Arsip Tag: Kajian Hadits IKABA

HADITS KE 166 : HUKUM SHOLAT TANPA PENUTUP BAHU (TANPA BAJU)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 166 :

وَلَهُمَا مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( لَا يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي اَلثَّوْبِ اَلْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ )

Menurut riwayat Bukhari-Muslim dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu beliau bersabda: Janganlah seseorang di antara kamu sholat dengan memakai selembar kain yang sebagian dari kain itu tidak dapat ditaruh di atas bahunya.

MAKNA HADITS :

Menutup bagian atas tubuh dalam sholat, sekalipun tidak termasuk aurat, merupakan salah satu sikap untuk mengagungkan dan memuliakan Allah. Barang siapa mengerjakan sholat dengan bagian atas tubuh dibiarkan terbuka, maka sholatnya tetap sah, walaupun dimakruhkan. Inilah pendapat jumhur ulama. Dalam kaitan ini, Imam Ahmad memiliki dua pendapat. Riwayat paling kuat adalah pendapat yang mengatakan sah dan larangan ini menunjukkan hukum makruh, bukan hukum haram.

FIQH HADITS :

Dilarang sholat memakai kain sekiranya pada bagian bahu seseorang itu tidak ada yang menutupi.

Imam al-Syafi’i, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan, larangan ini menunjukkan hukum makruh. Mereka mengemukakan
dalil untuk memperkuat pendapatnya dengan hadis Jabir no. 165 di atas. Jika seseorang mengerjakan sholat dengan hanya memakai kain yang menutup auratnya saja tanpa mengenakan sehelai kain pun pada bahunya, maka sholatnya tetap sah, tetapi itu makruh, baik dia mampu memakaikan kain pada bahunya ataupun tidak.

Imam Ahmad mengatakan, sholat seseorang itu tidak sah jika dia mampu memakaikan sehelai kain pada bahunya, kerana berlandaskan kepada makna dzahir hadis di atas. Sedangkan riwayat lain menurut Imam Ahmad mengatakan, sholat seseorang itu tetap sah, tetapi dia berdosa karena enggan memakai kain
pada bagian bahunya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 165 : KESEMPURNAAN MENUTUP AURAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 165 :

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَهُ ( إِنْ كَانَ اَلثَّوْبُ وَاسِعًا فَالْتَحِفْ بِهِ ) – يَعْنِي فِي الصَّلَاةِ – وَلِمُسْلِمٍ ( فَخَالِفْ بَيْنَ طَرَفَيْهِ – وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: Apabila kain itu lebar maka berkerudunglah dengannya -yakni dalam sholat.- Menurut riwayat Muslim: Maka selempangkanlah di antara dua ujungnya dan apabila sempit maka bersarunglah dengannya. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Hukum menutup aurat di dalam sholat adalah wajib. Diperbolehkan sholat dengan memakai sehelai kain dan seseorang tidak disyaratkan memakai dua helai kain (pakaian) ketika mengerjakan sholat. Ini merupakan salah satu kemudahan dalam Islam. Namun apabila kain yang dipakai itu sempit (tidak lebar), maka hendaklah seseorang yang memakainya menjadikannya sebagai kain sarung untuk menutup auratnya dan aurat lelaki itu ialah antara pusat hingga kedua lutut. Jika kain itu lebar, maka hendaklah dia melipat kedua tepinya secara bersilang untuk menutup bagian atas tubuh.

FIQH HADITS :

Boleh mengerjakan sholat dengan memakai sehelai kain. Jika kain tersebut lebar, maka selebihnya hendaklah dilipat ke atas bagian tubuh secara bersilang pada
kedua ujungnya sesudah bersarung dengannya. Apabila kain itu sempit (tidak lebar), maka cukuplah dipakai untuk bersarung agar menutupi auratnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 164 : BATASAN AURAT WANITA DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 164 :

وَعَنْ عَائِشَةَ عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا يَقْبَلُ اَللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Allah tidak akan menerima sholat seorang perempuan yang telah haid (telah baligh kecuali dengan memakai kerudung. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) menjelaskan seorang wanita mengerjakan sholat mestilah menutup kepala, leher dan seluruh tubuhnya, kerana semua itu merupakan aurat baginya. Jika dia mengerjakan sholat dalam keadaan tubuh terbuka, maka sholatnya batal (tidak sah). Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Rasulullah (s.a.w): “Allah tidak akan menerima solatnya” dalam hadis di atas.

