Arsip Tag: Hasil Bahsul Masail IKABA

Z004. ZAKAT PROFESI

PERTNYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

wajib zakatkah harta2 TKI
atau harta dari profesi itu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukum :

Pada dasarnya, semua hasil pendapatan halal yang mengandung unsur mu’awadhah (tukar-menukar) baik dari hasil kerja profesional / non profesional maupun hasil industri jasa dalam segala bentuknya yang telah memenuhi persyaratan zakat, antara lain mencapai jumlah 1 (satu) nishab dan niat tijarah dikenakan zakat.

Akan tetapi realitanya jarang yang bisa memenuhi persyaratan tersebut lantaran tidak terdapat unsur tijarah (pertukaran harta terus-menerus untuk memperoleh keuntungan)

Hasil pendapatan kerja dan jasa (yang telah memenuhi persyaratan) dalam konteks zakat digolongkan zakat tijarah yang berpedoman pada standar nishab emas.

Dasar Pengambilan Hukum

1. Mughnil Muhtaj 1/398

2. I’anatuth Thalibin 2/173

3. Mauhibah Dzil Fadhal 4/31

قوله والإجارة لنفسه أو ماله

أي فإذا آجر نفسه بعوض بقصد التجارة صار ذلك العوض مال تجارة قال في التحفة والمال ينقسم إلى عين ومنفعة وإن آجرها فإن كانت الأجرة نقدا عينا أو دينا حالا أو مؤجلا تأتي فيه ما يأتي أي من التفصيل أو عرضا فإن استهلكه أو نوى قنيته فلا زكاة وإن نوى التجارة فيه استمرت زكاة التجارة وهذا في كل عام

(Ungkapan Penulis: “Dan menyewakan diri atau hartanya.”)

Yakni jika seseorang menyewakan dirinya dengan suatu imbalan dengan maksud tijarah, maka imbalan tersebut menjadi harta tijarah.

Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfahul Muhtaj mengatakan: “Harta itu terbagi 2 (dua) macam; benda dan manfaat. Jika seseorang menyewakannya, maka jika upahnya berupa mata uang kontan atau dengan dihutang langsung atau bertempo, maka padanya berlaku perincian hukum. Atau berupa barang, maka jika ia menghabiskannya atau berniat menyimpannya, maka tidak ada kewajiban zakatnya. Dan jika meniati tijarah padanya, maka zakat tijarah terus berlaku padanya, dan ini berlangsung setiap tahun.

4. Minhajul Qawim pada Mauhibah Dzil Fadhal 4/31-32

5. Tuhfatul Muhtaj dan Hawasyi Syarwani 3/295-296

Sumber : Ahkamul Fuqaha halaman 594 s/d 600 : Hasil Keptusan Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta 25-28 Juli 2002 / 14-17 Rabiul Akhir 1423 Tentang : MASAIL DINIYYAH WAQI’IYYAH. Wallaahu A’lam

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Semua bentuk penghasilan halal wajib di keluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nishab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram.

Waktu Pengeluaran Zakat :

1. Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab.

2. Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama setu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.

Kadar Zakat :

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 3 Tahun 2003 Tentang ZAKAT PENGHASILAN :

Kadar zakat penghasilan adalah 2,5%.

Fatwa 1 :

Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab. Fatwa ini sesuai dengan madzhab Syafi’i :

وكل مال وجبت زكاته بحول ونصاب جاز تقديم الزكاة على الحول بعد ملك النصاب لحول واحد

Semua harta yang wajib dizakati saat telah haul (setahun) dan mencapai nishob, BOLEH dizakati diawal (misal saat menerima) setelah memiliki senishab untuk satu tahun.

Dari sini ZAKAT PROFESI itu BOLEH  dengan syarat telah memiliki senishob (kira-kira 45 juta). Jika penghasilannya tidak mencapai 45 juta ya tidak sah zakat profesi, kecuali tabungannya banyak.

Fatwa 2.

Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab. Dari fatwa ke-2 ini, maka TKW, PNS, dll yang gajinya kurang dari 45 juta ia membayar zakatnya dari penghasilan bersih (tabungan) di akhir tahun jika mencapai nishob. Ini seperti zakat mal biasa, bukan zakat profesi.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Z003. MEMBERIKAN SEDEKAH/ ZAKAT KEPADA ORANG FASIQ

PERTNYAAN :

Assalamualaikum ustadz…

Ada pertanyaan mana lebih afdhal memberi shadaqah kepada orang faqir tetapi tidak shalat (fasiq) dibanding kepada orang yang kaya tapi shalat? Dan mungkin ada referensinya ustadz, karena kabanyakan baik di madura atau di jawa lebih memilih kepada kiyai padahal kiyai tersebut sudah banyak yang kaya bahkan pengusaha.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Penyaluran zakat kepada orang fasiq yang tidak sholat : Tafshil :

1. Jika ia meninggalkan shalat dengan keyakinan bahwa shalat tersebut tidak wajib terhadapnya maka ia telah keluar dari islam (murtad) maka memberikan zakat kepadanya tidak sah.

2. Bila ia meninggalkan shalat karena malas dan masih berkeyakinan bahwa shalat tersebut wajib terhadapnya maka, tafsilan / rinciannya, sbb:

Bila berdasarkan pendapat yang mu`tamad dalam mazhab Syafi’i yang mengatakan bahwa arti Rusyd adalah: ﺻﻼﺡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ “pandai dalam memelihara agama dan harta”, Maka rinciannya sbb:

1. Jika sejak baligh ia tidak melaksanakan shalat dan hal tersebut berkelanjutan hingga saat ia menerima zakat maka ia tidak boleh menerima zakat karena ia termasuk dalam mahjur `alaih, tetapi terhadap walinya boleh menerima zakat atas namanya.

2. Jika pada awal baligh ia mengerjakan shalat tetapi dikemudian hari ia meninggalkan shalat dan ia pandai dalam memanfaatkan harta (tidak mubazzir/boros) atau ia merupakan orang yang boros dalam memelihara harta tetapi ia tidak dilarang dalam penggunaan harta (ghairu mahjur `alaih) maka sah baginya menerima zakat secara langsung.

Namun jika berdasarkan pendapat Imam Mazhab yang tiga (Imam Hanafi, Maliky, dan Hanbali dan juga diikuti oleh sebagian ulama mazhab Syafii seperti Ibnu Abdis Salam) yang mengatakan bahwa pengertian Rusyd adalah : ﺻﻼﺡ ﺍﻟﻤﺎﻝ “pandai dalam memelihara harta saja”, Maka dibolehkan baginya menerimanya langsung secara mutlak.

ترشيح المستفيدين:156 أ. وَيَجُوْزُ دَفْعُهَا لِفَاسِقٍ اِلاَّ اِنْ عُلِمَ أَنـَّهُ يَسْتَعِيْنُ بِهَا عَلَى مَعْصِيِّةٍ فَيَحْرُمُ اِنْ أَجْزَأَ. ب. (فَائِدَةٌ) أُفْتِى بِذَلِكَ اَنَّهُ لَيْسَ لِتَارِكِ الصَّلاَةِ قَبْضُهَا وَاِنِ اسْتَحَقَّهَا وَبَنَاهُ فِى التُّحْفَةِ … لَكِنْ اُوْرِدَ عَلَيْهَا أَنَّ الْكَلاَمَ فِى اسْتِحْقَاقِ الزَّكَاةِ لاَ فِى قَبْضِهَا

a. Boleh memberikan zakat kepada orang fasiq, kecuali apabila diketahui sesungguhnya ia mempergunakan pertolongan dengannya untuk perbuatan maksiat, maka haram hukumnya (memberi orang fasiq tersebut) meskipun (pemberian tersebut) mencukupi sahnya zakat.

b. (Faedah) Dengan demikian difatwakan bahwa sesungguhnya Tidak ada kewenangan bagi orang yang meninggalkan sholat untuk mengambil zakat, meskipun ia termasuk mustahiquz zakat, keterangan ini ada dalam kitab Tuhfah. Akan tetapi yang diinginkan dalam zakat tersebut sesungguhnya pembicaraan dalam berhaknya menerima zakat bukan mengambil zakat.

فَتْحُ الْعَلاَم: 3 : 492 – 493 وَلاَ يَصِحُّ دَفْعُ الزَّكَاةِ لِمَنْ بَلَغَ تَارِكًا لِلصَّلاَةِ اَوْ مُبَذِّرًا لِمَالِهِ بَلْ يَقْبِضُهَالَهُ وَلِيُّهُ

Tidak sah memberikan zakat kepada orang yang sudah baligh (mukallaf) yang meninggalkan sholat atau orang yang memubadzirkan hartanya akan tetapi walinya yang berhak menerima zakat untuk orang tersebut.

وَيَجُوْزُ دَفْعُهَالِفَاسِقٍ اِلاَّ إِنْ عُلِمَ أَنَّـهُ يُصَرِّفُهَا فِى مَعْصِيِّةٍ فَيَحْرُمُ وَتُجْزِئُ

Boleh memberikan zakat kepada orang yang fasiq (orang muslim yang masih suka melakukan kemaksiatan) kecuali apabila diketahui sesungguhnya ia mempergunakan pemberian zakat tersebut untuk maksiat (salah satu contohnya seperti orang yang tidak mau melakukan sholat), maka haram memberinya dan zakatnya sah.

