Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 199 : MENGUAP TERMASUK PERBUATAN SYAITAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 199 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( اَلتَّثَاؤُبُ مِنْ اَلشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَزَادَ : ( فِي الصَّلَاةِ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Menguap itu termasuk perbuatan setan maka bila seseorang di antara kamu menguap hendaklah ia menahan sekuatnya. Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dengan tambahan: Dalam sholat.

MAKNA HADITS :

Menguap selalu disebabkan oleh perut yang telah dipenuhi makanan atau karena malas yang telah menguasai tubuh. Semua itu merupakan perbuatan yang disukai syaitan hingga seakan-akan menguap itu berasal dari syaitan. Nabi (s.a.w) menyuruh seseorang supaya menahan mulutnya dengan kemampuan yang ada padanya supaya tidak menguap untuk menjaga khusyuk dalam sholat dan menghindari diri dari ditertawakan syaitan yang mimang menyukai
seseorang itu menguap dan menjaga diri dari syaitan masuk ke dalam mulutnya.

FIQH HADITS :

1. Menjauhi semua perbuatan yang disukai oleh syaitan.

2. Menguap ketika di dalam sholat bertolak belakang dengan khusyuk yang mimang dituntut di dalam sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 198 : MAKRUH MENAHAN KENCING DAN KENTUT KETIKA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 198 :

وَلَهُ : عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : ( لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ )

Menurut riwayat dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Tidak diperbolehkan sholat di depan hidangan makanan dan tidak diperbolehkan pula sholat orang yang menahan dua kotoran (muka dan belakang.

MAKNA HADITS :

Wahai orang yang sholat, jangan anda menyibukkan hati anda dengan hal-hal lain ketika anda berdiri dalam sholat anda menghadap Allah. Hendaklah anda bermunajat kepada-Nya dalam keadaan sempurna dan sepenuh hati. Jangan hati anda terganggu oleh sesuatu yang ada di hadapan anda seperti makan malam yang telah dihidangkan, karena mengerjakan sholat di hadapan makanan yang telah dihidangkan adalah makruh. Janganlah anda menahan keinginan untuk membuang air besar, air kecil atau kentut agar sholat anda tidak terganggu karenanya, hingga menyebabkan anda tidak lagi khusyuk dalam sholat.

FIQH HADITS :

1. Makruh sholat di hadapan makanan yang telah dihidangkan, karena itu dapat mengganggu dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk.

2. Makruh sholat sambil menahan keinginan untuk membuang air kecil, air besar atau kentut, karena itu menyebabkan khusyuk tidak sempurna.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 197 : MAKRUH MENDONGAKKAN PANDANGAN KE LANGIT KETIKA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 197 :

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَيَنْتَهِيَنَّ قَوْمٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى اَلسَّمَاءِ فِي اَلصَّلَاةِ أَوْ لَا تَرْجِعَ إِلَيْهِمْ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Hendaklah benar-benar berhenti orang-orang yang memandang langit waktu sholat atau pandangan itu tidak kembali kepada mereka. Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) melarang mengangkat atau melayangkan pandangan ke langit ketika sedang mengerjakan sholat, karena perbuatan itu memalingkan dirinya dari menghadap kiblat di samping sikap sedemikian menampilkan reaksi yang tidak bagus bagi orang yang melihatnya. Ini membuatnya keluar dari keadaan sholat sekalipun tidak membatalkan sholat.

Larangan dalam hadis ini menurut jumhur ulama menunjukkan hukum makruh. Memandang ke arah langit diperbolehkan oleh kebanyakan ulama, tetapi itu mesti dilakukan di luar sholat, karena langit merupakan kiblat doa sebagaimana Ka’bah adalah kiblat sholat. Tidak makruh mengangkat pandangan mata ke langit sebagaimana tidak makruh pula mengangkat kedua tangan ke arahnya ketika berdo’a. Allah (s.w.t) berfirman:

وفي السماء رزقكم وما توعدون

“Di dalam di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.”

(Surah al-Dzariyat: 22)

FIQH HADITS :

1. Dilarang mendongakkan pandangan mata ke langit ketika sedang sholat.

2. Dianjurkan khusyuk ketika sedang dalam sholat.

3. Dianjurkan segera merubah setiap perbuatan mungkar apabila melihat ada orang melakukannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 196 : MENGHINDAR DARI SEGALA HAL YANG MENGANGGU KHUSYUK KETIKA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 196 :

وَعَنْهُ قَالَ : ( كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَمِيطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ لِي فِي صَلَاتِي ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

وَاتَّفَقَا عَلَى حَدِيثِهَا فِي قِصَّةِ أَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ وَفِيهِ : ( فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي عَنْ صَلَاتِي )

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Adalah tirai milik ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu menutupi samping rumahnya. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: Singkirkanlah tiraimu ini dari kita karena sungguh gambar-gambarnya selalu mengangguku dalam sholatku. Riwayat Bukhari.

