Arsip Tag: Hasil Bahsul Masail IKABA

S009. KEWAJIBAN QADHA’ SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Apakah ada dalilnya tentang kewajiban qodho’ sholat?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

مباحث قضاء الصلاة الفائتة حكمه

قضاء الصلاة المفروضة التي فاتت واجب على الفور سواء فاتت بعذر غير مسقط لها أو فاتت بغير عذر أصلا باتفاق ثلاثة من الأئمة ( الشافعية قالوا : إن كان التأخير بغير عذر وجب القضاء على الفور وإن كا…ن بعذر وجب على التراخي

BAHASAN QADHA SHALAT. Hukum mengqadha shalat fardhu menurut kesepakatan tiga madzhab (Hanafi, Maliki dan Hanbali) adalah wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin baik shalat yang ditinggalkan sebab adanya udzur (halangan) atau tidak. Sedangkan menurut Imam Syafi’i qadha shalat hukumnya wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin bila shalat yang ditinggalkan tanpa adanya udzur dan bila karena udzur, qadha shalatnya tidak diharuskan dilakukan sesegera mungkin. [ Al-Fiqh ‘alaa Madzaahiba l-Arba’ah I/755 ].

Hadits-hadits tentang qadha shalat

1). HR.Bukhori, Muslim dari Anas bin Malik ra.: “Siapa yang lupa (melaksanakan) suatu sholat atau tertidur dari (melaksanakan)nya, maka kifaratnya (tebusannya) adalah melakukannya jika dia ingat”. Ibnu Hajr Al-‘Asqalany dalam Al-Fath II:71 ketika menerangkan makna hadits ini berkata; ‘Kewajiban menggadha sholat atas orang yang sengaja meninggalkannya itu lebih utama. Karena hal itu termasuk sasaran Khitab (perintah) untuk melaksanakan sholat, dan dia harus melakukannya…’.

Yang dimaksud Ibnu Hajr ialah kalau perintah Rasulallah saw. bagi orang yang ketinggalan sholat karena lupa dan tertidur itu harus diqadha, apalagi untuk sholat yang disengaja ditinggalkan itu malah lebih utama/wajib untuk menggadhanya. Maka bagaimana dan darimana dalilnya orang bisa mengatakan bahwa sholat yang sengaja ditinggalkan itu tidak wajib/tidak sah untuk diqadha ?

Begitu juga hadits itu menunjukkan bahwa orang yang ketinggalan sholat karena lupa atau tertidur tidak berdosa hanya wajib menggantinya. Tetapi orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dia berdosa besar karena kesengajaannya meninggalkan sholat, sedangkan kewajiban qadha tetap berlaku baginya.

2). Rasulallah saw. setelah sholat Dhuhur tidak sempat sholat sunnah dua raka’at setelah dhuhur, beliau langsung membagi-bagikan harta, kemudian sampai dengar adzan sholat Ashar. Setelah sholat Ashar beliau saw. sholat dua rakaat ringan, sebagai ganti/qadha sholat dua rakaat setelah dhuhur tersebut. (HR.Bukhori, Muslim dari Ummu Salamah).

3). Rasulallah saw. bersabda: ‘Barangsiapa tertidur atau terlupa dari mengerjakan shalat witir maka lakukanlah jika ia ingat atau setelah ia terbangun’. (HR.Tirmidzi dan Abu Daud).(dikutip dari at-taj 1:539)

4). Rasulallah saw. bila terhalang dari shalat malam karena tidur atau sakit maka beliau saw. menggantikannya dengan shalat dua belas rakaat diwaktu siang. (HR. Muslim dan Nasa’i dari Aisyah ra).(dikutip dari at-taj 1:539)

Nah alau sholat sunnah muakkad setelah dhuhur, sholat witir dan sholat malam yang tidak dikerjakan pada waktunya itu diganti/diqadha oleh Rasulallah saw. pada waktu setelah sholat Ashar dan waktu-waktu lainnya, maka sholat fardhu yang sengaja ketinggalan itu lebih utama diganti dari- pada sholat-sholat sunnah ini.

5). HR Muslim dari Abu Qatadah, mengatakan bahwa ia teringat waktu safar pernah Rasulallah saw. ketiduran dan terbangun waktu matahari menyinari punggungnya. Kami terbangun dengan terkejut. Rasulallah saw. bersabda: Naiklah (ketunggangan masing-masing) dan kami menunggangi (tunggangan kami) dan kami berjalan. Ketika matahari telah meninggi, kami turun. Kemudian beliau saw. berwudu dan Bilal adzan utk melaksanakan sholat (shubuh yang ketinggalan). Rasulallah saw. melakukan sholat sunnah sebelum shubuh kemudian sholat shubuh setelah selesai beliau saw. menaiki tunggangannya.

Ada sementara yang berbisik pada temannya; ‘Apakah kifarat (tebusan) terhadap apa

yang kita lakukan dengan mengurangi kesempurnaan shalat kita (at-tafrith fi ash-sholah)? Kemudian Rasulallah saw. bersabda: ’Bukan kah aku sebagai teladan bagi kalian’?, dan selanjutnya beliau bersabda : ‘Sebetulnya jika karena tidur (atau lupa) berarti tidak ada tafrith (kelalaian atau kekurangan dalam pelaksanaan ibadah, maknanya juga tidak berdosa). Yang dinamakan kekurangan dalam pelaksanaan ibadah(tafrith) yaitu orang yang tidak melakukan (dengan sengaja) sholat sampai datang lagi waktu sholat lainnya….’. (Juga Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Imaran bin Husain dengan kata-kata yang mirip, begitu juga Imam Bukhori dari Imran bin Husain).

Hadits ini tidak lain berarti bahwa orang yang dinamakan lalai/meng- gampangkan sholat ialah bila meninggalkan sholat dengan sengaja dan dia berdosa, tapi bila karena tertidur atau lupa maka dia tidak berdosa, kedua-duanya wajib menggadha sholat yang ketinggalan tersebut. Dan dalam hadits ini tidak menyebutkan bahwa orang tidak boleh/haram menggadha sholat yang ketinggalan kecuali selain dari yang lupa atau tertidur, tapi hadits ini menyebutkan tidak ada kelalaian (berdosa) bagi orang yang meninggal- kan sholat karena tertidur atau lupa. Dengan demikian tidak ada dalam kalimat hadits larangan untuk menggadha sholat !

6). Jabir bin Abdullah ra.meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab ra. pernah datang pada hari (peperangan) Khandaq setelah matahari terbenam. Dia mencela orang kafir Quraisy, kemudian berkata; ‘Wahai Rasulallah, aku masih melakukan sholat Ashar hingga (ketika itu) matahari hampir terbenam’. Maka Rasulallah saw. menjawab : ‘Demi Allah aku tidak (belum) melakukan sholat Ashar itu’. Lalu kami berdiri (dan pergi) ke Bith-han. Beliau saw. Berwudu untuk (melaksanakan) sholat dan kami pun berwudu untuk melakukannya. Beliau saw. (melakukan) sholat Ashar setelah matahari terbenam. Kemudian setelah itu beliau saw. melaksanakan sholat Maghrib. (HR.Bukhori dalam Bab ‘orang yg melakukan sholat bersama orang lain secara berjama’ah setelah waktunya lewat’, Imam Muslim I ;438 hadits nr. 631, meriwayatkannya juga, didalam Al-Fath II:68,dan pada bab ‘meng- gadha sholat yang paling utama’ dalam Al-Fath Al-Barri II:72)

7). Begitu juga dalam kitab Fiqih empat madzhab atau Fiqih lima madzhab bab 25 sholat Qadha’ menulis: Para ulama sepakat (termasuk Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan lainnya) bahwa barangsiapa ketinggalan shalat fardhu maka ia wajib menggantinya/menggadhanya. Baik shalat itu ditinggal- kannya dengan sengaja, lupa, tidak tahu maupun karena ketiduran.

Memang terdapat perselisihan antara imam madzhab (Hanafi, Malik, Syafi’i dan lainnya), perselisihan antara mereka ini ialah apakah ada kewajiban qadha atas orang gila, pingsan dan orang mabuk.

8). Dalam kitab fiqih Sunnah Sayyid Sabiq (bahasa Indonesia) jilid 2 hal. 195 bab Menggadha Sholat diterangkan: Menurut madzhab jumhur termasuk disini Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’i mengatakan orang yang sengaja meninggalkan sholat itu berdosa dan ia tetap wajib meng-gadhanya.

Yang menolak pendapat qadha dan ijma’ ulama ialah Ibnu Hazm dan Ibn Taimiyyah, mereka ini membatalkan (tidak sah) untuk menggadha sholat !! Dalam buku ini diterangkan panjang lebar alasan dua imam ini.

(Tetapi alasan dua imam ini terbantah juga oleh hadits-hadits diatas dan ijma’ para ulama pakar termasuk disini Imam Hanafi, Malik, Syafi’I dan ulama pakar lainnya yang mewajibkan qadha atas sholat yang sengaja ditinggal- kan. Mereka ini juga bathil dari sudut dalil dan berlawanan dengan madzhab jumhur—pen.).

Kesimpulan :

Kalau kita baca hadits-hadits diatas semuanya masalah qadha sholat, dengan demikian buat kita insya Allah sudah jelas bahwa menggadha/meng-gantikan sholat yang ketinggalan baik secara disengaja maupun tidak disengaja menurut ijma’ ulama hukumnya wajib, sebagaimana yang diutarakan oleh ulama-ulama pakar yang telah diakui oleh ulama-ulama dunia yaitu Imam Hanafi, Imam Malik dan Imam Syafi’i.

Hanya perbedaan antara yang disengaja dan tidak disengaja ialah masalah dosanya jadi bukan masalah qadhanya. Semoga dengan adanya dalil-dalil yang cukup jelas ini bisa menjadikan manfaat bagi kita semua. Semoga kita semua tidak saling cela-mencela atau merasa pahamnya/anutannya yang paling benar.

Hadits mengqodlo sholat :

إن المشركين شغلوا رسول الله صلّى الله عليه وسلم عن أربع صلوات يوم الخندق، حتى ذهب من الليل ما شاء الله ، فأمر بلالاً فأذن، ثم أقام، فصلى الظهر، ثم أقام فصلى العصر، ثم أقام فصلى المغرب، ثم أقام فصلى العشاء» (2)

رواه الترمذي والنسائي وأحمد، قال الترمذي: ليس بإسناده بأس، إلا أن أبا عبيدة ( راويه عن أبيه عن ابن مسعود ) لم يسمع من أبيه. ورواه النسائي أيضاً عن أبي سعيد الخدري، ورواه البزار عن جابر ابن عبد الله ( نصب الراية: 2 /164- 166 ).

ومن شغلت ذمته بأي تكليف لا تبرأ إلا بتفريغها أداء أو قضاء، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «فدين الله أحق أن يقضى» (3) . فمن وجبت عليه الصلاة، وفاتته بفوات الوقت المخصص لها، لزمه قضاؤها (4) فهو آثم بتركها عمداً، والقضاء عليه واجب، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «إذا رقد أحدكم عن الصلاة، أو غفل عنها، فليصلها إذا ذكرها، فإن الله عز وجل يقول: {أقم الصلاة لذكري} [طه:14/20] (5) وللبخاري: «من نسي صلاة، فليصلها إذا ذكرها، لا كفارة لها إلا ذلك» ومجموع الحديث المتفق عليه بين البخاري ومسلم: «من نام عن صلاة أو نسيها، فليصلها إذا ذكرها» فمن فاتته الصلاة

لنوم أو نسيان قضاها، وبالأولى من فاتته عمداً بتقصير يجب عليه قضاؤها. وعليه: يجب القضاء بترك الصلاة عمداً أو لنوم أو لسهو، ولوشكاً. ولا يجب القضاء عند المالكية لجنون أو إغماء أو كفر، أو حيض أو نفاس، أو لفقد الطهورين. (3) رواه البخاري والنسائي عن ابن عباس. وهناك أحاديث أخرى في الحج في معناه (نيل الأوطار:285/4 وما بعدها). (4) الكتاب مع اللباب: 1 / 88، الشرح الصغير: 1 /364، مغني المحتاج: 1 /127، المهذب: 1 / 54، المجموع: 3 /72 وما بعدها، المغني: 2 /108، بداية المجتهد:175/1. (5) رواه مسلم عن أنس بن مالك (نيل الأوطار: 2 /25).