Tidak boleh memberikan zakat kepada orang yang telah dewasa yang selalu meninggalkan sholat tetapi di berikan kepada walinya karena ia adalah orang yang safih (idiot) sblum ia bertaubat dan melaksanakan kewajiban shalat. jika, ia tlah bertaubat dan melaksanakan shalat maka boleh menerima zakat dengan diriya sendiri.

Hukum memberikan zakat kepada orang yang meninggalkan shalat menurut imam Nawawi:

~jika ia sudah dewasa (baligh) selalu meninggalkan shalat tidak mau bertaubat dan melaksanakan shalat maka tidak boleh memberikan zakat kepadaanya tetapi zakat yang di brikan untuknya tersebut diberikan kepada walinya, karena ia adalah orang yang bodoh(safih), yang dilarang untuk mentashorufkan harta (mahjur alaihi).

~jika ia orang yang telah baligh selalu menunaikan sholat dan cerdas (rosyid) kmudian ia meninggalkan shalat dan ia bukan orang yang dilarang mentashorufkan harta (mahjur alaih)maka boleh menerima zakat dengan dirinya sendiri seperti halnya sah mentashorufkan hartaya sendiri. [ Bughyatul murtasyidin 106 ].

Ibaroh :

‎1. Fatawa Imam Nawawy hal 63 Cet. Dar kutub Ilmiyah.

ﻣﺴﺄﻟﺔ ( ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺍﻟﻰ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﺎﻟﻎ ﻻﻳﺼﻠﻰ ﻭﻳﻌﺘﻤﺪ ﺍﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﺟﺒﺔ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻳﺘﺮﻛﻬﺎ ﻛﺴﻼ ؟

ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : ﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﺎﻟﻐﺎ ﺗﺎﺭﻛﺎً ﻟﻠﺼﻼﺓ ﻭﺍﺳﺘﻤﺮّ ﻋﻠﻲ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻰ ﺣﻴﻦ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﺩﻓﻌﻬﺎ ﺍﻟﻴﻪ ﻷﻧﻪ ﻣﺤﺠﻮﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﺴﻔﻪ ﻓﻼ ﻳﺼﺢ ﻗﺒﻀﻪ ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺠﻮﺯ ﺩﻓﻌﻬﺎ ﺍﻟﻰ ﻭﻟﻴﻪ ﻓﻴﻘﺒﺼﻬﺎ ﻟﻬﺬﺍ ﻭﺍﻥ ﺑﻠﻎ ﻣﺼﻠﻴﺎً ﺭﺷﻴﺪﺍً ﺛﻢ ﻃﺮﺃ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻟﻢ ﻳﺤﺠﺮ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﺎﺯ ﺩﻓﻌﻬﺎ ﺍﻟﻴﻪ ﻭﺻﺢ ﻗﺒﻀﻪ ﻟﻨﻔﺴﻪ ﻛﻤﺎ ﺗﺼﺢ ﺟﻤﻴﻊ ﺗﺼﺮﻓﺎﺗﻪ

2. Nihayatul Muhtaj jilid 6 hal 159 Cet. Dar Kutub Ilmiyah

ﻭﺃﻓﺘﻰ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻓﻲ ﺑﺎﻟﻎ ﺗﺎﺭﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻘﺒﻀﻬﺎ ﻟﻪ ﺇﻻ ﻭﻟﻴﻪ ﺃﻱ ﻛﺼﺒﻲ ﻭﻣﺠﻨﻮﻥ ﻓﻼ ﻳﻌﻄﻰ ﻟﻪ ﻭﺇﻥ ﻏﺎﺏ ﻭﻟﻴﻪ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻃﺮﺃ ﺗﺒﺬﻳﺮﻩ ﻭﻟﻢ ﻳﺤﺠﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻘﺒﻀﻬﺎ

3. Busyra Karim hal 465 Cet. Dar Fikr

ﻭﻣﻦ ﺷﺮﻁ ﺍﻵﺧﺬ ﺃﻳﻀﺎً: ﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻤﻮﻧﺎً ﻟﻠﻤﺰﻛﻲ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ؛ ﻷﻧﻪ ﻏﻴﺮ ﻓﻘﻴﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻣﺮ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺤﺠﻮﺭﺍً ﻋﻠﻴﻪ. ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﺃﻓﺘﻰ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ﺑﺎﻟﻎ ﺗﺎﺭﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ: ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻘﺒﻀﻬﺎ ﻟﻪ ﺇﻻ ﻭﻟﻴﻪ .

4. Buhyatul Mustarsyidin hal 106 Cet. Haramain

ﻣﺴﺄﻟﺔ: ( ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ : ﻣﻦ ﺑﻠﻎ ﺗﺎﺭﻛﺎً ﻟﻠﺼﻼﺓ ﻭﺍﺳﺘﻤﺮّ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﻋﻄﺎﺅﻩ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺇﺫ ﻫﻮ ﺳﻔﻴﻪ ، ﺑﻞ ﻳﻌﻄﻰ ﻭﻟﻴﻪ ﻟﻪ ، ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻮ ﺑﻠﻎ ﻣﺼﻠﻴﺎً ﺭﺷﻴﺪﺍً ﺛﻢ ﻃﺮﺃ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻟﻢ ﻳﺤﺠﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻴﺼﺢ ﻗﺒﻀﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻛﻤﺎ ﺗﺼﺢ ﺗﺼﺮﻓﺎﺗﻪ ﺍﻫـ. ﻭﻫﺬﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﺮﺷﺪ ﺻﻼﺡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ ﺃﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺭ ﺍﻟﻤﺮﺟﺢ ﻛﻤﺎ ﻳﺄﺗﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺠﺮ ﻣﻦ ﺃﻧﻪ ﺻﻼﺡ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﻘﻂ ﻓﻴﻌﻄﻰ ﻣﻄﻠﻘﺎً ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﺼﻠﺤﺎً ﻟﻤﺎﻟﻪ ، ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺇﻥ ﺃﺭﺩﺕ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺗﺐ ﻭﺻﻞّ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺳﺒﺐ ﻫﺪﺍﻳﺘﻪ ، ﻭﻳﻌﻄﻰ ﺍﻟﻤﻜﺎﺗﺐ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻬﺎﺷﻤﻲ ﺃﻭ ﻛﺎﻓﺮ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺏ.

5. Takmilah Al Mathiby Majmuk Syarah Muhazzab jilid 13 Cet. Dar Fikr

ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﻳﺮﻯ ﺃﻥ ﺍﻟﺮﺷﺪ ﻫﻮ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﻘﻂ. ﻭﻋﻨﺪﻧﺎ ﻟﻴﺲ ﻛﺬﻟﻚ، ﺑﻞ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ، ﻭﺧﺎﻟﻒ ﻓﻴﻪ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻭﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻔﻪ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻃﺎﺭﺋﺎ ﻭﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺴﺘﺪﺍﻣﺎ، ﻭﺍﻟﺸﺎﻫﺪ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﺎﻣﻴﺎ ﻭﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻘﻴﻬﺎ ﻭﻳﺮﻯ ﺳﻔﻬﺎ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﺑﺴﻔﻪ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺎﺿﻰ. ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺮﺷﺪ

6. Hasyiah Bujairimy `ala Manhaj jilid 2 hal 570 Cet. Dar Kutub Ilmiyah

ﻗﻮﻟﻪ ) ﺻﻼﺡ ﺩﻳﻦ ﻭﻣﺎﻝ ( ﺧﻼﻓﺎ ﻷﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﻣﺎﻟﻚ ﺣﻴﺚ ﺍﻋﺘﺒﺮ ﺇﺻﻼﺡ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﻘﻂ ﻭﻣﺎﻝ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺍﻋﺘﺮﺽ ﺍﻷﻭﻝ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﺮﺷﺪ ﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ ﻧﻜﺮﺓ ﻓﻲ ﺳﻴﺎﻕ ﺍﻹﺛﺒﺎﺕ ﻓﻼ ﺗﻌﻢ ﻭﺃﺟﻴﺐ ﺑﺄﻧﻬﺎ ﻓﻲ ﺳﻴﺎﻕ ﺍﻟﺸﺮﻁ ﻓﺘﻌﻢ ﻭﺃﻳﻀﺎ ﺍﻟﺮﺷﺪ ﻣﺠﻤﻮﻉ ﺃﻣﺮﻳﻦ ﻻ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﺳﻢ ﻭﻓﻲ ﻕ ﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻼﻝ ﻭﺍﻋﺘﺒﺮ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﺻﻼﺡ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﺣﺪﻩ ﻭﻗﺮﺭﻩ ﺷﻴﺨﻨﺎ

