Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 48 : ANJURAN MAKAN KURMA SEBELUM SHALAT IDUL FITRI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

HADITS KE 48 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ ) أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. وَفِي رِوَايَةٍ مُعَلَّقَةٍ -وَوَصَلَهَا أَحْمَدُ-: وَيَأْكُلُهُنَّ أَفْرَادًا

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak berangkat (menuju tempat sholat) pada hari raya Fithri, sehingga beliau memakan beberapa buah kurma. Dikeluarkan oleh Bukhari. Dan dalam riwayat mu’allaq (Bukhari) yang bersambung sanadnya menurut Ahmad: Beliau memakannya satu persatu.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) adalah seorang pembimbing yang bijaksana dalam setiap
perkataan dan tingkah lakunya. Baginda samasekali tidak memberi ruang kepada
orang melampau dan senantiasa berusaha mematahkan hujah orang yang melewati
batas kewajaran. Baginda senantiasa makan sebelum mengerjakan sholat hari raya
supaya orang banyak tidak mengira bahwa puasa tetap wajib dilaksanakan hingga
sholat hari raya selesai. Baginda ibarat seorang tabib yang mahir dan tahu betul
bahwa puasa dapat melemahkan pandangan mata, sehingga dengan cara itu
baginda memberikan petunjuk untuk menjaganya dengan cara memakan
sesuatu yang manis ketika berbuka, karena memakan sesuatu yang manis dapat
menguatkan dan mencerahkan lagi pandangan mata, dan kekuatan tubuh
kembali seperti semula. Inilah yang diungkapkan oleh Rasulullah (s.a.w) sekaligus mengisyaratkan akan keesaan Allah (s.w.t) dengan cara memakan buah kurma
satu demi satu.

FIQH HADITS :

1. Rasulullah (s.a.w) selalu makan terlebih dahulu sebelum mengerjakan sholat hari raya idul fitri.

2. Disunatkan berbuka dengan memakan buah kurma atau makanan yang
manis, karena makanan yang mengandung zat gula dapat menguatkan pandangan mata sesudah dilemahkan oleh pengaruh puasa.

3. Disunatkan memakan buah kurma satu demi satu, karena itu mengandung
isyarat yang menunjukkan keesaan Allah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 47 : HILAL PADA HARI RAYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADHA

HADITS KE 47 :

وَعَنْ أَبِي عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ, عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنَ اَلصَّحَابَةِ, ( أَنَّ رَكْبًا جَاءُوا, فَشَهِدُوا أَنَّهُمْ رَأَوُا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ, فَأَمَرَهُمْ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُفْطِرُوا, وَإِذَا أَصْبَحُوا يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمْ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ -وَهَذَا لَفْظُهُ- وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ

Dari Abu Umairah Ibnu Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu dari paman-pamannya di kalangan shahabat bahwa suatu kafilah telah datang, lalu mereka bersaksi bahwa kemarin mereka telah melihat hilal (bulan sabit tanggal satu), maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar berbuka dan esoknya menuju tempat sholat mereka. Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Lafadznya menurut Abu Dawud dan sanadnya shahih.

MAKNA HADITS :

Jika waktu hari raya telah diketahui sebelum waktu sholatnya habis, maka sholat hari
raya hendaklah segera dikerjakan pada hari itu. Namun jika hari raya masih belum
diketahui melainkan sesudah waktu sholatnya habis, maka sholat hari raya hendaklah dilakukan pada hari berikutnya dan dianggap sebagai sholat qadha’. Hadis yang menerangkan hukum ini berkaitan hari raya idul fitri, kemudian diqiaskan kepadanya hari raya idul adha.

FIQH HADITS :

Jika waktu sholat hari raya telah berlalu pada hari pertama, maka sholat hari raya
hendaklah dilaksanakan pada hari kedua bulan Syawal sebelum matahari tergelincir.
Inilah pendapat mazhab Hanbali dan mazhab Hanafi. Mereka mengatakan pula
bahwa tidak ada perbedaan antara terlewat lantaran keliru atau wujudnya faktor
lain yang dikategorikan sebagai uzur.

