tidak dapat izin dari ortu ketika kondisi perjalanan sangat rawan meskipun ada dugaan selamat dalam perjalanan

3. Tidak ada dugaan /keyakinan aman dalam perjalanan /negara tujuaan

4. Berangkat ilegal

5. Pekerjaan haram

6. Berangkat tidak disertai mahram / suami, kecuali menurut 1 pendapat boleh disertai dengan perempuan tsiqoh / bisa dipercaya

7. Bepergian memakai perhiasan / bersolek, jika yakin kuat timbul fitnah

8. Bepergian dengan kasyful aurat / membuka aurat

Referensi :

1. Hasiah jamal Juz II hal 135 Cet darul Ihya`

2. Hasiah jamal Juz IV hal 509 Cet darul Ihya`

3. Is`adurrofiq Juz II hal 136

4. Al Majmu’ VIII/341-342

5. Al Majmu’ VII/87

وعباراتها : 1. كما في المجموع الجزء الثامن صحيفة 341-342 ما نصه :فإن كان الحج تطوعاً لم يجز أن تخرج إلا مع محرم، وكذا السفر المباح كسفر الزيارة والتجارة لا يجوز خروجها في شيء من ذلك إلا مع محرم أو زوج قال الماوردي ومن أصحابنا من لصاحب خروجها مع نساء ثقات، كسفرها للحج الواجب، قال وهذا خلاف نص الشافعي وكذا قال الشيخ أبو حامد في «تعليقه» لا يجوز لها الخروج في حج التطوع إلا مع محرم، نص عليه الشافعي في كتاب العدد من «الأم» فقال لا يجوز الخروج في حج التطوع إلا مع محرم قال أبو حامد ومن أصحابنا من قال لها الخروج بغير محرم في أي سفر كان واجباً كان أو غيره، وهكذا ذكر المسألة البندنيجي وآخرون وحاصله أنه يجوز للخروج للحج الواجب مع زوج أو محرم أو امرأة ثقة، ولا يجوز هؤلاء، وإن كان الطريق أمناً، وفيه وجه ضعيف أنه يجوز إن كان أمناً وأما حج التطوع وسفر الزيارة والتجارة وكل سفر ليس بواجب فلا يجوز على المذهب الصحيح المنصوص إلا مع زوج أو محرم، وقيل يجوز مع نسوة أو امرأة ثقة كالحج الواجب، وقد سبقت هذه المسألة مختصرة في أول كتاب الحج في ذكر استطاعة المرأة والله أعلم. انتهى.2. كما في المجموع الجزء السادس صحيفة 87 ما نصه :فرع هل يجوز للمرأة أن تسافر لحج التطوع ؟ أو لسفر زيارة وتجارة ونحوهما مع نسوة ثقات ؟ أو امرأة ثقة ؟ فيه وجهان وحكاهما الشيخ أبو حامد والماوردي والمحاملي وآخرون من الأصحاب في باب الإحصار، وحكاهما القاضي حسين والبغوي والرافعي وغيرهم أحدهما يجوز كالحج والثاني وهو الصحيح باتفاقهم وهو المنصوص في الأم، وكذا نقلوه عن النص لا يجوز، لأنه سفر ليس بواجب. انتهى.

Ulama memang beda pendapat, ada yang memperbolehkan tapi tentu dengan syarat-syarat yang telah diuraikan di atas. Tambahan Ibarot:
a. Kitab Jamal Syarah Manhaj, Darul Ihya’, Juz 2 Hal. 135:

( قوله او دنياه) ومنه ضيق العيش اهـ ع ش (قوله وسن لفـتنة دينى) أى لخوفها- الى ان قال -والمراد بها المعاصى والخروج عن الشرع اهـ

b. Hasyiah Jamal Syarah Manhaj, Darul Ihya’ Juz 4 Hal. 509:

(ولهاخروج فيهالتحصيل نفقة) مثلا بكسب او سـؤال وليس له منعها من ذلك لانتفاء الانفاق المقابل لحسبها(وعليها رجوع) الى مسكنها(ليلا) لانه وقت الدعة وليس لها منعه من التمتع … (قوله لانه وقت الدعة) أى الراحة ويؤخذ منه انه لو توقف تحصيلها على مبيتهافى غير منزله كان لها ذلك اهـ ع ش.

c. Tarsyihul Mustafidin Hal. 352:

يجوز لها الخروج فى مواضع:منهااذااشرف البيت على لانهدام الى ان قال … ومنها اذا خرجت لاكتساب نفقة بتجارة او سؤال او كسب اذا اعسر الزوج.

d. Tarsyihul Mustafidin Hal. 174:

