Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 159 : IQOMAH BOLEH DILAKUKAN OLEH SESEORANG YANG TIDAK MENGUMANDANGKAN ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 159 :

وَلِأَبِي دَاوُدَ: فِي حَدِيثِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ قَالَ : أَنَا رَأَيْتُهُ – يَعْنِي : اَلْأَذَان – وَأَنَا كُنْتُ أُرِيدُهُ . قَالَ : “فَأَقِمْ أَنْتَ ” وَفِيهِ ضَعْفٌ أَيْضًا

Menurut riwayat Abu Dawud dari hadits Abdullah Ibnu Zaid bahwa dia berkata: Aku telah memimpikannya yaitu mimpi beradzan dan aku menginginkannya. Maka Rasulullah saw bersabda: “Baik qomatlah engkau.” Hadits ini juga lemah.

MAKNA HADITS :

Melihat tujuan azan ialah memberitahukan masuknya waktu sholat bagi orang yang tinggal berjauhan dengan masjid, maka Nabi (s.a.w) menyuruh Abdullah ibn Zaid mengajarkan azan kepada Bilal, kerana Bilal mempunyai suara yang lebih kuat berbanding dirinya. Memandang tujuan iqamah untuk memberitahukan yang sholat tidak lama lagi akan dilaksanakan kepada orang yang sudah berada di dalam masjid, maka Rasulullah (s.a.w) menyuruh Abdullah ibn Zaid mengumandangkan iqamah untuk menghibur hatinya, kerana dialah yang bermimpi azan tersebut.

FIQH HADITS :

Iqamah boleh dilakukan oleh seseorang yang tidak mengumandangkan azan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 158 : IQAMAH ADALAH HAK BAGI ORANG YANG ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 158 :

وَلَهُ : عَنْ زِيَادِ بْنِ اَلْحَارِثِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( وَمَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيمُ ) وَضَعَّفَهُ أَيْضًا

Dalam riwayatnya yang lain dari Ziyad Ibnul Harits bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “barangsiapa yang telah adzan maka dia yang akan qomat.” Hadits ini juga dinilai lemah.

MAKNA HADITS :

Mengumandangkan iqamah adalah hak bagi orang yang mengumandangkan azan
dikarenakan dia telah menyeru orang yang jauh untuk mengerjakan solat dan oleh kerananya, seruannya kepada orang yang dekat adalah lebih diutamakan.

Walaupun, ini bukannya satu kewajiban, hingga apabila ditinggalkan mengakibatkan
iqamah batal, sebaliknya ia adalah sunat mu’akkad supaya dialah yang melakukan iqamah demi menghargai haknya sebagai muazzin. Jika iqamah dilakukan oleh orang lain, maka itu tetap diperbolehkan sebagaimana yang telah ditegaskan oleh hadis no. 159.

FIQH HADITS :

1. Iqamah adalah hak bagi orang yang azan.

2. Hak di sini mencakup wajib dan sunat muakkad. Namun makna yang dimaksudkan disini adalah sunat muakkad berdasarkan hadis yang akan disebutkan berikutnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 157 : ANJURAN PUNYA WUDUK KETIKA ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 157 :

وَلَهُ : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا يُؤَذِّنُ إِلَّا مُتَوَضِّئٌ )  وَضَعَّفَهُ أَيْضًا 

Dalam riwayatnya pula dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak diperkenankan adzan kecuali orang yang telah berwudlu.” Hadits tersebut juga dinilai lemah.

MAKNA HADITS :

Azan adalah berzikir kepada Allah. Jadi, sepatutnya seseorang yang hendak mengumandangkannya berada dalam keadaan berwuduk. Walaupun ulama masih berselisih pendapat dalam masalah ia dianggap sebagai syarat ataupun tidak.

FIQH HADITS :

Disunatkan bersuci untuk mengumandangkan azan. Tetapi apabila azan atau iqamah itu dilakukan oleh orang yang hadas kecil atau hadas besar, maka ia tetap diperbolehkan, meskipun makruh hukumnya menurut jumhur ulama.

