Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 251 : POSISI KEDUA TANGAN KETIKA TAHIYAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 251 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ اَلْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ اَلْيُسْرَى وَالْيُمْنَى عَلَى اَلْيُمْنَى وَعَقَدَ ثَلَاثَةً وَخَمْسِينَ وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ اَلسَّبَّابَةِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ : ( وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِاَلَّتِي تَلِي اَلْإِبْهَامَ )

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila duduk untuk tasyahhud meletakkan tangannya yang kiri di atas lututnya yang kiri dan tangannya yang kanan di atas lututnya yang kanan beliau membuat genggaman lima puluh tiga dan beliau menunjuk dengan jari telunjuknya. Riwayat Muslim. Dalam suatu riwayat Muslim yang lain: Beliau menggenggam seluruh jari-jarinya dan menunjuk dengan jari yang ada di sebelah ibu jari.

MAKNA HADITS :

Duduk dengan cara apapun yang dilakukan oleh seseorang yang sedang sholat untuk bertasyahhud sudah dianggap mencukupi, tetapi cara yang lebih sempurna adalah sebagaimana yang diterangkan oleh hadis ini, yaitu jika hendak duduk untuk tasyahhud, baginda meletakkan tangan kiri di atas lutut kiri dan tangan kanan di atas lutut kanan seraya menggenggam bilangan tiga dan lima puluh. Bilangan tiga dengan menggenggam jari manis, kelingking, dan jari tengah,
sedangkan bilangan lima puluh diisyaratkan dengan jemari tangan kiri yang tidak digenggam. Ini merupakan cara menghitung yang berlaku di kalangan masyarakat
Arab.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut ketika duduk untuk tasyahhud.

2. Disunatkan menggenggam jari tangan kanan dan berisyarat dengan jari telunjuk.

Ulama berselisih pendapat mengenai cara memberi isyarat dengan jari telunjuk ini :

– Imam Malik mengatakan bahwa orang yang sholat hendaklah berisyarat dengan jari telunjuk dan menggerak-gerikannya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri. Hikmah gerakan ini ialah untuk mengingatkan orang yang sedang sholat kepada keadaan sholat yang sedang dikerjakannya, karena urat-urat jari telunjuk berhubungan secara terus dengan hati. Jika jari telunjuk bergerak, maka hati pun turut tergugah hingga orang tersebut ingat bahwa dia sedang sholat. Di dalam satu riwayat yang disebut oleh Imam Ahmad daripada Ibn Umar (r.a) bahwa gerakan ini amat menyiksa syaitan.

– Mazhab al-Syafi’i mengatakan bahwa seseorang hendaklah berisyarat dengan jari telunjuk ketika mengucapkan kalima “الا الله” tetapi dia tidak boleh menggerak-gerikannya dan hendaklah dia tetap mengangkatnya hingga bangkit dari tasyahhud pertama atau hingga mengucapkan salam dalam tasyahhud akhir. Hendaklah dia berniat mengisyaratkan kepada tauhid ketika mengangkat jari
telunjuknya itu.

– Mazhab Hanafi mengatakan, hendaklah seseorang menegakkan jari telunjuknya ketika mengucapkan kalimat “لا اله” dan
menurunkannya ketika mengucapkan lafaz “الا الله” dengan tujuan ketika mengangkatnya menunjukkan kepada pengertian nafi (penafian) dan ketika
menurunkannya menunjukkan kepada pengertian itsbat (penetapan).

– Mazhab Hanbali mengatakan bahwa seseorang hendaklah mengisyaratkan dengan jari telunjuknya ketika membaca lafaz al-Jalalah untuk mengingatkan kepada tauhid dan tidak menggerak-gerikannya.