Menurut pendapat yang sahih dalam mazhab al-Syafi’i, sholat mestilah diqadha’
dalam waktu yang tidak perlu diberi batasan, karena disunatkan mengqadha’ sholat
sunat yang dilakukan pada waktu tertentu apabila waktunya telah berlalu.

Imam Malik berkata: “Jika mereka mengetahui hari raya sebelum matahari
tergelincir, maka sholat hari raya mestilah segera dikerjakan. Jika matahari telah
tergelincir, maka sholat hari raya tidak perlu lagi dikerjakan, baik pada hari
itu ataupun pada hari berikutnya kerana sholat hari raya itu merupakan suatu amal
ibadah yang mesti dilakukan pada waktu yang telah ditentukan, ia tidak boleh
dikerjakan pada waktu lain selain dari waktu yang telah ditetapkan.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 46 : PENETAPAN HARI RAYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADHA

HADITS KE 46 :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ, وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hari Raya Fithri adalah hari orang-orang berbuka dan hari raya Adlha adalah hari orang-orang berkurban.” Riwayat Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Jika seseorang melihat hilal bulan pada malam hari raya, maka wajib baginya mengamalkan apa yang dia yakini dalam dirinya tanpa perlu mengira baik hakim bakal menerima kesaksiannya ataupun tidak. Dalam masalah sholat hari raya, berbuka dan berqurban, dia wajib mengikut keputusan yang telah dibuat oleh
lembaga kehakiman karena dikawaatiri menimbulkan kekacauan. Inilah kefahaman yang terdapat di dalam hadis ini. Adapun sanggahan Ibn Abbas (r.a) terhadap kesaksian seseorang yaitu Kuraib yang telah menyaksikan penduduk negeri
Syam telah berpuasa pada hari Jum’at melalui perkataannya: “Sesungguhnya kami melihat anak bulan pada malam Sabtu,” maka ini mengandung dua tafsiran.

Pertama, barangkali Ibn Abbas (r.a) ingin menyatakan adanya perbedaan waktu kemunculan anak bulan antara negeri Syam dengan negeri Hijaz. Inilah landasan yang betul. Kedua, barangkali pula Ibn Abbas (r.a) menolak kesaksian satu orang karena beliau mensyaratkan adanya sejumlah saksi dalam masalah ini. Meskipun, di dalam hadis tersebut tidak didapati bukti yang menunjukkan bahwa Ibn ‘Abbas (r.a) menyuruh Kuraib mengamalkan apa yang bertentangan dengan keyakinan
dirinya.

FIQH HADITS :

Apa yang mesti dijadikan pedoman dalam menetapkan hari raya ialah mengikuti orang banyak. Seseorang yang melihat rukyah hari raya tetap diwajibkan menyesuaikan dirinya dengan khalayak ramai secara hukum dalam mengerjakan sholat hari raya, berbuka dan melakukan qurban. Jumhur ulama mengatakan
bahwa barang siapa yang melihat anak bulan Syawal, namun kesaksiannya tidak dapat diterima oleh majlis hakim, maka dia tidak boleh berbuka.

Imam al-Syafi’i berkata: “Dia boleh berbuka kecuali jika dikawatiri akan dituduh dengan tuduhan yang buruk. Dalam keadaan ini hendaklah dia menahan diri dari makan dan minum, tetapi dengan meyakini bahwa dirinya berada
dalam hari raya.”

Ulama bersepakat bahwa barang siapa yang melihat hilal bulan puasa, walaupun kesaksiannya tidak dapat diterima oleh majlis hakim, maka dia tetap diwajibkan puasa sendirian.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

https://ikaba.net/2019/04/11/hadits-ke-46-penetapan-hari-raya/

HADITS KE 45 : SUJUD SAHWI DALAM SHOLAT KHAUF

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT KHAUF

HADITS KE 45 :

وَعَنْهُ مَرْفُوعًا: ( لَيْسَ فِي صَلَاةِ الْخَوْفِ سَهْوٌ ) أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu dalam hadits yang marfu’: Dalam sholat khouf tidak ada sujud sahwi. Dikeluarkan oleh Daruquthni dengan sanad yang lemah.

