Arsip Tag: Hasil Bahsul Masail IKABA

M021. HUKUM MEMASANG GIGI PALSU DARI EMAS

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

1. Bagaimana hukum memasang gigi palsu?
2. Bolehkah menambalnya dengan besi atau emas?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1. Boleh menambal gigi berlubang atau mengganti gigi yang dicabut

2. Boleh menambal gigi berlubang pakai besi atau pake emas juga tidak apa-apa dengan syarat ada hajat itu juga kalau ada fulusnya.

Referensi : Lanjutkan membaca M021. HUKUM MEMASANG GIGI PALSU DARI EMAS

H001. HUKUM MENGEROYOK MALING SECARA MASSAL SAMPAI MATI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum wr wb..

Bagaimana hukumnya kalau maling di kroyok masal sampai meninggal?
Apa di perbolehkan oleh agama?
Sedang dalam islam ada aturan tersendiri seperti misalkan mencuri maka dipotong tanggannya dan seterusnya.
Bagaimana pendapat ustadz di group ini?

 

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam amar ma’ruf nahi munkar mbo ya kita sebagai masyarakat Lanjutkan membaca H001. HUKUM MENGEROYOK MALING SECARA MASSAL SAMPAI MATI

M020. HUKUM BEROBAT KE DOKTER NON MUSLIM

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

mau nanya ne yai.. bolehkah seorang muslimah memeriksakan kehamilannya sampai melahirkan ke bidan yang beragama kristen? Di desa saya bidannya cuman satu tapi kristen. Walaupun ada yang islam tapi jauh tempatnya.
Mohon pencerahannya..
Syukron katsir..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Berobat kepada dokter / tabib non muslim itu diperbolehkan dengan syarat tidak adanya orang islam yang mampu menggantikan posisinya, yang bisa melakukan pengobatan seperti dokter non muslim tersebut, dan dokter tersebut bisa dipercaya sekiranya dia tidak membawa dloror (membahayakan) bagi kita orang muslim. Wallaahu A’lam. Lanjutkan membaca M020. HUKUM BEROBAT KE DOKTER NON MUSLIM

M019. HUKUM MEMBELI BARANG YANG MASIH DALAM TANAH ATAU MASIH DALAM KULITNYA.

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..
Kalau ada orang yang au membeli kacang tapi masih dalam tanah dan tentunya tidak tau persis seperti apa isi kacang itu.
Bolehkah membeli kacang yang masih dalam tanah tersebut?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

(و) يحرم أيضا بيع (مالم يره) قبل العقد حذرا من الغرور أي ألخطر لما روى مسلم أنه صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الغرر أي البيع المشتمل على الغرر فى المبيع قال الحصني وفى صحة بيع ذالك قولان احدهما أنه يصح وبه قال الأمة الثلاثة وطائفة من أئمتنا منهم البغوي والروياني والجديد الاظهر أنه لايصح لانه غرر انتهى. سلم التوفيق ص ٥٣

Lanjutkan membaca M019. HUKUM MEMBELI BARANG YANG MASIH DALAM TANAH ATAU MASIH DALAM KULITNYA.

S024. HUKUM MAKMUM MASBUQ KETINGGALAN MEMBACA FATIHAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Ustad nyoonah penjelasan epon tentang makmum MASBUK, pas ka’dintoh poleh manabi makmum baca fatihah baru separuh tapi imam sudah rukuk, apa yang harus dilakukan makmum, apakah makmum harus ikut imam rukuk ataukah makmun harus menyelesaikan bacaan fatihahnya dulu, mohon penjelasannya ustadz.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

فإن قرأه وأدرك الإمام في الركوع فقد أدرك الركعة، فإن لم يدركه فيه فاتته الركعة ولا يركع، لأنه لا يحسب له بل يتابعه في هويه للسجود وإلا بطلت صلاته.(قوله: لغت ركعته) أي لأن شرط عدم إلغائها إدراكه في الركوع.

Jika masbuq menyempurnakan bacaan fatekhahnya dan bisa menemui imam dalam ruku’ maka masbuq telah menemukan satu rokaat, jika tidak menemukan imam dalam rukuk maka dia kehilangan satu rokaat dan tidak boleh ruku’ karena rukuknya tidak terhitung baginya, tapi ikut imam dalam turun ke sujud, jika tidak maka batallah sholatnya masbuq yang menyempurnakan fatekah dan tidak bisa menemui imam saat ruku kemudian dia rukuk.

Tidak dihitung dan sholatnya tidak batal kecuali jika si imam akan turun ke sujud sedangkan dia masih dalam fatihahnya.

وبل الغمام في أحكام المأموم و الإمام ص ٣١.

فإن ركع الإمام و المأموم المسبوق في الفاتحة فإن كان لم يشتغل بشيء غير الفاتحة قطع القراءة و ركع معه و تحمل عنه بقية الفاتحة كما يتحملها إذا ركع عقب إحرامه أو وجده راكعا . فإن لم يتابعه حتى فارق الإمام أقل الركوع فاتته الركعة و لا تبطل صلاته إلا إن تخلف عنه حتى شرع الإمام في الهوي للسجود.

Kesimpulan : batal jika imam sujud, sedangkan masbuq masih fatihah.

Wallahu a’lam

Dalam i’anah Tholibiin halaman 138 ada penjelasan makmaum masbuQ hukmiy dan ada masbuQ haQiQiy. Makmum tersebut ikut gerakan imam saja, jadi langsung ikut imam rukuk saja dan tidak perlu meneruskan fatihahnya karena ia dihukumi masbuQ hukmi dan alfatihahnya ditanggung oleh imam.

وإن وجد الإمام في القيام قبل أن يركع وقف معه، فإن أدرك معه قبل الركوع زمنا يسع الفاتحة بالنسبة للوسط المعتدل فهو موافق، فيجب عليه إتمام الفاتحة ويغتفر له التخلف بثلاثة أركان طويلة كما تقدم.

وإن لم يدرك مع الإمام زمنا يسع الفاتحة فهو مسبوق يقرأ ما أمكنه من الفاتحة، ومتى ركع الإمام وجب عليه الركوع معه.

Jika mendapati Imam dalam keadaan berdiri sebelum ruku’, maka makmum mengikuti saja. Ketika Makmum tersebut mendapat waktu guna menyempurnakan bacaan Fatihahnya sebelum ruku’ bersama Imam, maka ikuti saja Imam itu, dan wajib menyempurnakan bacaan fatihahnya. dan makmum yang demikian keadaannya di perbolehkan menselisihi 3 gerakan Imam yang panjang”.
“Dan ketika Makmum tidak mendapati keluasan waktu untuk menyelesaikan bacaan Fatihahnya, maka yang demikian itu di anggap sebagai Makmum Masbuq, ia hanya membaca Fatihah yang ia bisa saja. dan ketika Imam telah Ruku’, maka ia juga harus mengikuti ruku’nya Imam”. [ Nihayatuzain halaman 122 ].

Sebelum kita membahas makmum bisa dihukumi masbuQ pada rokaat kedua,ketiga dan keempat, maka tidak ada salah nya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu makmum masbuQ dan yang muwafiq, silahkan anda fahami dari ibarot diatas. Selanjut nya, anda bisa memahami bahwaa makmum masbuQ itu bisa terjadi pada rokaat kedua,ketiga dan keempat pada ibarot selanjutnya ini, dan juga dalam ibarot ini menjelaskan bahwaa bcaan imam yang cepat, itu akan memungkinkan makmumnya tersebut akan masbuQ pada kesemua rokaatnya, al hasil.. Makmum tersebut tidak hrus membaca sempurna fatihahnya pada tiap2 rokaat-nya dalam sholat berjamaah tersebut, sebab statusnya masbuQ ( secara hukmiy ) dan fatihahnya ditanggung oleh imamnya. Ini ibarot nya:

ولو اقتدى بإمام راكع فركع واطمأن معه في ركوعه، ولما أتم الركعة وقام وجد إماما غيره راكعا فنوى مفارقة هذا واقتدى بالأخر وركع واطمأن معه، وهكذا إلى آخر صلاته جاز، وعلى هذا فيمكن سقوط الفاتحة عنه في جميع الركعات،

ولو إقتدى بإمام سريع القراءة على خلاف العادة، والمأموم معتدلها، وكان في قيام كل ركعة لايدرك مع الإمام زمنا يسع الفاتحة من الوسط المعتدل فهو مسبوق في كل ركعة فيقرأ من الفاتحة ما ادركه، وإذا ركع إمامه ركع معه وسقط عنه باقي الفاتحة لتحمل الإمام له، وعلى هذا فيمكن سقوط بعض الفاتحة عنه في كل ركعة.

