Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 110 : TAKBIR DALAM SHALAT JANAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 110 :

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم نعى النجاشي في اليوم الذي مات فيه، وخرج بهم إلى المصلى، فصف بهم وكبر عليه أربعا. متفق عليه

Dari Abu Hurairah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) pernah mengumumkan berita tentang kematian al-Najasyi pada hari kematiannya, lalu baginda keluar bersama mereka menuju tempat sholat dan membariskan mereka menjadi bershaf- shaf. Nabi (s.a.w) melakukan empat kali takbir untuk al-Najasyi. (Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Oleh karena makna dzahir hadis yang pertama menunjukkan larangan melakukan na’yu secara mutlak, maka Ibn Hajar mengiringinya dengan hadis Abu Hurairah yang bertujuan mengecualikannya sekaligus menjelaskan bahwa melakukan na’yu tidak dilarang apabila hanya sekedar memberitahu kematian seseorang tanpa disertai niyahah (tangisan ala Jahiliah dan juga tidak bertujuan membanggakan diri). Nabi (s.a.w) melakukan sholat jenazah untuk ahli Badar dengan enam kali takbir, lima kali takbir untuk sahabat yang lain, dan empat kali takbir untuk orang
selain mereka. Ketika Raja al-Najasyi meninggal dunia, baginda mengerjakan sholat jenazah untuknya sebanyak empat kali takbir, kemudian sholat jenazah ditetapkan menjadi empat kali takbir hingga baginda wafat.

Rasulullah (s.a.w) menyukai apabila bilangan orang yang sholat jenazah
diperbanyak, agar permohonan ampun bagi si mayat bertambah, begitu pula do’a
untuknya.

FIQH HADITS :

1. Boleh memberitahu kematian seseorang agar jenazahnya segera dilawat dan segala sesuatunya segera dipersiapkan dengan cepat,
menyembahyangkannya, berdo’a untuknya, dan memohonkan ampunan baginya. Hal ini tidak termasuk cara na’yu yang dilarang.

2. Boleh melakukan sholat ghaib ke atas kematian seseorang yang berada
di negeri yang berjauhan menurut pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Tetapi Imam Malik dan Imam Abu Hanifah melarang dari melakukan sholat ghaib; mereka mengatakan bahwa sesungguhnya sholat untuk Raja al-Najasyi merupakan suatu keistimewaan baginya.

3. Salah satu mukjizat Rasulullah (s.a.w) ialah baginda memberitahu kematian
Raja al-Najasyi tepat pada hari kematiannya kepada orang banyak, padahal jarak antara kota Madinah dengan negeri Habsyah sangatlah jauh.

4. Keutamaan Raja al-Najasyi bertambah.

5. Takbir sholat jenazah berjumlah empat kali. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad
berkata: “Disyariatkan mengangkat kedua tangan pada setiap kali bertakbir.” Imam Abu Hanifah dan pendapat yang masyhur di kalangan mazhab Maliki mengatakan bahwa tidak ada mengangkat tangan setiap kali bertakbir, kecuali takbir pertama saja.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 109 : LARANGAN MERATAPI KEMATIAN SESEORANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 109 :

عن خذيفة رضي الله عنهأن النبي صلى الله عليه وسلم كان ينهى عن النعي. رواه أحمد والترمذي وحسنه

Dari Hudzaifah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) melarang dari melakukan al-na’yu (meratap dengan cara Jahiliah). (Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Tirmizi yang menilainya sebagai hasan).

MAKNA HADITS :

Al-Na’yu ialah memberitahu kematian seseorang dan untuk menyampaikan berita kematian ada beberapa cara.

Pertama, memberitahu kepada keluarga si mayat, rekan-rekannya, orang sholeh dan tetangga. Ini termasuk amalan Sunnah mengingat si mayat harus dihadiri oleh jemaah yang akan memandikan, menyembahyangkan dan mengkebumikannya yang semua itu merupakan fardu kifayah dan harus dilakukan.