7. Hasyiah Syarwany `ala Tuhfatul Muhtaj jilid 6 hal 192 Cet. Dar Fikr

ﻭﺍﻟﺮﺷﺪ ﺻﻼﺡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ ( ﻣﻌﺎ ﻛﻤﺎ ﻓﺴﺮ ﺑﻪ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﺍﻵﻳﺔ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﺔ ﻭﻭﺟﻪ ﺍﻟﻌﻤﻮﻡ ﻓﻴﻪ ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﻧﻜﺮﺓ ﻣﺜﺒﺘﺔ ﻭﻗﻮﻋﻪ ﻓﻲ ﺳﻴﺎﻕ ﺍﻟﺸﺮﻁ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻭﻻ ﻳﻀﺮ ﺇﻃﺒﺎﻕ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺎﻣﻠﺔ ﻣﻦ ﻻ ﻳﻌﺮﻑ ﺣﺎﻟﻪ ﻣﻊ ﻏﻠﺒﺔ ﺍﻟﻔﺴﻖ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﻋﺮﻭﺽ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻭﻗﺎﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺤﺼﻞ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻨﺪﻡ ﻓﻴﺮﺗﻔﻊ ﺍﻟﺤﺠﺰ ﺑﻬﺎ ﺛﻢ ﻻ ﻳﻌﻮﺩ ﺑﻌﻮﺩ ﺍﻟﻔﺴﻖ ﻭﻳﻌﺘﺒﺮ ﻓﻲ ﻭﻟﺪ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺻﻼﺡ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺩﻳﻨﺎ ﻭﻣﺎﻻ .ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻭﻻ ﻳﻠﺰﻡ ﺷﺎﻫﺪ ﺍﻟﺮﺷﺪ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﻋﺪﺍﻟﺔ ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺩ ﻟﻪ ﺑﺎﻃﻨﺎ ﻓﻼ ﻳﻜﻔﻲ ﻣﻌﺮﻓﺘﻬﺎ ﻇﺎﻫﺮﺍ ﻭﻟﻮ ﺑﺎﻻﺳﺘﻔﺎﺿﺔ ﻭﺇﺫﺍ ﺷﺮﻃﻨﺎ ﺻﻼﺡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ) ﻓﻼ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﺤﺮﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﺒﻄﻞ ﺍﻟﻌﺪﺍﻟﺔ ( ﺑﺎﺭﺗﻜﺎﺏ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﺃﻭ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻭﻟﻢ ﺗﻐﻠﺐ ﻃﺎﻋﺎﺗﻪ ﻣﻌﺎﺻﻴﻪ ﻭﺧﺮﺝ ﺑﺎﻟﻤﺤﺮﻡ ﺧﺎﺭﻡ ﺍﻟﻤﺮﻭﺀﺓ ﻓﻼ ﻳﺆﺛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺷﺪ ﻭﺇﻥ ﺣﺮﻡ ﺍﺭﺗﻜﺎﺑﻪ ﻟﻜﻮﻧﻪ ﺗﺤﻤﻞ ﺷﻬﺎﺩﺓ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﺤﺮﻣﺔ ﻓﻴﻪ ﻷﻣﺮ ﺧﺎﺭﺝ ﻗﻮﻟﻪ) :ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺍﻟﺦ ( ﻓﻴﻪ ﻻﺗﻴﺎﻧﻪ ﺑﺼﻴﻐﺔ ﺍﻟﺘﺒﺮﻱ ﺇﺷﻌﺎﺭ ﺑﺎﺳﺘﺸﻜﺎﻟﻪ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻨﻘﻮﻻ ﻭﻫﻮ ﻛﺬﻟﻚ ﺇﺫ ﻛﻴﻒ ﻳﺤﻜﻢ ﺑﻤﺠﺮﺩ ﻧﺪﻡ ﻣﺤﺘﻤﻞ ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﻳﻌﻢ ﺍﻟﻔﺴﻖ ﺃﻭ ﻳﻐﻠﺐ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﻮﺍﺣﻲ ﺑﻤﻈﺎﻟﻢ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﻛﻐﻴﺒﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﻣﻨﻊ ﻣﻮﺍﺭﻳﺚ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻭﺃﺣﺴﻦ ﻣﺎ ﻳﻮﺟﻪ ﺑﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﺇﺫﺍ ﺿﺎﻕ ﺍﻻﻣﺮ ﺍﺗﺴﻊ ﻭﺇﻻ ﻻﺩﻯ ﺇﻟﻰ ﺑﻄﻼﻥ ﻣﻌﻈﻢ ﻣﻌﺎﻣﻼﺕ ﺍﻟﻌﺎﻣﺔ، ﻭﻛﺎﻥ ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺤﺎﻣﻞ ﻻﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﺧﺘﺒﺎﺭﻩ ﺃﻥ ﺍﻟﺮﺷﺪ ﺻﻼﺡ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﻘﻂ ﺍﻩ ﺳﻴﺪ ﻋﻤﺮ

8. Tuhfatul Muhtaj jilid 7 hal 190 Cet. Dar Fikr

ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺤﺠﻮﺭﺍ ﻋﻠﻴﻪ ، ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﺃﻓﺘﻰ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻓﻲ ﺑﺎﻟﻎ ﺗﺎﺭﻙ ﻟﻠﺼﻼﺓ ﻛﺴﻼ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻘﺒﻀﻬﺎ ﻟﻪ ﺇﻻ ﻭﻟﻴﻪ ﺃﻱ : ﻛﺼﺒﻲ ﻭﻣﺠﻨﻮﻥ ﻓﻼ ﻳﻌﻄﻰ ﻟﻪ ، ﻭﺇﻥ ﻏﺎﺏ ﻭﻟﻴﻪ ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻤﻦ ﺯﻋﻤﻪ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻃﺮﺃ ﺗﺮﻛﻪ ﺃﻱ : ﺃﻭ ﺗﺒﺬﻳﺮﻩ ﻭﻟﻢ ﻳﺤﺠﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻘﺒﻀﻬﺎ

Wallahu a’lamu bish-showaab..

Z002. ZAKAT UNTUK BANI HASYIM DAN BANI MUTTHALIB

 

 

 

 

 

 

PERTNYAAN :

Assalamualaikum wr wb..

Kenapa Bani Hasyim dan Bani Mottholib tidak bisa menerima zakat ustadz?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Zakat itu tidak diperbolehkan diberikan kepada Sayyid atau keturunan Rosul, karena zakat itu bagaikan “kotoran” maka tidak pantas diberikan pada mereka .

1. Hadits Nabi SAW :

عن يزيد بن حيان. قال: قال زيد بن أرقم: قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا. بماء يدعى خما. بين مكة والمدينة. فحمد الله وأثنى عليه. ووعظ وذكر. ثم قال “أما بعد. ألا أيها الناس! فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب. وأنا تارك فيكم ثقلين: أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله. واستمسكوا به” فحث على كتاب الله ورغب فيه. ثم قال “وأهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي”. فقال له حصين: ومن أهل بيته؟ يا زيد! أليس نساؤه من أهل بيته؟ قال: نساؤه من أهل بيته. ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده. قال: وهم؟ قال: هم آل علي، وآل عقيل، وآل جعفر، وآل عباس. قال: كل هؤلاء حرم الصدقة؟ قال: نعم.

Artinya : Dari Yaziid bin Hayyaan ia berkata : Telah berkata Zaid bin Arqam : “Pada satu hari Rasulullah SAW pernah berdiri dan berkhutbah di sebuah mata air yang disebut Khumm. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan kepada kami : “Amma ba’du, ketahuilah wahai sekalian manusia, bahwasannya aku hanyalah seorang manusia sama seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat maut) akan datang dan dia diperkenankan.

Aku akan meninggalkan kepada kalian dua hal yang berat, yaitu :

1) Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi Al-Qur’an itu dan berpegangteguhlah kepadanya – beliau mendorong dan menghimbau pengamalan Al-Qur’an.

2) Ahlul-baitku (keluargaku). Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul-bait-ku (beliau mengucapkan tiga kali)”. Hushain berkata kepada Zaid : “Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah SAW ? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ?”. Zaid bin Arqam menjawab : “Istri-istri beliau SAW memang ahlul-baitnya. Namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau”. Hushain berkata : “Siapakah mereka itu ?”. Zaid menjawab : “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas”. Hushain berkata : “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ?”. Zaid menjawab : “Ya” [HR. Muslim].

2. Hadits Nabi SAW :

عن أبي هريرة يقول: أخذ الحسن بن علي تمرة من تمر الصدقة. فجعلها في فيه. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” كخ كخ. ارم بها. أما علمت أنا لا نأكل الصدقة ؟

Artinya : Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Al-Hasan bin ‘Aliy pernah mengambil sebutir kurma dari kurma shadaqah yang kemudian ia masukkan ke dalam mulutnya. Maka Rasulullah SAW bersabda : ‘Kikh, kikh, muntahkan ! Tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta shadaqah (zakat)?”(H.R. Muslim).

