Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 169 : KEKHUSUSAN ARAH KIBLAT DI DAERAH MADINAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 169 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَا بَيْنَ اَلْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ ) رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَقَوَّاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Ruang antara Timur dan Barat adalah Kiblat. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dikuatkan oleh Bukhari.

MAKNA HADITS :

Setelah Nabi (s.a.w) tinggal di Madinah, baginda ingin menjelaskan kepada masyarakat Madinah tentang arah kiblat mereka yang terletak di antara arah timur dan arah barat. Untuk itu, baginda bersabda:

مَا بَيْنَ اَلْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Di antara arah timur dan arah barat terdapat arah kiblat.”
Hadis ini tidak bersifat umum yang berlaku bagi setiap daerah, kerana
adakalanya arah kiblat bagi suatu daerah ke arah timur atau malah ke arah barat.
Hal ini sebagaimana yang telah baginda sabdakan mengenai keadaan ahli Madinah berkenaan dengan menghadap dan membelakangi kiblat bagi orang yang menunaikan hajat:

ولكن شرقوا وغربوا

“Tetapi menghadaplah kamu ke arah timur atau ke arah barat!”“`

FIQH HADITS :

1. Arah kiblat bagi penduduk Madinah dan sekitarnya terletak di tengah-tengah antara arah timur dan arah barat.

2. Orang yang melihat secara langsung kiblat wajib menghadap ke arah kiblat, karena dia mampu berbuat demikian. Bagi orang yang tinggal berjauhan dengan Ka’bah juga wajib menghadap ke arahnya, kerana sukar bagi mereka untuk dapat menghadap ke arah ‘ain kiblat secara tepat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 168 : IJTIHAD ARAH QIBLAT SEBELUM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 168 :

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كُنَّا مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي لَيْلَةٍ مَظْلَمَةٍ فَأَشْكَلَتْ عَلَيْنَا اَلْقِبْلَةُ فَصَلَّيْنَا . فَلَمَّا طَلَعَتِ اَلشَّمْسُ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا إِلَى غَيْرِ اَلْقِبْلَةِ فَنَزَلَتْ : (فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اَللَّهِ ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ

Amir Ibnu Rabi’ah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami pernah bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam suatu malam yang gelap maka kami kesulitan menentukan arah kiblat lalu kami sholat. Ketika matahari terbit ternyata kami telah sholat ke arah yang bukan kiblat maka turunlah ayat (Kemana saja kamu menghadap maka disanalah wajah Allah). Riwayat Tirmidzi. Hadits lemah menurutnya.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) menyuruh hamba-hamba-Nya menghadap kiblat ketika mengerjakannya di tempat bermukim. Untuk itu Allah (s.w.t) berfirman:

فول وجهك شطر المسجد الحرام

“…Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram….” (Surah al-Baqarah: 144).

Demikian pula semasa dalam perjalanan. Hal ini dijelaskan melalui firman-Nya:

فولوا وجوهكم شطره

“… Dan di mana saja kalian berada, palingkanlah mukamu ke arahnya….” (Surah
al-Baqarah: 144)

Namun, barang siapa yang merasa kebingungan dalam menentukan arah kiblat karena gelap, mendung atau faktor lain, maka dia wajib memperhatikan tanda-tanda yang ada di sekelilingnya dan menelitinya, kemudian solatlah dengan menghadap ke arah yang dia yakini sebagai arah kiblat. Jika kesalahan tersebut diketahui ketika masih dalam waktu solat, maka dia wajib mengulang lagi solatnya. Tetapi jika waktu solat telah lewat, maka tidak wajib baginya mengulang solat itu. Jika seseorang solat tanpa berusaha mengenal pasti terlebih dahulu arah kiblat dan ternyata dia salah dalam menentukannya, maka secara mutlak solatnya wajib diulang, baik waktu solat masih ada ataupun sebaliknya. Hadis ini berstatus dha’if; tidak dapat dijadikan sebagai hujah.

