Arsip Tag: WA

T028. HUKUM KOTORAN CICAK/ BURUNG YANG ADA DI DALAM MASJID

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Saya sering tenggok di dalam masjid ada tai burung/ cekcek langsung di pel gak di buang duluan tai burungnya. Bagaimana hukumnya hal tersebut?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tentang masalah tahi cicak yang ada di masjid masih diselisihkan ulama :

Pertama :
Ulama menegaskan bahwa binatang yang tidak memiliki darah merah, seperti serangga, dan sebangsanya, bangkainya tidak najis. Demikian pula kotorannnya.

Ibnu Qudamah –ulama Madzhab Hanbali– mengatakan:

مَا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ ، فَهُوَ طَاهِرٌ بِجَمِيعِ أَجْزَائِهِ وَفَضَلَاتِهِ

“Binatang yang tidak memiliki darah merah mengalir, dia suci, sekaligus semua bagian tubuhnya, dan yang keluar dari tubuhnya.” (al-Mughni, 3:252).

Hal yang sama juga disampaikan ar-Ramli –ulama Madzhab Syafii– dalam an-Nihayah:

ويستثنى من النجس ميته لا دم لها سائل عن موضع جرحها، إما بأن لا يكون لها دم أصلاً، أو لها دم لا يجري

“Dikecualikan dari benda najis (tidak termasuk najis), bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir ketika dilukai, baik karena tidak memiliki darah sama sekali atau memliki darah, namun tidak mengalir.” (Nihayah al-Muhtaj, 1:237).

Kedua :
Ulama juga berbeda pendapat apakah cicak termasuk binatang yang darahnya mengalir atau tidak.

Mayoritas ulama mengatakan, cicak termasuk binatang yang tidak memiliki darah mengalir. An-Nawawi mengatakan:

وأما الوزغ فقطع الجمهور بأنه لا نفس له سائلة

“Untuk cicak, mayoritas ulama menegaskan, dia termasuk binatang yang tidak memiliki darah merah yang mengalir.” (al-Majmu’, 1:129)

Hal yang sama juga ditegaskan Ar-Ramli:

Dikecualikan dari benda najis (tidak termasuk najis), bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir ketika dilukai, baik karena tidak memiliki darah sama sekali atau memliki darah, namun tidak mengalir. Seperti cicak, tawon, kumbang, atau lalat. Semuanya tidak najis bangkainya. (Nihayah al-Muhtaj, 1:237)

Sementara ulama lainnya mengelompokkan cicak sebagai binatang yang memiliki darah merah mengalir, sebagaimana ular.

An-Nawawi menukil keterangan al-Mawardi:

وَنَقَلَ الْمَاوَرْدِيُّ فِيهِ وَجْهَيْنِ كَالْحَيَّةِ وَقَطَعَ الشَّيْخُ نَصْرٌ الْمَقْدِسِيُّ بِأَنَّ لَهُ نَفْسًا سَائِلَةً

Dinukil oleh al-Mawardi, mengenai cicak ada dua pendapat ulama syafiiyah, (ada yang mengatakan) sebagaimana ular. Sementara Syaikh Nasr al-Maqdisi menegaskan bahwa cicak termasuk hewan yang memiliki darah merah mengalir. (al-Majmu’, 1:129)

Dari Madzhab Hanbali, al-Mardawi mengatakan:

والصحيح من المذهب: أن الوزغ لها نفس سائلة. نص عليه كالحية

“Pendapat yang benar dalam Madzhab Hanbali bahwa cicak memliki darah merah yang mengalir. Hal ini telah ditegaskan, sebagaimana ular.” (al-Inshaf, 2:28).

Ketiga :
Sebagian ulama memberikan kaidah, binatang yang memiliki darah merah mengalir dan dia tidak halal dimakan maka kotorannya najis.

Jika Anda menguatkan pendapat bahwa cicak termasuk binatang yang tidak memiliki darah merah mengalir, maka bangkai dan kotoran cicak tidak najis. Sebaliknya, jika Anda berkeyakinan bahwa cicak memiliki darah merah mengalir, maka kotorannya najis. Meskipun banyak ulama berpendapat bahwa najis sangat sedikit, yang menempel di badan, dari binatang yang sulit untuk dihindari, termasuk najis yang ma’fu (boleh tidak dicuci). Allahu a’lam.

Disebut juga dalam kitab i’anatuthalibin :

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ١ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٢٦

ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻳﻌﻔﻰ ﻋﻤﺎ ﺟﻒ ﻣﻦ ﺫﺭﻕ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﻄﻴﻮﺭ. ﺫﻛﺮ ﺷﺮﻃﻴﻦ ﻟﻠﻌﻔﻮ ﻭﻫﻤﺎ ﺍﻟﺠﻔﺎﻑ ﻭﻋﻤﻮﻡ ﺍﻟﺒﻠﻮﻯ، ﻭﺑﻘﻲ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﻌﻤﺪ ﺍﻟﻤﺸﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ. ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ: ﻭﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﺫﺭﻕ ﺍﻟﻄﻴﻮﺭ ﻓﻴﻌﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﻓﻴﻪ ﺃﺭﺿﻪ ﻭﻛﺬﺍ ﻓﺮﺍﺷﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻭﺟﻪ، ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺟﺎﻓﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﺘﻌﻤﺪ ﻣﻼﻣﺴﺘﻪ. ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﻜﻠﻒ ﺗﺤﺮﻱ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ. ﺍﻫ

Ibarot lain :

وأما الوزغ فقطع الجمهور بأنه لا نفس له سائلة ، ممن صرح بذلك الشيخ أبو حامد في تعليقه والبندنيجي والقاضي حسين وصاحب الشامل وغيرهم . ونقل الماوردي فيه وجهين كالحية ، وقطع الشيخ نصر المقدسي بأن له نفسا سائلة قال : وقد ذكره أبو عبيد في كتاب الطهور ، وأنه قتل فوجد في رأسه دم ، وكذا رأيت أنا في كتاب الطهور لأبي عبيد : أن الوزغ والحية لهما نفس سائلة ، ودم في رءوسهما

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=14&ID=154

Dikecualikan dari benda najis (tidak termasuk najis), bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir ketika dilukai, baik karena tidak memiliki darah sama sekali atau memliki darah, namun tidak mengalir. Seperti cicak, tawon, kumbang, atau lalat. Semuanya tidak najis bangkainya. (Nihayah al-Muhtaj, 1:237).