Mereka turut berbeda pendapat
mengenai waktu menggenggam jemari. Jumhur ulama mengatakan, hendaklah seseorang menggenggam jemarinya ketika duduk untuk tasyahhud. Mazhab
Hanafi mengikut pendapat yang terpilih di kalangan mereka mengatakan bahwa seseorang hendaklah membuka kedua telapak tangan di atas kedua pahanya, kemudian menggenggam jari tangan yang sebelah kanan ketika
mengisyaratkan dengan jari telunjuk, yakni ketika mengucapkan kalimah syahadat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

J035. HUKUM MENGGALI KUBURAN DI ATAS KUBURAN LAMA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Latar belakang masalah :
Ada seorang tokoh masyarakat mengubur mayat di dalam liang kubur yang sudah ada mayyitnya, mayat tersebut baru dikubur ± 1 tahun, tapi mayyit kedua dikubur di atas tempat kuburannya mayyit pertama, hal tersebut dilakukan karena tidak mampu membayar sewa tanah dan juga melaksanakan wasiat.

Soal : Bagaimanakah hukumnya ? Apabila haram tindakan apa yang harus dilakukan ? Sebab sudah terlanjur

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya boleh

Referensi:
– Rohmatul ummah Hahmisy mizanul kubro juz 1 hal 89 :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺩُﻓِﻦَ ﻣَﻴِّﺖٌ ﻟَﻢْ ﻳَﺠُﺰْ ﺣَﻔْﺮُ ﻗَﺒْﺮِﻩِ ﻟِﺪَﻓْﻦِ ﺁﺧَﺮٍ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ
ﻳَﻤْﻀَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍْﻟﻤَﻴِّﺖِ ﺯَﻣَﺎﻥٌ ﻳَﺒْﻠَﻰ ﻓِﻰ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﻳَﺼِﻴْﺮُ ﺭَﻣِﻴْﻤًﺎ ﻓَﻴَﺠُﻮْﺯُ ﺣَﻔْﺮُﻩُ ﻟِﺈﺗِّﻔَﺎﻕٍ . ﻭَﻋَﻦْ ﻋُﻤَﺮِ ﺍِﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍْﻟﻌَﺰِﻳْﺰِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﻀَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﺣَﻮْﻝٌ ﻓَﺎﺯْﺭَﻋُﻮْﺍ ﺍﻟْﻤَﻮْﺿِﻊَ .

Apabila ada mayit yang dikuburkan maka tidak diperbolehkan menggali kuburannya guna untuk mengkuburkan mayit yang lain, kecuali apabila telah berlalu atas mayit yang pertama suatu masa yang diperkirakan ia dan semisalnya telah rusak dan menjadi usang, maka diperbolehkan menggalinya karena kesepakatan ulama’. Diriwayatkan dari Umar bin Abdil ‘Aziz bahwasanya dia berkata: Apabila telah berlalu atas mayit masa satu tahun, maka olahlah tempat-tempat (pemakaman).

– Hamisy ianatu tholibin juz 2 hal 116 :

ﻭَﺩَﻓْﻨُﻪُ ﻓِﻰ ﺣَﻔْﺮَﺓٍ ﺗَﻤْﻨَﻌُﻪُ ﺑَﻌْﺪَ ﻃَﻤِّﻬَﺎ ﺭَﺍﺋِﺤَﺔً ﺃَﻯْ ﻇُﻬُﻮْﺭُﻫَﺎ
ﻭَﺳَﺒُﻌًﺎ ﺃَﻯْ ﻧَﺒْﺴَﻪُ ﻟَﻬَﺎ ﻓَﻴَﺄْﻛُﻞُ ﺍْﻟﻤَﻴِّﺖَ

Dan mengkuburkan mayit dalam suatu lubang yang bisa mencegah bau dan binatang buas yang memangsa mayat setelah ditanam
Tambahan Keterangan
Haram hukumnya menggali kuburan sebelum mayit di dalamnya telah rusak dan menjadi debu untuk dimasuki mayit baru, jadi selama mayit yang awal telah rusak dan menjadi debu maka boleh menggali kuburannya untuk ditempati mayit lainnya. Kecuali kuburannya orang alim yang terkenal atau waliyulloh yang terkenal maka secara mutlak tidak boleh digali menurut imam romli.

