Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 132 : DO’A ATAS ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 132 :

عن عُثْمَانَ بن عَفَّانَ قَالَ: كانَ النَّبيُّ ﷺ إِذَا فرَغَ مِن دَفْنِ المَيِّتِ وقَفَ علَيهِ وقال: استَغْفِرُوا لأَخِيكُم، وسَلُوا لَهُ التَّثبيتَ، فإنَّهُ الآنَ يُسأَلُ. رواه أَبُو داود، وصححه الحاكم.

Dari Utsman (r.a), beliau berkata: “Jika Rasulullah (s.a.w) selesai mengkebumikan mayat, baginda berdiri dan bersabda: “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kamu ini dan pintakanlah agar dirinya diteguhkan, karena sesungguhnya dia sedang ditanya sekarang ini.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud
dan dinilai sahih oleh al-Hakim)

MAKNA HADITS :

Oleh karena mayat ditanya di dalam kubur dan permohonan ampunan orang
yang masih hidup untuknya boleh mendatangkan manfaat, maka disyariatkan
membaca istighfar dan mendo’akan dengan kebaikan kepada si mayat. Dalilnya
adalah firman Allah (s.w.t):

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذينَ سَبَقُونَا بِالْإيمَانِ…

“… Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami…” (Surah al-Hasyr: 10).

Demikian pula firman-Nya:

واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات

“… Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang mukmin lelaki dan
perempuan….” (Surah Muhammad: 19).

Hikmah dari hal ini ialah Allah membedakan yang buruk dan yang baik dengan membuka rahasia orang yang mati, menyingkap akidah serta keadaan mereka yang benar dan memberitahu balasan setiap mereka ke atas amal perbuatan yang telah dilakukannya selama ini di alam dunia.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan memohon ampunan untuk mayat setelah selesai proses
penguburannya.

2. Dianjurkan memohon keteguhan hati untuk si mayat ketika menghadapi pertanyaan dua malaikat.

3. Mayat memperoleh manfaat dari do’a orang hidup yang mendo’akannya.

4. Mayat mengalami kehidupan yang lain di dalam kubur.

5. Pertanyaan kubur itu ada dan terjadi setelah proses penguburan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 131 : MENABUR TANAH DI ATAS KUBURAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 131 :

عن عامر بن ربيعة رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى على عثمان ابن مظعون، وأتى القبر فحثى عليه ثلاث حثيات، وهو قائم. رواه الدارقطني.

Dari ‘Amir ibnu Rabi’ah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) pernah menyembahyangkan jenazah Utsman ibn Mazh’un, lalu baginda datang ke kuburnya dan menaburkan tanah di atas kuburannya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri. (Diriwayatkan oleh al-Daraquthni)

MAKNA HADITS :

Orang yang menghadiri acara pemakaman disyariatkan menaburkan tanah dengan kedua-dua tangannya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri berrdekatan
kepala tempat mayat dikebumikan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh
Rasulullah (s.a.w). Seseorang yang berbuat demikian demikian dicatat memperoleh
satu pahala kebaikan baginya untuk setiap taburan tanah itu sebagaimana yang
telah disebutkan di dalam satu hadis dha’if, tetapi dengan syarat seseorang yang
berbuat demikian berniat mengharapkan pahala dari Allah (s.w.t).

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menaburkan tanah sebanyak tiga kali di atas kuburan. Murid-murid
Imam al-Syafi’i menganggap sunat membaca do’a berikut ketika melakukan itu:

منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة أخرى

“Dari tanah kami menciptakan kalian, ke dalam tanah kami mengembalikan kalian, dan pada kesempatan lain Kami mengeluarkan kalian dari tanah (pada hari bangkit kelak).”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 130 : HUKUM MEMBANGUN KUBURAN DAN MENGECATNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 130 :

ولمسلم عنه : نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر، وأن يقعد عليه، وأن يبنى عليه. متفق عليه.

