Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 135 : LARANGAN SHALAT DAN MENGUBURKAN JANAZAH PADA WAKTU-WAKTU TERTENTU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 135 :

وَلَهُ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ: ( ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّي فِيهِنَّ وَأَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ اَلشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ اَلظَّهِيرَةِ حَتَّى تَزُولَ اَلشَّمْسُ وَحِينَ تَتَضَيَّفُ اَلشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ)

وَالْحُكْمُ اَلثَّانِي عِنْدَ “اَلشَّافِعِيِّ” مِنْ: حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ. وَزَادَ: ( إِلَّا يَوْمَ اَلْجُمْعَةِ )

وَكَذَا لِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أَبِي قَتَادَةَ نَحْوُهُ

Dalam riwayat Muslim dari Uqbah Ibnu Amir: Tiga waktu dimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit yaitu: ketika matahari terbit hingga meninggi ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat dan ketika matahari hampir terbenam.

Dan hukum kedua menurut Imam Syafi’i dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah ada tambahan: Kecuali hari Jum’at.

Begitu juga menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Qotadah terdapat hadits yang serupa.

MAKNA HADITS :

Syariat Islam melarang kita menyerupai orang kafir dalam ibadah mereka dan memelihara waktu-waktu mereka ketika beribadah. Oleh itu, Islam melarang kita mengerjakan sholat sunat ketika matahari sedang terbit dan juga ketika matahari
menjelang tenggelam. Ini kerana matahari terbit dan tenggelam diantara kedua-dua tanduk syaitan. Dengan arti kata lain, pada saat itu orang kafir menyembah matahari dan syaitanpun ada di situ.

Syariat Islam melarang kita melakukan sholat dan bertadharru’ serta berdo’a ketika Allah murka. Untuk itu, syariat Islam melarang melakukan sholat sunat ketika matahari berada di tengah-tengah langit. Syariat Islam menjelaskan kepada kita tentang penyebabnya bahwa itu merupakan waktu neraka Jahanam dinyalakan. Oleh kerana waktu zawal hari Jum’at merupakan hari perayaan Islam, maka neraka Jahanam tidak dinyalakan pada hari itu. Oleh yang demikian, syariat Islam membolehkan kita untuk mengerjakan sholat sunat pada waktu itu. Disamakan dengan hukum mengerjakan sholat sunat adalah mengebumikan jenazah pada waktu-waktu tersebut. Untuk itu, dianjurkan mengebumikan jenazah pada saat turunnya rahmat Allah dan dianjurkan pula mendoakan jenazahpun pada waktu-waktu yang mengandung rahmat dan keredhaan-Nya. Oleh kerana sholat fardu merupakan ibadah yang mempunyai waktu tertentu dan perhatian syari’at sangat besar terhadapnya, maka ia menganjurkan supaya sholat fardu dikerjakan dalam waktu kapan saja.

FIQH HADITS :

1. Dilarang melakukan sholat sunat ketika matahari sedang terbit dan juga ketika matahari berada di tengah langit, serta ketika matahari sedang tenggelam.

2. Dilarang mengkebumikan jenazah ketika matahari sedang terbit, ketika matahari sedang berada di tengah-tengah langit, dan ketika matahari sedang tenggelam. Larangan ini sekaligus mengandung anjuran untuk memelihara waktu yang diberkati untuk mengerjakan sholat dan menguburkan jenazah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 134 : PENJELASAN QODHO’ DAN ADA’ DALAM SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 134 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ أَدْرَكَ مِنْ اَلصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلِ أَنْ تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلصُّبْحَ وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ اَلْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلْعَصْرَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِمُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ نَحْوَهُ وَقَالَ: “سَجْدَةً” بَدَلَ “رَكْعَةً”. ثُمَّ قَالَ: وَالسَّجْدَةُ إِنَّمَا هِيَ اَلرَّكْعَةُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Shubuh sebelum matahari terbit maka ia telah mendapatkan shalat Shubuh dan barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam maka ia telah mendapatkan shalat Ashar.” Muttafaq Alaihi.

Menurut riwayat Muslim dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu ada hadits serupa beliau bersabda: “Sekali sujud sebagai pengganti daripada satu rakaat.” Kemudian beliau bersabda: “Sekali sujud itu adalah satu rakaat.”