Jika dalam proses penggalian tersebut ditemukan adanya tulang, maka tanah galian wajib di kembalikan dan mayit yang kedua tidak boleh di kuburkan di situ. Tapi jika tulang tersebut di temukan setelah selesainya penggalian maka mayit yang kedua boleh di kuburkan di sampingnya karena adanya kesulitan untuk memulai penggalian baru. Keharaman memasukkan mayyit kedua tersebut jika tidak dhorurot, jika ada dhorurot maka boleh sebagaimana bolehnya mengubur dua jenazah sekaligus di permulaan ketika adanya dhorurot.

– Al Majmu’ (5/273) :

ﻭَﻳﺠﻮﺯ ﻧﺒﺶ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﺇﺫﺍ ﺑﻠﻲ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺻﺎﺭ ﺗﺮﺍﺑﺎ، ﻭﺣﻴﻨﺌﺬ ﻳﺠﻮﺯ ﺩﻓﻦ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻴﻪ

– Hasiyah Ibnu Qosim ala Tuhfah (3/173) :

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺃﻳﻀﺎ ﺇﺩﺧﺎﻝ ﻣﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﺁﺧﺮ ﻭﺇﻥ ﺍﺗﺤﺪﺍ ﻗﺒﻞ ﺑﻠﻰ ﺟﻤﻴﻌﻪ ﺃﻱ ﺇﻻ ﻋﺠﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺒﻠﻰ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ

‏( ﻗﻮﻟﻪ ﻗﺒﻞ ﺑﻠﻰ ﺟﻤﻴﻌﻪ ‏) ﺃﻓﻬﻢ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﻨﺒﺶ ﺑﻌﺪ ﺑﻠﻰ ﺟﻤﻴﻌﻪ ﻭﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﻗﺒﺮ ﻋﺎﻟﻢ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﺃﻭ ﻭﻟﻲ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﻓﻴﻤﺘﻨﻊ ﻧﺒﺸﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ

– Fatawa Fiqhiyah Kubro (2/14) :

ﺣﻴﺚ ﺣﻔﺮ ﻗﺒﺮ ﺇﻣﺎ ﺗﻌﺪﻳﺎ ﻭﺇﻣﺎ ﻣﻊ ﻇﻦ ﺃﻧﻪ ﺑﻠﻲ ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻖ ﻓﻴﻪ ﻋﻈﻢ ﻓﻮﺟﺪ ﻓﻴﻪ ﻋﻈﻢ ، ﺭﺩ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺟﻮﺑﺎ ، ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺪﻓﻦ ﻓﻴﻪ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺒﻠﻰ .

– Asnal Matholib (4/358) :

‏( ﻓﺈﻥ ﺣﻔﺮ ﻓﻮﺟﺪ ﻋﻈﺎﻡ ﻣﻴﺖ ‏)
ﺃﻱ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻨﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﺤﻔﺮ ‏( ﻭﺟﺐ ﺭﺩ ﺗﺮﺍﺑﻪ ﻋﻠﻴﻪ .
ﻭﺇﻥ ﻭﺟﺪﻫﺎ ﺑﻌﺪ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﺤﻔﺮ ﺟﻌﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﺟﺎﻧﺐ ‏) ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺒﺮ ‏( ﻭﺟﺎﺯ ‏) ﻟﻤﺸﻘﺔ ﺍﺳﺘﺌﻨﺎﻑ ﻗﺒﺮ ‏( ﺩﻓﻨﻪ ‏) ﺃﻱ ﺍﻵﺧﺮ ‏( ﻣﻌﻪ ‏) ﻭﻧﻘﻠﻮﻩ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺺ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻭﺿﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ

– Hasiyah Syarwani ala Tuhfah (3/174) :

‏( ﻗﻮﻟﻪ ﺇﺩﺧﺎﻝ ﻣﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﺁﺧﺮ ﺇﻟﺦ ‏)
ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﻱ ﻭﻣﺤﻞ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ ﻋﻨﺪ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭﺃﻣﺎ ﻋﻨﺪﻫﺎ ﻓﻴﺠﻮﺯ ﻛﻤﺎ في ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﺀ ﺭﻣﻠﻲ ﺍﻧﺘﻬﻰ ﺍ ﻫـ ﻉ ﺵ

