Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 110 : CARA MEMBASUH MUKA DAN TANGAN KETIKA TAYAMMUM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 110 :

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى اَلْمِرْفَقَيْنِ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اَلْأَئِمَّةُ وَقْفَه

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tayammum itu dengan dua tepukan. Tepukan untuk muka dan tepukan untuk kedua belah tangan hingga siku-siku.” Riwayat Daruquthni dan para Imam Hadits menganggapnya mauquf.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) memberi petunjuk kepada umatnya dan menjelaskan kepada mereka tentang hukum. Kadang kala baginda menjelaskan perkara yang wajib secara komprehensif dan kadang pula menjelaskan apa yang dianjurkan secara lengkap. Baginda menjelaskan bahwa tayammum itu dilakukan dengan dua kali pukulan debu; sekali pukulan untuk mengusap wajah dan sekali pukulan lagi untuk mengusap kedua tangan.

Ada sebagian ulama fiqih yang menjadikan hadis ini sebagai batasan tayammum yang sempurna dan menjadikan perkara yang diwajibkan hanya dengan sekali pukulan. Ada yang menjadikan pengusapan terhadap kedua tangan hanya sampai batas kedua pergelangan tangan serta menjadikan pukulan yang kedua dan mengusap sampai batas kedua siku sebagai batas tayammum yang sempurna. Pendapat ini berlandaskan kepada usaha menggabungkan beberapa hadis dalam masalah ini. Ada juga di antara mereka yang menjadikan dua kali pukulan serta mengusap kedua tangan sampai batas kedua siku itu merupakan perkara yang diwajibkan dalam tayammum karena berdasarkan tarjih hadis-hadis yang menunjukkan demikian. Cara ini merupakan yang ditempuh melalui tarjih.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan cara bertayammum, iaitu dilakukan dengan dua kali pukulan. Ini menurut pendapat Imam al-Syafi’i, Imam Abu Hanifah dan satu riwayat dari Imam Malik. Tetapi pendapat yang paling masyhur di kalangan mazhab Maliki ialah pukulan pertama fardu, sedangkan pukulan kedua sunat. Imam Ahmad mengatakan bahwa apa yang diwajibkan ialah sekali pukulan kerana berlandaskan kepada hadis ‘Ammar ibn Yasir (r.a) yang menceritakan: “Aku pernah bertanya kepada Nabi (s.a.w) mengenai cara tayammum. Baginda memerintahkan kepadaku melakukan sekali pukulan untuk mengusap wajah dan kedua telapak tangan.”

2. Disyariatkan tertib (berurutan), yaitu dengan mendahulukan pengusapan wajah ke atas pengusapan kedua tangan. Ini adalah wajib menurut Imam al-Syafi’i. Sedangkan menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, berurutan bukanlah syarat dalam bertayammum, sebaliknya ia hanya disyaratkan ketika menyucikan diri dari hadas besar saja, bukannya untuk hadats kecil.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 109 : TATA CARA TAYAMMUM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 109 :

وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( بَعَثَنِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ فَلَمْ أَجِدِ اَلْمَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فِي اَلصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ اَلدَّابَّةُ ثُمَّ أَتَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَقُولَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ اَلْأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ اَلشِّمَالَ عَلَى اَلْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: وَضَرَبَ بِكَفَّيْهِ اَلْأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْه

Ammar Ibnu Yassir Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengutusku untuk suatu keperluan lalu aku junub dan tidak mendapatkan air maka aku bergulingan di atas tanah seperti yang dilakukan binatang kemudian aku mendatangi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu padanya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “sesungguhnya engkau cukup degnan kedua belah tanganmu begini.” Lalu beliau menepuk tanah sekali kemudian mengusapkan tangan kirinya atas tangan kanannya punggung kedua telapak tangan dan wajahnya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.

Dalam suatu riwayat Bukhari disebutkan: Beliau menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya dan meniupnya lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya.