Kesimpulan :

1. Ahlul bait, yakni Bani Hasyim dan Bani al-Muthallib, (kalau di Indonesia dikenal dengan sebutan Sayyed atau Habib), dalam mazhab Syafi’i disepakati haram menerima zakat

2. Namum demikian, jika terputus hak khumusul khumus, ada ulama yang membolehkannya.

Dalam Bughyatul Mustarsyidin karya Sayyed ‘Abdur Rahman Ba’lawy disebutkan : “Ittifaq (sepakat) jumhur ulama asy-Syafi`iyyah terlarang pemberian zakat dan segala pemberian yang bersifat wajib seperti nazar dan kafarah, kepada ahlil bait, walaupun mereka tidak mendapat hak mereka daripada khumusul khumus. Dan demikianlah pula hukumnya bagi para mawali mereka menurut pemdapat yang lebih shahih. Namun demikian, banyak ulama mutaqaddimun dan mutaakhirun memilih hukum boleh ketika putus hak mereka daripada khumusul khumus. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Ishthikhari, al-Harawi, Ibnu Yahya, Ibnu Abi Hurairah. Telah beramal dan berfatwa dengannya oleh al-Fakhrur Razi, Qadhi Husain, Ibnu Syukail, Ibnu Ziyad, an-Naasyiri dan Ibnu Muthir. Berkata al-Asykhar: “Mereka-mereka ini (yakni para ulama yang tersebut tadi) adalah imam-imam besar yang fatwa mereka mempunyai kekuatan, oleh itu, boleh bertaklid kepada mereka dengan taklid yang sah dengan syaratnya karena darurat dan lepaslah tanggungan ketika itu (yakni lepaslah tanggungan kewajiban mengeluarkan zakat apabila ianya diberi kepada mereka karena ketika itu dihukumkan sah zakat yang dikeluarkan kepada mereka), akan tetapi pendapat ini hanyalah untuk amalan pribadi dan bukan untuk dijadikan fatwa atau dijadikan hukum dengannya. Dan telah menyalahi akan fatwa tersebut al-`Allaamah Sayyid ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abu Bakar Bin Yahya yang berpendapat bahwa: ” Tidak boleh memberikan zakat kepada mereka (yakni ahlil bait) secara mutlak, dan sesiapa yang membolehkannya, maka dia telah keluar daripada mazhab yang empat, maka tidak boleh dipegang karena ijma’ mazhab yang empat melarang pemberian zakat kepada mereka”

Syekh nawawi dalam kitab bujairomi…mengharamkan juga dalam bujairomi tersebut imam nawawi memfatwakan haram bagi bani hasyim dan bani muthollib menerima shadaqoh baik yang wajib atau yang sunnah namun bila berupa hadiah maka boleh diberikan kepada mereka.

والراجح من مذهبنا حرمة الصدقتين عليه صلى الله عليه وسلم وحرمة صدقة الفرض دون النفل على آله. وقال النووي: لا تحل الصدقة لآل محمد لا فرضها ولا نفلها

PENDAPAT yang rojih menurut madzhab kitab (imam syafi’i) diharamkan 2 shodaqoh (fardhu dan sunnah) bagi Nabi Muhammad saw. dan diharamkan shodaqoh fardhu tidak shodaqoh sunnah bagi ahlu baitnya. Dan berkata imam Nawawi : tidak dihalalkan shodaqoh untuk ali Muhammad. tidak halal fardhunya dan sunnahnya (bujairomi).

Albajuri dalam hasyiah beliau mengatakan pendapat gurunya Imam fadhali Rh membolehkan pemberian kepada Alul Bait.

Syekh Romli : Zakat Tidak boleh diberikan kepada bani hasyim dan bani mutholib meskipun mereka menjadi Amil. Di kitab fathul qorib, zakat tidak boleh tapi sodaqoh sunah boleh menurut qoul Masyhur. Wallahu A’lam.

Bagi yang merasa masih keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthallib bila anda ingin meminta zakat, SILAHKAN ANDA MEMINTANYA DAN MENGGUNAKANNYA. itu adalah pendapat imam Ustukhry dan direkomendasikan oleh imam Baejuri serta diperkuat oleh imam Ahmad Fadhil… alasannya karena untuk saat ini mereka tidak mendapatkan bagian khumusul akhmas serta mereka juga membutuhkannya…. Lihat Kasyifatus Saja bab Mustshiqquz Zakah….

. بسم الله الرحمن الرحيمو نقل عن الأصطخري القول بجواز صرف الزكاة الى بني هاشم و بني مطلب عند منعهم من خمس الخمس قال البيجوري و لا بأس بتقليد الأصطخري في قوله الآن لاحتياحهم و كان الشيخ محمد الفضالي رحمه الله يميل الى ذلك محبة فيهم نفعنا الله بهمكاشفة السجا ص 7 .

MEMBERIKAN ZAKAT KEPADA BANI HASYIM DAN BANI MUTHOLIB

Hukumnya boleh , hanya untuk diri sendiri, tidak untuk difatwakan dan pengambilan keputusan

Bughyatul Mustarsyidin106 – 107

وعبارته ؛ (مسألة: ب): اتفق جمهور الشافعية على منع إعطاء أهل البيت النبوي من الزكاة ككل واجب كنذر وكفارة، وإن منعوا حقهم من خمس الخمس، وكذا مواليهم على الأصح، واختار كثيرون متقدمون ومتأخرون الجواز، حيث انقطع عنهم خمس الخمس، منهم الاصطخري والهروي وابن يحيـى وابن أبي هريرة، وعمل به وأفتى به الفخر الرازي والقاضي حسين وابن شكيل وابن زياد والناشري وابن مطير، قال الأشخر: فهؤلاء أئمة كبار وفي كلامهم قوة، ويجوز تقليدهم تقليداً صحيحاً بشرطه للضرورة وتبرأ به الذمة حينئذ، لكن في عمل النفس لا الإفتاء والحكم به اهـ. وخالفه ي فقال: لا يجوز إعطاؤهم مطلقاً، ومن أفتى بجوازها لهم فقد خرج عن المذاهب الأربعة، فلا يجوز اعتماده لإجماعهم على منعها لهم. فائدة: قال الكردي: وكالزكاة في عدم صرفها لذوي القربى كل واجب كالنذر والكفارة ودماء النسك والأضحية الواجبة والجزء الواجب في المندوبة اهـ، وقوله: كالنذر أي المطلق أو المقيد بالفقراء من المسلمين مثلاً، أما المتعين لشخص أو قبيلة منهم فيصح كما يأتي تفصيله في باب النذر اهـ بغية المسترشدينص ١٠٦ – ١٠٧

Jumhur ulama Syafi’iyyah sepakat tentang ketidak bolehan (haram) memberikan zakat ataupun infak yang wajib (seperti bayar nadzar, bayar kafarot dsb) kepada ahli bait gusti kanjeng Nabi SAW, begitu juga kepada perwalian mereka, akan tetapi mereka berhak atas khumusil khumus (0.04 persen) dari harta rampasan

Tetapi bila mereka tidak mendapatkan yang khumusil khumus tadi maka diperbolehkan memberikan zakat kepada mereka, bila memang mereka masuk kepada salah satu dari ashnaf 8, pendapat ini dipilih oleh banyak ulama baik dari ulama mutaqoddimin maupun muta-akhirin, diantaranya Imam Al-Isthohri, Imam Al-Harowi, Ibnu Yahya dan Ibnu Abi Hurairah , juga Imam Al-Fahrur Razi, Al-Qodli Husain, Ibnu Syakil,Ibnu Ziyad, An-Nasyiry, dan Ibnu Muthir.Imam Al-Asykhuri berkata : Mereka Adalah para Imam besar, perdapat mereka kuat, boleh taqlid dengan mereka dalam keadaan darurat dan lepas dari tanggungan, akan tetapi hanya untuk amalan diri sendiri, tidak untuk difatwakan dan pengambilan keputusan.

Keterangan yang sama juga bisa dilihat di Al-Bajuri I / 285

وعبارته ؛ (قوله وبنو هاشم وبنو المطلب) المراد بالبنين ما يشمل البنات ففيه تغليب فلا يجوز دفع الزكاة لهم لقوله صلى الله عليه وسلم إن هذه الصدقات انما هى أوساخ الناس وانها لا تحل لمحمد ولا لآل محمد ، ولقوله لا أحل لكم أهل البيت من الصدقات شيئا إن لكم فى خمس الخمس ما يكفيكم أو يغنيكم اى بل يغنيكم (قوله سواء منعوا الخ) ونقل عن الإصطخرى القول بجواز صرف الزكاة اليهم عند منعهم من الخمس الخمس أخذا من قوله فى الحديث ان لكم فى خمس الخمس ما يكفيكم أو يغنيكم فإنه يؤخذ منه ، إن محل عدم إعطائهم من الزكاة عند أخذهم حقهم من خمس الخمس لكن الجمهور طردوا القول بالتحريم ولا بأس بتقليد الإصطخرى فى قوله الآن لاحتياجهم وكان شيخنا رحمه الله يميل الى ذلك محبة فيهم نفعنا الله بهم

Wallahu a’lamu bisshowab..

N006. ISTRI GUGAT CERAI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum wr wb.

Mau nanya, ada suami istri yang sudah membina rumah tangga hanya saja perjodohan ini permintaan orang tua.
Sedang istri tidak ada rasa sama sekali sama suaminya. Dan selama hidup dengan suaminya tidak pernah menemukan kebahagiaan.