Wallahu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 250 : CARA SUJUD DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 250 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ اَلْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ ) أَخْرَجَهُ اَلثَّلَاثَةُ. وَهُوَ أَقْوَى مِنْ حَدِيثِ وَائِلٍ

( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ. فَإِنْ لِلْأَوَّلِ شَاهِدًا مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ رضي الله عنه صَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَذَكَرَهُ اَلْبُخَارِيُّ مُعَلَّقًا مَوْقُوفًا

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu sujud maka janganlah ia duduk seperti duduknya onta (tetapi) hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. (Dikeluarkan oleh TIGA) , Dan dia lebih kuat (sanadnya) dari hadits Wa`il bin Hujr

Aku melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila sujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dikeluarkan oleh Imam Empat. Hadits pertama mempunyai seorang saksi dari hadits Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu yang dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah. Bukhari menyebutnya dalam keadaan mu’allaq mauquf.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menyuruh kita berbeda dengan semua jenis hewan ketika hendak melakukan sujud dan rukuk. Baginda menerangkan kepada kita tentang gambaran sujud yang disyariatkan dan melarang kita melakukan sujud sebagaimana unta sedang mendekam.

FIQH HADITS :

1. Dilarang menyerupai hewan dalam melakukan gerakan sholat.

2. Disyariatkan mendahulukan kedua lutut ke atas kedua tangan ketika hendak bersujud, yakni meletakkan kedua lutut lebih dahulu dibanding kedua tangan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 249 : BACAAN QUNUT DALAM SHALAT SUBUH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 248 :

وَعَنْ اَلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ; قَالَ : ( عَلَّمَنِي رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ اَلْوِتْرِ : ” اَللَّهُمَّ اِهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ إِنَّهُ لَا يَزِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ زَادَ النَّسَائِيُّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ فِي آخِرِهِ : ( وَصَلَّى اَللَّهُ عَلَى اَلنَّبِيِّ )

وَلِلْبَيْهَقِيِّ عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا دُعَاءً نَدْعُو بِهِ فِي اَلْقُنُوتِ مِنْ صَلَاةِ اَلصُّبْحِ ) وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ

Hasan Ibnu Ali Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengajariku kata-kata untuk dibaca dalam qunut witir yaitu (artinya = Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berti petunjuk berilah aku kesehatan sebagaimana orang-orang telah Engkau beri kesehatan pimpinlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau pimpin berilah aku berkah atas segala hal yang Engkau berikan selamatkanlah aku dari kejahatan yang telah Engkau tetapkan karena hanya Engkaulah yang menghukum dan tidak ada hukuman atas-Mu sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau tolong Maha Berkah Engkau Tuhan kami dan Maha Tinggi). Riwayat Imam Lima. Thabrani dan Baihaqi menambahkan: (artinya = Tidak akan mulia orang yang telah Engkau murkai). Hadits riwayat Nasa’i dari jalan lain menambahkan pada akhirnya: (artinya = Semoga sholawat Allah Ta’ala selalu terlimpah atas Nabi).

Menurut riwayat Baihaqi bahwa Ibnu Abbas berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajari kami doa untuk dibaca dalam qunut pada sholat Shubuh. Dalam sanadnya ada kelemahan.