Wallaahu A’lamu Bisshowaab..

Z001. PERBEDAAN FAQIR, MISKIN DAN DHU’AFA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum kiyai/ustadz..

Mau tanya perbedaan fakir, miskin dan duafa itu apa? mohon penjelasannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Fakir yaitu orang yang tidak mempunyai harta atau mata pencaharian yang layak yang bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhannya baik sandang, papan dan pangan.

Miskin yaitu orang yang mempunyaai harta atau mata pencaharian tetapi tidak mencukupi. Perlu diketahui bahwa pengangguran yang mampu bekerja dan ada lowongan pekerjaan halal yang dan layak tetapi tidak mau bekerja karena malas, bukan termasuk fakir / miskin.

فقه العبادات – شافعي – (ج 1 / ص 655)

الفقير : هو من لا مال له أصلا ولا كسب من حلال أو له مال أو كسب دون أن يكفيه أي من ذلك بأن كان أقل من نصف الكفاية

Fakir adalah orang yang tidak punya harta atau pekerjaan sama sekali dari kerjaan halal,atau punya harta atau kerjaan tapi tidak mencukupi,dalam gambaran hasilnya itu kurang dari 50% dari kebutuhan. Contoh, 1 hari kebutuhan 10 ribu, dia punya uang atau penghasilan tapi dibawah 5 ribu atau tidak punya harta atau kerjaan yang halal sama sekali.

المسكين : هو من له مال أو كسب أو كلاهما معا مما يكفيه بمقدار خمسين إلى تسعين في المائة من حاجياته

Miskin yaitu orang yang punya harta atau pekerjaan atau keduanya dari harta yang mencukupinya itu kira2 50% sampai 90% dari kebutuhannya. Maksudnya gini misalkan kebutuhan seharinya itu 10 ribu,tapi harta / kerjaannya hanya dapat gaji 5-9 ribu saja.

الفقير : وهو الذي ليس له مال ولا كسب أصلا، أو له كسب أو مال لايقع من كفايته: مطعما وملبسا ومسكنا، بأن يحصل من نصف مايكفيه.

مثاله: يحتاج في الشهر ٥٠٠ ريال، ويحصل أقل من ٢٥٠ ريالا.

المسكين: وهو الذي له مال أو كسب يقع موقعا من كفايته ولايكفيه، بأن يحصل فوق نصف ما يكفيه.

مثاله: يحتاج في الشهر ٥٠٠ ريال ويحصل ٤٠٠ ريال. “التقريرات السديدة. ص: ٤٢٣”

*ﻣﻄﻠﺐ : ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﻭﺍﻟﻔﻘﻴﺮ .*

ﻭﻓﻲ ﺍﺻﻄﻼﺡ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ ﻣﻦ ﻭﺟﺪ ﺃﻗﻞ ﻣﻦ ﻧﺼﻒ ﻛﻔﺎﻳﺘﻪ ﺃﻭ ﻟﻢ ﻳﺠﺪ ﺷﻴﺌﺎ ﺃﺻﻼ . ﻭﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﻣﻦ ﻭﺟﺪ ﻧﺼﻒ ﻛﻔﺎﻳﺘﻪ ﻓﺄﻛﺜﺮ . ﻓﺎﻟﻔﻘﻴﺮ ﺃﺷﺪ ﺍﺣﺘﻴﺎﺟﺎ ﻣﻦ ‏ ‏ﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ . ﻭﻗﻴﻞ ﻋﻜﺴﻪ ، ﺍﺧﺘﺎﺭﻩ ﺛﻌﻠﺐ . ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ : ﻭﺛﻌﻠﺐ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ . ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﻣﺎﻟﻚ ، ﻭﺍﻷﻭﻝ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻔﺘﻰ ﺇﻻ ﺑﻪ . ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ : ﻭﻓﺎﻗﺎ
ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲ .

ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ ﻳﻄﻠﻖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ، ﻭﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﻳﻄﻠﻖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ ، ﻓﻬﻤﺎ ﻛﺎﻹﺳﻼﻡ ﻭﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺍﺟﺘﻤﻌﺎ ﺍﻓﺘﺮﻗﺎ ، ﻭﺇﺫﺍ ﺍﻓﺘﺮﻗﺎ ﺍﺟﺘﻤﻌﺎ ، ﻭﻟﻴﺴﺎ ﺳﻮﺍﺀ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ .

ﻭﺗﻈﻬﺮ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﻓﻲ ﻣﺴﺎﺋﻞ ، ﻣﻨﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﺃﻭﺻﻲ ﻟﻠﻔﻘﺮﺍﺀ ﺑﻜﺬﺍ ﻭﻟﻠﻤﺴﺎﻛﻴﻦ ﺑﻜﺬﺍ ، ﻭﻟﺴﻨﺎ ﺑﺼﺪﺩ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ – ﺃﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﻌﺒﻬﻢ – ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻗﺼﺪﻧﺎ ﺍﻟﺘﻨﺒﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﺾ ﻣﻨﺎﻗﺐ ﺍﻟﻔﻘﺮ ، ﻓﻘﺪ ﻭﺭﺩ ﻓﻴﻪ ﺃﺧﺒﺎﺭ ﻛﺜﻴﺮﺓ ، ﻭﺁﺛﺎﺭ ﻏﺰﻳﺮﺓ .

Du’afa adalah orang yang lemah secara fisik dan penglihatannya.

بالضم ، في الجسد ؛ والضَّعف ، بالفتح ، في الرَّأْي والعَقْلِ ، وقيل : هما معاً جائزان في كل وجه ، وخصّ الأَزهريُّ بذلك أَهل البصرة فقال : هما عند أَهل البصرة سِيّانِ يُسْتعملان معاً في ضعف البدن وضعف الرَّأْي .
وفي التنزيل : اللّه الذي خَلَقَكم من ضُعفٍ ثم جَعَل من بعد ضُعْفٍ قُوَّةً ثم جعل من بعد قوَّةٍ ضُعْفاً ؛ قال قتادة : خلقكم من ضعف ، قال من النُّطْفَةِ أَي من المنِيّ ثم جعل من بعد قوة ضعفاً ، قال : الهَرَمَ ؛ وروي عن ابن عمر أَنه ، قال : قرأْت على النبي ، صلى اللّه عليه وسلم : اللّه الذي خلقكم من ضَعف ؛ فأَقرأَني من …

المزيد

المعجم: لسان العرب

Wallahu a’lamu bisshowab..

S008. MERUBAH NIAT DI PERTENGAHAN SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bolehkah merubah niat dari shalat sendiri ke makmum?
Contoh, ana sholat sendirian, ketika sudah dua rakaat, ada yang sholat berjamaah di depan, Boleh ikut imam itu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukum dasar dalam sholat, merubah niat di tengah-tengah sholat merupakan salah satu dari perkara-perkara yang membatalkan sholat. Namun hukum ini akan tidak berlaku dalam permasalahan ketika ada orang sholat fardlu sendirian kemudian ditengah-tengah sholatnya ia melihat ada jamaah dengan sholat yang sama, maka dia malah dianjurkan untuk merubah sholat fardlunya menjadi sholat sunnah mutlak.

Tata caranya:

1. Bila melihat jamaahnya diwaktu ia dalam keadaan belum berdiri menuju rokaat ketiga (bisa dirokaat pertama atau kedua), maka setelah sujud yang kedua dirokaat yang kedua ia langsung tasyahhud kemudian salam dan ikut sholat berjamaah.

Demikian ini bila untuk menyempurnakan dua rokaatnya tidak ada kekhawatiran akan tertinggal jamaah. Sehingga bila ia khawatir akan tertinggal, ia boleh membatalkan atau memutus sholatnya dan langsung ikut berjamaah sebagaimana keterangan imam An-Nawawi dalam kitab “Majmu” nya. Sedang menurut imam Al-Bulqini bila baru mendapatkan satu rokaat ia diperbolehkan melakukan tasyahhud dan salam, kemudian ikut berjamaah. Sehingga solusi yang diberikan oleh imam Al-Bulqini ini menunjukkan bahwa sholat sunnah mutlak boleh satu rokaat ketika keadaannya demikian.

Lalu seumpamanya di pertengahan sholat tapi sudah 3 rakaat apkah tetap bisa diubah menjadi niat sholat sunnat?
Contoh: saya sholat asar sendrian setelah sudah tiga rakaat ternyata ada orang yang bikin sholat berjamaah apakah sholat saya itu walaupun sdh smpai tiga rokaat boleh di ubah niat sholat sunnat mutlak?

Bila melihat jamaahnya dalam keadaan ia sudah berdiri dirokaat yang ketiga, maka disunnahkan untuk tetap menyempurnakan sampai selesai. Kemudian ikut berjamaah dalam rangka mengulangi sholat fardlunya. Namun bila ia khawatir ketika harus menyenpurnakan akan tertinggal jamaah, maka ia boleh membatalkan atau memutus sholatnya kemudian ikut berjamaah.

Untuk permasalahan yang kedua ini, ia diperbolehkan merubah sholatnya menjadi sunnah mutlak. Kemudian sholat fardlunya ikut jamaah. Sehingga cara ini sholat fardlu yang ia kerjakan bersama jamaah bukan dalam rangka mengulangi, sebab sholat yang awal telah ia rubah menjadi sholat sunnah mutlak.

CATATAN :

Merubah niat sholat fardlu menjadi sholat sunnah yang boleh hanyalah dirubah menjadi sholat sunnah mutlak saja, tidak boleh dirubah menjadi sholat sunnah mu’ayyan, misalnya; dirubah menjadi sholat sunnah Dluha dan semisalnya. Sebab malah akan menyebabkan batalnya sholat bila niatnya selain sholat sunnah mutlak.

Referensi :

– Hasyiyah Ianah Ath-Thalibin beserta Hamisynya Fathul Muin, juz.1 halaman.263-264 :

ﻭﻧﺪﺏ ﻟﻤﻨﻔﺮﺩ ﺭﺃﻯ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﺸﺮﻭﻋﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﻠﺐ ﻓﺮﺿﻪ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﻻ ﺍﻟﻔﺎﺋﺖ ﻧﻔﻼ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻳﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻘﻢ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ .

ﻧﻌﻢ ﺇﻥ ﺧﺸﻲ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺇﻥ ﺗﻤﻢ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺍﺳﺘﺤﺐ ﻟﻪ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﺳﺘﺌﻨﺎﻓﻬﺎ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ .

ﻭﺑﺤﺚ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﻠﻢ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺔ ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺃﺗﻤﻬﺎ ﻧﺪﺑﺎ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺨﺶ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ .

(قوله أما إذا قام لثالثة الخ …. ) محترز إذا لم يقم لثالثة . (قوله أتمها ندبا) فلو خالف وقلبها نفلا وسلم لم يندب ولكنه يجوز كما مر . (قوله إن لم يخش فوت الجماعة) فإن خشي فوتها قطعها واستأنفها مع الجماعة

– Al Iqna’ li Zirbiniy, juz.1 halaman.151 (Maktabah Syameela) :

( ﻭ ) ﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺱ ( ﺗَﻐْﻴِﻴﺮ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ) ﺇِﻟَﻰ ﻏﻴﺮ ﺍﻟْﻤَﻨﻮِﻱ ﻓَﻠَﻮ ﻗﻠﺐ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻫُﻮَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺻَﻠَﺎﺓ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻋَﺎﻟﻤﺎ ﻋَﺎﻣِﺪًﺍ ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻭَﻟَﻮ ﻋﻘﺐ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ﺑِﻠَﻔْﻆ ﺇِﻥ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪ ﺃَﻭ ﻧَﻮَﺍﻫَﺎ ﻭَﻗﺼﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﺘَّﺒَﺮُّﻙ ﺃَﻭ ﺃَﻥ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞ ﻭَﺍﻗﻊ ﺑِﺎﻟْﻤَﺸِﻴﺌَﺔِ ﻟﻢ ﻳﻀﺮ ﺃَﻭ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴﻖ ﺃَﻭ ﻃﻠﻖ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻟﻠﻤﻨﺎﻓﺎﺓ ﻭَﻟَﻮ ﻗﻠﺐ ﻓﺮﺿﺎ ﻧﻔﻼ ﻣُﻄﻠﻘًﺎ ﻟﻴﺪﺭﻙ ﺟﻤَﺎﻋَﺔ ﻣَﺸْﺮُﻭﻋَﺔ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﻨْﻔَﺮﺩ ﻭَﻟﻢ ﻳﻌﻴﻦ ﻓَﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻟﻴﺪﺭﻛﻬﺎ ﺻَﺢَّ ﺫَﻟِﻚ

ﺃﻣﺎ ﻟَﻮ ﻗَﻠﺒﻬَﺎ ﻧﻔﻼ ﻣﻌﻴﻨﺎ ﻛﺮﻛﻌﺘﻲ ﺍﻟﻀُّﺤَﻰ ﻓَﻠَﺎ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻻﻓﺘﻘﺎﺭﻩ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻌْﻴِﻴﻦ ﺃﻣﺎ ﺇِﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﺸﺮﻉ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟﻈّﻬْﺮ ﻓَﻮﺟﺪَ ﻣﻦ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮ ﻓَﻠَﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟْﻘﻄﻊ ﻛَﻤَﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺠْﻤُﻮﻉ.

…………………………………………………………………….

هل يجوز تغيير النية أثناء الصلاة؟

الجواب:
1 – كل عمل لا بد له من نية، ولا يجوز تغيير النية من معين لمعين كتغيير نية العصر إلى الظهر، ولا يجوز أيضا من مطلق لمعين كمن يصلي نافلة ثم ينوي بها الفجر، ولكن يجوز تغير النية من معين لمطلق، كمن يصلي فريضة منفردا ثم يحولها لنافلة لحضور جماعة مثلا.

2 – يجوز للمصلي أن يغير نيته وهو في الصلاة من مأموم أو منفرد إلى إمام، أو من مأموم إلى منفرد، أو من نية فرض إلى نفل لا العكس.

3 – إذا قطع المصلي النية أثناء الصلاة بطلت صلاته ووجب عليه الابتداء من أولها.

…………………………………………………………………

قال المصنف – رحمه الله تعالى – ( ولا تصح الجماعة حتى ينوي المأموم الجماعة ; لأنه يريد أن يتبع غيره فلا بد من نية الاتباع ، فإن رأى رجلين يصليان على الانفراد فنوى الائتمام بهما لم تصح صلاته ; لأنه لا يمكنه أن يقتدي بهما في وقت واحد ، وإن نوى الاقتداء بأحدهما بغير عينه لم تصح صلاته .

لأنه إذا لم يعين لا يمكنه الاقتداء ، وإن كان أحدهما يصلي بالآخر فنوى الاقتداء بالمأموم لم تصح صلاته ; لأنه تابع لغيره فلا يجوز أن يتبعه غيره ، وإن صلى رجلان فنوى كل واحد منهما أنه هو الإمام لم تبطل صلاته ; لأن كل واحد منهما يصلي لنفسه ، ، وإن نوى كل واحد منهما أنه مؤتم بالآخر لم تصح صلاته ; لأن كل واحد منهما ائتم بمن ليس بإمام ) .

الحاشية رقم: 1( الشرح ) اتفق نص الشافعي والأصحاب على أنه يشترط لصحة الجماعة أن ينوي المأموم الجماعة والاقتداء والائتمام ، قالوا : وتكون هذه النية مقرونة بتكبيرة الإحرام كسائر ما ينويه ، فإن لم ينو في الابتداء ، وأحرم منفردا ثم نوى الاقتداء في أثناء صلاته ففيه خلاف ذكره المصنف بعد هذا ، وإذا ترك نية الاقتداء والانفراد وأحرم مطلقا انعقدت صلاته منفردا ، فإن [ ص: 96 ] تابع الإمام في أفعاله من غير تجديد نية فوجهان : حكاهما القاضي حسين في تعليقه والمتوليوآخرون ( أصحهما ) وأشهرهما : تبطل صلاته ; لأنه ارتبط بمن ليس بإمام له فأشبه الارتباط بغير المصلي ، وبهذا قطع البغويوآخرون .

( والثاني ) : لا تبطل ; لأنه أتى بالأركان على وجهها ، وبهذا قطع الأكثرون ، فإن قلنا : لا تبطل صلاته كان منفردا ، ولا يحصل له فضيلة الجماعة بلا خلاف ، صرح به المتولي وغيره .

وإن قلنا : تبطل صلاته فإنما تبطل إذا انتظر ركوعه وسجوده وغيرهما ليركع ويسجد معه وطال انتظاره ، فأما إذا اتفق انقضاء فعله مع انقضاء فعله أو انتظره يسيرا جدا فلا تبطل بلا خلاف ، ولو شك في أثناء صلاته في نية الاقتداء لم تجز له متابعته إلا أن ينوي الآن المتابعة ، وحيث قلنا بجواز الاقتداء في أثناء الصلاة ; لأن الأصل عدم النية ، فإن تذكر أنه كان نوى قال القاضي حسين والمتولي وغيرهما : حكمه حكم من شك في نية أصل الصلاة فإن تذكر قبل أن يفعل فعلا على خلاف متابعة الإمام ، وهو شاك لم يضره .

وإن تذكر بعد أن فعل فعلا على متابعته في الشك بطلت صلاته إذا قلنا بالأصح : إن المنفرد تبطل صلاته بالمتابعة ; لأنه في حال شكه له حكم المنفرد ، وليس له المتابعة حتى قال أصحابنا : لو عرض له هذا الشك في التشهد الأخير لا يجوز أن يقف سلامه على سلام الإمام .

أما إذا اقتدى بإمام فسلم من صلاته ثم شك هل كان نوى الاقتداء ؟ فلا شيء عليه ، وصلاته ماضية على الصحة هذا هو المذهب ، وذكر القاضي حسين في تعليقه أن فيه الخلاف السابق فيمن شك بعد فراغه من الصلاة ، هل ترك ركنا من صلاته أم لا ؟ وهذا ضعيف ، والله أعلم .

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=14&ID=2255

Wallahu a’lamu bisshowab..

S007. MENGGABUNGKAN DUA NIAT DALAM SATU SHALAT

PERTANYAAN :

Assalaamualaikum ustadz.

Bolehkah dalam satu sholat diniatin dua? Contohnya seperti sholat sunnah QOBLIYAH dan TAHIYATAL MASJID mohon jawabnnya ustadz.. mksh..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya boleh.

ﺍﻟﻘﺎﻋﺪﺓ ﺍﻟﺘﺎﺳﻌﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺃﻣﺮﺍﻥ ﻣﻦ ﺟﻨﺲﻭﺍﺣﺪ ، ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻣﻘﺼﻮﺩﻫﻤﺎ ، ﺩﺧﻞ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﻏﺎﻟﺒﺎ

Qaidah ke sembilan : apabila dua perkara yang sejenis dan maksud (tujuannya) tidak berbeda berkumpul jadi satu maka secara umum salah satunya masuk kepada yang lain .

ﻓﻤﻦ ﻓﺮﻭﻉ ﺫﻟﻚ

di antara yang masuk dalam qaidah ini adalah :

ﻭﻟﻮ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﺩﺧﻠﺖ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺘﺤﻴﺔ ، ﻭﻟﻮﺩﺧﻞ ﺍﻟﺤﺮﻡ ﻣﺤﺮﻣﺎ ، ﺑﺤﺞ ﻓﺮﺽ ﺃﻭ ﻋﻤﺮﺓ . ﺩﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡﻟﺪﺧﻮﻝ ﻣﻜﺔ . ﻭﻟﻮ ﻃﺎﻑ ﺍﻟﻘﺎﺩﻡ ﻋﻦ ﻓﺮﺽ ﺃﻭ ﻧﺬﺭ ، ﺩﺧﻞ ﻓﻴﻪﻃﻮﺍﻑ ﺍﻟﻘﺪﻭﻡ ، ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻃﺎﻑ ﻟﻺﻓﺎﺿﺔ ﻻ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪﻃﻮﺍﻑ ﺍﻟﻮﺩﺍﻉ ﻷﻥ ﻛﻼ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻣﻘﺼﻮﺩ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ، ﻭﻣﻘﺼﻮﺩﻫﻤﺎﻣﺨﺘﻠﻒ ﻭﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻮ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ، ﻓﻮﺟﺪﻫﻢﻳﺼﻠﻮﻥ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻓﺼﻼﻫﺎ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﺼﻞ ﻟﻪ ﺗﺤﻴﺔ ﺍﻟﺒﻴﺖ ،ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻄﻮﺍﻑ ، ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺟﻨﺲ ﺍﻟﺼﻼﺓ

▪Bila ada orang masuk masjid untuk sholat fardlu (atau sholat yang lain : pent) maka sholat tahiyyatul masjid sudah otomatis masuk (dengan syarat tertentu)

▪Bila ada orang masuk kota Makkah dalam keadaan ihrom untuk haji ataupun umroh maka kesunahan ihrom karena masuk kota Makkah sudah otomatis masuk .

▪Bila ada orang datang ke Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf fardlu haji atau nadzar maka thowaf qudum (thowaf karena masuk Masjidil Haram) otomatis masuk ,

lain halnya ketika melakukan thowaf ifadloh maka thowaf wada’ tidak masuk karena tujuannya dan maksudnya beda. sama juga ketika orang masuk Masjidil Haram disana sedang ada orang berjama’ah kemudian dia ikut makmum dibelakangnya, maka dia mendapat fadhilah jama’ah tapi belum mendapat kesunahan ibadah ketika masuk Masjidil Haram (tahiyyatul bait) karena tahiyyatul bait bukan sholat melainkan thowaf.

[ Asybah wannadho-ir 126 maktabah dar el-kutub el-‘ilmiyyah ].

BOLEH JUGA MENGGABUNGKAN DUA NIAT QOBLIYAH DAN BA’DIYAH :

Ini contoh niat sholat sunnah qobliyah dzuhur 4 rokaat digabung dengan sholat sunnah ba’diyahnya 4 rokaat juga. Tapi jikalau ingin mengerjakan yang muakkadahnya saja (2 rokaat qobliyah dan 2 rokaat ba’diyah ), tinggal diganti saja kata kata :

ثمان ركعات

Dengan :

أربع ركعات

Selainnya sama
Jadi niatnya seperti ini :

نويت أصلي ثمان ركعات سنة الظهر القبلية و البعدية

Apakah Talafudz nya boleh tidak diikutkan ? Boleh karena sejatinya niat adalah menyengaja melakukan sesuatu sekira pekerjaan yang ia lakukan adalah murni dari pilihannya sendiri. Wallohu A’lam.