MAKNA HADITS :

Anugerah Allah kepada hamba-hamba-Nya amatlah besar dan pemberian-Nya mencakupi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Allah (s.w.t) memberikan satu anugerah
kepada orang yang mengerjakan sholat bahwa barang siapa yang sempat mendapat satu rakaat sholat yang masih dalam waktunya, kemudian dia melanjutkan sholat itu di luar waktunya, maka sholat tersebut masih dikatagorikan sebagai ada’an (dilaksanakan di dalam waktunya) dan sisa rakaat lain yang dia kerjakan di luar waktunya tetap dimasukkan ke dalam satu rakaat yang dia sempat mendapatnya di dalam waktunya. Ini merupakan anugerah-Nya. Allah menjadikan bagian yang seseorang itu jumpai di dalam waktunya sebagai bagian yang hakiki kerana bagian tersebut memuatkan satu rakaat yang dilengkapi dengan rukuk dan sujud, sedangkan sisa rakaat yang lain dianggap sebagai pengulangan. Namun jika seseorang hanya sempat menjumpai sebagian satu rakaat, seperti satu kali sujud atau mengangkat kepala dari rukuk, maka bagian ini tidak memperoleh keutamaan tersebut.

FIQH HADITS :

1. Barang siapa yang menjumpai satu rakaat yang sempurna berikut sujudnya dari sholat Subuh sebelum matahari terbit, dan satu rakaat solat Asar sebelum matahari tenggelam, berarti orang itu masih sempat mengerjakan sholatnya secara ada’an (melaksanakan pada waktunya), dan dia mesti meneruskan baki
rakaat solatnya itu, sekalipun matahari telah terbit ataupun telah tenggelam.

2. Barang siapa yang tidak sempat menjumpai satu rakaat secara sempurna dalam waktu sholat seperti dia hanya menjumpai sebahagiannya saja, maka sholatnya itu dianggap sebagai qadha’an karena dia tidak sempat mengerjakannya di dalam waktunya.

3. Pengertian “menjumpai satu rakaat” ini dapat dilakukan setelah memperkirakan adanya masa yang memadai untuk bersuci atau mandi bagi wanita yang berhaid dan bernifas. Menurut satu pendapat yang lain, hadits ini bermaksud bahwa barang siapa yang halangan seperti ayan, haid atau nifas,
lalu dia sadar atau suci sebelum waktu sholat berakhir, misalnya masih ada waktu yang cukup untuk mengerjakan satu rakaat setelah memperkirakan adanya waktu yang memadai untuk bersuci secara sempurna, maka sholat tersebut tetap wujud di dalam tanggungan orang yang sudah tidak mempunyai halangan tersebut, baik sholatnya itu dia kerjakan masih dalam kategori ada’an ataupun qadha’an. Jika tidak ada waktu yang memadai untuk
mengerjakan satu rakaat secara sempurna sesudah memperkirakan waktu untuk bersuci, maka kewajipan sholat digugurkan ke atas orang yang mempunyai halangan-halangan tersebut.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 133 : WAKTU FADHILAH SHOLAT SUBUH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 133 :

وَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَصْبِحُوا بِالصُّبْحِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِأُجُورِكُمْ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ

dari Rafi’ Ibnu Khadij Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Lakukanlah shalat Shubuh pada waktu masih benar-benar Shubuh karena ia lebih besar pahalanya bagimu.” Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Kadangkala kemunculan fajar membingungkan sebagian pihak terlebih-lebih lagi pada waktu malam purnama namun ada pula sebagian pihak yang memandang remeh pelaksanaan sholat Subuh pada awal waktunya, kerana kebiasaan mereka yang tidur terlalu lelap. Melalui hadits ini, Nabi (s.a.w) memerintahkan agar sholat Subuh benar-benar diperhatikan. Pertama, memastikan fajar shadiq benar-benar telah terbit. Kedua, hendaklah sholat Subuh dikerjakan pada awal waktunya. Kemudian Nabi (s.a.w) menjelaskan bahwa mengerjakan sholat Subuh pada awal waktunya menjadikan ganjaran pahala seseorang yang melakukannya dilipatgandakan.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan berpagi-pagi buta dalam mengerjakan sholat Subuh setelah yakin fajar benar-benar telah terbit. Inilah pendapat jumhur ulama. Sedangkan mazhab Hanafi mengatakan bahwa hadits ini mensyariatkan al-isfar (lawan kata dari al-ishbah) yang artinya “apabila permulaan pagi kelihatan remang-remang” karena berlandaskan kepada makna dzahir hadits.

