Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 39 : SHALAT KHAUF DALAM PEPERANGAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT KHAUF

HADITS KE 39 :

عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ, ( عَمَّنْ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ ذَاتِ الرِّقَاعِ صَلَاةَ الْخَوْفِ: أَنَّ طَائِفَةً صَلَّتْ مَعَهُ وَطَائِفَةٌ وِجَاهَ الْعَدُوِّ, فَصَلَّى بِالَّذِينَ مَعَهُ رَكْعَةً, ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ, ثُمَّ اِنْصَرَفُوا فَصَفُّوا وِجَاهَ الْعَدُوِّ, وَجَاءَتِ الطَّائِفَةُ الْأُخْرَى, فَصَلَّى بِهِمْ الرَّكْعَةَ الَّتِي بَقِيَتْ, ثُمَّ ثَبَتَ جَالِسًا وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ, ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمْ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ. وَوَقَعَ فِي “الْمَعْرِفَةِ” لِابْنِ مَنْدَهْ, عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ, عَنْ أَبِيهِ.

Dari Sholeh Ibnu Khuwwat Radliyallaahu ‘anhu dari seseorang yang pernah sholat Khouf (sholat dalam keadaan takut atau perang) bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada hari perang Dzatir Riqo’: Bahwa sekelompok sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berbaris bersama beliau dan sekelompok lain menghadapi musuh. Lalu beliau sholat bersama mereka (kelompok yang berbaris) satu rakaat, kemudian beliau tetap berdiri dan mereka menyelesaikan sholatnya masing-masing. Lalu mereka bubar dan berbaris menghadapi musuh. Datanglah kelompok lain dan beliau sholat satu rakaat yang tersisa, kemudian beliau tetap duduk dan mereka meneruskan sendiri-sendiri, lalu beliau salam bersama mereka. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim. Hadits ini juga terdapat dalam kitab al-Ma’rifah karangan Ibnu Mandah, dari sholeh Ibnu Khuwwat dari ayahnya.

MAKNA HADITS :

Oleh karena sholat adalah tiang agama yang kedua, maka Islam selalu memelihara
agar sholat dikerjakan tepat pada waktunya, walau dalam keadaan yang sangat
genting sekalipun seperti ketika sedang perang dan saling serang menyerang
dengan musuh. Maka dalam keadaan disyariatkan sholat khauf dan Rasulullah (s.a.w) menerangkannya dengan caranya yang beraneka ragam mengikut situasi
dan keadaan. Semua itu bertujuan supaya kaum muslimin senantiasa mengambil berat
soal sholat yang merupakan tiang agama, kecintaan ahli ibadah serta merupakan
munajat kepada Tuhan semesta alam.

FIQH HADITS :

1. Memuliakan sholat dengan mengerjakannya secara berjamaah, karena
Rasulullah (s.a.w) senantiasa memeliharanya, sekalipun itu pada waktu
perang. Oleh itu, sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa sholat
berjemaah adalah fardu ain.

2. Disyariatkan mengqasar sholat dalam perjalanan dan dalam keadaan
ketakutan.

3. Menjelaskan mengenai cara yang pertama dalam mengerjakan sholat khauf,
sementara musuh berada di arah lain selain kiblat. Caranya, imam menunggu
golongan yang kedua, sedangkan golongan pertama menyelesaikan rakaat
kedua sendiri-sendiri hingga keluar dari sholat dengan mengucapkan salam,
lalu pergi untuk menghadapi serangan musuh. Jumhur ulama memilih cara
ini karena cara ini lebih mendekati pemahaman zahir ayat yang membahas
mengenainya. Sedangkan Imam Abu Hanifah memilih cara yang kedua,
yang akan disebutkan di dalam hadis Ibnu Umar (r.a) sesudah hadis ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

DOKUMEN KAJIAN HADITS IKABA JILID II, 01-38

Silahkan kunjungi link berikut ini :

https://kajiantarjuman.blogspot.com/2019/03/kajian-hadits-ikaba-jilid-ii-01-10_13.html?m=1

https://kajiantarjuman.blogspot.com/2019/03/kajian-hadits-ikaba-jilid-ii-11-20_13.html?m=1

https://kajiantarjuman.blogspot.com/2019/03/kajian-hadits-ikaba-jilid-ii-21-30.html

https://kajiantarjuman.blogspot.com/2019/03/kajian-hadits-ikaba-jilid-ii-31-38.html?m=1

HADITS KE 38 : ANJURAN MEMEGANG TONGKAT KETIKA KHUTBAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 38 :

وَعَنِ الْحَكَمِ بْنِ حَزْنٍ رضي الله عنه قَالَ: ( شَهِدْنَا الْجُمُعَةَ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصًا أَوْ قَوْسٍ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