FIQH HADITS :

Sah sholat seseorang yang tidak menghadap ke arah kiblat karena gelapnya malam atau mendung yang menjadikan cuaca gelap setelah dia berusaha karena untuk mengenal pasti mengenainya. Jika setelah itu diketahui seseorang itu solat dalam keadaan tidak menghadap arah kiblat melainkan ke arah yang lain, maka solatnya tetap sah. Inilah pendapat Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berlandaskan kepada hadis ini.

Namun Imam Malik mengatakan, orang itu disunatkan mengulangi sholatnya selagi waktunya masih ada jika ternyata dia telah membelakangi kiblat atau menghadap ke arah timur atau ke arah barat, meskipun dia telah berusaha keras untuk mengenal pasti arah kiblat itu.

Imam Malik mengemukakan alasan untuk mendukung pendapatnya bahwa disunatkan mengulangi sholat bagi seorang yang mengerjakannya secara sendirian, kerana setelah itu dia menjumpai orang lain yang mengerjakannya dalam keadaan berjemaah dan sholat itu dikerjakan dalam waktunya. Jadi, dalam keadaan ini dia disunatkan mengulangi sholatnya berjamaah bersama mereka. Imam Malik berkata: “Jika seseorang itu miring sedikit ke kiri arah kiblat atau sedikit miring ke arah kanan kiblat, maka dia tidak perlu mengulangi sholatnya lagi, baik waktu sholat masih ada atau sebaliknya.”

Imam al-Syafi’i berkata: “Jika seseorang yang miring ke arah kiri kiblat atau sedikit miring ke arah kanan kiblat, maka sholat itu tidak sah baginya, kerana kiblat
merupakan salah satu syarat sahnya sholat.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 167 : AURAT WANITA DIDALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 167 :

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- ; أَنَّهَا سَأَلَتْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ( أَتُصَلِّي اَلْمَرْأَةُ فِي دِرْعٍ وَخِمَارٍ بِغَيْرِ إِزَارٍ ؟ قَالَ : إِذَا كَانَ اَلدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُورَ قَدَمَيْهَا ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَ اَلْأَئِمَّةُ وَقْفَهُ

Dari Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam: Bolehkah seorang perempuan sholat dengan memakai baju panjang dan kerudung tanpa sarung؟ Beliau bersabda: Boleh apabila baju panjang itu lebar menutupi punggung atas kedua kakinya. Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Para Imam Hadits menilainya mauquf.

MAKNA HADITS :

Aurat perempuan dalam sholat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Adapun dalam masalah ini ulama masih berselisih pendapat sebagaimana yang akan dibahas secara terperinci dalam fiqh hadis berikut ini.

FIQH HADITS :

Wanita wajib menutup seluruh anggota tubuhnya hinggga bagian luar telapak kakinya. Inilah pendapat mazhab al-Syafi’i dan mazhab Hanbali dan dalilnya adalah hadis di atas. Jika seorang wanita solat dengan telapak kaki dalam keadaan terbuka atau ada sebagian anggota tubuhnya yang terlihat selain wajah dan kedua telapak tangan, maka dia wajib mengulangi semula sholatnya.

Mazhab Maliki berpendapat, wanita wajib menutup seluruh anggota tubuhnya selain bagian dalam telapak tangan dan kaki serta jari-jemari kedua tangan dan kedua telapak kaki. Oleh sebab itu, tidak disyariatkan menutup keduanya itu. Dengan demikian, sholatnya sah, meskipun itu makruh.

Imam Abu Hanifah dan Imam Muhammad mengatakan, wajib menutup seluruh anggota tubuh kecuali wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki. Kedua imam ini mengatakan, dimaafkan terbuka anggota tubuh yang kurang dari satu perempat betis, rambut, paha dan perut.