Bukhari-Muslim juga menyepakati hadits dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu tentang kisah kain anbijaniyyah (yang dihadiahkan kepada Nabi dari) Abu Jahm. Dalam hadits itu disebutkan: Ia melalaikan dalam sholatku.

MAKNA HADITS :

Amal perbuatan merupakan jasad, sedangkan rohnya adalah ikhlas dan khusyuk. Oleh karena itu, tidak ada kehidupan bagi jasad tanpa roh. Sebagaimana sudah diketahui bahwa gambar memiliki kesan negatif terhadap hati yang bersih dan jiwa yang suci, terlebih lagi hati yang mimang tidak bersih. Oleh itu, Islam tidak menyukai setiap perkara yang bisa mengganggu ketenangan orang sholat dan menyibukkan hatinya hingga tidak dapat hadir sepenuh hati dalam sholatnya. Ini meliputi makruh sholat di atas hamparan sejadah yang di dalamnya terdapat gambar dan makruh mewarnai masjid dengan warna-warni yang terlampau terang.

Apa yang paling disukai oleh Nabi (s.a.w) adalah keadaan yang sama sekali tidak mengganggu ketenangannya ketika mengerjakan sholat supaya tidak lalai ketika menghadap Allah. Sungguhpun begitu, baginda pernah mengembalikan kain khamishah pemberian Abu Jahm sebagai satu ketetapan hukum umatnya, kemudian baginda meminta Abu Jahm memberikan baju anbijaniyah miliknya supaya dia tidak berkecil hati.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan menyingkirkan segala sesuatu yang bisa mengganggu seseorang dalam sholatnya, baik ia ada di dalam rumah ataupun di tempat sholat.

2. Boleh memakai baju yang ada sulamannya dan boleh memakainya ketika hendak mengerjakan sholat.

3. Dianjurkan khusyuk dalam sholat dan mengerjakannya dengan sepenuh hati serta menjauhi segala sesuatu yang mengganggunya.

4. Bersegera berpaling dari perhiasan duniawi dan fitnahnya.

5. Boleh menerima hadiah dari teman-teman.

6. Jika barang pemberian dikembalikan kepada orang yang memberinya tanpa wujud permintaan sebelumnya darinya, maka dia boleh menerimanya
lagi tanpa dimakruhkan.

7. Rasulullah (s.a.w) meminta baju anbijaniyah milik Abu Jahm supaya dia tidak berkecil hati kerana baju khamishah miliknya telah dikembalikan oleh baginda.
Hal ini sekali gus menjelaskan kepadanya bahwa pengembalian baju khamishah miliknya itu kerana ada sebab-sebab tertentu.

8. Kesibukan hati dalam sholat karena memikirkan perkara lain di luar sholat tidak mempengaruhi sahnya sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 195 : HUKUM BERLUDAH KETIKA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 195 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي اَلصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلَا يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَا عَنْ يَمِينِهِ وَلَكِنْ عَنْ شِمَالِهِ تَحْتَ قَدَمِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ : ( أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ )

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu sembahyang sebenarnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya. Maka janganlah sekali-kali ia meludah ke hadapannya dan ke samping kanannya tetapi ke samping kirinya di bawah telapak kakinya. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat disebutkan: Atau di bawah telapak kakinya.

MAKNA HADITS :

Sholat adalah sarana roh bermikraj menuju tingkatan yang tertinggi, yaitu maqam al-munajah (kedudukan bermunajat kepada Allah (s.w.t). Kiblat merupakan salah satu syi’ar Allah dan mengagungkan syi’ar Allah merupakan bukti yang hati bertakwa. Oleh sebab itu, Nabi (s.a.w) melarang membuang ingus dan meludah ke arah kiblat ketika berada di dalam masjid atau di tempat lain ketika sedang dalam sholat karena menghormati arah kiblat. Dilarang pula meludah dan membuang ingus ke arah sebelah kanan karena menghormati sebelah kanan dan menghormati malaikat yang berada di sebelah kanan. Tetapi syariat memberikan rukhsah dimana diperbolehkan seseorang berbuat demikian ke sebelah kiri atau di bawah telapak kaki. Nabi (s.a.w) pernah berdiri membersihkan dahak yang berada di arah kiblat, lalu baginda mengeriknya dengan tangan kanannya, lalu memberi wewangian pada tempat itu kerana menghormatinya sekaligus menganjurkan kebersihan dan
sebagai peringatan supaya umat Islam tidak menghina arah kiblat.