Menurut riwayat Muslim dari Jabir (r.a) disebutkan sebagai berikut bahwa Rasulullah (s.a.w) telah melarang dari mengecat kuburan, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.” (MDttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Hukum-hakum syariat telah ditetapkan demi kemaslahatan sekaligus
menjauhkan kemudharatan, baik kemudharatan itu sendiri ataupun akibat yang bakal ditimbulkan oleh kemudharatan itu. Kejahilan telah merajalela di kalangan umat terdahulu hingga mereka menjadikan bangunan sebagai kenangan berganti peranan menjadi berhala-berhala yang disembah. Oleh sebab itu, syariat Islam melarang mengecat kuburan, membuat binaan di atasnya, dan menghiasinya
dengan kain kelambu serta mengusap dindingnya. Larangan ini untuk mencegah
perkara-perkara yang bakal mengakibatkan kemudharatan sesuai dengan hikmah
yang terdapat di sebalik rahsia syariat Islam ini.

FIQH HADITS :

1. Dilarang mengecat kuburan. Larangan ini menunjukkan hukum makruh menurut pendapat keempat imam mazhab. Hikmah larangan ini ialah karena kuburan itu sifatnya sementara, bukan untuk selamanya;
dan mengecatnya merupakan perhiasan duniawi, sedangkan mayat tidak memerlukan itu di samping dikawatiri kuburan tersebut akan berubah peranan menjadi tempat sesembahan apabila kejahilan telah merajalela di kalangan umat. Adapun mengecatnya dengan tanah liat, maka menurut Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, itu tidak dilarang selagi bertujuan keadaan kuburan senantiasa diketahui. Imam Malik pula berkata: “Makruh mengecat kuburan dengan tanah liat selagi tidak bertujuan untuk mencegah bau busuk, tetapi apabila itu dibuat untuk tujuan mencegah penyebaran bau busuk itu, maka ia dibolehkan. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya, menurut pendapat yang dipilih di kalangan mereka, mengatakan bahwa mengecat kuburan dengan tanah liat tidaklah dimakruhkan.

2. Dilarang duduk di atas kuburan. Menurut jumhur ulama, larangan ini menunjukkan hukum makruh. Jika duduk di atasnya untuk membuang hajat, baik hajat kecil ataupun hajat besar, maka larangan ini menunjukkan
hukum haram. Menurut pendapat yang masyhur dari Imam Malik, makruh
duduk dan berjalan di atas kuburan baik kuburan tersebut ditinggikan permukaannya atau diratakan sedangkan jalan berada di bawahnya dan diyakini masih ada tulang mayat di dalamnya. Jika diyakini sudah tidak ada lagi tulang di dalamnya, maka dibolehkan tanpa adanya hukum makruh. Imam Malik mentafsirkan hadits yang melarang berbuat demikian bahwa larangan itu ditujukan kepada orang yang duduk di atasnya untuk
membuang hajat kecil atau hajat besar.

3. Dilarang membuat bangunan di atas kuburan. Menurut pendapat yang paling sahih di sisi Imam al-Syafi’i dan murid-muridnya, Imam Abu Hanifah dan mazhab Hanbali, larangan ini menunjukkan hukum makruh apabila
bangunan tersebut berada di tanah milik si pembangun; sedangkan larangan
yang menunjukkan hukum haram adalah apabila bangunan tersebut berada
di kawasan perkuburan umum. Al-Nawawi berkata: Bangunan tersebut wajib diruntuhkan tanpa ada seorang ulama pun yang berselisih pendapat dalam masalah ini. Imam Abu Hanifah berkata: “Bangunan tersebut wajib diruntuhkan, sekalipun berada di dalam masjid.” Menurut mazhab Maliki,
makruh membuat bangunan di atas kuburan apabila kuburan itu berada di atas tanah umum atau milik orang lain setelah mendapat kebenaran dari pemiliknya, atau berada di atas tanah yang tidak bertuan selagi tidak bertujuan membanggakannya. Haram membuat bangunan di atas tanah yang bukan milik umum, misalnya di atas tanah waqaf khusus untuk
perkuburan atau itu dilakukan untuk membanggakan diri karena si mayat
termasuk orang yang disegani semasa hidupnya. Diharamkan berbuat demikian karena itu bererti menguasai hak umum, di samping tindakan sedemikian dianggap sifat takabbur dan perbuatan berbangga diri yang dilarang oleh Islam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 129 : ANJURAN MENINGGIKAN KUBURAN SEJENGKAL DARI TANAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 129 :

عن سعد ابن أبي وقاص رضي الله عنه قال : ألحدوا لي لحدا، وانصبوا على اللبن نصبا، كما صنع برسول الله ﷺ. رواه مسلم. وللبيهقي عن جابر نحوه، ورفع قبره عن الأرض قدر شبر. وصححه ابن حبان.