MAKNA HADITS :

Seperti diketahui bahwa do’a yang paling afdhal adalah do’a yang mencakupi permohonan kebaikan dunia dan akhirat. Tidak ada do’a yang lebih afdhal daripada do’a Rasullullah (s.a.w). Dalam kaitan ini, Rasulullah (s.a.w) mengajarkan do’a qunut kepada al-Hasan bin Ali. Do’a tersebut merupakan salah satu do’a qunut, di samping banyak lagi lafaz do’a qunut yang lain sebagaimana ditetapkan menerusi jalur lain yang sebagian ulama telah meriwayatkannya.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca do’a qunut ketika mengerjakan solat Subuh. Inilah yang dijadikan pegangan oleh Imam al-Syafii dan ia dilakukan setelah melakukan rukuk pada rakaat kedua. Imam Malik turut menganggap sunat membaca qunut dalam sholat Subuh, tetapi dilakukan sebelum melakukan rukuk pada rakaat kedua.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 248 : QUNUT DALAM SHALAT SUBUH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 248 :

وَعَنْ سَعْدِ بْنِ طَارِقِ الْأَشْجَعِيِّ رضي الله عنه قَالَ : ( قُلْتُ لِأَبِي : يَا أَبَتِ ! إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلَيَّ أَفَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي اَلْفَجْرِ ? قَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا أَبَا دَاوُدَ

Sa’id Ibnu Thariq Al-Asyja’y Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku berkata pada ayahku: Wahai ayahku engkau benar-benar pernah sholat di belakang (bermakmum) Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Abu bakar Umar Utsman dan Ali. Apakah mereka berqunut dalam sholat Shubuh? Ayahku menjawab: Wahai anakku itu adalah sesuatu yang baru. Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Abu Dawud.

MAKNA HADITS :

Apa yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) memiliki tujuan yang berlainan antara satu dengan yang lain. Ada kalanya baginda berdo’a untuk melaknat suatu kaum setiap kali mengerjakan sholat lima waktu dan ini dilakukan ketika kaum muslimin sedang ditimpa musibah besar. Qunut seperti ini disebut qunut khusus yang lazim disebut qunut nazilah. Ada kalanya pula baginda membaca do’a qunut secara mutlak tanpa mengira adanya sebab-sebab tertentu.

Dalam kaitan ini, ada ulama yang berpendapat bahwa qunut mutlak ini dilakukan ketika mengerjakan sholat witir secara khusus. Mereka berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian di antara mereka berpendapat bahwa qunut
dilakukan sebelum rukuk dalam sholat witir. Inilah pendapat Imam Abu Hanifah. Ada pula yang berpendapat bahwa do’a qunut ini dibaca sesudah rukuk dalam sholat witir. Inilah pendapat Imam Ahmad. Imam al-Syafi’i berpendapat bahwa do’a qunut ini dibaca dalam sholat witir yang dilakukan pada separuh terakhir bulan Ramadhan. Ada yang berpendapat bahwa do’a qunut yang senantiasa diamalkan oleh Rasulullah (s.a.w) ialah ketika mengerjakan sholat Subuh.
Tetapi mereka berselisih pendapat dalam masalah membaca do’a qunut dalam sholat Subuh.

Antara mereka ada yang berpendapat bahwa qunut Subuh dilakukan sebelum rukuk pada rakaat kedua. Inilah pendapat Imam Malik. Ada pula yang berpendapat bahwa ia dilakukan sesudah mengangkat kepala dari rukuk rakaat kedua. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i. Dari sini dapat diambil satu kesimpulan bahwa setiap ulama memiliki hujah untuk menguatkan pendapatnya menerusi dalil naqli bahwa Nabi (s.a.w) pernah
melakukan kesemuanya itu.

Pembahasan masalah ini memang luas. Hadis Anas sebelum ini yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menjadi hujah bagi ulama
yang mengatakan qunut dibaca ketika mengerjakan sholat Subuh. Mereka menyanggah perkataan al-Asyja’i yang mengatakan: “Hai anakku, itu adalah perbuatan bid’ah.” Di samping itu, ia merupakan ijtihad seorang sahabat, kerana hadis ini tidak bersumber secara terus kepada Nabi (s.a.w). Sungguhpun demikian, hadis al-Asyja’i dijadikan dalil oleh ulama yang mengatakan bahwa qunut tidak dibaca ketika mengerjakan sholat Subuh.