( ويستثنى ) من النجس ( ميتة لا دم لها سائل ) عن موضع جرحها إما بأن لا يكون لها دم أصلا أو لها دم لا يجري كالوزغ والزنبور والخنفساء والذباب ( فلا تنجس مائعا ) كزيت وخل ، وكل رطب بموتها فيه ( على المشهور ) لمشقة الاحتراز عنها

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=25&ID=62

– Kitab Al Majmu’ An-Nawawi :

وحكى الخراسانيون وجهاً ضعيفاً في طهارة روث السمك والجراد وما لا نفس له سائل، وقد قدمنا وجهاً عن حكاية صاحب «البيان» والرافعي أن بول ما يؤكل وروثه طاهران وهو غريب، وهذا المذكور من نجاسة ذرق الطيور كلها هو مذهبنا، وقال أبو حنيفة : كلها طاهرة إلا ذرق الدجاج لأنه لا نتن إلا في ذرق الدجاج، ولأنه عام في المساجد، ولم يغسله المسلمون كما غسلوا بول الآدمي. واحتج أصحابنا بما ذكره المصنف وأجابوا عن عدم النتن بأنه منتقض ببعر الغزلان، وعن المساجد بأنه ترك للمشقة في إزالته مع تجدده في كل وقت، وعندي أنه إذا عمت به البلوى وتعذر الإحتراز عنه يعفى عنه وتصح الصلاة كما يعفى عن طين الشوارع وغبار السرجين.

Fokus :

ولأنه عام في المساجد، ولم يغسله المسلمون كما غسلوا بول الآدمي. واحتج أصحابنا بما ذكره المصنف وأجابوا عن عدم النتن بأنه منتقض ببعر الغزلان، وعن المساجد بأنه ترك للمشقة في إزالته مع تجدده في كل وقت، وعندي أنه إذا عمت به البلوى وتعذر الإحتراز عنه يعفى عنه وتصح الصلاة كما يعفى عن طين الشوارع وغبار السرجين.

Wallahu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 115 : BOLEH BERTAYAMUM APABILA DARURAT MENGGUNAKAN AIR DISEBABKAN LUKA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 115 :

وَعَنْ جَابِرٍ]بْنُ عَبْدِ اَللَّهِ] رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا فِي اَلرَّجُلِ اَلَّذِي شُجَّ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ -: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ فِيهِ ضَعْفٌ وَفِيهِ اِخْتِلَافٌ عَلَى رُوَاتِه

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu tentang seorang laki-laki yang terluka pada kepalanya lalu mandi dan meninggal. (Nabi bersabda: “Cukup baginya bertayammum dan membalut lukanya dengan kain kemudian mengusap di atasnya dan membasuh seluruh tubuhnya.” Riwayat Abu Dawud dengan sanad yang lemah. Di dalamnya ada perbedaan pendapat tentang para perawinya.

MAKNA HADITS :

Islam memerintahkan umat manusia supaya bertanya kepada ahli al-dzikr yang memahami al-Qur’an dan Sunnah untuk memecahkan masalah-masalah sukar yang mereka hadapi berdasarkan kajian teliti. Oleh itu Rasulullah (s.a.w) marah ketika mereka memberikan fatwa kepada seorang lelaki yang terluka bahwa tidak ada rukhsah baginya, hingga akhirnya itu menyebabkan kematiannya. Rasulullah (s.a.w) marah dengan adanya fatwa yang salah itu. Baginda bersabda: “Mengapa mereka tidak bertanya lebih dahulu apabila mereka tidak tahu?” Baginda menjelaskan bahawa bertanya merupakan ubat kebodohan. Dengan kata lain, malu bertanya pasti sesat di jalan.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan merujuk kepada pemimpin ketika berdepan dengan urusan-urusan penting.

2. Dilarang mencela fatwa tanpa ilmu pengetahuan, kerana sikap sebegitu
merupakan dosa besar.

3. Tidak ada qishas dan dhiyat ke atas seorang mufti apabila dia memberikan fatwa tanpa kebenaran, meskipun orang yang jelas-jelas melakukan kesalahan tidak dimaafkan. Nabi (s.a.w) mencela mereka, sebab mereka melakukan fatwa tanpa berlandaskan kepada ilmu dan baginda mendo’akan binasa kepada mereka dengan bersabda: “Semoga mereka dilaknat oleh Allah.”

4. Disyari’atkan bertayammum bagi orang yang merasa kawatir akan tertimpa mudharat apabila menggunakan air.

5. Boleh mengusap pembalut luka dan membasuh anggota tubuh yang lain
dengan air.

6. Menanyakan suatu masalah yang sukar kepada orang yang berilmu merupakan penawar bagi kebodohan.

7. Orang yang junub diwajibkan mandi.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

M041. HUKUM PASANG SUSUK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya seorang muslim memakai susuk dari emas? Mohon jawabannya.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh memakai susuk dengan catatan :

1. Benar – Benar ada Tujuan yang benarkan oleh syara’, Seperti tujuan berobat dsb. ( Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penyia nyiaan harta)

2. Tidak membahayakan tubuh atau akal ( Hal ini sudah maklum, dalam bab makanan ulamak mufakat bahwa apapun itu maka boleh dikonsumsi angsal tidak berdampak buruk pada badan/akal baik mendatangkan manfaat atau tidak, Seperti batu/krikil).

Referensi:

Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khathiib I/362

فَرْعٌ : وَقَعَ السُّؤَالُ عَنْ دَقِّ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَأَكْلِهِمَا مُفْرَدَيْنِ أَوْ مَعَ انْضِمَامِهِمَا لِغَيْرِهِمَا مِنْ الْأَدْوِيَةِ هَلْ يَجُوزُ ذَلِكَ كَغَيْرِهِ مِنْ سَائِرِ الْأَدْوِيَةِ أَمْ لَا يَجُوزُ لِمَا فِيهِ مِنْ إضَاعَةِ الْمَالِ ؟ فَأَجَبْت عَنْهُ بِقَوْلِي : إنَّ الظَّاهِرَ أَنْ يُقَالَ فِيهِ إنَّ الْجَوَازَ لَا شَكَّ فِيهِ حَيْثُ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ نَفْعٌ ، بَلْ وَكَذَا إنْ لَمْ يَحْصُلْ مِنْهُ ذَلِكَ لِتَصْرِيحِهِمْ فِي الْأَطْعِمَةِ بِأَنَّ الْحِجَارَةَ وَنَحْوَهَا لَا يَحْرُمُ مِنْهَا إلَّا مَا أَضَرَّ بِالْبَدَنِ أَوْ الْعَقْلِ .