Dari Sa’ad ibn Abu Waqqash (r.a), beliau berkata: “Buatkanlah liang lahad untukku dan tutupilah liang lahad itu dengan batu bata, sebagaimana yang telah dilakukan ke atas Rasulullah (s.a.w).” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Menurut riwayat al-Baihaqi daripada Jabir (r.a) disebutkan hadis yang serupa, tetapi ditambahkan sebagai berikut: “Dan kuburannya ditinggikan sejengkal dari permukaan tanah.” (Hadis ini dinilai shahih oleh Ibn Hibban)

MAKNA HADITS :

Asal mula wasiat Sa’ad ini ketika sahabat-sahabat yang lain mengatakan sesuatu kepadanya menjelang kematiannya: “Perlukah kami buatkan sesuatu untukmu seperti peti yang dibuat dari kayu?” Lalu Sa’ad menjawab: “Lakukanlah sesuatu untukku sebagaimana apa yang telah dilakukan ke atas Rasulullah (s.a.w).”
Hal ini merupakan bukti jelas tentang keinginan sahabat untuk mengikuti jejak langkah Rasulullah (s.a.w), baik sewaktu baginda masih hidup mahpun sesudah wafat.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan membuat liang lahad dan menutupnya dengan bata merah setelah meletakkan mayat di dalamnya. Cara inilah yang dilakukan ke atas Rasulullah (s.a.w) mengikuti kesepakatan para sahabat. Sahabat telah menceritakan bahwa jumlah batu bata yang digunakan untuk menutupi makam Rasulullah (s.a.w) sebanyak sembilan biji.

2. Disunatkan meninggikan kubur satu jengkal dari permukaan tanah supaya tidak dipijak orang lain atau supaya seseorang tidak membuang hajat di atasnya atau duduk di atasnya. Ini dilakukan untuk menghormati mayit.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 128 : KEWAJIBAN MENGHORMATI MAYIT SAMPAI PADA TULANG BELULANGNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 128 :

عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله ﷺ قال : كسر عظم الميت ككسره حيا. رواه أبو داود بإسناد على شرط مسلم. وزاد ابن ماجة من حديث أم سلمة : “في الاثم”.

Dari Aisyah (r.a) bahwa, Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Mematahkan tulang mayat sama dengan mematahkannya sewaktu masih hidup.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad mengikut syarat Muslim) Ibn Majah menambahkan dalam hadis Ummu Salamah (r.a): “(di mana mereka) sama-sama berdosa.”

MAKNA HADITS :

Para sahabat bersama Rasulullah (s.a.w) berangkat mengiringi suatu jenazah, lalu
baginda duduk di tepi kubur disertai oleh sahabat yang lain. Kemudian penggali
kubur mengeluarkan sebuah tulang betis atau tulang paha dari tanah yang digalinya,
lalu dia berhasrat mematahkannya. Melihat itu, Rasulullah (s.a.w) bersabda kepadanya: “Jangan kamu patahkan tulang itu, karena jika kamu mematahkannya meskipun ia sudah mati, maka berarti sama dengan mematahkannya ketika dalam keadaan hidup. Tanamlah lagu di sebelah kuburnya itu!” Dengan demikian, Rasulullah (s.a.w) telah membuat satu perumpamaan yang
paling indah untuk menghormati manusia, baik semasa hidup ataupun sesudah
mati. Barang siapa yang melakukan itu, yakni mematahkan tulang mayat, berarti
dia telah berdosa, tetapi dia tidak dikenakan ganti rugi dan hukuman qisas karena
adanya perbedaan hukum antara orang hidup dengan orang mati.

FIQH HADITS :

1. Mayat pun turut merasakan sakit, sama halnya dengan orang yang hidup.

2. Dianjurkan menghormati manusia, baik ketika masih hidup ataupun sesudah mati.

3. Wajib memelihara tulang-belulang mayat yang berada dalam kubur ketika dilakukan penggalian. Oleh itu, orang yang menggali kubur mestilah menanamnya lagi dan dilarang mematahkannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 127 : DO’A KETIKA MELETAKKAN JENAZAH KE DALAM KUBUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 127 :

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي ﷺ قال : إذا وضعتم موتاكم في القبور فقولوا : بسم الله على ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم. أخرجه أحمد وأبو داود والنسائي وصححه ابن حبان وأعله الدار قطني بالوقف.