2. Dianjurkan bersegera mengerjakan sholat Subuh di awal waktunya bagi mendapatkan ganjaran pahala yang besar.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS 131 : KEUTAMAAN MELAKSANAKAN SHOLAT ISYA’ DI AKHIR WAKTU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 131 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( أَعْتَمَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ بِالْعَشَاءِ حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اَللَّيْلِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى وَقَالَ: “إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي” ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Pada suatu malam pernah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengakhirkan shalat Isya’ hingga larut malam. Kemudian beliau keluar dan shalat dan bersabda: “Sungguh inilah waktunya jika tidak memberatkan umatku.” Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Waktu-waktu sholat fardu telah diketahui. Mengerjakan sholat fardu di permulaan waktunya adalah lebih afdhal, kecuali sholat Isyak, kerana waktu sholat Isyak amat panjang hingga sepertiga malam yang pertama. Seafdhal-afdhalnya mengerjakan sholat Isyak adalah di akhir sepertiga malam yang pertama. Oleh kerana Nabi (s.a.w) senantiasa menitik beratkan soal keringanan dan kemudahan bagi umatnya, maka baginda meninggalkan yang lebih afdhal kerana belas kasihan kepada mereka dan mereka tidak mengalami kesulitan karenanya.

FIQH HADITS :

Waktu sholat Isyak sangat panjang dan mengerjakan sholat Isyak di akhir waktunya adalah lebih diutamakan selagi itu tidak memberatkan orang banyak (para makmum).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 130 : MENYEGERAKAN SHALAT MAGHRIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 130 :

عن رافع ابن خديج قال : “كنا نصلي المغرب مع النبي صلى الله عليه وسلم فينصرف أحدنا وإنه ليبصر مواقع نبله” متفق عليه

Daripada Rafi’ ibn Khadij (r.a), beliau berkata: “Kami mengerjakan sholat Maghrib bersama Rasulullah (s.a.w) lalu seseorang dari kami selesai mengerjakan (sholatnya), sedangkan dia dapat melihat sejauh lemparan anak panahnya.”

(Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) seringkali menganjurkan supaya sholat Maghrib dikerjakan di awal waktunya, yaitu ketika matahari benar-benar telah tenggelam di mana seseorang yang telah selesai mengerjakan sholat Maghrib, masih lagi mampu melihat cahaya matahari yang terbenam itu.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan bersegera mengerjakan sholat Maghrib pada awal waktunya, hingga seseorang yang selesai mengerjakan sholat Maghrib masih lagi dapat cahaya matahari yang tenggelam itu.

2. Tidak boleh melalaikan pelaksanaan sholat Maghrib.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 129 : MENYEGERAKAN DAN MENGAKHIRKAN WAKTU SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 129 :

وَعَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيَ اَلْعَصْرَ ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إِلَى رَحْلِهِ فِي أَقْصَى اَلْمَدِينَةِ وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ مِنْ اَلْعِشَاءِ وَكَانَ يَكْرَهُ اَلنَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ اَلْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ اَلرَّجُلُ جَلِيسَهُ وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى اَلْمِائَةِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَعِنْدَهُمَا مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ: ( وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا: إِذَا رَآهُمْ اِجْتَمَعُوا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ وَالصُّبْحَ: كَانَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ)

وَلِمُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: ( فَأَقَامَ اَلْفَجْرَ حِينَ اِنْشَقَّ اَلْفَجْرُ وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا)

Abu Barzah al-Aslamy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah setelah usai shalat Ashar kemudian salah seorang diantara kami pulang ke rumahnya di ujung kota Madinah sedang matahari saat itu masih panas. Beliau biasanya suka mengakhirkan shalat Isya’ tidak suka tidur sebelumnya dan berbincang-bincang setelahnya. Beliau juga suka melakukan shalat Shubuh di saat seseorang masih dapat mengenal orang yang duduk disampingnya beliau biasanya membaca 60 hingga 100 ayat. Muttafaq Alaihi.

Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya’ pada awal waktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah berkumpul beliau segera melakukannya dan jika melihat mereka terlambat beliau mengakhirkannya sedang mengenai shalat Shubuh biasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menunaikannya pada saat masih gelap.

Menurut Muslim dari hadits Abu Musa: Beliau menunaikan shalat Shubuh pada waktu fajar terbit di saat orang-orang hampir tidak mengenal satu sama lain.

MAKNA HADITS :

Para sahabat mempunyai keistimewaan apabila dibandingkan dengan sahabat-sahabat nabi yang lain kerana mereka memiliki perhatian yang luar biasa untuk mengetahui ke semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan Rasulullah (s.a.w). Mereka kemudian menukilnya untuk diikuti dan disampaikan kepada generasi berikutnya sebagai satu ketetapan hukum syari’at. Oleh karena itu, mereka menggambarkan dengan jelas kepada kita tentang tatacara sholat yang pernah dilakukan oleh Nabi (s.a.w), batasan waktunya dan jumlah ayat yang dibacanya di samping sholat yang adakalanya baginda mengerjakannya di awal waktu dan adakalanya pula diakhirkan untuk menunggu orang ramai berhimpun dan ini merupakan salah satu kemaslahatan bagi umum.

FIQH HADITS :

1. Bersegera mengerjakan sholat Asar di awal waktunya.

2. Disunatkan mengakhirkan sholat Isyak sampai berlalu sepertiga malam jika itu tidak mengakibatkan kesukaran bagi para makmum.

3. Jangan kita membuat orang yang sudah berkumpul di dalam masjid atau surau untuk mengerjakan sholat berjamaah meninggalkan sholat jamaah, kerana kita lambat untuk mengerjakan sholat. Oleh sebab itu, apabila orang ramai sudah
berkumpul, maka segeralah untuk mengerjakan sholat berjamaah itu.

4. Makruh tidur sebelum mengerjakan sholat Isyak, sebab ada kalanya tidur itu membuat seseorang lupa untuk mengerjakan sholatnya atau paling tidak dia
akan mengerjakannya di akhir waktu.

5. Makruh jagongan/berbincang2 sesudah mengerjakan sholat Isyak, sebab jagongan sesudah mengerjakan Isyak dapat mengakibatkan seseorang lambat tidur malam sehingga dia sukar bangun tidur ketika sholat Subuh telah tiba. Apapun, Nabi (s.a.w) pernah berbincang-bincang dengan Abu Bakar (r.a) mengenai satu urusan yang berkaitan dengan kepentingan kaum muslimin. Antara perkara yang diperbolehkan untuk dibincang setelah mengerjakan sholat Isyak adalah seperti mengulang kaji pelajaran, menemui tamu atau menghadiri acara perkahwinan.

6. Berpagi buta untuk menghadiri sholat Subuh dan keluar masjid sesudah sinar pagi mulai terang sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas, yaitu:
“Ketika seseorang telah mengenali teman yang duduk berhampiran
dengannya.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 128 : WAKTU-WAKTU SHOLAT FARDHU YANG LIMA WAKTU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHOLAT*_

HADITS KE 128 :

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ نَبِيَّ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( وَقْتُ اَلظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ اَلشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرْ اَلْعَصْرُ وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبْ اَلشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ اَلْأَوْسَطِ وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ اَلشَّمْسُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَلَهُ مِنْ حَدِيثِ بُرَيْدَةَ فِي اَلْعَصْرِ: ( وَالشَّمْسُ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ )

وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: ( وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ)

Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang waktu shalat Isya hingga tengah malam dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit.” Riwayat Muslim.

Menurut riwayat Muslim dari hadits Buraidah tentang waktu shalat Ashar. “Dan matahari masih putih bersih.”

Dari hadits Abu Musa: “Dan matahari masih tinggi.”

MAKNA HADITS :

Sholat merupakan mikraj roh ke tingkatan yang tinggi dan merupakan munajat kepada Allah Tuhan Yang Esa. Dengan melakukan sholat seakan-akan kita berada di hadapan Tuhan Yang Maha Suci dan berkomunikasi dengan Allah Yang Maha Besar. Sholat itu diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, manakala peraturannya pula terdiri dari rukuk dan sujud, sedangkan zikir-zikirnya ialah tilawah (al-Qur‟an), tasbih dan do’a.