MAKNA HADITS :

Sahabat yang mulia ‘Ammar ibn Yasir (r.a) menempuh cara dzahir sebagaimana yang dituntut oleh pemahaman analogi dan akal. Beliau berpandangan tayammum merupakan pengganti mandi. Oleh sebab itu beliau meyakini bahwa seluruh tubuh mesti terkena debu sebagaimana halnya mandi. Untuk itu, beliau berguling di atas pasir seperti bergulingnya seekor hewan ternakan. Nabi (s.a.w) menjelaskan kepadanya tatacara bertayammum yang disyariatkan oleh Allah (s.w.t).

FIQH HADITS :

1. Tidak ada celaan terhadap seorang mujtahid apabila dia telah mengerahkan seluruh kemampuannya tetapi masih tetap salam dan tidak mencapai kebenaran.

2. Pengajaran secara praktikal memiliki kesan yang lebih mendalam dibanding pengajaran secara teori.

3. Boleh membatasi tayammum hanya dengan sekali pukulan (sekali ambil debu).

4. Disyariatkan mengusap wajah dan dua telapak tangan dalam tayammum menurut pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafi’i di dalam qaul jadidnya, batas mengusap tangan sampai kepada kedua siku. Keduanya melandaskan pendapat mereka kepada dalil hadis kedua yang akan disebut sesudah ini.

5. Tayammum sudah mencukupi dijadikan sebagai pengganti mandi junub apabila air tidak dijumpai.

6. Disyariatkan menepuk kedua tangan ketika bertayammum.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 108 : DEBU SEBAGAI PENGGANTI AIR UNTUK BERSUCI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 108 :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي اَلْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ اَلصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ ) وَذَكَرَ اَلْحَدِيث

وَفِي حَدِيثِ حُذَيْفَةَ عِنْدَ مُسْلِمٍ: ( وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ اَلْمَاءَ)

وعن علي رضي الله عنه عند أحمد “وجعل التراب لي طهورا”

Dari Jabir Ibnu Abdullah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepad seorang pun sebelumku yaitu aku ditolong dengan rasa ketakutan (musuhku) sejauh perjalanan sebulan; bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud (masjid) dan alat bersuci maka siapapun menemui waktu shalat hendaklah ia segera shalat. “Muttafaq Alaihi”.

Dan menurut Hadits Hudzaifah Radliyallaahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan: “Dan debunya dijadikan bagi kami sebagai alat bersuci.”

Menurut riwayat Ahmad daripada ‘Ali (r.a) disebutkan: “Dan dijadikan bagiku tanah dapat menyucikan.”

MAKNA HADITS :

Dalam pembahasan sebelum ini telah disebutkan bersuci dengan air, baik ber-suci kecil (wudhu) maupun bersuci besar (mandi junub) di samping hukum-hukum yang berkaitan dengan keduanya.

Dalam bab ini diterangkan pula bersuci dengan debu kerana tanah dapat dijadikan sebagai pengganti bersuci dengan air, tetapi tidak boleh menggunakan cara ini kecuali dalam keadaan yang tidak memungkinkan memperoleh dan menggunakan air. Ini merupakan salah satu keistimewaan umat Nabi Muhammad (s.a.w).

Allah (s.w.t) telah memuliakan Rasul-Nya dan umatnya dengan keistimewaan yang amat banyak, antara lain ialah mendapat pertolongan melalui perasaan takut yang mencekam hati musuh. Rasa takut itu dilemparkan oleh Allah ke dalam hati mereka sekalipun jarak antara Nabi (s.a.w) dengan mereka memerlukan perjalanan sejauh satu bulan. Umat Nabi (s.a.w) diperbolehkan mengerjakan sholat di mana-mana tempat di muka bumi ini kerana semua bumi adalah tempat sujud untuknya dan tanahnya dapat menyucikan. Bagi umat sebelum ini, ibadah mereka tidak sah kecuali hanya di tempat-tempat ibadah mereka sendiri.