Ibarot :

حاشية البيجوري ج ١ ص ٢٥٦

و له أيضا جمع القبلية و البعدية معا بإحرام واحد بعد الفرض بأن يقول نويت أصلي ثمان ركعات سنة الظهر القبلية و البعدية و الله أعلم

فتاوي الرملي ج. ١ ص. ٢١٢

(سئل) عما لو أخر سنة المغرب التي قبلها ثم أراد صلاتها مع التي بعدها بتسليمة واحدة هل تصح؟

(فأجاب) بأنه تصحان بتسليمة واحدة ناويا القبلية والبعدية

الغرر البهية ج. ١ ص. ٣٩٢

(قوله: في سنة الظهر والعصر) فيجوز جمع الأربع القبلية المؤكدة، وغيرها وجمع الثمان القبلية، والبعدية المؤكدة، وغيرها، وجمع الأربع القبلية والبعدية المؤكدة، ولا يجوز جمع سنة الظهر مع سنة العصر ولو في جمع التقديم، أو التأخير لاختلاف النوع. ا. هـ ع ش

الغرر البهية في شرح منظومة الفرائد البهية ص. ١٥

وقال الغزالي في فتاويه ؛ أمر النية سهل في العبادات، وإنما يتعسر بسبب الجهل بحقيقة النية أو الوسوسة، فحقيقة النية القصد الى الفعل. وذلك مما يصير به الفعل اختيارا كالهوي إلى السجود فإنه يكون تارة بقصده وتارة يكون بسقوط الإنسان على وجهه بصدمة.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N005. STATUS PERNIKAHAN DAN NASAB ANAK, BAGI PEREMPUAN HAMIL DI LUAR NIKAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warohmatulahi wabarokatuh..

Bagaimana hukum mengawini wanita hamil di luar nikah. Yang mengawini bukan orang yang menghamili. Dan apakah boleh menjimaknya lantas anak siapa yang dilahirkan. Afwan ustad..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Status Anak dari Kawin Hamil Zina yang Ibunya Menikah dengan Lelaki Lain Bukan Ayah Biologisnya :

Seorang wanita melakukan zina dengan seorang pria dan hamil. Kemudian dia menikah dengan pria lain bukan yang menzinahinya. Hukum pernikahannya adalah sah menurut madzhab Hanafi, As-Tsauri dan pendapat yang sahih dalam madzhab Syafi’i. Walaupun terjadi perbedaan tentang apakah boleh hubungan intim sebelum melahirkan atau tidak. Sedang menurut madzhab Maliki dan Hanbali mutlak tidak boleh karena wajib melakukan istibra’ (penyucian rahim). Ia baru boleh dinikahi setelah melahirkan.
Adapun status anak dalam kasus ini maka menurut madzhab Syafi’i jika anak lahir di atas 6 bulan pasca pernikahan, anak tersebut secara dzahir saja dinasabkan kepada suaminya, dan ia wajib menafikannya (tidak mengakui anak) menurut pandangan Sayed Ba Alwi Al-Hadrami dalam Bughiyatul Mustarsyidin:

نكح حاملاً من الزنا فولدت كاملاً كان له أربعة أحوال ، إما منتف عن الزوج ظاهراً وباطناً من غير ملاعنة ، وهو المولود لدون ستة أشهر من إمكان الاجتماع بعد العقد أو لأكثر من أربع سنين من آخر إمكان الاجتماع ، وإما لاحق به وتثبت له الأحكام إرثاً وغيره ظاهراً ، ويلزمه نفيه بأن ولدته لأكثر من الستة وأقل من الأربع السنين ، وعلم الزوج أو غلب على ظنه أنه ليس منه بأن لم يطأ بعد العقد ولم تستدخل ماءه ، أو ولدت لدون ستة أشهر من وطئه ، أو لأكثر من أربع سنين منه ، أو لأكثر من ستة أشهر بعد استبرائه لها بحيضة وثم قرينة بزناها ، ويأثم حينئذ بترك النفي بل هو كبيرة ، وورد أن تركه كفر ، وإما لاحق به ظاهراً أيضاً ، لكن لا يلزمه نفيه إذا ظن أنه ليس منه بلا غلبة ، بأن استبرأها بعد الوطء وولدت به لأكثر من ستة أشهر بعده وثم ريبة بزناها ، إذ الاستبراء أمارة ظاهرة على أنه ليس منه لكن يندب تركه لأن الحامل قد تحيض ، وإما لاحق به ويحرم نفيه بل هو كبيرة ، وورد أنه كفر إن غلب على ظنه أنه منه ، أو استوى الأمران بأن ولدته لستة أشهر فأكثر إلى أربع سنين من وطئه ، ولم يستبرئها بعده أو استبرأها وولدت بعده بأقل من الستة ، بل يلحقه بحكم الفراش ، كما لو علم زناها واحتمل كون الحمل منه أو من الزنا ، ولا عبرة بريبة يجدها من غير قرينة ، فالحاصل أن المولود على فراش الزوج لاحق به مطلقاً إن أمكن كونه منه ، ولا ينتفي عنه إلا باللعان والنفي ، تارة يجب ، وتارة يحرم ، وتارة يجوز ، ولا عبرة بإقرار المرأة بالزنا ،
وإن صدقها الزوج وظهرت أماراته

Al-Khatib As-Syarbini dalam Mughnil Muhtaj membuat pernyataan senada:

تنبيه: سكت المصنف عن القذف وقال البغوي: إن تيقن مع ذلك زناها قذفها ولاعن وإلا فلا يجوز؛ لجواز كون الولد من وطء شبهة، وطريقه كما قال الزركشي، أن يقول: هذا الولد ليس مني وإنما هو من غيري، وأطلق وجوب نفي الولد، ومحله إذا كان يلحقه ظاهرا.

Inti dari pandangan madzhab Syafi’i, Maliki dan Hanbali dalam kasus ini adalah bahwa anak yang terlahir dari hamil zina yang ibunya menikah saat hamil dengan lelaki bukan yang menghamili, maka status anak dinasabkan pada ibunya secara mutlak. Bukan pada bapaknya. Begitu juga anak hanya mendapat hak waris dari ibunya. Sedang wali nikahnya apabila anak itu perempuan adalah wali hakim.

Status Anak Zina yang Lahir di Luar Nikah :

Salah satu tipe kasus perempuan yang hamil karena zina adalah bahwa laki-laki yang menzinahi tidak mau menikahi perempuan yang dizinahinya. Istilah yang umum dipakai adalah si pria tidak mau bertanggung jawab. Seakan-akan pihak pria-lah satu-satunya oknum yang yang harus bertanggung jawab atas masalah kecelakaan ini. Faktanya adalah keduanya sama-sama bersalah. Itulah sebabnya dalam hukum Islam yang terkena hukuman bukan hanya pelaku pria tapi juga wanita.
Allah berfirman dalam QS An-Nur 24:2 “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” Hukuman dera adalah apabila pelaku zina tidak memiliki suami atau istri. Sedangkan untuk kasus terakhir maka hukumanya adalah rajam.

Adapun status anak hasil zina yang lahir tanpa ada ikatan pernikahan sama sekali antara ibunya dengan pria manapun, maka ada dua pendapat ulama. Pendapat pertama adalah anak tersebut dinasabkan pada ibunya walaupun seandainya ayah biologisnya mengklaim (Arab, ilhaq atau istilhaq) bahwa ia adalah anaknya. Ini pendapat mayoritas ulama antar-madzhab yaitu madzhab Maliki, Syafi’i, Hanbali dan sebagian madzhab Hanafi.
Pendapat ini berdasarkan pada hadits sahih dari Amr bin Syuaib sebagai berikut:

قَضَى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ مَنْ كَانَ مِنْ أَمَةٍ لَمْ يَمْلِكْهَا ، أَوْ مِنْ حُرَّةٍ عَاهَرَ بِهَا فَإِنَّهُ لا يَلْحَقُ بِهِ وَلا يَرِثُ وَإِنْ كَانَ الَّذِي يُدْعَى لَهُ هُوَ ادَّعَاهُ فَهُوَ وَلَدُ زِنْيَةٍ مِنْ حُرَّةٍ كَانَ أَوْ أَمَةٍ

(Nabi memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka tidak dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya walaupun ayah biologisnya mengklaim dia anak biologisnya. Ia tetaplah anak zina baik dari perempuan budak atau wanita merdeka).

Bahkan menurut madzhab Syafi’i anak zina perempuan boleh menikah dengan ayah biologisnya walaupun itu hukumnya makruh. Ini menunjukkan bahwa sama sekali tidak ada hubungan nasab syari’i antara anak dengan bapak biologis dari hubungan zina. Menurut madzhab Hanbali, walaupun tidak dinasabkan pada bapaknya, namun tetap haram hukumnya menikahi anak biologisnya dari hasil zina.
Karena dinasabkan pada ibunya, maka apabila anak zina ini perempuan maka wali nikahnya kelak adalah wali hakim yaitu pejabat KUA dan jajarannya.

Pendapat kedua adalah bahwa anak zina tersebut dinasabkan pada ayah biologisnya walaupun tidak terjadi pernikahan dengan ibu biologisnya. Ini adalah pendpat dari Urwah bin Zubair, Sulaiman bin Yasar, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Nakha’i, dan Ishaq. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah dari madzhab Hanbali apabila ada klaim atau pengakuan (istilhaq) dari bapak biologis anak.
Urwah bin Zubair dan Sulaiman bin Yasar pernah berkata bahwa “Seorang pria yang datang pada seorang anak dan mengklaim bahwa anak itu adalah anaknya dan mengaku pernah berzina dengan ibunya dan tidak ada laki-laki lain yang mengakui, maka anak itu adalah anaknya ”.

Perlu dicatat, bahwa anak zina memiliki hak, kesempatan dan keistimewaan yang sama dengan anak-anak lain yang bukan zina. Anak zina bukan anak kutukan. Bukan pula anak yang membawa dosa turunan. Nasib anak zina tergantung dari amalnya sendiri (QS An-Najm 53:39; Al-An’am 6:164; Al-Isra’ 17:15; Fathir 35:18; Az-Zumar 39:7). Apabila dia kelak menjadi anak yang saleh, maka ia akan menjadi anak yang beruntung di akhirat begitu juga sebaliknya apabila menjadi anak yang fasiq (pendosa) atau murtad maka ia akan menjadi manusia yang akan mendapat hukuman setimpal.
Adapun hadits Nabi yang menyatakan bahwa “anak zina tidak akan masuk surga”, maka ulama memaknainya dengan catatan apabila ia melakukan perbuatan seperti yang dilakukan orang tuanya.”
Sedang hadits lain yang menyatakan bahwa “anak zina mengandung tiga keburukan” maka menurut Adz-Dzahabi hadits ini sanadnya dhaif.

Status Anak dari Kawin Hamil Zina yang Ibunya Menikah dengan Ayah Biologisnya :

Menurut madzhab Syafi’i, seorang wanita yang hamil zina boleh dan sah menikah dengan lelaki yang menzinahinya dan boleh melakukan hubungan intim—walaupun makruh– tanpa harus menunggu kelahiran anak zinanya.Pandangan ini didukung oleh ulama madzhab Hanafi.Sedangkan menurut madzhab Maliki dan Hanbali tidak boleh menikahi wanita yang pernah berzina kecuali setelah istibrai’ yakni melahirkan anaknya bagi yang hamil atau setelah selesai satu kali haid bagi yang tidak mengandung.
Bagi wanita pezina yang kawin saat hamil dengan lelaki yang menghamili maka status anak tersebut sah menjadi anak dari bapak biologisnya apabila si bapak mengakuinya. Hal ini berdasarkan pada keputusan yang diambil oleh Sahabat Umar bin Khattab di mana beliau menasabkan anak-anak jahiliyah (pra Islam) pada mereka yang mau mengakui sebagai anaknya setelah Islam. Sahabat Ibnu Abbas juga pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan perempuan kemudian menikahinya. Ibnu Abbas menjawab: “Awalnya berzina. Akhirnya menikaah itu tidak apa-apa.”
Dari kalangan empat madzhab, Imam Abu Hanifah—pendiri madzhab Hanafi– yang paling sharih (eksplisit) menegaskan sahnya status anak zina dinasabkan pada bapak biologisnya apabila kedua pezina itu menikah sebelum anak lahir. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengutip pandangan Abu Hanifah demikian:

لا أرى بأسا إذا زنى الرجل بالمرأة فحملت منه أن يتزوجها مع حملها, ويستر عليها, والولد ولد له

(Seorang lelaki yang berzina dengan perempuan dan hamil, maka boleh menikahi perempuan itu saat hamil. Sedangkan status anak adalah anaknya).

