Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 221 : RINCIAN MENGANGKAT KEDUA TANGAN DALAM SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 221 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا اِفْتَتَحَ اَلصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ اَلرُّكُوعِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَفِي حَدِيثِ أَبِي حُمَيْدٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ : ( يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ يُكَبِّرَ )

وَلِمُسْلِمٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رضي الله عنه نَحْوُ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ وَلَكِنْ قَالَ : ( حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ )

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua bahunya ketika beliau memulai shalat ketika bertakbir untuk ruku’ dan ketika mengangkat kepalanya dari ruku’. Muttafaq Alaihi.

Dalam hadits Abu Humaid menurut riwayat Abu Dawud: Beliau mengangkat kedua tangannya sampai lurus dengan kedua bahunya kemudian beliau bertakbir.

Dalam riwayat Muslim dari Malik Ibnu al-Huwairits ada hadits serupa dengan hadits Ibnu Umar tetapi dia berkata: sampai lurus dengan ujung-ujung kedua telinganya.

MAKNA HADITS :

Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram di dalam sholat adalah disyariatkan berdasarkan ijmak ulama. Akan tetapi dilarang dilakukan ketika mengucapkan salam, sedangkan apabila dilakukan ketika berpindah untuk rukuk dan mengangkat kepala dari rukuk, serta ketika berdiri dari tasyahhud pertama untuk rakaat yang ketiga masih diperselisihkan. Hadis yang menceritakan hal tersebut cukup banyak. Pendapat inilah yang dianut oleh Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, dan ini merupakan salah satu dari riwayat Imam Malik. Ulama Kufah tidak menganut pendapat ini dan ini merupakan pendapat masyhur di kalangan mazhab Imam Malik.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengangkat kedua tangan ketika melakukan takbiratul ihram, rukuk, mengangkat kepala dari rukuk dan berdiri dari tasyahhud pertama sebagaimana yang telah ditetapkan oleh hadis Ibn Umar menurut riwayat al-Bukhari disertai dengan tambahan yang disebutkan pada riwayat yang lain yaitu bacaan: “سمع الله لمن حمده“ ketika mengangkat kepala dari rukuk. Imam Malik, Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad berkata: “Batasan mengangkat kedua tangan adalah sejajar dengan kedua bahu.” Sedangkan Imam Abu Hanifah berkata: “Batasan mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua telinga.”

2. Menjauhkan kedua siku dari kedua sisi lambung ketika sedang sujud.

3. Disyariatkan meratakan kepala dengan tulang belakang ketika melakukan rukuk.

4. Disunatkan duduk di antara dua sujud dengan cara duduk iftirasy dan duduk dalam tasyahhud akhir dengan cara duduk tawarruk. Apa yang disunatkan ialah cara duduk, bukan duduknya itu sendiri, karena perbuatan duduk itu sendiri merupakan rukun sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 220 : RUKUN-RUKUN SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 220 :

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْتَفْتِحُ اَلصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ : بِـ (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ ) وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ . وَكَانَ إِذَا رَفَعَ مِنْ اَلرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا . وَإِذَا رَفَعَ مِنْ اَلسُّجُودِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا . وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ اَلتَّحِيَّةَ . وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ اَلْيُسْرَى وَيَنْصِبُ اَلْيُمْنَى . وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ اَلشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ اَلرَّجُلُ زِرَاعَيْهِ اِفْتِرَاشَ اَلسَّبُعِ . وَكَانَ يُخْتَمُ اَلصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَلَهُ عِلَّةٌ

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam biasanya membuka sholat dengan takbir dan memulai bacaan dengan alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin (segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam). Bila beliau ruku’ beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya tetapi pertengahan antara keduanya; bila beliau bangkit dari ruku’ beliau tidak akan bersujud sampai beliau berdiri tegak; bila beliau mengangkat kepalanya dari sujud beliau tidak akan bersujud lagi sampai beliau duduk tegak; pada setiap 2 rakaat beliau selalu membaca tahiyyat; beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan meluruskan kakinya yang kanan; beliau melarang duduk di atas tumit yang ditegakkan dan melarang meletakkan kedua sikunya seperti binatang buas; beliau mengakhiri sholat dengan salam. Hadits ma’lul dikeluarkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) menyerahkan tugasan mentafsir al-Qur’an kepada Nabi (s.a.w) karena baginda adalah orang yang paling mengetahui tentang makna yang dimaksudkan oleh Allah.