Dihalalkan pula harta ghanimah bagi umat Nabi (s.a.w). Oleh sebab itu, mereka dapat menikmatinya. Sedangkan umat sebelum ini diharamkan ke atas mereka harta ghanimah itu. Allah (s.w.t) memerintahkan mereka mengumpulkan harta ghanimah di tanah lapang, lalu Dia mengirimkan api dari langit yang langsung membakarnya. Nabi (s.a.w) diberi Syafa’ah al-‘Uzhma untuk memberikan ketenangan kepada ahli mawqif di padang mahsyar kelak. Nabi (s.a.w) diutus untuk seluruh umat manusia secara umum, sedangkan sebelum itu setiap nabi hanya diutus untuk kaumnya secara khusus.

Ya Allah, berilah Nabi kami kebenaran untuk memberi syafaat kepada kami, dan jadikanlah kami berada di bawah panjinya, yaitu panji pujian kelak pada hari kiamat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Engkau memperkenankan orang yang berdo’a kepada-Mu, wahai Tuhan semesta alam.

FIQH HADITS :

1. Keutamaan Nabi (s.a.w) ke atas nabi-nabi yang lain.

2. Membicarakan nikmat Allah bukan untuk tujuan membanggakan diri dan bukan pula untuk menyombongkan diri, sebaliknya untuk mendorong dirinya dan orang lain yang memperoleh suatu nikmat supaya bersyukur dan bertambah giat melakukan amal ibadah kepada Allah yang memberi nikmat itu. Allah (s.w.t) berfirman: وأما بنعمة ربك فحدث “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (Surah al-Dhuha: 11).

3. Rasulullah (s.a.w) ditolong oleh Allah melalui perasaan takut yang mencekam dan menggentarkan hati musuh-musuhnya. Al-Ru’b atau perasaan takut atau gementar merupakan salah satu dari balatenteranya yang maju menggempur hati dan semangat musuh-musuhnya hingga mereka sudah merasa kalah sebelum perang yang sebenar dimulakan.

4. Menetapkan hukum-hukum syariat yang antara lain ialah mengerjakan solat tidak mesti dilakukan hanya di dalam masjid sahaja.

5. Pada asalnya tanah itu hukumnya suci.

6. Tayammum membolehkan apa yang dicegah oleh hadas sama halnya dengan air. Pendapat ini merupakan mazhab Imam Abu Hanifah. Jadi, baginya seseorang dengan tayammum boleh mengerjakan solat fardu dan solat sunat sebanyak apa yang dia kehendaki selagi belum berhadas atau belum menjumpai air, kerana tayammum baginya merupakan pengganti air secara mutlak. Namun Jumhur ulama mengatakan dibolehkan mengerjakan sekali solat fardu dan solat sunat seberapa banyak dia mampu mengerjakannya, tetapi tidak boleh digunakan untuk menggabungkan dua solat fardu. Jika ketika bertayammum seseorang itu berniat untuk mengerjakan solat fardu, maka dia dibolehkan mengerjakan sekali solat fardu dan solat sunat. Tetapi jika berniat untuk melakukan solat sunat, maka dia tidak dibolehkan mengerjakan solat fardu kecuali dengan tayammum yang baru.

7. Tayammum hanya khusus dilakukan dengan debu, sedangkan bertayammum dengan menggunakan objek yang selainnya tidak dianggap memadai menurut pendapat Imam Ahmad dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan menurut mazhab Maliki dibolehkan bertayammum dengan apa-apa yang termasuk jenis tanah dengan syarat tidak dibakar. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mengatakan bahawa tayammum sah dengan menggunakan semua benda suci yang termasuk jenis tanah, iaitu segala sesuatu yang tidak menjadi abu dan tidak lembek apabila dibakar dengan api, seperti debu, pasir dan batu. Jika sesuatu itu menjadi abu apabila dibakar seperti kayu serta daun kering, dan sesuatu yang menjadi lembek apabila dibakar dengan api seperti besi dan timah, maka tayammum tidak sah dengan menggunakan benda tersebut
apabila tidak terdapat debu yang melekat padanya. Abu Yusuf, salah seorang ulama mazhab Hanafi, mengatakan bahawa tidak sah bertayammum kecuali dengan menggunakan debu dan pasir.

