Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 240 : CARA SUJUD BAGI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 240 :

وَعَنْ اِبْنِ بُحَيْنَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Buhainah bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila sholat dan sujud merenggangkan kedua tangannya sehingga tampak putih kedua ketiaknya. Muttafaq Alaihi.

HADITS KE 241 :

وَعَنْ اَلْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari al-Barra Ibnu ‘Azib Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sujud letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua siku-sikumu.” Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Sujud merupakan salah satu rukun sholat dan seseorang mestilah menekan anggota-anggotanya ke atas lantai untuk memastikan sujud yang dilakukannya sempurna. Ini tidak dapat dilakukan dengan sempurna melainkan apabila seseorang merenggangkan kedua tangannya hingga tidak melekat pada kedua sisi lambungnya. Sedangkan wanita ketika sujud tidak dituntut untuk berbuat demikian karena dikawatiri kecantikannya terlihat.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menjarakkan kedua lengan dengan kedua sisi lambung ketika bersujud supaya setiap anggota sujud berada pada tempatnya dengan rapi.

2. Tidak boleh meletakkan kedua hasta (lengan) di atas tanah ketika sedang sujud, agar tidak seperti haiwan buas yang sedang mendekam.

3. Menjelaskan cara sujud yang disyariatkan dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas tanah dan mengangkat kedua siku dari tanah, tidak melekatkannya di atas tanah. Hikmahnya adalah cara ini lebih memantapkan lagi kening dan hidung melekat ke tanah di samping menonjolkan gaya tawadhu’ (rendah diri) dan menjauhi kebiasaan pemalas. Ini karena seseorang yang melekatkan kedua sikunya ke tanah mirip dengan hewan buas sekaligus memberikan satu pemahaman tentang keadaan orang yang gegabah dalam sholat dan tidak menghadap dengan sepenuh hatinya. Ketentuan ini hanya berlaku bagi lelaki, sedangkan wanita tidak perlu berbuat demikian kerana berlandaskan kepada hadis yang menceritakan bahwa Rasulullah (s.a.w) pada suatu hari berjumpa dengan dua orang wanita yang sedang sholat lalu baginda bersabda kepada keduanya:

إذا سجدتما فضمَّا بعض اللحم إلى الأرض ؛ فإن المرأة ليست في ذلك كالرجل

“Jika kamu berdua sujud, maka rapatkan sebagian anggota tubuhmu ke tanah, karena sesungguhnya wanita dalam masalah ini tidak sama seperti laki-laki.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 239 : ANGGOTA SUJUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 239 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ : عَلَى اَلْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ اَلْقَدَمَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang pada dahi. Beliau menunjuk dengan tangannya pada hidungnya kedua tangan kedua lutut dan ujung-ujung jari kedua kaki.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Memandang tujuan sujud dengan kening adalah sebagai ungkapan kehinaan dan tunduk kepada Allah, sedangkan hidung tidak dapat menggantikan peranan kening untuk mengungkapkan hal tersebut, maka sujud mesti dilakukan pada kening. Oleh karena sukar membuktikan yang Nabi (s.a.w) sujud di atas keningnya, maka isyarat Rasulullah (s.a.w) yang ditujukan ke hidungnya jika memberikan pemahaman bahwa hidung mesti menyentuh lantai ketika sujud, maka itu tidak bererti hidung dan kening merupakan satu kesatuan di mana sujud sudah mencukupi dengan menyentuhkan salah satu darinya ke lantai.

FIQH HADITS :

1. Wajib sujud di atas tujuh anggota tersebut. Imam al-Syafi‟i dan Imam Ahmad berkata: “Wajib sujud di atas sebagian anggota yang tujuh itu.” Mazhab Maliki dan mazhab Hanafi mengatakan, wajib sujud di atas kening, dan sujud di atas anggota yang selainnya hanyalah sunat.