Dan Ketika Imam telah ruku’ maka Makmum kemudian mengikuti ruku’nya, dan ketika si makmum menyempurnakan ruku’nya, tapi kemudian dia mendapati Imamnya telah ruku’ (Pada Roka’at berikutnya) laka si makmum harus berniat Mufaroqoh (Memisahkan diri dai Imam) dan kemudian berniat mengikuti Makmum yang lain sebagai Imamnya yang baru untuk di ikuti Ruku’nya secara Thumakninah, yang demikian ini memang di perbolehkan. dalam kasus seperti ini, makmum harus menggugurkan bacaan fatihahnya agar bisa mengikuti Imam tersebut di setiap roka’atnya (Membca fatihah sekedarnya, Untuk bisa masuk dalam kategori makmum yang sah).
Dan apa bila si makmum mengikuti Imam yang bacaannya cepat, dan makmum telah terbiasa dengan Imam itu, dan makmum itu tidak bisa mendapati pada setiap roka’atnya bersama Imam untuk bisa membaca fatihah yang biasa-biasa saja yang dapat mengimbangi gerakan Imam, maka Makmum seperti ini masuk dalam kategori sebagai Masbuq di setiap roka’atnya, maka Makmum di perbolehkan membaca fatihahnya yang bisa ia dapati (sebisanya saja) kemudian ia ruku’ mengikuti Imamnya, tidak perlu menyempurnakan bacaan fatihahnya, karena bacaan fatihahnya telah di tanggung sama Imamnya. Maka hal seperti ini bisa saja terjadi di setiap roka’atnya. [ Nihayatuzain halaman 60 ].

Wallohu a’lam.

 

MAKMUM KETINGGALAN MEMBACA FATIHAH KARENA IMAM SHALATNYA CEPAT

Bacaan surat Fatihah di dalam shalat hukumnya wajib dan termasuk rukun shalat, berarti bagi yang tidak membaca surat Fatihah ketika shalat maka dipastikan shalatnya tidak sah.

Namun bagi makmum yang lambat dalam bacaannya maka mendapat kemudahan dengan tetap dihukumi sah shalatnya baik makmum muwafiq maupun makmum masbuq. Kalau makmum tidak sempat menyempurnakan membaca Fatihah, maka imam yang mananggung kekurangan bacaan makmum tersebut.

Dalam kondisi bacaan fatihah imam cepat maka makmum tetap harus mengikuti gerakan imam, artinya makmum tidak perlu menyelesaikan bacaan Fatihahnya kemudian menyusul imamnya, bahkan ketika imamnya ruku’ maka makmum juga mengikutinya ruku’ meskipun dia belum selesai dari bacaan Fatihahnya, karena dalam kondisi demikian imam menanggung sisa bacaan yang tidak sempat dia lanjutkan, dan shalat jamaahnya tetap dihukumi sah.

Seseorang dimaafkan karena bacaannya biasanya pelan-pelan/tidak bisa cepat maka bacaan Fatihahnya di tanggung imam sedang imam cepat bacaan Fatihahnya dengan catatan tidak boleh telat atau ketinggalan tiga rukun panjangnya imam dan tidak karena sibuk membaca iftitah atau ta’awwudz (misal diulang-ulang) jika imam ruku’ maka ikut ruku’ dengan imam maka ia mendapat satu rakaat bersama imam, namun jika tidak ruku’ dan imam hendak sujud ia belum ruku’ juga maka ia tidak mendapat satu rakaat bahkan ia harus langsung mengikuti imam yang hendak turun untuk sujud jika tidak maka batal atau niat mufaraqah. Wallahu a’lam.

Referensi:
Nihayah az Zain hal. 122

ﻭﺇﻥ ﻭﺟﺪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻛﻊ ﻭﻗﻒ ﻣﻌﻪ، ﻓﺈﻥ ﺃﺩﺭﻙ ﻣﻌﻪ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﺯﻣﻨﺎ ﻳﺴﻊ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﻮﺳﻂ ﺍﻟﻤﻌﺘﺪﻝ ﻓﻬﻮ ﻣﻮﺍﻓﻖ، ﻓﻴﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻭﻳﻐﺘﻔﺮ ﻟﻪ ﺍﻟﺘﺨﻠﻒ ﺑﺜﻼﺛﺔ ﺃﺭﻛﺎﻥ ﻃﻮﻳﻠﺔ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ. ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺪﺭﻙ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺯﻣﻨﺎ ﻳﺴﻊ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻓﻬﻮ ﻣﺴﺒﻮﻕ ﻳﻘﺮﺃ ﻣﺎ ﺃﻣﻜﻨﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ، ﻭﻣﺘﻰ ﺭﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﻣﻌﻪ

I’anah ath Thaalibiin juz 2 hal. 40

واعلم) أن الأعذار التي توجب التخلف كثيرة: منها أن يكون المأموم بطئ القراءة لعجز خلقي لا لوسوسة، والإمام معتدلها، وأن يعلم أو يشك قبل ركوعه وبعد ركوع إمامه أنه ترك الفاتحة، وأن يكون المأموم لم يقرأها منتظرا

سكتة إمامه عقبها فركع الإمام عقب قراءته الفاتحة، وأن يكون المأموم موافقا واشتغل بسنه كدعاء الافتتاح والتعوذ، وأن يطول السجدة الأخيرة عمدا أو سهوا، وأن يتخلف لإكمال التشهد الأول أو يكون قد نام فيه متمكنا، وأن يشك هل هو مسبوق أو موافق؟ فيعطى حكم الموافق المعذور ويتخلف لقراءة الفاتحة، وأن يكون نسي أنه في الصلاة ولم يتذكر إلا والإمام راكع أو قريب منه، أو يكون سمع تكبيرة الإمام بعد الركعة الثانية فظنها تكبيرة التشهد فإذا هي تكبيرة قيام فجلس وتشهد، ثم قام فرأى الإمام راكعا .

وقد ذكر الشارح بعضها.

ومما ينسب للشيخ العزيزي: إن رمت ضبطا للذي شرعا عذر * * حتى له ثلاث أركان غفر: من في قراءة لعجزه بطئ * * أو شك إن قرا ومن لها نسي وصف موافقا لسنة عدل * * ومن لسكتة انتظاره حصل من نام في تشهد أو اختلط * * عليه تكبير الإمام ما انضبط كذا الذي يكمل التشهدا * * بعد إمام قام منه قاصدا والخلف في أواخر المسائل * * محقق فلا تكن بغافل وقوله: والخلف في أواخر المسائل، وهي ثلاثة: من نام في تشهده الأول ممكنا مقعده بمقره فما انتبه من نومه إلا وإمامه راكع، ومن سمع تكبير إمامه للقيام فظنه لجلوس التشهد فجلس له وكبر إمامه للركوع فظنه للقيام من التشهد الأول ثم على أنه للركوع.

ففي هاتين المسألتين جرى الخلاف بين العلامتين ابن حجر، والشمس الرملي، فقال الأول: هو مسبوق، فيلزمه أن يقرأ من الفاتحة ما تمكن منها.