8. Ghanimah dihalalkan bagi umat Nabi Muhammad (s.a.w).

9. Hanya Rasulullah (s.a.w) yang diutus kepada seluruh umat manusia secara umum.

10. Allah (s.w.t) menganugerahkan Syafa’at al-‘Uzhma kepada Rasul-Nya untuk membebaskan umat manusia dari kesusahan dan huru-hara pada hari kiamat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 107 : KEWAJIBAN MEMBASUH SEMUA KULIT KETIKA ADUS TERMASUK YANG TERSELIP DI BAWAH RAMBUT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 107 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ تَحْتَ كُلِّ شَعْرَةٍ جَنَابَةً فَاغْسِلُوا اَلشَّعْرَ وَأَنْقُوا اَلْبَشَرَ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَاه

وَلِأَحْمَدَ عَنْ عَائِشَةَ نَحْوُهُ وَفِيهِ رَاوٍ مَجْهُول

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya di bawah setiap helai rambut terdapat janabat. Oleh karena itu cucilah rambut dan bersihkanlah kulitnya.” Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi dan keduanya menganggap hadits ini lemah.

Menurut Ahmad dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu terdapat hadits serupa. Namun ada perawi yang tidak dikenal.

MAKNA HADITS :

Air meresap ke seluruh tubuh ketika mandi junub adalah wajib. Oleh kerana

rambut boleh mencegah sampainya air ke bagian yang ditutupi oleh rambut,

maka Nabi (s.a.w) mengingatkan kita untuk tidak mengabaikannya ketika mandi junub. Baginda menganjurkan kita untuk memastikan air itu benar-benar sampai ke akar rambut dengan menegaskan bahwa di bawah setiap helai rambut terdapat janabah. Di dalam hadits yang diceritakan oleh ‘Ali ibn Abi Thalib (r.a) disebutkan:

من ترك موضع شعرة من جنابة فعل بها كذا وكذا في النار. قال فمن ثم عاديت شعر رأسي وكان يجز شعره

“Barang siapa yang meninggalkan satu tempat meskipun hanya sehelai rambut ketika mandi junub, kelak akan dilakukan terhadapnya demikian dan demikian di dalam neraka. Lalu ‘Ali berkata: “Oleh itu saya memusuhi rambutku.” ‘Ali sentiasa mencukur rambutnya.”

FIQH HADITS :

1. Wajib membasuh seluruh tubuh ketika mandi junub dan tidak ada satu pun anggota tubuh yang dimaafkan apabila tidak terkena air.

2. Wajib menghilangkan segala sesuatu yang boleh mencegah sampainya air ke kulit tubuh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 105 : HARAM DIAM DI DALAM MASJID BAGI ORANG HAID DAN JUNUB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 105 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنِّي لَا أُحِلُّ اَلْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٌ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَة

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang sedang haid dan junub.” Riwayat Abu Dawud dan hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Masjid adalah rumah Allah yang mesti dimuliakan, disucikan dan dipelihara dari najis dan kotoran. Oleh sebab itu, syariat melarang wanita yang sedang haid duduk di dalam masjid, kerana dikawatiri darahnya menites hingga masjid menjadi tercemar dan najis. Syariat pun melarang orang yang junub mendekati (memasuki) tempat sholat (masjid) sebelum dia bersuci dari junub.

FIQH HADITS :

Wanita haid dan orang junub dilarang tinggal di dalam masjid. Namun orang
yang junub diperbolehkan melintasnya menurut Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad dengan berlandaskan kepada firman Allah (s.w.t):

(ولا جنبا الا عابري سبيل… (النساء :٤٣

“… Dan (jangan pula hampiri masjid) sedangkan kamu dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu sahaja…” (Surah al-Nisa‟: 43)

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa orang yang junub dan haid haram
memasuki masjid, meskipun hanya sekedar melewatinya.