MAKNA HADITS :

Sholat khauf sama dengan sholat-sholat yang lain dimana ada kemungkinan dilakukan
sahwi (lupa) ketika mengerjakan sholat yang kemudian ditambal dengan sujud sahwi
yang dilakukan oleh seseorang yang lupa itu tanpa mengira biarpun sujud sahwi
itu dilakukan sebelum salam ataupun sesudahnya. Cara mengerjakan sujud sahwi
dalam sholat khauf sama dengan sujud sahwi dalam sholat biasa. Dalam sholat khauf
tidak ada keistimewaan yang membolehkannya bebas dari melakukan sujud
sahwi jika lupa melakukan sesuatu yang semestinya dilakukan ketika sholat. Hadis
yang diketengahkan oleh penulis (Ibn Hajar) dari Ibn Umar (r.a) sebenarnya
berkedudukan mauquf dan hadis mauquf termasuk bagian dari hadis dha’if.
Ia tidak dapat dijadikan sebagai hujah dan oleh karenanya, tidak seorang ulama
pun yang menjadikannya sebagai pegangan dan tidak ada seorang pun yang mau
mengamalkannya.

KESIMPULAN :

Berdasarkan hadis-hadis yang dikemukakan dalam bab ini dapatlah diambil
beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Menjelaskan empat cara melakukan sholat khauf apabila musuh tidak berada
di arah kiblat dan satu cara untuk melakukan sholat khauf apabila musuh
berada di arah kiblat.

2. Orang yang sholat fardu boleh bermakmum kepada imam yang sholat sunnat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 43-44 : CARA KELIMA DALAM SHALAT KHAUF

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT KHAUF

HADITS KE 43 :

وَعَنْ حُذَيْفَةَ: ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى صَلَاةَ اَلْخَوْفِ بِهَؤُلَاءِ رَكْعَةً, وَبِهَؤُلَاءِ رَكْعَةً, وَلَمْ يَقْضُوا ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

وَمِثْلُهُ عِنْدَ ابْنِ خُزَيْمَةَ: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Dari Hudzaifah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat khouf dengan mereka satu rakaat dan dengan mereka yang lain satu rakaat, dan mereka tidak mengqadla. Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Hadits serupa diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu

HADITS KE 44 :

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( صَلَاةُ اَلْخَوْفِ رَكْعَةٌ عَلَى أَيِّ وَجْهٍ كَانَ ) رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat khouf itu satu rakaat dalam keadaan bagaimanapun.” Riwayat Al-Bazzar dengan sanad yang lemah.

MAKNA HADITS :

Ini merupakan cara kelima untuk mengerjakan sholat khauf, tetapi agak sukar untuk difahami karena sholat ini dilakukan hanya satu rakaat tanpa ada kelanjutannya.
Sehubungan ini, Imam al-Syafi’i berkata: “Hadis ini tidak kuat.” Dengan demikian,
pendapat ini sudah cukup untuk memecahkan masalah berkaitan dengannya.
Sedangkan ulama yang lainnya memilih makna dzahir hadis dan mereka
menjadikan sholat khauf hanya satu rakaat bagi imam dan makmum. Mereka yang
mengatakan demikian antara lain ialah al-Tsauri dan sekumpulan ulama yang
lain.

Penulis (Ibn Hajar) dalam kitab ini (Bulugh al-Maram) hanya mengemukakan
lima cara pelaksanaan sholat khauf, sedangkan Abu Dawud menambah tiga lagi
cara sebagai tambahan ke atas apa yang disebut oleh Ibn Hajar. Dengan demikian,
cara mengerjakan sholat khauf menurut Abu Dawud ada delapan cara. Sedangkan ada
pula sebagian ulama yang menjadikannya hingga tujuh belas cara.