وقال الثاني: هو موافق، يغتفر له ثلاثة أركان طويلة.

والمسألة الثالثة: من مكث بعد قيام إمامه لإكمال التشهد الأول، فلا انتصب وجد إمامه راكعا أو قارب أن يركع.

فقال الرملي: هو موافق، يغتفر له ما مر من الأركان.

وقال حجر: هو كالموافق المتخلف لغير عذر، فإن أتم فاتحته قبل هوى

سجدته إلا والإمام راكع أو قارب أن يركع، فقال الرملي: هو كموافق.

وعند حجر: كالمسبوق.

ومسألة خامسة، وهي: ما لو شك هل أدرك زمنا يسع الفاتحة أم؟ فجرى في التحفة على أنه يلزمه الاحتياط فيتخلف لا تمامها ولا يدرك الركعة إلا إن أدركه في الركوع، فلو أتمها والإمام آخذ في الهوي للسجود لزمه المتابعة ويأتي بعد سلام الإمام بركعة، ولو لم يتم حتى هوي الإمام للسجود لزمه نية المفارقة، وإلا بطلت صلاته.

والذي جرى عليه الرملي ومثله الخطيب، أنه كالموافق، فيجري على ترتيب صلاة نفسه ويدرك الركعة، ما لم يسبق بأكثر من ثلاثة أركان طويلة.

وبه أفتى الشهاب الرملي، وظاهر الإمداد يميل إليه.

قوله: كإسراع إمام قراءة) تمثيل للعذر.

والمراد بالإسراع: الاعتدال، فإطلاق الإسراع عليه لأنه في مقابلة البطء الحاصل للمأموم.

وأما لو أسرع الإمام حقيقة بأن لم يدرك معه المأموم زمنا يسع الفاتحة للمعتدل فإنه يجب على المأموم أن يركع مع الإمام ويتركها لتحمل الإمام لها، ولو في جميع الركعات

Nihayah az Zain hal. 60

ﻭَﻟَﻮِ ﺍﻗْﺘَﺪَﻯ ﺑِﺈِﻣَﺎﻡٍ ﺳَﺮِﻳْﻊَ ﺍﻟﻘِﺮَﺍﺀَﺓِ ﻋَﻠَﻰ ﺧِﻼَﻑِ ﺍﻟﻌَﺎﺩَﺓِ ﻭَﺍﻟﻤَﺄﻣُﻮﻡُ ﻣُﻌْﺘَﺪِﻟُﻬَﺎ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﻗِﻴَﺎﻡِ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ ﻻَﻳُﺪْﺭَﻙُ ﻣَﻊَ ﺍﻹِﻣَﺎﻡِ ﺯَﻣَﻨًﺎ ﻳَﺴَﻊُ ﺍﻟﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻮَﺳَﻂِ ﺍﻟﻤُﻌْﺘَﺪِﻝِ ﻓَﻬُﻮَ ﻣَﺴْﺒُﻮﻕٌ ﻓِﻰ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ ﻓَﻴَﻘْﺮَﺃُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﻣَﺎ ﺃَﺩْﺭَﻛَﻪُ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﻛَﻊَ ﺇِﻣَﺎﻣُﻪُ ﺭَﻛَﻌﺾ ﻣَﻌَﻪُ ﻭَﺳَﻘَﻂَ ﺑَﺎﻗِﻲَ ﺍﻟﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﻟِﺘَﺤَﻤُّﻞِ ﺍﻹِﻣَﺎﻡِ ﻟَﻪُ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻫَﺬَﺍ ﻓَﻴُﻤْﻜِﻦُ ﺳُﻘُﻮﻁُ ﺑَﻌْﺾِ ﺍﻟﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﻋَﻨْﻪُ ﻓِﻰ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ. ﺇﻫــ

I’anah ath Thaalibiin juz 1 hal. 31-35

و) منها (عَدَمُ تـخـلُّفٍ عن إمام بِرُكْنَـيْن فِعْلِـيَّـين) مُتوالـيـين تامّين (بلا عذر مع تَعَمُّد وعِلـم) بـالتـحريـم، وإن لـم يكونا طويـلـين. فإن تـخـلف بهما بطلت صلاته لفحشِ الـمخالفة، كأن رَكعَ الإِمامُ، واعتدَلَ وَهوِيَ للسجودِ ــــ أي زالَ من حَدّ القـيامِ ــــ والـمأموم قائمٌ. وخرج بـالفِعْلِـيَّـين القَوْلِـيان، والقَوْلـيُّ والفِعْلـيُّ (و) عَدَمُ تـخـلّفٍ عنه معهما (بأكثر من ثَلاثِة أركانٍ طويـلة) فلا يحسب منها الاعتدالُ والـجلوسُ بـين السجدتـين (بعذرٍ أوْجَبَه) أي اقتضى وُجوب ذلك التَّـخـلّف، (كإِسراع إمام قراءة) والـمأموم بُطيء القراءة لعجز خَـلْقـيّ، لا لِوَسْوَسَةٍ أو الـحركات. (وانتظامُ مأمومٍ سكْتَتَه) أي سكتَةَ الإمام لـيقرأ فـيها الفـاتـحة، فركع عَقِبَها، وسَهْوُه عنها حتـى ركع الإمام. وشَكُّهُ فـيها قبل ركوعه. أما التـخـلف لِوَسْوسَة، بأن كان يُردّد الكلـمات مِن غيرِ مُوجبٍ فَلـيس بعذرٍ. قال شيخنا: ينبغي فـي ذي وَسوسةٍ صارت كالـخُـلقـيةِ ــــ بحيث يقطع كل مَن رَآهُ أنه لا يـمكنهُ تَركُها ــــ أن يأتـيَ فـيهِ ما فـي بطيءِ الـحركة، فـيـلزمُ الـمأمومَ فـي الصُّوَرِ الـمذكورة إتـمامُ الفـاتـحة، ما لـم يتـخـلف بأكثر من ثلاثة أركان طويـلة، وإن تـخـلف مع عذر بأكثر من الثلاثة بِأنْ لا يفرغَ مِنَ الفـاتـحةِ إلاّ والإمامُ قائمٌ عن السُّجودِ أو جالِسٌ للتشهّد (فلـيوافِقْ) إمامَه، وُجوباً (فـي) الركن (الرابع) وهو القـيام، أو الـجلوس للتشهّد، ويترك تَرتـيبَ نفسِه، (ثم يَتدارَك) بعد سلام الإمام ما بقـيَ علـيه، فـإِن لـم يُوافِقهُ فـي الرابعِ، مَع عِلـمِهِ بوجوبِ الـمتابعةِ ولـم يَنْوِ الـمفـارَقَة بَطُلَتْ صَلاتُه، إن عَلِـم وتَعَمّد. وإن رَكعَ الـمأمومُ مع الإمامِ فشَكَّ هل قَرَأ الفـاتـحةَ، أو تَذكَّرَ أنه لـم يَقْرَأْها؟ لـم يَجُزْ له العَوْدُ إلـى القِـيام، وَتَداركَ بَعدَ سلام الإمام رَكعةً. فإن عادَ عالِـماً عامِداً بَطلتْ صلاتُه، وإلا فلا. فلو تـيقّنَ القراءَةَ وشَكَّ فـي إِكمالها فـإِنه لا يؤثّر. (ولو اشتغل مسبوقٌ) وهو مَنْ لـم يُدرِكْ من قِـيامِ الإمام، قدراً يَسَعُ الفـاتـحةَ بـالنسبة إلـى القِراءةِ الـمعتدلة وهو ضِدُّ الـموافِق. ولو شَكَّ هل أدْرَك زمناً يَسَعها؟ تـخـلف لإِتـمامها، ولا يُدرِك الركعة ما لـم يُدرِكْه فـي الركوع (بسُنّة) كتَعَوُّذٍ، وافتتاحٍ، أو لـم يشتغل بشيء، بأن سكت زمناً بعد تـحرُّمهِ وقبل قراءته، وهو عَالـم بأن واجِبَه الفـاتـحة.