2. Disyariatkan sujud di atas kening dan hidung. Imam Ahmad mengatakan wajib menggabungkan di antara keduanya. Untuk itu, seandainya seseorang sujud hanya dengan salah satu darinya, maka tidak mencukupi. Imam Abu Hanifah berkata: “Jika seseorang sujud dengan salah satu di antara kedua sujudnya, maka itu dianggap mencukupi, tetapi makruh.” Imam Malik dan Imam al-Syafii berkata: “Apa yang diwajibkan ketika sujud ialah meletakkan kening,
sedangkan sujud di atas hidung hukumnya sunat.” Menurut Imam Malik lagi, seseorang hendak mengulangi sujud jika tidak sujud di atas hidungnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 238 : BACAAN DI WAKTU I’TIDAL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 238 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ اَلرُّكُوعِ قَالَ : ” اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ اَلْحَمْدُ مِلْءَ اَلسَّمَوَاتِ وَمِلْءَ اَلْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ أَهْلَ اَلثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ اَلْعَبْدُ – وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ – اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا اَلْجَدِّ مِنْكَ اَلْجَدُّ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam jika telah mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau berdo’a “(artinya = Ya Allah Tuhan kami segala puji bagi-Mu sepenuh langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pemilik puji dan kemuliaan segala yang diucapkan oleh hamba. Kami semua menghambakan diri pada-Mu. Ya Allah tidak ada yang kuasa menolak apa yang Engkau cegah dan tidak bermanfaat keagungan bagi yang memiliki keagungan karena keagungan itu dari Engkau juga).” Hadits riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) telah dianugerahkan Jawami’ al-Kalim dan oleh kerananya, do’a yang baginda baca adalah do’a yang paling sempurna. Rasulullah (s.a.w) sentiasa berdo’a ketika dalam sholat; ketika sujud, ketika tasyahhud terakhir sebelum salam, dan ketika mengangkat tubuh dari rukuk. Hadis ini mengandung salah satu do’a ma’tsur. Do’a ini dibaca sesudah mengangkat tulang belakang dari rukuk yang di dalamnya memuatkan pujian, sanjungan, pengakuan, dan memohon belas kasih serta rahmat dari Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan membaca zikir yang diajarkan oleh Nabi (s.a.w) ketika i’tidal sewaktu rukuk.

2. Diwajibkan i’tidal dan tuma’ninah di dalam rukuk.

3. Setiap orang yang sholat disunatkan menggabungkan antara mendengarkan bacaan dan bacaan tahmid ketika i’tidal setelah rukuk, baik sebagai imam, makmum atau pun ketika sholat sendirian.

4. Menyerahkan semua urusan kepada Allah (s.w.t), tunduk kepada-Nya, mengakui keesaan-Nya dan menjelaskan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan kebaikan serta keburukan semuanya datang dari-Nya.

5. Dianjurkan meninggalkan urusan duniawi yang tidak membawa manfaat untuk akhirat dan berzuhud terhadapnya, karena dunia merupakan rumah yang fana (tidak kekal).

6. Anjuran memperbanyak amal sholeh ketika menghadap kepada Allah dalam sholat, karena amal sholeh dapat memberikan manfaat bagi orang yang melakukannya kelak pada hari kiamat di hadapan Allah (s.w.t).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 236 : BACAAN KETIKA SUJUD DAN RUKUK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 236 :

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ : “سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ] رَبَّنَا] وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam ruku’ dan sujudnya membaca: “subhaanaka allaahumma rabbanaa wabihamdika allahummaghfirlii (artinya Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami dengan memuji-Mu ya Allah ampunilah aku).” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) menjelaskan kepada kita cara bertasbih dan berdo’a ketika rukuk dan sujud yang antara lain adalah membaca:

سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي

Memohon ampun dan bertasbih pada hakikatnya mengamalkan apa yang diperintah oleh Allah menerusi firman-Nya:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat.” (Surah al-Nashr: 3)

Nabi (s.a.w) adalah orang yang maksum (terpelihara dari dosa) dan diampuni. Baginda membaca tasbih atau do’a ini hanya semata-mata untuk menunaikan hak dirinya sebagai seorang hamba sekaligus mengagungkan kedudukan Allah dan bertujuan mengajarkan umatnya.

FIQH HADITS :

1. Ketika rukuk dan sujud disyariatkan membaca zikir yang telah diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w).

2. Rasulullah (s.a.w) bersegera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah yang dalam hal ini perintah untuk memohon ampun dan membaca tasbih.

3. Zikir disyariatkan untuk dibaca ketika rukuk mestilah mengandung makna mengagungkan Allah (s.w.t), tetapi ia tidak bertentangan dengan hadis yang mengatakan:

أمَّا الرُّكوعُ فعظِّمُوا فيْه الربَّ

“Ketika rukuk, maka agungkanlah Tuhan oleh kamu di dalamnya.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 235 : LARANGAN MEMBACA AL-QUR’AN KETIKA SUJUD DAN RUKUK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 235 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ اَلْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا اَلرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ اَلرَّبَّ وَأَمَّا اَلسُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ketahuilah bahwa aku benar-benar dilarang untuk membaca al-Qur’an sewaktu ruku’ dan sujud adapun sewaktu ruku’ agungkanlah Tuhan dan sewaktu sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a karena besar harapan akan dikabulkan do’amu. Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Rukuk dan sujud merupakan rukun sholat. Keduanya menunjukkan kepada suatu keadaan dimana seorang hamba merasa hina dan rendah diri ketika berada di hadapan Allah. Rasulullah (s.a.w) dilarang membaca sebarang ayat Al-Qur’an dalam dua keadaan tersebut dan diisi dengan membaca zikir khusus berupa tasbih dalam rukuk dan tasbih serta do’a dalam sujud. Ketika sujud, seseorang dibolehkan membaca do’a-do’a yang bersangkutan dengan kebaikan dunia dan akhirat, karena sujud merupakan satu keadaan dimana do’a dimakbulkan.

FIQH HADITS :

1. Dilarang membaca al-Qur’an ketika rukuk dan sujud, karena kedua keadaan ini merupakan keadaan yang pada zahirnya adalah menghinakan diri. Apa yang dianjurkan bagi seseorang yang hendak membaca al-Qur’an adalah membacanya dalam keadaan yang terhormat demi memuliakan al-Qur’an sekaligus menghormati si pembaca yang kedudukannya seakan-akan sedang berbicara dengan Allah (s.w.t).

2. Disyariatkan memperdengarkan bacaan “سبحان ربي العظيم وبحمده” Malah Imam Ahmad mewajibkan untuk memperdengarkan bacaan tasbih ini, tetapi jumhur ulama menganggapnya sebagai sunat dengan berdalilkan hadis orang yang tidak sempurna dalam sholatnya. Ini karena dalam hadis tersebut Rasulullah (s.a.w) tidak mengajarkan bacaan tasbih itu kepadanya. Jika membaca tasbih itu wajib, niscaya baginda menyuruh untuk membacanya.

3. Ketika sujud disyariatkan berdo’a dengan bacaan-bacaan do’a untuk memohon kebaikan dunia dan akhirat serta memohon perlindungan dan keburukan keduanya. Imam Ahmad mengatakan bahwa do’a ini hukumnya wajib, sedangkan menurut jumhur ulama hukum membaca do’a ini adalah sunat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 234 : ANJURAN MEMOHON RAHMAT DAN PERLINDUNGAN KETIKA MEMBACA AYAT RAHMAT DAN AYAT ADZAB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 234 :

وَعَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ : (صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَمَا مَرَّتْ بِهِ آيَةُ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ عِنْدَهَا يَسْأَلُ وَلَا آيَةُ عَذَابٍ إِلَّا تَعَوَّذَ مِنْهَا) أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ

Hudzaifah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku sholat bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setiap melewati bacaan ayat tentang rahmat beliau berhenti untuk berdo’a meminta rahmat dan setiap melewati bacaan tentang adzab beliau berhenti untuk berdo’a meminta perlindungan dari-Nya. Dikeluarkan oleh Imam Lima. Hadits hasan menurut Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Para nabi dan rasul adalah orang yang terpelihara dari berbuat kesalahan. Sungguhpun begitu, mereka senantiasa merasa takut kepada Allah, selalu memohon ampunan kepada-Nya dan takut akan siksa-Nya. Mereka senantiasa bertafakur ketika membaca kitab samawi dan memohon supaya dimasukkan ke dalam syurga ketika membaca kisah yang berkaitan dengannya, dan memohon perlindungan kepada Allah ketika membaca ayat-ayat azab-Nya, supaya Allah memelihara mereka dari dijerumuskan ke dalam neraka dan siksa-Nya. Apa yang disebutkan
dalam hadis ini yang antara lain do’a, tangisan dan permohonan Nabi (s.a.w) barangkali dilakukan ketika mengerjakan sholatul lail sebagaimana yang difahami
dari hadis Imam Ahmad dan Abu Dawud.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan untuk memikirkan makna ayat-ayat yang dibaca ketika dalam sholat.