Nabi (s.a.w) secara garis besarnya telah mengerjakan sholat khauf berulang
kali. Oleh itu, penukilan yang dilakukan oleh para sahabat mengenai tatacaranya
berbeda-beda antara satu sama lain, hingga ia banyak memiliki ragam. Akan tetapi,
cara yang paling kuat diantara semua itu ialah cara yang disebut di dalam hadis Ibn
Umar (r.a). Ini disebabkan oleh dua faktor; pertama, sanad hadisnya kuat; kedua,
cara tersebut bersesuaian dengan kaidah asal yang mengatakan bahwa makmum
masih belum sempurna sholatnya kecuali sesudah imam menyempurnakan
sholatnya.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan cara kelima untuk melakukan sholat khauf ketika musuh tidak
berada di arah kiblat. Kumpulan pertama mengerjakan satu rakaat bersama
imam dan demikian pula kumpulan kedua hanya mengerjakan satu rakaat
bersama imamnya.

2. Sholat khauf satu rakaat bagi imam dan makmum, ketika menghadap
ke arah kiblat ataupun tidak. Ini adalah mengikut pendapat ulama yang
berpegang kepada makna dzahir hadis, sedangkan pendapat jumhur ulama
telah diterangkan sebelum ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 42 : CARA SHALAT KHAUF KETIKA MUSUH TIDAK BERADA DI ARAH KIBLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT KHAUF

HADITS KE 42 :

وَلِلنَّسَائِيِّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ جَابِرٍ ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى بِطَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ رَكْعَتَيْنِ, ثُمَّ سَلَّمَ, ثُمَّ صَلَّى بِآخَرِينَ أَيْضًا رَكْعَتَيْنِ, ثُمَّ سَلَّمَ ) وَمِثْلُهُ لِأَبِي دَاوُدَ, عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

Menurut al-Nasa’i menerusi jalur yang lain dari Jabir (r.a) disebutkan
sebagai berikut: “Nabi (s.a.w) mengerjakan sholat dua rakaat bersama segolongan
sahabatnya, lalu baginda bersalam. Kemudian baginda mengerjakan sholat lagi
sebanyak dua rakaat bersama dengan segolongan yang lain, lalu bersalam.” Hadis
yang serupa turut disebutkan oleh Abu Dawud dari Abu Bakrah.

MAKNA HADITS :

Apa yang disebutkan di dalam hadis ini merupakan cara ke empat dalam mengerjakan
sholat khauf. Cara ini mempunyai keistimewaan tersendiri mengingat Nabi
(s.a.w) melakukan sholat secara sempurna yang baginda bagikan kepada kedua
golongan pasukan kaum muslimin, sedangkan musuh tidak berada di arah kiblat.
Al-Tahawi meyakini bahwa cara ini telah di-mansukh. Beliau mengatakan
demikian karena berlandaskan kepada kaidah mazhabnya yang menegaskan
bahwa orang yang sholat fardu tidak boleh bermakmum kepada orang yang sedang
mengerjakan sholat sunat sedangkan ulama yang lainnya mengatakan bahwa
tidak ada dalil yang me-mansukh hadis ini.

FIQH HADITS :

1. Mengutamakan sholat berjemaah.

2. Menjelaskan cara keempat dalam melakukan sholat khauf ketika musuh
tidak berada di arah kiblat, dimana imam mengerjakan sholat sebanyak dua
kali untuk golongan masing-masing.

3. Disyariatkan mengqasar sholat dalam keadaan khauf (perang).

4. Orang yang sedang sholat fardu boleh bermakmum kepada orang yang
sedang mengerjakan sholat sunat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

KAJIAN HADITS 41 : CARA SHALAT KHAUF DALAM SITUASI PEPERANGAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT KHAUF

HADITS KE 41 :