وَأَمَّا تَعْلِيلُ الْحُرْمَةِ بِإِضَاعَةِ الْمَالِ فَمَمْنُوعٌ لِأَنَّ الْإِضَاعَةَ إنَّمَا تَحْرُمُ حَيْثُ لَمْ تَكُنْ لِغَرَضٍ وَمَا هُنَا لِقَصْدِ التَّدَاوِي وَصَرَّحُوا بِجَوَازِ التَّدَاوِي بِاللُّؤْلُؤِ فِي الِاكْتِحَالِ وَغَيْرِهِ ، وَرُبَّمَا زَادَتْ قِيمَتُهُ عَلَى الذَّهَبِ ع ش عَلَى م ر .

CABANG

Ada pertanyaan tentang melebur emas atau perak dan memakannya secara langsung atau dengan benda lainnya dari obat-obatan, bolehkah perbuatan semacam ini sebagaimana diperbolehkan bentuk-bentuk pengobatan lainnya, ataukah tidak boleh karena didalamnya mengandung unsur ‘menyia-nyiakan harta’ ?

Jawabanku:
“secara zhahir hal ini semestinya dikatakan boleh karena didalamnya terdapat kemanfaatan, bahkan sekalipun tidak terjadi manfaatpun karena penjelasan ulama dalam bab makanan bahwa memakan batu dan sejenisnya tidak haram kecuali bila berdampak buruk pada tubuh atau akal.

Sedangkan menghukumi haram dengan alasan ‘menyia-nyiakan harta’ dilarang, sesungguhnya hal itu apabila tanpa ada tujuan, sedang dalam masalah ini terdapat tujuan untuk pengobatan, para ulama menjelaskan bolehnya berobat memakai mutiara yang dipakai buat celak, sedangkan keberadaan mutiara harganya melebihi emas (Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khathiib I/362).

Kemudian dalam kitab dibawah juga dijelaskan:

Memasangkan susuk pada anggota tubuh itu dalam uruf tidak tergolong kategori memakai (اللبس), sehingga jauh sekali jika dikatakan ini adalah bab Pemakaian hiasan, dengan konsekwensi hukum dalam bab pemakaian, sebab susuk berada didalam daging atau dibawahnya kulit, Juga tidak tergolong kategori bertato, sebab dalam hal ini ( susuk) tidak ada unsur darah yang nampak sebagaimana dalam praktek bertato.

مسئلة : هل يحرم لبس ابرة الذهب أو الفضة المغروزة تحت الجلد لأن بعض الناس لبسه للتزن وبعضهم للقوة وبعضهم للتداوى وبعضهم لغير ذلك؟

الجواب لا يحرم لأنه لا يعد لبسا عرفا ولأنها مستورة.

وأما التعليل بأنه للتزين أو غيره فلا يمنع جوازه لأنه باعتبار القصد فإن قصد به المعصية حرم من جهة المعصية لا من جهة اللبس ألا ترى أن الأكل إذا قصد منه المعصية صار حراما من جهتها لا من جهته

الكردي فى الكبرى التى فى هامش الترمس ج ١ ص ٢٠٧
فإن قلتم اليس هذا من الوشم لأن البرة تنجست بالدم قلنا ليس منه لعدم ظهور الدم .

وفرق بين الشوكة الوشم بأن الدم فى الوشم ظهر واختلط بأجنبي بخلافه فى الشوكة انتهى
.
ولا يخفى أن الشوكة إذا استتر جميعهما صارت فى حكم الباطن انتهى والله أعلم.

Faktor external dalam menggunakan susuk juga diperhitungkan, Sebab terkadang ada sebagian bertujuan mahabbah, atau berkeyakinan akan memperkuat tubuh ada pula penglaris dagangan maka hal yang demikian bisa, boleh boleh saja Apabila Pemakai susuk beri’tiqod bahwa المؤثر adalah Allah SWT, sementara Susuk bagian dari asbab.

تحفة المريد ص : 58
فمن اعتقد أن الأسباب العادية كالنار والسكين والأكل والشرب تؤثر فى مسبباتها الحرق والقطع والشبع والرى بطبعها وذاتها فهو كافر بالإجماع أو بقوة خلقها الله فيها ففى كفره قولان والأصح أنه ليس بكافر بل فاسق مبتدع ومثل القائلين بذلك المعتزلة القائلون بأن العبد يخلق أفعال نفسه الإختيارية بقدرة خلقها الله فيه فالأصح عدم كفرهم ومن اعتقد المؤثر هو الله لكن جعل بين الأسباب ومسبباتها تلازما عقليا بحيث لا يصح تخلفها فهو جاهل وربما جره ذلك إلى الكفر فإنه قد ينكر معجزات الأنبياء لكونها على خلاف العادة ومن اعتقد أن المؤثر هو الله وجعل بين الأسباب والمسببات تلازما عادي بحيث يصح تخلفها فهو المؤمن الناجى إن شاء الله إهـ

“Barangsiapa berkeyakinan segala sesuatu terkait dan tergantung pada sebab dan akibat seperti api menyebabkan membakar, pisau menyebabkan memotong, makanan menyebabkan kenyang, minuman menyebabkan segar dan lain sebagainya dengan sendirinya (tanpa ikut campur tangan Allah) hukumnya kafir dengan kesepakatan para ulama,
atau berkeyakinan terjadi sebab kekuatan (kelebihan) yang diberikan Allah didalamnya menurut pendapat yang paling shahih tidak sampai kufur tapi fasiq dan ahli bidah seperti pendapat kaum mu’tazilah yang berkeyakinan bahwa seorang hamba adalah pelaku perbuatannya sendiri dengan sifat kemampuan yang diberikan Allah pada dirirnya,
atau berkeyakinan yang menjadikan hanya Allah hanya saja segala sesuatu terkait sebab akibatnya secara rasio maka dihukumi orang bodoh
atau berkeyakinan yang menjadikan hanya Allah hanya saja segala sesuatu terkait sebab akibatnya secara kebiasaan maka dihukumi orang mukmin yang selamat, Insya Allah”. [ Tuhfah alMuriid 58 ].

Wallaahu A’lamu Bis Showaab..