Kedua, mengajak orang banyak untuk tujuan membanggakan diri. Cara ini dimakruhkan kecuali bertujuan untuk memperbanyakkan pahala dan syafa’at dengan banyaknya orang yang menyembahyangkan si mayat.
Ketiga, memberitahu dengan cara niyahah dan menangis yang disertai dengan jeritan pada setiap pintu rumah, di pasar dan di atas mimbar. Ada pula dengan mengirimkan seseorang untuk berkeliling ke seluruh kabilah sebagaimana yang dilakukan oleh orang Arab pada zaman Jahiliyah. Cara inilah yang dilarang oleh Nabi (s.a.w) dalam hadis ini, karena baginda tidak suka meniru perbuatan mereka. Ini dikuatkan oleh sabda Nabi (s.a.w) dalam hadis yang lain:

إياكم والنعي فإن النعي من أعمال الجاهلية

“Janganlah kamu melakukan na’yu, karena sesungguhnya na’yu termasuk perbuatan Jahiliah.”

Adapun pemberitahuan secara mutlak tanpa disertai niyahah dan berbangga-bangga, maka itu diperbolehkan dengan berdalilkan sabda Nabi (s.a.w): “Mengapa kamu tidak memberitahukannya kepadaku?” sebagimana dalam kisah kematian seorang wanita yang bekerja membersihkan masjid sebelum ini.

FIQH HADITS :

1. Larangan melakukan perbuatan yang dahulu biasa dikerjakan oleh masyarakat Jahiliah apabila ada orang yang dihormati di kalangan mereka meninggal dunia atau mati dibunuh.

2. Disyariatkan memberitahu kematian seseorang agar seluruh keluarganya berkumpul, begitu pula teman-teman si mayat dan orang soleh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 108 : MENSHOLATKAN MAYIT DI ATAS KUBURANNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 108 :

عن أبي هريرة رضي الله عنه في قصة المرأة التي كانت تقم المسجد، قال فسأل عنها النبي صلى الله عليه وسلم فقالوا : ماتت فقال أفلا كنتم أذنتموني؟ فكأنهم صغروا أمرها، فقال دلوني على قبرها، فدلوا فصلى عليها. متفق عليه. وزاد مسلم ثم قال : أن هذه القبور مملوءة ظلمة على أهلها، وإن الله ينورها لهم بصلاتي عليهم

Dari Abu Hurairah (r.a) menceritakan seorang wanita yang bertugas membersihkan masjid, lalu Nabi (s.a.w) menanyakan dirinya (karena sudah lama tidak melihatnya: Mereka (para sahabat) menjawab: “Dia telah meninggal dunia.” Mendengar itu, Nabi (s.a.w) bersabda: “Mengapa kamu tidak memberitahunya kepadaku?” Mereka selama ini seakan-akan tidak menganggap penting wanita yang bertugas menyapu masjid itu, lalu Nabi (s.a.w) bersabda: “Tunjukkan kuburannya kepadaku di mana kuburnya.” Kemudian mereka menunjukkan kuburannya kepada Nabi (s.a.w) lalu baginda menyembahyangkannya di atas kuburannya itu.” (Muttafaq ‘alaih).

Muslim menambahkan bahwa setelah itu Nabi (s.a.w) bersabda:
“Sesungguhnya kegelapan menyelimuti penghuni kuburan ini dan sesungguhnya Allah memberikan cahaya kepada penghuni kuburan ini berkat sholatku ke atas mereka.”

MAKNA HADITS :

Inilah sikap rendah hati yang amat terpuji dan etika mulia yang diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w) kepada para sahabatnya ketika baginda bertanya tentang pembantu wanita masjid. Baginda merasa sudah lama tidak melihat wanita itu meskipun dia tidak menjadi pembantu Nabi (s.a.w) secara peribadi, melainkan bertugas menjaga kebersihan masjid. Adakalanya rekan-rekan yang sebaya dengannya menganggap tugasnya sebagai sesuatu yang remih dan tidak berharga, namun menurut Nabi (s.a.w), tugasan itu mempunyai kedudukan yang mulia.

Sungguh suatu pelajaran besar yang diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w) kepada para sahabatnya ketika baginda mengetahui bahwa mereka mengkebumikannya tanpa memberitahu terlebih dahulu kematiannya kepada baginda, sekalipun mereka pada hakikatnya tidak ingin menyibukkan Nabi (s.a.w) hanya kareqna seorang tukang sapu masjid meninggal dunia. Rasulullah (s.a.w) menegur mereka melalui sabdanya: “Tidak baik sikap seperti itu dilakukan oleh kamu. Jangan sekali-kali kamu mengulangi perbuatan yang sama. Mulai sekarang aku harus mengetahui setiap orang yang meninggal dunia diantara kamu tanpa melihat siapa itu orangnya selagi aku masih hidup1 di tengah-tengah kamu.”
Betapa kasih sayangnya engkau kepada umatmu, wahai Rasulullah. Betapa indahnya sopan santunmu kepada mereka. Perasaan sayangmu kepada kaum fakir miskin demikian kuat, semoga Allah membalasmu dengan imbalan yang setimpal.