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: ( شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلَاةَ الْخَوْفِ، فَصَفَّنَا صَفَّيْنِ: صَفٌّ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالْعَدُوُّ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ, فَكَبَّرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَكَبَّرْنَا جَمِيعًا, ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْنَا جَمِيعًا, ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَرَفَعْنَا جَمِيعًا, ثُمَّ اِنْحَدَرَ بِالسُّجُودِ وَالصَّفُّ الَّذِي يَلِيهِ, وَقَامَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ فِي نَحْرِ الْعَدُوِّ, فَلَمَّا قَضَى السُّجُودَ, قَامَ الصَّفُّ اَلَّذِي يَلِيهِ… ) فَذَكَرَ الْحَدِيثَ. وَفِي رِوَايَةٍ: ( ثُمَّ سَجَدَ وَسَجَدَ مَعَهُ الصَّفُّ الْأَوَّلُ, فَلَمَّا قَامُوا سَجَدَ الصَّفُّ اَلثَّانِي, ثُمَّ تَأَخَّرَ اَلصَّفُّ اَلْأَوَّلِ وَتَقَدَّمَ اَلصَّفُّ اَلثَّانِي… ) فَذَكَرَ مِثْلَهُ. وَفِي آخِرِهِ: ( ثُمَّ سَلَّمَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَسَلَّمْنَا جَمِيعًا ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وفي رواية: ثم سجد وسجد معه الصف الأول، فلما قاموا سجد الصف الثاني، ثم تأخر الصف الأول وتقدم الصف الثاني…. فذكر مثله. وفي أخره : ثم سلم النبي صلى الله عليه وسلم وسلمنا جميعا. رواه مسلم.

وَلِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أَبِي عَيَّاشٍ الزُّرَقِيِّ مِثْلُهُ, وَزَادَ: ( أَنَّهَا كَانَتْ بِعُسْفَانَ )

Daripada Jabir (r.a), beliau berkata: “Saya ikut bersama Rasulullah (s.a.w) ketika mengerjakan solat khauf, lalu baginda membariskan kami menjadi dua
saf. Satu shaf berada di belakang Rasulullah (s.a.w), sedangkan musuh berada di antara kami dan arah kiblat. Lalu Nabi (s.a.w) bertakbir dan kami pun bertakbir bersamanya. Kemudian baginda rukuk dan kami juga turut rukuk bersamanya.
Kemudian baginda mengangkat kepala dari rukuk, kami pun mengangkat kepala bersamanya. Kemudian baginda menunduk untuk sujud diikuti oleh shaf yang berada di belakangnya, sedangkan shaf yang berada paling belakang tetap berdiri
(siaga) menghadapi musuh. Setelah baginda melakukan sujud, maka berdirilah shaf
yang berada di belakangnya, hingga akhir hadis.

Di dalam riwayat yang lain disebutkan seperti berikut: “Kemudian baginda sujud, dan shaf yang pertama sujud pula bersamanya. Setelah mereka berdiri, maka shaf yang kedua sujud. Untuk itu, shaf yang pertama mundur, sedangkan saf yang
kedua maju ke hadapan. Sambungan hadis ini sama dengan hadis yang sebelumnya, tetapi pada bahagian akhir disebutkan: “Kemudian Nabi (s.a.w) bersalam dan kami bersalam pula (bersamanya).” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Menurut riwayat Abu Dawud daripada Abu Ayyasy al-Zurqi disebutkan perkara yang serupa, namun ditambahkan: “Sesungguhnya solat khauf ini terjadi di Usfan.”

MAKNA HADITS :

Hadis ini menceritakan salah satu cara mengerjakan sholat khauf apabila musuh
berada di arah kiblat. Oleh karena penjagaan dapat dilakukan dalam keadaan demikian meskipun setiap pasukan sibuk dengan sholat, maka Nabi (s.a.w) melakukan sholat bersama para sahabatnya. Namun ketika mereka sujud, segolongan
dari kaum muslimin maju ke depan, sedangkan golongan yang lain mundur.
Hal tersebut dilakukan sebagai satu usaha untuk memastikan keselamatan tetap diutamakan, karena dikawatiri musuh menyerang mereka ketika sedang sujud. Cara ini menggabungkan antara sholat dan penjagaan yang rapi secara sekaligus.