Sholat merupakan amalan yang dapat membedakan antara orang mukmin dengan orang kafir dan ia adalah rukun Islam yang kedua. Hisab amal yang dilakukan ke atas seorang manusia kelak pada hari kiamat adalah amal solatnya.

Azan disyari’atkan untuk mengerjakan sholat dan untuk melaksanakan sholat maka dibangunkanlah masjid-masjid agar dapat menjadi tempat tumpuan kaum muslimin mendirikan sholat. Barang siapa yang mendirikannya (mengerjakannya) bererti orang itu mendirikan agama dan barang siapa yang meninggalkannya berarti orang itu termasuk orang yang merugi dan diserupakan dengan orang munafik, sedangkan orang yang mengingkarinya dinyatakan sebagai kafir. Syariat Islam telah menentukan waktu-waktu solat untuk kemudian dijaga dan sebagai isyarat yang menunjukkan keutamaannya.

FIQH HADITS :

1. Penjelasan untuk mengetahui waktu-waktu sholat fardu yang lima waktu.

2. Bersegera mengerjakan sholat ‘Asar di permulaan waktunya.

Wallahu a’lam bisshowab..

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 127 : TIDAK DIWAJIBKAN MENGKODHO’ SHOLAT BAGI WANITA YANG NIFAS

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB HAID*_

HADITS KE 127 :

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَتِ اَلنُّفَسَاءُ تَقْعُدُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ نِفَاسِهَا أَرْبَعِينَ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ وَاللَّفْظُ لِأَبِي دَاوُد

وَفِي لَفْظٍ لَهُ ( وَلَمْ يَأْمُرْهَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَضَاءِ صَلَاةِ اَلنِّفَاسِ ) وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِم

Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Wanita-wanita yang sedang nifas pada masa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam meninggalkan shalat selama 40 hari semenjak darah nifasnya keluar. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i dan lafadznya dari Abu Dawud.

Dalam lafadz lain menurut riwayat Abu Dawud: Dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak menyuruh mereka mengqadla shalat yang mereka tinggalkan saat nifas. Hadits ini shahih menurut Hakim.

MAKNA HADITS :

Islam memberi keringanan kepada wanita yang nifas dan menyamakannya dengan wanita yang haid, dimana mereka tidak boleh sholat dan puasa. Malah Islam memanjangkan masa nifas hingga empat puluh hari. Ia wajib mengqadha’ puasa fardhu yang ditinggalkannya selama nifas, namun tidak demikian dengan sholat dan ini merupakan satu kemudahan baginya. Jika seorang perempuan telah merasa suci sebelum masa empat puluh hari, maka dia mesti bersuci, dan tidak ada batasan minimum bagi masa nifas.

FIQH HADITS :

1. Batasan maksimum nifas ialah empat puluh hari menurut pendapat jumhur ulama. Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa batasan maksimumnya adalah enam puluh hari, meskipun biasanya hanya memerlukan empat puluh hari,
sedangkan batasan minimumnya ialah setetes, (yakni hanya sekali
mengeluarkan darah). Imam Malik dan Imam Ahmad mengatakan tidak ada batasan minimum bagi tempoh nifas. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa masa nifas itu terbatas, yaitu selama dua puluh lima hari. Abu Yusuf mengatakan sebelas hari, sedangkan al-Hasan al-Basri mengatakan dua puluh hari.

2. Tidak ada qadha’ bagi sholat yang ditinggalkan selama masa nifas, kerana Nabi (s.a.w) tidak menyuruh kaum wanita berbuat demikian. Pada asalnya qadha’ itu tidak diwajibkan kecuali kerana adanya perintah yang baru dan perintah yang baru ini telah disebutkan dalam masalah puasa melalui firman-Nya:

…فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر… (البقرة : ١٨٤)

“… Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…” (Surah al-Baqarah: 184)

Di sini tidak ada perintah baru yang mewajibkan mengqadha’ sholat yang ditinggalkan selama nifas. Jadi, hukum asal, yaitu tidak wajib qadha sholat mesti tetap dikekalkan. Hadis ini menyanggah pendapat sekumpulan Khawarij yang mengatakan sholat yang ditinggalkan oleh wanita yang haid dan nifas wajib diqadha’.