Sedangkan menurut Abu Yusuf, dimaafkan terbuka anggota tubuh yang kurang dari separuh dan dalam masalah anggota tubuh yang terbuka separuh ini ada dua riwayat yang bersumber
darinya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 166 : HUKUM SHOLAT TANPA PENUTUP BAHU (TANPA BAJU)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 166 :

وَلَهُمَا مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( لَا يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي اَلثَّوْبِ اَلْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ )

Menurut riwayat Bukhari-Muslim dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu beliau bersabda: Janganlah seseorang di antara kamu sholat dengan memakai selembar kain yang sebagian dari kain itu tidak dapat ditaruh di atas bahunya.

MAKNA HADITS :

Menutup bagian atas tubuh dalam sholat, sekalipun tidak termasuk aurat, merupakan salah satu sikap untuk mengagungkan dan memuliakan Allah. Barang siapa mengerjakan sholat dengan bagian atas tubuh dibiarkan terbuka, maka sholatnya tetap sah, walaupun dimakruhkan. Inilah pendapat jumhur ulama. Dalam kaitan ini, Imam Ahmad memiliki dua pendapat. Riwayat paling kuat adalah pendapat yang mengatakan sah dan larangan ini menunjukkan hukum makruh, bukan hukum haram.

FIQH HADITS :

Dilarang sholat memakai kain sekiranya pada bagian bahu seseorang itu tidak ada yang menutupi.

Imam al-Syafi’i, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan, larangan ini menunjukkan hukum makruh. Mereka mengemukakan
dalil untuk memperkuat pendapatnya dengan hadis Jabir no. 165 di atas. Jika seseorang mengerjakan sholat dengan hanya memakai kain yang menutup auratnya saja tanpa mengenakan sehelai kain pun pada bahunya, maka sholatnya tetap sah, tetapi itu makruh, baik dia mampu memakaikan kain pada bahunya ataupun tidak.

Imam Ahmad mengatakan, sholat seseorang itu tidak sah jika dia mampu memakaikan sehelai kain pada bahunya, kerana berlandaskan kepada makna dzahir hadis di atas. Sedangkan riwayat lain menurut Imam Ahmad mengatakan, sholat seseorang itu tetap sah, tetapi dia berdosa karena enggan memakai kain
pada bagian bahunya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 165 : KESEMPURNAAN MENUTUP AURAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 165 :

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَهُ ( إِنْ كَانَ اَلثَّوْبُ وَاسِعًا فَالْتَحِفْ بِهِ ) – يَعْنِي فِي الصَّلَاةِ – وَلِمُسْلِمٍ ( فَخَالِفْ بَيْنَ طَرَفَيْهِ – وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: Apabila kain itu lebar maka berkerudunglah dengannya -yakni dalam sholat.- Menurut riwayat Muslim: Maka selempangkanlah di antara dua ujungnya dan apabila sempit maka bersarunglah dengannya. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Hukum menutup aurat di dalam sholat adalah wajib. Diperbolehkan sholat dengan memakai sehelai kain dan seseorang tidak disyaratkan memakai dua helai kain (pakaian) ketika mengerjakan sholat. Ini merupakan salah satu kemudahan dalam Islam. Namun apabila kain yang dipakai itu sempit (tidak lebar), maka hendaklah seseorang yang memakainya menjadikannya sebagai kain sarung untuk menutup auratnya dan aurat lelaki itu ialah antara pusat hingga kedua lutut. Jika kain itu lebar, maka hendaklah dia melipat kedua tepinya secara bersilang untuk menutup bagian atas tubuh.

FIQH HADITS :

Boleh mengerjakan sholat dengan memakai sehelai kain. Jika kain tersebut lebar, maka selebihnya hendaklah dilipat ke atas bagian tubuh secara bersilang pada
kedua ujungnya sesudah bersarung dengannya. Apabila kain itu sempit (tidak lebar), maka cukuplah dipakai untuk bersarung agar menutupi auratnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 164 : BATASAN AURAT WANITA DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 164 :

وَعَنْ عَائِشَةَ عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا يَقْبَلُ اَللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Allah tidak akan menerima sholat seorang perempuan yang telah haid (telah baligh kecuali dengan memakai kerudung. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) menjelaskan seorang wanita mengerjakan sholat mestilah menutup kepala, leher dan seluruh tubuhnya, kerana semua itu merupakan aurat baginya. Jika dia mengerjakan sholat dalam keadaan tubuh terbuka, maka sholatnya batal (tidak sah). Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Rasulullah (s.a.w): “Allah tidak akan menerima solatnya” dalam hadis di atas.