FIQH HADITS :

1. Mengutamakan solat berjemaah, kerana Rasulullah (s.a.w) senantiasa
melakukannya, sekalipun dalam keadaan perang.

2. Menjelaskan cara yang ketiga dalam melakukan sholat khauf ketika musuh berada di arah kiblat. Caranya, kedua shaf melakukan rukuk bersama-sama dengan imam. Namun, shaf pertama saja yang ikut sujud bersamanya, sedangkan shaf yang kedua tetap berdiri untuk berjaga-jaga. Setelah shaf
pertama selesai sujud, mereka berdiri untuk berjaga-jaga, sedangkan shaf kedua melakukan sujud pertama bersama imam setelah menempati
kedudukan shaf pertama. Kemudian pada rakaat yang kedua mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang telah mereka lakukan pada
rakaat pertama dan akhirnya mereka bersalam secara bersamaan. Penjagaan terhadap serangan musuh hanya mereka lakukan ketika sujud,
bukan ketika rukuk, sedangkan semua mereka berada dalam sholat.

3. Disyariatkan jamak dan qasar semasa dalam perjalanan, dan kasih sayang
Allah berlimpah ke atas umat ini.

4. Sholat khauf pada awalnya disyariatkan di ‘Usfan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 40 : CARA SHALAT KHAUF

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT KHAUF

HADITS KE 40 :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: ( غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قِبَلَ نَجْدٍ, فَوَازَيْنَا الْعَدُوَّ, فَصَافَفْنَاهُمْ, فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي بِنَا, فَقَامَتْ طَائِفَةٌ مَعَهُ, وَأَقْبَلَتْ طَائِفَةٌ عَلَى الْعَدُوِّ, وَرَكَعَ بِمَنْ مَعَهُ, وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ, ثُمَّ انْصَرَفُوا مَكَانَ الطَّائِفَةِ الَّتِي لَمْ تُصَلِّ فَجَاءُوا, فَرَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً, وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ, ثُمَّ سَلَّمَ, فَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ, فَرَكَعَ لِنَفْسِهِ رَكْعَةً, وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذَا لَفْظُ الْبُخَارِيِّ

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku berperang bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di jalan menuju Najed. Kami menghadapi musuh dan berbaris menghadapi mereka. Maka berdirilah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan sholat bersama kami, sekelompok berdiri bersama beliau dan sekelompok lain menghadapi musuh. Beliau sholat satu rakaat dengan kelompok yang bersama beliau dan sujud dua kali, kemudian mereka berpaling menuju tempat kelompok yang belum sholat. Lalu mereka datang dan beliau sholat satu rakaat dan sujud dua kali. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) mengerjakan sholat khauf pada hari-hari yang berlainan dengan
menggunakan cara yang berlainan pula. Setiap sholat yang dilakukannya dalam
keadaan ketakutan selalu mengambil berat kawalan keselamatan yang ketat
dan berhati-hati dalam mengerjakan sholat tanpa mengabaikan cara yang paling
mudah untuk dilaksanakan karena merasa kasihan kepada para mujahidin. Sholat
khauf, meskipun memiliki cara yang berlainan, tetapi maksudnya adalah sama.
Dalil sholat khauf ini adalah firman Allah (s.w.t):

فإن خفتم فرجالا أو ركبانا (٢٣٩).

“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka sholatlah sambil berjalan atau berkenderaan…” (Surah al-Baqarah: 239)

FIQH HADITS :

1. Mengutamakan pelaksanaan sholat secara berjemaah, sekalipun dalam
keadaan yang sangat genting.

2. Menjelaskan cara kedua dalam mengerjakan sholat khauf ketika musuh tidak
berada di arah kiblat. Caranya, golongan yang telah mengerjakan sholat satu
rakaat bersama imam pergi, lalu bersiap menghadapi serangan musuh meskipun mereka masih berada dalam sholat untuk menggantikan golongan yang sebelumnya berjaga. Kemudian golongan yang kedua meninggalkan
tugas kawalan untuk bermakmum kepada Nabi (s.a.w) pada rakaat yang
terakhir, sedangkan mereka menyelesaikan sholatnya secara sendiri-sendiri
secara bergantian. Cara inilah yang menjadi pegangan Imam Abu Hanifah
dan Imam Muhammad.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 39 : SHALAT KHAUF DALAM PEPERANGAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT KHAUF