Dari kisah ini nampak jelas satu fenomena yang menunjukkan betapa kasih sayang Nabi (s.a.w), karena baginda sudi melakukan sholat jenazah di atas kubur tukang sapu tersebut sesudah disholatkan oleh orang lain. Dengan demikian, ini merupakan cahaya di atas cahaya. Sholat untuk mayat merupakan syafaat dan do’a baginya, dan do’a Nabi (s.a.w) tidak ditolak. Wanita hitam ini ternyata beruntung memperoleh derajat yang paling tinggi sebagai satu kemuliaan baginya berkat amal kebaikan yang selama dia lakukan ketika berkhidmat menjadi tukang sapu masjid.

FIQH HADITS :

1. Rasulullah (s.a.w) adalah seorang yang bersifat rendah hati.

2. Rasulullah (s.a.w) senantiasa ingin menaikkan derajat umatnya, mencari
tau keadaan mereka, menunaikan hak-hak mereka dan mengutamakan
kemaslahatan mereka.

3. Membalas dengan do’a dan kasih sayang terhadap orang yang pernah
mengabdikan dirinya untuk kepentingan dan kemaslahatan kaum
muslimin.

4. Mengurus masjid dan membersihkannya.

5. Disyariatkan memberitahu kematian kepada orang banyak.

6. Galakkan menyaksikan jenazah orang sholeh.

7. Allah menyinari kuburan karena sholat Nabi (s.a.w) bagi para penghuninya, namun tidak bermaksud meniadakan syariat mengerjakan sholat jenazah di atas kuburan bagi orang selain baginda. Ulama berselisih pendapat syariat sholat jenazah di atas kuburan bagi orang yang belum menyembahyangkan jenazah sebelumnya. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengakui bahwa disyariatkan sholat jenazah di atas kuburan bagi orang yang belum menyembahyangkan jenazah sebelumnya. Namun kedua ulama berselisih pendapat mengenai batasan waktu yang dibolehkan menyembahyangkannya di atas kuburan. Imam al-Syafi’i berkata: “Batasan maksimum adalah hingga satu bulan, karena Nabi (s.a.w) menyembahyangkan Ummu Sa’ad ibn Ubadah sesudah satu bulan dikebumikan. Imam Ahmad berkata: Batas maksimum ialah selagi tubuh
mayat masih belum hancur. Apabila tubuhnya telah hancur, maka tidak
boleh lagi mengerjakan sholat di atas kuburnya.” Tetapi Imam Ahmad
mempunyai pendapat yang lain yang mengatakan tidak ada batasan waktu
tertentu untuk mengerjakan sholat jenazah, karena tujuan sholat jenazah ialah mendo’akan mayat dan ini boleh dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa mengkebumikan mayat yang dilakukan tanpa sholat jenazah hendaklah disembahyangkan selagi diyakini jenazahnya masih belum hancur, namun jika jenazahnya telah hancur, maka tidak perlu lagi disembahyangkan. Mazhab Maliki mengatakan bahwa barang siapa
yang dikebumikan tanpa disholatkan terlebih dahulu, maka jenazahnya
dikeluarkan semula, lalu disholatkan jika tidak dikawatirkan telah berubah.
Tapi jika diyakini telah berubah, maka disholatkan di atas kuburnya. Hal ini wajib selagi diyakini bahwa jenazahnya belum lagi hancur. Bagi mayat yang telah disholatkan, makruh melakukan sholat jenazah di atas kuburnya.
Mereka memberikan jawapan mengenai hadis ini bahwa masalah ini bersifat pesan tertentu dan tidak boleh diperlakukan secara umum. Dengan kata lain, menyembahyangkan jenazah wanita di atas kubur sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah (s.a.w) merupakan satu keistimewaan tersendiri baginya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 107 : HUKUM MENYEMBAHYANGKAN ORANG YANG MATI BUNUH DIRI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 107 :