Imam Malik mengatakan bahwa orang yang junub tidak boleh melintas di dalam masjid secara mutlak, kecuali kerana dalam keadaan darurat, namun itu pun dia hendaklah berwuduk terlebih dahulu.

Imam Malik melandaskan pendapatnya dengan dalil hadis bab ini dan mengatakan bahwa makna hadits ini bersifat umum.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa wanita haid dan nifas dilarang

memasuki masjid, sama halnya dengan orang yang berjunub.

Imam Malik mengatakan hal yang sama, namun beliau membolehkan keduanya memasuki masjid kerana dalam keadaan darurat, seperti jiwa atau harta bendanya dalam keadaan terancam.

Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengatakan mereka boleh lewat di dalam masjid jika dapat menjamin masjid tidak akan tercemar/tertetes oleh darahnya.

Sedangkan Imam al-Syafi’i melarang mereka menetap di dalam masjid secara mutlak. Tetapi Imam Ahmad membolehkan mereka tinggal di dalamnya apabila darahnya terhenti namun orang itu hendaklah berwuduk terlebih dahulu.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 104 : HUKUM MENGIKAT RAMBUT KETIKA MANDI JUNUB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 104 :

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ إِنِّي اِمْرَأَةٌ أَشُدُّ شَعْرَ رَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ اَلْجَنَابَةِ؟ وَفِي رِوَايَةٍ: وَالْحَيْضَةِ؟ فَقَالَ: لَا إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ ) رَوَاهُ مُسْلِم

Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya wahai Rasulullah sungguh aku ini wanita yang mengikat rambut kepalaku. Apakah aku harus membukanya untuk mandi jinabat؟ Dalam riwayat lain disebutkan: Dan mandi dari haid؟ Nabi menjawab: “Tidak tapi kamu cukup mengguyur air di atas kepalamu tiga kali.” Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Tidak boleh malu untuk bertanya soal hukum agama. Contohnya adalah salah seorang Ummul Mukminin, di mana beliau menanyakan kepada Rasulullah (s.a.w) suatu persoalan yang bertujuan mengetahui hukum syariat. Rasulullah (s.a.w) menjawabnya dengan jawapan yang tegas dan menetapkan baginya satu hukum syariat yang dapat dijadikan pegangan olehnya dan juga oleh kaum wanita sesamanya, yaitu tidak perlu menguraikan rambut ketika mandi junub dan mandi kerana haid. Tetapi makna hadits ini ditakwilkan oleh para ulama menurut pendapat mereka masing-masing. Ada di antara mereka yang mewajibkan menguraikan rambut ketika mandi haid dan nifas, tetapi tidak mewajibkannya ketika mandi junub (setelah bersetubuh). Ada pula diantara mereka yang tidak mewajibkannya secara mutlak. Sebahagian yang lain ada yang mewajibkan menguraikan rambut apabila air tidak dapat sampai ke dalam kulit kepalanya selain dengan menguraikannya dan bagi wanita yang tidak lebat rambutnya disunatkan untuk menguraikan rambutnya ketika mandi junub, sekalipun akarnya telah basah.

FIQH HADITS :

Seorang wanita tidak perlu menguraikan rambut ketika mandi junub dan mandi setelah haid atau nifas, jika dia yakin bahwa air dapat sampai ke akar rambut.

Dalam masalah masalah ini ulama berbeda pendapat :

Imam Malik mewajibkan menguraikannya jika air tidak dapat sampai ke akar rambut.

Imam Abu Hanifah mengatakan tidak wajib menguraikannya jika akarnya
sudah basah. Tetapi seorang lelaki diwajibkan menguraikan rambutnya meskipun air dapat meresap ke akar rambut menurut pendapat yang sahih.

Imam Ahmad mengatakan tidak wajib menguraikannya ketika mandi junub,
tetapi diwajibkan ketika mandi haid dan nifas. Beliau melandaskan pendapatnya dengan sabda Nabi (s.a.w) yang ditujukan kepada ‘Aisyah (r.a) ketika haid: “Huraikan rambutmu dan celah-celahilah!”