Hakam Ibnu Hazn Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami mengalami sholat Jum’at bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, beliau berdiri dengan memegang tongkat atau busur panah.” Riwayat Abu Dawud.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) melakukan khutbah Jum’at dengan mengekalkan tradisi orang Arab berkhutbah dengan tujuan untuk membujuk mereka. Oleh itu, baginda selalu memelihara tata cara yang biasa dipakai oleh mereka. Di kalangan mereka seorang khatib melakukan khutbah sambil berdiri dan tangan kanannya bersandar atau
memegangi sebuah tongkat atau sebuah busur panah. Tujuannya ialah untuk menjaga agar khutbah tidak disepelekan dan meneguhkan hati khatib agar tidak gentar sehingga penampilannya kelihatan berwibawa dan penuh dengan keteguhan hati. Oleh itu, disyariatkan berdiri ketika melakukan dua khutbah dan bersandar pada busur atau tongkat serta menghadapkan muka ke arah kaum muslimin yang hadir di hadapannya.

FIQH HADITS :

1. Seorang khatib disunatkan berpegang pada sebuah tongkat atau busur panah ketika sedang menyampaikan khutbah. Hikmahnya ialah supaya tangan khatib tidak melakukan perkara-perkara yang dianggap sia-sia.

2. Disyariatkan memulai khutbah dengan membaca hamdalah dan sanjungan kepada Allah (s.w.t).

3. Khatib dianjurkan memberikan bimbingan kepada umat manusia untuk
melakukan perkara-perkara yang bisa mendatangkan maslahat bagi
diri mereka dan menyampaikan berita gembira kepada mereka bahwa
mereka akan memperoleh ganjaran pahala dari amal kebaikannya, supaya
mereka bersemangat untuk terus beramal. Selain itu, khatib hendaklahmenganjurkan mereka bersikap sederhana dalam beramal, yakni tidak memandangnya remeh dan tidak pula berlebihan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 37 : DISYARIATKAN MENGHADAP KHOTIB KETIKA KHUTBAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 37 :

وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ, بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ.

وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ الْبَرَاءِ عِنْدَ اِبْنِ خُزَيْمَة َ

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila telah duduk di atas Mimbar, maka beliau berhadapan dengan muka kami. Riwayat Tirmidzi dengan sanad lemah.

Menurut Ibnu Khuzaimah hadits tersebut mempunyai saksi dari hadits Bara’.

MAKNA HADITS :

Para jamaah yang mendengarkan khutbah pada dasarnya dianjurkan untuk
menghadapkan muka ke arah khatib sehingga dia pun dapat mengarahkan
khutbahnya kepada mereka. Adalah tidak mungkin khutbah disampaikan
sedangkan mereka memalingkan muka atau membelakangi khatib. Menghadapkan
muka ke arah khatib merupakan perkara yang senantiasa dilakukan oleh para sahabat
dan oleh karenanya, ia pun dianggap sebagai satu ijmak.

FIQH HADITS :

Kaum muslimin yang menghadiri sholat Jum’at disyariatkan menghadapkan
muka mereka ke arah khatib. Seandainya mereka memalingkan muka ke arah lain,
siapa yang menjadi sasaran khutbah?

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 35-36 : HAL-HAL YANG TIDAK DIWAJIBKAN SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 35 :

وَعَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ; أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً: مَمْلُوكٌ, وَاِمْرَأَةٌ, وَصَبِيٌّ, وَمَرِيضٌ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَقَالَ: لَمْ يَسْمَعْ طَارِقٌ مِنَ النَّبِيِّ . وَأَخْرَجَهُ الْحَاكِمُ مِنْ رِوَايَةِ طَارِقٍ الْمَذْكُورِ عَنْ أَبِي مُوسَى

Dari Thariq Ibnu Syihab bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat Jum’at itu hak yang wajib bagi setiap Muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang, yaitu: budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit.” Riwayat Abu Dawud. Dia berkata: Thoriq tidak mendengarnya dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Dikeluarkan oleh Hakim dari riwayat Thariq dari Abu Musa.

HADITS KE 36 :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( لَيْسَ عَلَى مُسَافِرٍ جُمُعَةٌ ) رَوَاهُ الطَّبرَانِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيف

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang yang bepergian itu tidak wajib sholat Jum’at.” Riwayat Thabrani dengan sanad lemah.