Maksud haid di sini bukanlah makna yang sebenarnya, sebab wanita yang sedang haid jelas tidak dibolehkan sholat. Maksudnya ialah ungkapan al-mubalaghah, kerana haid merupakan salah satu bukti seorang wanita itu telah berusia baligh.

FIQH HADITS :

1. Wanita ketika mengerjakan sholat wajib menutup kepala, leher dan seluruh anggota tubuhnya yang lain sejauh yang terjangkau oleh kerudung.

2. Antara wanita merdeka dengan wanita sahaya wujud persamaan dimana mereka sama-sama diwajibkan menutup aurat ketika dalam sholat berdasarkan
perkataan haid yang bersifat umum di dalam hadis itu.

3. Jumhur ulama membedakan antara aurat wanita merdeka dengan wanita sahaya dimana aurat wanita sahaya adalah dari pusat hingga kedua lutut dan ini berlaku di luar sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin

HADITS KE 162 : KEUTAMAAN DO’A SETELAH ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 162 :

وَعَنْ جَابِرٍ- رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ اَلنِّدَاءَ : اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ اَلدَّعْوَةِ اَلتَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ اَلْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا اَلَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ.

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang ketika mendengar adzan berdoa: Allaahumma robba haadzihi da’watit taammati was sholaatil qooimati aati Muhammadanil washiliilata wal fadliilata wab ‘atshu maqooman mahmuudal ladzi wa’adtahu (artinya: Ya Allah Tuhan panggilan yang sempurna dan sholat yang ditegakkan berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan dan bangunkanlah beliau dalam tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan) maka dia akan memperoleh syafaat dariku pada hari Kiamat.” Dikeluarkan oleh Imam Empat.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) memberitahukan tentang do’a yang boleh mendatangkan kebaikan berlimpah bagi orang yang senantiasa membacanya sesudah azan. Waktu sesudah azan merupakan antara waktu dimana do’a dimakbulkan dan rahmat turun dari langit kepada hamba-hamba Allah (s.w.t).

Memandangkan Nabi (s.a.w) adalah pembimbing agung kita yang seandainya tanpanya niscaya kita tidak tahu bagaimana kita mengerjakan sholat, maka baginda berhak memiliki keutamaan terbesar di atas jasanya ini. Oleh sebab itu, kita wajar mendo’akan baginda secara khusus berupa memohon wasilah, keutamaan, derajat yang tinggi, dan kedudukan yang terpuji untuk menunaikan hak kita ke atas tanggung jawab yang baginda lakukan ke atas kita.

Dengan demikian, makin
bertambahlah kesempurnaan baginda di atas kesempurnaan.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan berdo’a setelah azan dikumandangkan dengan kalimat-kalimat yang telah disebutkan dalam hadis tersebut. Membaca do’a itu boleh membawa kepada kebaikan yang besar dan kelak orang yang membacanya akan beroleh syafaat.

2. Berita gembira dengan husnul khatimah bagi orang yang gemar membaca do’a ma’tsur (yang dianjurkan oleh Nabi (s.a.w).

3. Disyari’atkan mendo’akan orang yang lebih utama agar orang yang
mendo’akannya turut memperoleh manfaat yang besar.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 161 : ANTARA ADZAN DAN IQAMAH ADALAH WAKTU ISTIJABAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 161 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يُرَدُّ اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اَلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Doa antara adzan dan iqomah itu tidak akan ditolak.” Riwayat Nasa’i dan dianggap lemah oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Doa mempunyai tempat dan waktu-waktu tertentu yang menjadi salah satu kunci do’a itu dikabulkan. Rasulullah (s.a.w) menekankan bahwa keadaan itu mesti diperhatikan untuk memastikan do’a dikabulkan.