FIQH HADITS :

Dilarang membaca do’a qunut ketika mengerjakan sholat Subuh. Hal ini dijadikan hujah oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 246-247 : ANJURAN MEMBACA QUNUT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 246 :

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَنَتَ شَهْرًا بَعْدَ اَلرُّكُوعِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ اَلْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِأَحْمَدَ وَاَلدَّارَقُطْنِيِّ نَحْوُهُ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ وَزَادَ : ( فَأَمَّا فِي اَلصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ اَلدُّنْيَا )

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah berqunut setelah ruku’ selama sebulan untuk mendoakan kebinasaan sebagian bangsa Arab kemudian beliau meninggalkannya. Muttafaq Alaihi.

Ada hadits serupa riwayat Ahmad dan Daruquthni dari jalan lain tetapi dengan tambahan: Adapun dalam sholat Shubuh beliau selalu berqunut hingga meninggal dunia.

HADITS KE 247 :

وَعَنْهُ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( كَانَ لَا يَقْنُتُ إِلَّا إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ دَعَا عَلَى قَوْمٍ ) صَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak berqunut kecuali jika beliau mendoakan kebaikan atas suatu kaum atau mendoakan kebinasaan atas suatu kaum. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) adalah pusat perhatian seluruh umat manusia. Mereka meminta bantuan baginda apabila ada musuh yang hendak menyerang mereka atau ketika
mereka ingin mempelajari agama mereka. Nabi (s.a.w) mengirimkan kepada mereka pasukan, bantuan dan ahli qurra’ untuk mengajarkan mereka tentang agama. Oleh sebab itu, Nabi (s.a.w) memperkenankan permintaan kabilah Ri’l, Dzakwan, dan ‘Ushayyah dari kalangan Bani Salim. Nabi (s.a.w) mengirimkan
kepada mereka tujuh puluh orang ahli qurra’, mereka terdiri dari sahabat yang kerjanya mencari kayu pada waktu siang hari, sedangkan pada waktu malam harinya pula mereka mengerjakan sholat. Ketika ahli qurra’ yang dikirim oleh Nabi (s.a.w) tiba di sumur Ma’unah, tiba-tiba ketiga kabilah tersebut berbuat khianat kepada mereka dengan membunuh mereka di sumur Ma’unah.

Rasulullah (s.a.w) amat bersedih sebaik menerima berita tentang peristiwa kejam tersebut. Baginda pula berdo’a di dalam sholatnya selama satu bulan melaknat perbuatan mereka. Setiap kali baginda ingat dengan orang yang
membunuh ahli qurra’, baginda mendo’akan kebinasaan untuk mereka. Pada masa yang bersamaan, baginda senantiasa mendo’akan kebaikan untuk kaum dhu’afa di Mekah.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan membaca do’a qunut setiap kali mengerjakan sholat fardu apabila kaum muslimin sedang dilanda musibah atau malapetaka. Lafadz do’a tersebut hendaklah disesuaikan dengan musibah atau malapetaka yang sedang menimpa mereka.

2. Disyariatkan membaca do’a qunut ketika mengerjakan sholat Subuh sesudah rukuk kedua. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i. Imam Malik menurut qaul yang sahih mengatakan bahwa do’a qunut dilakukan sebelum rukuk yang kedua. Imam Ahmad berkata: Do’a qunut dilakukan pada rakaat ganjil ketika mengerjakan sholat Isyak sesudah rukuk.” Imam Abu Hanifah berkata: “Do’a qunut dilakukan dalam rakaat ganjil dari sholat Isyak sebelum rukuk.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 245 : ANJURAN DUDUK ISTIRAHAH SETELAH SUJUD KEDUA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 245 :

وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رضي الله عنه ( أَنَّهُ رَأَى اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Malik Ibnu al-Huwairits Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia pernah melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sedang sholat apabila beliau dalam rakaat ganjil dari sholatnya beliau tidak bangkit berdiri sebelum duduk dengan tegak. Hadits riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) seringkali melakukan duduk ringan dalam setiap bilangan rakaat ganjil ketika dalam sholat sebelum baginda bangkit berdiri di antara rakaat
pertama dengan rakaat kedua, serta di antara rakaat ketiga dengan rakaat keempat. Duduk ini lazimnya disebut jalsah al-istirahah atau duduk untuk istirahat.