HADITS KE 39 :

عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ, ( عَمَّنْ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ ذَاتِ الرِّقَاعِ صَلَاةَ الْخَوْفِ: أَنَّ طَائِفَةً صَلَّتْ مَعَهُ وَطَائِفَةٌ وِجَاهَ الْعَدُوِّ, فَصَلَّى بِالَّذِينَ مَعَهُ رَكْعَةً, ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ, ثُمَّ اِنْصَرَفُوا فَصَفُّوا وِجَاهَ الْعَدُوِّ, وَجَاءَتِ الطَّائِفَةُ الْأُخْرَى, فَصَلَّى بِهِمْ الرَّكْعَةَ الَّتِي بَقِيَتْ, ثُمَّ ثَبَتَ جَالِسًا وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ, ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمْ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ. وَوَقَعَ فِي “الْمَعْرِفَةِ” لِابْنِ مَنْدَهْ, عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ, عَنْ أَبِيهِ.

Dari Sholeh Ibnu Khuwwat Radliyallaahu ‘anhu dari seseorang yang pernah sholat Khouf (sholat dalam keadaan takut atau perang) bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada hari perang Dzatir Riqo’: Bahwa sekelompok sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berbaris bersama beliau dan sekelompok lain menghadapi musuh. Lalu beliau sholat bersama mereka (kelompok yang berbaris) satu rakaat, kemudian beliau tetap berdiri dan mereka menyelesaikan sholatnya masing-masing. Lalu mereka bubar dan berbaris menghadapi musuh. Datanglah kelompok lain dan beliau sholat satu rakaat yang tersisa, kemudian beliau tetap duduk dan mereka meneruskan sendiri-sendiri, lalu beliau salam bersama mereka. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim. Hadits ini juga terdapat dalam kitab al-Ma’rifah karangan Ibnu Mandah, dari sholeh Ibnu Khuwwat dari ayahnya.

MAKNA HADITS :

Oleh karena sholat adalah tiang agama yang kedua, maka Islam selalu memelihara
agar sholat dikerjakan tepat pada waktunya, walau dalam keadaan yang sangat
genting sekalipun seperti ketika sedang perang dan saling serang menyerang
dengan musuh. Maka dalam keadaan disyariatkan sholat khauf dan Rasulullah (s.a.w) menerangkannya dengan caranya yang beraneka ragam mengikut situasi
dan keadaan. Semua itu bertujuan supaya kaum muslimin senantiasa mengambil berat
soal sholat yang merupakan tiang agama, kecintaan ahli ibadah serta merupakan
munajat kepada Tuhan semesta alam.

FIQH HADITS :

1. Memuliakan sholat dengan mengerjakannya secara berjamaah, karena
Rasulullah (s.a.w) senantiasa memeliharanya, sekalipun itu pada waktu
perang. Oleh itu, sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa sholat
berjemaah adalah fardu ain.

2. Disyariatkan mengqasar sholat dalam perjalanan dan dalam keadaan
ketakutan.

3. Menjelaskan mengenai cara yang pertama dalam mengerjakan sholat khauf,
sementara musuh berada di arah lain selain kiblat. Caranya, imam menunggu
golongan yang kedua, sedangkan golongan pertama menyelesaikan rakaat
kedua sendiri-sendiri hingga keluar dari sholat dengan mengucapkan salam,
lalu pergi untuk menghadapi serangan musuh. Jumhur ulama memilih cara
ini karena cara ini lebih mendekati pemahaman zahir ayat yang membahas
mengenainya. Sedangkan Imam Abu Hanifah memilih cara yang kedua,
yang akan disebutkan di dalam hadis Ibnu Umar (r.a) sesudah hadis ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..