Dalam madzhab Syafi’i ada dua pendapat. Pendapat pertama bahwa nasab anak zina tetap kepada ibunya, bukan pada bapak biologisnya walaupun keduanya sudah menikah sebelum anak lahir. Ini pendapat mayoritas ulama madzhab Syafi’i.
Pendapat kedua, status anak zina dalam kasus ini dinasabkan kepada ayah biologisnya apabila anak lahir di atas 6 bulan setelah akad nikah antara kedua pezina. Dan tidak dinasabkan ke ayah biologisnya jika anak lahir kurang dari enam bulan pasca pernikahan, kecuali apabila si suami melakukan ikrar pengakuan anak. Wahbah Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu menyatakan:

يحل بالاتفاق للزاني أن يتزوج بالزانية التي زنى بها، فإن جاءت بولد بعد مضي ستة أشهر من وقت العقد عليها، ثبت نسبه منه، وإن جاءت به لأقل من ستة أشهر من وقت العقد لا يثبت نسبه منه، إلا إذا قال: إن الولد منه، ولم يصرح بأنه من الزنا. إن هذا الإقرار بالولد يثبت به نسبه منه

(Ulama sepakat halalnya pria pezina menikahi wanita yang dizinahi. Apabila melahirkan anak setelah enam bulan akad nikah maka nasabnya ke pria itu. Apabila kurang dari 6 bulan dari waktu akad nikah maka tidak dinasabkan padanya kecuali apabila si pria membuat ikrar dengan mengatakan bahwa anak itu darinya dan tidak menjelaskan bahwa ia berasal dari zina. Maka dengan ikrar ini nasab anak tersebut tetap pada ayah biologisnya).

Adapun menurut madzhab Hanbali dan Maliki, maka haram hukumnya menikahi wanita hamil zina kecuali setelah melahirkan. Dan karena itu, kalau terjadi pernikahan dengan wanita hamil zina, maka nikahnya tidak sah. Dan status anaknya tetap anak zina dan nasabnya hanya kepada ibunya.

Status Anak Zina dari Hasil Hubungan Perempuan Bersuami dengan Lelaki Lain :

Apabila seorang perempuan bersuami berselingkuh, dan melakukan hubungan zina dengan lelaki selingkuhannya sampai hamil, maka status anaknya saat lahir adalah anak dari suaminya yang sah; bukan anak dari pria selingkuhannya. Bahkan, walaupun pria yang menzinahinya mengklaim (Arab,istilhaq) bahwa itu anaknya. Sebagai anak dari laki-laki yang menjadi suami sah ibunya, maka anak berhak atas segala hak nasab (kekerabatan) dan hak waris termasuk wali nikah apabila anak tersebut perempuan. Ini adalah pendapat ijmak (kesepakatan) para ulama dari keempat madzhab sebagaimana disebut dalam kitab At-Tamhid demikian:

وأجمعت الأمة على ذلك نقلاً عن نبيها، وجعل رسول الله كل ولد يولد على فراش لرجل لاحقًا به على كل حال، إلا أن ينفيه بلعان على حكم اللعان… وأجمعت الجماعة من العلماء أن الحرة فراش بالعقد عليها مع إمكان الوطء وإمكان الحمل، فإذا كان عقد النكاح يمكن معه الوطء والحمل فالولد لصاحب الفراش، لا ينتفي عنه أبدًا بدعوى غيره، ولا بوجه من الوجوه إلا باللعان

(Ulama sepakat atas hal itu berdasarkan hadits Nabi di mana Rasulullah telah menjadikan setiap anak yang lahir atas firasy[istri] bagi seorang laki-laki maka dinasabkan pada suaminya dalam keadaan apapun, kecuali apabila suami yang sah tidak mengakui anak tersebut dengan cara li’an berdasar hukum li’an. Ulama juga sepakat bahwa wanita merdeka menjadi istri yang sah dengan akad serta mungkinnya hubungan intim dan hamil. Apabila dimungkinan dari suatu akad nikah itu terjadinya hubungan intim dan kehamilan, maka anak yang lahir adalah bagi suami [sahibul firasy]. Tidak bisa dinafikan darinya selamanya walaupun ada klaim dari pria lain. Juga tidak dengan cara apapun kecuali dengan li’an).
Pandangan ini disepakati oleh madzhab Hanbali di mana Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:

وأجمعوا على أنه إذا ولد على فراش رجل فادعاه آخر أنه لا يلحقه، وإنما الخلاف فيما إذا ولد على غير فراش

(Ulama sepakat bahwa apabila seorang anak lahir dari perempuan yang bersuami kemudian anak itu diakui oleh lelaki lain maka pengakuan itu tidak diakui. Perbedaan ulama hanya pada kasus di mana seorang anak lahir dari perempuan yang tidak menikah).
Kesepakatan ulama atas kasus ini didasarkan pada sebuah hadits sahih riwayat Muslim yang menyatakan الولد للفراش وللعاهر الحجر (Anak bagi suami yang sah, bukan pada lelaki yang menzinahi).

Kesimpulan :

Perzinahan adalah dosa besar yang harus dihindari oleh setiap umat Islam. Orang tua berkewajiban menjaga anak-anaknya agar terhindar dari
perzinahan dengan memberikan pendidikan dan pengawasan yang memadai tentang bahaya zina di dunia dan akhirat. Suami dan istri juga harus menjaga kehormatannya agar tidak terjebak pada perbuatan zina.
Apabila perzinahan dan kehancuran kehormatan itu terjadi, maka tidak ada langkah yang dapat dilakukan kecuali damage control (menjaga kerusakan) agar tidak semakin parah. Dengan cara mengambil langkah-langkah yang diperlukan yang sesuai dengan aturan syariah sebagai berikut:

1. Menikahkan anak perempuan yang terlanjur berzina dengan pria yang menzinahi. Baik sudah hamil atau belum. Agar terhindar dari perbuatan nista berikutnya.

2. Apabila hamil, maka hendaknya segera dinikahkan dengan pria yang menghamili untuk menyelamatkan martabat dari anak yang dikandung yang menjadi korban dari dosa orang tuanya.

3. Apabila pria yang menzinahi adalah non-muslim, maka hendaknya dia diminta untuk masuk Islam agar pernikahan sah.

4. Apabila menolak, maka hendaknya dinikahkan dengan pria lain yang muslim.

5. Bagi suami yang istrinya berzina dan hamil, maka anak yang lahir dinasabkan pada suami kecuali kalau suami menolak dengan cara li’an. Idealnya, suami menceraikan istri yang berzina sesuai perintah Rasulullah dalam sebuah hadits sahih.

Referensi :

– Sebagian telah tercantum di atas

– At Tamhid

وأجمعت الأمة على ذلك نقلاً عن نبيها، وجعل رسول الله كل ولد يولد على فراش لرجل لاحقًا به على كل حال، إلا أن ينفيه بلعان على حكم اللعان… وأجمعت الجماعة من العلماء أن الحرة فراش بالعقد عليها مع إمكان الوطء وإمكان الحمل، فإذا كان عقد النكاح يمكن معه الوطء والحمل فالولد لصاحب الفراش، لا ينتفي عنه أبدًا بدعوى غيره، ولا بوجه من الوجوه إلا باللعان

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=78&ID&idfrom=406&idto=441&bookid=78&startno=9

http://www.al-eman.com/الكتب/التمهيد%20لما%20في%20الموطأ%20من%20المعاني%20والأسانيد/i948&n2666&p1

– Hukmu Nisbatil Mauludi

أجمع العلماء على أن الزانية إذا كانت فراشًا لزوج أو سيد، وجاءت بولد، ولم ينفه صاحب الفراش، فإنه لا يلحق بالزاني ولو استلحقه، ولا ينسب إليه، إنما ينسب لصاحب الفراش، قال ابن عبد البر: “وأجمعت الأمة على ذلك نقلاً عن نبيها ×، وجعل رسول الله × كل ولد يولد على فراش لرجل لاحقًا به على كل حال، إلا أن ينفيه بلعان على حكم اللعان… وأجمعت الجماعة من العلماء أن الحرة فراش بالعقد عليها مع إمكان الوطء وإمكان الحمل، فإذا كان عقد النكاح يمكن معه الوطء والحمل فالولد لصاحب الفراش، لا ينتفي عنه أبدًا بدعوى غيره، ولا بوجه من الوجوه إلا باللعان”(65)، وقال ابن قدامة: “وأجمعوا على أنه إذا ولد على فراش رجل فادعاه آخر أنه لا يلحقه، وإنما الخلاف فيما إذا ولد على غير فراش”(66).
مستند الإجماع:
وقد استند هذا الإجماع على أحاديث صحيحة صريحة منها:
1 – ما روته عائشة رضي الله عنها قالت: “كان عتبة ابن أبي وقاص عَهِد إلى أخيه سعد بن أبي وقاص: إن ابن وليدة زمعة مني، فاقبضه إليك، فلما كان عام الفتح أخذه سعد فقال: ابن أخي قد كان عَهِد إليّ فيه، فقام عبد بن زمعة فقال: أخي وابن أمة أبي، ولد على فراشه، فتساوقا إلى رسول الله ×، فقال سعد: يا رسول الله! ابن أخي كان عَهِدَ إليّ فيه، فقال عبد بن زمعة: أخي وابن وليدة أبي، وقال رسول الله ×: هو لك يا عبد بن زمعة، الولد للفراش وللعاهر الحجر، ثم قال لسودة بنت زمعة: احتجبي منه، لما رأى من شبهه بعتبة، فما رآها حتى لقي الله”(67).
2 – ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه أن رسول الله × قال: “الولد للفراش وللعاهر الحجر”(68).
3 – ما رواه عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال: “قام رجل فقال: يا رسول الله، إن فلانًا ابني، عَاهَرْتُ بأمه في الجاهلية، فقال رسول الله ×: لا دعوة في الإسلام، ذهب أمر الجاهلية، الولد للفراش، وللعاهر الحجر”(69).

http://islamport.com/w/fqh/Web/4661/12.htm

– Al Mugni

وأجمعوا على أنه إذا ولد على فراش رجل فادعاه آخر أنه لا يلحقه، وإنما الخلاف فيما إذا ولد على غير فراش

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=15&ID&idfrom=4146&idto=4319&bookid=15&startno=103

– Hadits

الولد للفراش وللعاهر الحجر

– Ihkamul ihkam syarh umdatul ahkam

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=890&idto=891&bk_no=80&ID=578

– Nailul Author

http://www.al-eman.com/الكتب/نيل%20الأوطار%20شرح%20منتقى%20الأخبار%20**/باب%20أن%20الولد%20للفراش%20دون%20الزاني/i226&d128466&c&p1

– Al-Raudhoh Al-Nadyah Syarah Al Duror Al Bahiyah

http://ar.wikisource.org/wiki/الروضة_الندية_شرح_الدرر_البهية/كتاب_النكاح/فصل_الولد_للفراش_ولا_عبرة_لشبهه_بغير_صاحبه

الكتب –

library.islamweb.ne

Wallahu a’lamu bisshowab..

HE02. TUPAI HALAL ATAU HARAM

PERTNYAAN :

Assalamualaikum wr wb..

Asatidz.., Tupai itu halal apa haram ?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Di kalangan Madzaahib al-Arba’ah dan Syafi’iyyah sendiri binatang ini memang diperselisihkan kehalalannnya :

1.Kalangan Hanafiyyah : Mengharamkan

2.Kalangan Hanabilah : Sebagian Ulama mengaharamkan sebagian menghalalkan

3.Kalangan Syafi’iyyah : Pendapat yang shahih menghalalkan pendapat lainnya mengharamkan.