FIQH HADITS :

1. Air ludah hukumnya suci, yakni tidak najis.

2. Dilarang meludah ke arah kiblat.

3. Dilarang meludah ke arah sebelah kanan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 194 : HUKUM MENOLEH KETIKA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 194 :

عَنْ عَائِشَةَ –رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا– قَالَتْ : ( سَأَلْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ اَلِالْتِفَاتِ فِي اَلصَّلَاةِ ? فَقَالَ : هُوَ اِخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ اَلشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ اَلْعَبْدِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ . وَلِلتِّرْمِذِيِّ : عَنْ أَنَسٍ – وَصَحَّحَهُ – ( إِيَّاكَ وَالِالْتِفَاتَ فِي اَلصَّلَاةِ فَإِنَّهُ هَلَكَةٌ فَإِنْ كَانَ فَلَا بُدَّ فَفِي اَلتَّطَوُّعِ )

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang (hukumnya) menoleh dalam sholat. Beliau menjawab: Ia adalah copetan yang dilakukan setan terhadap sholat hamba. Riwayat Bukhari. Menurut hadits shahih Tirmidzi: Hindarilah dari berpaling dalam shalat karena ia merusak jika memang terpaksa lakukanlah dalam sholat sunat.

MAKNA HADITS :

Menoleh di dalam sholat apabila disertai dengan seluruh anggota tubuhnya hingga berpaling dari arah kiblat menjadikan sholat yang dilakukan oleh seseorang itu batal. Jika hanya dia memalingkan kepala saja, maka hukumnya makruh, karena perbuatan ini mengurangi nilai khusyuk dan berpaling dari hadapan Allah (s.w.t).

Orang yang sedang sholat apabila memalingkan (menolehkan) wajahnya, maka Allah pun berpaling darinya seraya berfirman: “Kepada siapakah kamu berpaling? Apakah engkau berpaling kepada yang lebih baik daripada-Ku?”

Demikianlah menurut yang disebutkan di dalam satu hadis. Jika seseorang itu hanya menolehkan pandangan matanya, maka itu disebut khilaf al-awla
(menyalahi perbuatan yang lebih afdhal).

Dikecualikan dari masalah ini adalah menoleh karena adanya suatu keperluan, karena Nabi (s.a.w) pernah berbuat demikian. Sebagaimana sudah diketahui, syaitan adalah musuh yang nyata. Jika menemukan kesempatan untuk membuat orang yang sedang sholat lengah, ia segera membisikkan godaannya dan mencuri tumpuannya. Inilah yang diungkapkan oleh hadits dengan istilah al-ikhtilas.

FIQH HADITS :

1. Menoleh dalam sholat merupakan perbuatan tercela dan hukumnya makruh. Jika seseorang menoleh ketika dalam sholat, maka syaitan berjaya menguasai dirinya dan membuatnya lalai di dalam sholatnya. Ini adakalanya seseorang itu lupa atau keliru karena hatinya tidak hadir sepenuhnya hingga sibuk dengan
tujuan lain.

2. Ulama membolehkan menolehkan leher, bukannya dada, apabila keadaan menuntut untuk berbuat demikian dan hukumnya tidaklah makruh. Jika seseorang menoleh dengan seluruh tubuhnya hingga berpaling dari arah kiblat, maka batallah sholatnya menurut kesepakatan ulama. Jika dia hanya memalingkan dadanya, maka menurut mazhab al-Syafi’i dan mazhab Hanafi sholatnya batal. Sedangkan menurut mazhab Maliki dan mazhab Hanbali, sholatnya tidak batal selagi seseorang itu tidak berada dalam keadaan yang membahayakan apabila dia melakukan sedikit miring dalam sholatnya, seperti seseorang yang sholat menghadap ke Ka’bah secara langsung. Dalam kaitan ini, sholat seseorang menjadi batal apabila memalingkan diri dari arah Ka’bah sehingga wajahnya atau salah satu anggota tubuhnya tidak lagi menghadap Ka’bah, meskipun kesangsian itu hanya sejauh satu jari dan anggota tubuh yang lain masih menghadap ke arah Ka’bah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 193 : MAKRUH MENGUSAP KRIKIL YANG NEMPEL DI DAHI KETIKA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 193 :

وَعَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي اَلصَّلَاةِ فَلَا يَمْسَحِ الْحَصَى فَإِنَّ اَلرَّحْمَةَ تُوَاجِهُهُ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَزَادَ أَحْمَدُ : وَاحِدَةً أَوْ دَعْ

وَفِي اَلصَّحِيحِ عَنْ مُعَيْقِيبٍ نَحْوُهُ بِغَيْرِ تَعْلِيلٍ.

Dari Abu Dzar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Jika seseorang di antara kamu mendirikan sholat maka janganlah ia mengusap butir-butir pasir (yang menempel pada dahinya) karena rahmat selalu bersamanya. Riwayat Imam Lima dengan sanad yang shahih. Ahmad menambahkan: Usaplah sekali atau biarkan.