MAKNA HADITS :

Islam senantiasa mengambil berat kemaslahatan umat manusia ketika menetapkan sebuah hukum syariat tanpa memuatkan unsur yang akan memudharatkan
mereka apabila mereka berhalangan sehingga tidak dapat menunaikan kewajiban
tersebut. Halangan tersebut ada kalanya bersifat pribadi atau bersifat mendatang. Anak-anak yang belum mencapai batas usia baligh tidak diwajibkan mengerjakan sholat Jum’at. Wanita selalu sibuk dengan urusan rumah tangga dan mengasuh anaknya di samping dikawatiri menimbulkan fitnah apabila keluar rumah dan oleh karenanya, dia tidak diwajibkan mengerjakan sholat Jum’at.

Seorang yang musafir tidak wajib mengerjakan sholat Jum’at, karena fikirannya sibuk dengan perjalanannya sehingga diapun turut memperoleh keringanan untuk tidak mengerjakan kewajiban ini. Orang yang sedang sakit tidak mampu menghadiri sholat Jum’at dan oleh karenanya, dia tidak wajib mengerjakan sholat Jum’at dan tidak berdosa apabila tidak menghadirinya. Hamba sahaya
mempunyai kewajiban melayan majikannya, sehingga sholat Jum’at pun tidak diwajibkan ke atasnya.

Ketika haji wada’, Nabi (s.a.w) tidak mengerjakan sholat Jum’at di Arafah karena baginda sedang dalam keadaan bermusafir. Dengan demikian, jelaslah kemudahan hukum-hukum Islam.

FIQH HADITS :

Sholat Jum’at adalah fardu ain bagi setiap orang mukmin selain hamba sahaya, karena jika itu diwajibkan ke atasnya maka keadaan ini boleh meninggalkan banyak pekerjaan dan tugas majikannya. Begitu juga, jika majikannya membenarkannya untuk turut hadir mengerjakan sholat Jum’at, maka dia dibolehkan menghadirinya dan sholat Jum’atnya itu tetap dianggap sah. Wanita tidak diwajibkan mengerjakan sholat Jum’at karena dia sibuk dengan segala pekerjaan rumah tangga. Anak-anak juga tidak diwajibkan mengerjakan sholat Jum’at karena dia masih belum diwajibkan mengerjakan sholat, apalagi sholat Jum’at. Begitu juga orang sakit tidak wajib menghadirinya karena sakit yang dialaminya. Orang yang sedang
musafir pun tidak diwajibkan mengerjakan sholat Jum’at karena fikirannya senantiasa disibukkan oleh urusan perjalanannya dan diselimuti oleh perasaan kawatir ditinggal oleh rombongannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 34 : MEMBACA AL-QUR’AN KETIKA KHOTBAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 34 :

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ ا عَنْهُمَا ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ فِي الْخُطْبَةِ يَقْرَأُ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ, وَيُذَكِّرُ النَّاسَ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُد َ. وَأَصْلُهُ فِي مُسْلِم ٍ

Dari Jabir Ibnu Samurah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada saat khutbah membaca ayat-ayat Qur’an untuk memberi peringatan kepada orang-orang. Riwayat Abu Dawud dan asalnya dalam riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Membaca satu ayat Al-Qur’an pada salah satu dari dua khutbah Jum’at merupakan salah satu rukun khutbah. Inilah pendapat Imam al-Syafii, sedangkan menurut ulama yang lainnya, ia hanyalah sunat. Rasulullah (s.a.w) senantiasa membaca ayat-ayat Al-Qur’an diwaktu menyampaikan khutbah untuk tujuan mengingatkan umat manusia, karena Al-Qur’an merupakan nasehat yang paling baik.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca ayat al-Qur’an ketika khutbah untuk mengingatkan dan menganjurkan umat manusia beramal kebaikan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 33 : ANJURAN BERDO’A KETIKA KHOTBAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 33 :

عن سمرة بن جندب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يستغفر للمؤمنين والمؤمنات كل جمعة رواه البزار بإسناد لين

Dari Samurah ibn Jundub (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) selalu memohonkan ampunan bagi kaum mukminin lelaki dan perempuan setiap Jum’at. (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad berkedudukan lemah)

MAKNA HADITS :

Khatib disunatkan berdo’a untuk dirinya sendiri dan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin lelaki dan perempuan, karena khutbah merupakan waktu yang tepat supaya do’a-do’a dikabulkan oleh-Nya.

FIQH HADITS :

Disyariatkan berdo’a dan memintakan ampun bagi kaum mukminin lelaki dan perempuan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 32 : BILANGAN YANG SAH DALAM SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 32 :

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: ( مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ فَصَاعِدًا جُمُعَةً ) رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيف ٍ

Jabir Radliyallaahu ‘anhu berkata: Sunnah telah berlaku bahwa pada setiap empat puluh orang ke atas wajib mendirikan sholat Jum’at. Riwayat Daruquthni dengan sanad lemah.