(قوله مع امرأة ثقة) ليس بقيد كما فى المغنى وغيره فيجوز لهاالخروج لفرض الاسلام ككل واجب ولو وحدهااذا أمنت قال فى بشرى الكريم ومن الواجب خروج المرأة الى محل حراشتهالأن طلب الحلال واجب ولو شابة.

e. Mas’uliyatul Mar’ati Al Muslimah Hal. 78 – 79 :

من الأدلة على عدم مشروعية عمل المرأة خارج بيتها:1. وجوب الحجاب الشرعي عليها كما تقدم.2. تحريم السفور المثير للفتنة وهو من لوازم العمل خارج البيت عالبا.3. تحريم الإختلاط بالرجال الأجانب وهو حاصل بالخروج إلى العمل.4. تحريم التبرج وإظهار الزينة والمحاسن الذى وقع فيه أكثر النساء وهو حاصل بالخروج إلى العمل.5. أنها عورة ودرة نفيسة تجب صيانتها والحفاظ عليها.6. أنها مشغولة دائما بالعناية بأولادهاوبيتها وشئون زوجها وهي أعمال تناسب فطرتها.7. أنها فتنة تفتـن الرجال ويفتـنون بها.

Sebagai perbandingan, berikut kami nukilkan fatwa MUI nya :

KEPUTUSAN FATWA MUSYAWARAH NASIONAL VI MAJELIS ULAMA INDONESIA

NOMOR: 7/MUNAS VI/MUI/2000 TENTANG PENGIRIMAN TENAGA KERJA WANITA (TKW) KE LUAR NEGERI

Musyawarah Nasional VI Majelis Ulama Indonesia yang berlangsung pada tanggaL 23-27 Rabi’ul Akhir 1421 H / 25-29 Juli 2000 M dan membahas tentang Pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Luar Negeri, setelah :

Menimbang:

a. Bahwa kepergian wanita meninggalkan keluarga untuk bekerja ke luar kota atau ke luar negeri tanpa mahrani merupakan tindakan yang tidak sejalan dengan ajaran agama lslam;

b. Bahwa pengiriman TKW ke luar negeri sampai sekarang belum ada jaminan perlindungan keamanan dan kehormatan perempuan, bahkan justru mendorong timbulnya tindakan pelecehan terhadap martabat wanita dan bangsa Indonesia;

c. Bahwa kebutuhan dan keperlua bekerja di luar kota dan luar negeri merupakan tindakan terpaksa untuk memenuhi kebutuhan minimal hidup dan karena keterbatasan lapangan kerja di Indonesia;

d. Bahwa oleh karena itu, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang pengiriman TKW.

Memperhatikan:

Pendapat dan saran peserta sidang / MUNAS.

Mengingat:

1. Firman Allah SWT: QS Al-Nur [24]: 31 tentang perempuan harus menjaga kehormatannya dan larangan memperlihatkan keindahannya kecuali kepada mahramnya dan orang tertentu saja;

2. Hadis Nabi ” Seorang laki-laki tidak boleh berdua-duaan dengan seorang perempuan kecuali disertai mahramnya dan perempuan tidak boleh bepergian kecuali bersama mahramnya (HR. Bukhari dan Muslim)” Seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan Han Akhir tidak halal melakukan perjalanan selama tiga hari atau lebih kecuali disertai ayah, suami, anak, ibu, atau mahramnya” (HR. Muslim);

3. Hadis Nabi : Tidak boleh membahayakan din sendiri maupun orang -lain.

4. Kaidah Fiqhiyah: “Menolak/menghindarkan kerusakan (hal-hal negatif diutamakan dari pada mendatangkan kemaslahatan. “Kaidah Fighiyah: “Hajat (kebutuhan sekunder) yang masyhur menempati darurat, dan kondisi darurat membolehkan hal-hal yang dilarang (diharamkan);

MEMUTUSKAN :

1. Perempuan yang meninggalkan keluarga untuk bekerja ke luar kota atau ke luar negeri, pada prinsipnya, boleh sepanjang disertai mahram, keluarga atau lembaga / kelompok perempuan terpercaya (niswan tsiqah).

2. Jika tidak disertai mahram (keluarga) atau niswah tsiqah, hukumnya haram, kecuali dalam keadaan darurat yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara syar’iy, qanuniy, dan ‘adiy, serta dapat menjamin keamanan dan kehormatan tenaga kerja wanita.

3. Hukum haram berlaku pula kepada pihak-pihak, lembaga atau perorangan yang mengirimkan atau terlibat dengan pengiriman TKW seperti dimaksud angka 2; demikian juga pihak yang menerimanya.