Imam Malik mengatakan bahwa azan boleh dilakukan meskipun dalam keadaan tidak berwuduk, tetapi iqamah tidak boleh dilakukan kecuali oleh orang yang sudah berwuduk. Jika azan dilakukan oleh orang yang junub, maka ada dua riwayat menurut Imam Malik. Walaupun begitu, ia tetap memperbolehkan mengikuti pendapat mayoritas ulama.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 155 : ANJURAN ADZAN SETIAP WAKTUNYA TIBA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 155 :

وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ لَنَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ( وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ . . . ) اَلْحَدِيثَ أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَةُ.

Dari Malik Ibnu Huwairits Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda pada kami: “Bila waktu shalat telah tiba maka hendaklah seseorang diantara kamu menyeru adzan untukmu sekalian.” Dikeluarkan oleh Imam Tujuh.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) memerintahkan untuk mengumandangkan azan untuk setiap kali hendak mengerjakan solat fardu sebagai peringatan yang waktu solat telah tiba. Baginda menganjurkan azan supaya benar-benar diperhatikan dan menjelaskan bahwa kedudukan imam solat merupakan hak bagi orang yang lebih alim dan usianya lebih tua disamping membimbing mereka untuk mengetahui tatacara pelaksanaan solat menerusi perbuatannya karena pelajaran yang disampaikan secara praktikal lebih besar pengaruhnya. Dalam kaitan ini, baginda bersabda:

صلوا كما رأيتموني أصلي

“Solatlah kamu sebagaimana kamu melihatku mengerjakan solat.”

Ibn Hajar al-‘Asqalani sengaja meringkas hadis ini karena menyesuaikan dengan tuntutan bab ini sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para ahli hadis yang lain.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan azan untuk setiap kali hendak mengerjakan solat fardu ketika waktunya telah tiba.

2. Tidak ada suatu syarat bagi seseorang yang hendak menjadi muazzin selain beriman kepada Allah dan mengetahui waktu-waktu solat. Hal ini berlandaskan kepada sabda Rasulullah (s.a.w): “Seseorang di antara kamu,” (tanpa menyebutkan suatu persyaratan).

3. Solat berjamaah diperintahkan oleh syariat.

4. Keutamaan menjadi imam solat berbanding menjadi muazzin, kerana Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Hendaklah orang yang paling tua usianya diantara kamu menjadi imam solat bagi kamu.” Baginda tidak mengatakan: “Hendaklah orang yang paling tua usianya diantara kamu mengumandangkan azan buat kamu.” Adapun masalah memohon supaya dilantik menjadi imam masih diperdebatkan oleh ulama tentang keutamaannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 153 : TATA CARA MENJAWAB ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 153 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا سَمِعْتُمْ اَلنِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِلْبُخَارِيِّ: عَنْ مُعَاوِيَةَ

وَلِمُسْلِمٍ: ( عَنْ عُمَرَ فِي فَضْلِ اَلْقَوْلِ كَمَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ كَلِمَةً كَلِمَةً سِوَى اَلْحَيْعَلَتَيْنِ فَيَقُولُ: “لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ” )

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sekalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin.” Muttafaq Alaihi.

Dalam riwayat Bukhari dari Muawiyah Radliyallaahu ‘anhu terdapat hadits yang semisalnya.

Menurut Riwayat Muslim dari Umar Radliyallaahu ‘anhu tentang keutamaan mengucapkan kalimat per kalimat sebagaimana yang diucapkan oleh sang muadzin kecuali dua hai’alah (hayya ‘alash sholaah dan hayya ‘alal falaah) maka hendaknya mengucapkan la haula wala quwwata illa billah.

MAKNA HADITS :

Menjawab azan yang dilakukan oleh pendengar disebut hikayah al-azan (meniru bacaan azan), yaitu dengan cara meniru semua sebutan lafaz azan kecuali
حي على الصلاة “ dan “حي على الفلاح
maka jawaban kedua kalimat ini adalah membaca kalimat
“لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم”.