3. Menjelaskan hukum darah yang keluar sesudah bersalin. Jika darah tersebut terus mengalir selama empat puluh hari, maka dalam masa itu wanita tersebut tidak boleh sholat dan tidak boleh pula berpuasa. Tetapi apabila tetap mengalir hingga melebihi tempoh empat puluh hari, maka hukum darah tersebut adalah darah istihadhah yang ketentuan hukumnya telah disebutkan dalam hadits-hadits sebelum ini.

KESIMPULAN :

Hadis yang disebut dalam bab haid ini menunjukkan kesimpulan berikut:

1. Menjelaskan perbedaan warna darah haid dengan darah istihadhah, tempat keluarnya, cara untuk membedakan diantara keduanya dan demikian pula hukumnya.

2. Wanita yang haid tidak boleh mengerjakan sholat dan puasa selama masa haid. Dia wajib mengqadha’ puasanya, tetapi tidak wajib mengqadha’ sholatnya. Selama masa itu, suaminya tidak boleh menyetubuhinya. Jika suami
menyetubuhinya, maka dia mesti membayar kifarat menurut pendapat Imam Ahmad. Menurut jumhur ulama, suami boleh menggaulinya, tetapi pada bagian atas kain. Tetapi Imam Ahmad membolehkan untuk menggaulinya, meskipun dibawah kainnya (kecuali farjinya).

3. Perkiraan masa istihadhah ditentukan berdasarkan kebiasaan sebelum itu atau membandingkannya dengan wanita lain yang sebaya dengannya. Dibolehkan baginya mengerjakan sholat dan puasa, dan suaminya boleh menyetubuhinya, dan disunatkan baginya mengerjakan sholat secara jamak shuri.

4. Perkiraan masa nifas sama dengan wanita yang haid di mana mereka tidak boleh mengerjakan solat dan puasa. Tidak diwajibkan mengqadha’ sholat yang ditinggalkan selama masa nifas, tetapi wajib mengqadha’ puasanya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 126 : LARANGAN MENGGAULI ISTRI YANG LAGI HAID ANTARA PUSAR DAN LUTUT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB HAID*_

HADITS KE 126 :

وَعَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه ( أَنَّهُ سَأَلَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنِ اِمْرَأَتِهِ وَهِيَ حَائِضٌ؟ قَالَ: مَا فَوْقَ اَلْإِزَارِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَضَعَّفَه

Dari Muadz Ibnu Jabal Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang apa yang dihalalkan bagi seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haid. Beliau menjawab: Apa yang ada di atas kain. Diriwayatkan dan dianggap lemah oleh Abu Dawud.

MAKNA HADITS :

Membendung semua kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya (sadd al-dzari’ah) merupakan salah satu prinsip syariat yang agung. Islam amat mengambil berat masalah ini, kerana mengabaikan sarana atau washilah boleh mengakibatkan
ketidakseimbangan dalam menempuh tujuan.

Di dalam satu hadits disebutkan:
فمن حام حول الحمى يوشم أن يقع فيه
“Barang siapa yang berkeliling di sekitar tempat yang dilarang, dia dikawatiri akan terjerumus masuk ke dalamnya.”

Oleh karena itu, Islam hanya membolehkan bersenang-senang dengan isteri yang sedang haid dalam batasan di luar kain dan bukan pada bagian dalamnya. Diantara ulama ada yang menganggapnya sebagai wajib sebagai langkah berjaga-jaga dan ada pula yang menganggapnya sebagai sunat.

FIQH HADITS :

Diharamkan menggauli anggota tubuh isteri yang ditutup oleh kain, yaitu antara pusar dan lutut. Makna hadis ini membatasi keumuman makna yang terdapat dalam hadits sebelum ini yang mengatakan:

اصنعوا كل شيء الا النكاح

“Lakukanlah segala sesuatu kecuali nikah (bersetubuh).”

Apa yang dibolehkan untuk digauli hanyalah anggota tubuh bagian luaran atau bagian atas kain sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini. Tetapi menurut pendapat Imam Ahmad, menggauli antara pusar dan lutut diperbolehkan, meskipun tanpa penghalang dan ini berlandaskan kepada keumuman makna hadits di atas tadi, yaitu: “Lakukanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh.” Perintah memakai kain menurutnya hanya mengandung makna sunat, bukannya wajib.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..