Z006. HUKUM MENINGGALKAN ZAKAT FITRAH KARENA DARURAT DAN CARA MENGKODHO’NYA

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:

Ada dua orang berkasab di laut berbulan-bulan paling lama berkisar dua bulan yg disebut dengan mencari ikan (marawi) memasak makanan diperahu. Suatu ketika ia mau pulang kekampungnya diakhir bulan puasa ternyata tiba-tiba mesin perahu konslet/ mati sehingga ia tidak dapat mengeluarkan zakat fitrah.

Pertanyaannya :
1. Dosakah ia meninggalkan zakat fitrah dalam situasi tidak memungkinkan (kerena berada ditengah lautan)/ diwaktu malam hari raya?

2. Apakah zakat fitrah wajib qodlo’?

Mohon jawabannya..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jawaban Soal pertama :

Tidak berdosa apabila ada udzur, Semisal ia mengeluarkannya di keesokan harinya yaitu hari sudah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawal jika memang ada udzur,
dicontohkan udzur ini dalam kitab seperti hartanya tidak ada di tempat tersebut atau menunggu orang yang berhak menerima zakat, maka hukumnya tidak haram. Sedangkan status dari zakat yang dikeluarkan setelah tenggelamnya matahari di tanggal 1 Syawwal tersebut adalah qodho’.

Mengakhirkan membayar zakat fitrah tanpa ada udzur setelah hari raya idhul fitri hukumnya berdosa menurut Mazdhab: Syafi’iyah, Malikiyah dan Hanabalah.

ibarot :

الموسوعة الفقهية

فمن أداها بعد يوم العيد بدون عذر كان آثما ، وهو مذهب المالكية والشافعية والحنابلة

Mufakat empat Madzhab bahwa kewajiban Zakat Fitrah tetap tidak gugur oleh sebab mengakhirkan atau keluar daripada waktunya, merupakan tanggungan yang harus diberikan kepada mustahiqnya. Zakat adalah seperti hutang yang harus ditunaikan merupakan Hak bagi sang Hamba. adapun mengenai Hak bagi Allah maka tidak boleh diakhirkan waktunya dan tidak bisa ditambal kecuali dengan Istighfar dan Penyesalan.

ibarot :

الموسوعة الفقهية.

واتفق جميع الفقهاء على أنها لا تسقط بخروج وقتها ؛ لأنها وجبت في ذمته لمن هي له ، وهم مستحقوها ، فهي دين لهم لا يسقط إلا بالأداء ؛ لأنها حق للعبد ،
أما حق الله في التأخير عن وقتها فلا يجبر إلا بالاستغفار والندامة

Dan Solusi jika memang tidak memungkinkan untuk kembali ke darat (jika termasuk udzur) untuk membayarknnya pada waktunya maka mari mentaqlid pada imam abu hanifah saja yang mengatakan tidak ada waktu bagi zakat fitrah.. Meski sesudah sholat id gak papa.. Sebab menurut beliau hanya afdhol saja jika dibayarkan di hari id, sebelum ia berangkat ke masjid.

الموسوعة الفقهية

وقت وجوب الأداء :

ذهب جمهور الحنفية إلى أن وقت وجوب أداء زكاة الفطر موسع ، لأن الأمر بأدائها غير مقيد بوقت ، كالزكاة ، فهي تجب في مطلق الوقت وإنما يتعين بتعينه ، ففي أي وقت أدى كان مؤديا لا قاضيا ، غير أن المستحب إخراجها قبل الذهاب إلى المصلى

Intinya:
Waktu penunaian zakat fitrah adalah luas, kapan dia mampu maka disitulah, sebab perintah penunaiannya tidak dibatasi dengan waktu, sama dengan zakat pada umumnya, namun yang Afdhol / Mustahab adalah mengeluarkannya sebelum ia berangkat ke Musholla untuk sholat id..

وأما ما كان وقته مطلقا كالزكاة والكفارات والنذور المطلقة فقد اختلف الفقهاء في وقت وجوب الأداء بناء على اختلافهم في الأمر به، هل هو على الفور أو على التراخي؟ والكلام فيه على مثال ما قيل فيما كان وقته موسعا في أنه يجب تعجيل الأداء في أول أوقات الإمكان، ويأثم بالتأخير بدون عزم على الفعل، أو أنه على التراخي ولا يجب التعجيل ولا يأثم بالتأخير عن أول أوقات الإمكان، لكن الجميع متفقون على أن وجوب الأداء يتضيق في آخر عمره في زمان يتمكن فيه من الأداء قبل موته بغالب ظنه، وأنه إن لم يؤد حتى مات أثم بتركه (1) . هذا بالنسبة للعبادات الواجبة سواء أكانت موقتة أم مطلقة.

Jawaban Soal kedua :

Pada kasus diatas maka orang tersebut
Wajib menqodho setelah hari raya idul fitri apabila pada saat waktu yang ditentuakan tidak bisa.

Waktu pengeluaran zakat Fitrah memang bisa digeser-geser. Kelonggaran ini patut disyukuri. Hanya saja kelonggaran tentu memiliki batas dimana pergeseran tidak bisa ditoleransi. Keterangan ini bisa didapat antara lain di kitab Tausyih ala Ibni Abi Qasim karya Syekh M Nawawi Banten.

ولزكاة الفطرة خمسة أوقات وقت جواز وهو من ابتداء رمضان, ولايجوز إخراجها قبله, ووقت وجوب وهو بإدراك جزء من رمضان وجزء من شوال ووقت ندب وهو من قبل صلاة العيد ووقت كراهة وهو بعدها ووقت حرمة وهو ما بعد يوم العيد وتكون قضاء

Waktu pelaksanaan untuk mengeluarkan zakat fitrah terbagi menjadi lima kelompok :

1. Waktu wajib : Yaitu, ketika mendapati bulan Ramadhan dan menemui sebagian awalnya bulan Syawal. Oleh sebab itu orang yang meninggal setelah maghribnya malam 1 Syawal, wajib dizakati. Sedangkan bayi yang lahir setelah maghribnya malam 1 Syawal tidak wajib dizakati.

2. Waktu jawaz : Yaitu, dimulai dari awalnya bulan Ramadhan sampai memasuki waktu wajib.

3. Waktu Fadhilah : Yaitu, setelah terbit fajar dan sebelum sholat hari raya.

4. Waktu makruh : Yaitu, setelah sholat hari raya sampai menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawal kecuali jika ada udzur seperti menunggu kerabat atau ada orang yang lebih membutuhkan, maka hukumnya tidak makruh.