Hikmah menjawab azan yang dilakukan oleh orang yang mendengarnya adalah bersegera datang menuju ke tempat sholat. Ini berarti dia telah memenuhi
seruannya dengan ucapan sekaligus perbuatannya, yaitu berwuduk dan berangkat ke masjid untuk mengerjakan sholat berjamaah. Menjawab azan yang dilakukan oleh orang yang medengarnya tidak semata-mata bertujuan meniru suara azan yang kemudian menyeru umat manusia mengerjakan solat, sebaliknya ia bertujuan membangkitkan perasaan. Dengan membaca
لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم “
seseorang telah mengakui kelemahan yang ada pada dirinya sekaligus memohon pertolongan
kepada Allah untuk melaksanakan ibadah yang mulia ini. Dengan demikian, orang yang mendengar azan itu mendapat ganjaran pahala setelah membaca hawqalah
“لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم “
(yang merupakan respon ke atas ucapan al-hay’alatain yang
dikumandangkan oleh juru azan.
Hukum menjawab azan ialah sunat, dan dianggap sudah memadai apabila azan yang dikumandangkan oleh seorang muazin telah dijawab meskipun di kawasan tersebut ramai orang yang mengumandangkan azan. Azan pertama untuk fajar
kadzib mesti dijawab, kerana Islam telah menyebutnya sebagai azan dan oleh kerananya, ia sunat untuk dijawab.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menjawab azan yang dikumandangkan muazzin baik bagi orang yang dalam keadaam bersuci ataupun hadas, wanita yang haid
maupun yang junub, sebab jawaban itu merupakan berzikir kepada Allah dan diperbolehkan untuk melakukan dzikir. Namun menjawab azan tidak boleh dilakukan oleh orang yang sedang buang air dan orang yang sedang bersetubuh.

2. Hukum menjawab azan adalah sunat, kerana ulama telah sepakat
mengenainya. Kesepakatan inilah yang memalingkan pengertian wajib di dalam perintah yang terkandung di dalam sabda Rasulullah (s.a.w): “Maka ucapkanlah…”

3. Orang yang mendengar al-haya’alatain hendaklah menjawab dengan al-hawqalatain.

4. Keutamaan ikhlas di dalam setiap beramal. Amal yang diterima oleh Allah merupakan anugerah yang besar hingga seseorang yang melakukannya akan masuk ke dalam surga.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 152 : KEWAJIBAN IJTIHAD WAKTU SEBELUM ADZAN DIKUMANDANGKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 152 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ; ( إِنَّ بِلَالاً أَذَّنَ قَبْلَ اَلْفَجْرِ فَأَمَرَهُ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَرْجِعَ فَيُنَادِيَ: “أَلَا إِنَّ اَلْعَبْدَ نَامَ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَضَعَّفَهُ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Bilal beradzan sebelum fajar lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruhnya kembali pulang kemudian berseru: “Ingatlah bahwa hamba itu butuh tidur.” Diriwayatkan dan dianggap hadits lemah oleh Abu Dawud.

MAKNA HADITS :

Tidak diperbolehkan mengumandangkan azan untuk memberitahu masuknya waktu
solat sebelum mengenal pasti kebenaran masuknya waktu solat. Apabila muazzin salah lalu mengumandangkan azan sebelum tiba waktu solat, maka dia wajib
mengingatkan orang yang mendengarnya melalui seruan ralat supaya mereka tidak terpengaruh dengan azan tersebut sehingga mengerjakan solat sebelum masuk waktunya.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mematuhi orang alim, lebih-lebih lagi dalam urusan agama.