4. Mewajibkan kepada pemerintah, lembaga dan pihak lainnya dalam pengiriman TKW untuk menjamin dan melindu keamanan dan kehormatan TKW, serta members kelompok / lembaga perlindungan hukum atau kelompok niswan tsigah di setiap negara tertentu, serta kota-kota tertentu untuk menjamin dan melindungi keamanan serta kehormatan TKW.

5. Keputusan fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, agar setiap orang dapat mengetahuinya / menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Negara asal : Indonesia

Negeri : Jakarta

Badan yang mengisu fatwa : Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Penulis/Ulama : 1. Prof Umar Shihab 2. Dr. H.M. Din Syamsuddin

Tarikh Diisu : 29 Juli 2000

Nota: Pimpinan Sidang Pleno :

Ketua: Prof Umar Shihab

Sekretaris: Dr. H.M. Din Syamsuddin

Ditetapkan di Jakarta 27 Rabi’ulAkhir 1421 H – 29Juli 2000 M

MUSYAWARAH NASIONAL VI TAHUN 2000 MAJELIS ULAMA INDONESIA.

STATUS HARTA HASIL KERJA ISTRI / TKW :

Seorang suami tidak boleh menggunakan atau menyembunyikan harta milik istri tanpa seizin istri, malahan seorang suami wajib menafkahi istri sekalipun si istri tersebut seorang yang kaya. Hemmm, tapi jangan buru-buru minta talak, seandainya kalau istri pulang berkumpul dengan suami menjadikan suami baik (tidak lagi mengambil kiriman uang istri) maka itulah yang harus dilakukan oleh istri demi kebaikan keluarga, ketaatan dan adab kehidupan si istri bersama suami… demikian juga perlu difikirkan nasib anak-anaknya kalau sampai terjadi talak. Dari awal sudah dapat diduga, si suami tidak bertanggung jawab atas hak-haknya sebagai suami, karena biaya anaknya saja minta sama istri, bagaimana kalau nanti bersama istri ? Bahkan, andaikan ada seorang istri tidak dinafkahi oleh suami, maka boleh istri keluar rumah untuk mencari biaya hidup sekalipun TANPA IZIN SUAMI.

– AL-MAJMU’ Imam Nawawi :

(فصل) وان اختارت المقام بعد الاعسار لم يلزمها التمكين من الاستمتاع ولها أن تخرج من منزله، لان التمكين في مقابلة النفقة، فلا يجب مع عدمها. وان اختارت المقام معه على الاعسار ثم عن لها أن تنفسخ فلها أن تنفسخ، لان النفقة يتجدد وجوبها في كل يوم فتجدد حق الفسخ. وان تزوجت بفقير مع العلم بحاله ثم أعسر بالنفقة فلها أن تنفسخ، لان حق الفسخ يتجدد بالاعسار بتجدد النفقة.

Inti ibaroh di atas : Menjadi suami jangan sok kalau memang keadaannya tidak memungkinkan untuk membiayai istri (apalagi orangnya masih muda sehat), mestinya suami dalam hal ini harus bersukur jika si istri rela mencari nafkah sendiri.

Dalam kitab syarah al muhazab bahwa seorang istri tidak wajib menyiapkan sandang, papan dst. Juga tidak wajib memasak, mencuci dst. Kewajiban istri hanya di ranjang.

Jadi kesimpulannya :

Suami tidak berhak mentashorufkan harta istri tanpa seizinya dan jika istri mgizinkan maka pentashorufkan hartanya harus sesuai apa yang dikehendaki istri, jika tidak maka suami wajib menggantinya.