5. Waktu haram : Yaitu, setelah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawal kecuali jika ada udzur, Maka status zakat yang dikeluarkan menjadi qodho’ sebagaimana dijelaskan pada awal awal jawaban diatas.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T027. HUKUM MUNTAH TERTELAN KEMBALI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi :
Ada seseorang yang makannya terlalu kenyang sehingga selang beberapa menit setelah makan orang tersebut makanan yang sudah dimakan barusan keluar lagi atau muntah namun makanan yang keluar dari perutnya tadi di telan.

Pertaxaannya :
Bagaimana hukumnya menelan makanan tersebut?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya ditafshil :

a). Jika makanan tersebut sudah berubah dari bentuk aslinya maka hukum menelannya haram karena termasuk najis.

Referensi :

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata :

القيء نجس لأنه طعام استحال في الجوف إلى الفساد فأشبه الغائط

“Muntah hukumnya najis, karena perubahan makanan yang ada diperut menjadi rusak, sehingga disamakan dengan kotoran (manusia)” (Al-Kafi 1/153)

Imam Ibnu Hazam rahimahullah berkata :

وَالْقَيْءُ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ أَوْ كَافِرٍ حَرَامٌ يَجِبُ اجْتِنَابُهُ ؛ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْعَائِدِ فِي قَيْئِه

“Muntah baik dari orang muslim ataupun kafir adalah haram wajib dijauhi berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam “oarng yang meminta kembali pemberiannya seperti orang yang memakan muntahnya” (Al-Muhalla 1/191). Maksud haram disini adalah najis.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وَالْقَيْءُ نَجِسٌ ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (قَاءَ فَتَوَضَّأَ) وَسَوَاءٌ أُرِيدَ غَسْلُ يَدِهِ أَوِ الْوُضُوءُ الشَّرْعِيُّ ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ إِلَّا عَنْ نَجَاسَةٍ

“Muntah hukumnya najis karena Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah muntah lalu beliau berwudhu, baik wudhu bermakna cuci tangan ataupun wudhu bermakna wudhu syar’i (seperti wudhu mau shalat) menunjukan bahwa Beliau tidaklah melakukan itu kecuali karena najis” (Syarah Umdatul Fiqih 1/108, Majmul Fatawa 21/597)

Komite tetap dewan Fatwa Saudi Arabiya menyatakan didalam fatwanya :

القيء نجس سواء كان من صغير أو كبير لأنه طعام استحال في الجوف إلى الفساد أشبه الغائط والدم ، فإذا أصاب الثوب أو غيره وجب غسله بالماء مع الفرك والعصر حتى تذهب عين النجاسة وتزول أجزاؤها وينقى المحل

“Muntah hukumnya najis baik muntah orang dewasa ataupun anak kecil, karena ia adalah makanan yang berubah diperut menjadi sesuatu yang rusak sehingga disamakan hukumnya dengan tinja dan darah, maka apabila terkena pakaian atau yang lainya wajib dicuci dengan air sambil digosok serta diperas sampai hilang najisnya lenyap bekasnya dan bersih” (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah 4/193 no : 20902)

b). Dihukumi suci apabila masih berbentuk makanan murni.

Referensi :

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

نجاسة القيء متفق عليها ، وسواء فيه قيء الآدمي وغيره من الحيوانات .. وسواء خرج القيء متغيراً أو غير متغير ، وقيل : إن خرج غير متغير فهو طاهر ، وهو مذهب مالك

“Najisnya muntah adalah perkara yang disepakati atasnya, baik muntah manusia ataupun muntahnya binatang…baik keluar dengan berubah ataupun tidak. Dan ada yang berpenpendapat bahwa kalau tidak berubah maka muntah itu suci dan ini madzhabnya Malik” (Al-Majmu’ 2/551)

Al-Qurrafi rahimahullah berkata :

الْقَيْءُ وَالْقَلْسُ طَاهِرَانِ إِنْ خَرَجَا عَلَى هَيْئَةِ طَعَامٍ

“Al-Qoi-u (muntah) dan qalas (sejenis muntah kalau dalam bahasa nenek moyang saya OLAB) keduanya adalah suci apabila keluar dalam keadaan dalam bentuk makanan” (Ad-Dzakhirah 1/185)

KESIMPULAN :

[a] Hukum muntah ada khilaf dikalangan para ulama antara yang menajiskan dan yang tidak menajiskan.

[b] Pendapat jumhur mayoritas menyatakan najis secara mutlak tanpa perincian.

[c] Diantara ulama ada yang merinci seperti Imam Malik, kalau muntah tersebut sudah berubah kondisinya dari makanan menjadi zat yang rusak dan berbau maka najis kalau tidak berubah maka suci. Dalam hal ini tidak dibedakan antara bayi atau dewasa.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T026. CARA MENCUCI PAKAIAN & HUKUM BAU SABUN YANG MUTANAJJIS NEMPEL DI PAKAIAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi Masalah :
Baju direndam dalam bak berisi air sabun. Lalu dikucek dipisahkan dari air sabun. Setelah itu air sabun dalam bak dibuang dan diganti dg air bersih. Baju yg telah dicuci dimasukkan ke dalam air dg tujuan membersihkan sisa air sabun. Setelah dirasa sisa sabun sdh habis, air dibuang. Setelah itu finising :
baju cucian dimasukkan bak kosong, lalu bak air diisi air sampai meluap.

Pertanyaanya :

1. Sucikah baju yang memakai cara tersebut?

2. Bagaimana hukum sisa bau sabun di baju yang awalnya tercampur dengan pakain mutanajjis dalam satu wadah air?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawaban untuk No.1 :

Cara seperti yang uraikan diatas sudah benar, jadi dengan cara seperti itu baju cucian yang di dalam ember sudah dihukumi suci.

Referensi:

روضة الطالبين الجزء الأول صـ 31

قال المتولي وغيره للماء قوة عند الورود على النجاسة فلا ينجس بملاقاتها بل يبقى مطهرا فلو صبه على موضع النجاسة من ثوب فانتشرت الرطوبة في الثوب لا يحكم بنجاسة موضع الرطوبة ولو صب الماء في إناء نجس ولم يتغير بالنجاسة فهو طهور فإذا أداره على جوانبه طهرت الجوانب كلها قال ولو غسل ثوب عن نجاسة فوقعت عليه نجاسة عقب عصره هل يجب غسل جميع الثوب أم يكفي غسل موضع النجاسة وجهان الصحيح الثاني والله أعلم.