Jumhur ulama mengatakan bahwa Nabi (s.a.w) tidak melakukan duduk istirahat melainkan setelah usia baginda lanjut, sedangkan menurut Imam al-Syafi’i, itu disyariatkan secara mutlak, baik dalam sholat fardu ataupun dalam sholat sunat.

FIQH HADITS :

Disyariatkan duduk istirahat sesudah sujud kedua pada rakaat pertama dan rakaat ketiga.

Imam al-Syafi’i dalam salah satu pendapatnya mengatakan bahwa duduk istirahat disyariatkan, meskipun dalam sholat sunat atau seseorang itu memiliki tubuh yang kuat. Duduk istirahat ini dianggap pemisah dan tidak termasuk bagian dari rakaat pertama dan tidak pula rakaat kedua. Tetapi menurut pendapat yang masyhur di kalangan mazhab al-Syafi’i, duduk istirahat ini sunat hukumnya.

Imam al-Nawawi dalam kitab al-Minhaj mengatakan bahwa pendapat yang masyhur dalam masalah ini adalah disunatkan duduk istirahat sebelum berdiri untuk meneruskan rakaat selanjutnya.

Penulis kitab al-Zubad mengatakan: “Dan (sunat yang lain dalam sholat ialah) duduk istirahat dalam waktu sebentar pada setiap rakaat yang telah dikerjakan.” Walaupun, pendapat yang menjadi pegangan jumhur ulama ialah duduk istirahat ini tidak disyariatkan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 244 : DO’A KETIKA DUDUK ANTARA DUA SUJUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 244 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ بَيْنَ اَلسَّجْدَتَيْنِ : ( اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي ) رَوَاهُ اَلْأَرْبَعَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ وَاللَّفْظُ لِأَبِي دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam antaraa dua sujud biasanya membaca: “allaahummagh firlii warhamnii wahdinii wa ‘afinii war zugnii (artinya = Ya Allah ampunilah aku kasihanilah diriku berilah petunjuk padaku limpahkan kesehatan padaku dan berilah rizqi padaku).” Diriwayatkan oleh Imam Empat kecuali Nasa’i dengan lafadz hadits menurut Abu Dawud. Shahih menurut Hakim.

MAKNA HADITS :

Do’a Nabi (s.a.w) adalah do’a yang semestinya lebih diutamakan karena baginda telah dianugerahkan Jawami’ al-Kalim. Do’a di antara dua sujud disyariatkan dan dimakbulkan. Do’a yang paling afdhal untuk itu ialah do’a yang diajarkan oleh Nabi (s.a.w).

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca doa ketika duduk di antara dua sujud karena mengikuti Sunnah Nabi (s.a.w).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 243 : BOLEH SHALAT SAMBIL DUDUK BAGI YANG SAKIT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 243 :

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مُتَرَبِّعًا ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat dengan duduk bersila. Riwayat Nasa’i dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Berdiri dalam sholat fardu merupakan rukun sholat bagi orang yang mampu berdiri.
Orang yang sakit dan tidak mempunyai kemampuan untuk berdiri boleh mengerjakan sholat dalam keadaan duduk mengikuti keadaan yang dapat dia lakukan. Hal ini merupakan salah satu kemudahan Islam. Orang sakit yang mengerjakan sholat sambil duduk memperoleh pahala yang sama dengan orang yang sholat sambil berdiri. Sedangkan dalam sholat sunat, tidak diwajibkan berdiri, meskipun melakukannya dalam keadaan berdiri lebih diutamakan. Hukum wajib
berdiri dalam sholat ialah firman-Nya:

وقوموا لله قانتين

“… Berdiri untuk Allah (dalam solat kamu) dengan khusyuk.” (Surah al-Baqarah: 238)

FIQH HADITS :

Hadis ini menjelaskan tatacara sholat orang yang sakit hingga terpaksa mengerjakannya dalam keadaan duduk.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..