2. Tidak boleh mengumandangkan azan Subuh sebelum masuk waktunya.

3. Juru azan mesti meneliti waktu terlebih dahulu dalam memastikan waktu solat. Tetapi jika ternyata masih salah setelah ijtihad mengenainya, maka dia wajib memberitahu orang ramai tentang kekeliruannya tersebut.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 150 : ADZAN DAN JAMAK SHOLAT KETIKA PELAKSANAAN IBADAH HAJI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 150 :

ولَهُ عَنْ جَابِرٍ; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَتَى اَلْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا اَلْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ )

وَلَهُ عَنْ اِبْنِ عُمَرَ: ( جَمَعَ بَيْنَ اَلْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِإِقَامَةٍ وَاحِدَةٍ ). زَادَ أَبُو دَاوُدَ: ( لِكُلِّ صَلَاةٍ ). وَفِي رِوَايَةِ لَهُ: ( وَلَمْ يُنَادِ فِي وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا )

Dalam riwayat Muslim yang lain dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tiba di kota Mudzalifah beliau shalat Maghrib dan Isya’ dengan satu adzan dan dua qomat.

Hadits riwayat Muslim dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjamak shalat Maghrib dan Isya’ dengan satu kali qomat. Abu Dawud menambahkan: Untuk setiap kali shalat. Dalam riwayat lain: Tidak diperintahkan adzan untuk salah satu dari dua shalat tersebut.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menjamak solat Maghrib dengan solat Isyak di al-Muzdalifah dengan jamak ta’khir, tetapi keterangan yang dinukil oleh sahabat mengenai apa yang
dilakukan pada malam itu masih diwarnai oleh kenyataan yang berlainan antara satu sama lain.
Jabir menceritakan bahwa Rasulullah (s.a.w) menjamak kedua-duanya dengan sekali azan dan sekali iqamah untuk masing-masing solat, yakni dua kali iqamah. Ibn Umar (r.a) menceritakan bahwa Nabi (s.a.w) menjamak kedua-dua solat itu dengan dua iqamah tanpa mengumandangkan azan.
Ibnu Mas’ud (r.a) menceritakan bahwa Nabi (s.a.w) menjamak kedua-duanya dengan dua kali azan dan dua kali iqamah.
Imam al-Syafi’i mengambil riwayat Jabir yang mengatakan satu kali azan dan dua kali iqamah, bukan riwayat Ibn ‘Umar, karena riwayat yang mengukuhkan mesti didahulukan ke atas riwayat yang menafikan.

FIQH HADITS :

1. Orang yang berhaji dibolehkan menjamak solat Maghrib dengan solat Isyak secara jamak takhir di al-Muzdalifah, dan disyariatkan mengumandangkan satu kali azan dengan dua kali iqamah untuk kedua-dua solat seperti mana yang ditegaskan oleh hadis Jabir (r.a), hadis no. 150.

2. Orang yang berhaji dibolehkan menjamak solat Maghrib dengan solat Isyak dengan jamak takhir dan disyariatkan melakukan dua kali iqamah untuk kedua-duanya tanpa mengumandangkan azan, sebagaimana yang ditegaskan di
dalam hadis Ibn Umar (r.a), hadis no. 150 ini.

3. Orang yang berhaji dibolehkan menjamak solat Maghrib dan solat Isyak di al-Muzdalifah dengan jamak takhir dan disyariatkan mengumandangkan dua kali
azan dan dua kali iqamah untuk kedua-duanya sekali, yakni setiap solat mesti dikumandangkan satu kali azan dan satu kali iqamah sebagaimana yang ditegaskan oleh hadis Ibn Mas‟ud (r.a).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 149 : ADZAN UNTUK SHOLAT YANG SUDAH BERLALU WAKTUNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 149 :

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةٌ فِي اَلْحَدِيثِ اَلطَّوِيلِ ( فِي نَوْمهمْ عَن الصَّلَاةِ – ثُمَّ أَذَّنَ بِلَالٌ فَصَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَمَا كَانَ يَصْنَعُ كُلَّ يَوْمٍ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Qotadah Radliyallaahu ‘anhu dalam hadits yang panjang tentang mereka yang meninggalkan shalat karena tidur kemudian Bilal adzan maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam shalat sebagaimana yang beliau lakukan setiap hari. Hadits riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Ulama berselisih pendapat dalam azan disyariatkan untuk menunjukkan masuknya waktu solat atau disyariatkan untuk menunjukkan masuknya waktu solat sekaligus mengajak kaum muslimin mengerjakan solat fardu secara berjamaah. Dari sini muncul perbedaan pendapat di kalangan mereka baik azan disyariatkan untuk mengerjakan solat yang sudah berlalu waktunya dan mengerjakan solat yang terlupakan.