Maksud haid di sini bukanlah makna yang sebenarnya, sebab wanita yang sedang haid jelas tidak dibolehkan sholat. Maksudnya ialah ungkapan al-mubalaghah, kerana haid merupakan salah satu bukti seorang wanita itu telah berusia baligh.

FIQH HADITS :

1. Wanita ketika mengerjakan sholat wajib menutup kepala, leher dan seluruh anggota tubuhnya yang lain sejauh yang terjangkau oleh kerudung.

2. Antara wanita merdeka dengan wanita sahaya wujud persamaan dimana mereka sama-sama diwajibkan menutup aurat ketika dalam sholat berdasarkan
perkataan haid yang bersifat umum di dalam hadis itu.

3. Jumhur ulama membedakan antara aurat wanita merdeka dengan wanita sahaya dimana aurat wanita sahaya adalah dari pusat hingga kedua lutut dan ini berlaku di luar sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin

HADITS KE 162 : KEUTAMAAN DO’A SETELAH ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 162 :

وَعَنْ جَابِرٍ- رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ اَلنِّدَاءَ : اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ اَلدَّعْوَةِ اَلتَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ اَلْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا اَلَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ.

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang ketika mendengar adzan berdoa: Allaahumma robba haadzihi da’watit taammati was sholaatil qooimati aati Muhammadanil washiliilata wal fadliilata wab ‘atshu maqooman mahmuudal ladzi wa’adtahu (artinya: Ya Allah Tuhan panggilan yang sempurna dan sholat yang ditegakkan berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan dan bangunkanlah beliau dalam tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan) maka dia akan memperoleh syafaat dariku pada hari Kiamat.” Dikeluarkan oleh Imam Empat.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) memberitahukan tentang do’a yang boleh mendatangkan kebaikan berlimpah bagi orang yang senantiasa membacanya sesudah azan. Waktu sesudah azan merupakan antara waktu dimana do’a dimakbulkan dan rahmat turun dari langit kepada hamba-hamba Allah (s.w.t).

Memandangkan Nabi (s.a.w) adalah pembimbing agung kita yang seandainya tanpanya niscaya kita tidak tahu bagaimana kita mengerjakan sholat, maka baginda berhak memiliki keutamaan terbesar di atas jasanya ini. Oleh sebab itu, kita wajar mendo’akan baginda secara khusus berupa memohon wasilah, keutamaan, derajat yang tinggi, dan kedudukan yang terpuji untuk menunaikan hak kita ke atas tanggung jawab yang baginda lakukan ke atas kita.

Dengan demikian, makin
bertambahlah kesempurnaan baginda di atas kesempurnaan.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan berdo’a setelah azan dikumandangkan dengan kalimat-kalimat yang telah disebutkan dalam hadis tersebut. Membaca do’a itu boleh membawa kepada kebaikan yang besar dan kelak orang yang membacanya akan beroleh syafaat.

2. Berita gembira dengan husnul khatimah bagi orang yang gemar membaca do’a ma’tsur (yang dianjurkan oleh Nabi (s.a.w).

3. Disyari’atkan mendo’akan orang yang lebih utama agar orang yang
mendo’akannya turut memperoleh manfaat yang besar.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 161 : ANTARA ADZAN DAN IQAMAH ADALAH WAKTU ISTIJABAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 161 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يُرَدُّ اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اَلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Doa antara adzan dan iqomah itu tidak akan ditolak.” Riwayat Nasa’i dan dianggap lemah oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Doa mempunyai tempat dan waktu-waktu tertentu yang menjadi salah satu kunci do’a itu dikabulkan. Rasulullah (s.a.w) menekankan bahwa keadaan itu mesti diperhatikan untuk memastikan do’a dikabulkan.