2. Disyariatkan memohon rahmat ketika dalam sholat apabila sampai pada ayat yang di dalamnya menceritakan rahmat, dan memohon perlindungan ketika
sampai pada ayat yang di dalamnya menceritakan makna siksaan atau azab. Inilah pendapat mazhab al-Syafi’i dimana mereka mengatakan bahwa dalam kaitan ini tidak ada perbedaan antara imam, makmum atau orang yang sholat sendirian, baik dalam sholat fardu maupun sgolat sunat; semuanya harus
memohon rahmat ketika membaca ayat rahmat dan memohon perlindungan ketika membaca ayat azab. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa itu hanya disunatkan ketika mengerjakan sholat sunat, bukannya dalam sholat fardu. Hal
yang sama turut dikemukakan pula oleh mazhab Maliki, dimana mereka mengatakan bahwa berdo’a ketika sedang membaca ayat al-Qur’an dalam sholat fardu hukumnya makruh, kecuali bagi makmum. Makmum boleh membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w) apabila sebutannya dituturkan dalam bacaan al-Qur’an, dibolehkan memohon surga apabila membaca ayat yang di dalamnya dikisahkan tentang surga, dan dibolehkan memohon perlindungan dari neraka apabila membaca ayat yang di dalamnya dikisahkan tentang neraka.
Imam Ahmad meriwayatkan satu hadis dari Abdul Rahman ibn Abu Laila dari ayahandanya, beliau berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ في صلاة ليست بفريضة، فمرت بذكر الجنة والنار، فقال : أعوذ بالله من النار، ويل لأهل النار

“Saya pernah mendengar Nabi (s.a.w) membaca al-Qur’an ketika dalam sgolat yang bukan sholat fardu, lalu baginda membaca ayat yang menyebutkan tentang surga dan neraka. Maka baginda berdoa: “Aku berlindung kepada Allah dari neraka, celakalah bagi penghuni neraka itu.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 233 : SURAH YANG DIBACA KETIKA SHALAT SUBUH PADA HARI JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 233 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَلله صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمْعَةِ : (الم تَنْزِيلُ ) اَلسَّجدَةَ و (هَلْ أَتَى عَلَى اَلْإِنْسَانِ) ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِلطَّبَرَانِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ مَسْعُودٍ : ( يُدِيمُ ذَلِكَ)

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam sholat Shubuh pada hari jum’at biasanya membaca (Alif Laam Mim Tanziil) Al-Sajadah dan (Hal ataa ‘alal insaani). Muttafaq Alaihi.

Menurut riwayat Thabrani dari hadits Ibnu Mas’ud: Beliau selalu membaca surat tersebut.

MAKNA HADITS :

Surah-surah al-Qur’an banyak mengandung pengajaran dan peringatan yang tidak samar lagi bagi orang yang berakal. Rasulullah (s.a.w) istiqamah membaca dua surah ketika mengerjakan sholat Subuh hari Jum’at, yaitu Surah al-Sajdah dan Surah al-Dahr. Kedua surah ini mengandung berita yang telah terjadi dan berita yang bakal terjadi pada hari Jum’at. Di dalamnya mengandung berita tentang penciptaan Adam (a.s), perhimpunan semua hamba Allah, dan kisah yang bakal terjadi di akhirat. Dengan membaca kedua surah ini berarti kita telah mengingatkan diri kita tentang hari kiamat dan sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat bahwa hari kiamat kelak terjadi pada hari Jum’at.

FIQH HADITS :

1. Menguatkan suara bacaan al-Qur’an ketika mengerjakan sholat Subuh.

2. Disunatkan membaca Surah al-Sajadah dan Surah al-Insan ketika mengerjakan sholat Subuh pada hari Jum’at. Inilah pendapat Imam al-Syafi0’i dan Imam Ahmad. Namun Imam Ahmad mengatakan makruh apabila ia dijadikan satu kebiasaan. Imam Abu Hanifah mengatakan, membaca kedua-dua surah tersebut dalam sholat Subuh hari Jum’at hukumnya sunat apabila berniat mengikuti Sunnah Nabi (s.a.w). Jika seseorang membaca suatu ayat al-Qur’an secara khusus), maka hukumnya makruh, karena itu bererti mengenyampingkan yang lain dan cenderung mengutamakan ayat al-Qur’an tertentu ke atas yang

lain. Imam Malik mengatakan, makruh apabila sengaja membaca surah tertentu yang di dalamnya terdapat ayat al-Sajadah ketika mengerjakan solat fardu, tetapi beliau membolehkannya apabila di belakang imam hanya terdapat sedikit makmum, karena itu tidak dikawatiri akan membuat mereka bingung. Ibn Hubaib merincikan pendapat Imam Malik dengan mengatakan boleh membaca surah yang di dalamnya terdapat ayat al-Sajadah dalam solat jahriyyah, bukan dalam sholat sirriyyah, sebab ketika membacanya dalam sholat jahriyyah maka itu tidak akan membuat makmum menjadi bingung. Ibn Basyir mengatakan bahwa pendapat yang sahih ialah boleh membacanya meskipun dalam sholat sirriyah karena Rasulullah (s.a.w) membiasakan membaca surah yang di dalamnya terdapat ayat al-Sajadah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 232 : SURAH YANG DIBACA DALAM SHALAT MAGHRIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 232 :