Ada pendapat hewan yang memiliki taring tapi ia bukan predator hukumnya halal, terus bagaimana menanggapi keharaman gajah ? bukannya meski bukan predator gajah tetap haram karena ia memiliki taring / gading ? Perbedaannya taring yang terdapat pada TUPAI (menurut yang menghalalkannya) tidak untuk menyerang binatang lainnya tidak seperti yang terdapat pada gajah, karenanya sebagian pendapat yang menyatakan gajah halal menyatakan taring yang terdapat pada gajah biasanya hanya digunakan untuk menyerang anak sapi / unta. Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

– Al-Fiqh al-Islaam II/9 :

( الحنابلة والحنفية – قالوا : يحرم أكل السنجاب والسمور والفنك ” بفتح الفاء والنون ” ) وهما نوعان من ثعالب الترك والفنك ” وهوحيوان يؤخذ من جلده الفرو لنعومته

– Al-Majmuu’ alaa Syarh al-Muhadzdzab IX/12 :

(وأما) السمور والسنجاب والفنل بفتح الفاء والنون والقاقم بالقافين وضم الثانية والحواصل ففيها وجهان (الصحيح) المنصوص أنها حلال

– Hasyiyah al-Bujairomi IV/305 :

ويحل أيضا السنجاب وهو حيوان على حد اليربوع يتخذ من جلده الفراء

– Hasyiyah al-Jamaal alaa al-Manhaj X/442 :

وذهب النجم ابن قاضي عجلون إلى تحريم السنجاب وألف فيه رسالة معترضا فيها على الكمال بن أبي شريف قولا وفعلا وقد عارض الكمال برسالة مثلها ولم أقف على هاتين الرسالتين لكن وقفت على رسالة لأبي حامد المقدسي ذكر فيها المقالتين ا ه شوبري قوله هو مقتضى كلام الرافعي إلخ هو المعتمد وقوله لكن صحح في أصل الروضة إلخ قال شيخنا م ر المعتمد خلاف ما في أصل الروضة ا ه

– Al-Masaail al-Imaam Ibn Hanbal II/843 :

1 الصحيح في المذهب الشافعي: أن السنجاب حلال، فيحل جلده، وفي وجه في المذهب: أنه حرام. انظر: المجموع 9/12.

وفي المذهب الحنبلي وجهان في السنجاب: أحدهما: يحرم. صححه في الرعاية الكبرى، وتصحيح المحرر، واختاره أبو يعلى. والثاني: لا يحرم، مال إليه ابن قدامة وغيره.

انظر: المغني 8/592، الفروع 2/667، 668، الإنصاف 10/362.

– Hayaat al-Hayawaan al-Kubroo I/405 :

السنجاب: حيوان على حد اليربوع، أكبر من الفأر، وشعره في غاية النعومة، يتخذ من جلده الفراء، يلبسه المتنعمون. وهو شديد الحيل، إذا أبصر الإنسان صعد الشجرة العالية، وفيما يأوي ومنها يأكل. وهو كثير ببلاد الصقالبة والترك، ومزاجه حار رطب، لسرعة حركته عن حركة الإنسان. وأحسن جلوده الأزرق الأملس وقد أحسن القائل:

وكلما ازرق لون جلدي من البر د تخيلت أنه سنجاب

وحكمه: حل الأكل لأنه من الطيبات. وقال بتحريم أكله القاضي من الحنابلة، وعلله بأنه ينهش الحيات، فأشبه الجرذ. واستدل الجمهور بأنه يشبه اليربوع، ومتى تردد بين الإباحة والتحريم غلبت الإباحة، لأنها الأصل وإذا ذكي السنجاب ذكاة شرعية، جاز لبس فرائه، وإن خنق ثم دبغ جلده، لم يطهر شعره على الأصح كسائر جلود الميتة، لأن الشعر لا يتأثر بالدباغ، وقيل: يطهر الشعر تبعاً للجلد، وهي رواية الربيع الجيزي عن الشافعي، ولم ينقل عنه في المهذب سوى هذه المسألة. وهذا الوجه صححه الأستاذ أبو إسحاق الإسفراييني، والروياني، وابن أبي عصرون، واختاره السبكي وغيره، لأن الصحابة قسموا في زمن عمر رضي الله تعالى عنه الفراء المغنومة من الفرس، وهي ذبائح مجوس.

– Al-Majmu’ IX/14 :

(أما) الاحكام فقال الشافعي يحرم أكل كل ذى ناب من السباع وكل ذى مخلب من الطير للحديث قالوا والمراد بذى الناب ما تيقوى بنابه ويعدو على الحيوان كما ذكره المصنف فمن ذلك الاسد والفهد والنمر والذئب والدب والقرد والفيل والببر – ببائين موحدتين – الاولى مفتوحة والثانية ساكنة وهو حيوان معروف يعادى الاسد ويقال له أيضا الفرائق – بضم الفاء وكسر النون – فكل هذه المذكورات حرام بلا خلاف عندنا إلا وجها شاذا في الفيل خاصة أنه حلال حكاه الرافعى عن الامام أبى عبد الله البوسنجى من أصحابنا وزعم أنه لا يعدو من الفيلة إلا العجل المغتلم كالابل والصحيح المشهور تحريمه

– Al-Majmu’ IX/17 :

(ومنها) الفيل وهو حرام عندنا وعند أبى حنيفة والكوفيين والحسن * وأباحه الشعبى وابن شهاب ومالك في رواية حجة الاولين أنه ذو ناب

Wallahu a’lamu bisshowab..

M011. MEMAJANG FOTO DI MEDIA SOSIAL

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum afwan ustadz..

Saya mau nanyak, bagaimana hukumnya bagi wanita yg menguploud foto di medsos? laki-laki juga bagaimana ustadz boleh nggak? soalnya yang saya dengar kebanyakan yang mengatakan wanita tidak boleh karena memang ada alasan2 tertentu. terus kalo cowok gimana?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh…

Memajang foto orang baik laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia itu diperbolehkan, karena pada dasarnya, foto merupakan bayangan suatu obyek yang ditangkap dengan kamera. Sehingga tidak ada unsur menyamai hak penciptaan yang hanya dimiliki oleh Allah semata yang pelakunya diancam dengan siksaan yang berat.

Hukum ini berlaku jika gambar dalam foto tersebut tidak terbuka auratnya dan tidak menimbulkan syahwat. Jika yang dipajang adalah foto wanita yang tidak tertutup auratnya secara penuh, seperti tidak memakai jilbab, maka harus berusaha agar fotonya itu hanya dilihat oleh mahramnya.

Wallohu a’lam.

Referensi :
1. Fatawi Al-Azhar, Juz : 7 Hal : 220
2. Fatawi Darul Ifta’ Al-Mishriyah

Ibarot :
Fatawi Al-Azhar, Juz : 7 Hal : 220

الفوائد وتعليق الصور فى المنازل

السؤال : ……….. ثانيا تطلب الإفادة عن الصور التى تعلق بحوائط المنازل بقصد الزينة. هل هى حلال أم حرام وهل تمنع دخول الملائكة المنازل وبيان الحكم الشرعى فى ذلك

الجواب : ………. عن السؤال الثانى ك اختلف الفقهاء فى حكم الرسم الضوئى بين التحريم والكراهة، والذى تدل عليه الأحاديث النبوية الشريفة التى رواها البخارى وغيره من أصحاب السنن وترددت فى كتب الفقه، أن التصوير الضوئى للإنسان والحيوان المعروف الآن والرسم كذلك لا بأس به، إذا خلت الصور والرسوم من مظاهر التعظيم ومظنة التكريم والعبادة وخلت كلذلك عن دوافع تحريك غريزة الجنس وإشاعة الفحشاء والتحريض على ارتكاب المحرمات.

ومن هذا يعلم أن تعليق الصور فى المنازل لا بأس به متى خلت عن مظنة التعظيم والعبادة، ولم تكن من الصور أو الرسوم التى تحرض على الفسق والفجور وارتكاب المحرمات

Fatawi Darul Ifta’ Al-Mishriyah, Fatwa no.2475

حكم تعليق الصور على الجدران

اطلعنا على الطلب المقيد برقم 738 لسنة 2005م المتضمن

الصور الشخصية لفتاة غير محجبة توفاها الله هل تعتبر سيئة جاريةً لها؟ وما حكمها إذا عُلِّقت في مدخل المنزل؟ وهل رؤية غير المحارم للصورة يجعل هناك إثمًا على الفتاة؟

الـجـــواب : فضيلة الأستاذ الدكتور علي جمعة محمد

لا بأس بتداول الصور الفوتوغرافية للإنسان والحيوان؛ لأنها عبارة عن حبس للظل وليس فيها المضاهاة لخلق الله التي ورد فيها الوعيد للمصورين، وذلك ما لم تكن الصور عارية أو تدعو للفتنة

وإذا صورت المرأة نفسها من غير حجاب شرعي كامل فلتحرص على أن لا يرى هذه الصورةَ غيرُ محارمها؛ لأن أمر النساء مبنيٌّ على التصوُّن والتستُّر والعفاف، فإذا اطلع أجنبي بعد ذلك عليها –مع حرصها على صَوْنِها عن من لا يحل له الاطلاع على عورتها –فلا إثم عليها ولا ذنب لها، ولا يُعتبر ذلك سيئةً جاريةً لها في حياتها ولا بعد وفاتها –كما يُقال–، ولكن ينبغي أن لا توضع في مكان يراه كل أحد بل تُصان

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Gambar wanita yang berada pada foto itu bisa disamakan dengan gambar yang ada pada cermin, dalam hal sama-sama bukan wujud asli dari bendanya. Jika gambar yang ada dicermin adalah bayangan dari suatu benda, maka gambar yang dihasilkan dari kamera yang berupa foto adalah pantulan cahaya pada suatu benda. Karena itulah hukum melihat gambar wanita pada foto bisa disamakan dengan melihat gambar pada cermin.

Menurut pendapat ulama’, melihat bayangan wanita yang berada dikaca atau dipermukaan air itu diperbolehkan, karena tidak melihat secara langsung, dan yang dilihat hanyalah bayangan yang menyerupai wanita bukan wujud dari wanitanya. Hal ini dikuatkan dengan penjelasan para fuqoha’ yang menyatakan, apabila seorang laki-laki menggantungkan talaknya dengan melihat seorang wanita, maka dengan hanya melihat gambarnya dicermin belum dianggap ta’liq talaknya jatuh. Namun diperbolehkannya melihat foto seorang wanita bagi laki-laki yang bukan mahromnya dengan ketentuan ketika melihatnya tidak syahwat, apabila ketika melihatnya timbul syahwat, maka hukumnya harom, dan ketentuan bagi orang yang meng-upload fotonya adalah tidak meng-upload foto yang merangsang timbulnya syahwat bagi orang yang melihatnya.

KESIMPULAN: Hukum memasang foto wanita sebagai banner pilkada atau sebagai foto profil akun facebook yang dapat dilihat oleh laki-laki yang bukan mahromnya, itu diperbolehkan asalkan foto yang dipasang bukan foto yang dapat menarik kepada kemaksatan atau dapat menimbulkan fitnah dan syahwat, seperti foto yang memperlihatkan aurot. Wallohu a’lam.

 

Dasar Pengambilan (1).

ﻭﻟﻌﻠﻚ ﺗﺮﻳﺪ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺗﻌﺮﻑ ﺣﻜﻢ ﻣﺎ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﺎﻟﺘﺼﻮﻳﺮ ﺍﻟﺸﻤﺴﻲ ﺃﻭ ﺍﻟﻔﺘﻮﻏﺮﺍﻓﻲ ﻓﻨﻘﻮﻝ: ﻳﻤﻜﻨﻚ ﺃﻥ ﺗﻘﻮﻝ: ﺇﻥّ ﺣﻜﻤﻬﺎ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺮﻗﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻮﺏ، ﻭﻗﺪ ﻋﻠﻤﺖ ﺍﺳﺘﺜﻨﺎﺀﻩ ﻧﺼﺎ. ﻭﻟﻚ ﺃﻥ ﺗﻘﻮﻝ: ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﻟﻴﺲ ﺗﺼﻮﻳﺮﺍ، ﺑﻞ ﺣﺒﺲ ﻟﻠﺼﻮﺭﺓ، ﻭﻣﺎ ﻣﺜﻠﻪ ﺇﻻ‌ ﻛﻤﺜﻞ ﺍﻟﺼﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺮﺁﺓ

تفسير اية الاحكام للشيسي . الجز 1. صفحة . 677

Dasar Pengambilan (2).