Imam al-Syafi’i berpendapat disunatkan menguraikannya bagi orang yang
berambut tidak lebat, tetapi diwajibkan menguraikannya jika ternyata air tidak
dapat sampai ke akarnya kecuali dengan cara menguraikannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 102-103 : TATA CARA MANDI JUNUB YANG MENCUKUPI DAN YANG SEMPURNA.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 102 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا اِغْتَسَلَ مِنْ اَلْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ ثُمَّ يَأْخُذُ اَلْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ اَلشَّعْرِ ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم

Dan dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anha berkata: Biasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam jika mandi karena jinabat akan mulai dengan membersihkan kedua tangannya kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri lalu mencuci kemaluannya kemudian berwudlu lalu mengambil air kemudian memasukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut lalu menyiram kepalanya tiga genggam air kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dan mencuci kedua kakinya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya dari Muslim.

HADITS KE : 103 :

وَلَهُمَا فِي حَدِيثِ مَيْمُونَةَ: ( ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى فَرْجِهِ فَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ ثُمَّ ضَرَبَ بِهَا اَلْأَرْضَ ) وَفِي رِوَايَةٍ: ( فَمَسَحَهَا بِالتُّرَابِ )

وَفِي آخِرِهِ: ( ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِالْمِنْدِيلِ ) فَرَدَّهُ وَفِيهِ: ( وَجَعَلَ يَنْفُضُ الْمَاءَ بِيَدِهِ

Menurut Riwayat Bukhari-Muslim dari hadits Maimunah: Kemudian beliau menyiram kemaluannya dan membasuhnya dengan tangan kiri lalu menggosok tangannya pada tanah.

Dalam suatu riwayat: Lalu beliau menggosok tangannya dengan debu tanah. Di akhir riwayat itu disebutkan: Kemudian aku memberikannya saputangan namun beliau menolaknya. Dalam hadits itu disebutkan: Beliau mengeringkan air dengan tangannya.

MAKNA HADITS :

Mandi junub ada dua cara; cara yang mencukupi dan cara yang sempurna.

Pertama, cara yang mencukupi adalah dengan meratakan basuhan ke seluruh tubuh tanpa ada satu bagian anggota tubuh pun yang tertinggal, kerana di bawah setiap helai rambut mesti terkena oleh mandi junub itu.

Kedua, cara yang sempurna adalah dengan memui pembersihan kotoran sebelum mensucikan diri dari hadats. Cara ini mendahulukan untuk membasuh anggota-anggota wudhu’ daripada yang lain. Ia hendaklah memulai basuhan anggota tubuh bagian atas sebelum bagian bawah dan mendahulukan sebelah kanan sebelum sebelah kiri. Gambaran inilah yang dirangkum oleh ‘Aisyah (r.a).

FIQH HADITS :

1. Mandi junub dimulai dengan mencuci kedua telapak tangan sebelum

memasukkannya ke dalam bejana.

2. Melakukan istinjak sebelum berwuduk dan beristinjak dilakukan dengan tangan kiri. Hal ini dilakukan dengan betul hingga merasa yakin akan kebersihannya.

3. Disunatkan mendahulukan anggota wuduk untuk menghormatinya dan

sebagai satu ketentuan syariat.

4. Mencelah-celah rambut agar air dapat sampai ke akar-akarnya kerana pada setiap kulit yang ada di bawah rambut mesti terkena mandi junub.

5. Menjelaskan gambaran mandi wajib dari permulaan hingga akhir dan

menjelaskan mengenai bilangan basuhan.