عن جابر ابن سمرة رضي الله عنهما – قال : أتي النبي صلى الله عليه وسلم برجل قتل نفسه بمشاقص، فلم يصل عليه. رواه مسلم

Dari Jabir ibn Samrah (r.a), beliau berkata: “Didatangkan kepada Nabi (s.a.w) jenazah orang yang membunuh dirinya sendiri dengan pisau tetapi baginda tidak mau menyembahyangkannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS :

Orang yang membunuh dirinya sendiri, jika dia menganggap halal apa yang telah
dilakukannya itu, maka dia kafir, namun jika tidak menganggap halal apa yang
dilakukannya itu, maka dia orang fasik.
Rasulullah (s.a.w) tidak mau menyembahyangkan jenazah orang yang
membunuh dirinya sendiri. Sikap baginda itu sebagai peringatan bagi orang lain
agar tidak melakukan perbuatan yang serupa dengannya. Tetapi para sahabat
menyembahyangkannya agar jenazah orang tersebut tidak dikebumikan dalam
keadaan tanpa disholatkan.”

FIQH HADITS :

1. Hakim tidak boleh menyembahyangkan jenazah orang yang membunuh dirinya
sendiri, tetapi selain hakim dibolehkan untuk menyembahyangkannya. Ini
berlandaskan kepada hadis yang diriwayatkan oleh al-Nasa’i bahwa Rasulullah (s.a.w) bersabda:

أما أنا فلا أصلي عليه

“Aku tidak mau menyembayangkannya.”

Dari riwayat ini dapat disimpulkan bahwa selain hakim atau imam boleh menyembahyangkannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 106 : SHOLAT JANAZAH BAGI ORANG YANG DIRAJAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 106 :

عن بريدة رضي الله عنه – في قصة الغامدية التي امر النبي صلى الله عليه وسلم برجمها في الزنا – قال : ثم أمر بها فصلي عليها ودفنت. رواه مسلم.

Dari Buraidah (r.a) menceritakan hadis yang memuatkan kisah tentang
al-Ghamidiyyah yang diperintahkan oleh Nabi (s.a.w) untuk menjalani hukuman rajam karena telah berbuat zina: “Kemudian baginda memerintahkan agar jenazah wanita itu diselenggarakan, lalu disholatkan dan dikebumikan.”

(Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS

Nabi (s.a.w) adalah pembimbing yang bijaksana, bersifat lemah lembut dan menyayangi kaum mukminin. Baginda tidak mau melakukan sesuatu apabila itu lebih bagus untuk baginda tinggalkan.
Tetapi adakalanya baginda menyuruh
sahabatnya untuk melakukan hal tersebut sebagai bukti kasih sayangnya.

Nabi (s.a.w) tidak mau menyembahyangkan jenazah orang yang fasik agar dijadikan peringatan bagi orang yang berkelakuan sama dengan mereka sekaligus sebagai peringatan terhadap yang lain. Sikap ini merupakan salah satu cara pelajaran sekali gus hukuman mengingat telah diketahui oleh Nabi (s.a.w) bahwa sahabat sangat bergantung kepada sholat yang dilakukan baginda terhadap orang yang mati di antara mereka.

Sholat jenazah merupakan syafa’at dan syafaat Rasulullah (s.a.w) tidak ditolak.
Demikianlah alasan Nabi (s.a.w) tidak mau menyembahyangkan orang yang
membunuh dirinya sendiri dengan pisau agar dijadikan peringatan bagi orang yang lain di samping sebagai protes terhadap perbuatan keji tersebut. Begitu pula baginda tidak mau menyembahyangkan jenazah yang masih meninggalkan hutang pada masa permulaan Islam untuk memacu para sahabat agar mereka segera menyelesaikan hutang. Sungguhpun begitu, adakalanya Nabi (s.a.w) menyuruh sahabat untuk
menyembahyangkan jenazah teman-teman mereka yang masih mempunyai hutang agar tidak ada mayat yang dikebumikan tanpa disholatkan terlebih dahulu, tetapi baginda sendiri bersabda: “Aku tidak mahu menyembahyangkannya.”