ولو اشتغل مسبوقٌ) وهو مَنْ لـم يُدرِكْ من قِـيامِ الإمام، قدراً يَسَعُ الفـاتـحةَ بـالنسبة إلـى القِراءةِ الـمعتدلة وهو ضِدُّ الـموافِق

I’anah ath Thaalibiin juz 2 hal. 36-37

وعُذِرَ) مَنْ تَـخـلَّف لِسُنّة، كبُطْءِ القراءِة ــــ علـى ما قاله الشيخان، كـالبَغوِيّ ــــ لِوُجوب التـخـلّفِ، فـيَتـخـلّفْ ويُدْرِك الرَّكعةَ، ما لـم يُسْبَق بأكثر مِن ثلاثةِ أركانٍ، خِلافاً لـما اعتـمَدَهُ جَمعٌ مُـحقِّقونَ مِن كونِهِ غيرَ مَعذورٍ لِتقصِيرِهِ بـالعُدولِ الـمذكور. وَجَزَمَ بهِ شيخنا فـي شرح الـمنهاج وفتاويه، ثم قال: مَن عَبَّر بعذره فعِبـارتُه مُؤَوَّلة. وعلـيه: إن لـم يدرِكِ الإمامَ فـي الركوع فـاتته الرَّكعة، ولا يَرْكع، لأنه لا يُحسَبَ له، بل يُتابِعه فِـي هُوِيّه للسجودِ، إلا بطلت صلاته، إن علـم وتعمّد. ثم قال: والذي يتـجه أنه يتـخـلف لقراءة ما لَزِمَه حتـى يريد الإمامُ الهُويَّ للسجود، فـإِن كمل وافقه فـيه، ولا يركع، وإلا بطلت صلاته إن علـم وتعمد، وإلا فـارقه بـالنـية. قال شيخنا فـي شرح الإِرشاد: والأقرب للـمنقولِ الأوّلُ، وعلـيه أكثرُ الـمتأخرين. أما إذا رَكع بدون قراءةِ قدرها فتبطل صلاته. وفـي شَرْحِ الـمنهاج ــــ له ــــ عن مُعْظَمِ الأصحاب: أنه يَرْكَع ويَسقُط عنهُ بَقِـيةُ الفـاتـحة. واختـير، بل رجحه جمع متأخرون، وأطالوا فـي الاستدلال له، وأن كلام الشيخين يقتضيه. أما إذا جَهَل أن واجِبَهُ ذلك فهو تـخَـلّفِه لِـما لَزِمَهُ مُتَـخـلّف بعذرٍ. قاله القاضي . وخرج بـالـمسبوقِ الـموافقُ، فـإِنه إذا لـم يُتِـمّ الفـاتـحةَ لاشتغالهِ بِسُنّة؛ كدُعاءِ افتتاحٍ، وإن لـم يظنّ إدراك الفـاتـحةَ معه، يكون كبطيءِ القراءةِ فـيـما مَرّ، بلا نزاع.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N018. HUKUM ORANG TUA FASIQ MENJADI WALI NIKAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukumya orang tua mengawinkan anak perempuanya sedangkan orang tuanya gak pernah sholat tanpa mewakilkan sama hakim atau Kiai. Apa dampaknya sama kedua mempelai?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Perwalian yang dilakukan oleh orang fasik terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, menurut pendapat yang kuat tidak sah sebab orang yang tidak mengerjakan shalat karena malas berarti fasik sedang perwalian orang fasik tidak dibenarkan, sedang menurut pendapat kalangan Malikiyyah, Hanafiyyah dan pendapat segolongan ulama di kalangan syafi’iyyah seperti al-Ghozali, Ibn Abdis Salam, an-nawaawi, as-Subky dan Ibn Shalah hukumnya sah dan boleh.

(مسألة : ك) : يشترط في الولي عدم الفسق على الراجح…والقول الثاني وهو الذي عليه عمل الناس منذ أزمنة ، بل لا يسعهم إلا هو ، وأفتى به المتأخرون ، وصححه ابن عبد السلام والغزالي ، وهو مذهب مالك وأبي حنيفة وجماعات أن الفاسق يلي مطلقاً

Disyaratkan dalam wali tidak adanya kefasikan menurut pendapat yanh kuat… Sedang pendapat yang kedua yang sering dijumpai dan dikerjakan dikalangan orang-orang dan difatwakan oleh ulama-ulama mutaakhkhirin serta dibenarkan oleh Ibn Abdis Salam dan al-Ghozali juga merupakan madzhab dari Imam malik dan Abu Hanifah sesungguhnya ia boleh menjadi wali secara mutlak. [ Bughyah al-Mustarsyidiin I/423 ].

– Qulyuby :

( ولا ولاية لفاسق على المذهب ) مجبرا كان أو غيره فسق بشرب الخمر أو بغيره ، أعلن بفسقه أو أسره ؛ لأن الفسق في الشهادة فيمنع الولاية كالرق فيزوج الأبعد ،

– Fath al-Mu’iin III/305 :

( و ) شرط ( في الولي عدالة وحرية وتكليف ) فلا ولاية لفاسق غير الإمام الأعظم لأن الفسق نقص يقدح في الشهادة فيمنع الولاية كالرق هذا هو المذهب للخبر الصحيح لا نكاح إلا بولي مرشد أي عدل وقال بعضهم إنه يلي والذي اختاره النووي كابن الصلاح والسبكي ما أفتى به الغزالي من بقاء الولاية للفاسق

Disyaratkan dalam wali pernikahan sifat adil, merdeka dan taklif seorang wali, maka tidak ada kewalian bagi orang yang fasik selain Imam A’dzam sebab kefasikan adalah sifat kurang yang dapat mencederai persaksian maka tidak boleh kewalian dari orang fasik sebagai sifat sahaya, pendapat inilah yang dijadikan madzhab berdasarkan hadits shahih “Tidak ada pernikahan tanpa wali wali yang adil”.Namun sebagian pendapat menyatakan kebolehan perwalian darinya, pendapat inilah yang dipilih oleh an-nawaawy, Ibn Shalahm as-Subky dan al-Ghozali.

Wali “fasiq” pun sah melaksanakan/menjadi wali nikah.

مغني المحتاج – (ج 3 / ص 145)( وينعقد بمستوري العدالة ) وهما المعروفان بها ظاهرا لا باطنا بأن عرفت بالمخالطة دون التزكية عند الحاكم ( على الصحيح ) لأن الظاهر من المسلمين العدالة ولأن النكاح يجري بين أوساط الناس والعوام فلو اعتبر فيه العدالة الباطنة لاحتاجوا إلى معرفتها ليحضروا من هو متصف بها فيطول الأمر عليهم ويشق

مغني المحتاج – (ج 3 / ص 145)تنبيه ظاهر إطلاق المصنف في انعقاد النكاح بالمستورين أنه لا فرق بين أن يعقد بهما الحاكم أو غيره وهو ما صححه المتولي فإنه صحح أن الحاكم كغيره

Kurang sependapat karena jelas di atas dikatakan SEORANG YG TIDAK SHOLAT 5 WAKTU. hemat saya tidak sah menjadai wali.

Ibarot dalam Qulyuby :

( ولا ولاية لفاسق على المذهب ) مجبرا كان أو غيره فسق بشرب الخمر أو بغيره ، أعلن بفسقه أو أسره ؛ لأن الفسق في الشهادة فيمنع الولاية كالرق فيزوج الأبعد.

Wallaahu A’lamu Bis showaab..