Allah (s.w.t) berfirman:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“… Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur‟an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (Surah al-Nahl: 44)

Maka Nabi (s.a.w) menerangkan kepada kita tentang tatacara pelaksanaan sholat melalui sabdanya dan mempraktekkannya pula kepada kita melalui perbuatannya. Untuk itu baginda bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Solatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku solat.”

Sahabat amat mengambil berat semua ucapan dan perbuatan Nabi (s.a.w) sebagaimana yang digambarkan oleh Ummu al-Mu’minin kepada kita dalam hadis
ini ketika menceritakan tentang tatacara sholat Nabi (s.a.w).

FIQH HADITS :

1. Membuka sholat dengan takbiratul ihram merupakan salah satu daripada rukun sholat.

2. Wajib membaca Surah al-Fatihah sesudah takbiratul ihram, dan Surah Al-Fatihah merupakan salah satu dari rukun sholat.

3. Wajib tuma’ninah dalam rukuk dan sujud. Kedua-duanya merupakan rukun sholat tanpa keduanya adalah tidak sah.

4. Duduk dalam sholat dilarang menyerupai cara duduk anjing dan cara mendekam seperti binatang buas.

5. Membaca tasyahhud pada setiap dua rakaat. Tasyahhud pada rakaat terakhir merupakan rukun sholat.

6. Menutup sholat dengan membaca salam. Menurut jumhur ulama, salam pertama merupakan rukun sholat. Lain halnya dengan mazhab Hanafi yang mengatakan bahwa keluar dari sholat boleh dengan membaca salam dan boleh pula dengan cara lain yang bertentangan dengan sholat, misalnya berbicara, berhadas, atau berdiri.
Rasulullah (s.a.w) menyuruh kita supaya berbeda dengan hewan ketika kita sedang mengerjakan sholat. Salah seorang ulama menghimpun perkara tersebut melalui syairnya berikut:

إذا نحنُ قُمنا في الصَّـلاة فإنَّنا

نُهينا عن الإتيانِ فيها بستَّـــة

بُرُوك بعير والتفـاتٌ كثعلَب

ونقرُ غُراب في سُجود الفَريضَـة

وإقعاءُ كلب أو كبَسْط ذراعِه

وأذنابُ خَيْل عند فِعل التَّحيَّــة

Jika kami telah berdiri memasuki solat

Kami dilarang melakukan enam perkara

Cara mendekam seperti unta (ketika sujud

Menoleh seperti musang dan mematuk seperti burung gagak ketika sujud solat fardu

Duduk iq’a’ seperti anjing atau menopang kedua hastanya

Dan seperti ekor kuda ketika sedang melakukan tahiyyat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 219 : SEBAGIAN DARI DO’A IFTITAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 219 :

‏وَعَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ : ( سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اِسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهُ غَيْرُكَ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ بِسَنَدٍ مُنْقَطِعٍ وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ مَوْصُولاً وَهُوَ مَوْقُوفٌ

Dari Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa (setelah bertakbir) beliau biasanya membaca: “Maha suci Engkau Ya Allah dengan pujian terhadap-Mu Maha berkah nama-Mu tinggi kebesaran-Mu dan tidak ada Tuhan selain diri-Mu.” Riwayat Muslim dengan sanad yang terputus (hadits munqothi’). Riwayat Daruquthni secara maushul dan mauquf.

MAKNA HADITS :

Telah diriwayatkan dari Nabi (s.a.w) beberapa bentuk lafaz do’a iftitah yang sebagian darinya telah disebutkan sebelum ini. „Umar (r.a) selalu membaca do’a iftitah ini yang beliau terima dari Nabi (s.a.w), lalu beliau membacanya dengan suara kuat untuk tujuan mengajarkannya kepada orang banyak. Telah disyariatkan pula membaca isti’adzah (memohon perlindungan) dari syaitan berupa itu sifat sombong, rayuan dan godaannya sebagai benteng untuk memelihara diri dari syaitan dalam permulaan sholat dan bacaan al-Qur’an supaya sholat seseorang dipelihara dari syaitan sekaligus mengalamkan perintah Allah dalam firman-Nya:

فإذا قرأت القرأن فاستعذ بالله من الشيطان الرجيم

“Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (Surah al-Nahl: 98). Tempat untuk membaca ta’awwudz ini sesudah membaca do’a iftitah.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan membaca do’a iftitah dalam sholat, yaitu do’a yang telah disebutkan dalam riwayat di atas sebelum membaca Surah al-Fatihah.