Dari Ibn Umar (r.a) dari Nabi (s.a.w), beliau bersabda: “Jika kamu meletakkan orang mati di antara kamu ke dalam kubur, maka hendaklah kamu membaca:

بسم الله على ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“Dengan nama Allah dan agama Rasulullah (s.a.w).” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
Abu Dawud dan al-Nasa’I, dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Daraquthni
menilainya mawquf)

MAKNA HADITS :

Memasukkan mayat ke dalam kubur merupakan suatu keadaan yang menuntut seseorang melakukannya membaca do’a. Oleh itu, disunatkan membaca do’a ketika
memasukkan jenazah ke dalam kubur. Apa yang paling afdhal ialah do’a yang
datang dari Rasulullah (s.a.w), meskipun tidak diwajibkan membaca do’a
tertentu dalam masalah ini. Antara do’a yang pernah dibaca oleh Rasulullah (s.a.w) ialah do’a berikut yang dibacanya ketika memasukkan jenazah Ummu Kultsum ke
dalam kuburnya.

منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة أخرى، بسم الله، وفي سبيل الله وعلى ملة رسول الله.

“Dari tanah Kami ciptakan kamu dan ke dalam tanah Kami kembalikan kamu, serta dari tanah Kami keluarkan (bangkitkan) sekali lagi. Dengan nama Allah, dan dalam jalan Allah serta berada pada agama Rasulullah.”

FIQH HADITS :

1. Disunatkan berdo’a ketika meletakkan mayat ke dalam kubur.

2. Disunatkan membaca do’a yang terdapat di dalam hadis ini secara khusus
ketika meletakkan mayat ke dalam kubur, karena adanya anjuran dari Rasulullah (s.a.w) dengan harapan agar asma’ Allah dan Sunnah baginda menjadi benteng dan bekalan yang dapat menyelamatkannya dari fitnah kubur.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 126 : TATACARA MENURUNKAN JENAZAH KE DALAM KUBUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 126 :

عن أبي إسحاق ان عبد الله ابن يزيد رضي الله عنه أدخل الميت في قبل رجلي القبر. وقال هذا من السنة. أخرجه أبو داود.

Dari Abu Ishaq (r.a) bahwa Abdullah ibn Yazid (r.a) memasukkan mayat ke dalam liang kubur dari arah kedua kakinya, lalu dia berkata: “Ini merupakan Sunnah Rasulullah (s.a.w).” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

MAKNA HADITS :

Memasukkan mayat ke dalam kubur walau dengan apapun caranya sekali pun tetap dibolehkan, tetapi cara yang paling afdal dalam Sunnah Nabi (s.a.w) masih
diperselisihkan.

Jumhur ulama berpendapat bahwa mayat dimasukkan ke dalam kuburnya dari arah di mana kedua kakinya akan diletakkan. Menurut pendapat yang lain, mayat diturunkan dari arah kiblat. Inilah menurut pendapat Abu Hanifah yang diperkuatkan lagi dengan hadis al-Tirmizi.

Memasukkan mayat ke dalam liang kubur boleh dengan cara apapun. Semua itu dibolehkan, karena telah disebutkan di dalam Sunnah. Antara amalan Sunnah adalah membentangkan kain di atas kubur ketika mayat sedang dimasukkan ke dalamnya. Inilah yang disebut al-Tajlil.

FIQH HADITS :

Menjelaskan tatacara menurunkan mayat ke dalam kubur. Jumhur ulama mengatakan bahwa Sunnah Nabi (s.a.w) dalam memasukkan mayat ke kubur adalah dimulai dengan kepala dengan cara meletakkan keranda di bagian belakang kubur hingga kepala mayat berada pada posisi yang lurus dengan tempat kedua kakinya apabila dia telah berada di dalam kubur, kemudian memasukkannya dengan menurunkan kepalanya.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa mayat dimasukkan ke dalam kubur dengan posisi melintang dari arah kiblat, karena cara inilah yang paling mudah dilakukan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 125 : ANJURAN BERDIRI MENGIRINGI JENAZAH DITURUNKAN KE TEMPAT PEMAKAMAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 125 :

عن أبي سعيد رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إذا رأيتم الجنازة فقوموا فمن تبعها فلا يجلس حتى توضع. متفق عليه.