Dalam hadits shahih dari Mu’aiqib ada hadits semisal tanpa alasan.

MAKNA HADITS :

Islam amat mementingkan kusyuk ketika dalam sholat sekaligus melarang semua
perkara yang bisa mengganggu seseorang dalam sholatnya hingga batu kerikil yang ada pada tempat sujudnya dilarang untuk disingkirkan. Jika tidak dalam keadaan berdiri, maka janganlah menyibukkan dirinya dengan banyak menyapu (mengusap dengan tangan) batu kerikil yang ada pada tempat sujudnya atau objek yang melekat pada keningnya. Di sini syariat Islam memberinya rukhsah hanya
sekali mengusap kerikil ketika dalam sholat, karena dia mesti membersihkan terlebih dahulu tempat sujud sebelum memulai sholat dengan mempersiapkan
tempat sujudnya bersih dari segala bentuk gangguan. Ini menunjukkan betapa besar perhatian syariat agar menjadi pelaksanaan sholat itu sempurna dan dilaksanakan dengan sepenuh jiwa dan raganya.

FIQH HADITS :

1. Rahmat Allah senantiasa bercucuran kepada orang yang sedang mengerjakan sholat.

2. Makruh mengusap kerikil dalam sholat supaya sholatnya tidak terganggu oleh perkara-perkara lain yang tidak ada kaitannya dengan sholat.

3. Boleh mengusap kerikil, tetapi hanya sekali usapan saja, untuk memastikan batu kerikil tidak mengganggu sholatnya.

4. Perhatian syariat yang kelihatan berlebihan bertujuan supaya sholat dilakukan dengan sepenuh hati.

5. Perhatian para sahabat yang sedemikian besar hingga mereka menanyakan perkara-perkara yang dianggap menyulitkan bagi mereka dalam masalah ilmu agama.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 192 : MAKRUHNYA SHOLAT KETIKA MAKANAN SUDAH DIHIDANGKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 192 :

وَعَنْ أَنَسٍ- رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( إِذَا قُدِّمَ اَلْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا اَلْمَغْرِبَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila makan malam telah dihidangkan makanlah dahulu sebelum engkau sholat Maghrib. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Khusyuk merupakan rahasia dan inti sholat. Islam menyuruh agar khusyuk senantiasa dijaga dan menjauhi perkara-perkara yang bisa mengakibatkan khusyuk menjadi hilang. Barang siapa yang merasa lapar atau dahaga, sedangkan makanan dan minuman telah dihidangkan, maka sebaiknya dia memakan makanan dan meminum minuman itu untuk memastikan dirinya mampu memberi tumpuan sepenuhnya mengerjakan sholat dengan hati yang dipenuhi perasaan takut kepada Allah dan meresapi makna kalam-Nya.

Makan dan minum termasuk faktor yang dapat mengganggu khusyuk. Jadi, dia sebaiknya membebaskan dirinya dari faktor-faktor tersebut sebelum memulai sholatnya agar dirinya lebih siap untuk bermunajat.

FIQH HADITS :

Makruh sholat ketika makanan telah dihidangkan, kerana hal itu bisa mengganggu sholat dan menghilangkan khusyuk.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 191 : LARANGAN BERTOLAK PINGGANG KETIKA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 191 :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُصَلِّيَ اَلرَّجُلُ مُخْتَصِرًا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ. وَمَعْنَاهُ : أَنْ يَجْعَلَ يَدَهُ عَلَى خَاصِرَتِهِ

وَفِي اَلْبُخَارِيِّ : عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- أَنَّ ذَلِكَ فِعْلُ اَلْيَهُودِ

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang orang yang sholat bertolak pinggang. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim. Artinya: Orang itu meletakkan tangannya pada pinggangnya.

Dalam riwayat Bukhari dari ‘Aisyah: Bahwa cara itu adalah perbuatan orang Yahudi dalam sembahyangnya.

MAKNA HADITS :

Hendaklah anda menghadap kiblat ketika sholat sama dengan cara anda menghadap Allah kelak pada hari kiamat dimana anda seolah-olah sedang berdiri di hadapan-Nya, sedangkan Dia menghadap kepada anda dan anda bermunajat kepada-Nya dengan sopan serta penuh khusyuk. Dalam keadaan ini, janganlah anda menyerupai orang Yahudi dengan cara bertolak pinggang, seperti orang yang sedang disalib. Ini merupakan sikap yang bertentangan dengan citra tunduk dan patuh kepada Tuhan Yang Maha Membalas.

FIQH HADITS :

1. Dilarang bertolalak pinggang ketika dalam sholat, kerana sikap ini bertentangan dengan khusyuk.

2. Makruh meniru perbuatan orang yang melanggar perintah Allah. Kita telah dilarang meniru perbuatan mereka dalam segala tindakan mereka.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..