أسنى المطالب في شرح روض الطالب – (ج 3 / ص 441) فَرْعٌ لو نَكَحَتْهُ عَالِمَةً بِإِعْسَارِهِ أو رَضِيَتْ بِالْمُقَامِ معه ثُمَّ نَدِمَتْ فَلَهَا الْفَسْخُ لِأَنَّ النَّفَقَةَ تَجِبُ يَوْمًا فَيَوْمًا وَالضَّرَرُ يَتَجَدَّدُ وَلَا أَثَرَ لِقَوْلِهَا رَضِيت بِإِعْسَارِهِ أَبَدًا لِأَنَّهُ وَعْدٌ لَا يَلْزَمُ الْوَفَاءُ بِهِ كما في نَظِيرِهِ في الْإِيلَاءِ قال الزَّرْكَشِيُّ وَيُسْتَثْنَى يَوْمُ الرِّضَا فَلَا خِيَارَ لها فيه كما أَفْتَى بِهِ الْبَغَوِيّ وَحَكَاهُ ابن الرِّفْعَةِ عن الْبَنْدَنِيجِيِّ وَيُجَدِّدُ الْإِمْهَالَ إذَا طَلَبَتْ الْفَسْخَ بَعْدَ الرِّضَا وَلَا يُعْتَدُّ بِالْمَاضِي لِتَعَلُّقِ الْإِمْهَالِ بِطَلَبِهَا فَيَسْقُطُ أَثَرُهُ بِرِضَاهَا وَفَارَقَ نَظِيرَهُ في الْإِيلَاءِ حَيْثُ لَا يُجَدِّدُ الْإِمْهَالَ بِطُولِ مُدَّتِهِ ثُمَّ وَبِعَدَمِ تَوَقُّفِهَا على طَلَبِهَا لِلنَّصِّ عليها ثُمَّ بِخِلَافِهَا هُنَا وَلَهَا في مُدَّةِ الْإِمْهَالِ مُدَّةُ الرِّضَا بِإِعْسَارِهِ الْخُرُوجُ من الْمَنْزِلِ لِلِاكْتِسَابِ لِلنَّفَقَةِ نَهَارًا بِتِجَارَةٍ أو غَيْرِهَا فَلَيْسَ له مَنْعُهَا من ذلك وَإِنْ قَدَرَتْ على الْإِنْفَاقِ بِمَالِهَا أو الْكَسْبِ في بَيْتِهَا لِأَنَّهُ إذَا لم يُوَفِّ ما عليه لَا يَمْلِكُ الْحَجْرَ عليها وَعَلَيْهَا الْعَوْدُ إلَى الْمَنْزِلِ لَيْلًا لِأَنَّهُ وَقْتُ الْإِيوَاءِ دُونَ الِاكْتِسَابِ وَلَوْ مَنَعَته الِاسْتِمْتَاعُ نَهَارًا جَازَ لَكِنْ تَسْقُطُ نَفَقَةُ مُدَّةِ مَنْعِهَا إنْ مَنَعَتْهُ لَيْلًا عن ذِمَّةِ الزَّوْجِ بِخِلَافِ ما إذَا لم تَمْنَعْهُ لَا يَسْقُطُ شَيْءٌ من نَفَقَتِهَا

.والله أعلم بالصواب.

M013. GAJI PNS DARI HASIL SOGOAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Gimana hukum uang (gaji) setiap bulannya yang diperoleh pegawai. Sedangkan dia menjadi pegawai karena hasil sogokan…?
Tampilkan dengan ta’birnya + ma’hdnya..

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hasil pegawai negeri sipil (PNS) kalau memang dia bekerja sesuai dengan yang ditentukan dan dia memang bisa melaksanakan, maka hukumnya boleh dan halal, namun apabila dia (PNS) bekerja tidak sesuai tugasnya, maka gaji yang diterimanya hukumnya tidak boleh/haram. Jadi tentang hukum suap dan gaji tidak terkait (berdiri sendiri). [ Hasil Bahtsul Masail NU Jawa Timur 2004 Di Ponpes Darussalam Blokagung Banyuwangi ].

Referensi :

1. Nihayatuz Zain Hal 370 :

وقبول الرشوة حرام وهي ما يبذل للقاضي ليحكم بغير الحق أو ليمتنع من الحكم بالحق وإعطاؤها كذلك لأنه إعانة على معصية أما لو رشي ليحكم بالحق جاز الدفع وإن كان يحرم على القاضي الأخذ على الحكم مطلقا أي سواء أعطي من بيت المال أم لا ويجوز للقاضي أخذ الأجرة على الحكم لأنه شغله عن القيام بحقه

2. Raudlah al Thalibin Juz 11 Hal 144 :

فرع قد ذكرنا أن الرشوة حرام مطلقا والهدية جائزة في بعض فيطلب الفرق بين حقيقتيهما مع أن الباذل راض فيهما والفرق من وجهين أحدهما ذكره ابن كج أن الرشوة هي التي يشرط على قابلها الحكم بغير الحق أو الامتناع عن الحكم بحق والهدية هي العطية المطلقة والثاني قال الغزالي في الإحياء المال إما يبذل لغرض آجل فهو قربة وصدقة وإما لعاجل وهو إما مال فهو هبة بشرط ثواب أو لتوقع ثواب وإما عمل فإن كان عملا محرما أو واجبا متعينا فهو رشوة وإن كان مباحا فإجارة أو جعالة وإما للتقرب والتودد إلى المبذول له فإن كان بمجرد نفسه فهدية وإن كان ليتوسل بجاهه إلى أغراض ومقاصد فإن كان جاهه بالعلم أو النسب فهو هدية وإن كان بالقضاء والعمل فهو رشوة