S023. HUKUM ISBAL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukumnya memakai sarung (celana) sampai mata kaki atau melebihi mata kaki?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya memakai sarung(celana)sampai mata kaki atau melebihi mata kaki,itu ditafshil:

(a)Jika memakai sarung(celana)sampai mata kaki atau melebihi mata kaki itu karena sombong dan ujub,maka hukumnya haram.

(b)Jika memakai sarung(celana)sampai mata kaki atau melebihi mata kaki itu tidak karena sombong dan ujub,maka termasuk makruh.

INILAH HUKUM ISBAL

Salah satu maksiat badan adalah memanjangkan pakaian (sarung ataupun yang lainnya) yakni menurunkannya hingga ke bawah mata kaki dengan tujuan berbangga dan menyombongkan diri (al Fakhr).Hukum dari perbuatan ini adalah dosa besar kalau memang tujuannya adalah untuk menyombongkan diri, jika tidak dengan tujuan tersebut maka hukumnya adalah makruh. Jadi cara yang dianjurkan oleh syara’ adalah memendekkan sarung atau semacamnya sampai di bagian tengah betis.

Keterangan tersebut bisa dilihat dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawi. Yang dimaksud Sombong adalah orang-orang kaya yang suka menyeretkan pakaiannya,, karena pada waktu itu orang kaya dan miskin di bedakan, juga bisa kesombongan itu agar dianggap orang besar atau orang alim. Sebab para pembesar yahudi dulu ketika memakai jubah kelombrohan, bahkan sampai menyentuh tanah, dan ini sebagai ciri bahwa yang memakai jubah kelombroh itulah para pembesar yahudi dengan kesombongannya (takabbur).

Hukum yang telah dijelaskan ini adalah hasil dari pemaduan (Taufiq) dan penyatuan (Jam’) dari beberapa hadits tentang masalah ini. Pemaduan ini diambil dari hadits riwayat al Bukhari dan Muslim bahwa ketika Nabi rmengatakan :

من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة ” رواه البخاري ومسلم

Maknanya : “Barang siapa menarik bajunya (ke bawah mata kaki) karena sombong, Allah tidak akan merahmatinya kelak di hari kiamat”(H.R. al Bukhari dan Muslim)

Abu Bakar yang mendengar ini lalu bertanya kepada Nabi : “Wahai Rasulullah, sarungku selalu turun kecuali kalau aku mengangkatnya dari waktu ke waktu ?” lalu Rasulullah SAW bersabda :

“إنك لست ممن يفعله خيلاء ” رواه البخاري ومسلم

Maknanya : “Sesungguhnya engkau bukan orang yang melakukan itu karena sombong” (H.R. al Bukhari dan Muslim)

Jadi oleh karena Abu Bakar melakukan hal itu bukan karena sombong maka Nabi tidak mengingkarinya dan tidak menganggap perbuatannya sebagai perbuatan munkar yang diharamkan.

(دليل الفالحين لطروق رياض الصالحين,جز ٣,صحيفۃ ٢٧٤-٢٧٦)

(باب صفۃ طول القميص والكم والاءزار)هو ما يستر اسافل البدن ويقابله الرداء(وطرف العمامۃ)اي بيان قدر الطول المشروع فيما ذكر(وتحريم اسبال)اي ارخاء(شيء من ذلك)اي المذكور من القميص وما بعده (علی سبيل الخيلاء)بضم المعجمۃ وفتح التحتيۃ:اي الكبر او الاءعجاب(وكراهته)تنزيها( من غير خيلاء)والمراد ان الاءرخاء زيادۃ علی المشروع في الطول اما مكروه واما حرام.
-٣-(وعن ابي هريرۃ رضي ﷲ عنه ان رسول ﷲصلی ﷲ عليه وسلم قال:لا ينظر ﷲ )اي نظر رضا(يوم القيامۃ)خص بالذكر لاءنه محل الرحمۃ المستمرۃ بخلاف رحمۃ الدنيا فاءنها قد تنقطع بما يتجدد من الحوادث,قاله في الفتح,او لاءنه يوم الجزاء والا ففاعل ذلك لا يرضی ﷲ بفعله دنيا واخری ولا ينظر الله اليه لذلك اصلا(الی من جر ازاره بطرا)بفتح الموحدۃ والمهملۃ هو بوزن الاءشر ومعناه:وهو كفر النعمۃ وعدم شكرها ,والمراد لازم ذلك اي عجبا وخيلاء فيكون ما قبله كالمفسر له (متفق عليه)
Wallahu a’lam.

WACANA SOAL ISBAL :

Wacana soal Isbal baru ada dan intensif dibahas di Indonesia setelah mulai berdatangannya kalangan lulusan universitas negeri Arab Saudi di Indonesia. Mereka yang asalnya bermadzhab Syafi’i lalu berubah bermadzhab Hanbali secara fikih dan secara akidah (ideologi) mereka membawa doktrin garis keras dan radikal dari Muhammad bin Abdul Wahab yang suka membid’ahkan, mensyirikkan dan mengkafirkan semua orang di luar dirinya. Mereka menyebut dirinya Salafi. Orang luar kelompok ini menyebut mereka Salafi Wahabi (Sawah) atau Wahabi saja. Lihat: Ciri Khas Gerakan Wahabi.

Salah satu “oleh-oleh” mereka adalah isbal. Dalam kamus Lisanul Arab disebutkan “Isbal adalah memanjangkan, melabuhkan dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa haramnya isbal apabila ada niat sombong.

Dalam tinjaun madzhab Syafi’i, haramnya isbal apabila dengan tujuan menyombongkan diri. Begitu juga pendapat dari madzhab Hanbali. Adapun kalau tidak untuk menyombongkan diri, maka hukumnya boleh.

Pendapat ulama madzhab Syafi’i yang membolehkan isbal (kecuali karena sombong) antara lain: Imam Nawawi, Zakariya Al-Anshari, Ar-Romli, Ibnu Hajar Al-Haitami, dll.

Pendapat dari madzhab Hanbali yang membolehkan isbal antara lain: Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, Ibnu Taimiyah dalam Syarhul Umdah, Ibnu Muflih dalam Al-Adab as-Syar’iyah, Mardawi dalam Al-Inshaf.

Ada juga ulama yang menganggap isbal itu haram secara mutlak, baik niat sombong atau tidak. Mereka antara lain Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Arabi, As-Syaukani, dll.

Semua pendapat yang berbeda tersebut disertai dengan argumen yang sama-sama kuat. Intinya, silahkan anda memilih sesuai dengan rasa nyaman anda. Dan tidak perlu memaki atau mengkritisi orang yang tidak sesuai dengan kita.

Yg jelas para ulama berbeda pndapat sebenrnya hanya mentarjih bukan menentang. Oleh karenya dlm fiqih madzhab ada sebutan mujtahid tarjih yg tugasnya member penilaian kuat dan lemahnya terhadap qoulnya imam Madzhab atau antara pendapatnya imam madzhab dgn ashab atau antara madzhab yg satu dgn madzhab yg lain, yg mnnyandang gelar mujtahid tarjih sprti Imam Nawawi dan Rofi’I dlm madzhab Syafi’i. Bahkan ada ulama yg mengaskan bahwa bebrapa pendapat tersebut sebagai aqwal dr imam Syafi’I sndiri atau ashab yg kmudian ditarjih. Saya tak panjang lebar lg bicara soal ini…

TAMBAHAN PENJELASAN TENTANG ISBAL :

وفي هذه الأحاديث أن إسبال الإزار للخيلاء كبيرة وأما الإسبال لغير الخيلاء فظاهر الأحاديث تحريمه أيضا لكن استدل بالتقييد في هذه الأحاديث بالخيلاء على أن الإطلاق في الزجر الوارد في ذم الإسبال محمول على المقيد هنا فلا يحرم الجر والاسبال إذا سلم من الخيلاء قال بن عبد البر مفهومه أن الجر لغير الخيلاء لا يلحقه الوعيد إلا أن جر القميص وغيره من الثياب مذموم على كل حال وقال النووي الإسبال تحت الكعبين للخيلاء فإن كان لغيرها فهو مكروه وهكذا نص الشافعي على الفرق بين الجر للخيلاء ولغير الخيلاء قال والمستحب أن يكون الإزار إلى نصف الساق والجائز بلا كراهة ما تحته إلى الكعبين وما نزل عن الكعبين ممنوع منع تحريم إن كان للخيلاء وإلا فمنع تنزيه لأن الأحاديث الواردة في الزجر عن الإسبال مطلقة فيجب تقييدها بالإسبال للخيلاء انتهى

Saya akan bahas secara singkat saja terkait qoul-qoul tersebut.