FIQH HADITS :

1. Orang yang melanggar hukuman hudud dianjurkan untuk meminta agar hukuman hudud ditegakkan ke atas dirinya yang disertai dengan taubat agar penyucian dirinya benar-benar menjadi sempurna.

2. Tidak boleh menggugurkan hukuman hudud hanya dengan bertaubat
setelah kesannya dilaporkan kepada hakim.

3. Dalam menegakkan hukuman hudud harus disertai bukti yang nyata demi
memelihara jiwa dan kehormatan.

4. Dibolehkan mengakhirkan hukuman hudud terhadap wanita yang sedang
hamil hingga melahirkan kandungannya dan menyusui bayinya karena
menghormati janin yang tidak berdosa. Sehubungan dengan ini, Imam al-
Syafi’i dan Imam Ahmad serta satu pendapat yang masyhur di kalangan
mazhab Maliki mengatakan bahwa wanita tersebut tidak boleh dirajam
sebelum menemukan wanita lain yang bersedia menyusukan bayinya.
Jika tidak dapat menemukan wanita lain yang menyusui anaknya, maka
hendaklah dia menyusui anaknya sendiri hingga menyapihnya. Setelah
itu barulah dia menjalani hukuman rajam. Imam Abu Hanifah berkata:
“Jika wanita itu telah melahirkan anaknya, maka dia harus menjalani
hukuman rajam tanpa harus menunggu wanita lain yang bakal menyusui
anaknya.”

5. Hukuman hudud bagi orang sakit ditangguhkan hingga sembuh dari
sakitnya atau mendekati sembuh. Sesudah itu barulah dilaksanakan
hukuman hudud ke atasnya.

6. Hukum rajam hanya berlaku bagi orang yang melakukan zina muhson,
yakni orang yang pernah kawin yang sah di sisi syara’.

7. Menempatkan wanita ke dalam suatu lubang ketika menjalani hukuman
hudud agar auratnya tidak terlihat.

8. Larangan memaki orang yang sedang menjalani hukuman hudud.

9. Melakukan hubungan liar merupakan satu perbuatan kejahatan yang
dosanya dapat dihapuskan dengan cara bertaubat dan tidak mengulangi
lagi perbuatan yang serupa.

10. Boleh bersumpah tanpa diminta untuk memperbesarkan perkara yang
sedang terjadi.

11. Disyariatkan menyembahyangkan jenazah orang yang telah menjalankan
hukuman hudud dan rajam. Imam al-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa imam dan orang soleh serta selain mereka turut serta menyembahyangkan orang yang mati karena hukuman hudud. Tetapi menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, imam dan orang soleh makruh
menyembahyangkan orang yang mati kerana hukuman hudud, namun
selain mereka tidak dimakruhkan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 105 : SUAMI BOLEH MEMANDIKAN ISTRINYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 105 :

عن أسماء بنت عميس رضي الله عنها أن فاطمة عليها السلام أوصت أن يغسلها زوجها علي رضي الله عنه رواه الدارقطني

Dari Asma’ binti ‘Umais (r.a) bahwa Fatimah (r.a) berwasiat agar dirinya
dimandikan oleh Ali (r.a (suaminya). (Diriwayatkan oleh al-Daraquthni)

MAKNA HADITS :

Riwayat ini merupakan salah satu dalil yang menjadi pegangan jumhur ulama dimana seorang suami dibolehkan memandikan jenazah isterinya karena adanya ikatan perkahwinan di antara suami isteri yang masih belum terputus.
Wasiat itu dapat dijadikan sebagai dalil, sekalipun bersumber dari perkataan seorang sahabat wanita, karena ternyata tidak ada seorang pun yang
menyangkalnya. Dengan demikian, ia merupakan sesutu yang telah diketahui dan biasa diperlakukan pada zaman Nabi (s.a.w).