3. Is’adur Rofiq Juz 2 Hal 100 :

(و)منها(أخذ الرشوة)ولوبحق (واعطاؤها)بباطل , ومثلهما السعىفيهما بين الراشىوالمرتشىقال تعالى – ولاتأكلوا أموالكم بينكم بالباطل وتدلوا بها الىالحكام – الأية. قال المفسرون : ليس المراد الأكل خاصة , ولكن لما كان هو المقصود الأعظم من الأموال خصه والمراد من الادلاء فى الآية الاسراع بالخصوصة فىالأموال , وقد لعن رسول الله صلىالله عليه وسلم الراشىوالمرتشىوالرائش -الى ان قال- فمن اعطى قاضيا أوحاكما رشوة أو أهدى اليه هدية فان كان ليحكم له بباطل أو ليتوصل بها لنيل مالا يستحقه أو لأذية مسلم فسق الراشى والمهدى بالإعطاء والمرتشى والمهدى اليه بالاخذ والرائش بالسعى , وان لم يقع حكم منه بعد ذلك أو ليحكم له بحق أو لدفع ظلم أو لينال ما يستحقه فسق الآخذ فقط ولم يأثم المعطى لاضطراره للتوصل لحق بأى طريق كانقضاءه إنما نفذ للضرورة ولا كذلك المال اه بجيرمي

4. I’anatuttholibin Juz 2 Hal 95 :

وعبارة المغنى مع الأصل فإن باع من حرم عليه البيع صح بيعه وكذا سائر عقوده لأن النهي لمعنى خارج عن العقد أي وهو التشاغل عن صلاتها فلم يمنع الصحة كالصلاة في الدار المغصوبة اه

5. Nihayatul Muhtaj Juz 5 Hal 291 :

وماجرت به العادة من جاكمية على ذلك فليس من باب الإجارة وانما هومن باب الارزاق والإحسان والمسامحة بخلاف الإجارة فانهامن باب المعاوضة

6. Al Munjid Hal 102 :

الجاكمية ج جاكميات والجومك ج جوامك : مرتب خدام الدولة من العسكرية والمملكية

7. Hamisy I’anatuttholibin Juz 2 Hal 214 :

قوله فإن ولى سلطان أي مطلقا ذا شوكة كان أم لا بأن حبس أو أسر ولم يخلع فإن أحكامه تنفذ قوله ولو كافرا لم يذكر هذه الغاية في التحفة ولا في النهاية ولا غيرهما وهي مشكلة إذ السلطان يشترط فيه أن يكون مسلما وأما الكافر فلا تصح سلطنته إمامته ولو تغلب ولو أخرها عن قوله أو ذو شوكة وجعلها غاية له لأنه ممكن أن يكون كافرا أو عن أهل وجعلها غاية له وتكون بالنسبة للثاني للرد على الأذرعي القائل بعدم نفوذ تولية الكافر القضاء لكان أولىتأمل قوله أو ذو شوكة غيره السلطان قوله في بلد متعلق بمحذوف حال أي حال كون ذي الشوكة في بلد أي ناحية وقوله بأن انحصرت قوتها أي البلدة فيه أي ذي الشوكة والباء لتصوير كونه له شوكة في بلده وعبارة التحفة والنهاية بأن يكون بناحية انقطع غوث السلطان عنها ولم يرجعوا إلا إليه اه أهل مفعول ولىقوله كمقلد الخ تمثيل لغير الأهل قوله أي مع علمه أي المولي بكسر اللام سلطانا أو ذا شوكة وقوله بنحو فسقه أي المولى بفتح اللام قوله وإلا الخ أي وإن لم يعلم به وقوله ولو علم فسقه لم يوله الواو للحال أي والحال أنه لو كان يعلم بفسقه لم يوله وقوله فالظاهر الخ جواب إن الشرطية المدغمة في لا النافية وقوله كما جزم به شيخنا أي في فتح الجواد قوله وكذا لو زاد الخ أي وكذا لا ينفذ حكمه لو زاد فسقه بأن كان يشرب الخمر في الجمعة مرة فصار يشرب على خلاف العادة قوله أو ارتكب مفسقا آخر أي بأن كان يزني فصار يزني ويشرب الخمر قوله على تردد فيه أي فيما بعد كذا ممن زاد فسقه أو ارتكب مفسقا آخر قوله وجزم بعضهم بنفوذ توليته أي الفاسق مطلقاوقوله وإن عالم بفسقه هذا هو الفارق بين ما جزم به بعضهم وبين ما ذكره قبل قوله وكعبد الخ معطوف على قوله كمقلد قوله نفذ ما فعله أي المولى سلطانا أو ذا شوكة قوله من التولية بيان لماقوله وإن كان الخ غاية في نفوذ التولية أي تنفذ التولية وإن كان هناك أي في الناحية المولى الأهل مجتهد عدل قوله على المعتمد متعلق بنفذ قوله فينفذ قضاء مفرع على نفوذ التولية قوله للضرورة قال البلقيني يستفاد من ذلك أنه لو زالت شوكة من ولاه بموت أو نحوه انعزل لزوال الضرورة وأنه لو أخذ شيئا من بيت المال على ولاية القضاء أو جوامك في نظر الأوقاف استرد منه