Jumhur ulama mengatakan bahwa azan disyariatkan untuk mengerjakan solat yang telah berlalu waktunya. Pendapat ini merupakan qaul qadim Imam al-Syafi’i dengan berlandaskan kepada hadis ini. Imam al-Syafi’i di dalam qaul jadid pula mengatakan bahwa tidak perlu dikumandangkan azan untuk mengerjakan solat yang telah berlalu waktunya. Jika solat yang telah terlewatkan waktunya dikerjakan bersamaan dengan solat yang masih wujud di dalam waktunya, maka azan untuk solat yang masih wujud waktunya itu sudah mencukupi. Beliau mengemukakan dalil dengan hadis yang menceritakan Nabi (s.a.w) mengerjakan solat yang telah berlalu waktunya ketika perang al-Khandaq. Di sini baginda hanya mengumandangkan iqamah dan tidak menyuruh supaya azan dikumandangkan memandangkan waktunya telah berlalu.

FIQH HADITS :

Disyariatkan mengumandangkan azan untuk mengerjakan solat yang waktunya sudah berlalu kerana tertidur dan demikian pula dengan solat yang terlupa untuk mengerjakannya kerana kedua keadaan ini mempunyai kesamaan hukum sebagaimana yang ditegaskan dalam sabda Nabi (s.a.w):

من نام على صلاة فنسيها فليصلها إذا ذكرها

“Barang siapa yang tertidur hingga tidak mengerjakan sholat atau dia lupa mengerjakannya, maka hendaklah dia segera melakukannya apabila ingat (atau terjaga dari tidurnya).”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 148 : ADZAN MERUPAKAN KEISTIMEWAAN BAGI SHOLAT FARDHU, BUKAN UNTUK SHOLAT SUNNAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 148 :

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اَلْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَنَحْوُهُ فِي اَلْمُتَّفَقِ: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا وَغَيْرُهُ

Jabir Ibnu Samurah berkata: Aku shalat dua I’ed (Fitri dan Adha) bukan sekali dua kali bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tanpa adzan dan qomat. Riwayat Muslim.

Hadits serupa juga ada dalam riwayat Muttafaq Alaihi dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu dan dari yang lainnya.

MAKNA HADITS :

Islam memberikan keistimewaan tersendiri dalam solat fardu, yaitu
mengumandangkan azan untuk menyeru orang yang tempat tinggalnya berjauhan dengan masjid, dan mengumandangkan iqamah untuk mengingatkan orang yang telah berada di dalam masjid segera berdiri untuk mengerjakan solat.

Adapun solat sunat yang disyariatkan berjamaah seperti solat sunat dua hari raya, solat gerhana matahari, solat gerhana bulan, dan solat istisqa tidak perlu dikumandangkan azan dan tidak pula iqamah menurut ijmak ulama. Tetapi mereka berselisih pendapat sama ada mesti dikumandangkan “الصلاة جامعة” kerana ada hadis yang menyatakan bahwa itu dilakukan ketika hendak mengerjakan solat sunat dua hari raya, sepbagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam al-
Syafi’i. Menurut Imam al-Syafi’i lagi, setiap solat sunat yang di dalamnya disunatkan berjemaah diqiaskan dengan sholat sunat dua hari raya ini. Namun pendapat yang lain mengatakan bahwa tidak perlu dikumandangkan lafaz “ الصلاة جامعة“ َdalam setiap sholat sunat yang di dalamnya disunatkan berjamaah.

FIQH HADITS :

1. Tidak disyariatkan azan dan iqamah untuk mengerjakan sholat sunat dua hari raya baik Aidil fitri maupun Aidil adha.

2. Azan merupakan keistimewaan bagi sholat fardu, bukannya untuk sholat sunat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..