Arsip Tag: Berpuasa

P017.BERPUASA DALAM KEADAAN JUNUB

Assalamualaikum WarohmatullohibWabarokatuh.

Pertanyaan:

Ada sepasang suami istri melakukan hubungan intim(berjima’) di malam romadhon sehingga kedua suami istri itu ketiduran , dan ketika terbangun sudah masuk waktu subuh dalam keadaan sama-sama junub. Bagaimanakah hukum puasanya ?

JAWABAN :
Puasanya sah, sebab syaratnya berpuasa tidak ada ketentuan harus suci dari dua hadats.

Referensi:

ALMAUSUU’AH ALFIQHIYYAH XVI/55 :


22 – يَصِحُّ مِنْ الْجُنُبِ أَدَاءُ الصَّوْمِ بِأَنْ يُصْبِحَ صَائِمًا قَبْل أَنْ يَغْتَسِل (1) فَإِنَّ عَائِشَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ قَالَتَا : نَشْهَدُ عَلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أِنْ كَانَ لِيُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ غَيْرِ احْتِلاَمٍ ثُمَّ يَغْتَسِل ثُمَّ يَصُومُ (2) .


(1) البدائع 1 / 38 ، والمغني 3 / 109 ، والمهذب 1 / 188 – 189 ، وجواهر الإكليل 1 / 152 – 153 .
(2) حديث : ” أن عائشة وأم سلمة قالتا : نشهد على رسول الله صلى الله عليه وسلم إن كان ليصبح جنبا من غير احتلام ثم يغتسل ثم يصوم ” أخرجه البخاري ( الفتح 4 / 153 – ط السلفية ) .

Berpuasa hukumnya SAH bagi orang junub , seperti orang yang memasuki shubuh sebelum ia menjalani mandi besar . Karena Aisyah dan Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anhuma berkata : “ Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’ dengan isterinya, kemudian ia mandi dan berpuasa” (Hadits Riwayat Bukhari 4/153). ALBADAA-I’ I/38, ALMUGHNI III/109, ALMUHADDZAB I/188-189, JAWAAHIR AL-IKLIIL I/152-153.

P016.HUKUM MEMAKAI OBAT TETES MATA DAN CELAK KETIKA BERPUASA

Hukum Memakai Obat Tetes Mata dan Celak ketika Berpuasa

Kelilipan atau mata merah adalah hal yang wajar dialami oleh sebagian orang. Sehingga solusinya biasanya dengan cara memberikan obat tetes agar mata kembali segar dan tidak merah lagi. Namun, apa jadinya jika sakit mata itu menyerang saat puasa, apakah tetap boleh memasukkan obat mata saat puasa? Berikut penjelasannya:

Memasukkan obat tetes mata tidaklah membatalkan puasa, sekalipun setelah diteteskan akan terasa pahit di tenggorokan. Karena mata adalah bukan termasuk lubang yang dapat menghantarkan sesuatu ke dalam perut, sehingga menggunakan obat tetes mata atau celakan di siang hari adalah tidak membatalkan puasa.

Hal ini telah diterangkan oleh Imam al Syarqawi di dalam kitab Assyarqawi ala Attahrir (juz. 1, hal. 432. Indonesia: al Haramain, tth)

(فلا يضر الاكتحال ( اي لا يكره في نهار رمضان لأنه لم يرد فيه نهي نعم هو خلاف الاولى فالأولى تركه خروجا من خلاف مالك فإنه مفطر عنده) وان وجد به طعم الكحل في الحلق  (خرج ما لو وجد عينه كأن ظهرت في نحو نخامة فإن ابتلعها ضر والا فلا.

(Maka tidaklah membahayakan bercelak) yakni tidak makruh di siang Ramadan karena ia tidak dilarang, iya tetapi khilaful aula, yakni yang lebih baik ditinggalkan, karena untuk keluar dari bertentangan dengan Imam Malik yang baginya hal itu membatalkan puasa).

(Meskipun terdapat rasa celak itu di dalam tenggorokan) kecuali jika sesuatu yang terasa di dalam tenggorokan itu berupa benda yang jelas semisal lendir dahak, maka jika ia menelannya dapat membahayakan puasa, tetapi jika tidak ditelan, maka tidak membahayakan puasa.

Hal ini juga telah difatwakan oleh KH. Ali Mustafa Ya’qub di dalam buku Ramadhan bersama Ali Mustafa Ya’qub (hal. 37, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011) ketika ditanya seputar obat tetes mata di siang hari saat berpuasa. Beliau menjawab bahwa obat tetes mata tidak sampai ke rongga perut. Cairan itu hanya sampai di kelopak mata saja. Jadi, orang yang memakai obat tetes tersebut tidak dikategorikan minum obat tetes mata. Sehingga puasanya tidak batal.

Hukum tidak batalnya puasa orang yang memakai tetes mata juga telah difatwakan oleh Syekh Yusuf al Qaradhawi di dalam Fatawa al Mu’ashirah (juz 1, Kuwait: Darul Qalam, 2000, hal. 325-328). Pendapatnya ini juga mengikuti pendapatnya Imam Ibnu Taimiyah di dalam Maj’mu’ Fatawa-nya.