6. Tidak perlu memakai handuk untuk mengeringkan anggota wuduk, sebaliknya disunatkan membiarkannya menurut pendapat Imam al-Syafi’i. Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah membolehkannya. Mereka mengatakan demikian kerana berlandaskan kepada hadits Salman al-Farisi yang mengatakan:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم توضأ فقلب جبة صوف كانت عليه فمسح بها وجهه

“Rasulullah (s.a.w) berwuduk, lalu membalikkan baju jubah yang ada padanya, kemudian baju jubah itu baginda gunakan untuk mengusap wajahnya.” (Disebut oleh Ibn Majah)

7. Diperbolehkan mengeringkan air dari seluruh anggota tubuh setelah mandi junub, kemudian diqiyaskan kepadanya masalah wudhu’.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 101 : BOLEH TIDUR DALAM KEADAAN JUNUB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 101 :

وَلِلْأَرْبَعَةِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَنَامُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَمَسَّ مَاءً ) وَهُوَ مَعْلُول

Menurut Imam Empat dari ‘Aisyah r.a dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah tidur dalam keadaan junub tanpa menyentuh air. Hadits ini ma’lul.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) adalah penentu syari’at. Oleh sebab itu, adakalanya baginda berwuduk hanya sekali, kadang kala minum sambil berdiri, kadang kala membuang air kecil sambil berdiri dan tidur dalam keadaan junub tanpa berwuduk atau mandi terlebih dahulu. Semua itu merupakan penjelasan yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut diperbolehkan. Ia dilakukan sendiri oleh Rasulullah (s.a.w) kerana cara ini lebih berkesan dalam menjelaskan sesuatu permasalahan.

FIQH HADITS :

Orang yang junub boleh tidur tanpa berwuduk atau mandi terlebih dahulu,
tetapi apa yang lebih diutamakan adalah sebagaimana keterangan yang dimuatkan dalam hadis sebelum ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 100 : ANJURAN BERWUDHU’ APABILA INGIN MENGULANGI JIMAK DENGAN ISTRI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 100 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا ) رَوَاهُ مُسْلِم

زَادَ اَلْحَاكِمُ: ( فَإِنَّهُ أَنْشَطُ لِلْعَوْدِ )

Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mendatangi istrinya (bersetubuh) kemudian ingin mengulanginya lagi maka hendaklah ia berwudlu antara keduanya.” Hadits riwayat Muslim.

Hakim menambahkan: “Karena wudhu itu memberikan semangat untuk mengulanginya lagi.”

MAKNA HADITS :

Seseorang yang junub dikawatirkan selalu terkena gangguan syaitan kerana malaikat yang mulia menjauhinya. Oleh sebab itu, syari’at menganjurkan untuk
berwuduk karana adanya hikmah-hikmah yang sangat luar biasa, antara lain ialah:

Pertama, apabila seseorang hendak mengulangi persetubuhan dengan isterinya, maka itu mampu memberinya semangat dan mengembalikan lagi kekuatannya.

Kedua, kerana wuduk dalam kategori bersuci kecil yang dapat dijadikan sebagai benteng bagi dirinya secara keseluruhan.

Ketiga, kerana wuduk itu adakalanya
mendorongnya untuk terus mandi junub dan inilah yang diharapkan.

FIQH HADITS :

1. Orang yang hendak menggauli isterinya untuk yang kedua kalinya
disyariatkan berwuduk.

2. Dibolehkan beribat untuk menambah semangat untuk berjimak dengan isteri.

3. Mandi di antara dua persetubuhan tidak wajib.

4. Disyari’atkan meringankan junub dengan berwuduk kerana wuduk merupakan bersuci kecil supaya orang berkenaan tidak terhalang dari berkah ditemani oleh malaikat.

Di dalam hadis yang lain disebutkan:

ِثلاثة لا تقربهم الملائكة ؛ الجنب والسكران والمتمضخ بالخلوق

“Ada tiga orang yang para malaikat tidak mau mendekatinya, yaitu orang yang junub, orang mabuk dan orang yang berbau tidak enak.”

5. Etika mengungkapkan sesuatu dengan menggunakan kata-kata sindiran untuk menceritakan perkara-perkara yang aib.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini

Semoga bermanfaat. Aamiin..