2. Dianjurkan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan syaitan dan segala perbuatannya sebelum membaca al-Qur’an dan sesudah membaca do’a iftitah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 218 : BACAAN SETELAH TAKBIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 218 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلِ أَنْ يَقْرَأَ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ : “أَقُولُ : اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ اَلْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللَّهُمَّ نقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى اَلثَّوْبُ اَلْأَبْيَضُ مِنْ اَلدَّنَسِ اَللَّهُمَّ اِغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila telah bertakbir untuk sholat beliau diam sejenak sebelum membaca (al-fatihah). Lalu aku tanyakan hal itu kepadanya. Beliau menjawab: “Aku membaca doa: Ya Allah jauhkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana telah Engkau jauhkan antara Timur dengan Barat. Ya Allah bersihkanlah diriku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana telah Engkau bersihkan baju putih dari kotoran. Ya Allah cucilah diriku dari kesalahan-kesalahanku dengan air es dan embun.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) terpelihara dari melakukan perbuatan dosa. Meskipun begitu, baginda senantiasa berdo’a dengan do’a-do’a yang pada hakikatnya untuk mengajarkan ummatnya sekaligus mengakui akan ketidakmampuan manusia apabila dibandingkan dengan kebesaran Allah. Nabi (s.a.w) selalu berdo’a memohon agar dosa-dosanya dihapuskan dan dipelihara dari perbuatan dosa yang akan terjadi di masa mendatang, serta memohon agar dijauhkan dari dosa-dosa sebagaimana jauhnya jarak antara timur dengan barat yang tidak akan pernah bertemu selamanya. Baginda sering berdo’a memohon agar dirinya disucikan dari dosa-dosa dengan ungkapan mubalaghah. Kemudian baginda membuat satu perumpamaan untuk itu dengan air yang belum pernah disentuh oleh tangan-tangan manusia dan sama sekali belum pernah digunakan, agar itu lebih menguatkan lagi makna yang dikehendakinya, yaitu bersihnya pakaian yang telah dibasuh dengannya. Kemudian sesudah menyebut perumpamaan air, Nabi (s.a.w) menyebutkan ais dan embun sebagai perumpamaan. Hal ini mengandung makna yang mencakupi rahmat dan ampunan sesudah memohon ampunan untuk memadamkan panasnya api neraka yang tak terkira panasnya.

Al-Tsalj (salji) ialah butiran-butiran air membeku yang turun dari langit, lalu jatuh ke bumi dan lama-kelamaan lebur menjadi air. Sedangkan al-Bard (embun)
adalah yang turut dari langit dan sesampainya di bumi lebur menjadi air.

FIQH HADITS :

1. Para sahabat senantiasa mengambil berat keadaan Rasulullah (s.a.w); gerak-gerinya, ketika berdiam diri dan setiap apa yang dilakukannya. Dengan demikian, Allah memelihara agama ini melalui usaha gigih mereka dan oleh karenanya, kita mesti mengikuti mereka.

2. Disyariatkan membaca do’a iftitah setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Surah al-Fatihah. Do’a iftitah itu mempunyai banyak bentuk lafaznya dan apa yang disebutkan dalam hadis ini merupakan salah satu darinya.

3. Boleh berdo’a ketika di dalam sholat dengan do’a-do’a yang bukan dari al-Qur’an, tetapi dengan syarat hendaklah mengikuti apa yang diriwayatkan oleh hadis dan dilakukan pada tempatnya masing-masing, seperti do’a rukuk, sujud, mengangkat kepala dari keduanya dan lain-lain sebagainya.

4. Boleh mengungkapkan sesuatu yang bersifat abstrak dengan mengumpamakannya dengan sesuatu yang bersifat nyata supaya lebih mudah difahami.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 217 : DO’A IFTITAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 217 :

وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى اَلصَّلَاةِ قَالَ : “وَجَّهْتُ وَجْهِي لِلَّذِي فَطَّرَ اَلسَّمَوَاتِ ” . . . إِلَى قَوْلِهِ : “مِنْ اَلْمُسْلِمِينَ اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَلْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ . . . ) إِلَى آخِرِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ : أَنَّ ذَلِكَ فِي صَلَاةِ اَللَّيْلِ

Dari Ali bin Abu Thalib Radliyallaahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam: Bahwa bila beliau menjalankan sholat beliau membaca: “Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang telah menciptakan langit dan bumi –hingga kalimat– dan aku termasuk orang-orang muslim Ya Allah Engkaulah raja tidak ada Tuhan selain Engkau Engkaulah Tuhanku dan aku hamba-Mu– sampai akhir. Hadits riwayat Muslim. Dalam suatu riwayat Muslim yang lain: Bahwa bacaan tersebut dalam shalat malam.