Diantaranya adalah waktu antara
azan dengan iqamah yang merupakan waktu kerberkahan. Pada waktu itu semua pintu langit dibuka dan do’a dikabulkan serta rahmat Allah turun kepada hamba-hamba-Nya. Namun ketentuan do’a dikabulkan ini masih terikat, yaitu selagi seseorang tidak berdo’a untuk perbuatan dosa atau bertujuan memutuskan ikatan silaturrahim. Jika berdo’a untuk melakukan perbuatan dosa atau untuk memutuskan hubungan silaturrahim, maka do’anya tidak dikabulkan. Didalam Sunnah telah disebutkan hadis-hadis yang menunjukkan do’a-do’a yang mesti dibaca antara azan dan iqamah yang antara lain ialah:

“رضيت بالله ربا وبالاسلام دينا وبمحمد رسولا. قال النبي صلى الله عليه وسلم : إن من قال ذلك غفر له ذنبه”

Aku redha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad sebagai Rasulku. Rusulullah (s.a.w) bersabda: “Barang siapa yang membaca do’a tersebut, niscaya dosanya diampuni.”

Doa yang lain ialah bershalawat kepada Nabi (s.a.w) sesudah selesai menjawab azan.

FIQH HADITS :

1. Keistimewaan waktu antara adzan dan iqamah.

2. Dianjurkan berdo’a di antara azan dan iqamah kerana do’a pada waktu tersebut dikabulkan oleh Allah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 160 : BEDA TUGAS MUADZIN DAN IMAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 160 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْمُؤَذِّنُ أَمْلَكُ بِالْأَذَانِ وَالْإِمَامُ أَمْلَكُ بِالْإِقَامَةِ ) رَوَاهُ اِبْنُ عَدِيٍّ وَضَعَّفَهُ

وَلِلْبَيْهَقِيِّ نَحْوُهُ : عَنْ عَلِيٍّ مِنْ قَوْلِهِ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Muadzin itu lebih berhak untuk adzan dan imam itu lebih berhak untuk qomat.” Diriwayatkan dan dianggap lemah oleh Ibnu Adiy.

Menurut riwayat Baihaqi ada hadits semisal dari Ali Radliyallaahu ‘anhu dari perkataannya sendiri.

MAKNA HADITS :

Antara keistimewaan Islam ialah segala sesuatu mesti diserahkan kepada orang
yang bertugas supaya ia dapat dilakukan dengan tepat dan terarah. Allah (s.w.t) berfirman:

….قد علم كل اناس مشربهم

“Sungguh setiap orang telah mengetahui tempat minumnya (masing masing).” (Surah al-Baqarah: 60)

Muazzin diberi kepercayaan memberitahukan masuknya waktu solat dan tugas ini sepenuhnya telah diserahkan kepadanya. Oleh sebab itu, Rasulullah (s.a.w)
menjadikannya lebih berkuasa terhadap azan. Iqamah juga memiliki kaitan erat dengan solat dan jamaah di mana solat berjamaah tidak dapat dilakukan tanpa kewujudan imam. Jadi, imam lebih menguasai iqamah. Seseorang tidak boleh beriqamah melainkan setelah mendapat isyarat dari imam. Di sinilah nampak kebijaksanaan syariat Islam dimana setiap tugas diserahkan kepada orang yang berhak menerimanya dan memberikan tanggung jawab kepada mereka yang bersangkutan. Muazzin adalah orang yang diberi kepercayaan untuk memberikan masuknya waktu solat sedangkan imam adalah orang yang bertanggung jawab mengimami sholat.

FIQH HADITS :

1. Muazzin dipercaya untuk menjaga waktu solat dan oleh kerana itu, tugas untuk mengawasi waktu solat diserahkan kepadanya.

2. Solat tidak didirikan kecuali setelah mendapat isyarat dari imam atau dengan kehadirannya, tetapi tidak bergantung kepada izinnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..