Suap menyuap hukumnya haram. Namun bagi orang yang mencalonkan diri sebagai pegawai negeri jika ia menjadi satu-satunya orang yang layak (pantas) atau orang yang berhak memegang jabatan sekalipun juga ada yang lainnya dan tidak diterima kecuali dengan suap, maka dihukumi boleh. Adapun jika dia bukan orang yang pantas untuk jabatan tersebut, maka haram.

Walaupun diperbolehkan untuk menyuap dalam realita sebagaimana di atas, tetapi tetap haram bagi yang menerima suapan tersebut.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 42 / ص 424)

وَيَحْرُمُ الطَّلَبُ عَلَى جَاهِلٍ وَعَالِمٍ قَصَدَ انْتِقَامًا ، أَوْ ارْتِشَاءً ، وَيُكْرَهُ إنْ طَلَبَهُ لِلْمُبَاهَاةِ ، وَالِاسْتِعْلَاءِ كَذَا قِيلَ ، وَالْأَوْجَهُ أَنَّهُ حَرَامٌ بِقَصْدِ هَذَيْنِ أَيْضًا هَذَا كُلُّهُ حَيْثُ لَا قَاضِيَ مُتَوَلٍّ ، أَوْ كَانَ الْمُتَوَلِّي جَائِرًا ، أَمَّا صَالِحٌ مُتَوَلٍّ فَيَحْرُمُ السَّعْيُ فِي عَزْلِهِ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ وَلَوْ أَفْضَلَ وَيَفْسُقُ بِهِ الطَّالِبُ وَلَا يُؤَثِّرُ بَذْلُ مَالٍ مَعَ الطَّلَبِ مِمَّنْ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ ، أَوْ نُدِبَ لَهُ لَكِنْ الْآخِذُ ظَالِمٌ ، فَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ وَلَا نُدِبَ حَرُمَ عَلَيْهِ بَذْلُهُ ابْتِدَاءً لَا دَوَامًا ؛ لِئَلَّا يُعْزَلَ ، وَيُسَنُّ بَذْلُهُ لِعَزْلِ غَيْرِ صَالِحٍ وَيَنْفُذُ الْعَزْلُ ، وَإِنْ أَثِمَ بِهِ الْعَازِلُ ، وَالتَّوْلِيَةُ ، وَإِنْ حَرُمَ الطَّلَبُ ، وَالْقَبُولُمغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج – (ج 4 / ص 392)تَنْبِيهٌ : قَبُولُ الرِّشْوَةِ حَرَامٌ ، وَهِيَ مَا يُبْذَلُ لَهُ لِيَحْكُمَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ، أَوْ لِيَمْتَنِعَ مِنْ الْحُكْمِ بِالْحَقِّ وَذَلِكَ لِخَبَرِ { لَعَنَ اللَّهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ فِي الْحُكْمِ } رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُ وَصَحَّحُوهُ ، وَلِأَنَّ الْحُكْمَ الَّذِي يَأْخُذُ عَلَيْهِ الْمَالَ إنْ كَانَ بِغَيْرِ حَقٍّ فَأَخْذَ الْمَالَ فِي مُقَابَلَتِهِ حَرَامٌ ، أَوْ بِحَقٍّ فَلَا يَجُوزُ تَوْقِيفُهُ عَلَى الْمَالِ إنْ كَانَ لَهُ رِزْقٌ فِي بَيْتِ الْمَالِ وَرُوِيَ { إنَّ الْقَاضِيَ إذَا أَخَذَ الْهَدِيَّةَ فَقَدْ أَكَلَ السُّحْتَ ، وَإِذَا أَخَذَ الرِّشْوَةَ بَلَغَتْ بِهِ الْكُفْرَ } ، وَاخْتُلِفَ فِي تَأْوِيلِهِ ، فَقِيلَ : إذَا أَخَذَهَا مُسْتَحِلًّا ، وَقِيلَ : أَرَادَ أَنَّ ذَلِكَ طَرِيقٌ وَسَبَبٌ مُوصِلٌ إلَيْهِ كَمَا قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ : الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ .

Bismillah, terkait masalah se seorang yang menyogok pihak berwenang agar orang tersebut pendapat kan jatah pns yang pada hakikat x dia tidak berhak krn tidak kayak( tdk lulus) ini tdk bs disamakan dg orang yang merantau krn ingin ke mekah dia menyogok pihak tertentu kemudian dr hasil pekerjaannya dia dapat upah ,hal ini jelas upah yg ia peroleh adalah mustakillah artinya tidak ada hubungan dg riswah tadi karena upahx di peroleh dari pekerjaannya yg mana pekerjaannya tidak bersumber dari hasil sogok, seandainya orang tsb nekad dg cara lain dan sampai jg ke tempat tujuannya yg mana seumpamanya dia ingin kerja di restoran maka dia bs untuk itu.hal ini beda dg pns yang ada dan tidaknya kata tergantung pada keputusan dr pihak berwenang ,makanya dalam masalah ini yang menjadi akar permasalahan adalah keputusan dr yang berwenang masalah sah dan tidaknya ,kalau tidak sah maka jelas gaji yang di peroleh dari yang bukan haknya adalah haram begitu pula keputusan pihak berwenang ( hakim) tidak sah krn hukum yang diputuskan sudah nyata salah bahkan kalau ada hukum yg telah diputuskan kemudian hakim meralat dg hukum lain karena hukum yang pertama nyata salah maka hukum yg pertama rusak atau batal ,adapun masalah riswah itu sepakat haram bagi yang menerima adapun yg memberi kalau dg alasan yang diperbolehkan syariat maka boleh .

فلو بذل مالا ليتولى ،فقد اطلق ابن القاص واخرون انه حرام وقضائه مردود، والصحيح ذكره الروياني وهو انه ان تعين عليه القضاء او كان ممن يستحب له ،فله بذل المال ولكن الاخذ ظالم بالاخذ، وهذا كما اذا تعذر الامر بالمعروف الا ببذل مال ،وان لم يتعين ولم يكن مستحبا ،جاز له بذل المال ليتولى ،ويجوز له البذل بعد التولية لئلا يعزل،والاخذ ظالم بالاخذ ،واما بذل المال لعزل قاض فان لم يكن بصفة القضاة ،فمستحب لما فيه من تخليص الناس منه،ولكن اخذه حرام على الاخذ وان كان بصفتهم فحرام فان فعل وعزل الاول وولى الباذل قال ابن قاص توليته باطلة والمعزول على قضائه ،لان العزل بالرشوة حرام وتولية المرشى والراشى حرام ،وليكن هذا عند تمهد الاصول الشرعية،فاما عند الضرورات وظهور الفتن فلا بد من تنفيذ العزل والتولية جميعا،كتولية البغاة. (روضة الطالبين ج ٨ ص ٨٢)

واما هدايا دار الاسلام فتقسم على ثلاثة اقسام : احدها ان يهدي اليه من يستعين به اما على حق يستوفيه واما على ظلم يدفعه عنه،واما على باطل يعينه عليه ،فهذه هي الرشوة المحرمة ،روي عن انس ابن مالك ان النبي صلى الله عليه وسلم قال لعن الراشي والمرتشي والرائش ،فا الراشي باذل الرشوة ،والمرتشي قابل الرشوة ،والرائش المتوسط بينهما.
فاما باذل الرشوة فان كانت لاستخلاص حق او لدفع ظلم لم يحرم عليه بذلها كما لا يحرم افتداء الاسير بها،وان كانت لباطل يعان عليه يحرم عليه بذلها كما حرم على المبذول له اخذها ووجب رد الرشوة على باذلها ولم يجز ان توضع في بين المال. ( الحاوى الكبير ج ١٦ ص ٢٨٣)

ويحرم على القاص اخذ الرشوة لما روي ان النبي صلى الله عليه وسلم قال لعن الله الراشي والمرتشي في الحكم ولانه اذا اخذ الرشوة بغير الحق فالحكم بغير الحق محرم وكذالك الاخذ عليه ،وان اخذ الرشوة ليوقف الحكم فامضاء الحكم واجب عليه،( بحر المذهب في فروع المذهب الامام الشافعي ج ١٣ ص ٣٠-٣١)

تصرف الامام منوط بالمصلحة .
ومن فروع ذالك انه اذا قسم الزكاة على الاصناف يحرم عليه التفضيل مع تساو ي الحاجات، ومنها اذا اراد اسقاط بعض الجند من الديوان بسبب جاز وبغير سبب لا يجوز حكاه في الروضة .
قال وانما نقض حكم الحا كمين لتبين خطائه والخطاء قد يكون في نفس الحكم بكونه خالف نصا او شيئا مما تقدم وقد يكون الخطاء في السبب كالحكم بينة مزورة ثم تبين خلافه فيكون الخطاء في السبب لا في الحكم وقد يكون الخطأ في الطريق كما اذا حكم بينة ثم بان فسقه وفي هذه الثلاثة ينقض الحكم بمعنى انا نبينا ببطلانه. ( الاشباه والنظائر ص ٧٤+٨٣)

Wallahu a’lamu bisshowab..