MAKNA HADITS :

Do’a iftitah dibaca oleh Nabi (s.a.w) pada rakaat pertama. Di dalamnya mengandung pujian kepada Allah sekaligus pengakuan seorang hamba akan kelalaiannya dan perbuatan zalim yang dilakukan ke atas dirinya sendiri. Ia juga memuatkan permohonan ampun, memohon petunjuk, kemuliaan akhlak dan perlindungan dari berakhlak jahat.

Do’a iftitah ini disebutkan dalam berbagai bentuk lafaz dan orang yang sholat diperbolehkan memilih salah satu darinya malah bisa juga membaca kesemua kalimat do’a iftitah yang sudah tersedia.

Do’a iftitah dibaca di antara takbiratul ihram dengan isti’adzah dengan suara tidak kuat. Barangkali bacaan dengan suara kuat yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) bertujuan untuk mengajarkannya kepada para sahabatnya.

Membaca do’a iftitah itu hukumnya sunat dan hanya dilakukan dalam rakaat pertama menurut pendapat jumhur ulama. Lain halnya dengan Imam Malik, dimana beliau mempunyai pendapat yang berbeda dalam masalah ini.

FIQH HADITS :

1. Boleh berdo’a waktu di dalam sholat dengan do’a-do’a yang tidak berasal dari Al-Qur’an.

2. Disyariatkan berdo’a di antara takbiratul ihram dan bacaan al-Fatihah pada rakaat pertama. Do’a ini dikenal dengan do’a iftitah. Lain halnya dengan pendapat yang masyhur di sisi Imam Malik.

3. Menjelaskan bagaimana cara beretika kepada Allah (s.w.t). Ketika mendekatkan diri kepada-Nya, tidak boleh berbuat jahat dan tidak boleh juga menisbatkan kejahatan kepada-Nya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 216 : RUKUN DAN SUNNAH-SUNNAH DALAM SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 216 :

وَعَنْ أَبِي حُمَيْدٍ اَلسَّاعِدِيِّ رضي الله عنه قَالَ : ( رَأَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرِهِ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اِسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ اَلْقِبْلَةَ وَإِذَا جَلَسَ فِي اَلرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ اَلْيُسْرَى وَنَصَبَ اَلْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي اَلرَّكْعَةِ اَلْأَخِيرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ اَلْيُسْرَى وَنَصَبَ اَلْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ ) أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ

Abu Hamid Assa’idy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam takbir beliau mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua bahunya bila ruku’ beliau menekankan kedua tangannya pada kedua lututnya kemudian meratakan punggungnya bila mengangkat kepalanya beliau berdiri tegak hingga tulang-tulang punggungnya kembali ke tempatnya bila sujud beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak mencengkeram dan mengepalkan jari-jarinya dan menghadapkan ujung jari-jari kakinya ke arah kiblat bila duduk pada rakaat kedua beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan meluruskan (menegakkan) kaki kanan bila duduk pada rakaat terakhir beliau majukan kakinya yang kiri dan meluruskan kaki yang kanan dan beliau duduk di atas pinggulnya. Dikeluarkan oleh Bukhari.

MAKNA HADITS :

Seorang sahabat agung, Abu Humaid al-Sa’idi, menggambarkan tentang tatacara sholat Nabi (s.a.w) melalui ucapannya dan menggambarkannya dengan melalui perbuatan serta diakui oleh para sahabat yang mendengarnya. Oleh sebab itu, hadis ini merupakan hadis paling agung.

Sholat yang digambarkan dalam hadis ini adalah sholat Nabi (s.a.w) dalam bentuk yang sederhana, tidak terlalu panjang hingga bisa mengakibatkan bosan dan tidak pula terlalu singkat hingga mengakibatkan kecacatan pada rukun.

FIQH HADITS :

1. Mengangkat kedua tangan ketika melakukan takbiratul ihram.

2. Wajib rukuk dan tuma’ninah di dalam rukuk. Caranya dengan meletakkan kedua telapak tangan pada kedua lutut serta meluruskan tulang belakang tanpa lengkungan, melainkan lurus sejajar dengan leher.

3. Wajib sujud dan tuma’ninah di dalam sujud. Caranya dengan menjauhkan kedua siku dari kedua sisi lambung.

4. Disunatkan duduk di antara dua sajud dengan menghamparkan telapak kaki kiri.

5. Duduk dalam tasyahhud akhir dengan cara duduk tawarruk.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 215 : TATACARA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 215 :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( إِذَا قُمْتُ إِلَى اَلصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ اَلْوُضُوءَ ثُمَّ اِسْتَقْبِلِ اَلْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ ثُمَّ اِقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ اَلْقُرْآنِ ثُمَّ اِرْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ اِرْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اُسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ اِرْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اُسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ اِرْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اُسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ اِفْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا ) أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَةُ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ وَلِابْنِ مَاجَهْ بِإِسْنَادِ مُسْلِمٍ ( حَتَّى تَطْمَئِنَّ قَائِمًا )

وَمِثْلُهُ فِي حَدِيثِ رِفَاعَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ وَابْنِ حِبَّانَ ( حَتَّى تَتْمَئِنَّ قَائِمًا )

وَفِي لَفْظٍ لِأَحْمَدَ : ( فَأَقِمْ صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ اَلْعِظَامُ )

وَلِلنَّسَائِيِّ وَأَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ : ( إِنَّهَا لَنْ تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ اَلْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اَللَّهُ ثُمَّ يُكَبِّرَ اَللَّهَ وَيَحْمَدَهُ وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ ). وَفِيهَا ( فَإِنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ وَإِلَّا فَاحْمَدِ اَللَّهَ وَكَبِّرْهُ وهلِّلْهُ )

وَلِأَبِي دَاوُدَ : ( ثُمَّ اِقْرَأْ بِأُمِّ اَلْقُرْآنِ وَبِمَا شَاءَ اَللَّهُ )

وَلِابْنِ حِبَّانَ : ( ثُمَّ بِمَا شِئْتَ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika engkau hendak mengerjakan shalat maka sempurnakanlah wudlu’ lalu bacalah (ayat) al-Quran yang mudah bagimu lalu ruku’lah hingga engkau tenang (tu’maninah dalam ruku’ kemudian bangunlah hingga engkau tegak berdiri lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud kemudian bangunlah hingga engkau tenang dalam duduk lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud. Lakukanlah hal itu dalam dalam sholatmu seluruhnya.” Dikeluarkan oleh Imam Tujuh lafadznya menurut riwayat Bukhari. Menurut Ibnu Majah dengan sanad dari Muslim: “Hingga engkau tenang berdiri.”

Hal serupa terdapat dalam hadits Rifa’ah Ibnu Rafi’ menurut riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban: “Sehingga engkau tenang berdiri (mu).”

Dan menurut lafazh riwayat Ahmad : “Maka tegakkanlah tulang punggungmu hingga tulang-tulang itu kembali (seperti semula).”

Menurut riwayat Nasa’i dan Abu Dawud dari hadits Rifa’ah Ibnu Rafi’i: “Sungguh tidak sempurnah sholat seseorang di antara kamu kecuali dia menyempurnakan wudlu’ sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kemudian ia takbir dan memuji Allah.” Dalam hadits itu disebutkan: “Jika engkau hafal Qur’an bacalah jika tidak bacalah tahmid (Alhamdulillah) takbir (Allahu Akbar) dan tahlil (la illaaha illallah).”

Menurut riwayat Abu Dawud: “Kemudian bacalah Al-fatihah dan apa yang dikehendaki Allah.”

Menurut riwayat Ibnu hibban: “Kemudian (bacalah) sekehendakmu.”

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) masuk ke dalam masjid. Setelah itu, masuklah Khallad ibnu Rafi’ yang terus mengerjakan sholat, kemudian dia datang menghadap kepada Rasulullah (s.a.w) dan mengucapkan salam kepadanya. Baginda pun menjawab salamnya, lalu bersabda kepadanya: “Kembalilah dan ulangi sholatmu itu, karena sesungguhnya sholatmu masih belum cukup.” Lalu Khallad kembali mengulangi sholatnya seperti semula. Setelah itu, dia datang kepada Nabi (s.a.w) dan mengucapkan salam kepadanya. Nabi (s.a.w) bersabda lagi kepadanya: “Wa ‘Alaika al-Salaam. Kembalilah dan ulangi sholatmu, sesungguhnya sholatmu masih belum cukup.” Rasulullah (s.a.w) menyuruhnya mengulangi sholat sebanyak tiga kali. Akhirnya lelaki tersebut berkata: “Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan selain hanya ini. Maka ajarkan kepadaku bagaimana cara mengerjakan sholat yang betul.” Mendengar itu, Rasulullah (s.a.w) bersabda kepadanya: “Jika kamu hendak mengerjakan sholat, … hingga akhir hadis.”

FIQH HADITS :

1. Hadis ini merupakan hadis paling mulia yang dikenali dengan judul hadis المسيء صلاته “Orang yang tidak sempurna Solatnya). Di dalamnya menjelaskan tentang tatacara pelaksanaan sholat.

2. Orang yang hendak mengerjakan sholat, sedangkan dia dalam keadaan hadas diwajibkan berwuduk dan dianjurkan menyempurnakan wuduk.

3. Wajib berniat karena berlandaskan kepada sabda Rasulullah (s.a.w): “Jika kamu hendak mengerjakan sholat.” Dalam hadis yang lain disebutkan:

انما الاعمال بالنيات

“Sesungguhnya sahnya amal perbuatan itu hanyalah dengan niat.”

4. Wajib menghadap ke arah kiblat sebelum melakukan takbiratul ihram.

5. Pembukaan sholat adalah takbiratul ihram dan ia merupakan salah satu rukun sholat. Jumhur ulama berpendapat, takbiratul ihram dilakukan dengan lafaz yang telah ditentukan, yaitu Allahu Akbar. Lain halnya dengan mazhab Hanafi dimana mereka berpendapat bahwa sholat itu sah dengan mengucapkan lafaz yang mengandung makna mengagungkan Allah (s.w.t).

6. Wajib membaca Surah al-Fatihah dalam setiap rakaat sholat. Ulama berbeda pendapat mengenai ketentuan Surah al-Fatihah dalam sholat. Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam al-Syafi’i berkata: “Wajib membaca Surah al-Fatihah dalam setiap sholat. Surah al-Fatihah merupakan salah satu rukun sholat. Sholat tidak sah tanpa Surah al-Fatihah.” Imam Abu Hanifah berkata: “Surah al-Fatihah tidak termasuk salah satu rukun sholat. Rukun sudah mencukupi dengan adanya bacaan secara mutlak. Dengan demikian, membaca Surah al-Fatihah itu wajib dan berdosa bagi orang yang meninggalkannya. Tetapi sholat tetap dianggap sah tanpa membaca Surah al-Fatihah.” Selain itu, ulama berselisih pendapat baik al-Fatihah merupakan satu rukun dalam setiap rakaat solat ataupun tidak. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad berkata: “Surah al-Fatihah merupakan rukun dalam setiap rakaat sholat bagi imam, orang yang sholat sendirian, dan juga makmum.” Pendapat inilah yang sahih. Menurut mazhab Maliki, surah al-Fatihah adalah rukun bagi imam dan orang yang sholat sendirian, sedangkan makmum hanya membacanya dalam sholat-sholat sirriyyah (Zohor dan Asar). Apa yang lebih afdhal bagi makmum adalah meninggalkannya dalam sholat jahriyyah (Maghrib, Isyak dan Subuh). Mereka berlandaskan kepada sabda Nabi (s.a.w): “Kemudian lakukan semua itu dalam seluruh sholatmu.” Imam Abu Hanifah berpendapat, imam dan orang yang sholat sendirian wajib membuat bacaan dalam dua rakaat pertama tetapi tidak semestinya membaca Surah al-Fatihah. Makmum tidak perlu membacanya, baik dalam sholat sirriyyah mahupun sholat jahriyyah. Sedangkan pada dua rakaat yang terakhir tidak diwajibkan untuk melakukan bacaan. Dengan arti kata lain, boleh membaca dan boleh pula tidak membacanya. Jika tidak, maka dibolehkan membaca tasbih.”

7. Zikir sudah mencukupi bagi orang yang tidak hafal Surah al-Fatihah. Zikir tersebut mengandungi makna tahmid, takbir, dan tahlil.

8. Disyariatkan membaca selain Surah Al-Fatihah. Ini berlandaskan kepada sabda Rasulullah (s.a.w): “Kemudian bacalah Ummu al-Kitab dan surah lain yang dikehendaki oleh Allah atau yang engkau sukai.”

9. Wajib rukuk dan sujud.

10. Wajib tuma’ninah dalam setiap rukuk, sujud, i’tidal dan duduk di antara dua sujud.

11. Dalam hadis ini tidak disebutkan salam, padahal salam merupakan salah satu rukun sholat, karena lawan bicara telah mengetahuinya melalui dalil lain yang antara lain ialah hadis:

تحريمها التكبير وتحليلها السلام

“Tahrimnya dengan adalah takbir dan tahlilnya adalah dengan salam.”

Dengan arti kata lain, sholat itu dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 214 : SHOLAT TAHIYAH AL-MASJID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB MASJID

HADITS KE 214 :

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ اَلْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Qotadah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika seseorang di antara kamu memasuki masjid maka janganlah ia duduk kecuali setelah sembahyang dua rakaat. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Masjid merupakan rumah Allah yang mesti dimuliakan dan dihormati. Dia menjadikannya sebagai tempat yang suci. Rasulullah (s.a.w) menganjurkan agar setiap orang yang memasukinya mengerjakan sholat sunat dua rakaat sebagai penghormatan kepada masjid selain Masjid al-Haram, karena cara menghormatinya ialah dengan cara mengerjakan tawaf mengelilingi Ka’bah ketika memasukinya bagi orang yang berhaji dan bagi orang yang sengaja hendak berthawaf. Sedangkan bagi orang yang menunggu waktu sholat atau menghadiri pengajian atau berniat i’tikaf, maka cara tahiyyat-nya (menghormatinya) adalah
mengerjakan sholat dua rakaat sama dengan keadaan ketika memasuki masjid-masjid yang lainnya.

Sholat sunat tahiyyat al-masjid atau menghormati masjid mesti dilakukan sebanyak dua rakaat yang merupakan batasan minimum rakaatnya. Jika seseorang memasuki masjid sedangkan sholat fardu telah didirikan, maka dia mestilah terus mengerjakan sholat fardu, sedangkan tahiyyah al-masjid sudah dianggap termasuk
di dalamnya jika dia telah berniat untuk mengerjakannya. Ini berlandaskan kepada hadits Rasulullah (s.a.w):

اذا أقيمت الصلاة فلا صلاة الا المكتوبة

Jika solat (fardu) telah diiqamahkan, maka tidak ada lagi solat selain solat fardu.

Kita mesti mengikuti perintah di dalam hadis ini dan jangan duduk di dalam masjid sebelum mengerjakan sholat sunat tahiyyah al-masjid.“`

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengerjakan sholat sunat dua rakaat bagi orang yang memasuki masjid.

Imam al-Syafi’i berkata: “Tahiyyah al-masiid disyaratkan pada setiap
waktu hingga waktu khutbah sholat Jum’at, sekalipun dia memasukinya secara berulang kali.” Imam al-Syafi’i mentafsirkan hadis yang melarang mengerjakan sholat sunat sesudah Subuh hingga matahari terbit dan sholat sunat sesudah Asar hingga matahari terbenam hanya berlaku bagi sholat sunat yang tidak mempunyai sebab terdahulu. Beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) tidak pernah meninggalkan sholat sunat tahiyyah al-masjid walau dalam keadaan apa sekalipun. Baginda memerintahkan orang yang memasuki masjid dan terus
duduk dimana ketika itu baginda sedang menyampaikan khutbah untuk bangkit dari tempat duduknya dan mengerjakan sholat dua rakaat tahiyyah al-masjid. Seandainya Rasulullah (s.a.w) tidak memandang penting sholat tahiyyah al-masjid, tentu baginda tidak memerintahkan untuk mengerjakan sholat tersebut, karena waktu itu khutbah sedang disampaikan.”

Imam Malik berkata:
“Melakukan sholat tahiyyah al-masjid dalam waktu-waktu yang dilarang hukumnya makruh dan haram mengerjakannya ketika khutbah sedang disampaikan, begitu pula ketika matahari sedang terbit atau sedang tenggelam. Jika seseorang berulang kali memasuki masjid, maka mencukupi baginya mengerjakan sholat tahiyyah al-masjid yang pertama apabila dia segera memasuki masjid, tetapi jika masuk lagi ke dalam masjid dalam waktu yang lama, maka disunatkan baginya mengulangi lagi sholat sunat tahiyyah al-masjid itu.”