ﻣﻬﻤﺔ [ﻓﻲ ﺑﻴﺎﻥ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﻭﺍﻟﺠﺎﺋﺰ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ] ﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﻟﻮ ﺷﻴﺨﺎ ﻫﻤﺎ ﺗﻌﻤﺪ ﻧﻈﺮ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺑﺪﻥ ﺃﺟﻨﺒﻴﺔ ﺣﺮﺓ ﺃﻭ ﺃﻣﺔ ﺑﻠﻐﺖ ﺣﺪﺍ ﺗﺸﺘﻬﻰ ﻓﻴﻪ ﻭﻟﻮ ﺷﻮﻫﺎﺀ ﺃﻭ ﻋﺠﻮﺯﺍ ﻭﻋﻜﺴﻪ ﺧﻼ‌ﻓﺎ ﻟﻠﺤﺎﻭﻱ ﻛﺎﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﻭﺇﻥ ﻧﻈﺮ ﺑﻐﻴﺮ ﺷﻬﻮﺓ ﺃﻭ ﻣﻊ ﺃﻣﻦ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻻ‌ ﻓﻲ ﻧﺤﻮ ﻣﺮﺁﺓ ……. ﻗﻮﻟﻪ : ﻻ‌ ﻓﻲ ﻧﺤﻮ ﻣﺮﺁﺓ) ﺃﻱ ﻻ‌ ﻳﺤﺮﻡ ﻧﻈﺮﻩ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﻧﺤﻮ ﻣﺮﺁﺓ ﻛﻤﺎﺀ ﻭﺫﻟﻚ ﻻ‌ﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺮﻫﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺭﺃﻯ ﻣﺜﺎﻟﻬﺎ. ﻭﻳﺆﻳﺪﻩ ﻗﻮﻟﻬﻢ ﻟﻮ ﻋﻠﻖ ﻃﻼ‌ﻗﻬﺎ ﺑﺮﺅﻳﺘﻬﺎ ﻟﻢ ﻳﺤﻨﺚ ﺑﺮﺅﻳﺔ ﺧﻴﺎﻟﻬﺎ ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻣﺜﻠﻪ ﻓﻼ‌ ﻳﺤﺮﻡ ﻧﻈﺮﻫﺎ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ. ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ: ﻭﻣﺤﻞ ﺫﻟﻚ، ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ، ﺣﻴﺺ ﻟﻢ ﻳﺨﺶ ﻓﺘﻨﺔ ﻭﻻ‌ ﺷﻬﻮﺓ . حاشية اعانة الطالبين . الجز 3. صفحة 301.

Dasar Pengambilan (3).

ﻭﺍﻟﺬﻯ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷ‌ﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ ﺍﻟﺸﺮﻳﻔﺔ ﺍﻟﺘﻰ ﺭﻭﺍﻫﺎ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺴﻨﻦ ﻭﺗﺮﺩﺩﺕ ﻓﻰ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻔﻘﻪ، ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺼﻮﻳﺮ ﺍﻟﻀﻮﺋﻰ ﻟﻺ‌ﻧﺴﺎﻥ ﻭﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻥ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﺍﻵ‌ﻥ ﻭﺍﻟﺮﺳﻢ ﻛﺬﻟﻚ ﻻ‌ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ، ﺇﺫﺍ ﺧﻠﺖ ﺍﻟﺼﻮﺭ ﻭﺍﻟﺮﺳﻮﻡ ﻣﻦ ﻣﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﺘﻌﻈﻴﻢ ﻭﻣﻈﻨﺔ ﺍﻟﺘﻜﺮﻳﻢ ﻭﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻭﺧﻠﺖ ﻛﻠﺬﻟﻚ ﻋﻦ ﺩﻭﺍﻓﻊ ﺗﺤﺮﻳﻚ ﻏﺮﻳﺰﺓ ﺍﻟﺠﻨﺲ ﻭﺇﺷﺎﻋﺔ ﺍﻟﻔﺤﺸﺎﺀ ﻭﺍﻟﺘﺤﺮﻳﺾ . فتاوى دار الافتاء المصرية . الجز 7. صفحة 220.

Dasar Pengambilan (4).

ﻣﻬﻤﺔ) ﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﻟﻮ ﺷﻴﺨﺎ ﻫﻤﺎ ﺗﻌﻤﺪ ﻧﻈﺮ ﺷﺊ ﻣﻦ ﺑﺪﻥ ﺃﺟﻨﺒﻴﺔ ﺣﺮﺓ ﺃﻭ ﺃﻣﺔ ﺑﻠﻐﺖ ﺣﺪﺍ ﺗﺸﺘﻬﻰ ﻓﻴﻪ ﻭﻟﻮ ﺷﻮﻫﺎﺀ ﺃﻭ ﻋﺠﻮﺯﺍ ﻭﻋﻜﺴﻪ، ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻠﺤﺎﻭﻱ ﻛﺎﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﻭﺇﻥ ﻧﻈﺮ ﺑﻐﻴﺮ ﺷﻬﻮﺓ ﺃﻭ ﻣﻊ ﺃﻣﻦ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻗﻮﻟﻪ : ﻧﻈﺮ ﺷﺊ ﻣﻦ ﺑﺪﻥ ﺃﺟﻨﺒﻴﺔ: ﺇﻟﺦ – ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ …. ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻧﻈﺮ ﻓﺤﻞ ﻭﺧﺼﻲ ﻭﻣﺠﺒﻮﺏ ﻭﺧﻨﺜﻰ ﺑﺎﻟﻎ ﺇﻟﻰ ﻋﻮﺭﺓ ﺣﺮﺓ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﺃﺟﻨﺒﻴﺔ ﻭﻫﻲ ﻣﺎ ﻋﺪﺍ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻭﻛﻔﻴﻬﺎ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ ﻭﻛﺬﺍ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻭﻛﻔﻴﻬﺎ ﻋﻨﺪ ﺧﻮﻑ ﻓﺘﻨﺔ ﺇﺟﻤﺎﻋﺎ ﻭﻛﺬﺍ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺑﺸﻬﻮﺓ ﺑﺄﻥ ﻳﻠﺘﺬ ﺑﻪ ﻭﺇﻥ ﺃﻣﻦ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻗﻄﻌﺎ ﻭﻛﺬﺍ ﻋﻨﺪ ﺍﻷﻣﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻈﻨﻪ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺑﻼ ﺷﻬﻮﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻭﻭﺟﻪ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻊ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺃﻥ ﻳﺨﺮﺟﻦ ﺳﺎﻓﺮﺍﺕ ﺍﻟﻮﺟﻮﻩ، ﻭﺑﺄﻥ ﺍﻟﻨﻈﺮ

ﻣﻈﻨﺔ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻭﻣﺤﺮﻙ ﻟﻠﺸﻬﻮﺓ ﻓﺎﻟﻼﺋﻖ ﺑﻤﺤﺎﺳﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺳﺪ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻭﺍﻹﻋﺮﺍﺽ ﻋﻦ ﺗﻔﺎﺻﻴﻞ ﺍﻷﺣﻮﺍﻝ ﻛﺎﻟﺨﻠﻮﺓ ﺑﺎﻷﺟﻨﺒﻴﺔ ﻭﺑﻪ ﺍﻧﺪﻓﻊ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﺄﻧﻪ ﻋﻮﺭﺓ ﻓﻜﻴﻒ ﺣﺮﻡ ﻧﻈﺮﻩ ﻷﻧﻪ ﻣﻊ ﻛﻮﻧﻪ ﻏﻴﺮ ﻋﻮﺭﺓ ﻧﻈﺮﻩ ﻣﻈﻨﺔ ﻟﻠﻔﺘﻨﺔ ﺃﻭﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻓﻔﻄﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﻪ ﺍﺣﺘﻴﺎﻃﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺻﻨﻊ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﺃﻥ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻭﻛﻔﻴﻬﺎ ﻋﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻓﻲ ﻣﺎ ﺣﻜﺎﻩ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻣﻦ ﺍﺗﻔﺎﻕ ﻧﻘﻞ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻋﻦ

ﻗﺎﺿﻲ ﻋﻴﺎﺽ ﺍﻹﺟﻤﺎﻉ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻠﺰﻣﻬﺎ ﻓﻲ ﻃﺮﻳﻘﻬﺎ ﺳﺘﺮ ﻭﺟﻬﻬﺎ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﺳﻨﺔ، ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻏﺾ ﺍﻟﺒﺼﺮ ﻋﻨﻬﻦ ﻻﻥ ﻣﻨﻌﻬﻦ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻟﻴﺲ ﻟﻮﺟﻮﺏ ﺍﻟﺴﺘﺮ ﻋﻠﻴﻬﻦ، ﺑﻞ ﻻﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﻋﺎﻣﺔ ﺑﺴﺪ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ. ﻧﻌﻢ، ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺟﻮﺑﻪ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﻋﻠﻤﺖ ﻧﻈﺮ ﺃﺟﻨﺒﻲ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺃﺧﺬﺍ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﻳﻠﺰﻣﻬﺎ ﺳﺘﺮ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﺬﻣﻴﺔ، ﻭﻻﻥ ﻓﻲ ﺑﻘﺎﺀ ﻛﺸﻔﻪ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ. ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺃﻱ ﻣﻘﺎﺑﻞ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻭﻧﺴﺒﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻟﻠﺠﻤﻬﻮﺭ ﻭﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ ﻟﻸﻛﺜﺮﻳﻦ – ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ- ﻓﺎﻟﺠﺰﻡ ﻳﻤﻨﻊ ﺧﺮﻭﺟﻬﻦ ﻓﻴﻪ ﺣﺮﺝ ﺷﺪﻳﺪ ﻓﺎﻟﺤﻖ ﺟﻮﺍﺯ ﺧﺮﻭﺟﻬﻦ ﺳﺎﻓﺮﺍﺕ ﺍﻟﻮﺟﻮﻩ ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻐﺾ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﻳﺸﺘﺮﻁ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﺃﻣﻦ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻭﺗﺮﻙ ﺍﻟﺰﻳﻨﺔ ﻓﺈﻥﻭﺟﺪ ﺃﺣﺪ ﻫﺬﻳﻦ ﻣﻨﻌﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ فتح المعين . الجز 3. صفحة  258.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N004 PERNIKAHAN DAN HAK WALI ORANG KAFIR SETELAH MASUK ISLAM

PERTANYAAN :

Assalamualaikim wr. wb..

Deskripsi,
Ada orang kafir masuk islam. dan mempunyai anak perempuan.
A. ada hakkah/ bolehkah dia menjadi wali dalam pernikahan anaknya
B. Bagaimna status pernikahan dengan istrinya apa harus menikah lagi dengan istrinya mengingat waktu menikah belum masuk islam.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

A. Jika nikahnya dihukumi sah maka ayah kandungnya berhak menjadi walinya.

B. Para ulama telah ijma’ (sepakat) bahwa suami isteri kafir lalu masuk Islam secara bersama dalam satu waktu maka pernikahannya sah selama tidak ada hubungan nasab (keturunan) atau sepersusuan.

Di zaman Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sejumlah orang masuk Islam beserta isteri-isteri mereka dan mereka meneruskan pernikahan mereka. Apabila ada suami istri yang kemudian salah satu masuk Islam sementara yang lain masih beragama sebelumnya dan telah terjadi hubungan badan, maka (ketika salah satu masuk Islam) sang suami tidak lagi boleh melakukan hubungan badan dengan istrinya serta nikahnya menjadi terputus dan menggantung selama masa iddah.