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ : ( سَمِعْت رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Jubair Ibnu Muth’im Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat At-Thur dalam sholat maghrib. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) mengalami berbagai keadaan dimana baginda mesti menitik beratkan keadaan makmum dalam sholat. Ketika mengerjakan sholat Maghrib ada
kalanya baginda membaca surah mufassal yang pendek dan ini merupakan kebiasaan yang kerap dilakukannya sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Sulaiman ibn Yasar sebelum ini. Ada kalanya pula baginda membaca surah mufasshal yang panjang ketika mengerjakan sholat Maghrib, seperti membaca Surah al-Thur, dan ada kalanya baginda membaca surah seperti al-A’raf dan al-An’am.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan membaca surah mufasshal yang panjang dalam sholat Maghrib.

2. Menguatkan suara bacaan dalam sholat Maghrib.

3. Diperbolehkan menerima riwayat Jubair dalam kisah ini, meskipun ketika beliau mendengarnya masih belum masuk Islam, karena yang penting ialah kisah itu sendiri, bukan keadaan atau status orang yang menceritakannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 231 : RINCIAN BACAAN SURAH MUFASSAL DALAM SHALAT LIMA WAKTU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 231 :

وعن سليمان بن يسار رضي الله عنه قال: كان فلان يطيل الأوليين من الظهر ويخفف العصر، ويقرأ في المغرب بقصار المفصل، وفي العشاء بوسطه، وفي الصبح بطواله، فقال أبو هريرة : ما صليت وراء أحد أشبه صلاة برسول الله صلى الله عليه وسلم من هذا . أخرجه النسائي بإسناد صحيح

Dari Sulaiman ibn Yasar (r.a), beliau berkata: “Si fulan selalu
memperpanjang bacaannya pada dua rakaat pertama sholat dzuhur dan meringankan (mempersingkat bacaan ketika mengerjakan) sholat Asar. Dalam sholat Maghrib, dia
membaca surah-surah yang pendek, sedangkan ketika mengerjakan sholat Isyak, membaca surah-surah yang pertengahan dan dalam sholat Subuh membaca surah-surah yang panjang. Mendengar itu, Abu Hurairah berkata: “Aku belum pernah sholat di belakang seorang pun yang sholatnya mirip dengan sholat Rasulullah (s.a.w)
selain dari orang ini (maksudnya si fulan tersebut).” (Diriwayatkan oleh al-Nasa’i dengan sanad yang sahih)

MAKNA HADITS :

Subuh dan Dzuhur merupakan waktu istirahat dan oleh kerananya, disyariatkan memperpanjang bacaan pada kedua sholat tersebut supaya orang-orang yang terlambat sempat mengerjakan sholat berjamaah. Waktu Isyak adalah waktu orang mulai merasa mengantuk sedangkan waktu Asar adalah waktu istirahat setelah bekerja sepanjang siang hari sehingga tubuh mereka lelah di kala itu dan oleh karenanya, disyariatkan mempersingkat bacaan sholat pada kedua waktu tersebut, yakni lebih singkat daripada sholat dzuhur dan sholat Asar. Adapun sholat Maghrib
memiliki waktu singkat di samping orang amat sibuk untuk menyediakan makan malam atau berbuka puasa bagi orang yang berpuasa dan untuk para tamu mereka dan oleh kerananya, maka sholat Maghrib pun mesti disingkatkan.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan membaca surah mufassal yang panjang ketika mengerjakan sholat Subuh dan sholat Dzuhur agar orang-orang sempat mengikuti sholat berjamaah, sebab ketika itu banyak orang yang terlambat karena baru bangun tidur atau baru beristirahat.

2. Disyariatkan membaca pertengahan surah mufassal ketika mengerjakan sholat Isyak dan sholat Asar kerana waktu Isyak adalah waktu orang-orang sudah mulai mengantuk, dan waktu Asar adalah waktu istirahat dari kepenatan bekerja sepanjang siang hari.

3. Disyariatkan membaca surah mufassal yang pendek ketika mengerjakan sholat Maghrib memandang waktu Maghrib singkat dan waktu yang sibuk untuk menyediakan makan malam bagi tamu dan hidangan untuk berbuka bagi orang yang puasa.

Surah Mufassal : Surah-surah ini dinamakan mufassal karena banyaknya fasl (pemisah) di antara surah-surahnya dengan “basmalah”.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..