FIQH HADITS :

1. Suami boleh memandikan jenazah isterinya.

2. Melaksanakan wasiat sesudah meninggal dunia.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 104 : HUKUM SUAMI MEMANDIKAN ISTRI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 104 :

عن عا ئشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عيه وسلم قال : “لَوْ متِّ قَبْلِي فَغَسَّلْتُكِ” الحديث. رواه أحمد وابن ماجة وصححه ابن حبان

Dari Aisyah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) bersabda kepadanya: “Jika kamu
meninggal dunia sebelumku, niscaya aku yang akan memandikanmu,…” hingga akhir hadis. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibn Majah, dinilai sahih oleh Ibn Hibban)

MAKNA HADITS :

Menurut kaidah asal, sesuatu itu ditetapkan seperti keadaannya semula. Oleh itu, seorang suami dibolehkan memandikan jenazah isterinya. Inilah menurut pendapat jumhur ulama karena berlandaskan kepada kekalnya hukum perkawinan di samping berdasarkan kepada sabda Nabi (s.a.w) kepada isterinya, Aisyah (r.a): “Seandainya kamu mati sebelumku, niscaya aku yang akan memandikan (jenazah)mu. Selain itu, pendapat jumhur ulama ini turut didukung oleh wasiat Fatimah (r.a) yang meminta agar Ali (r.a), suaminya memandikannya. Dalil yang lain pula adalah berdasarkan wasiat Khalifah Abu Bakar (r.a) kepada isterinya, Asma’ binti ‘Umais yang meminta agar istrinya memandikan jenazahnya. Asma’ meminta bantuan Abdul Rahman ibn Auf agar membantunya melakukan wasiat tersebut memandang keadaan tubuhnya ketika itu yang lemah dan ternyata tidak ada seorang pun yang memprotesnya.

Dari uraian di atas dapat diambil satu kesimpulan bahwa salah seorang di
antara suami isteri apabila memandikan yang lain merupakan tradisi yang telah dikenal sejak zaman Rasulullah (s.a.w) dan demikian pula setelah baginda wafat.
Akan tetapi, hukum jenazah bukan mahram tentu memiliki hukum yang berlainan dimana apabila ada seorang wanita meninggal dunia di tengah-tengah lelaki tanpa ada seorang wanita pun di antara mereka atau ada seorang lelaki meninggal dunia di kalangan wanita lain tanpa ada seorang lelaki pun di antara mereka, maka kedua jenazah ini hendaklah ditayamumkan, lalu dikebumikan dan jenazah mereka ini disamakan dengan orang yang tidak menemukan air.

Adapun wanita yang memandikan jenazah suaminya, maka itu dibolehkan
mengikut kesepakatan ulama.

FIQH HADITS :

1. Orang yang sakit boleh memperlihatkan rasa sakitnya, tetapi bukan sebagai
keluhan, melainkan untuk mencari dokter atau obat.

2. Seorang suami boleh memandikan jenazah isterinya, lain halnya dengan
Imam Abu Hanifah yang meriwayatkan hadis dengan bermakna yang sebaliknya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 103 : LARANGAN BERLEBIH-LEBIHAN DALAM PEMAKAIAN KAIN KAFAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 103 :

عنْ عَلِيٍِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” لا تُغَالُوا فِي الْكَفَنِ ، فَإِنَّهُ يسْلبُ سَرِيعًا “. رواه أبو داود

Dari Ali (r.a), beliau berkata: Saya pernah mendengar Nabi (s.a.w) ber-
sabda: “Janganlah kamu berlebihan dalam menggunakan kain kafan, karena sesungguhnya kain kafan itu cepat rusak.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

MAKNA HADITS :

Tujuan utama mengkafankan mayat untuk menutupi auratnya. Oleh itu, Nabi
(s.a.w) melarang berlebihan dalam melakukannya. Nabi (s.a.w) mengisyaratkan bahwa kain kafan gampang rusak. Dalam kaitan ini, Khalifah Abu Bakar (r.a) ketika sedang sakit dan memakai pakaian yang berbekas zakfaran, beliau berkata: “Cucilah pakaianku ini, kemudian tambahkanlah kepadanya dua pakaian lain sebagai kain kafanku.” Lalu Aisyah (r.a) berkata: “Sesungguhnya baju ini sudah rapuh.” Khalifah Abu Bakar (r.a) menjawab: “Sesungguhnya orang yang hidup lebih berhak untuk memakai kain yang baru, karena sesungguhnya kain kafan itu hanyalah untuk tanah.” Riwayat ini dikeluarkan oleh al-Bukhari.