Jika diteleti dan jeli serta memahami ilmu lughah, maka akan mengetahui dan memahami bahwa sebenarnya Ibnu Hajar tidak mendukung keharaman isbal secara muthlaq juga tidak mngatakan makruh bagi yang berisbal dengan tanpa khuyala. Simak…!

Ibnu Hajar berkata :

وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّ إِسْبَال الْإِزَار لِلْخُيَلَاءِ كَبِيرَة وَأَمَّا الْإِسْبَال لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَظَاهِر الْأَحَادِيث تَحْرِيمه أَيْضًا

“Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa isbal (menyeret) sarung karena sombong termasuk dosa besar. Adapun isbal yang bukan karena sombong, maka dhohir-nya banyak hadits juga mengharamkannya.” (Fathul bari: jilid 13, hal: 266, cetakan Daaru Thaibah)

Menurut pendapat yg mengharamkan isbal scra muthlaq, maka kutipan Ibnu Hajar ini dijadikan hujjah bahwa beliau menguatkan pndpat yg mngharamkannya scra muthlaq.

Tentu saja jika kutipan Ibnu Hajar hanya sampai di situ, maka pembaca akan berkesimpulan yg sama.

Namun bila dicek kembali perkataan Ibnu Hajar seutuhnya, ternyata kalimat itu belum selesai. Adapun perkataan Ibnu Hajar selengkapnya sebagai berikut:

وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّ إِسْبَال الْإِزَار لِلْخُيَلَاءِ كَبِيرَة وَأَمَّا الْإِسْبَال لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَظَاهِر الْأَحَادِيث تَحْرِيمه أَيْضًا. لَكِنْ اُسْتُدِلَّ بِالتَّقْيِيدِ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث بِالْخُيَلَاءِ عَلَى أَنَّ الْإِطْلَاق فِي الزَّجْر الْوَارِد فِي ذَمّ الْإِسْبَال مَحْمُول عَلَى الْمُقَيَّد هُنَا, فَلَا يَحْرُم الْجَرّ وَالْإِسْبَال إِذَا سَلِمَ مِنْ الْخُيَلَاء

“Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa isbal (menyeret) sarung karena sombong termasuk dosa besar. Adapun isbal yang bukan karena sombong, maka zhahir-nya hadis-hadis itu juga mengharamkannya. NAMUN taqyid sombong pada hadis-hadis ini dipakai untuk dalil, bahwa hadis-hadis lain tentang larangan isbal yang mutlak (tanpa menyebutkan kata sombong) harus dipahami dengan taqyid sombong ini, sehingga isbal dan menyeret pakaian tidak diharamkan bila selamat dari rasa sombong”.

Catatan :

1. Petikan secara utuh di atas jelas menunjukkan bahwa beliau tidak menguatkan pendapat yang mengatakan: “isbal dengan sombong itu dosa besar, sedang isbal yang tanpa sombong tetap diharamkan oleh banyak hadis ”

2. Petikan secara utuh di atas jelas menunjukkan bahwa beliau menguatkan pendapat yang mengatakan: “isbal dengan sombong itu dosa besar, sedang isbal tanpa sombong tidak diharamkan ”.

Jika pendapat yg mengharamkan isbal berdalih dengan ucapan Ibnu Abdil Bar :

إِلَّا أَنَّ جَرّ الْقَمِيص وَغَيْره مِنْ الثِّيَاب مَذْمُوم عَلَى كُلّ حَال

Maka ini sungguh bukan dalil pengharamannya secara muthlaq.

Kemudian jika ditinjau dari sisi ilmu lughah, maka akan kita ketahui bahwa Ibnu Hajar TIDAK mendukung pengharaman Isbal secra muthlaq dan juga boleh (tidak makruh) jika tanpa khuyala.

Perhatikan :

Pertama : Dilihat dari lafadz USTUDILLA adalah bentuk kata kerja majhul yaitu kata kerja pasif untuk waktu lampau. Pada dasarnya, shigah majhul (bentuk kata kerja pasif) digunakan karena beberapa maksud sbgaimana disebutkan dalam kitab-kitab Nahwu :

1. Lil iejaz (meringkas)

2. Lil ‘ilmi bih (telah diketahui pelakunya)

3. Lil jahli bih (tidak diketahui pelakunya)

4. Lil khauf ‘alaih (merasa khawatir)

5. Lil khauf minhu (merasa takut)

6. Lit tahqier (merendahkan)

7. Lit ta’zhiem (mengagungkan)

8. Lil ibahmi (menyamarkan pada pendengar)

Kedua : Kata ISTIDLAL dalam konteks ini harus dijelaskan secara istilahi bukan lughowi karena demikianlah yg digunakan oleh ahli ushul fiqih dan fiqih. Maka dengan demikian memiliki makna dua :

1. menegakkan dalil secara mutlak, baik dalil itu berupa nash, ijma’ maupun yang lainnya.

2. menegakkan dalil yang bukan berupa nash, ijma’, dan qiyas.

Ketiga : kata Istidlal isytiyaqnya dari asal dalla yadullu dan mngikuti wazan istaf’ala.

Dalam konteks ini berarti istidlal memiliki makna ittidzkhaz yaitu menjadikan. Artinya, segala sesuatu (selain Quran, sunah, ijma’, dan qiyas) yang dijadikan dalil. Adapun Quran, sunah, ijma’, dan qiyas ditegakkan sebagai dalil bukan sebagai produk/karya para mujtahid yang lahir dari ijtihad mereka. Adapun yang diakui sebagaiistidlaal adalah istishab dan lain-lain. Maka sesuatu yang dikatakan oleh setiap imam berdasarkan ketetapan ijtihadnya, seakan-akan ia menjadikannya sebagai dalil

Keempat : Menurut ilmu Balaghah dan Ma’ani, istidlal tsb masuk kategori :

1. Qiyas iqtirani dan qiyas istitsnai. Keduanya jenis qiyas mantiq. Contoh Qiyas iqtirani: arak itu memabukkan-Setiap yang memabukan haram. Natijahnya: Arak haram. Contoh qiyas istitsnai: Jika arak itu mubah maka dia tidak memabukkan. Namun karena dia memabukkan, natijahnya: maka dia tidak mubah.

2. Istiqra, yaitu menelusuri point-point parsial pada makna untuk menetapkan hukum yang lebih universal, secara qathi’y atau dzanniy. Dan bersifat tidak ditetapkan dengan dalil tertentu tapi dengan dalil-dalil yang berkaitan satu sama lain namun berbeda maksud. Selanjutnya dengan satu tujuan itu dapat menghasilkan satu cakupan hukum.

.

3. Istishhab, yaitu penetapan hukum suatu perkara di masa kini ataupun mendatang berdasarkan apa yang telah ditetapkan atau berlaku sebelumnya, karena tidak adanya suatu hal yang mengharuskan terjadinya perubahan (hukum tersebut).