Imam Mutawalli dan lainnya berkata tentang kekuatan air yang didatangkan atas najis, maka air tidak menjadi najis karena bertemu dengan sesuatu yang najis akan tetapi ia tetap suci dan mensucikan. umpama air disiramkan ke sesuatu bagian baju yang najis, lalu basahnya menyebar ke bagian baju yang lain, maka basah yang menyebar tersebut tidak dihukumi najis.

Jawaban untuk No.2 :

Adapun bau sabun yang melekat pada cucian, berikut pendapat para ulama :

a. Ada ulama’ yang menghukumi tidak apa-apa, artinya baju cucian suci apabila hanya tersisa baunya saja, ini pendapat Imam Thobalawie.

b. Imam Romli menyatakan sisa bau sabun masih dihukumi najis, kecuali sulit untuk menghilangkannya.

Referensi:

ﻫﺎﻣﺶ ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ ﺻ 12

ﻭﻟﻮ ﺯﺍﻟﺖ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺑﺎﻻﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﺎﻟﺼﺎﺑﻮﻥ ﻭﺑﻘﻰ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ ﻃﻬﺮ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻄﺒﻼﻭﻯ ﻭﻗﺎﻝ ﻣ ﺭ ﻻﺗﻄﻬﺮ ﺣﺘﻰ ﺗﺼﻔﻮ ﺍﻟﻐﺴﺎﻟﺔ ﺍﻩـ

ﺑﺸﺮﻯ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺻـ 144

ﺗﻨﺒﻴﻪ ﺁﺧﺮ : ﺇﺫﺍ ﻏﺴﻞ ﺛﻮﺑﺎً ﻣﺘﻨﺠﺴﺎً ﺑﻨﺤﻮ ﺻﺎﺑﻮﻥ ﺣﺘﻰ ﺯﺍﻟﺖ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ .. ﻃﻬﺮ ﻭﺇﻥ ﺑﻘﻲ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ، ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻄﺒﻼﻭﻱ . ﻭﻗﺎﻝ ‏( ﻡ ﺭ ‏) : ﻻ ﻳﻄﻬﺮ ﺣﺘﻰ ﺗﺼﻔﻮ ﺍﻟﻐﺴﺎﻟﺔ ﻣﻦ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ، ﺃﻱ : ﻹﻣﻜﺎﻥ ﺍﺳﺘﺘﺎﺭ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﻨﺠﺲ ﻓﻲ ﺭﻳﺤﻪ ﻭﻳﻌﻔﻰ ﻋﻤﺎ ﻳﺸﻖ ﺍﺳﺘﻘﺼﺎﺅﻩ

Apabila baju najis dicuci dengan bantuan sabun dan sejenisnya sampai bersih, maka baju tersebut suci, walaupun masih tersisa bau sabun, ini pendapat Imam Thobalawie.

Sedangkan Imam Romli berkata : Tidak suci sampai cucian bersih dari bau sabun, karena dimungkinkan bau najis tertutup oleh bau sabun, akan tetapi dima’fu jika sulit menghilangkannya.

Wallahu a’lamu bisshowab..

T025. HUKUM AIR SEDIKIT YANG DITAMBAH DENGAN BARANG NAJIS MENJADI DUA KULLAH

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi :
Ada air untuk mencapai ukuran dua qullah hanya kurang satu cangkir/gelas, kemudian air tersebut ditambah barang najis berupa air seni ukuran satu cangkir/gelas sehingga air tersebut menjadi sampai ukuran dua qullah.

Pertanyaan : Sucikah air yang pas dua qulla tersebut dengan dicampur air seni satu cangkir/gelas

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukumnya tetap najis karena penambahannya dengan barang najis, bukan dengan sesama jenis air walaupun mutanajjis atau mustakmal.

فصل: وإذا كان الماء قلتين) ولو احتمالاً، وإن تيقنت قلّته قبل، بأن جمع شيئاً فشيئاً فبلغ قلتين لا ببول أو مائع، بل من خالص الماء ولو متنجساً أو مستعملاً أو متغيراً ( .. فلا ينجس بوقوع النجاسة فيه)؛ لخبر القلتين المتقدم (إلا إن تغير) من تلك النجاسة الواقعة فيه يقيناً (طعمه، أو لونه، أو ريحه، ولو تغيراً يسيراً) ولو بمعفو عنه، ولو بمجاور أو مخالط لم يستغن الماء عنه؛ لغلظ النجاسة.

(بشرى الكريم شرح المقدمة الحضرمية )

Apabila air belum sampai dua kullah, lalu ditambah dengan air murni menjadi dua kullah walaupun penambahan tersebut mutanajjis atau mustakmal atau air yang sudah berubah, (bukan dari barang najis seperti kencing dan benda cair sejenisnya), maka air tersebut tidak bisa najis kecuali berubah rasa, warna dan baunya walaupun perubahannya hanya sedikit.

ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﺨﺘﺮﻋﻪ ﺑﻌﺾ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﺇﻥ ﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻗﻠﺘﻴﻦ ﺇﻻ ﻛﻮﺯا ﻓﻜﻤﻠﻪ ﺑﺒﻮﻝ ﻃﻬﺮ ﻓﺒﻬﺘﺎﻥ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ: ﻗﺎﻝ اﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺣﺎﻣﺪ ﺷﻴﺦ اﻷﺻﺤﺎﺏ ﺇﺫا ﻛﻤﻠﻪ ﺑﺒﻮﻝ ﺃﻭ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺃﺧﺮﻯ ﻓﺎﻟﺠﻤﻴﻊ ﻧﺠﺲ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ ﺑﻴﻦ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﻴﻦ: ﻭﻗﺎﻝ ﻭﺃﺻﺤﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﺤﻜﻮﻥ ﻋﻨﺎ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﺬﻫﺒﺎ ﻟﻨﺎ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

(المجموع)

Lihat kitab Fath al-Mu’in :

والماء القليل إذا تنجس يطهر ببلوغه قلتين ولو بماء متنجس حيث لا تغير به

( قوله والماء القليل إذا تنجس ) أي بوقوع نجاسة فيه وقوله يطهر ببلوغه قلتين أي بانضمام ماء إليه لا بانضمام مائع فلا يطهر ولو استهلك فيه وقوله ولو بماء متنجس أي ولو كان بلوغه ما ذكر بانضمام ماء متنجس إليه أي أو بماء مستعمل أو متغير أو بثلج أو برد أذيب

Air sedikit bila menjadi najis bisa suci kembali dengan menjadikan ia dua qullah meskipun memakai air yang terkena najis asalkan tidak menjadikannya berubah.