Pertanyaannya, apakah boleh sang isteri meminta cerai? Lanjutkan Membaca Klik Disini

S009. KEWAJIBAN QADHA’ SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Apakah ada dalilnya tentang kewajiban qodho’ sholat?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

مباحث قضاء الصلاة الفائتة حكمه

قضاء الصلاة المفروضة التي فاتت واجب على الفور سواء فاتت بعذر غير مسقط لها أو فاتت بغير عذر أصلا باتفاق ثلاثة من الأئمة ( الشافعية قالوا : إن كان التأخير بغير عذر وجب القضاء على الفور وإن كا…ن بعذر وجب على التراخي

BAHASAN QADHA SHALAT. Hukum mengqadha shalat fardhu menurut kesepakatan tiga madzhab (Hanafi, Maliki dan Hanbali) adalah wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin baik shalat yang ditinggalkan sebab adanya udzur (halangan) atau tidak. Sedangkan menurut Imam Syafi’i qadha shalat hukumnya wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin bila shalat yang ditinggalkan tanpa adanya udzur dan bila karena udzur, qadha shalatnya tidak diharuskan dilakukan sesegera mungkin. [ Al-Fiqh ‘alaa Madzaahiba l-Arba’ah I/755 ].

Hadits-hadits tentang qadha shalat

1). HR.Bukhori, Muslim dari Anas bin Malik ra.: “Siapa yang lupa (melaksanakan) suatu sholat atau tertidur dari (melaksanakan)nya, maka kifaratnya (tebusannya) adalah melakukannya jika dia ingat”. Ibnu Hajr Al-‘Asqalany dalam Al-Fath II:71 ketika menerangkan makna hadits ini berkata; ‘Kewajiban menggadha sholat atas orang yang sengaja meninggalkannya itu lebih utama. Karena hal itu termasuk sasaran Khitab (perintah) untuk melaksanakan sholat, dan dia harus melakukannya…’.

Yang dimaksud Ibnu Hajr ialah kalau perintah Rasulallah saw. bagi orang yang ketinggalan sholat karena lupa dan tertidur itu harus diqadha, apalagi untuk sholat yang disengaja ditinggalkan itu malah lebih utama/wajib untuk menggadhanya. Maka bagaimana dan darimana dalilnya orang bisa mengatakan bahwa sholat yang sengaja ditinggalkan itu tidak wajib/tidak sah untuk diqadha ?

Begitu juga hadits itu menunjukkan bahwa orang yang ketinggalan sholat karena lupa atau tertidur tidak berdosa hanya wajib menggantinya. Tetapi orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dia berdosa besar karena kesengajaannya meninggalkan sholat, sedangkan kewajiban qadha tetap berlaku baginya.

2). Rasulallah saw. setelah sholat Dhuhur tidak sempat sholat sunnah dua raka’at setelah dhuhur, beliau langsung membagi-bagikan harta, kemudian sampai dengar adzan sholat Ashar. Setelah sholat Ashar beliau saw. sholat dua rakaat ringan, sebagai ganti/qadha sholat dua rakaat setelah dhuhur tersebut. (HR.Bukhori, Muslim dari Ummu Salamah).

3). Rasulallah saw. bersabda: ‘Barangsiapa tertidur atau terlupa dari mengerjakan shalat witir maka lakukanlah jika ia ingat atau setelah ia terbangun’. (HR.Tirmidzi dan Abu Daud).(dikutip dari at-taj 1:539)

4). Rasulallah saw. bila terhalang dari shalat malam karena tidur atau sakit maka beliau saw. menggantikannya dengan shalat dua belas rakaat diwaktu siang. (HR. Muslim dan Nasa’i dari Aisyah ra).(dikutip dari at-taj 1:539)

Nah alau sholat sunnah muakkad setelah dhuhur, sholat witir dan sholat malam yang tidak dikerjakan pada waktunya itu diganti/diqadha oleh Rasulallah saw. pada waktu setelah sholat Ashar dan waktu-waktu lainnya, maka sholat fardhu yang sengaja ketinggalan itu lebih utama diganti dari- pada sholat-sholat sunnah ini.

5). HR Muslim dari Abu Qatadah, mengatakan bahwa ia teringat waktu safar pernah Rasulallah saw. ketiduran dan terbangun waktu matahari menyinari punggungnya. Kami terbangun dengan terkejut. Rasulallah saw. bersabda: Naiklah (ketunggangan masing-masing) dan kami menunggangi (tunggangan kami) dan kami berjalan. Ketika matahari telah meninggi, kami turun. Kemudian beliau saw. berwudu dan Bilal adzan utk melaksanakan sholat (shubuh yang ketinggalan). Rasulallah saw. melakukan sholat sunnah sebelum shubuh kemudian sholat shubuh setelah selesai beliau saw. menaiki tunggangannya.

Ada sementara yang berbisik pada temannya; ‘Apakah kifarat (tebusan) terhadap apa

yang kita lakukan dengan mengurangi kesempurnaan shalat kita (at-tafrith fi ash-sholah)? Kemudian Rasulallah saw. bersabda: ’Bukan kah aku sebagai teladan bagi kalian’?, dan selanjutnya beliau bersabda : ‘Sebetulnya jika karena tidur (atau lupa) berarti tidak ada tafrith (kelalaian atau kekurangan dalam pelaksanaan ibadah, maknanya juga tidak berdosa). Yang dinamakan kekurangan dalam pelaksanaan ibadah(tafrith) yaitu orang yang tidak melakukan (dengan sengaja) sholat sampai datang lagi waktu sholat lainnya….’. (Juga Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Imaran bin Husain dengan kata-kata yang mirip, begitu juga Imam Bukhori dari Imran bin Husain).

Hadits ini tidak lain berarti bahwa orang yang dinamakan lalai/meng- gampangkan sholat ialah bila meninggalkan sholat dengan sengaja dan dia berdosa, tapi bila karena tertidur atau lupa maka dia tidak berdosa, kedua-duanya wajib menggadha sholat yang ketinggalan tersebut. Dan dalam hadits ini tidak menyebutkan bahwa orang tidak boleh/haram menggadha sholat yang ketinggalan kecuali selain dari yang lupa atau tertidur, tapi hadits ini menyebutkan tidak ada kelalaian (berdosa) bagi orang yang meninggal- kan sholat karena tertidur atau lupa. Dengan demikian tidak ada dalam kalimat hadits larangan untuk menggadha sholat !

6). Jabir bin Abdullah ra.meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab ra. pernah datang pada hari (peperangan) Khandaq setelah matahari terbenam. Dia mencela orang kafir Quraisy, kemudian berkata; ‘Wahai Rasulallah, aku masih melakukan sholat Ashar hingga (ketika itu) matahari hampir terbenam’. Maka Rasulallah saw. menjawab : ‘Demi Allah aku tidak (belum) melakukan sholat Ashar itu’. Lalu kami berdiri (dan pergi) ke Bith-han. Beliau saw. Berwudu untuk (melaksanakan) sholat dan kami pun berwudu untuk melakukannya. Beliau saw. (melakukan) sholat Ashar setelah matahari terbenam. Kemudian setelah itu beliau saw. melaksanakan sholat Maghrib. (HR.Bukhori dalam Bab ‘orang yg melakukan sholat bersama orang lain secara berjama’ah setelah waktunya lewat’, Imam Muslim I ;438 hadits nr. 631, meriwayatkannya juga, didalam Al-Fath II:68,dan pada bab ‘meng- gadha sholat yang paling utama’ dalam Al-Fath Al-Barri II:72)

7). Begitu juga dalam kitab Fiqih empat madzhab atau Fiqih lima madzhab bab 25 sholat Qadha’ menulis: Para ulama sepakat (termasuk Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan lainnya) bahwa barangsiapa ketinggalan shalat fardhu maka ia wajib menggantinya/menggadhanya. Baik shalat itu ditinggal- kannya dengan sengaja, lupa, tidak tahu maupun karena ketiduran.

Memang terdapat perselisihan antara imam madzhab (Hanafi, Malik, Syafi’i dan lainnya), perselisihan antara mereka ini ialah apakah ada kewajiban qadha atas orang gila, pingsan dan orang mabuk.

8). Dalam kitab fiqih Sunnah Sayyid Sabiq (bahasa Indonesia) jilid 2 hal. 195 bab Menggadha Sholat diterangkan: Menurut madzhab jumhur termasuk disini Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’i mengatakan orang yang sengaja meninggalkan sholat itu berdosa dan ia tetap wajib meng-gadhanya.

Yang menolak pendapat qadha dan ijma’ ulama ialah Ibnu Hazm dan Ibn Taimiyyah, mereka ini membatalkan (tidak sah) untuk menggadha sholat !! Dalam buku ini diterangkan panjang lebar alasan dua imam ini.

(Tetapi alasan dua imam ini terbantah juga oleh hadits-hadits diatas dan ijma’ para ulama pakar termasuk disini Imam Hanafi, Malik, Syafi’I dan ulama pakar lainnya yang mewajibkan qadha atas sholat yang sengaja ditinggal- kan. Mereka ini juga bathil dari sudut dalil dan berlawanan dengan madzhab jumhur—pen.).

Kesimpulan :

Kalau kita baca hadits-hadits diatas semuanya masalah qadha sholat, dengan demikian buat kita insya Allah sudah jelas bahwa menggadha/meng-gantikan sholat yang ketinggalan baik secara disengaja maupun tidak disengaja menurut ijma’ ulama hukumnya wajib, sebagaimana yang diutarakan oleh ulama-ulama pakar yang telah diakui oleh ulama-ulama dunia yaitu Imam Hanafi, Imam Malik dan Imam Syafi’i.