Maka dengan penjelesan ini, jelas Ibnu Hajar tidak sedang mendukung pengharaman isbal secara muthlaq dan juga tidak memakruhkannya bagi yg berisbal tanpa khuyala. Hal ini banyak didukung oleh pendapat para ulama kibar (besar), berikut :

1. ويحرم وهو كبيره إسبال شيء من ثيابه ولو عمامة خيلاء في غير حرب فإن أسبل ثوبه لحاجة كستر ساق قبيح من غير خيلاء أبيح ما لم يرد التدليس على النساء ومثله قصيرة اتخذت رجلين من خشب فلم تعرف ويكره أن يكون ثوب الرجل إلى فوق نصف ساقه وتحت كعبه بلا حاجة لا يكره ما بين ذلك

2. Imam Mawardi dalam kitab Al-Inshof juz 1 hal : 473 mngatakan :

ويكره زيادته إلى تحت كعبيه بلا حاجة على الصحيح من الروايتين وعنه ما تحتهما في النار وذكر الناظم من لم يخف خيلاء لم يكره والأولى: تركه هذا

“ Dan makruh melebihi sampai bawah mata kaki tanpa ada hajat mnurut pndapat yg shohih..si nadzim mnyebutkan jika tidak takut sombong maka TIDAK MAKRUH…”

3. Bahkan Ibnu Taimiyyah dalam hal ini bertaqlid dgn pendapat al-Qodhi yang membolehkannya jika tanpa khuyala :

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في: ((شرح العمدة)) (ص361-362) : (فأما إن كان على غير وجه الخيلاء بل كان على علة أو حاجة أو لم يقصد الخيلاء والتزين بطول الثوب ولا غير ذلك فعنه أنه لا بأس به وهو اختيار القاضي وغيره

“ Ibnu Tamiyyah berkata dalam kitab Syrh Umdah “ Adapun jika tidk dngn khuyala akan tetapi karena ada alasan atau hajat atau tdk bermaksud sombong dan berhias dgn pakaian panjang dan lainya, maka tidaklah mengapa dan ini ikhtiyarnya al-Qodhi dan selainnya “.

4. Imam syafi’I sendiri memiliki pndapat lain yg dinukil oleh imam Nawawi dlm kitab majmu’nya berikut :

لا يجوز السدل في الصلاة ولا في غيرها للخيلاء ، فأما السدل لغير الخيلاء في الصلاة فهو خفيف ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم لأبي بكر رضى الله عنه وقال له : إن إزاري يسقط من أحد شقي . فقال لهلست منهم

“ Tidak boleh sadl atau isbal di dalm sholat maupun diluar sholat jika karena sombong. Adapun sadl bukan karena sombong di dalam sholat maka itu adalah khofif / ringan karena hadits Nabi Saw kepada Abu Bakar yang berkata “ Wahai Rasul, sesungguhnya pakaianku menyeret ke bumi “ Maka Nabi mnjawab “ Kamu bukan karena sombong “.

5. Hadits dari Ibnu Umar yg diriwayatkan dalam shohih MUSLIM berikut :

من جر إزاره لا يريد بذلك إلا المخيلة فإن الله لا ينظر إليه يوم القيامة

“ Barangsiapa yang menyeret sarungnya, tidak berbuat itu selain sifat sombong, maka Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat “. (HR. Muslim).

Nash ini jelas bahwa isbal tidaklah haram kecuali karena melakukannya dgn sifat sombong.

Demikian penjelasan ini secara singkat… semoga bermanfaat..

Wallahu a’lamu bisshowab..

S022. IMAM TIDAK FASIH DALAM BACAAN FATIHAH

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum ustadz..

Bagaimna hukumnya seorang menjadi imam di masjid/musholla dalam bacaannya tidak fasih yg dengung dibaca tidak dengung, yg panjang dibaca pendek dan seterusnya.
pertanyaan saya apakah boleh orang tersebut jadi imam, mohon arahannya ustadz.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Diperinci, SAH jika bacaan imam hanya mengulang-ulang huruf atau makhraj-nya huruf serupa dengan huruf lain(kurang fasih). Namun apabila kesalahannya fatal sampai merubah huruf, atau makna maka bermakmum kepadanya tidak sah. Catatan: Praktek di atas jika sang imam telah belajar ilmu Tajwîd (tidak ceroboh).

Referensi:

الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء 1 صحـ : 143 مكتبة الإسلامية

( وَسُئِلَ ) نَفَعَ اللَّهُ بِهِ عَمَّنْ تَعَلَّمَ الْفَاتِحَةَ وَفِي حَرْفٍ مِنْهَا خَلَلٌ لِثِقَلٍ فِي اللِّسَانِ هَلْ تُجْزِيْهِ صَلاَتُهُ أَوْ لاَ وَهَلْ يَجِبُ التَّعَلُّمُ فِي جَمِيعِ عُمْرِهِ أَوْ لاَ وَهَلْ تَصِحُّ الْجُمُعَةُ إذَا لَمْ يَكْمُلِ الْعَدَدُ إلاَ بِهِ مَثَلاً أَوْ لاَ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ إنْ كَانَ ذَلِكَ الْخَلَلُ نَحْوَ فَأْفَأَةٍ بِأَنْ صَارَ يُكَرِّرُ الْحَرْفَ صَحَّتْ صَلاَتُهُ وَالْقُدْوَةُ بِهِ لَكِنَّهَا مَكْرُوهَةٌ وَتَكْمُلُ الْجُمُعَةُ بِهِ وَلاَ يَلْزَمُهُ التَّعَلُّمُ وَإِنْ كَانَ لُثْغَةً فَإِنْ كَانَتْ يَسِيرَةً بِحَيْثُ يَخْرُجُ الْحَرْفُ صَافِيًا وَإِنَّمَا فِيهِ شَوْبُ اشْتِبَاهٍ بِغَيْرِهِ فَهَذَا أَيْضًا تَصِحُّ صَلاَتُهُ وَإِمَامَتُهُ وَتَكْمُلُ الْجُمُعَةُ بِهِ وَلاَ يَلْزَمُهُ التَّعَلُّمُ وَإِنْ كَانَ لُثْغَةً حَقِيقِيَّةً بِأَنْ كَانَ يُبْدِلُ الْحَرْفَ بِغَيْرِهِ فَتَصِحُّ صَلاَتُهُ لاَ الْقُدْوَةُ بِهِ إلاَ لِمَنْ هُوَ مِثْلُهُ بِأَنِ اتَّفَقَا فِي الْحَرْفِ الْمُبْدَلِ وَإِنْ اخْتَلَفَا فِي الْبَدَلِ فَلَوْ كَانَ كُلٌّ مِنْهُمَا يُبْدِلُ الرَّاءَ لَكِنَّ أَحَدَهُمَا يُبْدِلُهَا لاَمًا وَاْلآخَرُ عَيْنًا صَحَّ اقْتِدَاءُ أَحَدِهِمَا بِاْلآخَرِ وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا يُبْدِلُ الرَّاءَ وَاْلآخَرُ يُبْدِلُ السِّينَ لَمْ يَصِحَّ اقْتِدَاءُ أَحَدِهِمَا بِاْلآخَرِ هَذَا فِي غَيْرِ الْجُمُعَةِ – إلى أن قال – عِبَارَةُ الشَّرْحِ الْمَذْكُوْرِ وَمَنْ كَانَ بِلِسَانِهِ خَلَلٌ فِي الْفَاتِحَةِ مَثَلاً فَمَتَى رَجَى زَوَالَهُ عَادَةً لِتَعَلُّمٍ لَزِمَهُ وَإِنْ طَالَ الزَّمَنُ وَمَتَى لَمْ يَرْجُهُ كَذَلِكَ لَمْ يَلْزَمْهُ اهـ

Jika makmumnya lebih fasih dari pada imamnya maka tidak sah makmum pada imam yang tidak fasih. Ta`bir dalam bughyah :

(مسألة: ش): لا يصح اقتداء من يقرأ الفاتحة، وإن أخلّ ببعض حروفها، كأن يبدل السين تاء بمن لا يعرف الفاتحة أصلاً، بل يأتي ببدلها من قرآن أو ذكر ويجوز عكسه اهـ.