(Keterangan Air sedikit bila menjadi najis) artinya menjadi najis sebab kejatuhan najis.

(Keterangan bisa suci kembali dengan menjadikan ia dua qullah) artinya dengan menambahkan air lain padanya tidak dengan menambahkan barang cair lainnya meskipun bisa melebur dengan air.

(Keterangan meskipun memakai air yang terkena najis) artinya meskipun penambahan untuk menjadikannya dua qullah tersebut memakai air lain yang terkena najis, atau menggunakan air musta’mal, atau air yang berubah, atau es atau embun yang telah meleleh. [ I’anah at-Thoolibiin I/34 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

N041. BATALNYA NIKAH KARENA MURTAD

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi :
Ada sepasang suami istri bernama Mahmudi dan Mahmudah. Pada suatu waktu si Mahmudi melakukan perbuatan yang menyebakan dia menjadi murtad, beberapa hari kemudian si Mahmudah (istrinya) yang cantik jelita sowan pada gurunya, guna menanyakan setatusnya menjadi istri Mahmudi, lalu sang guru menyatakan bahwa tali pernikahan keduanya sepontanitas batal. Namun selang tiga hari kemudian si Mahmudi sadar diri, dan ia pun bertobat masuk islam kembali dengan membaca syahadad. Sedangkan ia berkeinginan untuk kembali/meminang kembali istri yang cantik jelita serta tersebut.

Pertanyaannya :
Apakah Mahmudi harus melakukan akat nikah baru?

Mohon penjelasan Ustadz..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Pandangan Madzhab Syafi’i:
Menurut Imam Nawawi dalam kitab Raudhah at Talibin VII/141-142. Pasal Pindah Agama: Apabila suami istri murtad atau salah satunya sebelum terjadinya dukhul (hubungan intim), maka otomatis terjadi talak. Apabila setelah dukhul maka diperinci. Dalam arti, apabila kembali ke Islam sebelum habisnya iddah, maka nikah diteruskan; apabila tetap murtad maka talak terjadi dan dihitung sejak masa murtad. Dan selama masa menunggu, tidak halal melakukan hubungan intim.

CATATAN DAN RUJUKAN :

[1] – Imam Nawawi dari madzhab Syafi’i menyatakan dalam kitab Al-Minhaj

ولو انفسخ -أي النكاح- بردة بعد وطء فالمسمى -أي فالواجب هو المهر المسمى. انتهى
فقد سمى رحمه الله الفرقة الحاصلة بسبب الردة فسخاً

Artinya: Apabila nikah batal (fasakh) karena sebab murtad setelah terjadinya hubungan intim maka istri berhak mendapat mahar atau maskawin (kalau mahar belum dibayar). Perpisahan suami-istri karena murtad disebut fasakh.

[2]- Al-Ibadi dari madzhab Hanafi mengatakan dalam kitab Mukhtashar Al-Qaduri

وإذا ارتد أحد الزوجين عن الإسلام وقعت البينونة بينهما فرقة بغير طلاق عندهما -يعني أبا حنيفة وأبا يوسف – وقال محمد إن كانت الردة من الزوج فهي طلاق.

Artinya: Apabila salah satu suami-istri murtad dari Islam maka terjadikan perpisahan (firqah) yang bukan talak. Menurut Abu Yusuf, apabila yang murtad itu suami maka disebut talak.

[3]- Dalam kitab Daurul Hukkam madzhab Hanafi juga dikatakan

ارتداد أحدهما فسخ عاجل للنكاح غير موقوف على الحكم. وفائدة كونه فسخاً أن عدد الطلاق لا ينتقص به.

Artinya: Murtadnya salah satu suami-istri membatalkan nikah secara otomatis tanpa perlu keputusan hukum pengadilan.

Kesimpulannya :

Mahmudi tidak perlu melakukan akad baru, dengan alasan karena Mahmudi kembali ke agama islam pada waktu” iddah “secara otomatis Mahmudah yang cantik jelita menjadi istrinya lagi.

Referensi :

إسعاد الرفيق الجزء الأول ص ٦٤ مكتبة “الهداية” سورابيا
(و) يبطل بها (نكاحه) مسلمة إذا كانت ردته ولو معها (قبل الدخول)أي قبل وطئها أو وصول المنيّ المحترم لفرجها لأن النكاح لم يتأكد حينئذ لفقد غايته (وكذا) يبطل إذارتدّ معا أوأحدهما (بعده) أي الدخول (إن لم ) يعودا أو (يعد ) المرتد منهما إلى الإسلام أي لم يجمعهما الإسلام (في) مدة (العدةِ) والمراد أنه يتبين بطلانه حين الردة منهما أو من أحدهما فلا ينفذ طلاق ولا ظهار ولا إلاء

Wallahu a’lamu bisshowab..

T024. HUKUM MELAKUKAN JIMAK DIWAKTU HAID

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Mau tanya ustadz..

1. Bagaimana hukumnya suami istri melakukan jimak sedang istri dalam situasi haid?

2. Bagaimana cara mandi besar/ adus (Bhs Madura) bagi yang melakukan hal tersebut?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

Jawaban untuk No.1 :

Hukum melakukan jimak ketika istri dalam keadaan haid adalah haram dan termasuk bagian dari perbuatan dosa bilamana ia lakukan dengan sengaja, sebagaimana ibarah berikut :

Referensi :

الإقناع فى حل الألفاظ ابي شجاع.ص٨٧
{الوطء} ولو بعد انقطاعه وقبل الغسل لقوله تعالى ولاتقربو هن حتى يطهرن ووطئها فى الفرح كبيرة من العامد العالم بالتحريم المختار ويكفر مستحله كما فى المجموع عن الأصحاب وغيرهم بخلاف الناسي والجاهل والمكره لخبر إن الله تجاوز عن أمتي الخطاء والنسيان ومااستكرهوا عليه رواه البهقي وغيره، ويسن للواطئ المتعمد المختار بالتحريم فى أول الدم وقوعه التصدق بمثقال اسلامى من الذهب الخالص وفى آخر الدم وضعفه بنصف مثقال لخبر إذا وقع الرجل أهله وهى حائض ان كان دما أحمر فليتصدق بدينار وان كان أصفر فليتصدق بنصف دينار .رواه ابوادود.