J004. NON MUHRIM MEMANDIKAN JENAZAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukumnya kaum wanita memandikan jenazah laki2 karena ini sudah biasa di masyarakat atau sebaliknya laki2 memandikan jenazah perempuan. Mohon penjelasannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Seorang laki-laki lain (bukan mahram) memandikan wanita lain (bukan mahram) atau sebaliknya, meskipun mandinya telah tercukupi namun pelakunya berdosa.

أن الميت لا ينتقض طهره بذلك أنه لو تعدى الاجنبي بتغسيل الاجنبية أو بالعكس أجزأ الغسل وإن أثم الغاسل اه وتقدم عن ع ش الجزم بذلك.

Sesungguhnya mayit tidak menjadi batal kesuciannya sebab persentuhan kulit antar lawan jenis, sungguhpun bila seorang laki-laki lain (bukan mahram) memandikan wanita lain ((bukan mahram) atau sebaliknya mandinya pun telah tercukupi meskipun yang memandikan berdosa. [ Hawaasyi as-Syarwaani III/109 ].

Bila dalam kondisi terpaksa saat laki-laki lain tidak dijumpai yang memandikan kecuali wanita lain atau sebaliknya , maka terdapati tiga pendapat ulama:

1. Yang paling shahih menurut mayoritas ulama ditayammumi dan tidak dimandikan jasad mayat tersebut.

2. Dimandikan dengan memakai pakaian yang menutupi aurat mayat, yang memandikan ditangannya disarungi kain dan sedapat mungkin dengan memejamkan penglihatannya.

3. Tidak dimandikan dan tidak ditayammumi tapi langsung dikubur mayatnya.

– Al-Muhadzdzab V/141 :

إذا مات رجل وليس هناك الا امرأة اجنبية أو امرأة وليس هناك الا رجل اجنبي ففيه ثلاثة اوجه (اصحها) عند الجمهور ييمم ولا يغسل وبهذا قطع المصلح في التنبيه والمحاملى في المقنع والبغوى في شرح السنة وغيرهم وصححه الرواياتي والرفعي وآخرون ونقله الشيخ أبو حامد والمحاملي والبندنيجي وصاحب العدة وآخرون عن اكثر اصحابنا اصحاب الوجوه ونقله الدارمي عن نص الشافعي واختاره ابن المنذر لانه تعذر غسله شرعا بسبب اللمس والنظر فييمم كما لو تعذرحسا (والثاني) يجب غسله من فوق ثوب ويلف الغاسل علي يده خرقة ويغض طرفه ما امكنه فان اضطر الي النظر نظر قدر الضرورة صرح به البغوي والرافعي وغيرهماكما يجوز النظر الي عورتها للمداواة وبهذا قال القفال ونقله السرخسي عن أبى طاهر الزيادي من اصحابنا ونقله صاحب الحاوى عن نص الشافعي وصححه صاحب الحاوى والدارمى وامام الحرمين والغزالي لان الغسل واجب وهو ممكن بما ذكرناه فلا يترك (والثالث) لا يغسل ولا ييمم بل يدفن بحاله حكاه صاحب البيان وغيره وهو ضعيف جدا بل باطل

– Nihayatuzzain :

و يجوز للرجل غسل حليلته من زوجة و امة و لو كتابية، و يجوز للمراة غسل زوجها و يجوز لكل منهما النظر و المس للاخر بدون شهوة و لو لما بين السرة و الركبة، و لابد من اتحاد الجنس في الغاسل و الميت الا فى الحليل و المحرم، فاذا لم يوجد الا اجنبي فى الميت المراة او اجنبية فى الميت الرجل يمم نهاية الزين ١٥١

Boleh seorang laki-laki memandikan orang yang halal baginya,yakni istri dan budak perempuannya. Begitu juga sebaliknya seorang istri boleh memandikan suaminya.Baik istri atau suami tatkala memandikan boleh melihat dan menyentuh dengan catatan tanpa syahwat meski bagian yang disetuh dan dilihat itu adalah bagian tubuh antara pusar dan lutut.Dalam memandikan mayit, wajib menyamakan jenis kelaminnya,misal mayit laki-laki maka yang memandikan adalah laki-laki, begitu sebaliknya kecuali orang yang telah dihalalkan dan para mahromnya.tatkala tidak dijumpai seorangpun kecuali ajnabiy atau orang laen, maka mayit hendaknya ditayamumkan. Wallaahu A’lamu Bis showaab.

Wallahu a’lamu bisshowab..

رابطة خرجي معهد منبع العلوم بتابتا

%d blogger menyukai ini: