Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 129 : MENYEGERAKAN DAN MENGAKHIRKAN WAKTU SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 129 :

وَعَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيَ اَلْعَصْرَ ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إِلَى رَحْلِهِ فِي أَقْصَى اَلْمَدِينَةِ وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ مِنْ اَلْعِشَاءِ وَكَانَ يَكْرَهُ اَلنَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ اَلْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ اَلرَّجُلُ جَلِيسَهُ وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى اَلْمِائَةِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَعِنْدَهُمَا مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ: ( وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا: إِذَا رَآهُمْ اِجْتَمَعُوا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ وَالصُّبْحَ: كَانَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ)

وَلِمُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: ( فَأَقَامَ اَلْفَجْرَ حِينَ اِنْشَقَّ اَلْفَجْرُ وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا)

Abu Barzah al-Aslamy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah setelah usai shalat Ashar kemudian salah seorang diantara kami pulang ke rumahnya di ujung kota Madinah sedang matahari saat itu masih panas. Beliau biasanya suka mengakhirkan shalat Isya’ tidak suka tidur sebelumnya dan berbincang-bincang setelahnya. Beliau juga suka melakukan shalat Shubuh di saat seseorang masih dapat mengenal orang yang duduk disampingnya beliau biasanya membaca 60 hingga 100 ayat. Muttafaq Alaihi.

Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya’ pada awal waktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah berkumpul beliau segera melakukannya dan jika melihat mereka terlambat beliau mengakhirkannya sedang mengenai shalat Shubuh biasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menunaikannya pada saat masih gelap.

Menurut Muslim dari hadits Abu Musa: Beliau menunaikan shalat Shubuh pada waktu fajar terbit di saat orang-orang hampir tidak mengenal satu sama lain.

MAKNA HADITS :

Para sahabat mempunyai keistimewaan apabila dibandingkan dengan sahabat-sahabat nabi yang lain kerana mereka memiliki perhatian yang luar biasa untuk mengetahui ke semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan Rasulullah (s.a.w). Mereka kemudian menukilnya untuk diikuti dan disampaikan kepada generasi berikutnya sebagai satu ketetapan hukum syari’at. Oleh karena itu, mereka menggambarkan dengan jelas kepada kita tentang tatacara sholat yang pernah dilakukan oleh Nabi (s.a.w), batasan waktunya dan jumlah ayat yang dibacanya di samping sholat yang adakalanya baginda mengerjakannya di awal waktu dan adakalanya pula diakhirkan untuk menunggu orang ramai berhimpun dan ini merupakan salah satu kemaslahatan bagi umum.

FIQH HADITS :

1. Bersegera mengerjakan sholat Asar di awal waktunya.

2. Disunatkan mengakhirkan sholat Isyak sampai berlalu sepertiga malam jika itu tidak mengakibatkan kesukaran bagi para makmum.

3. Jangan kita membuat orang yang sudah berkumpul di dalam masjid atau surau untuk mengerjakan sholat berjamaah meninggalkan sholat jamaah, kerana kita lambat untuk mengerjakan sholat. Oleh sebab itu, apabila orang ramai sudah
berkumpul, maka segeralah untuk mengerjakan sholat berjamaah itu.

4. Makruh tidur sebelum mengerjakan sholat Isyak, sebab ada kalanya tidur itu membuat seseorang lupa untuk mengerjakan sholatnya atau paling tidak dia
akan mengerjakannya di akhir waktu.

5. Makruh jagongan/berbincang2 sesudah mengerjakan sholat Isyak, sebab jagongan sesudah mengerjakan Isyak dapat mengakibatkan seseorang lambat tidur malam sehingga dia sukar bangun tidur ketika sholat Subuh telah tiba. Apapun, Nabi (s.a.w) pernah berbincang-bincang dengan Abu Bakar (r.a) mengenai satu urusan yang berkaitan dengan kepentingan kaum muslimin. Antara perkara yang diperbolehkan untuk dibincang setelah mengerjakan sholat Isyak adalah seperti mengulang kaji pelajaran, menemui tamu atau menghadiri acara perkahwinan.

6. Berpagi buta untuk menghadiri sholat Subuh dan keluar masjid sesudah sinar pagi mulai terang sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas, yaitu:
“Ketika seseorang telah mengenali teman yang duduk berhampiran
dengannya.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 128 : WAKTU-WAKTU SHOLAT FARDHU YANG LIMA WAKTU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHOLAT*_

HADITS KE 128 :

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ نَبِيَّ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( وَقْتُ اَلظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ اَلشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرْ اَلْعَصْرُ وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبْ اَلشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ اَلْأَوْسَطِ وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ اَلشَّمْسُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَلَهُ مِنْ حَدِيثِ بُرَيْدَةَ فِي اَلْعَصْرِ: ( وَالشَّمْسُ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ )

وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: ( وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ)

Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang waktu shalat Isya hingga tengah malam dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit.” Riwayat Muslim.

Menurut riwayat Muslim dari hadits Buraidah tentang waktu shalat Ashar. “Dan matahari masih putih bersih.”

Dari hadits Abu Musa: “Dan matahari masih tinggi.”

MAKNA HADITS :

Sholat merupakan mikraj roh ke tingkatan yang tinggi dan merupakan munajat kepada Allah Tuhan Yang Esa. Dengan melakukan sholat seakan-akan kita berada di hadapan Tuhan Yang Maha Suci dan berkomunikasi dengan Allah Yang Maha Besar. Sholat itu diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, manakala peraturannya pula terdiri dari rukuk dan sujud, sedangkan zikir-zikirnya ialah tilawah (al-Qur‟an), tasbih dan do’a.

Sholat merupakan amalan yang dapat membedakan antara orang mukmin dengan orang kafir dan ia adalah rukun Islam yang kedua. Hisab amal yang dilakukan ke atas seorang manusia kelak pada hari kiamat adalah amal solatnya.

Azan disyari’atkan untuk mengerjakan sholat dan untuk melaksanakan sholat maka dibangunkanlah masjid-masjid agar dapat menjadi tempat tumpuan kaum muslimin mendirikan sholat. Barang siapa yang mendirikannya (mengerjakannya) bererti orang itu mendirikan agama dan barang siapa yang meninggalkannya berarti orang itu termasuk orang yang merugi dan diserupakan dengan orang munafik, sedangkan orang yang mengingkarinya dinyatakan sebagai kafir. Syariat Islam telah menentukan waktu-waktu solat untuk kemudian dijaga dan sebagai isyarat yang menunjukkan keutamaannya.

FIQH HADITS :

1. Penjelasan untuk mengetahui waktu-waktu sholat fardu yang lima waktu.

2. Bersegera mengerjakan sholat ‘Asar di permulaan waktunya.

Wallahu a’lam bisshowab..

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 127 : TIDAK DIWAJIBKAN MENGKODHO’ SHOLAT BAGI WANITA YANG NIFAS

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB HAID*_

HADITS KE 127 :

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَتِ اَلنُّفَسَاءُ تَقْعُدُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ نِفَاسِهَا أَرْبَعِينَ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ وَاللَّفْظُ لِأَبِي دَاوُد

وَفِي لَفْظٍ لَهُ ( وَلَمْ يَأْمُرْهَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَضَاءِ صَلَاةِ اَلنِّفَاسِ ) وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِم

Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Wanita-wanita yang sedang nifas pada masa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam meninggalkan shalat selama 40 hari semenjak darah nifasnya keluar. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i dan lafadznya dari Abu Dawud.

Dalam lafadz lain menurut riwayat Abu Dawud: Dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak menyuruh mereka mengqadla shalat yang mereka tinggalkan saat nifas. Hadits ini shahih menurut Hakim.

MAKNA HADITS :

Islam memberi keringanan kepada wanita yang nifas dan menyamakannya dengan wanita yang haid, dimana mereka tidak boleh sholat dan puasa. Malah Islam memanjangkan masa nifas hingga empat puluh hari. Ia wajib mengqadha’ puasa fardhu yang ditinggalkannya selama nifas, namun tidak demikian dengan sholat dan ini merupakan satu kemudahan baginya. Jika seorang perempuan telah merasa suci sebelum masa empat puluh hari, maka dia mesti bersuci, dan tidak ada batasan minimum bagi masa nifas.

FIQH HADITS :

1. Batasan maksimum nifas ialah empat puluh hari menurut pendapat jumhur ulama. Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa batasan maksimumnya adalah enam puluh hari, meskipun biasanya hanya memerlukan empat puluh hari,
sedangkan batasan minimumnya ialah setetes, (yakni hanya sekali
mengeluarkan darah). Imam Malik dan Imam Ahmad mengatakan tidak ada batasan minimum bagi tempoh nifas. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa masa nifas itu terbatas, yaitu selama dua puluh lima hari. Abu Yusuf mengatakan sebelas hari, sedangkan al-Hasan al-Basri mengatakan dua puluh hari.

2. Tidak ada qadha’ bagi sholat yang ditinggalkan selama masa nifas, kerana Nabi (s.a.w) tidak menyuruh kaum wanita berbuat demikian. Pada asalnya qadha’ itu tidak diwajibkan kecuali kerana adanya perintah yang baru dan perintah yang baru ini telah disebutkan dalam masalah puasa melalui firman-Nya:

…فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر… (البقرة : ١٨٤)

“… Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…” (Surah al-Baqarah: 184)

Di sini tidak ada perintah baru yang mewajibkan mengqadha’ sholat yang ditinggalkan selama nifas. Jadi, hukum asal, yaitu tidak wajib qadha sholat mesti tetap dikekalkan. Hadis ini menyanggah pendapat sekumpulan Khawarij yang mengatakan sholat yang ditinggalkan oleh wanita yang haid dan nifas wajib diqadha’.

3. Menjelaskan hukum darah yang keluar sesudah bersalin. Jika darah tersebut terus mengalir selama empat puluh hari, maka dalam masa itu wanita tersebut tidak boleh sholat dan tidak boleh pula berpuasa. Tetapi apabila tetap mengalir hingga melebihi tempoh empat puluh hari, maka hukum darah tersebut adalah darah istihadhah yang ketentuan hukumnya telah disebutkan dalam hadits-hadits sebelum ini.

KESIMPULAN :

Hadis yang disebut dalam bab haid ini menunjukkan kesimpulan berikut:

1. Menjelaskan perbedaan warna darah haid dengan darah istihadhah, tempat keluarnya, cara untuk membedakan diantara keduanya dan demikian pula hukumnya.

2. Wanita yang haid tidak boleh mengerjakan sholat dan puasa selama masa haid. Dia wajib mengqadha’ puasanya, tetapi tidak wajib mengqadha’ sholatnya. Selama masa itu, suaminya tidak boleh menyetubuhinya. Jika suami
menyetubuhinya, maka dia mesti membayar kifarat menurut pendapat Imam Ahmad. Menurut jumhur ulama, suami boleh menggaulinya, tetapi pada bagian atas kain. Tetapi Imam Ahmad membolehkan untuk menggaulinya, meskipun dibawah kainnya (kecuali farjinya).

3. Perkiraan masa istihadhah ditentukan berdasarkan kebiasaan sebelum itu atau membandingkannya dengan wanita lain yang sebaya dengannya. Dibolehkan baginya mengerjakan sholat dan puasa, dan suaminya boleh menyetubuhinya, dan disunatkan baginya mengerjakan sholat secara jamak shuri.

4. Perkiraan masa nifas sama dengan wanita yang haid di mana mereka tidak boleh mengerjakan solat dan puasa. Tidak diwajibkan mengqadha’ sholat yang ditinggalkan selama masa nifas, tetapi wajib mengqadha’ puasanya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 126 : LARANGAN MENGGAULI ISTRI YANG LAGI HAID ANTARA PUSAR DAN LUTUT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB HAID*_

HADITS KE 126 :

وَعَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه ( أَنَّهُ سَأَلَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنِ اِمْرَأَتِهِ وَهِيَ حَائِضٌ؟ قَالَ: مَا فَوْقَ اَلْإِزَارِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَضَعَّفَه

Dari Muadz Ibnu Jabal Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang apa yang dihalalkan bagi seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haid. Beliau menjawab: Apa yang ada di atas kain. Diriwayatkan dan dianggap lemah oleh Abu Dawud.

MAKNA HADITS :

Membendung semua kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya (sadd al-dzari’ah) merupakan salah satu prinsip syariat yang agung. Islam amat mengambil berat masalah ini, kerana mengabaikan sarana atau washilah boleh mengakibatkan
ketidakseimbangan dalam menempuh tujuan.

Di dalam satu hadits disebutkan:
فمن حام حول الحمى يوشم أن يقع فيه
“Barang siapa yang berkeliling di sekitar tempat yang dilarang, dia dikawatiri akan terjerumus masuk ke dalamnya.”

Oleh karena itu, Islam hanya membolehkan bersenang-senang dengan isteri yang sedang haid dalam batasan di luar kain dan bukan pada bagian dalamnya. Diantara ulama ada yang menganggapnya sebagai wajib sebagai langkah berjaga-jaga dan ada pula yang menganggapnya sebagai sunat.

FIQH HADITS :

Diharamkan menggauli anggota tubuh isteri yang ditutup oleh kain, yaitu antara pusar dan lutut. Makna hadis ini membatasi keumuman makna yang terdapat dalam hadits sebelum ini yang mengatakan:

اصنعوا كل شيء الا النكاح

“Lakukanlah segala sesuatu kecuali nikah (bersetubuh).”

Apa yang dibolehkan untuk digauli hanyalah anggota tubuh bagian luaran atau bagian atas kain sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini. Tetapi menurut pendapat Imam Ahmad, menggauli antara pusar dan lutut diperbolehkan, meskipun tanpa penghalang dan ini berlandaskan kepada keumuman makna hadits di atas tadi, yaitu: “Lakukanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh.” Perintah memakai kain menurutnya hanya mengandung makna sunat, bukannya wajib.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 125 : LARANGAN TOWAF BAGI WANITA YANG SEDANG HAID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB HAID*_

HADITS KE 125 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( لَمَّا جِئْنَا سَرِفَ حِضْتُ فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اِفْعَلِي مَا يَفْعَلُ اَلْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ فِي حَدِيث

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ketika kami telah tiba di desa Sarif (terletak di antara Mekah dan Madinah) aku datang bulan. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang haji namun engkau jangan berthawaf di Baitullah sampai engkau suci. Muttafaq Alaihi dalam hadits yang panjang.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menetapkan cara penyelesaian bagi permasalahan yang dialami oleh kaum wanita ketika melakukan ibadah haji. Oleh sebab itu, baginda menjelaskan wanita yang sedang haid dan nifas dinyatakan sah melakukan semua amal ibadah haji atau umrah kecuali bertawaf di Baitullah, kerana syarat bertawaf adalah suci. Jika seorang wanita telah bersuci dari haid atau nifas, maka ketika itu dia baru dibolehkan memasuki Masjid al-Haram untuk kemudian bertawaf.

Ini merupakan salah satu rahmat bagi kaum wanita dan merupakan salah satu kemudahan agama Islam sekaligus menjelaskan keutamaan tawaf, dimana seorang wanita turut disyaratkan mematuhi syarat ketika hendak mengerjakan sholat, yaitu bersuci dan menutup aurat.

FIQH HADITS :

1. Wanita yang sedang haid dilarang tawaf sebelum bersuci dari haid, kerana suci merupakan salah satu syarat bagi sahnya tawaf.

2. Wanita yang haid diperbolehkan melakukan semua manasik haji yang lain kerana manasik haji itu tidak bergantung kepada keadaan suci sebagaimana tawaf dan sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 124 : WANITA HAID TIDAK BOLEH SHOLAT DAN PUASA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 124 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ فِي حَدِيث

Dari Abu Said Al-Khudry bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Bukankah wanita itu jika datang haid tidak boleh shalat dan berpuasa. Muttafaq Alaihi dalam hadits yang panjang.

MAKNA HADITS :

Akal dan fikiran wanita itu lemah. Jika sedang emosi, dia tidak mau mengakui jasa besar yang selama ini diterimanya, berpura-pura melupakan kebaikan malah
kadangkala melupakannya sama sekali. Dia seringkali memendam kejahatan dan menyukai perbuatan jahat. Kesaksiannya adalah separuh kesaksian lelaki dan agamanya pula dianggap kurang yang bermaksud belum sempurna. Syari’at Islam
mengakui kekurangan agama kaum wanita sebagaimana yang dikandung oleh hadits di atas bahwa: “Wanita sering kali tidak sadar terhadap apa yang dikatakannya. Jika engkau mengabaikan permintaannya meskipun itu baru yang pertama kali, dia pasti melupakan semua yang pernah engkau berikan kepadanya sebelum ini berupa kebaikan-kebaikan dan dia mengingkarinya seakan-akan semua itu tidak pernah wujud. Dia gemar mencaci dan memaki hingga mulutnya berbuih. Dia pandai merayu hati dan menguasai akal melalui kata-katanya yang memukau bagaikan sihir yang manis seperti madu.” Semoga Allah memperbaiki tingkah laku mereka dan menunjukkan jalan yang lurus kepada kita.

FIQH HADITS :

1. Allah memperlihatkan kepada Rasul-Nya apa yang bakal terjadi di akhirat kelak berupa pahala dan siksaan, hingga baginda dapat menceritakannya kepada para sahabatnya. Tujuannya supaya orang yang baik akan bertambah
kebaikannya dan orang jahat segera menghentikan perbuatan jahatnya.

2. Anjuran untuk bersedekah, karena sedekah dapat menghilangkan kemurkaan Allah.

3. Membuktikan adanya neraka.

4. Kebanyakan wanita adalah penghuni neraka kerana mereka seringkali mengingkari kebaikan suaminya dan gemar mengeluarkan kata-kata laknat.

5. Dalil yang menunjukkan kurangnya akal wanita, kerana kesaksian mereka dianggap separuh dari kesaksian lelaki. Dengan arti kata lain, untuk mengimbangi kesaksian seorang lelaki mestilah wujud dua orang wanita.

6. Dalil yang menunjukkan kurangnya agama wanita, kerana wanita tidak boleh bersholat dan berpuasa dalam masa haid dan demikian pula dalam masa nifasnya.

7. Bersuci merupakan syarat bagi sahnya sholat dan puasa.

8. Wanita yang berhaid diwajibkan mengqadha’ puasanya, tetapi tidak wajib mengqadha” sholatnya, kerana ada nash yang mewajibkan mereka supaya mengqadha’ puasa, sedangkan sholat tidak wajib diqadha’ kerana wujud masyaqqah (kesukaran) memandangkan bilangan solat yang mesti diqadha’ terlampau banyak dan bercanggah dengan prinsip agama itu mudah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

DOKUMEN KAJIAN 1 HARI 1 HADITS IKABA, BAB THAHARAH-HAID : 001-127

Silahkan buka link berikut ini :

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/01/kajian-hadits-ikaba.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/01/kajian-hadits-ikaba-10-20.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/01/kajian-hadits-ikaba-21-30.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/01/kajian-hadits-ikaba-31-40.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/02/kajian-hadits-ikaba-41-50.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/02/kajian-hadits-ikaba-51-60.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/02/kajian-hadits-ikaba-61-70.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/03/kajian-hadits-ikaba-71-80.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/03/kajian-hadits-ikaba-81-90.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/03/kajian-hadits-ikaba-91-100.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/04/kajian-hadits-ikaba-101-110.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/04/kajian-hadits-ikaba-111-120.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/04/kajian-hadits-ikaba-121-127.html?m=1

HADITS KE 123 : ANJURAN BERSEDEKAH BAGI ORANG YANG TERLANJUR MENJIMAK ISTRINYA DALAM KEADAAN HAID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 123 :

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم -فِي اَلَّذِي يَأْتِي اِمْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ- قَالَ: ( يَتَصَدَّقُ بِدِينَارٍ أَوْ نِصْفِ دِينَارٍ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَابْنُ اَلْقَطَّانِ وَرَجَّحَ غَيْرَهُمَا وَقْفَه

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang orang yang mencampuri istrinya ketika dia sedang haid. Beliau bersabda: Ia harus bersedakan satu atau setengah dinar. Riwayat Imam Lima. Shahih menurut Hakim dan Ibnul Qaththan dan mauquf menurut yang lainnya.

MAKNA HADITS :

Dalam kehidupan ini ada ketikanya seseorang dikalahkan oleh hawa nafsu yang melampaui batas hingga akhirnya nafsu itu merosakkan akal sehat dan hati nurani. Dia pun akhirnya melakukan perbuatan yang merbahaya dan tidak mampu mengelakkan diri dari perbuatan dosa. Dia menyetubuhi isterinya ketika sedang haid.

Sebahagian ulama menganjurkan seseorang yang menyetubuhi isterinya ketika sedang haid supaya bersedekah sebanyak satu dinar apabila dia menyetubuhi isterinya pada permulaan masa haid. Hukuman ini dijatuhkan ke
atasnya kerana dia baru saja menjimak isterinya. Oleh itu, perbuatannya itu tidak dapat dimaafkan dan hukumannya pun berat. Lain halnya apabila dia
menyetubuhi isterinya ketika masa haid menjelang berakhir, maka hukumannya diringankan menjadi setengah dinar saja.

Sebahagian ulama yang lain mengatakan bahwa menyetubuhi isteri ketika sedang haid adalah satu dosa yang tidak semestinya bersedekah kerananya dan
kafaratnya ialah sudah memadai dengan beristighfar memohon ampun di atas perbuatan itu.

FIQH HADITS :

Disunatkan bersedekah senilai satu dinar atau setengah dinar bagi orang yang menggauli isterinya ketika sedang haid menurut Imam Al-Syafi’i dan Imam Ahmad.

Sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah tidak
semestinya bersedekah, sebaliknya suami yang menyetubuhi isterinya ketika sedang haid cukup beristighfar memohon ampun kepada Allah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 122 : BOLEH BERCUMBU DENGAN ISTRI YANG LAGI HAID KECUALI JIMAK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 122 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah menyuruh kepadaku mengenakan kain dan aku laksanakan lalu beliau menyentuhkan badannya kepadaku padahal aku sedang haid. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) membolehkan kita bersenang-senang dengan isteri yang sedang berhaid, meskipun ia memiliki ketentuan terhad. Di sini baginda menyuruh isterinya memakai kain yang menutupi anggota tubuhnya antara pusar dengan lutut, sebab kawatir akan terlanjur melakukan persetubuhan yang diharamkan.

FIQH HADITS :

1. Seorang suami diperbolehkan bersenang-senang dengan isterinya yang sedang haid dengan berbagai cara sekalipun kecuali bersetubuh, tetapi dengan syarat istrinya memakai kain yang menutupi anggota tubuh antara pusat dan lutut hingga ke pahanya. Hal ini untuk menjaga agar tidak sampai terlanjur melakukan persetubuhan yang tidak dibolehkan.

2. Diperbolehkan bersentuhan kulit pada bagian anggota tubuh di atas pusar dan di bawah lutut secara mutlak, baik memakai penghalang ataupun tidak.

3. Tubuh wanita yang haid tetap dianggap bersih.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..