“(Wathi’/jima).”Walau setelah terputusnya darah dan sebelumnya mandi, karena berdasarkan firman Allah swt, ” Janganlah kau dekati (wathi’/jima’) mereka (perempuan) sehingga mereka dalam keadaan suci. Dan menjima’ perempuan dalam keadaan haid adalah termasuk dosa besar bilamana ia lakukan dengan sengaja dan sudah tahu akan keharaman yang terpilih. Dan ia menjadi penyebab kekafiran manakala ia menghalalkannya (wathi’ dalan situasi haid) sebgaimana dijelaskan dalam kitab majmu’ dari Ashhab dan yang lain-Nya, dan berbeda dengan situasi lupa, tidak tahu dan dipakasa, karena berdasarkan sebuah hadits ” Sesungguhnya Allah mengampuni dari ummatku yaitu: keliru dan lupa dan sesuatu yang dipaksa.{HR.Baihaqi}.

Dan disunnatkan bagi orang yang yang sengaja melakukan wathi’ dan sudah mengetahui akan keharaman-Nya, diawal terjadinya darah, yaitu bersedekah seberat satu misqol islamiy dari emas yang murni, dan dalam berakhirnya darah dan lemahnya darah bersedakah dengan separuhnya mistqol, karena hadits “Apabila telah terjadi wathi’ (jima) seorang laki-laki pada ahlinya (istrinya) sedangkan istrinya dalam keadan haid, jika adanya darah mirah maka bersedakalah dengan dinar. Dan bilamana adanya darah kuning maka bersedakahlah dengan separuh dinar. { HR.Abudaud}.

SELAIN hukumnya haram Bagi yang tau namun tetap sengaja menjimak istrinya
maka ia dianjurkan (Sunnah) bersedekah se dinar. Jika mewathi’ di waktu Kuatnya darah.

Jika mewathi’nya di waktu darah sudah lemah serta sebelum perempuan adus,
Maka disunnahkn bersedekah separuh dinar.

Pesan kitab majmuk dibawah juga ada teks :
Bagi pelanggar tersebut hendaklah beristighfar dan bertaubat kepada Allah (s.w.t) يستغفر الله تعالى ويتوب

المجموع شرح المهذب [2 /359]

فان وطئها مع العلم بالتحريم ففيه قولان قال في القديم ان كان في أول الدم لزمه أن يتصدق بدينار وان كان في آخره لزمه أن يتصدق بنصف دينار لما روى ابن عباس رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال في الذى يأتي امرأته وهى حائض يتصدق بدينار أو بنصف دينار وقال في الجديد لا يجب لانه وطئ محرم للاذى فلم تتعلق به الكفارة كالوطئ في الدبر ]

[ الشرح ] أجمع المسلمون علي تحريم وطئ الحائض للآية الكريمة والاحاديث الصحيحة قال المحاملي في المجموع قال الشافعي رحمه الله من فعل ذلك فقد اتي كبيرة قال أصحابنا وغيرهم من استحل وطئ الحائض حكم بكفره قالوا ومن فعله جاهلا وجود الحيض أو تحريمه أو ناسيا أو مكرها فلا اثم عليه ولا كفارة لحديث ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال (ان الله تجاوز لى عن امتى الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه) حديث حسن رواه ابن ماجه والبيهقي وغيرهما وحكي الرافعي عن بعض الاصحاب انه يجئ علي القديم قول انه يجب علي الناسي كفارة كالعامد وهذا ليس بشئ

واما إذا وطئها عالما بالحيض وتحريمه مختارا ففيه قولان الصحيح الجديد لا يلزمه كفارة بل يعذر ويستغفر الله تعالى ويتوب.

ويستحب ان يكفر الكفارة التى يوجبها القديم والثاني وهو القديم يلزمه الكفارة وذكر المصنف دليلهما والكفارة الواجبة في القديم دينار ان كان الجماع في اقبال الدم ونصف دينار ان كان في ادباره.

والمراد باقبال الدم زمن قوته واشتداده وبادباره ضعفه وقربه من الانقطاع هذا هو المشهور الذى قطع به الجمهور وحكي الفوراني وامام الحرمين وجها عن الاستاذ ابي اسحق الاسفراينى ان اقباله ما لم ينقطع وادباره ما بعد انقطاعه وقبل اغتسالها وبهذا قطع القاضى أبو الطيب في تعليقه فعلي قول الجمهور لو وطئ بعد الانقطاع وقبل الاغتسال لزمه نصف دينار قاله البغوي وغيره واستدلوا لهذا القول القديم بحديث ابن عباس المذكور وحملوا قوله بدينار أو بنصف دينار علي التقسيم وان الدينار في الاقبال والنصف في الادبار.

Jawaban untuk No.2 :

Adapun cara bersuci/ adus (Bhs Madura) bagi orang yang terlanjur jima dalam keadaan haid, (ia dalam situasi menanggung dua hadas yakni janabah dan haid). Maka carannya adalah cukup memilih salah satu dari keduanya, berdasarkan Qaidah :

إذاتزامحت المصالح قدم الأعلى * وإذا تزامحت المفاسد قدم الأخف

“Jika terdapat beberapa kemasalahan bertabrakan maka dahulukannlah mashlahat yang paling tinggi. Dan bilamana kerusakan-kerusakan (bahaya) bertabrakan maka dahulukanlah kerusakan yang lebih ringan. Dalam hal ini dikokohkan dalam ibarah berikut dalam kitab fiqhussuh :

يجزئ غسل واحد من حيض وجنابة ، أو عن جمعة وعيد، أو عن جنابة وجمعة ،إذا نوى الكل، لقوله صلى الله عليه وسلم.” وإنما لكل امرئ مانوى”

“Cukuplah mandi salah satu diatara dari haid dan janabah, dan diatara jum’at dan aid, atau diantara janabah dan jum’at, manakala ia berniat secara keseluruhan, karena berdasarkan pada hadits Nabi saw. Dan sesungguhn-Nya keabsahan sesuatu pekerjaan adalah tergantung pada niat.

والله تعالى أعلم بالصواب