Hanya perbedaan antara yang disengaja dan tidak disengaja ialah masalah dosanya jadi bukan masalah qadhanya. Semoga dengan adanya dalil-dalil yang cukup jelas ini bisa menjadikan manfaat bagi kita semua. Semoga kita semua tidak saling cela-mencela atau merasa pahamnya/anutannya yang paling benar.

Hadits mengqodlo sholat :

إن المشركين شغلوا رسول الله صلّى الله عليه وسلم عن أربع صلوات يوم الخندق، حتى ذهب من الليل ما شاء الله ، فأمر بلالاً فأذن، ثم أقام، فصلى الظهر، ثم أقام فصلى العصر، ثم أقام فصلى المغرب، ثم أقام فصلى العشاء» (2)

رواه الترمذي والنسائي وأحمد، قال الترمذي: ليس بإسناده بأس، إلا أن أبا عبيدة ( راويه عن أبيه عن ابن مسعود ) لم يسمع من أبيه. ورواه النسائي أيضاً عن أبي سعيد الخدري، ورواه البزار عن جابر ابن عبد الله ( نصب الراية: 2 /164- 166 ).

ومن شغلت ذمته بأي تكليف لا تبرأ إلا بتفريغها أداء أو قضاء، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «فدين الله أحق أن يقضى» (3) . فمن وجبت عليه الصلاة، وفاتته بفوات الوقت المخصص لها، لزمه قضاؤها (4) فهو آثم بتركها عمداً، والقضاء عليه واجب، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «إذا رقد أحدكم عن الصلاة، أو غفل عنها، فليصلها إذا ذكرها، فإن الله عز وجل يقول: {أقم الصلاة لذكري} [طه:14/20] (5) وللبخاري: «من نسي صلاة، فليصلها إذا ذكرها، لا كفارة لها إلا ذلك» ومجموع الحديث المتفق عليه بين البخاري ومسلم: «من نام عن صلاة أو نسيها، فليصلها إذا ذكرها» فمن فاتته الصلاة

لنوم أو نسيان قضاها، وبالأولى من فاتته عمداً بتقصير يجب عليه قضاؤها. وعليه: يجب القضاء بترك الصلاة عمداً أو لنوم أو لسهو، ولوشكاً. ولا يجب القضاء عند المالكية لجنون أو إغماء أو كفر، أو حيض أو نفاس، أو لفقد الطهورين. (3) رواه البخاري والنسائي عن ابن عباس. وهناك أحاديث أخرى في الحج في معناه (نيل الأوطار:285/4 وما بعدها). (4) الكتاب مع اللباب: 1 / 88، الشرح الصغير: 1 /364، مغني المحتاج: 1 /127، المهذب: 1 / 54، المجموع: 3 /72 وما بعدها، المغني: 2 /108، بداية المجتهد:175/1. (5) رواه مسلم عن أنس بن مالك (نيل الأوطار: 2 /25).

Wallaahu A’lamu Bisshowaab..

Z001. PERBEDAAN FAQIR, MISKIN DAN DHU’AFA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum kiyai/ustadz..

Mau tanya perbedaan fakir, miskin dan duafa itu apa? mohon penjelasannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Fakir yaitu orang yang tidak mempunyai harta atau mata pencaharian yang layak yang bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhannya baik sandang, papan dan pangan.

Miskin yaitu orang yang mempunyaai harta atau mata pencaharian tetapi tidak mencukupi. Perlu diketahui bahwa pengangguran yang mampu bekerja dan ada lowongan pekerjaan halal yang dan layak tetapi tidak mau bekerja karena malas, bukan termasuk fakir / miskin.

فقه العبادات – شافعي – (ج 1 / ص 655)

الفقير : هو من لا مال له أصلا ولا كسب من حلال أو له مال أو كسب دون أن يكفيه أي من ذلك بأن كان أقل من نصف الكفاية

Fakir adalah orang yang tidak punya harta atau pekerjaan sama sekali dari kerjaan halal,atau punya harta atau kerjaan tapi tidak mencukupi,dalam gambaran hasilnya itu kurang dari 50% dari kebutuhan. Contoh, 1 hari kebutuhan 10 ribu, dia punya uang atau penghasilan tapi dibawah 5 ribu atau tidak punya harta atau kerjaan yang halal sama sekali.

المسكين : هو من له مال أو كسب أو كلاهما معا مما يكفيه بمقدار خمسين إلى تسعين في المائة من حاجياته

Miskin yaitu orang yang punya harta atau pekerjaan atau keduanya dari harta yang mencukupinya itu kira2 50% sampai 90% dari kebutuhannya. Maksudnya gini misalkan kebutuhan seharinya itu 10 ribu,tapi harta / kerjaannya hanya dapat gaji 5-9 ribu saja.

الفقير : وهو الذي ليس له مال ولا كسب أصلا، أو له كسب أو مال لايقع من كفايته: مطعما وملبسا ومسكنا، بأن يحصل من نصف مايكفيه.

مثاله: يحتاج في الشهر ٥٠٠ ريال، ويحصل أقل من ٢٥٠ ريالا.

المسكين: وهو الذي له مال أو كسب يقع موقعا من كفايته ولايكفيه، بأن يحصل فوق نصف ما يكفيه.

مثاله: يحتاج في الشهر ٥٠٠ ريال ويحصل ٤٠٠ ريال. “التقريرات السديدة. ص: ٤٢٣”

*ﻣﻄﻠﺐ : ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﻭﺍﻟﻔﻘﻴﺮ .*

ﻭﻓﻲ ﺍﺻﻄﻼﺡ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ ﻣﻦ ﻭﺟﺪ ﺃﻗﻞ ﻣﻦ ﻧﺼﻒ ﻛﻔﺎﻳﺘﻪ ﺃﻭ ﻟﻢ ﻳﺠﺪ ﺷﻴﺌﺎ ﺃﺻﻼ . ﻭﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﻣﻦ ﻭﺟﺪ ﻧﺼﻒ ﻛﻔﺎﻳﺘﻪ ﻓﺄﻛﺜﺮ . ﻓﺎﻟﻔﻘﻴﺮ ﺃﺷﺪ ﺍﺣﺘﻴﺎﺟﺎ ﻣﻦ ‏ ‏ﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ . ﻭﻗﻴﻞ ﻋﻜﺴﻪ ، ﺍﺧﺘﺎﺭﻩ ﺛﻌﻠﺐ . ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ : ﻭﺛﻌﻠﺐ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ . ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﻣﺎﻟﻚ ، ﻭﺍﻷﻭﻝ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻔﺘﻰ ﺇﻻ ﺑﻪ . ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ : ﻭﻓﺎﻗﺎ
ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲ .

ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ ﻳﻄﻠﻖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ، ﻭﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﻳﻄﻠﻖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ ، ﻓﻬﻤﺎ ﻛﺎﻹﺳﻼﻡ ﻭﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺍﺟﺘﻤﻌﺎ ﺍﻓﺘﺮﻗﺎ ، ﻭﺇﺫﺍ ﺍﻓﺘﺮﻗﺎ ﺍﺟﺘﻤﻌﺎ ، ﻭﻟﻴﺴﺎ ﺳﻮﺍﺀ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ .

ﻭﺗﻈﻬﺮ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﻓﻲ ﻣﺴﺎﺋﻞ ، ﻣﻨﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﺃﻭﺻﻲ ﻟﻠﻔﻘﺮﺍﺀ ﺑﻜﺬﺍ ﻭﻟﻠﻤﺴﺎﻛﻴﻦ ﺑﻜﺬﺍ ، ﻭﻟﺴﻨﺎ ﺑﺼﺪﺩ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ – ﺃﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﻌﺒﻬﻢ – ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻗﺼﺪﻧﺎ ﺍﻟﺘﻨﺒﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﺾ ﻣﻨﺎﻗﺐ ﺍﻟﻔﻘﺮ ، ﻓﻘﺪ ﻭﺭﺩ ﻓﻴﻪ ﺃﺧﺒﺎﺭ ﻛﺜﻴﺮﺓ ، ﻭﺁﺛﺎﺭ ﻏﺰﻳﺮﺓ .

Du’afa adalah orang yang lemah secara fisik dan penglihatannya.

بالضم ، في الجسد ؛ والضَّعف ، بالفتح ، في الرَّأْي والعَقْلِ ، وقيل : هما معاً جائزان في كل وجه ، وخصّ الأَزهريُّ بذلك أَهل البصرة فقال : هما عند أَهل البصرة سِيّانِ يُسْتعملان معاً في ضعف البدن وضعف الرَّأْي .
وفي التنزيل : اللّه الذي خَلَقَكم من ضُعفٍ ثم جَعَل من بعد ضُعْفٍ قُوَّةً ثم جعل من بعد قوَّةٍ ضُعْفاً ؛ قال قتادة : خلقكم من ضعف ، قال من النُّطْفَةِ أَي من المنِيّ ثم جعل من بعد قوة ضعفاً ، قال : الهَرَمَ ؛ وروي عن ابن عمر أَنه ، قال : قرأْت على النبي ، صلى اللّه عليه وسلم : اللّه الذي خلقكم من ضَعف ؛ فأَقرأَني من …

المزيد

المعجم: لسان العرب

Wallahu a’lamu bisshowab..