MAKNA HADITS :

Sholat Jum’at merupakan salah satu syiar Islam yang paling mulia. Oleh itu, sholat Jum’at hanya dilakukan secara berjemaah dan mesti ada dua khutbah untuk memberikan pelajaran dan nasihat kepada segenap kaum muslimin. Tetapi tidak ada keterangan yang tegas yang menentukan berapa batasan minimum orang yang
mesti menghadiri sholat Jum’at itu dan oleh karenanya, ulama berbeda pendapat mengenainya.

Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengatakan bahawa solat Jum’at tidak sah kecuali dihadiri oleh empat puluh orang laki-laki. Imam Malik mengatakan dua belas
orang laki-laki selain imam dan ini adalah pendapat yang kedua dari Imam al-Syafi’i. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa sholat Jum’at sah dengan adanya tiga orang laki-laki termasuk imam.

FIQH HADITS :

Menjelaskan bilangan yang sah untuk mengerjakan sholat Jum’at, yaitu sebanyak empat puluh orang laki-laki. Inilah menurut pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad berdasarkan hadis ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 30-31 : WAKTU ISTIJABAH DI HARI JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 30 :

وَعَنْهُ; أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: ( فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي, يَسْأَلُ الله تعالى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه. ِ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: ( وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيفَةٌ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah menyebut hari Jum’at beliau bersabda: “Pada hari itu ada suatu saat jika bertepatan seorang hamba muslim berdiri untuk sholat memohon kepada Allah, maka niscaya Allah akan memberikannya sesuatu.” Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya bahwa saat itu sebentar. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Muslim: “Ia adalah saat yang pendek.”

HADITS KE 31 :

وَعَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَرَجَّحَ الدَّارَقُطْنِيُّ أَنَّهُ مِنْ قَوْلِ أَبِي بُرْدَةَ. وفي حديث عبد الله ابن سلام عند ابن ماجة، وجابر عند أبي دود والنسائي: أنها ما بين صلاة العصر الى غروب الشمس. وقد اختلف فيها أكثر من أربعين قولا، أمليتها في شرح البخاري

Abu Burdah dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Saat (waktu) itu ialah antara duduknya imam hingga dilaksanakannya sholat.” Riwayat Muslim. Daruquthni menguatkan bahwa hadits tersebut dari perkataan Abu Burdah sendiri.

Dalam hadis Abdullah ibn Salam yang ada pada Ibn Majah dan dalam hadis Jabir yang ada pada Abu Dawud dan al-Nasa’i disebutkan seperti berikut bahwa saat (mustajab) tersebut terletak di antara sholat Asar hingga matahari terbenam. Lebih empat puluh pendapat yang memperdebatkan waktu saat (do’a mustajab) ini. Semua itu kami uraikan dalam kitab Syarh al-Bukhari.

MAKNA HADITS :

Hari Jum’at mempunyai beberapa keistimewaan yang antara lain ialah sa’ah al-mubarakah (waktu yang penuh dengan keberkahan). Pada waktu itu do’a dikabulkan selagi tidak melakukan dosa atau memutuskan ikatan silaturahim. Waktu
ini amatlah singkat dimana Nabi (s.a.w) menganjurkan agar ia diberi perhatian mengingat waktunya yang sempit itu.

Ulama berselisih pendapat mengenai ketentuannya, hingga ada empat puluh tiga pendapat yang membahas masalah ini. Tetapi menurut pendapat yang sahih, waktu tersebut masih belum dapat dipastikan, namun waktu antara sholat Asar hingga matahari tenggelam merupakan waktu yang paling diharapkan supaya do’a dikabulkan. Ada pula kemungkinan bahwa waktu ituberpindah-pindah, tetapi itu masih berlaku pada hari Jum’at. Hikmah merahasiakan waktu mustajab do’a ini ialah supaya seluruh hari Jum’at diisi dengan dengan ibadah.

FIQH HADITS :

1. Keutamaan hari Jum’at adalah adanya sa’ah al-ijabah dimana pada waktu do’a dikabulkan.

2. Boleh menggunakan isyarat untuk mengungkapkan isi hati sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang Arab dalam pembicaraan mereka.

3. Menentukan sa’ah al-ijabah pada hari Jum’at yaitu antara imam mulai duduk di atas mimbar hingga dia selesai mengerjakan sholat Jum’at. Menurut hadis Abdullah ibn Salam (r.a), ia terletak pada akhir siang hari, sedangkan menurut hadis Jabir (r.a), ia terletak antara sholat Asar hingga matahari terbenam.

4. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah (s.a.w) membenarkan kitab-kitab suci yang terdahulu.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..