FIQH HADITS :

1. Tidak boleh berlebihan dalam menggunakan kain kafan.

2. Menyebutkan hukum sebaiknya disertai alasan hujah supaya lebih berkesan
di dalam jiwa dan lebih mantap untuk difahami.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 102 : BOLEH MENGGABUNGKAN MAYIT DALAM SATU KAFAN DAN SATU KUBURAN KETIKA DARURAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 102 :

وَعَنْهُ قَالَ: ( كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحَدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ, ثُمَّ يَقُولُ: أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ؟, فَيُقَدِّمُهُ فِي اللَّحْدِ, وَلَمْ يُغَسَّلُوا, وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِمْ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Jabir berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengumpulkan dua orang yang gugur dalam perang Uhud dalam satu pakaian. Kemudian beliau bertanya: “Siapakah di antara mereka yang paling banyak menghapal al-Qur’an?” Lalu beliau mendahulukannya untuk dimasukkan ke dalam lahat, mereka tidak dimandikan dan tidak disholatkan. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Orang yang mati syahid dalam peperangan mempunyai ketentuan hukum yang khusus berkaitan bagaimana cara memandikan dan mengkafankannya namun tidak menyembahyangkan. Hukum-hukum masalah ini diketahui melalui peristiwa kaum muslimin yang mati syahid dalam Perang Uhud. Pada hari itu Nabi (s.a.w) memberikan berbagai petunjuk hukum kepada para sahabatnya yang antara lain ialah:

Pertama, boleh menghimpun dua mayat dalam satu kain karena keadaan darurat. Mereka yang mati syahid hendaklah setiap orang dari mereka dikafankan dengan cara meletakkannya pada salah satu bagian dari kain agar kulit keduanya tidak bersentuhan secara langsung.

Kedua, boleh mengumpulkan mereka dalam satu liang lahad karena keadaan
darurat. Ketika meletakkan jenazah di dalam kubur hendaklah didahulukan orang yang paling banyak hafal al-Qur’an bagi menghormati keutamaan al-Qur’an. Dengan demikian, urutan meletakkan mereka di dalam al-Qur’an adalah berdasarkan penilaian mana yang lebih utama. Demikian pula dibolehkan mengumpulkan mayat laki-laki dan mayat perempuan dalam satu liang lahad karena keadaan darurat. Caranya ialah mendahulukan laki-laki, kemudian dibuat penghalang diantara keduanya dengan tanah. Setelah itu barulah diletakkan mayat perempuan ke dalam liang lahad. Semua ketentuan tersebut disimpulkan dari dua hadis yang masing-masing diriwayatkan oleh al-Tirmizi dan Abdul Razzaq.

Ketiga, orang yang mati syahid tidak boleh dimandikan bagi memelihara
bekas darahnya yang kelak pada hari kiamat akan menjadi saksi bagi jihadnya
seperti yang disebutkan di dalam hadis Jabir (r.a):

لا تغسلوهم، فإن كل جرح أو كل دم يفوح مسكا يوم القيامة.

“Janganlah kamu memandikan mereka, karena sesungguhnya setiap luka atau setiap darah akan menyebarkan aroma minyak kasturi pada hari kiamat.”

Keempat, orang yang mati syahid tidak boleh disholatkan. Adapun beberapa
hadis yang menceritakan bahwa Nabi (s.a.w) pernah menyembahyangkan
orang yang mati syahid dalam Perang Uhud, maka itu ditafsirkan sebagai do’a
bagi mereka, bukan solat jenazah. Oleh itu, Nabi (s.a.w) tidak mengajak sahabat-
sahabatnya untuk melakukan sholat jenazah secara berjemaah.

FIQH HADITS :

1. Boleh mengkafankan dua orang laki-laki dalam satu kain kafan karena keadaan
darurat.

2. Boleh mengkebumikan dua orang dalam satu liang lahad karena keadaan
darurat.

3. Disunatkan mendahulukan yang lebih utama di antara kedua mayat ke
dalam liang lahad, misalnya orang yang lebih banyak hafal al-Qur’an;
seorang ayah lebih didahulukan daripada anaknya, sekalipun si anak lebih
afdhal darinya demi menghormati kedudukannya sebagai ayah; dan
ibu lebih didahulukan daripada anak perempuannya; kemudian segi-segi
penilaian keutamaan diqiyaskan dengan aspek tersebut.

4. Orang yang mati syahid tidak boleh dimandikan dan disholatkan demi
menjaga bekas darah syahidnya, karena setiap luka atau titisan darah kelak
pada hari kiamat akan menyebarkan aroma minyak kasturi.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..