S008. MERUBAH NIAT DI PERTENGAHAN SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bolehkah merubah niat dari shalat sendiri ke makmum?
Contoh, ana sholat sendirian, ketika sudah dua rakaat, ada yang sholat berjamaah di depan, Boleh ikut imam itu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukum dasar dalam sholat, merubah niat di tengah-tengah sholat merupakan salah satu dari perkara-perkara yang membatalkan sholat. Namun hukum ini akan tidak berlaku dalam permasalahan ketika ada orang sholat fardlu sendirian kemudian ditengah-tengah sholatnya ia melihat ada jamaah dengan sholat yang sama, maka dia malah dianjurkan untuk merubah sholat fardlunya menjadi sholat sunnah mutlak.

Tata caranya:

1. Bila melihat jamaahnya diwaktu ia dalam keadaan belum berdiri menuju rokaat ketiga (bisa dirokaat pertama atau kedua), maka setelah sujud yang kedua dirokaat yang kedua ia langsung tasyahhud kemudian salam dan ikut sholat berjamaah.

Demikian ini bila untuk menyempurnakan dua rokaatnya tidak ada kekhawatiran akan tertinggal jamaah. Sehingga bila ia khawatir akan tertinggal, ia boleh membatalkan atau memutus sholatnya dan langsung ikut berjamaah sebagaimana keterangan imam An-Nawawi dalam kitab “Majmu” nya. Sedang menurut imam Al-Bulqini bila baru mendapatkan satu rokaat ia diperbolehkan melakukan tasyahhud dan salam, kemudian ikut berjamaah. Sehingga solusi yang diberikan oleh imam Al-Bulqini ini menunjukkan bahwa sholat sunnah mutlak boleh satu rokaat ketika keadaannya demikian.

Lalu seumpamanya di pertengahan sholat tapi sudah 3 rakaat apkah tetap bisa diubah menjadi niat sholat sunnat?
Contoh: saya sholat asar sendrian setelah sudah tiga rakaat ternyata ada orang yang bikin sholat berjamaah apakah sholat saya itu walaupun sdh smpai tiga rokaat boleh di ubah niat sholat sunnat mutlak?

Bila melihat jamaahnya dalam keadaan ia sudah berdiri dirokaat yang ketiga, maka disunnahkan untuk tetap menyempurnakan sampai selesai. Kemudian ikut berjamaah dalam rangka mengulangi sholat fardlunya. Namun bila ia khawatir ketika harus menyenpurnakan akan tertinggal jamaah, maka ia boleh membatalkan atau memutus sholatnya kemudian ikut berjamaah.

Untuk permasalahan yang kedua ini, ia diperbolehkan merubah sholatnya menjadi sunnah mutlak. Kemudian sholat fardlunya ikut jamaah. Sehingga cara ini sholat fardlu yang ia kerjakan bersama jamaah bukan dalam rangka mengulangi, sebab sholat yang awal telah ia rubah menjadi sholat sunnah mutlak.

CATATAN :

Merubah niat sholat fardlu menjadi sholat sunnah yang boleh hanyalah dirubah menjadi sholat sunnah mutlak saja, tidak boleh dirubah menjadi sholat sunnah mu’ayyan, misalnya; dirubah menjadi sholat sunnah Dluha dan semisalnya. Sebab malah akan menyebabkan batalnya sholat bila niatnya selain sholat sunnah mutlak.

Referensi :

– Hasyiyah Ianah Ath-Thalibin beserta Hamisynya Fathul Muin, juz.1 halaman.263-264 :

ﻭﻧﺪﺏ ﻟﻤﻨﻔﺮﺩ ﺭﺃﻯ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﺸﺮﻭﻋﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﻠﺐ ﻓﺮﺿﻪ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﻻ ﺍﻟﻔﺎﺋﺖ ﻧﻔﻼ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻳﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻘﻢ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ .

ﻧﻌﻢ ﺇﻥ ﺧﺸﻲ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺇﻥ ﺗﻤﻢ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺍﺳﺘﺤﺐ ﻟﻪ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﺳﺘﺌﻨﺎﻓﻬﺎ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ .

ﻭﺑﺤﺚ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﻠﻢ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺔ ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺃﺗﻤﻬﺎ ﻧﺪﺑﺎ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺨﺶ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ .

(قوله أما إذا قام لثالثة الخ …. ) محترز إذا لم يقم لثالثة . (قوله أتمها ندبا) فلو خالف وقلبها نفلا وسلم لم يندب ولكنه يجوز كما مر . (قوله إن لم يخش فوت الجماعة) فإن خشي فوتها قطعها واستأنفها مع الجماعة

– Al Iqna’ li Zirbiniy, juz.1 halaman.151 (Maktabah Syameela) :

( ﻭ ) ﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺱ ( ﺗَﻐْﻴِﻴﺮ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ) ﺇِﻟَﻰ ﻏﻴﺮ ﺍﻟْﻤَﻨﻮِﻱ ﻓَﻠَﻮ ﻗﻠﺐ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻫُﻮَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺻَﻠَﺎﺓ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻋَﺎﻟﻤﺎ ﻋَﺎﻣِﺪًﺍ ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻭَﻟَﻮ ﻋﻘﺐ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ﺑِﻠَﻔْﻆ ﺇِﻥ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪ ﺃَﻭ ﻧَﻮَﺍﻫَﺎ ﻭَﻗﺼﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﺘَّﺒَﺮُّﻙ ﺃَﻭ ﺃَﻥ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞ ﻭَﺍﻗﻊ ﺑِﺎﻟْﻤَﺸِﻴﺌَﺔِ ﻟﻢ ﻳﻀﺮ ﺃَﻭ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴﻖ ﺃَﻭ ﻃﻠﻖ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻟﻠﻤﻨﺎﻓﺎﺓ ﻭَﻟَﻮ ﻗﻠﺐ ﻓﺮﺿﺎ ﻧﻔﻼ ﻣُﻄﻠﻘًﺎ ﻟﻴﺪﺭﻙ ﺟﻤَﺎﻋَﺔ ﻣَﺸْﺮُﻭﻋَﺔ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﻨْﻔَﺮﺩ ﻭَﻟﻢ ﻳﻌﻴﻦ ﻓَﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻟﻴﺪﺭﻛﻬﺎ ﺻَﺢَّ ﺫَﻟِﻚ

ﺃﻣﺎ ﻟَﻮ ﻗَﻠﺒﻬَﺎ ﻧﻔﻼ ﻣﻌﻴﻨﺎ ﻛﺮﻛﻌﺘﻲ ﺍﻟﻀُّﺤَﻰ ﻓَﻠَﺎ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻻﻓﺘﻘﺎﺭﻩ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻌْﻴِﻴﻦ ﺃﻣﺎ ﺇِﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﺸﺮﻉ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟﻈّﻬْﺮ ﻓَﻮﺟﺪَ ﻣﻦ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮ ﻓَﻠَﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟْﻘﻄﻊ ﻛَﻤَﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺠْﻤُﻮﻉ.

…………………………………………………………………….

هل يجوز تغيير النية أثناء الصلاة؟

الجواب:
1 – كل عمل لا بد له من نية، ولا يجوز تغيير النية من معين لمعين كتغيير نية العصر إلى الظهر، ولا يجوز أيضا من مطلق لمعين كمن يصلي نافلة ثم ينوي بها الفجر، ولكن يجوز تغير النية من معين لمطلق، كمن يصلي فريضة منفردا ثم يحولها لنافلة لحضور جماعة مثلا.

2 – يجوز للمصلي أن يغير نيته وهو في الصلاة من مأموم أو منفرد إلى إمام، أو من مأموم إلى منفرد، أو من نية فرض إلى نفل لا العكس.

3 – إذا قطع المصلي النية أثناء الصلاة بطلت صلاته ووجب عليه الابتداء من أولها.

…………………………………………………………………

قال المصنف – رحمه الله تعالى – ( ولا تصح الجماعة حتى ينوي المأموم الجماعة ; لأنه يريد أن يتبع غيره فلا بد من نية الاتباع ، فإن رأى رجلين يصليان على الانفراد فنوى الائتمام بهما لم تصح صلاته ; لأنه لا يمكنه أن يقتدي بهما في وقت واحد ، وإن نوى الاقتداء بأحدهما بغير عينه لم تصح صلاته .

لأنه إذا لم يعين لا يمكنه الاقتداء ، وإن كان أحدهما يصلي بالآخر فنوى الاقتداء بالمأموم لم تصح صلاته ; لأنه تابع لغيره فلا يجوز أن يتبعه غيره ، وإن صلى رجلان فنوى كل واحد منهما أنه هو الإمام لم تبطل صلاته ; لأن كل واحد منهما يصلي لنفسه ، ، وإن نوى كل واحد منهما أنه مؤتم بالآخر لم تصح صلاته ; لأن كل واحد منهما ائتم بمن ليس بإمام ) .