Diantaranya adalah waktu antara
azan dengan iqamah yang merupakan waktu kerberkahan. Pada waktu itu semua pintu langit dibuka dan do’a dikabulkan serta rahmat Allah turun kepada hamba-hamba-Nya. Namun ketentuan do’a dikabulkan ini masih terikat, yaitu selagi seseorang tidak berdo’a untuk perbuatan dosa atau bertujuan memutuskan ikatan silaturrahim. Jika berdo’a untuk melakukan perbuatan dosa atau untuk memutuskan hubungan silaturrahim, maka do’anya tidak dikabulkan. Didalam Sunnah telah disebutkan hadis-hadis yang menunjukkan do’a-do’a yang mesti dibaca antara azan dan iqamah yang antara lain ialah:

“رضيت بالله ربا وبالاسلام دينا وبمحمد رسولا. قال النبي صلى الله عليه وسلم : إن من قال ذلك غفر له ذنبه”

Aku redha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad sebagai Rasulku. Rusulullah (s.a.w) bersabda: “Barang siapa yang membaca do’a tersebut, niscaya dosanya diampuni.”

Doa yang lain ialah bershalawat kepada Nabi (s.a.w) sesudah selesai menjawab azan.

FIQH HADITS :

1. Keistimewaan waktu antara adzan dan iqamah.

2. Dianjurkan berdo’a di antara azan dan iqamah kerana do’a pada waktu tersebut dikabulkan oleh Allah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 160 : BEDA TUGAS MUADZIN DAN IMAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 160 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْمُؤَذِّنُ أَمْلَكُ بِالْأَذَانِ وَالْإِمَامُ أَمْلَكُ بِالْإِقَامَةِ ) رَوَاهُ اِبْنُ عَدِيٍّ وَضَعَّفَهُ

وَلِلْبَيْهَقِيِّ نَحْوُهُ : عَنْ عَلِيٍّ مِنْ قَوْلِهِ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Muadzin itu lebih berhak untuk adzan dan imam itu lebih berhak untuk qomat.” Diriwayatkan dan dianggap lemah oleh Ibnu Adiy.

Menurut riwayat Baihaqi ada hadits semisal dari Ali Radliyallaahu ‘anhu dari perkataannya sendiri.

MAKNA HADITS :

Antara keistimewaan Islam ialah segala sesuatu mesti diserahkan kepada orang
yang bertugas supaya ia dapat dilakukan dengan tepat dan terarah. Allah (s.w.t) berfirman:

….قد علم كل اناس مشربهم

“Sungguh setiap orang telah mengetahui tempat minumnya (masing masing).” (Surah al-Baqarah: 60)

Muazzin diberi kepercayaan memberitahukan masuknya waktu solat dan tugas ini sepenuhnya telah diserahkan kepadanya. Oleh sebab itu, Rasulullah (s.a.w)
menjadikannya lebih berkuasa terhadap azan. Iqamah juga memiliki kaitan erat dengan solat dan jamaah di mana solat berjamaah tidak dapat dilakukan tanpa kewujudan imam. Jadi, imam lebih menguasai iqamah. Seseorang tidak boleh beriqamah melainkan setelah mendapat isyarat dari imam. Di sinilah nampak kebijaksanaan syariat Islam dimana setiap tugas diserahkan kepada orang yang berhak menerimanya dan memberikan tanggung jawab kepada mereka yang bersangkutan. Muazzin adalah orang yang diberi kepercayaan untuk memberikan masuknya waktu solat sedangkan imam adalah orang yang bertanggung jawab mengimami sholat.

FIQH HADITS :

1. Muazzin dipercaya untuk menjaga waktu solat dan oleh kerana itu, tugas untuk mengawasi waktu solat diserahkan kepadanya.