Imam Abu Hanifah berkata: “Melakukan sholat sunat tahiyyah al-masjid dalam waktu-waktu yang dilarang dan ketika khutbah sedang disampaikan hukumnya makruh. Sholat tahiyyah al-masjid tidak boleh dilakukan secara berulang setiap kali seseorang memasuki masjid, sebaliknya mencukupi baginya mengerjakan satu kali sholat dalam satu hari.”

Imam Ahmad berkata: “Disunatkan mengerjakan sholat tahiyyah al-masjid bagi setiap orang
yang memasuki masjid namun tidak boleh dilakukan pada waktu-waktu yang dimakruhkan, yaitu sebelum dia duduk jika dalam keadaan bersuci, sekalipun dia memasukinya secara berulang kali. Akan tetapi, ia tidak boleh dilakukan ketika khatib telah memulakan khutbah, bukan pula masuk ke masjid untuk
mengerjakan sholat hari raya, dan bukan pula bagi yang bermukim di dalam masjid di mana dia keluar masuk ke dalamnya secara berulang.”

2. Dilarang duduk di dalam masjid kecuali sesudah mengerjakan sholat sunat dua rakaat. Ulama berbeda pendapat mengenai sholat tahiyyatul masjid baik waktunya berakhir setelah seseorang duduk di dalam masjid ataupun belum.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berkata: “Waktunya tidak terlewatkan karena seseorang terus duduk dalam memasuki masjid, meskipun dia duduk dalam waktu yang lama walaupun duduk sebelum mengerjakannya itu dimakruhkan. Ini berlandaskan kepada hadits mengenai seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid dan kemudian terus duduk, kemudian Nabi (s.a.w) menyuruhnya mengerjakan sholat (tahiyyah al-masjid) sesudah dia duduk.”

Imam Ahmad berkata: “Waktu sholat tahiyyah al-masjid tidak terlewatkan karena seseorang terus duduk dalam memasuki masjid selama waktunya tidak terlalu lama, tetapi waktu sholat tahiyyah al-masjid menjadi habis apabila dia telah duduk dalam waktu yang lama.”

Sedangkan Imam al-Syafi‟i
memerincikan masalah duduk ini. Dalam kaitan ini, beliau berkata: “Apabila duduk karena lupa mengerjakan sholat tahiyyah al-masjid, maka waktu sholat
tahiyyah al-masjid masih belum habis. Jika duduk bukan karena lupa, maka waktunya menjadi habis.” Adapun orang yang hanya sekedar lewat di dalam masjid, maka tidak dianjurkan mengerjakan sholat dua rakaat tahiyyah al-masjid disisi mazhab Maliki; tetapi menurut jumhur ulama dia tetap dianjurkan mengerjakannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 213 : KEUTAMAAN MERAWAT MASJID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB MASJID

HADITS KE 213 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( عُرِضَتْ عَلَيَّ أُجُورُ أُمَّتِي حَتَّى اَلْقَذَاةُ يُخْرِجُهَا اَلرَّجُلُ مِنْ اَلْمَسْجِدِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَاسْتَغْرَبَهُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Diperlihatkan kepadaku pahala-pahala umatku sampai pahala orang yang membuang kotoran dari masjid.” Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits Gharib menurut Tirmidzi dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) amat mengambil berat kebersihan masjid. Barang siapa yang membersihkan kotoran di dalam masjid meskipun itu sedikit, maka dia pasti memperoleh pahala, terlebih lagi bagi orang yang menyapu, membersihkan debu dan kotoran. Dengan demikian, dia pasti memperoleh ganjaran pahala yang lebih besar lagi. Barang siapa yang mencemari masjid atau mengotorkannya, dia mendapat dosa.

FIQH HADITS :

1. Allah tidak pernah menyia-nyiakan pahala seseorang yang melakukan amal kebaikan, meskipun amalnya itu sedikit.

2. Menerangkan yang Rasulullah (s.a.w) diperlihatkan oleh Allah mengenai perkara-perkara yang berkaitan dengan akhirat.

3. Dianjurkan membersihkan masjid dan mengeluarkan sampah dari dalamnya.

4. Dilarang memandang remeh amal kebaikan, betapa pun itu kecil, sebab bisa jadi itu menjadi penyebab dosa diampuni.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..