الحاشية رقم: 1( الشرح ) اتفق نص الشافعي والأصحاب على أنه يشترط لصحة الجماعة أن ينوي المأموم الجماعة والاقتداء والائتمام ، قالوا : وتكون هذه النية مقرونة بتكبيرة الإحرام كسائر ما ينويه ، فإن لم ينو في الابتداء ، وأحرم منفردا ثم نوى الاقتداء في أثناء صلاته ففيه خلاف ذكره المصنف بعد هذا ، وإذا ترك نية الاقتداء والانفراد وأحرم مطلقا انعقدت صلاته منفردا ، فإن [ ص: 96 ] تابع الإمام في أفعاله من غير تجديد نية فوجهان : حكاهما القاضي حسين في تعليقه والمتوليوآخرون ( أصحهما ) وأشهرهما : تبطل صلاته ; لأنه ارتبط بمن ليس بإمام له فأشبه الارتباط بغير المصلي ، وبهذا قطع البغويوآخرون .

( والثاني ) : لا تبطل ; لأنه أتى بالأركان على وجهها ، وبهذا قطع الأكثرون ، فإن قلنا : لا تبطل صلاته كان منفردا ، ولا يحصل له فضيلة الجماعة بلا خلاف ، صرح به المتولي وغيره .

وإن قلنا : تبطل صلاته فإنما تبطل إذا انتظر ركوعه وسجوده وغيرهما ليركع ويسجد معه وطال انتظاره ، فأما إذا اتفق انقضاء فعله مع انقضاء فعله أو انتظره يسيرا جدا فلا تبطل بلا خلاف ، ولو شك في أثناء صلاته في نية الاقتداء لم تجز له متابعته إلا أن ينوي الآن المتابعة ، وحيث قلنا بجواز الاقتداء في أثناء الصلاة ; لأن الأصل عدم النية ، فإن تذكر أنه كان نوى قال القاضي حسين والمتولي وغيرهما : حكمه حكم من شك في نية أصل الصلاة فإن تذكر قبل أن يفعل فعلا على خلاف متابعة الإمام ، وهو شاك لم يضره .

وإن تذكر بعد أن فعل فعلا على متابعته في الشك بطلت صلاته إذا قلنا بالأصح : إن المنفرد تبطل صلاته بالمتابعة ; لأنه في حال شكه له حكم المنفرد ، وليس له المتابعة حتى قال أصحابنا : لو عرض له هذا الشك في التشهد الأخير لا يجوز أن يقف سلامه على سلام الإمام .

أما إذا اقتدى بإمام فسلم من صلاته ثم شك هل كان نوى الاقتداء ؟ فلا شيء عليه ، وصلاته ماضية على الصحة هذا هو المذهب ، وذكر القاضي حسين في تعليقه أن فيه الخلاف السابق فيمن شك بعد فراغه من الصلاة ، هل ترك ركنا من صلاته أم لا ؟ وهذا ضعيف ، والله أعلم .

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=14&ID=2255

Wallahu a’lamu bisshowab..

S007. MENGGABUNGKAN DUA NIAT DALAM SATU SHALAT

PERTANYAAN :

Assalaamualaikum ustadz.

Bolehkah dalam satu sholat diniatin dua? Contohnya seperti sholat sunnah QOBLIYAH dan TAHIYATAL MASJID mohon jawabnnya ustadz.. mksh..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya boleh.

ﺍﻟﻘﺎﻋﺪﺓ ﺍﻟﺘﺎﺳﻌﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺃﻣﺮﺍﻥ ﻣﻦ ﺟﻨﺲﻭﺍﺣﺪ ، ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻣﻘﺼﻮﺩﻫﻤﺎ ، ﺩﺧﻞ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﻏﺎﻟﺒﺎ

Qaidah ke sembilan : apabila dua perkara yang sejenis dan maksud (tujuannya) tidak berbeda berkumpul jadi satu maka secara umum salah satunya masuk kepada yang lain .

ﻓﻤﻦ ﻓﺮﻭﻉ ﺫﻟﻚ

di antara yang masuk dalam qaidah ini adalah :

ﻭﻟﻮ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﺩﺧﻠﺖ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺘﺤﻴﺔ ، ﻭﻟﻮﺩﺧﻞ ﺍﻟﺤﺮﻡ ﻣﺤﺮﻣﺎ ، ﺑﺤﺞ ﻓﺮﺽ ﺃﻭ ﻋﻤﺮﺓ . ﺩﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡﻟﺪﺧﻮﻝ ﻣﻜﺔ . ﻭﻟﻮ ﻃﺎﻑ ﺍﻟﻘﺎﺩﻡ ﻋﻦ ﻓﺮﺽ ﺃﻭ ﻧﺬﺭ ، ﺩﺧﻞ ﻓﻴﻪﻃﻮﺍﻑ ﺍﻟﻘﺪﻭﻡ ، ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻃﺎﻑ ﻟﻺﻓﺎﺿﺔ ﻻ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪﻃﻮﺍﻑ ﺍﻟﻮﺩﺍﻉ ﻷﻥ ﻛﻼ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻣﻘﺼﻮﺩ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ، ﻭﻣﻘﺼﻮﺩﻫﻤﺎﻣﺨﺘﻠﻒ ﻭﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻮ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ، ﻓﻮﺟﺪﻫﻢﻳﺼﻠﻮﻥ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻓﺼﻼﻫﺎ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﺼﻞ ﻟﻪ ﺗﺤﻴﺔ ﺍﻟﺒﻴﺖ ،ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻄﻮﺍﻑ ، ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺟﻨﺲ ﺍﻟﺼﻼﺓ

▪Bila ada orang masuk masjid untuk sholat fardlu (atau sholat yang lain : pent) maka sholat tahiyyatul masjid sudah otomatis masuk (dengan syarat tertentu)

▪Bila ada orang masuk kota Makkah dalam keadaan ihrom untuk haji ataupun umroh maka kesunahan ihrom karena masuk kota Makkah sudah otomatis masuk .

▪Bila ada orang datang ke Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf fardlu haji atau nadzar maka thowaf qudum (thowaf karena masuk Masjidil Haram) otomatis masuk ,

lain halnya ketika melakukan thowaf ifadloh maka thowaf wada’ tidak masuk karena tujuannya dan maksudnya beda. sama juga ketika orang masuk Masjidil Haram disana sedang ada orang berjama’ah kemudian dia ikut makmum dibelakangnya, maka dia mendapat fadhilah jama’ah tapi belum mendapat kesunahan ibadah ketika masuk Masjidil Haram (tahiyyatul bait) karena tahiyyatul bait bukan sholat melainkan thowaf.

[ Asybah wannadho-ir 126 maktabah dar el-kutub el-‘ilmiyyah ].

BOLEH JUGA MENGGABUNGKAN DUA NIAT QOBLIYAH DAN BA’DIYAH :

Ini contoh niat sholat sunnah qobliyah dzuhur 4 rokaat digabung dengan sholat sunnah ba’diyahnya 4 rokaat juga. Tapi jikalau ingin mengerjakan yang muakkadahnya saja (2 rokaat qobliyah dan 2 rokaat ba’diyah ), tinggal diganti saja kata kata :

ثمان ركعات

Dengan :

أربع ركعات

Selainnya sama
Jadi niatnya seperti ini :

نويت أصلي ثمان ركعات سنة الظهر القبلية و البعدية

Apakah Talafudz nya boleh tidak diikutkan ? Boleh karena sejatinya niat adalah menyengaja melakukan sesuatu sekira pekerjaan yang ia lakukan adalah murni dari pilihannya sendiri. Wallohu A’lam.

Ibarot :

حاشية البيجوري ج ١ ص ٢٥٦

و له أيضا جمع القبلية و البعدية معا بإحرام واحد بعد الفرض بأن يقول نويت أصلي ثمان ركعات سنة الظهر القبلية و البعدية و الله أعلم

فتاوي الرملي ج. ١ ص. ٢١٢

(سئل) عما لو أخر سنة المغرب التي قبلها ثم أراد صلاتها مع التي بعدها بتسليمة واحدة هل تصح؟

(فأجاب) بأنه تصحان بتسليمة واحدة ناويا القبلية والبعدية

الغرر البهية ج. ١ ص. ٣٩٢

(قوله: في سنة الظهر والعصر) فيجوز جمع الأربع القبلية المؤكدة، وغيرها وجمع الثمان القبلية، والبعدية المؤكدة، وغيرها، وجمع الأربع القبلية والبعدية المؤكدة، ولا يجوز جمع سنة الظهر مع سنة العصر ولو في جمع التقديم، أو التأخير لاختلاف النوع. ا. هـ ع ش

الغرر البهية في شرح منظومة الفرائد البهية ص. ١٥

وقال الغزالي في فتاويه ؛ أمر النية سهل في العبادات، وإنما يتعسر بسبب الجهل بحقيقة النية أو الوسوسة، فحقيقة النية القصد الى الفعل. وذلك مما يصير به الفعل اختيارا كالهوي إلى السجود فإنه يكون تارة بقصده وتارة يكون بسقوط الإنسان على وجهه بصدمة.

Wallahu a’lamu bisshowab..