2. Solat tidak didirikan kecuali setelah mendapat isyarat dari imam atau dengan kehadirannya, tetapi tidak bergantung kepada izinnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 159 : IQOMAH BOLEH DILAKUKAN OLEH SESEORANG YANG TIDAK MENGUMANDANGKAN ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 159 :

وَلِأَبِي دَاوُدَ: فِي حَدِيثِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ قَالَ : أَنَا رَأَيْتُهُ – يَعْنِي : اَلْأَذَان – وَأَنَا كُنْتُ أُرِيدُهُ . قَالَ : “فَأَقِمْ أَنْتَ ” وَفِيهِ ضَعْفٌ أَيْضًا

Menurut riwayat Abu Dawud dari hadits Abdullah Ibnu Zaid bahwa dia berkata: Aku telah memimpikannya yaitu mimpi beradzan dan aku menginginkannya. Maka Rasulullah saw bersabda: “Baik qomatlah engkau.” Hadits ini juga lemah.

MAKNA HADITS :

Melihat tujuan azan ialah memberitahukan masuknya waktu sholat bagi orang yang tinggal berjauhan dengan masjid, maka Nabi (s.a.w) menyuruh Abdullah ibn Zaid mengajarkan azan kepada Bilal, kerana Bilal mempunyai suara yang lebih kuat berbanding dirinya. Memandang tujuan iqamah untuk memberitahukan yang sholat tidak lama lagi akan dilaksanakan kepada orang yang sudah berada di dalam masjid, maka Rasulullah (s.a.w) menyuruh Abdullah ibn Zaid mengumandangkan iqamah untuk menghibur hatinya, kerana dialah yang bermimpi azan tersebut.

FIQH HADITS :

Iqamah boleh dilakukan oleh seseorang yang tidak mengumandangkan azan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 158 : IQAMAH ADALAH HAK BAGI ORANG YANG ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 158 :

وَلَهُ : عَنْ زِيَادِ بْنِ اَلْحَارِثِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( وَمَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيمُ ) وَضَعَّفَهُ أَيْضًا

Dalam riwayatnya yang lain dari Ziyad Ibnul Harits bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “barangsiapa yang telah adzan maka dia yang akan qomat.” Hadits ini juga dinilai lemah.

MAKNA HADITS :

Mengumandangkan iqamah adalah hak bagi orang yang mengumandangkan azan
dikarenakan dia telah menyeru orang yang jauh untuk mengerjakan solat dan oleh kerananya, seruannya kepada orang yang dekat adalah lebih diutamakan.

Walaupun, ini bukannya satu kewajiban, hingga apabila ditinggalkan mengakibatkan
iqamah batal, sebaliknya ia adalah sunat mu’akkad supaya dialah yang melakukan iqamah demi menghargai haknya sebagai muazzin. Jika iqamah dilakukan oleh orang lain, maka itu tetap diperbolehkan sebagaimana yang telah ditegaskan oleh hadis no. 159.

FIQH HADITS :

1. Iqamah adalah hak bagi orang yang azan.

2. Hak di sini mencakup wajib dan sunat muakkad. Namun makna yang dimaksudkan disini adalah sunat muakkad berdasarkan hadis yang akan disebutkan berikutnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 157 : ANJURAN PUNYA WUDUK KETIKA ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 157 :

وَلَهُ : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا يُؤَذِّنُ إِلَّا مُتَوَضِّئٌ )  وَضَعَّفَهُ أَيْضًا 

Dalam riwayatnya pula dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak diperkenankan adzan kecuali orang yang telah berwudlu.” Hadits tersebut juga dinilai lemah.

MAKNA HADITS :

Azan adalah berzikir kepada Allah. Jadi, sepatutnya seseorang yang hendak mengumandangkannya berada dalam keadaan berwuduk. Walaupun ulama masih berselisih pendapat dalam masalah ia dianggap sebagai syarat ataupun tidak.

FIQH HADITS :

Disunatkan bersuci untuk mengumandangkan azan. Tetapi apabila azan atau iqamah itu dilakukan oleh orang yang hadas kecil atau hadas besar, maka ia tetap diperbolehkan, meskipun makruh hukumnya menurut jumhur ulama.

Imam Malik mengatakan bahwa azan boleh dilakukan meskipun dalam keadaan tidak berwuduk, tetapi iqamah tidak boleh dilakukan kecuali oleh orang yang sudah berwuduk. Jika azan dilakukan oleh orang yang junub, maka ada dua riwayat menurut Imam Malik. Walaupun begitu, ia tetap memperbolehkan mengikuti pendapat mayoritas ulama.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..