[فائدة]: لا يصح اقتداء قارىء بأمي، وهو من يخلّ بحرف من الفاتحة فخرج التشهد، فيصح اقتداء القارىء فيه بالأمي، وإن لم يحسنه من أصله، كما في النهاية والشوبري اهـ بجيرمي، ومثل التشهد التكبير والسلام إذ لا إعجاز في ذلك، لكن محله إن أتى ببدله من ذكر أو دعاء، فإن أخلّ بحرف من أحد الثلاثة فحكمه حكم الأمي اهـ باسودان

– Fathul Mu’in :

وقد تجب المفارقة، كأن عرض مبطل لصلاة إمامه وقد علمه فيلزمه نيتها فورا وإلا بطلت، وإن لم يتابعه اتفاقا، كما في المجموع

(ولا) قدوة (قارئ بأمي) وهو من يخل بالفاتحة أو بعضها، ولو بحرف منها، بأن يعجز عنه بالكلية، أو عن إخراجه عن مخرجه، أو عن أصل تشديدة، وإن لم يمكنه التعلم ولا علم بحاله

ويصح الاقتداء بمن يجوز كونه أميا إلا إذا لم يجهر في جهرية فيلزمه مفارقته، فإن استمر جاهلا حتى سلم لزمته الاعادة، ما لم يتبين أنه قارئ

Detail jawaban : WAJIB MUFARAQAH, seperti misalnya TERJADI SESUATU yang MEMBATALKAN SHOLAT IMAM, maka wajib ber-mufaraqah SEKETIKA, jika tidak maka BATAL Sholatnya, meski (sudah) tidak mengikuti Imam tersebut, hal ini disepakati oleh para ‘ulama seperti yang ada di kitab Majmu’.

Dan TIDAK SAH seorang Qori’ bermakmum pada seorang yang Ummi, yaitu orang yang merusak bacaan fatihahnya, atau SEBAGIAN dari fatihah itu, meski hanya satu huruf, baik karena tidak bisa membaca secara keseluruhannya atau tidak sesuai makhrojnya, atau tasydidnya, sekalipun hal itu dikarenakan ia sudah tidak mgk untuk belajar, dan makmum tidak mengerti akan keadaannya.

SAH bermakmum kepada Imam yang disangka Ummi, kecuali jika ketika sholat jahriyah Imam tersebut tidak mengeraskan Bacaannya, untuk itu wajib MUFAROQOH, jika ia meneruskan sholatnya bersama Imam tersebut dalam keadaan tidak tahu sampai Salam, maka ia wajib mengulang solatnya, jika sampai salam tidak jelas apakah dia QOri’

Bila makmum mengetahuinya setelah rampung shalat maka wajib mengulang shalatnya kalau mengetahuinya di tengah-tengah shalat maka ia wajib memutus shalatnya dan memulai lagi

( ولو اقتدى بمن ظنه أهلا ) للإمامة ( فبان خلافه ) كأن ظنه قارئا أو غير مأموم أو رجلا أو عاقلا فبان أميا أو مأموما أو امرأة أو مجنونا أعاد الصلاة وجوبا لتقصيره بترك البحث في ذلك

( قوله أعاد ) أي المقتدي وهو جواب لو ومحل الإعادة إن بان بعد الفراغ من الصلاة فإن بان في أثنائها وجب استئنافها

Bila ia (seorang laki-laki) bermakmum pada imam yang menurut prasangkanya ahli/mahir untuk menjadi imam tetapi kenyataannya berbeda seperti ia menyangka imamnya Qaari’ (ahli baca alQuran) atau bukan berstatus makmum atau laki-laki, atau berakal tapi kenyataannya imamnya UMMI (tidak fashih baca alquran) atau berstatus makmum pada orang lain atau perempuan atau gila maka ia wajib mengulang shalatnya karena sembrononya dalam rangka tidak mau meneliti imamnya terlebih dahulu sebelum shalat.

(keterangan maka ia wajib mengulang) bila kejelasan kenyataan imamnya setelah ia rampung shalat tapi bila kejelasannya ditengah-tengah shalat maka ia wajib memutuskan shalatnya dan memulainya dari awal lagi. [ I’aanah at-Thoolibiin II/52 ].

Tidak sah jika qoori'(orang yg pandai membaca fatehah) itu bermakmum kepada imam yang ummi (orang yang merusak kepada satu huruf dari fatihah)

(بجيرمي علی الخطيب,جز ٢,صحيفۃ ٣٣٤)
(ولا) يصح ان ياءتم (قاريء)وهو من يحسن الفاتحۃ(باءمي)امكنه التعلم ام لا,والاءمي من يخل بحرف كتخفيف مشدد من الفاتحۃ باءن لا يحسنه كاءرت-بمثناۃ-وهو من يدغم باءبدال في غير محل الاءدغام بخلافه بلا ابدال كتشديد اللام او الكاف من مالك,والثغ-بمثلثۃ-وهو من يبدل حرفا باءن ياءتي بغيره بدله كاءن ياءتي بالمثلثۃ بدل السين فيقول:المثتقيم, فاءن امكن الءمي التعلم ولم يتعلم لم تصح صلاته والا صحت كاقتداءه بمثله فيما يخل به,وكره الاءقتداء بنحو تاءتاء كفاءفاء(اي من يكرر الحرف)ولاحن(المراد باللحن ما يشمل الاءبدال انتهی م ر)بما لا يغير المعنی كضم هاء ﷲ ,فاءن غير معنی في الفاتحۃ كاءنعمت بضم او كسر ولم يحسن اللاحن الفاتحۃ فكاءمي فلا يصح اقتداء القاریء به

 

Wallaahu A’lamu Bis Showaab..

M018. UANG HALAL DAN HARAM DALAM SATU REKENING

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Wr. Wb
Numpang tanya ni ustadz..

Ada dua orang yg mempuyai uang dalam satu rekening. Yg A uang haram, hasil judi yg B uang halal, hasil bekerja. Semua uang yg kepunyaan A dan B di kirimkan kedalam satu rekening yg sama. Bagaiman hukumnya utadz apakah uang yg kepuyaan B tetap halal atau ikut haram karna bercampur dengan uangnya si A?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Uang yang halal tetap dihukumi halal dengan cara mengambil seukuran yang halal, lihat kitab Asbah Wan nadhoir hal 75 :

الأشباه والنظائر : ص : ٧٥

وفي فتاوى ابن الصلاح : لو اختلط درهم حلال بدراهم حرام . ولم يتميز فطريقه : أن يعزل قدر الحرام بنية القسمة . ويتصرف في الباقي ، والذي عزله إن علم صاحبه سلمه إليه ، وإلا تصدق به عنه ، وذكر مثله النووي وقال : اتفق أصحابنا ، ونصوص الشافعي على مثله فيما إذا غصب زيتا أو حنطة . وخلط بمثله ، قالوا : يدفع إليه من المختلط قدر حقه . ويحل الباقي للغاصب .

Dalam kitab fatwanya Ibnu Sholah : jika bercampur antara dirham halal dengan dirham haram serta tidak bisa dibedakan maka jalannya adalah dengan dipisah perkiraan ukuran yang haram dengan niat membagi dan selebihnya boleh digunakan, sedangkan yang dipisah jika diketahui pemiliknya maka diserahkan padanya jika tdk diketahui maka disedekahkan atas namanya, hal yang serupa juga disebutkan oleh Imam Nawawi.

Beliau berkata : sahabat-sahabat kami telah seppakat dan juga nash-nashnya Imam Syafi’i bahwa jika seseorang menggososb minyak zaitun atau gandum dan mencampurnya dengan yang semisalnya , mereka (ashab) berkata : diserahkan padanya (yang dighosob) dari percampuran tersebut seukuran haknya orang yang dighosob dan selebihnya halal bagi orang yang menggosob.

Wallohu a’lam bis showab..