Masa iddahnya sama dengan iddah wanita yang ditalak. Jika si istri atau si suami menyusul masuk islam sebelum masa iddah selesai maka status pernikahannnya tidak batal (tidak perlu nikah ulang). Namun jika dia baru menyusul masuk islam setelah masa iddah selesai maka ikatan pernikahan telah putus dan harus mengulang nikah yang baru.

REFERENSI :

– Al Mausu’ah al Fiqhiyyah juz 41 hal. 319 :

فذهب جمهور الفقهاء – الحنفية والشافعية على الصحيح والحنابلة وقول عند المالكية – إلى أن نكاح الكفار غير المرتدين بعضهم لبعض صحيح

– Mughniy al Muhtaj juz 4 hal. 326 :

ونكاح الكفار صحيح على الصحيح) لقوله تعالى: {وقالت امرأت فرعون} [القصص: 9] [القصص] {وامرأته حمالة الحطب} [المسد: 4] [المسد] ، ولحديث غيلان وغيره ممن أسلم وتحته أكثر من أربع نسوة فأمره – صلى الله عليه وسلم – بالإمساك، ولم يسأل عن شرائط النكاح، فلا يجب البحث عن شرائط أنكحتهم فإنه – صلى الله عليه وسلم – أقرهم عليها، وهو – صلى الله عليه وسلم – لا يقر أحدا على باطل، ولأنهم لو ترافعوا إلينا لم نبطله قطعا،

ولو أسلموا أقررناه (وقيل فاسد) لعدم مراعاتهم الشروط، لكن لا يفرق بينهم لو ترافعوا إلينا رعاية للعهد والذمة، ونقرهم بعد الإسلام رخصة وخشية من التنفير (وقيل) موقوف (إن أسلم وقرر تبينا صحته، وإلا فلا) أي وإن لم يقرر تبينا فساده،

واعترض على المصنف في تعبيره على القول الأول بالصحة، وعبارة الروضة وأصلها محكوم بصحته. قال السبكي: ونعما هي، والمختار عندي فيها أنها إن وقعت على حكم وفق الشرع فصحيحة وإلا فمحكوم لها بالصحة إن اتصلت بالإسلام رخصة، وعفوا من الله تعالى، وما كان مستجمعا لشروط الإسلام فهو صحيح ولا أرى أن فيه خلافا

– Al Umm juz 5 hal. 48 :

إذا كان الزوجان مشركين وثنيين أو مجوسيين عربيين أو أعجميين من غير بني إسرائيل ودانا دين اليهود والنصارى أو أي دين دانا من الشرك إذا لم يكونا من بني إسرائيل أو يدينان دين اليهود والنصارى فأسلم أحد الزوجين قبل الآخر وقد دخل الزوج بالمرأة فلا يحل للزوج الوطء والنكاح موقوف على العدة فإن أسلم المتخلف عن الإسلام منهما قبل انقضاء العدة فالنكاح ثابت وإن لم يسلم حتى تنقضي العدة فالعصمة منقطعة بينهما وانقطاعها فسخ بلا طلاق وتنكح المرأة من ساعتها من شاءت ويتزوج أختها وأربعا سواها وعدتها عدة المطلقة

Wallahu a’lamu bisshowab..

J001. MENGUBURKAN JENAZAH DENGAN PETI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..
Mau tanya lagi,
Bagaimana hukum mengubur jenazah bersama peti mati? Karena ada daerah yang tanah pekuburannya baru satu meter sudah keluar air. Seperti di kalimantan.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Mengubur mayat dengan peti hukumnya makruh karena termasuk idho’atul maal. Terkecuali jika tanah pemakaman berair atau karena kemaslahatan lainnya

اعانة الطالبين ٢/١١٧مكتبة طه فوترا

و كره صندق الالنح نداوة فيجب……..قوله وكره صندوق) اى جعل الميت فيه لانه ينافى الاستكانة و الذل المقصودين من وضعه فى التراب و لان فيه اضاعة مال و عبارة الروض و شرحه و يكره صندوق اى جعل الميت فيه و لا تنفذ و صيته بذلك فان احتيج الى الصندوق لنداوة و نحوها كرخاوة فى الارض فلا كرهة و هو اى الصندوق المحتاج اليه من راس المال كالكفن و لانه من مصالح دفنه الواجب انتهى ملخصا

Jika menilik lafadz :

و هو اى الصندوق المحتاج اليه من راس المال كالكفن و لانه من مصالح دفنه الواجب

Meski peti sangat diperlukan demi kemaslahatan mayit, tetapi tak dapat menggugurkan kewajiban pengkafanan.

Sekira mayat dimasukkan peti tapi tidak dikafnani maka ia ibarat orang dalam kamar yang telanjang padahal penutupan aurat pada haq Allah adalah lebih utama ;

اعانة الطالبين ٢/ ١١٢

لان ساتر العورة حق الله تعالى قياسا على الحي قال الكردى حاصل ما اعتمده الشارح فى كتبه ان الكفن ينقسم على اربعة اقسام حق الله تعالى و هو ساتر العورة و هذا لا يجوز لاحد اسقاطه مطلقا….

Mayit dibungkus dengan daun pisang ? jangankan daun pisang rumput-rumputan juga boleh…

و يحرم التكفين فى جلد ان و جد غيره و كذا الطين و الحشيش فان لم يوجد ثوب وجب جلد ثم حشيش ثم طين فيما استظهره شيخنا

Kita semua sudah sama-sama tahu dan mengerti bahwa pengkafanan mayat adalah sebagian dari hal penting dan wajib dalam prosesi tajhiz janazah. Hubungannya dalam hal ini bahwa kewajiban menutup aurat atas orang yang masih hidup karena unsur efek yang berupa fitnah, bukan karena aurat itu sendiri. Sehingga apabila seseorang telah meninggal dunia maka padanya terdapat hak Allah yang harus dipenuhi, yakni menutup auratnya, dan hak mayat yaitu menutup seluruh badannya. Oleh karena demikian, hak Allah tak bisa gugur biar bagaimanapun, dan memasukkan mayat ke dalam peti mati itu belum menggugurkan hak Allah, dan demikian juga hak mayat. Hal ini bisa diambil mafhum dari ibarot berikut :

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ٢ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٢٩

ﻓﻴﺠﺐ ﺇﻟﺦ ﺗﻔﺮﻳﻊ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺧﺘﻼﻑ ﺑﺎﻟﺬﻛﻮﺭﺓ ﻭﺍﻷﻧﻮﺛﺔ.ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﻣﺎ ﻳﺴﺘﺮ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ ﺃﻱ ﻭﻫﻮ ﺟﻤﻴﻊ ﺑﺪﻧﻬﺎ.ﻗﻮﻟﻪ: ﻻﻥ ﺣﻖ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻱ ﻻﻥ ﺳﺎﺗﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ ﺣﻖ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻗﻴﺎﺳﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﻲ.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻜﺮﺩﻱ: ﺣﺎﺻﻞ ﻣﺎ ﺍﻋﺘﻤﺪﻩ ﺍﻟﺸﺎﺭﺡ ﻓﻲ ﻛﺘﺒﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻜﻔﻦ ﻳﻨﻘﺴﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ: ﺣﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻭﻫﻮ ﺳﺎﺗﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ، ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻻﺣﺪ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ. ﻭﺣﻖ ﺍﻟﻤﻴﺖ: ﻭﻫﻮ ﺳﺎﺗﺮ ﺑﻘﻴﺔ ﺍﻟﺒﺪﻥ، ﻓﻬﺬﺍ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﺃﻥ ﻳﻮﺻﻲ ﺑﺈﺳﻘﺎﻃﻪ ﺩﻭﻥ ﻏﻴﺮﻩ. ﻭﺣﻖ ﺍﻟﻐﺮﻣﺎﺀ: ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ، ﻓﻬﺬﺍ ﻟﻠﻐﺮﻣﺎﺀ ﻋﻨﺪ ﺍﻻﺳﺘﻐﺮﺍﻕ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻭﻟﻤﻨﻊ ﻣﻨﻪ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻮﺭﺛﺔ. ﻭﺣﻖ ﺍﻟﻮﺭﺛﺔ: ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺰﺍﺋﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺜﻼﺙ، ﻓﻠﻠﻮﺭﺛﺔ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻭﺍﻟﻤﻨﻊ ﻣﻨﻪ. ﻭﻭﺍﻓﻖ ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ ﺍﻟﺮﻣﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻗﺴﺎﻡ ﺇﻻ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻨﻬﺎ، ﻓﺎﻋﺘﻤﺪ ﺃﻥ ﻓﻴﻪ ﺣﻘﻴﻦ، ﺣﻘﺎ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻭﺣﻘﺎ ﻟﻠﻤﻴﺖ. ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺳﻘﻂ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺣﻘﻪ ﺑﻘﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻓﻠﻴﺲ ﻷﺣﺪ ﻋﻨﺪﻩ ﺇﺳﻘﺎﻁ ﺷﺊ ﻣﻦ ﺳﺎﺑﻎ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺒﺪﻥ. ﺍﻫ.

Terkecuali situasinya memang darurat, seperti tidak menemukan penutup sama sekali, maka memasukkan mayat ke dalam peti mati sudah dianggap cukup, dan hal demikian wajib dilakukan.

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Sesuai kesepakatan ulama dimakruhkan mengubur jenazah dalam peti karena termasuk bid’ah kecuali kalau ada udzur seperti di tanah yang lembab atau gembur berair atau adanya binatang buas yang akan menggalinya walaupun sudah padat yang sekiranya tidak akan bisa terlindungi kecuali dimasukan ke dalam peti, atau jenazah wanita yang tidak punya mahram, dalam hal ini maka tidak dimakruhkan menggunakan peti mati untuk kemaslahatan,bahkan bila diperkirakan adanya binatang buas maka hukumnya menjadi wajib.

– Tuhfah almuhtaj jilid 3 hal 194 :

(يكره دفنه في التابوت)إجماعالانه بدعة(إلالعذر)ككون الدفن في أرض ندية بتخفيف التحتية أورخوة بكسرأوله أوفتحه أوبهاسبع تحفرأرضهاوإن أحكمت أوتهري بحيث لايضبطه إلاالتبوت أوكان إمرأة لامحرم لهافلايكره للمصلحة بل لايبعدوحوبه في مسألة السباع ان غلب وجودهاومسألة التهري

– I’anah At-tholibin jilid 2 hal 117 :

وكره صندق إلالنحونداوة فيجبه

Dan dimakruhkan menggunakan peti mati kecuali semisal berada di tanah yang lembab berair maka hukumnya wajib.

ويكره دفنه في تابوت) بالإجماع لأنه بدعة، (إلاَّ في أرض ندية) بسكون الدال وتخفيف التحتية، (أو رخوة) وهي بكسر الراء أفصح من فتحها: ضدّ الشديدة، فلا يكره للمصلحة؛ ولا تنفذ وصيته به إلاَّ في هذه الحالة. ومثل ذلك ما إذا كان في الميت تَهْرِيَةٌ بحريق أو لذع بحيث لا يضبطه إلاَّ التابوت، أو كانت امرأة لا محرم لـها كما قالـه المتولّي لئلاّ يمسّها الأجانب عند الدفن أو غيره. وَأَلْحَقَ في الوسيط بذلك دَفْنَهُ في أرض مسبعة بحيث لا يصونه من نَبْشِها إلاَّ التابوت

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ٢ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٣١

ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪ ﺇﻻ ﺣﺐ، ﻓﻬﻞ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺘﻜﻔﻴﻦ ﻓﻴﻪ ﺑﺈﺩﺧﺎﻝ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻓﻴﻪ ﻷﻧﻪ ﺳﺎﺗﺮ؟ ﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ، ﻭﻻ ﻳﺒﻌﺪ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ.

نهاية الزين في إرشاد المبتدئين (ص: 154)

ويكره أن يجعل له فرش ومخدة وصندوق لم يحتج إليه لأن في ذلك إضاعة مال –، أما إذا احتيج إلى الصندوق لنداوة أو نحوها فلا يكره

Wallahu a’lamu bisshowab..