Dari Abu Sa’id (r.a) bahwa Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Jika kamu melihat jenazah, maka berdirilah dan barang siapa yang mengiringinya, maka janganlah dia duduk sebelum jenazah diturunkan (ke tempat pengkebumian).” (Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Pada permulaan Islam berdiri untuk menghormati jenazah adalah disyariatkan
berdasarkan sabda Rasulullah (s.a.w): “Jika kamu melihat jenazah, maka berdirilah!”
Ini dilakukan untuk menghormati Allah yang mencabut nyawa si mayit dan para
malaikat yang ditugaskan untuk melaksanakan tugas itu.

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum perintah berdiri ini. Sebagian mereka ada yang mentafsirkannya sebagai perintah wajib sehingga diwajibkan berdiri untuk menghormati jenazah apabila lewat di hadapan seorang yang mukallaf,
meskipun dia tidak berniat turut serta mengiringinya. Ulama yang lain juga mengatakan bahwa perintah wajib ini telah dimansukh oleh hadis Ali (r.a) yang menceritakan bahwa Nabi (s.a.w) pernah berdiri untuk menghormati jenazah, kemudian setelah itu baginda duduk. Hadis ini memansukh perintah wajib yang ada hadis sebelum ini. Pendapat ini dianut oleh Imam al-Syafi’i. Antara mereka ada pula yang mentafsirkan perintah ini menunjukkan hukum sunat. Faktor yang memalingkan perintah wajib ialah adanya qarinah (bukti).
Mereka mengatakan bahwa hadis Ali (r.a) menunjukkan hukum mubah dan oleh karenanya, ia tidak bertentangan dengan hukum sunat. Boleh pula ditafsirkan
bahwa Nabi (s.a.w) duduk untuk tujuan membedakan diri dengan orang
Yahudi sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah ibnu al-Shamit yang
dikemukakan oleh Imam Ahmad. Dianjurkan tetap dalam keadaan berdiri hingga
jenazah diturunkan ke tanah. Al-Baihaqi mengemukakan hadis Abu Hurairah (r.a)
bahwa Nabi (s.a.w) bersabda:

القائم كالحامل في الأجر

“Orang yang berdiri mendapat pahala yang sama dengan orang yang mengusung (jenazah).”

FIQH HADITS :

1. Seseorang yang sedang dalam keadaan duduk disyariatkan berdiri apabila
iringan jenazah lalu di hadapannya untuk mengagungkan Allah (s.w.t).

2. Orang yang mengiringi jenazah tidak boleh duduk sebelum jenazah diturunkan dari atas bahu para pengusungnya ke tanah, karena orang yang mengiringi jenazah itu bertujuan mementingkan jenazah, bukan
mementingkan dirinya sendiri.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 124 : HUKUM MENGANTARKAN JANAZAH BAGI WANITA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 124 :

عن ام عطية رضي الله عنها قالت : نهينا عن اتباع الجنائز، ولم يعزم علينا. متفق عليه.

Dari Ummu Atiyyah (r.a), beliau berkata: “Kami (kaum wanita) telah dilarang mengiringi jenazah, tetapi larangan tersebut tidak diperketatkan.” (Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Pendapat paling kuat pada zaman sekarang dimana banyak kerusakan terjadi
dan hijab tidak lagi diendahkan adalah dilarang kaum wanita mengiringi jenazah
ke tempat pengkebumian. Selain itu perasaan pedih akibat musibah yang baru
menimpa mereka belum lagi hilang dari dalam diri mereka, tidak mempunyai
kesabaran dan tidak memiliki kemampuan untuk mengusung jenazah, lebih-lebih
lagi dikawatiri aurat mereka terlihat. Oleh itu, adalah wajar apabila Rasulullah
(s.a.w) bersabda kepada kaum wanita yang mengiringi jenazah:

ارجعن معزورات غير مأجورات

“Kembalilah kamu dalam keadaan membawa dosa, tanpa memperoleh suatu pahala!”

FIQH HADITS :

Kaum wanita dilarang mengantarkan jenazah ke tempat pengkebumian.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..